• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terjadinya proses komunikasi antar budaya yang berbeda.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terjadinya proses komunikasi antar budaya yang berbeda."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi Antar Budaya

Proses kebudayaan merupakan sesuatu yang berkembang, perkembangan ini terjadi dikarenakan adanya interaksi antar manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Menurut Nuraini Soyomukti (2012:329) komunikasi antarbudaya terjadi apabila ada dua atau lebih manusia yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, disitulah terjadinya proses komunikasi antar budaya yang berbeda.

Di dalam buku Alo Liliweri (2007:12) terdapat beberapa pengertian terkait komunikasi antar budaya, menurut Andrea L. Rich dan Dennis M.Ogawa. Komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antara orang dengan perbedaan budaya (Ras, Etnis, Agama, maupun kelas sosial). Definisi komunikasi antar budaya lainnya dikemukakan oleh Samovar dan Porter yang menyebutkan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi diantara produsen pesan atau pengirim pesan dan penerima pesan dengan latar belakang perbedaan budaya. Dan yang terakhir menurut Charley H. Dood mengungkapkan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi antara orang yang menjadi perwakilan dari kelompok, pribadi maupun antar pribadi yang memiliki buudaya yang berbada yang dapat memberikan pengaruh antar komunikasi tersebut.

Dari beberapa definisi komunikasi antarbudaya di atas, komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi yang terjalin dari orang-orang dengan latar belakang perbedaan budaya. Komunikasi antarbudaya tersebut terjadi dalam konteks komunikasi yakni komunikasi antar pribadi, komunikasi public, komunikasi massa, atau dalam segala konteks komunikasi lainnya. Definisi komunikasi antarbudaya terjadi jika terdapat dua budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut melakukan proses komunikasi. Seperti pada masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Dimana masyarakat lokal merupakan

(2)

10

masyarakat asli dari daerah tersebut dan memiliki kebudayaan yang sangat melekat sedangkan masyarakat pendatang merupakan masyarakat yang berasal dari daerah lain yang membawa kebudayaan yang berbeda yang dimana harus beradaptasi dengan budaya masyarakat lokal. Hal tersebut merupakan sebuah proses komunikasi antarbudaya.

Komunikasi antar budaya lebih menekankan kepada aspek utama yaitu, Komunikasi antar pribadi antara komunikator dan komunikan yang memilikiperbedaan budaya. Berikut istilah istilah terkait komunikasi antar budaya diantaranya adalah : a. Komunikasi antar etnik

Kemunikasi yang terjadi antar orang-orang dengan berbedaan budaya yang tipis atau dapat diartikan masih memiliki kebudayaan yang relative sama. latar belakang kesamaan tersebut dapat menjadi panutan bagi kelompok-kelompoknya.

Etnik dalam hal ini mencangkup (agama, suku, organisasi sosial serta politik)

Beberapa contoh komunikasi antar etnik adalah orang islam dengan orang kristen (kelompok agama), antara ras cina dan ras arab dan lain sebagainya.

b. Komunikasi Antar Ras

Aspek genetik yang menjadi acuan bagi kelompok ras dalam berkomunikasi dimana terdapat kaitanya dengan ciri-ciri fisik yaitu warna kulit serta bentuk tubuh dan bahasa.

c. Komunikasi Lintas Budaya

Dalam hal ini komunikasi yang terjalin adalah komunikasi antar budaya yang berbeda dimana para peserta memiliki latar belakang perbedaan budaya. Studi yang terjadi antar lintas budaya ini diawali dari perspektif antropologi sosial dan budaya yaitu dengan mengembangkan perilaku komunikasi dengan budaya tertentu.

d. Komunikasi Internasional

(3)

11

Komunikasi internasional terjadi ketika komunikator sebgaai perwakilan suatu negara untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan yang terkait dengan sebuah negara. Hal ini disampaikan untuk mendapatkan dukungan dengan lingkup yang luas.

