• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Regresi Spasial dengan Menggunakan Program R Pada Kasus Gizi Buruk di Kota Medan Tahun 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Regresi Spasial dengan Menggunakan Program R Pada Kasus Gizi Buruk di Kota Medan Tahun 2013"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Sumatera Utara ANALISIS REGRESI SPASIAL DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM

R PADA KASUS GIZI BURUK DI KOTA MEDAN TAHUN 2013

SKRIPSI

Oleh:

EVI SRIWAHYUNI NIM. 101000103

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Universitas Sumatera Utara ANALISIS REGRESI SPASIAL DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM

R PADA KASUS GIZI BURUK DI KOTA MEDAN TAHUN 2013

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh:

EVI SRIWAHYUNI NIM. 101000103

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Universitas Sumatera Utara HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya

bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Evi Sriwahyuni

NIM : 101000103

Tanda Tangan :

(4)
(5)

Universitas Sumatera Utara ABSTRAK

Pemodelan kejadian balita gizi buruk dengan regresi linier yang bersifat umum belum tentu cocok diterapkan di Kota Medan karena setiap wilayah pasti memiliki karakteristik wilayah yang berbeda. Untuk itu diperlukan sebuah analisis yang memperhitungkan faktor spasial. Pemodelan bisa dilakukan dengan berbagai analisis dan berbagai software, namun penelitian ini menggunakan model Geographically Weighted Regression (GWR) dengan Program R.Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan regresi spasial pada kasus gizi buruk di Kota Medan Tahun 2013 dengan menggunakan Program R yang dapat diunggah gratis di internet.

Jenis penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan bulan Februari hingga Desember 2014. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh data balita yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Medan Januari – Desember 2012. Data yang ada dianalisis menggunakan analisis regresi spasial model Ordinary Least Square (OLS) dan Geographically Weighted Regression (GWR).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang fit

untukmenjelaskankejadianbalitagiziburuk di Kota Medan adalahOrdinary Least Square(p < 0,001). Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian balita gizi buruk di Kota Medan adalah diare.

Disarankan kepadamasyarakat untuk siaga dan acuh jika anak mengalami

diare. Kepada petugaspuskesmas dan posyandudisarankan

untukmemberikanedukasitentangdiaredankepadapenelitiselanjutnyauntuk meneliti faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh seperti bayi berat lahir rendah (BBLR), pemeriksaan Antenatal Care (ANC), dan faktor lain selain seperti pendidikan, pengetahuan dan sosial.

(6)

Universitas Sumatera Utara ABSTRACT

Modelling of malnutrition among under five children with general linear regression was not suitable to be applied in Medan City because each region must have different regional characteristics. For that reason, it was needed an analysis which consider the spatial factor. The modelling can be done with some analysis and software, but, this research using Geographically Weighted Regression (GWR) model with R Program. The research aimed to aplicate the spatial regession for malnutrition among under five children case in Medan City 2013 using R Program that can be uploaded freely on internet.

The method of this research is analytical observational study with cross sectional design. This research was done in February to December 2014. The population and sample of this research was all under five children who was registered in Medan City Health Department in January to December 2012. All of data was analyzed using spatial regression with Ordinary Least Square (OLS) and Geographically Weighted Regression (GWR) model.

The result of this study showed that the fit model to describe the incident of malnutrition among under five children for each districts in Medan City was Ordinary Least Square(p < 0,001). The factor that affect the incident of malnutrition among under five children in Medan City was diarrhea.

It is recommended to community to standby and careful if their children get diarrhea. Public health center and posyandu officers are recommended to give education about diarrhea and for next researcher to researh the other factors that potential affect the malnutrition among under five children, for example, low birth weight infants, examination of Antenatal Care (ANC), and the other factors like education, knowledge and social.

(7)

Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan kemudahan dan keridhoan kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Analisis Regresi Spasial dengan Menggunakan Program R Pada Kasus Gizi Buruk di Kota Medan Tahun 2013”.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan

motivasi dan bantuan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materil.

Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D selaku Ketua Departemen

Kependudukan dan Biostatistika Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes selaku Dosen Pembimbing I dan Ketua

Penguji yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan

masukan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Ibu Maya Fitria, S.K.M, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II dan Dosen

Penguji I yang telah memberikan waktu dan pikiran dalam memberikan

(8)

Universitas Sumatera Utara 5. Bapak Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes selaku Dosen Penguji II yang

telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan skripsi

ini.

6. Ibu Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes selaku Dosen Penguji III yang telah

memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini.

7. Bapak dr. M. Arifin Siregar, M.S selaku Dosen Penasihat Akademik.

8. Para Dosen dan Pegawai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

9. Ibu Drg. Hj. Usma Polita Nasution, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan

Kota Medan.

10. Bapak dr. Iman Surya selaku Kepala Bidang Bina Pelayanan Kesehatan di

Kantor Dinas Kesehatan Kota Medan beserta staf dan pegawai bagian

imunisasi, gizi dan penyakit balita.

11. Kepada Papa Tercinta Subroto Nyomo dan Ibok Tercinta Boini yang selalu

memberikan doa, semangat, nasihat, dukungan, motivasi, keoptimisan,

kesabaran dan kasih sayang yang tidak terhitung banyaknya. Kesabaran

kalian adalah semangat penulis untuk terus berusaha dan bersabar dalam

penulisan skripsi ini.

12. Kakakku, Nana Agustina, SE dan Adikku, Sakti Prabowo serta sahabat

hatiku Fahrizal Zulfi yang selalu berdoa dan memberikan dukungan serta

semangat dalam penulisan skripsi ini.

13. Sahabat seperjuangan, Dyah Ayu Wulandari SKM, Nurul Hidayah SKM,

(9)

Universitas Sumatera Utara SKM, Dian Fifit SKM, Effi Janiarti, Lestari S SKM terima kasih untuk

semangat dan motivasi yang kalian tularkan padaku.

14. Teman-teman terkasih di Ayo Dance Online, Randy Pratama, Ricky

Kurniawan, Ridho Oktav, Riko Setiawan, Kak Kebo (Kak Markus), Sapii

(Agung), Tommi, July Hung yang selalu siap menghibur saat jenuh

melanda.

15. Keluarga Pak Jamil di Langkat, Ibuk, Kak Deli, Om Endlo, Mi Toleng.

16. Senior-senior terhebatku, Kak Iska SKM, Kak Neni SKM, Kak Dilla SKM,

Kak Jehan SKM.

17. Teman-teman di FKM serta rekan-rekan peminatan Biostatistika dan

Informasi Kesehatan, Departemen Kependudukan dan Biostatistika FKM

USU.

Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan

serta masih diperlukan penyempurnaan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan

kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Semoga skripsi

ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.

Medan, Desember 2014

(10)

Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... . iii

ABSTRACT ... . iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... . viii

DAFTAR TABEL ... . xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.3.1 Tujuan Umum ... 5

1.3.2 Tujuan Khusus ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Analisis Regresi ... 6

2.2 Regresi Spasial ... 7

2.2.1 Model Geographically Weighted Regression (GWR) ... 8

2.2.2 Model Spatial Lag Model (SLM) atau Spatial Autoregressive Model (SAR) ... 11

2.2.3 Model Structural Equation Model (SEM) ... 12

2.2.4 Model General Spatial Model atau Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA) ... 14

2.2.5 Pemilihan Model ... 15

2.3 Program R .. . ... 16

2.3.1 Sejarah ... 16

2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Program R ... 17

2.5.2.1 Kelebihan Program R ... 17

2.5.2.2 Kekurangan Program R ... 18

2.3.3 Cara Memperoleh Program R ... 18

2.3.4 Analisis Regresi Spasial dalam Program R ... 20

2.3.5 Geographically Weighted Regression (GWR) dalam Program R ... 24

2.4 Gizi ... 26

2.5 Gizi Buruk ... ... 27

2.5.1 Penyebab Gizi Buruk ... 28

(11)

