• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran koperasi dalam mewujudkan kepribad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran koperasi dalam mewujudkan kepribad"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Koperasi Mahasiswa dalam Membentuk Kepribadian

Wirausaha Mahasiswa di Universitas Telkom

Diajukan Sebagai Tugas Teknik Membaca dan Menulis Kritis Program Studi Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika

Disusun Oleh : Rachmat Simbara Saputra

113400108

MBTI-C

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Telkom

(2)

Kata Pengantar

Ada kesan yang berkembang bahwa Koperasi Mahasiswa hanya dijadikan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan di kampus. Padahal ada begitu banyak manfaat yang terkandung didalamnya tanpa disadari. Potensi ini sayang sekali jika tidak digali dan dikembangkan. Salah satunya adalah dalam hal kewirausahaan.

Mahasiswa sudah sepantasnya dapat melihat dan berpikir kritis tentang hal ini. Mahasiswa dituntut untuk dapat memberi manfaat kepada masyarakat. Tetapi di lain sisi, banyak mahasiswa yang bersifat apatis terhadap hal ini. Perlu ada pembentukan kepribadian untuk mengatasi hal tersebut.

Bertitik tolak dari kondisi tersebut, penulis mencoba menggali dan membedah teori koperasi atau konsep dasar yang dikandung koperasi itu sendiri. Juga sinergi antara koperasi dan kewirausahaan. Diharapkan dengan adanya karya tulis ilmiah ini dapat menjadi bahan rujukan dan referensi untuk pendidikan atau penelitian kedepannya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yulis Dewi sebagai dosen mata kuliah Teknik Membaca dan Menulis Kritis yang telah membimbing dalam menyusun karya tulis ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah berkontribusi untuk menyelesaikan karya tulis ini.

Tentunya cara penyajian dan keterkaitan isi antar bab masih membutuhkan penyempurnaan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat diharapkan.

(3)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

BAB I PENDAHULUAN ... 5

A. Latar Belakang ... 5

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

A. Koperasi ... 9

1. Pengertian ... 9

2. Prinsip-Prinsip Koperasi ... 9

3. Bentuk-Bentuk Koperasi ... 10

4. Fungsi dan Peran Koperasi ... 10

5. Perangkat Koperasi ... 11

B. Kewirausahaan ... 11

1. Pengertian ... 11

2. Kepribadian Wirausaha ... 12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 14

A. Metode Penelitian ... 14

B. Teknik Pengumpulan Data ... 14

BAB IV PEMBAHASAN ... 15

A. Hakikat Koperasi Mahasiswa ... 15

B. Proses Pendidikan Wirausaha ... 16

C. Koperasi Mahasiswa dan Peningkatan Wawasan Kewirausahaan Mahasiswa ... 18

(4)

A. Kesimpulan ... 20

B. Saran ... 21

Daftar Pustaka ... 22

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Koperasi mempunyai kedudukan yang kuat dan sangat penting di dalam sistem perekonomian nasional Indonesia, karena koperasi merupakan sokoguru perekonomian Indonesia, hal tersebut sebagaimana yang tercantum dalam UUD Negara RI tahun 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan". Pasal tersebut secara implisit menunjukkan bahwa kedudukan koperasi sangat penting, karena koperasi merupakan badan usaha yang berdasarkan asas kekeluargaan tersebut. Sehingga koperasi diyakini dapat diandalkan untuk menopang perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional, koperasi memiliki misi sebagai stabilisator ekonomi disamping sebagai agen pembangunan. Krisis ekonomi yang melanda perekonomian nasional telah menyadarkan banyak pihak bahwa pengelolaan ekonomi yang mengandalkan perusahaan besar telah membuat rapuh basis ekonomi nasional. Ketika krisis moneter terjadi, banyak perusahaan besar yang mengalami stagnasi dan terpuruk usahanya.

