PENGARUH INDEKS CORPORATE GOVERNANCE, KECAKAPAN MANAJERIAL, RASIO LEVERAGE, UKURAN PERUSAHAAN, DAN
EARNINGS POWER TERHADAP MANAJEMEN LABA
(Studi pada Perusahaan Manufaktur dan Jasa yang Berpartisipasi dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) Tahun 2010-2013) EFFECT OF INDEX CORPORATE GOVERNANCE, MANAGERIAL ABILITY, RATIO LEVERAGE, COMPANY SIZE, AND EARNINGS POWER
TO THE EARNINGS MANAGEMENT
(Study on Manufacturing and Service Company Participating in Corporate Governance Perception Index (CGPI) Year 2010-2013)
Disusun Oleh : DONNY KURNIAWAN
20120420281
FAKULTAS EKONOMI
(Studi pada Perusahaan Manufaktur dan Jasa yang Berpartisipasi dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) Tahun 2010-2013) EFFECT OF INDEX CORPORATE GOVERNANCE, MANAGERIAL ABILITY, RATIO LEVERAGE, COMPANY SIZE, AND EARNINGS POWER
TO THE EARNINGS MANAGEMENT
(Study on Manufacturing and Service Company Participating in Corporate Governance Perception Index (CGPI) Year 2010-2013)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun Oleh : DONNY KURNIAWAN
20120420281
FAKULTAS EKONOMI
PERNYATAAN
Dengan ini saya,
Nama : Donny Kurniawan
Nomor Mahasiswa : 20120420281
Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul “PENGARUH INDEKS CORPORATE GOVERNANCE, KECAKAPAN MANAJERIAL, RASIO
LEVERAGE, UKURAN PERUSAHAAN, DAN EARNINGS POWER
TERHADAP MANAJEMEN LABA(Studi pada Perusahaan Manufaktur dan Jasa yang Berpartisipasi dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) Tahun 2010-2013)” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.
Yogyakarta, 22 Agustus 2016
Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa
ilmu pengetahuan buta.
(Albert Einstein)
Untuk meraih sukses, kita harus tahu apa yang
dikerjakan, sukai apa yang dikerjakan, dan yakini
dengan apa yang dikerjakan.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu
dan
orang-orang
yang
diberi
ilmu
pengetahuan.
(QS. Al-Mujadalah :11)
Jika anda lembek terhadap dunia, maka dunia akan
keras dengan anda. Tetapi jika anda keras terhadap
dunia, maka dunia akan lunak dengan anda.
Halaman Persembahan
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepadaku sehingga aku bisa
menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
Terimakasih kepada junjugan-Nya, Nabi besar
Muhammad SAW sebagai suri Tauladan bagi kita semua.
Untuk kedua orang tuaku tercinta Ayahku Yasmin dan Alm. Ibuku Sri Rahayu Ningsih, tarimakasih yang sejak dahulu sudah memberikan dukungan, semangat, perhatian, dan nasihat terbaik yang selalu mengiringi perjalananku. Untuk Alm. Mama disana maaf sudah
menunggu lama karena baru bisa sekarang
mempersembahkan skripsi ini. Semoga mama disana
bisa melihat skripsiku ini, Maaf baru bisa
mempersembahkannya sekarang ma. Untuk ayah terimakasih atas segala motivasi, nasihat, pencerahan dan masukan selama ini dan juga dukungan financial sehingga skripsi ini bisa terwujud.
Kepada kedua adik-adikku Devvy Permata Sari dan Derry Rahmat Saputra, terima kasih karena senantiasa menghiburku dan memberikan segala dukungan dan semangat.
Untuk Ibu Barbara Gunawan, S.E, M.Si., Ak., CA, terimakasih banyak atas segala bimbingan dan motivasi yang sudah diberukan dalam penyusunan skripsi ini.
Bhakti Pratama yang selalu bisa membuatku tertawa dengan canda tawa khas kalian yang ultra greget. Terima kasih karena kalian pengerjaan skripsi ini menjadi lebih berwarna.
Teman anak kos Rustami Ahmad terima kasih telah menjadi kawan sehidup dikos selalu bisa diajak susah maupun senang dan anak mantan kosan Puguh Saputra karena telah menjadi kawan perjuangan dari pertama kali masuk kosan. Terimakasih kalian telah menjadi teman yang baik walau kadang tingkah kalian kadang-kadang greget.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN MOTTO... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
INTISARI ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 8
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Masalah ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Landasan Teori ... 11
1. Teori Keagenan ... 11
2. Corporate Governance Perception Index (CGPI) ... 12
7. Manajemen Laba ... 18
B. Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis ... 19
1. Pengaruh Indeks Corporate Governance terhadap Manajemen Laba ... 19
2. Pengaruh Kecakapan Manajerial terhadap Manajemen Laba... 20
3. Pengaruh Rasio Leverage terhadap Manajemen Laba ... 22
4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba ... 23
5. Pengaruh Earnings Power terhadap Manajemen Laba ... 24
C. Model Penelitian ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 27
A. Objek/Subjek Penelitian ... 27
B. Teknik Pengambilan Sampel ... 27
C. Teknik Pengumpulan Data ... 28
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 28
1. Variabel Dependen ... 28
2. Variabel Independen ... 29
E. Uji Kualitas Instrumen dan Data ... 33
1. Analisis Statistik Deskriptif ... 33
2. Uji Asumsi Klasik ... 34
F. Uji Hipotesis dan Analisis Data ... 36
1. Uji Regresi Linier Berganda ... 36
2. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted �2) ... 37
4. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t) ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 39
A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian ... 39
B. Analisis Deskriptif ... 40
1. Indeks Corporate Governance ... 40
2. Kecakapan Manajerial ... 41
3. Rasio Leverage ... 41
4. Ukuran Perusahaan ... 41
5. Earnings Power ... 41
C. Uji Asumsi Klasik ... 42
1. Uji Multikolinieritas ... 42
2. Uji Autokorelasi ... 43
3. Uji Heteroskedastisitas... 44
1. Pengaruh Indeks Corporate Governance (CGPI) terhadap Manajemen Laba . 50 2. Pengaruh Kecakapan Manajerial terhadap Manajemen Laba ... 51
3. Pengaruh Rasio Leverage terhadap Manajemen Laba ... 52
4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba ... 53
5. Pengaruh Earnings Power berpengaruh terhadap Manajemen Laba ... 54
DAFTAR PUSTAKA ... 57
DAFTAR TABEL
3.1 Pemeringkatan CGPI ... 30
4.1 Perincian Pemilihan Sampel Tahun ... 39
4.2 Statistik Deskriptif ... 40
4.3 Uji Multikolinieritas ... 42
4.4 Uji Autokorelasi ... 43
4.5 Uji Heteroskedastisitas... 44
4.6 Uji Normalitas ... 45
4.7 Hasil Uji Nilai F ... 46
4.8 Hasil Uji Koefisien Determinan ... 47
4.9 Hasil Uji Statistik T ... 48
ix
management. The earning management is the dependent variable in this study.
