• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Penetapan Tema dan Jenis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Contoh Penetapan Tema dan Jenis"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen

Lampiran 1 : Contoh hasil inventarisasi keunggulan lokal

No .

Aspek Hasil Inventarisasi Keunggulan lokal

A. Sumber

Daya Alam 1. Yogyakarta memiliki sumber daya objek wisata alamyang sangat menonjol: hutan, pantai, pemandian/mata air, gunung dan pegunungan maupun gua, yang menjadi daya tarik wisata terkenal baik di tingkat domestik maupun mancanegara.

2. Di bidang Agro pertanian/perkebunan dan perikanan, Yogyakarta memiliki potensi cukup tinggi, Yogyakarta dikelilingi oleh daerah yang memiliki potensi agro pertanian/perkebunan yang dikelola oleh Desa Wisata yang sangat potensial untuk pengembangan hasil pertanian/perkebunan.

3. Sedangkan perikanan : hasil laut, sungai, maupun budidaya kolam air tawar cukup tinggi.

4. Yogyakarta memiliki sumber daya alam berupa bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai salah satu bahan baku masakan.

5. Wilayah Yogyakarta kaya dengan penghasil bumbu masakan khas Yogyakata, sebagai salah satu komuditas pertanian andalan.

B. Sumber Daya Manusia

1. Pertambahan penduduk Kota dari tahun ke tahun cukup tinggi, pada akhir tahun 1999 jumlah penduduk Kota Yogyakarta sebayak 490.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat sebanyak 493.903 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 15.197/km². Angka harapan hidup penduduk Kota Yogyakarta menurut jenis kelamin, laki-laki usia 72,25 tahun dan perempuan usia 76,31 tahun. http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/22 2. Jumlah penduduk kota Yogyakarta, berdasar Sensus

Penduduk 2010 [3]., berjumlah 388.088 jiwa, dengan

proporsi laki-laki dan perempuan yang hampir setara.

3. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar, karena hampir 20% penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi. Kota ini diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perguruan tinggi yang dimiliki oleh pemerintah adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia, Universitas Islam Negeri Yogyakarta. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Yogyakarta_Sejarah 4. Masyarakat Yogyakarta memiliki toleransi dan

menerima inovasi maupun hal-hal baru untuk menyesuaikan diri terhadap tantangan alam, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perubahan/akulturasi sosial budaya yang berkembang dengan pesat.

▸ Baca selengkapnya: contoh kegiatan tema gejala alam

(2)

meniru bahkan kehilangan identitas sosial budaya aslinya. Bahkan mampu menampilkan hal-hal yang menarik dan mampu memikat orang lain untuk mengunjungi, mengenal maupun mempelajarinya.

6. Sifat masyarakat yang dapat melakukan inovasi dan mengembangkan potensi alam sehingga dapat meningkatkan nilai guna dan nilai jual.

7. Masyarakat Yogyakarta sangat kreatif untuk mengembangkan potensi tradisi lokal sehingga menarik wisatawan.

8. Sebagian masyarakat Yogyakarta memiliki keterampilan untuk pengembangan tradisi khususnya masakan khas tradisional.

C. Geografis 1. Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten. Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut;

1). Sebelah utara : Kabupaten Sleman

2). Sebelah timur : Kabupaten Bantul dan Sleman

3). Sebelah selatan: Kabupaten Bantul

4). Sebelah barat : Kabupaten Bantul dan Sleman 2. Secara garis besar keadaan alam Kota Yogyakarta

merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu; sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong, bagian tengah adalah Sungai Code, dan sebelah barat adalah Sungai Winongo.

3. Kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan oleh letaknya yang berada didataran lereng gunung Merapi (fluvia vulcanic foot plain) yang garis besarnya mengandung tanah regosol atau tanah vulkanis muda.

http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21 4. Yogyakarta merupakan ibukota provinsi yang

terletak di tengah pulau Jawa, ibu kota provinsi memiliki Sumber Daya Manusia yang handal yang berhubungan dengan perkembangan masa depan dan memberikan contoh masyarakat modern yang tetap menjunjung tinggi budaya lokal maupun adat-istiadat.

5. Posisi Yogyakarta yang strategis dan memiliki Bandar Udara Internasional merupakan tempat transit lokal maupun internasional bagi para traveller maupun wisatawan.

