• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Telaah dan Pengembangan Kurikulum (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Telaah dan Pengembangan Kurikulum (1)"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL BELAJAR

Jurnal belajar dalam matakuliah TELAAH DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BIOLOGI SMA ini berisi catatan refleksi dan rekaman selama mengikuti perkuliahan, misalnya; melakukan analisis kritis tentang suatu topik dari buku atau artikel, pelajaran yang dapat dipetik, hal-hal yang masih perlu dikaji, hal lain yang ingin diketahui lebih lanjut, dan semua hal penting dari proses pembelajaran yang diamati dan dialami selama satu semester. Tujuan penulisan jurnal belajar ini adalah membantu mempersiapkan diri secara fisik dan mental sebagai mahasiswa S1 serta membiasakan diri untuk mencatat dan mengarsipkan hal-hal penting terutama yang berkaitan dengan kegiatan akademik. Melalui jurnal belajar ini, diharapkan keterlibatan mahasiswa secara optimal dalam mempelajari materi belajar dapat terpenuhi.

Mata kuliah TELAAH DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BIOLOGI SMA merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diprogramkan Mahasiswa S1 Pendidikan Biologi Universitas Halu Oleo pada semester genap. Identitas matakuliah ini adalah sebagai berikut:

Matakuliah : TELAAH DAN PENGEMBANGAN

KURIKULUM BIOLOGI SMA

Sandi/Kode : KIP6524

SKS : 3 sks

Disajikan pada Jenjang : S1, Pendidikan Biologi Semester/Tahun Akademik : Genap/2015-2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Jurnal kegiatan belajar mahasiswa dalam perkuliahan TELAAH DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BIOLOGI SMA, disusun menurut urutan materi pada setiap perkuliahan/pertemuan diberi identitas, meliputi:

(2)

Mata Kuliah : TELAAH DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM BIOLOGI SMA

Topik : Silabus Mata Kuliah

Penyaji : Dr. Safilu, M.Si

Selama satu semester telah dilakukan 16 kali pertemuan dan 5 kali tatap muka. Uraian jurnal kegiatan belajar tersebut adalah sebagai berikut :

PERTEMUAN PERTAMA

Hari/tanggal : Rabu , 4 Mei 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si Topik : Proses Kognitif Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si A. Kegiatan yang dilakukan

Kegiatan yang di lakukan dalam pembelajaran adalah guru menjelaskan mengenai proses kognitif serta materi pembelajaran SMA yang harus di kembangkan proses kognitifnya dan bagian dari itu yang mencakup seluruh aspek kognitifnya. Selain itu interakksi Tanya jawab yang di lakukan untuk membuat materi pembelajaran bisa didiskusikan bersama.

B.Pembahasan Materi

Ranah kognitif mengurutkan keahlian berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir menggambarkan tahap berpikir yang harus dikuasai oleh siswa agar mampu mengaplikasikan teori kedalam perbuatan. Ranah kognitif ini terdiri atas enam level, yaitu: (1) knowledge (pengetahuan), (2) comprehension (pemahaman atau persepsi), (3) application (penerapan), (4) analysis (penguraian atau penjabaran), (5) synthesis (pemaduan), dan (6) evaluation (penilaian). Kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan keterampilan berpikir.

(3)

Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan. Mengingat merupakan dimensi yang berperan penting dalam proses pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) dan pemecahan masalah (problem solving). Mengingat meliputi mengenali (recognizing) dan memanggil kembali (recalling).

1) Mengenali (recognizing)

Mencakup proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang yang identik atau sama dengan informasi yang baru. Bentuk tes yang meminta siswa menentukan betul atau salah, menjodohkan, dan pilihan berganda merupakan tes yang sesuai untuk mengukur kemampuan mengenali. Istilah lain untuk mengenali adalah mengidentifikasi (identifying).

2) Memanggil kembali (recalling)

Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang apabila ada petunjuk (tanda) untuk melakukan hal tersebut. Tanda di sini seringkali berupa pertanyaan. Istilah lain untuk mengingat adalah menarik (retrieving). Contoh: Siapakah penemu sel? (Robert Hook).

b. Memahami (Understand)

Mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan informasi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif, yaitu:

1) Menafsirkan (interpreting)

Mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari darikata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Istilah lain untuk menafsirkan adalah mmengklarifikasi (clarifying), memparafrase (paraphrasing), menerjemahkan (translating), dan menyajikan kembali (representing).

2) Memberikan contoh (exemplifying)

(4)

dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Istilah lain untuk memberikan contoh adalah memberikan ilustrasi (illustrating) dan mencontohkan (instantiating).

3) Mengklasifikasikan (classifying)

Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Istilah lain untuk mengklasifikasikan adalah mengkategorisasikan (categorising).

4) Meringkas (summarsing)

Membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Istilah lain untuk meringkas adalah membuat inferensi adalah mengekstrapolasi (extrapolating), menginterpolasi (interpolating), memprediksi (predicting), dan menarik kesimpulan (concluding).

6) Membandingkan (comparing)

Mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua objek, ide, ataupun situasi. Membandingkan mencakup juga menemukan kaitan antara unsur-unsur satu objek atau keadaan dengan unsur yang dimiliki objek atau keadaan lain. Istilah lain untuk membandingkan adalah mengkontraskan (contrasting), mencocokkan (matching), dan memetakan (mapping).

7) Menjelaskan (explaining)

Mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu sistem. Termasuk dalam menjelaskan adalah menggunakan model tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi apabila salah satu bagian sistem tersebut diubah. Istilah lain untuk menjelaskan adalah mengkonstruksi model (constructing a model).

c. Menerapkan (apply)

(5)

pengetahuan prosedural. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif, yaitu: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing).

1) Menjalankan (executing)

Menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Istilah lain untuk menjalankan adalah melakukan (carrying out).

2) Mengimplementasikan (implementing)

Memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Karena diperlukan kemampuan memilih, siswa dituntut untuk memiliki pemahaman tentang permasalahan yang akan dipecahkannya dan juga prosedur-prosedur yang mungkin digunakannya. Apabila prosedur-prosedur yang tersedia ternyata tidak tepat benar, siswa dituntut untuk bisa memodifikasinya sesuai keadaan yang dihadapi. Istilah lain untuk mengimplementasikan adalah menggunakan (using).

d. Menganalisis (analyze)

Menganalisis merupakan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan permasalahan. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis, yaitu membedakan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting).

1) Membedakan (differentiating)

(6)

bisa dijadikan pembeda. Istilah lain untuk membedakan adalah memilih (selecting), membedakan (distinguishing) dan memfokuskan (focusing).

2) Mengorganisir (organizing)

Mengidentifikasi unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: menganalisis keseimbangan dinamis suatu ekosistem.

