DOKUMEN DUKUNGAN PUSLITBANG JALAN
DAN JEMBATAN
UNTUK IMPLEMENTASI PBC DI DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA OKTOBER-NOVEMBER 2013
Halaman | i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami telah menyelesaikan “Dokumen Dukungan Puslitbang Jalan dan Jembatan” dalam rencana Implementasi PBC di Direktorat Jenderal Bina Marga pada Tahun Anggaran 2014.
Dokumen ini terdiri dari 3 bab yang terdiri dari Bab 1 Penyelenggaraan Jalan dan PBC, Bab 2 Litbang PBC oleh Pusjatan, dan Bab 3 Dukungan Pusjatan dalam Implementasi PBC.
Semoga dokumen ini dapat bermanfaat untuk pelaksanaan PBC di Direktorat Jenderal Bina Marga.Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Hormat kami,
Kepala
Puslitbang Jalan dan Jembatan
Ir. Herry Vaza, M.Eng.Sc
Halaman | ii
BAB 1 PENYELENGGARAAN JALAN DAN PBC ... 6
1.1 Penyelenggaraan jalan ... 6
1.2 Metode penyelenggaraan jalan ... 7
1.3 PBC dan penyelenggaraan jalan ... 7
1.4 PBC dan pendekatan value for money ... 8
1.4.1 Implementasi PBC di Direktorat Jenderal Bina Marga ... 10
BAB 2 LITBANG PBC OLEH PUSJATAN ... 13
2.1 Penelitian dan Pengembangan PBC oleh Pusjatan ... 13
BAB 3 DUKUNGAN PUSJATAN DALAM IMPLEMENTASI PBC ... 16
3.1 Lesson learn dari penerapan PBC di Negara Berkembang ... 16
3.2 Penyediaan fasilitas data center jalan dan jembatan ... 18
3.3 Pembuatan aplikasi pendukung KBK ... 18
3.3.1 Aplikasi JAKI ... 19
3.3.2 Aplikasi permodelan prediksi lalu lintas ... 22
3.4 Advis teknis ... 22
Halaman | iii
3.5.1 Kajian Model Sistem Pengadaan Penyelenggaraan Jalan ... 23
3.5.2 Pembuatan perangkat untuk mendukung KBK ... 24
3.5.3 SPM untuk jalan dan jembatan ... 25
3.6 Saran ... 25
3.6.1 Saran berdasarkan Permen PU Laik Fungsi Jalan ... 26
3.6.2 Saran terhadap Standard Bidding Document PBC ... 27
Halaman | iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Kegiatan pembangunan jalan ... 6
Gambar 2 Metode PBC dan Tradisional ... 8
Gambar 3 Ruas Ciasem-Pamanukan ... 11
Gambar 4 Ruas Demak-Trengguli ... 11
Gambar 5 Alur pikir aplikasi JAKI ... 20
Gambar 6 Tampilan aplikasi JAKI ... 21
Halaman | v
DAFTAR TABEL
BAB 1
PENYELENGGARAAN JALAN DAN PBC
1.1 Penyelenggaraan jalan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 34 Tahun 2006 tentang Jalan, Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan. Pengaturan jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan, penyusunan perencanaan umum, dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan.Pembinaan jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis, pelayanan, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penelitian dan pengembangan jalan.Pembangunan jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan.Pengawasan jalan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan tertib pengaturan, pembinaan, dan pembangunan jalan.
Direktorat Jenderal Bina Marga memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan jalan khususnya pada bagian pembangunan jalan yang terdiri dari kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan seperti terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Kegiatan pembangunan jalan
1.2 Metode penyelenggaraan jalan
Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) melakukan programan dan penganggaran melalui Balai Besar dan Balai di daerah untuk kemudian diperiksa oleh Direktorat Bina Program. DJBM dibantu konsultan untuk melakukan desain yang akan dilelangkan. Desain tersebut dilaksanakan di lapangan oleh kontraktor pemenang lelang. Kontraktor akan memelihara jalan tersebut sesuai dengan masa pemeliharaan yang tertulis di kontrak. Setelah masa pemeliharaan habis, DJBM melakukan pemeliharaan secara swakelola.Metode tesebut adalah metode tradisional (Design-Bid-Build) dalam melakukan penyelenggaraan jalan.
