• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH EVALUASI KINERJA INDIVIDU TENTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH EVALUASI KINERJA INDIVIDU TENTAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

EVALUASI KINERJA INDIVIDU

TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

PADA UPT PELATIHAN KESWAN KEMENTAN

KELOMPOK II MSDM

1. AGUS SULAEMAN (072516028) 2. ENUNG HARTATI (072516035) 3. WIDA HAYINAH LEKOMAYA (072516079) 4. MIA HAMIDIYAH (072516042) 5. PUJI RESTU ESA NDRURU (072516047) 6. HUSEN ISKANDAR (072516015) 7. AHMAD WINARDI (072516054) 8. ALIYUDIN THOBARI (072516055)

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah ilmiah tentang Evaluasi Kinerja Individu pada UPT

Pelatihan Kesehatan Hewan dengan tema Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima kasih

kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam

penyelesaian makalah ini.

Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa

masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa,

susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , kami

selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari

pembaca.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga makalah ini dapat

menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk

masyarakat luas.

Bogor, 11 November 2017

(3)

DAFTAR ISI

III.4. Dasar Hukum Evaluasi Kinerja PNS ... 11

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kinerja adalah istilah yang populer di dalam manajemen yang umumnya

didefinisikan dengan istilah hasil kerja, prestasi kerja dan performance. Salah satu

persoalan penting dalam pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi

adalah evaluasi kinerja pegawai dan pemberian kompensasi. Ketidak tepatan

dalam melakukan evaluasi kinerja akan berdampak pada pemberian kompensasi

yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku, sikap dan disiplin pegawai.

Bagi aparatur pemerintah, disiplin mencakup unsur-unsur ketaatan,

kesetiaan, kesungguhan dalam menjalankan tugas dan kesanggupan berkorban.

Hal ini berarti Pegawai Negeri Sipil harus mengorbankan kepentingan pribadi dan

golongan untuk kepentingan negara dan masyarakat.

Evaluasi kinerja pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

kadar profesionalisme serta seberapa tepat pegawai telah menjalankan fungsinya.

Penilaian kinerja dimaksudkan untuk menilai dan mencari jenis perlakuan yang

tepat sehingga pegawai dapat berkembang lebih cepat sesuai dengan harapan.

Ketepatan pegawai dalam menjalankan fungsinya akan sangat berpengaruh

terhadap pencapaian kinerja organisasi secara keseluruhan. Tidak sedikit di

perusahaan-perusahaan swasta maupun negeri yang melakukan evaluasi kinerja

pegawai tidak tepat, tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, pada

(5)

Oleh karena itu, banyak para karyawan yang kinerjanya menurun dan

pada akhirnya harus mengundurkan diri karena kompensasi yang tidak sesuai

bahkan melanggar disiplin hingga diberhentikan dengan tidak hormat. Dengan

adanya kasus seperti inilah bagi instansi pemerintahan, maupun perusahaan

swasta, evaluasi kinerja sangat berguna untuk menilai kuantitas, kualitas, efisiensi

perubahan, motivasi para aparatur serta melakukan pengawasan dan perbaikan.

Kinerja aparatur yang optimal sangat dibutuhkan untuk meningkatkan

produktivitas dan menjaga kelangsungan hidup instansi ini.

Setiap instansi tidak akan pernah luput dari hal pemberian balas jasa atau

kompensasi yang merupakan salah satu masalah penting dalam menciptakan

motivasi kerja aparatur, karena untuk meningkatkan kinerja aparatur dibutuhkan

pemenuhan kompensasi untuk mendukung motivasi para aparatur, sehingga akan

dapat membuahkan hasil atau kinerja yang baik sekaligus berkualitas dari

pekerjaan yang dilaksanakannya. Suatu penelitian telah memperlihatkan bahwa

suatu kerja yang menyenangkan sangat penting untuk mendorong tingkat kinerja

pegawai yang paling produktif.

