• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Masyarakat Daerah Istimewa Yog

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemahaman Masyarakat Daerah Istimewa Yog"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Pemahaman Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terhadap Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Tim Penyusun

Koordinator Tim: Ahmad Jawwad, S.IP

Analisis data dan Intrepretasi Data: Muhammad Faizal Alfian, S.IP, Nanda Zyitta Anggota Penyusun : Zaki Syaiful Hunafa, Meuthia Maharani

Abstract

Violence of woman and child is not an individual problems but global problems. In fact, abuse of

women and children every day happen, and this problem is a serious problem for social life.

There are two dimensions to discuss the violence, namely the patriarchal culture and the misuse

of the Internet. Then discusses on this research is understanding DIY (Daerah Istimewa

Yogyakarta) society against violence on women and children, as well as public awareness of

Internet abuse to violence. This research method uses a qualitative method, where data

collection using survey methods.

The results of this study found: first, the understanded of the DIY society against violence on

women and children. Secondly, Internet abuse affected cases of violence against women and

children.

(2)

LATAR BELAKANG

Aksi kekerasan terhadap perempuan bukan masalah ideologi Timur atau Barat, melainkan sebuah fenomena global yang hinggi kini belum terdapat penyelesaiaan. Aksi terhadap anti-kekerasan, anti-pelecehan seksual dan diskriminasi gender amat panjang, dan setiap hari bisa terus ditambah dengan fakta dan data baru. Negara-negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa masih belum menghasilkan titik penyelesaian terhadap kekesaran pada perempuan dan anak. Program sosial seperti sosialisasi, pelatihan, dan seminar terus menjadi upaya pemerintah untuk mengkampanyekan anti-kekerasan.

(3)

Kenyataanya kekerasan perempuan dan anak setiap hari terjadi, dan problem ini merupakan salah satu masalah yang serius bagi kehidupan sosial. Ideologi patriarki berkembang secara luas mulai dari keluarga sampai pada kebijakan negara. Merasuk dalam kebudayaan dan tertanam dalam semua sistem kehidupan. Kemudian pada gilirannya merupakan benteng yang sangat kuat dalam menutupi realita bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia. Disayangkan sekali kaum perempuan sendiri pun masih banyak yang belum menyadarinya.

Sama halnya kekerasan terhadap perempuan, kekerasan pada anak merupakan kasus yang sangat sering terjadi di masyarakat, melihat realitanya kekerasan yang dialami banyak datang dari orangtuanya, karena anak-anak tidak dianggap berguna bagi kehidupannya, bahkan dalam strata sosial terendah adalah anak-anak posisi terbentuk dimasyarakat, sehingga anak-anak seringkali diperbudakkan dan disiksa oleh orangtuannya. Hal itu terjadi karena budaya, tradisi maupun penafsiran ajaran agama yang seolah memberikan pembenaran bahwa mereka wajib menerima tindak kekerasan sebagai takdir.

Kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap kekerasan merupakan salah satu indikator yang penting untuk diketahui. Realitasnya masyarakat ibaratnya buta, bisu, dan tuli terhadap permasalahan tersebut, sehingga masalah ini dibiarkan berlarut-larut. Apabila kesadaran dan pemahaman itu tinggi maka kasus kekerasan dapat mudah untuk diatasi, dan sebaliknya apabila kesadaran masyarakat rendah maka penyelesaian kasus kekerasan akan terus berkembang dimasyarakat.

(4)

dilakukan adalah membendung sumber-sumber yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat terjadi. Menurut beberapa penelitian, sumber kekerasan dapat berupa kebiasaan yang melihat kekerasan yang terjadi, sehingga pelaku secara psikologis sangat mudah untuk melakukan kegiatan yang sama.

Dengan berkembangnya internet menyebabkan arus informasi sangat mudah diperoleh oleh semua kalangan masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan jaringan internet yang banyak mengandung aksi kekerasan didalamnya. Sehingga internet dapat menjadi sumber utama meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut penelitian Arifah Budhyati MZ yang berjudul “Pengaruh Internet terhadap Kenakalan Remaja” Internet menyumbang tingginya kasus kekerasan baik itu perempuan maupun anak.

Menurut laporan, terdapat kasus kematian seorang anak kecil yang dipukuli oleh teman sebayanya karena temannya itu bermaksud untuk menirukan gaya berkelahi yang pernah ia lihat di salah satu film yang ditayangkan televisi (Kompasiana.com). Kasus itu menyorot perhatian masyarakat dan membuat peninjauan ulang terhadap program-program yang ditayangkan televisi. Namun, peristiwa tersebut kembali terulang lagi. Video kekerasan yang dilakukan siswa SD Pringsurat 1 Temanggung, Jawa Tengah, baru-baru ini menghebohkan masyarakat indonesia. Dalam video itu, seorang anak perempuan sedang dikeroyok oleh empat anak laki-laki yang notabene anak SD. Aksi kekerasan yang dilakukan anak SD itu sangat memprihatinkan, karena seharusnya mereka bersikap jauh lebih lembut selayaknya anak-anak (Kompasiana.com).

(5)

lagi perusahaan-perusahaan yang terkait dengan dunia internet dan pemasaran selalu menjadikan kaum muda sebagai “tambang emas” demi meraih keuntungan. Maka tidak mengherankan jika selama ini bahaya mengancam dari pemanfaatan online terhadap kebiasaan dan perilaku kaum remaja, di mana remaja merupakan sorotan utama untuk dikaji baik oleh pemerintah maupun lingkungan akademis. Saat ini nampaknya telah terjadi kecenderungan pengguna internet yang sering mengenyampingkan nilai-nilai moral dan etika. Namun, dalam tatanan sosial, etika sangat diperlukan guna menghindari terjadinya pergesekan yang berujung kepada konflik.

