• Tidak ada hasil yang ditemukan

19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Baja 2.1.1 Sejarah Baja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Baja 2.1.1 Sejarah Baja"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

19

beberapa elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja

berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini

selalu ada dalam baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil

oksigen, nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan

untuk membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan,

nikel, krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium. Dengan

memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis

kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur

pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice)

atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja hitam karena berwarna hitam,

banyak digunakan untuk peralatan pertanian misalnya sabit dan cangkul.

Sebelum diperkenalkannya metode produksi Bessmer dan berbagai teknik

produksi modern lainnya, baja termasuk material yang mahal dan hanya

digunakan ketika tidak ada material alternatif yang lebih murah, khususnya untuk

bagian tajam dari pisau, alat pencukur, dan pedang, dan berbagai alat perkakas

yang membutuhkan bagian yang keras dan tajam. Baja pada saat itu juga

digunakan untuk pegas, termasuk pegas yang digunakan pada jam.

Dengan berkembangnya metode produksi yang lebih cepat dan ekonomis, baja

menjadi lebih mudah didapat dan menjadi jauh lebih murah. Baja telah

menggantikan penggunaan bongkah besi dalam berbagai hal. Pada abad 20

dengan ditemukannya plastik, penggunaan baja untuk beberapa aplikasi dapat

tergantikan, dikarenakan plastik lebih murah dan lebih ringan. Fiber karbon juga

menggantikan baja untuk berbagai aplikasi yang lebih memprioritaskan berat

yang ringan daripada harga ekonomis, seperti pada pesawat terbang, peralatan

(2)

20 2.1.2 Sifat-sifat Baja

Baja mempunyai sejumlah sifat yang membuatnya menjadi baqhan

bangunan yang sangat berharga. Beberapa sifat baja yang penting adalah:

1. Kekuatan.

Baja mempunyai daya tarik,lengkung, dan tekan yang sangat

besar. Pada setiap partai baja, pabrikan baja menandai beberapa besar daya

kekuatan baja itu. Pabrikan baja misalnya, memasukan satu partai baja

batangan dan mencatumkan pada baja itu Fe 360. di sini Fe menunjukan

bahwa partai itu menunjukkan daya kekuatan (minimum) tarikan atau

daya tarik baja itu. Yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah gaya

tarik N yang dapat dilakukan baja bergaris tengah 1 mm2 sebelum baja itu

menjadi patah. Dalam hal ini daya tarik itu adalah 360 N/mm2. dahulu kita

mencantumkan daya tarik baja itu Fe 37, karena daya tariknya adalah 37

kgf/mm2. karna smengandung sedikit kadar karbon, maka semua jenis

baja mempunyai daya tarik yang kuat. Oleh karna daya tarik baja yang

kuat maka baja dapat menahan berbagai tegangan, seperti tegangan lentur.

2. Kekerasan

Baja itu sangat keras sekali sehingga sebagai bahan konstruksi,

baja mungkin saja untuk digunakan berbagai tujuan. Apabila untuk

produk-produk baja tertentu ada suatu keharusan,maka bisa saja baja itu,

dengan cara dipanaskan,dibuat luar biasa kerasnya.

3. Ketahanan terhadap korosi

Tanpa perlindungan, baja sangat cepat berkarat. Untung saja baja

(3)

21 3.1Perawatan dengan panas

Kekerasan yang lebih besar adalah sangat penting untuk

benda-benda tertentu yang dibuat dari baja. Yang dimaksud dari

kekerasan suatu bahan adalah ketahananannya terhadap bisa atau

tidak dimasuki oleh bahan lain. Untuk dapat mencapai kekerasan

yang tinggi, maka diperlukan sistim perawatan dengan panas khusus yang disebut „pengerasan‟ . sebuah benda baru dapat dikuatkan sesudah benda itu diproduksikan. Ada beberapa cara

untuk mengeraskan:

- mengeraskan secara mendalam:Benda dari baja baik bagian

luar maupun bagian dalam dibuat menjadi sangat keras.

- mengeraskan permukaan :Hanya bagian luar saja yang

keras sedangkan bagian intinya tidak.

3.2Pengerasan yang mendalam

Pada pengerasan mendalam, benda yang sudah terbentuk,

dipanaskan dengan temperature yang cukup tinggi. Kemudian

dengan cepat didinginkan; tindakan ini disebut „mengejutkan‟baja. Pendinginan ini bisa dilakukan di dalam air,minyak atau udara. Benda itu menjadi keras bukan hanya

bagian luar saja, tetapi juga intinya menjadi keras benar.

Dengan cara ini baja baja menjadi cepat rapuh; berarti baja itu

dapat cepat patah. Kita semua paham betapa mudah patahnya

ulir mata bor dari baja yang berukuran kecil.

