• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berpikir dalam menerapkan keputusan docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Berpikir dalam menerapkan keputusan docx"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Sunyi di tengah kabut

Suara ayam berkokok membangunkan seorang pria berkulit sawo matang dari mimpinya semalam, cahaya matahari menembus ke dalam kamarnya, sesekali ia melihat jendela kamar nya sangat lusuh dan kusam. Amir, seorang pria berumur 17 tahun ia terlahir dari keluarga yang sederhana, namun tak membuatnya merasa kekurangan. Ia putra bungsu dari 4 bersaudara, 2 diantaranya merantau ke luar kota, kini ia bersama Andin, kakak perempuan nya yang masih menggeluti study nya di salah satu universitas. Ibunya bekerja sebagai penjaga di minimarket yang tidak jauh dari rumahnya, dan ayah seorang TKI di luar negri.

Sang ibu menyiapkan sarapan di meja makan, amir mondar mandir mencari buku yang sebelumnya ia baca.”cari apa kau nak?”tanya ibu, amir masih saja mondar mandir, mencari buku milik temannya. ”ibu liat buku bersampul biru tidak?” amir dengan wajah yang gelisah mencari kesana kemari. “coba cari di rak bukumu, biasanya kau sering simpan disitu.” , amir mencari di rak buku nya yang sudah berkarat. “nah ini dia, ada ternyata” amir tersenyum, karena buku itu milik temannya. “ayo sarapan dulu nak, nasi sudah matang”. Amir duduk di kursi, ia menikmati sarapan yang telah di sediakan ibunya.

Pagi itu amir pergi ke sekolah, sepedanya yang terlihat unik setia menemaninya selama 3 tahun. Ia duduk di bangku kelas 3 SMA, sesekali ia membayangkan ayahnya yang sedang bekerja di luar negri menjadi TKI, dalam hatinya ia merasa rindu akan sosok ayah. Suara teriakan memanggil amir saat ia bersepeda, “heh bengong mulu” rido menyenggol saat ia bersepeda, rupanya sudah sampai di sekolah. Rido adalah teman amir semenjak kecil, ia selalu menemaninya kemanapun pergi, rumahnya terpisahkan di sebuah jalan cagak, namun tidak terlalu jauh.

Bunyi lonceng terdengar, amir dan rido segera memasuki kelasnya, mereka duduk sebangku .”thanks ya kawan bukunya” amir menyerahkan buku filsafat milik Rido. “oke santai saja, udah selesai bacanya?” tanya rido, “selesai dong, keren banget buat mengenali diri sendiri ini buku, keren pokonya” amir menunjuka tatapan tajam dan memberi jempol, usai menyerahkan buku itu. Seorang guru memasuki kelasnya dengan sepatu hitam yang mengkilap, pakaian yang rapih dan tas yang ia bawa. “selamat pagi anak-anak, hari ini kita ujian tertulis, mohon semuanya mengeluarkan kertas selembar, tas dan handphone simpan di depan ” Semua murid mencopot kertas di bukunya, dan menyimpan tas mereka di depan. Amir dan rido duduk di bangku depan, mereka terkenal siswa yang sangat rajin di kelas, meski terkadang membuat onar, karena tingkah laku mereka yang sangat aneh, tapi hal itu hanya untuk menghibur dirinya.

(2)

memainkan pulpen yang di pegangnya dengan tatapan yang kosong. “maksud kamu?” tanya amir, “aku berpikir seperti ini, kalo orang punya ilmu, pasti dia ga bakalan susah, dengan sendirinya ia pasti di cari orang” rido mengemukakan pendapatnya, amir pun melihat rido dengan tatapan yang terlihat kosong. “yang penting kita cari ilmu, kalo hasil pasti mengikuti, proses tidak akan mengecewakan hasil” rido terlihat sangat bijak saat itu. Sesekali mereka bercanda tawa. Di sela suasana sekolah yang sangat menyenangkan.

