SKRIPSI
ANALISIS DETERMINAN EKONOMI MAKRO DAN KINERJA PERBANKAN TERHADAP NON-PERFORMING LOAN BANK
PEMBANGUNAN DAERAH DI INDONESIA
OLEH
FADLI ADINDA HARAHAP 130501114
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
PERSETUJUAN PENCETAKAN
Nama : Fadli Adinda Harahap
NIM : 130501114
Program Studi : S1 – Ekonomi Pembangunan Konsentrasi : Perbankan
Judul : Analisis Determinan Ekonomi Makro dan Kinerja Perbankan Terhadap Non-Performing Loan Bank Pembangunan Daerah di Indonesia
Tanggal : Ketua Program Studi
Drs. Coki Ahmad Syahwier, M.P.
NIP. 19590912 198703 1 003
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
PERSETUJUAN
Nama : Fadli Adinda Harahap
NIM : 130501114
Program Studi : S1 – Ekonomi Pembangunan Konsentrasi : Perbankan
Judul : Analisis Determinan Ekonomi Makro dan Kinerja Perbankan Terhadap Non-Performing Loan Bank Pembangunan Daerah di Indonesia
Tanggal: Dosen Pembimbing
Syarief Fauzie, S.E., M.Ak, Ak.
NIP. 19750909 200801 1 012
Penguji I Penguji II
Drs. Coki Ahmad Syahwier, M.P. Wahyu Sugeng Imam Suparno, S.E., M.Si.
NIP. 19590912 198703 1 003 NIP. 19850605 201504 1 002
LEMBAR PERNYATAAN
Sayayang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul ―Analisis Determinan Ekonomi Makro dan Kinerja Perbankan Terhadap Non-Performing Loan Bank Pembangunan Daerah di Indonesia‖ ialah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat padaskripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan,
Fadli Adinda Harahap 130501114
ABSTRAK
ANALISIS DETERMINAN EKONOMI MAKRO DAN KINERJA PERBANKAN TERHADAP NON-PERFORMING LOAN BANK
PEMBANGUNAN DAERAH DI INDONESI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh determinan ekonomi makro dan kinerja perbankan terhadap Non Performing Loan (NPL) Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia selama periode 2011-2015. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah 26 Bank Pembangunan Daerah.
Variabel ekonomi makro yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi daerah dan inflasi. Sedangkan variabel kinerja perbankan yang digunakan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan pertumbuhan kredit.
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi data panel dan uji kelayakan model ( uji t, uji F, dan uji koefisien determinasi). Berdasarkan hasil pemilihan model data panel dengan menggunakan uji Hausman, model efek acak merupakan model yang sesuai dalam penelitian ini.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa secara simultan variabel pertumbuhan ekonomi daerah, inflasi, LDR, CAR, dan pertumbuhan kredit berpengaruh signifikan terhadap NPL. Secara parsial hanya pertumbuhan kredit yang berpengaruh signifikan terhadap NPL dengan arah hubungan yang negatif.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi daerah, inflasi, LDR, dan CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap NPL BPD selama periode 2011-2015.
Kata Kunci : NPL, Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Inflasi, LDR, CAR, ...Pertumbuhan Kredit
ABSTRACT
DETERMINANTS OF MACROECONOMIC VARIABLES AND BANKING PERFORMANCE TOWARD NON-PERFORMING LOAN OF REGIONAL
DEVELOPMENT BANKS IN INDONESIA
The objectives of this research is to analyze the effect of macroeconomic and bank performance determinants toward Non Performing Loan (NPL) of Regional Development Bank (BPD) in Indonesia during period 2011-2015. The objects of this research are 26 Regional Development Banks. Macroeconomic variables that used are regional economic growth and inflation. Then bank performance variables that used are Loan to Deposit Ratio (LDR), Capital Adequacy Ratio (CAR), and loan growth
This research uses panel data regression analysis method and goodnes of fit test (t test, F test, and R-squared test). Based on the result of model selection test by using Hausman test, Random Effect Model is the appropriate model for this research.
The estimation result shows that simultaneously regional economic growth, inflation, LDR, CAR, and loan growth have significant effect to NPL.
Partially, only loan growth has significant effect to NPL with negative association. Meanwhile, regional economic growth, inflation, LDR, and CAR have no significant effect to NPL of Regional Development Bank (BPD) during period 2011-2015.
Keywords : NPL, Regional Economic Growth, Inflation, LDR, CAR, Loan ..Growth
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Allah Swt. atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ―Analisis Determinan Ekonomi Makro dan Kinerja Perbankan terhadap Non Performing Loan Bank Pembangunan Daerah di Indonesia‖. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Strata Satu (S1) Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua Orangtua penulis, Almarhum Drs. H. Sori Muda Harahap dan Hj. Tapi Srieyani Lubis, serta abang Faisal Bukhory Harahap, kakak Farah Annisa Harahap, dan adik Fikri Fansyuri Harahap yang sudah memberikan semangat dan doa dalam pengerjaan skripsi ini.
Proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier, M.P selaku Ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syarief Fauzie, S.E., M.Ak., Ak.selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier, M.P. selaku Dosen Pembanding I yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Bapak Wahyu Sugeng Imam Suparno, S.E., M.Si.selaku Dosen Pembanding II yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis.
7. Seluruh pegawai dan staf administrasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan.
8. Seluruh teman-teman stambuk 2013 Prodi S1Ekonomi Pembangunan yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terimakasih untuk dukungan, kerjasama, inspirasi dan kebersamaan selama ini.
9. Semua pihak yang sudah memberikan semangat dan turut membantu dalam penulisan skripsi ini, namun tidak dituliskan pada lembaran ini, penulis mohon maaf dan tidak mengurangi rasa terima kasih penulis.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan peneliti selanjutnya, khususnya kepada rekan- rekan mahasiswa Ekonomi Pembangunan.
