ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI
TERHADAP BENIH PADI VARIETAS UNGGUL
DI KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR
Oleh :
David Fahmi
A14104023
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
Varietas Unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Di bawah bimbingan RITA NURMALINA)
Beras menjadi penting bagi rakyat Indonesia karena lebih dari 90 persen rakyat Indonesia menjadikan beras sebagai sumber makanan pokok. Beras juga komoditi yang strategis secara politis karena banyak kepentingan publik didalamnya seperti masalah ketahanan pangan, kondisi politik, stabilitas keamanan, stabilitas ekonomi dan lapangan kerja. Sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah dalam menjaga perberasan nasional.
Meningkatnya jumlah penduduk, lambatnya pertumbuhan produktivitas padi dan luas panen mengakibatkan produksi beras belum mampu memenuhi permintaan beras. Pemerintah berupaya meningkatkan produksi beras untuk memenuhi permintaan beras melalui pendekatan penggunaan varieats unggul. Munculnya varietas-varietas unggul baru yang dikeluarkan pemerintah tentunya berdampak terhadap perilaku petani dalam penggunaan varietas-varietas unggul baru mengingat perbedaan preferensi petani padi terhadap varietas di masing-masing wilayah tidak sama. Tentunya kan berimbas pada penggunaan benih itu sendiri. Kabupaten Kediri sebagai kabupaten sentra produksi padi di Jawa Timur, peranan sektor pertanian khususnya tanaman pangan memiliki peranan penting dalam pembentukan PDRB Kabupaten Kediri itu sendiri.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifkasi karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri (2) menganalisis sikap dan kepuasan petani padi terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri (3) rekomendasi alternatif kebijakan yang perlu dilakukan terkait dengan usaha peningkatan produksi beras nasional. Pemilihan tempat penelitian dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Kediri merupakan salah santu sentra produksi padi di Jawa Timur serta pentignya sektor pertanian pangan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Kediri. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai April 2008. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling.
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan bantuan tabulasi deskriptif untuk mempermudah pemahaman mengenai karakteristik dan proses pengambilan keputusan pembelian. Alat analisis yang digunakan untuk menganalisis sikap adalah model multiatribut Fishbein, sedangkan untuk menganalisis kepuasan menggunakan Importance and Performance Analysis dan Customer Satisfaction Index.
Berdasarkan hasil karakteristik responden, petani responden adalah laki-laki, sebagian besar berusia antara 51-60 tahun dan telah berkeluarga dengan jumlah keluarga (istri dan anak) sebagian besar sebanyak enam orang. Petani menetapkan bertani sebagai pekerjaan utama mereka. Pola tanam yang biasa digunakan petani di Kabupaten Kediri adalah padi-padi-jagung/palawija/hortikultura. Hasil panen padi biasanya berkisar antara 4 sampai 7,9 ton per hektar.
ayah maupun kakek mereka. Mereka menyadari bahwa penggunaan benih varietas unggul sangatlah penting karena dengan menggunakan varietas unggul hasil panen akan lebih bagus atau meningkat. Informasi mengenai benih varietas unggul para petani lebih senang mencari informasi ke toko pertanian. Informasi yang dibutuhkan petani tentang benih varietas adalah kualitas benih, harga benih tidak terlalu menjadi pertimbangan. Varietas yang menjadi pertimbangan para petani adalah varietas IR 64, Ciherang, Memberamo, Ciboga, Cilamaya dan Intani. Hal yang menjadi pertimbangan utama mereka adalah produktivitas.
Kebanyakan petani lebih sering membeli Memberamo. Harga benih saat ini menurut petani telah sesuai dengan kualitas yang diberikan. Tempat membeli benih tersebut di toko pertanian dengan pertimbangan sekalian membeli pupuk dan pestisida. Jarak yang biasanya ditempuh adalah 1-1,5 km dan dianggap mudah sekali diakses. Secara keseluruhan petani responden puas terhadap pembelian dan mereka tetap akan membeli jika harga mengenai kenaian. Jika tidak tersedia di tempat biasa membeli, petani akan mencari di tempat lain.
Berdasarkan hasil Importance and Performance Analysis, atribut-atribut yang dirasakan oleh petani memiliki kinerja yang rendah adalah harga GKG, umur tanaman, tahan hama penyakit dan tahan rebah. Sedangkan atribut-atribut yang memiliki kinerja yang baik adalah produktivitas, pemasaran hasil panen, rasa nasi, ketersediaan dan harga benih. Berdasarkan hasil Customer Satisfaction Index, menunjukkan bahwa para petani puas terhadap kinerja atribut-atribut varietas unggul.
Berdasarkan hasil model multiatribut Fishbein, petani lebih menyukai varietas Memberamo. Varietas IR 64 memiliki kelebihan pada umur tanaman yang lebih pendek, lebih tahan rebah dan lebih tahan hama penyakit namun produktivitas dan pemasaran hasil panen lebih trendah dari varietas Ciherangdan memberamo. Varietas Memberamo memiliki kelebihan pada hasil panen yang lebih tinggi, rasa nasi yang lebih enak dan pemasaran hasil panen yang lebih mudah dijual namun tidak tahan hama penyakit, tahan rebah dan memiliki umur tanaman yang lebih panjang. Kinerja varietas Ciherang berada diantara kedua varietas tersebut namun memiliki kelemahan pada rasa nasi dan pemasaran hasil panen yang lebih rendah.
Bauran pemasaran yang sekiranya perlu dilakukan adalah pengembangan produk yang bisa diterima petani maupun konsumen, penetapan harga benih varietas unggul yang sesuai dengan kualitas, peningkatan pelayanan serta promosi melalui toko pertanian.
Saran peneliti yang bisa disarankan adalah perlu terus diupayakan pengembangan varietas yang lebih baik dan dapat diterima pasar maupun petani. Atribut yang menjadi prioritas pengembangan adalah umur tanaman, tahan hama penyakit dan tahan rebah. Atribut produktivitas dan rasa nasi tetap perlu dikembangkan karena merupakan faktor pertimbangan utama dalam membeli varietas unggul.
Oleh :
David Fahmi
A14104023
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi : Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas Unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur
Nama : David Fahmi
NRP : A14104023
Mengetahui,
Dosen Pembimbing Skripsi
Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS NIP. 131 685 542
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI TERHADAP BENIH PADI VARIETAS UNGGUL DI KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR” BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA APAPUN.
Bogor, Juli 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lamongan, tanggal 8 Juni 1986. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Mohammad Taufiq dan Munis Rasyidah.
Penulis menempuh pendidiakn Taman Kanak-Kanak di TK Al-Khairat Ternate pada tahun 1990 sampai dengan tahun 1992. Pada tahun 1992 penulis melanjutkan pendidikan dasar di SDN Al-Khairat Ternate, kemudian pada tahun 1993 melanjutkannya di Madrasah Ibtidaiyah Sedayulawas, Lamongan. Pada tahun 1994 melanjutkan pendidikannya di SDN Ngronggo 5 Kediri sampai lulus pada tahun 1998. Pendidikan menengah dan atas ditempuh penulis di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam sampai tahun 2004. Pada tahun yang sama, melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Semoga setiap kata, setiap perbuatan dan setiap langkah selalu senantiasa untuk beribadah kepada-Nya.
Analisis sikap dan kepuasan petani padi terhadap benih varietas unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur merupakan skripsi yang bertujuan untuk menganalisis proses keputusan pembelian, sikap dan kepuasan petani padi terhadap benih padi varietas unggul, serta rekomendasi alternatif kebijakan yang mungkin dapat dilakukan terkait usaha peningkatan produksi beras nasioanal.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidaklah sempurna mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi dan dimiliki penulis selama berlangsungnya peneitian. Semoga hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang membutuhkannya.
Bogor, Juli 2008
UCAPAN TERIMAKASIH
Atas terselesaikannya skripsi ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
1. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah dengan sabar membimbing, memberikan motivasi, kritik, saran, dan solusi atas terselesaikannya skripsi ini.