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang rentan akan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dimana lapisan masyarakat masih memegang budaya patriarki yang kental dan arus informasi yang sangat luas. Budaya Jawa yang mengagungkan posisi laki-laki dan perempuan menjadikan kaum laki-laki sebagai penguasa atas perempuan dan keluarganya. Selain itu, Yogyakarta merupakan kota pelajar dimana tingkat kebutuhan akan informasi juga tinggi. Sehingga kedua faktor tersebut, dapat menjadi sumber timbulnya tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

Jumlah kekerasan di Yogyakarta cenderung fluktuatif, misalnya pada tahun 2013 terdapat 142 laporan dan turun di tahun 2014 terdapat 120 kasus. Kasus kekerasan terhadap perempuan mendominasi jumlah laporan tersebut sebanyak 70 laporan, sementara kekerasan pada anak sendiri terjadi 24 kali di tahun 2014. Dari data tersebut Sleman merupakan wilayah yang paling sering terjadi kekerasan sebanyak 42 kasus disusul Bantul dengan 30 kasus, dan 29 kasus di Yogyakarta (sorotjogja.com).

(6)

muncul karena faktor pendidikan dan penggunaan teknologi informasi seperti game, tontonan, media sosial yang tidak didampingi. Terdapat kasus kekerasan dengan pelaku dari kenalan di media sosial (radarjogja.com). Selain itu, menurut Ketua Lembaga Perlindungan anak (LPA) DIY Dr. Sari Murti, membeberkan hingga bulan September 2015 LPA telah menangani 70 kasus kekerasan pada anak dengan sebagian besar kasus kekerasan seksual. Dari jumlah tersebut, pelaku tidak hanya bersal dari orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Ada juga korban sodomi yang dilakukan oleh anak-anak, faktor utama yang menyebabkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh sesama anak adalah internet yang mengandung konten kekerasan dan pornografi. (beritasatu.com).

Berdasarkan dari pemahaman diatas terdapat dua pokok permasalahan yang sangat penting untuk dibahas dalam kekerasan perempuan dan anak, dimana terdapat kesadaran ideologis terhadap posisi perempuan dan anak pada lingkungan terutama keluarga, dan peran penyalahgunaan internet yang menyumbang peningkatan kekerasan pada perempuan dan anak. Jadi perlu adanya perhatian penting bagi masyarakat terhadap kedua pokok permasalahan tersebut.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari latar belakang tersebut, kami melihat perlunya kesadaran dan pemahaman terhadap masyarakat terhadap kekerasan pada perempuan dan anak.

1. Bagaimana pemahaman masyarakat Yogyakarta terhadap kekerasan pada perempuan dan anak?

(7)

KERANGKA PEMIKIRAN

Dalam penelitian ini teori yang penulis gunakan adalah “Social Learning and Development Theory”. Teori ini mengatakan bahwa kekerasan adalah perilaku yang dipelejari yang diperankan, diturunkan, dan didukung oleh keluarga atau budaya (Arivia, 2003).

Analisis berdasarkan teori ini terfokus pada perilaku-perilaku dari setiap aktor yang terlibat dalam perilaku menyimpang tersebut. Seorang pria yang pernah melakukan kekerasan terhadap suatu pihak, baik perempuan ataupun anak karena mereka telah mempelajari perilaku ini di usia anak-anak dari keluarga dan lingkungan. Seorang anak yang yang menyaksikan tindak kekerasan dalam rumah tujuh kali lebih beresiko untuk melakukan hal serupa di masa yang akan datang. Ini disebabkan ketika anak tersebut melihat kekerasan dalam rumah tangga antara ayah dan ibunya secara tidak langsung mempelajari bahwa ada kedudukan yang lebih tinggi yang dimiliki oleh pihak laki-laki dibandingkan dengan perempuan ketika sang ibu tidak berdaya saat sang bapak melakukan kekerasan terhadapnya.

Hal ini serupa dijelaskan oleh teori “patriarchy society” yang dipegang oleh masyarakat Yogyakarta dimana adanya struktur sosial pada masyarakat yang menganggap bahwa pria lebih berkuasa ketimbang perempuan. Yang menyebabkan adanya kelebihan power yang dimiliki oleh pria ketimbang perempuan (Hayati, 2002). Dan batasan-batasan yang dibebankan oleh perempuan yang umunya akan mendapatakan sanksi baik oleh masyarakat sekitar pada umumnya maupun oleh internal keluarga pada khususnya.

(8)

Teknologi juga merupakan media internalisasi dari proses kekerasan itu, didukung pada saat ini control yang kurang dari orang tua. Anak-anak cenderung mengaplikasikan apa yang dia lihat dari media intenet kepada temannya (Venny, 2003). Seperti ketika seorang anak bermain game kekerasan, anak itu cenderung akan mengaplikasan hal itu pada dunia nyata.

HIPOTESIS

1. Dengan Pemahaman masyarakat tinggi terhadap tindak kekerasan pada perempuan dan anak, maka kasus kekerasan dapat berkurang. Dan pemahaman masyarakat rendah, maka kasus kekerasan sangat sulit untuk dikurangi.

2. Apabila tingkat Pemahaman masyarakat DIY terhadap kekerasan pada perempuan dan anak dapat dikatakan tinggi, maka eksistensi budaya di DIY tidak berpengaruh pada pemahaman masyarakat DIY. Akan tetapi apabila pemahaman masyarakat DIY terhadap kekerasan pada perempuan dan anak rendah maka eksistensi budaya di DIY berpengaruh tinggi pemahaman masyarakat DIY.

3. Penyahalgunaan internet berpengaruh pada tingginya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat explanatory survey. Penelitian ini mengunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif.

