• Tidak ada hasil yang ditemukan

Post f249320696c1a499

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Post f249320696c1a499"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI

(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno

Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh

ZAIRUDDIN

NIM 11408206

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

SALATIGA

(2)

NOTA PEMBIMBING

Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan seperlunya, maka skripsi saudara :

N a m a : Zairuddin

N I M : 11408206

Jurusan/Program : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam

Judul : PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA

AL-QUR’AN SECARA TARTIL MELALUI

PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010)

Sudah dapat diajukan pada sidang munaqosyah.

(3)
(4)

Alhamdulillahi robbil 'alaamin, kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan baik dan lancar tanpa halanagan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga

selelu tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang

telah membawa Nur Illahi yang menyinari segenap alam dan yang semoga kita

tergolong ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya besuk di hari qiyamah. Amin

Allahumma Amin.

Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan,

bimbingan dan pengerahan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut

penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, dan dengan iringan doa

semoga amal baik yang telah diberikan, mendapat pahala disisi Allah SWT.

Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Yth:

1. Ketua STAIN Salatiga.

2. Bapak Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag. selaku pembimbing yang telah meluangkan

waktu, tenaga dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya

dalam memberikan bimbingan, pengarahan, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

3. Kepala SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang

memberikan waktu kepada penulis, untuk melakukan penelitian tindakan kelas

guna menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Ibu guru SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010

yang telah memberikan semangat dan kerjasamanya.

5. Istri dan segenap keluarga yang telah memberikan doa restunya kepada

(5)

kekurangan. Untuk itu sumbang saran dan kritik untuk terciptanya tulisan yang lebih

sempurna sangat penulis harapkan.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca

pada umumnya dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amiiin..

Salatiga, Juli 2010

(6)

Zairuddin, 2010, PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010) Pembimbing : Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag

Kata kunci: Membaca Al Qur’an secara tartil dan metode Qiroati

Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan metode pembelajaran bagi pengajaran pelajaran PAI/BTQ di Sekolah dasar. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah dapatkah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010?

Penelitian tindak kelas ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu : tes, observasi dan catatan selama penelitian berlangsung, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran membaca Al Qur’an di SDN Pandanretno Kecamatan Kajoran melalui penggunaan metode qiroati.

(7)

1 A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini

oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman

yang ke tiga. Beriman kepada Al-Qur’an harus dibuktikan dengan mempelajarinya

dan mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Qur’an berarti belajar

membunyikan huruf-hurufnya. Dalam hal mempelajari bacaan Al-Qur’an maka

penekanan utamanya adalah kefasihan pembacaan secara tartil, sebagaimana firman

Allah SWT dalam surat al Muzammil ayat 4-5:

Artinya: “Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami

akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat”

Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat

menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. Pada

tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir A l-Qur’an.

Di antara tugas yang memerlukan keseriusan dan kepedulian yang ekstra dari

setiap pendidik adalah tugas mencari metode terbaik untuk mengajarkan Al-Qur’an

(8)

satu pokok dalam ajaran Islam. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan

fitrahnya dan hati mereka pun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa

nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan.

Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Qur’an menghadapi

problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah

input siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran

baca tulis Al-Qur’an yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut,

bahwasannya ada diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an, ada yang belum lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Qur’an.

Heterogenitas siswa ini menjadi problem ketika mereka berkumpul dalam satu kelas.

Problem yang dihadapi guru dalam pengajaran bacaan Al-Qur’an tak lain adalah

dalam menentukan metode dan pendekatan yang tepat sehingga para siswa mampu

meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum.

Sarana prasarana yang menunjang pembelajaran baca tulis Al-Qur’an pun

belum terpenuhi, diantaranya buku prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat

peraga dan lain-lain, sehingga pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang

pada akhirnya proses belajar mengajar berjalan sangat lambat. Walaupun belum

menemukan metode dan pendekatan yang sesuai, sarana prasarana yang sederhana

guru mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya

dengan metode dan pendekatan yang pernah mengantarkannya bisa membaca dan

menulis Al-Qur’an.

Setelah pembelajaran yang dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar

yang kurang memuaskan. Diantara hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak

ditemui kesalahan siswa dalam membaca Al-Qur’an, misalnya ada beberapa siswa

(9)

yaitu terkadang bacaan mad tidak dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah

dibaca panjang. Siswa juga masih banyak melakukan kesalahan dalam membaca

hukum bacaan yang dibaca dengung dan yang tidak dibaca dengung.

Sebagai gambaran bahwa pada kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.

Magelang di mana penulis mengajar pada akhir tahun ajaran 2009/2010 ini para

siswa masih mengalami kesulitan dalam hal membaca Al-Qur’an secara tartil dan

lancar. Untuk itu penulis tertarik untuk menerapkan metode pembelajaran membaca

Al-Qur’an dengan cara yang baru yaitu penggunaan metode qiroati yaitu metode yang

dapat mempermudah dan mempercepat anak agar mampu membaca Al-Qur’an

dengan baik dan benar. Dalam metode ini diawali dengan memperkenalkan

huruf-huruf bersyakal tanpa dieja, namun langsung diberikan contoh membaca oleh guru

dengan benar dan tartil (Dahlan Salim Zarkasi; 2006).

Untuk itu penulis berkeinginan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an

bagi anak didik dengan memilih metode baru. Sehingga penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tindakan kelas di SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.

Magelang tempat penulis selama ini bertugas sebagai guru PAI. Adapun judul skripsi

ini adalah:

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SECARA

TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan

Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun

2010)

B. Rumusan Masalah

(10)

2. Apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.

Magelang Tahun 2010?

Dari rumusan masalah di atas maka penulis menggunakan alternatif

penggunaan metode qiroati untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an

secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang

Tahun 2010. Hal ini mengingat akar masalah yang menjadi kendala dari rendahnya kemampuan membaca al Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno

Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 adalah karena kesalahan metode yang

diterapkan selama ini yang kurang memberikan contoh langsung kepada siswa.

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui penerapan metode qiroati pada siswa kelas V SDN

Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010

2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan

kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN

Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010.

D. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi

Arikunto; 1996). Adapun hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah bahwa

"Penerapan penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca

Al-Qur’an secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.

(11)

E. Kegunaan Penelitian

1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang penggunaan

metode qiroati.

2. Sebagai salah satu strategi atau upaya meningkatkan kemampuan menbaca Al-Qur’an bagi siswa.

3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran Al-Qur’an yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.

4. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.

5. Sumbangan pemikiran mengembangkan sistem kegiatan belajar mengajar di

sekolah.

F. Batasan Operasional

Agar tidak menyimpang dari pokok masalah yang menjadi inti dari judul

tersebut peneliti memberi batasan sebagai berikut:

1. Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Secara Tartil

Kata "peningkatan" berasal dari kata "tingkat" yang berarti keadaan atau

kwalitas yang lebih tinggi. Sedangkan kata "peningkatan" berarti usaha atau

proses meningkatkan. Sedangkan kemampuan berasal dari kata ”mampu” yang

berti sanggup melakukan sesuatu.

Kata membaca berasal dari kata ”baca” yaitu melihat serta memahami isi

dari apa yang tertulis. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab suci agama islam.

Adapun tartil berasal dari bahasa arab yang berarti perlahan-lahan. Sehingga

yang penulis maksud di sini adalah usaha secara sungguh sungguh untuk

(12)

dipraktekkan secara langsung dengan membaca Al-Qur’an secara perlahan dan

jelas.

2. Penggunaan Metode Qiroati

Kata penggunaan berasal dari kata guna yang berarti perbuatan, atau cara

untuk mengambil manfaat atau mendatangkan kebaikan. Sedangkan kata metode

berarti cara kerja bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna

mencapai tujuan yang ditentukan (Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan:1994). Adapun qiroati adalah nama dari sebuah metode belajar

membaca Al-Qur’an yang ditemukan oleh KH Dachlan Salim Zarkasi. Secara

umum ciri dari metode qiroati adalah Guru menjelaskan dengan memberi contoh

materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri (CBSA) Siswa

membaca tanpa mengeja. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca

dengan tepat dan cepat.

G. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Sebelum penulis memberikan laporan penelitian maka perlu kiranya penulis

memberikan landasan teori tentang jalannya penelitian kali ini. Hal ini

dimaksudkan agar penelitian ini berjalan sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah

yang benar. Ada beberapa jenis penelitian pendidikan yang berbeda. Perbedaan

tersebut terkait dengan jenis tindakan, setting, intrumen dan metode penelitian (RC

Mishra: 2005). Adapun penilitan yang dilakukan penulis ini adalah sebuah

penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang mengkombinasikan prosedur

penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam

disiplin inkuri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi sambil

(13)

Penulis melakukan semacam ini karena penelitian yang akan penulis

lakukan memenuhi kreteria sebagai berikut:

1. Problem yang dipecahkan merupakan praktis yang dihadapi penulis.

2. Peneliti memberikan perlakuan/treatment yang berupa tindakan terencana

3. Langkah- langkah yang peneliti lakukan berbentuk siklus.

4. Adanya langkah berfikir reflektif (Sukardi: 2008).

Selain itu penelitian ini juga bersifat eksperimental, karena bertujuan

mendeskripsikan apa yang akan terjadi bila variabel- variabel tertentu dikontrol

secara tertentu (Faisal: 1982). Dalam hal ini veriabel yang dikontrol dan

dimanipulatisi adalah metode pengajarannya.

Penelitian ini sangat tepat digunakan untuk meningkatkan praktik mengajar

supaya lebih efektif, meningkatkan pemahaman tentang praktik mengajar, dan

dapat digunakan untuk meningkatkan situasi belajar mengajar yang lebih baik

(Bell: TT).

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action

research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan

bagaimana suatu bentuk teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil

yang diinginkan dapat tercapai.

Menurut Suharsimi Arikunto berdasarkan tujuannya, penelitian tindakan

dibagi menjadi 4 yaitu

a. Penelitian tindakan partisapatisi (participatory action research) yang

menekankan keterlibatan masyarakat agar merasa memiliki program tersebut.

b. Penelitian tindakan kritis (critical action research) yang menekankan adanya

(14)

c. Penelitian tindakan institusi (institutional action research) yaitu yang

dilakukan pihak pengelola sekolah.

d. Penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu penelitian yang

dilakukan oleh guru baik sendiri maupun bekerjasama dengan peneliti lain

(Arikunto, dkk: 2008).

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana

guru sangat berpengaruh sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam

bentuk ini tujuan utama penelitian kelas ini ialah untuk meningkatkan

praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara

penuh dalam proses perencanaan tindakan dan refleksi. Kehadiran pihak lain

dalam penelitian ini peranannya tidak dominan. Hal ini bertujuan agar guru dapat:

a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktek mengajarnya.

b. Melakukan PTK tanpa mengganggu tugasnya.

c. Mengkaji pemasalahan yang dialami.

d. Mengembangkan profesionalismenya (Arikunto, dkk: 2008).

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang

berkesinambungan. Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa model penelitian

tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus

meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut

dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup

Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang

hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung

dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Suharsimi Arikunto, dkk:

2008). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya

(15)

adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata

dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam

mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang

terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip

sebagai sebagai berikut:

a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu

benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam

jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan.

b. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak

boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

c. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih

dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.

d. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dan

tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap

penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.

e. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang

berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan

terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi

tantangan sepanjang waktu (Arikunto, dkk: 2008).

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan maka

penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart,

yaitu berbentuk spiral dan siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap

siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan)

(16)

sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada sikius I

dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus

spiral dan tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1.1

berikut:

Gambar 1.1

Denah Pelaksanaan Tindakan

Penjelalasan alur di atas adalah:

a. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan

masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrumen

penelitian dan perangkat pembelajaran.

b. Kegiatan dan pengamatan meliputi timdakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai

upaya membangun pemahaman konsepsi siswa serta mengamati hasil atau

dampak dan diterapkannya media pembelajaran media elektronik.

c. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak

dan tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh

(17)

d. Rancangan/rencana yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pangamat

membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya

(Arikunto; 2008)..

Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3 dimana

masing-masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan

membahas satu bab pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir

masing-masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan

kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan

pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai:

a. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi

pembelajaran di kelas.

b. Alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode

baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran

sejawat.

c. Alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan

tambahan atau inovatif.

d. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan

peneliti.

e. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik

terhadap pemecahan masalah kelas (Madya; 2008).

Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian

tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang

menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang

(18)

diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan

sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan (Madya:2008).

Sehingga semua aspek yang menjadi ketentuan dalam penelitian tindakan kelas

terpenuhi dalam penelitian yang akan penulis lakukan nantinya.

2. Subyek Penelitian a. Waktu Penelitian

Penelitian ini penulis lakukan pada pertengahan Mei sampai awal Juni.

Penelitian ini dilakukan pada akhir semester genap tahun ajaran 2009/2010.

Penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 minggu dengan 3 siklus dengan

masing- masing siklus selama 2 minggu atau 2 kali pertemuan.

Siklus I hari Sabtu, 30 Mei 2010.

Siklus II hari Sabtu, 6 Juni 2010.

Siklus III hari Sabtu, 13 Juni 2009.

b. Tempat Penelitian

Penilitian ini penulis lakukan di ruang yang biasa untuk melakukan proses

belajar-mengajar siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang

Tahun 2010.

c. Subyek Penelitian

Subyek penelitian kali ini adalah seluruh siswa kelas V SDN

Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang berjumlah 16 anak

yang terdiri dari 12 murid laki- laki dan 4 murid perempuan.

3. Langkah- Langkah a. Perencanaan

1) Menyusun tujuan instruksional.

(19)

3) Menyusun pre tes dan post tes.

4) Memilih materi pembelajaran.

5) Mendesain pedoman observasi sistematis bagi kerja guru selama

pelaksanaan tindakan.

b. Tindakan

1) Melaksanakan absesnsi siswa.

2) Melaksanakan pre test kepada siswa.

3) Analisis pre tes terhadap siswa untuk mengukur sejauh mana materi telah

dikuasai sebelumnya..

4) Memberikan pengarahan kepada siswa tentang operasional pembelajaran

dan tentang metode yang akan digunakan.

5) Guru memberikan contoh membaca.

6) Guru mendengarkan siswa menirukan bacaan guru.

7) Guru mengadakan post tes.

c. Refleksi

Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan,

dianalisis, dan dievaluasi oleh peneliti, kemudian guru dapat merefleksi diri

tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, Faktor-faktor

pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal guru dan siswa.

Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilamana

perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi

(Madya:2008).

4. Instrumen Penelitian

Adapun instrument/alat penelitian ini adalah sebagai berikut :

(20)

Rencana pembelajaran ini merupakan suatu rancangan pembelajaran yang

akan dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar.

b. Materi yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang dipilih guru sesuai dengan

materi pembelajaran.

c. Buku Penunjang Lembar observasi pembelajaran.

Lembar pembelajaran ini digunakan untuk mengetahui peningkatan

kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil bagi siswa setelah

menggunakan metode qiroati.

d. Instrumen Manusia

1) Peneliti

Dalam penelitian tidakan kelas sebenarnya peneliti juga masuk

sebagai intrumen penelitian. Sebagai instrumen penelitian seorang peneliti

haruslah memiliki karakter sebagai berikut:

a) Responsif.

b) Adaptif.

c) Menekankan aspek holistik.

d) Pengembangan berbasis pengetahuan.

e) Memproses dengan segera.

f) Mampu memberikan klarifikasi dan kesimpulan.

g) Kesempatan eksplorasi (Wiriaatmadja:2004).

2. Mitra

Dalam penelitian tindakan kelas diperlukan peran mitra sejawat untuk

melakukan observasi terhadap guru sebagai peneliti. Hal ini diperlukan

untuk menilai efektifitas jalannya kegiatan belajar-mengajar. Namun

(21)

proses tindakan yang berupa kegiatan belajar-mengajar. Dalam penelitian

ini penulis menjadikan guru wali kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran

Kab. Magelang sebagai mitra penulis.

5. Pengumpulan Data

a. Sumber Data

1) Dokumentasi.

2) Hasil tes membaca al Qur’an siswa sebelum menggunakan metode qiroati.

3) Hasil tes membaca Al Qur’an siswa setelah menggunakan metode qiroati..

4) Hasil pengamatan teman sejawat yang membantu sebagai mitra.

b. Cara Pengambilan Data

1) Metode dokumentasi

2) Lembar kerja siswa pada siklus I, II dan III.

3) Tes formatif I.

4) Lembar pengamatan dari teman sejawat sebagai kolaborasai dalam

penelitian

6. Analisis data

Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga

dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan maka

digunakan analisis data kuantitatif. Pada metode observasi digunakan data

kualitatif cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam

proses belajar mengajar sebagai berikut :

a. Merekapitulasi hasil tes .

Dalam penelitian tindakan kelas, peningkatan prestasi belajar siswa

sebagai hasil tindakan merupakan aspek paling diharapkan berkaitan erat

(22)

ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata. Adapun rumus yang digunakan sebagai

berikut :

 Ketuntasan belajar secara individu.

Peserta dikatakan tuntas belajar secara individu bila

memperoleh persentase daya serap individu 60%

% daya serap secara klasikal = Skor total seluruh peserta x 100% Skor idealseluruh soal

 Ketuntasan belajar secara klasikal.

% ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas x 100% Jumlah seluruh siswa

Peserta dikatakan tuntas belajar secara klasikal bila memperoleh

persentase daya secara klasikal = 85 %  Rata-rata hasil belajar

Nilai rata rata = Jumlah nilai yang diperoleh seluruh siswa

b. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing

siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam

buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika

mendapatkan nilai minimal 60, sedangkan secara klasikal mencapai 75 % yang

telah mencapai daya serap lebih dan sama dengan 60 %.

c. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh mitra sejawat pada kegiatan

pengelolaan pembelajaran dan lembar pengamatan perhatian siswa

H. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab yang tersusun dengan sistematika

(23)

1. Bagian Awal

Cakupan bagian awal, meliputi:

a. Sampul

b. Lembar Berlogo

c. Judul

d. Persetujuan Pembimbing.

e. Pengesahan Kelulusan

f. Pernyataan Keaslian Tulisan

g. Moto dan Persembahan

h. Kata Pengantar

i. Abstrak

j. Daftar Isi

k. Daftar Tabel

l. Daftar Gambar

m. Daftar Lampiran

2. Bagian Inti

Bab I : Pendahuluan, yang meliputi

A. Latar Belakang Masalah,

B. Rumusan Masalah,

C. Tujuan Penelitian,

D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan,

E. Kegunaan Penelitian,

F. Definisi Operasional,

G. Metode Penelitian, dan

(24)

Bab II: Merupakan kajian pustaka yang meliputi

A. Kemampuan Membaca Al Qur’an secara Tartil, serta

B. Metode Qiroati

Bab III: Merupakan laporan penelitian yang meliputi

A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I,

B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II dan

C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III

Bab IV: Merupakan hasil penelitian meliputi

A. Deskripsi per siklus,

B. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan

.Bab V : Merupakan bagian penutup yang meliputi

A. Kesimpulan,

B. Saran- Saran.

3. Bagian Akhir

Pada bagian akhir termuat: Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran dan Daftar

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kemampuan Membaca Al Qur’an secara Tartil

1. Keutamaan Membaca Al Qur’an

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah

keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini

disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi

serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar

membaca Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al

Qur'an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Yang ada

adalah suara-suara radio, TV, Tape recorder, karaoke, dan lain-lain.

Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum

lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin

jauh dari tuntunan Rasululloh _ . Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak

untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di

rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam,

sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Membaca Al Qur’an merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tersurat

dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah

(26)

Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan peranta raan

kalam. Dia mengajarkan lepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dalam ayat lain Allah SWT berfiman sebagai mana termaktub dalam Surat

Al-Ankabut ayat: 45

م

ن

ن

:

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an)

dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari

(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat)

adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah

mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Al-Qur’an merupakan wahyu, kalam atau firman Allah yang mengandung

ajaran untuk dijadikan pedoman dan tuntunan dalam tata nilai kehidupan umat

manusia dan seluruh alam, karena pada dasarnya al-Qur’an diturunkan sebagai

rahmat bagi alam semesta. Ajarannya berlaku sepanjang masa, sejak diturunkan

hingga hari kiamat. Kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak dapat diragukan

lagi, karena Allah sendiri yang akan menjaganya. Allah berfirman di dalam al-Qur’an

surat al-Hijr ayat 9:

Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan

(27)

Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al- Qur’an

selama-lamanya. Walaupun demikian umat Islam harus tetap berkewajiban untuk

menjaga kemurnian Al-Qur’an. Di antara upaya untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an

adalah dengan cara membaca dan menghafalnya, sebagaimana yang pernah ditempuh

oleh para sahabat Nabi. Urusan yang mulia tersebut dilakukan oleh pesantren dan

juga lembaga pendidikan Islam, baik yang formal ataupun non-formal. Ini semakin

penting, apalagi di masa sekarang di mana kondisi masyarakat yang semakin jarang

mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an. Sehingga pesantren dan lembaga pendidikan

Islam memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada

pemeluknya.

Sebagai sumber utama dalam Islam, Al-Qur`an memiliki posisi istimewa

bagi kaum muslimin baik dalam struktur keimanan (teologis) maupun dalam rumusan

kehidupan (sosial) mereka. Secara teologis, ini berkaitan dengan hakikat Al-Qur`an

itu sendiri yang merupakan kalam Allah (wahyu) yang disampaikan kepada manusia

melalui Nabi-Nya, Muhammad SAW, sebagai pedoman dan petunjuk (hudan) dalam

mengarungi kehidupan ini. Implikasinya, secara sosiologis, Al-Qur`an menjadi

sumber nilai, norma, hukum, paradigma dan inspirasi bagi seorang Muslim dalam

mengkonstruk bangunan hidup dan kehidupannya, kapanpun dan di manapun sebagai

wujud dari sifat al-Qur`an yang rahmatan li al-’alamin.

Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW untuk

disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan yang

bersifat universal, yang dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk,

halal dan haram serta sebagai landasan dan pegangan hidup bagi manusia baik secara

(28)

Al-Qur'an adalah kitab Allah yang terakhir, sumber esensi bagi Islam yang

pertama dan utama serta kitab kumpulan dari firman-firman Allah SWT. Al-Qur'an

merupakan petunjuk jalan yang lurus, yang mengikat, sebagai pedoman hidup yang

telah diridhoi Allah untuk para hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah

dalam surat Al-Israa’ ayat 9

Artinya: “Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang

mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. Al-Quran adalah kitab petunjuk, demikian hasil yang kita peroleh dari

mempelajari sejarah turunnya. Ini sesuai pula dengan penegasan Al-Qur’an: Petunjuk

bagi manusia, keterangan mengenai petunjuk serta pemisah antara yang hak dan batil.

(QS 2:185)

ى

م

ن

.

Artinya: (Beberapa ha ri yang ditentukan itu iala h) bulan Ramadhan, bulan yang di

dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia

dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang

hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di

(29)

bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),

maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,

pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak

menghendaki kesuka ran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan

bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya

yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur

Pengajaran Al-Qur’an pada anak merupakan dasar pendidikan Islam pertama

yang harus diajarkan. Ketika anak masih berjalan pada fitrohnya, yaitu jalan yang

terbuka untuk mendapatkan cahaya hikmah yang terpendam didalam Al-Qur’an, itu

akan lebih mudah dalam menerima dan memahami isi Al-Qur’an. Karena pada usia

ini anak masih dalam masa pertumbuhan baik fisik maupun kecerdasannya.