2. Ir. Popong Nurhayati, MM, selaku dosen penguji utama yang telah berkenan memberikan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
3. Faroby Falatehan, SP. ME, selaku dosen penguji wakil departemen yang telah berkenan memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
4. Ir. Dwi Rachmina, MS, selaku pembimbing akademik yang telah memberikan saran dan masukan selama kuliah.
5. Bapak dan Ibu yang paling hebat, yang tiada henti mengalirkan do’a, semangat, dukungan, dan cinta yang tanpa syarat. Terima kasih, ananda tak akan bisa membalas semua kebaikan bapak dan ibu.
6. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan cucuran ilmu kepada penulis dan Sekretariat Agribisnis atas segala bantuannya.
7. Opik, Iwan, Nunu, Evan, Wahid, Yoga, Lukman, Saut dan Arisman terima kasih atas dukungan dan bantuannya.
8. Ipunk, Tere, Agnes, Widi, Fanny, Sastrow, Uci, Intan, Nung, Pretty, Rani, Cumi, Mela, Dini, Neneng, Mami, Nuy, Endang, Anggi dan Yanti terima kasih atas dukungan dan bantuannya.
9. Temen-temen AGB’41 yang telah menemani penulis selama 4 tahun masa kuliah.
10.Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Kediri atas informasi-informasi yang telah diberikan.
11.Semua pihak yang telah membantu namun tak dapat disebutkan satu persatu.
Bogor, Juli 2008
DAFTAR TABEL ... ix
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Peneltitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Deskripsi Benih Padi ... 9
2.2 Benih Bersertifikat... 11
2.3 Industri Benih ... 12
2.4 Varietas Unggul ... 13
2.5 Perkembangan Teknologi Perakitan Varietas Unggul Padi di Indonesia ... 13
2.6 Varietas Unggul Nonhibrida dan Hibrida ... 16
2.6.1 Varietas Nonhibrida ... 16
3.1.6 Model Sikap Multiatribut Fishbein ... 29
3.1.7 Importance and Performance Analysis ... 31
3.1.8 Customer Satisfaction Index ... 33
3.1.9 Bauran Pemasaran ... 34
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 36
BAB IV METODE PENELITITAN ... 39
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39
4.2 Jenis dan Sumber Data... 39
4.3 Metode Pengambilan Sampel ... 40
4.4 Atribut Produk ... 41
4.5 Metode Pengolahan dan Analisi Data ... 42
4.5.1 Analisis Deskriptif ... 43
4.5.2 Analisis Model Sikap Multiatribut Fishbein ... 43
4.5.4 Customer Satisfaction Index ... 49
4.6 Definisi Operasional ... 51
BAB V GAMBARAN UMUM KABUPATEN KEDIRI ... 54
5.1 Letak Geografis Kabupaten Kediri ... 56
5.2 Penduduk ... 56
5.3 Pertumbuhan Ekonomi ... 56
5.4 Peranan Sektoral ... 58
5.5 Sektor Pertanian Kabupaten Kediri ... 59
5.5.1 Tanaman Pangan ... 59
5.5.2 Perkebunan ... 60
5.5.3 Kehutanan ... 60
5.5.4 Peternakan ... 61
5.5.5 Perikanan ... 62
BAB VI KARAKTERISTIK PETANI PADI DAN PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL DI KABUPATEN KEDIRI ... 63
6.1 Karakteristik Petani Responden ... 63
6.2 Proses Keputusan Pembelian Benih Padi Varietas Unggul ... 66
6.2.1 Tahapan Pengenalan Kebutuhan ... 66
6.2.2 Tahapan Pencarian Informasi ... 67
6.2.3 Proses Evaluasi Alternatif ... 68
6.2.4 Tahapan Keputusan Pembelian ... 69
6.2.5 Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian ... 71
BAB VII ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI .... 72
7.1 Analisis Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas Unggul ... 72
7.1.1 Analisis Kepentingan dan Kinerja Atribut ... 72
7.1.2 Diagram Kartesius Kepentingan dan Kinerja Atribut Benih Padi Varietas Unggul ... 89
7.1.3 Customer Satisfaction Index ... 93
3. Karakteristik Petani Responden ... 65
4. Tahapan Pengenalan Kebutuhan ... 67
5. Tahapan Pencarian Informasi ... 68
6. Tahapan Evaluasi Alternatif ... 69
7. Tahapan Keputusan Pembelian ... 70
8. Proses Evaluasi Pasca Pembelian ... 71
9. Tingkat Kepentingan Produktivitas ... 72
10.Tingkat Kinerja Produktivitas ... 74
11.Tingkat Kepentingan Rasa Nasi ... 74
12.Tingkat Kinerja Rasa Nasi ... 76
13.Tingkat Kepentingan Umur Tanaman ... 76
14.Tingkat Kinerja Umur Tanaman ... 77
15.Tingkat Kepentingan Tahan rebah ... 78
16.Tingkat Kinerja Tahan Rebah ... 79
17.Tingkat Kepentingan Tahan Hama dan Penyakit ... 80
18.Tingkat Kinerja Tahan Hama dan Penyakit ... 82
19.Tingkat Kepentingan Harga Gabah Kering Giling (GKG) ... 82
20.Tingkat Kinerja Harga Gabah Kering Giling (GKG) ... 84
21.Tingkat Kepentingan Harga Benih ... 84
22.Tingkat Kinerja Harga Benih ... 86
23.Tingkat Kepentingan Ketersediaan Benih di Pasaran ... 86
24.Tingkat Kinerja Ketersediaan Benih di Pasaran ... 87
25.Tingkat Kepentingan Pemasaran Hasil Panen ... 88
26.Tingkat Kinerja Pemasaran Hasil Panen ... 89
27.Tingkat Kepentingan dan Kinerja Benih Varietas Unggul ... 90
28.Perhitungan Customer Satisfaction Index Varietas Unggul... 93
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Produksi Beras, Permintaan Beras, Konsumsi Rumah Tangga dan
Permintaan Industri di Indonesia Periode 1980-2006 ... 2
2. Pertumbuhan Produksi Padi di Indonesia Periode 1980-2006 ... 2
3. Model Perilaku Konsumen Kotler ... 24
4. Model Perilaku Konsumen Engel... 27
5. Matriks Importance and Performance Analysis... 31
6. Bagan Alir Kerangka Pemikiran Operasional ... 38
7. Diagaram Kartesius Importance and Performance Analysis ... 48
Tahun 19980-2006... 104
2. Permintaan Beras dan Pertumbuhannya di Indonesia Tahun 1980-2006 ... 105
3. Luas Panen, Produktivitas dan Pertumbuhannya di Indonesia Tahun 1980-2006 ... 106
4. Jumlah Kecamatan, Desa, Kelompok Tani, Petani, Kepemilikan Lahan, Komoditas Utama dan Pola Tanam Kab. Kediri ... 107
5. Uji Validitas Atribut Metode Chi-Square ... 108
6. Data Produksi Beras Provinsi Jawa Timur ... 109
7. Penyebaran Varietas Unggul di Indonesia Tahun 2005 ... 110
8. Informasi Varietas Unggul IR 64, Ciherang dan Memberamo .... 111
9. Rekapitulasi Tingkat Kepentingan Atribut dan Kinerja Benih Varietas Unggul IR 64 ... 112
10.Rekapitulasi Tingkat Kinerja Benih Varietas Unggul Memberamo dan Ciherang ... 113
11.Kuisioner Penelitian ... 114
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beras merupakan komoditi penting karena lebih dari 90 persen rakyat Indonesia menjadikan beras sebagai sumber makanan pokok. Beras juga komoditi yang strategis secara politis karena banyak kepentingan publik didalamnya, seperti masalah ketahanan pangan, kondisi politik, stabilitas keamanan, stabilitas ekonomi dan lapangan kerja. Sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah dalam menjaga perberasan nasional.
