SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno
Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh
ZAIRUDDIN
NIM 11408206
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
NOTA PEMBIMBING
Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan seperlunya, maka skripsi saudara :
N a m a : Zairuddin
N I M : 11408206
Jurusan/Program : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam
Judul : PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA
AL-QUR’AN SECARA TARTIL MELALUI
PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010)
Sudah dapat diajukan pada sidang munaqosyah.
Alhamdulillahi robbil 'alaamin, kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik dan lancar tanpa halanagan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga
selelu tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa Nur Illahi yang menyinari segenap alam dan yang semoga kita
tergolong ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya besuk di hari qiyamah. Amin
Allahumma Amin.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan dan pengerahan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut
penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, dan dengan iringan doa
semoga amal baik yang telah diberikan, mendapat pahala disisi Allah SWT.
Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Yth:
1. Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag. selaku pembimbing yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya
dalam memberikan bimbingan, pengarahan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
3. Kepala SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang
memberikan waktu kepada penulis, untuk melakukan penelitian tindakan kelas
guna menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Ibu guru SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010
yang telah memberikan semangat dan kerjasamanya.
5. Istri dan segenap keluarga yang telah memberikan doa restunya kepada
kekurangan. Untuk itu sumbang saran dan kritik untuk terciptanya tulisan yang lebih
sempurna sangat penulis harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umumnya dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amiiin..
Salatiga, Juli 2010
Zairuddin, 2010, PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010) Pembimbing : Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag
Kata kunci: Membaca Al Qur’an secara tartil dan metode Qiroati
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan metode pembelajaran bagi pengajaran pelajaran PAI/BTQ di Sekolah dasar. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah dapatkah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010?
Penelitian tindak kelas ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu : tes, observasi dan catatan selama penelitian berlangsung, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran membaca Al Qur’an di SDN Pandanretno Kecamatan Kajoran melalui penggunaan metode qiroati.
1 A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini
oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman
yang ke tiga. Beriman kepada Al-Qur’an harus dibuktikan dengan mempelajarinya
dan mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Qur’an berarti belajar
membunyikan huruf-hurufnya. Dalam hal mempelajari bacaan Al-Qur’an maka
penekanan utamanya adalah kefasihan pembacaan secara tartil, sebagaimana firman
Allah SWT dalam surat al Muzammil ayat 4-5:
Artinya: “Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami
akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”
Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. Pada
tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir A l-Qur’an.
Di antara tugas yang memerlukan keseriusan dan kepedulian yang ekstra dari
setiap pendidik adalah tugas mencari metode terbaik untuk mengajarkan Al-Qur’an
satu pokok dalam ajaran Islam. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan
fitrahnya dan hati mereka pun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa
nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan.
Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Qur’an menghadapi
problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah
input siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran
baca tulis Al-Qur’an yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut,
bahwasannya ada diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an, ada yang belum lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Qur’an.
Heterogenitas siswa ini menjadi problem ketika mereka berkumpul dalam satu kelas.
Problem yang dihadapi guru dalam pengajaran bacaan Al-Qur’an tak lain adalah
dalam menentukan metode dan pendekatan yang tepat sehingga para siswa mampu
meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum.
Sarana prasarana yang menunjang pembelajaran baca tulis Al-Qur’an pun
belum terpenuhi, diantaranya buku prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat
peraga dan lain-lain, sehingga pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang
pada akhirnya proses belajar mengajar berjalan sangat lambat. Walaupun belum
menemukan metode dan pendekatan yang sesuai, sarana prasarana yang sederhana
guru mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya
dengan metode dan pendekatan yang pernah mengantarkannya bisa membaca dan
menulis Al-Qur’an.
Setelah pembelajaran yang dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar
yang kurang memuaskan. Diantara hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak
ditemui kesalahan siswa dalam membaca Al-Qur’an, misalnya ada beberapa siswa
yaitu terkadang bacaan mad tidak dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah
dibaca panjang. Siswa juga masih banyak melakukan kesalahan dalam membaca
hukum bacaan yang dibaca dengung dan yang tidak dibaca dengung.
Sebagai gambaran bahwa pada kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang di mana penulis mengajar pada akhir tahun ajaran 2009/2010 ini para
siswa masih mengalami kesulitan dalam hal membaca Al-Qur’an secara tartil dan
lancar. Untuk itu penulis tertarik untuk menerapkan metode pembelajaran membaca
Al-Qur’an dengan cara yang baru yaitu penggunaan metode qiroati yaitu metode yang
dapat mempermudah dan mempercepat anak agar mampu membaca Al-Qur’an
dengan baik dan benar. Dalam metode ini diawali dengan memperkenalkan
huruf-huruf bersyakal tanpa dieja, namun langsung diberikan contoh membaca oleh guru
dengan benar dan tartil (Dahlan Salim Zarkasi; 2006).
Untuk itu penulis berkeinginan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an
bagi anak didik dengan memilih metode baru. Sehingga penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tindakan kelas di SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang tempat penulis selama ini bertugas sebagai guru PAI. Adapun judul skripsi
ini adalah:
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SECARA
TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan
Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun
2010)
B. Rumusan Masalah
2. Apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Tahun 2010?
Dari rumusan masalah di atas maka penulis menggunakan alternatif
penggunaan metode qiroati untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an
secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010. Hal ini mengingat akar masalah yang menjadi kendala dari rendahnya kemampuan membaca al Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno
Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 adalah karena kesalahan metode yang
diterapkan selama ini yang kurang memberikan contoh langsung kepada siswa.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui penerapan metode qiroati pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010
2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan
kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010.
D. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi
Arikunto; 1996). Adapun hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah bahwa
"Penerapan penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca
Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
E. Kegunaan Penelitian
1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang penggunaan
metode qiroati.
