1
Faktor-Faktor Ko-Eksistensi Adat dan Islam
dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
(Studi Kasus Nagari Guguk Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat)1
Oleh
Nurul Firmansyah
Jalinan adat dan islam di nagari guguk malalo tidak terlepas dari karakter keberagamaan masyarakat nagari guguk malalo yang bercorak islam lokal dalam masyarakat melayu, khususnya minangkabau. Corak islam ini menghormati nilai-nilai tradisional (adat) yang hidup. Masyarakat nagari guguk malalo konsisten menjalankan ajaran adat dan islam secara secara bersamaan. Hal ini terkait dengan pepatah; adat basa di sya a;, sya a’ basa di kitabullah.
Secara normatif, jalinan adat dan islam dilaksanakan dengan prinsip islam adalah dasar dan adat
adalah operasional. Nilai-nilai islam sebagai tonggak dijalankan dalam pemakluman adat. Prinsip ini sebagai legitimasi masyarakat minangkabau untuk menjalankan ajaran adat dan islam secara bersamaan. Legitimasi ini terutama terkait dengan konsistensi masyarakat minangkabau untuk menjaga sistem pewarisan matrilineal dan hubungannya dengan sistem penguasaan tanah dan sumber daya alam
berdasarkan adat (hak ulayat). Sistem pewarisan dan penguasaan sumber daya alam ini kemudian membentuk model pengelolaan atas sumber daya alam, termasuk hutan.
Konsistensi menjaga sistem pewarisan dan penguasaan sumber daya alam berdasarkan adat di satu sisi dan menjalankan islam sebagai dasar pelaksanaan adat disisi lain oleh masyarakat nagari guguk malalo didukung oleh faktor-faktor penting yang mempangaruhi, yaitu faktor ekonomi,ekologi, sosial,
politik dan budaya, serta reliji. Faktor-faktor ini memelihara corak pengelolaan hutan dan sumber daya alam oleh masyarakat nagari tetap berlangsung sampai saat ini.
1Tulisa i i erupaka agia dari Tesis Pe ulis ya g erjudul :
Adat and Islamic Teaching in Community Based Forest Management A Case Study In Nagari Guguk Malalo, West Sumatera Indonesia pada progra studi INRM Pas a “arja a
2 Faktor Ekonomi dan Ekologi
Faktor ekonomi, terutama pemenuhan keadilan (distribusi) sumber daya untuk menjamin keberlanjutan mata pencarian seluruh anggota komunitas masyarakat nagari guguk malalo menjadi faktor utama konsistensi menjalankan sistem pewarisan matrilineal adat dan penguasaan atas sumber daya
alam (hak ulayat). Sistem pewarisan dan penguasaan sumber daya alam berdasarkan adat melahirkan pembatasan penguasaan individual secara mutlak atas kekayaaan sumber daya alam, terutama pembatasan terhadap ayah sebagai kepala keluarga batih. Seorang laki-laki dewasa, yaitu laki-laki yang telah menikah dibebankan untuk memenuhi kebutuhan keluarga batih (istri dan anak-anak) yang dia bisa hasilkan dari pemanfaatan tanah-tanah berupa sawah dan parak yang dimilki oleh keluarga istri maupun
tanah-ta ah pusako dari i u a elalui akses ganggam bauntuk. Dia ha a isa e a faatka hasil dari lahan-lahan produktif untuk memenuhi kebutuhan keluarga batih, tetapi dia tidak memiliki secara mutlak atas lahan-lahan yang dikelola tersebut. Begitu halnya dengan istri pewaris tanah pusako, juga hanya bisa menyediakan lahan untuk dikelola sendiri atau oleh suami dan anak-anaknya, namun dibatasi
untuk memiliki lahan-lahan tersebut secara mutlak.