Tingkat konsumsi beras nasional rata-rata saat ini sebesar 139,15 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi ini melebihi rata-rata tingkat konsumsi dunia yang berkisar antara 80 sampai dengan 90 kg/kapita/tahun. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tentunya akan meningkatkan jumlah permintaan akan beras. Meningkatnya industri yang membutuhkan input berupa beras akan ikut menambah jumlah permintaan beras. Permintaan industri terhadap beras diperkirakan mencapai 23,5 persen dari konsumsi rumah tangga (Departemen Pertanian, 2005).
nasional mengalami defisit atau surplus. Dari grafik tersebut terlihat bahwa pada tahun 2006 Indonesia mengalami defisit.
Sumber: BPS, 2007 (diolah)
Gambar 1. Produksi Beras, Permintaan Beras, Konsumsi Rumah Tangga dan Permintaan Industri di Indonesia Periode 1980-2006
Jumlah produksi beras mengalami peningkatan secara nominal namun laju pertumbuhan produksi beras mengalami penurunan dan laju pertumbuhan ini lebih rendah daripada laju pertumbuhan permintaan beras (Gambar 2). Hal ini disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan produktivitas padi dan pertumbuhan luas panen (Maulana, 2004). Hal ini tentunya akan memperbesar selisih permintaan dan produksi beras. Jika tidak segera diatasi maka dikhawatirkan pertumbuhan produksi beras tidak dapat mengimbangi permintaan beras akibat pertumbuhan penduduk dan industri yang terus meningkat.
Sumber: BPS, 2007 (diolah)
Gambar 2. Pertumbuhan Produksi Padi di Indonesia Periode 1980-2006
0
Produksi Beras (kg) Per mintaan Ber as (konsumsi RT dan Industr i) Konsum si RT Per mintaan Industr i (23,5% dari Konsum si RT))
-0.2
3
Untuk meningkatkan produksi beras dalam mengimbangi kebutuhan beras dalam negeri serta meningkatkan ketahanan pangan maka pemerintah melakukan berbagai kebijakan, antara lain (1) merehabilitasi, dan ekstensifikasi infrastruktrur irigasi; (2) pembukaan lahan sawah baru; dan (3) memacu inovasi teknologi, termasuk revitalisasi sistem penelitian pengembangan pertanian serta sistem diseminasi inovasi pertanian dengan deregulasi dan penciptaan iklim kondusif bagi investor swasta dalam upaya mendorong pertumbuhan produksi padi nasional (Maulana et al., 2006).
Salah satu bentuk program yang dilakukan pemerintah saat ini adalah program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Program ini memiliki target utama, yaitu peningkatan produksi beras sebesar 2 juta ton setara beras atau 3,6 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2007, dan meningkat 5 persen pada tahun-tahun selanjutnya sampai pada tahun 2009 (Departemen pertanian, 2007). Salah satu agenda dari program ini adalah sosialisasi penggunaan benih padi Varietas Unggul Baru (VUB), Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB) maupun varietas hibrida dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
administrasi pemerintahan terpadu sentralistik dan (5) dukungan politik. Varietas unggul termasuk dalam bagian dari teknologi Revolusi Hijau.
Teknologi revolusi hijau untuk padi pertama kali ditemukan oleh International Rice Research Institute (IRRI) pada pertengahan 1960-an. Karakteristik dasar dari teknologi ini adalah (1) benih unggul berumur pendek sehingga dapat meningkatkan hasil panen melalui peningkatan intensitas tanam; (2) responsif terhadap pupuk kimia utamanya urea sehingga dapat meningkatkan produktivitas melalui penggunaan pupuk; (3) membutuhkan lingkungan prima, utamanya irigasi terkelola (Maulana et al., 2006).
Varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah karena petani tinggal menanam. Murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 150 varietas unggul padi yang meliputi 80 persen total areal padi di Indonesia (Susanto, 2003), bahkan sejak tahun 1943 hingga kini, Indonesia telah melepas 191 varietas unggul (Las et al., 2004).
1.2. Perumusan masalah
5
Sedangkan pemerintah berupaya mendorong petani padi untuk menggunakan varietas-varietas unggul sebagai upaya untuk meningkatkan produksi padi.
Menurut Las et. al. (2004) dari sekitar 80 VUB yang berkembang di petani, varietas IR 64 merupakan varietas unggul padi yang paling banyak digunakan petani padi di 12 provinsi penghasil padi utama di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali dan NTB. Hasil dari Statistik Badan Litbang Pertanian pada tahun 2002 menunjukkan verietas IR 64 menyebar 45,52 persen dari luas tanam di 12 provinsi tersebut. Varietas yang menonjol selain varietas IR 64 antara lain Way Apoburu (8,16%), Ciliwung (6,82%), Memberamo (4,59%), Ciherang (4,43%) dan Cisadane (2,63%).
Pada tahun 2005 varietas IR 64 menyebar 31,4 persen, Ciherang 21,8 persen, Ciliwung 8 persen, Way Apo Buru 3,3 persen, IR 42 2,4 persen, Widas 1,8 persen dan Memberamo 1,6 persen (Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan, 2005). Hal ini menandakan secara keseluruhan bahwa terjadi perubahan perilaku petani padi terhadap varietas-varietas tersebut mengingat perilaku petani padi bersifat dinamis.
areal varietas IR 64 hanya 28,1 persen, 17,1 persen dan 14,1 persen dari total luas tanam padi di masing-masing kabupaten tersebut (Las et al, 2004).
Hal-hal yang telah diuraikan di atas menandakan terdapat perbedaan perilaku, sikap dan kepuasan petani padi terhadap varietas unggul. Hal ini tidak lepas dari kondisi demografi, ekonomi, budaya, keluarga, psikologis dan fakor-faktor lainnya. Kondisi-kondisi tersebut tentunya akan membentuk sikap petani dalam penggunaan benih varietas unggul sehingga pada akhirnya petani mampu mengevaluasi benih tertentu yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Sebagian besar (47,27 %) penduduk di Kabupaten Kediri masih bergantung pada sektor pertanian (BPS, 2003). Kabupaten Kediri dapat dikategorikan sentra produksi beras dengan pertimbangan luas panen yang menduduki peringkat ke-8 (Departemen Pertanian Jawa Timur, 2007). Sektor pertanian tanaman pangan menyumbang 22,96 persen terhadap pembentukan Pendapatan Daerah Rata-Rata Bruto (PDRB) Kabupaten Kediri serta memiliki peranan penting dalam pembentukan PDRB Jawa Timur. Sehingga penelitian terhadap perilaku petani padi, sikap mereka terhadap benih padi dan tingkat kepuasan mereka dalam menggunakan benih varietas unggul di Kabupaten Kediri menarik untuk dilakukan.
Berdasarakan penjelasan tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri?
7
3. Bagaimana strategi pemasaran yang sesuai dengan perilaku, sikap dan kepuasan para petani padi?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi karakteristik petani padi dan proses keputusan pembelian benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri.
2. Menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri.
3. Merekomendasikan strategi pemasaran yang sesuai dengan perilaku, sikap dan kepuasan petani padi berdasarkan bauran pemasaran.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Penangkar, dapat menjadi pedoman dalam menyusun strategi pemasaran yang tepat dengan melihat apa yang dibutuhkan dan diinginkan petani padi terhadap benih padi varietas unggul.
2. Pemerintah melalui intansi terkait, dapat dijadikan bahan pertimbangan masukkan dalam perencanaan peningkatan produksi beras nasional.
3. Lembaga ilmu pengetahuan dan bidang penelitian, dapat mengembangkan jenis-jenis padi yang diharapkan oleh petani padi.
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Benih padi yang akan menjadi bahan penelitian ini merupakan varietas benih padi yang ditanam di areal persawahan (varietas benih padi sawah) karena varietas benih padi ini paling banyak diusahakan oleh petani.