3.3.Pengerasan permukaan

Untuk peralatan-peralatan tertentu hanya bagian luarnya

saja yang harus dikeraskan. Untuk dapat menerima tekanan

yang besar, inti benda ini harus tetep lentur. Hal ini dapat

(4)

22

benda tersebut. Pengerasan permukaan dipakai pada poros

engkol (crankshaft), kopling akar,cacing,roda cacing, dan gigi

cacing.

3.3Tempering

Tempering adalah memanaskan baja yang sudah diperkeras

dengan temperature yang cukup rendah (180oC), diikuti dengan

pendinginan secara perlahan-lahan. Tempering dilakukan

dengan tujuan memberikan struktur yang lebih merata pada

bahan itu. Lewat proses ini maka baja yang telah diperkeraskan

tadi hanya sedikit saja yang diperlunak, tetapi baja itu menjadi

tidak begitu rapuh. Karena tempering, produk tersebut menjadi

terhindar dari perubahan bentuk (pertambahan isi) sebagai

kibat proses pengerasan. Hal ini, terutama ukuran akhir dan

semacamnya sangat penting untuk alat pengukur yang tepat

seperti caliber.

2.2 Pengelasan

2.2.1 Sejarah Pengelasan

Berdasarkan penemuan benda-benda sejarah dapat diketahui bahwa

teknik penyambungan logam telah diketahui sejak zaman prasejarah, misalnya

pematrian timbal-timah menurut keterangan yang didapat telah diketahui dan

dipraktekan dalam rentang waktu antara 4000 sampai 3000SM. Sumber energi

panas yang dipergunakan pada waktu itu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu

atau arang. Berhubung suhu yang diperoleh dengan pembakaran kayu dan arang

sangat rendah maka teknik penyambungan ini pada waktu itu tidak dikembangkan

lebih lanjut.

Setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, teknologi

pengelasan maju dengan pesat sehingga menjadi suatu teknik penyambungan

yang mutakhir. Cara-cara dan teknik pengelasan yang banyak digunakan pada

waktu ini seperti las busur,las resistansi listrik, las termit dan las gas, pada

(5)

23

Alat-alat busur dipakai secara luas setelah alat tersebut digunakan dalam

praktek oleh Benardes dalam tahun 1885. Dalam penggunaan yang pertama ini

Benardes memakai elektroda yang dibuat dari batang karbon atau grafit. Dengan

mendekatkan elektroda kelogam induk atau logam yang akan dilas sejarak

kira-kira 2 mm, maka terjadi busur listrik yang merupakan sumber panas dalam proses

pengelasan. Karena panas yang timbul, maka logam pengisi yang terbuat dari

logam yang sama dengan logam induk mencair dan mengisi tempat sambungan.

Dalam tahun 1889 Zerner mengembangkan cara pengelasan busur yang

baru dengan menggunakan busur listrik yang dihasilkan oleh dua batang karbon.

Dengan cara ini busur yang dihasilkan ditarik ke logam dasar oleh gaya

elektromagnit sehingga terjadi semburan busur yang kuat.

Slavianoff dalam tahun 1892 adalah orang pertama yang menggunakan

kawat logam elektroda yang turut mencair karena panas yang ditimbulkan oleh

busur listrik yang terjadi. Dengan penemuan ini maka elektroda di smping

berfungsi sebagai penghantar dan pembangkit busur listrik juga berfungsi sebagai

logam pengisi. Kemudian Kjellberg menemukan bahwa kualitas sambungan las

menjadi lebih baik bila kawat elektroda logam yang digunakan dibungkus dengan

terak. Penemuan ini adalah permulaan dari penggunaan las busur dengan

elektroda terbungkus yang sangat luas penggunaanya pada waktu ini.

Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai

sampai dengan tahun 1950, telah mulai mempercepat lagi kemajuan dalam bidang

las. Karena itu, tahun 1950 dapat dianggap sebagai permulaan masa keemasan

yang ketiga yang masih terus berlangsung terus sampai sekarang. Selama masa

keemasan yang ketiga ini telah ditemukan cara-cara las baru antara lain las tekan

dingin, las listrik terak, las busur dengan perlindungan gas CO2, las gesek, las

ultrasonik, las sinar elektron, las busur plasma, las laser dan masih banyak lagi

lainnya. Jumlah penemuan pada tahun-tahun tertentu dan jenis pengelasan yang

ditemukan dipergunakan dalam praktek pada waktu ini, sebagian masih

memerlukan perbaikanyang mungkin dalam waktu yang dekat akan menjadi lebih

bermanfaat dan dapat merupakan sumbangan yang berharga kepada kemajuan

(6)

24

Gambar. 2.1 Perkembangan cara pengelasan (Wiryosumarto,2004)

2.2.2 Pengertian las

Berdasarkan definisi dari Deutche Industrie Normen (DIN) las adalah ikatan

metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam

keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa

las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan

energi panas. Pada waktu itu telah digunakan lebih dari 40 jenis pengelasan

termasuk pengelasan yang dilaksanakan dengan hanya menekan dua logam yang

disambung sehingga terjadi ikatan antara atom-atom atau molekul-molekul dari

logam yang disambungkan.

