• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spiritualitas Keislaman di Indonesia pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Spiritualitas Keislaman di Indonesia pdf"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

  Spiritualitas Keislaman dalam sejarah seni rupa Indonesia dimulai dari masa awal seni rupa modern atau seni lukis baru masuk ke perkembangan medan seni rupa Indonesia. Menurut Yustiono (2004) dalam tabel Periodisasi Seni Rupa Modern Indonesia, titik kemunculan seni Spiritual Keislaman adalah pada akhir dekade 1970-an. Secara global, modernitas seringkali dinilai menentang unsur-unsur seni religius, sedangkan kemajuan estetika yang menentang unsur-unsur kemanusiaan turut berkembang di Barat. Namun dalam aplikasinya dapat dilihat kenyataan-kenyataan dimana cukup banyak seniman modern yang menggunakan spiritualitas sebagai jalur masuk untuk mencapai kesenian yang tertingi, Vassily Kandinsky contohnya mengakui keberadaan spiritualitas dalam seni rupa mampu memperbaiki kebudayaan Barat yang kian bobrok, juga Piet Mondrian yang mencoba mensejajarkan semesta dalam kanvasnya dan menggambarkan tatanan spiritual dalam bentuk-bentuk formal.

(2)

kebanyakan perupa didalamnya merupakan menganut dan hasil didikan ajaran modernis, seperti Ahmad Sadali dan AD Pirous. Mengingat masa mahasiswa mereka yang dihabiskan di Bandung sebagai kota kosmopolit, kota yang berorientasi pada kosmologi, pada dunia dan tatanan universal, mencari kenyataan otonomi seni. Namun memang nyatanya keberadaan berkesenian pada masa modern sangat sulit dilepaskan dari kecenderungan akan pengalaman personal, ketertarikan pribadi pada pengalaman spiritual religius pun tetap terus ada dalam karya mereka. Justu sebaliknya resistensi itu muncul sedikit pada kaitannya dengan ajaran Barat yang hedonistis dan materialistis. Namun mengesampingkan itu semua tetap dalam bidangan karya mereka menghadirkan kecenderungan lukisan perupa modern, seperti Ahmad Sadali dalam simbol-simbol formal kaligradi dalam karya abstraknya. 

 

Tokoh - Tokoh 

  Beberapa perupa yang muncul dan dikenal dalam garis waktu Spiritualitas Tauhid adalah Ahmad Sadali, A. D. Pirous, dan Fadjar Sidik. Kebanyakan perupa yang mengangkat unsur spiritualitas dalam karya-karyanya cenderung masuk kedalam masa pertumbuhan seni lukis abstrak di Indonesia, usai tahun 1960-an. Ahmad Sadali sendiri, dikenal sebagai perupa dengan kekentalan ajaran-ajaran Islami dalam karyanya, tahun 1963 ia meninggalkan aliran abstrak geometris. Dalam proses kekaryaanya, Ahmad Sadali mengedepankan tiga unsur utama dalam proses kekaryaannya, yakni rasa atau estetik, rasio atau intelektualitas, dan iman. Gerakan spiritualitas dari Ahmad Sadali berhasil memodernisasi seni Islam yang sesuai dengan​Tazkiyyah

yang menaikan Islam sebagai kebudayaan menjadi bentuk yang memunculkan keberadaan ruh, juga mengislamkan seni Modern,

atau ​Sibghah ​yang merelvansikan spiritualitas keislaman dalam

(3)

dengan membawa beberapa inovasi seperti gaya abstrak meditatif yang sudah muncul beberapa tahun sebelum spiritualitas keislaman, juga membawa eksplorasi media baru seperti penggunaan relief dan penggunaan warna emas (Yustiono, 2005) A. D. Pirous dalam seni rupa Indonesia turut dikenal sebagai pionir seni rupa keislaman, perkembangannya dimulai dalam unsur-unsur seni rupa Islam seperti kaligrafi dan motif-motif

arabesque ​semenjak awal tahun 1070-an​. ​Dalam sebuah

wawancara, beliau menyatakan bahwa di akhir 1980 beliau mencoba untuk turut merelevansikan karya-karya meditatifnya kedalam ranah seni rupa modern, mengikuti prinsip ​sibghah ​. Fadjar Sidik di sisi lain, merupakan representasi dari perupa seni rupa keislaman yang cenderung memainkan abstraksi bentuk dalam karya-karyanya. Fadjar Sidik cenderung menerapkan abstraksi mengenai manusia dan alam dalam karya-karyanya, mengikuti intuisi untuk mencari hasil spiritual. 

 

Karya - Karya 

  Karya-karya Ahmad Sadali yang menggambarkan abstrak geometris sudah ditinggalkan dari tahun 1963. Kanvasnya kemudian memperlihatkan warna-warna yang cemerlang dalam bidang lebar tanpa bentukan figur apa pun, namun perkembangan kemudian warna-warnanya mulai memunculkan warna-warna yang lebih redup seperti oker, biru tua dan hitam. Contoh beberapa karyanya di bawah menggambarkan bagaimana seringkali unsur-unsur seperti perlambangan ​kaabah ​dan gunungan yang mencerminkan spiritualitas nampak pada karya-karya lukisannya. Simbol-simbol segitiga yang sering muncul dalam karya-karya Ahmad Sadali sering kali turut menceritakan perlambangan hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

(4)

Gambar 1. Contoh karya Ahmad Sadali

(Sumber: archive.ivaa.org)

Gambar 2. Contoh karya Fadjar Sidik

(5)

 

