PERDA IZIN USAHA KONSTRUKSI

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TENTANG

RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA PRABUMULIH

Menimbang : a. bahwa kegiatan usaha jasa konstruksi mempunyai peranan strategis dalam pembangunan sehingga perlu adanya pembinaan terhadap penyediaan usaha jasa konstruksi;

b. bahwa penerbitan Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional merupakan Kewenangan Pemerintah Walikota Prabumulih;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b perlu menetapkan Peraturan Derah tentang Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi;

Mengingat : 1. Undang - undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3832);

3. Undang-undanng Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

4. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat dan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3953);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor );

8. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presidan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 70);

(2)

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PRABUMULIH

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI NASIONAL

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Daerah Kota Prabumulih.

2. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Prabumulih. 3. Walikota adalah Walikota Prabumulih.

4. Wakil Walikota adalah Wakil Walikota Prabumulih.

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Prabumulih

6. Dinas adalah Dinas yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengelolaan Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional di Kota Prabumulih. 7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas yang bertanggung jawab dalam melaksanakan

tugas dan fungsi pengelolaan Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional di Kota Prabumulih.

8. Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan Hukum yang dimaksudkan untuk Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian terhadap Kegiatan Usaha Jasa Konstruksi.

9. Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional adalah izin yang diperlukan bagi perusahaan jasa konstruksi, untuk dapat melaksanakan kegiatan dibidang jasa konstruksi yang diberikan oleh Walikota Prabumulih.

10. Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional adalah Pembayaran atas pemberian izin kepada orang pribadi atau badan atas penerbitan izin yang diberikan.

11. Lembaga adalah Organisasi sebagaimana tertuang dalam Undang-undang nomor 18 Tahun 1999.

12. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi.

13. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah Retribusi yang terhutang. 14. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan

mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Retribusi.

15. Penyidikan Tindak Pidana dibidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangka.

(3)

BAB II PERIZINAN

Pasal 2

(1) Setiap orang atau Badan Hukum yang akan melaksanakan kegiatan di bidang jasa konstruksi wajib memeliki Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional yang diberikan oleh Walikota.

(2) Jangka Waktu berlakunya Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional ditetapkan selama Perusahaan masih menjalankan usahanya dan setiap 1 (satu) tahun wajib mendaftar ulang.

(3) Permohonan Izin Usaha Konstruksi Nasional diajukan Kepada Walikota melalui Kepala Dinas.

(4) Syarat-syarat dan tata cara pengajuan izin akan di atur lebih lanjut oleh Walikota. (5) Setiap Pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional di pungut Retribusi.

BAB III

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 3

Dengan Nama Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional di pungut Retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi.

Pasal 4

Obyek Retribusi adalah Pelayanan Pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional meliputi :

a. Usaha Perencanaan Jasa Konstruksi; b. Usaha Pelaksanaan Jasa Konstruksi; c. Usaha Pengawasan Jasa Konstruksi; Pasal 5

Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang melaksanakan kegiatan sebagaimana mestinya pada pasal 4.

BAB IV

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 6

Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi digolongkan sebagai Retribusi Perizinan Tertentu.

BAB V

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA

Pasal 7

(4)

BAB VI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 8

(1) Struktur tarif digolongkan berdasarkan Kualifikasi Penyedia Usaha Jasa Konstruksi. (2) Besarnya tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

NO JENIS PELAYANAN TARIF

1. PEMBUATAN

IUJKN  Retribusi - Klasifikasi K3 - Klasifikasi K2

2. (Tanda Daftar TenagaPEMBUATAN TDTT

Teknik)  Retribusi- Klasifikasi K3 - Klasifikasi K2

IUJK  Retribusi- Klasifikasi K3 - Klasifikasi K2

TDTT  Retribusi- Klasifikasi K3 - Klasifikasi K2

(5)

BAB VIII PEMUNGUTAN

Pasal 10

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang disamakan. (2) Pemungutan Retribusi ditugaskan kepada Instansi teknis dengan memberikan tanda

bukti penerimaan dari Dinas Pendapatan Daerah.

(3) Kepada Instansi pemungut diberikan insentif sebesar 5 % (lima persen).

(4) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud ayat (3) akan diatur lebih lanjut oleh Walikota.

(5) Selambat-lambatnya 1 (satu) hari sesudah penerimaan semua hasil uang Retribusi disetorkan oleh Bendaharawan khusus penerima ke Kas Daerah dengan mengirimkan tembusan bukti setor kepada Dinas Pekerjaan Umum.

BAB IX PEMBINAAN

Pasal 11

Dinas yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengelolaan Izin Usaha Jasa Konstruksi sebagai Pembina dan Penanggung Jawab secara teknis serta sebagai Pengelola Pungutan Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional.

BAB X

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 12

(1) Setiap 1 (satu) tahun sekali Perusahaan Usaha Jasa Konstruksi Nasional wajib mendaftar ulang.

(2) Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat waktu atau kurang membayar atau tidak mendaftar ulang dikenakan sanksi administrasi sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terhutang atau kurang membayar yang ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Daerah.

BAB XI

KERINGANAN, PENGURANGAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI

Pasal 13

(1) Walikota dapat memberikan keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

(2) Pemberian keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi.

BAB XII

KETENTUAN PIDANA Pasal 14

(1) Pelanggaran ketentuan dalam Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (Lima juta rupiah).

(6)

BAB XIII PENYIDIKAN

Pasal 15

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberikan wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan Penyidikan Tindak Pidana dibidang Retribusi Daerah.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan Tindak Pidana Retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas.

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak Pidana Retribusi Daerah.

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak Pidana dibidang Retribusi Daerah.

d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.

e. Melakukan Pengeledahan, untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka Pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah.

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf c.

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah.

i. Memanggil orang untuk di dengar keterangannya dan di periksa sebagai tersangka atau saksi.

j. Menghentikan penyidikan.

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran Penyidikan Tindak Pidana bidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya

penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang di atur dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 16

(7)

Pasal 17

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Prabumulih.

Ditetapkan di Prabumulih pada tanggal 12 Desember 2003 WALIKOTA PRABUMULIH

RACHMAN DJALILI Diundangkan di Prabumulih

pada tanggal 9 Februari 2004 SEKRETARIS DAERAH KOTA PRABUMULIH

ABDUL LATIEF MENDIWO

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...