Pengelasan dapat diartikan dengan proses penyambungan dua buah

logam sampai titik rekristalisasi logam, dengan atau tanpa menggunakan

bahan tambah dan menggunakan energi panas sebagai pencair bahan yang

dilas. Pengelasan juga dapat diartikan sebagai ikatan tetap dari benda atau

logam yang dipanaskan.

Mengelas bukan hanya memanaskan dua bagian benda sampai

mencair dan membiarkan membeku kembali, tetapi membuat lasan yang utuh

dengan cara memberikan bahan tambah atau elektroda pada waktu dipanaskan

sehingga mempunyai kekuatan seperti yang dikehendaki. Kekuatan sambungan

(7)

25 elektroda dan jenis kampuh yang digunakan.

2.2.3 Klasifikasi Cara-cara Pengelasan dan Pemotongan

Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yang

digunakan dalam bidang las, ini disebabkan karena belum adanya kesepakatan

dalam hal tersebut. Secara konvesional cara-cara pengklasifikasiaan tersebut pada

waktu ini dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan cara

kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan. Klasifikasi pertama

membagi las dalam kelompok las cair, las tekan, las patri dan lain-lainnya,

sedangkan klasifikasi yang kedua membedakan adanya kelompok-kelompok

seperti las listrik, las kimia, las mekanik dan seterusnya. Bila diadakan klasifikasi

yang lebih terperinci lagi, maka kedua klasifikasi tersebut di atas akan terbaur dan

akan terbentuk kelompok-kelompok yang banyak sekali.

Di antara kedua cara klasifikasi tersebut, kelihatannya klasifikasi

berdasarkan cara kerja lebih banyak digunakan, berdasarkan klasifikasi ini

pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama yaitu :

1. Pengelasan cair adalah cara pengelasan di mana sambungan dipanaskan

sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik atau semburan api gas

yang terbakar. Pengelasan cair dapat dibagi lagi menjadi  Las Busur Plasma

2. Pengelasan tekan adalah cara pengelasan di mana sambungan dipanaskan dan

kemudian ditekan hingga menjadi satu. Pengelasan tekan dapat dibagi lagi

(8)

26

3. Pematrian adalah cara pengelasan di mana sambungan diikat dan disatukan

dengan menggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah.

Pematrian dapat di bagi lagi menjadi  Pembrasingan

 Penyolderan

Perincian lebih lanjut dari klasifikasi ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1. Klasifikasi Cara Pengelasan

2.2.4 Las SMAW (Shielded Metal Arc Welding)

Las tistrik ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah.

Busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan

(9)

27

turut terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung

elektroda, kawah Ias, busur Iistri dan daerah Ias di sekitar busur listrik terhadap

pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi

permukaan Ias yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.

Logam induk dalam pengelasan ini mengalami pencairan akibat

pemanasan dari busur listrik yang timbul antara ujung elektroda dan

permukaan benda kerja. Busur listrik dibangkitkan dari suatu mesin las.

Elektroda yang digunakan berupa kawat yang dibungkus pelindung berupa

fluks. Elektroda ini selama pengelasan akan mengalami pencairan bersama

dengan logam induk dan membeku bersama menjadi bagian kampuh las.

Proses pemindahan logam elektroda terjadi pada saat ujung elektroda

mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa arus busur listrik yang

terjadi. Bila digunakan arus listrik besar maka butiran logam cair yang

terbawa menjadi halus dan sebaliknya bila arus kecil maka butirannya menjadi

besar.

Pola pemindahan logam cair sangat mempengaruhi sifat mampu las dari

logam. Logam mempunyai sifat mampu las yang tinggi bila pemindahan terjadi

dengan butiran yang halus. Pola pemindahan cairan dipengaruhi oleh besar

kecilnya arus dan komposisi dari bahan fluks yang digunakan. Bahan fluks

yang digunakan untuk membungkus elektroda selama pengelasan

mencair dan membentuk terak yang menutupi logam cair yang terkumpul di

tempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang oksidas

(10)

28 2.3 Pengujian Hasil Pengelasan

2.3.1 Uji Tarik

Proses pengujian tarik bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik

benda uji. Pengujian tarik untuk kekuatan tarik daerah las dimaksudkan untuk

mengetahui apakan kekuatan las mempunyai nilai yang sama, lebih rendah

atau lebih tinggi dari kelompok raw materials. Pengujian tarik untuk kualitas

kekuatan tarik dimaksudkan untuk mengetahui berapa nilai kekuatannya dan

dimanakah letak putusnya suatu sambungan las. Pembebanan tarik adalah

pembebanan yang diberikan pada benda dengan memberikan gaya tarik

berlawanan arah pada salah satu ujung benda.

