• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vascular Cell Adhesion Molecule (VCAM-1) pada saat Kehamilan, Persalinan, Pelepasan Plasenta dan Nifas pada Preeklamsia dan Kehamilan Normal Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Vascular Cell Adhesion Molecule (VCAM-1) pada saat Kehamilan, Persalinan, Pelepasan Plasenta dan Nifas pada Preeklamsia dan Kehamilan Normal Chapter III VI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

6.1. Desain Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara Cohort Prospective Study. Pada dua

kelompok penelitian yaitu kehamilan normal dan kehamilan dengan

preeklamsia yang memenuhi kriteria inklusi. Pada masing-masing

kelompok dilakukan pemeriksaan serum Kadar VCAM-1 diikuti pada saat

hamil, persalinan dan nifas.

6.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU/

RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Pringadi bekerjasama dengan

Bagian Patologi Klinik, serta Laboratorium Klinik Prodia. Pemilihan sampel

dilakukan selama dimulai sejak tanggal 1 September 2012 sampai jumlah

sampel terpenuhi.

6.3. Populasi Penelitian

Populasi target penelitian adalah semua penderita preeklamsia dan

kehamilan normal yang datang ke RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr.

Pringadi Medan dan rumah sakit jejaring, yang sesuai dengan kriteria

(2)

6.4. Besar Sampel

Untuk menentukan besar sampel digunakan rumus uji hipotesis

terhadap rerata dua populasi, sebagai berikut:

[( ) ]

X1– x2 = Perbedaan klinis yang diinginkan (280)

Z = Tingkat kemaknaan (1,645)

Z = Kekuatan uji 80% (0,842)

S = Simpangan baku kedua kelompok = 400

(dari kepustakaan )

n1 = n2 = Besar sampel masing-masing kelompok, didapat 25,2

dibulatkan menjadi 25 kasus

6.5. Kriteria Penerimaan dan Penolakan

6.5.1. Penerimaan

 Kehamilan normal dan preeklamsia

 Usia kehamilan  20 minggu tanpa memandang paritas

 Semua usia

6.5.2. Penolakan

 Ada riwayat penyakit hipertensi, DiabetesMellitus, hiperlipidemia

 Tidak bersedia ikut penelitian

(3)

a. Tensimeter

b. Stetoskop

c. Tabung reaksi 10 cc

d. Vacutainer 2,5 cc

e. Vacutainer 10 cc

f. Venoject

6.6.2. Cara kerja

Pada setiap wanita hamil baik gravida maupun parturen yang

memenuhi kriteria inklusi diberi penjelasan mengenai penelitian yang akan

dilakukan. Bagi yang bersedia berpartisipasi untuk menandatangani

formulir persetujuan.

Kemudian pasien diikutsertakan dalam penelitian dan dilakukan :

1) Anamnesa

Meliputi: nama, umur, alamat, paritas dan riwayat penyakit

sebelumnya yaitu hipertensi kronik, diabetes mellitus, dan

hiperlipidemia

2) Pemeriksaan fisik termasukkesadaran dan tekanan darah

2.1. PemeriksaanTekanandarah

a. Alat yang dipakai

(4)

b. Cara pengukuran tekanan darah (Lyell, 2003).

1) Postur: (a) pasien sebaiknya dalam posisi duduk di kursi

dengan punggung bersandar pada sandaran kursi, lengan

yang akan diukur desakan darahnya, diletakkan setinggi

jantung dan bila perlu lengan diberi penyangga, (b) lengan

atas harus dibebaskan dari baju yang terlalu ketat melingkari

lengan atas, (c) pada wanita hamil bila tidak memungkinkan

duduk, dapat tidur miring kearah kiri.

2) Pasien dalam waktu 30 menit sebelumnya tidak boleh

minum kopi dan tidak minum obat-obat stimulant adrenergik

3) Alat yang dipakai adalah: (a) Ukuran “cuff”. “Bladder cuff

harus melingkari sekurang-kurangnya 80% dari lingkaran

lengan atas dan menutupi 2/3 lengan atas. Pipa karet yang

menghubungkan cuff dapat diarahkan keatas atau kebawah,

tetapi untuk tidak mengganggu meletakkan stethoscope

sebaiknya pipa karet diarahkan ke atas, (b) Manometer.

