64 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum SD Negeri 1 Mrisi
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SD Negeri 1 Mrisi
Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan semester II tahun pelajaran
2014/2015 dengan subyek penelitian kelas IV sebanyak 16 siswa. SD Negeri 1 Mrisi
terletak di desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan. Letak SD di
pinggir jalan utama Kapung-Tanggungharjo dan dekat kantor kepala desa. Sehingga
membuat kondisi sekitar sekolah ramai dengan lalu lalang orang.
Sarana dan prasarana di SD Negeri 1 Mrisi sudah cukup memadai untuk
menunjang pembelajaran. Namun, beberapa guru kurang memanfaatkan dengan
maksimal media dan alat peraga yang dapat digunakan pada proses pembelajaran.
Selain alat peraga buku-buku di perpustakaan sekolah juga sudah cukup untuk
memenuhi kebutuhan siswa sebagai buku penunjang pembelajaran.
Pengajar di SD Negeri 1 Mrisi terdiri dari guru kelas dari kelas 1 sampai kelas
6, 1 guru olahraga, dan 1 guru agama dengan pendidikan terakhir setiap guru rata-rata
S1.Total murid di SD Negeri 1 Mrisi berjumlah 128 siswa.
4.2. Hasil Penelitian 4.2.1 Kondisi awal
Kondisi awal merupakan kondisi sebelum dilakukan tindakan. Dari hasil
pengamatan pada kelas 4 SD Negeri 1 Mrisi yang berjumlah 16 siswa, pada mata
pelajaran matematika masih menunjukkan hasil belajar yang rendah. Terlihat dari
hasil tes yang diberikan yaitu hanya beberapa siswa yang mancapai nilai KKM yaitu
70.Hal ini juga ditunjukkan oleh besarnya skor maksimal 80 skor minimal 40 dan
skor rata rata 63,12. Data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dapat dilihat
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Pra siklus
No Interval Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
1 30 – 39 0 0 % Tidak Tuntas
2 40 – 49 1 6,25 % Tidak Tuntas
3 50 – 59 4 25 % Tidak Tuntas
4 60 – 69 6 37,5 % Tidak Tuntas
5 70 – 79 3 18,75 % Tuntas
6 80 – 89 2 12,5 % Tuntas
7 90 – 100 0 0 %
Jumlah 16 100
Nilai Rata-rata 63,12
Nilai Tertinggi 80
Nilai Terendah 40
Berdasarkan tabel 4.1 distribusi frekuensi nilai mata pelajaran Matematika
dapat dikatakan hasil belajar masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya
siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran yaitu dibawah KKM 70. Dari tabel
tersebut diketahui skor nilai antara 40-49 frekuensinya ada 1 dengan persentase
6,25% dari jumlah keseluruhan siswa, 50-59 frekuensinya ada 4 dengan persentase
25% dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai anatara 60-69 frekuensinya ada 6
dengan persentase 37,5% dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai antara 70-79 ada 3
dengan presentase 18,75% dari keseluruhan siswa, dan skor nilai anatara 80-89 ada 2
dengan presentase 12,5% dan dapat dilihat pada daftar nilai siswa (terlampir).
Gambar 4.1 Diagram Batang Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Pra Siklus
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) data hasil perolehan
nilai kondisi awal dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.2
Tabel 4.2
Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Pra Siklus
Skor Kriteria Frekunsi Persentase (%)
≥ 70 Tuntas 5 31,25
< 70 Tidak tuntas 11 68,75
Jumlah 16 100
Ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal dapat diketahui bahwa siswa yang
memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) sebanyak 11
siswa atau 68,75%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 5
siswa dengan persentase 31,25%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah
siswa yang mengalami ketuntasan diatas KKM lebih sedikit daripada jumlah siswa
0 1 2 3 4 5 6 7
30 – 39 40 – 49 50 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100
yang tidak tuntas. Ketuntasan belajar siswa pada tabel 4.2 dapat dilihat pada diagram
lingkaran 4.2 berikut:
Gambar 4.2 Diagram Lingkaran Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus
Berdasakan gambar 4.2 tentang distribusi ketuntasan belajar siswa 4 SD
Negeri 1 Mrisi mencapai 31,25% yang ditunjukkan pada warna biru pada gambar
diagram lingkaran. Sedangkan yang tidak tuntas mencapai 68,75% yang ditunjukan
pada warna merah pada gambar diagram lingkaran.
Pada kondisi ini dalam pembelajaran tidak mengacu pada pendekatan RME
dengan teori. Hal ini nampak pada RPP sebagai rancangan pembelajaran bukan guru
yang membuatnya, apalagi mendesain dengan pendekatan RME dengan teori bruner.
Pembelajaran yang bersifat konvensional yakni pembelajaran berpusat pada guru,
siswa tidak pernah terlibat dalan pembelajaran yakni siswa tidak pernah membentuk
kelompok, siswa tidak pernah diberi kesempatan untuk menemukan konsep sendiri.
4.2.2. Deskripsi Siklus I
Pada siklus satu akan diuraikan tentang tahap perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi, hasil tindakan dan refleksi. Kegiatan pembelajaran di siklus I ada
2 pertemuan.
