• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH STOIKIOMETRI Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MAKALAH STOIKIOMETRI Oleh"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

STOIKIOMETRI

Oleh:

Muh. Rasyid Indrawan

NIM. 1105025026

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

atas rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah

satu tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia. Makalah ini secara garis besar

membahas mengenai stoikiometri dalam ilmu kimia.

Dalam penulisan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada

Bapak Drs. M. Rusydi Ahmad, M. Hum sebagai dosen mata kuliah Bahasa

Indonesia yang senantiasa memberikan petunjuk, arahan, dan motivasi selama

mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari makalah ini masih jauh

dari sempurna. Oleh sebab itu saran dan kritik yang berguna bagi kesempurnaan

makalah ini sangat diharapkan.

Samarinda, Desember 2011

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 1

C.Tujuan ... 2

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN A.Hukum-Hukum Dasar Kimia ... 3

B.Persamaan Reaksi ... 6

C.Konsep Mol ... 7

D.Rumus Molekul dan Rumus Empiris ... 11

E. Menentukan Rumus Kimia Hidrat (Air Kristal) ... 12

F. Molaritas ... 13

G.Pereaksi Pembatas ... 13

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan ... 16

B.Saran ... 16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita pernah melihat sesorang yang sedang

membuat kue. Perlu diketahui bahwa kue dibuat menurut resep atau formula

tertentu, yaitu perbandingan antara bahan-bahan yang diperlukan. Hal yang

kira-kira sama juga berlaku dalam reaksi kimia. Setiap senyawa kimia

memiliki komposisi tertentu. Sehingga, untuk membuat suatu senyawa melalui

reaksi kimia, harus diperhitungkan campuran bahan-bahan dalam perbandingan

tertentu. Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam makalah ini. Hal-hal yang

akan dibahas yaitu tentang perbandingan unsur-unsur dalam senyawa, serta

perbandingan zat-zat dalam reaksi kimia.

Hal yang pertama kita sebut stoikiometri senyawa, sedangkan yang

kedua kita sebut stoikiometri reaksi. Istilah stoikiometri berasal dari bahasa

Yunani, yaitu dari kata stoicheion yang berarti unsur, dan metron yang berarti mengukur. Jadi, stoikiometri berarti perhitungan kimia. Konsep-konsep yang

mendasari perhitungan kimia adalah massa atom relatif, rumus kimia,

persamaan reaksi, dan konsep mol. Oleh karena itu, sebelum masuk ke dalam

perhitungan kimia, akan dibahas berbagai konsep tersebut.

B.Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah:

1) Apa-apa saja hukum-hukum dasar dalam perhitungan kimia?

2) Bagaimana langkah-langkah dalam menuliskan persamaan reaksi?

3) Bagaimana perhitungan dengan menggunakan konsep mol?

4) Bagaimana cara menentukan rumus molekul dan empiris suatu senyawa?

5) Bagaimana cara untuk menyatakan konsentrasi suatu senyawa dalam

(5)

C.Tujuan

Setelah membahas makalah ini pembaca diharapkan :

1. Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam

perhitungan kimia (stoikiometri).

2. Mampu mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik

sederhana serta persamaan reaksinya.

3. Mampu membuktikan dan mengomunikasikan berlakunya hukum-hukum

dasar kimia melalui percobaan serta menerapkan konsep mol dalam

(6)

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

A.Hukum – Hukum Dasar Kimia

1. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

"Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap". Contoh soal:

2Mg + O2→ 2MgO

(4g) (32g) (36g)

2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

"Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap" Contoh soal:

a. Pada senyawa NH3 = massa N : massa H

= 1 Ar . N : 3 Ar . H

= 1 (14) : 3 (1)

= 14 : 3

b. Pada senyawa SO3 = massa S : massa O

= 1 Ar . S : 3 Ar . O

= 1 (32) : 3 (16)

= 32 : 48

= 2 : 3

Keuntungan dari hukum Proust:

Bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang

membentuk senyawa tersebut maka massa unsur lainnya dapat diketahui.