(9)

a. Pemahaman Masyarakat DIY

(10)

Penyahlahgunaan

Teknik penentuan Sample menggunakan metode systematic random sampling, sampel acak sistematik adalah sampel yang diambil dimana anggota sample dipilih secara sistematis dari daftar populasi. Untuk menetukan jumlah responden yang akan dijadikan sampel pada penelitian ini digunakan tehnik penentuan sampel yang minimal yang dianggap representative yakni dengan menggunakan rumus sebagai berikut(Yamane dalam Jalaludin Rakhmad, 2000 : 82):

n = 25% x N

Keterangan:

n = Jumlah sampel minimal N = Ukuran populasi

(11)

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian survei yang digunakan adalah Cross-Sectional Survey. Dimana data hanya dikumpulkan untuk waktu tertentu saja dengan tujuan menggambarkan kondisi populasi. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer. Husein Umar (1997:43) berpendapat bahwa data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perorangan, sedangkan data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut, baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain. Dalam mengumpulkan data diperlukan berbagai perangkat untuk mendapatkan data tersebut adalah kuesioner.

Teknik Pengolahaan Data

Setelah data terkumpul, penelitian diolah agar data tersebut memberikan gambaran mengenai masalah yang diajukan. Hasil pengolahan data dapat menyimpulkan kebenaran-kebenaran sebagai hasil temuan dari masalah yang ada di lapangan. Untuk mendapatkan suatu gambaran dari data yang diolah, perlu adanya analisis sebagai akhir dari penyilidikan. Teknik Pengolahan data dikelompokkan beberapa rangkaian kegiatan yang saling menunjang yaitu:

1. Pengelompokan data (Data Coding), data yang telah terkumpul dari lapangan perlu diteliti kembali yang disebut editing. Terutama data yang dikumpulkan melalui kuesioner.

(12)

3. Hubungan berbagai data dengan Tabulasi, Hubungan berbagai data melalui dua variabel atau lebih dapat digambarkan dengan cara-cara tabulasi silang. Tabulasi silang dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh satu variabel terhadap variabel lainnya yang diperiksa secara serempak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Tindak Kekerasan pada Perempuan dan Anak di DIY

Tindak kekerasan dapat terjadi dimana-mana, bahkan dalam kenyataannya tindak kekerasan dalam rumah tangga juga terjadi dalam frekuensi yang tidak sedikit. Kekerasan dalam rumah tangga baik dalam ruang publik sebenarnya dapat menjadikan siapapun menjadi korban kekerasan. Peristiwa-peristiwa penganiayaan, pelecehan seksual dan lainnya bukan hal yang baru dalam kehidupan saat ini, dampak sosial ekonomi dalam keluarga dan masyarakat juga merupakan pemicu terjadinya kekerasan, sehingga sangat komplek permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat (Venny, 2003).

(13)

bagi kehidupan sosial masayrakat jogja yang jelasnya termasuk kedalam kota dengan mobilitas tinggi di Indonesia.

Terlebih lagi kekerasan terhadap perempuan dan anak sampai saat ini masih menjadi isu yang sangat penting, baik itu di dalam negeri ataupun di luar negeri. Kekerasan ini terjadi dalam segala bidang kehidupan baik itu dalam lingkungan budaya maupun agama. Terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak pada akhirnya akan menghambat perempuan dan anak untuk terlibat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pendidikan, sehingga kekerasan menjadi isu penting bagi Yogyakarta.

Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan mengalami peningkatan cukup signifikan.

Hal itu menjadi kerpihatinan bersama. Tren peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dan

perempuan bahkan mencapai 50 persen (www.radarjogja.co.id). Setidaknya jika dilihat data di

tahun 2011 dengan jumlah kejadian 59 kasus, sementara di tahun 2014 naik menjadi 92

kasus.Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo saat membacakan pengantar bupati

dalam rapat paripurna (Rapur) DPRD tentang penyampaian tiga Raperda, di gedung dewan

(www.radarjogja.co.id). Sutedjo memaparkan, dari 59 kasus yang terjadi pada tahun 2011

rinciannya kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 32 dan kekerasan terhadap anak 27

kasus (www.radarjogja.co.id).

BPPM Yogyakarta melalui salah satu alat kelengkapannya, yaitu Pusat Pelayanan

Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan (P2TPAKK) Rekso Dyah Utami mencatat

adanya 120 laporan yang masuk pada tahun 2014 (news.viva.co.id). Lebih spesifik lagi kasus

kekerasan terhadap istri mendominasi jumlah tersebut secara mencolok, yaitu 70 laporan.

(14)

Dari data tersebut Sleman menjadi wilayah yang paling sering terjadi kekerasan kepada

perempuan dan anak dengan 42 kasus, disusul Kabupaten Bantul dengan 30 kasus serta Kota

Jogja dengan 29 kasus. Kepala BPPM Yogyakarta, Kristiana Swasti mengatakan bahwa tren

kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami penurunan dari tahun ke tahun, yaitu

dimulai dari tahun 2010 dengan 126 laporan, tahun 2011 dengan 124 laporan, tahun 2012 dengan

133 laporan, dan tahun 2013 dengan 142 laporan (new.viva.co.id).

Dari data tahun 2013, terdapat kasus kekerasan terhadap istri sebanyak 75 korban, kekerasan terhadap anak sebanyak 21 korban, terdapat 4 korban perkosaan, 13 korban kasus kekerasan dalam pacaran, 20 korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan 9 kasus lainnya, total 142 kasus. Yang tersebar di kota Yogyakarta sebanyak 49 korban, di Kabupaten Bantul 33 korban, di Kabupaten Sleman 35 korban, di Kabupaten Gunungkidul 6 korban dan di Kabupaten Kulon Progo 5 korban serta 14 orang dari luar DIY (reskohdyahutami.blogspot.co.id).