Model pengelolaan tanah-tanah pusako ini adalah model ekonomi keluarga berbasis suku/kaum. Graves (2007) menjelaskan bagaimana model tanah pusako tinggi memastikan model ekonomi tersebut
erla gsu g. Ta ah pusako se agai harta pusaka adalah se a a da a ja i a ersa a trust fund)
yang dimiliki bersama-sama oleh anggota kaum/suku. Kepemilikan individual mutlak tidak dimungkinkan
dalam sistem ini, sehingga juga menyulitkan untuk diperjual belikan oleh masing-masing anggota kaum/suku. Sistem ini melindungi semua anggota kaum/suku dari kemiskinan fatal, yang secara bersamaan juga menyulitkan pemilikan tanah-tanah secara pribadi yang memungkin seseorang menjadi kaya mendadak.
Perubahan atas model ekonomi suku/kaum memungkinkan terjadi dengan
pembatasan-pe atasa terte tu, aitu elalui kele agaa hi ah, aik hi ah papeh dan laleh. Hibah ini
memungkinkan perubahan status harta pusako dari pihak kaum ayah menjadi pusako randah yang diwariskan kepada anak-anaknya, dengan pewarisan islam secara keseluruhan pada hibah papeh dan
secara terbatas, yaitu selama anak-anak mereka masih hidup dalam hibah laleh.
3 maupun kaum ibu. Dalam konteks ini, kesepakatan kolektif kaum dari kedua belah pihak menjadi syarat mutlak perubahan status tanah tersebut. Selanjutnya, norma adat membatasi pemberian hibah dengan
ukura sebatas kebutuhan individu atas tanah da tidak oleh ele ihi peru aha status terse ut dari
total luas pusako tinggi. Artinya, akumulasi harta secara individu dari harta pusaka tidak dibenarkan.
Tetap, konsep harta pusaka sebagai trust fund menjadi dasar pengambilan keputusan oleh kaum.
Pada ti gkat a g le ih ti ggi, ta ah ula at agari adalah trust fund u tuk seluruh suku/kau
yang ada di nagari. Oleh sebab itu, konsep tanah/hutan cadangan yang dikenal oleh masyarakat nagari guguk malalo terhadap ulayat nagari menjadi relevan. Kekayaan yang ada di ulayat nagari diperuntukkan untuk kepentingan perluasan lahan pertanian dan pemukiman sebagai basis ekonomi dari kaum/suku
yang ada di nagari. Hasil hutan kayu dan non kayu adalah hasil sampingan dalam sistem mata pencarian masyarakat nagari, sehingga pemanfaatan atas hasil hutan kayu dan non kayu diprioritaskan bagi kepentingan publik, seperti membangun fasilitas umum, surau atau masjid. Pemanfaatan oleh individu
atas hasil huta adalah pe i pa ga , sehi gga ereka dia ggap se agai ora g luar a g
memanfaatkan harta bersama tersebut dan harus mendapatkan izin dari panghulu-panghulu yang ada di
nagari dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan Pemerintah Nagari. Pemanfaatan hasil hutan kayu oleh individu dibatasi untuk kebutuhan sendiri, seperti memperbaiki rumah dan kandang ternak. Dalam konteks ini, hasil hutan kayu didefiniskan sebagai bukan komoditi komersil.
Model pengelolaan hutan dan sumber daya alam diatas terkait dengan pola produksi masyarakat
nagari guguk malalo yang berbasis pertanian sawah dan agroforestry. Produksi pertanian pokok masyarakat berasal dari panen padi sawah dan hasil parak (agroforest). Panen padi diprioritaskan untuk kebutuhan pangan keluarga, dan sisanya menjadi komoditi perdagangan pada pasar-pasar tradisional di nagari. Sedangkan komoditas yang dihasilkan dari parak (agroforest), berupa kayu manis, kopi, garda munggu, dan buah-buahan musiman menjadi komoditas yang dijual kepada pengumpul dan sebagian
kecil di pasar-pasar nagari. Hasil panen parak berkontribusi pada mata pencarian keluarga batih untuk kebutuhan skunder, seperti pendidikan anak, kesehatan dan kebutuhan skunder lainnya. Model produksi ini mengakibatkan pemungutan hasil hutan adalah produksi minor masyarakat. Sumber daya hutan
adalah ada ga terhadap laha nya, bukan pada hasil hutannya.