3) Menemukan pesan tersirat (attributting)

Menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: penentuan sebuah titik pandang bahwa manusia berasal dari kera menurut Charles Darwin).

e. Mengevaluasi (evaluate)

Membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Kriteria yang biasanya digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini, yaitu: memeriksa (checking) dan mengkritik (critiquing).

1) Memeriksa (checking)

Memeriksa dapat diartikan sebagai koordinasi, pendeteksian, monitoring, atau pengujian, yaitu pendeteksian ketidakkonsistenan atau kekeliruan dalam proses atau produk berdasarkan kriteria internal. Contoh: pendeteksian keefektifan prosedur yang telah diimplementasikan, penentuan apakah kesimpulan saitis sesuai dengan data hasil observasi, atau memeriksa apakah kesimpulan yang ditarik telah sesuai dengan data yang ada.

2) Mengkritik (critiquing)

Menilai suatu karya baik kelebihan maupun kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: menilai apakah rumusan hipotesis sesuai atau tidak (sesuai atau tidaknya rumusan hipotesis dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang penilai).

f. Mencipta/membuat/mengkreasikan (create)

(7)

menerapkan, dan menganalisis siswa bekerja dengan informasi yang sudah dikenal sebelumnya, sedangkan pada mencipta siswa bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baru. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini, yaitu Menggeneralisasikan (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing).

1) Menggeneralisasikan (generating)

Menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan.

2) Merencanakan (planning)

Merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. 3) Memproduksi (producing)

Membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.

C. Refleksi diri

(8)

PERTEMUAN KEDUA

Hari/tanggal : Rabu , 11 Mei 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si Topik : Pengetahuan Kognitif Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si A. Kegiatan yang dilakukan

Guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah,dan membacakan indicator pembelajaran. Terkadang di sela-sela pembelajaran guru mengembalikan masalah sehingga membuat siswa berpikir dan terjadi diskusi yang baik untuk di bahas bersama.

B. Pembahasan Materi

1. Dimensi Pengetahuan (knowledge dimension)

Dalam dimensi ini akan dipaparkan empat jenis kategori pengetahuan. Tiga kategori pertama dalam taksonomi revisi ini mencakup semua jenis pengetahuan yang terdapat dalam taksonomi Bloom. Sementara kategori keempat, yaitu pengetahuan metakognitif dan subjenisnya semuanya baru.

(9)

Pengetahuan faktual berisikan elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa jika mereka akan mempelajari suatu disiplin ilmu atau menyelesaikan masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Ada dua macam pengetahaun faktual, yaitu:

1) Pengetahuan tentang terminologi (knowledge of terminology)

Mencakup pengetahuan tentang label atau simbol tertentu baik yang bersifat verbal maupun non verbal. Setiap disiplin ilmu biasanya mempunyai banyak sekali terminologi yang khas untuk disiplin ilmu tersebut. Beberapa contoh pengetahuan tentang terminologi: pengetahuan tentang alfabet, pengetahuan tentang istilah ilmiah, dan pengetahuan tentang simbol dalam peta.

2) Pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur (knowledge of specific details and element)

Mencakup pengetahuan tentang kejadian, orang, waktu dan informasi lain yang sifatnya sangat spesifik. Beberapa contoh pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur, misalnya pengetahuan tentang nama tempat dan waktu kejadian, pengetahuan tentang produk suatu negara, dan pengetahuan tentang sumber informasi.

b. Pengetahuan konseptual (knowledge of conceptual)

Pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi bersama-sama. Ada tiga macam pengetahuan konseptual, yaitu:

1) Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori (Knowledge of classifications and categories)

(10)

2) Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi (Knowledge of principles and generalizations)

Prinsip dan generalisasi merupakan bagian yang dominan dalam sebuah disiplin ilmu dan digunakan untuk mengkaji masalah-masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Contoh pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi di antaranya adalah pengetahuan tentang hukum Mendel dan pengetahuan tentang prinsip-prinsip belajar. 3) Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur (Knowledge of theories, models, and structures)

Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur mencakup pengetahuan tentang berbagai paradigma, epistemologi, teori, model yang digunakan dalam disiplin-disiplin ilmu untuk mendeskripsikan, memahami, menjelaskan, dan memprediksi fenomena. Contoh pengetahuan tentang teori, model, dan struktur antara lain pengetahuan tentang teori evolusi, pengetahuan tentang model DNA, dan pengetahuan tentang model atom.

c. Pengetahuan prosedural (Knowledge of procedural)

Pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu. Seringkali pengetahuan prosedural berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti dalam mengerjakan suatu hal tertentu. Pengetahuan prosedural ini terbagi menjadi tiga subjenis yaitu: 1) Pengetahuan tentang keterampilan khusus yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu dan pengetahuan tentang algoritme (Knowledge of subject-specific skills and algorithms)

Mencakup pengetahuan tentang keterampilan khusus yang diperlukan untuk bekerja dalam suatu bidang ilmu atau tentang algoritme yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Beberapa contoh pengetahuan yang termasuk hal ini, misalnya: pengetahuan tentang keterampilan menimbang, pengetahuan mengukur suhu air yang dididihkan dalam beker gelas, dan pengetahuan tentang memipet. 2) Pengetahuan tentang teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu (Knowledge of subject-specific techniques and methods)

(11)

metode ilmiah. Jadi, pengetahuan ini lebih difokuskan bagaimana cara berpikir dan menyelesaikan masalah-masalah, bukan hasil penyelesaian masalah atau hasil pemikirannya.

3) Pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan (Knowledge of criteria for determining when to use appropriate procedures)

Mencakup pengetahuan tentang kapan suatu teknik, strategi, atau metode harus digunakan. Siswa dituntut bukan hanya tahu sejumlah teknik atau metode tetapi juga dapat mempertimbangkan teknik atau metode tertentu yang sebaiknya digunakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Beberapa contoh pengetahuan jenis ini misalnya: pengetahuan tentang kriteria untuk menggunakan larutan dalam uji makanan, pengetahuan tentang kriteria pemilihan rumus yang sesuai untuk memecahkan masalah, dan pengetahuan memilih metode statistika yang sesuai untuk mengolah data.

C. Refleksi diri

Memerhatikan segala argument yang harus sesuai fakta, kita boleh melakukan argument tetapi harus sesua fakta, inilah yang harus di lakukan guru biologi yakni dengan mempertunjukan fakta-fakta pembelajaran di dalam setiap pertemuannya. Karena pembelajaran biologi melalui metode ilmiah yang metode awalnya adalah mengumpulkan fakta yang ada

(12)

Telusuri semua materi yang ada di SMA kemudian pilih 3 topik kemudian tentukan proses kognitif yang pada masing masing materi tersebut?

