Hubungan Kerapatan Mangrove Terhadap Kelimpahan Makrozoobenthos di Pesisir Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara

14 

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Mangrove

Mangrove berasal dari kata mangue (Portugis) yang berarti bakau dan kata grove (Inggris) yang berarti belukar. Kata mangrove juga berasal dari bahasa Melayu kuno yaitu “mangi-mangi” yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian Timur. Mangrove adalah komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut. Mangrove juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan subtropis yang terlindung (Fakhrurrozy, 2015).

Faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi komunitas mangrove, yaitu salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut, arus, kekeruhan, dan substrat dasar. Kondisi fisika kimia perairan hutan mangrove sangat dipengaruhi oleh volume air tawar dan air laut yang bercampur. Mangrove tumbuh dengan baik dari ketinggian permukaan laut sampai dengan rata-rata permukaan pasang. Jenis tanaman tersebut bukan saja harus toleran terhadap garam, melainkan juga harus mampu untuk menahan kondisi tergenang dan kondisi-kondisi bawah yang anaerobik (Nybakken, 1992).

(2)

Nypaterdiri dari pohon-pohon yang dapat tumbuh mencapai lebih dari 30 meter; komposisi vegetasinya dari pantai adalah Avicennia, Sonneratia, Rhizophora/Bruguiera, Bruguiera, Xylocarpus, Lumnitzera, dan Nypa;komposisi

dari spesies-spesies vegetasi yang berasosiasi adalahAcrostichumaureum,Acanthus ilicifolius, A. ebracteatus.

Fungsi dan Peranan Mangrove

Mangrove merupakan contoh ekosistem yang banyak ditemui di sepanjang pantai tropis dan estuari. Ekosistem ini memiliki fungsi sebagai penyaring bahan nutrisi dan penghasil bahan organik, serta berfungsi sebagai daerah penyangga antara daratan dan lautan. Asriyana dan Yuliana (2012) menyatakan bahwa mangrove memiliki peranan yang cukup penting bagi ekosistem sekitarnya, diantaranya sebagai berikut: penyadap energi yang ditimbulkan oleh badai, pelindung dan stabilisator garis pantai, tempat asimilasi bahan buangan dan sebagai tempat utama perputaran nitrogen dan sulfur; pengumpul lumpur dan pembentuk lahan; habitat alami beberapa satwa liar dan merupakan daerah asuhan biota akuatik tertentu; dan sebagai lahan yang digunakan untuk kegiatan manusia seperti pemukiman, tambak ikan, lahan pertanian, bahkan sebagai tempat pembuangan sampah.

Zonasi Mangrove

(3)

karena di dalam ekosistem mangrove dan perairan maupun tanah di bawahnya merupakan habitat berbagai jenis satwa daratan dan biota perairan. Dinamis, karena ekosistem mangrove dapat terus tumbuh dan berkembang serta mengalami suksesi serta perubahan zonasi sesuai dengan tempat tumbuh. Labil, karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali (Kusmana, 1995). Zonasi mangrove dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Zonasi Mangrove (Saefurrahman, 2008)

(4)

didominasi oleh B. parviflora kadang-kadang dijumpai tanpa jenis pohon lainnya; hutan mangrove di belakang didominasi oleh B. gymnorhiza.

Karakteristik Vegetasi Mangrove

Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga: Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Snaeda, dan Conocarpus. Vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, dengan jumlah jenis tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas. Meskipun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati penting atau dominan yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizophoraceae(Rhizophora, Brugueira, dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Aviceniaceae (Avicennia), dan Meliaceae (Xylocarpus) (Asriana dan Yuliana, 2012).

(5)

Adaptasi mangrove dengan kondisi lingkungan yang bersalinitas tinggi. Tumbuhan mangrove menyerap air yang bersalinitas tinggi kemudian mengekskresikan garam dengan kelenjar garam yang terdapat pada daun. Tumbuhan mangrove mampu menyerap air tetapi mencegah masuknya garam melalui saliran yang terdapat pada akar. Akumulasi garam dapat terjadi pada bagian kulit kayu, akar dan daun yang lebih tua. Daun menyimpan garam umumnya sekulen dan pengguguran daun sekulen ini umumnya diperkirakan merupakan mekanisme pengeluaran kelebihan garam yang dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Mekanisme adaptasi akumulasi garam ini umumnya terdapat pada Excoecaria, Lumnitzera, Avicennia, Osbornia, Rhizophora, Sonneratia dan Xylocarpus (Fakhrurrozy, 2015).