2. Sebagai salah satu strategi atau upaya meningkatkan kemampuan menbaca Al-Qur’an bagi siswa.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran Al-Qur’an yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
4. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.
5. Sumbangan pemikiran mengembangkan sistem kegiatan belajar mengajar di
sekolah.
F. Batasan Operasional
Agar tidak menyimpang dari pokok masalah yang menjadi inti dari judul
tersebut peneliti memberi batasan sebagai berikut:
1. Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Secara Tartil
Kata "peningkatan" berasal dari kata "tingkat" yang berarti keadaan atau
kwalitas yang lebih tinggi. Sedangkan kata "peningkatan" berarti usaha atau
proses meningkatkan. Sedangkan kemampuan berasal dari kata ”mampu” yang
berti sanggup melakukan sesuatu.
Kata membaca berasal dari kata ”baca” yaitu melihat serta memahami isi
dari apa yang tertulis. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab suci agama islam.
Adapun tartil berasal dari bahasa arab yang berarti perlahan-lahan. Sehingga
yang penulis maksud di sini adalah usaha secara sungguh sungguh untuk
dipraktekkan secara langsung dengan membaca Al-Qur’an secara perlahan dan
jelas.
2. Penggunaan Metode Qiroati
Kata penggunaan berasal dari kata guna yang berarti perbuatan, atau cara
untuk mengambil manfaat atau mendatangkan kebaikan. Sedangkan kata metode
berarti cara kerja bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna
mencapai tujuan yang ditentukan (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan:1994). Adapun qiroati adalah nama dari sebuah metode belajar
membaca Al-Qur’an yang ditemukan oleh KH Dachlan Salim Zarkasi. Secara
umum ciri dari metode qiroati adalah Guru menjelaskan dengan memberi contoh
materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri (CBSA) Siswa
membaca tanpa mengeja. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca
dengan tepat dan cepat.
G. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Sebelum penulis memberikan laporan penelitian maka perlu kiranya penulis
memberikan landasan teori tentang jalannya penelitian kali ini. Hal ini
dimaksudkan agar penelitian ini berjalan sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah
yang benar. Ada beberapa jenis penelitian pendidikan yang berbeda. Perbedaan
tersebut terkait dengan jenis tindakan, setting, intrumen dan metode penelitian (RC
Mishra: 2005). Adapun penilitan yang dilakukan penulis ini adalah sebuah
penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang mengkombinasikan prosedur
penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam
disiplin inkuri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi sambil
Penulis melakukan semacam ini karena penelitian yang akan penulis
lakukan memenuhi kreteria sebagai berikut:
1. Problem yang dipecahkan merupakan praktis yang dihadapi penulis.
2. Peneliti memberikan perlakuan/treatment yang berupa tindakan terencana
3. Langkah- langkah yang peneliti lakukan berbentuk siklus.
4. Adanya langkah berfikir reflektif (Sukardi: 2008).
Selain itu penelitian ini juga bersifat eksperimental, karena bertujuan
mendeskripsikan apa yang akan terjadi bila variabel- variabel tertentu dikontrol
secara tertentu (Faisal: 1982). Dalam hal ini veriabel yang dikontrol dan
dimanipulatisi adalah metode pengajarannya.
Penelitian ini sangat tepat digunakan untuk meningkatkan praktik mengajar
supaya lebih efektif, meningkatkan pemahaman tentang praktik mengajar, dan
dapat digunakan untuk meningkatkan situasi belajar mengajar yang lebih baik
(Bell: TT).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan
bagaimana suatu bentuk teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil
yang diinginkan dapat tercapai.
Menurut Suharsimi Arikunto berdasarkan tujuannya, penelitian tindakan
dibagi menjadi 4 yaitu
a. Penelitian tindakan partisapatisi (participatory action research) yang
menekankan keterlibatan masyarakat agar merasa memiliki program tersebut.
b. Penelitian tindakan kritis (critical action research) yang menekankan adanya
c. Penelitian tindakan institusi (institutional action research) yaitu yang
dilakukan pihak pengelola sekolah.
d. Penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu penelitian yang
dilakukan oleh guru baik sendiri maupun bekerjasama dengan peneliti lain
(Arikunto, dkk: 2008).
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana
guru sangat berpengaruh sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam
bentuk ini tujuan utama penelitian kelas ini ialah untuk meningkatkan
praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara
penuh dalam proses perencanaan tindakan dan refleksi. Kehadiran pihak lain
dalam penelitian ini peranannya tidak dominan. Hal ini bertujuan agar guru dapat:
a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktek mengajarnya.
b. Melakukan PTK tanpa mengganggu tugasnya.
c. Mengkaji pemasalahan yang dialami.
d. Mengembangkan profesionalismenya (Arikunto, dkk: 2008).
Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang
berkesinambungan. Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa model penelitian
tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus
meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut
dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang
hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung
dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Suharsimi Arikunto, dkk:
2008). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya
adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata
dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam
mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang
terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.
Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip
sebagai sebagai berikut:
a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu
benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam
jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan.
b. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak
boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.
c. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih
dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.
d. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dan
tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap
penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.
e. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang
berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan
terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi
tantangan sepanjang waktu (Arikunto, dkk: 2008).
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart,
yaitu berbentuk spiral dan siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap
siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan)
sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada sikius I
dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus
spiral dan tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1.1
berikut:
Gambar 1.1
Denah Pelaksanaan Tindakan
Penjelalasan alur di atas adalah:
a. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan
masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrumen
penelitian dan perangkat pembelajaran.
b. Kegiatan dan pengamatan meliputi timdakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai
upaya membangun pemahaman konsepsi siswa serta mengamati hasil atau
dampak dan diterapkannya media pembelajaran media elektronik.
c. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak
dan tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh
d. Rancangan/rencana yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pangamat
membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya
(Arikunto; 2008)..