1.2. Rumusan Masalah

Sebuah ilustrasi tentang birokrasi menyatakan bahwa mereka Pegawai

Negeri Sipil kerja santai, pulang cepat dan mempersulit urusan serta identik

dengan sebuah adagium “mengapa harus dipermudah apabila dapat

dipersulit”. Gambaran umum tersebut sudah sedemikian melekatnya dalam benak

publik di Indonesia sehingga banyak kalangan yang berasumsi bahwa perbedaan

(6)

Permasalahan mengenai Disiplin Pegawai Negeri Sipil ini sudah sangat

sering diperbincangkan baik itu oleh media massa maupun oleh para aktivis. Hal

ini karena Pegawai Negeri Sipil memang seorang abdi Negara yang harus

memberikan pelayanan dengan baik kepada masyarakat. Seringkali media massa

mempertontonkan ulah para Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran

seperti berada diluar kantor pada saat jam kerja, kualitas pelayanan yang kurang

memuaskan dan banyak lagi.

Permasalahan lain terkait Pegawai Negeri Sipil diantaranya adalah

besarnya jumlah PNS dan tingkat pertumbuhan yang tinggi dari tahun ke tahun,

rendahnya kualitas dan ketidaksesuaian kompetensi yang dimiliki, kesalahan

penempatan dan ketidakjelasan jalur karir yang dapat ditempuh.

Salah satu indikasi rendahnya kualitas PNS adalah adanya pelanggaran

disiplin yang banyak dilakukan oleh PNS. Dalam upaya meningkatkan

kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil tersebut, sebenarnya Pemerintah Indonesia

telah memberikan suatu regulasi dengan di keluarkannya Peraturan Pemerintah

Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

1.3. Batasan/Ruang Lingkup

Dari uraian tersebut diperoleh gambaran dimensi permasalahan yang

begitu luas. Namun menyadari adanya keterbatasan waktu dan kemampuan,

maka penulis memandang perlu memberi batasan masalah secara jelas dan

terfokus. Selanjutnya masalah yang menjadi obyek dibatasi hanya pada

evaluasi kinerja individu terkait pelanggaran displin pegawai negeri sipil. Studi

kasus dilakukan pada kantor UPT Pelatihan di bawah Badan Penyuluhan dan

(7)

1.4. Tujuan

Berdasarkan uraian pada rumusan masalah, maka beberapa terdapat

beberapa tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain :

1) Mengetahui dan memahami pengertian dan fungsi dari evaluasi kinerja

pada kasus disiplin pegawai negeri sipil.

2) Menjelaskan bentuk disiplin pegawai negeri sipil.

3) Memahami penerapan disiplin pegawai negeri sipil dan sanski terhadap

pelanggaran disiplin pegawai.

4) Memahami kejelasan bentuk atau jenis hukuman yang diterapkan serta

pejabat yang berwenang untuk memberikan sanksi hukum.

1.5. Manfaat

Pada penulisan makahal ini terdapat beberapa manfaat yang diperoleh,

antara lain :

1) Manfaat teoritis, yaitu hasil penulisan ini dapat menjadi landasan dalam

pengembangan media pembelajaran dan implementasi secara lebih lanjut

terhadap ilmu yang suda diperoleh. Selain itu juga menjadi suatu nilai

tambah wawasan pengetahuan ilmiah dalam penerapan materi kuliah

khususnya mata kuliah evaluasi kinerja.

2) Manfaat praktis, yaitu memenuhi syarat mata kuliah evaluasi kinerja yang

dapat melengkapi koleksi penulisan makalah mahasiswa serta dapat

menjadi referensi pemecahan masalah yang relevan dengan penulisan

(8)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

a) Pengertian Evaluasi

Istilah Evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal),

pemberian angka (rating) dan penilaian (assesment). Evaluasi kinerja sangat

penting untuk menilai akuntabilitas organisasi dalam menghasilkan pelayanan

publik. Akuntabilitas bukan sekedar kemampuan menunjukkan bagaimana uang

publik dibelanjakan, akan tetapi meliputi apakah uang tersebut dibelanjakan

secara ekonomis, efektif, dan efisien.