Adaptasi pohon mangrove terhadap keadaan tanah (lumpur) dan kekurangan oksigen dalam tanah adalah pembentukan morfologi sistem perakaran yang berfungsi sebagai akar nafas (Pneumatofora) dan penunjang tegaknya pohon. Menurut Bengen (2004), ada empat bentuk sistem perakaran pada hutan mangrove, yaitu; Akar lutut, seperti yang terdapat pada Bruguiera sp.; Akar cakar ayam, seperti yang terdapat pada Sonneratia sp., Avicennia sp., dan kadang-kadang Xylocarpus moluccensis; Akar tongkat/penyangga, seperti yang terdapat pada Rhizophora sp.; dan Akar papan seperti yang terdapat pada Ceriops sp.

Kerapatan Mangrove

(6)

“Keanekaragaman jenis disebut juga keheterogenan jenis, merupakan ciri yang unik untuk menggambarkan struktur komunitas dalam organisasi kehidupan”(Krebs, 1989).

“Ada dua komponen keanekaragaman jenis yaitu kekayaan jenis dan kesamarataan”. Kekayaan jenis adalah jumlah jenis dalam suatu komunitas. Kekayaan jenis dapat dihitung dengan indeks jenis atau area yakni jumlah jenis per satuan area (Odum, 1993). Kesamarataan atau akuitabilitas adalah pembagian individu yang merata diantara jenis. Namun pada kenyataan setiap jenis itu mempunyai jumlah individu yang tidak sama. Satu jenis dapat diwakili oleh 100 hewan, yang lain oleh 10 hewan dan yang lainnya pula diwakili oleh 1 hewan. Kesamarataan menjadi maksimum bila semua jenis mempunyai jumlah individu yang sama atau rata. Cara sederhana mengukurkeanekaragaman jenis adalah menghitung jumlah jenis atau spesies (Soegianto, 1994).

Defenisi dan Karakteristik Makrozoobenthos

Benthos adalah organisme yang mendiami dasar perairan atau tinggal dalam sedimen dasar perairan. Benthos mencakup organisme nabati yang disebut fitobenthos dan organisme hewani yang disebut zoobenthos. Ketika air surut, organisme akan kembali ke dasar perairan untuk mencari makan. Beberapa makrozoobenthos yang umum ditemui di kawasan mangrove Indonesia adalah makrozoobenthos dari kelas Gastropoda, Bivalvia, Crustacea, dan Polychaeta (Arief, 2003).

(7)

mikrofauna yang ukurannya lebih kecil dari 0,1 mm, meiofauna yang berukuran antara 0,1 mm dan makrofauna yang ukurannya lebih besar dari 1,0 mm. Umumnya makrozoobenthos relatif tidak aktif, dengan ciri khusus seperti: tubuhnya dilindungi cangkang, memiliki bagian tubuh yang dapat dijulurkan, berkembangnya bagian tubuh tambahan seperti rambut, bulu-bulu keras serta tersusun atas otot-otot yang memudahkan pergerakannya di atas maupun di dalam sedimen (Ihlas, 2001).

Menurut Syamsurisal (2011), mengklasifikasikan makrozoobenthos berdasarkan cara makannya kedalam lima kelompok yaitu : Hewan pemangsa, hewan penggali, hewan pemakan detritus yang mengendap dipermukaan, hewan yang menelan makanan pada dasar, hewan yang sumber bahan makannya dari atas permukaan. Kelompok pertama dan kedua sangat khusus (tidak umum) dan jumlahnya hanya sebahagian kecil dari makrozoobenthos yang ada. Jenis yang jumlahnya banyak pada daerah estuaria atau mangrove adalah hewan yang makanannya dari atas permukaan. Organisme penyaring makanan menyaring partikel kedalam air yang ada di permukaan tanah contohnya bivalvia, polychaeta, sponge dan ascidians yang terdiri dari organisme epifauna seperti amphioda, isopoda dan gastropoda yang bergerak bebas dipermukaan memakan bahan organik yang kaya dengan partikel detritalnya pada permukaan tanah. Jenis lain dari organisme seperti diatas adalah organisme yang hidup didalam tanah tetapi makanannya berasal dari permukaan tanah yang diantarannya beberapa jenis bivalvia (telinida) amphipoda, kepiting dan beberapa jenis polychaeta.

(8)

serasah dan substrat hidupnya sangat mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobenthos. Kelimpahan dan keanekaragaman sangat bergantung pada toleransi dan tingkat sensitifnya terhadap kondisi lingkungannya. Kisaran toleransi dari makrozoobenthos terhadap lingkungan berbeda-beda. Komponen lingkungan, baik yang hidup (biotik) maupun yang tak hidup (abiotik) mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman biota air yang ada pada suatu perairan, sehingga tingginya kelimpahan individu tiap jenis dapat dipakai untuk menilai kualitas suatu perairan (Fikri, 2014).