Manometer harus sudah dikalibrasi baik dari manometer

mercuri, aneroid ataupun electronik. Kolom mercuri harus

dalam posisi vertikal, (c) Stethoscope. Tentukan denyut nadi

arteri brachialis pada fossa antecubity, kemudian letakkan

beli stethoscope diatasnya.

4) Teknik pengukuran: (a) cuff dipompa secara cepat sampai

melampaui 20-30 mmHg diatas saat hilangnya denyut arteri

(5)

menurunkan mercury dengan kecepatan 2-3 mmHg per detik

(0,25- 0,40 kPa/detik), (c) tentukan desakan sistolik dengan

terdengarnya suara pertama (Korotkoff I) dan tentukan

desakan diastolik pada waktu hilangnya denyut arteri

brachialis (Korotkoff V), (d) bila hilangnya suara tidak dapat

diidentifikasi, maka desakan diastolik ditentukan pada waktu

muffling of sounds”.

5) Arti posisi duduk dan berbaring waktu pengukuran desakan

darah

Pengukuran desakan darah, dengan posisi duduk, sangat

praktis, untuk “screening”. Pengukuran desakan darah

dengan posisi berbaring, lebih memberikan hasil yang

bermakna, khususnya untuk melihat hasil terapi.

6) Pengukuran desakan darah diulangi lagi setelah 4

jamdengan cara yang sama.

3) Pemeriksaan laboratorium (Montagnoli, 2014).

 Pengukuran proteinuria secara Esbach

Proteinuria ialah adanya protein  300 mg dari 24 jam jumlah

urine (diukur dengan metode Esbach). Ini setara dengan kadar

proteinuria  300 mg/dL (= 1+dipstik) dari urin acak tengah yang

(6)

 Pengukuran proteinuria dengan dipstik

1 + = 0,3 – 0,45 g/L (95% + predictive value untuk preeklamsia

berat)

2 + = 0,45 – 1 g/L

3 + = 1 – 3 g/L (36% + predictive value untuk preeklamsia berat)

4 + = > 3 g/L (3695% + prediktive value untuk preeklamsia berat)

Negatife/trace = (34% - predictive value)

 Pemeriksaan Kadar GulaDarahPuasa

 Pemeriksaanprofil lipid puasa

 Pemeriksaan kadar VCAM-1

1) Pemeriksaan kadar VCAM-1 dengan cara mengambil darah

dengan menggunakan spuit disposible steril sebanyak 7 cc, 3

cc untuk pemeriksaan darah rutin dan 4 cc untuk pemeriksaan

kadar VCAM-1

2) Bolak-balik perlahan-lahan hingga homogeny.

3) Diamkan selama 30-45 menit hingga darah beku.

4) Segera sentrifuge 3000 rpm 15 menit.

5) Segera pisahkan serum masukkan ke dalam 3 sampel cup @

0.3 cc serum (beri identitas, nama, tanggal).

6) Segera bekukan dan simpan di –200C.

 Metode Pemeriksaan Kadar VCAM-1

Sistim R & D VCAM-1 menggunakan teknik imunoenzimometrik

untuk menghitung kuantitas dari contoh VCAM-1. Hal ini melibatkan

(7)

untuk dua antibodi yang langsung berikan dengan epitop yang

berbeda pada molekul VCAM-1. Satu antibodi melapisi dinding

mikrotiter dan yang lainnya dikonjungasikan pada enzym horseradish

peroxidase (HRP). Bila ada molekul VCAM-1 maka akan membentuk

jembatan diantara dua antibodi.

Setelah materi yang tak terikat disisihkan dengan aspirasi dan

pencucian, jumlah ikatan yang terkonjungsi pada tabung dideteksi

dengan reaksi melalui substrat yang spesifik untuk enzim berupa

produk berwarna yang sesuai dengan jumlah molekul yang

terkonjungsi. Produk yang berwarna ini dapat dinilai secara kuantitatif

(8)

6.7. Kerangka Operasional

Gambar 15. Bagan Penelitian

3.10. Definisi Operasional

1. Preeklamsia adalah kehamilan > 20 minggu dengan gejala

hipertensi disertai gejala proteinuria dan atau edema.