Terdapat beberapa metode penyelenggaraan jalan di dunia.Tran et.all (2013) menyatakan bahwa terdapat 3 metode umum penyelenggaraan jalan: 1) Design-Bid-Build (DBB) atau lebih dikenal secara umum sebagai metode tradisional atau konvensional, 2) Design-Build (DB), dan 3) Construction Manager/General Contractor (CM/GC). DBB biasanya digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang memiliki resiko tinggi.Kontraktor bertanggung jawab penuh terhadap desain dan konstruksi pada metode DB.Pelaksanaan desain dan konstruksinya dapat berjalan secara bersamaan.
Pemilihan-pemilihan metode di atas bergantung pada beberapa hal seperti: waktu penyelesaian, kompleksitas dan inovasi, tingkat kesulitan desain, peniliaian resiko, biaya, sumber daya manusia, kompetisi, dan kemampuan kontraktor/konsultan yang tersedia.
1.3 PBC dan penyelenggaraan jalan
Gambar 2 Metode PBC dan Tradisional
1.4 PBC dan pendekatan value for money
Performance Base Contract/Kontruksi Berbasis Kinerja (PBC/KBK) adalah salah satu bentuk dari sistem pengadaan jalan yang direncanakan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan dan pemeliharaan ruas jalan dengan harapan agar kondisi fisik jalan memenuhi kinerja yang telah ditentukan (Stankevich et al, 2009).
����� ��� ����� =������ℎ�� ���� ����� ��
�������
����
Kriteria dari value for money untuk PBC adalah sebagai berikut: 1. Level of service tetap sama namun biaya berkurang 2. Level of service meningkat dan biaya tetap sama. 3. Level of service meningkat dan biaya berkurang.
Salah satu contoh penerapan KBK yang telah berhasil dilakukan adalah pada Departemen Transportasi Florida, Amerika Serikat (DOT Florida) dengan salah satu indikatornya adalah cost saving/penghematan biaya sebesar 13% seperti terlihat pada Tabel 1(Holmes, 2005).
Tabel 1 Perbandingan biaya PBC, method base contract (kontrak tradisional), dan
Pakkala (2005) menyebutkan bahwa penghematan biaya PBC dibandingkan kontrak konvensional lainnya adalah sebesar 10-40% di beberapa negara (Tabel 2).Penghematan biaya cukup signifikan terjadi di Finlandia, Holland (Belanda), dan Norway (Norwegia).Penghematan biaya yang paling kecil adalah sebesar 10%.Dari data-data tersebut dipastikan bahwa implementasi PBC dapat menghemat biaya apabila dibandingkan dengan metode kontrak tradisional. Untuk itu Pusjatan akan memberikan dukungan kepada DJBM dalam rangka mengimplementasikan PBC untuk meningkatkan keselamatan jalan dan kualitas lingkungan jalan.
Tabel 2 Perbandingan biaya antara PBC dan kontrak konvensional di beberapa negara
1.4.1 Implementasi PBC di Direktorat Jenderal Bina Marga
kinerja layanan jalan (Puskompu, 2011). Pada tahun 2012 KBK dilakukan kembali pada ruas jalan Semarang-Bawen, Bojonegoro-Padangan, dan Padangan-Ngawi.
Gambar 3 Ruas Ciasem-Pamanukan
Gambar 4 Ruas Demak-Trengguli
pelelangan pada bulan November 2013. Ruas jalan yang dikontrakkan sepanjang 100km-250km dengan nilai kontrak di atas 300 M untuk masa kontrak minimal 10 tahun (DJBM, 2013). Pada saat ini DJBM sedang melakukan analisis resiko untuk mendukung kelancaran dalam penerapan PBC di ke-4 kota yang disebutkan. DJBM mengidentifikasi resiko berdasarkan kategori: teknis, eksternal, organisasi, dan manajemen proyek yang memiliki dampak terhadap lingkup, biaya, waktu, dan mutu (Bukit, 2013).
