• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ide2 politik take home Perkembangan komu (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ide2 politik take home Perkembangan komu (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN KOMUNISME DI INDONESIA SEBELUM MASA PROKLAMASI

Oleh:

Nama : Wahyu Kamdani NIM : 151090321

Kelas : C

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

(2)

I. Pendahuluan

Komunisme di Indonesia memiliki sejarah yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak

jauh dengan hadirnya para orangorang buangan dari Belanda ke Indonesia dan mahasiswa

-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri. Mereka di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan

Malaka (yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi yang

mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan kaum kapitalis dan

pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga menarik perhatian mereka. Gerakan

Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh

kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota

orang Eropa dan Indo Eropa. saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi pun ikut

di dalamnya. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI

Semarang.

Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang, atau sering disebut dengan Kota Merah

setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan

kiri ke dalam SI (Sarekat Islam) menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi

yang diciptakan Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman

bagi pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas banyaknya

pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta membuat personel organisasi

ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin partai atas usulan Haji Agus Salim disahkan oleh

pusat SI. Namun ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja dan di antara

pemimpin mereka dibuang keluar Hindia Belanda. Kehancuran PKI fase awal ini bermula

(3)

besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju karena komunisme di

Indonesia kurang kuat mencoba menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau

menggubris usulan itu kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi

pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah

Hindia Belanda. Para tokoh PKI menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba

menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang PKI untuk melakukannya.1

II. Rumusan Masalah

Bagaimanakah perkembangan komunisme di Indonesia?

III. Kerangka Teori

Paham komunisme atau idealisme komunisme adalah paham yang merupakan sebagai

bentuk reaksi atas perkembangan masyarakat kapitalis yang merupakan cara berpikir masyarakat

liberal. Berkembangnya paham individualisme liberalisme di barat berakibat munculnya

masyarakat kapitalis menurut paham komunisme, mengakibatkan penderitaan rakyat.

Komunsime muncul sebenarnya sebagai reaksi penindasan rakyat kecil oleh kalangan kapitalis

yang didukung oleh pemerintah. 2

Bertolak belakang dengan individualisme kapitalisme, paham komunisme yang

dicetuskan melalui pemikiran Karl Marx memandang bahwa hakikat kebabasan dan hak individu

itu tidak ada. Paham komunisme dalam memandang hakikat hubungan Negara dengan agama

meletakkan pada pandangan filosofisnya yaitu materialisme diakletis dan materialisme historis.

Hakikat kenyataan tertinggi menurut komunsime adalah materi.

1Aufadhuha “sejarah komunisme di indonesia” http://ilhamblogindonesia.blogspot.com/2012/05/sejarah-komunisme-di-indonesia.html di akses pada tanggal 20 juni 2013

(4)

IV. Pembahasan

Kehadiran faham Komunisme di Indonesia tak lepas dari Negara penganut paham

komunis terbesar yaitu uni soviet dan cina. Di Indonesia, paham komunisme ini pernah tumbuh

dan berkembang pada awal abad ke 20. Pada tahun 1914, Sneevliet, seorang tokoh marxisme

Belanda, bersama-sama dengan tokoh sosialis lainnya, seperti J.A. Brandsteder, H.W.Dekker,

dan P.Bergsma, mendirikan suatu organisasi yang diberinama Indische Sociaal Democratische

Vereninging (ISDV). Melalui organisasi ini, dia mengembangkan paham marxis terutama

dikalangan buruh. Buruknya kondisi ekonomi dan buruknya hubungan antara gerakkan politik

dan pemerintah Hindia Belanda dimanfaatkan dengan baik oleh tokoh-tokoh komunis Indonesia,

sehingga pengaruh komunis berkembang pesat.

Sneevliet lahir di Rotterdam 13 mei 1883 dan pada usia20an sneevliet mulai aktif dan

bergabung dalam organisasi politik yaitu social democratische arbeid partij (partai buruh social

demokrat) menjadi anggota dewan kotazwolle hingga tahun 1909. Setelah itu sneevliet diangkat

menjadi pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (national union of rail and tramway

personenl) pada tahun 1911. Dalam organisasi ini sneevliet memimpin pemogokan-pemogokan

kaum buruh di belanda sehingga membuat namanya masuk ke dalam daftar hitam di belanda.

