MAKALAH
TEORI EVOLUSI
MATA KULIAH: TEORI KEBUDAYAAN
OLEH:
NARENDRA PRABU A. P. (121324153001) ANA AGUSTIN PURWANINGSIH (121414153003)
SITI RACHMA FATHIYA (121414153016) MEGA HAYUNINGTYAS ERWANTI (121414153031)
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB I PENDAHULUAN
Dalam perkembangan manusia tidak terlepas dari adanya proses evolusi, yang menyebabkan manusia terus mengalami perkembangan secara bertahap khususnya dalam
bertahan hidup ataupun berkaitan dengan sosial dan budayanya. Evolusi dapat diartikan sebagai perubahan ataupun perkembangan dari yang sederhana menjadi kompleks, namun perkembangan itu biasanya bersifat yang memperlukan proses yang lama. Paradigma yang berhubungan dengan konsep evolusi tersebut adalah evolusionisme, yang merupakan cara pandang yang menekankan pada perubahan lambat-laun sehingga menjadi sesuatu yang lebih baik dan bahkan lebih maju (Saifuddin, 2005: 99).
Evolusi Biologi dan evolusi kebudayaan pada manusia tidak sepenuhnya merupakan proses yang sepenuhnya terpisah, tergambarkan misalnya, ciri penting dari ciri bilogi yang paling penting dari manusia adalah berjalan dengan dua kaki dan memiliki otak yang relatif besar. Dengan otak besar disukai oleh dalam proses seleksi alam, karena nenek moyang manusia membuat alat yang merupakan ciri dari budaya. Selian itu, ciri budaya dari pendidikan formal dan informal disukai seleksi alam karena manusia mengalami masa ketidakmatangan yang lama yang merupakan ciri dari biologi. Sepanjang perjalanan spesies manusia yang terus berkembang dan menunjukkan jati dirinya, maka secara tidak langsung akan tidak dapat menghentikan ciri-ciri biologi dan kebudayaan. Namun, evolusi tergantung pada aneka ragam perubahan yang kerap kali tidak bisa diprediksi dalam hal yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan juga sosial (Saifuddin, 2005: 100-101).
Individu-individu yang telah berhasil melewati proses seleksi alam dengan baik, maka selanjutnya menghasilkan keturunan yang lebih baik dan memiliki keunggulan sehingga individu tersebut mampu bertahan hidup (Saifuddin, 2005: 102).
Setelah bertahan beberapa lama akhirnya memunculkan evolusionisme yang dinamakan evolusionisme universal. Evolusionisme universal ini diartikan berlaku untuk keseluruhan bagi budaya dan bukan untuk budaya-budaya yang tertentu saja (Kaplan, 2000: 63). Evolusionisme ini dikenalkan oleh Leslie A. White dan Julian Steward dan juga bersama arkeolog terpandang yang bernama V. Gordon Childe. White dan Steward mengevaluasi pandangan dari Childe, White dan Steward memahami evolusi kebudayaan sebagai bentuk simbol atau lambang, yang sebut wujud perilaku dari lambang adalah bahasa manusia (Kaplan, 2000: 59-60).
Seiring perjalanan waktu evolusi sosial berbeda dengan evolusi biologi karena sesungguhnya evolusi sosial meliputi upaya disengaja, revolusi, dan tuntutan kepentingan,
BAB II
ASUMSI DASAR, KONSEP, DAN METODE EVOLUSI KEBUDAYAAN
2.1 Asumsi Dasar dan Konsep
Pada masa awal antropologi, terdapat sebuah pemikiran atau pandangan bahwa budaya berkembang secara seragam dan maju. Diperkirakan sebagian besar masyarakat berkembangan dalam tahapan yang sama. Proses berkembang dari tingkat-tingkat rendah menuju ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi. Proses seperti itu akan terus berlangsung dalam masyarakat di dunia ini, walaupun dengan kecepatan perkembangan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya (Koentjaraningrat, 1987:31).