2. Hipertensi :

 Tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih

 Tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih

KriteriaInklusi  Kehamilan normal dan PE  Usia kehamilan  20 mgg  Semuaparitas

 Semuausia

Kelompokkehamilan Preeklampsia Kelompokkehamilan Normal

(9)

3. Proteinuria.

Diperiksa secara kualitatif hasilnya dinilai +1, +2, +3, +4

4. Kehamilan normal adalah kehamilan > 20 minggu tanpa ada

penyakit yang menyertai.

5. Diabetes melitus : Kadar gula darah sewaktu > 200 mg%.

6. Profil lipid adalahtrigliserida, kolesterol LDL, kolesterol HDL,

dankolesterol total

7. Hipertensi kronis : hipertensi yangmenetap oleh sebab apapun

yang sudah ditemukan pada usia kehamilan < 20 mgg.

3.11. Analisa Data

Data dicatat dengan formulir dan dianalisa dengan komputerisasi. Uji

kemaknaan untuk membandingkan karakteristik kelompok peneliti

dilakukan uji chi kuadrat. Untuk membandingkan hasil pemeriksaan kadar

(10)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Tabel 4.1 Karakteristik pasien pada kehamilan normal dan preeklamasia berat (luaran dari kehamilan preterm dan aterm)

Pada penelitian ini jumlah subjek penelitian pada kehamilan normal

sebanyak 25 orang, sedangkan pada preeklamsia preterm 22 orang, dan

preeklamsia aterm 14 orang. Pada kehamilan normal rerata usia adalah

30,0 ± 3,4 tahun, sedangkan pada kasus preeklamsia dengan kehamilan

preterm rerata usia adalah 27,0 ± 6,9 tahun, dan aterm 27,4 ± 5,0 tahun.

Kehamilan dengan primigravida terbanyak dijumpai pada preeklamsia

preterm sebanyak 12 orang kasus. % usia rerata kehamilan pada saat

(11)

preeklamsia preterm 32,7 ± 2,0 minggu, dan pada preeklamsia aterm 36,5

±1,1 minggu. Rerata usia kehamilan saat persalinan pada kehamilan

normal adalah 28,3 ± 1,0 minggu pada 33,9 ± 2,0 minggu dan pada

preeklamsia aterm 38,1 ± 1,4 minggu. Metode persalinan pada

preeklamsia sebagian besar dilakukan secara seksio sesarea baik

kehamilan preterm dan aterm masing - masing 21 orang dan 13 orang.

Rerataberat badan lahir bayi pada kehamilan normal 2976,0 ± 268,1 g,

pada kehamilan preeklamsia preterm 2347,6 ± 631,4g dan preeklamsia

aterm 3142,9 ± 416,4 g.

Tabel 4.2 Hasil analisa varian (ANOVA) terhadap kadar VCAM-1 pada saat masuk rumah sakit, PE setelah 2-4 jam pemberian MgSO4, Setelah lepasnya plasenta dan 24 jam postpartum

(12)

±139,0 pg/mL. Pada preeklamsia berat dengan kehamilan preterm

didapatkan rerata kadar V-CAM pada saat masuk rumah sakit,2-4 jam

pemberian MgSO4,1jam setelah lepasya plasenta, dan 24 jam post

partum berurutan adalah 1144,1 ± 539,0 pg/ml, 1154,9 ± 452,5 pg/ml,

1573,2 ± 2400.0 pg/ml, 992,6 ± 365,0 pg/mL. Ini berarti tidak ada

perbedaan yang bermakna kadar V-CAM sebelum dan setelah pemberian

MgSO4 (p=0,53). Pada preeklamsia dengan kehamilan fullterm

didapatkan rerata kadar V-CAM pada saat masuk rumah sakit,2-4 jam

pemberian MgSO4,1jam setelah lepasya plasenta, 24 jam post partum

berurutan adalah 1473,6 ± 758,2 pg/ml, 1394,1 ± 739,0 pg/ml, 1098,6 ±

546,0 pg/ml, 1061,3 ± 469,3 pg/mL. Ini berarti tidak ada perbedaan yang

bermakna kadar V-CAM sebelum dan setelah pemberian MgSO4 (p=0,38)