Index corporate governance, managerial ability, ratio leverage, company size,
and earnings power independent variables in the study. Samples were 52
manufacturing and service companies participating in Corporate Governance
Perception Index (CGPI) for the years 2010-2013. This study used purposive
sampling criteria and double linear regression analysis test. The results showed
that the index corporate governance, company size, and earnings power has a
positive on the earnings management. Managerial ability and ratio leverage does
not affect the earnings management.
Keyword : earnings management, index corporate governance, managerial
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen laba merupakan masalah agensi yang sering terjadi di
lingkungan bisnis. Perilaku manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen
berawal dari konflik keagenan yaitu konflik kepentingan antara pemilik
sebagai principal dan manajer sebagai agen. Manajemen laba terjadi karena
tindakan manajer untuk mendapatkan keuntungan baik secara pribadi maupun
untuk kepentingan perusahaan itu sendiri. Manajemen laba dilakukan dengan
memilih metode akuntansi yang bisa mendukung tujuan dari manajer
tersebut, baik untuk menurunkan laba ataupun meningkatkan laba, tergantung
dari tujuan manajer tersebut. Hail ini tentu saja bertentangan dengan etika
Islam terhadap pelaksanaan manajemen laba karena melandasakan
konsepsinya pada ultitarinisme. Dengan spirit utilitarianisme, manajemen
laba hanya memfokuskan tujuan bisnisnya kepada utilitas yang bersifat
materi dan mengacuhkan utilitas yang bersifat nonmateri (Triyuwono, 2002),
begitu juga orientasi laba tersebut hanya ditujukan kepada pihak manajemen
dan pemilik modal (stockholders) saja, sedangkan pihak stakeholders lainnya
diacuhkan, atau bahkan dirugikan. Spirit utilitarianisme ini sejalan dengan
kapitalisme yang mengarahkan konsep income (laba) hanya untu stockholders
Penelitian ini menggunakan teori akuntansi yaitu teori keagenan. Teori
tersebut dipandang dapat menjelaskan mengenai hubungan antara pihak agen
dan prinsipal yang secara bersama-sama memiliki kepentingan yang berbeda
dalam perusahaan. Adanya kepentingan yang berbeda ini sehingga dapat
memicu terjadinya praktik manajemen laba. Terdapat dua alasan kenapa
manajemen laba sangat penting. Pertama, investor tidak dapat mendeteksi
kecurangan atas laporan keuangan. Sehingga terjadinya kesalahan alokasi
dana dari perusahaan yang berprospek tinggi ke prospek rendah. Kedua,
terjadinya kesenjangan informasi antara perusahaan dan investor yang
berakibat mempertinggi profitabilitas bagi perusahaan untuk menaikan laba.
Menurut Peni dan Vahama (2010), telah diketahui sejak lama bahwa
eksekutif perusahaan atau manajer perusahaan telah memiliki insentif untuk
melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk memaksimalkan nilai
perusahaan, ataupun untuk memaksimalkan kesejahteraan pribadi.
Manajemen laba adalah campur tangan manajemen dalam proses pelaporan
keuangan dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri (manajer).
Salah satu cara untuk mengukur manajemen laba adalah dengan
menggunakan proksi Discretionary Accrual (DA). Discretionary Accrual
adalah komponen akrual yang berada dalam kebijakan manajer, artinya
manajer memberi intervensinya dalam proses pelaporan akuntansi.
Agar manajemen laba dapat dihindari, maka salah satu upaya yang dapat
dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan menerapkan corporate governance
3
menerapkan corporate governance secara baik maka secara tidak langsung
perusahaan akan mampu untuk mengelola bisnis yang lebih beretika,
memiliki keadilan dan mempunyai tanggung jawab dengan berlandaskan
pada asas-asas corporate governance yang baik, yang terdiri dari asas
transparansi, asas akuntabilitas, asas responsibilitas, asas independensi serta
asas kewajaran dan kesetaraan. Corporate governance yang baik juga dapat
memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang mampu menerapkannya.
Perkembangan corporate governance secara global mengakibatkan beberapa
organisasi di dunia melakukan penilaian dan pemeringkatan terhadap
perusahaan yang telah menerapkan praktik corporate governance. Penilaian
terhadap praktik corporate governance kemudian diterbitkan dalam bentuk
laporan tahunan yang dapat dilihat oleh masyarakat pada umumnya dan para
pemangku kepentingan (stakeholders) perusahaan pada khususnya.
Governance Metrics International (2004), Institutional Shareholders Services
(2003), dan S&P Ratings merupakan contoh agensi yang melakukan penilaian
dan pemeringkatan terhadap praktik corporate governance dalam lingkup
internasional. Laporan hasil penilaian dan pemeringkatan good corporate
governance menjadi sesuatu hal yang menarik bagi investor dan kreditor
karena dianggap sebagai hasil refleksi dari penerapan corporate governance
yang telah dilakukan oleh perusahaan. Semakin tinggi skor dan peringkat
yang diperoleh oleh perusahaan, maka semakin besar pula kepercayaan
stakeholders terhadap perusahaan tersebut. Oleh karena itu, beberapa tahun
penilaian, skor, dan peringkat good corporate governance sebagai tolak ukur
kesuksesan perusahaan. Di Indonesia, satu-satunya organisasi yang
melakukan kegiatan pemeringkatan terhadap praktik CG terhadap
perusahaan-perusahaan di indonesia dan mempublikasikan hasil
pemeringkatan yang dilakukannya adalah The Indonesian Institute for
Corporate Governance (IICG). Organisasi yang berdiri sejak 2 Juni 2000 atas
inisiatif Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan tokoh masyarakat
indonesia ini adalah sebuah lembaga independen yang melakukan kegiatan
diseminasi dan pengembangan good corporate governance di Indonesia.
Seorang manajer yang dianggap cakap dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnyalah adalah manajer yang mampu melaksanakan tugasnya
dengan baik. Menurut Isnugrahadi dan Kusuma (2009), Salah satu kunci
keberhasilan sebuah perusahaan adalah memiliki manajer yang cakap. Manajer
yang cakap tidak membutuhkan manajemen laba untuk memperbagus laba.
Seorang manajer yang cakap tentu saja memiliki kemampuan yang memadai dari
segi tingkat intelegensia yang tinggi, tingkat pendidikan yang cukup tinggi, serta
pengalaman yang cukup di bidang keuangan. Manajer yang cakap dan mampu
membuat keputusan-keputusan yang member nilai tambah bagi perusahaan
adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah perusahaan. Stakeholder tentu
menginginkan perusahaannya dikelola oleh manajer yang memiliki kemampuan
dalam mendesain proses bisnis yang efisien dan mampu membuat
keputusan-keputusan andal dan tepat yang memberi nilai tambah bagi perusahaan sehingga
5
Tujuan manajer melakukan manajemen laba yaitu untuk menghindari
penurunan laba dan juga menghindari kerugian. Upaya untuk menghindari
penurunan laba dan juga menghindari kerugian ini dapat dikategorikan
kedalam manajemen laba yang dimotivasi berdasarkan motivasi perjanjian
utang, dalam hal ini motivasi perjanjian utang memiliki syarat yang harus
dipenuhi yang mencakup kesediaan debitur untuk mempertahankan
rasio-rasio akuntansi, seperti debt to equity ratio, rasio kodal kerja minimum, serta
batasan-batasan lain yang umumnya dikaitkan dengan data akuntansi
perusahaan. Laba yang tinggi diharapkan dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya pelanggaran syarat perjanjian utang sehingga manajer diprediksi
akan cenderung untuk memilih kebijakan akuntansi yang dapat meningkatkan
laba. Dengan demikian, penelitian ini memilih untuk melakukan manajemen
laba dengan motivasi perjanjian utang berdasarkan perhitungan dengan
menggunakan rasio leverage.