Dari data tahun 2014, terdapat kasus kekerasan terhadap istri sebanyak 50 korban, kekerasan terhadap anak sebanyak 21 korban, terdapat 8 korban perkosaan, 6 korban kasus kekerasan dalam pacaran, 31 korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan 10 kasus lainnya, total 120 kasus. Yang tersebar di kota Yogyakarta sebanyak 29 korban, di Kabupaten Bantul 30 korban, di Kabupaten Sleman 42 korban, di Kabupaten Gunungkidul 6 korban dan di Kabupaten Kulon Progo 7 korban serta 6 orang dari luar DIY (reskohdyahutami.blogspot.co.id).

(15)

lain, perlakuan atau penyiksaan secara tidak manusiawi dan sewenang-wenang. Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk (e-journal.uajy.ac.id).

 Tindakan kekerasan fisik ; Adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau

menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya.

 Tindakan kekerasan non fisik; Adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau

kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya.

 Tindak kekerasan psikologis atau jiwa; Adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau

menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban menjadi tidak berani mengungkapkan pendapat, menjadi penurut, menjadi selalu bergantung pada suami atau orang 15 lain dalam segala hal (termasuk keuangan). Akibatnya korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut.

Untuk melihat tindak kekerasan yang terjadi di DIY, penelitian ini menemukan beberapa

hal yang dapat merujuk pada tindak kekerasan termasuk kecenderungan terjadinya kekerasan,

lokasi dan tempat terjadinya kekerasan, kecenderungan pelaku tindak kekerasan, dan tindakan

yang dilakukan bila melihat kekerasan pada perempuan dan anak.

a. Kecendrungan terjadinya tindak kekerasan di DIY

Untuk mengukur kecendrungan terjadinya tindak kekerasan, penelitian menemukan

bahwa, masyarakat DIY yang melihat langsung tindak kekerasan adalah sebagai berikut:

Tabel 2 Kecendrungan masyarakat DIY yang melihat tindak kekerasan pada perempuan dan anak secara langsung

Kecenderungan Responden Persentase

Tidak Pernah 35 12%

Jarang 69 23%

(16)

Sering 34 11%

Berdasarkan data tersebut, penelitian menemukan kecenderungan masyarakat DIY yang melihat dan mengetahui tindak kekerasan tergolong besar, dimana 54% warga DIY pernah melihat tindak kekerasan, 11% yang sering melihat kekerasan tersebut. Sedangkan warga DIY yang jarang meilhat tindak kekerasan adalah sebesar 23%, dan tidak pernah melihat tindak kekerasan adalah sebesar 12%. Sehingga tindak kekerasan pada perempuan dan anak yang terlihat di DIY cenderung tinggi.

b. Lokasi yang rentan terjadinya kekerasan pada perempuan dan anak di DIY

Sedangkan, berdasarkan lokasi dan tempat terjadinya tindak kekerasan pada perempuan

dan anak, peneliti membagi menjadi empat tempat yaitu; sekolah, tempat kerja, publik, dan

rumah tangga. Hasil penelitian menemukan bahwa:

Tabel 3 Lokasi terjadinya tindak kekerasan pada perempuan dan anak di DIY

Tempat dan Lokasi Responden Persentase

Sekolah 15 5%

Tempat Kerja 4 1%

Publik 77 26%

Rumah Tangga 144 48%

Lainnya 49 16%

Tidak Menjawab 11 4%

Jumlah 300 100%

Berdsarkan data diatas, peneliti menemukan bahwa tempat dan lokasi terjadinya tindak

kekerasan pada perempuan dan anak di DIY adalah terbesar terjadi pada rumah tangga sebesar

48%, dan tempat publik sebesar 29%. Kemudian lokasi rendahnya tempat terjadinya tindak

kekerasan adalah sekolah dengan persentase sebesar 5% dan tempat kerja sebesar 1%. Maka dari

(17)

rumah tangga dan ruang publik. Rumah tangga merupakan lokasi yang rentan karena tempat

tersebut merupakan tempat yang sangat sensitive dan wialayahnya sangat private keluarga.

Sedangkan wilayah publik DIY juga menyumbang tingkat yang tinggi, hal ini didukung oleh

tingkat mobilitas di DIY yang tinggi menyebabkan tindak kekerasan pada wilayah publik

menjadi rentan.

c. Kecendrungan Pelaku tindak kekerasan pada perempuan dan anak di DIY

Berdasarkan penelitian kecendrungan pelaku dari tindak kekerasan pada perempuan dan

anak di DIY, peneliti membagi pelaku dalam lima bagian yaitu: anggota keluarga, orang dewasa,

pemuda, teman/rekan, dan lainnya. Peneliti menemukan bahwa:

Tabel 4 kencendrungan pelaku tindak kekerasan pada perempuan dan anak di DIY

Pelaku Responden Persentase Responden PersentasePerempuan Anak

Anggota Keluarga 85 28% 70 23%

Orang Dewasa 138 46% 108 36%

Pemuda 18 6% 69 23%

Teman 14 5% 10 3%

Lainnya 33 11% 32 11%

Jumlah 12 4% 11 4%

300 100% 300 100%

Persentase antara perempuan dan anak cenderung sama. Data diatas menunjukkan bahwa

pelaku dari tindak kekerasan pada perempuan dan anak didominasi oleh orang dewasa dengan

persentase sebesar 46% kekerasan pada perempuan dan 36% kekerasan pada anak. Dan anggota

keluarga menempati posisi kedua yaitu sebesar 28% kekerasan pada perempuan dan 23%

kekerasan pada anak. Kemudian pemuda hanya sebesar 6% kekerasan pada perempuan dan 23%

(18)

kekerasan pada perempuan, dan 3% kekerasan pada anak. Hal ini menunjukkan orang dewasa

cenderung melakukan tindak kekerasan baik itu pada perempuan dan anak.

d. Kepedulian masyarakat DIY terhadap kekerasan pada perempuan dan anak

Penelitian menemukan tindakan yang dilakukan oleh responden apabila melihat tindak

kekerasan pada perempuan dan anak di DIY adalah sebagai berikut:

Table 5 Tindakan yang dilakukan bila meilhat kekerasan pada perempuan dan anak di DIY

TIndakan yang dilakukan Responden Persentase

Mengabaikan 25 8%

Mencegah Tindakan 118 39%

Melaporkan pada Pihak Berwajib 70 23%

Lainnya 78 26%

Missing 9 3%

Jumlah 300 100%

Berdasarkan hasil penelitian menemukan tindakan yang diambil responden apabila

melihat tidak kekerasan pada perempuan dan anak mengabaikannya sebesar 8%, mencegah

tindakan sebesar 39%, melaporkan pada pihak berwajib sebesar 23%, dan lainnya adalah sebesar

26%. Sehingga tindakan yang paling banyak dipilih oleh masyarakat DIY secara umum adalah

mencegah tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat DIY terhadap tindak

kekerasan pada perempuan dan anak termasuk tinggi tetapi cenderung tidak melaporkan pada

pihak berwajib.

Jadi, tindak kekerasan pada perempuan dan anak di DIY tergolong tinggi, berdasarkan

pengamatan masyarakat pada seringnya masyarakat melihat kasus tersebut. Dan berdasarkan

lokasi tempat yang sangat rentan terjadinya kekerasan adalah rumah tangga dan tempat umum.

Pelaku kekerasan tersebut banyak dilakukan oleh orang dewasa. Sedangkan kepedulian

masyarakat terhadap kasus tersebut tergolong tinggi tetapi belum dapat menyelesaikan masalah

tersebut. Dengan tingginya kasus kekerasan pada perempuan dan anak di DIY, permasalahanini

(19)

Salah satu bentuk pasti bentuk nyata perang terhadap kekerasan tersebut adalah, hadirnya

kegiatan “Deklarasi Jogja Tanpa Kekerasan pada Perempuan dan Anak” yang dilaksanakan di

Yogyakarta. Hal ini menjadi dasar nyata bagi DIY untuk mengurangi dan mencegah kasus-kasus

tindak kekerasan pada perempuan dan anak. Dengan adanya deklarasi tersebut dapat menambah

keikutsertaan masyarakat terhadap penanggulangan, pengawasan, dan pencegahan yang langsung

ditujukan terhadap masyarakat sebagai actor utama dalam permasalahan tersebut.

Pemahaman Masyarakat DIY terhadap Tindak Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Dari pembahasan sebelumnya tindak kekerasan di DIY digolongkan dalam rentan. Dengan tingginya permasalahan tersebut pemahaman masyarakat menjadi penting, dimana apabila masyarakat paham pada tindak kekerasan pada perempuan dan anak, maka pencegahan terhadap masalah akan mudah untuk diselesaikan (Chayono, 2005).

Berdasarkan data yang didapatkan dari penelitian ditunjukkan dalam diagram berikut ini:

(20)

Pemahaman masyarakat DIY terhadap kekerasan pada perempuan termasuk tinggi yaitu: sangat paham 41% dari masyarakat DIY paham terhadap permasalahan tersebut, dan 36% yang sangat paham. Sedangkan, terdapat 13% masyarakat yang kurang paham tentang kekerasan tersebut. Dan 8% yang tidak paham sama sekali dengan permasalahan tersebut. Serta 2% yang tidak menjawab pemahaman pada perempuan dan anak.

Berdasarkan data tersebut, tindak kekerasan sangat di pahami oleh masyarakat DIY, akan tetapi dalam kasus tindak kekerasan yang terus berkembang di DIY, juga merupakan permasalah yang rumit untuk dipecahkan, karena data tiap tahun, kasus kekerasan pada perempuan dan anak jumlahnya terus menignkat. Maka, pemahaman masyarakat perlu ditinggkatkan terutama dari sumber-sumber terjadinya kekerasan, sehingg pemahaman saja tidak akan cukup untuk mengurangi kekerasan tersebut.

Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi permasalahan tersebut, faktor dasar yang membentuk sumber-sumber kekerasan yaitu faktor budaya patriarki yang terbentuk dimasyarakat. Dengan kuatnya budaya tersebut membuat posisi perempuan dalam kehidupan akan termarginalisasi (Arivia, 2006). Berdasarkan data yang didapatkan penelitian menemukan bahwa:

(21)

Diagram tersebut menunjukkan bahwa budaya partriarki masih melekat pada masyarakat DIY. Dimana pengetahuan masyarakat yang masih menggunakan budaya partriarki menunjukkan persentase sebanyak 27% yang mendukung budaya patriarki, dan 14% masyarakat DIY yang sangat mendukung budaya tersebut. Terdapat 33% masyarakat yang mengetahui tidak mendukung patriarki, dan 23 % yang tidak mendukugn eksistensi budaya tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa budaya patriarki masih berpengaruh di DIY, dimana eksistensi budaya tersebut menjadi pemicu tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

Pemahaman Masyarakat DIY pada Pengaruh Penyalahgunaan Internet terhadap Tingkat kekerasan pada Perempuan dan Anak

(22)

Akan tetapi, dengan perkembangnya arus-arus informasi membuat informasi tidak teratur bahkan banyak dari konten-konten negatif yang berkembang secara pesat di Internet. Hal tersebut membuat orang secara membuat pengguna menjadi sering menggunakan internet dalam sarana negatif. Penggunaan tersebut sering disalahartikan oleh penggunanya dan menghasilkan tujuan utama dari penggunaan internet kemudian bergeser pada penyalahgunaan fungsi internet.