2. Dalam penelitian ini varietas benih padi yang akan diteliti adalah varietas benih padi yang secara umum dipakai petani padi di Kabupaten Kediri yaitu varietas IR 64, Ciherang dan Memberamo.
3. Petani padi yang menjadi objek penelitian adalah petani padi yang melakukan pengambilan keputusan pembelian (bukan buruh tani) dan menggunakan benih padi varietas IR 64, Ciherang dan Memberamo.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Benih Padi
Benih adalah biji tumbuhan yan berasal dari bakal biji yang dibuahi, digunakan
manusia untuk tujuan pertanaman, sebagai sarana untuk mencapai produksi
maksimum dan lestari melalui pertanaman yang jelas identitas genetiknya dan
homogen kinerja staminanya (Sadjad, 1993). Benih memiliki multifungsi yaitu
sebagai pelestari spesies sekaligus sebagai pembawa sifat karakteristik spesiesnya dan
dapat diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu baik untuk produksi maupun kualitas
hasilnya.
Benih padi adalah gabah yang dihasilkan dengan cara dan tujuan khusus untuk
disemaikan menjadi bahan pertanaman. Kualitas benih ditentukan oleh prosesnya,
mulai dari proses perkembangan dan pemasakan benih, panen, perontokan,
pembersihan, pengeringan, penyimpanan benih sampai fase pertumbuhan di
persemaian.
Benih unggul adalah bahwa benih itu murni, bernas, sehat dan kering, bebas
dari penularan penyakit cendawan, bebas dari campuran biji-biji rerumputan dan
lain-lainnnya (Siregar, 1981). Benih bermutu harus memenuhi kriteria 6 tepat yaitu tepat
varietas, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, tepat tempat, tepat harga, dan tepat
pelayanan (Sadjad, 1993). Untuk menjaga kelangsungan dan keamanan hayati,
melalui SK Menteri Pertanian No. 460/KPTS/II/1971, pemerintah membagi benih
1.
Benih Penjenis atau
Breeder Seed
(BS)
Merupakan benih yang dihasilkan oleh instansi yang ditunjuk atau dibawah
pengawasan pemuliaan tanaman dan atau instansi yang menanganinya (lembaga
Penelitian atau Perguruan Tinggi). Benih ini jumlahnya sedikit dan merupakan
sumber untuk perbanyakan benih dasar. Khsusus untuk benih penjenis tidak
dilakukan sertifikasi. Benih ini masih murni dan diberi label putih.
2.
Benih dasar atau
Foundation Seed
(FS)
Benih dari hasil perbanyakan benih penjenis (BS) yang diproduksi di bawah
bimbingan intensif dan pengawasan yang ketat, sehingga varietas yang tinggi dan
identitas genetisnya dapat terpelihara. Benih ini diproduksi oleh instansi atau
penangkar benih sesuai ketetapan Badan Benih Nasional yang disertifikasi oleh
Sub Direktorat Pembinaan Mutu Benih Direktorat Tanaman Pangan dan diberi
label putih.
3.
Benih pokok atau
Stock Seed
(SS)
Benih pokok adalah benih yang diperbanyak dari benih dasar atau benih penjenis.
Perbanyakan ini dilakukan dengan memperhatikan tingkat kemurnian varietas,
memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan dan disertifikasi oleh instansi yang
berwenang dan diberi label ungu.
4.
Benih sebar atau
Ekstension Seed
(ES)
Benih sebar adalah hasil perbanyakan dari benih penjenis, benih dasar atau benih
pokok yang akan disebarkan kepada petani dengan menjaga tingkat kemurnian
varietas yang memenuhi standar mutu benih yang telah ditetapkan dan telah
11
2.2 Benih Bersertifikat
Hal yang membedakan benih bersertifikat dengan benih biasa adalah benih
bersertifikat merupakan benih yang dihasilkan dengan cara dan tujuan khusus untuk
disemaikan menjadi pertanaman dan kemudian disertifikasi oleh Balai Pengawasan
Dan Sertifikasi Benih (BPSB). Sedangkan benih biasa merupakan benih yang
disisihkan dari panen pertanaman komoditas yang bersangkutan dan tidak
disertifikasi oleh BPSB.
Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang sistem
Budi Daya Tanaman yang menyebutkan bahwa varietas hasil pemuliaan atau
introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu mendapat izin dilepas
oleh pemerintah. Varietas yang belum dilepas oleh pemerintah dilarang diedarkan.
Benih dari varietas yang telah dilepas tersebut disebut benih bina. Benih bina yang
diedarkan harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan
oleh pemerintah.
Menurutt Soetopo (1993) keunggulan benih bersertifikat dibandingkan dengan
benih biasa diantaranya adalah:
1.
Penghematan penggunaan benih, misalnya untuk padi dari rata-rata 40-50 kg/ha
menjadi 20-25 kg/ha.
2.
Keseragaman pertumbuhan, pembungaan dan pemasakan buah sehingga dapat
dipanen sekaligus.
3.
Rendemen beras tinggi dan mutunya seragam.
4.
Penggunaan benih padi bersertifikat mampu meningkatkan haisl panen 5-15
5.
Meningkatkan mutu produksi beras yang dihasilkan.
6.
Mutu benih dapat menentukan kebutuhan dan respon sarana produksi lainnya,
dimana peranan sarana produksi tidak akan terliha apabila benih yang digunakan
tidak bermutu.
2.3 Industri Benih
Industri benih berperan untuk menghasilkan produk benih yang tidak
mengalami perubahan bentuk dalam pemrosesasnnya. Disebut industri karena
prosesnya berawal dari produk yang belum siap pakai dan berakhir menjadi produk
siap pakai yang dalam hal industri benih berupa benih suatu varietas tanaman.
Menurut Sadjad (1997) industri benih dapat dibagi menjadi lima tingkat berdasarkan
teknologinya, yaitu:
1.
Industri benih tingkat I, dimana teknologi yang digunakan merupakan teknologi
sederhana.
2.
Industri benih tingkat II, merupakan industri yang telah menggunakan
mesin-mesin pembersih.
3.
Industri benih tingkat II, merupakan industri benih yang melaksanakan pemilahan
benih yang sudah bersih. Benih ini dipilah berdasarkan besar butiran, panjang,
lebar, tebal atau berat. Industri ini menghasilkan kinerja fisik benih yang prima.
4.
Industri benih tingkat IV. Industri pada tingkat ini selain memproduksi
sebagaimana pada industri tingkat III juga selalu berhubungan dengan lembaga
litbang (selaku penghasil varietas dan mulai memasuki program sertifikasi),
13
5.
Industri benih tingkat V. Industri ini memiliki kemampuan memproduksi benih
hasil litbang sendiri. Litbang ini selain memproduksi varietas hibrida yang selalu
diperbaharui juga melakukan penelitian dan pengembangan bioteknologi.
2.4 Varietas Unggul
Siregar (1981) mendeskripsikan varietas unggul adalah varietas dimana
tanaman-tanaman mempunyai sifat-sifat yang lebih daripada sifat yang dimiliki
varietas padi lainnya. Sifat-sifat unggul itu bisa merupakan daya hasil yang lebih
tinggi, umur yang lebih pendek, ketahanan terhadap gangguan hama penyakit, lebih
tahan terhadap tumbangnya tanaman, dan rasa nasi yang lebih enak.
2.5 Perkembangan Teknologi Perakitan Varietas Unggul Padi di Indonesia
Secara umum perkembangan teknologi perakitan varietas unggul padi di
Indonesia dapat dipilah ke dalam tiga periode (Las
et al
., 2004), yaitu era sebelum
tahun 1970-an, era thaun 1970-an hingga sebelum swasembada beras (pra-IR 64), dan
era pascaswasembada beras (era IR 64).
1.
Era sebelum tahun 1970-an
Di Indonesia, perakitan varietas unggul padi melalui persilangan dimulai
tahun 1920-an dengan memanfaatkan
gen pool
yang dibentuk melalui introduksi
tanaman (Harahap
et al
. dalam Las
et al.
