1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap Insan yang hidup di dunia ini akan melewati sebuah proses kehidupan yaitu di mulai dari dilahirkan kedunia hingga meninggal dunia. Kehidupan inilah yang tidak pernah luput dari kedudukan kita sebagai hamba Allah, sebab Dia-lah yang telah menciptakan dan kepada Dia-lah tempat untuk kembali ke pangkuan-Nya. Manusia bukan hanya sebatas mahluk individu melainkan mahluk sosial yang mempunyai hak dan kewajiban dalam masyarakat.
Islam merupakan agama sempurna yang telah mengatur segala proses kehidupan manusia hingga proses pembagian harta peninggalan yaitu berupa warisan. Dalam Hukum kewarisan Islam proses pembagian harta warisan sudah diatur sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada sesuai dengan ayat-ayat waris yang terdapat dalam Al-Qur‟an, agar dijadikan
sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat Islam.1 Hukum waris juga
merupakan persoalan yang penting dalam Islam karena warisan merupakan hak setiap manusia yang telah ditingalkan.
Dewasa ini, seperti kita ketahui bersama perkembangan zaman yang sudah sangat modern seperti saat ini, muncullah berbagai macam pemikiraan-pemikiran dan perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan
1 Abdul Wahab Khalaf, terj. Masdar Helmy „Ilmu Ushul al-Fiqh, (Bandung: Gema Risalah Press, 1996), hlm. 111
pemikir Islam kontemporer dalam memahami sebuah ilmu-ilmu khususnya dalam bidang kewarisan, maka timbullah sebuah pemikiran mengenai kesetaran gender yang ingin menyetarakan sistem pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan, karena pembagian harta warisan
2:1 dirasa belum memiliki rasa keadilan.2
Diskursus kajian Islam memang selalu penuh dengan berbagai pergolakan. Berbagai macam masalah selalu dicarikan solusinya dalam Islam tak terkecuali perihal tentang pembagian harta warisan antara laki-laki dan perempuan yang sampai saat ini masih sangat hangat untuk di perbincangkan dalam lingkup masyarakat Islam. Artidjo Alkostar memandang bahwa eksistensi hak asasi manusia (HAM) dan keadilan dapat dijadikan rujukan dasar dalam membangun pemikiran Islam agar
memiliki sikap sosial yang kuat.3
Secara garis besar, banyak kita temui para tokoh dan pakar pemikir Islam yang sangat kontemporer, namun dalam bahasan kali ini akan mengkaji pemikiran seorang cendikiawan Islam yang hidup di Indonesia yaitu salah satunya Munawir Sjadzali. Pemikiran yang dikemukakan oleh Munawir Sjadali dalam konteks ini yaitu mengenai gagasan hukum Islam mengenai pembaharuan sebagai reaktualisasi ajaran Islam. Gagasan yang dikemukakan sedikit memunculkan polemik pro dan kotra dari berbagai macam kalangan pemikir Islam, yaitu sebuah karya tentang riba bunga
2
Abu Hamzah, Relevansi Hukum waris Islam: Bias Isu Gender, Egalitarisme, Pluralism dan Ham, (Jakarta: As-sunah, 2005),hlm. 50
3 Eko Riyadi, Supriyanto Abdi (Ed). Mengurai Kompleksitas Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII, 2007), hlm. XI
bank dan pembagian harta warisan antara laki-laki dan perempuan, namun dalam pembahasan kali ini akan mengkaji dalam bidang kewarisan antara
laki-laki dan perempuan saja.4
Polemik yang terjadi diantara para pemikir Islam dalam memandang sistem kewarisan adalah karena terjadinya asumsi ketidakadilan dan dianggap tidak relevan untuk dijadikan rujukan dalam masyarakat di
Indonesia sekarang ini.5 Dalam konteks kewarisan Islam yang diterangkan
dalam Al-Quran secara tekstual bahwa laki-laki memiliki dua kali lipat dari bagian perempuan. Dengan demikian Munawir Sjadzali memberikan sedikit ide pemikirannya untuk mengreaktualisasikan ajaran Hukum Islam khususnya dalam permasalah pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan, karena menurutnya, ia mengeluarkan gagasan atau pandangan tersebut tidak dalam keadaan vakum atau tanpa alasan. Namun gagasan reaktualisasi yang dikemukakan oleh Munawir Sjadzali didasari atas beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi dalam keluarga.
Menurut, Munawir Sjadzali bahwa pembagian harta waris 2:1 yang terdapat dalam surat An-Nissa‟ belum mencerminkan adanya rasa keadilan, dan ketentuan itu sudah banyak ditingalkan oleh masyarakat Indonesia, baik secara langsung atau tidak langsung seperti halnya para pewaris telah membagikan harta warisan sebelum meninggal dunia agar setiap ahli waris yang ditinggalkan mendapatkan hak yang sama rata tanpa
4
Munawir Sjadzali, Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988), hlm. 2
5 Munawir Sjadzali, Bunga Rampai Wawasan Islam Dewasa Ini, ( Jakarta: UI-PRESS, 1994), hlm. 44
harus membedakan jenis kelamin, hal ini yang dinamakan dengan hibbah, maka inilah yang disebut sebagai penyimpangan atau mendahuli
ketentuan.6 Munawir berpendapat bahwa dalam menafsirkan sebuah ayat
waris harus secara keseluruhan yaitu dengan mengaitkan ayat yang satu dengan yang lainya agar mudah dalam memahami dan memaknai ayat
waris yang terdapat dalam Al-Qur‟an. 7
Pendapat yang digagas oleh Munawir Sjadzali tidak mengingkari keadilan yang ditetapkan dalam Al-Quran, akan tetapi ia menyatakan keadilan yang ada dalam pembagian waris mengharuskan melihat situasi dan kondisi ahli waris. Hal ini menimbang bahwasanya pelaksanaan pembagian warisan dipandang belum adil dalam masyarakat. Mengenai sandaran teori ijtihad yang digunakan dalam meraktualisasi ajaran Islam Munawir Sjadzali menggunakan beberapa teori yaitu: Asbab Nuzul, Maslahah, Nash –Mansukh dan „Adah. Munawir juga berpendapat bahwa dalam memahami teks Al-Qur‟an dan Hadis tidak boleh secara harfiah namun harus dipahami secara tekstual agar ajaran hukum Islam sesuai dengan perkembangan zaman.