Dalam masa abad kesembilan belas orientasi evolusioner telah mendominasi sebagian besar bidang-bidang telaah, dibuktikan dengan banyaknya tokoh yang mendukung ataupun menerapkan pemikiran atau pandangan evolusioner, terbukti dari kutipan berikut:
Dalam antropologi, para perintis seperti Edward B. Tylor (Primitive Culture, 1871); Lewis Henry Morgan (Ancient Society, 1877); dan Sir Henry (Ancient Law, 1861) merupakan eksponen pandangan evolusioner. Bahkan dalam sosiologi yang kala itu belum dipisahkan secara tajam dengan antropologi, tokoh-tokoh menonjol seperti Herbert Spencer (Principles of Sociology, 1876) dan Emile Durkheim (Division of Labor in Society, 1893) secara gigih dan hangat menyuarakan dukungan pada titik tinjau evolusioner (Spencer) atau menerima dan menerapkan asumsi-asumsi dasarnya (Durkheim) (Kaplan, 2000:49).
Para evolusionis selama ini selalu membedakan adanya masyarakat berteknologi maju dan masyarakat berteknologi terbelakang atau tertinggal. Ada tiga hal yang dipilih oleh para antropolog untuk menyebutkan keadaan masyarakat berteknologi pada abad kesembilan belas, pada umumnya menyebut masyarakat teknologi maju sebagai masyarakat yang telah berkembang (developed) sedang masyarakat berteknologi terbelakang disebut belum berkembang (underdeveloped) atau sedang berkembang (developing) (Kaplan, 2000:51-52).
kalangan para ahli teori sosial abad ke-19, Tylor dan Morgan khususnya mengadopsi skema ini (Seymour-Smith 1986: 105).
Satu dari kritik-kritik yang sering dilemparkan terhadap para evolusionis abad kesembilan belas ialah bahwa mereka sangat etnosentris, mereka menganggap bahwa itu merupakan hasil terbaik yang dihasilkan oleh manusia. Tuduhan lain yang disampaikan untuk pandangan evolusionis abad kesembilan belas adalah mereka telah melakukan spekulasi dari belakang meja yang ceroboh. Terdapat dua aspek situasi yang sama-sama penting untuk dijelaskan sebagai jawaban atas tuduhan tersebut. Pertama, bahwa evolusionis abad kesembilan belas ketika itu sedang sibuk untuk menegakkan sesuatu yang oleh Tylor disebut sebagai ilmu budaya. Cara mereka harap dapat ditempuh untuk menegakkan suatu ilmu macam itu adalah menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bahwa budaya telah berkembang sedikit demi sedikit dalam langkah-langkah alamiah. Para evolusionis abad kesembilan belas juga harus berhadapan dengan kelangkaan materi empirik. Sebagai jalan keluar dari kelangkaan materi itu, mereka coba menjembatani kesenjangan bagan evolusi mereka dengan melakukan rekonstruksi logis dan sering kali rekonstruksi imaginatif pula. Yang disebut belakangan itulah yang sering disebut sebagai “spekulasi dari belakang meja” (Kaplan, 2000:53-54).
Akhirnya, kritik bahwa evolusionis abad kesembilan belas itu berpandangan etnosentris-naif mengenai keniscayaan kemajuan manusia pun perlu kami komentari. Pertama, orang dapat menjadi etnosentris dengan beberapa cara. Misalnya, pada suatu titik ekstrem seseorang boleh jadi tidak tahu menahu tentang keragaman pengaturan kultural, dan memandang cara hidupnya sendiri sebagai sesuatu yang bukan hanya benar dan patut bahkan mengungkapkan sifat hakikat manusia umumnya.