,2004). Hingga tahun 1960-an, pemuliaan
padi diarahkan pada pembentukan varietas untuk lahan tadah hujan yang kurang
Varietas padi hasil persilangan di dalam negeri yang pertama kali dilepas
pada tahun 1943 adalah Bengawan. Varietas ini memiliki latar belakang genetik
hasil perbaikan dari varietas Cina yang berasal dari Cina, Latisail dari India dan
Benong dari Indonesia (Hargrove
et al.
dalam Las
et al.
,2004). Varietas
Bengawan berumur 140-155 hari setelah sebar (HSS), tinggi tanaman 145-165 cm,
memiliki rasa nasi yang enak (Daradjat
et al.
dalam Las
et al.
,2004), dengan daya
hasil 3,5-4,0 ton/ha. Contoh padi tipe Bengawan adalah varietas Bengawan
(dilepas tahun 1943), Sigadis (1953), Remaja (1954), Jelita (1955), Dara (1960),
Sinta (1963), Dewi Tara (1964), Arimbi (1965), Bathara (1965) dan Dewi Ratih
(1969)
2.
Era tahun 1970-an hingga sebelum swasembada beras (pra-IR 64)
Selain untuk meningkatkan potensi hasil, program pemuliaan pada era ini
juga diarahkan untuk memperbaiki rasa nasi. Dua varietas introduksi yang dilepas
sebelumnya, yaitu PB8 atau IR8( yahun 1967) dan PB5 atau IR 5 (tahun 1968)
dengan potensi hasil 4,5-5,5 ton/ha, digunakan sebagai sumber gen untuk
memperbiki sifat-sifat varietas unggul yang sudah ada.
Persilangan antara PB5 dan Shinta menghasilkan varietas Pelita-I-1 dn
Pelita I-2 yang dilepas tahun 1971. Kedua varietas tersebut memiliki daya hasil
yang cukup tinggi dan rasa nasi yang lebih enak disbanding PB5. Namun karena
rentan terhadap wereng coklat maka kedua varietas tersebut tidak dapat bertahan
lama.
Sejak itu program perakitan varietas padi diarahkan tidak hanya untuk
15
ketahanan terhadap hama dan penyakit utama. Selanjutnya dirakit dan
dikembangkan sejumlah varietas unggul baru seperti Serayu (1978), Asahan
(1978), Brantas (1978), Citarum (1978), Semeru (1980), Cisadane (1980),
Cipunagara (081), Krueng Aceh (1981), Sadang (1983), dan Cikapundung (984).
Diantara varietas unggul tersebut, Cisadane yang tahan terhadap wereng coklat
biotipe 1 dan 2 berkembang pesat di kalangan petani dan menjadi contributor
utama dalam swasembada beras tahun 1984. Namun, popularitas Cisadane
kemudian menurun tajam sejalan dengan berkembangnya wereng coklat biotipe 3.
Untuk mengatasi masalah ini dilakukan introduksi beberapa galur dari IRRI, satu
diantaranya dilepas sebagai varietas IR 64 yang tahan terhadap wereng coklat
biotipe 3 dan rasa nasinya enak.
3.
Era swasembada beras (era IR 64)
Dilepas tahun 1986, IR 64 berkembang dengan cepat karena disukai oleh
sebagian besar petani dan konsumen, terutama karena rasa nasi yang enak, umur
genjah dan hasil yang relatif tinggi. Hingga saat ini, luas areal tanam IR 64
mencapai 61persen dari luas tanam padi di Indonesia, disusul oleh varietas lokal
(10%), Memberamo (8%), Way Apoburu (8%), IR66 (6%) dan Cisadane ( 6%)
(direktorat Bina Perbenihan dalam Las
et al.
,2004). Penelitian Balai Penelitian
Tanaman Padi (Balitpa) tahun 2004 di 12 provinsi penghasil utama padi
menunjukkan IR 64 masih mendominasi areal tanam padi dengan porsi 45 persen
dari luas panen sekitas 9,2 juta ha.
Upaya meningkatkan potensi hasil dilakukan dengan memanfaatkan
(PTB). Beberapa varietas yang dilepas setelah IR 64 adalah Ciliwung (1989),
Barumun (1991), Memberamo (1995), Way Apoburu (1998), Widas (1999),
Ciherang 2000), Tukad Unda (2000), Konawe (2001), Sintanur (aromatic, 2001),
Cimelati semi PTB, 2002), Gilirang (semi PTB aromatic, 2002), Maro (hibrida,
2002), Rojan (hibrida, 2002) dan Fatmawati (PTB, 2003).
2.6 Varietas Unggul Nonhibrida dan Hibrida
Varieatas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah dapat dikelompokkan
menjadi dua jenis yaitu varietas nonhibrida dan varietas hibrida. Verietas nonhibrida
terdiri dari Varietas Unggul Baru (VUB) dan Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB).
Sedangkan varietas hibrida hanya meliputi varietas hibrida. Berikut ini penjelasan
umum mengenai dua kelompok varietas tersebut.
2.6.1 Varietas Nonhibrida
Varietas unggul baru merupakan verietas hasil dari persilangan biasa antara
padi jenis
indica
(cere). Sedangkan VUTB dihasilkan melalui persilangan antara padi
jensi
indica
dengan
japonica
(Las
et al.
, 2004). Prinsip utama dalam pembentukan
VUTB adalah melakukan modifikasi arsitektur tanaman pada varietas modern masa
kini agar mampu menghasilkan biomassa dan indeks panen yang tinggi.
Padi tipe baru (PTB) memiliki sifat penting, antara lain (a) jumlah anakan
sedikit (7-12 batang) dan semuanya produktif, (b) malai lebih panjang dan lebat
17
(e) perakaran panjang dan lebat. Potensi hasil PTB 10-25 persen tebih tinggi
dibandingkan dengan varietas unggul yang ada saat ini (Las
et al.
, 2004).
2.6.2 Varietas Hibrida
Padi hibrida yang dikembangkan di Indonesia bertumpu pada sistem tiga galur
atau melibatkan tiga galur tetua, yaitu galur mandul jantan (GMJ atau A), galur
pelestari atau
maintainer
(B) dan galur pemulih kesuburan atau
restorer
(R). Galur
pelestari dan pemulih kesuburan memiliki tepungsari yang normal (fertil) sehingga
mampu menghasiklan benih sendiri. Galur mandul jantan hanya mampu
menghasilkan benih bila diserbuki tepung sari dari tanaman lain. Galur mandul jantan
bila diserbuki oleh galur pelestari menghasilkan benih GMJ, sedangkan bila diserbuki
oleh galur pemulih kesuburan menghasilkan benih F1 hibrida (Las
et al.
, 2004).
Sifat yang paling diharapkan dari varietas hibrida adalah tingkat produksinya
20-40 persen lebih tinggi daripada verietas unggul baru dan lebih tahan hama dan
penyakit daripada varietas unggul baru (Las
et al.
, 2004). Hal ini penting karena hasil
varietas hibrida meskipun tinggi namun belum stabil dan masih kurang tahan
terhadap wereng coklat, penyakit hawar daun, penyakit virus tungro.
2.7 Penelitian Terdahulu
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, telah banyak penelitian yang
membahas permasalahan benih dan preferensi konsumen (sebagai bagian dari
perilaku konsumen). Sugara (2007) mengangkat permasalahan mengenai kepuasan
konsumen instan temulawak Taman Sringanis. Tujuan peneletian ini adalah untuk
keputusan pembelian konsumen instan temulawak, menganalisis kepuasan konsumen
terhadap atribut-atribut instan temulawak dan untuk menentukan bauran pemasaran
yang sesuai bagi Taman Sringanis.
Pengumpulan sampling data yang dilakukan untuk menunjang penelitian
tersebut menggunakan teknik
convenient
yang berarti sampel responden adalah
responden yang bersedia untuk diwawancarai dan mengisi kuisioner. Pengolahan data
dilakukan dengan menggunakan teknik tabulasi deskriptif,
Importance Performance
Analysis
(IPA) dan
Customer Satisfaction Index
(CSI).