Evaluasi adalah riset untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan

informasi yang bermanfaat mengenai objek evaluasi, selanjutnya menilainya dan

membandingkannya dengan indikator evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk

mengambil keputusan mengenai objek evaluasi tersebut (Wirawan 2012:7).

Menurut buku Metode Riset Evaluasi, Hadi (2011:13) mendefinisikan

evaluasi sebagai proses mengumpulkan informasi mengenai suatu objek, menilai

suatu objek, dan membandingkannya dengan kriteria, standar dan indikator.

Pendapat selanjutnya muncul dari Husni (2010:971), yang menyatakan

bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk menyediakan informasi mengenai hasil

penilaian atas permasalahan yang ditemukan.

Sejalan dengan definisi evaluasi menurut Wirawan dan Hadi, secara

sederhana evaluasi dapat diartikan sebagai sebuah tahapan penilaian yang

ditujukan kepada objek evaluasi, untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan

(9)

b) Pengertian Kinerja

Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu

di dalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau

kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Rivai

& Basri, 2004:14).

Sementara Samsudin (2005:159) menyebutkan bahwa kinerja adalah

tingkat pelaksanaan tugas yang dicapai seseorang, unit atau divisi dengan

menggunakan kemampuan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan

untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan.

Kinerja adalah penampilan yang melakukan, menggambarkan dan

menghasilkan sesuatu hal, baik yang bersifat fisik dan non fisik yang ssuai dengan

petunjuk, fungsi dan tugasnya yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan

keterampilan (Wirawan, 2012:4).

c) Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja atau penilaian prestasi adalah penilaian prestasi kerja

(performance appraisal), suatu proses yang digunakan pimpinan untuk

menentukan apakah seseorang karyawan melakukan pekerjaannya sesuai dengan

tugas dan tanggung jawabnya. (Mangkunegara, 2005:10).

Pendapat lain mengatakan bahwa evaluasi kinerja adalah suatu metode dan

proses penilaian pelaksanaan tugas (performance) seseorang atau sekelompok

orang atau unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan

standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. (Simanjuntak,

(10)

Berdasarkan pengertian tersebut maka evaluasi kinerja merupakan suatu

proses yang digunakan oleh pimpinan untuk menentukan prestasi kerja seorang

karyawan dalam melakukan pekerjaannya menurut tugas dan tanggung jawabnya.

Selain itu bahwa evaluasi kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara

sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan karyawan dan kinerja organisasi.

Dalam evaluasi kinerja ada standar yang disebut standar kinerja

(performance standard). Evaluasi kinerja tidak mungkin dapat dilaksanakan

dengan baik tanpa standar kinerja. Esensi evaluasi kinerja adalah membandingkan

kinerja ternilai dengan standar kinerjanya (Rianto Rahadi 2010:19).

Jika evaluasi kinerja dilaksanakan tanpa standar kinerja, hasilnya tidak

mempunyai nilai. Misalnya, salah satu kelemahan mendasar evaluasi kinerja

pegawai negeri di Indonesia.

Daftar Penilaian Pekerja Pegawai Negeri (DP3) adalah tidak ada standar

kinerja pegawai. Perbedaan indikator DP3 pegawai negeri yang menjabat Direktur

Jenderal suatu Kementerian (eselon I dengan pangkat golongan IVe) dengan

pegawai negeri golongan I (dengan pangkat Ic) hanyalah penilaian indikator

kepemimpinan yang diterapkan pada direktur jenderal. Selain itu, DP3 tidak

mempunyai standar kinerja sehingga sering muncul seloroh “Dalam DP3, nilai

pegawai negeri yang pinter atau bodo dan rajin atau malas adalah sama karena

pegawai negeri bernafas saja dibayar”. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk

memperbaiki kinerja para pegawai negeri adalah mengadakan standar kinerja dan

perbaikan proses evaluasi kinerjanya.