Namun di tengah kondisi perekonomian nasional yang lemah tersebut ternyata usaha kecil,menengah dan koperasi masih dapat bertahan dan menjadi tumpuan untuk berperan dalam menjalankan roda perekonomian nasional. Peran koperasi di dalam perekonomian nasional harus terus ditingkatkan sehingga koperasi benar-benar mampu menjalankan peranannya dalam menggerakkan ekonomi rakyat.Banyak faktor yang menyebabkan perkembangan usaha koperasi terkesan lambat, baik itu faktor yang bersumber dari intern koperasi sendiri maupun yang bersumber dari luar koperasi. Agustina Karnawati

(6)

pengurusnya. Dengan kata lain berhasil tidaknya koperasi sangat tergantung pada kemampuan manajemen, yang dalam hal ini dapat dilaksanakan oleh pengurus ataupun oleh manajer. Dengan adanya sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mempunyai daya saing tinggi, maka Koperasi dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Oleh karenanya peningkatan kemampuan kewirausahaan untuk pengurus koperasi merupakan hal yang perlu dilakukan dalam rangka mencapai keberhasilan koperasi dengan melakukan upaya-upaya yang nyata dan tepat untuk menjadi seorang wirausaha koperasi yang sukses. (Agustina Karnawati, 2009:58).

Di dalam era globalisasi ini telah muncul berbagai fenomena baru yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat dunia baik dampak negatif maupun dampak positif yang telah

dilahirkan oleh kemajuan jaman. Didalam perkembangan bidang perekonomian, persaingan yang cukup ketat didalam iklim dunia usaha global merupakan sebuah realita sosial. Kondisi tersebut menuntut setiap penduduk dunia untuk senantiasa melakukan berbagai inovasi. Guna mengantisipasi adanya persaingan yang semakin kuat, dunia pendidikan dalam hal ini perguruan tinggi harus berusaha keras mempersiapkan berbagai persiapan di bidang pendidikan maupun pembentukan mentalitas wirausaha dengan tujuan memenangkan persaingan ketika mahasiswa tersebut beradaptasi langsung di dunia usaha dan dunia kerja.

Menurut Palan (dalam Noor Fuad & Gofur Ahmad, 2009:18) “terdapat dua istilah dalam pekerjaan, yaitu istilah kompetensi dan kecakapan”. Dua hal inilah yang menjadi tolak ukur seseorang dalam persaingan di dunia kerja. Tidak berimbangnya antara lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja menyebabkan semakin ketatnya persaingan. Persaingan dalam dunia kerja yang ketat menyebabkan banyak tenaga kerja yang tidak terserap oleh dunia kerja. Sebagai calon tenaga kerja, mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir kreatif dan inovatif serta mampu membaca peluang dan memanfaatkannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, jangan hanya terfokus pada satu jenis keterampilan saja.

Wirausaha dan koperasi barangkali merupakan salah satu usaha solusi untuk mengatasi meningkatnya jumlah pengangguran. Menurut UU No. 25 tahun 1992, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang perorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan. Dari tiga pilar pembangunan ekonomi bangsa

(7)

dimanfaatkan secara maksimal oleh ruang besar partisipasi rakyat dalam hal aktifitas pembangunan ekonomi. Koperasi itu sendiri yang bertujuan untuk menjadikan kondisi sosial dan ekonomi anggotanya lebih baik dibandingkan sebelum bergabung dengan koperasi yang dalam hal ini memegang teguh konsep ekonomi kerakyatan dan prinsip kekeluargaan dimana sivitas akademika Universitas Telkom merupakan satu keluarga baik itu tingkat universitas maupun tingkat fakultas.

Dari uraian di atas tersebut dapat digambarkan bahwa dengan adanya proses pendidikan wirausaha yang terimplementasi di kegiatan nyata dalam keterlibatan mahasiswa dan universitas sebagai lembaga pendidikan di kegiatan koperasi mahasiswa, merupakan salah satu sarana pengenalan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi disamping

meningkatkan rasa kekeluargaan sesama sivitas akademikanya itu sendiri.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul:

“Peran Koperasi Mahasiswa dalam Membentuk Kepribadian Wirausaha Mahasiswa di Universitas Telkom”

B. Rumusan Masalah

1. Apa hakikat Koperasi Mahasiswa?

2. Bagaimana proses pendidikan wirausaha di Koperasi Mahasiswa?

3. Bagaimana pengaruh Koperasi Mahasiswa dalam peningkatan wawasan kewirausahaan

mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui hakikat Koperasi Mahasiswa.

