Nama : RIA WIDIANTI NPM : (14119214)
A. DASAR HUKUM PEMBIAYAAN
Produk dan jasa perbankan syariah secara garis besar dibagi tiga yaitu; penghimpunan, penyaluran dan menyediakan jasa keuangan. Dalam pelaksanaan tugasnya sebagai penyalur dana, bank syariah menyediakan produk dan jasa pembiayaan yang bertujuan untuk menyediakan dana bagi peningkatan usaha. Artinya untuk pengembangan usaha membutuhkan dana tambahan. Dana tambahan ini dapat diperoleh dari pembiayaan. Pihak surplus dana menyalurkan kepada pihak yang minus dana.
Pembiayaan merupakan aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dananya kepada pihak nasabah yang membutuhkan dana. Pembiayaan memberikan hasil yang paling besar di antara penyaluran dana lainnya yang dilakukan oleh bank syariah.
Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank syariah kepada nasabah. Pembiayaan secara luas berarti pembelajaan (financing) yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dikerjakan orang lain.1
Proses pembiayaan mempunyai dasar-dasar hukum yang telah ditetapkan. Dasar-dasar tersebut bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits, dan Undang-Undang.
1. Al-Quran
a) Qs. An-Nisaa’ ayat 12
ثثللثثللا يفث ءلاككركشل ممهلفك
...
“... maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu...”b) Qs. Shaad ayat 24
ءثاطكلكخللما نكمث ارريثثكك نثكإثوك هثجثاعكنث ىىلكإث ككتثجكعمنك لثاؤكسلبث ككمكلكظك دمقكلك لكاقك
امك لليلثقكوك تثاحكلثاصثكلا اوللمثعكوك اونلمكآ نكيذثلثكا الثكإث ضضعمبك ىىلكعك ممهلضلعمبك يغثبميكلك
بكانكأكوك اعركثاركرثكخكوك هلبثكرك ركفكغمتكسمافك هلانثكتكفك امكنثكأك دلوولادك نثكظكوك ممهل
۩
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada yang sebagian lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan amat sedikitlah mereka yang ini.”2. Al-Hadits
نيكيرشلا ثل اث انا لوقي هللا نا لاق هعفر ةريره يبأ نع
هبح اص امهدحأ نخي مل ام
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satunya tidak mengkhianati satu yang lain.” (HR. Abu Dawud No. 2936, dalam kitab Al-Buyu dan Hakim).
3. Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”2
4. Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
“Pembiayaan ialah penyediaan uang yang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang itu dalam waktu tertentu.”
5. Undang-Undang No. 21 Tahun 2008, pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan, yakni berupa :
1. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. 2. Transaksi sewa menyewa dalm bentuk ijarah atau sewa beli dalam
bentuk ijarah muntahiya bittamlik.
3. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’.
4. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang dan qard.
5. Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa.
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pihak bank syariah dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau dengan bagi hasil.3
6. Pasal 6 UU No.10 Tahun 1998
Bank Umum adalah bank yang menyelesaikan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatan usahanya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Analisis: Bank syariah merupakan salah satu lembaga keuangan syariah yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu aktivitas yang terjadi di dalam bank syariah adalah pembiayaan. Pembiayaan berarti memberikan bantuan dana kepada mereka yang membutuhkan (usahawan/bisnisman) untuk kemajuan usahanya. Dalam pelaksanaannya, pembiayaan pastilah diatur dalam norma dan hukum tertentu agar jalannya dapat sesuai dengan apa yang diinginkan dan tidak terjadi kekacauan. Maka dari itu, Undang-Undang pun turut mengatur serta menjadi dasar adanya aktivitas pembiayaan.
Dalam buku karangan Ismail yang berjudul Perbankan Syariah (Jakarta: Kencana, 2011) pada halaman 106 dijelaskan “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.” Pernyataan tersebut merupakan landasan atau dasar hukum pembiayaan yang termuat dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 7 Tahun 1992.