Bunyi lonceng terdengar 3 kali, mereka membereskan bukunya dan beranjak pulang. Amir dan rido membawa sepedanya yang mereka simpan di depan gerbang. Mereka mulai mengayunkan sepedanya, seperti biasa di tengah perjalanan, mereka terpisahkan jalan cagak, rido yang berbelok ke arah kanan, amir terus mengayunkan sepeda nya akhirnya ia sampai di rumahnya. Ia segara menaiki tangga, tampak dirumahnya yang sepi tidak ada siapapun, ibunya yang masih bekerja di minimarket, dan Andin kakak perempuannya yang masih belajar di kampus belum juga pulang ke rumah.

Ia memutuskan pergi ke rumah rido, yang tidak jauh dari rumahnya. Sampai di rumah rido, ia seperti biasa bercerita, tentang ayahnya yang bertahun-tahun tak kunjung pulang, rasa kerinduan terhadapnya semakin tinggi. “rasanya jenuh juga ya, kita ga pernah main ke luar, atau kemana ke” amir mulai memotong pembicaraan yang sebelumnya ia bercerita tentang ayahnya, “kita memang butuh refreshing” rido menggumam. Tiba tiba amir mengajak pergi berkemah. “kemah aja yu, kita ajak aja teman-teman kelas, minggu depan ada libur tuh”. Rido terlihat melamun, karena dahulu ia pernah tersesat di hutan, dan ingatan itu muncul kembali dalam bayangan kepalanya.”heh bengong kau, gimana?itung lepas penat ni” amir menyenggol bahu nya rido. “oke, besok kita rembukin di kelas.” Hari semakin larut malam, kedua makhluk ini masih asik bercanda tawa bermain playstation dengan memainkan winning eleven, amir asik bermain Barcelona, tetapi rido tidak senang, ia lebih tertarik Real Madrid. Kedua tim ini memang terkenal saling bertolak belakang. Tapi meski demikian tidak menyurutkan persahabatan mereka.

(3)

“pegal juga ini tangan” amir meluruskan tangannya usai di hukum tadi, “sudahlah, itu kan hukuman, kita yang salah, datang kesekolah kesiangan”. rido menanggapinya dengan santai. Amir dan rido berjalan di sela sela kelas dan menaiki tangga, kelasnya berada di atas, ubin-ubin terlihat bersih, memang sekolah ini, sekolah terbaik di tempat tinggal mereka, sebab hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk sekolah ini. Syarat nya memiliki nilai yang tinggi. Sejak SMP, mereka terbilang sangat rajin, berbagai olimpiade mereka ikuti saat itu. Sampai saat ini mereka masih juara umum di sekolahnya.

Mereka membuka pintu kelasnya, rupanya guru di pelajaran pertama tidak masuk, mereka sangat lega. Teman-temannya menyapa “kenapa kalian terlambat, biasanya tepat waktu “ salah seorang teman nya bertanya kepada mereka, lalu amir dan rido meletakan tasnya di bangku “kita bangun kesiangan, hasilnya yah datang ke sekolah siang” amir mencoba menjelaskan. Suasana kelas saat itu seperti pasar sangat bising, sebagian curhat dengan teman-temannya, adapula yang asik dengan mp3 dan juga ada pula yang sibuk membaca buku. Amir menghampiri temannya yang sedang membaca buku. “buku apa itu, sepertinya asik” amir duduk di samping rizkan “tentang perang afganistan ini memang buku lama,tapi ceritanya sangat menyentuh” rizkan mencoba menjelaskan, “aku pinjam ya, nanti kalau kau sudah tamat baca” saat itu amir dan rizkan diskusi mengenai buku, karena ia memang senang membaca, rido asik dengan temannya bermain catur, memang seperti pasar jika guru tidak masuk kelas.

Jam istirahat akhirnya tiba, mereka keluar dari kelasnya dan pergi ke kantin. Teman-temannya sedang duduk di bawah pohon rindang, amir dan rido menghampirinya. “ga main futsal kalian?”tanya amir, “lapangannya masih masih di pake, jadinya kita nongkrong disini” salah seorang temannya menjelaskan. Amir dan rido duduk di samping mereka “minggu depan kan tanggal merah, gimana kalau kita pergi kemana ke, sekalian kita refresh otak, jarang-jarang kita pergi bareng” amir membuka pembicaraan, semua teman-temannya memperhatikan amir dan rido, “bagaimana kalo kita ke mall jalan - jalan di kota?”ardi salah satu temannya berpendapat, “kalau kalian setuju, kita kemah di telaga dewi tempat itu katanya bagus, main di kota mulu panas, sekali kali kita ke hutan bermalam disana” amir membujuk temannya, “oke aku setuju” rizkan merespon positif ajakan amir,”yang lain nya gimana?” tanya amir, teman-teman nya masih bingung, karena mereka belum pernah bermalam di tempat terbuka, apalagi di hutan. “ide bagus tuh, jarang kan kita pergi kesana” ardi menambahkan. Akhirnya semua temannya saat itu merespon positif liburan minggu depan.