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3 dimana
masing-masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan
membahas satu bab pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir
masing-masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan
kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan
pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai:
a. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi
pembelajaran di kelas.
b. Alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode
baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran
sejawat.
c. Alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan
tambahan atau inovatif.
d. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan
peneliti.
e. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik
terhadap pemecahan masalah kelas (Madya; 2008).
Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian
tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang
diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan
sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan (Madya:2008).
Sehingga semua aspek yang menjadi ketentuan dalam penelitian tindakan kelas
terpenuhi dalam penelitian yang akan penulis lakukan nantinya.
2. Subyek Penelitian a. Waktu Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan pada pertengahan Mei sampai awal Juni.
Penelitian ini dilakukan pada akhir semester genap tahun ajaran 2009/2010.
Penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 minggu dengan 3 siklus dengan
masing- masing siklus selama 2 minggu atau 2 kali pertemuan.
Siklus I hari Sabtu, 30 Mei 2010.
Siklus II hari Sabtu, 6 Juni 2010.
Siklus III hari Sabtu, 13 Juni 2009.
b. Tempat Penelitian
Penilitian ini penulis lakukan di ruang yang biasa untuk melakukan proses
belajar-mengajar siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010.
c. Subyek Penelitian
Subyek penelitian kali ini adalah seluruh siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang berjumlah 16 anak
yang terdiri dari 12 murid laki- laki dan 4 murid perempuan.
3. Langkah- Langkah a. Perencanaan
1) Menyusun tujuan instruksional.
3) Menyusun pre tes dan post tes.
4) Memilih materi pembelajaran.
5) Mendesain pedoman observasi sistematis bagi kerja guru selama
pelaksanaan tindakan.
b. Tindakan
1) Melaksanakan absesnsi siswa.
2) Melaksanakan pre test kepada siswa.
3) Analisis pre tes terhadap siswa untuk mengukur sejauh mana materi telah
dikuasai sebelumnya..
4) Memberikan pengarahan kepada siswa tentang operasional pembelajaran
dan tentang metode yang akan digunakan.
5) Guru memberikan contoh membaca.
6) Guru mendengarkan siswa menirukan bacaan guru.
7) Guru mengadakan post tes.
c. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan,
dianalisis, dan dievaluasi oleh peneliti, kemudian guru dapat merefleksi diri
tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, Faktor-faktor
pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal guru dan siswa.
Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilamana
perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi
(Madya:2008).
4. Instrumen Penelitian
Adapun instrument/alat penelitian ini adalah sebagai berikut :
Rencana pembelajaran ini merupakan suatu rancangan pembelajaran yang
akan dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar.
b. Materi yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang dipilih guru sesuai dengan
materi pembelajaran.
c. Buku Penunjang Lembar observasi pembelajaran.
Lembar pembelajaran ini digunakan untuk mengetahui peningkatan
kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil bagi siswa setelah
menggunakan metode qiroati.
d. Instrumen Manusia
1) Peneliti
Dalam penelitian tidakan kelas sebenarnya peneliti juga masuk
sebagai intrumen penelitian. Sebagai instrumen penelitian seorang peneliti
haruslah memiliki karakter sebagai berikut:
a) Responsif.
b) Adaptif.
c) Menekankan aspek holistik.
d) Pengembangan berbasis pengetahuan.
e) Memproses dengan segera.
f) Mampu memberikan klarifikasi dan kesimpulan.
g) Kesempatan eksplorasi (Wiriaatmadja:2004).
2. Mitra
Dalam penelitian tindakan kelas diperlukan peran mitra sejawat untuk
melakukan observasi terhadap guru sebagai peneliti. Hal ini diperlukan
untuk menilai efektifitas jalannya kegiatan belajar-mengajar. Namun
proses tindakan yang berupa kegiatan belajar-mengajar. Dalam penelitian
ini penulis menjadikan guru wali kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran
Kab. Magelang sebagai mitra penulis.
5. Pengumpulan Data
a. Sumber Data
1) Dokumentasi.
2) Hasil tes membaca al Qur’an siswa sebelum menggunakan metode qiroati.
3) Hasil tes membaca Al Qur’an siswa setelah menggunakan metode qiroati..
4) Hasil pengamatan teman sejawat yang membantu sebagai mitra.
b. Cara Pengambilan Data
1) Metode dokumentasi
2) Lembar kerja siswa pada siklus I, II dan III.
3) Tes formatif I.
4) Lembar pengamatan dari teman sejawat sebagai kolaborasai dalam
penelitian
6. Analisis data
Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga
dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan maka
digunakan analisis data kuantitatif. Pada metode observasi digunakan data
kualitatif cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam
proses belajar mengajar sebagai berikut :
a. Merekapitulasi hasil tes .
Dalam penelitian tindakan kelas, peningkatan prestasi belajar siswa
sebagai hasil tindakan merupakan aspek paling diharapkan berkaitan erat
ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata. Adapun rumus yang digunakan sebagai
berikut :
Ketuntasan belajar secara individu.
Peserta dikatakan tuntas belajar secara individu bila
memperoleh persentase daya serap individu 60%
% daya serap secara klasikal = Skor total seluruh peserta x 100% Skor idealseluruh soal
Ketuntasan belajar secara klasikal.
% ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas x 100% Jumlah seluruh siswa
Peserta dikatakan tuntas belajar secara klasikal bila memperoleh
persentase daya secara klasikal = 85 % Rata-rata hasil belajar
Nilai rata rata = Jumlah nilai yang diperoleh seluruh siswa
b. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing
siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam
buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika
mendapatkan nilai minimal 60, sedangkan secara klasikal mencapai 75 % yang
telah mencapai daya serap lebih dan sama dengan 60 %.
c. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh mitra sejawat pada kegiatan
pengelolaan pembelajaran dan lembar pengamatan perhatian siswa
H. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab yang tersusun dengan sistematika
1. Bagian Awal
Cakupan bagian awal, meliputi:
a. Sampul
b. Lembar Berlogo
c. Judul
d. Persetujuan Pembimbing.
e. Pengesahan Kelulusan
f. Pernyataan Keaslian Tulisan
g. Moto dan Persembahan
h. Kata Pengantar
i. Abstrak
j. Daftar Isi
k. Daftar Tabel
l. Daftar Gambar
m. Daftar Lampiran
2. Bagian Inti
Bab I : Pendahuluan, yang meliputi
A. Latar Belakang Masalah,
B. Rumusan Masalah,
C. Tujuan Penelitian,
D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan,
E. Kegunaan Penelitian,
F. Definisi Operasional,
G. Metode Penelitian, dan
Bab II: Merupakan kajian pustaka yang meliputi
A. Kemampuan Membaca Al Qur’an secara Tartil, serta
B. Metode Qiroati
Bab III: Merupakan laporan penelitian yang meliputi
A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I,
B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II dan
C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III
Bab IV: Merupakan hasil penelitian meliputi
A. Deskripsi per siklus,
B. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
.Bab V : Merupakan bagian penutup yang meliputi
A. Kesimpulan,
B. Saran- Saran.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir termuat: Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran dan Daftar
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Membaca Al Qur’an secara Tartil
1. Keutamaan Membaca Al Qur’an
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah
keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini
disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi
serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar
membaca Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al
Qur'an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Yang ada
adalah suara-suara radio, TV, Tape recorder, karaoke, dan lain-lain.
Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum
lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin
jauh dari tuntunan Rasululloh _ . Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak
untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di
rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam,
sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Membaca Al Qur’an merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tersurat
dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah
Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan peranta raan
kalam. Dia mengajarkan lepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dalam ayat lain Allah SWT berfiman sebagai mana termaktub dalam Surat
Al-Ankabut ayat: 45
م
ن
ن
:Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an)
dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Al-Qur’an merupakan wahyu, kalam atau firman Allah yang mengandung
ajaran untuk dijadikan pedoman dan tuntunan dalam tata nilai kehidupan umat
manusia dan seluruh alam, karena pada dasarnya al-Qur’an diturunkan sebagai
rahmat bagi alam semesta. Ajarannya berlaku sepanjang masa, sejak diturunkan
hingga hari kiamat. Kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak dapat diragukan
lagi, karena Allah sendiri yang akan menjaganya. Allah berfirman di dalam al-Qur’an
surat al-Hijr ayat 9:
Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan
Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al- Qur’an
selama-lamanya. Walaupun demikian umat Islam harus tetap berkewajiban untuk
menjaga kemurnian Al-Qur’an. Di antara upaya untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an
adalah dengan cara membaca dan menghafalnya, sebagaimana yang pernah ditempuh
oleh para sahabat Nabi. Urusan yang mulia tersebut dilakukan oleh pesantren dan
juga lembaga pendidikan Islam, baik yang formal ataupun non-formal. Ini semakin
penting, apalagi di masa sekarang di mana kondisi masyarakat yang semakin jarang
mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an. Sehingga pesantren dan lembaga pendidikan
Islam memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada
pemeluknya.
Sebagai sumber utama dalam Islam, Al-Qur`an memiliki posisi istimewa
bagi kaum muslimin baik dalam struktur keimanan (teologis) maupun dalam rumusan
kehidupan (sosial) mereka. Secara teologis, ini berkaitan dengan hakikat Al-Qur`an
itu sendiri yang merupakan kalam Allah (wahyu) yang disampaikan kepada manusia
melalui Nabi-Nya, Muhammad SAW, sebagai pedoman dan petunjuk (hudan) dalam
mengarungi kehidupan ini. Implikasinya, secara sosiologis, Al-Qur`an menjadi
sumber nilai, norma, hukum, paradigma dan inspirasi bagi seorang Muslim dalam
mengkonstruk bangunan hidup dan kehidupannya, kapanpun dan di manapun sebagai
wujud dari sifat al-Qur`an yang rahmatan li al-’alamin.
Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW untuk
disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan yang
bersifat universal, yang dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk,
halal dan haram serta sebagai landasan dan pegangan hidup bagi manusia baik secara
Al-Qur'an adalah kitab Allah yang terakhir, sumber esensi bagi Islam yang
pertama dan utama serta kitab kumpulan dari firman-firman Allah SWT. Al-Qur'an
merupakan petunjuk jalan yang lurus, yang mengikat, sebagai pedoman hidup yang
telah diridhoi Allah untuk para hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah
dalam surat Al-Israa’ ayat 9
Artinya: “Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang
mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. Al-Quran adalah kitab petunjuk, demikian hasil yang kita peroleh dari
mempelajari sejarah turunnya. Ini sesuai pula dengan penegasan Al-Qur’an: Petunjuk
bagi manusia, keterangan mengenai petunjuk serta pemisah antara yang hak dan batil.
(QS 2:185)
ى
م
ن
.
Artinya: (Beberapa ha ri yang ditentukan itu iala h) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesuka ran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur
Pengajaran Al-Qur’an pada anak merupakan dasar pendidikan Islam pertama
yang harus diajarkan. Ketika anak masih berjalan pada fitrohnya, yaitu jalan yang
terbuka untuk mendapatkan cahaya hikmah yang terpendam didalam Al-Qur’an, itu
akan lebih mudah dalam menerima dan memahami isi Al-Qur’an. Karena pada usia
ini anak masih dalam masa pertumbuhan baik fisik maupun kecerdasannya.
