PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Pendidikan dan Pembelajaran PAI Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Mansur, M.A
Disusun oleh:
KUDUNG ISNAINI 2052113023
RUMIYATI 2052113024
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN PEKALONGAN
PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning) adalah salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini. Jika dipahami dan dilaksanakan secara tepat, CTL memiliki potensi untuk menjadi lebih sekedar noktah pada layar praktis di ruang kelas. CTL menawarkan jalan menuju keunggulan akademis yang dapat diikuti oleh semua siswa. Hal itu bisa terjadi karena CTL sesuai dengan cara kerja otak dan prinsip-prinsip yang menyokong sistem kehidupan.1
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Model pembelajaran kontekstual tidak bersifat ekslusif akan tetapi dapat digabung dengan model-model pembelajaran yang lain, misalnya: penemuan, keterampilan proses, eksperimen, demonstrasi, diskusi, dan lain-lain,2 sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kontekstual atau CTL merupakan model pembelajaran yang mengarah pada pembentukan kecakapan hidup.3
Pendekatan kontekstual dapat diimplementasikan dengan baik, dituntut adanya kemampuan guru yang inovatif, kreatif, dinamis, efektif dan efisien guna menciptakan pembelajaran yang kondusif. Guru tidak lagi menjadi
satu-1 Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan
Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, diterjemahkan dari Contextual Teaching and Learning: what it is and why it’s here to stay, oleh Ibnu Setiawan, (Bandung: MLC, 2007), hlm. 31-32
2 Hasnawati, “Pendekatan Contextual Teaching Learning Hubungannya Dengan Evaluasi
Pembelajaran”, Jurnal Ekonomi dan Pendidikan,Volume 3 Nomor 1, April 2006, hlm. 53.
3 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan
satunya nara sumber dalam pembelajaran dan kegiatan telah beralih menjadi siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran, serta peran guru hanya sebagai motivator dan fasilitator, maka semangat siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode, materi, dan media yang bervariasi.4 Pendidik yang profesional merupakan faktor penentu proses pembelajaran yang berkualitas. Untuk itu, seorang pendidik harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualisasi diri, sesuai dengan kemampuan dan kaidah-kaidah pendidik yang profesional. 5
Penerapan kegiatan mengkonstruk atau membangun sendiri pengetahuan pada siswa, membuat siswa terlatih untuk bernalar dan berpikir secara kritis melalui kegiatan inquiry atau menemukan sendiri masalah, kebebasan bertanya (questioning), penerapan masyarakat belajar (learning community) yaitu melatih siswa untuk bekerjasama, sharing idea, saling berbagi pengalaman, pengetahuan, saling berkomunikasi sehingga terjadi interaksi yang positif antar siswa dan pada akhirnya siswa terlibat secara aktif belajar bersama-sama.6
Dalam konteks materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang merupakan materi untuk mencapai hasil pendidikan berkarakter. Hasil pendidikan berkarakter tersebut adalah jujur, relegius, disiplin, kerja keras, toleransi, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, peduli lingkungan dan peduli sosial. CTL sebagai salah satu model pembelajaran yang terintegrasi, diharapkan mampu membantu pendidik dalam mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.7
4 Hasnawati, “Pendekatan Contextual ..., hlm. 53.
5 Ramli D, “CTL dalam Pembelajaran PAI” dalam
http://bdkpadang.kemenag.go.id/ index.php?option=com_content&view=article&id=461:ctl-dalam-pembelajaran-pai&catid=41:top-headlines, di upload 26 Maret 2014|03:44 WIB
6 Hasnawati, “Pendekatan Contextual ..., hlm. 53.
7 Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2011), hlm.
B. PEMBAHASAN
Suatu hal yang merupakan pencerahan dalam pendidikan kita saat ini, karena berkembangnya pemikiran dikalangan para ahli pendidikan bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya, tidak hanya sebatas mengetahui saja.8 Anak dituntut untuk selalu aktif dalam setiap pembelajaran, karena pembelajaran aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari guru atau dosen, ada kecenderungan untuk cepat lupa. Hal ini berbeda bila peserta didik aktif.
Kenyataan demikian, sejalan dengan ungkapan filosofi kenamaan dari Cina, Konfusius:
“Apa yang saya dengar saya lupa Apa yang saya lihat saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham”9
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menjadi tujuan utamanya adalah bagaimana nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan akan dapat tertanam dalam diri siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang dilandasi dengan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosial yang nantinya dapat berdampak pada terbentuknya “insan kamil”, bukan pemahaman bahwa proses pembelajaran PAI hanya sebagai proses “penyampaian pengetahuan tentang agama Islam” seperti yang terjadi selama ini.
