Tugas Individu
“MATA KULIAH SELAM ILMIAH”
OLEH :
NAMA : ANDI RESKI SETIAWAN NIM : L111 12 262
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
JURNAL 1
TINGKAT PERTUMBUHAN TERUMBU KARANG (Coral Reef) PADA TERUMBU BUATAN (Artificial Reef) DENGAN PENGKAYAAN KANDUNGAN ZIOLIT YANG
POTENSIAL
Dr. Ir.Guntun.MS, Hendra Nurcahyo,S.Pi.,MP dan Fuad,S.Pi.,MT
Abstrak
Coral reef has important role in coastal environment, biologically and ecologically. Restoration and conservation effort should be carried out continuously through artificial reef making. This study showed that the artificial reef was successfully inhabited by corals, particularly soft coral and hard coral. The artificial reef attracted fishes to live around them, it can be observed from fish school surrounding the artificial reef Growing corals identified are gorgonian, sponge and acropora. While fish species identified are Butterfly fish, Parrot fish, Haemulldae and Barramundi cod. Best shape of the artificial reef was "ball" or "stupa" shape. Technically, reef ball is capable to turn the sea current and inhabited by more corals. Water quality in artificial reef sites can be categorized as good with salinity ranged from 29,8 % - 33 % , temperature ranged from 29° to 30°C, DO ranged from 5,16 mg/l to 13,3 mg/l, turbidity ranged from 3,775 to
4,6 meters, and current speed ranged from 0,65 m/s - 0,98 m/s.
II. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret s a m p a i d e n g a n Desember 2009 di perairan Sendang Biru, Kabupaten Malang.
2.2 Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data adalah dengan menggunakan Quadran Transect. Seperti disarankan oleh Rogers S Caroline et all (1994) pada bukunya yang berjudul Caral Reef Monitoring Manual, disebutkan bahwa metode permanent quadrats transect adalah suatu metode yang mampu memberikan estimasi secara akurat luasan tutupan karang maupun komponen terumbu karang baik dipermukaan substrat alami maupun subtrat buatan atau dikenal dengan terumbu buatan ((artificial reef). Keakuratan data tersebut meliputi informasi kepadatan, ppulasi, keanekaragaman, kelimpahan dan ukuran koloni terumbu karang. Pada dasamya pengambilan data dengan menggunakan metode Quadrant Transect dengan kombinasi teknik fotografi. Hasilnya adalah media 2 dimensi yang dapat dianalisis dengan baik.
2.3 Mekanisme Pengambilan Data
Peralatan yang dipakai untuk pengambilan data adalah kamera digital yang telah dilengkapi dengan perangkat casing underwater. Kamera digital dengan merk komersial yaitu Canon Ixus dengan ketajaman 12 mega pixel. Dengan menggunakan ketajaman 12 mega pixel tersebut mampu merekam data dalam bentuk citra Image dengan ekstensi JPG secara akurat dan detail. Kamera digital ini juga dilengkap dengan fasilitas macro yaitu fasilitas pembesaran obyek secara digital dengan tingkat detail dan keakuratan image yang sangat tinggi. Fasilitas lainnya pada kamera jenis ini adalah adanya stabilizer. Stabilizer atau sering dikenal dengan
Image Stabilizer (I.S) adalah suatu fasilitas yang berfungsi untuk mengurangi efek guncangan yang mungkin terjadi ketika pengambilan gambar sedang berlangsung. Image Stabilizer, sangat berguna untuk menghasilkan gambar yang relatif tenang walaupun pengambilan gambar berada di dalam perairan yang relatif tidak stabil. Stabilizer pada kamera underwater yang digunakan ini adalah dengan menggunakan Digital Image Stabilizer yaitu fasilitas penstabil gambar yang dioperasikan secara digital. Keakuratan dan detailnya Image sangat menentukan dalam processing image dengan Digital Image Analysis Software.
1. Pembelokkan sinar. Pembelokan sinar di air akan menyebabkan : gambar menjadi tidak wajar, wama benda didalam air akan tampak berbeda dengan aslinya dan air menyebabkan gambar distorsi.
seolah melihat lensanya mempunyai depth o f field 25 persen lebih tebal.