Penarikan gaya terhadap beban akan mengakibatkan terjadinya

perubahan bentuk (deformasi) bahan tersebut. Proses terjadinya deformasi

pada bahan uji adalah proses pergeseran butiran kristal logam yang

mengakibatkan melemahnya gaya elektromagnetik setiap atom logam hingga

terlepas ikatan tersebut oleh penarikan gaya maksimum.

Pada pengujian tarik beban diberikan secara kontinu dan pelan–pelan

bertambah besar, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan mengenai

perpanjangan yang dialami benda uji dan dihasilkan kurva tegangan-

regangan

(11)

29

Tegangan di mana deformasi plastik atau batas luluh mulai teramati

tergantung pada kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan

mengalami perubahan sifat dari elastik menjadi plastik yang berlangsung sedikit

demi sedikit, dan titik di mana deformasi plastik mulai terjadi dan sukar

ditentukan secara teliti. Telah digunakan berbagai kriteria permulaan batas luluh

yang tergantung pada ketelitian pengukuran regangan dan data-data yang akan

digunakan.

•Batas Elastis σE (Elastic Limit)

Berdasarkan pada pengukuran regangan mikro pada skala regangan 2 X 10-6

inchi/inchi. Batas elastik nilainya sangat rendah dan dikaitkan dengan gerakan

beberapa ratus dislokasi.

•Batas Proporsional σp (Proportional Limit)

Tegangan tertinggi untuk daerah hubungan proporsional antara

tegangan-regangan. Harga ini diperoleh dengan cara mengamati penyimpangan dari

berbagai garis lurus kurva tegangan-regangan. • Deformasi Plastis (Plastic Deformation)

Tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh bahan tanpa terjadi regangan

sisa permanen yang terukur pada saat beban telah ditiadakan. Dengan

bertambahnya ketelitian pengukuran regangan, nilai batas elastiknya menurun

hingga suatu batas yang sama dengan batas elastik sejati yang diperoleh dengan

cara pengukuran regangan mikro.

•Tegangan Luluh Atas σuy (Upper Yield Stress)

Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan

deformasi elastis ke plastis.

•Tegangan Luluh Bawah σly (Lower Yield Stress)

Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase

deformasi plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka

yang dimaksud adalah tegangan ini. •Regangan Luluh εy (Yield Strain)

(12)

30

Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan

regangan ini akan kembali ke posisi semula. •Regangan Plastis εp (Plastic Strain)

Regangan yang diakibatkan perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan

regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.

• Regangan Total (Total Strain)

Merupakan gabungan regangan plastis dan regangan elastis, εT = εe+εp. • Tegangan Tarik Maksimum TTM (UTS, Ultimate Tensile Strength)

Merupakan besar tegangan maksimum yang didapatkan dalam uji tarik. • Kekuatan Patah (Breaking Strength)

Merupakan besar tegangan dimana bahan yang diuji putus atau patah.

2.3.2 Uji Kekerasan

Proses pengujian logam kekerasan logam dapat diartikan sebagai

kemampuan suatu bahan terhadap pembebanan dalam perubahan yang tetap.

Harga kekerasan bahan tersebut dapat dianalisis dari besarnya pembebanan

yang diberikan terhadap luasan bidang yang menerima pembebanan.

Pengujian kekerasan logam ini secara garis besar ada 3 jenis yaitu cara

goresan, penekanan, cara dinamik. Proses pengujian yang mudah dan cepat

dalam memperoleh angka kekerasan yaitu penekanan. Penentuan kekerasan

penekanan ada 3 cara yaitu Brinell, Vickers, dan Rockwell. Pada penelitian ini

digunakan cara kekerasan Brinell

Kekerasan Brinell

Uji kekerasan lekukan yang pertama kali banyak digunakan serta disusun

pembakuannya adalah metode yang diajukan oleh J.A Brinell pada tahun 1900.