31.25,%
68.75% Tuntas
4.2.2.1.Tahap Perencanaan
Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada minggu ke 1 bulan April
Sebelum melakukan pembelajaran penulis membuat Rencana Pelaksanan
Pembelajaran (RPP) menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner.
Kompetensi Dasar Mengidentifikasi benda-benda dan bangun datar simetris. Setelah
itu menyiapkan’ materi pembelajaran sesuai RPP yang telah dibuat yaitu tentang
benda-benda dan bangun datar simetris. Kemudian mempersiapkan alat berupa
gambar.Alat peraga ini digunakan untuk membantu proses pembelajaran yang berupa
gambar konkrit yang ada di lingkungan sekitar. Selain itu juga mempersiapkan
perangkat pembelajaran seperti lembar kerja siswa, lembar observasi siswa, lembar
observasi kegiatan guru, dan buku pembelajaran.
4.2.2.2 Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dan observasi ini merupakan deskripsi dari kegiatan
pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran serta deskripsi observasi kegiatan
guru dan aktivitas siswa selama proses belajar mengajar.
1. Pertemuan Pertama
Kegiatan pada siklus 1 pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 6
April 2015 pukul 07.00 – 08.45 WIB. Langkah-langkah pembelajaran pada
pertemuan pertama adalah siswa mengawali pembelajaran dengan mengucapkan
salam pada guru, kemudian guru mengajak siswa untuk berdoa sesuai keyakinan
masing-masing. Siswa menyimak tujuan pembelajaran yang diberikan guru.
Selanjutnya siswa menyimak pendekatan yang akan digunakan dalam pembelajaran,
yaitu pendekatan RME dengan teori bruner.
Pada kegiatan inti Siswa dikenalkan pada hal-hal kontekstual/ situasi konkret
melalui gambar yang di tampilkan di depan kelas.Siswa menyimak situasi konkrit
yang di sampaikan oleh guru dan mengamti gambar yang di sediakan yaitu gambar
kupu-kupu. Siswa mengotak-atik media untuk menyelesaikan masalah.Siswa dibagi
kedalam beberapa kelompok.Dalam kelompok siswa menyelesaikan soal yang telah
kesulitan.Siswa menyampaikan pendapat kelompok di depan kelas dan siswa lain
menanggapinya.Guru membimbing siswa menemukan jawaban yang benar sekaligus
mengarahkan siswa untuk memahami konsep.Siswa menyimak penjelasan guru
tentang bangun simatris melalui kegiatan mengotak atik gambar yang disediakan dan
cara melipatnya. Guru memperluas permasalahan untuk diselesesaikan siswa dengan
cara formal dan siswa diberikan macam macam bangun datar lalu diminta untuk
menentukan bangun mana yang termasuk kedalam bangun simetri dengan
menggambarkan garis simetrisnya.Siswa menentukan bangun yang merupakan
bangun simetris serta menggambarkan garis simetrinya dan guru mencocokan
jawaban dari siswa.Siswa diberi permasalahan baru untuk diselesaikan yaitu
mengamati dan menuliskan benda benda yang ada di sekitar yang termasuk dalam
benda simetris. Siswa dengan bimbingan guru membuat rumusan masalah tentang
konsep bangun simetri, ciri – ciri benda simetri dan garis simetri.
Untuk kegiatan penutup guru menegaskan tentang konsep bangun simetri, ciri – ciri benda simetri dan garis simetri dan menyampaikan materi pelajaran selanjutnya. Siswa mengakhiri pembelajaran dengan salam.
Pertemuan II
1. Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah beberapa
kegiatan yang dirancang dalam RPP meliputi membuka pelajaran dengan salam
pembuka, berdoa, mengecek kehadiran siswa, mengkondisikan siswa agar siap
mengikuti pembelajaran, dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi yang
dilakukan adalah menanyakan kembali materi yang telah dipelajari pada
pembelajaran sebelumnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai.
2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti siswa diberikan masalah yang konkrit yaitu menyimak
cerita upin dan ipin yang sedang melipat kertas.Setelah itu guru memperluas
bagian yang sama dengan cara yang berbeda.Siswa berkelompok dengan teman
sebangku dan di berikan media berupa kertas dengan bentuk bangun bangun
datar.Siswa mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru dengan bantuan media yang
sudah dibagikan.Setelah itu siswa mempresentasikan hasil kelompok dan kelompok
lain menanggapinya.Guru memberikan respon positif terhadap berbagai jawaban.
Dalam kegiatan ini siswa sudah mengerti bahwa kertas selain dilipat secara vertikal
dan horisontal, masih ada cara melipat kertas lipat itu hingga membentuk 2 bangun
yang saling menutupi.Siswa diberikan masalah baru yaitu dengan membuat pesawat
dan mengguntingnya mirip gambar di depan kelas.Siswa membuat bentuk tersebut
dengan berbagai cara mereka sendiri.Guru berkeliling mengamati yang sudah
dikerjakan siswa.Siswa menunjukan bentuk pesawat yang sudah mereka buat dan
siswa lain menanggapinya. Guru menampung berbagai alternatif cara yang ditempuh
siswa untuk membuat bangun di atas. Guru membimbing siswa untuk menentukan
cara yang termudah.