4 memelihara sumber mata air sebagai penopang lahan persawahan irigasi sebagai produksi pokok masyarakat.
Pola produksi dan model pengelolaan sumber daya alam ini melahirkan kesatuan ekosistem nagari yang saling terintegrasi, yaitu antara antara ekosistem pertanian sawah irigasi, agroforestry dengan
hutan. Hutan adalah penopang ekosistem pertanian sawah irigasi dan agroforestry dengan menyediakan sumber mata air bagi pertanian sawah irigasi dan penyediaan lahan agroforestry.
Ajaran islam menjadi faktor penting pola produksi dan model pengelolaan sumber daya alam di nagari guguk malalo ini tetap berlangsung, dengan memperkuat tanggung jawab sosial-ekonomi dan ekologis, baik secara individu maupun komunitas. Pertama, tanggung jawab sosial-ekonomi, yaitu dengan
penetapan hisab atas zakat maal dari pemanfaatan tanah pusako tinggi oleh masing-masing keluarga batih dan paruik dalam setiap ritual mambuka kapalo banda. Penetapan hisab zakat maal dalam ritual tersebut adalah bentuk legitimasi relijius atas sistem ekonomi kaum/suku yang berbasis pada hak adat,
a g e guta aka kesejahtreraa u u di a di gka de ga kesejahteraa i di idual. Pri sip
kesejahteraan umum dalam sistem adat kemudian bertemu dengan nilai islam yang menolak keserahkaan individu dengan zakat sebagai intsrumennya.
Kedua, tanggung jawab ekologis, yaitu dengan melegitimasi penetapan wilayah konservasi adat
a g dise ut de ga huta lara ga . Pe etapa huta lara ga dilaksa aka de ga adat da
diperkuat oleh nilai- ilai isla elalui ritual mambuka kapalo banda. ‘itual i i ereproduksi or a da
pengetahuan lokal tentang pentingnya menjaga sumber mata air melalui penetapan hutan larangan yang berfungsi profan sekaligus sakral, yang profan terkait dengan fungsinya sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, yang sakral adalah tanggung jawab individu dan komunitas terhadap keseimbangan alam sebagai sunnatullah yang harus dijalankan.
Faktor ekonomi dan ekologi dalam praktek pengelolaan hutan dan sumberdaya alam di nagari
guguk malalo adalah bentuk aktualisasi konsep pembangunan berkelanjutan dalam frame al- u ’a , yang oleh Abomoghli (2010) dalam Mangunjaya (2014) menyebutkan bahwa pembangunan keberlanjutan dalam islam sebagai keseimbangan dan realisasi berkesinambungan antara kesejahteraan dan pemanfaatan, efisien secara ekonomi, memperoleh keadilan sosial, dan keseimbangan ekologi.
5 Ikatan terhadap adat dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam dijaga secara konsisten dan berkesinambungan oleh masyarakat nagari guguk malalo. Adat begitu kental dalam membentuk model pengelolaan hutan dan sumber daya alam berbasis adat dengan pilar utamanya adalah konsistensi
pewarisan matrilineal dan sistem penguasaan adat atas tanah dan sumber daya alam (hak ulayat).
Institusi sosial yang menjalankan model pengelolaan hutan dan sumber daya alam berbasis adat tersebut adalah suku, kaum dan nagari. Kaum adalah institusi sosial yang cenderung otonom dalam penguasaan tanah dan sumber daya alam, yang dipimpin oleh mamak sebagai pemimpin dan kaum perempuan sebagai pewaris hartanya. Objek atas tanah kaum atau pusako tinggi mempunyai batas yang jelas berdasarkan garis keturunan matrilineal dan penguasaan efektif oleh kaum, sesuai dengan pepatah ;
Bunta nan bakapiang, panjang nan bakarek, laweh nan bacabiak.