Jawab:

Materi yang saya pilih adalah Keanekaragaman hayati, ekositem dan Pencemaran Lingkungan

1. EKOSISTEM

Materi ekosistem menekankan pada beberapa aspek kognitif : a. Mengingat

1. Mengingat kembali apa saja komponen ekosistem 2. Mengingat kembali apa saja macam-macam ekositem

3. Mengingat kembali jenis-jenis interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. b. Memahami

1. Menjelaskan kembali arti ekositem berdasarkan fakta yang di amati 2. Menyebutkan jenis-jenis ekositem berdasarkan pemahamannya

3. Memahami pengertian ekosistem berdasarkan berdasarkan konstruknya sendiri 4. Memahami peran manusia dalam ekositem

C. Menerapkan

1. Menyadari pentingnya peran manusia dalam ekositem sehingga tidak merusak lingkungan, serta menjaganya

2. Mampu memelihara lingkungan sekitar sebagai bentuk kesadarannya setelah mempelajari ekositem

3. Menghindari barang-barang yang menggunakan bahan yang susah di urai d. Analisis

Menganalisis adalah usaha mengurai suatu materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan antara bagian-bagian dengan materi secara keseluruhan. Setelah melakukan perlu di lakukan analisis untuk mengecek keberhasilan materi yang telah kita pahami sehingga perlu beberapa bagian yang harus di perbaiki.

(13)

Evaluasi adalah melihat kembali proses yang telah kita sehingga perlu repair atau memperbaiki beberapa bagian sehingga bisa melahirkan sebuah kreatifitas baru mengenai pembelajaran ini seperti melihat kembali peran manusia dalam ekosistem serta hubungan tibal balik di antara, sehingga membuat kesadaran bahwa makhluk hidupp ada yang saling membutuhkan sehingga membentuk kestabilan di alam. f. Mencipta

Mencipta adalah menghasilkan suatu karya dari hasil proses pembelajaran yang di lewati baik berupa proses kognitifnya. Hasil mencipta yang bisa di lakukan setelah mempelajari ekosistem adalah membuat ekositem buatan dengan menggunakan aquarium

2. KEANEKARAGAMAN HAYATI

Materi ini menekankan pada beberapa aspek kognitif: a. Mengingat

1. Mengingat kembali pengertian keanekaragaman hayati 2. Mengingat kembali masalah keanekaragaman hayati 3. Mengingat kembali keanekaragaman hayati di Indonesia

4. Mengingat kembai berbagai jenis keanekragaman hayati yang terancam punah b. Memahami

1. Mendeskripsikan keanekaragaman hayati

(14)

5. Menjelaskan tingkat keanekaragaman hayati c. Menerapkan

Penerapan pembelajaran merupakan implementasi dari hasil belajar bisa berupa sikap kita dan ketrampilan yang telah di peroleh dari mempelajari ini seperti

1. Melindungi spesies langkah dengan mengembalikan ke pusat konservasi 2. Mampu memilah sampah organic dan anorganik sehingga meminimalis

sampah d. Analisis

Memperbaiki beberapa proses atau mengecek kesaahan mendasar sebeum masuk tahap evaluasi dengan memperhatikan permasalahan yang ada pada materi seperti masalah flora dan fauna yang teracam punah, maka perlu di selidiki penyebabnya hingga dapat di simpukan masalah secara keseluruhan.

e. Evaluasi

Setalah permasahan dapat di simpulkan maka perlu di lakukan evaluasi secara keseluruhan sehingga bisa di berikan solusi dari permasalah tersebut, seperti solusi bagaimana mengatasi flora dan fauna yang terancam punah? Sehingga perlu dilakukan pembuatan ide atau rencana membuat ini bisa di atasi sehingga bia masuk dalam tahap mencipta

f. Mencipta

Setelah dilakukan evaluasi maka di buatlah ide untuk mengatasi masalah yang telah di evauasi untuk dapat membuat, sseperti membuat konservasi untuk menagkarkan for a dan fauna yang terancam punah.

3. PENCEMARAN LINGKUNGAN

Materi ini menekankan pada beberapa aspek kognitif: a. Mengingat

1. Mengingat kembali penyebab terjadinya pencemaran

(15)

3. Mengigat kembai jenis-jenis pencemaran

4. Mengingat kembali pencemaran yan di sebabkan oleh ulah manusia b. Memahami

1. Memahami pengertian pencemaran berdasarkan fakta yang di temui 2. Menjelaskan proses terjadi pencemaran berdasarkan fakta yang di temui 3. Menyebutkan jenis-jenis pencemaran

4. Menjelaskan penyebab pencemaran lingkungan berdasarkan fisiknya kimianya dan biologinya.

5. Menjelaskan penggunaan bahan-bahan yang tidak menyebabkan pencemaran c. Menerapkan

Menerapkan berarti mengaplikasikan pengetahuan yang telah kita peroleh kedalam kehidupan nyata sehingga bermanfaat untuk dirinya dan orang lain seperti :

1. Membuang sampah pada tempatnya

2. Memilah sampah organic dan anorganik

3. Mengurangi penggunan kantung plastic ketika berbelanja

4. Menanam pohon sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya tumbuhan dalam pembersih udara yang alami.

(16)

d. Menganalisis

Evaluasi di perlukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan kita memahami materi ini sehingga perlu di lakukan review proses yang telah lewati seperti, apakah menjadi penyebab utama pencemaran di indonesiayang menjadi masalah nasional? Berdasarkan masalah ini perlu di lakukan analysis untuk menentukan penyebab utamanya.

e. Mengevaluasi

Mengevaluasi perlu di lakukan untukmengukur sejauh mana pengetahua itu di pahami sehingga bisa di tentukan solusi tepat dari masalaah tersebut. Seperti penyebab utama dari pencemaran lingkungan di Indonesia adalah rendahnya pemahaman masyarakat mengenai dampak membaung sampah sembarang ini di sebabkan pua tingkat pendidikan masyarakat yang rendah sehingga tidak menumbuhkan sikap spiritual dan social yang benar.

f. Mencipta

(17)

PERTEMUAN KETIGA

Hari/tanggal : Rabu, 18 Mei 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Topik : Pengembangan topik 1 dan 2 Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si

(18)

PERTEMUAN KEEMPAT

Hari/tanggal : Rabu, 25 Mei 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Topik : Pengembangan topik 1 dan 2 Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si

A. Kegiatan yang dilakukan B. Pembahasan Materi C. Refleksi diri

PERTEMUAN KELIMA

Hari/tanggal : Rabu, 1 Juni 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si Topik : Keterampilan Berpikir Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si A. Kegiatan yang dilakukan

(19)

berpikir kreatif . Selain itu di angkat pula permaslah social yang sering terjadi untuk di ajak memikirkan ulang apa telah kita lakukan sehingga menimbulkan rasa bahwa pengetehaun yang kita peroleh harus di kembalikan sikap spritual dan dan sikap social.

B. Pembahasan Materi

Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasi akhir………..