Siswa dibimbing guru menyimpulkan konsep bahwa ada benda simetris yang
mempunyai simetri lipat lebih dari satu. Setelah itu guru membagikan soal evaluasi
kepada siswa untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman yang didapat siswa pada
pembelajaran kali ini.
3. Kegiatan Penutup
Pada kegiatan ini peneliti bersama guru dan siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran.Guru memerikan memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk
mempelajari materi berikutnya.
4.2.2.3. Tahap Pengamatan
Pada tahap pengamatan, yang diamati adalah pengamatan terhadap kegiatan
guru dan siswa, hasil belajar serta minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.Hasil
belajar diamat melalui tes dan minat melalui pemberian angket kepada siswa yang
dilakukan pada akhir pertemuan kedua siklus I. Berikut ini akan disajikan hasil
belajar yang diperoleh siswa setelah dilakukan tindakan pada siklus I, yang meliputi
1) Hasil Pengamatan terhadap Guru
Selama proses pembelajaran, observer melakukan pengamatan terhadap
pembelajaran yang menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner.Hasil
pengamatan terhadap guru pada pertemuan pertama, didapatkan bahwa guru sudah
melaksanakan semua indikator pembelajaran yang sudah ditentukan. secara
keseluruhan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah terlaksana
dengan baik.
Pada pertemuan kedua, hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru sudah
menguasai pembelajaran dengan baik. Dalam pertemuan kedua ini, guru sudah
melaksanakan semua indikator pembelajaran dengan baik.
2) Hasil Pengamatan terhadap Siswa
Selama proses pembelajaran, observer juga melakukan pengamatan terhadap
siswa selama proses pembelajaran menggunakan pendekatan RME dengan teori
bruner. Hasil pengamatan terhadap siswa pada pertemuan pertama, didapatkan bahwa
siswa sudah mengikuti sebagian besar indikator pembelajaran yang sudah diterapkan
oleh guru.Ada 5 indikator yang belum tercapai oleh siswa.Mungkin siswa terbiasa
dengan pembelajaran konvensional.Siswa sedikit mengalami kesulitan saat
menyelesaikan masalah tanpa bantuan media konkrtit.Tetapi minat siswa untuk
memperhatikan dan mengikuti pembelajaran sudah baik.
Pada pertemuan kedua,siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik
sesuai dengan pendekatan RME dengan teori bruner.Siswa sangat aktif dalam
mengotak atik media yang sudah diberikan.Tujuan pembelajaran yang di inginkan
oleh guru sebagian besar sudah tercapai.Tetapi ada 2 indikator yang belum
tercapai.Minat siswa untuk mengikuti pembelajaran sangat tinggi.Siswa aktif dalam
pembelajaran yang dilakukan oleh guru menggunakan pendekatan RME dengan teori
bruner.
Observasi yang dilakukan pada tahap ini juga meliputi observasi minat siswa
dengan cara memberikan angket kepada siswa. Minat siswa terdistribusi dalam
diperoleh siswa dapat diketahui pencapaian minat belajar siswa pada kegiatan
pembelajaran siklus 1 dan dikategorikan sesuai dengan jumlah skor. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3
Hasil Minat Siswa Siklus 1
Rentang Nilai Keterangan Frekuensi Persentase
17 – 32 Tidak Berminat 0 0%
33 – 48 Kurang Berminat 4 25%
49 – 64 Berminat 10 62,5%
65 – 80 Sangat Berminat 2 12,5%
Dari tabel 4.3 hasil minat siswa dalam mengikuti pembelajaran siklus 1
menunjukkan 2 siswa sudah masuk dalam kategori sangat berminat dengan
persentase 12,5 %, 10 siswa masuk dalam kategori berminat dengan persentase
62,5% dan 4 siswa yang memiliki minat dalam kategori kurang berminat dengan
persentase 25%. Apabila data diatas disajikan dalam bentuk diagram maka akan
terlihat seperti berikut ini.
Hasil pengamatan hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus I dengan
menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner kelas 4 SD Negeri 1 Mrisi
Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan, sebagai berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Hasil Belajar Matematika Siklus 1
No Interval Nilai Frekuensi Persentase (%) Keterangan
1 30 – 39 0 0 % Tidak Tuntas
2 40 – 49 0 0 % Tidak Tuntas
3 50 – 59 1 6,25 % Tidak Tuntas
4 60 – 69 3 18,75 % Tidak Tuntas
5 70 – 79 9 56,25 % Tuntas
6 80 – 89 2 12,5 % Tuntas
7 90 – 100 1 6,25 % Tuntas
Jumlah 16 100
Nilai rata-rata 71,56
Nilai tertinggi 90
Nilai terendah 55
Berdasarkan tabel 4.4 distribusi frekuensi nilai mata pelajaran Matematika
dapat dikatakan hasil belajar masih rendah.Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya
siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran yaitu dibawah KKM 70. Dari tabel
tersebut diketahui skor nilai antara 50-59 frekuensinya ada 1 dengan persentase
6,25% dari jumlah keseluruhan siswa, 60-69 frekuensinya ada 3 dengan persentase
18,75% dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai antara 70-79 frekuensinya ada 9
dengan persentase 56,25% dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai antara 80-89
90-100 frekuensinya ada 1 dengan persentase 6,25% dari jumlah keseluruhan siswa
siswa dan dapat dilihat pada daftar nilai siswa (terlampir). Berdasarkan tabel 4.4
dapat digambarkan dalam gambar 4.4 sebagai berikut :
Gambar 4.4 Diagram Batang Distribusi Hasil Belajar Matematika Siklus I
Berdasarkan gambar 4.4 nampak bahwa hasil belajar matematika paling
banyak terdapat pada interval skor 70-79 yakni terdapat 9 siswa, sedangkan siswa
yang paling sedikit terdapat pada interval skor 50-59 ada 1 dan 90-100 ada 1 siswa.