PBC dapat merangsang kontraktor untuk melakukan inovasi seperti pada pelaksanaan ruas Bojonegoro-Padangan dimana kontraktor melakukan teknologi konstruksi khusus sarang laba-laba dan cakar ayam modifikasi (DJBM, 2013).Selain itu diperkirakan PBC dapat menghemat biaya sebesar 9-17% dibandingkan dengan kontrak tradisional (Design-Bid-Build) (DJBM, 2013).
BAB 2
LITBANG PBC OLEH PUSJATAN
2.1 Penelitian dan Pengembangan PBC oleh Pusjatan
Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia dan PT. Jasa Marga bekerjasama melakukan pelatihan Performance Based Maintenance Contract di Jakarta pada tahun 2001 dan diikuti oleh beberapa staf dari Pusjatan dan DJBM. Pada tahun 2003, Pusjatan memulai litbang PBC dengan hasil-hasil sebagai berikut:
Penelitian dan pengembangan PBC di Indonesia dimulai pada tahun 2003 dan dilanjutkan pada tahun 2004 dengan 5 kesimpulan (Widajat, 2004):
1. Jaringan jalan yang dapat di KBK meliputi jalan beraspal maupun tidak beraspal dengan syarat histori jalan diketahui dan jalan tidak rusak parah. Kinerja dari masing-masing jenis perkerasan ditentukan dalam spesifikasi. 2. Terdapat beberapa perbedaan dan persamaan dalam kontrak tradisional dan
KBK seperti dasar kontrak dan risk sharing yang seimbang antara penyedia jasa dan pemilik pekerjaan.
3. Indikator kinerja pemeliharaan pada sistem kontrak PBC yang mencakup segala aset jalan yaitu perkerasan jalan, bahu jalan, ROW, drainase, rambu lalu-lintas perlengkapan jalan serta jembatan harus diuraikan dengan detail dalam kontrak karena akan digunakan sebagai dasar penilaian terhadap pemantauan kinerja yang dilakukan secara kontinyu. Hasil pemantauan kinerja dapat digunakan sebagai tolok ukur kondisi perkerasan pada waktu yang bersangkutan.
5. Dari 6 lokasi penyelidikan lapangan, Pusjatan telah memiliki 7 rumus penurunan kondisi: 1)lendutan, 2) kerataan, 3) kedalaman alur, 4) % luas retak, 5) % luas pelepasan butir, 6) %luas lubang, dan 7)% luas amblas.
Pada tahun 2009 Pusjatan melakukan litbang PBC dan menghasilkan konsep dokumen lelang untuk pekerjaan PBC serta beberapa kesimpulan dan saran (Saptadi, 2009):
Kesimpulan:
1. Konsep dokumen lelang yang berbasis kinerja untuk ujicoba penerapan litbang PBC hasil kegiatna litbang PBC pada TA 2009 telah disosialisasikan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga (Direktorat Bina Teknik dan Direktorat Bina Program), Inspektorat Jenderal Bina Marga, dan beberapa penyedia jasa melalui kegiatan loka karya yang dilaksanakan di kantor Puslitbang Jalan dan Jembatan pada tanggal 10-11 Desember 2009.
2. Pada loka karya tersebut juga diperoleh masukan untuk menyempurnakan konsep dokumen lelang yang berbasis kinerja untuk uji coba penerapan PBC. 3. Berkenaan dengan tahapan pekerjaan pembangunan dalam rangka ujicoba penerapan litbang PBC, peserta loka karya bersepakat agar pekerjaan pembangunan dilakukan dalam satu tahap, yaitu pembangunan jalan sampai dengan struktur perkerasan lentur.
Saran:
1. Perlu diantisipasi resiko yang menjadi tangung jawab pengguna jasa yang berhubungan dengan masalah administrasi kontrak dan kepastian sumber dana.