Keberanian sneevliet membuat rezim pemerintahan takut sehingga pemerintah melakukan

penekanan terhadap steevliet melalui federasi serikat buruh. Setelah terjadi konflik yang panas

antara serikat buruh yan dipimpinya dengan federasi serikat buruh, steevliet mundur dari

(5)

Berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging)

Pada saat itu kota Semarang merupakan pusat organisasi buruh kereta api Vereenigde van

Spoor en Tramweg Personnel (VSTP). Pada awalnya Sneevliet di sewa oleh VSTP sebagai

propagondis bayaran untuk menyebarkan ajaran yang dianut oleh buruh tersebut. Melalui

kesempatan inilah Sneevliet berkenalan dengan massa buruh sekaligus menyebarluaskan doktrin

pertentangan kelas yang dianut oleh ideologi komunisme. Sneevliet sadar betul bahwa

keterkaitannya dengan VSTP merupakan sebuah peluang besar untuk menumbuhkembangkan

ideologi komunisme di Indonesia. Pada bulan Juli 1914 bersama personil-personil yang

tergabung dalam VSTP seperti P. Bersgma, J.A. Brandstedder, W.H. Dekker (pada saat itu

menjabat sebagai sekertaris VSTP) mempelopori berdirinya organisasi politik yang bersifat

radikal, Indische Sosial Democratische Vereeniging (ISDV) atau Serikat Sosial Demokrat India.

ISDV kemudian menerbitkan surat kabar Het Vrije Woord (suara kebebasan) sebagai media

propaganda untuk menyebarkan ajaran ajaran komunisme yang menjadi ideologi dari organisasi

tersebut. Oleh karena anggota ISDV terbatas dikalangan orang orang Belanda, maka organisasi

ini belum dapat menjamah dan mempengaruhi organisasi pergerakan nasional seperti Boedi

Oetomo dan Sarekat Islam (SI). Usaha ISDV untuk mendapatkan simpati rakyat tidak berhasil,

karena rakyat ISDV masih menjadi sebuah kesatuan terhadap pemerintah kolonial Belanda.3

Sejak mulanya tendensi revolusioner mengendalikan ISDV, sikapnya militan terhadap isu-isu

lokal (misalnya, kampanye mendukung seorang jurnalis Indonesia yang diadili karena melanggar

hukum pengendalian pers dan juga mengadakan rapat umum menentang persiapan perang yang

dilakukan oleh pemerintah Belanda) dan selain itu ISDV juga melibatkan diri dalam pergerakan

nasional. Pada tahap itu orang Eropa anggota ISDV Belanda boleh masuk Insulinde sebagai

3 Universitas Sumatra Utara “sejarah perkembangan komunisme di Indonesia ”

(6)

anggota individual. Pimpinan Insulinde dan Sarekat Islam bersifat kelas menengah, tetapi senang

dan bersyukur menerima bantuan dari ISDV, dan hanya kaum sosialis siap membantu pada saat

itu. Namun demikian, tak terelakkan konflik mulai timbul antara kepemimpinan ISDV dan

Insulinde, dan juga di dalam ISDV sendiri. ISDV menegaskan bahwa pejuangan melawan

penjajahan Belanda harus didukung kaum sosialis, dan menyatakan bahwa hal ini mencakup

perjuangan melawan sistem kaptialis. Pimpinan kelas menegah Insulinde (seperti para pemimpin

SI kemudian) secara naluriah menolak dengan keras pikiran itu, dan mengedepankan “teori dua

tahapan”. Para pemimpin ISDV semakin gencar untuk terus melakukan pendekatan diri terhadap

para pemimpin SI di Semarang. Disamping itu, Sneevliet dan kawan-kawan juga melakukan

propaganda sampai ke lingkungan angkatan perang. Sneevliet terus melakukan ceramah-ceramah

politk yang tujuannya adalah menanamkan benih-benih komunisme di lingkungan tersebut.