Uji kekerasan Brinell berupa pembentukan lekukan pada permukaan logam

dengan memakai bola baja berdiameter 10 mm dan diberi beban 3000 kg. Untuk

logam lunak, beban dikurangi hingga tinggal 500 kg, untuk menghindarkan jejak

yang dalam, dan untuk bahan yang sangat keras, digunakan paduan karbida

tungsten, untuk memperkecil terjadinya distorsi indentor. Beban diterapkan

(13)

31

mikroskop daya rendah, setelah beban tersebut dihilangkan. Kemudian dicari

harga rata-rata dari 2 buah pengukuran diameter pada jejak yang berarah tegak

lurus. Permukaan di mana lekukan akan dibuat harus relatif halus, bebas dari debu

atau kerak. Angka kekerasan Brinell (BHN) dinyatakan sebagai beban Pdibagi

luas permukaan lekukan. Rumus untuk angka kekerasan tersebut adalah,

𝐵𝐻𝑁= P

(πD 2)(D− D2+d2 = P

лDt ...(2-1)

Di mana

P = beban yang diterapkan, kg

D = diameter bola, mm

d = diameter lekukan, mm

t = kedalaman ejak, mm

Satuan dari BHN adalah kilogram per milimeter kuadrat. Akan tetapi,

BHN tidak memenuhi konsep fisika, karena persamaan di atas tidak melibatkan

tekanan rata-rata pada permukaan lekukan.

Gambar 2.4. Parameter-parameter dasar pada pengujian Brinell

(Sriati Djaprie, 1996)

Dari gambar 2.4 dapat dilihat bahwa d = D sin ⌀. Dengan memasukkan

harga ini ke persamaan (2-1), akan dihasilkan bentuk persamaan kekerasan

Brinell yang lain, yaitu

𝐵𝐻𝑁= P

(14)

32

Untuk mendapatkan BHN yang sama dengan beban atau diameter bola

yang tidak standart, diperlukan keserupaan lekukan secara geometris. Keserupaan

geometris akan diperoleh, sejauh besar sudut 2⌀ tidak berubah. Persamaan (2-2)

menunjukkan, bahwa agar ⌀ dan BHN tetap konstan, beban dan diameter bola

harus divariasikan memenuhi perbandingan

...(2-3)

Tanpa menjaga P/D2 konstan, yang dalam percobaan sering sangat

merepotkan, maka BHN akan bervariasi terhadap beban. Pada daerah dengan

beban yang beragam, BHN akan mencapai harga maksimum pada beban

menengah. Oleh karena itu, tidak mungkin menggunakan beban tunggal untuk

mencakup seluruh daerah harga kekerasan yang terdapat pada logam-logam

komersial. Jejak yang relatif besar daripada kekerasan Brinell memberikan

keuntungan dalam membagikan secara pukul rata ketidakseragaman lokal. Selain

itu, uji Brinell tidak begitu dipengaruhi oleh goresan dan kekasaran permukaan

dibandingkan uji kekerasan yang lain. Di lain pihak, jejak Brinell yang besar

ukurannya, dapat menghalangi pemakaian uji tersebut untuk benda uji yang kecil,

atau pada bagian yang kritis terhadap tegangan, di mana lekukan yang terjadi

dapat menyebabkan kegagalan (failure).

2.3.3 Uji Impact

Ketangguhan adalah tahanan bahan terhadap beban tumbukan atau kejutan

(takikan yang tajam secara drastis menurunkan ketangguhan). Tujuan utama dari

pengujian impak adalah untuk mengukur kegetasan atau keuletan bahan terhadap

beban tiba-tiba dengan cara mengukur energi potensial sebuah palu godam yang

dijatuhkan pada ketinggian tertentu. Pengujian impak adalah pengujian dengan

(15)

33

digunakan sebuah mesin dimana sebuah batang dapat berayun dengan bebas.

Pada ujung batang dipasang pemukul yang diberi pemberat. Batang uji diletakkan

di bagian bawah mesin dan takikan tepat pada bidang lintasan pemukul.

Gambar 2.5 Pengujian ketangguhan Charpy (Supardi, 1996)

Keterangan :

1. Pendulum 4. Batang pembawa

2. Piring busur derajat 5. Badan mesin uji

3. Jarum penunjuk sudut 6. Tempat benda uji dipasang

Kerja yang dilakukan untuk mematahkan bnnda kerja adalah

W= G . L (cos β - cos α) ..………..(2-4)

Dimana

W = kerja patah dalam Joule

G = beban yang digunakan dalam kg

L = panjang lengan ayun dalam m β = sudut jatuh dalam derajat α = sudut awal dalam derajat

Bila diketahui luas penampang di bawah takikan (A).... mm2, dapat

disimpulkan perolehan nilai ketangguhan batang uji dihitung sebagai berikut:

Nilai Ketangguhan = 𝑊

𝐴 joule/mm

2

(16)

34 2.4Cacat Pada las

2.4.1 Jenis Cacat Permukaan Las a) Lubang Jarum (Pin Hole)

Sebab : Terbentuk gas di dalam bahan las sewaktu pengelasan akibat

kandungan belerang dalam bahan

Akibat : Kemungkinan bocor di lokasi cacat

Penanggulangan : Gouging 100% di lokasi cacat dan perbaiki sesuai

WPS asli

Gambar 2.6 Lubang jarum (Sri Widharto, 2007)

b) Percikan Las (Spatter)

Sebab : Elektrode lembab, kampuh kotor, angin kencang, lapisan

galvanisir, ampere capping terlalu tinggi

Akibat : Tampak jelek, mengalami karat permukaan.

