PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA MENUJU PRESTASI NASIONAL
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2016 Kediri, 3 April 2016
PROGRAM STUDI KEGURUAN OLAHRAGA PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA MENUJU PRESTASI NASIONAL
Editor :
Dr. Atrup, M.Pd., M.M.
Prof. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd. Dr. Suryanto, M.Si.
Desain Sampul dan Tata Letak : Yulingga Nanda Hanief, M.Or.
Penerbit :
Program Studi Keguruan Olahraga Program Pascasarjana
Universitas Nusantara PGRI KEDIRI
Distributor Tunggal :
Program Studi Magister Keguruan Olahraga
Program Pascasarjana Universitas Nusantara PGRI KEDIRI JL. KH Achmad Dahlan No 76 Kediri
Telp (0354) 771771576 Fax (0354) 771999
Email [email protected]
Cetakan Kedua, April 2016
ISBN 2460 – 3309
Hak cipta dilindungi undang – undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR
Penyelengaraan seminar tersebut dimaksudkan untuk mempublikasikan hasil penelitian dan karya ilmiah dalam bidang Pendidikan Jasmani dan olahraga untuk mempersiapkan praktisi olahraga khususnya dan masyarakat umumnya untuk mencapai prestasi nasional.
Kegiatan Seminar Nasional diikuti peserta yang terdiri atas pakar, peneliti, akademisi dan praktisi dalam bidang Pendidikan Jasmani dan olahraga di Indonesia. Ucapan terima kasih kami disampaikan kepada pimpinan Universitas Nusantara PGRI Kediri dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Nusantara PGRI Kediri yang telah memberikan kesempatan terselenggarkannya Seminar Nasional Olahraga pada tanggal 3 April 2016 di Hall Kampus II Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Selanjutnya kepada para presenter dan editor serta pelaksana seminar Nasional ini disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas jerih payahnya sehingga seminar dapat berlangsung dengan baik sampai tersusunnya prosiding ini. Akhir kata, semoga prosiding ini bermanfaat khususnya dalam bidang keolahragaan serta memberikan rekomendasi pemikiran ilmiah dalam bidang keolahragaan di Indonesia.
Kediri, 3 April 2016
Ketua Panitia
DAFTAR ISI
Daftar Isi... iv
KEYNOTE SPEAKERS
Pendidikan Jasmani dan Olahraga Dengan Pengembangan Multilateral Sebagai Penopang Pembinaan Usia Dini
Dr. Edy Mintarto, M.Kes... 1
Kualitas Pembelajaran Penjaskes Dalam Perspektif Ilmu Pembelajaran
Dr. Atrup, M.Pd., M.M... ... 11
PEMAKALAH PENDAMPING
Persepsi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi Atlet Giri Saktiana Hadi... ... 25
Pengaruh Loncat Katak Terhadap Hasil Lompat Jauh
Haris Firmansyah... ... 41
Instrumen Tes Bola Basket Mini Pada Sekolah Dasar Kelas Atas Melalui Modifikasi Dasten Basket Ball Test
Heri Setiaji... ... 51
Kebijakan Pemerintah Tentang Pembinaan Olahraga Rekreasi Di Kota Surakarta
Mokhammad Firdaus dan M. Anis Zawawi... ... 63
Pembentukan Nilai-Nilai Sportivitas Melalui Permainan Bola Voli Di Sekolah
...
Upaya Peningkatan Keterampilan Lompat Jauh Gaya Jongkok Melalui Media Jerami Kelas IV SDN 1 Bendo Kecamatan Gondang Tulungagung
Mulyati... ... 93
Pentingnya Mental Dan Penempatan Posisi Wasit Bola Basket Demi Kesuksesan Suatu Pertandingan
Nanang Seminar Efendi... ... 106
Krisis Identitas dan Legitimasi dalam Pendidikan Jasmani Puji Santoso... ... 114
Metode Latihan Sirkuit (Circuit Training) Dalam Pembinaan Fisik Olahraga Bulutangkis
Sandy Riawan... ... 154
Pembentukan Karakter Melalui Modifikasi Permainan Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani Di SMK Antara Harapan dan Kenyataan Sujono... ... 225
Upaya Peningkatan Kecepatan Lari Cepat Melalui Permainan Tradisional Boy-boyan dan Hadang Siswa SD Kelas III
Denie Rosmawati E S... ... 244
Lembing Awalan Langkah Silang (Cross Step) Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kediri Tahun Pelajaran 2015/2016
Eko Supriadi... ... 257
Peran Guru Penjas Profesional Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Shaiful Abidin, Umayanah, Femi Epi Safitri, Aditya Suta Negara... ... 273
Perbedaan Pengaruh Latihan Pliometrik Multiple Box To Box Jumps With Single Leg Landing Dan Single Leg Bounding Terhadap Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok
Wita Suwarna, Nunuk Nevi Biuty, Erdy Wahyu Afianto... ... 284
“Persepsi Atlet Terhadap SDM PPLM Tentang Prestasi Atlet” Giri Saktiana Hadi
Keguruan Olahraga – Program Pascasarjana Universitas Nusantara PGRI Kediri
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji pengaruh persepsi atlet terhadap SDM PPLM tentang Prestasi Atlet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei di Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Data dikumpulkan dari 71 atlet yang diambil secara acak, melalui instrumen yang telah divalidasi berupa kuesioner berskala Likter 1-5. Teknik analisis data menggunakan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi atlet terhadap SDM berpengaruh langsung positif tentang Prestasi Atlet.
Kata kunci: Persepsi Atlet, SDM, Prestasi Atlet.
PENDAHULUAN
Peran olahraga sebagai sebuah mesin nation and character building telah teruji, karena olahraga memiliki fungsi membangun spirit kebangsaan. Olahraga dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa, membentuk karakter individu dan kolektif, serta memiliki potensi mendinamisasikan sektor-sektor pembangunan yang lain.
Kewajiban untuk memberikan kontribusi terhadap prestasi olahraga nasional selayaknya menjadi tanggung jawab kita bersama. Olahraga adalah sebagai bagian dari alat pembentuk karakter bangsa yang harus diperjuangkan.
taekwondo, tinju dan renang. Hal ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif PPLM telah masuk hitungan yang cukup luas dan tersebar di seluruh provinsi serta dalam rangka memberikan warna untuk peningkatan prestasi olahraga nasional maupun internasional. Sesuai dengan visi dan misi, didirikanya Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa (selanjutnya disebut PPLM) adalah untuk membentuk atlet-atlet di tingkat perguruan tinggi agar bisa berprestasi dengan baik. 01 eh karena itu, kebersamaan dalam menjalankan program di daerah harus benar-benar maksimal.
Tujuan didirikan PPLM agar olahraga di Indonesia dapat mencapai keberhasilan di even internasional, bukan hanya berhasil di even nasional. Jadi, ukurannya atlet yang berasal dari PPLM minimal harus bisa berprestasi di even internasional seperti POM ASEAN. Dengan demikian, tidak salah jika PPLM merupakan salah satu pilihan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai suatu sistem pembinaan olahraga melalui jalan nasional yang dapat menopang prestasi olahraga Indonesia.
Demikian juga dari segi penjenjangan pembinaan, telah diketahui bahwa karena usia mahasiswa, termasuk dalam adalah usia emas
(golden age). Dimana secara berjenjang telah dimulai pembinaan dari usia dini sampai pada tingkat mahasiswa. Apabila di usia tersebut tidak membuahkan suatu hasil prestasi secara nasional maupun Internasional, maka kemungkinan untuk berkembang lagi akan sulit terwujud. Mengingat usia mahasiswa sudah usia yang sudah matang.
PPLM sebagai organisasi olahraga yang membina prestasi olahraga melalui seorang atlet tidak dapat dilakukan dalam waktu satu malam, melainkan melalui berbagai proses dan tahapan dalam satu kurun waktu tertentu. Suatu prestasi puncak tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan adanya keseimbangan fisik dan psikis, keselarasan tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani.
