KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul “Pemasaran Ditinjau dari Perspektif Islam”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kegitan Usaha Bank. Dalam makalah ini membahas tentang Pengertian pemasaran dalam perspektif islam dan Al-Qur’an.
Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri penulis dan khususnya untuk pembaca. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif dan membangun sangat kami harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.
Tanjung pura, 28 September 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumus Masalah...1
BAB II PEMBAHASAN...2
A. Pengertian Pemasaran...2
B. Pemasaran dalam perspektif Islam...3
C. Pemasaran Ditinjau dari Perspektif Islam dan Al-Qur’an...4
D. Prinsip Pemasaran Perspektif Syariah...5
BAB III KESIMPULAN...9
A. Kesimpulan...9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan sejarah manusia dalam memenuhi kebutuhannya, ada pihak yang meminta dan ada yang menawarkan. Pemasaran menarik perhatian yang sangat bessar baik dari perusahaan, lembaga maupun antar bangsa. Bergesernya sifat baik dari perusahaan, lembaga maupun antar bangsa. Berbagai organisasi dalam melaksanakan pemasaran seperti lembaga-lembaga pemerintah, orgnisasi keagamaan dan lain-lain memandang pemasaran sebagai suatu cara baru untuk berhubungan dengan masyarakat umum.
Dari Segi Pemasaran syariah pasar yang emosional (emotional market) dimana orang tertarik karena alasan keagamaan bukan karena keuntungan finansial semata, sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional (rational market) yaitu orang-orang cenderung berbisnis hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial yang sebesar-besarnya tidak peduli apakah itu halal atau haram.
B. Rumus Masalah
1. Apa yang dimaksud Pemasaran ?
2. Bagaimana Pemasaran dalam perspektif Islam ?
3. Bagaiman Pemasaran Ditinjau dari Perspektif Islam dan Al-Qur’an ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemasaran
Menurut Philip Kotler (2000), Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu da kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang kembali dengan pihak lain1.
Sofjan Assauri (2004) mengatakan bahwa pemasaran diartikan sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran2. Berdasarkan pengertian ini menurutnya pembahasan tentang
pemasaran dapat lebih jelas dan terbatas dalam batasan yang tegas, terkait dengan kegiatan pemasaran yang berlaku universal.
Pemasaran berasal dari kata “pasar”, yang mempunyai tiga arti seperti berikut ini3 :
1. Pasar dalam arti “tempat”, yaitu tempat bertemunya para penujal dan pembeli. Pasar dalam arti ini lebih tertuju pada pasar secara nyata di daman ada penjual yang menajajakan dagangannya di situ dan kemudian ada pembeli yang membeli secara langsung tatap muka di tempat itu.
2. Pasar dalam arti “interaksi permintaan dan penawaran”.Contohnya tidak lagi hanya berupa adanya pembeli dan penjual,tetapi juga adanya kebutuhan dan pasokan barang/jasa,seperti dalam istilah pasar modal di mana terdapat aktivitas jual-beli saham (dalam pecahan-pecahan tertentu).
3. Pasar dalam arti “sekelompok anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan dan daya beli”. Pengertian ini merujuk pada dua kata kunci “kebutuhan”dan “daya beli”.Orang-orang dengan kebutuhan terhadap barang tertentu belum di sebut
1 Philip kotler.Manajemen Pemasaran (edisi milineum 1).2000.hlm,9
2 Sofjan Assauri.Manajemen Pemasaran,dasar,Konsep & stategi.2004.hlm,5. 3 Hendri Ma’ruf,Pemasaran Ritel,Cet. 2 (Jakarta:PT Gramedia Pustaka
sebgai pasar jika mereka tidak dapat membeli barang dimaksud meskipun harganya hanya Rp.20.000. Sebaliknya ,ada orang-orang lain yang mempunyai uang tiga ratus ribu di kantongnya tetapi karena tidak ada kebutuhan barang itu, tidak juga menjadi pasar. Jadi,pasar dalam pengertian ketiga ini adalah
orang-orang yang menginginkan sesuatu barang dalam kemampuan untuk membeli.
B. Pemasaran dalam perspektif Islam
Pemasaran menurut perspektif syariah adalah aktivitas yang di jalankan dalam kegiatan bisnis berbentuk kegiatan penciptaan nilai (value creating activities) yang memungkinkan siapapun yang melakukannya bertumbuh serta mendayagunakan kemanfaatannya yang dilandasi atas kejujuran, keadlan, keterbukaan, dan keikhlasan sesuai dengan proses yang berprinsip pada akad bermuamalah islami atau perjanjian transaksi bisnis dalam islam
Menurut prinsip Syariah, kegiatan pemasaran harus di landasin semangat beribadah kepada Tuhan Sang Maha Kuasa, berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteran bersama, bukan untuk kepentingan golongan apalagi kepentingan sendiri.