Ukuran perusahaan juga berpengaruh terhadap manajemen laba. Pada
perusahaan yang memiliki ukuran yang lebih besar dianggap memiliki
kecenderungan untuk tidak melakukan manajemen laba karena perusahaan
yang berukuran besar dianggap lebih kritis oleh pihak luar dibandingkan
dengan perusahaan yang berukuran kecil. Perusahaan yang lebih besar kurang
memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba. Hal ini dikarenakan
aktivitas operasi pada perusahaan besar lebih kompleks, sehingga mereka
dalam melakukan pelaporan keuangannya mereka akan melaporkannya
dengan lebih akurat.
Earnings power adalah alat yang digunakan oleh calon investor ataupun
para pemegang saham untuk menilai efesiensi perusahaan dalam pengunaan
aset perusahaan dalam menghasilkan laba. Dengan melakukan analisis
profitabilitas perusahaan, maka stokholder dapat menilai kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba (earnings power). Investor beranggapan
bahwa earnings power yang tinggi akan menjamin pengembalian investasi
serta akan memberikan keuntungan yang layak, oleh karena itu perusahaan
harus menampilkan kinerja menejemen yang baik sehingga earnings power
perusahaan dapat dilihat maksimal. Karena sikap investor yang cenderung
hanya memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
(earnings power) sehingga memungkinkan perusahaan melakukan praktik
manajemn laba untuk menarik investor.
Penelitian ini mereplikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Lande, dkk
(2014). Penelitian tersebut menggunakan sampel perusahaan manufaktur
yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia selama tahun 2008 sampai 2012.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah peneliti
menambahkan variabel indeks corporate governance, ukuran perusahaan, dan
earnings power serta sampel yang diambil peneliti mengambil perusahaan Go
Public yang berpartisipasi dalam Corporate Goverment Perception Index
7
Dari pemaparan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH INDEKS CORPORATE
A. BATASAN MASALAH
Faktor-faktor yang mempengaruhi penelitian ini yaitu indeks corporate
governance, kecakapan manajerial, rasio leverage, ukuran perusahaan, dan
earnings power. Periode penelitian yang digunakan adalah tahun 2010-2013
yang bergerak di bidang manufaktur dan jasa yang berpartisipasi dalam
Corporate Governance Perception Index (CGPI) Tahun 2010-2013.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang penelitian diatas diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apakah Indeks Corporate Governance berpengaruh terhadap manajemen
laba?
2. Apakah Kecakapan Manajerial berpengaruh terhadap manajemen laba?
3. Apakah Rasio Leverage berpengaruh terhadap manajemen laba?
4. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba?
5. Apakah Earnings Power berpengaruh terhadap manajemen laba?
C. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk menguji apakah Indeks Corporate Governance berpengaruh
9
2. Untuk menguji apakah Kecakapan Manajerial berpengaruh terhadap
manajemen laba?
3. Untuk menguji apakah Rasio Leverage berpengaruh terhadap manajemen
laba?
4. Untuk menguji apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap
manajemen laba?
5. Untuk menguji apakah Earnings Power berpengaruh terhadap manajemen
laba
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta berguna bagi
berbagai pihak, antara lain :
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan pengetahuan empiris mengenai penyebab terjadinya
manajemen laba yang dilihat dari segi indeks corporate governance,
kecakapan manajerial, rasio leverage, ukuran perusahaan, dan
earnings power sebagai variabel yang mempengaruhi manejemen
laba.
b. Sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan mengulas
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan gambaran kepada suatu perusahaan mengenai penyebab
terjadinya manajemen laba sehingga pihak perusahaan bisa
mengurangi risiko manajemen laba tersebut dalam perusahaan.
b. Diharapkan dengan mengetahui penyebab terjadinya manajemen laba
perusahaan akan lebih mudah dalam mencapai sasaran dan tujuan
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan
Salah satu dasar teori yang dapat digunakan untuk memahami
konsep tentang corporate governance adalah teori keagenan, karena
pada dasarnya teori keagenan menyangkut hubungan kontraktual antara
anggota-anggota di perusahaan. Teori keagenen lahir sebagai akibat
adanya pemisahan fungsi dalam organisasi sebagaimana terlihat pada
konsep entity theory, yang menjelaskan mengenai suatu teori yang
menganggap entitas merupakan sesuatu yang terpisah dan berbeda dari
pihak yang menanamkan modal dalam perusahaan.
Dengan demikian teori keagenan dapat digunakan untuk
menjelaskan mengenai hubungan kontraktual antara agen dan prinsipal,
yang dalam hal ini agen bertindak sebagai seorang manajer, dan
prinsipal adalah para pemilik modal dalam perusahaan. Agen
mempunyai tanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan
keuntungan para pemilik. Namun, tanpa dipungkiri bahwa terkadang hak
pengendalian yang dimiliki oleh agen selaku manajer sangat
dimungkinkan untuk diselewengkan dan dapat menimbulkan masalah
keagenan yang dapat diartikan dengan sulitnya investor untuk
dengan semestinya oleh manajer. Manajer memiliki kewenangan untuk
mengelola perusahaan dan demikian manajerpun memiliki hak dalam
mengelola dana investor (Ujiyantho dan Pramuka, 2007). Peran teori
keagenan dalam penelitian ini adalah untuk memahami konsep dari tata
kelola perusahaan dan kecakapan manajerial.
2. Corporate Governance Perception Index (CGPI)
Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah program riset
dan penilaian atas penerapan GCG pada perusahaan publik dan BUMN di
Indonesia yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute of Corporate
Governance (IICG). Penilaian ini dilakukan melalui sebuah riset yang
dibuat untuk menilai penerapan konsep CG yang ada disebuah perusahaan
dengan melalui perbaikan yang berkesinambungan dan evaluasi melalui
benchmarking.
Corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada
teori keagenan, dalam rangka mengurangi terjadinya masalah keagenan
diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan
kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana
yang telah mereka investasikan (Raharjo, 2014).
