• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Jumlah Seroma Antara Modified Radical Mastectomy Dengan dan Tanpa Fiksasi Flap Kulit di RSUP H. Adam Malik Medan Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Jumlah Seroma Antara Modified Radical Mastectomy Dengan dan Tanpa Fiksasi Flap Kulit di RSUP H. Adam Malik Medan Chapter III VI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental.

3.2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik pada bulan Agustus 2015 sampai Agustus 2016.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi yang ingin di nilai adalah penderita perempuan kanker payudara yang berobat ke RSUP H. Adam Malik yang dilakukan modified radical mastectomy.

Sampel yang diteliti adalah semua penderita perempuan kanker payudara yang berobat ke RSUP H.Adam Malik yang dilakukan modified radical mastectomy dengan fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1. Kriteria Inklusi

(2)

2. Bersedia mengikuti penelitian setelah diberikan inform concent

3.4.2. Kriteria Eksklusi

1. Pasien yang memiliki gangguan dalam pembekuan darah atau sistem imun.

2. Pasien yang dilakukan modified radical mastectomy ditambah skin graft.

3. Pasien yang sedang mendapatkan pengobatan antikoagulan.

4. Pasien yang menjalani operasi sebelumnya pada sistem limfatik aksila atau pembedahan rekonstruksi.

5. Pasien dengan kelenjar getah bening N3

3.5. Besar Sampel

Besar sampel ditentukan dengan rumus : N1=N2 = [� �1 1−�1 +� �21−�2 ]2

[�1−�2]2

= 1,96 0,15 1−0,15+0,842 0,36 1−0,36 ]2

[0,81−0,63]2 = 27,4 = 28

N1=N2=28 subjek penelitian

Data proporsi Rumus besar sampel:

N = besar sampel minimum tertentu, N1=N2

Z/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada Z1 = 1,96 Z = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada Z1 = 0,842 P0 = proporsi di populasi umum = 81 % = 0,81

Pa = perkiraan proporsi di populasi = 63 % = 0,63

(3)

3.6. Identifikasi Variabel 3.6.1. Variabel Bebas - Fiksasi flap kulit - Tanpa fiksasi flap kulit 3.6.2. Variabel Tergantung - Produksi seroma

3.7. Definisi Operasional

- Modified Radical Mastectomy (MRM) adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara beserta tumor, nipple areola komplek, kulit diatas tumor dan fasia pectoral serta diseksi aksila level I-II.

- Jumlah produksi seroma adalah jumlah cairan seroma yang diproduksi dan dihitung setiap hari setelah MRM sampai dengan 5 hari pasca operasi. - MRM dengan Fiksasi flap kulit adalah operasi MRM ditambah dengan

fiksasi flap ke dasar luka menggunakan jahitan benang yang tidak dapat diserap dengan ukuran 3/0, dengan teknik jahitan matras vertikal, yaitu jarum ditembuskan dari kutis ke subkutis serta mengambil otot di bawahnya dan kemudian jarum ditembuskan kembali dari subkutis sampai ke kutis dan menyimpulnya dari luar sehingga flap kulit terfiksasi dengan dinding dada (region ninfra klavikula, mammariafold dan aksila).

(4)

3.8. Alur Penelitian

Gambar 3.1. Alur Penelitian

3.9. Analisis Data

Data karakteristik pasien akan disajikan secara deskriptif dengan distribusi frekuensi dalam tabel. Data kemudian akan diolah dan dianalisis secara statistik bivariat berpasangan dengan menggunakan uji yang sesuai.

Tanpa dilakukan fiksasi flap kulit MRM Pasien kanker payudara yang dilakukan modified radical

mastectomy yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

Dilakukan fiksasi flap kulit MRM

Dipasang drain dibawah flap yang terfiksasi

(5)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jumlah Sampel

Pada perhitungan sampel minimal diperoleh besar sampel adalah 56 sampel dengan keseluruhan sample dibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien yang dilakukan modified radical mastectomy (MRM) dengan teknik fiksasi flap kulit dan teknik tanpa fiksasi flap kulit masing-masing 28 sampel. Penelitian melibatkan pasien kanker payudara yang dilakukan tindakan modified radical mastectomy (MRM) sebanyak 78 subjek penelitian. Dari keseluruhan sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien yang dilakukan modified radical mastectomy (MRM) dengan teknik fiksasi flap kulit dan teknik tanpa fiksasi flap kulit masing-masing sebanyak 39 pasien dan dihitung jumlah seroma selama 5 hari pasca operasi, pasien berasal dari Departemen Bedah Rumah Sakit H. Adam Malik Medan.