2. Perlu dibentuk tim teknis untuk mengevaluasi penawaran penyedia jasa, baik untuk evaluasi administrasi, evaluasi harga, maupun evaluasi teknis.
3. Perlu dikaji lebih lanjut mengenai prosedur evaluasi penyedia jasa yaitu mengenai tata cara evaluasi dan persyaratan penyedia jasa yang membentuk kerjasama operasional (KSO).
4. Perlu dilakukan asistensi penyusunan dokumen penawaran bagi penyedia jasa-penyedia jasa yang akan mengikuti proses pelelangan.
BAB 3
DUKUNGAN PUSJATAN DALAM IMPLEMENTASI
PBC
Pusjatan akan memberikan dukungan sesuai berdasarkan kajian-kajian literature penerapan PBC di negara-negara berkembang dan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dukungan-dukungan tersebut antara lain rencana sosialisasi bersama konsep PBC dalam hubungannya dengan pengembangan sumber daya manusia, pembuatan aplikasi-aplikasi yang dapat mendukung pelaksanaan KBK, advis teknis, program-program litbang yang akan dilaksanakan, dan saran-saran terhadap dokumen kontrak standar.
3.1 Lesson learn dari penerapan PBC di Negara Berkembang
Aplikasi PBC telah dikalukan di berbagai negara berkembang seperti Argentina (1990), Uruguay (1996), Chile (1997), Brazil (1998), Chad, Peru, and Guatemala, Finland, Estonia, Serbia and Montenegro, Afrika Selatan, Bangladesh, Zambia, Chad, the Filipina (Sultana et.all, 2012). Terdapat 5 tantangan yang akan mungkin dihadapi dalam mengimplementasikan di negara berkembang:
1. Dukungan dari pemerintah
Sultana et.all (2012) menyatakan terdapat contoh kasus di Bangladesh dimana tipikal birokrasi dan koordinasi merupakan hambatan dalam mengimplementasikan PBC.Direktorat Jenderal Bina Marga diharapkan terus menerus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang berkepentingan terhadap jalan.
2. Permasalahan penyediaan dana dari non-pemerintah
3. Pengaruh politik dan korupsi
Tidak ada bukti yang nyata bahwa penerapan PBC dapat bebas dari pengaruh politik dan korupsi (Sultana et.all, 2012).
4. Kurangnya pengalaman dan pemahaman terhadap PBC
Sumber daya manusia sangat penting dalam kontrak PBC. Direktorat Jenderal Bina Marga memiliki tim yang berpengalaman dalam implementasi PBC. Tim-tim tersebut harus bersinergi untuk terus melakukan sosialiasi konsep PBC maupaun permasalahan-permasalahan teknis lainnya.
5. Kurangnya perencanaan yang matang
Penerapan PBC dapat menyebabkan perubahan budaya dalam organisasi di Direktorat Jenderal Bina Marga.Kurangnya perencanaan yang matang terhadap implementasi dan perubahan bentuk organisasi dapat menyebabkan kegagaln dalam pelaksanaan implementasi PBC.
6. Rasa ketakutan kehilangan pekerjaan
Dari beberapa survey yang dilakukan di negara-negara berkembang, terdapat kecendrungan rasa ketakutan kehilangan pekerjaan dari pegawai-pegawai pemerintah.
7. Kehilangan kompetisi
Dari beberapa literature disebutkan bahwa penyedia jasa yang melakukan penawaran terhadap kontrak PBC sangatlah sedikit dikarenakan karena nilai kontraknya yang cukup besar.Hal ini tentunya mengurangi iklim kompetisi di antara penyedia-penyedia jasa skala kecil. Namun demikian, penyedia jasa skala kecil dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan dari penyedia jasa yang mendapatkan kontrak PBC (sub-kontraktor)
8. Estimasi biaya
3.2 Penyediaan fasilitas data center jalan dan jembatan
Pusjatan memiliki infrastruktur data center jalan dan jembatan dengan kemampuan Tier-3 dan beberapa aplikasi pendukung lainnya seperti ArcGIS Server 10.0 yang kompatibel dengan Pusdata dan Badan Informasi Geospasial.