Penilaian Corporate Governance dalam penelitian ini mengunakan
CGPI yaitu suatu riset dan pemeringkatan penerapan konsep corporate
governance pada perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan good
corporate governance yang telah diakui di Indonesia. Pelaksanaan CGPI
13
perusahaan-perusahaan publik telah menerapkan GCG. CGPI
diselenggarakan setiap tahunnya, pertama kali yaitu tahun 2001. Pada CGPI
ini, selain menjalin kerja sama dengan majalah SWA, yang dikenal sebagai
salah satu majalah bisnis yang unggul di Indonesia. CGPI diselenggarakan
oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG). CGPI
melalui penerapan prinsip dasar Transparency, Accountability,
Responsibility, Independency, and Fairness, pada riset ini dicerminkan dan
diukur dengan enam cakupan penilaian riset dan pemeringkatan, yaitu:
a. Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan adalah sistem CG yang
mendorong anggota perusahaan untuk menyelenggarakan GCG dalam
rangka mewujudkan tujuan perusahaan.
b. Hak Pemegang Saham dan Fungsi Kepemilikan Kunci adalah sistem
CG yang dapat melindungi dan memfasilitasi pemenuhan hak-hak
pemegang saham.
c. Perlakuan yang Setara terhadap Seluruh Pemegang Saham adalah
sistem CG yang dapat menjamin adanya perlakuan yang setara terhadap
seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham minoritas dan
pemegang saham asing. Semua pemegang saham harus diberikan
kesempatan yang sama untuk mendapatkan tanggapan yang efektif
terhadap pelanggaran hak-hak pemegang saham.
d. Peran Stakeholders dalam Tata Kelola Perusahaan adalah sistem CG
yang dapat mengakui hak-hak para stakeholder yang telah ditetapkan
oleh hukum atau melalui perjanjian kerjasama, dan mendorong kerja
penciptaan kesejahteraan, lapangan kerja, kondisi keuangan perusahaan
yang sehat serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan tanggung
jawab sosial perusahaan.
e. Pengungkapan dan Transparansi adalah sistem CG yang dapat
menjamin terlaksananya kelengkapan pengungkapan dengan tepat
waktu dan akurat atas semua informasi material yang berkaitan dengan
perusahaan melalui berbagai media.
f. Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi adalah sistem
CG yang dapat menjamin pelaksanaan tanggung jawab Dewan
Komisaris dan Dewan Direksi terhadap pengelolaan perusahaan.
3. Kecakapan Manajerial
Kecakapan manajerial dapat diartikan sebagai suatu keterampilan
atau karakteristik personal yang dimiliki oleh seorang manajer yang
dapat membantu tercapainya kinerja yang tinggi dalam tugas manajemen
(Isnugrahadi dan Kusuma, 2009; Purwanti, 2010; Djuitaningsih dan
Rahman, 2011; serta Utami dan Syafrudin, 2013). Menurut Isnugrahadi
dan Kusuma (2009), Salah satu kunci keberhasilan sebuah perusahaan
adalah memiliki manajer yang cakap. Manajer yang cakap tidak
membutuhkan manajemen laba untuk memperbagus laba. Seorang
manajer yang cakap tentu saja memiliki kemampuan yang memadai dari
segi tingkat intelegensia yang tinggi, tingkat pendidikan yang cukup
tinggi, serta pengalaman yang cukup di bidang keuangan. Manajer yang
15
tambah bagi perusahaan adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah
perusahaan. Stakeholder tentu menginginkan perusahaannya dikelola
oleh manajer yang memiliki kemampuan dalam mendesain proses bisnis
yang efisien dan mampu membuat keputusan-keputusan andal dan tepat
yang memberi nilai tambah bagi perusahaan.
Dengan mencapai tingkat efisiensi yang tinggi, perusahaan akan
meraih laba yang optimal. Manajer yang cakap akan lebih
mempertimbangkan untuk terus meningkatkan kualitas kinerjanya
dengan menggunakan sumber daya secara tepat sehingga akan memberi
nilai tambah bagi perusahaan, daripada harus melakukan manajemen laba
yang berisiko gagal mempertahankan kepercayaan publik dan
stakeholder.
4. Rasio Leverage
Menurut Purwandari (2011), leverage merupakan biaya tetap yang
digunakan untuk mendanai perusahaan, biaya ini dapat menguntungkan
perusahaan apabila dapat dikelola dengan baik sehingga menghasilkan
pendapatan yang lebih besar dari biaya tetap yang dikeluarkan, namun,
leverage juga dapat merugikan apabila hasil yang diperoleh perusahaan
tidak lebih besar dari biaya tetapnya. Rasio leverage terdiri dari beberapa
macam rasio, antara lain debt ratio (debt to total asset), debt to equity
ratio, long term debt to equity, dan time interested earned. Dalam
ratio (debt to total asset) dikarenakan debt ratio dapat menunjukkan
beberapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibelanjai
dengan utang atau beberapa bagian dari aset yang digunakan untuk
menjamin utang.
Apabila leverage digunakan dengan baik, leverage dapat digunakan
untuk meningkatkan nilai perusahaan, namun apabila digunakan untuk
menarik minat kreditur, maka leverage akan memunculkan tindakan
manajemen laba. Perusahaan yang memiliki laibilitas tinggi akan memilih
kebijakan akuntansi dengan menggeser laba masa depan ke masa sekarang.
Pernyataan ini juga dibuktikan oleh penelitian Herawati dan Baridwan
(2007) yang memberikan bukti empiris tentang adanya tingkat manajemen
laba yang lebih besar pada perusahaan yang terikat perjanjian laibilitas
daripada perusahaan yang tidak terikat perjanjian laibilitas.
5. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan cerminan besar atau kecilnya suatu
perusahaan yang ditentukan dengan batas-batas tertentu yang sudah
ditentukan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan berbagai cara,
antara lain total aset, nilai pasar, dan penjualan perusahaan. Pengukuran
dengan menggunakan total aset digunakan sebagai proksi ukuran
perusahaan dengan mempertimbangkan bahwa nilai aset relatif lebih
stabil dibandingkan dengan nilai pasar dan penjualan. Menurut
Nuryaman (2009) perusahaan yang berukuran besar memiliki basis
17
perusahaan besar akan berdampak lebih besar terhadap kepentingan
publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Bagi investor, kebijakan
perusahaan akan berimplikasi terhadap prospek cash flow dimasa yang
akan datang. Sedangkan bagi regulator (pemerintah) akan berdampak
terhadap besarnya pajak yang akan diterima, serta efektifitas peran
pemberian perlindungan terhadap masyarakat secara umum.
Selain itu, perusahaan yang memiliki total aset yang besar
menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan, dimana
dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki
prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain itu juga
mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu
menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total aset yang kecil
(Daniati dan Suhairi, 2006).
6. Earnings Power
Pada umumnya salah satu aspek yang digunakan oleh pelaku pasar
dalam menilai prospek suatu perusahaan adalah kemampuan perusahaan
tersebut dalam memperoleh laba (earnings power). Menurut Riyanto
(2008) “earnings power adalah kemampuan untuk mengetahui efisiensi
perusahaan dengan melihat besar kecilnya dalam menghasilkan laba”.