Universitas Sumatera Utara

2.6 Kerangka Konsep Penelitian ... 36

2.7 Hipotesis Penelitian ... 36

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ... 37

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

3.3 Populasi dan Sampel ... 37

3.3.1 Populasi ... 37

3.3.2 Sampel ... 37

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 38

3.4.1 Jenis Data ... 38

3.4.2 Cara Pengumpulan Data ... 38

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 38

3.6 Aspek Pengukuran ... 39

3.7 Teknik Analisis Data ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 44

4.1 Gambaran Umum Kota Medan ... 44

4.1.1 Geologi ... 44

4.1.2 Letak ... 44

4.1.3 Batas ... 44

4.1.4 Iklim ... 45

4.2 Distribusi Kejadian Gizi Buruk dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya ... 45

4.2.1 Gizi Buruk ... 45

4.2.2 ASI Eksklusif ... 47

4.2.3 Imunisasi Lengkap ... 48

4.2.4 Vitamin A ... 49

4.2.5 ISPA ... 50

4.2.6 Diare ... 51

4.2.7 Fasilitas Pelayanan Kesehatan ... 52

4.3 Titik Koordinat 21 Kecamatan di Kota Medan ... 53

4.4 Analisis Data ... 53

4.4.1 Identifikasi Pola Hubungan antara Balita Gizi Buruk dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya ... 53

4.4.2 Memeriksa Multikoleniaritas antara Variabel-Variabel Independen ... 56

4.4.3 Model Regresi Ordinary Least Square (OLS) Kejadian BalitaGizi Buruk ... 56

4.4.4 Uji Parameter Regresi Ordinary Least Square (OLS) ... 57

4.4.5 Model Geographically Weighted Regression (GWR) Balita Gizi Buruk ... 61

4.4.6 Pengujian Kesesuaian Model GWR ... 63

(12)

Universitas Sumatera Utara

BAB V PEMBAHASAN ... 66

5.1 Pengaruh ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 66

5.2 Pengaruh Imunisasi Lengkap Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 67

5.3 Pengaruh Vitamin A Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 69

5.4 Pengaruh ISPA Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 69

5.5 Pengaruh Diare Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 71

5.6 Pengaruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan Terhadap Kejadian Balita Gizi Buruk di Kota Medan ... 72

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 74

6.1 Kesimpulan ... 74

6.2 Saran ... . 74

(13)

Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Jumlah Balita menurut Status Gizi dan Kecamatan di

Kota Medan Tahun 2012 ... 2

Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak berdasarkan Indeks ... 27

Tabel 4.1 Distribusi Balita yang Menderita Gizi Buruk di Kota Medan Tahun 2013 ... 46

Tabel 4.2 Distribusi Balita yang Memperoleh ASI Eksklusif di Kota Medan Tahun 2013... 47

Tabel 4.3 Distribusi Balita yang Memperoleh Imunisasi Lengkap di Kota Medan Tahun 2013 ... 48

Tabel 4.4 Distribusi Balita yang Memperoleh Vitamin A di Kota Medan Tahun 2013 ... 49

Tabel 4.5 Distribusi Balita yang Mengalami Penyakit Infeksi ISPA di Kota Medan Tahun 2013 ... 50

Tabel 4.6 Distribusi Balita yang Mengalami Penyakit Infeksi Diare di Kota Medan Tahun 2013 ... 51

Tabel 4.7 Distribusi Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kota Medan Tahun 2013 ... 52

Tabel 4.8 Titik Koordinat 21 Kecamatan di Kota Medan ... 53

Tabel 4.9 Nilai Variance Inflation Factors (VIF) OLS ... 56

Tabel 4.10 Estimasi Parameter, Nilai Statistik Uji T Model OLS ... 58

Tabel 4.11 Uji Homogenitas ... 59

Tabel 4.12 Nilai Variance Inflation Factors (VIF) GWR ... 61

Tabel 4.13 Nilai Bandwidth Tiap Kecamatan ... 62

(14)

Universitas Sumatera Utara Tabel 4.15 Nilai SSE, Uji F, dan P-value Model regresi OLS dan GWR ... 63

Tabel 4.16 Variabel yang Signifikan dalam Model GWR Tiap Kecamatan

(15)

Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Jendela dialog awal instalasi R dalam sistem operasi