(4)

Ia memberi tanda merah di kalender kamarnya, minggu depan pergi berkemah. Hari semakin larut malam, ia mematikan lampu kamarnya dan mulai berbaur di dunia mimpi.

***

Satu minggu kemudian

Pagi itu amir beranjak ke sekolah, ia akan memberi tahu kepada teman-temannya soal keberangkatan esok, sepedanya masih terlihat gagah dan mengkilap. Di persimpangan jalan rido menunggu amir, ia selalu menunggunya, meski datang terlambat. Setiba di sekolah, mereka menyapa teman-teman yang sedang nongkrong di depan kelas, mereka menaiki tangga, saat itu teman-temannya sedang asik bercanda tawa, amir menanyakan keberangkatan hari esok. “besok kita pergi jadi kan?” tanya amir, “jadi dong, besok kita bawa apa aja nih? bawa selimut, bantal?” rizkan menghampiri amir. “udah aja, bawa sama rumah mu riz,hahaha” amir menyenggol bahu rizkan,dengan candaan. “nanti aku dan rido kasih selembaran buat besok yang kalian bawa” amir menambahkan.

Amir dan rido duduk di bangku dan menuliskan bawaan untuk esok, sebenarnya amir tidak tentang hal itu, tetapi rido tau karena sebelumnya ia pernah pergi ke hutan. “ini bekal buat besok yang harus di bawa, jangan sampai ke tinggalan, teman-teman yang lain,kalau ga ada kamu minjem ke orang ” Amir menyerahkan kertas selembar kepada Rizkan, “oke thanks kawan” rizkan membaca lembaran yang musti ia bawa esok hari.” Besok kumpul di rumah aku saja ya, jam 7 pagi kita udah kumpul” rido menambahkan. hari itu suasana kelas sangat ramah, meski sesekali seperti pasar dan seperti tukang kaset mp3, tetapi inilah keindahan saat masa SMA.

Hari yang di tunggu akhirnya tiba, matahari menembus cahaya ke dalam jendela, suara burung bernyanyi diatas kabel listrik yang sebelumnya hujan deras. Udara pagi menumbuhkan semangat amir, ia bergegas dan membereskan barang bawaannya. “mau pergi kemana kau nak?”tanya ibu, “aku mau pergi ke telaga dewi bu, rido kan tau jalan, ia kan pernah kesana” amir yang masih sibuk membereskan barang bawaan nya menjawab pertanyaan sang ibu, “yasudah, hati-hati saja, kau pasti jenuh di rumah terus, jangan lupa sembahyang” sang ibu menambahkan “iya bu, aku pasti hati-hati disana, besok aku pulang” amir menggondong tas nya yang besar,”hati hati nak,jangan lupa sembahyang, jangan berbuat macam-macam disana.” Ia sungkem kepada sang ibu. Pagi itu rido sudah siap dengan bawaannya “kita berangkat kapan nih, teman-teman yang lain mana?”tanya amir “tau tuh mereka ga datang, bilangnya ada keperluan” rizkan menambahkan. Tiba-tiba seorang pria berkacamata hitam memakai celana jeans dan ransel biru menghampiri mereka “hello kawan,ayo berangkat !!!” ardi terlihat semangat saat itu “keren juga kau, yang lain nya mana?”tanya rido “mereka ga ikut katanya, sibuk sendiri” ardi menjawab. “jadi kita ber 4?, oke , no problem yang penting jalan” amir menambahkan.