Tabel 4.1. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jumlah Sampel

(6)

Tabel 4.1. (Lanjutan)

(7)

dengan masing-masing sebanyak 21 dan 25 subjek. Berdasarkan Neoadjuvan Kemoterapi Neoadjuvan didapatkan hasil yang terbanyak pada fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit adalah kemoterapi neoadjuvan 3 kali dengan masing-masing sebanyak 26 dan 27 subjek. Berdasarkan teknik diseksi aksila didapatkan bahwa pada pasien MRM yang terbanyak adalah dengan fiksasi flap kulit maupun tanpa fiksasi flap kulit yang menggunakan teknik diseksi menggunakan kauter yaitu masing-masing 33 subjek penelitian. Berdasarkan obesitas, subjek yang terbanyak adalah pada yang tidak obesitas dengan fiksasi flap kulit dengan jumlah 36 subjek penelitian dan yang obesitas tanpa fiksasi flap kulit sebesar 27 subjek penelitian.

Berikutnya akan dijabarkan faktor risiko dengan jumlah seroma pada pasien yang dilakukan MRMdengan dan tanpa fiksasi flap kulit di RSUP H. Adam Malik Medan.

Pada tabel di atas telah dicari nilai p dengan menggunakan analisis chi-square untuk menunjukkan hubungan antara faktor risiko dan fiksasi flap kulit pada pasien yang dilakukan MRM. Tampak bahwa hanya obesitas yang memiliki hubungan dengan fiksasi flap kulit pada pasien MRM dengan nilai p = 0,001 (p< 0,05).

4.2. Analisis Bivariat antara Jumlah Seroma dan Fiksasi Flap Kulit

(8)
(9)

Hasil penelitian pada tabel menunjukkan nilai p = 0,021 (p < 0,05). Hal ini bermakna bahwa ada perbedaan bermakna antara jumlah seroma dan fiksasi flap kulit pada pasien kanker payudarayang dilakukan modified radical mastectomy

(MRM).

4.3. Analisis Bivariat antara Jumlah Seroma Berdasarkan Karakteristik Subjek Penelitian

Pada tabel di bawah ini disajikan data analisis tambahan sebagai data awal yang dapat digunakan pada penelitian berikutnya. Tabel ini menjabarkan mengenai perbedaan antara masing-masing faktor risiko dan terbentuknya seroma pada pasien yang menjalani modified radical mastectomy (MRM) baik menggunakan fiksasi flap kulit maupun tanpa fiksasi flap kulit. Analisis menggunakan ANOVA dengan mengidentifikasi masing-masing faktor risiko dan jumlah seroma yang terbentuk. Hasil analisis bivariat ditampilkan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.3. Jumlah Seroma Berdasarkan Karakteristik Subjek Penelitian

(10)

Tabel 4.3. (Lanjutan)

Belum kemoterapi 191.15 412.92 0,018

Teknik Diseksi jenis histopatologi IDC pada pasien yang telah dilakukan MRM tanpa fiksasi flap kulit yaitu dengan rata-rata seroma 363,22 ml. Sedangkan jumlah seroma paling sedikit adalah histopatologi dengan jenis mix dengan dilakukan fiksasi flap kulit yaitu 210 ml. Berdasarkan analisis T-Testnilai p pada ketiga jenis histopatologi menunjukkan p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dengan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan masing-masing jenis histopatologi.

(11)

menunjukkan p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan masing-masing grade histopatologi.

Tabel 4.3 di atas menjelaskan bahwa rata-rata seroma terbanyak adalah status T2 pada pasien yang telah dilakukan MRM tanpa fiksasi flap kulit yaitu dengan rata-rata seroma 489,17ml. Sedangkan jumlah seroma paling sedikit adalah T3 dengan dilakukan fiksasi flap kulit yaitu 183,75 ml. Berdasarkan analisis T-Test nilai p pada ketiga status T, yaitu menunjukkan nilai p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan masing-masing status T.

Tabel 4.3 di atas menjelaskan bahwa rata-rata seroma terbanyak adalah pada status N2 pada pasien yang telah dilakukan MRM tanpa fiksasi flap kulit yaitu dengan rata-rata seroma 560,00 ml. Sedangkan jumlah seroma paling sedikit adalah tumor N1 dengan dilakukan fiksasi flap kulit yaitu 189,50ml. Berdasarkan analisis T-Testnilai p pada ketiga status N, yaitu menunjukkan nilai p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan masing-masing status N.