▸ Baca selengkapnya: contoh tema dan subtema

(3)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen

menjadi berbagai macam produk yang dapat dikembangkan menjadi ciri khas Yogyakarta.

7. Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia dapat mengembangkan bahan pangan lokal menjadi buah tangan khas Yogyakarta.

D. Historis 1. Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu.

2. Di Kota Yogyakarta, terdapat beberapa gedung-gedung tua peninggalan zaman kolonial Belanda, seperti gedung kantor pos dan Bank Indonesia. Selain itu, ada juga bangunan-bangunan yang menjadi simbol budaya kesultanan atau kerajaan, seperti; Keraton Yogyakarta, Tamansari, Kampung Kauman, Museum Benteng Vredeburg.

3. Selain situs sejarah dan budaya yang dimilik, Kota Yogyakarta memiliki pesona wisata yang tak kalah dengan kota lain. Objek wisata yang bisa dikunjungi di antaranya kompleks Candi Prambanan, daerah Kaliurang, dan pantai Parangtritis. Kota Yogyakarta juga dikenal dengan sentra kerajinan dan batiknya. Kasongan adalah salah satu sentra kerajinan gerabah yang terkenal. Sentra kerajinan perhiasan perak terdapat di daerah Kota Gede.

4. Di pusat kota Yogya terdapat pusat belanja wisata dan kuliner. Sepanjang Jalan Malioboro terkenal dengan wisata kuliner ala lesehan dan angkringan. Di Jalan Malioboro juga terdapat pasar Beringharjo sentra penjualan batik dan oleh-oleh khas Yogyakarta.

5. Objek wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Keraton Yogyakarta memiliki pertalian historis cukup erat bagi masyarakat yang berdomisili di Yogyakarta dan mempengaruhi aspek kehidupan sehari-hari. 6. Beberapa peninggalan sejarah seperti peninggalan

jaman kolonialisme/prakemerdekaan maupun budaya antara lain Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Tamansari, Tugu Yogyakarta, Monjali, Panggung Krapyak, museum Sonobudoyo, Museum Pangsar Jenderal Soedirman Sasmita Loka, monument Serangan Umum 1 Maret dan Pura Pakualaman.

7. Masyarakat di daerah Bantul pada masa Perang

Diponegoro dibawah kekuasaan Sultan

▸ Baca selengkapnya: contoh tema porak

(4)

Hindia-Belanda. Sehingga muncullah "Kuliner Perlawanan" yang kemudian menghasilkan gudeg manggar - ikon kuliner Bantul hingga saat ini.

E. Budaya 1. Keberadaan kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman membuat kota Yogyakarta dipandang sebagai salah satu pusat budaya Jawa. Di kota Yogyakarta masih banyak ditemui warisan budaya, baik yang bersifat fisik/bendawi (tangible) maupun yang bersifat nonfisik/nonbendawi (intangible).

2. Pada hakikatnya, kesenian Jawa yang asli dan indah selalu terdapat di dalam lingkungan istana raja dan di daerah-daerah Jawa sekitarnya. Sebagai pusat kerajaan-kerajaan besar terdahulu, pulau Jawa khususnya kota Yogyakarta memiliki kesenian khas dan kebudayaan yang tinggi, bahkan merupakan pusat serta sumber kesenian di Indonesia.

3. Beragam kesenian khas Yogyakarta dan kebudayaannya, antara lain; upacara sekaten, ketoprak, sendratari ramayana, seni wayang orang, jathilan, upacara siraman pusaka, dan lain sebagainya.

4. Beragam upacara adat di Yogyakarta dan hidangan sesaji yang digunakan antara lain: tradisi kupatan jolo sutro, sedekah laut, upacara pernikahan, peringatan kematian

5. Masyarakat Yogyakarta merupakan masyarakat multietnis, berbagai suku hidup secara berdampingan, bermasyarakat dan saling membaur dengan budaya yang dimiliki.