Prestasi olahraga adalah suatu pencapaian akhir yang memuaskan berdasarkan target awal tim atau atlet, dalam lingkup dunia olahraga. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga seorang atlet. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang harus ada untuk meningkatkan prestasi/menciptakan prestasi di olahraga.
Hambatan untuk berprestasi di Indonesia di luar diri atlet adalah terbatasnya atau sangat kurang tersedianya sarana olahraga dan peralatan olahraga. Selain itu, Tim SDI Pusat di tahun 2007 menyimpulkan hasil kajiannya bahwa Indeks Pembangunan Olahraga Indonesia atau dikenal dengan Standard Development Indeks (SDI)
adalah 0,280 artinya bahwa pembangunan olahraga kita masih tergolong rendah, ditinjau dari dimensi partisipasi, ruang terbuka, SDM, dan kebugaran. Selaras dengan itu, hasil survey yang dilakukan oleh Depdiknas menunjukkan bahwa kebugaran jasmani pelajar Indonesia adalah 10,7% kurang sekali, 45,97% kategori kurang, 37,66% kategori sedang, 5,66% kategori baik, dan 0% kategori baik sekali (Depdiknas, 2005).
suatu program latihan yang mampu menunjang potensi atlet dan dapat memberikan prestasi secara maksimal.
Untuk memperoleh prestasi olahraga yang tinggi, maka seluruh aspek baik aspek fisik, teknik, taktik serta aspek mental di latih dengan program jangka panjang yang sistematis dan terencana dengan baik. Prestasi tidak akan diperoleh dengan begitu saja, tanpa perjuangan dan pengorbanan yang lebih besar yang didukung oleh sarana dan prasarana yang baik. Prestasi itu sendiri adalah merupakan hasil yang dicapai seseorang sampai pada batas kemampuannya. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hourke dan S. Nasution (1995:35) dalam buku olahraga dan sportifitas bahwa prestasi adalah hasil yang dicapai atau yang diperoleh seseorang yang mendekati atau mencapai batas-batas kesanggupannya.
Prestasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu secara kualitas dan kuantitas. Segi kualitas yaitu seperti waktu dan jarak yang ditempuh, sedangkan segi kuantitas yaitu seperti perolehan medali ataupun sejenisnya. Oleh karena itu, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi yang akan dicapai oleh atlet, seperti yang dikatakan R.N. Singer yang dikutip oleh Singgih D Gunarsa (1996:103) mengemukakan bahwa penampilan puncak seorang atlet melibatkan 3 aspek yang saling berhubungan secara harmonis, yakni mental, emosi dan fisik. Dan aspek mental yang berpengaruh terhadap penampilan atlet ialah: aspek emosi, aspek motivasi dan aspek kognisi.
Menurut Harsono (1988:252-254), ada beberapa aspek yang mendorong atlet untuk berprestasi antara lain : (1) Mencari dan mengatasi
Persepsi menurut Ivane Dewintaris dan Alvinana Triafebianda (2003:210) adalah tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu, Serapan, proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra. Sedangkan menurut Manahan P. Tampubolon (2008:63), persepsi adalah gambaran seseorang tentang sesuatu objek yang menjadi fokus permasalahan yang sedang dihadapi. Persepsi sangat tergantung pada faktor-faktor, antara lain individu yang membuat persepsi, situasi yang terjadi pada saat persepsi itu dirumuskan, serta gangguan-gangguan yang mempengaruhi dalam proses pembentukan persepsi (target).
Menurut Ardana Komang (2008:18) Persepsi adalah proses memberi perhatian, menyeleksi, mengorganisasikan kemudian menafsirkan stimulasi lingkungan. Sehingga dalam menafsirkannya setiap individu berbeda-beda pandangan. Mifta Toha (2003: 141) Persepsi adalah suatu proses aktif dalam menyerap, mengatur, dan menafsirkan pengalamannya secara selektif Penerimaan itu berupa informasi-informasi yang ditangkap metalui panca indera dan selanjutnya menjadi sebuah pengetahuan. Pendapat itu diperkuat oleh Basri mengatakan, persepsi (perception) adalah kemampuan individu untuk mengamati atau mengenal perangsang (stimulus) sesuatu hingga berkesan menjadi pemahaman, pengetahuan, sikap dan tanggapan-tanggapan (http://www.depdiknas. go.id/jurnal/41/Djapri_Basri. htm., diakses 17 Mei 2012).
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas yang ada dalam organisasi tersebut. Menurut Djojo Suradisastra (1986:10) Sumber daya adalah segala sesuatu yang dipakai untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.
dapat mewujud karena ketersediaan sumber daya manusia yang bermutu dan memadai secara kuantitas. Dari sisi kuantitas, Indonesia memiliki modal manpower jumlah penduduk yang potensial, namun dari sisi mutu kiranya masih memerlukan waktu untuk memprosesnya.
Dengan investasi pada modal manusiawi, terutama melalui pendidikan, maka produktivitas pembangunan dapat ditingkatkan, baik kini maupun di masa depan. Hakikat pembangunan manusia yang berkeranjutan adalah bahwa setiap orang mempunyai akses yang sama untuk berbagai kesempatan pembangunan (UU RI Nomor 3 Tahun 2005). Komponen sumber daya manusia yang dimaksudkan adalah atlet dan pelatih.
Susilo Martoyo (1994:6) berpendapat sumber daya manusia merupakan hasil akal budinya disertai pengetahuan serta pengalaman yang dikumpulkan dengan sabar melalui jerih payah dan perjuangan berat. Sumber daya manusia diperoleh melalui perjuangan yang cukup berat yaitu harus mengikuti jenjang pendidiikan formal maupun non formal, pendidikan formal didapat melalui bangku sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, sedangkan pendidikan non formal didapat melalui kursus, penataran, pelatihan serta pengembangan untuk meningkatkan segala daya yang ada pada manusia. Sedangkan, T. Hani Handoko (2005:107) berpendapat bahwa latihan dan pengembangan SDM mempunyai berbagai manfaat karier jangka panjang yang membantu karyawan untuk tanggung jawab lebih besar di waktu yang akan datang. program-program latihan tidak hanya penting bagi individu, tetapi juga organisasi dan hubungan manusiawi dalam kelornpok kerja.
dalam pembinaan untuk keperluan pembangunan di bidang olahraga adalah terdapatnya sumber daya manusia yang berkualitas dan berkompetensi untuk menjadi pelaku IPTEK olahraga.
Dengan kualitas SDM keolahragaan yang memadai, maka diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar dalam mencapai tujuan Keolahragaan Nasional, yaitu: memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa.
Berkaitan dengan persepsi atlet terhadap sumber daya manusia, dalam hal ini pengurus, pelatih, yang berkaitan dengan bagaimana atlet memandang semua dan memberi makna terhadapnya dan selanjutnya mempengaruhi capa pandang dalam dirinya terhadap hal tersebut. Cara pandang ini akan mempengaruhui sikap mental atlet terutama dalam prestasi PPLM. Dari hasil proyek garuda emas KONI (1998:15) Pencapaian prestasi dalam olahraga sangat didukung oleh beberapa faktor, diantaranya adalah pembinaan prestasi. Secara garis besar ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam peningkatan prestasi maksimal secara efektif. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain: 1) Faktor internal pemain yang meliputi bakat, minat, genetik; 2) Manajemen organisasi yang baik; 3) Program pembinaan; 4) Pemanfaatan sarana dan pra sarana pendukung.
dari konsep yang telah diuraikan tersebut dapat diduga adanya pengaruh positif secara langsung persepsi atlet terhadap sumber daya manusia Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa tentang prestasi atlet.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data penelitian ini dikumpulkan dari 71 atlet dengan teknik
random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen berupa kuesioner yang disusun menggunakan skala pengukuran likert rentang 1-5. Sebelum kuesioner tersebut digunakan, maka dilakukan pengujian validitas dengan korelasi Product Moment, dan perhitungan reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach.
Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menyajikan data berupa ukuran sentral dan ukuran penyebaran dari masing-masing variabel secara tunggal. Semua pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan: uji normalitas galat taksiran dengan menggunakan teknik
Liliefors, dan uji linieritas varians dengan menggunakan persamaan regresi.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengujian normalitas galat taksiran regresi prestasi atlet dan persepsi atlet dengan liliefors menunjukkan bahwa sebaran data penelitian berasal dari populasi berdistribusi normal, dengan Lhitung = 0,062 < Ltabei = 0,0105, Ho diterima.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa distribusi galat taksiran prestasi atlet PPLM (Y) atas persepsi atlet tentang sumber daya manusia (X) berasal dari populasi berdistribusi normal.
tentang sumber daya manusia, dapat disimpulkan bahwa hasilnya yaitu Fhitung = 26,57 lebih besar dari Ftabei= 3,99 pada a = 0,05. dengan
demikian dapat dikemukakan bahwa model persamaan regresinya adalah signifikan. Selanjutnya, hasil perhitungan uji linieritas menunjukkan nilai Fhitung = 1,45 lebih kecil dari Ftabei= 1,89 pada a = 0,05. Ini berarti terdapat
pengaruh positif dari persepsi atlet tentang sumber daya manusia berpengaruh langsung positif terhadap prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa. Hal ini menunjukkan semakin baik persepsi atlet tentang sumber daya manusia, maka semakin meningkat prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa.
Hasil perhitungan dan pengujian uji regresi sederhana dengan SPSS pengaruh persepsi atlet terhadap sumber daya manusia Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa berpengaruh langsung positif tentang prestasi Atlet, sebagaimana disajikan padatabel 1 sampai 3 berikut ini:
Tabel 1. ANOVA Persepsi Atlet Terhadap Sumber Daya Manusia PPLM Berpengaruh Langsung Positif Tentang Prestasi Atlet
ANOVAb
R Square
Sum of Mean
Model R Squares df Square F Sig.
Regression ,527a ,278 2280,223 1 2280,223 26,569
,ooo
aResidual 5921,664 69 85,821
Total 8201,887 70
Tabel 2. Hasil Uji T Persepsi Atlet Terhadap Sumber Daya Manusia PPLM Berpengaruh Langsung Positif Tentang Prestasi Atlet Coefficientsa
Sebagaimana hasil analisis tersebut, diperoleh R square (Tabel 1) sebesar 0,527, yang berarti variasi sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet (Y) dapat dijelaskan oleh persepsi atlet sebesar 52,7%. Output ANOVA (tabel 2) diperoleh Sig. 0,000. Karena nilai Sig. lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet mampu menjelaskan perubahan pada variabel persepsi atlet atau model dikatakan cocok atau fit.
Pada output coefficients (Tabel 2), diperoleh hasil pengujian dengan statistik uji - t diperoleh t hitung 5,155 > dari t tabel 1,671 pada taraf a =0,05 derajat kebebasan (db) 71 - 2 = 69, sehingga Ho ditolak, maka koefisien jalur signifikan. Dengan demikian terdapat pengaruh langsung positif persepsi atlet terhadap sumber daya manusia PPLM tentang prestasi atlet.
PEMBAHASAN
prestasi. Untuk meningkatkan prestasi PPLM maka harus diupayakan dengan meningkatkan sumber daya manusia yang ada di PPLM yang bersangkutan. Selanjutnya dapat dikatakan jika sumber daya manusia PPLM menunjukan dedikasi yang baik, maka akan berimbas pada prestasi atlet dalam membela PPLM masing-masing dalam berbagai even cabang olahraga.
Secara umum, olahraga memiliki tujuan untuk lebih meningkatkan kesehatan fisik maupun mental. Tentunya untuk olahraga prestasi tujuannya menjadi lebih khusus yaitu meraih prestasi puncak. PPLM merupakan wadah pembinaan prestasi olahraga di perguruan tinggi dengan berbasis pada sumber daya seperti mahasiswa, ilmuwan, pelatih dan berbagai dukungan seperti IPTEK, laboratorium prasarana dan sarana. PPLM sebagai organisasi olahraga yang membina prestasi olahraga melalui seorang atlet tidak dapat dilakukan dalam waktu satu malam, melainkan melalui berbagai proses dan tahapan dalam satu kurun waktu tertentu. Suatu prestasi puncak tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan adanya keseimbangan fisik dan psikis, keselarasan tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani.
Prestasi dapat diartikan sebagai suatu hasil yang luar biasa dahsyat yang telah dicapai. Sebuah keberhasilan berstandar tinggi yang citranya hanya di peroleh segelintir orang. Prestasi itu sendiri sebenarnya setiap orang sanggup untuk mencapai prestasi, tetapi harus melalui latihan yang sungguh-sungguh.
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas yang ada dalam organisasi tersebut. Sumber daya adalah segala sesuatu yang dipakai untuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia Sebagai kesatuan, sumber daya manusia harus dipandang sebagai suatu sistem dimana tiap-tiap pelatih alau pengurus, merupakan bagian yang saling berkaitan satu dengan lainnya dan bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan organisasi. Sumber Daya Manusia (SDM) adalah setiap individu yang mempunyai kemampuan secara kognitif, skill dan psikomotor sesuai dengan bidang keahliannya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah pelatih dan pengurus serta peranan pemerintah yang dianggap dapat membentuk prestasi atlet. Pada sumber daya manusia tersebut, terbagi dalam dua faktor, yaitu: 1) faktor internal berhubungan dengan sifat-sifat, motif-motif, pemikiran dan perasaan; 2) faktor eksternal berhubungan dengan pengalaman, situasi sekitar, dan pengetahuan. Kedua faktor tersebut dapat membentuk sikap atlet, selanjutnya berpengaruh terhadap prestasi atlet.
Pelatih dan pengurus, tidak hanya sekedar berbuat dan bertindak, akan tetapi apa yang diperbuatnya sebagian besar dilakukan dengan sadar; dan kesadaran ini merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa.
SDM dengan potensinya dapat berpengaruh terhadap prestasi atlet bilamana ketersediaan SDM dalam hal mengelola dan dengan memanfaatkan program latihan secara langsung dalam berolahraga. Bilamana SDM tidak tersedia untuk dikelola dan/atau sesuai dengan fungsinya, maka SDM hanya dapat menunjukkan potensi dan tidak dapat memberi pengaruh terhadap prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa.
Hasil penelitian ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh evaluasi PPLM yang diteliti oleh tim Kemenegpora (2010). Hasil dari penelitian tersebut mengatakan bahwa masih kurangnya peran atau kontribusi PPLM terhadap prestasi olahraga di tanah air. Serta penelitian James AP Tangkudung (2009) dalam kajian konstribusi PPLM terhadap prestasi olahraga nasional. Hasil dari penelitian tersebut bahwa kontribusi PPLM terhadap prestasi olahraga nasional masih relatif kecil dalam memasok atlet nasional.
Hasil penelitian ini juga sejalan yang dilakukan oleh Ewendi Mangolo tahun 2009 yang meneliti pengaruh regulasi, sumber daya manusia, dan fasilitas terhadap pembentukan sikap dan perilaku atlet PON Papua (studi kausal pada atlet Pelatda PON Papua tahun 2008). Hasil penelitian tersebut dilaporkan bahwa; regulasi, sumber daya manusia, dan fasilitas berpengaruh langsung terhadap pembentukan sikap dan perilaku atlet PON Papua.