3. Jarak pandang kamera terhadap obyek seolah menjadi 25 persen lebih dekat.
Untuk mengatasi permasalahan pengambilan data di dalam air (underwater) dibuat solusi dengan cara pengambilan citra image sebanyak-banyaknya terhadap obyek yang sama.
Citra Image tersebut akan tersimpan dalam memori yang dapat kita pilih dan tentukan keakuratannya di laboratorium pengolah data (Semedhi, 2008)
Gambar 1.Mekanisme pengambilan data bawah air (modifikasi dari metode Quadrant Transect)
2.4 Analisis Data
Pada penelitian ini menggunakan Digital Image Analysis, yaitu dengan menggunakan sofware ImageJ From NIH. Sofware ini mampu mendeteksi secara akurat luasan citra image yang ditentukan dan telah dipilih. Sofware ini dikombinasikan dengan Corel Graphict Suite X4 untuk mapping karang yang tumbuh pada terumbu buatan secara akurat. Kombinasi kedua tool tersebut dilengkapi dengan penggunaan office Exel2007 untuk mentabulasi data dan menterjemahkan data dalam bentuk grafik.
2.5 Pengkodean Data
DAFTAR PUS TAKA
Anonymous. 1992a. Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia 1992: 20 Tahun Setelah Stokcholm.
Kantor Meteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.Jakarta.122 hal. (Dahuri,
2004).
L. Burke et al.,200 1. Pilot Analysis of Global Ecosystems: Coastal Ecosystems
Washington, DC: WRI, .p.14;
Moosa, M.K., dan Suharsono, 1997. Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang.
Suatu Usaha Menuju ke Arah Pemanfaatan Sumberdaya Terumbu Karang Secara Lestari. Prosidings Seminar Nasional Pengelolaan Terumbu Karang. Panitia Program MAB Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal. 89-200.
Rogers S Caroline, Ginger Garisson, Rikki Grober, Zandy Marie Hillis and Marry Ann Franke,
1994. Coral Reef Monitoring Manual For The Carribean and Western Atlantic. Virgin
Island National Park, USA
Semedhi,Bambang, 2008. Videography. Tidak diterbitkan, Malang
Suharsono, 1998. Condition of Coral Reef Resources in Indonesia. Jurnal Pesisir dan Lautan.
PKSPL- IPB. Vol. 1. No.2. Hal. 44-52.
Wagiyo, K., dan I. N. Radiarta, 1997. Teknologi Konservasi dan Rehabilitasi Terurnbu Karang.
JURNAL 2
LAJU PERTUMBUHAN KARANG
Goniastrea sp
PADA
KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PULAU
MANDANGIN KABUPATEN SAMPANG
Wildanun Mukholladun1, Insafitri2, Makhfud Effendy2 1Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura 2DosenProgram Studi Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura
E-mail : d a n o en w i l d a n @ y a h o o.co . i d
ABSTRAK
Goniastrea merupakan salah satu jenis hewan karang hermatipik, yaitu karang yang membentuk deposit CaCO3. Sehingga umum disebut sebagai hewan karang pembentuk terumbu. Selain itu juga termasuk jenis karang batu (massive), yang berbentuk padat (globose). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan karang jenis Goniastreasp di kedalaman berbeda yang terdapat di Pulau Mandangin Sampang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan teknik pengambilan data secara purposive sampling. Data yang diambil merupakan data primer, kemudian data diolah menggunakan Microsoft Excel dan dibahas secara deskriptif. Analisa yang digunakan menggunakan metode Restropective yaitu Skleroknologi dengan bantuan X-Radiodraph. Hal ini dikarekan metode tersebut sangat tepat untuk jenis karang massive seperti Goniastrea sp. Hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian ini sebagai berikut: 1) Kondisi perairan Pulau Mandangin cukup mendukung pertumbuhan karang. 2) Laju pertumbuhan di kedalaman 4 meter (10,20 mm/th) lebih besar dibandingkan dengan kedalaman 10 meter (8,36 mm/th). 3) Umur karang pada kedalaman 4 meter berkisar 9-12 tahun dan pada kedalaman 10 meter berkisar 9-11 tahun. 4) Laju pertumbuhan pada tahun pertama lebih besar dibandingkan tahun berikutnya.