(20)

Salah satu kecakapan hidup ( life skill ) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan adalah ketrampilan berpikir (Depdiknas, 2003). Kemampuan seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya antara lain ditentukan oleh ketrampilan berpikirnya, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Di samping pengembangan fitrah bertuhan, pembentukan fitrah moral dan budipekerti, inkuiri dan berpikir kritis disarankan sebagai tujuan utama pendidikan sains dan merupakan dua hal yang bersifat sangat berkaitan satu sama lain (Ennis, 1985; Garrison & Archer, 2004).

Dimensi berpikir sebagai proses yang bersifat pribadi dan internal yang dapat berawal dan berakhir pada dunia luar atau lingkungan seseorang. Dimensi kedua ialah persepsi dan konsepsi sebagai perantara dari pengalaman langsung dan konsep abstrak dalam pikiran. merefleksikan siklus umum inkuiri yang bermula dari kegiatan mendefinisikan masalah, melakukan eksplorasi, mengintegrasikan gagasan dan berakhir pada pengambilan keputusan dan mengaplikasikan gagasan. Dari gambar tersebut terlihat bahwa inkuiri sebagai strategi pembelajaran dan berpikir kritis sebagai proses belajar untuk membangun makna dan mengkonfirmasikan pemahaman mengenai sesuatu materi pelajaran memberikan penekanan pada pentingnya keterlibatan pengalaman langsung dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran di sekolah berperan dalam membantu siswa untuk berkembang menjadi pemikir yang kritis dan kreatif terutama jika guru dapat memfasilitasinya melalui kegiatan belajar yang efektif.

(21)

menekankan pada aspek intuitif dan rasional (Johnson, 2000). Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan.

Morgan (1999) mengutip pendapat Marzano (1992) memberikan kerangka tentang pentingnya pembelajaran berpikir yaitu: (1) berpikir diperlukan untuk mengembangkan sikap dan persepsi yang mendukung terciptanya kondisi kelas yang positif, (2) berpikir perlu untuk memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan, (3) perlu untuk memperluas wawasan pengetahuan, (4) perlu untuk mengaktualisasikan kebermaknaan pengetahuan, (5) perlu untuk mengembangkan perilaku berpikir yang menguntungkan. Berpikir kritis merupakan suatu kompetensi yang harus dilatihkan pada peserta didik, karena kemampuan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang (Schafersman, 1999 dalam Arnyana, 2004). Guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan strategi kooperatif merupakan salah satu cara untuk itu. Dengan kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan menginterpretasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Perpaduan kegiatan inkuiri dengan strategi kooperatif dapat melatih siswa untuk bekerjasama dengan teman sebayanya.

(22)

berpikir bagi siswa ketika mereka mempelajari suatu keterampilan berpikir. Dalam praktiknya, kerangka berpikir tersebut dapat dibuat dalam bentuk poster yang ditempatkan di dalam ruang kelas untuk membantu proses belajar mengajar.

Mengajarkan Keterampilan Berpikir………. Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat. Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas.

Pada dasarnya pembelajaran keterampilan berpikir dapat dengan mudah dilakukan. Sayangnya, kondisi pembelajaran yang ada di kebanyakan sekolah di Indonesia belum begitu mendukung untuk terlaksananya pembelajaran ketrampilan berpikir yang efektif. Beberapa kendalanya antara lain pembelajaran di sekolah masih terfokus pada guru, belum student centered; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Keterampilan berpikir sebenarnya merupakan suatu keterampilan yang dapat dipelajari dan diajarkan, baik di sekolah maupun melalui belajar mandiri. Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir ini adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak. Tahapan tersebut adalah:

(23)

2. Instruksi dan pemodelan langsung……… Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.

3. Latihan terbimbing

Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.

4. Latihan bebas

Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan.

C. Refleksi diri

(24)

PERTEMUAN KEENAM

Hari/tanggal : Rabu, 8 Juni 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Topik : Keterampilan berpikir kritis Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si

A. Kegiatan yang dilakukan

Kegiatan yang di lakukan dalam pembelajaran adalah guru menjelaskan mengenai Keterampilan berpikir kritis serta materi pembelajaran SMA yang harus di kembangkan Keterampilan berpikir kritisnya. Selain itu interakksi Tanya jawab yang di lakukan untuk membuat materi pembelajaran bisa didiskusikan bersama.

(25)

Soft skill merupakan kemampuan khusus, diantaranya meliputi interaksi sosial (sosial interaksi), ketrampilan teknis dan managerial. Kemampuan ini adalah salah satu hal yang harus dimiliki tiap tiap peserta didik setelah melalui proses pembelajaran. Untuk mendiseminasikan soft skill pada para peserta didik, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari guru. mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para guru supaya mengerti lebih jauh tentang soft skil karean guru harus bisa jadi living example. Hal ini dapat kita lihat dari kemampuan peserta didik yang ada sekarang ini banyak yang belum mengerti dan mengetahui tentang bagaimana soft skill tersebut.

Menurut Ennis (dalam Hassoubah, 2004), berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa sebagai berikut:

1. Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan. 2. Mencari alasan.

3. Berusaha mengetahui informasi dengan baik.

4. Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya. 5. (Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan.

6. Berusaha tetap relevan dengan ide utama. 7. Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar. 8. Mencari alternatif.

9. Bersikap dan berpikir terbuka.

10. Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu. 11. Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan.

12. Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah.

(26)

yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 8 dan 10, dan 11 adalah mampu mendeteksi bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda. Indikator yang diturunkan dari aktivitas kritis no. 5 dan 9 adalah mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan.

Beyer (dalam Hassoubah, 2004) mengatakan bahwa keterampilan berpikir kritis meliputi beberapa kemampuan sebagai berikut :

1. Menentukan kredibilitas suatu sumber.

2. Membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan. 3. Membedakan fakta dari penilaian.

4. Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan. 5. Mengidentifikasi bias yang ada.

6. Mengidentifikasi sudut pandang.

7. Mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.

Selain itu, Gokhale (1995) dalam penelitiannya yang berjudul Collaborative Learning Enhances Critical Thinking menyatakan bahwa yang dimaksud dengan soal berpikir kritis adalah soal yang melibatkan analisis, sintesis, dan evaluasi dari suatu konsep. Cotton (1991), menyatakan bahwa berpikir kritis disebut juga berpikir logis dan berpikir analitis. Selanjutnya menurut Langrehr (2006), untuk melatih berpikir kritis siswa harus didorong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :

(1) Menentukan konsekuensi dari suatu keputusan atau suatu kejadian; (2) Mengidentifikasi asumsi yang digunakan dalam suatu pernyataan; (3) Merumuskan pokok-pokok permasalahan;

(4) Menemukan adanya bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda; (5) Mengungkapkan penyebab suatu kejadian;

(6) Memilih fakor-faktor yang mendukung terhadap suatu keputusan C. Refleksi diri

(27)

PERTEMUAN KE TUJUH

Hari/tanggal : Rabu, 15 Mei 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Topik : Menelaah materi biologi yang ada di kurikulum SMA Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si

A. Kegiatan yang dilakukan

Kegiatan yang di lakukan yaitu mendiskusikan mengenai materi pelajran biologi yang ada di SMA. Berjalannya diskusi di pimpim oleh seorang moderator dengan mengajukan topic yaitu SEL. Topic itu akan didiskusikan bersama peserta diskusi. Lalu terdapat beberapa orang yang mengajukan pertanyaan.