Pada umumnya penyalahgunaan internet terjadi karena adanya keisengan dari pengguna internet untuk mengganggu konektivitas dari jaringan tersebut. Penyalahgunaan internet juga terjadi karena adanya sekelompok orang atau individu yang memasukkan video-video yang tidak etis. Sehingga akeses informasi yang semakin mudah, juga dapat mempermudah penyalahgunaan internet. Kenyataannyan internet juga memunculkan informasi-informasi yang negatif dan mengkhawatirkan karena dapat SARAS (Suku, Agama, Ras) kekerasan antar golongan dan sexuallitas. Penyalahgunaan Internet memudahkan penggunan memperoleh ajaran-ajaran ekstrim yang menyesatkan, juga tulisan-tulisan yang meresahkan, serta pornografi yang berbahaya bagi perkembangan generasi muda.

DIY merupakan salah satu wialayah dengan mobilitas tinggi, dimana arus infromasi juga sangat banyak dan mudah didapatkan. Kaum-kaum pelajar yang dari luar daerah juga menambah kompleksitas dari mobilitas informasi tersebut. Tingginnya mobilitas tersebut menjadi ancaman bagi meingkatnya penyalahgunaan internet semua kalangan terutama kaum remaja di DIY. Kondisi tersebut menyebabkan DIY menjadi rentan terhadap penyalahgunaan internet yang secara jelas dampaknya adalah tingginnya kasus kekerasan yang dilakukan oleh pengguna, baik berupa kekerasan fisik, maupun kekerasan verbal seperti bullying. Sehingga yang menjadi sasaran dari tindak kekerasan tersebut adalah perempuan dan anak.

(23)

berubah, dan cenderung untuk mengikuti konten yang telah di aksesnya. Sehingga apabila pengguna mengakses konten kekerasan, pornography, dan konten negative lainnya, pengguna cenderung mengikuti prilaku konten yang diaksesnya. Maka dari itu perlu adanya pemahaman masyarakat akan hubungan penyalahgunaan internet pada kekerasan pada perempuan dan anak khsusunya di DIY.

Berdasarkan data yang diolah dalam penelitian ini, masyarakat akan hubungan penyalahgunaan internet pada kekerasan pada perempuan dan anak di DIY menunjukkan bahwa:

Diagram 3; Pemahaman Masyarakat DIY akan Penyalahgunaan Internet terhadap Kekerasan pada Perempuan dan Anak

(24)

masih tergolong rendah. Maka, penyalahgunaan internet dapat menjadi sumber dalam menyumbang kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

Menentukan Solusi yang Tepat terhadap Kekerasan Pada Perempuan dan Anak

Kekerasan pada perempuan dan anak merupakan suatu permasalahan yang telah mengakar di dalam system masyarakat. Walaupun sudah banyak solusi yang diberikan pada stakeholder akan tetapi permasalahan tersebut sangat sulit untuk diatas dan dicegah. Telah banyak cara yang telah akan tetapi waktu ke waktu permasalahan ini terus berkembang, menurut jenisnya dan bentuk kekerasan tersebut.

Untuk mencari solusi yang tepat perlu adanya kajian mendalam tentang sumber-sumber kekerasan pada perempuan dan anak. Pada pembahasan sebelumnya berbagai sumber yang menjadi permasalahan untama yaitu budaya dan penyalahgunaan internet. Maka dari itu penelitian ini berusaha untuk mencari solusi yang tepat dalam penanggulangan kekerasan pada perempuan dan anak secara spesifik dan dapat berbentuk program, ataupun bahkan pergerakan nyata antara masyarakat sebagai actor dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Berdasarkan hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat beberapa sumber utama yang menyumbang kasus kekerasan terbesar secara umum dan di DIY yaitu: Film yang ditonton, perceraian dalam rumah tangga, faktor lingkungan, internet dan penyalahgunaannya, kebiasaan yang terbentuk saat masih muda, dan paksaan dari pelaku kepada korban. Dari penyebab-penyebab utama tersebut penelitian ini menemukan bahwa:

(25)

Berdasarkan grafik tersebut faktor lingkungan merupakan penyumbang faktor tertinggi di masyarakat DIY, faktor lingkungan dapat dikatakan sebagai kebiasaan yang terbentuk dilingkungan yang termasuk dalam budaya dan kebiasaan masyarakat. Hal ini membuktikan peranan budaya menjadi penting dalam mengurangi tindak kekerasan pada perempuan dan anak. Kemudian faktor kedua yang disetujui adalah totonan film para pelaku juga banyak menyebabkan kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Sedangkan penggunaan internet negatif juga menyebabkan tingginya kasus kekerasan pada perempuan dan anak di DIY. Dan faktor paksaan menjadi faktor penyebab terendah kekerasan tersebut. Sehingga, berdasarkan hasil penelitian seluruh unsur berdampak negative pada munculnya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

Dengan melihat data tersebut, masyarakat maupun pemerintah mengatasi permasalahan tingginya kekerasan pada perempuan dan anak. Sedangkan tawaran solusi yang diberikan kepada masyarakat adalah efektifitas penggunaan program-program pengurangan tindak kekerasan pada pereempuan dan anak. Penelitan ini menunjukkan bahwa:

(26)

Berdesarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat DIY setuju dengan program sosialisasi, kampanye dan pengawasan penggunaan internet. Dari grafik tersebut menunjukkan sosialisasi lebih efektif dari pada program-program lainnya yaitu sebesar 98%, kampanye sebesar 93%, dan pengawasan penggunaan internet 87%.