Investor beranggapan bahwa earnings power yang tinggi akan menjamin
pengembalian investasi serta akan memberikan keuntungan yang layak,
oleh karena itu perusahaan harus menampilkan kinerja menejemen yang
Menurut Ulupui (2007) mengemukakan bahwa “earnings power
untuk menyatakan nilai perusahaan dari rasio keuangan dimana variabel
ROA mewakili efektifitas perusahaan yang mencerminkan kinerja
manajemen dalam menghasilkan laba bersamaan dengan aset yang ada,
Hasil positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power semakin
efisien laba usaha yang dilihat dari aset dan atau semakin tinggi profit
margin yang diperoleh perusahaan. Hal ini berdampak pada peningkatan
nilai perusahaan”.
7. Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk
meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit
dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan
(penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Sulistyanto (2008) mendefenisikan manajemen laba adalah perilaku
manajer untuk bermain-main dengan komponen akrual yang
discretionary untuk menentukan besar kecilnya laba, sebab standar
akuntansi menyediakan berbagai alternatif metode dan prosedur yang
bisa dimanfaatkan.
Dalam penelitian ini manajemen laba diukur dengan
menggunakan Discretionary Accruals (DA). Discretionary accruals
merupakan komponen akrual yang memungkinkan manajer untuk
melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan,
19
keuangan yang sesungguhnya. Konsep model akrual memiliki dua
komponen, yaitu komponen non-discretionary dan discretionary,
komponen discretionary accruals merupakan bagian yang
memungkinkan manajer melakukan intervensinya dalam memanipulasi
laba. Hal ini disebabkan manajer memiliki kontrol jangka pendek
terhadap komponen ini, komponen yang termasuk dalam discretionary
accruals diantaranya penilaian pilaibilitas, pengakuan biaya garansi dan
aset modal (Guna dan Herawati, 2010).
B. Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis
1. Indeks Corporate Governance terhadap Manajemen Laba
Corporate governance dapat diartikan sebagai seperangkat
peraturan yang dapat mengatur hubungan antara pemegang saham,
pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan,
serta pemegang kepentingan internal dan eksternal yang berkaitan
dengan hal-hak dan kewajiban mereka, dan atau dengan kata lain suatu
sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Jika suatu
perusahaan mampu untuk menerapkan sistem tata kelola perusahaan
secara baik, maka perusahaan tersebut dapat memberikan nilai tambah
bagi perusahaannya tersebut.
Corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada
teori keagenan, dalam rangka mengurangi terjadinya masalah keagenan
kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana
yang telah mereka investasikan (Raharjo, 2012). Diterapkannya
corporate governance akan meningkatkan kontrol perusahaan.
Corporate Governance Perception Index merupakan program penilaian
corporate governance di Indonesia yang didasarkan dengan
prinsip-prinsip corporate governance. Hal ini menunjukkan Indeks corporate
governance mempunyai hubungan negatif dengan manajemen laba
karena corporate governance merupakan upaya untuk melindungi
investor dari adanya praktik manajemen laba pada suatu perusahaan.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dara
(2013), Agustin (2012), dan Amertha (2013) yang menyatakan bahwa
corporate governance berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
Berdasarkan hasil kajian diatas tentang indeks corporate governance
terhadap manajemen laba, maka dapat dirumuskan hiposis sebagai
berikut:
H₁ : Indeks Corporate Governance berpengaruh negatif terhadap
manajemen laba.
2. Kecakapan Manajerial terhadap Manajemen Laba
Penelitian Demerjian et al. (2012) menemukan hubungan positif
antara kecakapan manajerial dan kualitas laba, yang artinya semakin cakap
manajer maka semakin tinggi kualitas laba. Penemuan ini sesuai dengan
premis bahwa semakin cakap manajer, maka semakin baik kemampuannya
21
semakin cakap manajer, maka laba yang dihasilkan semakin berkualitas
karena tidak mengandung manajemen laba.
Manajer yang cakap merupakan faktor kesuksesan bagi perusahaan.
Manajer yang cakap tidak membutuhkan manajemen laba untuk
memperbagus laba. Manajer yang cakap mampu mengambil
keputusan-keputusan ekonomi yang tepat dan mampu mencapai tingkat efisiensi yang
tinggi dalam mengelola sumber daya perusahaan karena mereka memiliki
pengalaman, tingkat intelegensia dan tingkat pendidikan yang cukup tinggi.
Dengan mencapai tingkat efisiensi yang tinggi, perusahaan akan meraih
laba yang optimal. Manajer yang cakap akan lebih mempertimbangkan
untuk terus meningkatkan kualitas kinerjanya dengan menggunakan sumber
daya secara tepat sehingga akan memberi nilai tambah bagi perusahaan,
daripada harus melakukan manajemen laba yang berisiko gagal
mempertahankan kepercayaan publik dan stakeholder.
Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lina
(2012) dan Purwanti (2008) yang menemukan bahwa kecakapan manajerial
berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil kajian
diatas tentang kecakapan manajerial terhadap manajemen laba, maka
dapat dirumuskan hiposis sebagai berikut:
H2 : Kecakapan Manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen
3. Rasio Leverage terhadap Manajemen Laba
Leverage dapat menjadi tolak ukur mengenai manajemen laba pada
perusahaan. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berarti
memiliki liabilitas yang lebih besar jika dibandingkan dengan aset yang
dimiliki, hal ini mengakibatkan risiko dan tekanan yang besar pada
perusahaan. Menurut Purwandari (2011), leverage merupakan biaya tetap
yang digunakan untuk mendanai perusahaan, biaya ini dapat
menguntungkan perusahaan apabila dapat dikelola dengan baik sehingga
menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari biaya tetap yang
dikeluarkan, namun, leverage juga dapat merugikan apabila hasil yang
diperoleh perusahaan tidak lebih besar dari biaya tetapnya. Leverage dapat
menguntungkan maupun merugikan perusahaan, jika leverage hanya
digunakan untuk menarik kreditor agar berinvestasi maka leverage dapat
merugikan perusahaan. Namun, jika leverage dikelola dengan baik dan
dapat memberikan pemasukan yang lebih besar dari biaya yang
dikeluarkan maka leverage dapat menguntungkan perusahaan. Shanti
dan Yudhanti dalam Purwanti (2012) menemukan bahwa perusahaan
yang memiliki financial leverage tinggi karena besarnya liabilitas
dibandingkan aktiva yang dimiliki perusahaan, diduga melakukan
manajemen laba karena perusahaan terancam default, yaitu tidak dapat
memenuhi kewajiban membayar liabilitas pada waktunya.
Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu
(2011), Shanti dan Yudhanti (2007) yang menemukan bahwa rasio leverage
23
diatas tentang rasio leverage terhadap manajemen laba, maka dapat
dirumuskan hiposis sebagai berikut:
H3 : Rasio Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
4. Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba
Ukuran perusahaan pada penelitian ini merupakan gambaran besar
kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aset perusahaan.