Karakteristik 

  Beberapa pemikir mengenai Seni Rupa Islam seperti Titus Buckhardt dan Seyyed H. Nasr, memaparkan bahwa Seni Rupa Islam akan selalu menampilkan nilai-nilai Tauhid dan tidak menampilkan figur-figur kebendaan. Beberapa pemikir ini menolak keberadaan seni rupa modern yang menentang keruhanian dan mencapai spiritualitas yang naik ke atas, namun turun pada kebendaan. Dalam konteks sejarahnya juga, seni spiritual di Indonesia selalu berada diluar arus utama, dikarenakan induk dari seni rupa modern Indonesia masih berada dari pengaruh budaya mutakhir Barat, sehingga secara kelembagaan belum ada penyokong terbesarnya. Namun, secara fakta minoritas, tahun 1970-an memang menjadi sebuah tahun yang sangat menyokong keberadaannya, seperti faktor sosio-kultural dengan masih banyaknya jumlah santri yang masuk dan lulus perguruan tinggi, wacana Internasional dari Iran atau Pakistan yang juga mengembangan seni Islam.

(6)

bagi kesenian modern. Banyak pemikiran ahli-ahli seni rupa Islam yang menyatakan pertentangan bagi mereka yang dengan mudahnya mengangkat unsur-unsur religi kedalam karya seni rupa modernnya, seperti Ismail Al-Faruqi. Dalam skala Internasional pun sesungguhnya seni rupa Islam pun masih cukup sulit untuk di interpretasikan, seperti kata Kenneth M. George " Seni Islam dan estetika islam bukanlah hal yang sudah jadi, melainkan merupakan arena perdebatan,, konflik, dan, tentu saja, kreativitas yang mendalam" (George, 2012 [2010]: 16).

Dalam pembahasannya juga cukup banyak hingga sekarang pengamat seni yang membahas seni rupa bernafaskan Islam atau berlandaskan Tauhid, seperti Harun Suaidi Isnaini yang dalam tulisan kesarjanaannya mengangkat perihal isu Seni Rupa Spiritual Islam dengan kutipan bahwa Al-Quran dan Hadits sendiri tidak pernah menerangkan secara eksplisit prinsip-prinsip estetika dalam ekspresi seni (Khoiri, 2002:178). Di dalam skripsi ini juga diterangkan bahwa dua konsekuensi logis dari fakta tersebut adalah bahwa pertama, tidak ada konsep estetika Islam yang tunggal yang bisa digunakan sebagai landasan untuk memberikan kritik pada seni rupa Islam, dan kedua adalah kebebasan berkarya dan pengadopsian konsep serta unsur estetika apapun ke dalam Seni Rupa Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.

(7)

negara-negara Timur Tengah lainnya. Bahkan secara teori pun sudah ada buku berjudulkan Seni dalam Pandangan Islam sebagai resume pandangan ulama modern dalam kreativitas seni, juga diikuti pada tahun 1995 buku yang berjudul​Contemporary Art in the Islamic World.

Perkembangan dari kedua kecenderungan gaya ini terus berkembang hingga wacana seni rupa kontemporer, perihal kebaratan dan spiritualisme. Pertentangan dan eksotisme dari kedua belah pihak memperlihatkan dinamisme yang begitu kuat dalam perkembangan periodisasi wacana seni rupa Indonesia. Hal seperti ini bahkan sudah dimulai dari kemunculan "Polemik Kebudayaan" tahun 1935-an di Indonesia yang merepresentasikan perkembangan Barat dan Timur atau Modern dan Tradisional, yang kemudian tidak pula dapat kita lepaskan dari proses terbentuknya medan seni rupa Indonesia. Dan fenomena ini terus berulang menceritakan keberagaman kultur dan ideologi politik Indonesia bahkan saat perancangan bentuk dasar negara Pancasila kita. Banyak unsur ini dapat terus kita amati dalam nilai keislaman yang tercermin dalam prinsip Monoteisme Tauhid dalam sila pertama, nilai modernisme sebagaimana tercantum dalam sila kedua dan keempat sebagai kata lain dari Humanisme, Internasionalisme, dan demokrasi, nilai kebangsaan yang terdapat pada sila ketiga yang dikatakan Soekarno sebagai Nasionalisme, dan nilai Kerakyatan yang tercantum pada sila kelima, atau Sosialisme (Yustiono 2005: 122). 

Gambar

Gambar 1. Contoh karya Ahmad Sadali

Referensi

Dokumen terkait

CONSTRUCTED INTERACTIVE ANIMATION AS A MEDIA TO MEASURE STUDENTS’ OLLABORATIVE PROBLEM SOLVING SKILLS AND IMPROVE STUDENTS’ UNDERSTANDING IN

Selain itu, didalam kulit buah semangka diketahui adanya kandungan likopen yang berguna untuk perawatan kulit yang berjerawatdan bermanfaat memberikan perawatanterhadap sel

Bambu dapat diolah secara utuh, bilah dan belah dan diterapkan pada elemen eksterior atap, dinding, jendela dan pintu. Bangunan bambu akan memberi kesan natural

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa individu dengan sifat cuping melekat pada 100 sampel probandus pada masyarakat Desa Subaya, Kecamatan Kintamani,

Is the volatility of Mumbai’s real estate market during the past decade, then, an example of the kind of economic destabilization of local and national markets caused by the entry

Pengecualian dari instrumen ekuitas AFS, jika, pada periode berikutnya, jumlah penurunan nilai berkurang dan penurunan dapat dikaitkan secara obyektif dengan sebuah

Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam

Efisiensi modal kerja sangat penting bagi kelancaran suatu perusahaan, jika terjadi kesalahan dalam perencanaan dan pengelolaan modal kerja dapat mengakibatkan kegiatan