Jadi program-program yang dijalankan perlu mengetahui sumber-sumber dari tindak kekerasan pada perempuan dan anak, terutama pada faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi tindak kekerasan tersebut. Dan menurut masyarakat DIY program sosialisasi menjadi program yang paling efektif bagi masyarakat DIY untuk mengurangi tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

KESIMPULAN

(27)

1. Kasus kekerasan pada perempuan dan anak di DIY sangatlah tinggi, dapat dilihat dari jumlah kasus yang menignkat dari tahun ke tahun, sedangkan kencendrungan masyrakat DIY melihat tindak kekerasan tersebut, juga menunjukkan hasil yang tinggi, sehingga butuh pemahaman dari masyarakat untuk mengetaui permasalahn tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

2. Tingkat Pemahaman masyarakat DIY terhadap kekerasan pada perempuan dan anak dapat dikatakan tinggi, maka eksistensi budaya di DIY tidak berpengaruh pada pemahaman masyarakat DIY. Walaupu secara garis besar menurut masyarakat DIY sumber dari kekerasan tersebut berasal dari faktor lingkungan , kesadaran masyarakat terhadap permasalahan ini mulai tinggi, sehingga mempermudah kinerja pemerintah dalam penanggulangan tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

3. Penyahalgunaan internet berpengaruh pada tingginya kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Hal ini terlihat dari presepsi masayarakat terhadap faktor penyalahgunaan internet sebagai sumber kekerasan pada perempuan dan anak. Selain itu, pemahaman masyarakat pada penyalahgunaan internet masih sangat rendah.

SARAN

Berdasarkan kondisi dan fakta yang terjadi dalam proses penelitian, hasil yang diberikan akan menjadi sumbangan ilmu dan bermanfaat bagi program-program yang dijalankan oleh pemerintah selaku pemangku kebijakan. Selain itu, peran aktif pemerintah juga perlu didukung oleh masyarakat sebagai aktor dalam permasalahan tindak kekerasan pada perempuan dan anak di Indonesia, terutama di DIY. Hasil temuan dalam penelitian ini menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat sebagai beriku:

(28)

guna memberikan pemahaman tentang sumber-sumber dari permasalahan tersebut, sehingga dapat mencegah, menanggulangi, dan meningkatkan kesadaran terhadap tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

2. Pemerintah Daerah dan Nasional perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak penyalahgunaan internet terhadap tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

3. Pemerintah Daerah dan Nasional bersama masyarakat perlu bersinergi dalam mengurangi aktifitas penyalahgunaan internet terutama dikalangan remaja. Pemerintah dalam hal ini melakukan proteksi terhadap konten-konten negative yang berada dalam jaringan internet atau penyaringan konten-konten kekerasan di internet. Sedangkan masyarakat perlu melakukan pengawan terhadap anak, keluarga, maupun sahabatnya yang melakukan tindak penyalahgunaan internet.

REFERENSI

Arivia, Gadis. 2006. “Feminisme Sebuah Kata Hati”, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan dan the Japan Foundation Indonesia.

Chayono, Imam. 2005. “Wajah Kemiskinan Perempuan”, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan dan the Japan Foundation Indonesia.

Rahima, “Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan” http://www.rahima.or.id/index.php?

option=com_content&view=article&id=1410:keluarga-sakinah-keluarga-setara-adil-dan-tanpa-kekerasan&catid=19:al-arham&Itemid=328. Diakses pada 11 Desember 2015. Venny, Adriana. 2003. “Memahami Kekerasan terhadap Perempuan”, Jakarta: Yayasan Jurnal

(29)

http://e-journal.uajy.ac.id/184/2/1SOS03510.pdf, “Definisi dan Arti Kekerasan dalam perempuan dan anak”. Diakses pada 20 Desember 2015

http://www.radarjogja.co.id/blog/2015/04/04/kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-meningkat/ diakses pada 25 Desember 2015

http://news.viva.co.id/nusantara/jogja/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-di-yogyakarta-masih-tinggi diakses pada 25 Desember 2015

LAMPIRAN I: PENYAJIAN DATA

(30)

Berdasarkan hasil pengumpulan data Survei Pemahaman masyarakat Yogyakarta terhadap Kekerasan pada perempuan dan Anak serta hubungannya dengan penyalahgunaan

teknologi dlakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masyarakat mengenai kekerasan

pada perempuan dan anak. Penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling dengan tidak

mencantumkan keterangan dan biodata responden secara terperinci, sehingga menghasilkan data

yang akan digeneralisasikan secara umum.

Hasil pengumpulan data dari 300 responden menunjukkan bahwa:

(31)

6 196 64 25 11 4 300

Selanjutnya penelitian ini dikelompokkan melalui metode coding, berdasarkan indicator-indikator yang mendukung, serta variable-variable dalam penelitian ini sesuai dengan desain penelitian. Kemudian data yang tersusun diintrepetasikan berdasar pada variable pemahaman dan indicator-indikator pendukungnya adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman Masyarakat DIY merujuk pada pertanyaan 1, 2, 3, 4, 10, 11, 12, dan pernyataan 2, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14.

NO. Tidak Paham Kurang Paham Paham Sangat Paham MISSING

(32)

10 43 106 101 35 15

11 14 64 150 60 12

12 7 3 104 174 12

13 16 48 138 85 13

14 49 133 47 58 13

Jumlah 505 831 2760 2415 149

b. Penyahlahgunaan Internet merujuk pada pertanyaan 13, 14, 15 dan pernyataan 10, 11.

No.

Jumlah 171 567 487 226 49

c. Indikator Pendukung merujuk pada perntayaan 5, 6, 7, 8, 9 dan pernyataan 1, 2, 3, 4, 5, 7.