CTL merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut.10 Sistem CTL merupakan proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa memahami isi dan
8Ibid., hlm. 54
9 Salafudin, “Metode Pembelajaran Aktif Ala Rasulullah, Pembelajaran yang
Membangkitkan Motivasi: Suatu Kajian Metode Pembelajaran dari Hadis), Jurnal STAIN Pekalongan Forum Tarbiyah, Volume 9, No. 2 Desember 2011, hlm. 193
10 Hernowo, Mengikat Makna Update: Membaca dan Menulis yang Memberdayakan,
materi akademik yang mereka pelajari dengan cara mengaitkan mata pelajaran akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
CTL merupakan suatu paham pembelajaran yang memandang pentingnya hubungan antara materi pelajaran dengan dunia nyata. CTL juga melihat pentingnya dorongan dan keterlibatan siswa untuk mampu menghubungkan konsep yang dipelajari dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dan model kontekstual adalah pembelajaran serta pengajaran yang membantu guru menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia sebenarnya dan mendorong siswa untuk mengaitkan pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan warga negara.11 1. Pengertian CTL dan Pengembangannya
Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (CTL; Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Selain itu juga memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan sebagai tenaga kerja nantinya.
Saat ini banyak sekolah di Amerika Serikat yang mengadopsi prinsip-prinsip CTL. Sebenarnya konsep pembelajaran kontekstual bukan konsep baru. Konsep ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1916 oleh John Dewey, yang mengetengahkan kurikulum dan metodologi pengajaran sangat erat hubungannya dengan minat dan pengalaman siswa.
Proses belajar akan sangat efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya dan ada hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (pengalam nyata). Selanjutnya diikuti oleh Katz, Howey dan Zipher. Ketiga pakar terakhir ini menyatakan bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pelajaran. Agar pembelajaran menjadi efektif, guru harus menjelaskan dan mempunyai 11 Ahmad Bahruddin, Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, (Yogyakarta: LkiS
pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran, serta misi sekolah dalam masyarakat. Apabila guru menyepakati bahwa ketiga konsep tersebut bermuara pada Contextual Teaching and Learning, barulah Contextual Teaching and Learning akan berhasil baik.12
Dalam ilmu-ilmu yang pengajaran dan penyampaiannya membutuhkan praktik, Rasulullah Saw selalu melakukannya dengan memberi contoh langsung, tidak hanya sekedar ceramah. Karena dengan praktik langsung, pengaruhnya lebih besar dan ilustrasinya menancap lebih kuat di hati dan memori siswa, sebab dia tahu secara langsung contoh, bukti dan gerakannya sehingga murid dapat langsung mempraktikannya dan lebih termotivasi untuk melakukannya. Pemberian contoh secara langsung juga dapat menumbuhkan kepercayaan siswa. Kepercayaan siswa akan lebih besar saat melihat guru melakukan dan memberi contoh secara langsung. Terkadang, imajinasi yang berkembang di pikiran siswa tidak sama dengan apa yang dimaksudkan guru jika hanya sekedar teori.13
2. Hakikat Belajar dan Mengajar
Pengertian mengajar, secara konvensional adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Kegiatan pengajaran adalah mencoba menyampaikan ilmu sebanyak mungkin kepada siswa. Sehingga dari pengertian tersebut, siswa ditempatkan sebagai obyek. Siswa berfungsi sebagai penerima apa yang diberikan oleh guru. Guru lebih aktif dan lebih menentukan, sehingga kegiatan belajar mengajar lebih berpusat pada guru. Pandangan yang muncul kemudian mengenai “mengajar”, sebagai kritik atas pandangan konvensional, yaitu bahwa mengajar harus dilihat dari sudut siswa. Mengajar lebih diorientasikan untuk memberi kegiatan secara optimal kepada siswa. Maka, definisi mengajar adalah membimbing siswa bagaimana harus belajar. Mengajar berarti mengatur dan
12 Kasihani E.S., “Contextual Learning and Teaching (CTL) (Pengajaran dan
Pembelajaran Kontekstual)”, Jurnal Prosiding Seminar Akademi, Volume 2, 2002, hlm. 2
menciptakan kondisi yang terdapat dilingkungan siswa, sehingga dapat menumbuhkan niat siswa melakukan kegiatan belajar.14 Hakikat belajar adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behaviora change) pada diri individu yang belajar.15 Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok: yaitu adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif tetap (permanen) serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya.16 Oleh karena itu pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar, sumber yang didesain maupun yang dimanfaatkan.