2.2 Bentuk-Bentuk Komunikasi Budaya

De Vito (1997) dalam Abdul Karim (2015) menjabarkan bentuk komunikasi sebagai berikut :

1. Komunikasi dengan latar belakang agama yang berbeda 2. Komunikasi dengan latar belakang sub kultur yang berbeda 3. Komunikasi dengan latar belakang sub kultur yang dominan 4. Komunikasi dengan latar belakang perbedaan jenis kelamin 2.3 Fungsi Komunikasi antar budaya

2.3.1 Fungsi pribadi

Merupakan fungsi yang ditunjukan melalui perilaku komunikasi yang berasal dari seorang individu. Berikut beberapa hal terkait fungsi pribadi :

a. Indetintas sosial

Identitas sosial berasal dari suku dan bahasa yang berasal dari sebuah daerah.

dalam hal ini Benteng Mayangan dalam keseharianya menggunakan bahasa asli daerah lokal mereka sendiri. Sedangakan masyarakat pendatang di Kampung Benteng menyatakan identitasnya dengan bahasa daerah dari mana mereka berasal didalam keseharian mereka.

b.Menyatakan integrasi sosial

Menerima personal atau kelompok orang-orang dengan latar belakang perbedaan.

Dalam hal ini menyangkut pengakuan-pengakuan serta simbol simbul dalam berperolaku berkomunikasi.

(4)

12 c. Menambah pengetahuan

Mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang ada demi menambah pengetahuan.

Contohnya melalui bahasa, masyarakat lokal kampung benteng dalam keseharian menggunakan bahasa campuran Madura yang mana masyarakat pendatang secara tidak langsung mempelajari atau mengetahui bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat lokal.Sedangkan masyararakat pendatang dalam keseharian menggunakan bahasa jawa.

d.Melepaskan diri

Manusia sebagai makluk sosial berkomunikasi dengan orang lain demi mencari jalan keluar dalam menghadapi suatu permasalahan.

2.3.2 Fungsi Sosial a. Pengawasan sosial

Proses komunikasi antarbudaya antara komunikator serta komunikan yang memiliki perbedaan budaya berfungsi untuk saling mengawasi. Fungsi ini merujuk pada informasi perkembangan tentang lingkungan. Fungsi ini banyak dilakukan oleh media massa dalam pemberitaan suatu peristiwa. Yang mana masyarakat diminta untuk saling mengawasi dan berhati hati jika seandainya peristiwa tersebut terjadi dilingkungannya.

b.Menjembatani

Dilakukan oleh kedua belah pihak yang memiliki perbedaan kebudayaan .sehingga kedua kebudayaan yang berbeda itu, akan saling memahami pesan satu sama lain demi menghasilkan persamaan makna.

c. Sosialisasi Nilai

Dalam hal ini memperkenalkan nilai dan hal baru terkait dengan suatu budaya oleh sebuah masyarakat satu ke masyarakat yang lain.

(5)

13 d.Menghibur

Proses yang dilakukan sebagai alat komunikasi yang tidak terbatas pada sebuah interaksi, namun juga bisa ditunjukkan melalui sebuah seni tradisi budaya dari masing-masing daerah.

2.4 Hakekat Komunikasi Antar Budaya

2.4.1 Enkulturasi

Adanya proses dimana terjadi tranmisi antara kenerasi satu ke generasi berikutnya yang terjadi secara terus menerus. Proses ini dilewati dengan tahapan pembelajaran. Dimana terdapat peran-peran orang tua, guru, pemerintah dan kelompok-kelompok yang bersangkutan.

2.4.2 Alkulturasi

Adanya modifikasi dari kelompok satu ke kelompok yang lainya. Contohnya sekelompok imigran berdiam di daerah Probolinggo lebih tepatnya di kampung benteng secara tidak langsung kultur mereka akan di pengaruhi oleh kultur warga lokal.

2.5 Model Komunikasi Antar Budaya

Model komunikasi antar budaya bisa terlaksana ketika adanya pesan tersirat suatu budaya tujuannya diterima kebudayaan lainya. Masalah yang muncul adalah ketika kita dihadapkan pada pesan sandi yang harus balik pada budaya lainya.

(6)

14

Gambar 1 : Model Komunikasi Antar Budaya

Masalah penyandian atas individu terhadap pengaruh kebudayaan tergambar pada gambar 1. Perbedaan budaya A dan B diwakili oleh suatu bentuk lingkaran yang tidak memiliki aturan. Dimana dijelaskan bahwa terdapat perbedaan budaya C dengan budaya B dan A.

Adanya proses pertukaran arti dari masing-masing budaya merupakan sebuah proses simbolik dari esensi komunikasi antar budaya. Hal ini dapat berjalan seperti yang diharapkan ketika perbedaan besar yang terjalin mampu menjalankan komunikasi dengan sangat baik.