Windows ... 19

Gambar 2.2 Icon R pada desktop ... 20

Gambar 2.3 Tampilan awal Program R ... 20

Gambar 2.4 Tampilan dari Load Package-spdep package ... 21

Gambar 2.5 Tampilan dari R-Console untuk spdep package ... 22

Gambar 2.6 Tampilan dari Load Package-Rcmdr package ... 23

Gambar 2.7 Tampilan Rcmdr untuk Rcmdr package ... 23

Gambar 2.8 Tampilan dari Load Package ... 25

Gambar 2.9 Tampilan dari Load Package pada spgwr package ... 25

Gambar 2.10 Faktor yang memengaruhi status gizi ... 29

Gambar 2.11 Kerangka Konsep ... 36

Gambar 4.1 Hasil Analisis Korelasi Pearson ... 54

(16)

Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : EVI SRIWAHYUNI

Tempat Lahir : Bah Lias Kec. Bandar Kab. Simalungun

Sumatera Utara

Tanggal Lahir : 29 Juni 1992

Suku Bangsa : Jawa

Agama : Islam

Nama Ayah : Subroto

Suku Bangsa Ayah : Jawa

Nama Ibu : Boini

Suku Bangsa Ibu : Jawa

Pendidikan Formal

1. SD/Tamat tahun : SD Negeri 1 No. 091644 Bandar/2000 – 2004

2. SLTP/Tamat tahun : SMP Negeri 1 Bandar/2004 – 2007

3. SLTA/Tamat tahun : SMA Negeri 1 Bandar/2007 – 2010

(17)

Universitas Sumatera Utara ABSTRAK

Pemodelan kejadian balita gizi buruk dengan regresi linier yang bersifat umum belum tentu cocok diterapkan di Kota Medan karena setiap wilayah pasti memiliki karakteristik wilayah yang berbeda. Untuk itu diperlukan sebuah analisis yang memperhitungkan faktor spasial. Pemodelan bisa dilakukan dengan berbagai analisis dan berbagai software, namun penelitian ini menggunakan model Geographically Weighted Regression (GWR) dengan Program R.Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan regresi spasial pada kasus gizi buruk di Kota Medan Tahun 2013 dengan menggunakan Program R yang dapat diunggah gratis di internet.

Jenis penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan bulan Februari hingga Desember 2014. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh data balita yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Medan Januari – Desember 2012. Data yang ada dianalisis menggunakan analisis regresi spasial model Ordinary Least Square (OLS) dan Geographically Weighted Regression (GWR).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang fit

untukmenjelaskankejadianbalitagiziburuk di Kota Medan adalahOrdinary Least Square(p < 0,001). Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian balita gizi buruk di Kota Medan adalah diare.

Disarankan kepadamasyarakat untuk siaga dan acuh jika anak mengalami

diare. Kepada petugaspuskesmas dan posyandudisarankan

untukmemberikanedukasitentangdiaredankepadapenelitiselanjutnyauntuk meneliti faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh seperti bayi berat lahir rendah (BBLR), pemeriksaan Antenatal Care (ANC), dan faktor lain selain seperti pendidikan, pengetahuan dan sosial.

(18)

Universitas Sumatera Utara ABSTRACT

Modelling of malnutrition among under five children with general linear regression was not suitable to be applied in Medan City because each region must have different regional characteristics. For that reason, it was needed an analysis which consider the spatial factor. The modelling can be done with some analysis and software, but, this research using Geographically Weighted Regression (GWR) model with R Program. The research aimed to aplicate the spatial regession for malnutrition among under five children case in Medan City 2013 using R Program that can be uploaded freely on internet.

The method of this research is analytical observational study with cross sectional design. This research was done in February to December 2014. The population and sample of this research was all under five children who was registered in Medan City Health Department in January to December 2012. All of data was analyzed using spatial regression with Ordinary Least Square (OLS) and Geographically Weighted Regression (GWR) model.

The result of this study showed that the fit model to describe the incident of malnutrition among under five children for each districts in Medan City was Ordinary Least Square(p < 0,001). The factor that affect the incident of malnutrition among under five children in Medan City was diarrhea.

It is recommended to community to standby and careful if their children get diarrhea. Public health center and posyandu officers are recommended to give education about diarrhea and for next researcher to researh the other factors that potential affect the malnutrition among under five children, for example, low birth weight infants, examination of Antenatal Care (ANC), and the other factors like education, knowledge and social.