Menurut Saffudin (2010), menyatakan bahwa besar ukuran perusahaan
dapat dinyatakan dalam kapitalisasi pasar. Semakin besar kapitalisasi pasar,
maka semakin dikenal dalam masyarakat. Perusahaan yang berukuran
besar adalah perusahaan yang memiliki tingkat penjualan yang lebih
besar, tingkat kestabilan perusahaan lebih tinggi dan melibatkan lebih
banyak pihak. Karena pengambilan keputusan yang dilakukan
perusahaan besar berpengaruh terhadap publik, sehingga masyarakat
lebih mengenal perusahaan besar dibandingkan perusahaan kecil. Oleh
karena itu, perusahaan besar akan menyampaikan laporan keuangannya
dengan lebih berhati–hati dan akurat. Perusahaan yang besar lebih
diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-hati
dalam melakukan pelaporan keuangan, sehingga berdampak pada
perusahaan yang melaporkan perusahaanya dengan akurat. Semakin
besar ukuran perusahaan, maka manajemen laba akan semakin menurun.
Siregar dan Utama (2005) menemukan bahwa ukuran perusahaan yang
perusahaan pada akhir tahun berpengaruh signifikan negatif terhadap
besaran pengelolaan laba, artinya semakin besar ukuran perusahaan
semakin kecil besaran pengelolaan labanya.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Veronica,
Siddharta (2005) dan Damayanti (2008) bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil kajian
diatas, maka dapat dirumuskan hiposis sebagai berikut:
H4 : Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.
5. Earnings Power Terhadap Manajemen Laba
Menurut Riyanto (2008) “earnings power adalah kemampuan
untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat besar kecilnya
dalam menghasilkan laba”. Investor beranggapan bahwa earnings power
yang tinggi akan menjamin pengembalian investasi serta akan
memberikan keuntungan yang layak, oleh karena itu perusahaan harus
menampilkan kinerja manejemen yang baik sehingga earnings power
perusahaan dapat dilihat maksimal. Karena sikap investor yang
cenderung hanya memperhatikan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba (earnings power) sehingga memungkinkan
perusahaan melakukan praktik manajemen laba untuk menarik investor.
Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Shanti
(2012), Tiono et, al. (2004) dan Susanto (2010) yang menyatakan earnings
25
Berdasarkan hasil kajian diatas tentang kecakapan manajerial terhadap
manajemen laba, maka dapat dirumuskan hiposis sebagai berikut:
C. Model Penelitian
Untuk model penelitian disajikan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Skema Model Penelitian Corporate Governance
Perception Index
Kecakapan Manajerial
Rasio Leverage
Ukuran Perusahaan
Earnings Power
Manajemen Laba
H1 -
H2 -
H3 +
H4 -
27
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek/Subjek Penelitian
Peneltian ini merupakan penelitan yang lebih bersifat kausatif yang
bertujuan untuk menganalisis pengaruh beberapa varibel terhadap variabel
lainnya. Dimana penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar
variabel bebas mempengaruhi variabel terikat.
Didalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah perusahaan
manufaktur dan jasa yang berpartisipasi dalam penilaian (Corporate
Governance Perception Index) CGPI pada periode 2010-2013.
B. Teknik Pengambilan Sampel
Populasi yang akan menjadi obyek dalam penelitian ini adalah
perusahaan-perusahaan manufaktur dan jasa yang berpartisipasi dalam penilaian
(Corporate Governance Perception Index) CGPI periode 2010-2013.
Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive
sampling, yaitu populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah yang
memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang dikehendaki dan
kemudian dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu disesuaikan dengan
a. Perusahaan manufaktur dan jasa yang secara konsisten menerbitkan
laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember tahun
2010-2013.
b. Perusahaan manufaktur dan jasa yang berpartisipasi dalam penilaian
(Corporate Governance Perception Index) CGPI periode 2010-2013.
C. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pengumpulan
data yang dilakukan adalah dengan dokumentasi dari sumber yang
digunakan yaitu data laporan keuangan laporan tahunan perusahaan yang
telah diaudit dan dipublikasikan. Data tersebut diperoleh dari laporan
keuangan yang tersedia di Pojok BEI Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta dan situs resmi BEI di www.idx.co.id, Laporan Hasil Riset dan
Pemeringkatan CGPI dan situs lain yang diperlukan.
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Variabel Depeden
Manajemen Laba
Variable dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
manajemen laba. Manajemen laba adalah suatu intervensi yang
dilakukan oleh manajemen dengan maksud tertentu dalam proses
pelaporan keuangan eksternal yang sengaja dilakukan untuk
29
accrual digunakan Model De Angelo (1986). Menurut De Angelo
(1986) manajemen laba dapat diukur melalui discrectionary accrual
yang dihitung dengan cara menselisihkan total accrual pada periode t
dengan non discretionary accrual pada periode t-1. Jadi, selisih total
akrual antara periode t dan t-1 merupakan tingkat accrualdiscretionary.
Dalam model ini, De Angelo (1986) menggunakan total akrual t-1
sebagai nondiscretionary accrual. Model perhitungannya sebagai
berikut:
Model De Angelo (1986):
DA = (TAit– TAit-1)/Ait-1
Keterangan:
DA : Discretionary Accrual perusahaan i pada periode ke t.
TAit : TotalAccrual perusahaan i pada periode ke t.
TAit-1 : TotalAccrual perusahaan i pada periode ke t-1.
Ait-1 : Total Aktiva perusahaan i pada periode ke t.
2. Variabel Independen
a) CGPI (Corporate Governance Perception Index)
Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah
pemeringkatan perusahaan, dalam penggunaan corporate governance
di Indonesia, yang diselenggarakan oleh IICG (The Indonesian
Institute of Corporate Governance) yang merupakan sebuah lembaga
governance di Indonesia. Peneliti menggunakan pemeringkatan
indeks ini untuk mengukur tingkat corporate governance suatu
perusahaan. Hasil penelitian CGPI tersebut akan dijadikan acuan
untuk menentukan peringkat perusahaan yang memiliki skor tertinggi
sampai terendah. Indeks yang digunakan untuk memberikan skor
berupa angka mulai dari 0 sampai 100 maka jika perusahaan memiliki
skor mendekati atau mencapai nilai 100 maka perusahaan tersebut
semakin baik dalam menerapkan Good Corporate Governance.
Pemeringkatan CGPI di golongkan menjadi 3 kategori berdasarkan
nilai tertinggi sampai terendah seperti dalam Tabel:
Tabel 3.1 Pemeringkatan GCPI
Skor Level Terpercaya
85,00-100 Sangat Terpercaya
70,00-84,99 Terpercaya
55,00-69,99 Cukup Terpercaya
Sumber : Corporate Governance Perception Index
b) Kecakapan Manajerial
Dalam penelitian ini, kecakapan manajerial dihitung dengan
menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) yang
dikembangkan oleh Demerjian et al, (2012). Metode mengukur
kemampuan manajerial menghasilkan perkiraan seberapa efisien
31
Demerjian et al, (2012) menggunakan Data Envelopment
Analysis (DEA) untuk memperkirakan efisiensi perusahaan yang
membandingkan penjualan yang dihasilkan oleh setiap perusahaan
tergantung pada input yang digunakan oleh perusahaan (Harga
Pokok Penjualan, Beban Penjualan dan Administrasi Umum, Total
Aset Tetap, Biaya Eksplorasi dan Pengembangan, Goodwill, dan
Aset Tidak Berwujud Lainnya). Dengan demikian, sumber daya
diukur dengan menggunakan aset (berwujud dan tidak berwujud),
Biaya Eksplorasi dan Pengembangan, dan input lain yang tidak
dilaporkan secara terpisah dalam laporan keuangan (tenaga kerja)
dimasukkan dalam Beban Penjualan dan Administrasi Umum.