Proses ini tidak hanya terbatas pada interaksi dan perbedaan antara individu satu dengan individu lain. Namun, fenomena ini dapat pula menjelaskan hubungan antara kelompok satu dengan kelompk yang lain. Dengan demikian esensinya dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan komunikasi dapat terjadi antara individu atatupun kelompok dengan esensi budaya yang berbeda. berikut penjabaran terkait tujuan dari sebah komunikasi diantaranya adalah:

(7)

15

a. Adanya pemahaman terkait perbedaan budaya

b. Mengkomunikasikan orang-orang yang memiliki perbedaan kebudayaan dan lingkungan

c. Mengindentifikasi hambatan ketika berkomunikasi d. Berbedaan budaya yang dapat teratasi

e. Adanya peningkatan verbal dan non verbal dalam berkomunikasi

f. Agar dapat melakukan proses komunikasi secara efektif dalam masyarakat.

Agar tercipta komunikasi yang baik diperlukan komponen yang mampu membantu komunikasi agar berjalan sebagai mana mestinya. Menurut Laswell komponen tersebut dibedakan menjadi :

a. Komunikator merupakan aktor yang memiliki peran sebagai penyampai informasi b. Adanya pesan yang disampaikan antara satu kelompok ke kelompok lainya.

c. Adanya media yang menyampaikan pesan yaitu saluran d. Penerima pesan adalah pihak komunikan

e. Utanggapan merupakan umpan balik atau balasan dari komunikan kepada komunikator dari pesan yang telah disampaikan.

2.6 Teori Anxiety/Uncertainty Management Theory (Teori Pengelolaan kecemasan/Ketidakpastian.

Anxiety/Uncertainty dikemukakan oleh William Gundykunst. Gundykunst

berasumsi bahwa adanya seseorang yang berada pada pertemuan antar budaya dan dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang asing . Seseorang merasa kecemasan pada saat berkomunikasi dengan sesorang yang memiliki perbedaan budaya..Tujuan dari pembentukan teori ini sendiri ialah, jika seseorang merasakan kecemasan atau ketidakpastian diantara kedua orang yang memiliki perbedaan budaya.Gundykunst

(8)

16

menyakini bahwa kecemasaan atau ketidakpastian menjadi salah satu penyebab terjadinya kegagalan komunikasi dalam sebuah situasi.

Kecemasan dan ketidakpastian merupakan penyebab dari kegagalan antar kelompok, terutama pada perbedaan budaya tersebut. Kecemasan di definisikan sebagai perasaan gelisah, kawatir, serta takut akan hal yang terjadi. Sedangkan ketidakpastian didefinisikan sebagai fikiran, yang mana di rendahnya keberhasilan maka semakin tinggi ketidakpastian.. Sehingga proses komunikasi yang dilakukan dalam hal ini untuk mengurangi ketidakpastian dan kecemasan seseorang guna mencapai komunikasi yang efektif. Berikut merupakan konsep yang dapat menjelaskan dari teori ini diantaranya : 1. Diri dan konsep diri

Meningkatkan kebanggan merupakan cara yang dapat digunakan untuk mengatur segala macam kecemasan.

2. Motivasi mnjalin interaksi terhadap orang yang asing

Peningkatan kebutuhan diri berada di dalam kelompok pada saat berinteraksi dengan orang asing dapat menghasilkan peningkatan kecemasan.

3. Reaksi kepada orang asing

Dapat digunakan untuk memprediksi perilaku yang akan mereka lakukan hal ini dapat dilakukan dengan memproses informasi mengenai orang asing tersebut.

4. Kategori sosial dari orang asing

Dalam mengontrol kecemasan terhadap perilaku orang asing dapat dilakukan dengan melakukan persamaan personal antara diri sendiri dengan orang asing tersebut. Hal ini dapat dilakukan dan tergolong efektif dalam menebak perilaku orang asing tersebut.

(9)

17 5. Proses situasional

Untuk memprediksi dapat dilakukan didalam situasi informal ketika kita sidang melakukan interaksi dengan orang asing. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri yang tinggi terhadap perilaku orang asing tersebut.

6. Hubungan dengan orang asing

Dapat dilakukan dengan menunjukkan rasa tertarik kepada orang asing untuk dapat menentukan perilaku yang timbul dari mereka.

Asumsi-asumsi yang ada didalam teori dapat menjadi acuan penelitian yang menggambarkan terkait situasi yang peneliti teliti, hal ini dilatarbelakangi oleh keterkaitan faktor komunikasi yang terjadi diantara masyarakat lokal dan pendatang yang ada di Kampung Benteng.Yang mana pengelolaan dalam pengurangan kecemasan atau ketidakpastian masyarakat dalam berkomunikasi dapat berjalan dengan baik dan mencapai sebuah tujuan komunikasi yang efektif.