Kegiatan Sneevliet ini sepenuhnya dibantu oleh Branstedder dan van Burink. Atas kerjasama

bersama rekan rekannya Sneevliet akhirnya berhasil menggagasi terbentuknya Raad van

Matrozen en Mariniers (Dewan Kelasi dan Marinir), suatu organisasi dilingkungan militer yang

bersifat radikal revolusioner. Gebrakan yang dilakukan Sneevliet pun diperkuat dengan di

terbitkannya koran Soldaten en Mattrozekrant (koran serdadu dan kelasi) dalam lingkungan

militer. Isi koran ini selalu diwarnai dengan ide-ide komunisme yang mengedepankan ide-ide

perjuangan kelas.4 Dalam ISDV sendiri aliran refomis meninggalkan partai itu di tahun 1916 dan

mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP), yang dalam waktu singkat langsung dekat

dengan pemimpin kelas menengah nasionalis. Di sisi lain, ISDV makin digemari dan dihormati

kaum militan Indonesia karena berani dan berprinsip dalam hal politik lokal. Walaupun diserang

para pemimpin nasionalis karena banyak yang berketurunan Belanda, hal ini tidak merupakan

rintangan dalam perjuangan membangun organisasi revolusioner. Potensi revolusioner ISDV

(7)

yang gemilang pada era itu ditunjukkan tahun 1917-18, saat partai itu segera mendukung

Revolusi Rusia dan dengan cepat menarik implikasi revolusi itu bagi revolusi di negara Eropa

dan Indonesia sendiri. Belajar dari pengalaman Rusia, ISDV mulai mengorganisir serdadu dan

pelaut di Indonesia, dan dengan usaha itu berhasil menarik pengikut sekitar 3,000 orang di

angkatan bersenjata Belanda.

Pada akhir tahun 1918, saat Belanda di ambang revolusi, pemerintah kolonial bingung

karena kelihatannya mungkin ada perebutan kekuasaan revolusioner di Belanda, dan mungkin

sesudahnya di Indonesia juga. Pada saat itu sosial demokrat Belanda kehilangan keberaniannya.

Pemerintah kolonial menjanjikan berberapa perbaikan situasi sehingga situasi revolusioner reda.

Situasi di Indonesia pada tahun 1918-19 penuh gejolak, karena kisis ekonomi menghantam para

pekerja dan timbulkan perlawanan dengan kekerasan di kalangan kaum tani. Kejadian ini

melatarbelakangi pertumbuhan ISDV/PKI secara massal, dan juga menyebabkan reaksi dari segi

pemerintah.5

Memecah SI (Serikat Islam)

Indonesia adalah Negara yang penduduknya mayoritas beragama islam. Corak agamis

dan anti kolonial jelas menjadi daya tarik kuat bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam

organisasi yang beraliran islam. Salah satu organisasi islam yang besar adalah Sarekat Islam. Di

bawah pimpinan sosok kharismatis H. ‘Umar Said Tjokroaminoto (1882-1934) organisasi SI

kian berbobot. Tokoh ini sudah pernah berurusan dengan aparat hukum kolonial karena faham

anti kolonial yang jelas. Pada masa itu berurusan dengan aparat dalam arti melawan penguasa

(8)

dapat menaikkan martabat dalam pandangan rakyat. Tentu saja juga memiliki resiko besar,

termasuk nyawa taruhannya.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, kaum komunis menempuh cara licik. Pendekatan

Sneevliet dilakukannya melaui pimpinan SI Semarang yakni Semaun dan Darsono. Mereka tidak

merasa perlu bersusah payah meraih pengikut dari warga yang belum menjadi anggota suatu

partai, tetapi mencoba menyusup masuk Sarekat Islam dan usahanya membuahkan hasil, banyak

anggota SI yang terpengaruh. Dengan bantuan Semaoen –tokoh SI yang kelak menjadi tokoh

senior PKI– organisasi SI pecah menjadi SI Putih dan SI Merah sebagai akibat pembelotan para

anggotanya. Tjokroaminoto bersikap tegas dengan kebijakan larangan beranggota ganda. Melalui

pengaruhnya dalam SI dan serikat-serikat buruh, ISDV mengalami perkembangan yang cukup

pesat. Perkembangan ISDV juga disebabkan infiltrasi ke dalam tubuh SI yang dianjurkan oleh