Adapun rumus yang digunakan oleh Demerjian et al, (2012) adalah
sebagai berikut:
MAXθ = �
+ & + +�&�+ � ��+ ℎ � �
Keterangan:
Penjualan : Total Penjualan
HPP : Harga Pokok Penjualan
SG&A : Beban Penjualan dan Administrasi Umum
Aset Tetap : Total Aset Tetap
R&D : Biaya Eksplorasi dan Pengembangan
Goodwill : Total Goodwill
c) Rasio Leverage
Proksi yang digunakan dalam penelitian ini untuk menghitung
rasio leverage adalah pernah dilakukan Walter (2012), yaitu:
DEBT = � �
�
d) Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat berpengaruh untuk melakukan
manajemen laba. Ukuran perusahaan merupakan variabel yang
diukur dari jumlah total asset perusahaan sampel yang
ditransformasikan dalam bentuk logaritma natural. Variabel ini
diukur dengan menggunakan logaritma dari jumlah total aset yang
pernah dilakuakan oleh Yamaditya (2014). Adapun rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
Size = LN Total Asset
e) Earnings power
Earnings power adalah kemampuan untuk mengetahui
efesiensi perusahaan dengan melihat besar kecilnya dalam
menghasilkan laba. ROA dijadikan sebagai indikator proksi
perhitungan earnings power dimana ROA adalah salah satu rasio
keuangan yang seringkali dipergunakan oleh calon pemodal. Hal
ini disebabkan alasan sebagian pemodal berinvestasi adalah
33
perusahaan yang mencerminkan kinerja manajemen dalam
menghasilkan laba, maka dari itu para pengguna laporan keuangan
dalam melihat earnings power perusahaan menggunakan variable
Return On Assets (ROA). Rasio Profitabilitas mengukur seberapa
besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam
hubungannya dengan penjualan, aset maupun laba bagi modal
sendiri. Sujana Ismaya (2006) mengemukakan pengukuran rasio
profitabilitas ini menggunakan laba bersih dan total aset.
� = � ℎ
�
E. Uji Kualitas Instrumen dan Data
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi
empiris atas data yang dikumpulkan dalam penelitian. deskripsi atau
gambaran empiris tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar
deviasi, maximum, dan minimum. Metode yang digunakan dalam penelitian
deskriptif ini adalah metode numerik. Metode numerik untuk mengenali
pola sejumlah data, merangkum informasi yang terdapat dalam data
2. Uji Asumsi Klasik
Pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi berganda dapat
dilakukan jika telah memenuhi syarat dan lolos dalam pengujian asumsi
klasik. Uji asumsi klasik dilakukan dengan melakukan uji normalitas, uji
multikolinieritas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas untuk validasi
data. Penjelasan untuk pengujian asumsi klasik sebagai berikut:
a) Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi
normal. Model regresi dikatakan baik jika memiliki distribusi data
normal atau mendekati normal. Tujuan uji normalitas adalah untuk
menguji apakah variabel dependen dan independen dalam regresi
berdistribusi normal. Data berdistribusi normal jika Asymp.Sig
(2-Tailed) > 0.05 (Ghozali, 2012). Uji normalitas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah One sample Kolmogotov-Smirnov Test.
b) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya penyimpangan korelasi yang terjadi antara residual pada
35
Metode pengujian yang sering digunakan dengan uji
Durbin-Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka
hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapay autokorelasi.
2) Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol
diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
3) Jika d terletak antara dL dan dU atau diantara dU) dan
(4-dL), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.
Nilai dU dan dL dapat diperoleh dari tabel statistik Durbin
Watson yang bergantung pada banyaknya observasi dan banyaknya
variabel yang menjelaskan.
c) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan
ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang berjenis homoskedastisitas dimana variance residual satu
pengamatan ke pengamatan lain tetap. Uji heteroskedastisitas dalam
penelitian ini menggunakan uji gletser. Jika nilai signifikansi lebih
besar dari alfa 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa regresi tidak
d) Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen.
Multikolonearitas adalah situasi adanya variabel-variabel bebas
diantara satu sama lain. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi di antara variabel independen. Uji multikolinearitas
bertujuan untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel
independen dalam model regresi. Pendeteksian multikolinearitas
dapat dilihat melalui nilai Variance Inflation Factors (VIF). Kriteria
pengujiannya yaitu apabila nilai VIF<10 maka tidak terdapat
multikolinearitas diantara variabel independen dan sebaliknya.
F. Uji Hipotesis dan Analisis Data 1. Uji Regresi Linier Berganda
Alat yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
adalah menggunakan analisis regresi berganda. Pengujian ini dilakukan
untuk melihat pengaruh manajemen laba dengan variabel independen
yang akan diuji adalah Corporate Governance Perception Index
(CGPI), Kecakapan Manajerial, Rasio Leverage, Ukuran Perusahaan,
dan Earnings Power. Pengujian hipotesis diterima jika nilai signifikansi
lebih kecil dari 5%.
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran yang telah
37
CGPI : Corporate Governance Perception Index
KM : Kecakapan Manajerial
LEV : Rasio Leverage
SIZE : Ukuran Perusahaan
ROA : Earnings Power
e :error
2. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted��)
Koefisien determinasi (�2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai
koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai �2
yang kecil
berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan
variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti
variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi
yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Koefisien determinasi dapat dilihat dari nilai adjusted �2
, dimana untuk
menginterpretasikan besarnya nilai koefisien determinasi harus diubah
(100%-persentase koefisien determinasi) dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak termasuk dalam model.
3. Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F)
Pengujian ini untuk mengetahui apakah variabel dependen secara
serentak dipengaruhi oleh variabel independen. Apabila tingkat
probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa
semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap
variabel dependen.
4. Uji Signifikansi Paramater Individual (Uji Statistik T)
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh
satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi
variabel dependen. Untuk menentukan pengaruh antar variabel terdapat
39
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian
Hasil pemilihan sampel pada perusahaan manufaktur dan jasa yang
berpartisipasi dalam penilaian CGPI periode 2010-2013 diperoleh jumlah
sampel sebanyak 52 perusahaan. Proses pemilihan sampel disajikan pada
tabel berikut:
Tabel 4.1
Perincian Pemilihan Sampel Tahun 2010-2013
B. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau
mendeskripsikan kondisi data yang digunakan dalam penelitian. Variabel
yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Index Corporate Covernance
(CGPI), Kecakapan Manajerial (KM), Rasio Leverage (LEV), Ukuran
Perusahaan (SIZE), dan Earnings Power (ROA). Nilai - nilai statistik data
Kriteria Tahun
2010 2011 2012 2013 Perusahaan manufaktur dan jasa yang
berpartisipasi dalam penilaian CGPI periode 2010-2013.