Istilah pembelajaran, merupakan padanan dari kata instuction yang berarti proses membuat orang belajar. Tujuannya adalah membantu orang belajar, atau memanipulasi lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang yang belajar. Gagne dan Briggs mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian kejadian (events) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah.17 Joyce, Weil, dan Showers menyatakan bahwa hakikat mengajar (teaching) adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara bagaimana belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah memfasilitasi siswa dalam belajar agar mereka mendapatkan kemudahan dalam belajar.18
Kegiatan belajar selalu harus memberi perubahan pada subyek yang belajar. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pengalaman
14 Radno Harsanto, Pengelolaan Kelas yang Dinamis: Paradigma Baru Pembelajaran
Menuju Kompetensi Siswa, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 86-87
15 Muhammad., Pedoman Pembelajaran Tuntas. (Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004), hlm. 3
16 Mukminan, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1998), hlm. 1 17 Gagne, Robert M. and Leslie, J. Briggs, Principles of Instructional Design, (New York:
Rinehart and Winston, 1979)
18 Joyce, Bruce, Marsha, Weil, and Beverly Showers, Models of Teaching, (Boston: Allyn
interaksi pembelajar dengan orang lain ataupun dengan lingkungannya. Hakikat mengajar diartikan sebagai proses, yakni proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Jadi, peranan guru adalah membimbing, memimpin, dan menjadi fasilitator. Guru memberi bantuan, menentukan arah kegiatan siswa, dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menjadi sumber bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar.19
3. Prinsip Dasar Pembelajaran Kontekstual
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut:20
a. Menekankan pada pemecahan masalah (problem solving)
b. Mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja (multiple contex)
c. Membantu siswa belajar bagaimana memonitor belajarnya sehingga menjadi individu mandiri (self-regulated learned)
d. Menekankan pengajaran dalam konteks kehidupan siswa (life skill education)
e. Mendorong siswa belajar dari satu dengan yang lainnya dan belajar bersamasama (cooperative learning)
f. Menggunakan penilaian autentik (authentic assessment)
Prinsip kegiatan pembelajaran kontekstual di atas pada dasarnya diarahkan agar siswa dapat mengembangkan cara belajarnya sendiri dan selalu mengaitkan dengan apa yang ada di masyarakat, yaitu aplikasi dari konsep yang dipelajarinya.
4. Tujuan CTL
Ilmu saraf dan psikologi menjelaskan betapa pentingnya pengaruh makna terhadap pembelajaran dan kemampuan mengingat. Kedua ilmu ini memberikan dasar yang kuat untuk memahami bahwa tujuan utama CTL adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan
19 Radno Harsanto, Pengelolaan Kelas..., hlm. 87
20 Djemari Mardapi, Implementasi Kurukulum Berbasis Kompetensi, (Bandar Lampung:
makna pada pelajaran-pelajaran akademik mereka. Ketika para siswa menemukan makna di dalam pelajaran mereka, mereka akan belajar dan ingat apa yang mereka pelajari.
CTL membuat siswa mampu menghubungkan isi dari subjek-subjek akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka untuk menemukan makna. Hal itu akan memperluas konteks pribadi mereka. Kemudian, dengan memberikan pengalaman-pengalaman baru yang merangsang otak membuat hubungan-hubungan baru, kita membantu mereka menemukan makna baru.21
5. Tujuh Komponen CTL
Model pembelajaran kontekstual menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik lebih aktif dan kreatif. Dalam model pembelajaran kontekstual yang konsepnya dikenal sebagai
Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki tujuh komponen penting,22sehingga sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual, jika menerapkan tujuh komponen utama tersebut, yaitu: 1) Konstruktivistik (constructivism), mengembangkan pemikiran bahwa
siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2) Menemukan (inquiry), proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. 3) Bertanya (questioning), kegiatan guru untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa, bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.
4) Masyarakat belajar (learning community), ciptakan masyarakat belajar dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar, bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, tukar pengalaman, dan berbagi ide.
21 Elaine B. Johnson, Contextual Teaching..., hlm. 64-65
5) Pemodelan (modelling), hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar, mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya.
6) Refleksi (reflextion), lakukan refleksi di akhir pertemuan. Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, mencatat apa yang telah dipelajari, membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok.