(19)

Universitas Sumatera Utara BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2012

sebanyak 6,6 juta anak dibawah usia 5 tahun meninggal dunia, hampir 18.000

kematian per hari. Kematian anak dibawah 5 tahun tertinggi masih di wilayah

Afrika yaitu 95 kematian per 1000 kelahiran hidup, sekitar 8 kali lebih tinggi

daripada wilayah Eropa yaitu 12 kematian per 1000 kelahiran hidup. Selain itu,

kesenjangan tingginya kematian balita antara negara dengan penghasilan tinggi

dan rendah masih tetap besar. Kematian balita tahun 2012 di negara dengan

penghasilan rendah mencapai 82 kematian per 1000 kelahiran hidup, sekitar 3 kali

lebih tinggi daripada negara dengan penghasilan tinggi yaitu 6 kematian per 1000

kelahiran hidup.

Indonesia dihadapkan dengan persoalan gizi buruk yang merupakan salah

satu persoalan utama dalam pembangunan manusia. Berdasarkan Riset Kesehatan

Dasar (Riskesdas) tahun 2013, di Indonesia sebesar 13,90% balita dengan gizi

kurang, menurun dari hasil Riskesdas 2010 yaitu sebesar 17,90% balita. Namun

terjadi peningkatan pada kejadian gizi buruk yaitu sebesar 5,70% balita pada

Riskesdas 2013 dari 4,90% balita pada Riskesdas 2010. Angka tersebut masih

jauh dari target MDG’s 2015 yaitu sebesar 15,50% untuk prevalensi gizi kurang

dan 3,60% untuk prevalensi gizi buruk.

Pada tahun 2009 terdapat sebesar 0,52% (911) balita dengan gizi buruk dan

3,21% (5.676) balita dengan gizi kurang di kota Medan (Pemko Medan, 2012).

(20)

Universitas Sumatera Utara tahun 2011 menjadi 124 balita (Dinkes Kota Medan, 2012). Berdasarkan data

Dinkes Kota Medan, kasus gizi buruk di kota Medan tetap pada tahun 2012 yaitu

sebesar 0,077% (124) balita. Namun meningkat pada Mei 2013 yaitu sebesar

0,087% (138) balita (Dinkes Kota Medan, 2013). Dinas Kesehatan Provinsi

Sumatera Utara mencatat bahwa sepanjang tahun 2012 terdapat sebanyak 746

kasus gizi buruk di wilayah Sumatera Utara, dan Kota Medan sebagai pemegang

kasus tertinggi. Prevalensi balita menurut status gizi di Kota Medan berdasarkan

Profil Dinas Kesehatan Kota Medan 2013 dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut :

Tabel 1.1 Jumlah Balita menurut Status Gizi dan Kecamatan di Kota Medan Tahun 2012

Kecamatan Gizi Lebih Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk

Medan Tuntungan - - 55 2

Medan Johor - - 29 7

Medan Amplas - - 32 0

Medan Denai - - 101 10

Medan Area - - 47 6

Medan Kota - - 24 4

Medan Maimun - - 60 4

Medan Polonia - - 80 2

Medan Baru - - 40 4

Medan Selayang - - 39 2

Medan Sunggal - - 40 9

Medan Helvetia - - 68 13

Medan Petisah - - 54 3

Medan Barat - - 67 4

Medan Timur - - 55 3

Medan Perjuangan - - 99 6

Medan Tembung - - 85 10

Medan Deli - - 72 12

Medan Labuhan - - 107 11

Medan Marelan - - 63 5

Medan Belawan - - 150 7

Jumlah - - 1.367 124

(21)

Universitas Sumatera Utara Adapun faktor-faktor yang dipilih sebagai faktor yang memengaruhi gizi

buruk di Kota Medan adalah ASI eksklusif, imunisasi lengkap, vitamin A, infeksi

saluran pernapasan akut (ISPA), diare dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Faktor-faktor tersebut dipilih berdasarkan Faktor-faktor yang memengaruhi gizi buruk menurut

UNICEF dan berdasarkan ketersediaan data di Dinas Kesehatan Kota Medan.