Kata Kunci: Goniastrea, Pulau Mandangin, restropective, laju
pertumbuhan.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di Pulau Mandangin Kabupaten Sampang pada bulan Nopember untuk pengambilan sampel dan analisa X-ray dilaksanakan pada bulan Desember di RSUD. Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan. Alat dan Bahan yang digunakan yaitu Thermometer, Secchi disk, Refrakto meter, X-Ray, GPS, Peralatan selam (skin / scuba), palu, Kamera, Penggaris dan gergaji. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan teknik pengambilan data secara purposive sampling. Data yang diambil merupakan data primer, kemudian data diolah menggunakan Microsoft Excel.
Koloni karang diambil pada sisi winward (front-reef). Setiap sisi lokasi penelitian diambil koloni karang pada kedalaman 4 m (mewakili perairan dangkal) dan 10 m (mewakili perairan dalam). Pada setiap kedalaman diambil 5 sampel untuk ulangan (Insafitri, 2006). Koloni karang tersebut dicuci dengan air tawar dan dikeringkan. Kemudian sampel dipotong dengan gergaji dengan posisi melintang vertikal dari atas ke bawah, dengan ketebalan sekitar 6-7 mm, kemudian dibersihkan sisa kapurnya dan siap untuk di sinar-X (Lough dan Barnes, 1992)
Analisis Pertumbuhan Dengan Metode Restropektif
Kerangka karang yang sudah dipotong sepanjang garis pertumbuhannya, kemudian dibuatkan lempengan dengan ketebalan sekitar 5-10 mm. Lempengan karang kemudian diekspose di bawah X-ray selama 0,8-1,6 det pada kisaran daya 30-40 kv dan 50-100 mA, jarak specimen ke sumber film 90 cm (Susintowati, 2010).Pengukuran laju pertumbuhan karang Goniastrea sp pada penelitian ini menggunakan metode Restropective yaitu Skleroknologi dengan bantuan X-Radiodraph. Hal ini dikarekan metode tersebut sangat tepat untuk jenis karang massive seperti Goniastrea sp. Hasil pengukuran X-Radiograph nanti akan memberikan gambaran garis-garis gelap dan terang yang merupakan cerminan pertumbuhan karang terutama dari densitas kapur karbonat.
Analisis data akan dideskripsikan melalui hasil pengambilan gambar oleh X-ray yang sudah diolah di Microsoft Excel kemudian data yang sudah diperoleh dari parameter
JURNAL 3
KESESUAIAN EKOWISATA SELAM DAN SNORKLING DI PULAU NUSA RA DAN NUSA DEKET BERDASARKAN POTENSI BIOFISIK PERAIRAN
Suitability Ecotourism Diving and Snorkeling in Nusa Ra and Nusa Deket Island Based Biophysical Potential Water
Martha Hadi Natha1, Ambo Tuwo2, Farid Samawi2
1 Bagian Pengelolaan Pantai dan Laut Dangkal, Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Universitas Hasanuddin
2 Bagian Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin
(E-mail: a r t hahadm i n a t ha @g m a il . c o m)
ABSTRAK
Pengelolaan dan pengembangan wisata bahari hendaknya diterapkan pengelolaan yang didasari pada konsep ekowisata yaitu suatu konsep pariwisata yang mencerminkan wawasan lingkungan dan mengikuti kaidah-kaidah kesimbangan dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kondisi serta potensi biofisik perairan (sumberday perairan), baik untuk konservasi maupun aktifitas yang sesuai untuk pengembangan ekowisata selam dan snorkling di Pulau Nusa Ra dan Pulau Nusa Deket Kabupaten Halmahera Selatan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari-April 2014. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif untuk menganalisis biofisik lingkungan mencakup kondisi terumbu karang, ikan karang, dan fisik perairan. Data yang dikumpulkan diolah dan dianlisis untuk mendapatkan kesesuaian ekowisata selam dan snorkeling di Pulau Nusa Ra dan Nusa Deket. Data yang digunakan yaitu data primer dengan pendekatan observasi eksploratif dengan menggunakan metode survey dan pengukuran langsung di lapangan dan data sekunder melalui studi literatur. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisik perairan dapatlah disimpulkan bahwa perairan disekitar kawasan Pulau Nusa Ra dan Nusa Deket tidak melebihi ambang batas kualitas perairan untuk keberlangsungan hidup organisme terumbu karang, ikan karang maupun organisme laut lainnya. Ikan karang ditemukan 127 jenis yang berasal dari 22 famili, terumbu karang di Pulau Nusa Ra dan Nusa Deket bertipe karang tepi (fringing reef) dan ditemukan
13 jenis life form, kisaran tutupan karang hidup 17% sampai 86%. Kesesuain wisata dan daya dukung kawasan di Pulau Nusa Ra dan Nusa Deket terbagi kedalam 3 kategori, sangat sesuai (S1), sesuai (S2) dan sesuai bersyarat (S3).