Contoh soal:

Berapa kadar C dalam 50 gram CaCO3 ? (Ar: C = 12; O = 16; Ca = 40)

Massa C = × massa CaCO3

(7)

= 6 gram

Kadar C = × 100%

= × 100%

= 12%

3. Hukum Perbandingan Berganda = Hukum Dalton

"Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu unsur yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana". Contoh soal:

Bila unsur nitrogen dan oksigen disenyawakan dapat terbentuk,

NO dimana massa N : O = 14 : 16 = 7 : 8

NO2 dimana massa N : O = 14 : 32 = 7 : 16

Untuk massa nitrogen yang sama banyaknya maka perbandingan massa

Oksigen pada senyawa NO : NO2 = 8 :16 = 1 : 2

4. Hukum-Hukum Gas

Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT

dimana:

P = tekanan gas (atm)

V = volume gas (liter)

n = mol gas

R = tetapan gas universal = 0.082 liter.atm/mol Kelvin

T = suhu mutlak (Kelvin)

Perubahan-perubahan dari P, V, dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan

kondisi-kondisi tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:

a. Hukum Boyle

Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan n1 = n2

dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh:

(8)

b. Hukum Gay-Lussac

"Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana".

Jadi untuk: P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku:

=

c. Hukum Boyle-Gay Lussac

Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu dan diturukan dengan

keadaan harga n1 = n2 sehingga diperoleh persamaan:

=

d. Hukum Avogadro

"Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah mol yang sama".

Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0 oC 1 atm) 1

mol setiap gas, volumenya 22,4 liter. Volume ini disebut sebagai volume

molar gas.

Contoh soal:

Berapa volume 8,5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27 oC dan tekanan 1

atm ? (Ar: H = 1 ; N = 14)

Jawab:

8,5 g amoniak = = 0,5 mol

Volume amoniak (STP) = 0,5 × 22,4 = 11,2 liter

Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:

=

=

(9)

B.Persamaan Reaksi

Persamaan reaksi mempunyai sifat:

1. Jenis unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.

2. Jumlah masing-masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.

3. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol (khusus yang

berwujud gas perbandingan koefisien juga menyatakan perbandingan

volume asalkan suhu dan tekanannya sama).

Langkah-langkah penulisan persamaan reaksi:

1. Nama-nama reaktan dan hasil reaksi dituliskan. Penulisan ini disebut

persamaan sebutan.

2. Tuliskan persamaan reaksi dengan menggunakan lambang-lambang, yaitu

rumus-rumus kimia zat, dan wujud reaksi. Penulisan ini disebut persamaan

kerangka.

3. Setarakan persamaan kerangka tersebut sehingga diperoleh persamaan

reaksi setara yang disebut persamaan kimia.

Penyetaraan persamaan reaksi sesuai dengan hukum kekekalan reaksi

Lavoisier dan teori atom Dalton. Menurut hukum Lavoisier, pada reaksi kimia

tidak terjadi perubahan massa. Artinya, jumlah dan jenis atom di ruas kiri

(reaktan) sama dengan jumlah dan jenis atom di ruas kanan (hasil reaksi).

Sesuai teori atom Dalton, dalam reaksi kimia tidak ada atom yang hilang atau

tercipta, yang terjadi hanyalah penataan ulang atom-atom reaktan membentuk

susunan baru, yaitu hasil reaksi. Agar jenis dan jumlah atom di ruas kiri sama

dengan di ruas kanan, persamaan reaksi disetarakan (diseimbangkan) dengan

cara mengatur angka di depan reaktan dan hasil reaksi. Angka yang diberikan

di depan reaktan dan hasil reaksi disebut koefisien. Angka satu sebagai

koefisien tidak dituliskan. Oleh karena itu persamaan reaksi dapat dituliskan

sebagai berikut.

(10)

1. Tuliskan persamaan kerangka, yaitu persamaan reaksi yang belum setara,

dengan reaktan di ruas kiri dan hasil reaksi di ruas kanan.

2. Tetapkan koefisien zat/senyawa yang lebih rumit adalah satu.

3. Setarakan reaksi dengan mengatur koefisien reaktan dan hasil reaksi yang

lain.