(5)

teman-teman nya saat itu berjalan lebih cepat. Tiba-tiba amir menepuk bahu rido “heh bengong, kemana kita sekarang?” jalanan menuju desa terakhir semakin dekat. Sampai di desa terakhir terlihat pria tua membawa karung ber isikan sayuran, dengan pakaian yang sangat kotor, tetapi mereka terlihat semangat dan tak kenal lelah. Seorang pria yang terlihat masih segar mengumpulkan kayu dari rerumputan. Mereka terus berjalan menyusuri perkebunan warga. Sampai akhirnya mereka duduk di atas pohon yang tumbang. “panas juga,ada air?”rizkan mengipaskan mukanya yang terlihat gerah, amir memberikan minum kepada rizkan. “berapa jam lagi kita sampai?” tanya ardi ,”3 atau 4 jam kita sampai disana” rido terlihat belum kelelahan, karena sering melatih fisiknya. “ayo berangkat, biar cepat sampai” amir menggugahkan semangat. Rombongan mereka berjalan dan mulai masuk hutan.

Pohon-pohon berjejeran terlihat gagah, hijau nya hutan seakan menyambut mereka dan menuntut masuk ke dunia berbeda, dunia yang ramah jika ia ramah, dan kejam jika ia kejam. Udara segar yang tak tercampur asap menghampiri mereka. Meski keringat terus bercucuran, namun tak menyurutkan semangat 4 orang sahabat ini. “kita break dulu ya” ardi mulai kelelahan “oke semua break “amir menyuarakan kepada teman yang lain nya. Mereka duduk di jalanan yang datar. Saat itu ia melihat sekelilingnya, sesekali ia takut akan binatang buas, namun ia berpikir positif akan hal. Karna sebenarnya alam merespon apa yang sebenarnya kita pikirkan.

“ayo jalan, tinggal beberapa menit lagi kita sampai ” amir berdiri, memberi semangat ke teman-temannya yang terlihat kelelahan. “sambil ngobrol ke biar perjalanan kita ga terasa” rido mengambil air di tas pinggangnya. Rombongan itu kembali berangkat menyusuri hutan yang sangat gagah, burung-burung bernyanyi seakan menyambut kedatangan mereka, sesekali mereka harus melangkahi pohon yang besar yang tumbang, dan menyingkirkan rumput yang berduri menghalangi mereka, lalu mereka harus memegang akar-akar di atas tanah jalanan yang terjal.

Kabut mulai turun, rido mulai ketakutan, dan tersebesit kembali kejadian satu tahun yang lalu. Akhirnya mereka sampai di telaga dewi, sepintas tempat ini menyeramkan karena berada di tengah hutan belantara namun masih sangat alami dan indah. Di sudut terlihat sebuah bangunan yang sudah tua, mereka berjalanan kaki menuju bangunan itu, orang-orang sering menyebutnya shelter. Mereka menjadikan bangunan itu tempat berlindung,karena mereka tidak membawa tenda, lalu menutupi bagian depan dengan plastik besar yang lebar. Saat itu telaga dewi sangat sepi. Ardi mulai kedinginan karena tak terbiasa dengan udara di hutan. Amir mulai membuat perapian untuk memasak dan rido mengambil kayu bakar. Sementara Rizkan sibuk menuliskan perjalanan dari mulai ia berangkat sampai berada di surga tersembunyi ini.

(6)

Ke 4 sahabat ini saling mendekatkan ke api unggun. “suasana seperti ini sangat indah udara masih segar, jauh dari kebisingan, jauh dari persoalan, memang kau tak salah mengajak kami bermain kesini” ardi yang tidak pernah pergi ke alam terbuka, mencurahkan pikirannya. “sebenarnya bermain di alam terbuka, resiko sangat tinggi, alam tidak pernah berbicara, hukum alam lebih kejam dari pada hukum manusia.” Rido menatap api dengan tatapan yang terlihat kosong. “maksud kamu?” tanya rizkan “contoh ya kita pergi ke suatu tempat, ke gunung merapi, tiba-tiba saat berada di sana gunung meletus, tanpa berbicara ia mengeluarkan amarahnya, alam memang tidak berbicara, hukum alam lebih kejam di banding hukum manusia” rido mencoba menjelaskan pernyataannya.