2. Untuk mengetahui proses pendidikan wirausaha di Koperasi Mahasiswa. 3. Untuk mengetahui pengaruh Koperasi Mahasiswa dalam peningkatan wawasan

kewirausahaan mahasiswa.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

(8)

c. Menambah pengetahuan tentang sinergi antara koperasi dengan kewirausahaan. 2. Praktis

a. Bagi Instansi. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi.

b. Bagi Mahasiswa. Sebagai bahan acuan dan pembanding dalam mengkaji lebih lanjut mengenai pengaruh pembentukan Koperasi Mahasiswa di tiap fakultas Universitas Telkom dan sebagai sarana pengenalan kewirausahaan serta mempererat rasa kekeluargaan pada mahasiswa Universitas Telkom.

(9)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Koperasi

1. Pengertian

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatan-kegiatan berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan (Undang-Undang Perkoperasian No. 25 tahun 1992). Sedangkan menurut Ropke (dalam Agustina Karnawati, 1995:59) koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang para pemiliknya/anggotanya adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut. Oleh karenanya koperasi harus memenuhi syarat berikut: (1) Kebutuhan bersama dari sekumpulan orang atau individu yang sekaligus merupakan dasar kebersamaan atau pengikat dari perkumpulan tersebut. (2) Usaha bersama dari individu-individu untuk mencapai tujuan tersebut. (3) Perusahaan koperasi sebagai wahana untuk pemenuhan kebutuhan perusahaan koperasi tersebut didirikan secara permanen dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.(4) Promosi khusus untuk anggota.

2. Prinsip-Prinsip Koperasi

Prinsip-prinsip koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992 dan yang yang berlaku saat ini di Indonesia adalah sebagai berikut:

a) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. b) Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.

c) Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

d) Pemberian batas jasa yang terbatas terhadap modal. e) Kemandirian.

f) Pendidikan perkoperasian. g) Kerjasama antar koperasi.

(10)

3. Bentuk-Bentuk Koperasi

Dalam ketentuan UU No. 25 tahun 1992, koperasi dapat berbentuk antara lain: a. Koperasi Primer

Koperasi primer adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang.

b. Koperasi Sekunder

Koperasi sekunder adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi. Koperasi sekunder meliputi semua koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi Primer dan/atau Koperasi Sekunder berdasarkan kesamaan kepentingan dan tujuan efisiensi. Pendirian Koperasi Sekunder dalam

berbagai tingkatan dikenal dengan sebutan Koperasi Pusat, Koperasi Gabungan, dan Koperasi Induk.

4. Fungsi dan Peran Koperasi

Menurut UU No. 25 tahun 1992, fungsi dan peran koperasi adalah:

a) Membangun dan mengembangkan potesi dan kemampuan ekonomi anggota pada

khususnya dan pada masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;

b) Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia

dan masyarakat;

c) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan

perkonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya;

d) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perkonomian nasional yang

(11)

5. Perangkat Koperasi

Menurut Arifin Sitio & Halomoan Tamba (2001:34) perangkat organisasi koperasi yaitu:

a. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan suatu wadah dari para anggota koperasi yang diorganisasikan oleh pengurus koperasi, untuk membicarakan kepentingan organisasi maupun usaha koperasi, dalam rangka mengambil suatu keputusan dengan suara terbanyak dari para anggota yang hadir.

b. Pengurus

Pengurus adalah perwakilan anggota koperasi yang dipilih melalui rapat anggota,

yang bertugas mengelola organisasi dan usaha. Idealnya, pengurus koperasi sebagai perwakilan anggota diharapkan mempunyai kemampuan manajerial, teknis, dan berjiwa wirakoperasi, sehingga pengelolaan koperasi mencerminkan suatu cirri yang dilandasi dengan prinsip-prinsip koperasi.

c. Pengawas

Pengawas adalah perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi mandat untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya roda organisasi dan usaha koperasi.

d. Pengelola

Pengelola adalah mereka yang diangkat dan diberhentikan ole Pengurus untuk mengembangkan usaha koperasi secara efisien dan professional. Kedudukan pengelola disini adalah sebagai pegawai atau karyawan yang diberi kuasa dan wewenang oleh Pengurus.

