• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Hak Menjual Pemilik Tanah yang Berasal Dari Harta Bersama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Yuridis Hak Menjual Pemilik Tanah yang Berasal Dari Harta Bersama"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PENGALIHAN HAK ATAS TANAH YANG BERASAL DARI HARTA BERSAMA

A. Harta Bersama

Harta bersama merupakan konsekwensi dari perkawinan. Menurut Pasal 35

ayat (1) UUP, harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

Ini berarti harta bersama mutlak ada dan tak boleh ditiadakan oleh para pihak.

Sumber dari harta bersama perkawinan adalah yang diperoleh selama perkawinan.

Sejak mulai perkawinan terjadi, suatu percampuran antara kekayaan suami

dan kekayaan isteri, jikalau tidak diadakan perjanjian apa apa keadaan yang demikian

itu berlangsung seterusnya dan tak dapat diubah lagi selama perkawinan.

Percampuran kekayaan, adalah mengenai seluruh aktiva dan passiva baik yang

dibawah oleh masing-masing pihak ke dalam perkawinan maupun yang akan

diperoleh di kemudian hari selama perkawinan. Kekayaan bersama itu oleh

undang-undang dinamakan“gemeenshapp”.

Sedangkan yang dimaksud dengan harta yang diperoleh selama perkawinan

adalah harta benda yang ditafsirkan sebagai hasil kerjasama mereka yang didaptkan

selama perkawinan berlangsung. Tentu saja dengan adanya harta bersama tersebut

apabila salah satu pasangan Suami atau Isteri ada yang meninggal dunia maka akan

terbukalah warisan, yang mana warisan tersebut yang merupakan bagian atau porsi

(2)

dapat diterangkan dalam beberapa pengertian yang disebutkan dalam Hukum Waris

di Indonesia.

1. Harta Bersama menurut Hukum Waris Perdata.

KUH Perdata pasal 119, disebutkan bahwa “ sejak saat dilangsungkan

perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama menyeluruh antara suami

isteri, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian

perkawinan. Harta bersama itu, selama perkawinan berlangsung tidak boleh

ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami isteri.”

Telah diketahui, bahwa di Indonesia berlaku lebih dari satu sistem Hukum

Perdata yaitu, Hukum Barat (hukum Perdata Eropa), Hukum Adat dan Hukum Islam.

Ketiga sistem hukum tersebut semuanya antara lain juga mengatur cara pembagian

harta warisan. Hukum Waris Perdata ini digunakan bagi orang yang

mengesampingkan Hukum Adat dalam mendapatkan peneyelesaian pembagian

warisan.

Hukum Waris Perdata Barat berlaku bagi :

a. Orang-orang keturunan Eropa.

b. Orang-orang Keturunan Timur Asing Tiong Hoa.

c. Orang-orang yang menundukkan diri sepenuhnya kepada Hukum

Perdata Barat.

Hukum Waris menurut A.Pitlo yaitu kumpulan peraturan yang mengatur

hukum mengenai harta kekayaan, karena wafatnya seseorang, yaitu mengenai

(3)

ini bagi orang-orang yang memperoleh baik dalam hubungan antara mereka, maupun

dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga.

Sedangkan Hukum Waris Menurut Wirjono Prodjodikoro, Soal apakah dan

bagaimanakah berbagai hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang

pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.

Hukum Waris adalah bagian dari hukum kejayaan, akan tetapi erat sekali dengan

Hukum Keluarga, karena seluruh pewarisan menurut undang-undang berdasarkan

atas hubungan keluarga sedarah dan hubungan perkawinan. Dengan demikian ia

masuk bentuk campuran antara bidang yang dinamakan Hukum Hukum Kekayaan

dan Hukum Keluarga.

Kemudian Subekti dan Tjirosoedibio mengatakan Hukum Waris adalah

“Hukum yang mengatur tentang apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan dari

seorang yang meninggal dunia.22

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk terjadinya suatu

pewarisan harus dipenuhi 3 (tiga) unsur yaitu :

1) Pewaris, adalah orang yang meninggal dunia meninggalkan harta kepada

orang lain.

2) Ahli Waris adalah orang menggantikan pewaris di dalam kedudukannya

terhadap warisan, baik untuk seluruhnya, maupun untuk sebahagian.

3) Hatra Warisan, adalah segala harta kekayaan dari orang yang meninggal

dunia.

22

(4)

Dalam hal pewarisan, yang dapat diwarisi yaitu hanya hak dan kewajiban

yang meliputi bidang harta kekayaan. Namun ada hak-hak yang sebenarnya masuk

bidang harta kekayaan tetapi tidak dapat dowarisi. Hak-hak yang masuk bidang harta

kekayaan yang tidak dapat diwarisi antara lain, hak untuk menikmati hasil dan hak

untuk mendiami rumah. Hak-hak ini tidak dapat diwarisi karena bersifat pribadi.

Selanjutnya ada juga hak-hak yang bersumber kepada Hukum Keluarga

namun dapat diwarisi antara lain, hak untuk mengajukan tuntutan agar ia diakui

sebagai anaknya dan hak untuk menyangkal keabsahan seorang anak.

Dengan demikian prinsipnya hanya hak dan kewajiban yang meliputi harta

kekayaan saja yang dapat diwarisi, ternyata tidak dapat dipegang teguh dan terdapat

dari beberapa pengecualian.

2. Harta Bersama menurut Undang Undang Perkawinan No1 Tahun 1974

Di dalam UU No 1 Th 1974 Bab VII Pasal 35 : 1-2 dinyatakan bahwa harta

benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama . Harta bawaan dari

masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing

sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang

para pihak menentukan lain.

Penjelasannya ; apabila perkawinan putus, maka harta bersama tersebut diatur

menurut hukumnya masing-masing.

Dari peratran ini kita akan memperoleh pengertian bahwa dalam perkawinan

(5)

pemberian, warisan. Dan harta bersama (pasal 35 ayat 1) yaitu harta yang diperoleh

selama perkawinan berlangsung.

Terhadap harta bawaan, Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974

mengatakan bahwa masing-masing pihak mempunyai hak dan untuk mengaturnya

sendiri-sendiri. Karena itu harta bawaan tidak dimasukkan kedalam harta bersama

dalam perkawinan.

Sedangkan tentang siapakah yang berhak untuk mengatur harta bersama,

dalam Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 Pasal 36 : 1-2 dinyatakan

mengenai harta bersama suami dan isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah

pihak. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak

sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenaai harta bendanya.

Dari bunyi aturan tersebut dapat diketahui, bahwa yang berhak mengatur harta

bersama dalam perkawinan adlah suami dan isteri. Dengan demikian salah satu pihak

tidak dapat meninggalkan lainnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta

bersama dalam perkawinan, karena kedudukan mereka seimbang yaitu sebagai

pemilik bersama atas harta bersama itu.

3. Harta Bersama menurut Hukum Waris Adat

Sehubungan dengan Hukum Waris Adat, akan dikemukakan beberapa

pendapat sarjana antara lain:

R.Soepomo berpendapat bahwa, “Hukum Waris Adat menurut

(6)

benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia(generatie)pada turunannya.23

Sedangkan Ter Haar Bzn Hukum Waris Adat adalah, “Aturan-aturan hukum

yang bertalian dengan proses dari abad yang menarik perhatian adalah proses

penerusan dan peralihan kekayaan materiel dan inmaterieel dari turunan ke

turunan”.24

Hukum Waris Adat memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur cara

penerusan dan peralihan harta kekayaan (berwujud atau tidak berwujud) dari pewaris

kepada para warisnya. Cara penerusan dan peralihan harta kekayaan itu dapat

berlangsung sejak pewaris masih hidup atau setelah pewaris meninggal dunia.

Pendapat Soerojo Wignjodipoero mengatakan Hukum Waris Adat adalah

“Norma-norma hukum yang menetapkan harta kekayaan baik yang materiil maupun

yang inmateriil yang manakah dari seseorang yang dapat diserahkan kepada

keturuannya serta yang sekaligus juga mengatur saat, cara dan proses

peralihannya”.25

Kemudian menurut Bushar Muhammad, Hukum Waris Adat meliputi,

“Aturan-aturan yang bertalian dengan proses yang terus menerus dari abad ke abad,

ialah suatu penerusan dan peralihan kekayaan baik materil maupun immateriil dari

suatu angkatan ke angkatan berikutnya.26

23P. Soepomo,Bab-bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1986), hal. 79.

24Ter HaarBzn, Asas-asas dan Susunan Huku adat, diterjemahkan oleh K. N. G. Soebakti

Poesponoto, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1985), hal. 202.

25 Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, (Jakarta: CV. Haji

Masagung, 1988), hal. 161. 26

(7)

Sehingga Hukum Waris Adat mempunyai arti yang luas berapa

penyelenggaraan pemindahan dan peralihan kekayaan dari suatu generasi kepada

generasi berikutnya baik mengenai benda materiil maupun benda inmateriil.

Dengan pengertian Hukum Waris Adat yang telah disebutkan diatas, maka

dapatlah dikemukakan bahwa Hukum Waris Adat itu mengandung beberapa unsur :

a) Hukum Waris Adat adalah merupakan hukum

b) Aturan hukum tersebut mengandung proses penerusan harta warisan

c) Harta warisan yang diperoleh atau diteruskan dapat berupa harta benda yang

berwujud dan tidak berwujud.

d) Penerusan atau pengoperan harta warisan ini berlangusng antara satu generasi

atau pewaris kepada generasi berikutnya atau ahli waris.