Rerata kadar V-CAM antara kehamilan normal dan preeklamsia

berat preterm pada saat masuk RSberbeda secara signifikanp< 0,001,

demikian juga antara kehamilan normal dan preeklamsia berat aterm p <

0,001. Tetapi tidak dijumpai perbedaan yang bermakna antara kehamilan

preeklamsia berat preterm dan fullterm ( p=0,14 ).

Rerata kadar V-CAM antara kehamilan preeklamsia preterm

dengan preeklamsia fullterm pada 2-4 jam pemberian MgSO4 tidak

berbeda bermakna (p=0,43).

Rerata kadar V-CAM antara kehamilan normal dengan preeklamsia

berat preterm pada 1 jam setelah lepasnya plasenta berbeda bermakna

(13)

berat fullterm (p< 0,001). Tetapi tidak dijumpai perbedaan yang bermakna

antara kehamilan preeklamsia berat preterm dan fullterm (p=0,94).

Rerata kadar V-CAM antara kehamilan normal dengan preeklamsia

berat preterm pada 24 jam post partum berbeda bermakna (p < 0,001),

demikian juga antara kehamilan normal dengan preeklamsia berat fullterm

(p < 0,001).Tetapi tidak dijumpai perbedaan yang bermakna antara

kehamilan preeklamsia berat preterm dan fullterm ( p=0,98).

Tabel 4.3 Tekanan darah selama kehamilan, 2-4 jam setelah pemberian MgSO4, setelah lepasnya plasenta dan 24 jam setelah persalinan normal.

*Mean Tekanan Darah (SD) mmHg (sistolik/diastolik) ± SD

Saat masuk

Pada kehamilan normal rerata tekanan darah sistolik/diastolik pada

saat masuk rumah sakit,1jam setelah lepasya plasenta, dan 24 jam post

(14)

rumah sakit,2-4 jam pemberian MgSO4,1jam setelah lepasnya plasenta,

dan 24 jam post partum berurutan adalah 192,4/107,1 ± 12,6 / 7,2;

181,9/104,2 ± 12,9 / 21,8; 168,2 / 95,0 ± 14,0 / 6,7; 157,3/ 88,2 ± 12,0 / 5,0

mmHg.Pada preeklamsia dengan kehamilan aterm didapatkan rerata

kadar V-CAM pada saat masuk rumah sakit,2-4 jam pemberian

MgSO4,1jam setelah lepasnya plasenta, 24 jam post partum berurutan

adalah 196,4/107,1 ± 17,4 / 6,1; 185,0/101,4 ± 16,5 / 3,6; 171,3/98,0 ±

11,3/ 4,1; 158,6/90,0 ± 10,3 / 5,5 mmHg.

Pada saat masuk rumah sakit perbedaaan tekanan darah

sistolik/diastolik antara kehamilan normal dan preeklmpsia berat preterm

tidak dijumpai perbedaan yang bermakna (123,2/74,8 ± 7,5 / 7,1 VS

192,4/107,1 ± 12,6 / 7,2 ; p = 0,22/0,99 ), tetapi antara kehamilan normal

dan preeklmpsia berat fullterm dijumpai perbedaan yang bermakna

(123,2/74,8 ± 7,5 / 7,1 VS 196,4/107,1 ± 17,4 / 6,1; p <0,001). Sedangkan

bila dibandingkan antara kehamilan preeklamsia berat preterm dan

fullterm tidak dijumpai perbedaan yang bermakna (p = 0,22/1,0).

Pada 2-4 jam pemberian MgSO4 perbedaan rerata tekanan darah

antara kehamilan preeklamsia preterm dengan preeklamsia fullterm tidak

dijumpai perbedaan yang bermakna (p=0,57/0,56).