Malam semakin dingin api unggun terus menyinari wajah mereka, satu persatu memasuki shelter yang hanya di tutupi plastik. Amir dan rido masih berada di depan api unggun, persahabatan mereka sejak kecil memang tak pernah terputus, mereka seperti saudaranya sendiri. Mereka bercerita tentang kehidupannya masing-masing , sampai pada akhirnya amir merasa bahagia berada di tempat ini. Ia pun memutuskan masuk ke dalam shelter dan beranjak istirahat, rido mengikutinya. Sementara api masih saja menyala, ia membuat sekat agar tidak merembet.

Ke 4 makhluk ini tertidur sangat pulas, malam itu seakan menjadi penghias dan penghangat di antara mereka. Semakin lama cahaya api unggun semakin redup, sedikit demi sedikit di telan kegelapan, hanya bintang yang masih bertamburan dan bulan menerangi telaga yang terlihat seperti kolam yang di buat-buat, memang keindahan alam ini tak dapat di bayangkan sebelumnya.

Matahari terbit dari timur, ke 4 makhluk tuhan ini masih terlelap dalam mimpinya, kala itu sangat terasa udara dingin hutan, ardi terbangun bergegas melihat pancaran sinar matahari yang menembus air danau “sungguh indah ciptaanmu tuhan” ardi menggumam, “sini keluar, bagus loh “ardi memanggil teman-temannya yang masih di dalam shelter. Amir terbangun ia segera membuat teh manis. “Riz bangun, lihat pemandangannya bagus” ardi memanggil agar rizkan bangun sementara rido masih tidur terlelap udara dingin membuatnya enggan melihat sunrise.”indah sekali ciptaanmu ya tuhan” amir melihat terbitnya matahari di tempat yang megah ini, seolah olah ia di bawa ke dalam dimensi yang lain. Suatu dimensi yang tak di ketahui oleh orang lain. Ardi dan rizkan asik mengambil gambar dengan kamera pocketnya, amir melihat sekeliling menikmati keindahan sesekali ia memejamkan matanya dan menghirup udara secara perlahan. Rido terbangun ia sangat terkesima akan telaga dewi ini, telaga dewi memang sangat menakjubkan.

(7)

mereka berjalan meninggalkan telaga dewi yang, meski kala itu hujan mulai turun. “di ransel ku ada plastik gede tuh di paling atas, coba ambil riz” amir meminta rizkan mengambilkan plastik besar di ransel nya. Akhirnya mereka melindungi dengan plastik, perjalanan masih jauh, rido merasakan ada kejanggalan, ia berjalan paling depan kabut mulai turun di selingi hujan. “gimana nih lanjutin apa istirahat dulu?” amir merasa cuaca sangat buruk sekali, sehingga ia meminta beristirahat. “lanjut aja, tanggung kebasahan” ardi lebih memilih melanjutkan perjalanan. Mereka akhirnya terus berjalan di atas tanah basah, pohon-pohon di samping mereka mulai tak terlihat, jarak pandang semakin sempit, kabut tebal menggelapkan mata. Sementara ke 4 makhluk ini tetap saja masih terus berjalan. Tepat di tengah hutan, ada sebuah pertigaan, rido merasa panik , cuaca seperti ini memang tak layak untuk melakukan perjalanan. “ke arah mana nih?”kemarin aku ga bikin tanda” rido meminta teman-temannya berpendapat “terserah kita ngikut kmu aja” Rizkan memilih mengikuti rido, lalu mereka terdiam sejenak duduk di antara gemercik hujan. “oke kita berpencar, nanti kalau ada titik temu, kita kembali kesini” rido berpendapat “lebih baik kita jalan bareng, cuaca seperti ini sangat bahaya” hujan terus mengguyur, sesekali suara geledek terdengar jelas seperti berada di depan mereka.”oke kita jalan bareng, kita lewat kiri aja” rido yang sebenarnya ia tidak tau, tetapi ia merasa dirinya tahu.