4. Harta Bersama dan kaitannya dalam Hukum Kekeluargaan.

Belum adanya keseragaman tentang istilah hukum kekeluargaan, sehingga

para sarjana memakai istilah yang berbeda.

Hilman Hadikusuma menggunakan istilah Hukum Kekerabatan yakni,

“Hukum yang menunjukkan hubungan-hubungan hukum dalam ikatan kekerabatan

termasuk kedudukan orang seorang sebagai anggota warga kerabat (warga adaat

kekerabatan)”.27

Kemudian menurut Djaren Saragih Hukum Kekeluargaan adalah, “Kumpulan

kaedah-kaedah hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum yang ditimbilkan

oleh hubungan biologis.”28

27

(8)

Hubungan-hubungan hukum antara orang-seorang sebagai warga adat dalam

ikatan kekerabatan meliputi hubungan hukum antara orang tua dengan anak, antara

anak dengan anggota keluarga pihak bapak dan ibu serta bertanggung jawab mereka

secara timbal balik dengan orang tua dan keluarga.

5. Prinsip-Prinsip Keturunan Dalam Hukum Kekeluargaan.

Di dalam kehidupan masyarakat di Indonesia terdapat keaneka ragaman sifat

sistem kekeluargaan yang dianut. Sistem kekeluargaan itu dapat dikelompokkan

menjadi tiga macam, yaitu :

a. Sistem kekeluargaan patrinel

b. Sistem kekeluargaan matrinial

c. Sistem kekeluargaan parental atau bilateral

Dalam sisitem kekeluargaan patrinial yaitu suatu masyarakat hukum adat,

dimana para anggotanya menarik garis keturunan ke atas melalui garis bapak, bapak

dari bapak terus ketas sehingga kemudian dijumpai seorang laki-laki sebagai moyang

(contoh: Batak, Bali, Seram, Nias dan Ambon).

Pada sisitem kekeluargaan parental atau bilateral yakni suatu sistem dimana

para anggotanya menarik garis keturunan keatas melalui garis bapak dan ibu, terus

ketas sehingga kemudian dijumpai seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai

moyangnya (contoh : Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Aceh Sulawesi

dan Kalimatan).

(9)

Untuk dapat berlangsungnya suatu proses pewarisan harus dipenuhi tiga unsur

menurut Hukum Adat yaitu :

a. Adanya pewaris

b. Adanya harta warisan

c. Adanya ahli waris

Pengertian pewaris di dalam Hukum Waris Adat menurut Hilman

Hadikusuma, “Orang yang mempunyai harta peninggalan selagi ia masih hidup atau

sudah wafat, harta peninggalan mana (akan) diteruskan penguasaan atau

pemilikannya dalam keadaan tidak terbagibagi atau tertbagi-bagi.”

Kedudukan seorang pewaris itu bisa bapak, ibu, paman, kakek dan nenek.

Orang itu disebbut pewaris karena ketika hidupnya atau wafatnya mempunyai harta

warisan, dimana harta warisan tersebut akan dialihkan atau diteruskan kepada ahli

warisnya.

Harta warisan atau disebut juga harta peninggalan menurut Hilman

Hadikusuma, “Semua harta berupa hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang beralih

penguasaan atau pemilikannya setelah pewaris meninggal dunia kepada ahli waris”29

Pengertian ahli waris menurut Hilman Hadikusuma adalah,:

“Orang-orang yang berhak mewarisi harta warisan”.30 Artinya bahwa orang

tersebut berhak untuk meneruskan penguasaan dan pemilikan harta warisan

atau berhak memiliki bagian-bagian yang telah ditentukan dalm pembagian

29Hilman Hadikusuma,Hukum Waris Indonesia Menurut Perundang-undangan, Hukum Adat,

(10)

harta warisan diantara ahli waris tersebut, Ahli waris itu bisa anak, cucu,

bapak, ibu, paman, kakek dan nenek. Pada dasarnya semua ahli waris berhak

mewarisi kecuali karena tingkah laku atau perbuatan hukum, yang dilakukan

oleh ahli waris sangat merugikan pewaris.

7. Syarat-Syarat Sebagai Ahli Waris

Dalam hukum adat waris, anak-anak dari si peninggal warisan merupakan

golongan ahli waris yang terpenting dibandingkan dengan golongan ahli waris

pengganti lainnya, karena apabila si peninggal harta warisan meninggalkan anak

maka anaknya itulah sebagai ahli waris utama.

Sarjoni Soekanto berpendapat bahwa, untuk menentukan siapa-sipa yang

menjadi ahli waris digunakn empat macam kelompok keutamaan yakni :31

a. Kelompok keutamaan I : keturunan pewaris

b. Kelompok keutamaan II : orang tua pewaris

c. Kelompok keutamaan III : saudara-saudara pewaris dan keturunannya

d. Kelompok keutamaan IV : kakek dan nenek pewaris

Sebagai ahli waris utama adalah keturunan pewaris sedangkan ahli waris

lainnya baru berhak atau harta warisan, apabila yang meninggal itu tidak mempunyai

anak, artinya jika seorang anak lebih dulu meninggal dunia daripada si peningal

warisan dan anak tersebut meninggalkan anak-anak maka cucu dari si peninggal

warisan ini menggantikan kedudukan orang tuanya. Apabila keturunan pewaris ke

31Soerjono Soekanto dan Sulaiman B. Taneko, Hukum Adat Indonesia, (Jakarta: CV.

(11)

bawah sudah tidak ada lagi maka yang sebagai ahli waris adalah orang tua pewaris

(bapak dan ibu) sebagai kelompok keutamaan I, kemudian kalau orang tua pewaris

sudah meninggal dunia maka sebagai ahli waris adlah kelompok keutamaan III yakni

saudara-saudara pewaris dan keturunannya. Demikan seterusnya jika

saudarta-saudara pewaris dan keturuannya sudah tidak ada lagi sehingga ahli waris

penggantinya adlah kakek dan nenek dari si pewaris tersebut. Di dalam pelaksannaan

penentuan ahli waris dengan menggunakan kelompok keutamaan maka harus

diperhatikan prinsip garis keturunan yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu.

8. Cara Pembagian Harta Warisan Menurut Hukum Islam/ BW

Menurut Hukum Adat Waris sistem kewarisan ada tiga yaitu :32

a. Sistem kewarisan individual, dalam sisitem kewarisan harta peninggalan dan

akan diwarisi individual, dalam sisitem kewarisan harta peninggalan akan

diwarisi bersama-sama dibagi-bagi kepada semua ahli waris (individual).

Sistem ini dapat dilihat pada masyarakat bilateral di Jawa.

b. Sistem kewarisan kolektif, dimana harta peninggalan akan diwarisi secara

kolektif (bersama-sama) oleh sekumpulan ahlimwaris, dimana harta warisan

tersebut tidak akan dibagi-bagikan seperti pada sisitem kewarisan individual.

Pada sisitem ini harta warisan akan dinikmati secara bersama-sama. Ahli

waris hanya mempunyai hak pakai atau boleh menikmati saja dari harta

warisan dan tidak mempunyai atau tidak dapat memiliki harta warisan dan

32Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Qur’an Dan Hadist, (Jakarta: Tintamas,

(12)

tidak mempunyai atau tidak dpat memiliki harta warisan tersebut. Hal seperti

ini dapat dilihat pada pewarisan harta pusaka.

c. .Sistem kewarisan mayorat, dalam sisitem kewarisan ini, harta peninggalan

secara keseluruhan atau sebagian besar akan diwarisi oleh seorang ahli waris.

Hal seperti ini dapat dijumpai pada pewarisan terhadap karang desa pada

masyarakat Bali.

Ketika sistem kewarisan tersebut dalam pembagian harta warisannya sering

menimbulkan sengketa, dimana sengketa itu terjadi setelah pewaris meninggal dunia,

tidak saja dikalangan masyarakat yang parental tetapi juga terjadi pada masyarakat

patrinial dan matrinial. Hal mana dikarenakan masyarakat adat sudah lebih banyak

dipengaruhi alam pikiran serba kenendaan sebagai akibat kemajuan jaman dan

timbulnya banyak kebutuhan hidup sehingga rasa malu, kekeluargaan dan tolong

menilong sudah semakin surut.33

Dalam mencapai penyelesaian sengketa pembagian warisan pada umumnya

masyarakat hukum adat menghendaki adanya penyelesaian yang rukun dan damai

tidak saja terbatas pada para pihak yang berselisih tetapi juga termasuk semua

anggota almarhum pewaris. Jadi masyarakat bukan menghendaki adanya suatu

keputusan menang atau kalah sehingga slah satu pihak tidak merasakan bahwa

keputusan itu tidak adil dan kekeluargaan menjadi renggang atau putus karena

perselisihan tidak menemukan penyelesaian. Yang dikehendaki ialah perselisihan

(13)

yang diselesaikan dengan damai sehingga gangguan keseimbangan yang merusak

kerukunan sekeluarga itu dapat dikembalikan.

Jadi penyelesaian atau cara pembagian harta warisan menurut Hilman

Hadikusuma adalah : Dapat ditempuh dengan cara bermusyawarah, baik musyawarah

terbatas dalam lingkungan anggota keluarga sendiri yakni antara anak-anak pewaris

yang sebagai ahli waris, atau dapat juga dengan musyawah keluarga. Jika perselisihan

pembagian itu tak juga dapat diselesaikan maka dipandang perlu dimusyawarahkan di

dalam musyawarah perjanjian adat yang disaksikan oleh petua-petua adat. Apabila

segala usaha telah ditempuh dengan jalan dmai dimuka keluarga dan peradilan adat

mengalami kegagalan maka barulah perkara itu dibawa ke pengadilan.