6. Sebagai salah satu tempat wisata favorit di Indonesia, kota Yogyakarta memiliki potensi keanekaragaman makanan khas, antara lain;

a. Gudeg

Gudeg adalah makanan khas Yogyakarta yang terdiri dari nangka muda, lauk tahu, tempe, telur dan suwiran daging ayam, dimasak dengan bumbu dan santan kelapa, dilengkapi dengan sambal goreng krecek (kulit sapi).

b. Kipo

(5)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen

c. Ampyang

Dicetak dalam bentuk bundar kecil dengan bahan baku kacang dan gula merah. Makanan ringan Ampyang ini dengan mudah diperoleh di obyek wisata Kaliurang, seperti halnya jadah tempe atau di kios-kios pusat oleh-oleh yang berada di jalan Mataram dan kawasan Pathuk, Yogyakarta.

d. Bakpia Khas Pathuk

Bagi yang

mencari jajanan ringan berupa makanan khas Yogyakarta untuk oleh-oleh, dapat dengan mudah mendapatkannya di sepanjang jalan Pathuk. Di sepanjang jalan ini akan ditemui penjual berbagai makanan khas, terutama Bakpia yang terkenal dengan sebutan Bakpia Pathuk.

e. Enting Enting Gepuk

Enting Enting Gepuk adalah makanan khas Yogyakarta. Terbuat dari kacang tanah, gula pasir dan penyedap rasa. Rasanya manis, gurih dan renyah. Selain tahan lama, makanan ini kemasannya juga unik. Hanya dibungkus kertas, tetapi tetap higienis dan awet karena di dalamnya dilapisi plastik tebal. Makanan ini mudah didapatkan di kios-kios makanan kecil yang banyak terdapat di sepanjang jalan Mataram.

f. Geblek

(6)

hanya saja tepung tapioka yang digunakan adalah tepung tapioka basah. Tapioka basah ini biasanya dikirim ke pembuat geblek dalam adonan yang sudah basah yang bisa dipotong-potong dan disesuaikan ukurannya.

g. Geplak Bantul

Geplak adalah makanan khas Yogyakarta (Bantul). Makanan khas Yogyakarta yang satu ini rasanya sangat manis, terbuat dari gula dan kelapa berwarna merah, putih, hijau, kuning dan coklat. Geplak mudah diperoleh di pusat oleh-oleh seperti di Jl. Mataram, pasar Beringharjo dan pasar Kranggan, Yogyakarta.

h. Jadah Tempe

Jadah Tempe banyak terdapat di obyek wisata Kaliurang. Terbuat dari ketan yang dikukus dengan diberi santan kelapa, sebagai rangkaiannya adalah tempe bacem. Rasa jadah sangat gurih dan liat (tidak keras). Disantap dengan tempe bacem dan lombok ijo, merupakan paduan yang sangat pas di lidah.

i. Wedang Uwuh

(7)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen

(8)

Internal

A. Peserta Didik 1. Peserta didik memiliki toleransi dan menerima inovasi maupun hal-hal baru untuk menyesuaikan diri terhadap tantangan alam, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perubahan/akulturasi sosial budaya yang berkembang dengan pesat, dengan tidak meninggalkan kultur budaya lokal.

2. Sifat keterbukaan peserta didik untuk bisa menerima masyarakat lain yang berkunjung tanpa harus meniru bahkan kehilangan identitas sosial budaya aslinya.

3. Peserta didik mampu menampilkan hal-hal yang menarik dan mampu memikat orang lain untuk

mengunjungi, mengenal maupun

mempelajarinya.

4. Pengetahuan peserta didik terhadap pariwisata cukup tinggi.

5. Minat peserta didik terhadap pengembangan wisata kuliner cukup tinggi.

B. Pendidik 1. Tersedia guru mata pelajaran keterampilan tata boga, pariwisata dan desain grafis.

2. Potensi pendidik dalam hal kepariwisataan khususnya wisata kuliner cukup tinggi.

3. Rasa toleransi dan penghargaan pendidik terhadap budaya lokal cukup tinggi.

4. Sumber daya pendidik yang andal adaptif dengan perkembangan masa depan dan memberikan contoh masyarakat modern yang tetap

menjunjung tinggi budaya lokal maupun adat-istiadat.

5. Kualifikasi keahlian dan kompetensi pendidik pada pengembangan keunggulan lokal cukup tinggi, khususnya pada pengengembangan wisata kuliner.

6. Pengetahuan pendidik tentang pengembangan wisata khususnya wisata kuliner cukup tinggi

C

. Sarana danPrasarana 1. Jumlah ruang kelas lebih banyak dibanding jumlahrombel 2. Tersedia ruang tata boga, pariwisata, desain

grafis yang representatif

3. Tersedia Laboratorium Fisika, Kimia, Biologi dan IPS.

4. Tersedia green house untuk pengembangan tanaman

5. Tersedia kantin yang representatif

6. Luas lahan memadai untuk pengembangan PBKL 7. Lingkungan sekolah yang nyaman, hijau dan asri 8. Buku teks pelajaran, buku panduan, buku

pengayaan, buku referensi, dan bahan ajar yang relevan mencukupi untuk pengembangan PBKL. 9. Tersedia bahan baku yang cukup untuk

(9)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen D

.