Kasus gizi buruk yang terjadi di Kota Medan tersebar tidak secara merata di

21 kecamatan yang ada di Kota Medan. Oleh karena itu, lingkungan atau kondisi

geografis daerah sangat mungkin memengaruhi terjadinya gizi buruk. Ini berarti

bahwa, kasus gizi buruk sudah memenuhi syarat untuk dianalisis dengan

menggunakan analisis regresi spasial. Regresi spasial adalah suatu analisis yang

digunakan untuk memodelkan suatu data yang memiliki informasi ruang atau

spasial. Menurut Anselin (1988) jika dalam analisis pada kasus yang memiliki

informasi spasial menggunakan analisis regresi sederhana maka akan terjadi

pelanggaran terhadap asumsi seperti nilai sisa berkolerasi dengan yang lain dan

varian tidak konstan. Jika dalam analisis, informasi ruang atau spasial diabaikan

pada data yang memiliki informasi ruang atau spasial, maka koefisien regresi akan

bias atau tidak konsisten, R2 berlebihan, dan kesimpulan yang ditarik tidak tepat

karena model analisis yang digunakan tidak akurat. Beberapa model yang telah

berkembang adalah Geographically Weighted Regression (GWR) dengan

pendekatan titik, Spatial Autoregressive Model (SAR), Spatial Error Model

(SEM), dan Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA) dengan

(22)

Universitas Sumatera Utara Diperlukan suatu metode pemodelan statistik dengan memperhitungkan

informasi spasial dengan menggunakan pendekatan titik koordinat lattitude dan

longitude. Sehingga model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

model Geographically Weighted Regression (GWR) yang akan menghasilkan

dugaan parameter model regresi untuk setiap lokasi (per kecamatan).

Geographically Weighted Regression (GWR) adalah model regresi yang

dikembangkan oleh Fotheringham, dkk (2002) merupakan salah satu

pengembangan model regresi OLS dengan mempertimbangkan spasial (lokasi)

yang digunakan untuk mengatasi masalah heterogenitas spasial yang disebabkan

oleh kondisi lokasi yang satu dengan lokasi lain tidak sama. Model ini merupakan

model regresi linier yang menghasilkan dugaan parameter model regresi yang

bersifat lokal untuk setiap lokasi atau titik dimana data tersebut diperoleh atau

dikumpulkan.

Perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk melakukan analisis

regresi spasial diantaranya adalah MATLAB, Octave, R, ArcView, S-plus dan

OpenGeoDa. Octave, R dan OpenGeoDa merupakan software yang dapat diunduh

secara gratis. MATLAB, Octave dan R merupakan software yang berbasis

command line sehingga dituntut lebih dalam kemampuan menyusun atau

membuat syntax dan macro. Dalam analisis ini, software yang akan digunakan

adalah R dengan alasan untuk memperkenalkan sistem Command Line Interface

(CLI) tidak hanya sistem Grapical User Interface (GUI) seperti yang ada dalam

SPSS, menghasilkan output yang mudah dipahami, bersifat multiplatform yang

(23)

Universitas Sumatera Utara untuk LINUX, mudah diperoleh karena dapat diunduh secara gratis tidak seperti

MATLAB yang sangat mahal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan analisis regresi spasial dengan

menggunakan Program R pada kasus gizi buruk di Kota Medan tahun 2013.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan regresi spasial pada

kasus gizi buruk di Kota Medan tahun 2013 dengan menggunakan Program R.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menganalisis pengaruh ASI eksklusif, imunisasi lengkap, vitamin A, infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA), diare dan fasilitas pelayanan kesehatan

terhadap kejadian gizi buruk di Kota Medan.

2. Menentukan model yang fit antara model yang diperoleh dari hasil analisis

Ordinary Least Square (OLS) dan Geographically Weighted Regression

(GWR) untuk kasus gizi buruk di Kota Medan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Model kasus gizi buruk yang diperoleh dapat digunakan untuk membuat suatu

prediksi, antisipasi dan langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengurangi

kasus gizi buruk di Kota Medan guna mencapai target MDG’s tahun 2015.