2.7 Mayoritas dan Minoritas

Adanya istilah mayoritas dan minoritas dapat disematkan pada kelompok di masyarakat dengan kelompok agama, ras dan suku bangsa yang menempati suatu wilayah..Seperti contoh yang di kutip dalam buku Alo Liliweri (2005:99) Negara Indonesia merupakan sebuah Negara dengan mayoritas masyarakat yang memeluk agama Islam, dan minoritas masyarakat memeluk agama Kristen. Hal tersebut merupakan sebuah contoh dari mayoritas dan minoritas di dalam sebuah kelompok masyarakat. Berikut penjelasan lebih mengenai mayoritas dan minoritas.

2.7.1 Konsep Mayoritas

Didalam bermasyarakat adanya kelompok mayoritas dapat diartikan sebagai kelompok dengan kontrol dan kekuasaan yang dapat digunakan untuk mengontrol. Adanaya setting institusi yang dimiliki kelompok mayoritas dapat

(10)

18

dengan mudah mempengaruhi masyarakat. hal ini dapat disangkut pautkan dengan penyelenggaraan pemerintah, pendidikan, agama serta pekerjaan. Hal ini tidak dimiliki oleh kelompok minoritas dimana tidak dapat memiliki akses untuk melewati proses tersebut. Hal ini juga menimbulkan tidak dimilikinya kekuasaan oleh kelompok minoritas. Hal inilah yang menjadi persepsi bagi kelompok maysyarakat mayoritas untuk menganggap tinggi kedudukanya dan kelompok minoritas dianggap lebih rendah kedudukanya karena tidak memiliki akses apapun.

Gp;;nock dan Chin (1990) juga menjelaskan bagaimana dominan kulture dapat dikaitkan engan jelas bagaimana dapat memberi pengaruh besar dalam kehiupan sehari-hari yang kita jalani.

2.7.2 Karakteristik Mayoritas

Menurut Alo Liliweri (2005:104) terdapat beberapa karakteristik mayoritas, ialah :

1) Menjadi kelompok superior dengan memandang kelompok lain adalah inferior 2) Menyingkirkan kelompok minoritas karena perbedaan alamiah

3) Selalu merasa yang paling berkuasa, dan memiliki kedudukan yang tinggi sehingga harus dihormati.

4) Kecemasan kepada kaum minoritas dengan alasan takut menggerogoti.

(Williams,1964).

gagasan penjabaran diatas menciptakan sebuah prasangka sosial mayoritas terhadap minoritas dan begitu juga sebaliknya antara minoritas terhadap mayoritas.Prasangka tersebut yang menyebabkan sebuah studi klasik dari sebuah diskriminasi sosial.

(11)

19 2.7.3 Konsep Minoritas

Didalam buku Alo Liliweri (2005:106) terdapat beberapa pengertian tentang kelompok minoritas. Salah satunya menurut Hebding, ia menjelaskan bahwa kelompok minoritas merupakan kelompok yang memiliki perbedaan secara kulturalm, fisik, kesadaran sosial, dam ekonomi. Sehingga perlu didiskriminasu oleh segmen masyarakat dominan atau kelompomk masyarakat disekeliling.

Lalu didalam analisis klasik, kelompok minoritas menurut Louis Wirth (1945), didefinisikan sebagai sebuah kelompok yang memiliki karakteristik fisik dan budaya yang sama yang ditunjukkan kepada oranglain dalam satu wilayah yang sama atau dimana mereka berada. Akibatnya yang terjadi kelompok itu merasa diperlakukan tidak adil dan merasa kelompoknya dijadikan objek sasaran diskriminasi.

Perilaku dan karakteristik dari kelompok minoritas selalu dikaitkan atau distigmatisasi oleh kelompok dominan atau kelompok mayoritas. Berikut karakteristiknya :

1) Relative tidak memiliki pengaruh

2) Menunjukkan diferensiasi perbedaan terhadap mayoritas 3) Selalu di streotip dengan negative

4) Mendapatkan ketikadilan

Tidak adanya keadilan yang didapat dari kelompok mayoritas menjadikan kelompok minoritas semakin merasa kecil karena sudh didominasi kelompok mayoritas. Hal ini membuat kelompok minoritas diperlakukan secara tidak adil oleh kelompok mayoritas. Sehubungan dengan kelompok mayoritas dan minoritas dengan pembahasan yang peneliti jelaskan dalam penelitian ini, yang mana di kampong benteng masyarakat lokal lebih dominan daripada masyarakat

(12)

20

pendatang.Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat lokal asli dari kampong benteng merupakan kelompok mayoritas sedangkan masyarakat pendatang di kampong benteng merupakan masyarakat minoritas yang mana harus mengikuti adat istiadat di tempat mereka berada.