(12)

nilai p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan kemoterapi neoadjuvan.

Tabel 4.3 di atas menjelaskan bahwa rata-rata seroma terbanyak berdasarkan teknik diseksi aksila adalah teknik diseksi aksila pada mastectomy tanpa fiksasi flap kulit dengan menggunakan gunting yaitu dengan rata-rata seroma 436,67ml. Sedangkan jumlah seroma paling sedikit adalah teknik diseksi aksila pada mastectomy dengan fiksasi flap kulit dengan menggunakan kauter yaitu dengan rata-rata seroma 207,88ml.Berdasarkan analisis T-test parametrik pada teknik diseksi aksila menggunakan gunting maupun kauter diperoleh nilai p< 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan pembentukan seroma antara fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit berdasarkan teknik diseksi aksila.

(13)

BAB 5 PEMBAHASAN

Pada penelitian ini telah melibatkan pasien kanker payudara yang dilakukan tindakan modified radical mastectomy (MRM) dengan teknik fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit masing-masing sebanyak 39 subjek yang berasal dari Divisi Bedah Onkologi Departemen Bedah Rumah Sakit H. Adam Malik Medan.

Pada karakteristik subjek penelitian digambarkan pada tabel adalah rerata usia yang mengikuti penelitian ini adalah 47.33 + 9.47 dan pada tanpa fiksasi flap kulit 45.34 + 8.53. Menurut Sakkary rerata usia subjek peneltian ini sesuai dengan teori bahwa kanker payudara jarang ditemukan pada wanita usia di bawah 20 tahun dan angka tertinggi terdapat pada usia 45-66 tahun.

Tabel 4.1 memperlihatkan semua parameter yang dikaji tidak ada perbedaan kecuali presentase kelompok yang obesitas dan yang tidak obesitas, dimana pada kelompok tanpa fiksasi flap kulit yang obesitas 9 kali lebih banyak dari pada yang fiksasi flap kulit. Sebaliknya pada kelompok yang tidak obesitas dengan fiksasi flap kulit hanya 3 kali lebih banyak dari pada kelompok yang tidak obesitas dan tidak fiksasi flap kulit.

(14)

Hal ini sesuai penelitian dilakukan oleh Hashemi yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara pembentukan seroma pada pasien mastektomy dan fiksasi flap kulit dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05).(Hashemi, 2004). Sejalan juga dengan penelitian Bastelaan menyebutkan bahwa ada perbedaan antara pembentukan seroma pada pasien mastektomy dan fiksasi flap kulit dengan nilai p = 0,002 (p < 0,05) (Bastelan V, 2016). Pada penelitian yang dilakukan oleh anjani di Gajra Raja Medical College, didapatkan bahwa adaperbedaan antara pembentukan seroma dan fiksasi flap pada pasien yang dilakukan MRM dengan nilai p <0.001. Secara teoritis ditemukan bahwa fiksasi flap dapat mengurangi dead space pada

modified radical mastectomy(MRM), sehingga seroma yang terbentuk menjadi sedikit. (Hashemi, 2004)

Pada penelitian Kuroi yang dilakukan secara meta analisis disimpulkan bahwa fiksasi flap kulit dapat mengurangi pembentukan seroma. Hal ini terjadi karena flap kulit dapat mendekatkan daed space. (Kuroi, 2006). Pada penelitian Sakary menyebutkan bahwa pada perbandingan jumlah seroma antara menggunakan fiksasi flap kulit dan tidak didapatkan bahwa jumlah seroma pada fiksasi flap kulit lebih sedikit dibandingkan tidak dengan nilai p = 0,028. Sehingga disimpulkan bahwa penggunakan fiksasi flap kulit dapat mengurangi pembentukan seroma (Sakkary, 2012).

Seroma sering didefinikan sebagai cairan serous yang terjadi setelah pembedahan yang berkumpul dibawah flap kulit serta mengisi dead space.

Setelah tindakan mastektomi, seroma segera berkumpul di bawah flap kulit dan di

(15)

minggu. Jika cairan seroma yang terbentuk sangat banyak, maka kulit bekas operasi akan teregang yang dapat menyebabkan ketidak nyamanan pasien. Jika cairan seroma yang terbentuk sangat banyak, maka kulit bekas operasi akan teregang yang dapat menyebabkan ketidak nyamanan pasien. Pada beberapa pasien penumpukan cairan ini akan memberikan beberapa masalah seperti memperlama masa rawatan, dan akan menambah biaya rawatan. Selain itu juga akan disedot secara berulangkali sehingga pasien akan merasa sangat tidak nyaman (Szecsi, 2011).