Dengan adanya infrastruktur di atas maka Pusjatan siap menjadi fasilitator untuk hosting atau penyimpanan data-data jalan dan jembatan dalam transisi data menuju data yang dapat digunakan oleh public (public domain).
3.3 Pembuatan aplikasi pendukung KBK
PBC merupakan salah satu bentuk inovasi kontrak yang berbasis kepada outcome dimana pengguna jalan merupakan fokus utama dalam penyelenggaraan jalan.Zietlow (2005) menyatakan bahwa beberapa standar kinerja erat hubungannya dengan kondisi/keadaan yang terjadi di jalan seperti terlihat padaTabel 4.
Tabel 4 Standar kinerja dan pengaruhnya pada kondisi/keadaan di jalan
Standar Kinerja Pengaruh
IRI(International Roughness Index) User cost/ Vehicle Operating
cost/Biaya pengguna jalan/kendaraan
Tidak ada lubang dan control
terhadap cracks dan rutting
Keselamatan jalan dan kinerja
perkerasan
Friksi minimal antara ban kendaraan dan permukaan jalan
Keselamatan jalan
Jumlah maksimum endapan tanah
atau halangan lain yang
mengganggu sistem drainase
Menghindari kerusakan struktur jalan
Refleksivitas dari marka dan
perambuan jalan
Keselamatan jalan
merupakan aplikasi berbasis web atau menggunakan internet. Salah satu strategi perangkat strategi manajemen adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengoptimalkan PBC/KBK (Pakkala, 2013). Khazeli dan Stockemer (2013) dalam hasil penelitiannya memberikan gambaran bahwa terdapat hubungan yang kuat antara good governance dengan penetrasi penggunaan internet pada negara-negara di dunia.
3.3.1 Aplikasi JAKI
Aplikasi JAKI adalah aplikasi yang dikembangkan oleh Pusjatan untuk memperoleh informasi terkini dari masyarakat secara langsung terhadap kondisi jalan.Aplikasi ini menggunakan bersifat mobile dan dapat di-install secara langsung pada smartphone dengan sistem operasi iOS, Android, Blackberry, dan Windows.Alur pikir dari aplikasi ini dapat dilihat pada Gambar 5. Masyarakat yang sudah mengunduh dan melakukan registrasi pada aplikasi JAKI dapat memberikan informasi terkini terkait kondisi jalan seperti kemacetan, kerusakan, banjir, dan lain-lain. Data akan masuk ke dalam server Pusjatan dan selanjutnya Pusjatan akan memberikan informasi tersebut ke pihak-pihak terkait secara berkala. Pusjatan juga akan melakukan litbang berdasarkan data-data tersebut.
Gambar 7 Data spasial JAKI yang dapat diakses melalui website
3.3.2 Aplikasi permodelan prediksi lalu lintas
Aplikasi permodelan transportasi dapat digunakan untuk prediksi-prediksi lalu lintas di masa yang akan datang. Hal ini akan berguna untuk penyedia jasa ataupun pemilik pekerjaan dalam melakukan perhitungan-perhitungan biaya.
Aplkasi permodelan prediksi lalu lintas merupakan salah salah satu bentuk minimalisir resiko dari kesalahan perhitungan lalu lintas di masa yang akan datang yang mempengaruhi prediksi-prediksi biaya kontruksi, operasi, dan pemeliharaan yang harus dikeluarkan oleh penyedia jasa.
3.4 Advis teknis
jalan dan jembatan untuk memberikan saran dan masukan terhadap pelaksanaan PBC.
3.5 Penelitian dan Pengembangan
Pusjatan telah memprogramkan 2 penelitian dan pengembangan untuk mendukung implementasi PBC:
1. Kajian Model Sistem Pengadaan Penyelenggaraan Jalan 2. Pembuatan perangkat untuk mendukung implementasi PBC 3. SPM untuk pemeliharaan jalan dan jembatan
3.5.1 Kajian Model Sistem Pengadaan Penyelenggaraan Jalan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 34 Tahun 2006 tentang Jalan, penyelenggaraan jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan. Pengaturan jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan, penyusunan perencanaan umum, dan penyusunan peraturan perundang-undangan. Pembinaan jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis, pelayanan, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penelitian dan pengembangan jalan. Pembangunan jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Pengawasan jalan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan tertib pengaturan, pembinaan, dan pembangunan jalan.