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) data hasil perolehan nilai
kondisi awal dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.5 berikut ini
Tabel 4.5
Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siklus I
Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)
≥ 70 Tuntas 12 75
< 70 Tidak tuntas 4 25
Jumlah 16 100
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
30 – 39 40 – 49 50 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100
Ketuntasan belajar siswa pada siklus 1 dapat diketahui bahwa siswa yang
memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) sebanyak 4 siswa
atau 25%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 12 siswa
dengan persentase 75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang
mengalami ketuntasan diatas KKM lebih banyak dari pada jumlah siswa yang tidak
tuntas. Ketuntasan belajar siswa pada tabel 4.5 dapat dilihat pada diagram lingkaran
4.5 berikut :
Gambar 4.5Diagram Lingkaran Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus 1
Berdasarkan gambar 4.5 nampak bahwa ketuntasan belajar siswa kelas 4 di
SD Negeri 1 Mrisi mencapai 75% yang ditentukan pada warna biru pada gambar
diagram lingkaran. Sedangkan yang tidak tuntas mencapai 25% yang di tunjukan
pada warna merah pada gambar diagram lingkaran.
Adapun perbandingan ketuntasan hasil belajar matematika pada kondisi awal
sebelum tindakan dan setelah tindakan pada siklus I, dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
75,% 25%
Tuntas
Tabel 4.6 Perbandingan Persentase Hasil Belajar Matematika Kondisi Awal dan Siklus I
No. Kriteria Pra Siklus Siklus I
F % F %
1 Tuntas 5 31,25 12 75
2 Tidak tuntas 11 68,75 4 25
3 Skor rata-rata 63,12 71,56
4 Skor maksimum 80 90
5 Skor minimum 40 55
Dari perbandingan pada tabel 4.6, dapat dilihat adanya peningkatan hasil
belajar matematika dari kondisi awal dan setelah dilakulan tindakan siklus I.
Peningkatan yang terjadi sebesar 43,75%.ketuntasan belajar mencapai 75%.
Meskipun demikian, peningkatan hasil belajar ini belum mencapai kriteria yang
ditetapkan peneliti yaitu 85% dari jumlah siswa. Perbandingan hasil belajar
Matematika Pra siklus dan siklus I, disajikan dalam grafik berikut ini:
Gambar 4. 6 Diagram Perbandingan Hasil Belajar Pra Siklus dan Siklus I 0
2 4 6 8 10 12 14
Pra Siklus Siklus I
Tuntas
4.2.2.4Tahap Refleksi
Pada pertemuan pertama dan kedua, hasil pengamatan menunjukkan bahwa
guru sudah menguasai pembelajaran dengan baik. Dalam pertemuan pertama dan
kedua dalam siklus I, guru sudah melaksanakan semua indikator pembelajaran
dengan baik.
Hasil pengamatan terhadap siswa pada pertemuan pertama, didapatkan bahwa
siswa sudah mengikuti sebagian besar indikator pembelajaran yang sudah diterapkan
oleh guru.Ada 5 indikator yang belum tercapai oleh siswa.Siswa kuramg aktif
bertanya,siswa belum menggunakan media untuk menyelesaikan masalah secara
informal,siswa belum menyampaikan alternative jawaban yang mereka
temukan,Siswa belum aktif untuk menanggapi jawaban yang dikemukakan oleh
temannya.Mungkin siswa terbiasa dengan pembelajaran konvensional.Siswa sedikit
mengalami kesulitan saat menyelesaikan masalah tanpa bantuan media konkrtit.
Pada pertemuan kedua,siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik
sesuai dengan pendekatan RME dengan teori bruner.Siswa sangat aktif dalam
mengotak atik media yang sudah diberikan.Tujuan pembelajaran yang di inginkan
oleh guru sebagian besar sudah tercapai.Tetapi ada 2 indikator yang belum
tercapai.Siswa kurang aktif bertanya dan kurang aktif untuk menanggapi jawaban dari
temanya.Minat siswa untuk mengikuti pembelajaran sangat tinggi.Siswa aktif dalam
pembelajaran yang dilakukan oleh guru menggunakan pendekatan RME dengan teori
bruner.
Hasil pengamatan minat siswa pada siklus I menunjukkan 2 siswa sudah
masuk dalam kategori sangat berminat dengan persentase 12,5 % dan 10 siswa masuk
dalam kategori berminat dengan persentase 62,5% dan 4 siswa yang memiliki minat
dalam kategori kurang berminat dengan persentase 25%.