Pada 1 jam setelah lepasnya plasenta perbedaan tekanan darah

antara kehamilan normal dengan preeklamsia berat preterm dijumpai

perbedaan yang bermakna (121,6/72,8 ± 5,5 /7,4VS 168,2 / 95,0 ± 14,0 /

6,7 mmHg ; p < 0,001 ), denikian juga antara kehamilan normal dengan

(15)

4,1 mmHg; p < 0,001 ). Tetapi bila dibandingkan antara kehamilan

preeklamsiaberat preterm dan fullterm tidak dijumpai perbedaan yang

bermakna (p=0,47/0,30).

Pada 24 jam post partum perbedaan rerata tekanan darah antara

kehamilan normal dengan preeklamsia berat preterm dijumpai perbedaan

yang bermakna (122,8/74,8 ± 7,4 / 5,1 VS 157,3/ 88,2 ± 12,0 / 5,0 mmHg ;

p < 0,001 ), demikian juga antara kehamilan normal dengan preeklamsia

berat fullterm (122,8/74,8 ± 7,4 / 5,1 VS 158,6/90,0 ± 10,3 / 5,5 mmHg ; p

< 0,001). Tetapi bila dibandingkan antara kehamilan preeklamsia berat

preterm dan fullterm tidak dijumpai perbedaan yang bermakna

(p=0,80/0,58).

Kurva ANOVA di bawah ini menunjukkan perbedaan kadar

VCAM-1 pada saat datang ke rumah sakit, satu jam setelah plasenta lahir, dan 24

jam post partum pada pasien dengan hamil normal, pasien preeklamsia

dengan kehamilan preterm dan fullterm.

(16)

BAB V PEMBAHASAN

Kurva Anova di atas menunjukkan terdapat peningkatan kadar

V-CAM pada pasien preeklamsia berat, baik pada kehamilan preterm

maupun fullterm, dibandingkan pada kehamilan normal.Hal inisesuai

dengan teori bahwa pada preeklamsia berat terdapat aktivasi sel endotel

sehingga terjadi inflamasi sistemik yang menyebabkan peningkatan kadar

V-CAM. Endotel juga berperan dalam sistem fibrinolisis melalui pelepasan

tissue plasminogen activator (tPA) yang akan mengaktifkan plasminogen

menjadi plasmin. Namun endotel juga mensintesis plasminogen activator

inhibitor-1(PAI-1) yang berfungsi menghambat tPA. Jika endotel

mengalami gangguan oleh berbagai hal seperti shear stress

hemodinamik, stress oksidatif maupun paparan dengan sitokin inflamasi

dan hiperkolesterolemia, maka fungsi pengatur menjadi abnormal dan

disebut disfungsi endotel.

Dari berbagai teori yang dikemukakan pada saat ini, yang

menyelidiki faktor penyebab preeklamsiaa, namun penyebabnya belum

diketahui dengan pasti. Demikian juga insiden penyakit ini yang bervariasi

di seluruh dunia. Beberapa teori yang banyak dianut adalah: (1) teori

kelainan vaskularisasi plasenta; (2) teori iskemia plasenta, radikal bebas,

dan disfungsi endotel; (3) teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin;

(4) teori adaptasi kardiovaskuler; (5) teori defisiensi genetik; (6) teori

(17)

Pada teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi

endoteldijelaskan bahwa pada kerusakan endotel, menyebabkan berbagai

patofisiologi terjadinya gejala-gejala pada preeklamsia, seperti pada

pembuluh darah, kerusakan endotel menyebabkan vasokonstriksi

pembuluh darah sehingga terjadinya hipertensi. Pada ginjal, fungsi renal

akan meningkat dikarenakan kerusakan endotel sehingga filtrasi

glomerulus terganggu dan menyebabkan proteinuria. Kerusakan endotel

tersebut mengeluarkan faktor-faktor pro dan anti inflammasi sebagai

contoh VCAM-1 yang merupakan faktor pro inflammasi.