Selain itu, juga untuk menentukan kebutuhan pelatihan kerja secara tepat,

(11)

melaksanakan pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang dan sebagai dasar

untuk menentukan kebijakan dalam hal promosi jabatan atau penentuan imbalan.

Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan

kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari SDM organisasi (Rianto

Rahadi 2010:89).

Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka

termotivasi untuk berbuat yang lebih baik, atau sekurang-kurangnya berprestasi

sama dengan yang terdahulu. Memberikan peluang kepada karyawan untuk

mendiskusikan keinginan dan aspirasi

d) Disiplin

Disiplin pegawai Secara etimologis disiplin berasal dari bahasa Inggris

disciple” yang berarti pengikut atau penganut pengajaran, latihan dan

sebagainya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002:258) disiplin adalah (a)

tata tertib (disekolah, kemiliteran dsb); (b) ketaatan (kepatuhan kepada peraturan);

(c) bidang studi yang memiliki objek, sistem dan metode tertentu.

Banyak para ahli yang mengemukakan pengertian dari disiplin, seperti

Singodimedjo dalam Sutrisno (2012:86), mengatakan bahwa disiplin adalah sikap

kesediaan dan kerelaan seseorang untuk memahami dan mentaati norma-norma

peraturan yang berlaku disekitarnya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sukarno

dalam Sutrisno (2012:96), bahwa disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan

seseorang untuk mematuhi dan mentaati segala norma peraturan yang berlaku di

organisasi.

(12)

menurut Handoko (2010:208), disiplin adalah kegiatan manajemen untuk

menjalankan standar-standar organisasional.

Menurut Bacal (2005:164), disiplin adalah proses yang digunakan untuk

menghadapi masalah-masalah kinerja, proses ini melibatkan manajer dalam

mengidentifikasikan dan mengkomunikasi masalah-masalah kinerja kepada para

karyawan. Sedangkan menurut Simamora (2004:610), disiplin adalah prosedur

yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan atau

prosedur.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan suatu

sikap ketataan atau kepatuhan pada aturan-aturan yang berlaku dalam suatu

organisasi.

e) Disiplin Pegawai

Menurut Siagian (2003:305), bahwa “Pendisiplinan pegawai merupakan

suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan,

sikap dan perlaku karyawan sehingga pada karyawan tersebut secara sukarela

berusaha bekerja secara kooperatif dengan para karyawan yang lain serta

meningkatkan prestasi kerjanya.”

Sehubungan dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 53 Tahun

2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil, maka pengertian Pegawai

Negeri Sipil disebutkan bahwa “Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah

kesanggupan pegawai negeri sipil untuk menaati kewajiban dan menghindari

larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan atau

peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman

(13)

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa disiplin pegawai

merupakan perilaku seorang pegawai yang sesuai dengan peraturan atau

norma-norma yang berlaku dalam organisasi tersebut baik secara tertulis maupun yang

tidak tertulis dan apabila tidak ditaati akan dijatuhi hukuman. Adapun tujuan dari

hukuman disiplin tersebut adalah untuk membina dan membuat efek jera bagi

pegawai yang melakukan pelanggaran disiplin.

2.2. Kerangka Pemikiran

Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin

Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan kemampuan untuk mempengaruhi PNS

dalam suatu kementerian/lembaga pemerintahan, sehingga mereka termotivasi

untuk mentaati peraturan tersebut. Karena aspek disiplin kerja mempengaruhi

perilaku seseorang dalam bekerja.

Peraturan pemerintah yang memayungi kinerja PNS mendorong disiplin

kerja individu sehingga berpengaruh terhadap kinerjanya. Dalam hal ini PNS

merupakan aset utama dalam suatu pemerintahan. Peranan kepemimpinan dalam

menerapkan peraturan disiplin pegawai sangat penting. Dengan adanya

keseimbangan antara pencapaian tujuan institusi dengan pencapaian tujuan

individu serta penegakkan disiplin pegawai akan sangat menunjang keberhasilan

visi dan misi.