Pembelajaran Matematika kelas 4 pada materi bangun simetris pada siklus I
ini belum berhasil karena ketutasan hasil belajar baru 75 % belum mencapai kriteria
sebanyak 12 siswa dari 16 siswa.Siswa yang belum tuntas disebabkan karena minat
mereka dalam pembelajaran kurang ini ditunjukan pada hasil minat siswa dalam
mengikuti pembelajaran siklus 1 menunjukkan 2 siswa sudah masuk dalam kategori
sangat berminat dengan persentase 12,5 % dan 10 siswa masuk dalam kategori
berminat dengan persentase 62,5% dan 4 siswa yang memiliki minat dalam kategori
kurang berminat dengan persentase 25%.Faktor lain juga berpengaruh seperti
kemampuan individu untuk memahami materi.
Berdasarkan data yang telah dianalisis, maka peneliti menyimpulkan bahwa
pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar Matematika siswa kelas 4 SD
Negeri 1 Mrisi Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten grobogan. Namun,
keberhasilannya baru 75% saja belum sesuai dengan target pencapaian yang
ditetapkan peneliti yaitu 85% dari jumlah siswa. Maka dari itu, peneliti memutuskan
untuk melanjutkan ke dalam siklus II.
4.2.3. Deskripsi Siklus II 4.2.3.1.Tahap Perencanaan
Dalam tahap perencanaan siklus II ini, peneliti melakukan beberapa langkah
untuk memperbaiki indikator yang belum tercapai dalam siklus I antara lain:
1. Memeriksa semua instrumen yang akan digunakan meliputi RPP , soal evaluasi
dan materi yang akan disajikan.
2. Menyiapkan semua alat peraga dan sarana lain yang dibutuhkan seperti
spidol,kaca,boneka, bulpen, dan kertas.
3. Menyiapkan lembar pengumpul data yaitu lembar observasi minat dan lembar
observasi untuk guru serta siswa.
4.2.3.2.Tahap Pelaksanaan
Setelah semua persiapan selesai, langkah selanjutnya yaitu langkah
pelaksanaan tindakan dimana pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus II dibagi
Pertemuan I
1. Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah beberapa
kegiatan yang dirancang dalam RPP meliputi membuka pelajaran dengan salam
pembuka, berdoa, mengecek kehadiran siswa, mengkondisikan siswa agar siap
mengikuti pembelajaran, dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi yang
dilakukan adalah menanyakan kembali materi yang telah dipelajari pada
pembelajaran sebelumnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
yaitu pencerminan.
2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, langkah yang dilakukan peneliti yaitu siswa menyimak
masalah kontekstual yaitu tentang bercermin. Guru menyampaikan permasalahan
yang harus diselesaikan siswa yaitu tentang bercermin dalam sehari hari. Siswa
berkelompok dan mengotak-atik media berupa cermin dan boneka untuk
menyelesaikan masalah dengan menggunakan media yang sudah di sediakan oleh
guru. Siswa menyampaikan alternatif yang mereka temukan tentang sifat sifat
bayangan, siswa lain menanggapi. Guru memberi respon positif terhadap berbagai
jawaban siswa. Guru membimbing siswa untuk menentukan jawaban yang benar
sekaligus mengarahkan siswa untuk memahami konsep tentang sifat bayangan hasil
pencerminan. Guru memperluas permasalahan untuk diselesaikan siswa dengan cara
formal dengan memberikan soal kepada siswa dan diselesaikan menggunakan
caranya sendiri secara formal. Guru mengamati kerja siswa dan memeriksa hasilnya.
3. Kegiatan Penutup
Pada kegiatan ini peneliti bersama guru dan siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran. Guru menyampaikan materi yang akan di pelajari pada pertemuan
Pertemuan II
1. Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah beberapa
kegiatan yang dirancang dalam RPP meliputi membuka pelajaran dengan salam
pembuka, berdoa, mengecek kehadiran siswa, mengkondisikan siswa agar siap
mengikuti pembelajaran, dan melakukan apersepsi. Kegiatan apersepsi yang
dilakukan adalah menanyakan kembali materi yaitu tentang sifat sifat bayangan yang
telah dipelajari pada pembelajaran sebelumnya dan menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai yaitu percerminan
2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, langkah yang dilakukan peneliti yaitu memberikan siswa
masalah yang kontekstual untuk disimak.Siswa dibentuk kelompok dan di berikan
media berupa cermin dan gambar garis tegak mendatar dan miring. Siswa
menyampaikan alternatif yang mereka temukan dalam mengerjakan maslah yang ada
dalam kelompok yaitu tentang pencerminan pada garis tegak, miring, dan
mendatar.Siswa lain menanggapi dan guru menampung semua jawaban.Siswa
dibimbing guru menentukan hasil pencerminan yang benar dengan memerhatikan
sifat-sifat bayangan hasil pencerminan. Guru memperluas permasalahan untuk
diselesaikan siswa dengan cara formal dengan meminta siswa menggambar bangun
datar beserta hasil pencerminannya oleh garis tegak, mendatar, dan garis miring tanpa
bantuan cermin. Guru mengamati kerja tiap-tiap kelompok dan memastikan hasil
pencerminan yang digambar siswa benar. Siswa diberi kesempatan bertanya tentang
materi yang belum dipahami. Guru memberi umpan balik dengan memberi
pertanyaan seputar pencerminan.Setelah itu guru membagikan soal evaluasi kepada
siswa untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman yang didapat siswa pada
pembelajaran kali ini.