2.2 Metode
1. Metode Komparasi
Seperti yang telah di uraikan pada bab sebelumnya, evolusi budaya tidak bisa lepas dari peranan biologi sebagai stimulus terhadapnya. Biologi dengan zooologi dan botani nya telah mampu meneliti struktur dan fungsi pada organisme yang ternyata mempunyai kesamaan dengan fosil-fosil yang telah punah (extinct). Dengan pendekatan yang telah ditemukan ini maka metode ini juga coba di gunakan oleh John Lubbock dalam kajian geologi. (Harris, 150-151)
Dasar dari metode ini adalah sebuah keyakinan bahwa system sosiobudaya yang dikaji di masa sekarang menampakkan cirri-ciri (resemblance) dari budaya terdahulu/yang sudah punah dengan tingkatan-tingkatannya. Menurut Morgan, adanya kesamaan pada masa lalu dan masa sekarang adalah sebuah ciri khas atau karakteristik. Morgan menyebutkan contoh beserta analoginya, bahwa institusi domestic, contoh nya keluarga kaum barbar pada jamann dahulu bahkan pada institusi domestic nenek moyang manusia (savage ancestor) masih dapat dilihat karakteristik yang sama pada kelompok masyarakat sekarang. Karakteristik tersebut dapat terlihat dari organanisasi dalam masyarakat yang berdasar pada sex, pada silsilah keluarga (kin), bahkan pada pembagiian wilayah atau teritori. (Chakov,7).
2. Metode Paralelisme
Salah satu yang membedakan antara evolusi biolgi dan evolusi budaya adalah pada tingakt skema evolusi dan proses perkembangannya. Bahwa jika dalam evolusi biologi semua bentuk dari organisme secara genetic saling berhubungan dan dalam tahap perkembangan nya menjadi saling berlainan, maka dalam evolusi budaya, pola-pola budaya pada tempat-tempat berdeba d seluruh dunia adalah tidak terkait secara genetik, namun tetap terhubung secara parallel karena ditemukan kesamaan-kesamaan dari budaya-budaya tersebut.
Dalam metode parallel, dasar asumsinya adalah terdapat kesamaan antara budaya satu dengan budaya yang lain. Memang terdapat sebuah pertanyaan mendasar dalam metode ini, yaitu dalam segi psikologis dan manifestasi budaya yang tidak sama antara satu budaya dengan budaya yang lain, namun data-data yang ditemukan memberikan sebuah penggambaran tentang kesamaan formula antar budaya dari beberapa model perilaku (Steward, 245-246).
BAB III
TOKOH DAN PEMIKIRAN
1. Herbert Spencer
2. Johann Jacob Bachofen (1815 – 1887)
Seorang pengacara Swiss dan sarjana sastra yang menggembangkan teori sistem evolusi kekeluargaan. Dia menyatakan bahwa awalnya pergaulan primitif bercirikan matriliarkal dan kemudian patrilineal. Tahap berikutnya dari patrilineal dikembangkan berhubungan dengan teori perkembangan properti pribadi Bachofen dan keinginan laki-laki untuk memberikannya kepada anak-anaknya. Pernyataan Bachofen tentang tahap patrilineal yang mengikuti tahap matrilineal disetujui oleh Morgan (Seymour-Smith 1986:21 melalui Murphy).
3. Sir James George Frazer (1854 – 1873).
Lulusan Cambridge, dia dipertimbangkan menjadi ahli teori evolusi klasik terakhir di Inggris. Frazer adalah pengumpul ensiklopedia data (walaupun dia tidak pernah melakukan kerja lapangan), menerbitkan lusinan jilid termasuk The Golden Bough yang terkenal. Frazer meringkas penelitian tentang ilmu magis dan kepercayaan dengan menyatakan “Manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya, tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin terbelakang kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Soal-soal hidup yang tak dapat dipecahkan dengan akal dipecahkannya dengan ilmu gaib (Koentjaraningrat, 1987:54).” Pada awalnya diterbitkan dalam dua jilid dan kemudian diperluas menjadi dua belas, gagasan Frazer dari The Golden Bough diterima secara luas. Frazer melanjutkan penelitian kepada nilai-nilai takhayul dalam evolusi budaya mengatakan bahwa evolusi budaya menguatkan respek pada properti pribadi, menguatkan respek pada pernikahan, dan menambah ketaatan yang lebih ketat pada peraturan moral seks (Murphy).