Medan, Juli 2017 Penulis,
Fadli Adinda Harahap NIM:130501114
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1 Risiko Kredit... 12
2.1.1 Definisi Risiko Kredit ... 12
2.1.2 Manajemen Risiko Kredit Menurut Basel II ... 12
2.2 Non-Performing Loans Sebagai Indikator Risiko Kredit .... 15
2.3 Determinan Non-Performing Loans ... 17
2.3.1 Kondisi Makroekonomi ... 18
2.3.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah (PDRB) ... 18
2.3.1.2 Inflasi ... 19
2.3.2 Kinerja Perbankan ... 21
2.3.2.1 Loan to Deposit Ratio (LDR) ... 21
2.3.2.2 Capital Adequacy Ratio (CAR) ... 22
2.3.2.2 Pertumbuhan Kredit ... 24
2.4 Penelitian Terdahulu ... 26
2.5 Kerangka Konseptual ... 32
2.6 Hipotesis Penelitian ... 37
BAB III METODE PENELITIAN ... 39
3.1 Jenis Penelitian ... 39
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 39
3.3 Batasan Operasional ... 39
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 40
3.4.1 Variabel Dependen (Terikat) ... 40
3.4.2 Variabel Independen (Bebas) ... 40
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 42
3.6 Jenis dan Sumber Data ... 43
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 44
3.8 Teknik Analisis ... 44
3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 44
3.8.2 Analisis Regresi Data Panel ... 45
3.8.3 Penentuan Model Data Panel ... 47
3.8.3.1 Uji Hausman (Hausman Test) ... 48
3.8.4 Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit) ... 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 52
4.1 Analisis Deskriptif ... 52
4.2 Uji Hausman (Hausman Test) ... 55
4.3 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel ... 56
4.4 Hasil Pengujian Hipotesis ... 64
4.4.1 Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 64
4.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 66
4.4.3 Koefisien Determinasi (R2) ... 67
4.5 Pembahasan ... 67
4.5.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Daerah terhadap Non Performing Loan ... 67
4.5.2 Pengaruh Inflasi Daerah terhadap Non Performing ...Loan ... 69
4.5.3 Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap Non ...Performing Loan ... 71
4.5.4 Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Non ...Performing Loan ... 72
4.5.5 Pengaruh pertumbuhan kredit terhadap Non Performing Loan ... 73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
5.1 Kesimpulan ... 75
5.2 Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 78
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
2.1 Penjelasan dari Kualitas Kredit Kurang Lancar, Diragukan
dan Macet ... 16
2.2 Rangkuman Penelitian Terdahulu ... 26
3.1 Daftar Sampel Bank ... 42
4.1 Statistik Deskriptif ... 53
4.2 Uji Hausman... 57
4.3 Hasil Estimasi Random Effect Model ... 57
4.4 Hasil Uji t ... 64
4.5 Hasil Uji F ... 66
4.6 Koefisien Determinasi ... 67
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Perkembangan NPL Bank Pembagunan Daerah ... 4 2.1 Kerangka Konseptual ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul
1 Data Hasil Pemilihan Sampel
2 Data Penelitian
3 Statistik Deskriptif
4 Hasil Uji Hausman
5 Hasil Estimasi Random Effect Model
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sebagai lembaga intermediasi keuangan, bank memiliki peranan penting dalam meningkatkan taraf perekonomian suatu negara. Menurut Kasmir (2012 : 2) bank dapat dikatakan sebagai darahnya perekonomian suatu negara. Semakin maju suatu negara, maka semakin besar peranan perbankan dalam mengendalikan negara tersebut. Artinya keberadaan dunia perbankan semakin dibutuhkan pemerintah dan masyarakatnya. Gezu (2014) menyatakan bahwa peranpembangunan (role of development) yang dilakoni oleh sektor perbankan akan menentukan langkah dalam pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu stabilitas sektor perbankan adalah kunci untuk pembangunan ekonomi.
Dalam sistem perbankan Indonesia, Bank Pembagunan Daerahmemiliki peran yang cukup penting sebagai lembaga intermediasi yang beroperasi dalam lingkup Daerah Tingkat 1 dan sekitarnya (Yanti, 2012). Melalui kegiatan penyaluran kredit (lending),Bank Pembangunan Daerah (BPD)dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerahyang kemudian akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun 1999 Tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Bank Pembangunan Daerah Pasal 2 menyatakan bahwa BPD mempunyai tugas pokok yaitu mengembangkan perekonomian dan menggerakkan pembangunan daerah melalui kegiatan BPD sebagai Bank.
Saat ini di Indonesia terdapat 26 Bank Pembangunan Daerah yang tersebar
cukup baik selama rentang waktu 2011-November 2016. Pada November 2016 total aset Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia tercatat sebesar Rp 546,89 triliun atau tumbuh sebesar 55,59% dari tahun 2011. Sedangkan Total Dana Pihak Ketiga yang dihimpun tercatat sebesar Rp 431,35 triliun atau tumbuh sebesar 54,56% dari tahun 2011 serta total kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp 357,52 triliun atau tumbuh sebesar 49,14% dari tahun 2011. (Statistik Perbankan Indonesia, 2016)
Sebagai lembaga intermediasi keuangan Bank Pembangunan Daerah tidak luput dari adanya potensi resiko yang akan timbul. Risiko utama yang dihadapi BPD adalah risiko kredit. Risiko kredit adalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterparty tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak / kesepakatan yang telah dilakukan. Risiko kredit dapat diindikasikan dengan tingginya rasio kredit non lancar atau non performing loan atau NPL (Guy dan Lowe, 2011 dalam Yanti 2012). Menurut Rivai dan Veithzal (2007 : 476) non- performing loans atau kredit bermasalah adalah kredit dimana cidera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian, sehingga terdapat tunggakan, atau ada potensi kerugian di perusahaan nasabah sehingga memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam arti luas.
Menurut Alexandri dan Santoso (2015) NPL merupakan salah satu indikator yang dipakai dalam penilaian kinerja bank sebagai lembaga intermediasi. Panggabean (2012) menyatakan bahwa ukuran kualitas kredit yang umum digunakan adalah non-performing loans ( NPL ) atau kredit bermasalah.
Semakin rendah rasio NPL maka akan semakin rendah tingkat kredit bermasalah
yang terjadi yang berarti semakin baik kondisi dari bank tersebut ( Diyanti dan Widyarti, 2012 ).
Minimalisasi NPL adalah kondisi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ketika NPL dipertahankan secara permanen, hal ini akan berdampak pada tertutupnya sumber daya di daerah yang tidak menguntungkan.
Dengan demikian, NPL akan cenderung menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi efisiensi ekonomi (Hou, 2007 dalam Messai dan Jouini, 2013 ).
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 Tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional menyatakan bahwa batas maksimum NPL netto adalah 5% dari total kredit.
Apabila melewati batas tersebut maka akan digolongkan dalam bank ―Dalam Pengawasan Intensif‖ yang bermakna bank tersebut memiliki potensi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.
Saat ini NPL Bank Pembangunan Daerah masih berada pada posisi yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari NPL Bank Pembangunan Daerah yang masih berada dibawah batas maksimum 5% yang ditentukan oleh Bank Indonesia.
Berdasarkan Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa NPL Bank pembangunan Daerah mengalami trend peningkatan. Pada tahun 2011 rasio NPL Bank Pembagunan Daerah tercatat sebesar 1,75%. Hal ini kemudian terus mengalami peningkatan hingga pada November 2016, NPL Bank Pembagunan Daerah tercatat sebesar 3,75%. Secara umum nilai NPL Bank Pembangunan Daerah masih dibawah batas maksimum 5% yang telah ditetapkan Bank Indonesia, namun adanya trend peningkatan NPL harus menjadi perhatian khusus bagi BPD di Indonesia untuk
mengutamakan prinsip kehati-hatian serta tetap memperhatikan kualitas kredit yang akan disalurkan.