2. Sebagai bahan masukan atau referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan

(24)

Universitas Sumatera Utara BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Regresi

Analisis regresi adalah analisis yang digunakan untuk mendapatkan

hubungan matematis antara satu variabel dependen (y) dan satu atau lebih variabel

independen (x). Menurut Draper dan Smith (1992) dikatakan bahwa hubungan

antara satu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen dapat

dinyatakan dalam model regresi linier. Secara umum hubungan tersebut dapat

dinyatakan sebagai berikut :

(2.1)

dimana

y = variabel dependen

, , … = parameter yang tidak diketahui

X = variabel independen

= error regresi

Jika dilakukan pengamatan sebanyak n, maka model pengamatan ke-i

adalah:

(2.2)

i = 1,2,3,...,n

Jika disederhanakan (Ordinary Least Square (OLS)) menjadi

(2.3)

dimana

(25)

Universitas Sumatera Utara = vektor koefisien parameter regresi yang berukuran (k+1)x1

= error regresi

2.2 Regresi Spasial

Regresi spasial adalah suatu analisis yang digunakan untuk memodelkan

suatu data yang memiliki informasi ruang atau spasial. Beberapa model yang telah

berkembang adalah Geographically Weighted Regression (GWR), Spatial

Autoregressive Model (SAR), Spatial Error Model (SEM) dan Spatial

Autoregressive Moving Average (SARMA). Model umum regresi spasial

dinyatakan dalam persamaan Anselin (1988) :

(2.4)

(2.5)

~ 0, (2.6)

dimana

y = matriks variabel dependen yang berukuran (n x 1)

X = matriks variabel independen berukuran (n x (k+1))

= vektor koefisien parameter regresi yang berukuran (k+1)x1

! = koefisien autoregresi lag spasial

" = koefisien autoregresi lag pada error yang bernilai |"$|% 1$

' = vektor error yang diasumsikan ada autokorelasi berukuran n x 1

= vektor error yang berukuran n x 1, yang berdistribusi normal

dengan =-mean nol dan varians

W = matriks pembobot spasial yang berukuran n x n

(26)

Universitas Sumatera Utara k = jumlah variabel independen (k = 1, 2, ...dst)

I = matriks identitas dengan ukuran n x n

Terdapat empat model yang dapat dibentuk dari model umum regresi yaitu:

1. Geographically Weighted Regression (GWR)

(

)

(

)

0

1

,

,

p

i i i k i i ik i

k

y

β

u v

β

u v x

ε

=

=

+

+

2. Spatial Lag Model (SLM) atau Spasial Autogressive Model (SAR)

Jika ! ( 0, " 0 maka persamaan (2.4) menjadi:

(2.8)

3. Spatial Error Model (SEM)

Jika ! 0, " ( 0 maka persamaan (2.4) menjadi:

(2.9)

4. General Spatial Model atau Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA)

Jika ! ( 0, " ( 0 maka persamaan (2.4) menjadi:

, (2.10)

2.2.1 Model Geographically Weighted Regression (GWR)

Model Geographically Weighted Regression (GWR) adalah model regresi

yang pertama kali diperkenalkan oleh Fotheringham pada tahun 1967 yang

merupakan salah satu pengembangan model regresi OLS dengan

mempertimbangkan spasial atau lokasi (Maulani, 2013). Model ini merupakan

model regresi linier yang menghasilkan dugaan parameter model regresi yang

bersifat lokal untuk setiap lokasi atau titik dimana data tersebut diperoleh atau

dikumpulkan. Model GWR dapat ditulis sebagai berikut :

(27)

Universitas Sumatera Utara

(

)

(

)

0 1

,

,

p

i i i k i i ik i

k

y

β

u v

β

u v

x

ε

=

=

+

+

dimana:

i

y

: Nilai observasi variabel respon untuk lokasi ke-i

(

u

i

,

v

i

)

: Menyatakan titik koordinat (longitude, latitude) lokasi i

(

,

)

k

u v

i i

β

: Koefisien regresi variabel prediktor ke- k untuk lokasi ke-i

Estimasi parameter di suatu titik (ui ,vi) akan lebih dipengaruhi oleh

titik-titik yang dekat dengan lokasi (ui ,vi) daripada titik-titik yang lebih jauh.