Selaras dengan pendapat Hilman Hadikusuma, maka Soerojo Wignjodipoero,

mengatakan cara pembagian harta warisan yakni: Pembagian harta peninggalan

merupakan suatu perbuatan daripada para ahli waris bersama, dimana pembagian ini

diselenggarakan dengan permufakatan atau atas kehendak bersama para ahli waris,

apabila tidak terdapat permufakatan dalam menyelesaikan pembagian harta

peninggalan ini, maka hakim (hakim adat/hakim perdamaian desa atau hakim

pengadilan negeri) berwenang atas permohonan ahli waris untuk menetapkan cara

pembagiannya.

B. Pengalihan Harta Bersama

1. Pengalihan Harta Bersama di Dalam Perkawinan

Ketentuan di dalam Pasal 36 Undang-undang Perkawinan No 1 tahun 1974

(14)

yang akan ada. Ketika salah satu pihak melakukan perbuatan hukum seperti menjual,

menjaminkan ataupun mengalihkan harta bersama , maka ia tidak berwenang

melakukan tindakan hukum tersebut tanpa melibatkan suami/isterinya, kecuali dalam

hal sebelumnya telah ada perjanjian perkawinan yang menyatakan pisah harta.

2. Pengalihan Harta Bersama setelah Putusnya Perkawinan karena Kematian

Pengalihan harta bersama berdasarkan Pasal 35 UU Perkawinan No 1 tahun

1974 mrnerangkan harta yang diperoleh semasa perkawinan menjadi harta bersama

dan harta bawaan masing-masing pihak suami isteri hadiah atau warisan, adalah

dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Apabila salah satu suami atau isteri meninggal dunia, maka sesuai hukum

waris telah diperhitungkan terbagi jumlah harta warisannya (Legitieme portie)

khususnya terhadap harta berupa hak atas tanah atau tanah dalam sertipikat

walaupun secara nyata tidak pernah ada perjanjian bagi waris, maka dengan demikian

semua anak-anaknya sebagai ahli warisnya harus turut memberi persetujuan apabila

hak atas tanah tersebut hendak dialihkan atau dijual kepada pihak lain.

3. Pengalihan Harta Bersama setelah Putusnya Perkawinan karena Perceraian

Untuk harta bersama yang merupakan harta bawaan tidak menimbulkan

masalah, karena harta tersebut tetap dikuasai dan adalah hak masing-masing pihak.

Apabila terjadi penyaatuan harta karena perjanjian, penyelesaiannya dan kepatutan.

Tetapi terhadap harta bersama, mungkin akan timbul persoalan. Menurut ketentuan

(15)

diatur menurut hukumnya masing-masing. Yang dimaksud dengan “hukumnya”

masing-masing ialah hukum agama, hukum ada.

Dengan demikian penyelesaian harta bersama adalah sebagai berikut :

1. Bagi mereka yang kawin menurut agama islam, hukum Islam tidak mengenal

harta bersama, karena isteri diberi nafkah oleh suami. Yang ada adalah harta

milik masing suami dan isteri. Harta ini adalah hak mereka

masing-masing.

2. Bagi mereka yang kawin menurut agama Islam dan agama-agama lainnya,

tetapi tunduk pada hukum adat yang mengenal harta bersama (gono-gini, harta

guna kaya), jika terjadi perceraian, mantan suami dan mantan isteri

masing-masing mendapat separuh.

3. Bagi mereka yang kawin menurut agama Kristen, tetapi tunduk kepada BW

yang mengenal harta gono gini (persatuan harta sejak terjadi perkawinan), jika

terjadi perceraian, maka harta bersama dibagi dua antara bekas suami dan

bekas isteri (pasal 128 KUHPerdata).

4. Jika terjadi sengketa tentang penyelesaian harta bersama, sedang hal ini tidak

diatur menurut hukum agama maka dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri

yang berwenang, walaupun bagi mereka yang beragama Islam.

Adapun tata cara mengenai peralihan hak atas tanah diatur dalam bebagai

peraturan, baik itu peraturan tertulis seperti Undang-Undang Nomor 5 Tahun

1960 tentang UUPA, Peraturan Pemerintah No 40 Tahun 1996 ataupun peraturan

(16)

menjadi dasar dalam pelaksanaan peralihan dari satu pihak kepada pihak yang

lainnya. Adapun tat cara peralihan hak atas tanah menurut Undang-undang

Pokok Agraria diatur dalam ketentuan Pasal 26 yang pada intinya menyebutkan

bahwa peralihan hak milik dapat terjadi karena jual-beli, penukaran,

penghibahan, pemberian dengan wasiat, pemberian menurut adat dan

perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk memindahkan hak mililk . Menurut

Peraturan Pememrintah No 40 Tahun 1996, peralihan hak atas tanah dapat terjadi

karena :34

a. Jual-Beli;

b. Tukar-menukar;

c. Penyertaan dalam modal;

d. Hibah;

e. Pewarisan;

Hak milik berdasarkan Pasal 20 ayat (2) UUPA dapat beralih dan dialihkan

kepada pihak lain.

Menurut K.Wantjik Saleh peralihan hak mengandung dua pengertian yaitu

“beralih” dan dapat dialihkan”. Adapun yang dimasud dengan beralih adalah : “Suatu

peralihan hak yang dikarenakan seseorang yang mempunyai salah satu hak meninggal

dunia akan hak itu dengan sendirinya menjadi hak ahli warisnya. Dengan kata lain

34Anggar Sigit Pramukti, S.H dan Erdha Widayanto, S.H,Awas Jangan Beli Tanah Sengkete,

(17)

bahwa peralihan hak itu terjadi dengan melalui suatu perbuatan hukum tertentu,

berupa jual beli, tukar meenukar, hibah wasiat (legaat)”35.

Dengan demikian maka peralihan hak dapat terjadi karena perbuatan yang

disengaja misalnya jual beli, tukar menukar, hibah wasiat (legaat). Peralihan hak juga

dapat terjadi dengan tidak sengaja dengan suatu perbuatan melainkan karena hukum,

misalnya hak pewaris pada saat meninggal dunia dengan sendirinya menjadi hak ahli

warisnya.

Hak milik dapat beralih maksudnya hak milik berpindah dari seseorang

kepada orang lain melalui peristiwa hukum. Misalnya hak pewaris berpindah kepada

ahli warisnya. Sedangkan hak milik dapat dialihkan maksudnya adalah hak seseorang

berpindah kepada orang lain karena perbuatan hukum yang sengaja dilakukan

misalnya karena jual beli, hibah, tukar menukar.

4. Hal-hal yang termasuk disebut suatu obyek harta bersama dalam warisan

Adapun unsur-unsur pewarisan yang berlaku secara umum adalah sebagai

berikut :36

a. Adanya harta peninggalan (kekayaan) pewaris yang disebut warisan.

Defenisinya adalah seluruh harta yang ditinggalkan oleh orang yang

meninggal dunia (pewaris), baik harta tersebut telah dibagi maupun belum.

Berdasarkan tipe kepemilikannya, harta warisan terbagi menjadi tiga jenis :

35K. Wantjik Saleh,Hak Anda Atas Tanah, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1976), hal. 19.

36N. M. Wahyu Kuncoro,Waris: Permasalahan dan Solusinya, Cetakan ke I, (Jakarta: Raih

(18)

1. Harta asal, yaitu semua harta yang dimiliki pewaris sejak sebelum

pernikahan, baik berupa harta peninggalan maupun harta bawaan

(Jawa:gawan) yang masih dimiliki saat menarungi pernikahan hingga

wafat.

2. Harta Hibah, yaaitu harta warisan yang bukan berasal dari hasil kerja

sendiri, melainkan harta pemberian orang lain (contohnya adlah tanah

pemberian orangtua sebagai hadiah pernikahan).

3. Harta Gono-gini, yaitu seluruh harta yang didapatkan saat dan selama

mengarungi bahtera pernikahan.

b. Adanya pewaris, yaitu orang yang menguasai atau memiliki harta warisan

yang mengalihkan atau meneruskannya. Berdasarkan KUHPerdata Pasal 830

ditetapkan bahwa proses meneruskan atau mengalihkan harta warisan hanya

boleh dibuka (dilakukan) ketika pewaris telah meninggal dunia. Namun pada

sebagaian hukum waris adat tidak berlaku hal demikian.

c. Adanya ahli waris Ahli waris adalah orang yang menerima pengalihan

(penerusan) atau pembagian harta warisan itu. Ahli waris merupakan unsur

vital dalam hal pewarisan, pada unsur inilah polemik seringkali terjadi.