2. Bacaan Tartil
Kata ' Tartil ' menurut bahasa berarti jelas, racak dan teratur,sedang menurut
istilah ahli qiro`at ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan dan tenang, beserta
dengan memikirkan arti-arti Al Qur`an yang sedang dibaca, semua hukum tajwid dan
waqof terjaga dengan baik dan benar / terpelihara dengan sempurna.Menurut Jumhur
(mayoritas Ulama`) ialah Fardhu `ain. Hal ini berdasarkan kepada Firman Allah
SWT. Allah Swt. menyandarkan kata 'Tartil' kepada dzat-Nya sendiri sebagaimana
didalam firman-Nya; Dan kami tartilkan Al Qur`an dengan sunggu-sungguh tartil.
ى
م
Artinya: Dan kami tartilkan Al Qur`an dengan sunggu-sungguh tartil
( QS Al Furqon: 32 )
Selain itu juga perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk
menyuruh untuk bertaltil didalam membaca Al Qur`an tetapi dengan mempertegas
firman-Nya dengan kata " tartiila " yang berarti; dengan sungguh-sungguh tartil
sebagaimana tersurat di dalam surat Al Muzammil ayat 4
Artinya: Dan tartil-kanlah ( bacalah dengan tartil ) Al Qur`an itu dengan
sungguh-sungguh tartil.
Selain itu juga dalam firman Allah SWT yang lain, Allah SWT melarang
membaca Al Qur`an dengan cepat dan tergesa-gesa (tidak artil), sebagaimana didalam
firman-Nya
ن
م
:
Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu
tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan". ( QS Thoha: 114 ).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman
Artinya: Jangan engkau gerakkan lisanmu ( Muha mmad ) untuk membaca Al Qur`an,
hanya karena cepat-cepat/ tergesa-gesa. Sesungguhnya menjadi
tanggungan Kami ( Allah ) penghimpunan Al Qur`an didalam dada (hati)
dan membacanya dari lisan. Maka jika Kami bacakan melalui Jibril, maka
Menurut qoul sahabat Ali Karomallahu wahjhah dalam Matan Jaza riyah
memberikan definisi tartil sebagai bacaan yang sesuai dengan kaidah tajwid dan
waqofnya. Tartil di dalam membaca Al Qur`an terbagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Tahqiq, ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan,tenang, perlahan-lahan dan
memikirkan arti-artinya serta semua hukum tajwid terpelihara dengan baik, atau
hak ( makhroj dan sifat ) semua huruf terbaca dengan terang dan jelas, bacaan
semacam ini adalah bacaan madzhab dari Imam-imam yang membaca mad far`I
dan isyba` ( 3 alif ), seperti Imam Khamzah dan Waresy.
b. Hader, ialah Al Qur`an dengan cepat tapi semua hukum tajwid terpelihara dengan
baik, seperti Qoshor, ikhtilas, badal, idghom kabir dll, dapat terpelihara dengan
benar dan tepat, maksudnya sesuai dengan riwayat yang mutawatir (kondang),
bacaan semacam ini, ialah madzhab dari Imam Ibnu Katsir, Abu Amer dan semua
Imam / Rowi yang membaca mad munfashil dengan (1 alif).
c. Tadwir, ialah membaca Al Qur`an dengan cara antara tahqiq dan hader, atau
antara pelan dan cepat, tapi mujawwid ( semua hukum tajwid terjaga dengan baik
dan benar ). Madzhab ini adalah madzhab Imam-imam yang membaca mad
munfashil dengan panjang 2 alif atau 2 ½ alif, seperti imam Ibnu Amir, Ali Al
Kisa`I, Ashim dan lain-lain (Jazari; tt: 15).
Berdasarkan paparan diatas maka keberhasilan suatu pembelajarana Al Qur’an secara tartil dapat dilihat dari makhorijul khuruf, sifatul khurus, idhar, ikhfa’
iqlab, mad, qolqolahsaktah, waqof dan lain-lainya sesuai kaidah tajwid. Sehingga
dalam ketartilan suatu bacaan harus berdasarkan kepada kaidah tajwid tersebut.
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini
oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman
yang ke tiga. Beriman kepada Al-Qur’an harus dibuktikandengan mempelajarinya dan
mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Qur’an adalah kunci sukses hidup dunia dan akhirat. Dengan mempelajari Al-Qur’an maka seseorang akan mempunyai
banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan oranglain.
Dalam ayat lain Allah SWT Berfiman sebagaimana termaktub dalam al
Muzammil ayat 20
ى
ى
م
ى
و
و
م
ى
ى
ى
م
:Artinya : ” Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)
kurang dari dua pertiga malam, atau seperdau malam atau sepertiganya dan
(demikian pula) segolongan dari orangorang yang bersama kamu. Dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu seka
li-kali tidak dapat menentukan batas-batas wa ktu-wa ktu itu, maka Dia memberi
keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antar a kamu orang-orang yang
sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu
memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan
yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari ayat-ayat tersebut diatas, dapat difahami bahwa ajaran Al-Qur’an memberi
kelonggaran pada umat manusia untuk belajar sesuai dengan individu. Sehingga bagi
tingkat kecerdasan rendah, selayaknya diberikan metode yang mudah untuk dicerna oleh
mereka. Begitu sebaliknya bagi yang mempunyai kecerdasan yang tinggi, harus diberikan
teknis atau metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena teknis atau
metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena mereka cenderung cepat
menguasai materi yang diberikan oleh guru..
Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya dan
menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. Pada
tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir al
-Qur’an. Namun untuk menuju kepada tingkatanini seseorang harus menempuh tingkatan
awal yaitu membaca dan menulisal-Qur’an.
Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Qur’an menghadapi
problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah input
siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran baca tulis
Al-Qur’an yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut, bahwasannya ada
diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an, ada yang belum
lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Qur’an. Heteogenitas siswa ini menjadi
tulis Al-Qur’an tak lain adalah dalam menentukan metode dan pendekatan sehingga para
siswa mampu meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum. Sarana prasarana yang
menunjang pembelajaran baca tulis Al-Qur’an pun belum terpenuhi, diantaranya buku
prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat peraga dan lain- lain sehingga
pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang pada akhirnya proses belajar
mengajar berjalan sangat lambat. walaupun belum menemukan metode dan pendekatan
tany sesuai, sarana prasarana yang sederhana guru mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an
tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya dengan metode dan pendekatan yang pernah
mengantarkannya bisa membaca dan menulis Al-Qur’an. Setelah pembelajaran yang
dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar yang kurang memuaskan. Diantara
hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak ditemui kesalahan siswa dalam
membaca Al-Qur’an, misalnya ada beberapa siswa yang masih terbata-bata, belum
mampu mempraktekkan bacaan mad dengan benar yaitu terkadang bacaan mad tidak
dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah dibaca panjang. Siswa juga masih
banyak melakukan kesalahan dalam membaca hukum bacaan yang dibaca dengung dan
yang tidak dibaca dengung. Dalam hal menulis hurufhuruf Al-Qur’an, siswa masih terlalu
lambat dan salah dalam menentukan huruf yang harus ditulis ketika didekte oleh guru. Ini
disebabkan mereka belum hafal terhadap cara menulis huruf-huruf arab terutama
menentukan huruf yang bisa disambung dari depan dan belakang dan huruf yang hanya
bisa disambung dari depan saja.
Setelah mengetahui pentingnya mempelajari Al-Quran maka dalam
menentukan model dan metode pembelajaran harus tepat karena dengan model dan
metode pembelajaran yang baik, siswa akan lebih mudah dalam memahami materi
dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, serta karakteristik siswa yang senang
terhadap pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mengajaknya untuk aktif
Kemampuan profesional seorang guru teruji oleh kemampuan menguasai berbagai
macam model dan metode pembelajaran. Dalam model pembelajaran klasikal guru
dapat menggunakan berbagai macam metode pembelajaran. Dengan berbagai macam
metode yang digunakan akan mempermudah siswa untuk memahami materi yang
disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran
B. Metode Qiroati
1. Metode Pembelajaran
Kajian tentang metode pembelajaran secara akademis telah dikembangkan
sejak 2500 tahunan yang lalu. Seorang filosof bernama Plato yang hidup sekitar 427-347 sebelum Nabi Isa lahir dengan metode pembelajarannya ”dialougue” atau
sekarang dikenal dengan metode diskusi. Perkataan metode pembelajaran atau
intructional method berasal dari bahasa Yunani yaitu metha dan hodos. Metha berarti
dibalik atau di belakang hodos berarti melalui atau jalan (Rasyad; 2003:100) Plato
sendiri memberikan definisi pembelajaran adalah mengasuh jasmani dan rohani
supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang telah dicapai (Yunus;
1999: 5).
Di masa lalu pengajaran dipandang sebagai proses mengisi otak dengan
pengetahuan. Sejalan dengan pandangan tersebut, metode yang digunakan guru hanya
berpusat pada metode ceramah. Lahirnya teori-teori baru yang menjelaskan
karakteristik belajar membawa perubahan pada watak pengajaran dan memunculkan
berbagai metode mangajar (Suparta, 1998: 159).
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan dan belajar bukan merupakan
konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar
memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri, penjelasan dan pemeragaan
suatu strategi yang dapat mendukung atau meningkatkan keberhasilan dalam proses
pembelajaran.
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai
sesuatu maksud, cara menyelidiki (Poerwadarminta; 1986: 649). Sedangkan metode
pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kata metode
di sini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya
mendidik, maka metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode mengajar. Ada
banyak metode mengajar dalam literatur pendidikan baik secara umum maupun
khusus pendidikan Islam. Disebut metode umum karena metode tersebut digunakan
untuk mengajar pada umumnya. Metode-metode pangajaran umum tersebut bisa saja
digunakan untuk mengajarkan ilmu pendidikan Islam untuk memperkaya metode
pendidikan Islam (Tafsir, 1998: 131).
Kemudian dari dalam Ensiklopedi Pendidikan, metode diartikan sebagai jalan,
cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Jadi dari bebrapa pengertian tersebut, dapat
di simpulkan bahwa metode adalah cara yang tepat dan terencana untuk melakukan
segala aktifitas guna mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien.
Seorang guru dalam proses pembelajaran tentu tidak dapat lepas dari
penggunaan metode-metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah suatu
pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan guru untuk menyajikan bahan
pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok
agar pelajaran yang disampaikan dapat terserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh
siswa dengan. Jadi seorang guru harus pandai memilih metode pembelajaran yang
Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat menghambat
pencapaian tujuan dalam proses pembelajaran. Sedangkan apabila metode yang
digunakan guru tepat, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Pada kenyataannya, cara atau metode mengajar yang digunakan guru untuk
menyampaikan informasi kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk
memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Begitu
juga dengan metode yang digunakan, untuk memotivasi siswa agar mampu
menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi atau
untuk menjawab suatu pertanyaan tertentu, akan berbeda dengan metode yang
digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dan mengemukakan pendapatnya
sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran.