KESIMPULAN
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah setiap individu yang mempunyai kemampuan secara kognitif, skill dan psikomotor sesuai dengan bidang keahliannya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah pelatih dan pengurus serta peranan pemerintah. Pelatih dan pengurus, tidak hanya sekedar berbuat dan bertindak, akan tetapi apa yang diperbuatnya sebagian besar dilakukan dengan sadar; dan kesadaran ini merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa
Persepsi atlet terhadap sumber daya manusia PPLM merupakan cara pandang atlet dalam melihat manajemen yang ada di PPLM baik dari segi pembinaan maupun pengelolaan yang mempunyai peran positif dan signifikan terhadap peningkatan prestasi PPLM.
DAFTAR PUSTAKA
Andini, Nirmala T. Kamus lengkap Bahasa Indonesia.
Surabaya:Prima Media, 2003.
Bompa, Tudor M, 1994. Theory and Methodology of Training; The Key to Athletics Performance. Iowa: Human Kenetcs.
Deputi Peningkatan Prestasi Kemenpora, 2010. Laporan Eksekutif Revitalisasi PPLM. Jakarta: Kemenpora.
Dewintaris, Ivane dan Alvinana Triafebianda, 2003. Kamus Istilah Penting Modern. Jakarta: Aprindo.
Gunarsa, Singgih D, 1996. Psikologi Olahraga. PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Handoko, T. Hani, 2005. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia.Yogyakarta: BPFE.
Harsono,1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching.
Jakarta: DirjenDepdikbud.
Harsuki, 2003, Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Hourke dan S. Nasution, 1995. Olahraga dan Sportifitas. Jakarta: J.B. Wolter.
Kasep, Dhimas.2008. Persepsi http://dhimaskasepfiles.wordpress.com/ 200803/02.persepsi.pdf (diakses 8 Juni 2012).
Kemenegpora Republik Indonesia, 2005. Undang-Undang Republik Indonesia No.3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta: Kemenegpora.
KONI, 1998. Induk Pengembangan Prestasi di Indonesia 1997-2007.
Garuda Emas.
Laporan Nasional Sport Development Index, 2006, Merekontruksi Budaya Prestasi. Jakarta: KEMENEGPORA
Martoyo, 1994. Manaiemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE.
Ngalim, M. Purwanto, 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sajoto, M., 1983. Kekuatan Kondisi Fisik. Jakarta: Dhalia Indonesia.
Sambas AM dan Maman A., 2007. Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian Bandung : Pustaka Setia.
Siagian, P. Sondang, 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya Ed.3. Jakarta: Renika Cipta.
Singer, R.N., 1996. Peak Performance and more., N.Y., Mouvement Publisching, Inc.; Singgih D. Gunarsa, Psikologi Olahraga.
Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Sugiono, 2010. Statisitka untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Tim Monev. 2010. Laporan Executive Revitalisasi PPLM. Jakarta: Deputi Peningkatan Prestasi-Kemenpora RI.
Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 Tahun2005.
UNESCO dan Kebudayaan, 2001. Perdamaian Memajukan Suatu Gerakan Global Jakarta: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.
“Pengaruh Loncat Katak Terhadap Hasil Lompat Jauh”
Haris Firmansyah
Keguruan Olahraga – Program Pascasarjana Universitas Nusantara PGRI Kediri
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh loncat katak terhadap hasil lompat jauh siswa putra SD Negeri 4 Kaweron 1 Talun Blitar. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 113 orang, yang terdiri dari 65 putra dan 48 putri SD Negeri Kaweron 1 Talun Blitar. Teknik Pengambilan sampel menggunakan cluster sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol sebanyak 34 siswa. Hasil dari penelitian yaitu uji- t menunjukkan bahwa lompat jauh mengalami peningkatan yang signifikan yaitu t hitung > t tabel (3,563 >2,210) dengan hasil pre-test sebesar 3,60 dan post-test sebesar 3,74. Dengan demikian ada pengaruh loncat katak terhadap hasil lompat jauh siswa putra SD Negeri Kaweron 1 Talun Blitar. Untuk meningkatkan hasil lompat jauh guru penjasorkes dapat melakukan upaya dengan memberikan latihan loncat katak kepada siswa.
Kata kunci: Lompat Jauh, Loncat katak, Hasil belajar lompat jauh.
PENDAHULUAN
seperti yang dikenal sekarang yang salah satunya terdapat bagian yang disebut melompat.
Menurut Aip Syaifuddin (1992:90), “melompat adalah salah satu bagian dari olahraga atletik. Dalam olahraga atletik dikenal beberapa jenis nomor lompat, yaitu lompat jauh, lompat jangkit atau lompat tiga, lompat tinggi, dan lompat galah. Keempat jenis nomor lompat ini selalu dilombakan dalam kejuaraan nasional, regional ataupun internasional. Sebagai nomor lompat yang selalu dilombakan, keempat jenis lompat ini harus selalu dibina dan dikembangkan prestasinya sedini mungkin. Dengan kata lain, pembinaan harus dimulai dari usia dini. Oleh karena itu, melalui pengembangan dan pembinaan masyarakat, olahraga wajib diajarkan di sekolah-sekolah, mulai dari Sekolah Tingkat Dasar (SD), Sekolah Tingkat Pertama dan Sekolah Tingkat Menengah, bahkan hingga Perguruan Tinggi melalui mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
Menurut Gunther Bernhard dalam (Almendi Iqbal, 2010:2), “lompat jauh yang benar perlu memperhatikan unsur-unsur awalan, tolakan, sikap badan di udara (melayang), dan mendarat”. Untuk mencapai prestasi yang baik dalam lompat jauh, perlu didukung latihan yang baik melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dengan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan latihan untuk mencapai prestasi ada beberapa unsur yang perlu diperhat ikan dan ditingkatkan. Unsur tersebut, menurut M. Sajoto (1988:15), di antaranya ialah: 1) Unsur fisik yang lebih populer dengan kondisi fisik; 2) Unsur teknik; 3) Unsur mental; dan 4) Unsur kematangan juara.
latihan fisik, yaitu loncat katak. Gerakan loncat katak adalah gerakan meloncat-loncat dengan dua kaki ke depan. Saat ini meskipun lompat jauh kurang begitu populer dibandingkan olahraga lainnya, tetapi olahraga ini juga sering dipertandingkan disetiap ajang perlombaan atletik. Pada dasarnya siswa diberikan pembelajaran lompat jauh disekolah namun pembelajaran itu hanya sebatas pengetahuan umum. Siswa umumnya sering melakukan gerakan lompat jauh berulang-ulang untuk meningkatkan kemampuan melompatnya, sehingga kemampuan melompat siswa pun masih belum terlatih. Berdasarkan uraian di atas bahwa pencapaian prestasi atlet lompat jauh dipengaruhi berbagai aspek dan faktor-faktor penunjang lain. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitian, yaitu: “Pengaruh Latihan Loncat Katak Terhadap Hasil Lompat Jauh Siswa SDN KAWERON 1 TALUN BLITAR”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Menurut Sugiyono (2011:107) penelitian eksperimen diartikan sebagai metode peneltian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Eksperimen bertujuan untuk mengetahui pengaruh tertentu terhadap yang lain yang bersifat sebab-akibat. Adapun bentuk penelitian ini menggunakan True-eksperimental design. Suharsimi Arikunto (2010:125) mengemukakan
post-test untuk mengukur hasil akhir. Bentuk desain penelitian menggunakan
Pre- test-Post-test Control Group Desain. Paradigma penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
E O1 X O2 ---K O3 O4
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:117). Populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Berdasarkan penelitian di atas maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang terdiri dari empat kelas di SD Negeri KAWERON TALUN BLITAR yaitu X A, X B dan X C, X D yang berjumlah 113 siswa, yang terdiri dari 65 putra dan 48 putri.