Selanjutnya, bahwa pemikiran reaktualisasi ajaran Islam merupakan sebuah pemikiran Islam progresif, yaitu menginginkan adanya perubahan sesuatu yang baru kepada Islam agar semua berjalan sesuai dengan kemajuan zaman yang modern seperti saat ini. Islam Progresif sendiri telah memberikan tawaran sebuah metode yang menekankan terjadinya
6 Munawir Sjadzali, Ijtihad Kemanusiaan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 62 7 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: Paramadina, 1993), hlm. 6
sebuah keadilan sosial, kesetaran gender, dan pluralisme keagamaan, agar terwujudnya rasa keadilan di muka bumi ini.
Berangkat dari pemaparan diatas, maka penulis ingin kembali mengkaji dan menelaah lebih dalam lagi mengenai pemikiran dan pendapat Munawir Sjadzali tentang sistem pembagian harta warisan
melalui penulisan Tesis dengan judul “PEMIKIRAN MUNAWIR
SJADZALI TENTANG KEDUDUKAN AHLI WARIS LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM HUKUM ISLAM PERSPEKTIF FIKIH INDONESIA”
B. Fokus dan Pertanyaan Penelitian
Mengacu kepada latar belakang di atas, penulis membatasi diri pada kajian pemikiran Munawir Sjadzali tentang gagasan yang menyangkut tentang Kedudukan Ahli Waris antara Laki-laki dan Perempuan dalam Hukum Islam Perspektif fikih Indonesia. Adapun pertanyaan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan ahli waris laki-laki dan perempuan menurut
Munawir Sjadzali?
2. Bagaimana metodologi pemikiran hukum Islam tentang pembagian
warisan laki-laki dan perempuan menurut Munawir Sjadzali perspektif Fikih Indonesia?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Dapat mejelaskan kedudukan ahli waris laki-laki dan perempuan
menurut Munawir Sjadzali.
b. Dapat menganalisis metodologi pemikiran hukum Islam tentang
pembagian warisan laki-laki dan perempuan menurut Munawir Sjadzali perspektif fikih Indonesia.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan bacaan ilmiah guna menunjang perkembangan khazanah hukum Islam.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi kontribusi positif dalam bidang pemikiran tokoh Islam terkait Pembagian Harta Warisan untuk anak laki-laki dan perempuan.
D. Sistematika Pembahasan
Dalam sistematika pembahasan ini dibagi dalam lima bab. Masing-masing bab terdiri dari sub bab dengan tujuan agar pembahasan proposal ini tersusun dengan sistematis. Adapun sistematika penyusunan sebagai berikut ini:
Bab pertama, merupakan pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, fokus dan pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat
penelitian dan sistematika pembahasan atau dapat dikenal dengan rencana daftar isi.
Bab kedua, merupakan kajian penelitian terdahulu dan kerangka teori yang lengkap dan relevan. Memaparkan kajian penelitian terdahulu, yang berisi tentang judul penelitian terdahulu, nama pengarang, kemudian menuliskan kesimpulan setiap penelitian.
Bab ketiga, pada bab ini berisi mengenai metode yang digunakan dalam penelitian, yang terdiri dari jenis penelitian dan pendekatan penelitian, kemudian sifat penelitian, sumber penelitian dan diakhiri dengan teknik analisis data.
Bab keempat merupakan bagian penelitian yang berisi hasil dan analisis penelitian yang diawali dengan pemaparan tentang biografi Munawir Sjadzali sebagai tokoh pemikir yang dikaji dalam penelitian ini. Setelah mengetahui biografi Munawir Sjadzali barulah dipaparkan kontribusi dasar pemikiran Munawir Sjadzali. Setelah itu dilanjutkan dengan pemikiran dan metodologi Munawir Sjadzali tentang Kedudukan Ahli Waris yang diuraikan mulai dari asumsi dasar dan latar belakang metodologi yang digunakan, struktur fundamental dari pemikirannya, kelebihan-kekurangan dan implikasi metodologinya dalam penafsiran al-Qur‟an. Dengan begitu, maka telaah pemikiran Munawir Sjadzali tentang kedudukan Ahli waris dapat dijelaskan secara komprehensif.
Bab kelima merupakan bab akhir dari tesis ini berisi tentang kesimpulan yang merupakan hasil dari analisis yang dilakukan pada bab
sebelumnya dan memuat saran-saran yang berhubungan dengan tesis ini. Selain itu juga dilengkapi dengan lampiran yang dianggap perlu dan menunjang kelengkapan kesempurnaan tesis ini.