Suasana hutan yang sangat sepi kala itu sangat terasa, hanya terlihat gumpalan putih, kabut semakin tebal, pandangan semakin kabur. “sepertinya kita ga lewat hutan ini kemarin” amir menggumam, Rizkan merasakan hal yang sama, “Rid kita ga salah jalan kan?”tanya amir, rido yang sebenarnya tidak tahu, ia menjawab “kita coba jalan terus, aku ga bisa lihat track”, mereka memutuskan tuk terus berjalan, amir melihat jam tangan nya “ga salah nih kita udah jalan 4 jam belum juga sampai di perkebunan, ini masih di hutan”, “ kita ga salah jalan rid?” Ardi mulai panik, ia melihat sekeliling ternyata tak ada jalan setapak, yang ia lihat hanya rumput dan pohon yang sama di sekelilingnya. “kita istirahat dulu disini !” Rido terlihat pucat dan gelisah, “kita kembali ke atas, atau paling tidak kita berpencar mencari jalan” Rido berpendapat, “berpencar akan lebih sulit, hujan deras pandangan terbatas, mau kamu nyelakain kita ! “ Ardi mulai terpancing emosi, hari gelap di sekeliling mereka hanya putih kabut tebal.

Waktu menunjukan jam setengah 5 sore, tetapi mereka masih berada di hutan, seolah olah mereka di bawa ke dunia yang berbeda. “ya sudahlah terserah kalian !” Rido terpancing suasana, ia tak tahu apa yang harus di lakukannya, sementara perbekalan habis, tenaga semakin terkuras, Rizkan hanya terdiam ia tak tahu apa – apa “bicara dong Riz, kita udah kedinginan, kamu mau mati disini?” Ardi meminta rizkan,agar tak diam, “oke, kita bertahan disini “amir menggumam “maksud kamu?” Ardi tak mengerti maksud Amir, “ kita bertahan disini, kita udah cacat, mencari jalan akan menambah masalah” Rido, Ardi dan Rizkan terdiam di tengah suasana yang tak bersahabat, “baik, kita bertahan disini, besok pagi jika cuaca cerah kita cari jalan keluar” Rido setuju akan pendapat Amir.

(8)

lain, jika kita berjalan, atau berpencar kita akan semakin cacat” ujar Amir “ kita tidur disini? aku ga kuat dingin”Rizkan mulai merasakan kedinginan, Amir terdiam ia berpikir bagaimana caranya bisa bertahan di tempat terbuka, sementara perbekalan sudah habis, hanya tinggal sebotol air tersisa. ia bertuduh di bawah plastik lebar, seolah hanya itu yang dapat menyelamatkan. “disini banyak dedaunan ada ranting – ranting yang sudah berjatuhan” amir menggumam. Ia melihat sekeliling, rido hanya tertunduk ia kembali ingat kejadian setahun yang lalu.

Ardi terlihat sangat gelisah, ia berharap cuaca kembali bersahabat. “baik, disekitaran sini banyak dedaunan dan ranting pohon yang berjatuhan, kita kumpulkan dedaunan itu sebanyak mungkin” Amir mulai berpikir untuk bertahan di hutan. “maksud kamu?”tanya Rido “. Amir melihat tajam Rido “kita akan bertahan disini, kita membuat tempat perlindungan, hujan mulai reda, nanti malam hujan akan deras, ayo kita mulai “ Amir mengajak rekan nya mengumpulkan dedaunan dan beberapa batang pohon yang sudah tergeletak.”jangan jauh dari tempat ini usahakan dekat” Amir meminta agar teman – temannya agar tidak berpencar. Satu demi satu dedaunan semakin terkempul beberapa batang pohon dan ranting tergeletak mereka kumpulkan. “baik, semua sudah terkumpul kita buat tempat perlindungan sementara, Riz kamu bawa tali?” tanya Amir, “di ransel ku ada bawain” Rizkan terlihat lemas, Amir membawakan tali di ransel Rizkan. Bambu yang ia bawa di jadikan sebagai tiangl, lalu ia membuat penyangga untuk menyimpan dedaunan, menutupi bagian atas atau sebagai atap, plastik lebar yang mereka bawa di jadikan alas. Usai semua beres, lalu mereka berteduh di gubuk kecil, yang menjadi tempat peristirahatan sementara.