Sumber : Statistik Perbankan Indonesia ( diolah )
Gambar 1.1
Perkembangan NPL Bank Pembagunan Daerah
NPL merupakan salah satu faktor yang mencermikan kesehatan sektor perbankan. Oleh karena itu, mengidentifikasi faktor-faktor penentu NPL sangat penting untuk meminimalkan risiko kredit (Touny dan Shehab, 2015). Besar kecilnya NPL suatu bank dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar bank yang direpresentasikan oleh kondisi makroekonomi dari suatu negara atau daerah.
Sedangkan faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam bank yang direpresentasikan oleh kinerja bank (bank performance).
Penelitian yang berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi NPL pernah dilakukan Abid et al (2014). Penelitian ini mengombinasikan antara variabel makroekonomi dengan variabel spesifik bank. Adapun variabel dependen
1.75%
2.30%
2.81%
3.45%
3.67% 3.75%
0.00%
0.50%
1.00%
1.50%
2.00%
2.50%
3.00%
3.50%
4.00%
2011 2012 2013 2014 2015 Nov-16
dalam penelitian tersebut adalah Non Performing Loans sedangkan variabel independen yang digunakan adalah NPL tahun lalu ( ), Pertumbuhan GDP, Inflasi, Suku Bunga Kredit, ROE, dan Bank Size. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Bank Size berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL. Sedangkan variabel NPL periode lalu ( ), Pertumbuhan GDP , dan ROE berpengaruh signifikan dan negatif terhadap NPL.
Selain itu dalam penelitian yang dilakukan Soebagio (2005) yang meneliti tentang determinan NPL bank komersil di Indonesia dengan menggunakan metode analisis regresi berganda yang membagi dua model regresi, yaitu model regresi untuk variabel makro dan model regresi untuk variabel mikro (bank).
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPL sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah kurs, Inflasi, dan GDP yang mewakili variabel makroekonomi serta CAR, KAP, dan LDR yang mewakili variabel spesifik bank. Hasil penelitian menunjukkan, untuk model variabel makroekonomi, Kurs, Inflasi, dan GDP berpengaruh secara positif terhadap NPL.
Semua variabel signifikan terhadap NPL kecuali GDP. Hasil estimasi untuk model variabel mikro menunjukkan bahwa CAR dan LDR berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap NPL. Sementara KAP berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap NPL.
Sementara itu Hue (2015) melakukan penelitian tentang determinan NPL pada bank komersil di Vietnam dengan menggunakan variabel-variabel spesifik perbankan yang memasukkan dummy variable (bank milik negara atau bukan).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah NPL sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah NPL periode lalu ( ), Loan Growth, Total Assets, dan Dummy (bank milik negara atau tidak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel NPL periode lalu ( ), Loan Growth, dan Dummy berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap NPL. Sedangkan variabel Total Assets berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap NPL Bank di Vietnam.
Dalam penelitian ini faktor eksternal yang direpresentasikan oleh kondisi makroekonomi suatu negara atau daerah menggunakan variabel pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) dan Inflasi. Sedangkan faktor internal yang direpresentasikan oleh kinerja perbankan menggunakan variabel Loan to Deposit Ratio (LDR), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Pertumbuhan Kredit (Loan Growth).
Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah yang direfleksikan oleh kenaikan PDRB menunjukkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan perusahaan, yang kemudian akan berdampak pada kemampuan mereka membayar utang (kredit) yang meningkat. Hal tersebut kemudian akan berdampak pada menurunnya NPL. Sebaliknya ketika terjadi perlambatan ekonomi yang direfleksikan oleh penurunan PDRB menunjukkan pendapatan masyarakat dan perusahaan menurun, sehingga kemampuan untuk membayar utang (kredit) pun ikut menurun dan NPL cenderung akan mengalami kenaikan. Sehingga diduga hubungan antara NPL dengan pertumbuhan ekonomi daerah adalah negatif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abid et al (2014), Messai
dan Jouini (2013), Makri et al (2014), Farhan et al (2012), Curak et al (2013), Diyanti dan Widyarti (2012) . Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian Shingjergji (2013) yang menyatakan adanya hubungan positif antara pertumbuhan PDB dengan NPL.
Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Klein (2013) menyatakan bahwa inflasi yang tinggi juga dapat menyebabkan naiknya tingkat suku bunga sebagai hasil dari kebijakan moneter dalam meredam inflasi. Hal ini kemudian akan direspon oleh bank dengan menaikkan tingkat suku bunga deposito yang diikuti dengan meningkatnya suku bunga kredit. Hal tersebut akan megurangi kemampuan debitur dalam membayar kewajibannya (kredit) sehingga meningkatkan NPL atau kredit masalah. Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan inflasi adalah positif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chaibi dan Fitri (2015), Abid et al (2014), Farhan et al (2014), Curak et al (2013), Yanti (2012), Diyanti dan Widyarti (2012), dan Soebagio (2005). Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian Shingjergji (2013) yang menyatakan adanya hubungan negatif antara inflasi dengan NPL.
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah dana masyarakat yang dihimpun (DPK). LDR yang tinggi bermakna bahwa adanya penyaluran kredit yang tinggi pula. Dengan demikian potensi terjadinya kredit bermasalah atau NPL akan tinggi pula. Jadi, semakin tinggi LDR sebuah bank, maka akan semakin tinggi NPL. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah LDR
sebuah bank maka akan semakin rendah NPL bank tersebut. Oleh sebab itu diduga adanya hubungan positif antara LDR dengan NPL. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adisaputra (2012). Namun hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Soebagio (2005) yang menyatakan adanya hubungan negatif antara LDR dengan NPL bank.
Capital Adequacy Ratio (CAR) memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, surat berharga, dan sebagainya) ikut dibiayai dari modal sendiri bank disamping memperoleh dana-dana dari sumber diluar bank. Semakin tinggi modal yang dimiliki bank maka akan semakin mudah bagi bank untuk membiayai aktiva yang mengandung risiko (kredit). Begitu juga sebaliknya jika pertumbuhan kredit tidak disertai dengan modal yang mencukupi maka akan berpotensi menimbulkan kredit bermasalah atau NPL. Oleh sebab itu diduga hubungan antara CAR dengan NPL adalah negatif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Soebagio (2005), Diyanti dan Widyarti (2012), Gezu (2014), Makri et al (2014) dan Misman et al (2015). Namun hal ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan Adisaputra (2012) yang menyatakan adanya hubungan positif antara CAR dengan NPL.
Pertumbuhan kredit menujukkan peningkatan atau penurunan jumlah seluruh kredit yang disalurkan dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persen. Menurut Utari dkk. (2012) selama periode ekspansi, institusi perbankan cenderung memiliki ekspektasi yang terlalu optimis pada kemampuan membayar nasabah dan akibatnya kurang hati-hati dalam memberikan kredit kepada golongan beresiko tinggi. Sebagai akibatnya terjadi penumpukan pinjaman yang
berpotensi menjadi bad loans pada periode ekonomi kontraksi. Sehingga dapat dipahami bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas penyaluran kredit akan berdampak pada meningkatnya NPL.
Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan pertumbuhan kredit adalah positif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hue (2015).
Namun penelitian yang dilakukan Curak et al (2013) menyatakan tidak adanya hubungan yang signfikan antara pertumbuhan kredit dengan NPL.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Analisis Determinan Ekonomi Makro dan Kinerja Perbankan Terhadap Non-Performing Loan Bank Pembangunan Daerah di Indonesia”
1.2 Rumusan Permasalahan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi NPL pada Bank Pembangunan Daerah (BPD). Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh pertumbuhan PDRB terhadap NPLBank Pembangunan Daerah?
2. Bagaimana pengaruh Inflasi terhadap NPLBank Pembangunan Daerah?
3. Bagaimana pengaruh LDR terhadap NPLBank Pembangunan Daerah?
4. Bagaimana pengaruh CAR terhadap NPLBank Pembangunan Daerah?
5. Bagaimana pengaruh pertumbuhan kredit terhadap NPLBank Pembangunan Daerah?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan PDRB terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah.
2. Untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah.
3. Untuk mengetahui pengaruh LDR terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah.
4. Untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah.
5. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan kredit terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai NPL, khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi NPL Bank Pembangunan Daerah
2. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan studi dan literatur tambahan terhadap penelitian yang sudah ada, khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi NPL Bank Pembangunan Daerah.
3. Bagi industri perbankan khususnya Bank Pembangunan Daerah, penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan
kredit antara lain pentingnya kualitas proses pemberian kredit dan manajemen risiko kredit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Risiko Kredit
2.1.1 Definisi Risiko Kredit
Sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial intermediary), bank tidak luput dari berbagai potensi resiko yang akan terjadi. Salah satu risiko yang sering terjadi dan menjadi pemicu permasalahan perbankan adalah risiko kredit.Menurut Bank Indonesia risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Risiko kredit pada umumnya terdapat pada seluruh bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja lawan (counterparty), penerbit (issuer), atau kinerja peminjam dana (borrower). Risiko kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu.
Sedangkan menurut Rivai dan Veithzal (2007 : 814) risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) dalam memenuhi kewajiban. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktifitas fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasury, dan investasi, dan pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book maupun trading book.
2.1.2 Manajemen Risiko Kredit Menurut Basel II
Di dalam dokumen Principles for the Management of Credit Risk yang diterbitkan Basel Comitee for Banking Supervision, menjabarkan 5 pilar pokok dalam penilaian manajemen risiko kredit yaitu (BCBS,2000 dalam Yanti,2012)
1. Membangun suatu lingkungan risiko kredit yang memadai
Dalam pilar ini dewan direksi dan manajemen senior memiliki tanggung jawab dalam membangun suatu lingkungan risiko yang memadai. Dewan direksi bertanggung jawab untuk menyetujui dan melakukan review terhadap strategi dan kebijakan risiko kredit yang signifikan bagi bank dalam waktu tertentu (setidaknya setahun sekali) dimana strategi tersebut harus mencerminkan toleransi risiko bank dan tingkat profitabilitas yang ingin dicapai dari tingkat risiko kredit yang diambil.Sedangkan manajemen senior bertanggung jawab untuk mengimplementasikan strategi risiko kredit yang telah disetujui oleh Dewan Direksi dan mengembangkan kebijakan serta prosedur untuk mengindentifikasi, mengukur, memonitor, dan mengendalikan
risiko kredit. Selain itu bank harus memastikan seluruh risiko pada produk dan aktivitas baru telah melalui prosedur manajemen risiko dan kontrol sebelum diluncurkan dan disetujui sebelumnya oleh Dewan Direksi atau Komite yang berwenang.
2. Beroperasi dalam proses pemberian kredit yang sehat
Dalam pilar ini bank harus beroperasi dalam kriteria pemberian kredit yang sehat dan didefinisikan dengan jelas mencakup antara lain target pasar bank, pemahaman yang mendalam terhadap debitur termasuk tujuan dan struktur fasilitas kredit dan sumber pembayaran.Selain itu bank harus menetapkan limit kredit secara keseluruhan pada individu debitur atau counterparty dan kelompok peminjam yang dapat diperbandingkan dan
mencerminkan keseluruhan eksposur yang berbeda-beda, baik di banking book, trading book, on dan off balance sheet.Hal lainnya ialah bank harus memiliki proses persetujuan kredit yang jelas termasuk proses untuk perubahan, pembaharuan, dan refinancing fasilitas kredit.Seluruh pemberian kredit harus dilakukan secara ‖arm’s-length basis‖ serta harus diotorisasi secara ekspansional, dimonitor secara khusus dan langkah- langkah lain yang memadai untuk memitigasi risiko kredit kepada pihak terkait tersebut.
3. Memelihara proses administrasi kredit, pengukuran, dan pengawasanyang memadai
Dalam pilar ini setiap bank harus memiliki sistem-sistem pendukung yang saling bersinergi satu sama lain. Sistem-sistem tersebut diantaranya yaitu sistem administrasi kredit, sistem monitoring kredit, internal rating system, dan sistem informasi serta teknik analisis untuk mengukur risiko kredit. Selain itu adanya potensi perubahan kondisi perekonomian harus menjadi pertimbangan bagi bank pada saat penilaian kredit dan portofolio kredit serta bank harus menilai eksposur risiko kredit dalam kondisi tekanan.
4. Memastikan ketersediaan kontrol yang memadai terhadap risiko kredit Dalam pilar ini bank harus mengembangkan sistem yang independen dan berkesinambungan terhadap proses manajemen risiko kredit. Bank harus memastikan bahwa fungsi pemberian kredit dikelola secara baik dan mematuhi standar kehati-hatian serta limit internal. Selain itu bank harus
memiliki sistem untuk melakukan tindakan perbaikan secara dini dalam hal terdapat pemburukan kualitas kredit, mengelola kredit bermasalah dan semacamnya.
5. Peran Pengawas
Prinsip utama dalam pilar ini adalah bahwa pengawas harus meminta bank agar memiliki sistem untuk mengidentifikasi, mengukur, memonitor, dan mengendalikan risiko kredit sebagai bagian dari pendekatan yang menyeluruh terhadap risiko kredit.
2.2 Non-Performing Loans Sebagai Indikator Risiko Kredit
Menurut Alexandri dan Santoso (2015) Non-Performing Loans (NPL) merupakan salah satu indikator yang dipakai dalam penilaian kinerja bank sebagai lembaga intermediasi. Sebagai lembaga intermediasi keuangan yang bertugas menyalurkan kredit, risiko kredit menjadi risiko utama yang dihadapi oleh setiap bank.Risiko kredit dapat diindikasikan dengan tingginya rasio kredit non lancar atau non performing loan atau NPL (Guy dan Lowe, 2011 dalam Yanti 2012).