Hal-hal tersebut adalah (1) metode mengajar harus dapat membangkitkan motivasi,
minat, atau gairah belajar siswa, (2) mampu memberikan kesempatan bagi siswa
untuk mewujudkan hasil karya, (3) dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar
lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan), (4) harus dapat
mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan
melalui usaha pribadi, (5) mampu menyajikan materi yang bersifat pengalaman atau
situasi nyata dan bertujuan, (6) dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai
dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik
dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, guru dapat menggunakan metode
yang tepat untuk membelajarkan suatu materi kepada siswanya dan dengan metode
tersebut tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketika sebuah pembelajaran mengalami
peranan yang penting. Sebuah metode pembelajaran mempunyai fungsi-fungsi
sebagai berikut :
a. Sebagai alat motivasi ekstrinsik
Metode berfungsi sebagai alat ekstrinsik karena dapat mendorong
terjadinya proses pembelajaran yang lebih hidup di dalam kelas. Motifasi ini
terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik dan bahan ajar
b. Sebagai strategi pembelajaran
Ini terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik
dan bahan ajar
c. Sebagai alat mencapai tujuan
Pembelajaran selalu mempunyai tujuan yang berbeda. Berdasarkan tujuan
tersebut maka guru harus menyesuaikan metode pembelajaran yang akan
diterapkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode adalah :
anak didik, tujuan sera fasilitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
metode
Seorang guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang
ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar
siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi, maka
diperlukan adanya variasi metode yang dipakai. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu
metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Tiap
metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan
masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok
bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi
bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil
dibawakan oleh guru lain.
Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam
menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode,
penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru
memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan
contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan
hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.
Seorang guru yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin
tidak mengalami kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai
akhir pengajaran. Akan tetapi bagi seorang guru bicara, uraiannya akan terasa kering,
untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit saja, diselingi tanya jawab,
pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam berbicara
dapat ditutup dengan metoda lain. Ketrampilan mengadakan variasi ini bertujuan
untuk:
a. Menimbulkan dan membangkitkan perhatian siswa kepada aspek belajar
mengajar yang relevan.
b. Membarikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin mengetahui dan
menyelidiki pada siswa.
c. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai
cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran
yang disenanginya (Usman; 2003: 84).
Selanjutnya pengertian tentang pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa
menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Jadi dari kedua pengertian tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari metode pembelajaran adalah suatu taktik
atau trik yang harus dikuasai dan diterapkan pendidik dalam berlangsungnya proses
belajar mengajar. Agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai
secara efektif dan efisien.
Pada dasarnya proses belajar mengajar mempunyai suatu paradigma.
Paradigma lama mengatakan bahwa proses belajar mengajar cenderung di istilahkan
sebagai suatu pengajaran, yang mana term ini lebih dikonsentrasikan pada kegiatan
pendidik dan tidak pada peserta didik, proses belajar mengajar dapat dikatakan
tercapai maksud dan tujuannya bila pendidik telah mnyampaikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik. Jadi term ini sama sekali tidak dikaitkan dengan proses belajar.
Berbeda dengan paradigma baru yang mengatakan bahwa proses belajar cenderung di
istilahkan sebagai suatu pembelajaran tidak lagi sebagai pengajaran. Artinya term
pembelajaran ini sudah mulai dikaitkan dengan proses belajar peserta didik, sehingga
proses belajar mengajar lebih dikhususkan oleh aktifitas siswa, dengan tidak melepas
peranan pendidik.
Seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam menentukan atau
memilih kegiatan yang tepat dan efektif. Untuk mencapai tujuan dari pengajaran yang
telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain guru dituntut untuk dapat menentukan
metode pembeljaran yang tepat dan efektif. Namun tidak ada strategi pembelajaran
yang baik untuk semua situasi dan kondisi. Setiap situasi dan kondisi tertentu
memiliki metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut.
Oleh karena itu guru harus mengetahui dasar-dasar pemilihan metode pengajaran agar
Proses pembelajaran menuntut guru dalam merancang berbagai macam
metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dari diri
siswa. Rancangan ini merupakan acuan dan panduan, baik bagi guru sendiri maupun
pagi siswa. Keaktifan dalam pembelajaran tercermin dari kegiatan baik yang
dilakukan guru maupun siswa dengan menggunakan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun perencanaan, proses pembelajaran
dan evaluasi.
b. Adanya keterlibatan intelectual-emosional siswa baik melalui kegiatan
mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.
c. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok
untuk berlangsungnya proses pembelajaran
d. Guru bertindak sebagai fasilitator (pemberi kemudahan) dan koordinator kegiatan
relajar siswa bukan sebagai pengajar (instruktur) yang mendominasi kegiatan di
kelas.
e. Biasakan menggunakan berbagai metode, media dan alat secara bervariasi
(Asrori, 2008: 91).
Langkah selanjutnya dalam proses pemilihan strategi pembelajaran adalah
penentuan lingkungan belajar. Dalam hal ini ada tiga setting belajar dan studi
independen atau kerja praktek. Masing- masing dari ketiga tersebut mempunyai
strategi pembelajaran sendiri- sendiri. Untuk ketiga kelas besar lebih cocok di
gunakan metode ceramah atau diskusi kelompok, untuk kegiatan laboratorium lebih
tepat di gunakan alat- alat, dan kegiatan studi praktek karena dengan praktek akan
memungkinkan siswa mendapat pengalaman langsung mengenai tanggungjawab yang
Dalam memilih suatu strategi, hendaknya dapat mengajak peserta didik untuk
belajar secara aktif. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima pelajaran dari
guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan pelajaran yang telah diberikan.
Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan
pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari,
penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau
sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan
seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar yang efektif.