1. Kecenderungan Responden Melihat Tindak Kekerasan pada perempuan dan anak.

Tidak Pernah Jarang Pernah Sering

5 35 69 162 34

2. Kecenderungan lokasi responden melihat tindak kekerasan pada perempuan dan anak

Sekolah Tempat Kerja Publik rumah Tangga Lainnya Missing

6 15 4 77 144 49 11

3. Kecenderungan Tindakan yang dilakukan responden pada tindak kekerasan pada perempuan

dan anak 7

Mencegah

(33)

7 25 118 70 78 9

4. Kecenderungan pelaku tindak kekerasan pada perempuan dan anak menurut responden.

Anggota

Keluarga Orang Dewasa Pemuda Teman Lainnya Missing

8 85 138 18 14 33 12

9 70 108 69 10 32 11

Jumlah 155 246 87 24 65 23

5. Kecenderungan tindakan preventif dalam menurangi jumlah tindak kekerasan pada

perempuan dan anak menurut responden. 2, 3, 4

Solusi Sosialisasi Kampanye Pengawasan PenggunaanInternet

Pernyataan Tidak Setuju Setuju Tidak Setuju Setuju Tidak Setuju Setuju

Penilaian 2 295 16 280 39 261

6. Kecenderungan pemahaman Responden terhadap sumber-sumber tindak kekerasan pada

perempuan dan anak. Pernyataan 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14

No Sumber-sumber Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju Missing

7 Menonton Film 24 32 120 117 7

8 Perceraian 21 60 136 70 13

9 Faktor Lingkungan 6 21 156 164 13

10 Internet 43 106 101 35 15

11 Penyalahgunaan Internet 14 64 150 60 12

13 Kebiasaan 16 48 138 85 13

(34)

LAMPIRAN II: KUESIONER

PERTANYAAN-PERTANYAAN DALAM KUESIONER

A. Pertanyaan pilihan

Jawablah pertanyaan berikut dengan () pada jawaban pilihan

1. Pentingkah peran perempuan dan anak dalam keluarga?

a. Tidak penting b. Kurang penting c. Penting

d. Sangat penting

(35)

b. Kurang penting c. Penting

d. Sangat penting

3. Apakah anda cukup menegerti tentang kekerasan pada perempuan dan anak? a. Tidak mengerti

b. Sedikit mengerti c. Mengerti

d. Sangat mengerti

4. Apakah anda pernah melihat secara langsung tindak kekerasan pada perempuan dan anak?

a. Tidak pernah b. Jarang c. Pernah d. Sering

5. Jika anda melihat orang melakukan tindak kekerasan pada perempuan dan anak, apa yang anda lakukan?

a. Mengabaikan

b. Langsung mencegah tindakan pelaku c. Melaporkan kepada pihak yg berwajib d. Lainnya…

6. Seberapa besar dampak yang terjadi pada kekerasan pada perempuan dan anak? a. Tidak berdampak

b. Sedikit berdampak c. Berdampak

d. Sangat berdampak

7. Apakah anda mengetahui tindakan-tindakan yang termasuk dalam kekerasan pada perempuan dan anak?

a. Tidak Tahu b. Sedikit tahu c. Tahu

d. Sangat Tahu

8. Dari manakah anda sering mendapatkan informasi tentang tindak kekerasan pada

perempuan dan anak?

9. Seberapa sering anda mengakses website yang mengandung kekerasan? a. Tidak pernah

(36)

d. Sering

10. Apakah website yang mengandung kekerasan dapat berpengaruh pada perilaku

penggunanya?

a. Tidak berpengaruh b. Sedikit berpengaruh c. Berpengaruh

d. Sangat berpengaruh B. Pernyataan umum

Apabila anda setuju dengan penyataan isilah kolom dengan (), ket: TS: tidak setuju, KS: Kurang setuju, S: Setuju, SS: Sangat Setuju

NO PERNYATAAN TS KS S SS

1. Jika anda melihat orang melakukan tindak kekerasan pada perempuan dan anak, anda akan melerainya.

2 Sosialisasi dapat mengurangi jumlah tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

3 Kampanye dapat mengurangi jumlah tindak kekerasan pada perempuan dan anak.

4 Penggunaan internet positif dan pengawasan orang tua akan mengurangi keinginan untuk melakukan tindak kekerasan pada perempuan dan anak

5 Anda akan melaporkannya pada polisi atau komisi

perlindungan perempuan dan anak bila sering melihat

(37)

6 Anda menempatkan posisi perempuan dan anak hanya

untuk pekerjaan rumah

7 Menonton film beradegan tidak wajar menyebabkan anak

melakukan hal yang sama dengan apa yang dinontonnya.

8 Perceraian menjadi sumber utama tindak kekerasan pada

perempuan dan anak.

9 Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak disebabkan oleh faktor lingkungan sekitarnya, misalnya sekolah, lingkungan rumah, dan keluarga.

10 Internet merupakan sumber utama yang menyebabkan tindak kekerasan perempuan dan anak.

11 Penyalahgunaan internet membuat orang lebih sering

melakukan tindak kekerasan terutama pada perempuan

dan anak.

12 Efek dari kekerasan akan menimbulkan trauma pada perempuan dan anak.

(38)

melakukan kekerasan juga di masa dewasanya.

Gambar

Tabel 4 kencendrungan pelaku tindak kekerasan pada perempuan dan anak di DIY
Table 5 Tindakan yang dilakukan bila meilhat kekerasan pada perempuan dan anak di DIY
Grafik 1; Sumber-Sumber Terjadinya Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Referensi

Dokumen terkait

Pokja Bidang Konstruksi 3 ULP Kabupaten Klaten akan melaksanakan [Pelelangan Umum/Pemilihan Langsung] dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan konstruksi secara

e - Diklat adalah suatu sistem informasi yang berbasis web dengan teknologi komputerisasi,. merupakan software/perangkat lunak yang dibuat untuk membantu kita

Harga terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga penjual dan pembeli di pasar ini tidak dapat memengaruhi harga dan

• Pelanggan digalakkan untuk bersiap dari dalam bilik dan dilarang berlegar di kawasan locker atau kawasan umum setelah tamat rawatan. Pelanggan

Dengan adanya dukungan dan peran suami seperti adat dan budaya yang ada di Indonesia bahwa keputusan sebagian besar ada pada suami maka akan berpengaruh terhadap

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif mengikuti berbagai kegiatan dan kepanitian yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA), termasuk

S eminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK), merupakan agenda tahunan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, dan tahun 2015

UI System Categorization Pada saat memproses teks yang diinputkan oleh pengguna, sistem juga menyimpan teks tersebut sebagai data training yang telah