Sneevliet kepada pengikutnya untuk merangkap sebagai anggota SI. Bahkan pada tanggal 25

Desember 1919 tercapai persetujuan dengan SI yang menghasilkan pembentukan ”Persatuan

Pergerakan Kaum Buruh yang meliputi 22 Serikat Buruh dengan 72.000 anggota yang sebagian

besar terdiri dari buruh Central Serikat Islam (CSI) Semarang. 6 Sebelum munculnya Serikat

Islam juga sudah banyak terbentuk serikat-serikat buruh yang menjadi wadah perkumpulan dan

konsolidasi kepentingan mereka.

Pada bulan Oktober 1921 dilaksanakan kongres SI yang ke VI di Surabaya. Pada saat itu

terjadi suasana panas mewarnai jalannya kongres karena adanya perdebatan yang terjadi diantara

fraksi komunis yang diwakili oleh Darsono dan Tan Malaka dengan pimpinan SI pada saat itu

Haji Agus Salim. Pada kongres tersebut kemudian diputuskan bahwa dilarangnya keanggotaan

rangkap. Artinya anggota SI tidak lagi boleh menjadi anggota dari organisasi lain, jadi bagi

(9)

anggota yang selama ini merangkap sebagai anggota dari organisasi lain harus memilih antara SI

atau organisasi lainnya tersebut. Keputusan ini sontak mendapat perlawanan dari faksi komunis

karena hal tersebut akan sangat merugikan bagi mereka.7 Sadar bahwa keluar dai SI merupakan

sesuatu yang akan sangat merugikan bagi kekuatan PKI, maka Semaun selaku ketua PKI dan SI

Semarang pada saat itu menolak keputusan kongres dan justru menghimpun kekuatan didalam

tubuh SI. Semaun kemudian melakukan propaganda dalam tubuh SI dan mengatakan bahwa apa

yang telah diputuskan dalam kongres merupakan sebuah sesuatu yang keliru dan oleh sebab itu

harus di tinjau kembali keputusannya. Namun, pimpinan SI pada sat itu tetap bersikeras pada apa

yang telah diputuskan dalam kongres. Dengan keputusan tersebut maka anggota-anggota SI yang

tidak mau keluar dari PKI dikeluarkan dari tubuh SI. Sekalipun keputusan ini akan mengurangi

jumlah anggota, namun pimpinan SI tetap menganggap bahwa keputusan ini merupakan hal

terbaik yang harus dilakukan.

Semaun dan para anggota SI yang juga merupakan PKI tidak tinggal diam dengan

keputusan ini. Mereka tetap tidak mau menerima hasil kongres dan tidak keluar dari SI. Mereka

kemudian membentuk SI tandingan yang di sebut sebagai SI Merah, sedangkan SI yang

menerima hasil kongres tersebut dinamakan sebagai SI Putih. SI tandingan ini tidak hanya terjadi

ditingkat pusat, melainkan juga samapi ke cabang di daerah-daerah. Pada kongres PKI II di

Bandung Maret 1923 dirumuskan secara jelas bahwa mereka menentang secara terang-terangan

SI sebagai kekuatan politik, dan mengubah SI merah menjadi Sarekat Rakyat (SR) sebagai

organisasi yang berada dibawah PKI.

Pergerakan Partai Komunisme Indonesia

(10)

Pemerintah Hindia Belanda melihat bahwa kekuatan komunis sudah mulai berkembang

dan semakin menyebabkan ancaman karena aksi yang dilakukan anggotanya. Kemudian

pemerintah Hindia Belanda mengusir tokoh-tokoh komunis seperti Muso, Alimin, Darsono dan

Semaun. Tokoh-tokoh ini menyebar ke Asia hingga Eropa. Namun tidak lama kemudian pada

akhir tahun 1923 tokoh-tokoh komunis tersebut kembali ke Hindia Belanda.