Penanggulangan : Cukup dibersihkan dengan pahat. Pembersih

dengan gerinda tidak boleh mengingat akan memakan bahan induk.

Gambar 2.7 Percikan Las (Sri Widharto, 2007)

c) Retak (Crack)

Sebab : Tegangan di dalam material, penggetasan pada bahan dan

(17)

35

kawat las, pengelasan tanpa perlakuan panas yang benar.

Akibat : Fatal

Penanggulangan :Diselidiki dulu sebabnya, setelah diketahui baru

ujung-ujung retak dibor dan bagian retak digouging (dikikis) 100%

kemudian diisi dengan bahan yang cocok sesuai dengan WPS. Jika

sebabnya adalah ketidakcocokan materil atau retak berada di luar

kampuh, maka seluruh sambungan las berikut bahannya diganti.

Gambar 2.8Retak (Sri Widharto, 2007)

d) Keropos (Porosity)

Sebab : Lingkungan las lembab atau basah, kampuh kotor, angin

berhembus dipermukaan las, lapisan galvanis, salah jenis arus, salah

jenis polaritas, ampere capping terlalu besar.

Akibat : Melemahkan sambungan, tampak buruk, mengawali karat

permukaan.

Penanggulangan : Cacat digerinda hingga hilang kemudian dilas isi

sesuai WPS.

Gambar 2.9 Keropos (Sri Widharto, 2007)

e) Muka Cekung (Concavity)

Sebab : Tukang las terlalu cepat selesai, amper capping terlalu tinggi,

kecepatan las capping terlalu tinggi, elektrode terlalu kecil, bukaan

sudut kampuh terlalu besar.

Akibat : Melemahkan sambungan, mengawali karat permukaan, dapat

(18)

36

Penanggulangan : Cukup di sempurnakan bentuk capping dan sedikit

penguat (reinforcement)

Gambar 2.10 Muka Cekung (Sri Widharto, 2007)

f) Longsor Pinggir (Undercut)

Sebab : Suhu metal terlalu tinggi, ampere capping terlalu tinggi.

Akibat : Melemahkan sambungan, mengawali karat permukaan.

Penanggulangan : Cukup diisi dengan stringer saja.

Undercut yang tajam seperti takik, dilarang (harus segera diperbaiki)

karena dapat menyebabkan keretakan notch.

Gambar 2.11 Longsor Pinggir (Sri Widharto, 2007)

g) Penguat berlebihan (Excessive Reinforcement)

Sebab : Elektrode terlalu rapat, kecepatan capping terlalu rendah,

ampere capping terlalu rendah, suhu metal terlalu dingin.

Akibat : Diragukan fusi dan kekuatannya, perlu diuji eltrasonik proba

sudut (angle probe), jika ternyata fusi tidak ada, seluruh sambungan

diapkir.

Penanggulangan : gounging 100% dan dilas ulang esuai WPS. Welder

(19)

37

Gambar 2.12 Penguat Berlebihan (Sri Widharto, 2007)

h) Jalur Terlalu Lebar (Wide Bead)

Sebab : Mungkin telah terjadi manipulasi mutu las.

Akibat : Jika terbukti, seluruh material diapkir. Welder tidak lulus.

Gambar 2.13 Jalur Terlalu Lebar (Sri Widharto, 2007)

i) Tinggi Rendah (High Low)

Sebab : Penyetelan tidak benar.

Akibat : Sambungan diapkir.

Penanggulangan: gouging 100%, distel dan dilas ulang sesuai WPS.

Welder diperingatkan.

Gambar 2.14 Tinggi Rendah (Sri Widharto, 2007)

j) Lapis Dingin (Cold Lap)

Sebab : Suhu metel terlalu dingin, ampere capping terlalu rendah,

ayunan (sway) tidak tetap (consistent).

Akibat : Terjadi fusi tidak sempurna dipermukaan dan mungkin juga

di dalam. Karenanya mutu las dipertanyakan.

Penanggulangan : Bongkar keseluruhan jalur las untuk kemudian

(20)

38

Gambar 2.15 Lapis Dingin (Sri Widharto, 2007)

k) Penetrasi Tidak Sempurna (Incomplete Penetration)

Sebab : Celah terlalu sempit, elektrode terlalu tinggi, ampere mesin

las tidak tetap, celah tidak seragam ( sempit dan lebar tidak

beraturan), ampere akar las rendah, kampuh kotor, elektrode terlalu

besar.