Kata Kunci: Biofisik Perairan, Kesesuaian, Ekowisata
BAHAN DAN METODE
Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah deskriptif melalui pendekatan kuantitatif untuk menganalisis biofisik perairan melalui
observasi dan pengukuran langsung,untuk memperoleh gambaran biofisik perairan yang ada di Pulau Nusa Ra dan Pulau Nusa Deket serta kawasan sekitarnya.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 4 (empat) bulan, dari bulan Januari 2014 sampai April 2014. Lokasi penelitian berada di Pulau Nusa Ra dan Pulau Nusa Deket Kabupaten Halmahera
Selatan Provinsi Maluku Utara, dengan jarak dari pusat kota 5 km. Kabupaten Halmahera Selatan terletak antara 1260 45’ BT – 1290 30’ BT dan 00 30’ LU – 20 00’ LS, dengan batas wilayah: sebelah utara dibatasi oleh Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate, sebelah selatan dibatasi oleh Laut Seram, sebelah timur dibatasi oleh Laut Halmahera, sebelah barat dibatasi Laut Maluku
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu gps,tiang skala, meteran/ tali/roll meter, termometer,
handrefractometer, layangan arus/floating drough, stop watch, secci disk, botol
sampel, cool box, ph meter, perangkat komputer, alat selam (scuba), buku identifikasi ikan karang.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer dengan mengidentifikasi dan menganalisis biofisik perairan selanjutnya dibuatkan peta baik peta sumberdaya perairan dan peta kesesuian kawasan wisata.
Biologi perairan berupa kondisi
terumbu karang dan ikan karang yaitu persentasi penutupan karang, indeks mortalitas karang dan untuk ikan karang meliputi keanekaragaman, keseragaman dan dominansi. Data tersebut diperoleh dari lokasi penelitian sebagai data primer yang diperoleh melalui kegiatan pengukuran dan pengamatan langsung di lapangan pada titik-titik stasiun sampling. Fisik perairan berupa parameter lingkungan pembatas terumbu karang terdiri dari kecepatan arus, kecerahan, kedalaman, suhu, salinitas, pH, dan kekeruhan.
Penentuan Stasiun
Pengambilan data biofisik dalam
penelitian ini dilakukan pada 6 stasiun penelitian dengan kedalaman perairan 3 dan 10 meter. Penentuan stasiun penelitian dilakukan secara sengaja (pusposive sampling) didasarkan pertimbangan bahwa lokasi/stasiun mewakili wilayah aktifitas masyarakat lokal dan wisata.