C.Konsep Mol

Mol adalah satuan bilangan kimia yang jumlah atom-atomnya atau

molekul-molekulnya sebesar bilangan Avogadro dan massanya = Mr senyawa

itu.

Jika bilangan Avogadro = L , maka:

L = 6,023 x 1023

1 mol atom = L buah atom, massanya = Ar atom tersebut.

1 mol molekul = L buah molekul massanya = Mr molekul tersebut.

Massa 1 mol zat disebut sebagai massa molar zat.

Contoh soal:

Berapa molekul yang terdapat dalam 20 gram NaOH ?

Jawab:

Mr NaOH = 23 + 16 + 1 = 40

mol NaOH = = = 0,5 mol

Banyaknya molekul NaOH = 0,5 × L

= 0,5 × 6,023 x 1023

= 3.01 × 1023 molekul

Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel

Telah diketahui bahwa 1 mol zat X = l buah L partikel zat X, maka

2 mol zat X = 2 × L partikel zat X

5 mol zat X = 5 × L partikel zat X

(11)

Jumlah partikel = n × L

Contoh soal:

Berapa mol atom timbal dan oksigen yang dibutuhkan untuk membuat 5 mol

timbal dioksida (PbO2).

Jawab:

1 mol timbal dioksida tersusun oleh 1 mol timbal dan 2 mol atom oksigen (atau

1 mol molekul oksigen, O2). Sehingga terdapat

Atom timbal = 1 × 5 mol = 5 mol

Atom oksigen = 2 × 5 mol = 10 mol (atau 5 mol molekul oksigen, O2)

1. Masa Atom dan Masa Rumus

a. Massa Atom

Massa atom didefinisikan sebagai massa suatu atom dalam satuan

atomic mass unit (amu) atau satuan massa atom (sma). Satu amu

didefinisikan sebagai kali massa satu atom C-12. Karbon-12 adalah

salah satu isotop karbon yang memiliki 6 proton dan 6 neutron. Unsur ini

dijadikan sebagai standar pembanding sebab unsur ini memiliki sifat

yang sangat stabil dengan waktu paruh yang panjang. Dengan

menetapkan massa atom C-12 sebesar 12 sma, kita dapat menentukan

massa atom unsur lainnya. Sebagai contoh, diketahui bahwa satu atom

hidrogen hanya memiliki massa 8,4% dari massa satu atom C-12.

Dengan demikian, massa satu atom hidrogen adalah sebesar 8,4% × 12

sma atau 1,008 sma. Dengan perhitungan serupa, dapat diperoleh massa

satu atom oksigen adalah 16,00 sma dan massa satu atom besi adalah

55,85 sma. Hal ini berarti bahwa satu atom besi memiliki massa hampir

(12)

b. Massa Atom Relatif (Ar)

Massa atom unsur sebenarnya belum dapat diukur dengan alat

penimbang massa atom, karena atom berukuran sangat kecil. Massa atom

unsur ditentukan dengan cara membandingkan massa atom rata-rata

unsur tersebut terhadap massa rata-rata satu atom karbon-12 sehingga

massa atom yang diperoleh adalah massa atom relatif (Ar).

c. Massa Molekul Relatif

Unsur dan senyawa yang partikelnya berupa molekul, massanya

dinyatakan dalam massa molekul relatif (Mr). Pada dasarnya massa

molekul relatif (Mr) adalah perbandingan massa rata-rata satu molekul

unsur atau senyawa dengan massa rata-rata satu atom karbon-12.

Jenis molekul sangat banyak, sehingga tidak ada tabel massa

molekul relatif. Akan tetapi, massa molekul relatif dapat dihitung dengan

menjumlahkan massa atom relatif atom-atom pembentuk molekulnya.