Pada umumnya Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) masih menggunakan metode tradisional atau Design-Bid-Build (DBB) dalam mengadakan pembangunan jalan. Penerapan metode lainnya seperti Desain-Build (DB) belum banyak digunakan oleh DJBM. Salah satu contoh DB adalah implementasi kontrak PBC (Performance Based Contract di mana penyedia jasa menyediakan desain dan konstruksi seperti di ruas jalan Ciasem-Pamanukan dan dan Demak-Trengguli atau ruas jalan Tol Bali yang dibangun di atas laut.
Beberapa penelitian di dunia menyatakan bahwa metode alternatif pengadaan jasa konstruksi dapat memberikan nilai tambah yaitu berupa penghematan biaya dan waktu dibandingkan dengan metode pengadaan tradisional. Dengan adanya data ini maka Puslitbang Jalan dan Jembatan akan membuat membuat suatu ”Kajian Model Sistem Pengadaan Penyelenggaraan Jalan” yang berfokus pada pembangunan jalan.
Dalam kajian tersebut, Pusjatan akan melakukan perekaman terhadap pelaksanaan KBK di 4 lokasi metro (Jakarta, Makassar, Medan, dan Semarang). Dalam pelaksanaannya Pusjatan akan mengajak Direktorat Bina Teknik, Direktorat Bina Program, Direktorat Bina Pelaksanaan, danBalai Besar terkait. Diharapkan dari kajian ini Pusjatan akan menemukan suatu model sistem pengadaan penyelenggaraan jalan agar pengguna jasa dapat melakukan pemilihan tipe-tipe pengadaan dengan memperhatikan faktor-faktor seperti
3.5.2 Pembuatan perangkat untuk mendukung KBK
Pusjatan akanmembuat melakukan kajian terhadap perangkat-perangkat yang dapat mendukung KBK antara lain:
1. Bridge-Weigh in Motion (B-WIM)
WIM termasuk di dalamnya gross vehicle weights, axle spacing, axle weights, and speed.
2. Perangkat inspeksi formal dan informal.
Inspeksi formal dan informal merupakan hal penting dalam implementasi KBK. PPK dan Direksi Teknis akan dibantu oleh perangkat tablet yang didalamnya terdapat aplikasi inspeksi formal dan informal.
3. Aplikasi PBCER (Performance Based Contractor Evaluation Report)
PBCER sangat penting untuk mengevaluasi performa dari penyedia jasa/kontraktor saat pelaksanaan KBK. Evaluasi terdiri dari 5 bagian:
a. Pengukuran kinerja (keselamatan dan inspeksi, administrasi, respon penyedia jasa, field operation)
b. Pengukuran performa Struktur (Pemeliharaan dan perbaikan, kualifikasi personel, inspeksi, dan komunikasi)
c. Pengkuran Performa lapangan (Interaksi, koordinasi, dan kerjasama dengan pihak terkait, kerjasama dengan pengguna jasa, control kualitas dan kesesuaian dengan kontrak, porsi keterlibatan pengguna jasa)
4. Kajian Detorasi Model pada 4 lokasi
3.5.3 SPM untuk jalan dan jembatan
Pusjatan akan terus melakukan pembuatan SPM pemeliharaan jalan dan jembatan.
3.6 Saran
yang memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara jalan dan pengguna jalan, sehingga jalan tersebut dapat dioperasikan untuk umum.
Saran diperoleh dari hasil FGD sebanyak 4 kali dengan melibatkan kalangan akademisi, praktisi, Dit.Bintek, dan ahli-ahli lainnya. Saran dibagi menjadi beberapa bagian yang terkait dengan proses pembangunan jalan yang telah dibahas pada bab sebelumnya.