7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment), lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.23 Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, penilaian produk (kinerja), tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
Model pembelajaran kontekstual ini berasal dari pandangan dan pendekatan kontruktivisme. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih berpusat pada siswa. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.24
6. Karakteristik pembelajaran berbasis CTL a. Kerjasama
b. Saling menunjang c. Menyenangkan d. Tidak membosankan e. Belajar dengan bergairah f. Pembelajaran terintegrasi g. Menggunakan berbagai sumber h. Siswa aktif
i. Sharing dengan teman j. Siswa kritis, guru kreatif
23 Nurhadi, Pendekatan Kontekstual, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002), hlm. 10
k. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
l. Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.
7. CTL dalam pembelajaran PAI
Mata pelajaran pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran pokok dari sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik serta memiliki akhlak mulia dalam kehidupannya sehari-hari. Sejauh ini para guru berpandangan bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang harus dihafal, sehingga pelajaran pendidikan agama Islam cukup disampaikan dengan ceramah sehingga pembelajaran di kelas selalu berpusat pada guru.
Dengan pendekatan kontekstual diharapkan siswa bukan sekedar objek akan tetapi mampu berperan sebagai subjek, dengan dorongan dari guru mereka diharapkan mampu mengkonstruksi pelajaran dalam benak mereka sendiri. Jadi, siswa tidak hanya sekedar menghafalkan fakta-fakta, akan tetapi mereka dituntut untuk mengalami dan akhirnya menjadi tertarik untuk menerapkannya.
Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba25 yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi.26 Hal ini sebagaimana dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, bab 2 pasal 3, dijelaskan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 25 QS. Asy Syams (91):8, Adz-Zariyat (51): 56
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.27 Hal itu tidak berseberangan dengan tujuan agama Islam untuk menjadikan manusia sebagai insan kamil yang kemudian diharapkan benar-benar mampu untuk menjadi kholifatu fi al-ardhi.
Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berpikir dan berkarya, sehat, kuat, dan berketerampilan tinggi untuk kemaslahatan diri, masyarakat, dan lingkungannya. Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, diperlukan suatu strategi dan teknik yang sering dikenal dengan metode pembelajaran. 28
CTL sebagai salah satu paham pembelajaran –bukan satu-satunya paham pembelajaran- yang menganggap pentingnya menghubungkan antara materi dengan dunia nyata, melibatkan siswa untuk mampu menghubungkan konsep yang di pelajari dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.29 Sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat materi yang harus diselesaikan dan dihafal diluar kepala saja, yang terkadang pembelajaran menjadi membosankan, akan tetapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh dalam pembelajaran dalam pelajaran shalat fardhu, dimana syariat Islam menegaskan bahwa praktik shalat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad Saw. Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan shalat, disebabkan Allah Swt telah menyatakannya dengan jelas bila tidak melakukan shalat mengalami kemungkaran dan kekejian.30 Pembelajaran seperti ini tidak boleh hanya diketahui, dipahami dan dihafalkan saja, akan tetapi pembelajaran ini harus diterapkan, dilakukan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
27UU RI No. 20 Th. 2003 tentang SISDIKNAS dan UU RI No.14 Th. 2005 tentang Guru
dan Dosen, Kumpulan Peraturan Lingkup Pendidikan Nasional 3, (Jakarta: September 2010), hlm. 5
28 Salafudin, “Metode Pembelajaran ..., hlm. 189 29 Ahmad Bahruddin, Pendidikan alternatif ..., hlm. 7
30 Rohmat, Terapan Teori Teknologi Pembelajaran dalam Pelajaran Agama Islam,
Karena setiap gerakan dan bacaan dalam shalat memiliki makna sendiri-sendiri yang berbeda, dan itu berimplikasi pada perilaku, watak dan kepribadian siswa. Karena shalat selain kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah Swt juga merupakan kebutuhan manusia yang harus dilakukan.
Toto Tasmara dalam bukunya “Kecerdasan Ruhani” menjelaskan bahwa “sesungguhnya, shalat yang kita dirikan itu pada hakikatnya merupakan samudra mutiara yang mencerdaskan ruhani. Shalat menunjukkan sikap batiniah untuk mendapatkan kekuatan, kepercayaan diri, serta keberanian untuk tegak berdiri menapaki kehidupan dunia nyata melalui perilaku yang jelas, terarah, dan memberikan pengaruh pada lingkungan”.31
8. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional
Beberapa perbedaan penting antara pendekatan kontekstual berorientasi contructivism dengan pendekatan konvensional berorientasi
behaviorism, yaitu dapat dilihat pada tabel berikut:
No Pendekatan Kontekstual Pendekatan Konvensional
1. Siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran
Siswa adalah penerima informasi secara aktif
2.
Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi
Siswa belajar secara individual
3.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan yang nyata dan atau masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak
4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6. Hadiah untuk perilaku baik Hadiah untuk perilaku baik adalah
31 Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence); Membentuk
adalah kepuasan diri pujian atau nilai (angka) rapor
7.