Dengan demikian penerapan peraturan pemerintah dapat menjadi panduan

evaluasi kinerja khusunya terkait disiplin pegawai, sehingga penegakkan

sanksi/hukum menjadi jelas serta tidak ada dampak negatif terhadap institusi

(14)

BAB III

KONDISI UMUM TEMPAT PRAKTEK

3.1. Sejarah

Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kesehatan Hewan (keswan) merupakan

lembaga pelatihan yang menghasilkan SDM profesional di Bidang Kesehatan

Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (kesmavet). Berdiri sejak tahun 1982

berada di wilayah kecamatan caringin kabupaten bogor di atas lahan seluas 18 Ha.

3.2. Tugas dan Fungsi

Tugas pokok yang menjadi tanggung jawab UPT yaitu adalah pelatihan

teknis bagi aparatur dan non aparatur, fungsional bagi aparatur, mengembangkan

model dan teknik pelatihan di bidang keswan dan kesmavet.

3.3. Sumber Daya Manusia

Tidak kurang dari 72 orang PNS bekerja pada UPT yang menjadi lokasi

objek pengkajian makalah. Rata-rata tingkat pendidikan S2 sebesar 27,78% dan

S1 sebesar 34,72% sedangkan lainnya (SLTA dan SLTP) sebesar 37,40%.

3.4. Dasar Hukum Evaluasi Kinerja PNS

UU No. 5 Th 2014 Pasal 75 sd Pasal 78 ttg ASN Pasal 76; (1) Penilaian

Kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada tingkat individu dan

tingkat unit organisasi, dengan memperhatikan target, capaian, hasil, dan manfaat

yang dicapai, serta perilaku PNS; (2) Penilaian kinerja dilakukan secara objektif,

terukur, akuntabel, partisipatif, dan transparan. PP No. 46 Th 2011 tentang

Penilaian Prestasi Kerja PNS pengganti PP 10 tahun 1979 tentang DP3 PerKa

BKN No. 1 Th 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP 46 Th 2011 tentang

(15)

BAB IV METODOLOGI

4.1. Jenis Kajian

Penulisan makalah mengacu pada kajian empiris atau keadaan nyata yang

terjadi pada tahun 2017, dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan

fakta-fakta dan data yang dibutuhkan terkait pelanggaran disiplin PNS, identifikasi

terhadap sanksi/hukuman yang diterapkan yang mengacu pada Peraturan

Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

4.2. Metode a) Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam kajian ini diambil dari data

primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari Subbagian

Kepegawaian sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen serta

sumber lainnya.

b) Fokus Kajian

Fokus kajian makalah lebih mengerucut kepada pelanggaran disiplin

Pegawai Negeri Sipil serta sanksi penerapan aturan disiplin PNS.

c) Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh berdasarkan arsip kepegawaian melalui wawancara dan

identifikasi. Data yang diperoleh kemudia dianalisa dan diolah untuk

(16)

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Hasil Kajian

Berdasarkan pengkajian dan rekapitulasi data primer, diperoleh informasi

bahwa Pegawai A tidak hadir tanpa keterangan selama beberapa hari. Kemudian

pada Bulan Juni 2016 Pegawai A kehadiran/absensinya diakumulasi telah 3 (tiga)

hari berturut-turut tidak masuk kerja. Tindakan pertama yang dilakukan adalah

teguran lisan oleh atasan langsung Pegawai A yaitu Kepala Seksi Program dan

Kerjasama.