Distribusi hewan makrozoobenthos sangat ditentukan oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisika yang berpengaruh langsung terhadap hewan makrozoobenthos adalah kedalaman, kecepatan arus, kekeruhan, substrat dasar dan suhu perairan. Sedangkan sifat kimia yang berpengaruh langsung adalah derajat keasaman dan kandungan oksigen terlarut. Faktor biologi perairan yang mempengaruhi komunitas hewan benthos adalah kompetisi (persaingan ruang hidup dan makanan), predator (pemangsa) dan tingkat produktivitas primer. Masing-masing faktor biologi tersebut dapat berdiri sendiri akan tetap ada kalanya faktor tersebut saling berinteraksi dan bersama-sama mempengaruhi kominitas pada suatu perairan (Syamsurisal, 2011).

Kelimpahan Makrozoobenthos

(9)

pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan makrozoobenthos relatif tetap (Ardi, 2002).

Faktor yang mempengaruhi keberadaan makrozoobenthos adalah faktor fisika kimia lingkungan perairan, diantaranya penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu air, kandungan unsur kimia seperti kandungan ion hidrogen (pH), oksigen terlarut (DO), dan kebutuhan oksigen biologi (BOD) (Nugroho, 2006).

Kualitas Air

Suhu

Suhu merupakan suatu ukuran yang menunjukan derajat panas benda. Suhu biasa digambarkan sebagai ukuran energi gerakan molekul. Suhu sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem suatu perairan. Suhu sangat memengaruhi segala proses yang terjadi di perairan baik fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu juga mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme (Nybakken, 1992).

(10)

Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang disukai bagi pertumbuhannya. Makin tinggi kenaikan suhu air, maka makin sedikit oksigen yang terkandung di dalamnya. Suhu yang berbahaya bagi makrozoobenthos adalah yang lebih kurang dari 35oC (Retnowati, 2003).

Salinitas

Salinitas dapat mempengaruhi penyebaran organisme benthos baik secara horizontal, maupun vertikal. Secara tidak langsung mengakibatkan adanya perubahan komposisi organisme dalam suatu ekosistem. Gastropoda yang bersifat mobile mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang terlalu rendah, namun bivalvia yang bersifat sessileakan mengalami kematian jika pengaruh air tawar berlangsung lama. Kisaran salinitas yang masih mampu mendukung kehidupan organisme perairan, khususnya fauna makrobenthos adalah 15 - 35‰ (Syamsurisal, 2011).

pH

(11)

Tabel 1. Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan (Effendi, 2003).

Nilai pH Pengaruh Umum

6,0 – 6,5

Keanekaragaman benthos sedikit menurun Kelimpahan total, biomassa, dan produktifitas tidak mengalami perubahan

5,5 – 6,0

Penurunan nilai keanekaragaman benthos semakin tampak Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih belum mengalami perubahan yang berarti

5,0 – 5,5

Penurunan keanekaragaman dan komposi jenis benthos semakin besar.

Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa benthos

4,5 – 5,0

Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis benthos semakin besar

Penurunan kelimpahan total dan biomassa benthos

Oksigen Terlarut (DO)

(12)

Substrat

Substrat dasar merupakan salah satu faktor ekologis utama yang mempengaruhi struktur komunitas makrozoobenthos. Penyebaran makrozoobenthos dapat dengan jelas berkorelasi dengan tipe substrat. Makrozoobenthos yang mempunyai sifat penggali pemakan deposit cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang merupakan daerah yang mengandung bahan organik yang tinggi. Substrat dasar atau tekstur tanah merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan organisme. Substrat di dasar perairan akan menentukan kelimpahan dan komposisi jenis dari hewan bentos. Komposisi dan kelimpahan fauna invertebrata yang berasosiasi dengan mangrove berhubungan dengan variasi salinitas dan kompleksitas substrat (Susiana, 2011).

(13)

Hubungan Antara Mangrove dan Makrozoobenthos

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat bermanfaat bagi organisme-organisme di lingkungan pesisir termasuk manusia. Sistem perakaran dan kanopi yang rapat serta kokoh, vegetasi mangrove juga berfungsi sebagai pelindung daratan dari aksi gelombang, tsunami, angin topan dan perembesan air laut. Mangrove juga berfungsi sebagai penyedia unsur hara, ekosistemnya merupakan tempat pemijahan (spawning grounds), tempat pengasuhan (nurserygrounds) dan tempat mencari makan (feeding grounds) berbagai jenis ikan, udang dan makrozoobenthos. Secara ekonomis mangrove menyediakan bahan dasar untuk keperluan rumah tangga dan industri, seperti kayu bakar, arang, kertas dan rayon, yang dalam konteks ekonomi mengandung nilai komersial tinggi (Fahlifi dkk., 2013).

(14)

Penggunaan makrozoobenthos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi. Kemudian oleh para ahli biologi perairan, pengetahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan (Marpaung, 2013).

Figur

Gambar 2. Zonasi Mangrove (Saefurrahman, 2008)
Gambar 2 Zonasi Mangrove Saefurrahman 2008 . View in document p.3
Tabel 1. Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan (Effendi, 2003).
Tabel 1 Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan Effendi 2003 . View in document p.11

Referensi

Memperbarui...