Seperti telah dijelaskan diatas, hak milik dapat beralih dari seseorang kepada

orang lain melalui peristiwa hukum pewarisan dimana hak pewaris berpindah kepada

ahli warisnya. Berbicara tentang peralihan hak milik karena pewarisan erat kaitannya

(19)

Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata secara

keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris

sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia sebab setiap manusia

akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum yang

selanjutnya timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang

diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan

kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu. Penyelesian hak-hak dan

kewajiban-kewajiban sebagai akibat meninggalnya seseorang, diatur oleh hukum

waris.37

Soepomo menerangkan bahwa hukum waris itu memuat peraturan-peraturan

yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dari

suatu angkatan manusia kepada turuannya.38

Ter Haar Bzn memberikan rumusan hukum waris sebagai “Hukum Waris

adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad

penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari

generasi ke generasi”.39

Pitlo dalam bukunya “Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum

perdata Belanda” memberikan batasan hukum waris sebagai berikut :

37I

man Suparman,Intisari Hukum Waris Indonesia, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1995), hal. 1. 38Soepomo,Bab-bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Penerbitan Universitas, 1986), hal.72. 39Ter Haar Bzn,Azas dan Susunan Hukum Adat, terjemahan K.N. G. Soebekti Poesponoto,

(20)

“Hukum Waris, adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai

kekayaan karena wafatnya seseorang yaitu mengenai pemindahan kekayaan

yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi

orang-orang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antara mereka, maupun

dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga”.40

Soepomo dalam bukunya “Bab-bab tentang Hukum Adat”mengemukakan

sebagai berikut :

Hukum waris itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses

meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang tidak

berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie)

kepada keturuannya. Proses itu telah mulai pada waktu orang tua masih hidup. Proses

tersebut tidak menjadi “akuut” oleh sebab orang tua meninggal dunia. Mdemang

meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu,

akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan

pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut.41

5. Melakukan Balik Nama atas Sertipikat tanah yang Diwariskan.

Salah satu harta benda yang diwariskan adalah tanah. Permasalahan yang

sering terjadi berkaitan dengan hal ini adalah ketika seseorang/ahli waris ingin

menjual tanah warisan dari orangtuanya yang telah meninggal. Ahli waris kesulitan

40A. Pitlo, Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda,

(21)

karena sertipikat tanah belum diubah, apalagi jika jumlah ahli warisnya bukan hanya

satu orang.

Hal yang perlu diperhatikan ahli waris sebelum menjual tanah warisan orang

tua, ia harus terlebih dalu melakukan balik nama sertipikat. Sebelum melakukan balik

nama sertipikat tersebut, terlebih dahulu dibutuhkan surat keterangan waris .

Setelah adanya surat keterangan waris, ahli waris mengajukan permohonan

balik nama waris di kantor pertanahan setempat. Permohonan balik nama waris

adalah permohonan yang dilakukan dari nama almarhum kepada nama para ahli waris

yang ada, yaitu isteri beserta anak-ankanya. Nantinya akan terancantum nama para

ahli waris tersebut di dalam sertipikat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan Pemerintah No 111 Tahun 2000

tentang Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan karena waris dan

hibah wasiat, ahli waris dikenakan bea perolehan ha atas tanah dan bangunan yang

seharusnya terutang. Adapun nilai perlehan obyek pajak karena waris dan hibah

waisat disesuaikan dengan nilai pasar pada saat didaftarkannya perolehan hak

tersebut ke kantor pertanahan setempat. Jika nilai pasar lebih rendah daripada nilai

perolehan obyek pajak, yang digunakan adalah Nilai Obyek Pajak (NJOP) pajak bumi

dan bangunan pada tahun terjadinya perolehan.42

Peralihan hak karena pewarisan terjadi karena hukum pada saat pemegang hak

meninggal dunia. Sejak saat itu para ahli waris menjadi pemegang haknya yang baru.

(22)

Mengenai siapa yang menjadi ahli waris diatur dalam Hukum Perdata yang berlaku

bagi pewaris.43

Pendaftaran peralihan hak karena pewarisan diwajibkan dalam rangka

memberi perlindungan hukum kepada para ahli waris dan demi ketertiban tata usaha

pendaftaran tanah, agar data yang tersimpan dan disajikan selaku menunjukkan

keadaan yang mutakhir.44

Surat tanda bukti sebagai ahli waris dapat berupa Akta Keterangan Hak Waris,

atau surat Pennetapan Ahli Waris atau Surat Keterangan Ahli Waris.

Dalam Pasal 111 Peraturan Menteri Agraria Nomor 3 tahun 1997, yang isinya

serupa atau pararlel dengan Surat Ketua Mahkamah Agung RI tanggal 8 Mei 1991

No.MA/Kumdil/171/K/199145, yang menyebutkan surat tanda bukti sebagai ahli

waris berupa :

1. Wasiat dari pewaris;

2. Putusan dari pengadilan;

3. Penetapan Hakim/Ketua Pengadilan;

4. Bagi Warga negara Indonesia penduiduk asli: surat keterangan ahli waris yang

dibuat oleh para aahli waris, dengan disaksikan oleh 2 orang saksi dan

dikuatkan oleh kepala Desa/Kelurahan an Camat dari tempat tinggal pewaris

pada waktu meninggal dunia.

43Boedi Harsono,Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok

Agraria, Isi dan Pelaksanaanya, (Jakarta: Djambatan, 1999), hal. 504. 44Ibid, hal. 505.

(23)

5. Bagi warga negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya : keterangan

waris dari Balai Harta Peninggalan.

6. Bagi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa atau Cina keterangan waris

dari dibuat di hadapan Notaris.

Untuk pendaftaran peralihan hak karena pewarisan mengenai bidangtanah hak

yang sudah terdaftar sebagaimana yanag diwajibkan menurut ketentuan Pasal 36

Peraturan Pememrintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendataram Tanah, maka

dokumen-dokumen yang wajib diserahkan oleh yang menerima hak sebagai warisan

kepada Kantor Pertanahan yaitu :

a. Sertipikat hak yang bersangkutan;

b. Surat kematian orang yang namanya tercatat sebagai pemegang haknya;

c. Surat tanda bukti sebagai ahli waris;

Hal ini diatur dalam Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997

tentang Pendaftaran Tanah, yang dilengkapi dengan pengaturan dalam Pasal 111 dan

Pasal 112 Peraturan Menteri Agraria Nomor 3 tahun 1997.

Jika bidang tanah yang merupakan warisan belum didaftar, wajib diserahkan

juga dokumen-dokumen yang disebut dalam ketentuan Pasal 39 ayat (1) huruf b

Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, dokumen-dokumen itu berupa :

a. Surat bukti hak sebagimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1) atau Surat

Keterangan Kepala Desa/Kelurahan yang menyatakan bahwa yang

bersangkutan menguasai bidang tanah tersebut sebagaimana disebut dalam

(24)

b. Surat keterangan yang menyatakan bahwa bidang tanah yang bersangkutan

belum bertsertipikat dari kantor pertanahan , atau untuk tanah yang terletak di

daerah yang jauh dari kedudukan kantor pertanahan, dari pemegang hak yang

bersangkutan dengan dikutkan oleh Kepala Desa Kelurahan.

Dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas tanah kepada yang

mewariskan itu diperlukan, karena pendaftaran peralihan haknya baru dapat

dilakukan setelah dilaksanakan pendaftaran untuk pertama kali hak yang

bersangkutan atas nama yang mewariskan.46

Jika penerima warisan terdiri dari lebih dari satu orang, pendaftaran peralihan

haknya dilakukan kepada orang tersebut berdasarkan surat tanda bukti sebagai ahli

waris yang bersangkutan (Pasal 42 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun

1997).

Jika penerima warisan lebih dari satu orang dan pada waktu peralihan hak

tersebut didaftarakan disertai dengan akta pembagian waris yang menuat keterangan,

bahwa hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun tertentu jatuh kepada

seorang penerima warisan yang bersangkutan, berdasarkan surat tanda bukti sebagai

ahli waris dan akta pembagian waris tersebut (Pasal 42 ayat (4) Peratran Pemerintah

Nomor 24 Tahun 1997).

Pencatatan peralihan hak dalam buku tanah, sertipikat dan daftar lainnya

dilakukan sebagai berikut :

(25)

a. Nama pemegang hak lama di dlam buku tanah dicoret dengan tinta hitam dan

dibubuhi paraf oleh kepala kantor petanahan atau pejabat yang ditunjuk;

b. Nama atau nama-nama pemegang hak yang baru dituliskan pada halaman dan

kolom yang ada pada buku tanahnya dengan dibubuhi tanggal pencatatn, dan

besarnya bagian setiap pemegang hak dalam hal penerima hak beberapa orang

dan besarnya bagian yang ditentukan, dan kemudian ditandatangani oleh

kepala kantor pertanahan atau pejabat yang ditunjuk dan cap dinas kantor

pertanhaan.

c. Pencoretan dan penulisan nama pemegang hak yang lama dan yang baru

dilakukan juga pada sertipikat dan daftar umum yang memuat nama

pemkegang hak yang lama;

d. Nomor dan identitas lain tanah yang diaihkan dicoret dari daftar nama

pemegang hak lama dan nomor hak dan identitas dituliskan pada daftar nama

penerima hak.

Apabila pemegang hak yang baru lebih dari satu orang dan hak tersebut

dimiliki bersama, maka untuk masing-masing pemegang hak dibuatkan daftar nama

dan di bawah nomor hak atas tanahnya diberi garis dengan tinta hitam.

Apabila peralihan hak hanya mengenai bagian dari sesuatu hak atas tanah

sehingga hak atas tanah ini menjadi kepunyaan bersama pemegang hak lama dan

pemegang hak baru, maka pendaftarannya dilakukan dengan menuliskan besarnya

bagian pemegang hak lama dibelakan namanya dan menuliskan nama pemegang hak

(26)

Dalam hal yang diaihkan adalah hak yang belum didaftar, akta PPAT yang

bersangkutan dijadikan alat bukti dalam pendataran pertama hak tersebut atas nama

pemegang hak yang terakhir . Demikian ditentukan dalam Pasal 106 Peraturan

Menteri Agraria Nomor 3 tahun 1997.