B. Pembahasan Materi

1.Pertayaan pertama oleh oleh Ali muh. Akbar

Mengapa sel di katakan sebagai unit terkecil dari makhluk hidup? Sedangkan ada ukuran yang lebih kecil yaitu virus dan beberapa jenis bakteri.

(28)

Bahwa Virus tidak dapat di katakan unit terkecil dari makhluk hidup karena virus tidak dapat hidup lama tanpa ada inangnya sehingga tidak bisa di kataka unit terkecil makhluk hidup. Sedangan sel melakukan segala aktivitas kehidupan dalam satu sel itu saja dan bisa hidup tanpa da inangnya.

2. Pertanyaan kedua dari Kadek Mertayasa

Mengapa di katakana organel? (Pertanyaan yang ingin di ketahu lebih lanjut) Tanggapan dari forum:

3.Pertanyaan dari sdri. Yarni Indrayanti

Kita telah mempelajari sel hewan dan sel tumbuhan. Kemudiann apa yang menjadi pengetahuan faktualnya

Tanggapan dari forum: Pengetahuan faktual adalah pengetahuan yang berupa fakta-fakta. Misalnya sel, seluruh organel-organel sel (lisosom, mitokondria, badan golgi, inti sel, RE, dan lain-lain.

C. Refleksi diri

(29)

PERTEMUAN KEDELAPAN

Hari/tanggal : Rabu, 22 Juni 2016 Dosen Pembina : Dr. Safilu, M.Si

Topik : Keterampilan berpikir kreatif Penyaji Topik : Dr. Safilu, M.Si

A. Kegiatan yang dilakukan

Guru menyampaikan materi dengan metode ceramah menggunakan pendekatan saintifik sehingga siswa lebih leluasa menyimak materi. Di sela-sela penyampaim materi guru melempar beberapa pertanyaan yang di melatih untuk berpikir kreatif berupa menghungkan 15 titik membentuk pola tanpa putus. Selain itu di angkat pula permaslah social yang sering terjadi untuk di ajak memikirkan ulang apa telah kita lakukan sehingga menimbulkan rasa bahwa pengetehaun yang kita peroleh harus di kembalikan sikap spritual dan dan sikap sosial

B. Pembahasan Materi

(30)

Dalam mendefiniskan soal berpikir ini terdapat adanya beberapa macam pendapat, di antaranya ada yang menganggap berpikir sebagai suatu proses asosiasi saja, ada pula yang memandang berpikir sebagai proses penguatan hubungan antara stimulus dan respons, ada yang mengemukakan bahwa berpikir itu merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa berpikir merupakan kegiatan kognitif tingkat tinggi (higher level cognitive), sering pula dikemukakan bahwa berpikir itu merupakan aktivitas psikis yang intensional.

Keterampilan berpikir diarahkan untuk memecahkan masalah, dapat dilukiskan sebagai upaya mengeksplorasi model-model tugas pelajaran di sekolah agar model-model itu menjadi lebih baik dan memuaskan. Terkadang model dapat mendorong para pemikir untuk berpikir lebih jauh berdasarkan informasi perseptual yang mantap yang diperoleh dari lingkungannya (Bruner, 1957), dan mampu mengantisipasi hasil-hasilnya tanpa melalui perlakuan mencoba salah (tryal and error).

Berpikir adalah serangkaian, gagasan, idea atau konsepsi-konsepsi yang diarahkan kepada suatu pemecahan masalah. Jika melihat arti berpikir seperti ini maka dapat dipahami bahwa pengertian ini merujuk berdasarkan hasi berpikir dan tujuan berpikir.

Penulis mendefenisikan berpikir adalah suatu proses pencarian gagasan, ide-ide, dan konsep yang diarahkan untuk pemecahan masalah. Dikatakan sebagai proses karena sebelum berpikir kita tidak mempunyai gagasan maupun ide, dan sewaktu berpikir itulah ide bisa datang sehingga melahirkan berbagai pemikiran, diantaranya adalah pemikiran kreatif.

Berpikir juga dapat diartikan dengan bertanya tentang sesuatu, karena disaat kita berpikir yang ada diotak kita adalah berbagai pertanyaan analisa diantaranya adalah: apa, mengapa, kenapa, bagaimana, dan dimana.

(31)

menolak teknik yang standar dalam menyelesaikan masalah, (2) mempunyai ketertarikan yang luas dalam masalah yang berkaitan maupun tidak berkaitan dengan dirinya, (3) mampu memandang suatu masalah dari berbagai perspektif, (4) cenderung menatap dunia secara relatif dan kontekstual, bukannya secara universal atau absolut, (5) biasanya melakukan pendekatan trial and error dalam menyelesaikan permasalahan yang memberikan alternatif, berorientasi ke depan dan bersikap optimis dalam menghadapi perubahan demi suatu kemajuan. Marzano (1988) mengatakan bahwa untuk menjadi kreatif seseorang harus: (1) bekerja di ujung kompetensi bukan ditengahnya, (2) tinjau ulang ide, (3) melakukan sesuatu karena dorongan internela dan bukan karena dorongan eksternal, (4) pola pikir divergen/ menyebar, (5) pola pikir lateral/imajinatif.

Berpikir Kreatif adalah menghubungkan ide atau hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan. Dalam kenyataan teknik modern timbul semboyan yang menarik (jargon) atau istilah khas yang menjadi bahasa golongan tertentu. Begitu pula tak terkecuali Berpikir Kreatif yang memiliki empat kata khas yaitu imajinatif. Tidak dapat diramalkan. Divergen dan lateral.

Keterampilan merupakan istilah yang banyak digunakan baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Pada umumnya orang menghubungkan kreativitas dengan produk-produk kreasi, dengan perkataan lain, produk-produk kreasi itu merupakan hal yang penting untuk menilai kreativitas. Pada hakikatnya, pengertian kreatif berhubungan dengan penemuan sesuatu, mengenai hal yang menghasilkan sesuatu yang baru dengan menggunakan sesuatu yang telah ada. Ini sesuai dengan perumusan kreativitas secara tradisional. Secara tradisional kreativitas dibatasi sebagai memujudkan sesuatu yang baru dalam kenyataan. Sesuatu yang baru ini mungkin berupa perbuatan atau tingkah laku.

(32)

orang lain atau dunia pada umumnya, misalnya seorang siswa menciptakan untuk dirinya sendiri suatu hubungan baru dengan siswa atau orang lain.