2.8 Stereotip Budaya

Lasorsa (2009) dalam buku Priandono (2016:200) steriotipe adalah prasangka terhadap perilaku diskriminasi dimana bisa menimbulkan rasisme dan beberapa sikap intoleran lainya.

Operino dalam Priandono (2016:201) menjabarkan unsur stereotip diantaranya : a. Hubungan berkelompok yang memiliki kepercayaan ganda.

b. Individu dengan perilaku yang negatif.

c. Memiliki fungsi pengelolaan hubungan antara kita dan mereka.

Sering kita ketahui saat ini atau banyak kita temukan di dalam masyarakat bahwa stereotip yang berkembang di masyarakat lebih cenderung muncul dari rumor-rumor atau desus-desus yang berkembang dibandingkan dari fakta yang ada atau yang sebenarnya terjadi.Hal ini dapat memicu kesalahpahaman serta konflik sosial yang terjadi di dalam kelompok masyarakat.

Operario dan Fiske (2004) menjelaskan bahwa stereotip di dalam masyarakat dapat terjadi karena adanya hubungan “ structural kelompok”, dimana dijelaskan bahwa mayoritas selalu dianggap lebih tinggi.

2.8.1 Budaya Dominan

Nanda dan Warms (2012) mendefinisikan bahwa budaya dominan merupakan sebuah budaya dengan penguasaan kekayaan dan kekuasaan yang terbesar didalam suatu masyarakat yang terdiri dari banyak sub-budaya. Budaya dominan mempertahankan hegemoni mereka melalui penguasaan lembaga sosial,

(13)

21

seperti sebuah system huskum, praktik kriminalisasi yang bertentangan dengan mereka sendiri.Cullinan menartikulasikan tiga anggapan mengenai kelompok budaya dominan yang memberikan hak istimewa untuk kelompok tersebut yaitu bersalah, kelayakan, kompetensi.Bersalah yang berarti bahwa anggota budaya dominan pada umumnya dianggap tidak bersalah jika melakukan sebuah kesalahan, dan begitu sebaliknya kelompok budaya lainnya dipandang curiga.

Kelayakan dalam hal ini merupakan hak istimmewa atau perhatian, layanan, dan rasa hormat yang didapatkan oleh orang-orang dalam kelompok budaya dominan Priandono (2016:50-51 ) .

Pearson berpendapat bahwa diperlukan strategi dalam berhubungan diantaranya :

1. Asimilasi dijelaskan sebagai bentuk penyesuaian diri kepada kelompok yang dominan.

2. strategi akomodasi, menjalin hubungan baik pada kelompok dominan dengan menjalankan kegiatan secara bersama.

3. Memisah, yaitu dengan membentuk kelompok diluar dari kelompok dominan.

Dalam penelitian ini budaya dominan yang terjadi di Kampung Benteng ialah masyarakat lokal di kampung tersebut menjadi masyarakat mayoritas yang memiliki berbagai macam kebudayaan yang kental , dibandingkan dengan masyarakat pendatang yang jauh lebih sedikit penduduk nya dan menjadi masyarakat minoritas didaerah tersebut.

2.8.2 Relasi Antar Etnik

Menurut Alo Liliweri (2005:135) hubungan antar etnik atau antar ras terjadi apabila kelompok etnik melakukan pertukaran sosial dan hubungan tersebut dibatasi oleh factor status, peran sosial, kelompok, jaringan interaksi dan

(14)

22

instuisi sosial. Hubungan antar etnik sudah ada sejak dahulu dan akan terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat.

Jones yang dikutip Alo (2007:14) menjelaskan etik meruoajan kumpulan manusia yang bersatu didasarkan kepada persamaan ras serta budaya.