Panggabean (2012) menyatakan bahwa ukuran kualitas kredit yang umum digunakan adalah non-performing loans ( NPL ) atau kredit bermasalah. Tingkat terjadinya kredit bermasalah biasanya dicerminkan dengan rasio non-performing loan (NPL) yang terjadi pada suatu bank. Semakin rendah rasio NPL maka akan semakin rendah tingkat kredit bermasalah yang terjadi yang berarti semakin baik kondisi dari bank tersebut (Diyanti dan Widyarti, 2012 ).
Secara sederhana non-performing loan dapat diartikan sebagai kredit bermasalah dimana kredit yang di dalam pelaksanaannya belum mencapai target
yang diinginkan oleh pihak bank serta berpotensi memliki risiko bagi bank dikemudian hari.Menurut Herrerias (2011) yang dikutip dalam Yanti (2012), rasio non-performing loans atau kredit non-lancar adalah persentase kredit yang tidak dapat ditagih sesuai dengan syarat-syarat dalam perjanjian kredit kedua belah pihak yang merupakan salah satu indikator utama penilaian kualitas, tingkat risiko dan tingkat solvabilitas suatu bank
Sementara menurut Rivai dan Veithzal (2007 : 476) non-performing loans atau kredit bermasalah adalah kredit dimana cidera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian, sehingga terdapat tunggakan, atau ada potensi kerugian di perusahaan nasabah sehingga memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam arti luas.
Sedangkan menurut Bank Indonesia, rasio non-performing loans adalah rasio antara jumlah Total Kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet terhadap total kredit. Adapun penjelasan dari masing-masing kualitas kredit adalah sebagai berikut.
Tabel 2.1
Penjelasan dari Kualitas Kredit Kurang Lancar, Diragukan dan Macet Kurang Lancar
(Substandard)
Diragukan
(Doubtful) Macet(Loss)
Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari.
Sering terjadi cerukan.
Frekuensi mutasi rekening relatif rendah.
Terjadi pelanggaran
Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 180 hari
Terjadi cerukan yang bersifat permanen
Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari.
Dokumentasi hukum
Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 270 hari.
Kerugian operasional ditutup dengan jaminan baru.
Dari segi hukum kondisi pasar, jaminan
terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari.
Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi nasabah
Dokumentsi pinjaman yang lemah.
yang lemah, baik untuk perjanjian kredit maupun pengikat jaminan.
tidak dapat dicairkan pada nilai wajar
Sumber : Kasmir(2012)
Sementara untuk menghitung besarnya rasio NPL, dapat menggunakan rumus sebagai berikut.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 Tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional menyatakan bahwa batas maksimum NPL netto adalah 5% dari total kredit.
Apabila melewati batas tersebut maka akan digolongkan dalam bank ―Dalam Pengawasan Intensif‖ yang bermakna bank tersebut memiliki potensi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.
2.3 Determinan Non-Performing Loans
NPL merupakan salah satu faktor yang mencermikan kesehatan sektor perbankan. Oleh karena itu, mengidentifikasi faktor-faktor penentu NPL sangat penting untuk meminimalkan risiko kredit (Touny dan Shehab, 2015).Rivai dan Veithzal (2007 : 478-479) menjelaskan bahwa terjadinya kredit bermasalah dapat disebabkan diantaranya oleh bank, nasabah, dan faktor eksternal (perekonomian, peraturan, dan bencana alam). Namun secara umum Klein (2013) menyatakan
NPL =
x 100%
bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi serta menjelaskan perubahan NPL yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar bank yang direpresentasikan oleh kondisi dari indikator-indikator makroekonomi dari suatu negara atau daerah. Sedangkan faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam bank yang direpresentasikan oleh kinerja bank (bank performance).
2.3.1 KondisiMakroekonomi
Beberapa literatur dan penelitian terdahulu mencoba untuk mengaitkan antara kondisi makroekonomi dan risiko kredit (NPL) melalui siklus bisnis (business cycle). Dalam hal ini, diasumsikan bahwa pada saat fase ekspansi ekonomi, NPL mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena masyarakat dan perusahaan mempunyai pendapatan yang cukup untuk membayar utang (kredit) mereka. Namun hal sebaliknya terjadi pada saat fase resesi, risiko gagal bayar (default) akan mungkin terjadi karena kredit menjadi lebih mahal dan sulit untuk melunasinya (Touny dan Shahab, 2015). Dalam penelitian ini variabel ekonomi makro yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) dan inflasi.
2.3.1.1Pertumbuhan Ekonomi Daerah (PDRB)
Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara/daerah yang secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Selain itu pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional/daerah dalam jangka waktu tertentu (1 tahun). Menurut Sukirno (2006) pertumbuhan ekonomi merupakan suatu ukuran
kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam satu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut dinyatakan dalam bentuk persen perubahan pendapatan nasional/daerah.
Dalam konteks daerah/regional indikator pertumbuhan ekonomi yang digunakan adalah Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh perekonomian suatu daerah dalam periode tertentu (biasanya satu tahun). Secara umum PDRB dapat dibagi menjadi dua yaitu
- PDRB atas dasar harga berlaku (nominal) adalah nilai output yang dihasilkan berdasarkan harga-harga yang berlaku pada waktu output tersebut diproduksi.
- PDRB atas dasar harga konstan (riil) adalah nilai output yang dihasilkan pada satu waktu tertentu berdasarkan harga tahun dasar tertentu.
PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (www.bps.go.id).
2.3.1.2 Inflasi
Menurut Nanga(2005 : 237) inflasi suatu gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus menerus. Bank Indonesia secara sederhana mendefinisikan inflasi sebagai meningkatnya harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang
Pertumbuhan Ekonomi Daerah =
x 100%
saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Sementara menurut Badan Pusat Statistik inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Jika inflasi meningkat, maka harga barang dan jasa di dalam negeri mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai mata uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Dari beberapa pengertian di atas terdapat tiga hal penting yang perlu ditekankan berkenaan dengan inflasi yaitu :
1. Adanya kecenderungan harga-harga barang dan jasa untuk meningkat 2. Kenaikan harga terjadi secara terus-menerus
3. Kenaikan harga terjadi secara umum
Di Indonesia indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks Harga Konsumen adalah Indeks yang menghitung rata-rata perubahan hargadari suatu paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Berikut rumus perhitungan laju inflasi.
Inflasi =
x 100%
2.3.2 Kinerja Perbankan
Salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tingakt NPL suatu bank adalah faktor internal yang direpresentasikan oleh kinerja perbankan.
Kinerja perbankan adalah suatu usaha formal yang dilakukan sebuah bank untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari aktivitas bank yang telah dilakukan dalam periode tertentu. Biasanya dalam mengukur kinerja perbankan digunakan rasio-rasio keuangan diantaranya yaitu rasio likuiditas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas. Adapun variabel kinerja perbankan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Loan to Deposit Ratio (LDR),Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Pertumbuhan Kredit.
