• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rilis Diskusi Online MILITER DAN MAHASIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rilis Diskusi Online MILITER DAN MAHASIS"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Rilis Diskusi Online: MILITER DAN MAHASISWA

Dewan Mahasiswa Justicia

(2)

Militer dan Mahasiswa

Modern ini militer di Indonesia kembali memperlihatkan dirinya dalam beberapa kesempatan pada kehidupan masyarakat sipil umum terutama di beberapa kampus negeri dengan wujud menanamkan nasionalisme melalui sosialisasi-sosialisasi atau seminar umum kebangsaan dan bela negara. Kemudian pertanyaannya adalah nasionalisme seperti apa yang hendak ditanamkan? Sebab masih terdapat anggapan di sebagian lingkup masyarakat bahwasanya nasionalisme yang dimiliki militer masih sempit berupa tindakan konfrontasi, agresi yang berkaitan dengan pertahanan sehingga dianggap kurang humanis. Kemudian dari hal inilah pemaknaan nasionalisme pun membutuhkan definisi umum yang dapat diterima setiap elemen masyarakat tanpa terkecuali.

Jika kita kembali mencermati fungsi awal militer yakni fungsi pertahanan. Kemudian muncul pertanyaan apa dan siapa yang sesungguhnya dipertahankan oleh militer? Mengapa muncul kesan bahwa militer mempertahankan diri dari masyarakatnya sendiri? Terlihat dari tindakan dari militer itu sendiri pada beberapa waktu kejadian yang ada di masyarakat yang seringkali berbentuk konflik-konflik vertikal pemerintah dan masyarakat. Dimana sebenarnya keberpihakan militer, apakah pada penguasa yang memiliki legitimasi? Atau pada rakyat? Atau dapat memiliki agenda internal sendiri?

Menurut Samuel Finer (1969) militer sebagai perangkat yang memiliki beberapa sifat yang khas yakni (1) komando yang terpusat, (2) disiplin (3) organisasi yang bersifat hierarkies (4) kemampuan berkomunikasi dengan cepat (5) adanya jiwa korsa (esprit de corps)

Jika dilihat secara historis, contoh saat masa awal militer Indonesia Panglima Besar TNI Jendral Sudirman, yang mana militer dan rakyat memiliki hubungan yang erat karena bersama-sama mengusir Belanda saat agresi militer belanda tahun 1948. Yang mana saat itu militer murni hanya untuk mempertahankan dari tindakan konfrontasi penjajah yang dibentuk oleh Jendral Sudirman yang bahkan memiliki latar belakang seorang pendidik, tokoh agama, tokoh yang memiliki penjiwaan merakyat, pun dengan tokoh-tokoh militer yang lain saat itu. Lalu yang menjadi pertanyaan saat ini kenapa militer jadi seakan tajam kebawah dalam beberapa kasus agraria, industri dan sosial yang beberapa merupakan program pemerintah atau swasta.

(3)

kebijakan politik. Baru kemudian pada saat masa orde baru terlebih saat ada kebijakan NKK/BKK hubungan baik antara mahasiswa dengan militer kian renggang karena militer

dijadikan instrumen pemerintahan orde baru untuk “menormalkan” situasi kampus dan “menyeragamkan” mahasiswa dengan kedok Demokrasi Pancasila yang di gencarkan untuk mereduksi pola pikirr kritis mahasiswa terhadap kebijakan orde baru. Ditambah lagi dengan adanya dwi fungsi ABRI, yang mana sifat satu komando dari militer benar-benar telah dimanfaatkan sebagai kekuatan politik yang kuat. Baru kemudian saat reformasi mencapai puncak perjuangan mahasiswa terhadap penguasa dan militer sebagai alatnya.

Namun disisi lain terdapat juga pandangan masyarakat yang menilai militer sekarang lebih dapat dipercaya bahkan daripada pemerintah sendiri. Yang mana kini terdapat juga cukup banyak kegiatan-kegiatan militer yang turun pada tataran masyarakat sipil untuk mengadakan seperti kegiatan sosial, kegiatan peduli lingkungan dan beberapa hal lain yang cukup rutin. Hal ini dapat dinilai sebagai wujud rekonstruksi ulang pemikiran masyarakat terhadap militer yang mana dahulu di era rezim orde baru militer dengan dwi fungsi ABRI nya cukup membuat antipati masyarakat pada militer.