Mediator inflamasi yang dilepaskan akan diikuti dengan peningkatan permeabilitas kapiler di daerah sekitar luka operasi. Kondisi ini akan menyebabkan ekstravasasi cairan yang kemudian akan membentuk seroma. Kadar imunoglobin G (IgG), sel leukosit, dan granulosit lebih tinggi pada pasien seroma. Mediator inflamasi seperti proteinase, proteinase inhibitor, dan juga sitokin ditemukan dalam cairan seroma (Szecsi, 2011).

Penelitian oleh Szecsi dkk. menunjukkan bahwa cairan seroma adalah suatu eksudat, yang dibuktikan dengan ditemukan komponen IL-6 dan IL-8 yang tinggi dalam cairan seroma. Hal ini memperlihatkan bahwa pembentukan seroma terjadi akibat reaksi akut proses inflamasi selama fase pertama proses penyembuhan luka. Dengan dasar proses inflamasi tersebut, maka kondisi yang dapat menghambat atau mengurangi beratnya proses inflamasi tersebut, akan mampu mengurangi terjadinya seroma. Hal ini memperlihatkan bahwa pembentukan seroma terjadi akibat reaksi akut proses inflamasi selama fase

(16)

Perhatian khusus difokuskan ke obliterasi dead space potensial terbesar, sehingga fiksasi terutama dilakukan di regio infraklavikula, mammaria fold dan aksila. Suction drains tertutup digunakan. Sehingga seroma menjadi berkurang. (Sakkary, 2012).

Pada table 4.3 Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi adanya seroma pada tindakan MRM dengan teknik fiksasi flap kulit dan tanpa flap kulit adalah jenis histopatologi, grade histopatoogi, ukuran tumor primer (T), keterlibatan kelenjar getah bening (N), kemoterapi neoadjuvan, teknik diseksi aksila dan obesitas. Secara keseluruhan didapatkan bahwa pada penelitian ini ada perbedaan bermakna antara jumlah seroma dengan fiksasi flap kulit pada pasien yang dilakukan MRM. Berdasarkan literatur belum ditemukan penelitian sejenis, tentang pembentukan seroma pada fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit pasien kanker payudara yang dilakukan MRM berdasarkan masing-masing karakteristik faktor risiko.

(17)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Terdapat perbedaan jumlah seroma yang bermakna antara pasien yang dilakukan

modified radical mastectomy dengan dan tanpa fiksasi flap kulit, dimana jumlah produksi seroma yang dilakukan fiksasi flap kulit lebih sedikit

6.2. Saran

1. Fiksasi flap kulit dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pada semua operasi MRM.

Gambar

Gambar 3.1. Alur Penelitian
Tabel 4.1. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jumlah Sampel
Tabel 4.1. (Lanjutan)
Tabel 4.2. Jumlah Seroma Berdasarkan Fiksasi Flap Kulit
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran integratif adalah pembelajaran yang mengkondisikan siswa pada suatu keadaan yang memungkinkan untuk mengembangkan konstruksi pengetahuan secara

Hasil pemeriksaan kuat tekan sejajar arah serat kayu dengan 5 (lima) buah sampel berukuran 5 cm x 5 cm x 20 cm adalah sebagai berikut.. Perhitungan kuat tekan sejajar serat

Pengawetan Metode Rendaman Panas Dingin Kayu Sengon dengan Ekstrak Buah Kecubung Terhadap Serangan Rayap Kayu Kering (Seminar Nasional Mapeki XV).. Yogyakarta

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara hasil pembelajaran menulis deskripsi dengan menggunakan media gambar dan hasil pembelajaran menulis deskripsi

Setelah penulis mengadakan penelitian baik melalui pengisian angket, wawancara dengan guru PAI dan Kepala Sekolah, serta melihat langsung kondisi motivasi belajar siswa terutama

Jika meninjau lokasi dari setiap lubang yang dibuat antara sejajar dengan jalan atau di bawah selokan memperlihatkan bahwa nilai rata-rata laju infiltrasi dari lubang terletak di

minuman beralkohol menjadi bermasalah jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak karena akan. menimbulkan efek yang

Banyak dampak yang mereka ketahui akibat konsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan tetapi masalah tersebut tidak dihiraukan lagi karena konsumsi alkohol sudah