Pada Konggres PKI tahun 1924 di kota Gede Yogyakarta,dibahas mengenai rencana

gerakan bersama di seluruh Indonesia. Rencana pemberontakan ini pada awalnya tidak

memperoleh persetujuan Komintern. Aksi-aksi seperti pemogokan mendapat perhatian serius

oleh pemerintah kolonial Belanda bahkan rapatrapat PKI juga dibubarkan. Januari 1926 Musso,

Boedisoetjitro, dan Soegono rencananya akan ditangkap oleh Gubernur Jendral van Limburg

Stirum tetapi mereka telah pergi ke Singapura. Kekacauan hari demi hari semakin memuncak

dan hampir semua pimpinan PKI berada di luar Indonesia, seperti di Singapura ada Alimin,

Musso, Boedisoetjitro, Soegono, Subakat, Sanusi, dan Winata. Sedangkan Tan Malaka di Manila

dan Darsono di Uni Soviet. Akhirnya “PKI melakukan gerakan dengan “gaya lokal” dan aksi

lokal (local action) yang di antaranya tidak banyak berkaitan dengan komunisme teoritis. Di

Banten partai ini menjadi Islam yang berlebihlebihan. PKI berkembang pesat di Sumatra dan

Jawa tanpa koordinasi yang kuat, ketika partai ini semakin bertambah menarik bagi unsur-unsur

masyarakat pedesaan yang menyukai kekacauan.”8

Pada bulan Januari 1926 ternyata beberapa tokoh PKI seperti Alimin, Sanusi, Subakat,

Winanta, Musso, Sugono dan Budisutjitro telah berkumpul di Singapura untuk membicarakan

keputusan Prambanan. Kemudian mereka memutuskan Alimin untuk menemui Tan Malaka dan

8 Wahyu wirawan, “AKSI PARTAI KOMUNIS INDONESIA 1926-1965

(11)

membicarakan mengenai keputusan Prambanan tersebut. Pada bulan Maret 1926, keputusan itu

diterima oleh Tan Malaka dari Alimin di Manila. Tan Malaka kemudian menilai bahwa

keputusan tersebut terlalu tergesa-gesa untuk dilakukan. Ia menilai bahwa pada saat itu PKI

belum tepat untuk melakukan pemberontakan, dengan alasan PKI belum solid dan basis massa

yang belum sepenuhnya sadar dan revolusioner. Kemudian Tan Malaka menjelaskan bahwa

keputusan itu tidak legitimate karena belum dibicarakan dalam Komintern. Tan Malaka

menjelaskan bahwa PKI merupakan salah satu anggota Komintern, jadi setiap pergerakan yang

akan dilakukan harus terlebih dahulu dibahs dalam Komintern. Pada kesempatan itu Tan Malaka

lima alasan sebagai nasehat politik, yaitu9;

1. Putusan Prambanan tersebut diambil tergesa gesa, kurang dipertimbangkan secara

matang

2. Putusan semata-mata karena provokasi dari pihak lawan dan tidak seimbang dengan

kekuatan sendiri

3. Putusan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Komintern

4. Tidak cocok dengan taktik dan strategi komunis, ialah massa aksi

5. Kalaupun dilaksanakan akibatnya akan sangat banyak merugikan pergerakan rakyat di

Indonesia.

Setelah pemberontakan yang dilakukan PKI pada tahun 1926/1927 gagal, para tokoh

tokoh komunis pun semakin rawan keberadaannya di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda

pada saat itu memerintahkan secara khusus Polisi Pengawasan Politik untuk menangkap para

kader PKI. Hal tersebut jelas membuat PKI menjadi tercerai-berai karena mereka selalu

(12)

mendapat pengawasan ketat dari pemerintah Hindia Belanda pada saat itu. Para pimpinan PKI

pun hanya dapat melakukan pertemuan di luar negeri saja, sehingga kekuatan yang mereka susun

tidak terbangun secara optimal.

Kebangkitan PKI mulai terlihat setelah di laksanakannya kongres keenam Komintern

pada bulan Agustus 1928 di Moskow. Agenda yang dibahas paada saat itu masih seputar

mengenai kegagalan kudeta yang dilakukan di Indonesia. Tokoh tokoh PKI yang hadir pada saaat

itu seperti Musso, Tan Malaka dan Semaun mengalami perselisihan sepanjang jalannya kongres.