Pembiayaan 1. Mengalokasikan biaya pendidikan untuk biaya investasi dalam upaya Implementasi PBKL dalam rangka penyediaan sarana prasarana, pengembangan SDM, dan modal kerja tetap, 2. Mengalokasikan biaya operasional (kesejahteraan

pendidik dan tenaga kependidikan), 3. Memiliki biaya personal dari peserta didik,

4. Memliki program dan upaya sekolah untuk menggali dan mengelola serta memanfaatkan dana dari berbagai sumber dalam Implementasi PBKL,

5. Sekolah sudah memiliki pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada standar pendidikan dalam upaya Implementasi PBKL,

6. Rencana anggaran, program dan biaya sekolah (RKAS) telah dan sedang dilaksanakan sesuai program.

7. Laporan pertanggung-jawaban secara akuntabel dan transparan.

E. Program

Sekolah 1. Memiliki rencana induk pengembangan sekolahyang meliputi program jangka panjang, menengah dan pendek.

2. Memiliki Dokumen Program Kerja sekolah yang mencakup program rutin dan program PBKL. 3. Memiliki program kerja sekolah dalam rangka

pengembangan PBKL secara berkelanjutan.

4. Menyusun panduan pembelajaran dan penilaian program PBKL yang dilaksanakan melalui mata pelajaran keterampilan serta terintegrasi pada mata pelajaran yang relevan.

5. Melaksanakan proses pembelajaran PBKL di sekolah dan diluar sekolah.

Eksternal

A

. KomiteSekolah 1. Dukungan Komite sekolah dalam penyusunanprogram PBKL cukup tinggi. 2. Komite sekolah memfasilitasi kerjasama dengan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri dalam pengembangan PBKL.

3. Komite sekolah mendukung penggalian dana untuk pengembangan PBKL.

4. Komite sekolah mendukung pengembangan PBKL di sekolah.

5. Komite sekolah memiliki potensi sebagai narasumber dalam pengembangan PBKL di sekolah.

6. Komite sekolah membantu pemenuhan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan PBKL di sekolah.

(10)

teratur oleh komite sekolah.

B. Pemerintah Kabupaten/Ko ta

1. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005-2025, visi Kota Yogyakarta adalah Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dan Pusat Pelayanan Jasa, yang Berwawasan Lingkungan. Adapun yang dimaksud dengan “Pariwisata Berbasis Budaya” adalah; Kegiatan pariwisata di Kota Yogyakarta dikembangkan dengan dasar dan berpusat pada budaya Jawa yang selaras dengan sejarah dan budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kearifan lokal dan nilai-nilai luhur budaya bangsa; Menyempurnakan dan meningkatkan jaringan kerjasama wisata dengan pihak lain; Menjadikan daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara; Peningkatan kegiatan pariwisata dilaksanakan dengan menciptakan inovasi-inovasi yang tetap berlandaskan pada wisata budaya, wisata bangunan sejarah, wisata pendidikan, wisata konveksi, dan wisata belanja.

2. Misi kota Yogyakarta antara lain; menjadikan dan mewujudkan pariwisata, seni dan budaya sebagai unggulan daerah dalam rangka mengembangkan kota sebagai kota pariwisata yang berbudaya. 3. Misi Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta antara lain;

mewujudkan pendidikan berkualitas yang berakar budaya adiluhung.

C .

Perguruan Tinggi

1. Banyaknya perguruan tinggi di Yogyakarta sebagai sumber informasi pengembangan PBKL. 2. Sekolah selalu mengundang perguruan tinggi

(Dosen) sebagai narasumber pengembangan PBKL di sekolah.

3. Sekolah melakukan MOU kerjasama dengan perguruan tinggi dalam rangka pelaksanaan dan pengembangan PBKL.

4. Perguruan tinggi sebagai sarana pembelajaran PBKL bagi peserta didik.

D .

Dunia

Usaha/Dunia Industri

1. Banyaknya dunia usaha/dunia industri pariwisata khususnya wisata kuliner di kota Yogyakarta sebagai sumber informasi sekaligus mitra kerja pengembangan PBKL.