Namun demikian Pegawai A masih saja melakukan kesalahan yang sama

dengan sering terlambat dan pulang sebelum waktunya. Kemudia pada minggu

berikutnya Pegawai A kembali tidak hadir kerja. Lalu teguran lisan II pun

dilayangkan kembali oleh atasan langsung Pegawai A. Pada kesempatan lainnya

Pegawai A masih melakukan kesalahan serupa dengan tidak hadir kerja selama

selama 3 minggu berturut-turut sampai pada akhirnya diberikan surat peringatan

sesuai peraturan yang beraku.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun

2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil Bagian Ketiga. Pada peraturan

tersebut disebutkan bahwa Pelanggaran dan Jenis Hukuman, Paragraf 1;

Pelanggaran Terhadap Kewajiban, Pasal 8 Nomor 9 : masuk kerja dan menaati

ketentuan jam kerja berupa :

a) Hukuman Disiplin Ringan

1. Teguran lisan bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah

(17)

2. Teguran tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah

selama 6 (enam) sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja; dan

3. Pernyataan tidak puas secara tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja

tanpa alasan yang jelas selama 11 (sebelas) sampai dengan 15 (lima belas)

hari kerja.

b) Hukuman Disiplin Sedang

1. Penundaan Kenaikan Gaji Berkala selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang

tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 16 (enam belas) sampai

dengan 20 (dua puluh) hari kerja;

2. Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak

masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 21 (dua puluh satu) hari sampai

dengan 25 (dua puluh lima) hari kerja; dan

3. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun bagi PNS

yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 26 (dua puluh enam)

sampai dengan 30 (tiga puluh) hari kerja.

c) Hukuman Disiplin Berat

1. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun bagi PNS

yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 31 (tiga puluh satu)

sampai dengan 35 (tiga puluh lima) hari kerja;

2. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah bagi

PNS yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang

tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 36 (tiga puluh enam)

(18)

3. Pembebasan dari jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau

fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama

41 (empat puluh satu) sampai dengan 45 (empat puluh lima) hari kerja;

dan

4. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau

pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS bagi PNS yang tidak

masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 (empat puluh enam) hari

kerja atau lebih.

5.2. Pembahasan

Hasil kajian menunjukkan bahwa data rekapitulasi kehadiran bulan Juni

2016 mencantumkan Pegawai A tidak masuk kerja selama 20 hari, maka yang

bersangkutan menerima Hukuman Disiplin Tingkat Sedang berupa penundaan

kenaikan gaji berkala semala 1 (satu) tahun. Hukuman diberikan oleh Kepala UPT

Pelatihan Kesehatan Hewan (Eselon 2 B). Akan tetapi seiring dengan berjalannya

waktu, Pegawai A tersebut tetap tidak masuk kerja sampai dengan bulan

Desember 2016 dengan jumlah hari sebanyak 78 (tujuh puluh delapan) hari.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun

2010, tidak masuk selama 78 (tujuh puluh delapan) hari termasuk Hukuman

Disiplin Tingkat Berat, maka yang berwenang untuk menjatuhkan hukuman

adalah Eselon I. Maka dari itu, kasus kehadiran Pegawai A dilimpahkan ke Badan

Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dengan membentuk Tim Etika.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010, juga

menetapkan Pejabat yang berwenang memberikan hukuman. Dengan demikian

(19)

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan

Dari hasil pembahasan Evaluasi Kinerja Individu dengan studi kasus

tentang Pelanggaran Disiplin Pegawai Negeri Sipil dapat ditarik simpulan yaitu :

a) Dalam melaksanakan tugas sehari-hari sebagai Pegawai Negeri Sipil,

mereka harus mampu mengendalikan diri sehingga irama dan suasana

kerja berjalan harmonis. Karena sikap dan perilaku seorang PNS dapat

sering menjadi sorotan masyarakat luas. Pada kenyataannya walaupun

sudah ada Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil diatur dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai

Negeri Sipil. Masih banyak PNS yang melakukan pelanggaran disiplin

dengan berbagai cara.

b) Hukuman disiplin kurang memberikan efek jera kepada pegawai negeri

sipil, dengan bukti masih terdapat pengulangan-pengulangan pelanggaran

disiplin pegawai negeri sipil. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran

dari PNS tentang pentingnya kedisiplinan.

c) Evaluasi Kinerja Indvidu yang diterapkan oleh UPT Pelatihan Kesehatan

Hewan terhadap karyawannya yang melanggar aturan sudah sangat tepat.