Penguasaan pusako tinggi berdasarkan hukum informal dan tidak tertulis dengan mamak dan penghulu suku sebagai orang yang menjaga sistem tersebut terus berlangsung. Selanjutnya, penegasan tentang batas-batas hak kemudian direproduski secara konsisten dalam ritual mambuka kapalo banda
dala si olisasi esar a dagi g sapi agi setiap kau . “i olisasi i i adalah pe getahua te ta g
besaran penguasaan pusako tinggi oleh kaum tertentu dan mempertegas batas antara orang-orang asli pewaris pusako tinggi dengan orang-orang malakok (orang luar komunitas nagari guguk malalo) yang hanya mempunyai akses pemanfaatan atas tanah dan sumber daya alam.
Surau menjadi wadah di level institusi sosial kaum untuk memastikan jalinan adat dan islam
berlangsung. Masing-masing kaum mempunyai surau kaum yang diurus oleh seorang alim, yang disebut
de ga ora g siak. “urau e jadi li gkar elajar er agai tarekat, teruta a tarekat syattariah. Metode
pendidikan islam di surau menggunakan pendekatan informal melalui zikir bersama, ceramah guru agama dan bersuluk pada sebagian orang-ora g terte tu. Kelo pok i i a g e jadi ekspo e uta a kau
tua da erpe garuh esar dala ko tri usi e e tuk karakter isla lokal di nagari guguk malalo.
Pada tingkatan nagari, suku dan kaum adalah institusi-institusi sosial sekaligus politik dalam menjalankan pemerintahan nagari dan penguasaan atas ulayat nagari. Pemerintahan nagari mengalami perubahan hebat sejak diberlakukannya sistem pemerintahan desa, institusi sosial tradisional yang dulunya ditopang oleh institusi suku dan kaum dilokalisir sedemikian rupa hanya mengurus soal adat dan
6 pucuk sebagai pemimpin simbolik, namun oleh kelompok baru yang tidak mesti menggunakan status tradisional panghulu.
Dalam situasi ini, kelompok pengambil keputusan dan kebijakan di level nagari (elit nagari) tidak lagi tergantung pada status tradisional adat, namun telah terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu
kelompok ninik mamak (adat), alim ulama (pemuka agama) dan cerdik pandai (intelektual). Kelompok pertama adalah orang-orang yang mempunyai status tradisional sebagai pemimpin adat, yang selain mendapat akses dalam pemerintahan nagari di legislatif nagari atau Badan Permusywaratan Nagari (BPRN), juga terwadahi dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN). Kelompok kedua adalah alim ulama, yaitu kelompok pemuka islam, baik yang berasal dari pendidikan formal islam (pengurus sekolah islam
formal/TPA), maupun alim ulama yang berasal dari luar institusi pendidikan formal islam yang cenderung pada kaum tua. Kelompok ini mempunyai akses pada pengambilan kebijakan di level nagari, melalui keterlibatan mereka dalam legislatif nagari. Sedangkan kelompok ketiga adalah cadiak pandai. Kelompok ini dianggap sebagai kelompok intelektual dengan kemampuan-kemampuan pendidikan sekuler tanpa
harus memastikan ikatannya dengan adat atau islam. Kelompok ini memiliki akses di legislatif nagari.