Akibat : Di bagian cacat berpotensi retak.

Penanggulangan : Gouging 100% pada bagian cacat dan dilas ulang

sesuai WPS.

Gambar 2.16Penetrasi Tidak Sempurna (Sri Widharto, 2007)

l) Penetrasi Berlebihan (Excessive Penetration)

Sebab : Celah terlalu lebar, elektrode terlalu kecil, ampere akar terlalu

tinggi, kecepatan akan terlalu rendah, elektrode terlalu dalam.

Akibat : Biasa menyebabkan retak akar, karat sebelah dalam,

menghancurkan piq (bola pembersih dalam pipa)

Penanggulangan : Bongkar total, stel kembali dan dilas ulang sesuai

(21)

39

Gambar 2.17 Penetrasi Berlebihan (Sri Widharto, 2007)

m) Retak Akar (Root Crack)

Sebab : Celah terlalu lebar, elektrode terlalu kecil, ampere akar terlalu

tinggi, kecepatan akan terlalu rendah, elektrode terlalu dalam.

Akibat : Biasa menyebabkan retak akar, karat sebelah dalam,

menghancurkan piq (bola pembersih dalam pipa)

Penanggulangan : Bongkar total, stel kembali dan dilas ulang sesuai

WPS.

Jika retak keluar dari jalur las maka seluruh material diganti.

Gambar 2.18 Retak Akar (Sri Widharto, 2007)

n) Terbakar Tembus (Blow Hole)

Sebab : Celah tidak seragam, ampere mesin las tiba-tiba naik, posisi

elektrode naik turun.

Akibat : Pada lokasi cacat sambungan lemahdan terdapat

kemungkinan bocor, mengawali erosi dan karat tegangan pada lokasi

cacat.

Penanggulangan : Gouging 100% di lokasi cacat dan diisi ulang sesuai

(22)

40

Gambar 2.19 Terbakar Tembus (Sri Widharto, 2007)

o) Longsor Pinggir Akar (Root Undercut)

Sebab : Suhu metal terlalu tinggi pada saat pengelasan akar, ampere

akan terlalu besar.

Akibat : Mengawali erosi dan karat sebelah dalam, memungkinkan

terjadinya retak takik (notch).

Penanggulangan : Lokasi cacat di-gouging 100% dan dilas ulang

sesuai WPS.

Gambar 2.20 Longsor Pinggir Akar (Sri Widharto, 2007)

p) Akar Cekung (Root Concavity/ Such Up)

Sebab : Terhisapnya las akar oleh jalur las di atasnya (khususnya pada

GTAW), kecepatan las akar terlalu tinggi.

Akibat : Melemahkan sambungan,potensi terjadi erosi dan karat

tegangan.

Penanggulangan : Lokasi cacat di-gouging 100% dan dilas ulang

(23)

41

Gambar 2.21 Akar Cekung (Sri Widharto, 2007)

q) Stop Start A

Sebab : Penggantian elektrode terlalu mundur.

Akibat : Tampak buruk.

Penanggulangan : Cukup disesuaikan denagn sekitarnya.

Gambar 2.22 Stop Start A (Sri Widharto, 2007)

r) Stop Start B

Sebab ; Penggantian elektrode terlalu maju.

Akibat ; Terjadi bagian yang tidak terjadi (underfill) yang berpotensi

retak.

Penanggulangan : Bersihkan bagian yang underfill.

(24)

42

Cacat las dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni :

1. Kelompok cacat visual

Yakni cacat yang tampak di permukaan las, seperti : spatters

(percikan las), pin hole (lubang jarum), porosity (gelembung

gas/keropos), convacity (cekung), crack (retak) memanjang atau

melintang, cold lap (lapis dingin), undercut (longsor pinggir) baik yang

bertegangan rendah maupun tinggi (notch), excessive reinforcement

(terlalu menonjol), wide bead (terlalu lebar), high low (tinggi rendah/salah

penyetelan), stop start (salah sewaktu mengganti elektrode).

2. Kelompok cacat non visual

Yakni cacat yang terdapat di permukaan namun tidak tampak

karena berada pada akar las, seperti : porosity, convacity (sutc up),

undercut, crack, excessive penetration (tembusan berlebihan), incomplete

penetration (tidak ada tembusan), blow hole (terbakar tembus).

3. Kelompok cacat internal

Yakni cacat yang terdapat di dalam bahan las yang baru dapat

dideteksi dengan menggunakan teknik uji tanpa merusak seperti :

radiografi, ultrasonik maupun magnetik particle, seperti : slag inclusion

(inklusi terak), porosity, slag lines (jajaran terak) atau wagon track (jejak

gerobak), crack, worm metal (inklusi tungsten/ logam berat), incomplete

fussion (fusi tidak sempurna), cold lap.