Pemasaran dalam pandangan islam merupakan suatu penerapan disiplin strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Ide mengenai Pemasaran Syariah ini sendiri dikelurkan oleh dua orang pakar di bidang pemasaran dan syariah. Mereka adalah Hermawan Kertajaya, salah satu dari lima puluh orang guru yang telah mengubah masa depan dunia pemasaran bersama-sama dengan Philip Kotler, dan Muhammad Syakir sula, salah satu dari enam pemegang gelar profesional ahli Asuransi syariah juga CEO Batasa Tazkia Konsultan syariah yang cukup dikenal dikalangan perbankan dan Asuransi Syariah.
Sharia Marketing is a strategi busness discipilne that the process of creating,offering ,and changing value from one initiator to its stakeholdres, and the whole process should be in accordance with muamalah principles in islam.
Jika diterjemahkan pengertian dari Sharia Marketing di atas adalah sebagai berikut; Marketing Syariah adalah sebuah disiplin strategis yang mengarahkan proses penciptaan,penawaran,dan perubahan values dari satu inisiator kepada Stakeholder-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah islami.
C. Pemasaran Ditinjau dari Perspektif Islam dan Al-Qur’an
Menurut prinsip syariah, kegiatan pemasaran harus dilandasi semangat beribadah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan golongan apalagi kepentingan sendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan pada umatnya untuk berdagang dengan menjunjung tinggi etika keislaman. Dalam beraktivitas ekonomi, umat Islam dilarang melakukan tindakan bathil. Namun harus melakukan kegiatan ekonomi yang dilakukan saling ridho, sebagaimana firman Allah Ta’ala,4
ٍضاَرَََت ْنَع ًةَراَََجِت َنوََُكَت ْنَأ للِإ ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلاَوْمَأ اوُلُك
ْأَت َل اوُنَمَآ َنيِذللا اَُهيَأ اَي
) اًميِحَر ْمُكِب َناَك َ لا لنِإ ْمُكَسُفْنَأ اوُلُتْقَت َلَو ْمُكْنِم
29
(
Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian “.
( QS. An-Nisa ayat 29 )
Makna umum ayat :
Ayat ini menerangkan hukum transaksi secara umum, lebih khusus kepada transaksi perdagangan, bisnis jual beli. Sebelumnya telah diterangkan transaksi muamalah yang berhubungan dengan harta, seperti harta anak yatim, mahar, dan sebagainya. Dalam ayat ini Allah mengharamkan orang beriman untuk memakan, memanfaatkan, menggunakan, (dan segala bentuk transaksi lainnya) harta orang lain dengan jalan yang batil, yaitu yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Kita boleh melakukan transaksi terhadap harta orang lain dengan jalan perdagangan dengan asas saling ridha, saling ikhlas. Dan dalam ayat ini Allah juga melarang untuk bunuh diri, baik membunuh diri sendiri maupun saling membunuh. Dan Allah menerangkan semua ini, sebagai wujud dari kasih sayang-Nya, karena Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kita
Dari ayat tersebut dapat kita ketahui pula, pertama, perusahaan harus dapat menjamin produknya. Jaminan yang dimaksud mencakup dua aspek – material, yaitu mutu bahan, mutu pengolahan, dan mutu penyajian; aspek non-material mencakup kehalalan dan keislaman dalam penyajian.
customer dari produk yang dimiliki oleh perusahaan. Makanan yang halal dan baik yang menjadi darah dan daging manusia akan membuat kita menjadi taat kepada Allah. Sebab konsumsi yang dapat menghantarkan manusia kepada ketakwaan harus memenuhi tiga syarat: (1) Materi yang halal, (b) Proses pengolahan yang bersih (thaharah), dan (3) Penyajian yang islami.
D. Prinsip Pemasaran Perspektif Syariah
1. Sustainable Marketing Enterprise (SME)
Suatu model pemasaran dimana perusahaan mampu bertahan dan sukses tidak hanya pada saat ini tetapi juga dimasa mendatang. Bahwa perusahaan mengalami fase sebagaimana fase kehidupan manusia, yang harus mempertahankan diri pada saat terjadi krisis dan perubahan situasi dan kondisi. Jika perusahaan ingin tetap hidup , pemimpin perfusahaan harus melakukan tindakan creative destruction sebelum krisis menghadang5 sehingga perusahaan
mulai kembali siklus hidupnya.
Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang dapat mempertahankan keadaannya secara kontinyu agar dapat bertahan hidup dalam pasar yang terus berubah.