Pada kegiatan ini Siswa dibimbing guru menyimpulkan konsep tentang hasil
pencerminan pada garis tegak, garis mendatar, dan garis miring. Guru menyampaikan
rencana kegiatan pertemuan berikutnya.
4.2.3.3. Tahap Pengamatan
Pada tahap pengamatan, yang diamati adalah hasil belajar dan minat siswa
dalam mengikuti pembelajaran.Hasil belajar diamat melalui tes dan minat melalui
pemberian angket kepada siswa yang dilakukan pada akhir pertemuan kedua siklus II.
Berikut ini akan disajikan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah dilakukan
tindakan pada siklus II, yang meliputi pertemuan pertama dan pertemuan kedua.
1. Hasil Pengamatan terhadap Guru
Selama proses pembelajaran, observer melakukan pengamatan terhadap
pembelajaran yang menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner.Hasil
pengamatan terhadap guru pada siklus II pertemuan pertama, didapatkan bahwa guru
sudah melaksanakan semua indikator pembelajaran yang sudah ditentukan. secara
keseluruhan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah terlaksana
dengan baik.
Pada pertemuan kedua siklus dua, hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru
sudah menguasai pembelajaran dengan baik. Dalam pertemuan kedua ini, guru sudah
melaksanakan semua indikator pembelajaran dengan baik.
1) Hasil Pengamatan terhadap Siswa
Selama proses pembelajaran, observer juga melakukan pengamatan terhadap
siswa selama proses pembelajaran menggunakan pendekatan RME dengan teori
bruner.Hasil pengamatan terhadap siswa pada siklus dua pertemuan pertama,
didapatkan bahwa siswa sudah mengikuti semua indikator pembelajaran yang sudah
diterapkan oleh guru.Ada 15 indikator yang sudah tercapai.Siswa sudah terbiasa
dengan pembelajaran aktif dengan pendekatan RME dengan teori bruner.Keaktifan
dan cara penggunaaan media sudah berjalan dengan tujuan pembelajaran.Minat siswa
Pada pertemuan kedua siklus dua ,siswa sudah mengikuti pembelajaran
dengan baik sesuai dengan pendekatan RME dengan teori bruner.Siswa sangat aktif
dalam mengotak atik media yang sudah diberikan.Tujuan pembelajaran yang di
inginkan oleh guru semuanya sudah tercapai.Minat siswa untuk mengikuti
pembelajaran sangat tinggi.Siswa aktif dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru
menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner.
Observasi yang dilakukan pada tahap ini juga meliputi observasi minat siswa
dengan cara memberikan angket kepada siswa. Minat siswa terdistribusi dalam
berbagai aspek dan indikator. Berdasarkan distribusi jumlah skor minat yang
diperoleh siswa dapat diketahui pencapaian minat belajar siswa pada kegiatan
pembelajaran siklus II dan dikategorikan sesuai dengan jumlah skor. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.7
Hasil Minat Siswa Siklus II
Rentang Nilai Keterngan Frekuensi Persentase
17 – 32 Tidak Berminat 0 0%
33 – 48 Kurang Berminat 1 6,25%
49 – 64 Berminat 8 50%
65 – 80 Sangat Berminat 7 43,75%
Dari tabel 4.7 hasil minat siswa dalam mengikuti pembelajaran siklus II
menunjukkan 7 siswa sudah masuk dalam kategori sangat berminat dengan
persentase 43,75 %, 8 siswa masuk dalam kategori berminat dengan persentase 50%
dan 1 siswa yang memiliki minat dalam kategori kurang berminat dengan persentase
6,25%. Apabila data diatas disajikan dalam bentuk diagram maka akan terlihat seperti
Gambar 4.7 Diagram Hasil Minat Siswa Siklus II
Hasil pengamatan hasil belajar siswa yang diperoleh pada Siklus II dengan
menggunakan pendekatan RME dengan teori bruner kelas 4 SD Negeri 1 Mrisi
Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan, sebagai berikut:
Tabel 4.8
Distribusi Hasil Belajar Matematika Siklus II
No Interval Nilai Frekuensi Persentase Keterangan
Berdasarkan tabel 4.8 distribusi frekuensi nilai mata pelajaran Matematika
dapat dikatakan hasil belajar sudah tinggi.Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya
siswa yang tuntas dalam pembelajaran dengan KKM 70. Dari tabel tersebut diketahui
skor nilai antara 60-69 frekuensinya ada 1 dengan persentase 6,25% dari jumlah
keseluruhan siswa, skor nilai antara 70-79 frekuensinya ada 4 dengan persentase 25%
dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai antara 80-89 frekuensinya ada 7 dengan
persentase 43,75% dari jumlah keseluruhan siswa, skor nilai antara 90-100
frekuensinya 4 dengan persentase 25% dari keseluruhan siswa dan dapat dilihat pada
daftar nilai siswa (terlampir). Berdasarkan tabel 4.8 dapat digambarkan dalam
diagram 4.8 sebagai berikut ini
Gambar 4.8 Diagram Batang Distribusi Hasil Belajar Nilai Matematika siklus II
Berdasarkan gambar 4.8 nampak bahwa hasil belajar matematika paling