Hari semakin gelap, kala itu hanya sunyi gelap sepi, menantikan esok berharap cerah. Beberapa jam kemudian hujan akhirnya reda, amir berharap hujan tak lagi mengguyur, meski berdempetan, satu persatu dari mereka tidur terlelap, hanya alas plastik, di selimuti sarung yang meraka bawa. Rido, Rizkan dan Ardi tertidur sementara Amir masih melihat sekeliling di dalam gubuk tersebut, sesekali ia mendengar suara yang tak biasa, bayangan-bayangan yang tak biasa, tetapi ia berpikir positif ia hanya menginginkan pulang malam itu sangat menyeramkan, hanya sunyi sepi di tengah kabut putih.

(9)

kemudian saat matahari terbit” Rizkan setuju pendapat Rido. Saat itu mereka terdiam di gubuk yang sempit, menunggu matahari terbit, nyanyian burung terdengar beberapa hewan bergelantungan, rasa takut menghampiri mereka. Jam 5 pagi mulai terlihat rumput – rumput yang tinggi, mereka baru menyadari berada di tengah hutan berada di antara pepohonan yang sangat rapat, beberapa menit kemudian mereka berjalan menuju track semula. “ayo kita jalan, matahari mulai terbit” Amir berada di paling belakang, Rido berada di depan, mereka berjalan di tengah hutan, sesekali mereka harus menyingkirkan ranting – ranting yang menghalangi, rumput-rumput yang tinggi, namun di samping mereka beberapa burung mengiringi langkah ke 4 makhluk ini. Amir tersenyum ia berkata dalam hati aku yakin burung ini akan mengantarkan kami ke jalan semula. Burung itu terus mengikuti langkah mereka, sampai akhirnya mereka menemukan sungai kecil, ini pertanda jalan kita jalur sudah dekat.

Saat itu mereka beristirahat, cahaya matahari mulai menembus hutan namun berlama-lama di sungai kecil itu, perjalanan masih panjang langkahan kecil terus berjalan. “ini dia track kita kemarin akhirnya kita sampai” Amir melihat jalan setapak, mereka bersyukur bisa kembali ke jalan semula meski satu malam mereka di alam yang berbeda. Ke 4 sahabat ini melanjutkan perjalanannya, canda tawa terlihat kembali, usai di hadapkan masalah antara hidup dan mati. Hari semakin cerah tak ada yang di ragukan lagi, mereka yakin akan sampai di desa terakhir, beberapa petani terlihat akhirnya desa terakhir sudah mulai terlihat. Sesekali mereka melihat pria tua sedang mencangkul, nenek nenek yang membawa ranting, beberapa anak yang masih di bawah umur berkebun membantu orang tuanya.”sudah pulang nak?” tiba - tiba seorang nenek bertanya saat ia beristirahat dengan ranting – ranting yang terkumpul “ Alhamdulillah nek, meskipun kemarin kita tersesat di perjalanan pulang, tapi syukur alloh memberi jalan keluar untuk kita” Amir menjawab dengan tersenyum. “syukur alhamdulillah kalian di beri jalan, lain kali hati – hati jangan memaksakan, yasudah nenek pergi dulu yah” nenek itu membawa ranting yang telah di ikat. Mereka memutuskan untuk terus berjalan sampai akhir sampai di desa terakhir dengan wajah yang terlihat lemas usai berada di alam yang berbeda.

***

Satu hari kemudian

Referensi

Dokumen terkait

Video game jenis ini sesuai dengan terjemahannya, bermain peran, memiliki penekanan pada tokoh/peran perwakilan pemain di dalam permainan, yang biasanya adalah tokoh

Setelah semua anak selesai melaksanakan 3 kegiatan yang disediakan kemudian guru mengkondisikan anak untuk duduk melingkar, lalu guru meminta anak satu persatu

Semakin tinggi nilai profitabilitas maka perusahaan akan cenderung melakukan perataan laba karena perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi mencerminkan kinerja perusahaan

Misalnya,pantangan yang harus dilaksanakan sewaktu memutus kaji (ilmu). Si murid dipantangkan untuk bertemu dengan sang guru dalam masa ter- tentu. Jika pantarigan ini

[r]

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Karya Ilmiah / Penulisan Hukum / Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk

Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran,

mendayagunakan zakat secara produktif sebagai pemberian modal usaha yang tujuannya adalah supaya zakat tersebut dapat berkembang. Zakat didayagunakan dalam rangka