Taylor dan Holland 1962 (dalam Slameto, 2003 : 146), menerangkan bahwa kecerdasan hanya memegang peranan yang kecil saja di dalam tingkah laku kreatif, dan dengan demikian tidak memadai untuk dipakai sebagai ukuran kreativitas. Dalam hubungan ini Klausmeier dan Ripple (1971), menjelaskan bahwa janganlah kita lalu berkesimpulan atau mengharapkan bahwa siswa yang kecerdasannya rendah atau normal akan dapat menjadi sama kreatifnya dengan siswa yang kecerdasannya tinggi. Di kalangan siswa yang tingkat kecerdasannya sama, terdapat perbedaan kreativitas.

Menurut Nunnally 1970, (dalam Slameto, 2003 : 147) pada umumnya orang-orang kreatif berada pada 10 atau 15 persen tingkat atas dari tes kecerdasan. Selanjutnya dikatakannya, bahwa jika jarang menemukan orang yang hasilnya dalam tes kecerdasan normal atau dibawah normal mempunyai produk-produk kreasi yang menunjukkan potensi kreativitas. Dalam hal ini kita tidak mengadakan pemisahan antara cerdas dan kreatif, pembedaan itu sebaiknya dilakukan antara orang-orang yang cerdas tetapi tidak kreatif, dengan orang-orang yang cerdas dan kreatif.

Keterampilan berpikir kreatif, yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru, kontruktif, dan baik, berdasarkan konsep-konsep yang rasional, persepsi dan intuisi individu, Suprapto 1997:7 (dalam Zuchdi, 2008:127). Berpikir kreatif melibatkan berpikir rasional dan imajinatif, kita dapat mengembangkan kapasitas untuk mengenal pola-pola baru dan prinsip-prinsip baru, menyatukan fenomena yang berbeda-beda, dan menyederhanakan situasi yang kompleks. Inilah hakikat berpikir dan produktif, yang memungkinkan seseorang dapat memecahkan masalah.

(33)

Berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat. Pertama, kreatifitas melibatkan respon atau gagasan yang baru, atau yang secara statistik sangat jarang terjadi. Tetapi kebaruan saja tidak cukup tetapi harus mudah dan masuk akal. Kedua, memecahkan masalah persoalan secara realitis. Ketiga, kreatifitas merupakan usaha untuk mempertahankan in-sight yang orisinil, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin. Definisi berikutnya diutarakan oleh Csikzentmihalyi (dalam Rachmawati et. all, 2011:14), beliau memaparkan kreativitas sebagai produk berkaitan dengan penemuan sesuatu, memproduksi sesuatu yang baru, daripada akumulasi keterampilan atau berlatih pengetahuan dan mempelajari buku.

Ciri-ciri Keterampilan Berpikir Kreatif

Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi terhadap orang-orang yang berpikir kreatif telah menghasilkan beberapa kriteria atau ciri-ciri orang-orang yang kreatif. Menurut Denny dan Davis (1982) dalam penelitian terhadap para penulis dan arsitek yang kreatif melalui identifikasi oleh anggota profesi mereka menghasilkan bahwa orang yang mempunyai kreatifitas yang tinggi itu cenderung memiliki ciri-ciri : fleksibel, tidak konvensional, eksentrik (aneh), bersemangat, bebas, berpusat pada diri sendiri, bekerja keras, berdedikasi dan inteligen.

Woolfolk dan Nicolich (1984) menjelaskan bahwa orang yang berpikir kreatif menunjukkan ciri-ciri adanya sikap kreativitas dalam arti luas, termasuk tujuannya, nilainya, serta sejumlah sifat kepribadian yang mendukung orang untuk berpikir bebas, fleksibel, dan imajinatif.

Menurut Mc. Kinnon (Yellon, 1977), orang-orang yang kreatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Memandang dirinya berbeda dan lebih sering melukiskan dari mereka sebagai berdaya cipta, tak tergantung, bersifat individualis.

2. Lebih terbuka dalam pengalaman dan perasaan.

(34)

4. Lebih tertarik secara mendalam menyerap pengalaman daripada mempertimbangkan.

5. Lebih bersifat intuitif.

Mulyono Gandadipura (1983) merangkum hasil penelitian para ahli terhadap orang-orang yang ahli berbagai bidang, antara lain: penulis, seniman, arsitek, ahli matematik, peneliti, menyimpulkan bahwa orang-orang yang berpikir kreatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1. Bebas dalam berpikir dan bertindak.

2. Tidak menyukai kegiatan yang menuntut konformitas (kesesuaian).

3. Tidak mudah dipengaruhi pendapat umum bila yakin bahwa pendapatnya benar.

4. Kecenderungan kurang dokmatis dan lebih realistis.

5. Mengakui dorongan-dorongan dirinya yang tidak berdasar akal (irrasional). 6. Mengakui hal-hal yang rumit dan baru.

7. Mengakui humor dan memiliki good sense of humor. 8. Menekankan pentingnya nilai-nilai teoritik dan estetis.

Sedangkan S.C. Utami Munandar mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif yang tinggi yaitu :

1. Memiliki dorongan ingin tahu yang besar. 2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik.

3. Sering banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah. 4. Bebas dalam menyatakan pendapat.

5. Menonjol dalam salah satu bidang seni.

6. Memiliki pendapat sendiri dan mampu mengutarakannya. 7. Tidak mudah terpengaruh orang lain.

8. Daya imajinasi kuat.

9. Memiliki tingkat orisionalitas yang tinggi. 10. Dapat bekerja sendiri.

11. Senang mencoba hal-hal yang baru.

Guilford, ahli yang banyak berkecimpung dalam penelitian penelitian tentang inteligensi menjelaskan kemampuan orang yang kreatif melalui beberapa ciri:

1. Adanya kelancaran, kesigapan, dan kemampuan menghasilkan banyak gagasan.

2. Adanya fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk menggunakan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah.

3. Adanya keaslian, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang asli.

(35)

5. Adanya perumusan kembali, yaitu kemampuan untuk merumuskan pengertian dengan cara dan dari sudut pandang yang berbeda.

Dengan memperhatikan beberapa pendapat dan hasil penelitian para ahli penelitian tersebut tentang ciri-ciri yang memiliki kemampuan berpikir kreatif, nampak bahwa perbedaan itu timbul karena adanya perbedaan subyek yang menjadi sasaran penelitiannya sehingga ciri-ciri yang cukup menonjol sebagai ciri pokok berpikir kreatif yaitu :

1. Ciri kelancaran (fluency) 2. Ciri fleksibelitas (flekxibility) 3. Ciri keaslian (organilaty)

Kelancaran dapat menghasilkan banyak ide atau konsep yang relevan dengan masalah yang dipecahkan dalam waktu yang singkat. Fleksibilitas (keluwesan) menunjukkan bahwa individu dapat memunculkan hal-hal baru yang unik atau tidak biasa. Jadi indivdu yang memiliki kemampuan berpikir kreatif adalah individu yang dapat menghasilkan ide-ide baru yang berbeda dan asli.