6. Jual Beli Tanah dalam Sertipikat atas nama Suami, yang mana Isterinya telah meninggal dunia

Jika sertipikat atas nama suam, tapi yang meninggal isteri, maka sertipikat

tersebut tidak perlu dibaliknamakan ke seluruh ahli waris. Tapi bisa saja dilakukan

karena tidak ada aturan yang melarang jika pemegang hak ingin membaliknama

sertipikat tersebut ke atas nama seluruh ahli waris.

Dengan dibaliknamanya sertipikat ke atas nama seluruh ahli waris maka

nantinya nama yang tercantum di sertipikat terdiri dari beberapa nama sesuai dengan

nama yang tercantum di dalam Surat keterangan Waris. Beberapa kantor pertanahan

juga mewajibkan para pemilik menyertakan pernyataan besaran (dalam presentase)

masing-masing hak ahli waris. Kemudian besaran bagian tersebut dicantumkan di

dalam sertipikatnya.

Jika tanah itu akan dijual maka seluruh ahli waris (dalam hal ini

anak-anaknya) harusslah mendapat persetujuan dalam akta jual beli karena di dalam tanah

tersebut terdapat harta bersama (milik Istri) yang menjadi milik dari anak-anaknya.

7. Dalam Hal Seluruh Ahli Waris Sepakat Untuk Memberikan Tanah Warisan Tersebut Kepada Salah Seorang Ahli Waris

Jika salah seorang ahli waris ingin memperoleh tanah warisan tersebut secara

penuuh maka harus dilakukan terlebih dahulu balik nama ke seluruh ahli waris dan

(27)

hak oleh seorang ahli waris tersebut, penerima hak diwajibkan membayar BPHTB

dan PPh secara proposional

8. Dalam Hal Ahli Waris Tinggal Di Lokasi Yang Berjauhan

Jika ada ahli waris tinggal di lokasi yang berjauhan dengan obyek tanah, maka

untuk menndatangani akta jual beli bisa memberikan kuasa untuk menjual berupa

akta notaris atau legalisasi kepada salah seorang ahli waris lainnya. Akta kuasa untuk

menjual bisa dibuat di hadapan notaris tempat si ahli waris berada. Kuasa untuk

menjual tidak bisa dibuat di bawah tangan saja. Dimana pada saat pembuatan akta

jual beli di hadapan PPAT, asli akta kuasa untuk menjual tersebut harus dilampirkan.

9. Jual Beli Hak Atas Tanah dari Harta Bersama Yang Ahli Warisnya Anak Di Bawah Umur.

Untuk jual beli hak atas tanah orang tua yang diwariskan yang anaknya masih

dibawah umur wajib mengajukan permohonan perwalian /penetapan wali dan

permohonan penetapan IJIN MENJUAL harta anak yang masih dibawah umur dari

Pengadilan Negeri ditempat mana anak tersebut berdomisili. Hal ini diatur dalam

Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) :

“Bagi sekalian anak yang belum dewasa, yang tidak bernaung di bawah

kekuasaan orang tua dan yang perwaliannya tidak telah diatur dengan cara yang sah,

Pengadilan Negeri harus mengangkat seorang wali, setelah mendengar atau

memanggil dengan sah para keluarga sedarah dan semenda”.

Kemudian dalam Pasal 363 KUHPerdata diatur tentang kewajiban wali untuk

(28)

“Wali berwajib segera setelah perwaliannya mulai berlaku, dibawah tangan

Balai Harta Peninggalan mengankat sumpah, bahwa ia akan menunaikan

perwalian yang dipercayakan kepadanya dengan baik dan tulus hati.

Jika ditempat tinggal si wali atau dalam jarak lima belas pal dari itu tiada

Balai Harta Peninggalan, pun tiada suatu perwakilan dari itu berkedudukan,

maka sumpah boleh diangkat di depan Pengadilan Negeri ataupun di muka

Kepala Pemerintah daerah tempat tinggal si wali.

C. Kekuatan Mengikat dalam Kecakapan Melakukan Perbuatan Hukum

Baik sistem terbuka hukum kontrak maupun asas kekuatan mengikat dapat

menemukan landasan hukumannya dlam bunyi ketentuan Pasal 1338 ayat (1) BW

(lama) :

“Semua Persetujuan yang dibuat secara sah sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

Di dalam ketentuan Pasal 6:248 (1) BW kita temukan pengungkapan dari asas

kekuatan mengikat:

Persetujuan-persetujuan tidak (hanya) mengikat untuk apa-apa yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, (tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau undang-uanfdang)”.

Asas yang menyatakan bahwa suatu perjanjian mengakibatkan suatu

kewajiban hukum dan para pihak terikat untuk melaksanakan kespakatan kontraktual,

serta bahwa suatu kesepakatan harus dipenuhi, dianggap sudah terberi dan kita tidak

pernah mempertanyakan kembali. Kehidupan kemasyarakatan hanya mungkin

(29)

pengetahuan kira nya tidak mungkin dapat memberikan penjelasan lebih dari itu,

terkecuali bahwa kontrak memang mengikat karena merupakan suatu janji serupa

dengan undang-undang karena undang-undang tersebut dipandang sebagai perintah

pembuat ndang-undang. Jika kepastian terpenuhinya kesepakatan kontraktual

diadakan, hal itu akan sekaligus menghancurkan seluruh sistem pertukaran

(benda-jasa) yang ada di dalam maasyarakat. Oleh sebab itu “kesetiaan pada janji yang

diberikan merupakan bagian dari persyaratan yang dituntut akal budi alamiah”.47

Janji dari akta-kata yang diucapkan sifatnya mengikat. Perjanjian dibuat

sendiri oleh para pihak dan mereka juga yang menentukan ruang lingkup serta cara

pelaksanaan perjanjian tersebut. Perjanjian memunculkan akibat hukum (Pasal 6:248

(1) BW) dan berlaku bagi para piha seolah undang-undang (Pasal 1338 (1)

KUHPerdata Indonesia atau Pasal 1374 (1) BW (lama). Keterikatan suatu perjanjian

terkandung di dalam janji yang dilakukan oleh para pihak sendiri.

“Kata-kata itu sendiri tidak mengikat namun yang mengikat ialah kata-kata yang ditujukan kepada pihak lainnya; saya harus membayar, bukan karena saya menghendakinya, tetapi karena saya telah berjanji untuk melakukan hal itu, yakni dlam artian saya telah menyatakan kehendak (untuk membayar) tersebut kepada pihak lain.

Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata Indonenesia atau Pasal 1374 (1)

BW (lama) yang telah disebutkan di atas selanjutnya dimengerti dalam artian bahwa

sebenarnya setiap orang dan sesama orang lainnya dapat bertindak seolah pembuat

undang-undang dengan menggunakan perjanjian. Sebab itu pula, perjanjian dianggap

47Dr. Herlien Budiono, S.H,Asas Keseimbangan bagi Hukum Perjanjian Indonesia,Hukum

(30)

sebagai sumber hukum di samping undang-undang. Hal ini berarti, tiada kurang

maupun lebih, bahwa setiap orang dengan caranya sendiri, dengan membuat

perjanjian, dapat bertindak selaku pembuat undang-undang di dalam lingkup hukum

keprdataan (privat), yang mengatur perilaku antara sesama orang tersebut.

Beekhuis berpendapat bahwa BW (lama) masih menyisakan pandangan kuno yang melebihkan makna kontrak. Melalui ketentuan bahwa semua perikatan yang

lahir dari perjanjian atau undang-undang, maka seketika perjanjian diangkat menjadi

sumber hukum mandiri diluar undang-undang. Kenyataan ini menjeaslan mengapa

pada waktu itu muncul kecenderungan untuk memanai kontrak, bak secara kualitatif

maupun secara kuantitatif secara berlebihan. Disebut pemaknaan kwalitatif yang

berlebihan karena dengan cara ini semua yang dilandaskan pada kehendak para pihak

dianggap benar (absah) diantara para pihak itu. Selanjutnya disebut pemaknaan

kuantitatif yang berlebihan karena kontrak kemudian dikontruksikan suatu hal yang

sebenarnya tidak ada, yakni untuk dengan cara ini menjustifikasi sejumlah fenomena

yang muncul di dalam masyarakat. Asas kekuatan mengikat seolah-olah memistikkan

mana perjanjian. Lagi pula, perjanjian merupakan sarana yang memungkinkan

kehendak manusia perseorangan untuk memainkan peran paling dalam kehidupan

masyarakat.

Adapun pacta sun servanda dikui sebagai aturan yang menetapkan bahwa semua perjanjian yang dibuat manusia satu sama lain, mengingat kekuatan hukum

yang terkandung di dalamnya, dimaksudkan untuk dilaksanakan dan pada akhirnya

(31)

terbatas, yakni hanya merujuk kepada kesepakatan penghapusan hutang atau

penundaan pembayaran hutang; kesepaktan penghapusdan hutang atau penundaan

pembayaran hutang; kesepakatan itu sendiri tidak dapat dipaksakan oleh hukum

dengan menggunakan upaya hukum. Kesepakatan-kesepakatan demikian hanya

berguna sebagai upaya bela diri (eksepsi) terhadap upaya hukum yang dijalankan

dalam rangka menagih pembayaran hutang tersebut.