Hal ini tidak terlepas dari pembahasan mengenai tindakan dari keputusan Prambnan tersebut.

Perselisihan ini membuat kepemimpinan didalam tubuh PKI menjadi terpecah.

Karena telah mencoba untuk melakukan pemberontakan, pemerintah Hindia Belanda

menjadi sangat anti dengan nama komunisme. Gerakan yang dilakukan PKI baru mulai nampak

ketika terbentuknya Sarekat Kaum Buruh Indonesia (SKBI). Namun aktivitas mereka di curigai,

dan beberapa tokoh SKBI ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1932 mereka

bangkit kembali dengan membentuk komite persatuan yang di sistemnya lebih dikenal dengan

nama Organisasi Sel. Komite ini terus menerus melakukan tuntutan revolusionernya antara lain

menuntut pembebasan bagi tahanan-tahanan politik yang selama ini ditangkap oleh pemerintah

Hindia Belanda.

Komunisme telah mempunyai garis perjuangan yang berbeda, sehingga tokoh komunis

yang pada saat itu masih berada di Moskow dikirim pulang ke negaranya masing masing. Musso

diperintahkan oleh Komintern untuk pulang ke Indonesia dan menjelaskan perubahan garis

perjuangan komunisme tersebut. Pada tahun yang sama, Musso sudah sampai di Surabaya, dan

(13)

tanah seperti Sudjono, Pemudji, Sukindar dan lain lain. Musso kemudian membentuk Central

Comite (CC) PKI baru pada tahun 1935. Kelompok ini bertugas untuk membina tokoh-tokoh

muda menjadi orang yang mempunyai pemikiran revolusioner. Tokoh yang kemudian dapat

dijaring oleh kelompok ini adalah Tan Liang Djie dan Mr. Amir Sjarifuddin.

Pergerakan PKI mengalami perubahan sejak kembalinya Musso dari Moskow. Kader

kader PKI justru disarankan untuk masuk kedalam Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), sebuah

gerakan yang terbentuk pada tahun 1937 dan memiliki azas kooperasi dengan pemerintah

Belanda. Hal ini dikarenakan sikap Gerindo yang dengan tegas anti-fasis sehingga menarik

perhatian dari kader-kader PKI. Didalam Gerindo inilah kemudian kader-kader PKI (terutama

kader muda) di berikan pemahaman mendalam mengenai doktrin komunisme. Pemuda pemuda

yang terkader pada saat itu antara lain adalah Wikana, D.N. Aidit, Sudisman, Anwar Kadir,

Tjugito dan Mr. Joseph.10

Memasuki era pemerintahan yang dikuasai oleh Jepang, gerakan komunisme di Indonesia

jelas terang-terangan telah berubah haluan. Komunis yang sebelumnya selalu melakukan

perlawanan terhadap kapitalis pemerintah Hindia Belanda kini justru menempatkan Jepang

sebagai musuh baru dalam perjuangan politiknya. Hal ini tidak terlepas dari apa yang terjadi di

eropa saat itu, dimana Moskow sebagai pusat kekuatan komunis di dunia mulai merasa terancam

dengan keberadaan Italia dan Jerman yang bersatu dalam kekuatan fasis. Hal ini membuat

Komintern mengambil kebijakan untuk memerintahkan seluruh anggotanya (termasuk PKI)

untuk melakukan perlawanan terhadap fasisme. Bahkan Komunisme menjalin kerjasama dengan

kapitalisme yang anti-fasis untuk melawan kekuatan fasisme itu sendiri. Hal ini disebabkan,

karena tokoh Komitern di Moskow menganggap bahwa kekuatan fasisme jauh lebih berbahaya

(14)

dari kekuatan kapitalisme itu sendiri, sehingga perlawanan terhadap fasisime tersebut harus

diperoritaskan terlebih dahulu.