Tahapan dan Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif 1. Tahapan Berpikir Kreatif

Keterampilan berpikir kreatif erat kaitannya dengan memunculkan alternatif-alternatif. Dengan berpikir kreatif kita tidak hanya terpaku dengan satu alternative saja. Dengan berpikir kreatif kita dapat membuka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, sehingga kita juga memiliki alternatif-alternatif cara menghadapi dimasa depannya.

Keterampilan berpikir kreatif juga memudahkan kita untuk melihat, dan bahkan menciptakan peluang yang menunjang keberhasilan kita. Seringkali alasan seseorang tidak bertindak adalah karena tidak ada peluang. Padahal sesungguhnya peluang selalu ada didepan kita. Tinggal apakah kita jeli melihatnya atau tidak. Bahkan kalaupun peluang itu memang tidak ada, kita dapat menciptakan peluang asal kita mau berpikir kreatif, (Anonim, 2013).

Didalam penyelesaian kreatif tahapan yang dilalui adalah :

(36)

d. Vertifikasi (Memutuskan apakah solusinya benar-benar memecahkan masalah);

e. Aplikasi (Mengambil langkah menindaklanjuti solusi). 2. Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif tumbuh subur bila didukung oleh faktor personal dan situasional. Diantaranya adalah :

a. Kemampuan Kognitif

Termasuk disini adalah kemampuan diatas rata-rata dan fleksibilitas kognitif. Sedangkan telah kita ketahui potensi otak kita sangat besar. Faktor pertama ini dapat kita penuhi dengan cara mengoptimalkan potensi otak, salah satu caranya adalah dengan Accelerated learning.

b. Sikap yang Terbuka

Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan ekternal. Ini adalah komitmen pribadi yang sangat penting. Saat kita memiliki sikap terbuka maka banyak informasi dan kesempatan yang dapat kita manfaatkan untuk menjadi kreatif.

c. Sifat yang Bebas, Otonom, dan Percaya pada Diri

Orang kreatif tidak senang digiring ingin menampilkan diri semampu dan semuanya, ia tidak terlalu terikat dengan konvensi-konvensi sosial. Mungkin inilah sebabnya, orang-orang kreatif sering dianggap gila.

3. Indikator Berpikir Kreatif

Indikator berpikir kreatif, menurut Torrence (1968) dalam Lawson A (1980 : 243), ada beberapa indikator berpikir kreatif, diantaranya :

a. Tahap Pendahuluan (Mempertinggi Antisipasi) 1) Menghadapi ketidakjelasan dan ketidakpastian; 2) Pertanyaan untuk peninggian harapan dan antisipasi;

3) Membangun kesadaran akan masalah yang dipecahkan, kemungkinan kebutuhan ke depan atau kesulitan yang dihadapi;

4) Membangun kedalam pengetahuan yang dimiliki siswa; 5) Pertinggi kepedulian dan hasrat ingin tahu;

6) Membuat akrab/biasa suatu keanehan atau keganjilan; 7) Membebaskan dari set-set yang menghambat;

(37)

9) Pertanyaan proaktif untuk membuat pembelajaran berpikir tentang info atau cara baru;

10) Prediksi info terbatas;

11) Membuat sasaran spesifik ajaran jelas, menunjukkan hubungan antara sasaran pembelajaran dan masalah – masalah saat ini atau karir mendatang; 12) Hanya struktur yang memadai untuk memberikan petunjuk dan arah; 13) Ambil satu atau lebih maju dari apa yag diketahui;

14) Siapkan secara fisik terhadap informasi yang dipresentasikan.

b. Tahap Penanamaan Konsep (Mempertemukan hal-hal yang diharapkan dan tidak diharapkan dan yang amat diharapkan)

1) Menguatkan kesadaran tentang masalah dan kesulitan;

2) Menerima keterbatasan-keterbatasan secara membangun sebagai tantangan dari pada sinis, dengan memperbaiki dari apa yang ada;

3) Mendorong sifat-sifat atau kecenderungan pribadi kreatif;

4) Mempraktekkan proses pemecahan masalah kreatif sesuai sistematika disiplin dalam menghadapi masalah dan informasi;

5) Menguraikan secara hati-hati dan sistematik terhadap informasi yang tersaji; 6) Gali dan uji sesuatu yang masih gelap dan mencoba memecahkannya penyajian informasi kurang lengkap dan pembelajaran mengembangkan pertanyaan untuk menutup kekurangan-kekurangan tersebut;

7) Memilih hal-hal yang mungkin tidak relevan; 8) Menjaga senantiasa membuka keterbatasan;

9) Buat hasil akhir teramalkan secara utuh atau lengkap; 10) Pencarian secara jujur dan realistis;

11) Upaya untuk menemukan keterampilan baru untuk mendapatkan informasi; 12) Mempertinggi dan menguraikan secara mengejutkan;

13) Upaya memvisualisasi.

c. Tahap Aplikasi Konsep (Melampaui dan Mempertahankan) 1) Bermain dengan ketidakjelasan;

2) Perdalam kesadaran tentang masalah, kesulitan dan kesenjangan informasi; 3) Mengakui potensi khas atau unik setiap anak;

4) Petinggi kepedulian tentang masalah;

5) Tanggapan atau jalan keluar yang menantang;

6) Melihat keterkaitan yang jelas antara informasi baru dan karir ke depan; 7) Menerima keterbatasan secara kreatif dan membangun;

8) Pendalaman penggalian secara kreatif dan membangun; 9) Pendalaman penggalian, diluar jangkauan dan penerimaan; 10) Membuat berpikir secara meluas itu susah;

(38)

12) Menguji impian-impian untuk mendapatkan jalan keluar dari masalah yang sebenarnya;

13) Mendorong jalan keluar baik, jalan keluar dari benturan, kegelapan tak terpecahkan;

14) Mensyaratkan serangkain uji coba;

15) Tanggapan atau jalan keluar yang membangun dan menantang; 16) Mempertemukan dan menguji hal-hal yang bertentangan; 17) Mendorong kearah depan;

18) Menghibur terhadap hal-hal yang masuk akal;

19) Menciptakan hal-hal lucu dan melihat aspek jenaka dari informasi yang ada;

20) Mendorong penimbangan berbagai dan menggunakan beberapa prosedur dari disiplin dalam pemecahan masalah;

21) Mengaitkan satu informasi dalam disiplin yang berbeda; 22) Melihat informasi yang sama dengan cara yang berbeda; 23) Mendorong manipulasi gagasan dan atau objek;

24) Menguji hal-hal yang saling bertentangan. C. Refleksi diri

(39)

Tugas

Telusuri materi yang ada di SMA, lalu pilih 3 materi untuk ditentukan pengetahuan kognitifnya?