2.3.2.1 Loan to Deposit Ratio (LDR)
Likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi hutang lancarnya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Suatu bank dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan dapat membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro dan deposito pada saat ditagih dan dapat pula memenuhi semua permohonan kredit yang memang layak untuk dibiayai. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur likuiditas bank adalah Loan to Deposit Ratio (LDR).
Menurut Ali (2004 : 344) Loan to Deposit Ratio (LDR) menggambarkan perbandingan antara besarnya jumlah pinjaman yang diberikan dengan jumlah dana masyarakat yang dihimpun. Sementara menurut Irmayanto dkk (2004 : 90) Loan to Deposit Ratio(LDR) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan bank
mengandalkan kredit yang telah diditribusikan ke masyarakat. Semakin tinggi rasio LDR berarti semakin rendah likuiditas bank, karena terlalu besar jumlah dana masyarakat yang dialokasikan ke kredit.
Sedangkan menurut Kasmir (2014 : 319) Loan to Deposit Ratio merupakan rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/11/PBI/2015 menyatakan bahwa ketentuan LDR atau LFR (Loan to Funding Ratio) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah berkisar antara 78% - 92%. Adapun rumus untuk menghitung Loan to Deposit Ratio adalah sebagai berikut.
2.3.2.2 Capital Adequacy Ratio (CAR)
Modal bank adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik untuk membiayai kegiatan usaha bank serta sebagai penyerap jika timbul kerugian (risk loss). Secara umum modal bank terbagi menjadi dua yaitu :
1. Modal inti (primary capital)
Modal inti terdiri atas modal disetor dan cadangan-cadangan yag dibentuk dari laba setelah pajak. Modal inti dapat berupa modal disetor, agio saham, modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba yang ditahan, laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.
2. Modal pelengkap (secondary capital) LDR =
x 100%
Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang dibentuk tidak dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Modal pelengakap dapat berupa cadangan revaluasi, cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, modal kuasi , dan pinjaman subordinasi.
Modaladalah faktor penting bagi bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung kerugian. Agar mampu berkembang dan bersaing secara sehat maka permodalnnya perlu disesuaikan dengan ukuran internasional yang dikenal dengan standar BIS (Bank for International Settlement). Sesuai dengan BIS maka kewajiban modal minimum bank adalah berdasarkan pada risiko, termasuk dalam risiko kredit. Dengan demikian permodalan merupakan penilaian terhadap kecukupan modal bank untuk menutupi eksposur saat ini dan mengantisipasi eksposur risiko di masa datang. Untuk mengetahui tingkat kecukupan modal suatu bank, maka digunakanlah Capital Adequacy Ratio (CAR) .
Menurut Abdullah (2005 : 60) Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang membandingkan antara jumlah modal bank dengan sejumlah aktiva yang dimiliki. Melalui rasio ini akan diketahui kemampuan menyanggah aktiva bank terutama kredit yang disalurkan dengan sejumlah modal bank. Dengan rasio CAR dapat diketahui berapa modal minimal yang harus dicapai bank apabila Bank Sentral menetapkan standar CAR tertentu dan bank memiliki sejumlah ATMR.
Menurut Irmayanto dkk (2004 : 87) CAR merupakan rasio antara modal
Tertimbang Menurut Risiko. ATMR merupakan penjumlahan ATMR aktiva neraca dan ATMR aktiva administratif. Adapun rumus perhitungan CAR adalah sebagai berikut.
Bank International Settlement (BIS) menetapkan rasio 8% permodalan terhadap aktiva yang mengandung risiko (CAR) yang dibagi dalam dua bagian yaitu 4% modal inti dan 4% modal sekunder (Abdullah dan Tantri, 2014). Selain itu berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 Tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum menyatakan bahwa Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau CAR bank umum adalah 8% dari Aset Tertimbang Menurut Risiko.
2.3.2.3 Pertumbuhan Kredit
Pertumbuhan kredit dapat didefinisikan sebagai ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan kegiatan penyaluran kredit (lending) yang dilakukan bank dalam periode tertentu. Pertumbuhan kredit menujukkan peningkatan atau penurunan jumlah seluruh kredit yang disalurkan dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam persen. Adapun rumus perhitungan pertumbuhan kredit adalah sebagai berikut.
CAR =
x
100%Pertumbuhan Kredit =
x 100%
Kredit merupakan sumber utama pendapatan bank yang diperoleh dalam bentuk bunga (kredit). Kredit perbankan juga memiliki peran penting dalam pembiayaan perekonomian nasional dan merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi.Menurut Dell’Aricciaet al(2012) yang dikutip dalam Utari dkk (2012) kredit perbankan dapat tumbuh dengan cepat dipicu oleh beberapa faktor yaitu :
1. Bagian dari fase normal suatu siklus bisnis 2. Adanya liberalisasi di sektor keuangan 3. Aliran modal masuk yang tinggi
Utari dkk (2012) lebih lanjut menyatakan bahwa tingginya pertumbuhan kredit dapat dipandang normal dan merupakan konsekuensi positif dari meningkatnya financial deepening dalam perekonomian. Namun pertumbuhan kredit yang berlebihan dapat menjadi ancaman bagi stabilitasmakroekonomi dan perbankan.
Dari sisi makroekonomi peningkatan kredit khususnya kredit konsumsi dapat mengakibatkan perekonomian memanas (overheating economy) yang kemudian akan berdampak kepada peningkatan inflasi, current account deficit serta apresiasi nilai tukar riil. Hal ini dipicu oleh meningkatnya permintaan agregat diatas output potensial. Di saat bersamaan pihak perbankan memiliki optimisme yang terlalu tinggi terhadap kemampuan bayar nasabah pada masa ekspansi sehingga kurang berhati-hati dalam menyalurkan kredit khususnya kepada nasabah yang beresiko tinggi. Akibatnya akan menimbulkan kemungkinan terjadinya bad loans.
2.4 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2
Rangkuman Penlitian Terdahulu
No
Nama Peneliti dan Tahun
Penelitian
Judul
Metode Analisis dan
Variabel Penelitian
Hasil
1 Nguyen Thi Minh Hue (2015)
Non Performing Loan : Affecting Factor for the Sustainabilty of Vietnam
Commercial Bank
Metode Analisis : Regresi data panel
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : NPL periode lalu ( ), Loan Growth, Total Assets, dan Dummy (bank milik negara atau tidak).
Variabel NPL periode lalu ( ), Loan Growth, dan Dummy berpengaruh secara positif dan signifikan
terhadap NPL.
Sedangkan variabel Total Assets berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap NPL Bank di Vietnam.