Wachizin (2007) menganilisis mengenai preferensi konsumen rook kretek dan
rokok nonkretek. Peneliitn ini bertujuan untuk mengetahui sebab-sebab rokok kretek
tetap mampu menjadi pemimpin pasar, menganalisis variabel demografi sampel
konsumen rokok di kota Bogor, menganalisis korelasi antara atribut-atribut rokok
yang mempengaruhi sampel konsumen rokok di kota Bogor dalam memilih jenis
rokok. Teknik pengambilan sampel konsumen dilakukan secara
non probability
menggunakan teknik
convenient
, sedangkan alat analisis yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi tabulasi silang (
Crosstabs
), Multiatribut
Fishbein
,
The
Mann
_
Whitney
U test
, Korelasi
Rank Spearman
serta
Chi Square
.
Hasil dari penelitin ini adalah variabel umur, jenis kelamin, pendapatan,
pekerjaan dan variabel jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh terhadap
preferensi. Sedangkan variabel yang mempengaruhi terhadap preferensi konsumen
kretek maupun konsumen nonkretek hanya variabel tingkat pendidikan.
Ramadhan (2007) juga mengangkat topik tentang preferensi konsumen
19
Extra Joss
,
Hemaviton Jreng
dan Kuku Bima
Ener-G
. tujuan dari penelitian tersebut
adalah untuk mengidentifikasi karakteristik konsumen
energy drink sachet
,
menganilisis sikap atau preferensi konsumen terhadap atribut-atribut minuman
berenergi sachet dan merumsukan alternatif strategi pemasaran yang tepat untuk
market leader
energy drink sachet
merek
Extra Joss
.
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode
convenience
sampling, dimana sampel merupakan responden kosnumen
minuman berenergi yang bersedia untuk diwawancarai dan mengisi kuisioner (berada
pada tempat dan waktu yang tepat). Lokasi pengambilan responden dilakukan secara
accidental
dan jumlah resonden yang dijadikan sampel adalah 100 responden.
Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
model multiatribut
Fishbein
dan
Importance Performance Analysis
(IPA). Model
multiatribut digunakan untuk mengetahui merek mana yang paling disukai oleh
konsumen
energy drink sachet
. Sedangkan
Importance Performance Analysis
digunakan untuk mengetahui atribut apa saja yang perlu diperbaiki, dipertahankan
maupun diproritaskan dalam pemasaran. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa
Kuku Bima
Energ-G
merupakan minuman berenergi yang paling disukai oleh
responden.
Penelitian Haryadi (2004) menyebutkan bahwa jenis benih yang sering
digunakan oleh petani di kecamatan Warungkondang antara lain IR 64, Widas, Way
Apoburu, Pandan Wangi dan Rojo Lele. Dari hasil penelitian tersebut, jenis IR 64
merupakan jenis benih yang umum dipakai dan semua responden pernah memakai
Berdasarkan penelitian tersebut alasan para petani memilih jenis-jenis benih
padi adalah umur tanaman, produktivitas, tahan kerebahan, tahan hama dan penyakit,
rasa, harga, mudah/tidaknya benih didapatkan. Umur tanaman berperan penting
dalam memprediksi kapan tanaman panen, kapan waktu untuk menanam, bagaimana
peluang merotasi pola tanaman dan bagaimana mengatur keuangan keluarga. Pada
umumnya padi dengan umur pendek lebih disukai oleh petani.
Produktivitas tanaman yang tinggi tentunya lebih disukai karena mendatangkan
hasil panen yang lebih tinggi dan mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi pula.
Tanaman yang memiliki tahan terhadap kerebahan juga disukai oleh petani karena
akan mengurangi kehilangan butir padi. Ketahanan terhadap hama dan penyakit akan
mempengaruhi jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pestisida. Rasa dipengaruhi oleh
permintaan pasar, dan para petani merespon permintaan tersebut dengan
memperhatikan jenis benih yang digunakan.
Survey pada tahun 2002/2003 membuktikan bahwa, sekitar 90 persen dri 9,2
juta ha areal pertanaman padi sawah (lebih dari 80 persen luas tanaman padi nasional)
di 12 provinsi penghasil utama padi telah ditanami varietas unggul. Dari sekitar 80
varietas unggul yang berkembang di petani, jenis Way Apoburu, Ciliwung,
Memberamo dan Ciherang paling disukai dan diharapkan dapat menggantikan IR 64
yang populer sejak lebih dari lima belas tahun yang lalu (Las
et al.,
2004).
Penelitian ini dapat diketahui bahwa konsumen benih padi mulai mencoba jenis
varietas lain selain IR 64 untuk kegunaan dan pasar yang berbeda pula. Seperti
penelitian yang dilakukan Nugraha dan Sayaka (2004), bahwasannya IR 64 dan
21
cocok untuk industri makanan bayi. Beras Cisokan dan Mahakam memiliki suhu
gelatinasi awal dan puncak yang rendah sehingga cocok untuk
canned rice
. Beras
dengan kadar amilosa tinggi dan vikositas rendah sehingga cocok untuk industri
bihun, jenis yang memiliki karakter ini antara lain Cisokan, IR36, IR42, Jatiluhur dan
Progo. Sementara itu, beras varietas Gilirang dan Sintanur dicirikan oleh aromatik
yang sangat disukai oleh konsumen tertentu. Beras varietas Memberamo yang sangat
bening dengan kadar butir mengapur dan presentase beras pecah rendah, sangat cocok
untuk produksi beras berkualitas ekspor (beras kristal).
Girsang (2003) mengangkat topik kepuasan petani padi terhadap insektisida X.
tujuan dari penelitian ini adalah menganalisi profil/karakteristik petani padi dan
tingkat kepuasan petani dalam penggunaan insektisida X dan merumuskan
alternatif-alternatif kegiatan pemasaran dalam upaya meningkatkan kepuasan petani dalam
penggunaan insektisida. Penelitian ini dilakukan di daerah sentra produksi padi
terbesar di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Karawang. Teknik pengambilan sampel
dilakukan menggunakan metode
multistage random sampling
. Alat analisis yang
digunakan untuk mengolah data adalah analisis
cluster
, analisis CHAID,
Thurstone
analysis
dan
Importance Performance Analysis.
Penelitian ini meniliti petani dengan membagi petani-petani kedalam empat
segmen, yaitu: segmen
experience
,
rational
,
follower
dan
trendsetter
. Penilaian
kinerja dan kepentingan atribut diukur sesuai dengan segmen-segmen tersebut
sehingga perusahaan insektisida X dapat membenahi kinerja atribut di setiap segmen.
Pasar sasaran perusahan yang dinilai tepat dan sesuai kemampuan perusahan adalah
Dari penelitian terdahulu yang mengangkat topik perilaku konsumen, terlihat
bahwa penelitian mengenai preferensi (sikap) konsumen dan kepuasan konsumen
menarik untuk dilakukan. Pada umunya untuk menganalisis kedua hal tersbut, alat
analisis sikap multiatribut
Fishbein
,
Importance Performance Analysis
dan
Costumer
Satisfaction Index
merupakan alat analisis yang ideal untuk mengetahui posisi produk
suatu perusahaan dibandingkan dengan pesaing, mengetahui atribut apa saja yang
perlu mendapat perhatian dan mengetahui sejauh mana kepuasan konsumen terhadap
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Definisi Konsumen
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa definisi konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup dan tidak untuk diperdagangkan. Menurut Kotler (2005) konsumen adalah individu atau kelompok yang berusaha untuk memenuhi atau mendapatkan barang atau jasa untuk kehidupan pribadi atau kelompoknya.
Solomon (1992) memberikan pengertian yang lebih luas lagi tentang konsumen. Konsumen adalah individu yang mengidentifikasi apa yang dibutuhkan (produk mapun jasa), melakukan pembelian terhadap apa yang dibutuhkan dan mengevaluasi pembelian terhadap apa yang dibutuhkan.