B. Kewirausahaan

1. Pengertian

Secara harfiah, kewirausahaan terdiri atas kata dasar wirausaha yang mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’, sehingga dapat diartikan kewirausahaan adalah hal-hal yang terkait dengan wirausaha. Sedangkan wira berarti keberanian dan usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau non-komersial, sehingga kewirausahaan dapat pula diartikan sebagai keberanian seseorang untuk melaksanakan suatu kegiatan bisnis.

(12)

dengan keberanian dan kegigihan sehingga usahanya mengalami pertumbuhan”. Dalam definisi ini ditekankan bahwa seorang wirausaha yang sebenarnya adalah yang usahanya mengalami pertumbuhan, tidak stagnant, dan dikerjakan dengan rencana kemajuan dalam jangka panjang.

2. Kepribadian Wirausaha

Menurut McGraith & Mac Millan (dalam Rhenald Kasali, dkk., 2010:18), ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki setiap calon wirausaha. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut:

a. Action Oriented

Mereka adalah orang yang ingin segera bertindak, sekalipun situasinya tidak

pasti. Prinsip yang mereka anut adalah melihat dan lakukan. Bagi mereka, risiko bukanlah untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi dan ditaklukan dengan tindakan dan kelihaian.

b. Berpikir Simpel

Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap.

c. Mereka Selalu Mencari Peluang-Peluang Baru

Untuk usaha-usaha yang baru, mereka selalu mau belajar yang baru, membentuk jaringan dari bawah dan menambah landscape atau scope usahanya. Sedangkan dalam usaha yang sama, mereka selalu mencari alternatif-alternatif baru, seperti model, desain, platform, bahan baku, energy, kemasan, dan struktur biaya produksi. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru, melainkan juga cara-cara baru.

d. Mengejar Peluang dengan Disiplin Tinggi

(13)

e. Hanya Mengambil Peluang Terbaik

Wirausaha sejati hanya akan memilih peluang terbaik. Sukses yang diraih setiap orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih. Sukses adalah fungsi dari keberhasilan memilih. Pilihan yang terbaik akan menentukan hasil yang bisa dicapai.

f. Fokus pada Eksekusi

Manusia dengan entrepreneurial mindset mengeksekusi, artinya melakukan tindakan dan merealisasikan apa yang dipikirkan dari pada menganalisis ide-ide baru sampai mati. Mereka juga adaptif terhadap situasi, yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru.

g. Memfokuskan Energi Setiap Orang pada Bisnis yang Digeluti

Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. Dia menggunakan tangan dan pikiran banyak orang, baik dari dalam maupun luar perusahaannya. Dia memiliki kemampuan mengumpulkan orang, membangun jaringan, memimpin, menyatukan gerak, memotivasi, dan berkomunikasi.

Selain itu, seorang wirausaha harus memiliki modal. Modal itu tidak harus berupa dana, tetapi juga bisa berupa softskill, kreativitas, dan link. Kemampuan berorganisasi, kemampuan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, atau kemampuan lainnya bisa dijadikan modal dalam berwirausaha.