2 Hasna Chaibi dan Zied Fitri (2015)
Credit Risk Determinants : Evidence from a Cros- Country Study
Metode Analisis : Dynamic Panel Data
Variabel
NPL tahun sebelumnya berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL tahun sekarang, leverage berpengaruh signfikan dan positif terhadap NPL di Jerman. Size berpengaruh signfikan
dependen : NPL
Variabel Independen : NPL tahun sebelumnya, loan loss provisions, leverage, inefisiensi, non-interest imcome, Size, ROE, GDP growth, inflasi, kurs, pengangguran
dan positif terhadap NPL di Jerman dan Perancis.
ROE berpengaruh signfikan dan negatif terhadap NPL di Jerman
dan Perancis,
Pengangguran dan infalsi berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL di Jerman dan Perancis , pertumbuhan GDP berpengaruh signifikan dan negatif terhadap NPL di kedua negara, kurs berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL di Perancis serta berpengaruh signifikan dan negatif pada negara Jerman.
3 Lobna Abid, Med Nejib Ouertani, dan Sonia Zouari- Ghorbel(2014)
Macroeconomic and Bank Spesific Determinants of Household’s Non Performing Loans in Tunisia : a Dynamic Panel Data
Metode Analisis : Dynamic panel data (GMM)
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : NPL periode lalu ( ), Pertumbuhan
Variabel Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Bank Size berpengaruh signifikan dan positif
terhadap NPL.
Sedangkan variabel NPL periode lalu ( ), Pertumbuhan GDP , dan ROE berpengaruh signifikan dan negatif terhadap NPL.
GDP, Inflasi, Suku Bunga Kredit, ROE, dan Bank Size 4 Gadise Gezu
(2014)
Determinants of Non-Performing Loans :
Empirical Study in Case of the Commercial Banks in Ethiopia
Metode Analisis : Regresi data panel
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : LDR, CAR, ROA, ROE, Suku Bunga Kredit, Effective Tax Rate, dan Inflasi.
variabel LDR, ROA, dan Effective Tax Rate berpengaruh secara positif terhadap NPL.
Sementara variabel CAR, ROE, Suku Bunga Kredit, dan Inflasi berpengaruh secara negatif terhadap. Semua variabel dalam penelitian berpengaruh signifikan kecuali LDR dan Inflasi.
5 Vasiliki Makri, Athanasios Tsagkanos, Athanasios Bellas (2014)
Determinants of Non-Performing Loans : The Case of Eurozone
Metode Analisis : Dynamic panel data (GMM)
Variabel dependen : NPL
NPL periode lalu ( ), Utang Pemerintah, dan Pengangguran
berpengaruh positif
terhadap NPL.
Sedangkan variabel CAR, ROE, dan GDP berpengaruh negatif terhadap NPL. Sementara itu variabel LDR, ROA, Defisit Fiskal, dan Inflasi tidak menunjukkan
Variabel Independen : NPL periode lalu ( ), CAR, ROE, LDR, ROA, Utang Pemerintah, Defisit Fiskal, Pertumbuhan GDP, Inflasi, dan
Pengangguran
pengaruh yang signfikan terhadap NPL.
6 Marijana Curak, Sandra Pepur, dan Klime Poposki (2013)
Determinants of Non-Performing Loans – Evidence from
Southeastern European Banking Systems
Metode Analisis : Dynamic panel data (GMM)
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : NPL periode lalu ( ), Pertumbuhan GDP, Inflasi, Suku Bunga Riil, Ukuran bank,
Pertumbuhan Kredit, Solvency dan ROA.
NPL periode lalu ( ), Inflasi, Suku Bunga Riil, Ukuran Bank, Pertumbuhan Kredit, Solvency, dan ROA berpengaruh secara positif terhadap NPL.
Sedangkan Pertumbuhan GDP berpengaruh secara negatif terhadap NPL.
Semua varibel dalam penelitian berpengaruh signfikan terhadap NPL kecuali variabel Pertumbuhan Kredit.
7 Ahlem Selma Messai dan Fathi Jouini (2013)
Micro and Macro Determinants of Non-Performing Loans
Metode Analisis : Regresi data panel
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : Pertumbuhan GDP, Tingkat Pengangguran, Suku Bunga Riil, ROA, dan Cadangan Kerugian Kredit.
Tingkat Pengangguran, Suku Bunga Riil, dan Cadangan Kerugian Kredit berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap NPL.
Sementara Pertumbuhan
GDP dan ROA
berpengauh secara negatif dan signfikan terhadap NPL.
8 Iksan Adisaputra (2012)
Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Non-Performing Loan pada PT.
Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Metode Analisis : Regresi berganda
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : CAR, LDR, NIM, dan
CAR, LDR, dan BOPO berpengaruh secara positif dan signfikan terhadap NPL.
Sedangakan variabel NIM berpengaruh secara positif namun tidak signifikan terhadap NPL pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.
BOPO 9 Mal Isnaini Sri
Mey Yanti (2012)
Evaluasi Faktor Determinan Risiko Kredit dalam Rangka Implementasi BPD Regional Champion pada Bank
Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia
Metode Analisis : Regresi data panel
Variabel dependen : NPL
Variabel Independen : pertumbuhan kredit, pertumbuhan kredit triwulan lalu, Porsi Kredit Produktif, LDR, Kualitas Manajemen, GDRP triwulan lalu, dan Inflasi
Pertumbuhan Kredit Triwulan Lalu, Porsi Kredit Produktif, LDR, Kualitas Manajemen, GDRP triwulan lalu, dan Inflasi berpengaruh positif terhadap NPL.
Semua variabel
berpengaruh signifikan terhadap NPL kecuali Pertumbuhan Kredit Triwulan Lalu dan LDR.
Sementara Pertumbuhan Kredit Triwulan ini berpengaruh negatif dan signifikan terhadap NPL.
10 Hermawan Soebagio (2005)
Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Non Performing Loan (NPL) pada Bank Umum Komersial (Studi Empiris pada Sektor Perbankan Indonesia)
Metode Analisis : Regresi berganda
Variabel dependen : NPL
Model regresi untuk variabel makroekonomi : Kurs, Inflasi, dan GDP berpengaruh secara positif terhadap NPL.
Semua variabel
signifikan terhadap NPL kecuali GDP
Variabel Independen (makro) : kurs, Inflasi, dan GDP
Variabel Independen (spesifik bank) : CAR, KAP, dan LDR
variabel spesifik bank :
CAR dan LDR
berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap NPL. Sementara KAP berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap NPL.