Analisis Data
Analisis biologi perairan yaitu mennganalisis tutupan karang dalam
rangka mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian, dianalisis berdasarkan pada kategori karang dan persentase tutupan karang hidup (lifeform). Persentase penutupan karang hidup ini diperoleh dengan pengamatan metoda Point Intersept Transect (PIT) yaitu menjelaskan kondisi terumbu karang daerah penelitian dengan transect segment, panjang transek yang digunakan adalah 50 m dengan pengambilan data setiap 0,5 m sehingga jumlah data yang diperolah sepanjang transek adalah 100 data (persen data). Analisis mortality indeks (MI) merupakan nilai yang menunjukan tingkat kematian pada titik penyelaman. Nilai MI diperoleh dari % karang mati (termasuk patahan karang) dibagi % karang mati + % karang hidup. Nilai MI berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin mendekti 1 berarti tingkat kematian karang semakin tinggi. Analisis indeks ekologi ikan karang menggunakan tiga pendekatan analisis yaitu keanekaragaman jenis
(shanon-waver), keseragaman (shanon-waver), dan Dominansi (shanon-waver), (Fahrul
2007).
Anailisis fisik perairan pada suatu kawasan ekosistem terumbu karang merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan keberlangsungan hidup organisme dikawasan tersebut. Analisis parameter fisik perairan yaitu kecapatan arus menggunakan floating drough/laying arus, kecerahan perairan menggunakan secchi disk, kedalaman perairan menggunakan tali dan meteran, suhu perairan menggunakan thermometer, salinaitas menggunakan refraktometer, pH menggunakan pH meter dan kekeruhan menggunakan nephelometrik.
Analisis kesesuaian wisata setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai
dengan obyek wisata yang akan dikembangkan. Formula yang digunakan untuk menentukan kesesuaian wisata (Yulianda, 2007) adalah sebagai berikut :
IKW =
Dimana:
N.maks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata.
Selanjutnya analisis kesesuaian wisata dibagi kedalam dua kategori yaitu, kesesuaian wisata selam dengan mem- pertimbangkan 6 parameter dengan 4 klasifikasi penilaian dan kesesuaian
IKW = Indeks kesesuaian wisata.
JURNAL 4
USAT Liberty Tulamben:
Ancaman Lingkungan, Manusia, dan Rekomendasi Upaya Pelestariannya
Nia Naelul Hasanah Ridwan, Semeidi Husrin, Gunardi Kusumah, Zainab Tahir Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir
Jl. Raya Padang – Painan Km. 16, Bungus, Padang, Sumatra Barat email: n i ah a s a n ah79 @ g m a il .com
Metode
Sebagaimana kita ketahui bahwa kapal karam adalah sumberdaya arkeologi dan sumberdaya pesisir yang tidak dapat pulih. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan perlindungan dan pelestariannya harus terus diupayakan untuk mencegahnya dari kerusakan lebih lanjut dan kemusnahan. Program preservasi berkelanjutan perlu segera dipertimbangkan serta memerlukan kajian menyeluruh terhadap situs dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut penting dikarenakan lingkungan yang terdegradasi dan selalu mengalami perubahan saat ini dikarenakan oleh berbagai sebab termasuk perubahan iklim akan berpengaruh sangat besar terhadap kestabilan fisik situs kapal karam USAT Liberty. Kegiatan pelestarian terhadap situs bawah air seyogyanya dilakukan melalui berbagai aktivitas seperti perlindungan dan pelestarian situs dengan legislasi, penegakan hukum sejalan dengan aturan perlindungan hukum, stabilisasi situs secara fisik, perencanaan managemen konservasi, serta konservasi situs dan artefak.
Aksa (2007) menyebutkan bahwa upaya pelestarian dan pemanfaatan peninggalan bawah air perlu lebih ditingkatkan dan dikelola baik sehingga akan menjadi aset kebudayaan dan pariwisata yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Disebutkan pula bahwa dalam upaya pemanfaatan peninggalan bawah air hendaknya jangan terjadi perusakan terhadap peninggalannya, baik kapal maupun muatannya (Aksa, 2007: 81). Hal-hal tersebut itulah yang perlu diatur lagi secara lebih detil dan teknis oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui perda atau bahkan oleh lembaga berwenang yang khusus mengelola situs tersebut (site manager).