Mr = ∑Ar

Untuk senyawa yang partikelnya bukan berbentuk molekul,

melainkan pasangan ion-ion, misalnya NaCl maka Mr senyawa tersebut

disebut massa rumus relatif. Massa rumus relatif dihitung dengan cara

yang sama dengan seperti perhitungan massa molekul relatif, yaitu

dengan menjumlahkan massa atom relatif unsur-unsur dalam rumus

senyawa itu.

d. Massa Molar

Telah diketahui bahwa satu mol adalah jumlah zat yang

mengandung partikel (atom, molekul, ion) sebanyak atom yang terdapat

dalam 12 gram karbon dengan nomor massa 12 (karbon-12, C-12).

Sehingga terlihat bahwa massa 1 mol C-12 adalah 12 gram. Massa 1 mol

zat disebut massa molar. Massa molar sama dengan massa molekul relatif

(Mr) atau massa atom relatif (Ar) suatu zat yang dinyatakan dalam gram.

(13)

Hubungan mol dan massa dengan massa molekul relatif (Mr) atau massa

atom relatif (Ar) suatu zat dapat dicari dengan:

gram = mol × Mr atau Ar

Avogadro mendapatkan hasil dari percobaannya bahwa pada suhu

0 °C (273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76 cmHg) didapatkan tepat 1 liter

oksigen dengan massa 1,3286 gram. Pengukuran dengan kondisi 0 °C

(273 K) dan tekanan 1 atmosfir (76 cmHg) disebut juga keadaan STP

(Standard Temperature and Pressure). Pada keadaan STP, 1 mol gas

oksigen sama dengan 22,4 liter.

Avogadro yang menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang

sama, gas-gas yang bervolume sama mengandung jumlah molekul yang

sama. Apabila jumlah molekul sama maka jumlah molnya akan sama.

Sehingga, pada suhu dan tekanan yang sama, apabila jumlah mol gas

sama maka volumenya pun akan sama. Keadaan standar pada suhu dan

tekanan yang sama (STP) maka volume 1 mol gas apasaja/sembarang

berharga sama yaitu 22,4 liter. Volume 1 mol gas disebut sebagai volume

molar gas (STP) yaitu 22,4 liter/mol.

Volume gas tidak standar pada persamaan gas ideal dinyatakan

dengan:

PV = nRT

keterangan:

(14)

V : volume gas (liter)

n : jumlah mol gas

R : tetapan gas ideal (0,082 liter atm/mol K)

T : temperatur mutlak (Kelvin)

D.Rumus Molekul dan Rumus Empiris

Rumus kimia menunjukkan jenis atom unsur dan jumlah relatif

masing-masing unsur yang terdapat dalam zat. Banyaknya unsur yang terdapat dalam

zat ditunjukkan dengan angka indeks.

Rumus kimia dapat berupa rumus empiris dan molekul. Rumus empiris,

rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom dari unsur-unsur

yang menyusun senyawa. Rumus molekul, rumus yang menyatakan jumlah

atom-atom dari unsur-unsur yang menyusun satu molekul senyawa.

Rumus Molekul = (Rumus Empiris) × n

Mr Rumus Molekul = n × (Mr Rumus Empiris)

(n = bilangan bulat)

Untuk menentukan rumus empiris dan rumus molekul suatu senyawa,

dapat ditempuh dengan langkah berikut:

1) Cari massa (persentase) tiap unsur penyusun senyawa.

2) Ubah ke satuan mol.

3) Perbandingan mol tiap unsur merupakan rumus empiris.

4) Untuk mencari rumus molekul dengan cara:

(Rumus Empiris) × n = Mr

n dapat dicari nilainya.

5) Kemudian kalikan n yang diperoleh dari hitungan, dengan rumus empiris.

Contoh soal:

Suatu senyawa terdiri dari 60% karbon, 5% hidrogen, dan sisanya nitrogen.

Jika Mr senyawa itu = 80 (Ar C = 12 ; H = 1 ; N = 14). Tentukan rumus

empiris dan rumus molekul senyawa itu!

Jawab :

(15)

Misal massa senyawa = 100 gram

E.Menentukan Rumus Kimia Hidrat (Air Kristal)

Hidrat adalah senyawa kristal padat yang mengandung air kristal (H2O).