banyak terdapat pada interval skor 80-89 dengan jumlah 7, sedangkan siswa yang
paling sedikit terdapat pada interval skor 60-69 dengan jumlah 1.Berdasarkan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM≥70) data hasil perolehan skor siklus II dapat disajikan
dalam bentuk tabel 4.9 berikut ini :
0 1 2 3 4 5 6 7 8
30 – 39 40 – 49 50 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100
Tabel 4.9
Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar MatematikaSiklus II
Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)
≥ 70 Tuntas 15 93,75
< 70 Tidak tuntas 1 6,25
Jumlah 16 100
Ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa siswa yang
memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥70) sebanyak 1 siswa
dengan presentase 6,25%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal
sebanyak 15 siswa dengan persentase 93,75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui
bahwa jumlah siswa yang mengalami ketuntasan diatas KKM lebih banyak dari pada
jumlah siswa yang tidak tuntas. Ketuntasan belajar siswa pada tabel 4.9 dapat dilihat
pada diagram lingkaran 4.9 berikut ini :
Gambar 4.9 Diagram Lingkaran Ketuntasan Belajar Matematika Siklus II
Berdasarkan gambar 4.9 nampak bahwa ketuntasan belajar matematika siswa
kelas 4 di SD Negeri 1 Mrisi mencapai 93,75% yang ditunjukan pada warna biru
pada gambar diagram lingkaran. Sedangkan yang tidak tintas ditunjukkan pada warna
merah yakni mencapai 6,25%.Untuk mengetahui terjadinya peningkatan hasil belajar
dari siklus I dan siklus II,dapat dilihat pada table di bawah ini :
93.75,% 6.25%
Tuntas
Tabel 4.10 Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siklus I dan Siklus II
Dari tabel 4.10 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika
siswa kelas 4 SD Negeri 1 Mrisi Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan. .
Pada siklus I siswa yang tuntas berjumlah 12 atau sebesar 75% dari jumlah total 16
siswa dengan nilai KKM 70.Sedangkan siswa yang tidak tuntas berjumalah 4 atau
sebesar 25%.Pada siklus 1 skor rata rata siswa adalah 71,56.Pada siklus II terjadi
peningkatan siswa yang tuntas berjumlah 15 atau sebesar 93,75 % dari total siswa 16
dengan KKM 70 , sedangkan siswa yang tidak tuntas berjumlah 1 atau sebesar
6,25%.Pada siklus II skor rata rata siswa juga meningkat menjadi 82,18.
Adapun perbandingan ketuntasan hasil belajar Matematika pada siklus I dan
Siklus II, disajikan dalam grafik berikut ini:
4.2.3.4Tahap Refleksi
Hasil pengamatan terhadap guru pada siklus II pertemuan pertama dan kedua,
didapatkan bahwa guru sudah melaksanakan semua indikator pembelajaran yang
sudah ditentukan. secara keseluruhan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
guru sudah terlaksana dengan baik.
Hasil pengamatan terhadap siswa pada siklus dua pertemuan pertama,
didapatkan bahwa siswa sudah mengikuti semua indikator pembelajaran yang sudah
diterapkan oleh guru.Ada 15 indikator yang sudah tercapai.Siswa sudah terbiasa
dengan pembelajaran aktif dengan pendekatan RME dengan teori bruner.Keaktifan
dan cara penggunaaan media sudah berjalan dengan tujuan pembelajaran.Minat siswa
untuk memperhatikan dan mengikuti pembelajaran baik.
Berdasarkan data yang telah dianalisis , maka peneliti menyimpulkan bahwa
pembelajaran matematika kelas 4 pada materi pencerminan pada siklus II berhasil hal
ini karena peneliti sudah melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran. Pada
siklus II sudah terjadi peningkatan minat dan hasil belajar matematika siswa kelas 4
SD Negeri 1 Mrisi Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan. Keberhasilan
yang dicapai yaitu 93,75% sudah sesuai dengan target pencapaian yang ditetapkan
peneliti yaitu 85% dari jumlah siswa.
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, pada kondisi pra
siklus guru cenderung menggunakan metode konvensional dalam proses
pembelajaran. Keadaan ini membuat siswa kesulitan untuk memahami materi
pelajaran sehingga siswa kurang antusias, bermain sendiri, cerita dengan temannya,
dan juga menjadi pasif. Hal tersebut yang menyebabkan rendahnya hasil belajar
Matematika siswa kelas 4 SD Negeri 1 Mrisi rendah. Siswa yang mencapai KKM
(70) hanya 5 siswa atau 31,25%, sedangkan yang belum mencapai KKM ada 11
siswa atau 68,75%.Dari keadaan tersebut, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan
Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena pendekatan RME dengan teori
bruner dapat melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran tidak hanya berpusat
pada guru.Dalam pembelajaran ini guru dibantu dengan alat peraga sehingga siswa
dapat berpikir secara kongkrit.