Sugiyono (2011:118) mengatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Penentuan sampel dalam penelitian menggunakan teknik cluster sampling, atau acak kelas. Kemudian mengacak empat kelas tersebut dengan cara pengundian, untuk mengambil dua kelas hasil yang didapat adalah X C sebagai kelas eksperimen dan X D sebagai kelas kontrol. Kemudian setelah mendapat kelas kontrol dan kelas eksperimen, peneliti mengambil total sampel dalam penelitian ini yang berada dikelas X C sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 17 orang dan kelas X D sebagai kelas kontrol berjumlah 17 orang.
memperoleh latihan loncat katak. Dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik, yaitu melalui pengaplikasian rumus uji-t, dengan alasan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang berupa angka-angka. Oleh karena itu dalam penelitian ini terdapat nilai suatu tes dari data kelompok eksperimen yang sudah dicocokkan pada masing-masing individunya maka untuk pengetesan signifikan menggunakan uji-t dengan rumus pendek
(short methode) sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2002:275).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:97), “Penelitian yang mengkaji tentang pengaruh atau hubungan sebab-akibat (eksperimen) selalu menggunakan hipotesis, dengan tujuan untuk menguji kebenaran sebuah teori atas suatu pengetahuan (hubungan sebab-akibat). Dalam penelitian ini, data dianalisa secara manual dengan menggunakan kalkulator TI-59 Emulator v1.1 dan program Microsoft Office Excel XP
untuk mendapatkan tingkat penghitungan dan hasil yang lebih akurat dan mudah untuk dipahami.
Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah memberikan perlakuan berupa loncat katak. Tes pertama (pre-test) bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diberikan perlakuan pada siswa, sedangkan pelaksanaan tes kedua atau tes akhir (post-test) bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan lompat jauh setelah diberikan perlakuan.
Berikut ini disajikan hasil tes kelompok eksperimen sebagai berikut:
1. Kelompok eksperimen
Tabel 1 Deskripsi data tes lompat jauh kelompok eksperimen
Rata-rata 3,60 meter 3,79 meter
Maksimal 4,00 meter 4,21 meter
Minimal 3,34 meter 3,50 meter
Sesuai dengan tabel 1 di atas, maka dapat diberikan penjelasan, sebagai berikut:
Data hasil pre-test menunjukkan lebih rendah dibandingkan dengan data hasil post-test. Ini berarti bahwa ada peningkatan kemampuan lompat jauh yang dilakukan, terbukti rata-rata hasil lompat jauh siswa pada pre-test adalah 3,60 meter, sedangkan pada post-test 3,79 meter. Sebagaimana terlihat pada grafik sebagai berikut :
Grafik 1 Pre-test dan Post-test Kelompok Eksperimen
3.5 3.55 3.6 3.65 3.7 3.75 3.8
Pre test Post test
Dengan demikian disimpulkan bahwa loncat katak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan lompat jauh siswa. Terbukti, hasil lompatan maksimal pada pre-test adalah 4,00 meter dan minimal 3,34 meter, sedangkan pada post-test meningkat menjadi maksimal 4,21 meter dan minimal 3,50 meter.
2. Kelompok Kontrol
Rata-rata 3,52 meter 3,50 meter
Maksimal 4,19 meter 4,08 meter
Minimal 3,25 meter 3,25 meter
Sesuai dengan tabel 2 di atas, maka dapat diberikan uraian, sebagai berikut:
Data hasil pre-test menunjukkan lebih tinggi dibandingkan dengan data hasil post-test. Ini berarti bahwa tidak terjadi perubahan yang signifikan terhadap kemampuan lompat jauh yang dilakukan, terbukti rata-rata hasil lompat jauh siswa pada pre-test adalah 3,52 meter, sedangkan pada post-test 3,50 meter. Sebagaimana terlihat pada grafik 2 sebagai berikut :
Grafik 2 Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol
3.49 3.495 3.5 3.505 3.51 3.515 3.52
Pre test Post test
Dengan demikian disimpulkan bahwa tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan lompat jauh siswa. Terbukti sebagaimana terlihat pada tabel 2 di atas, hasil lompatan maksimal pada pre-test adalah 4,19 meter dan minimal 3,25 meter, sedangkan pada post-test menurun menjadi maksimal 4,08 meter dan minimal 3,25 meter.
Tabel 3 Data Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Sampel Pre-test Post-test Sampel Pre-test Post-test
1 4 4,21 1 3,36 3,36
2 3,92 4,10 2 3,61 3,72
3 3,86 3,90 3 3,50 3,54
4 3,72 3,81 4 3,30 3,34
5 3,41 3,53 5 3,34 3,37
6 3,62 3,64 6 4,19 4,04
7 3,45 3,65 7 3,32 3,40
8 3,34 3,50 8 3,65 3,64
9 3,70 3,82 9 3,43 3,45
10 3,53 3,62 10 3,60 3,57
11 3,41 3,60 11 3,25 3,25
12 3,70 3,86 12 3,42 3,42
13 3,52 3,54 13 3,53 3,53
14 3,46 3,67 14 3,32 3,30
15 3,41 3,63 15 4,10 4,11
16 3,61 3,79 16 3,53 3,54
17 3,53 3,73 17 3,38 3,37
∑ (Total) 61,19 63,60 - 59,83 59,95
Rata-rata 3,60 3,74 - 3,52 3,51
Max. 4,00 4,21 - 4,19 4,11
Dari tabel 3 menunjukkan adanya peningkatan pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi perubahan yang signifikan dalam hasil lompat jauhnya. Perubahan yang ada pada kelompok eksperimen terjadi karena pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa loncat katak sebanyak 12 kali sebelum dilakukan post-test, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan apapun melainkan pelajaran umum tentang lompat jauh.
Setelah dilakukan penghitungan melalui pengaplikasian rumus uji-t didapatkan data, sebagai berikut: Diketahui rata-rata pre-test lompat jauh sebesar 3,60 meter dengan lompatan maksimal 4 meter dan minimal 3,34 meter, dan rata-rata post-test sebesar 3,79 meter dengan lompatan maksimal 4,21 meter dan minimal 3,50 meter. Hasil dari perhitungan uji-t untuk tes lompat jauh kelompok eksperimen memiliki nilai ttest sebesar 9,85883, sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% dan d.b. (derajat kebebasan) 16 adalah 2,120.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai ttest kelompok eksperimen (9,85883) > ttabel (2,120), dengan demikian penelitian ini signifikan. Dengan kata lain ada pengaruh loncat katak terhadap hasil lompat jauh pada siswa putra SDN Negeri KAWERON 1 TALUN BLITAR sebesar 5,36% sehingga hipotesis alternatif dalam penelitian ini diterima.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Ada pengaruh loncat katak terhadap hasil lompat jauh pada siswa putra SDN Kaweron 1 Talun Blitar sebesar 5,36%, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi perubahan yang signifikan.
Saran
Selain itu pendidik dapat memberikan latihan tambahan untuk menambah kemampuan lompat jauhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Atiq, Ahmad. 2010. Buju Ajar Ilmu Kepelatihan Dasar. Pontianak: Universitas Tanjung Pura Pontianak.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. EdisiRevisi V. Jakarta: Rineka Cipta.
Consuelo G. Sevilla, dkk. 2006. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Indonesia.
Iqbal,Almendi. 2010. PengaruhLatihan Vertical Jumps dan Loncat Katak Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok. Malang: Budi Utomo Malang.
Ma’mur Asmani, Jamal. 2011. Tuntunan Lengkap Metedologi Praktis PenelitianPendidikan. Jogyakarta: Diva Press.
Munasifah. 2008. Atletik Cabang Lompat. Semarang: Aneka Ilmu.
Sajoto, M. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondis Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize. Sugiyono. 2011.
“Instrumen Tes Bola Basket Mini Pada Sekolah Dasar Kelas Atas dasar bola basket mini yang diharapkan memiliki koefisien validitas dan reliabilitas yang tinggi, dan norma pada anak SD kelas atas. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Kras I, Jln. Setia Bakti No. 326 Kec. Kras Kab. Kediri Kode Pos 64172. Waktu penelitian ini dilakukan pada Februari – Maret 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik korelasi. Populasi berjumlah 26 orang siswa dengan teknik pengambilan purposive sampling.