Pada keadaan ini terjadi ketidakseimbangan substansi vasoaktif

sehingga dapat terjadi hipertensi. Disfungsi endotel juga menyebabkan

permeabilitas vaskular meningkat sehingga menyebabkan edema dan

proteinuria. Jika terjadi disfungsi endotel maka pada permukaan endotel

akan diekspresikan molekul adhesi. seperti vascular cell adhesion

molecule-1 (VCAM-1) dan intercellular cell adhesion molecule-1 (ICAM-1).

Bahkan Fotis (2012), menyebutkan V-CAM dapat digunakan sebagai

prediktor akan timbulnya preeklamsiaa.

VCAM-1 adalah molekul adhesi sel dan anggota dariimunoglobulin

superfamili. VCAM-1 memiliki struktur rantai tunggalglikoprotein dan

berfungsi sebagai reseptor transmembran pada membran sel endotel

vaskular. VCAM-1hadir pada sejumlah aktivasi sel, termasuk aktivasi sel

(18)

mikro,seperti perubahan konsentrasi sitokin. Sebagai contoh,ekspresi

VCAM-1 pada sel endotel yang diinduksi oleh antarinterleukin-1,

interleukin-4, tumor necrosis factor, dan interferongamma. VCAM-1

penting untuk merekrut leukosit menuju lokasi peradangan karena mediasi

adhesi limfosit, monosit, dan eosinofil pada endotel. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa tingkat sirkulasi VCAM-1 meningkat secara signifikan

pada preeklampsia berat dibandingkan dengan preeklampsia ringan dan

kehamilan normal.

Heyl, Handt, dan Reister di Universitas Aachen Jerman juga

melakukan penelitian dan mendapatkan perbedaan kadar VCAM-1 pada

pasien preeklamsia dan kehamilan normal, dimana mereka mendapatkan

kadar VCAM-1 pada preeklamsiaa 825,2 ng/ml dan pada kehamilan

normal 384,0 ng/ml dengan nilai statistik menunjukkan perbedaan yang

sangat bermakna (p<0,001). Penelitian lain dilakukan oleh Higgins JR,

Papayianni A dan Brady HR di Sekolah Kedokteran Havard. Mereka

mendapatkan kadar VCAM-1 pada preeklamsiaa sebesar 900 ng/ml dan

kadar pada kehamilan normal 560 ng/ml dengan perhitungan secara

statistik menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna (p<0,001). Lyall

F dkk mendapatkan peningkatan kadar serum molekul perekat sel pada

penderita preeklamsiaa sebesar 841,9 ng/ml dibandingkan kehamilan

normal 560,2 ng/ml dengan p<0,001. Menurut Krauss, Azab, Dietrich et al,

1997 mendapatkan perbedaan kadar VCAM-1 pada pasien preeklamsia

dan kehamilan normal, dimana mereka mendapatkan kadar VCAM-1

(19)

Penelitian-penelitian tersebut hanya membedakan kadar V-CAM

antara pasien kehamilan normal dan preeklamsiaa, tanpa membedakan

kadar V-CAM saat pasien datang, setelah plasenta lahir, maupun 24 jam

post partum. Penelitian-penelitian tersebut juga tidak membedakan

kehamilan preterm dan fullterm. Oleh karena itu, pada penelitian ini

tampak kadar V-CAM yang menunjukkan penurunan sejak plasenta lahir,

dan bahkan menunjukkan perbedaan pada kehamilan preeklamsiaa

preterm dan fullterm. Dari kurva Anova pada penelitian ini, tampak kadar

V-CAM pada pasien preeklamsiaa dengan kehamilan preterm sempat

meningkat pada saatsatu jam setelah plasenta lahir, namun turun lebih

banyak 24 post partum.Oleh karena itu, pemeriksaan kadar sVCAM-1

sebagai faktor resiko disfungsi endotel pada pertengahan trimester

kehamilan sangat disarankan.

Pada penelitian ini seluruh pasien preeklamsia berat diberikan

terapi MgSO4 untuk mencegah kejang (eklamsia). Pengunaan

magnesium sulfat parenteral untuk pengobatan eklampsia pertama kali

dilakukan oleh Horn tahun 1906 dengan penyuntikan secara intrathekal.