4. Sir John Lubbock (Lord Avebury).
tua. Dia mempopulerkan jaman paleolitikum dan neolitikum. Pada buku Lubbock yang berjudul, Prehistoric Times: As Illustrated by Ancient Remains and the Customs of Modern Savages, menggambarkan analogi teori evolusi sebagai “sejaman dengan zaman batu.” Buku ini juga melawan kemunduran pandangan yang menyatakan “Itu adalah opini umum tentang savages, sebagai peraturan umum, hanya sisa-sisa yang menyedihkan dari sebuah bangsa yang sudah beradab; tetapi walaupun ada beberapa kasus kebusukan nasional yang tidak dapat dipungkiri, tidak ada bukti secara ilmiah yang dapat membenarkan kami untuk menegaskan bahwa ini adalah kasus biasanya (Hays 1965:51-52 melalui Murphy).” Lubbock juga menambahkan tahap demi tahap evolusi kepercayaan, terbagi menjadi lima tahap: atheis, totemisme, animisme, pemujaan berhala, dan monotheisme. (Murphy)
5. Sir Henry James Sumner Maine (1822 – 1888).
Ahli hukum Inggris dan penganut teori sosial yang berfokus pada perkembangan sistem-sistem legal sebagai kunci dari evolusi sosial. Dia membuat rencana dengan mengikuti jejak sosial dari sistem-sistem yang berdasarkan kekeluargaan sampai yang berdasarkan wilayah, dan dari status ke kontrak, dan dari hukum sipil sampai hukum kriminal. Maine berargumen bahwa sistem sosial yang paling primitif adalah sistem patrilarkal. Pandangan ini berlawanan dengan orang-orang yang percaya pada keunggulan hubungan primitif dan martiarkal. Maine juga berlawanan dengan pemikir teori evolusi yang lain yaitu dia tidak mendukung adanya evolusi unilinear (Seymour-Smith 1986:175-176 melalui Murphy).
6. John F. McLellan (1827 – 1881).
kelompoknya. Kekurangan perempuan kemudian dapat terpecahkan dengan kebiasaan menculik calon istri dan poliandri sedarah. Kemudian timbullah sistem keturunan patrilineal. McLellan, dalam Primitive Marriage, merujuk pada istilah eksogami dan endogami (Seymour-Smith 1986:185-186 melalui Murphy).
7. Lewis Henry Morgan (1818 – 1881).
8. Sir Edward Burnett Tylor (1832 – 1917).
BAB IV
KOMENTAR, KRITIK, DAN KESIMPULAN
4.1 Komentar dan Kritik
Kritik-kritik yang perlu dipahami lebih lanjut adalah yang pertama adalah bahwa pada abad ke 19 yang pada saat itu berupaya untuk mematahkan pemikiran dari Drawin dengan memunculkan teori etnosentris, yang dapat diartikan bahwa budaya yang dimiliki adalah budaya yang paling tinggi kedudukannya (Kaplan, 2000: 53), sedangkan untuk kemunculan evolusionisme mutakir (khusunya White), juga memiliki kekurangan karena tidak banyak membantu untuk menangkap runtutan atau sekuen perkembangan secara jelas dan cukup rinci (Kaplan, 2000: 63) .
4.2 Kesimpulan
Evolusi adalah sebuah teori besar yang merupakan pintu gerbang dari ilmu antropologi yang pada akhirnya menumbuhkan kajian-kajian dan teori budaya yang lain. Dapat diketahui bahwa evolusi biologi merupakan awal dari evolusi budaya. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa evolusi budaya merupakan perkembangan dari evolusi biologi.
Perkembangan budaya seperti yang telah dikatakan oleh E.B Taylor bahwa budaya berkembang dari yang sederhana hingga kompleks dan semua masyarakat melewati tiga dasar tahap pembangunan seperti yang telah digagas oleh Montesquieu dari savage, barbarisme, dan masyarakat (civilization).
DAFTAR PUSTAKA
Harris, Marvin. 1968. The Rise of Anthropological Theory: A History of Theories of Culture. New York: Thomas Y. Crowell.
Kaplan, David dan Albert A, Manners. 2000. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori AntropologiI. Jakarta: UI-Press.
Manners, Roberts A, and David Kaplan. 1968. Theory in Anthropology: A Source Book.
Chicago: Aldine Publishing Company.
Murphy, Michael D. Anthropological Theories: A Guide Prepared by Students for Students. Department of Anthropology College and Arts and Sciences The University of Alabama.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer. Jakarta: Prenada Media. Winthrop, Roberth H. 1991. Dictionary of Concepts in Cultural Anthropology. New