Kemudian pada kaitannya hubungan Militer dan mahasiswa terutama masa ini, tentunya keduanya tidak bisa digabungkan pemikiran atau ranah gerak perjuangannya. Mengapa militer berbeda dengan mahasiswa adalah adanya sifat satu komando atau hirarki wewenang yang mana prajurit militer tidak memiliki kebebasan ataupun membantah komando atasannya, berbeda jauh dengan mahasiswa yang memiliki kebebasan berfikir dan bisa menyuarakan pemikiran dalam rangka kebebasan akademik. Selain itu relitas yang terjadi dilapangan mahasiswa dan pergerakan serta keberpihakannya kepada rakyat cukup sering timbul konflik vertikal yang mana militer berada dipihak yang bersebrangan. Contoh keterlibatan militer dalam beberapa kasus atau konflik agraria di Indonesia yang cenderung memihak kepada pihak korporasi atau swasta.

(4)

panjang dalam tubuh mahasiswa itu sendiri. Sehingga bukan dikotomi mutlak mengenai kebangsaan, tetapi mendikotomikan sifat-sifat di atas.

Pendekatan yang dilakukan militer terhadap mahasiswa dan masyarakat tentu akan menemui berbagai macam respon dan tanggapan, seperti contoh ada yang apatis dan benar-benar tidak peduli, ada pula yang menerima dan terbuka karena dapat memberi rasa aman, antisipatif dan memiliki kepentingan yang sama atau satu pandangan. Ada yang menolak dan waspada berdasar atas dikotomi diatas dan alasan lain, ada yang mewajarkan segala tindakan militer karena kesadarannya yakni apa yang dilakukan adalah menjalankan tugas atasan. Ataupun ada yang melihat sesuai konteks, sehingga tidak dapat digeneralisir meskipun secara keseluruhan dan/atau sebagian melakukan tindakan-tindakan tertentu.

Anggapan diatas adalah realitas yang ada di masyarakat khususnya mahasiswa, sangat dinamis tergantung konteks permasalahan dan masih memungkinkan ada anggapan lain dari mahasiswa.

Dalam konteks masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnyanya seperti dalam pasal 30 ayat 1 dan 2 UUD NRI 1945 yakni (1) tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara (2) usaha pertahanan dan kemanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan kemanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Bentuk kekuatan pendukung inipun tidak dapat diartikan sesempit dengan cara militer atau konfrontasi. Tetapi dengan cara mahasiswa pula.

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan Penetapan Hasil Evaluasi Penawaran Pelelangan Paket Pekerjaan PERENCANAAN TEKNIK PEMELIHARAAN PERIODIK/ BERKALA JALAN SEBADU - SOMPAK, SEBADU - SEKILAP,

[r]

Setelah diadakan evaluasi terhadap dokumen kualifikasi yang Saudara ajukan pada pekerjaan Pengadaan Jasa Konsultansi Perencanaan Pembangunan Gedung Kantor Pengadilan

Karakteristik utama Gen-Y adalah kelompok yang sangat terdidik, penyuka musik, teknologi dan kebebasan mutlak. Generasi ini tidak keberatan bekerja, namun menolak

Produk Bolmut Ikan adalah kombinasi dari berbagai macam sumber daya alam yang merupakan produk diversifikasi dari hasil perikanan untuk di olah menjadi

Penentuan dosis kaporit berdasarkan kadar bahan organik yang terkandung dalam sampel limbah cair memperlihatkan bahwa, semakin tinggi nilai kadar bahan organik,

6 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam , (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) cet.2, h.. Dan ketiga, meneiliti tingkah laku keagamaan. Pendekatan Fenomenologi yang dilakukakan

Berdasarkan hasil wawancara dengan Lurah dan jajaran pemerintahan desa bahwa gadai yang terjadi di Kelurahan Ujung Gunung Kecamatan Menggala Kabupaten Tulang Bawang