Rekrutmen wali nagari sebagai pimpinan puncak pemerintahan nagari tidak lagi berdasarkan status adat. Wali nagari dipilih secara langsung oleh masyarakat nagari melalui mekanisme formal pemilihan wali nagari. Wali nagari bisa berasal dari tiga kelompok elit diatas yang didukung oleh masyarakat melalui pemilihan langsung. Dalam menjalankan fungsinya, wali nagari selalu
mempertimbangkan kelompok adat, islam dan intelektual dalam melahirkan kebijakan-kebijakan nagari. Oleh sebab itu, pemahaman tentang adat, islam dan pemerintahan menjadi penting dikuasai untuk menjadi seorang walinagari, baik dalam proses rekrutmen politik nagari atau menjalankan pemerintahan.
Pada level nagari ini, relasi adat dan islam dipengaruhi oleh elemen lain, yaitu Negara, melalui
sistem pemerintahan dan penguasaan hutan oleh negara. Kehadiran Negara sebagai institusi politik dan pemerintahan mempengaruhi kelembagaan pengelolaan ulayat nagari dimana pemerintahan nagari mempunyai legitimasi formal pengelola ulayat nagari. Selain itu, Negara juga hadir dalam klaim atas ulayat nagari dan pusako tinggi atas wilayah-wilayah yang ditetapkan secara sepihak sebagai kawasan
hutan.
7 mempunyai tingkat otonomi yang lebih besar dibandingkan penguasaan ulayat nagari. Ulayat nagari mengalami konflik kewenangan antara pemerintahan nagari dengan KAN di level nagari. Sedangkan pada level struktur Negara yang lebih besar adalah klaim formal atas kawasan hutan.
Faktor penguasaan adat dan kuatnya institusi sosial atas hutan dan sumber daya alam
menyebabkan institusi pemerintahan nagari mengakomodasi klaim tersebut. Salah satu bentuk pengakuan klaim penguasaan hutan dan sumber daya alam berbasis adat ini lahir melalui Peraturan Nagari, yaitu Peraturan Nagari Guguk Malalo No.2 tahun 2008 tentang Pengukuhan Hak Ulayat Dan Pengelolaan Ulayat Anak Nagari Guguk Malalo. Peraturan formal ditingkat nagari ini disusun dengan melibatkan tiga kelompok elit di nagari, yaitu adat, alim ulama dan inteletual, yang menghasilkan
semacam kompromi pengurusan ulayat nagari antara pemerintah nagari dengan KAN dengan pembagian kewenangan, yaitu KAN sebagai penguasa ulayat nagari, sedangkan Pemerintah Nagari bersama-sama KAN sebagai pengelola ulayat nagari. KAN tetap menjadi institusi tertinggi dalam penguasaan atas ulayat nagari tersebut.
Lahirnya aturan nagari yang akomodatif tersebut diatas tidak terlepas dari faktor budaya masyarakat minangkabau umumnya dan nagari guguk malalo pada khususnya, yang mengakui eksistensi Negara, adat dan islam sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Cara pandang ini merupakan
aktualisasi dari pri sip tigo tungku sajarangan. Mas arakat agari selalu e ari kesei a ga dari
ketiga sistem tersebut, dalam kehidupan sosial, politik dan budaya mereka.
Faktor Reliji
Masyarakat nagari guguk malalo sebagai bagian dari masyarakat etnis minangkabau yang lebih luas adalah masyarakat adat yang mengidentikan dirinya sebagai ummat islam. Islam dan adat seperti dua mata uang yang selalu berdampingan, yang selalu menjadi jalan hidup orang minangkabau.
Relasi adat dan islam adalah dinamis yang lahir dari sejarah konflik dan juga rekonsiliasi antara
dua kutub tersebut. Dinamika ini menghasilkan karakter kehidupan beragama yang bersifat lokal, yang disebut dengan islam lokal. Islam dengan corak ini berusaha mencari keseimbangan antara islam yang sinkritis dengan syariat yang dogmatis, yang dalam masyarakat minangkabau dikenal dengan adigium; adat basa di sya a’, sya a’ basa di kitabullah. Turu a operasio al dari pri sip terse ut teraktualisasi dala pepatah ; Sya a’ a gato, Adat Ma akai aitu segala e tuk ajara aga a, khusus a a g
8 dalam adat, dibuatlah peraturan pelaksananya yang sebaik-baiknya; atau pepatah lai ; adat yang kawi, syarak yang lazim, aitu; adat tidak aka tegak jika tidak diteguhka oleh aga a, seda gka aga a
sendiri tidak akan berjalan jika tidak dilazimkan (diterapkan) melalui adat, Fathurrahman (2008).