Link atau jaringan sosial itu dapat diberdayakan untuk dapat membantu dan

(14)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik. Dengan kata lain, penelitian ini disebut penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. B. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini diantaranya yaitu : 1. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik. 2. Wawancara

(15)

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Hakikat Koperasi Mahasiswa

Hakikat Koperasi Mahasiswa bukan hanya semata-mata menyediakan berbagai sarana dan kebutuhan material yang diperlukan mahasiswa dalam proses pembelajaran di kampus, tetapi juga harus mampu melatih dan mendidik mahasiswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaan yang sangat dibutuhkannya dalam proses hidupnya kedepan. Agar keberadaan Koperasi Mahasiswa (Kopma) mempunyai peran penting dalam proses pendidikan kewirausahaan mahasiswa, maka pengelolaan atau manajemen Kopma harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan benar-benar berperan sebagai tempat praktik dan latihan bagi mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan sikap mental kewirausahaannya. Menurut Arifin (2009:2), fungsi keberadaan Koperasi di setiap satuan pendidikan bagi siswa atau mahasiswa antara lain: (a) melatih dan mendidik siswa atau mahasiswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaan sesuai dengan tingkat minat dan potensi yang dimilikinya; dan (b) melatih dan mendidik siswa atau mahasiswa dalam memanajemen Koperasi, khususnya dalam memberikan layanan terbaik terhadap beragam kebutuhan berkaitan dengan kelancaran proses pembelajaran di sekolah atau kampus.

Selain pendidikan yang didapat, setiap anggota Kopma Universitas Telkom juga mendapatkan berbagai kemudahan dan keuntungan yang antara lain :

1) Pinjaman

Bila sedang membutuhkan dana, setiap anggota diberi kemudahan pinjaman di Kopma. Kemudahan yang didapat yaitu: syarat mudah, biaya administrasi hanya 5%, peminjaman tanpa jaminan, dan jangka waktu hingga 3 bulan.

2) Tabungan

Kopma selain memberikan pinjaman juga menghimpun dana dari anggota, salah satunya adalah dalam bentuk tabungan. Hal ini agar perputaran dana di Kopma tidak mengalami kemandekan.

3) Sisa Hasil Usaha

(16)

25/1992 pasal 5 ayat 1 mengatakan bahwa “Pembagian SHU kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi, tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan ini merupakan perwujudan kekeluargaan dan keadilan”. Komponen-komponen dalam pembagian SHU diatur dalam AD/ART yang ditetapkan dalam rapat anggota.

4) Skill

Dalam Kopma, setiap anggota tidak hanya mendapatkan teori saja, tetapi bisa langsung praktik di lapangan. Hal ini akan meningkatkan kemampuan dalam hal berwirausaha dan juga berorganisasi.

5) Opportunity

Selain kemampuan, kesempatan juga akan anggota dapatkan di Kopma. Kesempatan menjadi pemimpin, mendapatkan link, dan menambah wawasan. Hal-hal ini adalah bekal yang berharga untuk menjadi seorang wirausahawan. Kopma bukan hanya semata-mata warung yang menyediakan peralatan dan perlengkapan kampus. Ada banyak hal yang bisa didapat dari Kopma terutama dalam konsep kewirausahaan.

B. Proses Pendidikan Wirausaha

Pendidikan di Perguruan Tinggi terkadang lebih memfokuskan pada pendidikan keprofesiannya saja tanpa mempertimbangkan kemampuan softskill. Konsep pendidikan seperti ini akan membuat stagnantitas indeks kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para lulusan sarjana. Pembinaan generasi muda yang terlibat aktif dalam gerakan koperasi baik yang terjun langsung sebagai pengelola maupun secara tidak langsung, perlu dilakukan secara terencana, terarah, dan terpadu. Program pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan secara simultan dan berkesinambungan dalam penyelenggaraan koperasi di tingkat mahasiswa dapat memberikan bekal pemahaman dan peningkatan kemampuan managerial dan kemampuan berwirausaha.