Rumus kimia senyawa kristal padat sudah diketahui. Jadi pada dasarnya

penentuan rumus hidrat adalah penentuan jumlah molekul air kristal (H2O) atau

nilai x. Secara umum, rumus hidrat dapat ditulis sebagai:

Rumus kimia senyawa kristal padat : x.H2O

Sebagai contoh garam kalsium sulfat, memiliki rumus kimia CaSO4 . 2H2O,

artinya dalam setiap mol CaSO4 terdapat 2 mol H2O.

Contoh soal:

5,0 gram hidrat dari tembaga(II) sulfat dipanaskan sampai semua air kristalnya

menguap. Jika massa tembaga(II) sulfat padat yang terbentuk 3,20 gram.

- Tentukan mol zat sebelum dan sesudah reaksi.

(16)

CuSO4 . x H2O(s) → CuSO4 (s) + x H2O

5 gram 3,2 gram 1,8 gram

Perbandingan, mol CuSO4 : mol H2O = :

= 0.02 : 0,10

= 1 : 5

Jadi Rumus hidrat dari tembaga (II) sulfat adalah CuSO4 . 5H2O.

F. Molaritas

Larutan merupakan campuran antara pelarut dan zat terlarut. Jumlah zat

terlarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi. Salah satu cara untuk

menyatakan konsentrasi dan umumnya digunakan adalah dengan molaritas

(M). molaritas merupakan ukuran banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter

larutan. Dapat dituliskan sebagai berikut:

M =

Pengenceran dilakukan apabila larutan terlalu pekat. Pengenceran

dilakukan dengan penambahan air. Pengenceran tidak merubah jumlah mol zat

terlarut. Sehingga:

V1M1 = V2M2

keterangan:

V1 = volume sebelum pengenceran

M1 = molaritas sebelum pengenceran

V2 = volume sesudah pengenceran

M2 = molaritas sesudah pengenceran

G.Pereaksi Pembatas

Di dalam suatu reaksi kimia, perbandingan mol zat-zat pereaksi yang

dicampurkan tidak selalu sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal

ini berarti bahwa ada zat pereaksi yang akan habis bereaksi lebih dahulu.

(17)

Reaksi di atas memperlihatkan bahwa menurut koefisien reaksi, 1 mol

zat X membutuhkan 2 mol zat Y. Dalam hitungan kimia, pereaksi pembatas

dapat ditentukan dengan cara membagi semua mol reaktan dengan

koefisiennya, lalu pereaksi yang mempunyai nilai hasil bagi terkecil,

merupakan pereaksi pembatas.

Contoh soal:

Diketahui reaksi sebagai berikut:

S(s) + 3F2(g)→ SF6(g)

Jika direaksikan 2 mol S dengan 10 mol F2

a. Berapa mol kah SF6 yang terbentuk?

b. Zat mana dan berapa mol zat yang tersisa?

Penyelesaian :

S + 3F2→ SF6

Dari koefisien reaksi menunjukkan bahwa:

1 mol S membutuhkan 3 mol F2

Kemungkinan yang terjadi:

- Jika semua S bereaksi maka F2 yang dibutuhkan:

mol F2 = × 2 mol S

= 3 × 2 mol

= 6 mol

Hal ini memungkinkan karena F2 tersedia 10 mol.

- Jika semua F2 habis bereaksi, maka S yang dibutuhkan:

mol S = × 10 mol F2

= 0,333 × 10 mol

= 3,33 mol

Hal ini tidak mungkin terjadi, karena S yang tersedia hanya 2 mol.

Jadi yang bertindak sebagai pereaksi pembatas adalah S.

Banyaknya mol SF6 yang terbentuk = x mol S

(18)

b. zat yang tersisa adalah F2, sebanyak = 10 mol – 6 mol = 4 mol F2

Soal di atas dapat juga diselesaikan dengan:

- Setarakan reaksinya.

- Semua pereaksi diubah menjadi mol.

- Bagikan masing-masing mol zat dengan masing-masing koefisiennya.

- Nilai hasil bagi terkecil disebut pereaksi pembatas (diberi tanda atau lingkari).

- Cari mol zat yang ditanya.