25 23 24 23
Perusahaan manufaktur dan jasa yang tidak konsisten membagikan laporan keuangan secara berturut-turut.
(12) (10) (11) (10)
Jumlah perusahaan manufaktur dan jasa yang memenuhi kriteria.
13 13 13 13
awal dalam proses pengolahan belum menghasilkan data yang berdistribusi
normal, sehingga beberapa data outlier dikeluarkan dari analisis.
Outlier adalah kasus atau data yang memiliki karakteristik unik yang
terlihat sangat berbeda jauh dari observasi - observasi lainnya dan muncul
dalam bentuk nilai ekstrim baik untuk variabel tunggal atau kombinasi
.Outlier perlu dibuang jika data outlier tidak menggambarkan observasi
dalam populasi. Berikut merupakan statistik deskriptif untuk data yang sudah
normal. Deskripsi dari variabel-variabel penelitian ditunjukan oleh Tabel 4.2:
Tabel 4.2
Uji Statistik Deskriptif
Sumber : Hasil Olah Data, 2016
1. Indeks Corporate Governance
Indeks corporate governance ditunjukkan oleh proksi CGPI.
Berdasarkan Tabel 4.2. Hasil uji statistik deskriptif, besarnya CGPI dari
52 sampel perusahaan manufaktur dan jasa mempunyai nilai minimum
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
SIZE 52 26,16300 34,09474 30,3272132 1,58278924
ROA 52 -1,07219 0,34598 0,0514965 0,18763317
41
sebesar -0, 72531, nilai maksimum sebesar 0,27201, rata-rata (mean)
sebesar 0,8642, dan standar deviasi sebesar 0,06158054.
2. Kecakapan Manajerial
Kecakapan Manajerial ditunjukkan oleh proksi KM. Berdasarkan
Tabel 4.2, Hasil uji statistik deskriptif, besarnya KM dari 52 sampel
perusahaan manufaktur dan jasa mempunyai nilai minimum sebesar
0,03000, nilai maksimum sebesar 1,00000, rata-rata (mean) sebesar
0,7471154, dan standar deviasi sebesar 0,20941877.
3. Rasio Leverage
Rasio Leverage ditunjukkan oleh proksi LEVERAGE. Berdasarkan
Tabel 4.2, Hasil uji statistik deskriptif, besarnya LEVERAGE dari 52
sampel perusahaan manufaktur dan jasa mempunyai nilai minimum
sebesar 0,00074, nilai maksimum sebesar 1,17057, rata-rata (mean)
sebesar 0,5168917, dan standar deviasi sebesar 0,24613696.
4. Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan ditunjukkan oleh proksi SIZE. Berdasarkan
Tabel 4.2, Hasil uji statistik deskriptif, besarnya SIZE dari 52 sampel
perusahaan manufaktur dan jasa mempunyai nilai minimum sebesar
26,16300, nilai maksimum sebesar 34,09474, rata-rata (mean) sebesar
30,3272132, dan standar deviasi sebesar 1,58278924.
5. Earnings Power
Earnings Power ditunjukkan oleh proksi ROA. Berdasarkan Tabel
perusahaan manufaktur dan jasa mempunyai nilai minimum sebesar
-1,07219, nilai maksimum sebesar 0,34598, rata-rata (mean) sebesar
0,0514965, dan standar deviasi sebesar 0,18763317.
C. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan persyaratan statistik yang harus dipenuhi
pada analisis regresi linear berganda. Berikut hasil uji asumsi klasik adalah
sebagai berikut :
1. Uji Multikolinieritas
Apabila nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, berarti tidak ada
multikolinearitas antar variabel dalam model regresi. Hasil uji
multikolinieritas adalah sebagai berikut :
43
Variabel Dependen: ML = Manajemen Laba
Variabel Independen : CGPI = Indeks Corporate Governance, KM =
Kecakapan Manajerial, LEVERAGE = Rasio Leverage, Ukuran Perusahaan =
SIZE , ROA = Earnings Power.
Dari tabel 4.3 menunjukan nilai tolerance masing-masing variabel CGPI =
0,645, KM = 0,813, LEVERAGE = 0,599, SIZE = 0,901, dan ROA = 0,586,
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara
residual pada suatu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi.
Hasil uji autokorelasi adalah sebagai berikut :
Tabel 4.4
a. Predictors: (Constant), ROA, SIZE, KM, CGPI, LEVERAGE b. Dependent Variable: ML
Dari tabel 4.4 menunjukkan nilai DW-test yang diperoleh sebesar
1,946 berada pada daerah dU< DW < dU yaitu : 1,7694 < 1,946 <
4-2,2306 atau 1,7694 < 1,946 < 4-2,2306 artinya tidak ada autokorelasi dalam
model regresi.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Hasil uji heteroskedastisitas adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.5
Uji Heteroskedastisitas
a. Dependent Variable: ABS_RES Sumber: Hasil Olah Data, 2016
Dari tabel 4.5 di atas menunjukkan nilai sig pada kolom terakhir
masing-masing variabel adalah CGPI = 0,340, KM = 0,797, LEVERAGE
45
0,05. Dengan demikian, model penujian ini bebas dari gejala
heteroskedastisitas.
4. Uji Normalitas
Berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov yang digunakan untuk
menguji normalitas nilai residual, maka variabel residual kedua
persamaan berdistribusi normal dengan nilai signifikansi > α 0.05
(Ghozali, 2011).
Tabel 4.6 Uji Normalitas
Dari tabel 4.6 menunjukan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov(Test
Statistic) Z yaitu 0,506dan Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,960nilai ini >
α 0,05 hal ini mengindikasikan model regresi memenuhi asumsi
normalitas atau data berdistribusi secara normal.
Unstandardized Residual
N 52
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation .10634824
Asymp. Sig. (2-tailed) .960
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
D. Uji Hipotesis
1. Uji Simultan (F hitung)
Pengujian hipotesis uji F ini digunakan untuk mengetahui apakah
secara keseluruhan variabel bebas mempunyai pengaruh yang bermakna
terhadap variabel terikat. Hasil uji nilai F dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Uji Nilai F
Sumber : Hasil Olah Data, 2016
Hasil tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa model persamaan ini
memiliki nilai F hitung sebesar 7.371 dengan nilai signifikansi sebesar
0,000 (sig < 0,05). Sehingga dapat dikatakan bahwa kelima variabel
independen yang terdiri dari indeks corporate governance, kecakapan
manajerial, rasio leverage, ukuran perusahaan, dan earnings power dalam
penelitian ini berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
2. Uji Koefisien Determinan (Adjusted R2)
Uji ini bertujuan untuk menentukan proporsi atau persentase total
variasi dalam variabel terikat yang diterangkan oleh variabel bebas. Hasil
uji koefisien determinan (adjusted R2) dapat dilihat dari tabel berikut:
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression .462 5 .092 7.371 .000b
Residual .577 46 .013
Total 1.039 51
a. Dependent Variable: ML