Sumber : Data Hasil Olahan Penulis
2.5 Kerangka Konseptual
Berdasarkan tujuan penelitian, tinjauan pustaka dan hasil penelitiansebelumnya yang telah menguji faktor-faktor yang mempengaruhiNon Performing Loan (NPL)yaituLoan to Deposit Ratio(LDR),Capital Adequacy Ratio (CAR), Pertumbuhan Kredit, Pertumbuhan Ekonomi Daerah (PDRB) dan Inflasi maka penulis membuat model kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan perekonomian suatu daerah dalam satu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan perekonomian suatu daerah dicerminkan oleh adanya kenaikan PDRB yang merupakan jumlah keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perekonomian suatu daerah. Pada saat perekonomian daerah membaik, yang tercermin dari adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi daerah, tingkat NPL
LDR (X3)
NPL (Y)
H5 H4 H3 H2 H1
Inflasi (X2) Pertumbuhan
Ekonomi Daerah(X1)
Pertumbuhan Kredit (X5)
CAR (X4)
H6
diperkirakan akan mengalami penurunan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah yang direfleksikan oleh kenaikan PDRB menunjukkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan perusahaan, yang kemudian akan berdampak pada kemampuan mereka membayar utang (kredit) yang meningkat. Hal tersebut kemudian akan berdampak pada menurunnya NPL. Sebaliknya ketika terjadi perlambatan ekonomi yang direfleksikan oleh penurunan PDRB menunjukkan pendapatan masyarakat dan perusahaan menurun, sehingga kemampuan untuk membayar utang (kredit) pun ikut menurun dan NPL cenderung akan mengalami kenaikan. Sehingga diduga hubungan antara NPL dengan pertumbuhan ekonomi daerah adalah negatif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chaibi dan Fitri (2015), Abid et al (2014), Messai dan Jouini (2013), Makri et al (2014), Curak et al (2013) , Farhan et al (2012), dan Diyanti dan Widyarti (2012).
yang menyatakan adanya hubungan negatif antara NPL dengan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Menurut Klein (2013), inflasi akan mengurangi pendapatan riil masyarakat (debitur) ketika pendapatan mereka tidak berubah. Jika pendapatan tidak meningkat sejalan dengan inflasi, hal tersebut akan meningkatkan biaya-biaya (rumah tangga dan perusahaan) dan kemudian akan menurunkan jumlah dana yang tersedia untuk pembayaran utang (kredit). Hal ini kemudian akan meningkatkan NPL. Selain itu Klein (2013) menyatakan bahwa inflasi yang tinggi juga dapat menyebabkan naiknya tingkat suku bunga sebagai hasil dari kebijakan moneter dalam meredam inflasi. Hal ini
kemudian akan direspon oleh bank dengan menaikkan tingkat suku bunga deposito yang diikuti dengan meningkatnya suku bunga kredit. Hal tersebut akan megurangi kemampuan debitur dalam membayar kewajibannya (kredit) sehingga meningkatkan NPL atau kredit masalah. Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan inflasi adalah positif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chaibi dan Fitri (2015), Abid et al (2014), Farhan et al (2014), Curak et al (2013), Yanti (2012), Diyanti dan Widyarti (2012), dan Soebagio (2005) yang menyatakan inflasi berpengaruh positif terhadap NPL.
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah dana masyarakat yang dihimpun (DPK). LDR merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. Menurut Adisaputra (2012), banyaknya dana pihak ketiga yang dihimpun oleh sebuah bank, berbanding lurus dengan besarnya kredit yang dikeluarkan, artinya semakin banyak dana pihak ketiga maka semakin banyak pula kredit yang dikeluarkan. LDR yang tinggi bermakna bahwa adanya penyaluran kredit yang tinggi. Dengan demikian risiko terjadinya kredit bermasalah atau NPL akan tinggi. Jadi,semakin tinggi LDR sebuah bank, maka akan semakin tinggi NPL. Demikian pula sebaliknya, sehingga bila terjadi NPL, bank harus menanggung beban kerugian dan pada akhirnya dibutuhkan modal untuk untuk kerugian tersebut. Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan LDR adalah positif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Adisaputra (2012) dan Gezu (2014) yang menyatakan adanya hubungan positif antara kredit bermasalah atau NPL dengan LDR.
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang membandingkan antara jumlah modal bank dengan sejumlah aktiva yang dimiliki (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko). CAR memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, surat berharga, dan sebagainya) ikut dibiayai dari modal sendiri bank disamping memperoleh dana-dana dari sumber diluar bank. Melalui rasio ini akan diketahui kemampuan menyanggah aktiva bank terutama kredit yang disalurkan dengan sejumlah modal bank. Semakin tinggi modal yang dimiliki bank maka akan semakin mudah bagi bank untuk membiayai aktiva yang mengandung risiko (kredit). Begitu juga sebaliknya jika pertumbuhan kredit tidak disertai dengan modal yang mencukupi maka akan berpotensi menimbulkan kredit bermasalah atau NPL. Semakin tinggi CAR, maka semakin besar pula kemampuan bank dalam meminimalisir risiko kredit yang terjadi, artinya bank tersebut mampu menutupi risiko kredit yang terjadi dengan besarnya cadangan dana yang diperoleh dari perbandingan modal dan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) (Adisaputra, 2012). Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan CAR adalah negatif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Misman et al (2015), Gezu (2014), Makri et al (2014), Diyanti dan Widyarti (2012), dan Soebagio (2005) yang menyatakan adanya hubungan negatif antara NPL dengan CAR.
Pertumbuhan kredit merupakan ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan kegiatan penyaluran kredit (lending) yang dilakukan bank dalam periode tertentu. Pertumbuhan kredit menujukkan peningkatan atau penurunan jumlah seluruh kredit yang disalurkan dalam periode tertentu yang dinyatakan
dalam persen. Menurut Utari dkk. (2012) tingginya pertumbuhan kredit di satu sisi dapat dipandang normal dan merupakan konsekuensi positif dari meningkatnya financial deepening dalam perekonomian. Namun demikian pada saat yang bersamaan juga timbul pemikiran mengenai implikasi dari pertumbuhan kredit ini terhadap stabilitas keuangan dan kondisi makro. Selama periode ekspansi, institusi perbankan cenderung memiliki ekspektasi yang terlalu optimis pada kemampuan membayar nasabah dan akibatnya kurang hati-hati dalam memberikan kredit kepada golongan beresiko tinggi. Sebagai akibatnya terjadi penumpukan pinjaman yang berpotensi menjadi bad loans pada periode ekonomi kontraksi. Sehingga dapat dipahami bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas penyaluran kredit akan berdampak pada meningkatnya NPL. Oleh sebab itu diduga hubungan antara NPL dengan pertumbuhan kredit adalah positif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hue (2015) yang menyatakan adanya hubungan positif antara NPL dengan pertumbuhan kredit.
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah dugaan sementara yang harus diuji kebenarannya atas suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam menganalisisnya. Dari kerangka konseptual yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
H1 :Pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) berpengaruh signifikan dan .negatif terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah
H2 :Inflasi berpengaruh signfikan dan positif terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah
H3 :LDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah
H4 :CAR berpengaruh signifikan dan negatif terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah
H5 :Pertumbuhan kredit berpengaruh signifikan dan positif terhadap NPL Bank Pembangunan Daerah
H6 :Terdapat pengaruhsignifikan antara pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB),inflasi LDR, CAR, dan pertumbuhan kreditterhadap NPL Bank .Pembangunan Daerah