2. Bacaan Tartil

Kata ' Tartil ' menurut bahasa berarti jelas, racak dan teratur,sedang menurut

istilah ahli qiro`at ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan dan tenang, beserta

dengan memikirkan arti-arti Al Qur`an yang sedang dibaca, semua hukum tajwid dan

waqof terjaga dengan baik dan benar / terpelihara dengan sempurna.Menurut Jumhur

(mayoritas Ulama`) ialah Fardhu `ain. Hal ini berdasarkan kepada Firman Allah

SWT. Allah Swt. menyandarkan kata 'Tartil' kepada dzat-Nya sendiri sebagaimana

didalam firman-Nya; Dan kami tartilkan Al Qur`an dengan sunggu-sungguh tartil.

ى

م

Artinya: Dan kami tartilkan Al Qur`an dengan sunggu-sungguh tartil

( QS Al Furqon: 32 )

Selain itu juga perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk

(30)

menyuruh untuk bertaltil didalam membaca Al Qur`an tetapi dengan mempertegas

firman-Nya dengan kata " tartiila " yang berarti; dengan sungguh-sungguh tartil

sebagaimana tersurat di dalam surat Al Muzammil ayat 4

Artinya: Dan tartil-kanlah ( bacalah dengan tartil ) Al Qur`an itu dengan

sungguh-sungguh tartil.

Selain itu juga dalam firman Allah SWT yang lain, Allah SWT melarang

membaca Al Qur`an dengan cepat dan tergesa-gesa (tidak artil), sebagaimana didalam

firman-Nya

ن

م

:

Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu

tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya

kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu

pengetahuan". ( QS Thoha: 114 ).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman

Artinya: Jangan engkau gerakkan lisanmu ( Muha mmad ) untuk membaca Al Qur`an,

hanya karena cepat-cepat/ tergesa-gesa. Sesungguhnya menjadi

tanggungan Kami ( Allah ) penghimpunan Al Qur`an didalam dada (hati)

dan membacanya dari lisan. Maka jika Kami bacakan melalui Jibril, maka

(31)

Menurut qoul sahabat Ali Karomallahu wahjhah dalam Matan Jaza riyah

memberikan definisi tartil sebagai bacaan yang sesuai dengan kaidah tajwid dan

waqofnya. Tartil di dalam membaca Al Qur`an terbagi menjadi tiga macam yaitu:

a. Tahqiq, ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan,tenang, perlahan-lahan dan

memikirkan arti-artinya serta semua hukum tajwid terpelihara dengan baik, atau

hak ( makhroj dan sifat ) semua huruf terbaca dengan terang dan jelas, bacaan

semacam ini adalah bacaan madzhab dari Imam-imam yang membaca mad far`I

dan isyba` ( 3 alif ), seperti Imam Khamzah dan Waresy.

b. Hader, ialah Al Qur`an dengan cepat tapi semua hukum tajwid terpelihara dengan

baik, seperti Qoshor, ikhtilas, badal, idghom kabir dll, dapat terpelihara dengan

benar dan tepat, maksudnya sesuai dengan riwayat yang mutawatir (kondang),

bacaan semacam ini, ialah madzhab dari Imam Ibnu Katsir, Abu Amer dan semua

Imam / Rowi yang membaca mad munfashil dengan (1 alif).

c. Tadwir, ialah membaca Al Qur`an dengan cara antara tahqiq dan hader, atau

antara pelan dan cepat, tapi mujawwid ( semua hukum tajwid terjaga dengan baik

dan benar ). Madzhab ini adalah madzhab Imam-imam yang membaca mad

munfashil dengan panjang 2 alif atau 2 ½ alif, seperti imam Ibnu Amir, Ali Al

Kisa`I, Ashim dan lain-lain (Jazari; tt: 15).

Berdasarkan paparan diatas maka keberhasilan suatu pembelajarana Al Qur’an secara tartil dapat dilihat dari makhorijul khuruf, sifatul khurus, idhar, ikhfa’

iqlab, mad, qolqolahsaktah, waqof dan lain-lainya sesuai kaidah tajwid. Sehingga

dalam ketartilan suatu bacaan harus berdasarkan kepada kaidah tajwid tersebut.

(32)

Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini

oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman

yang ke tiga. Beriman kepada Al-Qur’an harus dibuktikandengan mempelajarinya dan

mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Qur’an adalah kunci sukses hidup dunia dan akhirat. Dengan mempelajari Al-Qur’an maka seseorang akan mempunyai

banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan oranglain.

Dalam ayat lain Allah SWT Berfiman sebagaimana termaktub dalam al

Muzammil ayat 20

ى

ى

م

ى

و

و

م

ى

ى

ى

م

:

Artinya : ” Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)

kurang dari dua pertiga malam, atau seperdau malam atau sepertiganya dan

(demikian pula) segolongan dari orangorang yang bersama kamu. Dan Allah

menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu seka

li-kali tidak dapat menentukan batas-batas wa ktu-wa ktu itu, maka Dia memberi

keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al

Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antar a kamu orang-orang yang

sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia

(33)

bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang,

tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu

memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan

yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;

sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat-ayat tersebut diatas, dapat difahami bahwa ajaran Al-Qur’an memberi

kelonggaran pada umat manusia untuk belajar sesuai dengan individu. Sehingga bagi

tingkat kecerdasan rendah, selayaknya diberikan metode yang mudah untuk dicerna oleh

mereka. Begitu sebaliknya bagi yang mempunyai kecerdasan yang tinggi, harus diberikan

teknis atau metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena teknis atau

metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena mereka cenderung cepat

menguasai materi yang diberikan oleh guru..

Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya dan

menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat

menentukan keberhasilan pembelajaran al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. Pada

tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir al

-Qur’an. Namun untuk menuju kepada tingkatanini seseorang harus menempuh tingkatan

awal yaitu membaca dan menulisal-Qur’an.

Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Qur’an menghadapi

problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah input

siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran baca tulis

Al-Qur’an yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut, bahwasannya ada

diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an, ada yang belum

lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Qur’an. Heteogenitas siswa ini menjadi

(34)

tulis Al-Qur’an tak lain adalah dalam menentukan metode dan pendekatan sehingga para

siswa mampu meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum. Sarana prasarana yang

menunjang pembelajaran baca tulis Al-Qur’an pun belum terpenuhi, diantaranya buku

prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat peraga dan lain- lain sehingga

pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang pada akhirnya proses belajar

mengajar berjalan sangat lambat. walaupun belum menemukan metode dan pendekatan

tany sesuai, sarana prasarana yang sederhana guru mata pelajaran baca tulis Al-Qur’an

tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya dengan metode dan pendekatan yang pernah

mengantarkannya bisa membaca dan menulis Al-Qur’an. Setelah pembelajaran yang

dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar yang kurang memuaskan. Diantara

hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak ditemui kesalahan siswa dalam

membaca Al-Qur’an, misalnya ada beberapa siswa yang masih terbata-bata, belum

mampu mempraktekkan bacaan mad dengan benar yaitu terkadang bacaan mad tidak

dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah dibaca panjang. Siswa juga masih

banyak melakukan kesalahan dalam membaca hukum bacaan yang dibaca dengung dan

yang tidak dibaca dengung. Dalam hal menulis hurufhuruf Al-Qur’an, siswa masih terlalu

lambat dan salah dalam menentukan huruf yang harus ditulis ketika didekte oleh guru. Ini

disebabkan mereka belum hafal terhadap cara menulis huruf-huruf arab terutama

menentukan huruf yang bisa disambung dari depan dan belakang dan huruf yang hanya

bisa disambung dari depan saja.

Setelah mengetahui pentingnya mempelajari Al-Quran maka dalam

menentukan model dan metode pembelajaran harus tepat karena dengan model dan

metode pembelajaran yang baik, siswa akan lebih mudah dalam memahami materi

dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, serta karakteristik siswa yang senang

terhadap pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mengajaknya untuk aktif

(35)

Kemampuan profesional seorang guru teruji oleh kemampuan menguasai berbagai

macam model dan metode pembelajaran. Dalam model pembelajaran klasikal guru

dapat menggunakan berbagai macam metode pembelajaran. Dengan berbagai macam

metode yang digunakan akan mempermudah siswa untuk memahami materi yang

disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran

B. Metode Qiroati

1. Metode Pembelajaran

Kajian tentang metode pembelajaran secara akademis telah dikembangkan

sejak 2500 tahunan yang lalu. Seorang filosof bernama Plato yang hidup sekitar 427-347 sebelum Nabi Isa lahir dengan metode pembelajarannya ”dialougue” atau

sekarang dikenal dengan metode diskusi. Perkataan metode pembelajaran atau

intructional method berasal dari bahasa Yunani yaitu metha dan hodos. Metha berarti

dibalik atau di belakang hodos berarti melalui atau jalan (Rasyad; 2003:100) Plato

sendiri memberikan definisi pembelajaran adalah mengasuh jasmani dan rohani

supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang telah dicapai (Yunus;

1999: 5).

Di masa lalu pengajaran dipandang sebagai proses mengisi otak dengan

pengetahuan. Sejalan dengan pandangan tersebut, metode yang digunakan guru hanya

berpusat pada metode ceramah. Lahirnya teori-teori baru yang menjelaskan

karakteristik belajar membawa perubahan pada watak pengajaran dan memunculkan

berbagai metode mangajar (Suparta, 1998: 159).

Mengajar bukan semata persoalan menceritakan dan belajar bukan merupakan

konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar

memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri, penjelasan dan pemeragaan

(36)

suatu strategi yang dapat mendukung atau meningkatkan keberhasilan dalam proses

pembelajaran.

Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai

sesuatu maksud, cara menyelidiki (Poerwadarminta; 1986: 649). Sedangkan metode

pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kata metode

di sini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya

mendidik, maka metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode mengajar. Ada

banyak metode mengajar dalam literatur pendidikan baik secara umum maupun

khusus pendidikan Islam. Disebut metode umum karena metode tersebut digunakan

untuk mengajar pada umumnya. Metode-metode pangajaran umum tersebut bisa saja

digunakan untuk mengajarkan ilmu pendidikan Islam untuk memperkaya metode

pendidikan Islam (Tafsir, 1998: 131).

Kemudian dari dalam Ensiklopedi Pendidikan, metode diartikan sebagai jalan,

cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Jadi dari bebrapa pengertian tersebut, dapat

di simpulkan bahwa metode adalah cara yang tepat dan terencana untuk melakukan

segala aktifitas guna mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien.

Seorang guru dalam proses pembelajaran tentu tidak dapat lepas dari

penggunaan metode-metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah suatu

pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan guru untuk menyajikan bahan

pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok

agar pelajaran yang disampaikan dapat terserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh

siswa dengan. Jadi seorang guru harus pandai memilih metode pembelajaran yang

(37)

Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat menghambat

pencapaian tujuan dalam proses pembelajaran. Sedangkan apabila metode yang

digunakan guru tepat, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.

Pada kenyataannya, cara atau metode mengajar yang digunakan guru untuk

menyampaikan informasi kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk

memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Begitu

juga dengan metode yang digunakan, untuk memotivasi siswa agar mampu

menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi atau

untuk menjawab suatu pertanyaan tertentu, akan berbeda dengan metode yang

digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dan mengemukakan pendapatnya

sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran.

Hal-hal tersebut adalah (1) metode mengajar harus dapat membangkitkan motivasi,

minat, atau gairah belajar siswa, (2) mampu memberikan kesempatan bagi siswa

untuk mewujudkan hasil karya, (3) dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar

lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan), (4) harus dapat

mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan

melalui usaha pribadi, (5) mampu menyajikan materi yang bersifat pengalaman atau

situasi nyata dan bertujuan, (6) dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai

dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik

dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, guru dapat menggunakan metode

yang tepat untuk membelajarkan suatu materi kepada siswanya dan dengan metode

tersebut tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketika sebuah pembelajaran mengalami

(38)

peranan yang penting. Sebuah metode pembelajaran mempunyai fungsi-fungsi

sebagai berikut :

a. Sebagai alat motivasi ekstrinsik

Metode berfungsi sebagai alat ekstrinsik karena dapat mendorong

terjadinya proses pembelajaran yang lebih hidup di dalam kelas. Motifasi ini

terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik dan bahan ajar

b. Sebagai strategi pembelajaran

Ini terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik

dan bahan ajar

c. Sebagai alat mencapai tujuan

Pembelajaran selalu mempunyai tujuan yang berbeda. Berdasarkan tujuan

tersebut maka guru harus menyesuaikan metode pembelajaran yang akan

diterapkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode adalah :

anak didik, tujuan sera fasilitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan

metode

Seorang guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang

ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar

siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi, maka

diperlukan adanya variasi metode yang dipakai. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu

metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Tiap

metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan

masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok

bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi

(39)

bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil

dibawakan oleh guru lain.

Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam

menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode,

penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru

memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan

contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan

hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.

Seorang guru yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin

tidak mengalami kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai

akhir pengajaran. Akan tetapi bagi seorang guru bicara, uraiannya akan terasa kering,

untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit saja, diselingi tanya jawab,

pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam berbicara

dapat ditutup dengan metoda lain. Ketrampilan mengadakan variasi ini bertujuan

untuk:

a. Menimbulkan dan membangkitkan perhatian siswa kepada aspek belajar

mengajar yang relevan.

b. Membarikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin mengetahui dan

menyelidiki pada siswa.

c. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai

cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.

d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran

yang disenanginya (Usman; 2003: 84).

Selanjutnya pengertian tentang pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa

(40)

menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Jadi dari kedua pengertian tersebut

dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari metode pembelajaran adalah suatu taktik

atau trik yang harus dikuasai dan diterapkan pendidik dalam berlangsungnya proses

belajar mengajar. Agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai

secara efektif dan efisien.

Pada dasarnya proses belajar mengajar mempunyai suatu paradigma.

Paradigma lama mengatakan bahwa proses belajar mengajar cenderung di istilahkan

sebagai suatu pengajaran, yang mana term ini lebih dikonsentrasikan pada kegiatan

pendidik dan tidak pada peserta didik, proses belajar mengajar dapat dikatakan

tercapai maksud dan tujuannya bila pendidik telah mnyampaikan ilmu pengetahuan

kepada peserta didik. Jadi term ini sama sekali tidak dikaitkan dengan proses belajar.

Berbeda dengan paradigma baru yang mengatakan bahwa proses belajar cenderung di

istilahkan sebagai suatu pembelajaran tidak lagi sebagai pengajaran. Artinya term

pembelajaran ini sudah mulai dikaitkan dengan proses belajar peserta didik, sehingga

proses belajar mengajar lebih dikhususkan oleh aktifitas siswa, dengan tidak melepas

peranan pendidik.

Seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam menentukan atau

memilih kegiatan yang tepat dan efektif. Untuk mencapai tujuan dari pengajaran yang

telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain guru dituntut untuk dapat menentukan

metode pembeljaran yang tepat dan efektif. Namun tidak ada strategi pembelajaran

yang baik untuk semua situasi dan kondisi. Setiap situasi dan kondisi tertentu

memiliki metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut.

Oleh karena itu guru harus mengetahui dasar-dasar pemilihan metode pengajaran agar

(41)

Proses pembelajaran menuntut guru dalam merancang berbagai macam

metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dari diri

siswa. Rancangan ini merupakan acuan dan panduan, baik bagi guru sendiri maupun

pagi siswa. Keaktifan dalam pembelajaran tercermin dari kegiatan baik yang

dilakukan guru maupun siswa dengan menggunakan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun perencanaan, proses pembelajaran

dan evaluasi.

b. Adanya keterlibatan intelectual-emosional siswa baik melalui kegiatan

mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.

c. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok

untuk berlangsungnya proses pembelajaran

d. Guru bertindak sebagai fasilitator (pemberi kemudahan) dan koordinator kegiatan

relajar siswa bukan sebagai pengajar (instruktur) yang mendominasi kegiatan di

kelas.

e. Biasakan menggunakan berbagai metode, media dan alat secara bervariasi

(Asrori, 2008: 91).

Langkah selanjutnya dalam proses pemilihan strategi pembelajaran adalah

penentuan lingkungan belajar. Dalam hal ini ada tiga setting belajar dan studi

independen atau kerja praktek. Masing- masing dari ketiga tersebut mempunyai

strategi pembelajaran sendiri- sendiri. Untuk ketiga kelas besar lebih cocok di

gunakan metode ceramah atau diskusi kelompok, untuk kegiatan laboratorium lebih

tepat di gunakan alat- alat, dan kegiatan studi praktek karena dengan praktek akan

memungkinkan siswa mendapat pengalaman langsung mengenai tanggungjawab yang

(42)

Dalam memilih suatu strategi, hendaknya dapat mengajak peserta didik untuk

belajar secara aktif. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima pelajaran dari

guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan pelajaran yang telah diberikan.

Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan

pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari,

penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau

sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan

seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar

mengajar yang efektif.

Jika ditelusuri lebih jauh tentang kompetensi profesional, kemudian

dibandingkan dengan apa yang harus dilakukan dalam metode pembelajaran, dapat

diperoleh kesan bahwa:

a. Dalam metode pembelajaran diperlukan landasan, baik filosofis, psikologis

maupun teori-teri dalam belajar.

b. Dalam pengembangan isi atau materi diperlukan kemampuan mengorganisasi

materi dalam pembelajaran dan urutan yang rasional.

c. Dalam melaksanakan prses pembelajaran sebagai implementasi metode

pembelajaran diperlukan kemampuan mengangani pelajaran, menggunakan alat,

metode dan fasilitas belajar.

d. Untuk menilai hasil pencapaian pembelajaran diperlukan kemampuan

mengevaluasi.

e. Pada tingkat yang lebih tinggi metode pembelajaran diarahkan untuk

menumbuhkan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan akhir pendidikan yang

(43)

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik,

karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar

gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun,

rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi

perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik

dan gaya hidupnya.