3.1.2 Perilaku Konsumen
dan Amstrong (2000) lebih menekankan bahwa perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian akhir baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi perorangan. Kotler juga berpendapat bahwa untuk melakukan riset konsumen, terdapat, beberapa pertanyaan kunci yang harus dijawab tentang pasar, yaitu: (1) occupants (siapa yang membentuk pasar); (2) objects (apa yang dibeli pasar); (3) objectives (mengapa pasar membeli); (4) organizations (siapa yang berpartisipasi dalam pembelian); (5) operations (bagaimana pasar membeli); (6) occasions (kapan pasar membeli); (7) outlets (dimana pasar membeli).
Kotler (2005) menyatakan bahwa titik tolak untuk memahami perilaku pembeli adalah model rangsangan-tanggapan. Model perilaku diawali dengan rangasangan pemasaran dan rangsangan lain (berupa ekonomi, teknologi, lingkungan atau yang lainnya) yang memasuki kesadaran pembeli. Selanjutnya karakteristik pembeli dan proses pengambilan keputusannya akan menimbulkan keputusan pembelian tertentu. Tugas pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran pembeli mulai dari adanya rangsangan dari luar hingga munculnya keputusan pembelian pembeli. Terdapat dua pertanyaan yang harus dijawab oleh pemasar, yang pertama adalah bagaimana karakteristik pembeli mempengaruhi perilaku pembelian dan kedua yaitu bagaimana pembeli mengambil keputusan pembelian.
Sumber: Kotler (2005)
25
3.1.3 Proses Keputusan Pembelian
Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen terbagi dalam lima tahap (Engel et al., 1994). Tahap pertama adalah pengenalan kebutuhan. Pengenalan kebutuhan merupakan persepsi konsumen terhadap perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan situasi aktual yang memadai untuk membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan. Ketika batas perbedaan ini berada pada tingkat yang melewati ambang tertentu, pengenalan kebutuhan pun akan dirasakan oleh konsumen. Begitu juga sebaliknya jika perbedaan tersebut belum mampu melewati ambang tertentu, pengenalan kebutuhan tidak akan terjadi.
Tahap kedua adalah pencarian informasi. Pencarian informasi adalah aktivitas termotivasi dari pengetahuan yang disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) atau pemerolehan informasi dari lingkungan (pencarian eksternal) untuk mendapatkan suatu bentuk informasi terhadap apa yang dibutuhkan (pengenalan kebutuhan).
Tahap ketiga adalah evaluasi alternatif. Pada tahap ini konsumen
mengevaluasi pilihan berkenaan dengan manfaat yang diharapkan dan menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih. Tahap keempat adalah pembelian. Pembelian adalah keadaan dimana konsumen memperoleh alternatif yang dipilih atau pengganti yang dapat diterima bila perlu. Tahap terkahir adalah hasil, pada tahap ini konsumen mengevaluasi apakah alterbatif yang dipilih memenuhi kebutuhan dan harapan segera setelah digunakan.
kesehatan lebih menitikberatkan di bidang kesehatan pada cara perilaku yang sehat, seperti berhenti merokok, memulai program olahraga maupun membuat program diet. Model ini mmiliki lima tahapan yaitu prakontemplasi (tidak mengakui masalah atau kebuthan akan perubahan), kontemplasi (berpikir serius tentang masalah dan kemungkinan perubahan), persiapan (membuat komitmen dan melangkah guna mempersiapkan perubahan tersebut), aksi (modifikasi perilaku yang berhasil untuk periode dari satu sampai enam bulan) dan pemeliharaaan (keberlanjutan perubahan dari enam bulan sampai jangka waktu yang tdak terbatas).
Model siklus aktivitas pelanggan berfokus pada pemetaan tahap atau proses perilaku konsumen, yaitu “pra”, “selama” dam “pasca” tugas tertenu. Konsep ini hampir sama dengan konsep proses keputusan pembalian oleh Solomon (1992) yaitu proses prapembelian, pembelian dan pascapembelian. Pada tahap “pra”, konsumen memutuskan apa yang harus dilkaukan, tahap “selama” adalah melaksanakannya dan tahap “pasca” mempertahankan agar terus berjalan (mengevaluasi apakah tetap berjalan atau tidak).
Engel et al. (1994) menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pada konsumen menjadi tiga, yaitu pengaruh lingkungan, perbedaan individu dan proses psikologis.
27
Pengaruh perbedaan individu menurut Engel et al. (1994) ada lima cara dimana konsumen akan berbeda dalam mengambil keputusan belanja sehingga berpengaruh terhadap perilaku konsumen yaitu sumberdaya, pengetahuan, sikap, motivasi serta kepribadian, gaya hidup dan demografi.
Pengaruh psikologis dalam pembelian menurut Kotler (2005) yang dilakukan dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan dan keyakinan serta pendirian. Engel et al. (1994) menyatakan ada tiga hal yang menjadi bagian dari proses yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen, yaitu pemrosesan informasi, pembelajaran serta perubahan sikap dan perilaku.
Sumber: Engel et al. (1994)
3.1.4 Atribut Produk
Barang adalah salah satu sifat yang kompleks baik dapat diraba maupun tidak dapat diraba (termasuk bungkus, warna, harga, prestise perusahaan atau lembaga tataniaga, pelayanan perusahaan) yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan atau kebutuhannya (Limbong dan Sitorus, 1987). Suatu produk pada dasarnya adalah kumpulan atribut-atribut, dan setiap produk, baik barang atau jasa dideskripsikan dengan menyebutkan atribut-atributnya.
Atribut menurut Solomon (1992) adalah karakteristik atau sifat dari suatu objek dan umumnya mengacu pada karakteristik yang berfungsi sebagai kriteria evaluatif selama pengambilan keputusan. Pendapat tersebut juga diutarakan oleh Engel et al. (1994). Atribut produk terdiri atas tiga tipe, yaitu ciri-ciri rupa (feature), fungsi (function) dan manfaat (benefit). Ciri-ciri dapat berupa ukuran, karakteristik, estetis, komponen atau bagian-bagiannya, bahan dasar, proses manufaktur, maupun trademark/merek dan lain-lain. Sementara manfaat dapat berupa kegunaan, kesenangan yang berhubungan dengan panca indera, manfaat juga dapat berupa manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Atribut fungsi jarang digunakan dan lebih sering dipergunakan sebagai ciri-ciri atau manfaat.
3.1.5 Sikap
29
mengacu pada tindakan terhadap objek, sedangkan kognitif mengacu pada kepercayaan terhadap objek.
Sikap memiliki banyak karakteristik atau sifat, Sumarwan (2003) menyebutkan bahwa sikap memiliki objek, konsistensi, bentuk positif, negatif maupun netral, intensitas, resistensi, persistensi dan keyakinan. Engel et al. (1994) menambahkan bahwa sikap memiliki sifat yang dinamis, sehingga sikap dapat berubah-ubah dan dipengaruhi.
Ahli-ahli perilaku konsumen seperti Schiffman dan Kanuk, Solomon dan Solomon menyatakan bahwa sifat yang penting dari sikap adalah kepercayaan. Solomon menggambarkan sebuah efek hierarki dari sikap yang dimulai dari kepercayan. Sebelum sikap terbentuk perlu adanya kepercayaan yang menimbulkan suatu perasaan tertenu dan pada akhirnya memunculkan perilaku atau tindakan.