1. Kebebasan Berkontrak

Asas kekuatan mengikat kontraktual mengandaikan adanya suatu kebebasan di dalam masyrakat untuk turut serta di dalam lalu lintas yuridikal dan sekaligus hal tersebut mengimplikasikan asas kebebasan berkontrak. Apabila diantara para pihak ditutup suatu perjanjian, akan diandaikan adanya kehendak bebas dari pihak-pihak tersebut. Di dalam konteks kebebasan kehendak juga terimpilikasikan adanya kesetaraan minimal. Dalam kenyataan, kesetaraan kekuatan ekonomi dari para pihak sering kali tidak ada. Sebaliknya, bila kesetaraan antara para pihak seringkali tidak ada. Sebaliknya, bila kesetaraan antara para pihak tidak dimungkinkan, tidak dapat dikatakan adanya kebebasan berkontrak. Adanya kepentingan umum dario masyarakat mensyratkan dan sekaligus menetapkan batas-batas kebebasan untuk membuat dan menutut kontrak. Adanya kebebasan untuk sepakat tentang apa saja dan dengan siapa saja merupakan hal yang sangat penting . Sebab itu pula, azas kebebasan berkontrak dicakupkan sebagai bagian dari hak-hak kebebasan manusia. Kebebasan berkontrak sebegitu pentingnya, baik bagi individu, dalam konteks kemungkinan pengembangan diri dalam kehidupan pribadi, maupun dalam hal lalu lintas kehidupan kemasdyarakatan, serta untuk menguasai atau memiliki harta kekayaannya, serta bagi masyarakat sebagai suatu totalitas, sedemikian sehingga oleh bebrapa penulis dipandang sebagai suatu hak asasi manusia.48

Di dalam BW, sebagaimana juga muncul di alamCode Civil , asas kebebasan berkontrak ini tidak diungkapkan dengan banyak kata. Kiranya jarang ditemukan

aturan perundang-undangan yang secara tegas memuat dan menegaskan asas tersebut.

48

(32)

Lebih penting dari pertanyaan tyentang ada tidaknya atau cara bagaimana kebebasan

menutup perjanjian diberlakukan dalam suatu kurun waktu tertentu atau dalam

masyarakat tertentu ialah pertanyaan apakah kebebasan berkontarak tersebut diterima

sebagai asas atau tidak. Tidak dapat dipungkiri ialh kenytaan bahwa dalam kurun

waktu tertentu atau di dalam beberapa masyarakat dapat ditemukan adanya

pembatasan terhadap kebebasan berkontrak. Suatu sisitem selalu disesuaikan sejalan

dengan kebutuhan masyarakat yang berubah menurut waktu dan tempat.

Kita tidak akan dapat memperoleh pemahaman yang utuh tentang

perkembangan serta penerapan asas kebebasan berkontrak tanpa terlebih dahulu

menempatkan asas ini ke dlam konteks hubungan kemasyarakatan, perkembangan

evolutif ekonomi, dan perubahan pandangan-pandangan soaial yang melingkupinya.

Berkenaan dengan kebebasan berkontrak artian formil, maka asas konsensualisme

acap dipandang sebagai “hadiah”, pemberian dari pengemban hukum kanonik dan

abad pertengahan. Perkembangan paling pesat dari kebebasan berkontrak muncul

setelah revolusi perancis yang mengedepankan motto : liberte, egalite fraternite. .

Revolusi dengan semangat “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan tersebut

muncul sebagai reaksi terhadap campur tanngan negara yang begitu jauh ke dalam

kehidupan kemasyarakatan.

Bregstein menyatakan bahwa konsep kontrak sejak tahun 1838 tidak mengalami perubahan fundamental. Pandangan ini yang diaukannya pada waktu itu sekarang tidak lagi dapat dipertahankan. Kebebasan berkontrak di Belanda sejak paruh kedua abad lalu sudah dibatasi oleh penguasa. Titik tolak dari berkembangnya aturan-aturan hukum memaksa dapat ditemukan didalam

(33)

buruh (pekerja) dengan cara membatasai kebebasan berkontrak yang dinikmati para pihak melaui pengaturan upah, cara, dan waktu pembayaran upah dan tentang ganti rugi bila terjadi pelanggaran kontrak secara melawan hukum.49

Sekalipun dalam bentuk yang lebih terbatas, juga di dalam doktrin dapat kita

cermati kecenderungan membatasi kebebasan berkontrak. Kecenderungan tersebut

terutama mengejewantah dalam pemberian peran yang lebih penting terhadap

pengertian kepatutan dan kelayakan (redelijkheid en bijlikheid),kesusilaan yang baik

, (openbare orde)dan oleh karenanya tatkala perjanjian dibuat pengertian-pengertian di atas juga harus turut diperhitungkan. Dari sudut pandangan formil, kebebasan

berkontrak tetap berlaku, namun mutan isi (atau jangkauan) dari hubungan

kontraktual ditentulan oleh kombinasi dari aturan-aturan yang telah disebutkan diatas.

Hukum kontrak berkembang menjadi lebih publik dengan mengubah nuansa

kepentingan privat menjadi kepentingan masyarakat. Dapat dicermati menyurutnya

elemem-elemen hukum privat dan sebaliknya bertambahnya elemem-elemem hukum

publik. Akibat nyata dari perkembangan ini iaalah berkembangnya kebebasan

individu.

2. Kecakapan dan Ketidakcakapan Melakukan Tindakan Hukum

Setiap subyek hukum yang berwenang melakukan tindakan hukum yang memiliki kewenangan (kapasitas) untuk melakukan tindakan hukum menjadi pengemban hak dan kewajiban hukum. Untuk terbentuknya suatu hubungan hukum disyaratkan ada atau dilakukannya suatu tindakan hukum yang “menghidupkan” kewenangan tersebut. Orang dapat mengikatkan diri sendiri maupun seorang lainnya dan dengan cara itu dapat memunculkan kewajiban. Situasi ini dapat diterima sepanjang dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan. Siapa yang dapat dan boleh bertindak dan mengikatkan diri adalah

49

(34)

mereka yang cakap bertindak(handelingsbekwaan)dan mampu melakukan suatu tindakan yang memiliki konsekuensi hukum. Juga, dapat ditemukan di dalam undang-undang ditetapkannya orang-orang yang harus dilindungi dari dirinya sendiri. Orang-orang tersebut dianggap tidak mampu untuk, tatkala melakukan tindakan-tindakan hukum tersebut, memperkirakan dan mempertimbangkan untuk dimintakan pertanggung jawaban atas kepentingan-kepentingan terkait. Pembuat undang-undang karena itu menyatakan orang-orang tersebut sebagai tidak cakap melakukan tindakan hukum (handellingsonbekwaam). Itu, dengan melakukan tindakan hukum, pada dasarnya, tetap akan dianggap tidak mampu mengikatkan diri mereka sendiri menurut hukum pada orang lain.50

Pada umumnya setiap orang (naturlijke persoon) cakap melakukan tindakan hukum, sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang.“Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan cakap”

Demikian dinyatakan ketentuan Pasal 1329 KUHPerdata.Indon.atau Pasal

1365 BW (lama). Ketentuan Pasal 3:32 BW menegaskan suatu asas bahwa tiada

seorangpun, karena kelahiran, kedudukan, jenis kelamin, atau alasan lain yang tidak

disebutkan di dalam atauran ini, tidak cakap melakukan tindakan hukum. Kecakapan

adalah ketentuan umum, sedangkan ketidak cakapan merupakan pengecualian

darintya. Terminologi yang digunakan undang-undang kecakapa, (bekwanheid)dan ketidakcakapan (onbekwamheid), memiliki makna yang berbeda dari artian umum yang dirujuk dalam percakapan sehari-hari dan tidak menunjuk pada sifat alamiah.

Tidak cakap menurut hukum adalah mereka yang oleh undang-undang dilarang

menutup perjanjian, terlepas dari apakah secara faktual ia mampu memahami

konsekuensi tindakan-tinakannya. Mereka yang dianggap tidak cakap adalah orang

50

(35)

belum dewasa atau anak-anak di bawah umur (minderjarigen) dan mereka ditempatkan dibawah pengampuan (curatele)n yang tanpa seizin wakil mereka menurut perundang-undangan (pasal 1:234 (1) dan 381 BW) melakukan suatu

tindakan hukum .

Pasal 330 (1) KUHPerdata.Indon atau pasal 385 (1) BW (lama0 menegaskan

bahwa :

“Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap duapuluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu telah kawin”

Sedangkan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan menetapkan bahwa anak yang belum mencapai umur 18 Tahun atau

belum pernah melangsungkan perkawinan ada dibawah pengawasan orang tua

mereka. Pasal 39 ayat (1) a Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan

Notaris menetapkan bahwa penghadap harus paling sedikit umur 18 (delapn belas)

tahun atau sudah menikah.

Apa yang khas bagi keadaan anak dibawah umur atau mereka yang diletakkan

dibawah pengampuan ialah bahwa mereka dianggap tidak cakap untuk melaksanakan

sendiri hak-hak yang mereka miliki. Ketidak cakapan dalm pandangan ini berfungsi

memberikan perlindungan kepada mereka yang dianggap masih dibawah umur dan

ditempatkan dibawah pengampuan. Keadaan ditempatkan di bawah pengampuan

adalah suatu keadaan dari seseorang, sepanjang menyangkut kemampuan nya

melakkan tindakan hukum, ia disetarakan dengan anak dibawah umur. Keadaan ini

(36)

a. Ketidak cakapan saja sudah merupakan alasan cukup untuk embatalkan

perjanjian; terlepas dari perosaln apakah pihak yang tidak cakap tersebut

dirugikan atau tidak oleh perjanjin dimaksud.

b. Juga tidak penting persoalan apakah pihak lainnya itu sebelumnya telah

mengetahui atau tidak mengetahui keadaan tidak cakap dari pihak dengan

siapa ia menutup perjanjian.