2. Lanskap Bisnis Syariah Marketing
Information Technology Allows Us to be Trasparent (Change)
Perubahan adalah sesuatu hal yang pasti akan terjadi. Kekuatan perubahan terdiri dari lima unsur yaitu perubahan tekhnologi, perubahan ekonomi, perubahan
5 David K. Hurst, Crisis &Renewal: Meeting the challenge of organizational Change, Harvard
poltik, perubahan sosial- cultural dan perubahan pasar. Perubahan yang paling utama adalah perubahan tehnologi, karena tehnologi akan memberi efek yang lebih luas terhadap segala aspek yang nantinya akan juga mengalami perubahan. Perkembangan tehnologi memberi pengaruh yang besar terhadap perusahaan syariah. Selain sebagai penunjang operasional dan standar layanan, tehnologi juga menunjukkan kesungguhan dalam melaksanakan prinsip syariah marketing. Kemudahan bagi konsumen untuk mendapatkan informasi dan melakukan komunikasi.
Be Respectul to Your Competitors (Competitor)
Globalisasi dan perubahan tehnologi menciptakan persaingan usaha yang ketat. Pasar semakin kompleks, terbuka dan modern. Dalam menghadapi persaingan dibutuhkan motivasi dan keterbukaan diri dengan berupaya menciptakan win-win solution antara perusahaan dan pesaingnya. Sebagai perusahaan syariah komitmen kejujuran, sikap adil, maslahah senantiasa menjadi standar dalam bersaing secara sehat meskipun pelaku pasar sering terjadi perilaku yang kurang bermoral.
The Emergence of Customers Global Paradox (Customer)
bermata dua tergantung cara dan sikap kita dalam mengambil manfaat didalamnya.
3. Syariah Marketing Value
Use a Spritual Brand (Brand)
Brand atau merek adalah suatu identitas terhadap produk atau jasa perusahaan. Brand mencerminkan nilai (value) yang diberikan kepada konsumen. Jika perusahaan mempunyai Total Get yang lebih tinggi dibandingkan Total Give, brand yang dimiliki mempunyai nilai ekuitas yang kuat. Selain itu positioning dan differentiation yang telah terbentuk, brand akan menambah value bagi produk dan jasa yang ditawarkan. Brand yang baik adalah brand yang mempunyai karakter yang kuat dan bagi perusahaan atau produk yang menerapkan syariah marketing atau prinsip-prinsip syariah. Yaitu brand yang tidak mengandung unsur judi, penipuan, riba, tidak mengandung unsur kezaliman dan tidak membahayakan pihak sendiri ataupun pihak orang lain.
Service Should Have The Ability to Transform (service)
memperhatikan sikap, pembicaraan yang baik, bahasa tubuh, bersifat simpatik, lembut, sopan, hormat dan penuh kasih sayang.
Practice a Realible Business Process (Proses)
Proses mencerminkan quality, cost dan delivery (QCD). Kualitas sautu produk ataupun service tergambar dari proses yang baik, dari proses produksi sampai delivery kepada konsumen secara tepat dan dengan biaya yang efektif dan efisien. Proses dalam konteks kualitas adalah bagaimana menciptakan proses yang mempunyai nilai lebih untuk konsumen. Proses dalam konteks cost adalah bagaimana menciptakan proses yang efisien yang tidak membutuhkan biaya yang banyak, tetapi kualitas terjamin. Sedangkan proses dalam konteks delivery adalah bagaimana proses pengiriman atau penyampaian produk atau servis yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen.
4. Syariah Marketing Scorecard
Create A Balanced Value to Your Stakeholders (scorecard)
Prinsip dalam syariah marketing adalah menciptakan value bagi stakeholders-nya. Tiga stakeholders dari suatu perusahaan adalah people, customers dan shareholders, karena ketiganya sangat berperan dalam menjalankan usaha. Hubungan horizontal dan hubungan vertikal harus dijaga dengan baik demi menjaga hubungan yang harmonis dengan stakeholders dan yang utama adalah hubungan dengan sang pencipta.
Create A Noble Cause (inspiration)
penentuan visi dan misi tidak bisa terlepas dari makna syariah itu sendiri serta tujuan akhir yang ingin dicapai. Tujuan akhir ini harus bersifat mulia, lebih dari sekedar financial semata.
Develop An Ethical Corporate Culture (Culture)
Perusahaan yang bertbasis syariah hendaknya mengembangkan budaya perusahaan sesuai syariah. Seluruh pola, perilaku, sikap dan aturan-aturan senantiasa tidak boleh terlepas dari basis syariah. Budaya dapat kita implementasikan seperti budaya salam, murah hati, ramah, melayani, disiplin, cara berbusana, teratur dan tertib, dan lingkungan kerja yang tenang, bersih dan indah.
Measurement Must Be Clear And Tranparent (Institution)
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Philip kotler. 2000. Manajemen Pemasaran (edisi milineum 1).
Sofjan Assauri 2004. Manajemen Pemasaran,dasar,Konsep & stategi.
Hendri Ma’ruf, 2006. Pemasaran Ritel,Cet. 2 Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama
David K. Hurst, Crisis & Renewal 1955. Meeting the challenge of organizational Change, Harvard Business Scool Press.