3.1.6 Model Sikap Multiatribut Fishbein
Model Sikap Multiatribut Fishbein dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dengan sikap terhadap produk berkenaan dengan ciri atau atribut produk. Salah satu model sikap multiatribut yang biasanya dipakai adalah model atribut Fishbein (Engel et al., 1994).
merek, maka tersebut akan dipilih dan dibelinya. Rumus model Fishbein adalah
b1 = kekuatan kepercayaanbahwa objek memiliki atibut i ei = evaluasi mengenai atribut i
n = jumlah atribut yang menonjol
Terdapat dua sasaran pengukuran yang penting dalam mengevaluasi atribut produk, yaitu: (1) mengidentifikasi kriteria evaluasi yang mencolok dan (2) memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing atribut produk (Engel et al., 1994). Kriteria evaluasi yang mencolok dapat diketahui dengan menentukan atribut yang menduduki peringkat tertinggi. Saliensi biasanya diartikan sebagai kepentingan, yaitu konsumen diminta untuk menilai kepentingan dari berbagai kriteria evaluasi.
31
3.1.7 Importance and Performance Analysis
Importance and Performance Analysis (IPA) merupakan dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan tentang tindakan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerja perusahaan demi meningkatkan kepuasan pelanggan. Analisis ini akan menghasilkan suatu matriks kartesius yang terdiri dari empat kuadaran.
Importance mengacu pada tingkat kepentingan menurut persepsi pelanggan. Dari persepsi tingkat kepentingan pelanggan, kita dapat merumuskan tingkat kepentingan yang paling dominan. Dengan memakai konsep kepentingan ini, kita dapat menangkap persepsi yang lebih jelas mengenai pentingnya variabel tersebut dimata pelanggan. Selanjutnya, kita dapat mengaitkan pentingnya variabel ini dengan kenyataan yang dirasakan oleh pelanggan.
Gambar 5. Matriks Importance and Performance Analysis
bawah dan kuadran keempat di sebelah kanan bawah. Strategi yang dapat dilakukan berkenaan dengan posisi masing-masing variabel pada keempat kuadran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kuadran I (attributes to improve)
Kuadran ini merupakan wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap penting oleh pelanggan tetapi kenyataannya faktor-faktor ini belum sesuai seperti yang diharapkan pelanngan (tingkat kepuasan yang diperoleh masih sangat rendah). Variabel-variabel yang masuk dalam kuadran ini harus ditingkatkan. Caranya adalah perusahaan melakukan perbaikan secara terus-menerus sehingga performance yang ada dalam kuadaran ini akan meningkat.
Kuadarn 2 (maintainperformance)
Kuadran ini merupakan wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap penting oleh pelanggan dan faktor-faktor yang dianggap oleh pelanggan sudah sesuai dengan yang dirasakan sehingga tingkat kepuasanyya relatif tinggi. Variabel-veriabel yang termasuk dalam kuadran ini harus tetap dipertahankan karena semua variabel ini menjadikan produk/jasa tersebut unggul di mata pelanggan.
Kuadran 3 (attributes to maintain)
33
Kuadran 4 (Attributes to De-emphasize)
Kuadaran ini merupakan wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pelanggan dan dirasakan terlalu berlebihan. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini dapat dikurangi agar perusahaan dapat menghemat biaya.
3.1.8 Customer Satisfaction Index
Tingkat kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya (Kotler, 2005). Kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan harapan. Jika kinerja di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya dan jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang.
Solomon (1992) mendeskripsikan kepuasan merupakan seluruh perasaan atau sikap terhadap produk setelah produk tersebut dibeli. Hal ini berkaitan dengan kualitas yang ada pada sebuah produk dan biasanya kualitas menunjukkan kinerja suatu atribut terhadap manfaat yang diperoleh konsumen. Engel et al. (1994) mendefinisikan kepuasan sebagai evaluasi pascakonsumsi yang menunjukkan suatu alternatif terpilih memenuhi atau melampaui harapan. Jika hasil pembelian memenuhi harapan maka dapat dikatakan bahwa konsumen puas terhadap pembelian yang dilakukan.
suatu produk dengan melihat tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan dari atribut atau indikator-indikator dari produk tersebut.
3.1.9Bauran Pemasaran
Menurut Kotler (2005), bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Alat pemasaran tersebut terdiri dari 4P, yaitu product (produk), price (harga), Place (distribusi), dan promotion (promosi).
1. Produk
Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kesuatu pasar yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen. Produk merupakan alat bantu pemasaran yang paling mendasar (Kotler, 2005).
Menurut Kotler (2005), bauran produk adalah kumpulan dari semua produk dan unit produk yang ditawarkan penjual tertentu kepada pembeli. Bauran produk memiliki tingkat kelebaran tertentu (banyak macam lini produk), panjang produk (jumlah keseluruhan jenis produk), kedalaman produk (jumlah variasi produk yang ditawarkan), dan konsistensi produk (menunjukkan hubungan dari berbagai lini produk dengan pemakai terakhir saluran distribusi atau lainnya).
35
2. Harga
Harga merupakan satu-satunya elemen dari bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan (Kotler, 2005). Strategi harga meliputi metode penetapan harga pokok, memodifikasi harga yang sudah ada dan memprakarsai serta menanggapi perubahan harga.
Penetapkan harga produk dilakukan oleh produsen dengan prosedur tertentu, yaitu memilih tujuan penetapan harga, menentukan permintaan, memperkirakan biaya, menganalisis harga, memilih metode penetapan harga, dan menetapkan harga.
3. Tempat
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi (Kotler, 2005). Saluran pemasaran yang dipilih perusahaan sangat mempengaruhi semua keputusan pemasaran lain. Agar barang atau jasa yang telah diproduksi oleh produsen akan tiba ke konsumen pada saat harga, tempat, dan bentuk yang tepat, maka diperlukan identifikasi alternatif saluran pemasaran. Menurut Kotler (2005), suatu alternatif saluran pemasaran digambarkan dengan tiga elemen, yaitu jenis perantara bisnis yang tersedia, jumlah perantara yang diperlukan, dan syarat serta tanggung jawab tiap peserta saluran.
4. Promosi
perusahaan. Bauran promosi pemasaran terdiri dari lima cara komunikasi utama, yaitu periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan pribadi, dan pemasaran langsung.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Peningkatan pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan meningkatnya permintaan akan beras mengingat sebagian besar rakyat Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokok. Saat ini laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah sebesar 1,49 persen per tahun dengan rata-rata tingkat konsumsi beras sebesar 139,15 /kg/kapita/tahun, sedangkan produksi beras belum aman dalam memenuhi permintaan tersebut. Laju pertumbuhan produksi mengalami penurunan yang lebih tajam daripada laju pertumbuhan permintaan. Hal ini disebabkan laju pertumbuhan produktivitas dan pertumbuhan luas lahan yang melambat, bahkan laju pertumbuhan produktivitas di Jawa mengalami penurunan sampai 0,2 persen per tahun. Hal ini dapat menimbulkan krisis pangan di Indonesia.
Pemerintah telah berupaya meningkatkan produksi beras dengan berbagai macam program untuk meningkatkan produksi beras antara lain rehabilitasi ekstensifikasi infrastruktrur irigasi, pembukaan lahan sawah baru, memacu inovasi teknologi dan deregulasi serta penciptaan iklim kondusif bagi investor.
37
pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi.
Respon petani terhadap benih padi unggul sangat beragam hal ini tidak lepas dari kondisi demografi, ekonomi, budaya, keluarga, sikap, psikologis dan fakor-faktor lainnya akan mempengaruhi keputusan petani. Pengetahuan perilaku konsumen, sikap mereka terhadap atribut-atribut benih padi dan tingkat kepuasan mereka dalam menggunakan varietas unggul tentu akan berguna untuk pihak-pihak yang terkait dalam industri perbenihan.
Dalam penelitian ini alat analisis yang digunakan untuk mengukur sikap petani padi terhadap atribut-atribut benih padi adalah model sikap multiattribut Fishbein. Sedangkan untuk mengukur tingkat kinerja terhadap varietas benih padi akan digunakan teknik Importance and Performance Analysis yang akan menilai kepentingan dan kinerja atribut-attribut tertentu berdasarkan pendapat responden. Untuk mengukur tingkat kepuasan petani padi akan digunakan Customer Satisfaction Index yang akan mengukur tingkat kepuasan dengan megukur tingkat