2. Metode Pembelajaran Membaca Al-Quran

Metodologi Pembelajaran Al-Qur’an dikalangan umat Islam belakangan ini

semakin berkembang dan membudaya di masyarakat. Hal ini terjadi karena tidak sedikit

jumlah anak-anak dan orang dewasa yang Belum mampu membaca Al-Qur’an dengan

baik, sehingga prosentasenya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Fenemona ini

bukan hanya berkembang di kalangan keluarga yang penghayatannya ke-Islamannya

mendalam, khususnya para pemuka agama Islam itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada

masyarakat awam yang sebagian besar dari mereka belum memahami makna ajaran

agama Islam belum sempurna. Sementara di satu sisi mereka sadar bahwa agama bukan

sekedar penerapan tetapi memerlukan ajaran-ajaran secara benar

Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak berkembang

di Indonesia sudah sejak lama. Tiap-tiap metode membaca Al-Qura’an dikembangkan

berdasarkan karakteristiknya. Beberapa contoh metode pembelajaran yang

berkembang di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut (Komari, 2008):

a. Metode Baghdadiyah.

Metode ini disebut juga dengan metode “ Eja “, berasal dari Baghdad

masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa

penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air.

(44)

yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang

terinci ( khusus ).

Secara garis besar, koidah baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf

hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah

sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap

langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar) karena bunyinya

bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini

diajarkan secara klasikal maupun privat. Beberapa kelebihan Qoidah

Baghdadiyah antara lain :

1) Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.

2) 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh

sebagai tema sentral.

3) Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.

4) Ketrampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.

5) Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.

Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara lain :

a) Kaidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami

beberapa modifikasi kecil.

b) Penyajian materi terkesan menjemukan.

c) Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman

siswa.

d) Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur'an

b. Metode Iqro’.

Metode Iqro’ disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede

(45)

Musholla) Yogyakarta dengan membuka TK Al-Qur'an dan TP Al-Qur'an. Metode Iqro’ semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah

munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an dan metode Iqro’ sebagai sebagai program utama perjuangannya. Metode Iqro’ terdiri dari 6

jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur'an. 10 sifat buku Iqro’ adalah :

1) Bacaan langsung.

2) CBSA

3) Privat

4) Modul

5) Asistensi

Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro’ antara lain :

1) TK Al-Qur'an

2) TP Al-Qur'an

3) Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/musholla

4) Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur'an

5) Menjadi program ekstra kurikuler sekolah

6) Digunakan di majelis-majelis taklim

b. Metode Al Barqy

Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an

yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel

Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa

SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu

membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan

(46)

MANAJEMEN (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu

program pemerintah dalam hal pemberantasan buta baca tulis Al Qur’an dan praktis.

Disusun secara lengkap dan sempurna, variatif, komunikatif, fleksibel dan dilengkapi

cara membaca dengan huruf latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai

cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura & Malaysia. Metode ini

disebut anti lupa karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa

dengan huruf-huruf/ suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah

dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan anti lupa itu sendiri adalah

dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI. Metode ini

diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini

mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat

mempermuda dan mempercepat anak / siswa belajar membaca. Waktu untuk belajar

membaca Al Qur’an menjadi semakin singkat.

Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah :

1) Guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik,

bisa menambah penghasilan di waktu luang dengan keahlian yang dipelajari),

2) Murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah

kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan mengusainya dalam waktu

singkat, hanya satu level sehingga biayanya lebih murah),

3) Sekolah menjadi lebih terkenal karena murid-muridnya mempunyai

kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah

lain).

d. Metode Tilawati.

Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs.H. Hasan

(47)

Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang

berkembang di TK-TPA, antara lain: Mutu Pendidikan Kualitas santri lulusan TK/TP Al

Qur’an belum sesuai dengan target. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran masih

belum menciptakan suasana belajar yang kondusif. Sehingga proses belajar tidak efektif.

Pendanaan Tidak adanya keseimbangan keuangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Waktu pendidikan Waktu pendidikan masih terlalu lama sehingga banyak santri drop out

sebelum khatam Al-Qur'an. Kelas TQA Pasca TPA TQA belum bisa terlaksana. Metode

Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi santri-santrinya, antara lain :

2) Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.

3) Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an yang salah.

4) Ketuntasan belajar santri secara individu 70 % dan secara kelompok 80%.

Prinsip-prinsip pembelajaran Tilawati :

a) Disampaikan dengan praktis.

b) Menggunakan lagu Rost.

e. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )

Dirosa merupakan sistem pembinaan islam berkelanjutan yang diawali dengan

belajar baca Al-Qur’an. Panduan Baca Al-Qur’an pada Dirosa disusun tahun 2006 yang

dikembangkan Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa dengan

sistem klasikal 20 kali pertemuan. Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang

panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu yang dialami

sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang

terbaik pada pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun

dengan berganti ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara

dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu memadukan pembelajaran baca

Gambar

Gambar 1.1
Tabel 3.1
Gambar 4.1 Denah Siklus I
Gambar 4.2 Denah Siklus II
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

- Membaca hadits tentang keutamaan orang menun - tut ilmu dengan benar. - Menyalin hadits dengan baik

2.1.1 Membiasakan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah Ilmu Tajwid dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar

mengajar, membimbing, dan melatih peserta didik untuk membaca Al-Quran dengan fasih dan benar sesuai kaidah Ilmu tajwid agar peserta didik terbiasa belajar

2.1 Terbiasa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah Ilmu Tajwid dalam kehidupan sehari-hari. 2.1.1 Membiasakan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar

Faisal, M.T Kata Kunci: Ilmu Tajwid, Game Side Scrolling, Iterative Deepening A* Dalam membaca Al-Quran, terdapat ilmu untuk mempelajari tata cara membaca Al-Quran dengan baik dan

Membaca Al-Qur’an merupakan suatu kewajiban sehingga membaca Al-Qur’an yang baik dan benar perlu dilakukan yaitu dengan mempelajari ilmu tajwid.. Orang yang mampu

Menanamkan kesadaran tentang keutamaan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah Ilmu Tajwid. - Penilaian

Dari berbagai pendapat diatas dapat penulis pahami bahwasanya tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara baca membaca al- Quran dengan baik benar.. melafalkan