Berkenaan dengan ihwal pembuatn perjanjian-perjanjian dengan pembatasan kebebasan berkontrak orang orang tertentu, maka ghalibnya dibuat perbedaan antara ketidak cakapan melakukan tindakan (handeling sonbekwaamheid) dan ketidak wenangan melakukan tindakan hukum (handelingsonbevoegheid).

Pembedaan ini tidak dimaktubkan ke dalam undang-undang, tetapi dikembangkan oleh ilmu hukum. Tidak cakap adalah mereka yang pada umumnya tidak boleh menutup perjanjian. Tidak wenang ialah mereka yang oleh undang-undang dilarang menutup perjanjian-perjanjian tertentu. Ketidakcakapan melakukatn tindakan hukum ialah ketidak mampuan umum (algemene ongeschiktheid) untuk melakukan tindakan hukum untuk dan atas dirinya sendiri yang ditetapkan atas dasar ketentuan perundang-undangan atau putusan hakim. Ketidakweangan melakukan tindakan merujuk pada ketidak mampuan khusus

(bijzondere ongeschitheid) ssebagai mana ditetapkan oleh ketentuan perundang-undangan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu. Juga ada perbedaan antara tujuan dan akibat dari pernyataan tentang status ketidak cakapan dan ketidak wenangan seseorang. Tujuan dari pernyataan ketidak cakapan ialah perenungan dari pihak yang tidak cakap; pernyataan tidak weanang terutama ditunjukkan terhadap orang yang dinyatakan tidak wenang dan tujuan darinya ialah perlindungan pihak lainnya atau kepentingan umum. Perjanjian yang ditutup atau dibuat oleh pihak yang tidak berwenang adalah batal demi hukum(nietig) sedangkan perjanjian yang ditutup oleh mereka yang tidak cakap tidakipso jurebatal sepanjang belum dibatalkan(vernietig-baar).51

Konsekwensi dari perjanjian yang dibuat oleh mereka yang tidak cakap adalah

dapat dibatalkan dan sepanjang tidak ada belum dibatalkan, maka akibat hukum yang

timbul darinya berlaku secara penuh. Berkenaan dengan tindakan hukum sepihak,

51

(37)

ketentuan Pasal 3 : 32 (2) BW membuat pembedaan antaragerichte dan ongerichte rechtshandeling(tindakan hukum yang bertujuan dengan yang tidak bertujuan : Bab III.E.3.b) Tindakan hukum yang disebut pertama sifatnya dapat dibatalkan,

sedangkan yang kedua batal demi hukum.

Tidak cakap tidaklah sama dengan secara faktual tidak mampu (onmachting)

untuk melakukan tindakan hukum. Dalam hal ketidak cakapan, ketidak mampuan

melakukan tindakan hukum, demi kepentingan kepastian hukum, dikaitkan pada fakta

eksternal yang mudah dipastikan dan dikenali batas-batasnya secara tegas. Sedangkan

dalam hal ketidak mampuan faktual, keadaan tidak mampu tersebut justru harus

dibuktikan keberadannya di muka haki. Ketidak cakapan dapat mudah dipastikan

dari catatan sipil yang sifatnya terbukauntuk umum atau pernyataan-pernyataan

umum lainnya (putusan pengadilan). Hal serupa tidak dapat dipastikan dari register

umum atau pernyataan-pernyataan umum bila soalnya adalah ketiadaan kehendak

bebas dari pihak yang secara faktual mampu(onmachting)tersebut.

3. Cacat dalam kehendak (wilgebreken)

Suatu cacat kehendak menunjuk pada situasi seseorang telah melakukan suatu

perbuatan hukum, padahal kehendaknya terbentuk secara tidak sempurna . Ketentuan

Pasal 3: 33 BW mensyaratkan bahwa untuk adanya suatu perbuatan hukum, maka

terlebih dahulu ada kehendak yang tertuju pada suatu akibat hukum tertentu

sebagaimana terejewantah dalam suatu pernyataan. Sekalipun kehendak dan

pernyataan ternyata berkesesuaian, suatu tindakan hukum apat dibatalkan dengan

(38)

kehendak , yakni kesesatan/kekeliruan (dwaling; Pasal 6:228 baian 6.5.2.BW),

penipuan (bedrog), ancamaan (bedreiging), dan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden). Tiga alasan yang disebut trrakhir dpat kita temukan dalam Pasal 3:44 BW, KUH Perdata.Indon, dan juga BW (lama) mengatur ihwal akibat

kekeliruan /kesesatan, (penggunaan) kekerasan (geweld), dan penipuan di dalam ketentuan Pasal 1322 Pasal 1328 KUHPerdata.Indon. atau Pasal 1358-Pasal 1364 BW

(lama), sedangkan penyalahgnaan keadaan tidak kita temukan pengaturannya, baik di

dalam KUHPerdata.Indon.maupun BW (lama).

a. Kesesatan/kekeliruan(dwaling)

Di dalam praktik jual beli dapat terjadi kekeliruan perihal harga, jumlah,

mutu, atau jenis dari benda-benda tertentu yang yang dijual belikan. Menurut

kekeliruan adalah manusiawi, tetapi tidak setiap kekeliruan akan relevan bagi

hukum. Sebagai aturan pokok hukum menetapkan bahwa (akibat) kekeliruan

yang terjadi harus ditanggung oleh dan menjadi risiko pihak yang

membuatnya. Seseorang yang melakukan suatu kekeliruan karena salahnya

sendiri sudah sewajarnya menanggung segala akibatnya. Undang-undang

hanya memberikan ruang sempit bagi bagi kemungkinan untuk hukum

mengoreksi kesesatan yang telah terjadi . Kita baru dapat berbicata tentang

kekeliruan yang sebenarnya bila kehendak dan pernyataan satu sma lain

berkesesuaian, tetapi kehendak salah satu pihak atau dari keduanya terbentuk

secara cacat. Ini merupakan problematika kesesatan/kekeliruan yang

(39)

yang ditetapkan ketentuan Pasal 3:33 BW telah dipenuhi) , tetapi perjanjian

ini dapat dibatalkan(vernietigbaar)(Pasal 6:228) BW), Ketentuan Pasal 6:223 (1) BW menyebutkan seacar ilmiah bahwa : “Hanya suatu perjanjian yang

terbentuk dibawah pengaruh kekeliruan/kesesatan yang bilamana kekeliruan

tersebut diketahui sebelumnya, maka tidak akan terbentuk perjanjian dapat

dibatalkan.”

b. Ancaman(bedreiging)

Dikatakan terjadi pengancaman bila seseorang menggerakkan orang lain

untuk melakukan suatu tindakan hukum, yakni dengan secara melawan hukum

mengancam (akan) menimbulkan kerugian pada diri orang tersebut (Pasal

3:44) (2) kalimat pertama). Ancaman demikian menimbulkan ketakutan

sehingga kehendak seseorang terbentuk secara cacat. Kehendak orang

tersebutb betul telah dinyatakn, padahal kehendak tersebut muncul sekedar

akibat adanya ancaman. Tanpa ancaman tentunya kehendak demikian tidak

akan terwujud.

Berdasarkan ketentuan Pasal 3 :44 (3) BW ada tiga kategori tipu daya yang

menghasilkan penipuan, yakni dengan sengaja memberikan informasi palsu,

dengan sengaja menyembunyikan informasi atau tipu daya lainnya. Ancaman

dpat terjadi atau dilakikan dengan menggunakan cara atau sarana, baik yang

legal maupun ilegal. Contoh dari cara atau sarana, baik yang legal maupun

ilegal. Contoh dari cara yang ilegal ialah mengancam dengan pisau atau pistol.

(40)

penyitaan harta benda atau melalui pengajuan permohonan kepailitan. Ajaran

yang berlaku bertolak dari “melawan hukum (onrechtmatig)”. sebagai mana dirujuk dlam artian yang sama sebagimana dipergunakan dalam ketentuan

Pasal 6 : 162 (2) BW.

c. Penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden). Yang dimaksud dengan peenyalah gunaan keadaan adalah tergeraknya seseorang karena

adanya suatu keadaan khusus (bijzondere omstandigheden) untuk melakukan

tindakan hukum dan pihak lawan menyalah gunakan hal ini. Apa yang

tercakup ke dalam pengertian keadaan khusus disebut secara enumeratif di

dalam undang-undang, sebagai mana terbukti dari kata-kata; “seperti

misalnya : keadaan ini memaksa/darurat (noodtoestand), ketergantungan

(afhankelijkheid), gegabah/sembrono-kurang akal (lichtzinnigheid), keadaan

kejiwaan yang tidak normal (abnormale geestestoestand) atu kurang

pengalaman (onervarenheid”. Terbayangkan juga situasi lainnya yang

apat memunculkan penyalahgunaan keadaan dan terhadap mana

ketentuan Pasal 3:44 (4) dapat diberlakukan.