Seorang wirausaha seperti dijelaskan diatas, harus mempunyai softskill untuk menunjang dalam kegiatan usahanya. Dalam Kopma tidak hanya dididik tentang kewirausahaan, tetapi juga tentang berorganisasi. Sebenarnya dua hal ini saling bersinergi dalam mengembangkan

(17)

1) Kemampuan Komunikasi

Menurut FX. Suwarto (2010:191), “komunikasi adalah proses memberi dan menerima informasi sampai pada pemahaman makna. Komunikasi dapat berhasil jika komunikator (sumber) menyampaikan pengertian kepada penerima.” Seseorang yang berkomunikasi secara efektif adalah mereka yang merasa bebas dalam mengungkapkan perasaannya kepada orang lain dan menerima ungkapan perasaan orang lain. Mereka adalah orang yang paling efektif dalam komunikasi pribadi. Ketika dalam berorganisasi, seseorang dituntut untuk berkomunikasi secara efektif. Maka hal itu tetap terbawa saat mengaplikasikannya di dunia usaha. Komunikasi ini sangat penting untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien , pelanggan,

maupun dengan orang lain. 2) Kemampuan Kepemimpinan

Menurut Gibson (dalam FX. Suwarto, 2010:207), “kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan untuk memotivasi orang-orang melalui komunikasi guna mencapai tujuan tertentu”. Dalam sebuah organisasi, pemimpin pasti nyata adanya. Apakah itu pemimpin kelompok, pemimpin acara atau kegiatan, setiap orang dituntut untuk bisa menjadi pemimpin.

Dalam konsep kewirausahaan, sebuah usaha yang dibangun tanpa kepemimpinan yang kuat hanya akan menjadi usaha kecil yang tidak berkembang. Seseorang tanpa kemampuan kepemimpinan hanya mampu memimpin sedikit orang dari usaha kecil dan tidak ada pertumbuhan usaha. Tanpa kepemimpinan tidak ada orang hebat yang bekerja padanya. Karyawan tidak akan betah bekerja dan pengetahuan atau pengalaman yang sudah ditanam akan hilang bersama kepindahan mereka. Hanya orang-orang yang tidak bisa ke mana-mana yang bertahan bekerja.

Sebaliknya, kepemimpinanlah yang akan membentuk usaha menjadi besar dan berkembang. Kepemimpinan dibentuk bertahap, sejalan dengan tumbuhnya usaha. Dari kombinasi pengetahuan, keterampilan, pengalaman, cara pengarahan, dan penerimaan.

3) Kemampuan Mengendalikan Diri

Kegiatan keorganisasian membentuk sikap mental positif, misalnya kedisiplinan,

(18)

yang harus dicapai. Dengan adanya job description, seseorang harus bisa memimpin diri sendiri, menentukan skala prioritas dan disiplin dalam menjalankan rencana kerja agar selesai sebelum target waktu (deadline) yang ditentukan.

Selain kedisiplinan, ketekunan juga terasah. Tidak semua tugas yang menjadi tanggung jawab, mudah dilaksanakan. Kadangkala ada tugas yang membutuhkan ketekunan, seperti mewawancarai orang penting yang sulit ditemui. Bila tidak tekun tugas tidak terselesaikan.

Jabatan yang diemban berhubungan dengan kepercayaan. Dalam melaksanakan tugas, pasti diberi kepercayaan, bisa berupa wewenang atau materi. seseorang dituntut bersikap jujur, tidak menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan. Hal ini

membutuhkan keberanian untuk melawan keinginan negatif dan melatih kejujuran. Dengan pengalaman yang didapatkan saat berorganisasi, secara sadar maupun tidak, tingkat kepercayaan diri juga meningkat. Kepercayaan diri yang tinggi ini amat berguna saat harus melangkah dan menentukan sesuatu. Bila percaya diri, maka akan lebih berani dalam menghadapi segala situasi.

Sikap mental diatas adalah sikap seorang wirausaha sejati. Kedisiplinan, ketekunan, kepercayaan diri, dan berani menghadapi situasi. Semua sikap itu harus dimiliki oleh seorang wirausaha.

Menjadi wirausaha koperasi dapat berpeluang memiliki kemampuan dalam menemukan dan mengevaluasi peluang-peluang, mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan dan bertindak untuk mempeoleh dan menemukan keuntungan dan peluang tersebut. Sebagai pengelola koperasi yang berjiwa wirausaha, pengurus atau manajer dapat disebut pemimpin dan mereka dapat terus mengeksplorasi sifat kepemimpinannya dalam melaksanakan kegiatan perkoperasian, sehingga proses pendidikan kewirausahaan dapat terjadi tanpa mereka sadari sebelumnya.