2. Keterbukaan dunia usaha/dunia industri pariwisata di Yogyakarta mempermudah jaringan pengembangan PBKL di sekolah.

(11)

©2011, Dit. PSMA-Ditjen Mandikdasmen

(12)

Contoh alur identifikasi dan penetapan tema dan jenis PBKL:

Tingkat Kesiapan Sekolah (Hasil Analisis Internal)

Tema: Pariwisata Jenis: Tata Boga

Contoh

Sumber Daya Alam:

Yogyakarta memiliki sumber daya alam berupa bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai salah satu bahan baku masakan.

Dst.

Sumber Daya Manusia:

Sebagian masyarakat Yogyakarta memiliki keterampilan untuk pengembangan tradisi khususnya masakan khas tradisional

Dst. Geografis:

Yogyakarta sebagai salah satu daerah dengan potensi alam yang cukup banyak memiliki keanekaragaman bahan pangan yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang dapat dikembangkan menjadi ciri khas Yogyakarta. dapat mengembangkan bahan pangan lokal menjadi buah tangan khas Yogyakarta

Dst. Historis:

Selain situs sejarah dan budaya yang dimilik, Kota Yogyakarta memiliki pesona wisata yang tak kalah dengan kota lain. Objek wisata yang bisa dikunjungi di antaranya kompleks Candi Prambanan, Kraton Yogyakarta dan Benteng Ven Der Burg. Dst.

Budaya:

Beragam kesenian khas Yogyakarta dan kebudayaannya, antara lain; upacara sekaten, ketoprak, sendratari ramayana, seni wayang orang, jathilan, upacara siraman pusaka, dan makanan tradisi.

Dst.

Pemerintah Kabupaten/Kota:

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005-2025, visi Kota Yogyakarta adalah Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, Pariwisata Berbasis Budaya dst.

Dst.

Komite Sekolah:

Dukungan Komite sekolah dalam penyusunan program PBKL cukup tinggi. Dst.

Potensi PBKL yang Dapat Dikembangkan (Hasil Analisis Eksternal)

Contoh

Peserta Didik :

Pengetahuan peserta didik terhadap pariwisata cukup tinggi.

Minat peserta didik terhadap pengembangan wisata kuliner cukup tinggi.

Dst.

Pendidik :

Tersedia guru mata pelajaran keterampilan tata boga, pariwisata dan desain grafis.

Potensi pendidik dalam hal kepariwisataan khususnya wisata kuliner cukup tinggi. Dst.

Sarana dan Prasarana:

Tersedia ruang tata boga, pariwisata, desain grafis yang representatif

Tersedia kantin yang representatif Dst.

Pembiayaan :

Memiliki program dan upaya sekolah untuk menggali dan mengelola serta memanfaatkan dana dari berbagai sumber dalam Implementasi PBKL,

Sekolah memiliki pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada standar pendidikan dalam upaya Implementasi PBKL

Dst.

Program Sekolah:

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Pegunungan adalah contoh pemandangan alam di Indonesia. Conteh lain adalah daerah pantai. Di Indonesia terdapat banyak pantai yang indah. Di Bali don Lombok

Beberapa elemen dari komponen sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi objek dan daya tarik wisata terdiri dari cuaca iklim,bentang alam,flora dan

Provinsi Jawa Barat memiliki potensi wisata yang sangat baik mulai dari.. jenis daya tarik wisata pegunungan, pantai, hutan, dan lainnya yang

Saat ini obyek wisata yang berkembang di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Pancar tidak hanya pemandian air panas saja tetapi obyek wisata alam lain yang telah dikembangkan PT

Studi Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan untuk Rekreasi Pantai di Pantai Panjang Kota Bengkulu.Journal of Marine Research.. Modul Praktek Objek

7 Kita tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan pemasaran objek wisata Gundaling dan Pemandian Air Panas Semanga Gunung, serharusnya kita juga selaku pelaku wisata

Provinsi Jawa Barat memiliki potensi wisata yang sangat baik mulai dari jenis daya tarik wisata pegunungan, pantai, hutan, dan lainnya yang apabila dikelola dengan

Di Kabupaten Nias utara terdapat 33 objek wisata yang menarik terdiri dari wisata pantai, gunung, gua, dan air terjun yang dapat dipilih diantaranya untuk lokasi tapak pada perancangan