Pengambilan data menggunakan tes yang sudah dimodifikasi dari
Dasten Basket Ball Test Terdiri 3 aitem yaitu : Lari 10 M, Passing ke dindinbg selama 15 detik, dan Vertical Jump Hasil analisis data menunjukan bahwa pengukuran instrumen tes bola basket tersebut memiliki validitas, reliabilitas, dan norma. Tes lari 10 M nilai reliabilitas 0,718, tes melempar bola kedinding nilai reliabilitas 0,759, tes vertical jump dengan nilai reliabilitas 0,752 . Dari ketiga nilai r hitung semua lebih besar daripada r table, sehingga ketiga item tersebut valid.
Kata Kunci: Keterampilan Bola Basket Mini, Dasten Basket Ball Test
PENDAHULUAN
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3).
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial, (2) mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani, (3) memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali, (4) mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan, (5) berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang, (6) menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan olahraga.
Permainan bola basket pada zaman sekarang ini banyak sekali peningkatan dan semakin banyak digemari oleh masyarakat, khususnya di Indonesia bahkan telah menjadi trend setter bagi kalangan remaja-remaja. Walaupun bola basket adalah olahraga untuk kalangan muda dengan mayoritas pemain adalah kaum pria, namun sekarang bola basket juga dimainkan oleh anak-anak yang akan menginjak masa remaja serta dari segala usia dan ukuran tubuh bahkan oleh mereka yang cacat fisik. Dikalangan pelajar baik itu dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas bahkan tingkat Mahasiswa permainan bola basket banyak digemari.
Bola basket dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari 5 orang pemain, sedangkan pemain pengganti sebanyak-banyaknya 7 orang, sehingga tiap regu paling banyak terdiri dari 12 orang. Tujuan dari masing-masing tim adalah untuk mencetak angka ke keranjang lawan dan berusaha mencegah tim lawan mencetak angka (PERBASI, 2008: 1). Permainan bola basket memiliki teknik dasar permainan, yakni: (1) melempar bola dan menangkap bola, (2) menggiring bola, (3) menembakkan bola ke dalam keranjang, (4) bertumpu pada satu kaki, (5) memasukan bola dengan irama tiga langkah (lay up-shout).
Permainan bola basket haruslah diperkenalkan sejak usia dini, karena pada masa anak-anak pertumbuhan fisik maupun mentalnya sudah matang. Pertumbuhan yang tampak jelas adalah pertumbuhan panjang lengan dan kaki, koordinasi antara tangan dan mata serta kaki dan mata, bertambah baik pula. Keberanian juga lebih berkembang. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
Dalam hal ini permainan bola basket banyak mengalami perubahan-perubahan yang sangat mendasar, yakni dengan adanya permainan bola basket mini. Permainan bola basket timbul karena ada kesadaran bahwa untuk menjadi seorang pemain yang besar dan hebat haruslah dilatih sejak kecil. Maka diciptakanlah permainan bola basket dengan alat, fasilitas serta peraturan yang benar-benar sesuai dan dikondisikan untuk anak-anak. Dengan tujuan agar mengenal dasar-dasar bola basket sedini mungkin.
professional, tetapi membuatnya menjadi suatu kegiatan yang edukasional dan dapat dinikmati oleh anak-anak tersebut.
Modifikasi terhadap permainan bola basket hendaknya disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan siswa. Permainan bola basket untuk orang dewasa tidak boleh digunakan untuk siswa. Dalam hal ini Siedentop (1994:69) menegaskankan bahwa dalam usaha pengembangan model permainan, perlu diperhatikan rambu-rambu berikut ini: (1) memodifikasi aktivitas untuk meratakan kompetisi, (2) mengurangi jarak, (3) memberikan kesempatan lebih untuk mencetak skor, (4) menganalisa posisi sesuai dengan kemampuan siswa yang cacat, (5) memberikan peralatan yang disesuaikan untuk membuat penampilan lebih mudah. Terdapat beberapa kunci atau strategi untuk memodifikasi sebuah permainan yang menyenangkan dan berpetualang serta membuat anak menjadi sukses dalam mengikuti permainan, Siedentop (1994:60-64) mengemukakannya sebagai berikut: (1) membuat cara untuk mencetak skor atau angka dengan mudah, (2) memperlambat pergerakan bola atau obyek, (3) meningkatkan kesempatan untuk latihan teknik dan taktik, (4) dimungkinkan melakukan permainan secara teratur untuk memunculkan terjadinya mempelajari taktik, (5) Merubah peraturan-peraturan dalam penskoran.
METODE PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Nilai koefisien validitas dan reliabilitas tes keterampilan bola basket mini the 40 – feet dash, Wall bounce, vertical Jump pada anak putra usia 10 – 12 th. 2) Norma tes keterampilan bola basket mini the 40 – feet dash, Wall bounce, Vertical Jump pada anak putra usia 10 – 12 tahun.
Negeri Kras I, SD Negeri Kras II, SD Negeri Banjaranyar I danb SD Negeri Banjaranyar II Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah pada siswa putra sekolah dasar kelas atas (IV, V dan VI). yang mengikuti ekstra bola basket. Sampel pada penelitian ini berjumlah 26 siswa putera. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini adalah tes keterampilan Dasten Basket Ball Test yang dimodifikasi oleh penulis. Dengan masing-masing butir-butir tes sebagai berikut: 1) Speed (kecepatan) lari dengan jarak 10 meter, 2) Wall bounce: tes passing ketembok selama 15 detik dengan jarak 1,6 M, 3) Vertical Jump: Tes “tes melompat
HASIL PENELITIAN
Deskripsi data yang disajikan adalah deskripsi penyusunan instrumen tes keterampilan bola basket mini Dasten Basket Ball Test, 1)
Speed (kecepatan) lari dengan jarak 10 meter, 2) Wall bounce: tes passing ketembok selama 15 detik dengan jarak 1,6 M, 3) Vertical Jump: tes melompat.
Tabel 1 Hasil Tes Modifikasi Dasten Basket Ball Untuk Umur 8 – 12 Tahun
NO LARI 10 M PASS KEDINDING VERTICAL JUMP
Tabel 3 Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0,784 3
Dari tabel 3 di peroleh nilai reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,784. Jika nilai tersebut diatas 0,6 maka dapat disimpulkan memiliki reliabilitas yang baik. Nunnally (1967) mengatakan batas minimal reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha adalah 0,6. Sumber lain mengatakan batas tersebut adalah 0,5 dan sumber lainnya adalah 0,4.
Tabel 4 Item-Total Statistics
Nilai r tabel dengan N = 26 (df = 24) adalah 0,388 pada taraf signifikansi 0,05.
Dari tabel 4 diperoleh nilai lari 10 meter sebesar 0,718 wall pass sebesar 0,759 dan vertical jump sebesar 0,752. Dari ketiga nilai r hitung semua lebih besar daripada r table, sehingga ketiga item tersebut valid.
PEMBAHASAN
Bola basket mini merupakan bentuk permainan olahraga dari hasil modifikasi bola basket yang disesuaikan dengan siswa Sekolah Dasar, hal ini seperti arti Bola Basket mini, yaitu suatu permainan yang didasarkan atas bola basket bagi anak laki-laki atau perempuan yang berumur dua belas tahun atau kurang (Anon, 2000:11). Sedangkan menurut pendapat lain Bola Basket Mini merupakan suatu bentuk penyederhanan peraturan kegiatan jasmani guna memberikan pengalaman gerak siswa-siswi Sekolah Dasar yang sesuai dengan tingkat kematangan kognitif dan motorik siswa (Matakupan, 1995:100).