Semua tindakan hukum yang dilakukan di abwah pengaruh dari kekeliruan,

penipuan, pengancaman atau penyalahgunaan keadaan kiranya merupakan akibat

adanya cacat dalam kehendak dari pihak yang melakukan perbuatan hukum

tersebut dan sebab itu dapat dibatalkan. Perbuatan hukum demikian yang muncul

dari kehendak yang cacat akan dapat menyebabkan terganggunya

(41)

adanya hubungan kausalitas antara cacatnya kehendak dan diperbuatnya

tindakan hukum tersebut. Pihak yang mengajukan tintutan (gugatan) pembatalan

kiranya tidak akan melakukan atau tidak akan memutuskan melakukan tindakan

hukum tersebut dengan syarat-syarat yang ada jika tidak ada cacat dalam

pembentukan kehendak. Yang menentukan adalah persoalan apakah pihak lawan

telah memfaatkan (menyalahgunakan) cacat kehendak ini. Dengan perkataan

lain, apakah ia kemudian mengajukan suatu prestasi yang sebenarnya tidak patut

diajukan. Ini persoalannya adalah adanya perilaku pihak lawan yang dari sudut

pandang tata nilai kemasyarakaytan tidak patut dilakukan ; bertindak

bertentangan dengan kepatutan sosial. Suatu perjanjian yang mengandung cacat

kehendak (dari pihak-pihak yang membuatnya) tidak serta merta merugikan para

pihak yang berkepentingan . Ada kemungkinan bahwa perjanjian yang ditutup

dalam kondisi demikian masih dapat dianggap layak. Peluang untuk berdasarkan

hukum meninjau kembali suatu perjanjian yang dilangsungkan dengan cacat

kehendak dibenarkan oeleh asas keseimbangan dan selaras dengan tuntutan

kepatutan/kelayakan dalam lalu lintas hukum.

4. FormalismedanKonsensualisme

Tindakan hukum pada prinsipnya dapat dilakukan atau diwujudkan bebas

bentuk. Ada kesalah pahaman yang meluas di dalam masyarakat, yakni bahwa

perjanjian baru dinyatakan ada bila “dibubuhkan tanda tanan” dan para pihak

akan terikat pada perjanjian baru dinyatakan ada bila “dibubuhkan tanda tangan”

(42)

ke dlam tulisan di atas kertas. Bagi suatu tindakan hukum satu-satunya yang

dipersyaratkan ialah adanya kehendak yang tertuju pada suatu akibat hukum

tertentu, yakni sebagai mana terejewantahkan dalam suatu pernyataan. Untuk

mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka ada banyak cara untuk mengungkapkan

kehendak, baik secara lisan maupun secara tertulis.52 Pernyataan dan

pemberitahuan dapt terwujud dalam bentuk apapun, terkecuiali ditentukan lain

oleh atau di alam unang-undang. Apa yang perlu agar suatu kehendak yang telah

dinyatakan membentuk perjanjian ialah adanya perilaku eksternal yang tertuju

pada akibat hukum tertentu. Untuk menjadi suatu tindakan hukum yang

mengakibatkan perubahn-perubahan yang (memang) dikehendaki dalam tatanan

hukum dan yang patut mendapat perlindungan hukum, maka kehendak serta

maksud dan tujuan para pihak haruslah terejewantahkan secara konkret. Pada

prinsipnya bukan formal. Kemajuan tekhnologi dan transportasi serta arus

globalisasi mengakibatkan jauh berkurangnya kontak personal dengan pihak

lawan, terlepas dari kemungkinan bahwa para pihak sebenarnya saling kenal.

Tidak selamanya konsensus tercapai melalui tahap muka dan adanya kontak fifik

antara para pihak. Di dalam lalu lintas perdagangan, dalam rangka pemenuhan

kebuthan akan janji-janji yang mengikat, para pelaku tidak lagi terikat pada

pertukaran kebendaan secara langsung, dalam artian kedua belah pihak kurang

lebih secara bersamaan melaksanakan prestasi mereka masing-masing.

52

(43)

Terhadap asas konsensualisme dapat kita temukan banyak pengecualian

terhadapnya, khususnya sebagaimana kita temukan di dalam unang-unang tatkala

memuat aturan bahwa tindakan hukum tertentu harus berwujud dalam bentuk

tertentu. Perbuatan atau tindakan hukum menurut hukum waris adat harus

dilakukan secara riil, kontan, dan konkret. Bahwa sejumlah tindakan hukum

harus terwujud dalam bentuk tertentu, bukanlah sesuatu yang asing bagi tindakan

yang riil, kontan, dan konkret dalam hukum adat. Terhadap tanda-tanda tampak

harus dikaitkan cara pengungkapan nyata, demi kepentingan ikatan dan

hubungan idiil yang akan terwujud di masa depan, yang memunculkan

keterikatan magis, kesadaran akan kepatutan bahwa janji haruslah ditepati. Di

dalam masyarakat hukum adat sejumlah perjanjian tertentu bahkan hanya bisa

dibuat dari kerja sama dari kepala desa (penguasa) . Penguasa tersebutlah yang

akan membuat suatu tinakan menjadi tindakan yang terbuka dan tampak oleh

umum atupun menjadi tindakan yang terbuka dan tampak oleh umum ataupun

menjadi tindakan yang dibuat dlam konteks tertib hukum yang ada, yakni suatu

tindakan yang terang (jelas) dan terjadi di muka umum dan di dlam suatu lintas

hukum yang terjamin keabsahannya. Suatu transaksi tanah, yang bertujuan yang

mengadakan perubahan pada tertib hukum yang ada dan mensyaratkan

munculnya perlindungan hukum, untuk menjadi suatu tindakan hukum, harus

terjadi dengan sepengetahuan dan kerja sama kepala desa (penguasa) . Akta

berfungsi sebagai bukti bahwa pihak-pihak yang menggunakan akta tersebut

(44)

tindakan hukum menjadi terang dan terjadi secara terbuka di hadapan umum.

Sebab itu pula dokumen dimaksud disebut soerat keterangan, suatu tanda bukti.53 Akta bertujuan untuk memberikan pada tindakan hukum suatu jaminan

akan keabsahan dan sekaligus memberikan perlindungan hukum dan dengan itu

menjaga keselarasan di dalam masyarakat.

Untuk memenuhi tuntutan kepastian hukum dan melindungi kepentingan

umum, pembuat undang-undang bermaksud membatasi tindakan-tindakan hukum

tertentu, yakni dengan mengaitkan pada tindakan hukum tersebut suatu bentuk

tertentu sebagai syarat untuk menetapkan keabsahannya. Akta otentik

disyaratkan dan merupakan syarat penentu untuk menetapkan eksistensi

perjanjian-perjanjian formil, khusunya berkenaan dengan tanah sebagai mana

sekarang ini diatu di dalam Undang-undang Pokok Agraria (Nomor 5 Tahun

1960). Menurut ketentuan Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961,

semua perjanjian berkenaan dengan tanah hak untuk mengalihkann tanah,

memperoleh hak baru, menggadaikan tanah, atau pinjam-meminjam uang

dengantanah sebagai jaminan harus dibuktikan dengan melalui suatu akta. Akta

mana harus dibuat oleh dan ditanda tangani di hadapan PPAT, dan akta tersebut

akan menjadi dasar bagi pendaftaran perubahan data berkenaan dengan registrasi

tanah54 benda-benda tidak bergerak sering kali ditundukkan pada syarat perihal

53

B. Ter Haar Bzn,Beginselen en stelsel van het adatrecht, vierde druk,Groningen-Djakarta, 1950, hlm. 89 dan hlm. 103.

54

(45)

bentuk di atas. Hal ini berkaitan dengan sifat terbuka untuk umum yang penting

bagi hukum kebendaan dan juga penting untuk melindungi piha ketiga.

Disini akta autentik difungsikan sebagai syarat mutlak (bestaansvoorwaarde)

untuk adanya suatu tindakan hukum. Dasar pemikiran bagi syarat-syarat

bentuk-bentuk tertentu adalah sebagai perlindungan pihak lemah terhadap dirinya sendiri

(sikap terburu-buru/tidak cermat) dan terhadap pihak lawan (kedudukan tidak

seimabang), termasuk sifat terbukanya tindakan hukum tersebut yang akan

memajukan kepastian hukum dan keseimbangan lalu lintas pergaulan hukum.

Syarat mutlak untuk adanya perjanjian (perbuatan hukum) dan ketentuan tentang

bentuk-bentuk yang harus dipenuhi dalam rangka penetapan keabsahan tindakan

hukum tersebut memberikan, baik pada individu maupun kepentingan umum

Referensi

Dokumen terkait

Akibatnya, kreditur harus meminta SKMHT yang baru dari debitur karena SKMHT yang tidak diikuti dengan pembuatan APHT dalam waktu yang ditentukan adalah batal demi hukum,

Akibatnya, kreditur harus meminta SKMHT yang baru dari debitur karena SKMHT yang tidak diikuti dengan pembuatan APHT dalam waktu yang ditentukan adalah batal demi hukum,

Menurut R. Subekti, perjanjian perkawinan adalah suatu perjanjian mengenai harta benda suami-istri selama perkawinan mereka, yang menyimpang dari asas dan pola yang

bertujuan menghindarkan diri dari ketentuan tersebut di atas, dalam Pedomannya No. III Tahun 1963 oleh Menteri Pertanian dan Agraria dijelaskan, bahwa “pindah ke

Berdasarkan Putusan Nomor 336 PK/Pdt/2017 PN Tng menyatakan bahwa Akta Jual Beli Hak Guna Bangunan Nomor 86 yang dibuat oleh PPAT dinyatakan batal demi hukum karena Akta Kuasa Menjual

Perjanjian jual beli hak atas tanah dengan sertifikat hak milik yang dibuat para pihak tanpa campur tangan pejabat umum yang berwenang, sebaiknya dilakukan oleh dan di hadapan pejabat

Perjanjian batal demi hukum merupakan perjanjian yang dianggap tidak pernah terjadi, sehingga pada kasus Putusan Nomor 75/PDT/2016/PT.DPS perjanjian di bawah tangan yang dibuat oleh I

xv PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIUTANG PIHAK KETIGA AKIBAT PERJANJIAN KAWIN ATAS HARTA BERSAMA YANG DIBUAT DALAM PERKAWINAN OLEH : ISKANDAR YUSUF SALIM ABSTRAK Demi menciptakan