Jika ditelusuri lebih jauh tentang kompetensi profesional, kemudian
dibandingkan dengan apa yang harus dilakukan dalam metode pembelajaran, dapat
diperoleh kesan bahwa:
a. Dalam metode pembelajaran diperlukan landasan, baik filosofis, psikologis
maupun teori-teri dalam belajar.
b. Dalam pengembangan isi atau materi diperlukan kemampuan mengorganisasi
materi dalam pembelajaran dan urutan yang rasional.
c. Dalam melaksanakan prses pembelajaran sebagai implementasi metode
pembelajaran diperlukan kemampuan mengangani pelajaran, menggunakan alat,
metode dan fasilitas belajar.
d. Untuk menilai hasil pencapaian pembelajaran diperlukan kemampuan
mengevaluasi.
e. Pada tingkat yang lebih tinggi metode pembelajaran diarahkan untuk
menumbuhkan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan akhir pendidikan yang
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik,
karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar
gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun,
rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi
perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik
dan gaya hidupnya.
2. Metode Pembelajaran Membaca Al-Quran
Metodologi Pembelajaran Al-Qur’an dikalangan umat Islam belakangan ini
semakin berkembang dan membudaya di masyarakat. Hal ini terjadi karena tidak sedikit
jumlah anak-anak dan orang dewasa yang Belum mampu membaca Al-Qur’an dengan
baik, sehingga prosentasenya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Fenemona ini
bukan hanya berkembang di kalangan keluarga yang penghayatannya ke-Islamannya
mendalam, khususnya para pemuka agama Islam itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada
masyarakat awam yang sebagian besar dari mereka belum memahami makna ajaran
agama Islam belum sempurna. Sementara di satu sisi mereka sadar bahwa agama bukan
sekedar penerapan tetapi memerlukan ajaran-ajaran secara benar
Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak berkembang
di Indonesia sudah sejak lama. Tiap-tiap metode membaca Al-Qura’an dikembangkan
berdasarkan karakteristiknya. Beberapa contoh metode pembelajaran yang
berkembang di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut (Komari, 2008):
a. Metode Baghdadiyah.
Metode ini disebut juga dengan metode “ Eja “, berasal dari Baghdad
masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa
penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air.
yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang
terinci ( khusus ).
Secara garis besar, koidah baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf
hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah
sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap
langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar) karena bunyinya
bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini
diajarkan secara klasikal maupun privat. Beberapa kelebihan Qoidah
Baghdadiyah antara lain :
1) Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.
2) 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh
sebagai tema sentral.
3) Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.
4) Ketrampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.
5) Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.
Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara lain :
a) Kaidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami
beberapa modifikasi kecil.
b) Penyajian materi terkesan menjemukan.
c) Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman
siswa.
d) Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur'an
b. Metode Iqro’.
Metode Iqro’ disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede
Musholla) Yogyakarta dengan membuka TK Al-Qur'an dan TP Al-Qur'an. Metode Iqro’ semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah
munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an dan metode Iqro’ sebagai sebagai program utama perjuangannya. Metode Iqro’ terdiri dari 6
jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur'an. 10 sifat buku Iqro’ adalah :
1) Bacaan langsung.
2) CBSA
3) Privat
4) Modul
5) Asistensi
Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro’ antara lain :
1) TK Al-Qur'an
2) TP Al-Qur'an
3) Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/musholla
4) Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur'an
5) Menjadi program ekstra kurikuler sekolah
6) Digunakan di majelis-majelis taklim
b. Metode Al Barqy
Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an
yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa
SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu
membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan
MANAJEMEN (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu
program pemerintah dalam hal pemberantasan buta baca tulis Al Qur’an dan praktis.
Disusun secara lengkap dan sempurna, variatif, komunikatif, fleksibel dan dilengkapi
cara membaca dengan huruf latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai
cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura & Malaysia. Metode ini
disebut anti lupa karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa
dengan huruf-huruf/ suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah
dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan anti lupa itu sendiri adalah
dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI. Metode ini
diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini
mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat
mempermuda dan mempercepat anak / siswa belajar membaca. Waktu untuk belajar
membaca Al Qur’an menjadi semakin singkat.
Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah :
1) Guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik,
bisa menambah penghasilan di waktu luang dengan keahlian yang dipelajari),
2) Murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah
kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan mengusainya dalam waktu
singkat, hanya satu level sehingga biayanya lebih murah),
3) Sekolah menjadi lebih terkenal karena murid-muridnya mempunyai
kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah
lain).
d. Metode Tilawati.
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs.H. Hasan
Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang
berkembang di TK-TPA, antara lain: Mutu Pendidikan Kualitas santri lulusan TK/TP Al
Qur’an belum sesuai dengan target. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran masih
belum menciptakan suasana belajar yang kondusif. Sehingga proses belajar tidak efektif.
Pendanaan Tidak adanya keseimbangan keuangan antara pemasukan dan pengeluaran.
Waktu pendidikan Waktu pendidikan masih terlalu lama sehingga banyak santri drop out
sebelum khatam Al-Qur'an. Kelas TQA Pasca TPA TQA belum bisa terlaksana. Metode
Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi santri-santrinya, antara lain :
2) Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.
3) Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an yang salah.
4) Ketuntasan belajar santri secara individu 70 % dan secara kelompok 80%.
Prinsip-prinsip pembelajaran Tilawati :
a) Disampaikan dengan praktis.
b) Menggunakan lagu Rost.
e. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )
Dirosa merupakan sistem pembinaan islam berkelanjutan yang diawali dengan
belajar baca Al-Qur’an. Panduan Baca Al-Qur’an pada Dirosa disusun tahun 2006 yang
dikembangkan Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa dengan
sistem klasikal 20 kali pertemuan. Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang
panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu yang dialami
sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang
terbaik pada pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun
dengan berganti ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara
dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu memadukan pembelajaran baca