V. Kesimpulan

Komunis lahir saat kondisi di Hindis Belanda ( Indonesia ) sedang mangalami ketertindasan

akibat system yang diterapkan oleh Belanda, Belanda mencerminkan praktek Kapitalisme dan

Feodalisme, Menindas kaum kecil seperti buruh dan petani. Pada awalnya Komunis hendak

menghancurkan belanda dan islam, tetapi melihat begitu besarnya rakyat yang beragama islam

yang itu bisa dimanfaatkan sebagai massa pro komunis dan akhirnya mereka juga menerapkan

ide yang awalnya ditentang oleh mereka ( ide untuk tidak menghancurkan islam tapi justru

memanfaatkannya dating dari Tan Malaka, ia menganggap dalam menerapkan teori komunis

harus melihat konteks wilyah ). Di awal – awal lahirnya, massa yang dibidik adalah buruh, tetapi

seiring dengan berjalannya waktu mereka juga melihat bahwa petani bisa dijadikan basis massa

yang lebih solid dari pada buruh, akhirnya mereka pun mengalihkan perhatiannya kepada kaum

petani dan juga masyarakat islam. Faktor yang turut berpengaruh terhadap besarnya organisasi

ini adalah apa yang mereka tawarkan kepada petani, buruh serta kamuflase nilai komunis yang

disamakan dengan nilai islam. Hal ini karena kondisi saat itu benar – benar kondisi yang berat

dan menekan kaum kecil seperti buruh dan petani. Dengan propaganda mereka yang dianggap

pro rakyat kecil, mereka pun mendapatkan simpati yang cukup besar.

(15)

1. Aufadhuha “sejarah komunisme di indonesia” di akses pada tanggal 20 juni 2013

http://ilhamblogindonesia.blogspot.com/2012/05/sejarah-komunisme-di-indonesia.html 2. “pengertian komunisme” di akses pada tanggal 20 juni 2013

http://www.kumpulanistilah.com/2011/06/pengertian-komunisme.html

3. Universitas Sumatra Utara “sejarah perkembangan komunisme di Indonesia ” di akses

pada tanggal 30 juni 2013

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28277/4/Chapter%20II.pdf 4. Sisil kautsar “Sejarah Komunisme Di Indonesia” di akses tanggal 30 juni

2013http://sisilkautsar.blogspot.com/2012/12/sejarah-komunis-di-indonesia.html

5. “Sejarah Komunis Di Indonesia” di akses tanggal 30 juni 2013

http://mastampu.blogspot.com/2012/08/sejarah-komunis-di-indonesia.html ,

6. Wahyu wirawan, “AKSI PARTAI KOMUNIS INDONESIA 1926-1965” ,diakses pada

tanggal 30 juni 2013 http://www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia

%20Vitae/vol21no1april2007/AKSI%20PARTAI%20KOMUNIS%20INDONESIA

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk pengaruh budaya Eropa ter- hadap kuliner Indonesia (1901-1942) dapat diidentifikasi melalui berbagai menu populer yang banyak digemari masyarakat Hindia-Belanda

Usaha untuk membina hubungan baik juga dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap Indonesia walaupun Australia lebih mendukung Belanda dalam masalah Irian Barat..

Selanjutnya, pada tahun 1965 dilakukan impor sapi perah bibit FH yang mempunyai silsilah dari Belanda, dan hasilnya cukup baik dalam meningkatkan produksi susu di Indonesia,

Untuk itu pemerintah semakin gencar mensosialisasikan Pendidikan Anak Usia Dini diseluruh Indonesia, sehingga masyarakat baik di Kota maupun di Pedesaan akan semakin sadar

Perkembangan perusahaan yang semakin pesat membuat perusahaan harus mengembangkan sistem yang ada sehingga dapat berkembang lebih baik.. PT Yakult Indonesia

Badan eksekutif menjelaskan bahwa perkembangan politik diindonesia ini dilakukannya perubahan-perubahan politik sehingga sistem politik indonesia menjadi lebih

SMK Negeri 1 Tanjung Selor telah menjadi institusi pendidikan yang berkembang dengan pesat, namun belum menerapkan sistem informasi dan teknologi informasi dengan baik sehingga

Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap kebijakan pemerintah agar negara hukum kemakmuran dapat berjalan dengan baik di Indonesia..