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan
Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut dengan hukuman
8.
Bahasa diajarkan dengan bahasa komuniaktif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata
Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural; rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan
9.
Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa
Rumus itu ada diluar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan
10.
Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, sesuai dengan skemata siswa (on going process
development)
Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada 2 kemungkinan, yaitu
pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar.
11.
Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif
Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mencatat, mendengarkan, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
12.
Pengetahuan yang dimiliki siswa dikembangkan oleh siswa sendiri. siswa
menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya
13.
Karena pengetahuan itu dikonstruksi dikembangkan oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu selalu berkembang dan tidak pernah stabil (tentative & incomplete)
Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final
14.
Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan
mengembangkan pembelajaran mereka sendiri
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
15.
Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan
Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa
16.
Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll.
Hasil belajar hanya diukur dengan tes
17.
Pembelajaran terjadi
diberbagai tempat, konteks dan
setting.
Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas
18. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek
Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek
19. Perilaku baik berdasar motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik
20.
Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat
Seseorang berperilaku baik karena terbiasa. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang
C. PENUTUPAN
Pendidikan Agama Islam yang berjalan di sekolah selama ini masih dianggap kurang berhasil. Pendidikan Agama yang diberikan lebih banyak menyentuh pada aspek kognitif, belum sampai pada aspek afektif dan psikomotorik, akibatnya peserta didik hanya dapat mengerti agama, tetapi belum sampai pada tingkat aksi. Pendekatan yang digunakan masih bersifat tradisional yang lebih sering berpusat pada guru (Teacher center) bukan berpusat pada siswa sehingga pembelajaran terasa membosankan kurang menarik bagi siswa.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan merubah pendekatan dan metode dalam proses pembelajaran selama ini yaitu berpusat pada siswa dan peran guru sebagai fasilitator, dan pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan salah satu alternative untuk melakukan perubahan tersebut. Dengan penggunaan metode ini diharapkan pembelajaran PAI lebih mudah diimplementasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Bahruddin, Ahmad, Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2007)
Gagne, Robert M. and Leslie, J. Briggs, Principles of Instructional Design, (New York: Rinehart and Winston, 1979)
Harsanto, Radno, Pengelolaan Kelas yang Dinamis: Paradigma Baru Pembelajaran Menuju Kompetensi Siswa, (Yogyakarta: Kanisius, 2007)
Hasnawati, “Pendekatan Contextual Teaching Learning Hubungannya Dengan Evaluasi Pembelajaran”, Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, Volume 3 Nomor 1, April 2006, hlm. 53.
Hernowo, Mengikat Makna Update: Membaca dan Menulis yang Memberdayakan, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2009)
Johnson, Elaine B., Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar- Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, diterjemahkan dari
Contextual Teaching and Learning: what it is and why it’s here to stay,
oleh Ibnu Setiawan, (Bandung: MLC, 2007)
Joyce, Bruce, Marsha, Weil, and Beverly Showers, Models of Teaching, (Boston: Allyn and Bacon, 1992).
Kasihani E.S., “Contextual Learning and Teaching (CTL) (Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual)”, Jurnal Prosiding Seminar Akademi, Volume 2, 2002, hlm. 2
Mardapi, Djemari, Implementasi Kurukulum Berbasis Kompetensi, (Bandar Lampung: HEPI, 2004)
Muhammad., Pedoman Pembelajaran Tuntas, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004)
Mukminan, Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1998)
Nurhadi, Pendekatan Kontekstual, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002)
Ramli D, “CTL dalam Pembelajaran PAI” dalam
http://bdkpadang.kemenag.go.id/index.php?
Rohmat, Terapan Teori Teknologi Pembelajaran dalam Pelajaran Agama Islam, (Yogyakarta: Gerbang Media Aksara, 2013)
Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2011)
Salafudin, “Metode Pembelajaran Aktif Ala Rasulullah, Pembelajaran yang Membangkitkan Motivasi: Suatu Kajian Metode Pembelajaran dari Hadis),
Jurnal STAIN Pekalongan Forum Tarbiyah, Volume 9, No. 2 Desember 2011, hlm. 193
Siswanto, Wahyudi, Pengantar Teori Sastra,(Jakarta: Grasindo, 2008)
Tasmara, Toto, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence); Membentuk Kepribadian yang Bertanggung Jawab, Profesional, dan Berakhlak,
(Jakarta: Gema Insani, 2006)
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan; Bagian IV: Pendidikan Lintas bidang, (Bandung: PT IMTIMA, 2007)