C. Koperasi Mahasiswa dan Peningkatan Wawasan Kewirausahaan Mahasiswa

Koperasi Mahasiswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kemahasiswaan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa fungsi koperasi tidak hanya menyediakan peralatan dan peelengkapan kampus tetapi juga sebagai ‘laboratorium’ kewirausahaan. Salah seorang anggota Koperasi Mahasiswa Universitas Telkom menjelaskan

(19)

belajar berorganisasi, dan menjadi seorang wirausaha. Hal ini mengindikasikan bahwa Koperasi Mahasiswa sudah diakui keberadaannya sebagai tempat praktik dan latihan bagi mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan sikap mental kewirausahaannya.

Selain itu, anggota juga bisa lebih mengenal tentang perkoperasian. Anggota Koperasi Mahasiswa tersebut juga menuturkan pentingnya perkoperasian bagi bangsa dan negara karena koperasi merupakan soko guru perekonomian Indonesia. Lulusan dari anggota Kopma yang diharapkan dapat menjadi wirausahawan juga akan memberikan kontribusi bagi perekonomian negara karena dengan membuka lapangan pekerjaan baru akan menyerap juga tenaga juga yang berimbas pada penurunan angka pengangguran sekaligus angka kriminalitas.

(20)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Koperasi mempunyai kedudukan yang kuat dan sangat penting di dalam sistem perekonomian nasional Indonesia, karena koperasi merupakan sokoguru perekonomian Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam UUD RI 1945. Sehingga koperasi yang berasas kekeluargaan diyakini dapat diandalkan untuk menopang perekonomian Indonesia.

Koperasi Mahasiswa bukan hanya semata-mata menyediakan berbagai sarana dan kebutuhan material yang diperlukan mahasiswa dalam proses pembelajaran di kampus, tetapi juga harus mampu melatih dan mendidik mahasiswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaannya.

Terbentuknya mentalitas wirausaha di mahasiswa diharapkan dapat membuat indeks daya saing, daya tahan, dan daya guna dari mahasiswa tersebut menjadi lebih berkualitas sehingga ketika sudah menyandang gelar kesarjanaannya ada alternative lain selain mencari pekerjaan di perkantoran, yakni membuka sektor usaha baru. Ketika mahasiswa sudah mampu berpikir layaknya wirausahawan bukan hanya dirinya sendiri yang dapat tertolong, namun banyak orang lain yang akan dapat memproleh akses lapangan pekerjaan baru. Dengan begitu kesejahteraan masyarakat akan tercapai, angka pengangguran juga turun yang dibarengi dengan turunnya angka kriminalitas.

Dari penguraian dan peninjauan yang dilakukan oleh penulis dari bab pendahuluan sampai dengan bab terakhir, dapat disimpulkan bahwa adanya pembentukan Koperasi Mahasiswa baik itu di tingkat fakultas maupun tingkat

universitas yang benar-benar mengedepankan prinsip pengelolaan manajemen usaha koperasi yang tertata secara teratur, transparan, dan accountable akan benar-benar menjadi wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa di Universitas Telkom khususnya dalam hal peningkatan wawasan kewirausahaan yang berjiwa

(21)

B. Saran

Koperasi Mahasiswa yang terdiri dari partisipasi mahasiswa, hendaknya tidak lepas dari dukungan lembaga pendidikan yang menaunginya dalam hal ini adalah universitas maupun faklultas, baik itu dalam bentuk materiil maupun imateriil. Sehingga terscapai sebuah sinkronisasi dan kesepadanan konsep pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa melalui wadah Koperasi Mahasiswa. Penciptaan mahasiswa yang kreatif, inovatif, berjiwa wirausaha, membutuhkan kesadaran bersama, baik dari rector, dosen, birokrat pendidikan, mahasiswa, swasta, masyarakat, dan stakeholder yang ada.