BPCB Bali menyadari bahwa USAT Liberty yang merupakan salah satu titik kapal karam yang telah teridentifikasi keberadaannya di antara sekian banyak kapal karam, saat ini terancam musnah dalam kurun waktu yang tidak dapat dipastikan sehingga instansi ini kemudian melakukan kegiatan pendokumentasian. BPCB Bali juga menyarankan untuk melakukan upaya pelestarian lebih lanjut dan mendukung untuk mempertahankan hukum lokal masyarakat Tulamben yang dikatakan secara nyata telah mendukung pemerintah (Tenaya, dkk, 2011:7).
yang di’’derita” oleh USAT Liberty akibat membludaknya jumlah penyelam di titik ini setiap hari. Hal ini mungkin tidak mudah untuk dilakukan dan akan ada pihak-pihak yang belum tentu setuju dengan kebijakan pembatasan jumlah penyelam di Tulamben karena sudah dipastikan akan mengurangi tingkat pendapatan daerah dan pemasukan bagi masyarakat desa. Menurut Dinas Pariwisata dan Budaya Karang Asem, pada tahun 2012, PAD Kabupaten Karang Asem yang dikenal dengan sebutan "Pearl from East Bali", dari Sektor Pariwisata adalah Rp. 12,24 miliar dan sebagian besar adalah wisata selam dan wisata pantai. Pada tahun 2011, terdapat 416.363 wisatawan yang 73,54 % di antaranya merupakan wisatawan asing. Jumlah ini meningkat terus menerus setiap tahunnya. Oleh karena itu, apabila kita menerapkan aturan mengenai pembatasan jumlah turis yang menyelam di USAT Liberty, kemungkinan nantinya akan terdapat pro dan kontra, akan tetapi hal tersebut harus mulai dipikirkan dari sekarang.
Di SS Yongala di Great Barrier Reef Marine Park Australia, jumlah penyelam dibatasi hanya maksimum 7.000 per tahun. Di Indonesia kebijakan mengenai pembatasan jumlah penyelam ini baru diterapkan oleh pemerintah Kota Bitung terhitung mulai Januari 2013. Kesepakatan bersama secara resmi dan tertulis telah dibuat di antara semua operator wisata se-kota Bitung (total ada 13 operator) dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bitung. Kesepakatan bersama ini kemudian menjadi salah satu dasar pencantumannya sebagai salah satu Bab penting dalam Rancangan Peraturan Daerah Kota Bitung tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Wisata Kota Bitung Tahun 2013. Jika ranperda ini disahkan dalam waktu dekat maka pelanggaran terhadapnya akan memberi konsekuensi hukum bagi yang melanggar. Dalam pelaksanaannya di lapangan, semua resort operator wisata Kota Bitung telah menerapkannya secara ketat. Para operator wisata dari luar kota Bitung yang baru mengetahui hal ini juga diharapkan dapat memahaminya dan tidak masuk di titik-titik selam yang sudah ada 1-2 perahu di atasnya atau minimal 12 penyelam (Lontoh, 2013).
mengalami pergeseran dan semakin jatuh ke kedalaman dikarenakan kontur dasar laut di wilayah Tulamben dan sekitarnya adalah slope dengan derajat kemiringan yang tinggi dan dasar laut yang semakin ke tengah semakin dalam.
Kita juga dapat menjadikan situs USAT Liberty ini sebagai lokasi selam yang eksklusif seperti SS Yongala sehingga selain kita dapat mengawasi dan membatasi jumlah penyelam kita juga tetap mendapatkan pemasukan yang tinggi bagi daerah dan masyarakat dengan meninggikan tarif masuk (entrance fee). Untuk menetapkan kebijakan pembatasan jumlah penyelam, maka pemetaan suatu destinasi wisata menurut tipenya menjadi sangat penting. Tulamben perlu dikaji lagi apakah merupakan destinasi yang dipetakan menjadi
mass-tourism, limited tourism, atau eco-tourism. Pemetaan ini menjadi penting untuk pengembangan kawasan tersebut kedepannya. Selain itu, yang penting untuk penetapan pembatasan ini ialah dilarang mengorbankan masyarakat dan harus berorientasi pada bisnis berkelanjutan di wilayah tersebut.
Perlindungan hukum yang nyata nantinya akan dapat melindungi situs dari dampak negatif aktivitas penyelaman sehingga dapat mengurangi ketidakstabilan situs dan kondisi perairannya.