Berdasarkan Undang-Undang tersebut, dapat diketahui bahwa pembiayaan merupakan penyediaan bantuan berupa uang oleh bank syariah kepada orang yang membutuhkan dengan akad pinjam-meminjam dimana terdapat kesepakatan kedua belah pihak yang mengharuskan pihak peminjam mengembalikan uang yang dipinjamnya dalam jangka waktu tertentu dengan disertai margin atau bagi hasil.
Allah SWT juga telah mengatur tentang pembiayaan ini dalam Al-Quran tang terdapat pada Surah Shaad ayat 24 “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada yang sebagian lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan amat sedikitlah mereka yang ini.”
Ayat diatas berisi sebuah keniscayaan dimana dalam sebuah pesyarikatan/perkongsian terdapat kecurangan yang menyebabkan salah satu pihaknya dirugikan. Ini merupakan sifat dasar manusia. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecurangan yang ada, perlu adanya rasa saling percaya, memegang komitmen, juga bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan (dalam hal pembiayaan) sehingga jika terdapat kendala dalam pelaksanaannya, tidak sampai terjerat hukum.
B. PROSEDUR PEMBIAYAAN
atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Sedangkan menurut Amin Widjaja prosedur adalah sekumpulan bagian yang saling berkaitan. Jadi, prosedur adalah rangkaian tugas yang saling berkaitan dan tersusun secara teratur yang berisi tentang tata cara dalam menjalankan suatu pekerjaan.
Dalam menjalankan sebuah prosedur, terdapat etika atau aturan-aturan khusus yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Hal tersebut dimaksudkan agar tujuan yang sudah ditetapkan dapat dicapai dengan efektif dan efisien juga untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Prosedur sendiri dapat berupa tulisan maupun lisan.
Dalam pelaksanaanya, pembiayaan memiliki prosedur yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Persiapan
Persiapan dalam pembiayaan adalah tahap awal yang sangat penting terutama bagi pihak nasabah yang baru pertama kali mengajukan permohonan pembiayaan ke bank. Informasi yang diberikan pihak bank antara lain tentang tata cara pengajuan pembiayaan, dan syarat-syarat untuk memperoleh fasilitas pembiayaan.
Dalam hal ini, tentu pihak bank akan menggali informasi lebih mengenai nasabah, baik dengan wawancara ataupun meminta bahan tertulis secara langsung kepada pihak yang bersangkutan. Informasi tersebut harus memiliki gambaran yang valid tentang kondisi sauatu usaha calon nasabah yang menyangkut besarnya usaha, besarnya pembiayaan yang diminta, tujuan penggunaan dari biaya tersebut, lokasi usaha, jaminan dan kelengkapan surat-suratnya (legalitas), serta peralatan yang dimiliki.
Biasanya pihak bank akan memberikan formulir permohonan pembiayaan kepada calon nasabah dimana terdapat keterangan informasi yang diperlukan oleh pihak bank. Dari data-data yang telah dikumpulkan, baik melalui wawancara maupun tertulis, kemudian pihak bank akan mengolahnya menjadi laporan pengenalan proyek.4
Laporan permohonan pembiayaan biasanya memuat hal-hal berikut:
Keterangan (alasan) mengenai permohonan pembiayaan yang
diminta.
Keterangan mengenai pembiayaan yang diminta.
Gambaran usaha 3 tahun yang lalu.
Rencana atau proyek usaha 3 tahun mendatang (jika pembiayaan
diberikan).
Formulir tersebut harus ditanda-tangani oleh pemohon pembiayaan disertai cap perusahaan kemudian pihak bank akan menerima dan mencatatnya dalam agenda surat masuk untuk diproses lebih lanjut.
2. Analisis Pembiayaan
Analisis pembiayaan yang dilakukan oleh account officer dari suatu lembaga keuangan yang level jabatannya sebagai level seksi atau bakhan
committe (tim) ysng ditugaskan untuk menganalisis permohonan pembiayaan. Analisis pembiayaan ini dilakukan dengan tujuan pembiayaan yang dilakukan mencapai sasaran dan aman.