Permainan bola basket ini hendaknya dianggap sebagai olahraga yang dapat diajarkan sejak anak masih kecil. Para guru sering kali menunda mengajarkan olahraga ini sampai anak mencapai usia tigabelas atau empatbelas tahun. Cara berpikir terbaru mengenai bidang pendidikan menyebabkan olahraga bola basket ini menjadi populer disekolah-sekolah, dimana anak laki-laki dan wanita dapat bermain bersama dalam suatu team.
Mini bola basket ini persis sama dengan apa yang disebut “biddy bola basket” yang banyak dimainkan di Amerika oleh anak-anak berusia antara delapan sampai duabelas tahun. Yang digunakan adalah bola yang berukuran lebih kecil dan ringan (Vic Ambler, 2000:8).
Permainan Bola Basket mini
dilaksanakan oleh orang dewasa. Artinya aktivitas gerak yang dilakukan kaya akan bentuk-bentuk kegiatan jasmani. Hal ini seperti dijelaskan dalam peraturan bola basket mini yang dikeluarkan oleh PERBASI, bahwa Bola Basket Mini adalah bentuk pengalaman gerak yang kaya dan unik untuk anak laki-laki dan perempuan guna diperkenalkan kepada bola basket, meratakan jalan untuk keterlibatan mereka dalam olahraga itu. Didasari pada prinsip-prinsip pendidikan yang memberikan mereka kesempatan untuk perkembangan fisik, intelektual, emosional anak-anak (Anon, 2000:8).
Permainan bola basket mini pada dasarnya memberikan sarana pengalaman gerak yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan pertumbuhan intelektual, motorik siswa Sekolah Dasar. Selain daripada itu guna memperkenalkan siswa terhadap jenis permainan olahraga sehingga dalam berbagai kesempatan dapat melakukannya. Permainan bola basket mini memiliki ciri-ciri antara lain: 1) ukuran lapangan, 2) jumlah pemain, 3) waktu bermain (Imam Sodikun, 1992:11-16).
Berdasarkan hal tersebut, maka permainan bola basket mini adalah salah satu permainan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan pertumbuhan siswa Sekolah Dasar dengan memodifikasi ukuran lapangan dan waktu permainan. Keterampilan bola basket yang diterapkan pada anak-anak berusia 13 tahun kebawah adalah sama dengan orang dewasa. Keterampilan dasar yang diajarkan pada anak-anak antara lain: 1) teknik melempar dan menangkap, 2) teknik menggiring bola, 3) teknik menembak. Melempar dan menangkap merupakan salah satu skill dasar dalam permainan bola basket yang sangat dibutuhkan oleh setiap pemain, sebab hampir sebagian besar permainan bola basket menggunakan lemparan dan tangkapan. Untuk menguasai keterampilan tersebut, diperlukan penguasaan gerakan sehingga sasaran yang diinginkan dapat tercapai.
sama tentang suatu variabel atau unsur-unsurnya jika diulangi pada waktu yang berbeda pada sekelompok individu yang sama. Suatu tes harus memiliki tingkat ketepatan yang tinggi dalam mengungkapkan bidang yang jadi masalah penelitian. Yang terpenting dalam pemilihan baterai tes ini adalah harus benar-benar memiliki koefisien korelasi yang tinggi dengan cabang olahraga tersebut, karena baterai tes ini dugunakan untuk mengetahui kemampuan atlit dalam suatu cabang olahraga.
Berikut di bawah ini penjelasan perbedaan antara Dasten Basket Ball Test
dengan modifikasi Dasten Basket Ball Test.
lebih pendek. signifikan dari masing-masing item tes, karena nilai r lebih besar dari pada r tabel.
Saran
Berdasarkan hasil penelitan tersebut di atas, maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: 1) Pembina bola basket diharapkan dapat mempergunakan instrumen tes ini sebagai alat ukur dalam penelitian tes keterampilan tehnik dasar bola basket. 2) Disarankan agar diadakan penelitian lanjutan untuk menghasilkan suatu instrumen baku sebagai alat dalam mencari calon atlet bola basket mulai dari usia 10 – 13 tahun keatas.
Anas Sudijono. 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Anon. 1993. Fisiologi Dasar dan Anatomi. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Penataran KONI Pusat.
Danu Hoedaya. 2001. Pendekatan Keterampilan Taktis dalam Pembelajaran Bola Basket. Departemen Pendidikan Nasional: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Peraturan Bola Baket Mini. Jakarta: Direktorat Keolahragaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djauhar Ismail. 1990. Tumbuh Kembang Anak: Kursus Penyegaran IDAI cabang Yogyakarta. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
“Kebijakan Pemerintah Tentang Pembinaan Olahraga Rekreasi Di Kota Surakarta”
(Evaluasi Tentang Kelayakan Sumber Daya Manusia, Ketersediaan Fasilitas Olahraga dan Bantuan Teknis dalam Olahraga Rekreasi)
Mokhammad Firdaus1 dan M. Anis Zawawi2 Dosen Penjaskesrek Universitas Nusantara PGRI Kediri
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk: (1) Mengevaluasi tentang kebijakan pembinaan olahraga rekreasi. (2) Mengevaluasi tentang kelayakan sumber daya manusia dalam olahraga rekreasi di Kota Surakarta. (3) Mengevaluasi tentang ketersediaan fasilitas olahraga rekreasi di Kota Surakarta (4) Mengevaluasi tentang bantuan teknis dari pemerintah kota surakarta terhadap olahraga rekreasi di Kota Surakarta.
Penelitian ini dilakukan kepada organisasi olahraga yang mengurusi tentang olahraga rekreasi di Kota Surakarta yaitu FORMI. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian kebijakan Pemerintah tentang pembinaan olahraga rekreasi di kota Surakarta. Sumber data berupa dokumen peraturan daerah tentang olahraga rekreasi, dan dokumen tentang olahraga rekreasi, dan informan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengkaji dokumen dan arsip (content analysis), wawancara mendalam (in-depth interviewing) dan observasi (observation). Teknik analisis data yaitu dengan reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perencanaan pembinaan olahraga rekresasi sudah ada dan berjalan FORMI sebagai lembaganya dimana dari PP no 16 tahun 2007 pasal 93 ayat 3 tentang standar minimal pelayanan olahraga rekreasi sudah terlaksana seperti sanggar, pelatihan, perlombaan, sarpras, pendanaan. (2) Ketersediaan sumber daya manusia olahraga rekreasi belum sesuai SDI yaitu sebesar 0.002 akan tetapi sumber daya manusia diluar FORMI banyak yang sudah melakukan kegiatan olahraga rekreasi (3) Ketersediaan fasilitas olahraga rekreasi yang ada bermacam dari kwalitas dan kwantitas akan tetapi ruang terbuka yang disediakan pemerintah untuk masyarakat melakukan kegiatan rekreasi atau olahraga yang sifatnya rekreasi sudah tersedia luas ruang terbuka yang disedikan pemerintah sebesar 366.144,44 m2 dengan nilai
aktual sebesar 1,26 m2 (4) Bantuan teknis dari pemerintah kota berupa
dana masih kurang tetapi bantuan yang diberikan pemerintah untuk masyarakat menggunakan fasilitas yang disediakan untuk melakukan kegiatan olahraga rekreasi sangat baik.
PENDAHULUAN
Ruang terbuka merupakan salah satu factor utama dalam perkembangan olahraga, mungkin timbul pertanyaan mengapa dikatakan demikian? Penulis akan menjelaskan secara logika bahwa, apabila tidak ada ruang terbuka atau lebih dikenal dengan sebutan fasilitas olahraga, maka tidak akan ada yang namanya partisipasi masyarakat dalam kegiatan berolahraga sehingga kebugaran jasmani pada masyarakat daerah tersebut tidak akan terwujud. Fasilitas olahraga merupakan kebutuhan dasar untuk melakukan aktivitas olahraga. Tanpa adanya fasilitas olahraga yang memadai sulit untuk mengharapkan partisipasi masyarakat atau publik dalam aktivitas olahraga, seperti yang dikemukakan oleh Maksum (2004) bahwa : Semakin banyak fasilitas olahraga yang tersedia, semakin mudah masyarakat menggunakan dan memanfaatkannya untuk kegiatan olahraga. Sebaliknya, semakin terbatas fasilitas olahraga yang tersedia, semakin terbatas pula kesempatan masyarakat menggunakan dan memanfaatkan untuk kegiatan olahraga. Dengan demikian, ketersediaan fasilitas olahraga akan mempengaruhi tingkat dan pola partisipasi masyarakat dalam berolahraga.
sangat dibutuhkan sebagai bentuk pertanggung-jawaban publik, terlebih di masa masyarakat yang makin kritis menilai kinerja pemerintah.