Kampung Benteng di dominasi oleh masyarakat lokal, yang mana secara tidak langsung masyarakat lokal dan masyarakat pendatang telah melakukan interaksi sosial. Seperti contoh pada saat melakukan proses perdagangan, proses tersebut mengandung proses pertukaran sosial berbasis ekonomi. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antaretnik bisa memenuhi proses interaksi sosial namun ada factor yang bisa membatasi interaksi antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang, seperti status sosial, kelompok, dan instuisi sosial. Maka dari itu didalam masyarakat selalu ada hubungan antaretnik atau antarras seperti hubungan mayoritas dan minoritas dalam agama, politik,ekonomi,gender,dst.

Dikutip dalam buku Alo Liliweri (2005:137) Eitzen dan Zinn menjelaskan bentuk atau hubungan antar etnik diantaranya adalah :

1. Asimilasi, suatu bentuk hubungan antaretnik atau antarras yang ada didalam suatu masyarakat untuk mengurangi perbedaan-perbedaan diantara mereka guna pencapaian persamaan tujuan. Hal ini dilakukan dilakukan dalam bentuk adaptasi budaya. Tujuan dari akomodasi ini untuk mengurangi pertentangan , atau bahkan konflik yang ada di masyarakat karena perbedaan nilai dan norma. Alo Liliweri ( 2005:139)

2.9 Ruang Lingkup Penelitian 2.9.1 Masyarakat Lokal

Merupakan kelompok masyarakat tradisioal keberadaanya menghuni suatu wilayah. .Masyarakat lokal merupakan masyarakat asli dari wilayah tersebut, atau

(15)

23

bisa dikatakan masyarakat yang sudah sejak dahulu berada di wilayah itu sejak nenek moyang nya hingga keturunan-keturunannya.Sehingga masyarakat lokal berpegang teguh terhadap nilai-nilai dan norma yang dimiliki.

2.9.2 Migrasi

Perpindahan penduduk yang memiliki tujuan untuk penempatan suatu wilayah dapat diartikan sebagai migrasi. Menurut Charles Tilly dalam buku Alo Liliweri (2005:142) terdapat beberapa factor yang mendorong masyarakat untuk bermigrasi, yaitu (1) keadaan satuan imigran ( contoh keluarga-keluarga yang bermigrasi ); (2) situasi dan kondisi di daerah asal; (3) kandisi serta situasi di daerah tempat tujuan; (4) situasi dan kondisi sodial politik yang ada di darahnya. . Adapun sebab lainnya masyarakat bermigrasi ialah karena factor daya tarik suatu wilayah yang mana menarik masyarakat untuk bermigrasi.Misal karena luasnya lahan pertanian, sumber daya alam yang kaya dan banyak lainnya.

Jika kita lihat pada proses migrasi menunjukkan bahwa hubungan antarras atau antaretnik terletak pada kontak antarkelompok yang dikarenakan migrasi penduduk. Kontak atau interaksi antarkelompok tersebut yang dilatar belakangi kebudayaan yang berbeda sering menjadi salah satu penyebab dari konflik.Perbedaan kebiasaan dan kebudayaan menjadi factor yang sangat kuat terjadi diantara masyarakat migrasi dengan masyarakat lokal daerah tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas yang berhubungan dengan pokok permasalahan, maka hipotesis penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut: ”Terdapat hubungan yang signifikan

(1) Menugaskan Kepada Kepala Dinas atau Satuan Kerja Perangkat Daerah yang diberi kewenangan sesuai dengan tugas pokok fungsinya untuk melaksanakan Peraturan

52 Jakarta Selatan, dengan ini Unit Layanan Pengadaan BNP2TKI menetapkan Hasil Prakualifikasi untuk paket pekerjaan Pembuatan Peta Sistem Monitoring Dan

Bermani Ulu Raya, Perda No.5/2005 Bangun Jaya Menjadi wil.. Bermani Ulu Raya, Perda No.5/2005 Babakan Baru

Program Peningkatan Kualitas Desain Produk Alas Kaki, sebagai kegiatan tahunan, lomba desain BPIPI 2015 akan mengambil tema ‘transportation’ sudah menjadi agenda

Pada perlakuan menggunakan kultur mikroba N-Sw (Tabel 2) terlihat konsentrasi nitrit di akhir reaksi (24 jam) cukup tinggi dibandingkan dengan perlakuan campuran antara kultur N-Sw

Sasaran ini memiliki indikator kontribusi ekspor produk Industri elektronika dan telematika terhadap ekspor nasional dan pangsa pasar produk Industri elektronika

Namun hanya sedikit yang membahas tentang HSE secara satu Namun hanya sedikit yang membahas tentang HSE secara satu kesatuan untuk penilaian di industri berbasis logika fuzzy..