- Ubah mol tersebut menjadi gram/liter/partikel sesuai pertanyaan. Penyelesaian:

S + 3F2→ SF6

2 mol : 10 mol

:

2 : 3,33

(Nilai 2 < 3,33)

Berarti zat pereaksi pembatas : S

Sehingga ditulis:

a. mol SF6 = × 2 mol S

= 1 × 2 mol

= 2 mol

b. mol F2 yang bereaksi = × 2 mol S

= 3× 2 mol

= 6 mol

mol F2 sisa = mol tersedia - mol yang bereaksi

= 10 mol - 6 mol

(19)

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Dari seluruh isi dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:

1. Hukum kekekalan massa, hokum perbandingan tetap, dan hokum kelipatan

berganda adalah hukum-hukum dasar kimia.

2. Penyetaraan persamaan reaksi dilakukan dengan memberi koefisien yang

tepat dengan tidak mengubah indeks senyawa.

3. Satu mol setiap zat mengandung partikel sejumlah tetapan Avogadro (L),

yaitu 6,023 x 1023. Massa zat bergantung pada jumlah molnya, dimana

massa = mol × Ar/Mr . Volume molar gas tidak bergantung pada jenisnya,

tetapi pada jumlah mol, suhu, dan tekanan pengukuran, dimana V = mol ×

Vm . Pada STP Vm = 22,4 liter/mol.

4. Rumus molekul dapat ditentukan dari rumus empiris, jika massa molekul

relatif (Mr) senyawa diketahui. Rumus empiris senyawa dapat ditentukan,

jika kadar unsur-unsurnya diketahui.

5. Konsentrasi suatu senyawa dalam larutan atau kemolaran larutan dinyatakan

dengan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan.

M =

B.Saran

Sesuai dengan kesimpulan, maka dapat diberikan beberapa saran yaitu

dalam mengerjakan setiap soal stoikiometri diharapkan memahami dan

menguasai konsep hukum-hukum dasar kimia. Selain itu soal-soal stoikiometri

harus dikerjakan secara teliti. Sebab perhitungan yang diberikan biasanya

berbentuk hitungan bilangan pecahan desimal dan bilangan berpangkat

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Djojosuwito, Subandio, dkk. 1994. Kimia 1. Yudhistira: Jakarta.

Parning, dkk. 2007. Kimia 1 SMA. Jakarta : Yudhistira.

Purba, Michael. 2006. Kimia 1 untuk SMA Kelas X. Erlangga: Jakarta.

Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia untuk SMA Kelas X Jilid 1. Phibeta Aneka Gama: Jakarta.

Susilowati, Endang. 2009. Theory and Application of Chemistry 1. Tiga Serangkai: Solo.

Referensi

Dokumen terkait

“Jika dua senyawa yang berbeda dibentuk oleh dua unsur yang sama, maka bila massa salah satu unsur dalam kedua senyawa sama maka unsur lainnya dalam kedua senyawa itu akan

Dengan cara yang sama, dapat ditentukan perbandingan massa atom unsur yang satu dengan massa atom unsur yang lain.. Perbandingan tersebut disebut massa atom relatif, yaitu

Apabila dua unsur membentuk lebih dari satu senyawa, perbedaan massa satu unsur yang bergabung dengan jumlah massa yang sama dari unsur lain. merupakan perbandingan sederhana

Bila ada dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, perbandingan massa unsur yang satu yang bersenyawaan dengan sejumlah massa tetap dari unsur yang lain adalah

Hukum Kelipatan Perbandingan atau Hukum Dalton menyatakan “bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, dan jika massa salah satu unsur tersebut

Apabila dua unsur membentuk lebih dari satu senyawa, perbedaan massa satu unsur yang bergabung dengan jumlah massa yang sama dari unsur lain. merupakan perbandingan sederhana

Yaitu : “Jika dua jenis unsur dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa, maka perbandingan massa salah satu unsur yang terikat pada massa unsur lain yang sama,

Hukum perbandingan berganda: apabila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, di mana massa salah satu unsur tetap sama maka perbandingan massa unsur yang lain dalam