HAKEKAT OLAHRAGA
Olahraga adalah gerak. Gerak merupakan kebutuhan hakiki bagi manusia. Kebutuhan gerak ini adalah gerak spesifik dan dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan. Gerak adalah kebutuhan dasar bagi manusia, sama halnya seperti makan dan minum. Salah satu karakteristik makhluk hidup di dunia ini, termasuk manusia adalah melakukan gerakan. Antara manusia dan aktivitas fisik merupakan dua hal yang sulit atau tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat bahwa sejak manusia pada jaman primitif hingga jaman moderen, aktivitas fisik atau gerak selalu melekat dalam kehidupan sehari-harinya. Neilson (1978 : 3) mengemukakan bahwa manusia berubah sangat sedikit selama 50.000 tahun yang berkaitan dengan organisasi tentang struktur dan fungsi yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa perubahan utama bukan pada manusianya, melainkan pada kebutuhan dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan besar di dalam lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia. Manusia berusaha memodifikasi lingkungannya dengan mencoba-coba, eksplorasi dan dengan eksploitasi. Pada jaman primitif gerakan pada mulanya merupakan gejala emosional murni yang dilakukan manusia untuk kesenangan dan komunikasi dengan dewa. Selanjutnya, gerakan berkembang dari pelaksanaan gerak yang tidak terencana ke kondisi gerak yang hingar-bingar pada upacara seremonial dan komunikasi untuk kerja seni.
OLAHRAGA REKREASI
komitmennya”. Sedangkan Menurut Aip Syaifuddin (1990) olahraga rekreasi adalah jenis kegiatan olahraga yang dilakukan pada waktu senggang atau waktu-waktu luang. Kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga, permainan, dan hobi dan kegiatan rekreasi umumnya dilakukan pada akhir pekan. kegiatan rekreasi merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Kegiatan tersebut ada yang diawali dengan mengadakan perjalanan ke suatu tempat dan sebagainya. Secara psikologi banyak orang di lapangan yang merasa jenuh dengan adanya beberapa kesibukan dan masalah, sehingga mereka membutuhkan istirahat dari bekerja, tidur dengan nyaman, bersantai sehabis latihan, keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, mempunyai teman bekerja yang baik, kebutuhan untuk hidup bebas, dan merasa aman dari resiko buruk. Melihat beberapa pernyataan di atas, maka rekreasi dapat disimpulkan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan sebagai pengisi waktu luang untuk satu atau beberapa tujuan, diantaranya untuk kesenangan, kepuasan, penyegaran sikap dan mental yang dapat memulihkan kekuatan baik fisik maupun mental.
maupun oleh organisasi olahraga dan masyarakat sendiri, melalui penetapan Visi "Indonesia Bugar 2020".
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Kebijakan dipelajari dalam ilmu kebijakan (policy science), yaitu ilmu yang berorientasi kepada masalah kontekstual, multi disiplin, dan bersifat normatif, serta dirancang untuk menyoroti masalah fundamental yang sering diabaikan, yang muncul ketika warga negara dan penentu kebijakan menyesuaikan keputusannya dengan perubahan-perubahan sosial dan transformasi politik untuk melayani tujuan-tujuan demokrasi (Lasswell dalam Kartodiharjo, 2009). Dalam pembangunan olahraga, hasil utama yang telah dicapai adalah terumuskannya konsep kebijakan yang mendukung perkembangan olahraga nasional dan pedoman mekanisme pembinaan olahraga dan kesegaran jasmani; dan tersusunnya Rancangan Undang-Undang Olahraga untuk mendukung perkembangan olahraga nasional, dan tersusunnya Sport Development Index (SDI). Selain itu, untuk meningkatkan upaya pemanduan bakat dan pembibitan olahraga telah dilaksanakan pembinaan olahraga di kalangan pelajar termasuk pelajar penyandang cacat, organisasi olahraga dan masyarakat dan meningkatnya jumlah pelatih, peneliti, praktisi, dan teknisi olahraga yang mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan standar kompetensi serta meningkatnya jumlah dan mutu bibit olahragawan.
SUMBER DAYA MANUSIA
dilingkunganorganisasi adalah antara pemimpin dengan para pekerja (staf) yang ada di bawahnya.
FASILITAS OLAHRAGA
Fasilitas olahraga didalamnya terdiri dari sarana dan prasarana penunjang aktivitas olahraga. Sarana sendiri merupakan salah satu unsur penting yang harus tersedia dalam olahraga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 : 999) dijelaskan bahwa Sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan”. Dalam olahraga sendiri terdapat banyak alat yang digunakan baik untuk bermain, berlatih maupun bertanding dalam event olahraga.Mengkaji tentang pelayanan publik, maka tidak terlepas dari pembahasan tentang teori-teori kebijakan secara umum maupun implementasi kebijakan publik itu sendiri. Penyediaan fasilitas olahraga merupakan salah satu bentuk kebijakan publik yang mana telah diatur dalam Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 Tahun 2005. Kualitas pelayanan publik yang semakin baik dapat diartikan bahwa implementasi kebijakan telah dilakukan sesuai aturan dan sesuai dengan daya dukung atau sumberdaya yang disediakan dari apartur pemerintah yang meliputi prasarana-sarana pelayanan yang memadai maupun transparansi pelayanan. Kebijakan publik yang baik tidak terlepas juga dari proses perumusan kebijakan yang mencerminkan kebutuhan masyarakat.
BANTUAN TEKNIS
fokus perhatian akan lebih diberikan pada Penasehatan, Pendampingan, dan Kerjasama Pendanaan. Penyusunan oleh Pusat hanya akan dilakukan dalam kondisi dan situasi dimana daerah benar-benar tidak mempunyai sumber daya (dana dan tenaga) yang cukup memadai.
METODOLOGI PENELITIAN Tempat Penelitian
Untuk memperoleh berbagai keterangan yang dibutuhkan, maka penelitian ini dilaksanakan di Kota Surakarta.
Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan, dalam penelitian ini adalah Penelitian evaluasi.
Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini subyek yang diteliti adalah kelayakan sumber daya manusia, ketersediaan fasilitas olahraga dan bantuan teknis dalam olahraga rekreasi.
Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan teknik non-tes (survey). Teknik ini digunakan untuk mengungkapkan data tingkat ketersediaan fasilitas olahraga, dengan cara peneliti langsung turun ke lapangan atau daerah penelitian untuk mengamati dan mewawancarai orang-orang yang berkepentingan di daerah tersebut, adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah memgkaji dokumen, wawancara, observasi
Validitas data
Teknik analisis data
Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan analisis dokumen selanjutnya diolah, diinterpretasikan dengan memfokuskan penajaman makna yang seringkali banyak dilukiskan dalam kata-kata dari pada angka-angka dan sejauh mungkin dalam bentuk aslinya (Lexy Moleong 1990; 6). Oleh karena itu, dalam proses analisis penelitian kualitatif ini terdapat tiga komponen utama yang harus benar-benar dipahami oleh setiap peneliti kualitatif. Tiga komponen utama analisis tersebut adalah reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan serta virifikasinya (Miles & Huberman dalam HB. Sutopo 2006; 113).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kebijakan Pembinaan Olahraga Rekreasi