Dalam tahap ini terdapat penilaian mendalam tentang keadaan usaha atau proyek pemohon pembiayaan tersebut meliputi berbagai aspek, diantaranya:
a) Aspek manajemen dan organisasi b) Aspek pemasaran
c) Aspek teknis d) Aspek keuangan e) Aspek hokum/yuridis f) Aspek sosial-ekonomi5
3. Analisis Pembiayaan dalam Praktik
Analisis untuk pembiayaan merupakan hal yang penting untuk realisasi pembiayaan dalm perbankan syariah. Analisis dikerjakan oleh aparat pelaksana khusus. Pada dasarnya untuk meneliti apakah usaha tersebut
telah memenuhi prinsip perbankan syariah atau tidak, serta dimaksudka untuk :
Menilai kelayakan calon usaha peminjam.
Meminimalisir atau menekan resiko akibat tidak terbayarnya
pembiayaan.
Menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak.
Untuk mempertimbangkan pemberian pembiayaan kepada customer, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi, yang dikenal dengan prinsip 6C’s, yaitu:
Character
Capital
Capacity
Collateral
Condition of Economy
Constraints6
4. Tahap Keputusan Pembiayaan
Atas hasil laporan analisis pembiayaan, maka pihak bank melalui pemutus pembiayaan, baik berupa seorang pejabat yang ditunjuk atau pimpinan bank tersebut dapat memutuskan apakah pembiayaan tersebut layak untuk diberi pembiayaan atau tidak. Jika tidak, maka permohonan tersebut harus segera ditolak. Penolakan biasanya secara tertulis dengan disertai beberapa alasan secara diplomatis namun cukup jelas. Andaikata permohonan dikabulkan, maka segera dituangkan dalam surat keputusan pembiayaan. Biasanya disertai beberapa persyaratan tertentu. Adapun surat tersebut berisi :
Nama dan alamat perusahaan;
Nama dan alamat pimpinan;
Jenis pembiayaan;
Tujuan penggunaannya;
Tempo/jangka waktu;
Cara penarikan;
Cara pengambilan;
Margin;
Masa tenggang;
Jaminan yang diberikan serta nilainya;
Pengikat jaminan dan syarat lainnya.
Di akhir surat tersebut dicantumkan tanda tangan dan nama jelas, dilengkapi dengan tempat dan tanggal penandatanganan. Pemutus pembiayaan adalah seorang pejabat bank atau komite khusus yang diberi wewenang untuk tugas tersebut. Kewenangan memutus seseorang belum tentu sama dengan yang lainnya, tergantung tingkat jabatan, kedudukan, dan pangkatnya. Untuk pembiayaan-pembiayaan yang relatif besar, keputusan pembiayaan biasanya dipegang oleh pimpinan atau direksi bank tersebut, bahkan mungkin diputus oleh lebih dari satu orang pemutus yang merupakan komite atau panitia pemutus, termasuk melibatkan anggota komisaris dari bank tersebut.
Analisis: Dalam sebuah kegiatan, pastilah terdapat proses atau prosedur dan etika yang mengikat yang dimaksudkan untuk menjamin kelancaran dari kegiatan tersebut, tak terkeceuali pada proses pembiayaan. Prosedur sendiri adalah sebuah rangkaian tugas yang saling berkaitan satu sama lainnya yang tersusun secara tertatur berisi tentang tata cara untuk menjalankan suatu pekerjaan.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap persiapan pembiayaan, yaitu bank syariah harus bisa mendapatkan informasi valid sebanyak-banyaknya tentang kondisi dari nasabah/peminjam uang. Kondisi tersebut meliputi besarnya usaha, besarnya pembiayaan yang diminta, tujuan penggunaan dari biaya tersebut, lokasi usaha, jaminan dan kelengkapan surat-suratnya (legalitas), serta peralatan yang dimiliki. Informasi bisa didapatkan melalui wawancara atau dengan tertulis melalui pengisian formulir.