Mahasiswa juga diharapkan tidak bersifat apatis terhadap apa yang ada dalam kampus. Seorang mahasiswa dituntut untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Banyak hal

(22)

Daftar Pustaka

Arifin. (2009). Pendidikan Kewirausahaan Siswa melalui Kopsis Sekolah. Workshop dan

Penataran Manajemen Koperasi Siswa pada Pembina Koperasi Siswa. Malang.

Fuad, N., & Ahmad, G.. (2009). Integrated Human Resources Development. Jakarta: Grasindo.

Hutomi, Lutfi. (2011). 5 Alasan Mengapa Harus Berorganisasi. [Online]. Tersedia:

http://luthfihutomi.blogspot.com/2011/01/5-alasan-mengapa-harus-berorganisasi.html

[10 Desember 2013].

Indonesia, Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Indonesia. Undang-Undang tentang Perkoperasian. UU No. 25 Tahun 1992. LN No. 116 Tahun 1992.

Karnawati, Agustina. (2009). Kewirausahaan dalam Pengembangan Koperasi. Jurnal Ilmiah

dalam Bisnis dan Ekonomi ASIA. (04),. 57-63.

Kasali, R., dkk.. (2009). Modul Kewirausahaan untuk Program Strata 1. Bandung: Hikmah.

Kurniawan. (2010). Peranan Koperasi Mahasiswa dalam Membentuk Sumber Daya Mahasiswa

Unswagati berjiwa Entrepreuneurship. Karya ilmiah. Universitas Swadaya Gunung Jati

Cirebon: tidak diterbitkan.

Sitio, Arifin, & Tamba, H.. (2001). Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta: Erlangga.

Sulistiyani, Ambar Teguh. (2004). Memahami Good Governance: Dalam Perspektif Sumber

Daya Manusia.Yogyakarta: Gava Media.

(23)

Lampiran

Biodata Narasumber

Nama : Singgih Prasetyo Umur : 18 Tahun

Alamat : Asrama Putra Telkom Gedung A No. 118 Pendidikan : SMA

Jenis Kelamin : Laki - laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Mahasiswa

Jabatan : Anggota Koperasi Mahasiswa FEB Universitas Telkom

Hasil Wawancara

Menurut saudara Singgih Prasetyo, alasan beliau bergabung dengan Koperasi Mahasiswa (Kopma) adalah untuk mencari pengalaman berorganisasi sekaligus berwirausaha. Pelajaran yang paling berharga yang didapat selain pengalaman tersebut yaitu jadi lebih mengenal tentang perkoperasian.

Kopma memiliki cara tersendiri dalam mendidik anggotanya, yaitu dengan pendidikan kilat. Pendidikan kilat tersendiri membicarakan tentang bagaimana menjadi anggota koperasi dan dapat masuk ke perkoperasian Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Peran Pemerintahan Kelurahan Dalam Pembinaan Generasi Muda (Studi Kasus Di Kelurahan Sei Kera Hilir I Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan).. Fakultas Ilmu

Selain itu para tokoh masyarakat juga mulai aktif menceritakan secara lisan, membuat pelatihan-pelatihan kesenian kepada generasi muda, kemudian melakukan

Dukungan kebijakan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi generasi muda sangat dibutuhkan, dalam hal ini adalah menumbuhkan iklim kreatif

Generasi muda dari Banjar Pulugambang berpartisipasi secara aktif dalam aktivitas kepariwisataan khususnya pada aktraksi wisata seperti terlibat dalam kegiatan

Dari hasil wawancara diatas ada beberapa program dan kegiatan yang dilakukan Dinas Syariat Islam selama ini dalam pembinaan generasi muda dan kader dakwah di

Pemberdayaan dan Pembinaan Generasi Muda serta Pembinaan Keolahragaan di arahkan dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia baru, yang berkualitas merupakan salah satu

Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang baik tentang hal-hal tersebut.Sebagai generasi muda, kita juga harus memahami bahwa kita memiliki

Keberlanjutan tari tradisional tidak hanya bergantung pada sanggar tari itu sendiri, tetapi juga pada dukungan masyarakat, pemerintah, serta generasi muda yang mau berperan aktif dalam