Rissmann tahun 1916 memberikan secara subkutan, Fisher tahun 1916

memberikan secara infus sebanyak 250 ml larutan 2% dan Von Miltner

(1920) memberikan secara gabungan suntikan subkutan dan

intramuskuler.

(20)

kasus preeklampsia dan eklampsia, Eastman menyatakan bahwa

magnesium sulfat merupakan obat tunggal yang paling ampuh pada

preeklampsia berat. Selain mencegah kejang obat ini tidak menghambat

persalinan.

Sejak tahun 1951, Pritchard mempelajari penggunaan magnesium

sulfat sebagai pengobatan tunggal pada preeklampsia. Selama 3 tahun

terdapat 211 penderita preeklampsia dan eklampsia yang diobati dengan

magnesium sulfat dan dilaporkan hanya 1 kematian ibu, sedangkan

kamatian perinatal sebesar 10%.

Zuspan pada tahun 1966 melaporkan 69 kasus eklampsia yang

dirawat sejak tahun 1956 dengan pengobatan magnesium sulfat secara

tetes kontinyu dengan dosis 1 gram/jam dilaporkan 2 kematian ibu (2,9%)

yang terjadi 4 minggu pasca persalinan yang disebabkan kelainan sebagai

akibat eklampsia.

Suplementasi magnesium berupa pemberian oral magnesium

aspartate hidrochloride selama kehamilan untuk menurunkan insiden

preeklampsia telah diteliti oleh Sibai dkk. Walaupun terjadi peningkatan

kadar magnesium dalam plasma darah, hasil analisa menunjukan tidak

ada perbedaan bermakna dalam hal insiden preeclampsia.

Sampai saat ini magnesium sulfat merupakan obat yang terpakai

banyak untuk pengobatan preeklampsia dan eklampsia di Amerika

Serikat.Di Indonesia sendiri pengunaan magnesium sulfat pada penderita

preeklampsia dan eklampsia sudah cukup lama dan pada saat KOGI VI

(21)

magnesium sulfat merupakan satu-satunya obat yang dipakai untuk

(22)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

1. Kadar VCAM-1 pada preeklamsia lebih tinggi daripada normal,

menandakan adanya disfungsi endotel pada preeklamsia.

2. Pada kehamilan normal, tidak ada perbedaan bermakna pada

pemeriksaan VCAM-1 pada saat kehamilan, saat persalinan, dan 24

postpartum. Pada preeklamsia berat, secara klinis terdapat perbedaan

kadar VCAM-1, namun secara statistik tidak terdapat perbedaan

bermakna.

3. Kadar VCAM-1 tidak langsung mengalami penurunan yang bermakna

baik setelah diberikan magnesium sulfat, saat persalinan, dan 24 jam

postpartum.

b. Saran

Pemeriksaan kadar V-CAM pada preeklamsia dapat digunakan sebagai

biomarker untuk faktor resiko disfungsi endotel pada pertengahan

Gambar

Gambar 15. Bagan Penelitian
Tabel 4.1 Karakteristik pasien pada kehamilan normal dan preeklamasia berat (luaran dari kehamilan preterm dan aterm)
Tabel 4.2 Hasil analisa varian (ANOVA) terhadap kadar VCAM-1 pada
Tabel 4.3 Tekanan darah selama kehamilan, 2-4 jam setelah pemberian MgSO4, setelah lepasnya plasenta dan 24 jam setelah persalinan normal
+2

Referensi

Dokumen terkait

plasenta antara preeklamsi dan kehamilan normal, Tingginya kadar ekspresi protein Bcl-2 pada tidak terdapat perbedaan bermakna indeks sinsitiotrofoblas dapat mencegah

Nilai rata-rata Resistance Index (RI) arteri uterina preeklamsia berat onset dini lebih tinggi secara bermakna dibandingkan RI kehamilan aterm normotensi dengan p&lt;0,05..

plasenta antara preeklamsi dan kehamilan normal, Tingginya kadar ekspresi protein Bcl-2 pada tidak terdapat perbedaan bermakna indeks sinsitiotrofoblas dapat mencegah