Hasil belajar siswa berdasarkan ulangan harian pada kondisi awal, hasil
belajar dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Perbandingan ketuntasan
hasil belajar siswa kondisi awal, siklus I dan siklus II di analisis dengan mengunakan
analisis komparatif :
4.3.1. Analisis Komparatif
Pada analisis komparatif ini akan diuraikan tentang perbandingan hasil belajar
dan ketuntasan belajar Matematika siswa kelas 4 dari kondisi awal, siklus I dan siklus
II untuk mengetahui peningkatan hasil belajar. Perbandingan hasil belajar siswa
ditunjukkan pada tabel 4.11 berikut :
Tabel 4.11
Analisis Komparatif Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus II
No. Kriteria Pra Siklus Siklus I Siklus II
F % F % F %
1 Tuntas 5 31,25 12 75 15 93,75
2 Tidak tuntas 11 68,75 4 25 1 6,25
3 Skor rata-rata 63,12 71,56 82,18
4 Skor maksimum 80 90 100
5 Skor minimum 40 55 65
Dari tabel 4.11 tentang analisis komparatif ketuntasan hasil belajar
matematika nampak bahwa data pada pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan hasil belajar yang signifikan. Disini terdapat kenaikan antara pra siklus,
siswa atau sebesar 31,25% dan yang tidak tuntas sebanyak 11 atau sebesar 68,75 %
nilai rata-rata pada pra siklus yaitu 63,12 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah
40. Pada siklus I mengalami peninggkatan yaitu siswa yang tuntas meningkat menjadi
12 dengan persentase 75%. dan sebanyak 4 siswa yang tidak tuntas dengan presentase
25%, nilai rata-rata pada siklus I yaitu sebesar 71,56 dengan nilai tertinggi 90 dan
nilai terendah 55. Peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II sebanyak
15 siswa yang tuntas dengan persentase sebesar 93,75 % dan 1 siswa yang tidak
tuntas dengan persentase 6,25%, rata-rata pada siklus II yaitu sebesar 82,18 dengan
nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 65.
Adapun perbandingan ketuntasan hasil belajar Matematika pada pra siklus,
siklus I dan Siklus II, disajikan dalam grafik berikut ini:
Gambar 4.11 Diagram Batang Analisis Komparatif Ketuntasan Hasil Belajar Matematika
Dari gambar 4.11 tentang analisis komparatif ketuntasan hasil belajar
matematika nampak bahwa data pada pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah penilaian hasil belajar
dilakukan.Disini terdapat kenaikan antara pra siklus, siklus I dan siklus II atau
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Tuntas
terdapat kenaikan dari pra siklus ke siklus I dengan jumlah siswa yang tuntas pada
pra siklus 5 siswa dan jumlah siswa yang tuntas pada siklus I 12 siswa dengan
peningkatan ketuntasan sebesar 43,75%. Terdapat kenaikan dari siklus I ke siklus II
dengan jumlah siswa yang tuntas pada siklus I 12 siswa dan jumlah siswa yang tuntas
pada siklus II 15 siswa dengan peningkatan ketuntasan sebesar 18,75 %.Pada akhir
siklus II terdapat 1 siswa yang belum tuntas ini disebabkan karena faktor minat siswa
dalam mengikuti pembelajaran.Hasil minat siswa dalam mengikuti pembelajaran
siklus II menunjukkan 7 siswa sudah masuk dalam kategori sangat berminat dengan
persentase 43,75%, 8 siswa masuk dalam kategori berminat dengan persentase 50%
dan 1 siswa yang memiliki minat dalam kategori kurang berminat dengan persentase
6,25%.Faktor internal dari masing masing individu juga berpengaruh untuk
memahami materi yang di sampaikan oleh guru, Karena kemampuan individu untuk
memahami materi tidak sama.
Dalam penelitian ini hipotesis tindakan terbukti bahwa apabila pembelajaran
menerapkan pendekatan RME dengan teori bruner maka hasil belajar matematika
bagi siswa kelas 4 di SD Negeri 1 Mrisi semester II tahun 2014/2015 meningkat.
Peningkatan hasil belajar ini dikarenakan kelebihan dari pendekatan RME dengan
teori bruner yaitu dalam pembelajarannya mengaitkan dengaan kehidupan siswa
sehari-hari. Kelebihan ini tercantum pada pendapat dari Aisyah (2008:7-3)
mengemukakan bahwa pendekatan matematika realistik merupakan sebuah teori
pembelajaran matematika yang berawal dari pandangan Hans Freudenthal.
Pendekatan ini memandang matematika sebagai kegiatan manusia dan harus
dikaitkan dengan realitas.Artinya, matematika harus dekat dan relevan dengan
kehidupan siswa sehari-hari.
Keberhasilan penelitian ini juga relevan dengan penelitian dari Kholidin,
(2010) peningkatan pemahaman konsep perkalian bilangan cacah melaui pendekatan
matematika realistik pada siswa kelas II SD Negeri lembasari 02 tahun pelajaran
2009/2010 pada mata pelajaran matematika telah dilaksanakan sebanyak dua siklus.
ada 2 siswa. Peningkatan rata-rata kelas juga meningkat dari 77 menjadi 84 dengan