Dapat disimpulkan bahwa ajaran islam adalah nilai sakral yang luhur dan adat adalah
operasionalisasi atas nilai-nilai tersebut, yang bersandarkan kelaziman sosial. Konteks sosial, budaya, ekonomi dan bahkan politik berdasarkan adat sebagai representasi nilai sosial masyarakat minangkabau adalah keniscayaan dan ajaran islam memperkuat legitimasi atas nilai-nilai tersebut dan menjadi pedoman dalam pelaksanaannya.
Oleh sebab itu, aktualisasi islam di nagari guguk malalo tetap memegang teguh adat dalam
kehidupan sosial, terutama terkait dengan sistem pewarisan matrilineal dan penguasaan sumber daya alam (hak ulayat). Sistem pewarisan dan penguasaan sumber daya alam menjadi keberlanjutan institusi sosial masyarakat nagari guguk malalo yang dilaksanakan secara konsisten. Artinya karakter islam lokal dalam masyarakat nagari guguk malalo menjadi faktor yang memperkuat model pengelolaan hutan dan
sumber daya alam berbasis adat. Islam dalam konteks ini tidak dimaknai secara tekstual belaka, namun islam adalah nilai-nilai universal yang diaktualisasikan secara kontekstual dalam kehidupan sosial.
Corak Islam ini memperkaya pemaknaan nilai adat yang dalam dimensi profan dan sakral sekaligus. Ritual mambuka kapalo banda adalah bukti bagaimana islam dan adat menggabungkan dua dimensi tersebut. Islam hadir secara fisik dengan mendukung keseimbangan ekologi dan keadilan
distribusi sumber daya yang telah dianut dalam model pengelolaan adat. Secara sakral, islam memperkuat tanggung jawab individu dan komunitas sebagai khalifah di muka bumi dengan mengelola hutan dan sumber daya alam secara berkelanjutan dan juga memperkuat individu dan komunitas untuk menghargai alam sebagai makhluk fisik dan sekaligus gaib.
9 Kepustakaan
Agus, Fahmuddin, Farida and Meine Van Noordwijk (eds) (2004), Hydrological impact of forest, Agroforestry and upland cropping as a basis for rewarding environmental service providers in indonesia, World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor
Azra, Az ur ardi , Jari ga Ula a Ti ur Te gah da Kepulaua Nusa tara A ad XVII & XVIII :
Akar Pembaruan Islam Indonesia, Ke a a Pre ada edia, Jakarta
Be da Be k a , Fra z a d Kee et Vo , “tate, ‘eligio A d Legal Pluralis : Cha gi g Co stellatio s i West “u atera Mi a gka au A d Co parati e Issue, Ma Planck Institute For Social Anthropology, Halle
Contreras-Her osilla, Ar oldo a d Chip Fa , “tre gthe i g Forest Ma age e t I I do esia
Through La d Te ure ‘efor : Issues A d Fra e ork For A tio , Forest Trends & World Agro Forestry
Davidson-Hu t, Iai J a d Fikret Berkes, Cha gi g ‘esour e Ma age e t Paradig s, Traditio al Ecological Knowledge, and Non-timber Forest Product, NTFP Co fere e Pro eedi gs
Dee , Ma il Y. Izzi Isla i E iro e tal Ethi s, La , a d “o iet i the Ethi s of Environment and Developme t, Bellha e Press, Lo do
De i, “usi Fitria , Oral Traditio I The “tud Of Ula at La d Dispute I West “u atera i Wa a a : Oral traditio s i the Mala World, Jour al of The hu a ities Of I do esia, Ya asa O or Indonesia and Faculty of humanities, University of Indonesia, Jakarta.