Dengan demikian kasus seperti ini bisa dijadikan pelajaran untuk PNS

lainnya. Tidak hanya pada Kementerian Pertanian tapi kepada seluruh

(20)

6.2. Saran

Adapun saran yang ingin disampaikan oleh penulis pada makalah ini

adalah sebagai berikut :

a) Diharapkan agar para Pegawai Negeri Sipil untuk lebih memahami dan

mengerti tentang Peraturan Disiplin PNS, dan dapat merealisasikan dalam

kehidupan seharihari demi menjaga nama baik dan kehormatan para

Pegawai Negeri Sipil. Apabila sudah tidak sanggup lagi menjadi PNS

dengan mentaati segala aturan yang ada, maka sebaiknya jika

mengundurkan diri saja sebagai PNS. Karena masih banyak individu yang

siap berkomitmen mengabdi kepada negara sebagai Aparatur Sipil Negara

yang siap berdisiplin sesuai peraturan yang berlaku.

b) Pembinaan pegawai secara rutin sangat baik dilakukan untuk lebih

mengingatkan kembali kepada setiap PNS. Pengawasan pelaksanaan

disiplin PNS harus lebih deras disertai dengan penerapan terhadap sanksi

sebagai konsekuensinya.

c) Pimpinan diharapkan dapat memberikan contoh teladan bagi bawahannya

agar mereka memiliki kedisiplinan dan semangat kerja yang tinggi. Akan

lebih baik lagi jika memberikan motivasi dengan memberikan suatu

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002). Departemen Pendidikan Nasional Edisi

ke-3. Balai Pustaka, Jakarta. Gramedia.

Mathis dan Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Pertama.

Cetakan Pertama. Yogyakarta: Salemba Empat.

Simamora, Henry. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: STIE

YKPN.

Anwar Prabu Mangkunegara. 2005. Evaluasi Kinerja. Bandung : Refika

Aditama

Simanjuntak, Payaman J. 2005. Manajemen dan Evaluasi Kerja. Lembaga

Penerbit FEUI, Jakarta.

Basri¸ A. F. M., dan Rivai¸ V.2005. Performance appraisal. Jakarta: PT Raja.

Grafindo Persada.

Sadili Samsudin. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung Pustaka Setia.

Bacal, Robert. 2005. Performnace Management. Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka.

Husni, H.S. 2010. Evaluasi Pengendalian Sistem Informasi Penjualan. Jakarta.

Rahadi, Dedi Rianto. 2010. Manajemen Kinerja Sumber Daya Manusia.

(22)

Hani Handoko, 2010, Manajemen Personalia & Sumberdaya Manusia, Edisi

kedua, BPFE UGM Yogyakarta

Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri

Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 74, Tambahan

Lembaran Negara nomor 5135).

Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 21 Tahun 2010 tentang

Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin

Pegawai.

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja

Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 121 Tahun

2011, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5258).

Hadi, Samsul. 2011. Metode Riset Evaluasi. Yogyakarta. Lakbang Grafika

Wirawan. 2012. Evaluasi:Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan Profesi. Depok

PT Raja Grafindo Persada.

Arikunto, S. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Jilid 2. Jakarta: Bumi

Aksara.

Edy, Sutrisno. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5494).

Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri sipil (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun.. 2010 Nomor T4,Tambahan

Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2010 NomorT4,Tambahan

Pemerintah melalui PP nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil (PNS) dilakukan secara bertahap sejak pengangkatan,

Sedangakan menurut Peraturan Pemerinntah Nomor: 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai negeri sipil menyatakan bahwa disiplin adalah kesanggupan untuk mentaati

Pelaksanaan Penjatuhan Sanksi Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Sipil. Tujuan penelitian ini

Berdasarkan telaah dokumen, apabila kita lihat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil pada tingkat hukuman

Bentuk- bentuk kegiatan yang dilarang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang

Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data dapat disimpulkan bahwa Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Kecamatan