Jawaban: Materi yang di pilih adalah Ekosistem, Pencemaran lingkungan dan Keanekargaman hayati.

1.Materi Ekosistem

No Pengetahuan Kognitif Hal yang di temui

1 Faktual Interaksi makhluk hidup, hutan, gurun

pasir, sabana, laut, flora dan fauna, batu, kayu, udar, air dst

2 Konseptual Keanekaragaman hayati, simbiosis,

Hukum kekelan energy, serta evolusi

3 Prosedural Mengukur tinggi pohon, ph air,

menggunakan thermometer, menetukan strategi yang tepat untuk mengukur tinggi sebuah pohon.

2. Pencemaran Lingkungan

No Pengetahuan Kognitif Hal yang di temui

1. Faktual Sampah, pupuk, debu, asap, plastic, air kotor, perairan dangkal akibat sampah, dst

2 Konseptual Hukum kekekalan energy, termodinamika,

(40)

3 Prosedural Mengukur ph air, mengukur tingkat polusi udara, air, dan tanah. Kemampuan menggunakan ph meter. Kemampuan memiah sampah organic dan anorganik . 3. Keanekaragaman Hayati

No Pengetahuan Kognitif Hal yang di temui

1. Faktual Tumbuhan, hewan, perbedaan warna kulit,

rambut, warna mata, tinggi tubuh, perbedaan spesies.

2 Konseptual Genetika, evolusi, struktur DNA, ecology, ekosistem, adaptasi dst

(41)

RUBRIK PENILAIAN Penilaian KI 1

A.Petunjuk Umum

1. Instrumen penilaian sikap spiritual ini berupa Lembar Observasi. Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan instrument yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Pada jenjang SMP/MTs, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

2. Instrumen ini diisi oleh guru yang mengajar peserta didik yang dinilai. B. Petunjuk Pengisian

Secara periodik, misalnya 1 atau 2 minggu sekali guru melakukan penilaian sikap spiritual peserta didik. Caranya, guru memberi tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut.

4 = selalu, apabila peserta didik selalu melakukan sesuai pernyataan. 3 = sering, apabila peserta didik sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukannya.

2 = kadang-kadang, apabila peserta didik kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukannya.

1 = tidak pernah, apabila peserta didik tidak pernah melakukannya.

C.Lembar Observasi

No Aspek Pengamatan

1 Berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu. 2 Mengucapkan rasa syukur atas karunia Tuhan .

3 Memberi salam sebelum dan sesudah menyampaikan pendapat/presentasi.

4 Merasakan keberadaan dan kebesaran Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan.

(42)

No Aspek Pengamatan sesuai dengan agama yang dianutnya.

Jumlah Skor

1. Instrumen penilaian sikap sosial ini berupa Lembar Observasi. Sikap sosial yang dikembangkan pada Kompetensi Inti 2 di jenjang SMP/MTs meliputi:

(43)

b. kreatif

2. Instrumen ini diisi oleh guru yang mengajar peserta didik yang dinilai. B. Petunjuk Pengisian

Secara periodik, misalnya 1 atau 2 minggu sekali guru melakukan penilaian sikap sosial peserta didik. Caranya, guru memberi tanda cek (√) pada kolom skor sesuai sikap sosial yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut. 4 = selalu, apabila peserta didik selalu melakukan sesuai pernyataan.

3 = sering, apabila peserta didik sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukannya.

2 = kadang-kadang, apabila peserta didik kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukannya.

1 = tidak pernah, apabila peserta didik tidak pernah melakukannya. Tabel Daftar Deskripsi Indikator

Kemampuan seseorang untuk melahirkan

 Menghasilkan ide/karya

(44)

sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya.

dipublikasikan/dipasarkan.

adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

 Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar.

3. Tanggungjawab

adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa

 Melaksanakan tugas individu dengan baik.

 Tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat.

 Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.

 Melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta.

4. Toleransi

adalah sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan

(45)

dengan siapa pun yang

adalah bekerja bersama-sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong menolong secara ikhlas.

 Terlibat aktif dalam bekerja bakti membersihkan kelas atau

adalah sikap baik dalam pergaulan baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada tempat dan waktu yang lain.

 Menghormati orang yang lebih tua.

 Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.

(46)

 Bersikap 3S (salam, senyum, sapa).

 Meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain.

7. Responsif

Adalah kesadaran akan tugas yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kepekaan yang tajam dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapinya dan

kepahaman makna tanggungjawab yang harus

Adalah sikap seseorang yang mampu membuat pilihan dikala mendapatkan stimulus. Seseorang yang bersikap proaktif mampu memberi jeda antara datangnya stimulus dengan keputusan untuk memberi respon. Pada saat jeda tersebut seseorang yang proaktif dapat membuat pilihan dan mengambil respon yang dipandang terbaik bagi dirinya.

(47)

Ju

(48)

menjelaskan jeniss-

No. Aspek Penilaian Skor Catatan

A Observasi/Mengamati

(49)

2. Coba perhatikan sampah yang berserakan di mana-mana. Buatlah alasan mengapa lingkungan harus di jaga sehingga tidak tercemar

3. Lihat perbedaan di antara kalian. Kemuadian defenisikan keanekaragaman hayati berdasarkan iapa yang kamu amati?

4. Coba telusuri kasus pencemaran lingkungan. Tentukan jenis pencemaran itu? Jawaban.

Gambar

Tabel Daftar Deskripsi Indikator

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan pengertian dari penalaran yaitu suatu proses atau aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat pernyataan baru yang benar berdasarkan

Namun dari hasil observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa terutama dalam menjawab pertanyaan dan menarik kesimpulan masih kurang optimal

1.5.4 Kemampuan menarik kesimpulan adalah tingkatan berpikir kritis yang mewajibkan siswa untuk mendapatkan fakta yang konkret, memiliki berbagai cara untuk menyelesaikan

merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan pada pernyataan yang telah.. dibuktikan

Dalam tahap ini peneliti merangkai fakta-fakta sejarah menjadi sebuah kisah sejarah yang menarik dan dapat dipercaya kebenarannya.Historiografi menjelaskan apa yang

Tabel 2 menunjukkan bahwa untuk aspek penilaian keterampilan berpikir kritis mengidentifikasi alasan yang dinyatakan, menyebutkan contoh , dan memberi suatu alasan

KELOMPOK 1 PPG PRA JABATAN PRINSIP RELEVANSI DAN CONTOH IMPLEMENTASINYA Relevansi menjadi prinsip dasar/roh sebuah kurikulum Relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa

Riset Madrasah Aliyah ditinjau dari program keterampilan Life Skill mengenai pendidikan life skill di madrasah aliyah oleh Ahmad & Ma’rifataini 2022 mendapatkan kesimpulan bahwa