3.6.1 Saran berdasarkan Permen PU Laik Fungsi Jalan
Dalam tahapan persiapan diharapkan pejabat yang berwenang terhadap pembangunan jalan melakukan Survey Laik Fungsi Jalan dengan melengkapi ketiga lampiran dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 11/PRT/M/2010 tentang Tata Cara dan Persyaratan Laik Fungsi Jalan. Lampiran-lampiran tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam memprediksi perhitungan kebutuhan anggaran di masa yang akan datang pada kontrak PBC.
Dalam Standar Bidding Document PBC disebutkan bahwa nilai IRI untuk jalan raya adalah 4, jalan sedang maksimum adalah 5, dan jalan kecil maksium adalah 5. Berdasarkan Peraturan Menteri PU tersebut, jalan bebas hambatan memiliki IRI 3-4 , jalan raya memiliki IRI 4-6, jalan sedang memiliki IRI 5-8, dan jalan kecil dengan perkerasan aspal memiliki nilai IRI 5-8.
Untuk itu Pusjatan menyarankan agar mengadopsi Permen PU tersebut agar tidak terjadi dispute di kemudian hari.
3.6.2 Saran terhadap Standard Bidding Document PBC
Referensi
Benyamin Saptadi.2009. "Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja (PBC) untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak”. Laporan Akhir. Desember 2009, Bandung. Puslitbang Jalan dan Jembatan.
Djoko Widajat. 2004. "Pengembangan Model Imlementasi Performance Based Contract (PBC) Untuk Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan di Indonesia”. Laporan Penelitian. Desember 2004, Bandung. Puslitbang Jalan dan Jembatan.
Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM). 2013. “Kontrak Berbasis Kinerja (Performance Base Contract) untuk Pengadaan Jasa Konstruksi Pekerjaan Jalan di Indonesia”.Presentasi dalam Pelatihan PBC. September 2013. Direktorat Jenderal Bina Marga.
Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM). 2013. “The Application of Performance Based Contract: Lessons Learn in Indonesia National Roads Management”. Presentasi dalam Pelatihan PBC. September 2013. Direktorat Jenderal Bina Marga.
G. J. Zietlow. 2005. "Cutting Costs and Improving Quality through Performance-Based Road Management and Maintenance Contracts-The Latin American
and OECD Experiences," Presentasi pada Senior Road Executives Programme, Restructuring Road Management, German Development Cooperation, Birmingham,U.K.
2001 [Online]. Available: http://www.opus.co.nz/detail_pages/papers/ austroadsreview.pdf (accessed Feb. 3, 2007).
Holmes, S. 2005. "Florida Asset Management." Presentation at the TRB Workshop on “Performance- based Contracting”. April 27, Washington, D.C.: Office of Maintenance, Florida Department of Transportation.
Natalya Stankevich, Navaid Qureshi dan Cesar Queiroz. 2009. Transport Notes TN.027-Roads and Rural Thematic Group. World Bank. Washington DC. Pakkala, P. 2005. "Performance-based Contracts – International Experiences."
Finnish Road Administration. Presentation at the TRB Workshop on
“Performance- based Contracting.” April 27, Washington, D.C.
Pakkala, P. 2013. “Data Collection, Evaluation, and Management of PBMC”. Presentasi dalam IRF Executive Seminar, 16-27 September 2013. Orlando, Florida. International Road Federation
Pusat Komunikasi Publik PU (Puskompu). 2011.”Dua Pilot Project Performance Based Contract Ditandatangani”.Website Kementerian PU-2011.http://www1.pu.go.id/uploads/berita/ppw280411ind.htm
Tomen Bukit. 2013. “Manajemen Resiko (Project Risk Management)”. Presentasi dalam Pelatihan PBC. September 2013. Direktorat Jenderal Bina Marga. Susan Khazaeli dan Daniel Stockemer. 2013. “The Internet: A new route to good
governance”. International Political Science Review. SAGE Publications. Wall, Christopher J.; Christenson, Richard E. ; McDonnell, Anne-Marie H. ;
Report No. CT22513095. Connecticut Department of Transportation