Fathurrah a , O a , Tarekat “ attari ah di Mi a gka au; Teks da Ko teks, Pre ada Media
Group, E ole fra aise d E tre e-Orient, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, KITLV, Jakarta
Firma s ah, Nurul, Naldi Ga tika da Muha ad Ali , Di a ika Huta Nagari d Te gah-Tengah Jaring Hukum Negara, HuMa da Q ar, Jakarta.
Firmansyah, Nurul, Mora Dingin, Nora Hidayati, (2014), Laporan Penelitian : Perbandingan Pengelolaan Hutan oleh Negara dan Masyarakat : Studi Kasus Masyarakat Adat Malalo Tigo Jurai, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, HuMa dan Qbar.
Gra es, Eliza eth E Asal-Usul Elite Minangkabau Modern : Respons Terhadap Kolonial Belanda
A ad XIX/XX, Ya asa O or I do esia, 2007.
Ha ka , Isla da Adat di Mi a gka au, Pustaka Pa ji as, Jakarta.
Khalid, Fazlu M Isla a d The E iro e t i the E lopedia of Glo al E iro e tal Cha ge, John Wiley & Sons, Ltd, Chichester
10
Lukito, ‘at o , Huku “akral da Huku “ekuler: “tudi Tentang Konflik dan Resolusi Dalam Sistem Hukum Indonesia, Pustaka Al a et, Jakarta.
Ma gu ja a, Fa hruddi , Ekopesa tre ; Bagai a a Mera a g Pesa tre ‘a ah Li gku ga ?,
Yayasan Pusaka Obor Indonesia, Jakarta
Ma gu ja a, Fa hruddi M, dkk Me a a “e elu Kia at; Isla , Ekologi, da Geraka Li gku ga Hidup, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Mufid, “of a A ar , Isla da Ekologi Ma usia; Paradig a Baru, Ko it e da I tegritas
Manusia dalam Ekosistemnya, Refleksi Jawaban atas Tantangan Pemanasan Global Dimensinya Intelektual, Emosional, da “piritual, Nua sa, Ba du g
Na is, A.A , Ala Terke a g Jadi Guru : Adat Da Ke uda aa Mi a gka au, Grafitipers,
Jakarta.
Ramstedt, Martin dan Fadjar I u Thufail , Kegalaua Ide titas : Aga a, Et isitas, da Kewarganegaraan Pada Masa Orde Baru, Grasi do, Jakarta
‘id a , Nur a Ali , La dasa Keil uaa Kearifa Lokal, I da: olu e 5, STAIN Purwokerto, Purwokerto
Rianse, Usman and Abdi ( , Agroforestri: “olusi “osial da Eko o i Pe gelolaa “u er Daya
Huta , Alfa eta, Ba du g.
‘i klefs, M.C. , “ejarah I do esia Moder : 1200- , “era i, Jakarta
Sanusi, Ahmad, Sohari (2015), Ushul Fiqh, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tiete erg, To , E iro e tal A d Natural ‘esour e E o o i s, Perason Education Inc, New York City
Va dergeest, Peter a d Chusak Witta apak , De e tralizatio a d Politi s, i The politi s of
decentralization; Natural Resource Management I Asia, Mekong Press, Chiang Mai. Thailand
War a , Kur ia , Ga gga Bau tuak Me jadi Hak Milik: Pe i pa ga Ko ersi Hak Ta ah di “u atera Barat A dalas University Press, Padang.
War a , Kur ia , Huku Agraria Dala Mas arakat Maje uk : Dinamika Interaksi Hukum Adat
da Huku Negara di “u atera Barat, HuMa, Jakarta.