2.4.2 Retak las

Sebagian besar retak las yang terjadi pada paduan aluminium adalah retak

panas yang termasuk dalam kelompok retak karena pemisahan. Retak las ini dapat

terjadi pada proses pembekuan dan proses pencairan. Retak las yang terjadi pada

proses pembekuan disebabkan karena adanya penyusutan logam yang membeku

dan dapat membentuk retak manik membujur, retak manik melintang dan retak

kawah. Sedangkan retak yang terjadi pada proses pencairan disebabkan karena

adanya pengendapan dari senyawa bertitik cair rendah seperti Mg, Si Cu, Zn dan

lain-lainnya.

Beberapa hal yang diperkirakan menjadi penyebab terjadinya retak las

(25)

43

lapis las, tegangan penahan dan juru las yang kurang terampil. Sebagai contoh

terbentuknya retak manik membujur yang disebabkan oleh tidak sesuainya logam

las dan logam induk adalah bila paduan Al-Mg-Si dilas dengan menggunakan

logam las yang sama. Retak melintang terjadi karena adanya tegangan penahan

arah memanjang yang besar. Sedangkan retak halus yang sukar untuk diperiksa

walaupun dengan pemeriksaan radiografi biasanya disebabkan oleh terlalu

tingginya suhu antar lapis.

2.4.3 Lubang-lubang halus pada pengelasan

Lubang halus yang terjadi pada proses pengelasan aluminium disebabkan

oleh gas hidrogen yang larut ke dalam aluminium cair. Karena batas kelarutan

turun pada waktu pendinginan maka gas hidrogen keluar dari larutan dan karena

proses pembekuan yang cepat menyebabkan gas ini terperangkap dan membentuk

gelembuing halus seperti pada gambar dibawah. Usaha yang paling baik untuk

menghindarinya adalah menghilangkan sumber hidrogen baik yang berbentuk

zat-zat organik seperti minyak maupun yang berbentuk uap.

Gambar 2.24 Terjadinya Lubang Halus dalam Pengelasan Aluminium

(26)

44 2.4.4 Pengaruh Panas Pengelasan

Panas pengelasan pada paduan aluminium akan menyebabkan terjadinya

pencairan sebagian, rekristalisasi, peralutan padat atau pengendapan, tergantung

pada tingginya suhu pada daerah las. Karena perubahan struktur ini biasanya

terjadi penurunan kekuatan dan ketahanan korosi dan kadang-kadang daerah las

menjadi getas, Struktur mikro daerah HAZ dari paduan yang dapat

diperlaku-panaskan ditunjukkan pada gambar dibawah

Gambar 2.25 Struktur Mikro Daerah Las dari Paduan Aluminium yang dapat

diperlaku-panaskan (Wiryosumarto, 2004)

Pada paduan yang dapat dikeras-endapkan, akan terjadi butir-butir

endapan yang kasar sehingga pada daerah ini terjadi penurunan kekuatan dan

ketahanan korosi yang paling besar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

(27)

45

Mulai Pembentukan kampuh

Sudut 45° Sudut 50°

Pola Pengelasan Zig-zag

Pengelasa n Pola C

Pengelasa n Pola C

Pola Pengelasan Zig-zag

Arus 110 A

Pembuatan Material

Melakukan Pengujian

Analisa Data

Hasil Pembahasan

Gambar

Gambar. 2.1 Perkembangan cara pengelasan (Wiryosumarto,2004)
Tabel 2.1. Klasifikasi Cara Pengelasan
Gambar 2.2  Las SMAW (Wiryosumarto, 2004)
Gambar 2.3. Kurva tegangan-regangan (Wiryosumarto, 2004)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel

Melihat potensi kitosan dan silika, keduanya merupakan bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan membran sel bahan bakar karena silika dapat meningkatkan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis akan meneliti pengaruh dari penerapan PSAK 24 khususnya mengenai imbalan pascakerja terhadap risiko perusahaan dan

Achmad Wardi - Badan Wakaf Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Dompet Dhuafa Republika sebagai pengelola RS - Masyarakat dhuafa (gratis disubsidi dana zakat).

Hasil dari penelitian ini terdapat 5 etika moral bushido pada dorama Remake Great Teacher Onizuka 2012, yaitu etika moral keadilan, etika moral kebajikan, etika moral

Namun pada neonatus dengan gejala klinis TB dan didukung oleh satu atau lebih pemeriksaan penunjang (foto toraks, patologi anatomi plasenta dan mikrobiologis darah v.umbilikalis)

Skripsi berjudul “Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Angka Kesakitan Malaria: Studi di Provinsi Lampung” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Implementasi yaitu mengumpulkan serta mencatat transaksi- transaksi yang dilakukan Meubel Alfil Gina seperti daftar pembelian, daftar penjualan, serta data persediaan