Pemilihan pembobot spasial digunakan untuk menentukan besarnya pembobot

masing-masing lokasi yang berbeda. Salah satu cara yang digunakan untuk

menentukan besarnya pembobot adalah dengan fungsi kernel. Pembobot yang

terbentuk dengan menggunakan fungsi kernel ini adalah fungsi jarak Gaussian

(Gaussian Distance Function), fungsi Exponential, fungsi Bisquare, dan fungsi

kernel Tricube. Fungsi pembobot yang digunakan pada penelitian ini adalah

fungsi jarak Gaussian.

(

)

(

)

   − = 2 2 1 exp

,v d h

u

wj i i ij

dengan

(

) (

2

)

2

j i j i

ij u u v v

d = − + − adalah jarak euclidian antara lokasi

(

ui,vi

)

ke

lokasi

(

uj,vj

)

dan h adalah parameter non negatif yang diketahui dan biasanya

disebut parameter penghalus (bandwidth).

Bandwidth dapat dianggap sebagai radius dari suatu lingkaran, sehingga

sebuah titik yang berada dalam radius lingkaran dianggap masih memiliki

pengaruh. Di dalam pembentukan sebuah model GWR, bandwidth berperan

sangat penting karena akan berpengaruh pada ketepatan model terhadap data, (2.11)

(28)

Universitas Sumatera Utara yaitu mengatur varians dan bias dari model (Lestari, 2011). Ada beberapa metode

yang digunakan untuk memilih bandwidth optimum, salah satu diantaranya adalah

metode Cross Validation (CV) sebagai berikut :

( )

(

)

2

1

ˆ ( )

n

i i

i

CV h

y

y

h

=

=

Dengan

y

i

( )

h

adalah nilai penaksir

y

i dimana pengamatan di lokasi

(

u

i

,

v

i

)

dihilangkan dari proses estimasi. Untuk mendapatkan nilai

h

yang

optimal maka diperoleh dari

h

yang menghasilkan nilai Cross Validation (CV)

minimum.

Pengujian kesesuaian model (goodness of fit) dilakukan dengan menguji

kesesuaian dari koefisien parameter secara serentak, yaitu dengan

mengkombinasikan uji regresi linier dengan model untuk data spasial. Hipotesis

yang digunakan sebagai berikut :

(

)

0

H :

β

k u vi, i =

β

k untuk setiap k=0,1, 2, , , dan p i=1, 2, ,n

(tidak ada perbedaan yang signifikan antara model regresi global dan GWR)

1

H :Paling sedikit ada satu βk

(

u vi, i

)

≠βk, k=0,1, 2, ,p

(ada perbedaan yang signifikan antara model regresi global dan GWR).

Statistik uji:

( )

( ) (

0 1

)

2 2 1 1 − −         = p n H SSE H SSE Fhitung δ δ (2.14)

Jika hipotesis null () ) adalah benar berdasarkan data yang diberikan, maka

(29)

Universitas Sumatera Utara SSE() )/SSE() ) akan mendekati satu, sebaliknya jika ) tidak benar maka

nilainya cenderung mengecil (Leung et. al., 2000 dalam Lestari, 2011)

menghasilkan nilai yang relatif kecil, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis

alternatif lebih cocok digunakan. Dengan kata lain model GWR mempunyai

goodness of fit yang lebih baik dari pada model regresi global.

Adapun pengujian signifikansi parameter model pada setiap lokasi

dilakukan dengan menguji parameter secara parsial. Hipotesisnya adalah sebagai

berikut :

(

)

0

H :

β

k u vi, i =0

(

,

)

0

:

1 k

u

i

v

i

H

β

dengan k =1, 2, ,p

Statistik uji yang digunakan :

ˆ ( , )

ˆ

k i i hit kk

u v

T

c

β

σ

=

Tolak ) jika, |*+ ,| - ./

0; 23 0/2

0

2.2.2 Model Spatial Lag Model (SLM) atau Spatial Autoregressive Model (SAR)

Spatial Autoregressive Model (SAR) disebut juga Spatial Lag Model (SLM)

adalah salah satu model spasial dengan pendekatan area dengan memperhitungkan

pengaruh spasial lag pada variabel dependen saja. Model ini dinamakan Mixed

Regressive – Autoregressive karena mengkombinasikan regresi biasa dengan

model regresi spasial lag pada variabel dependen (Anselin, 1988). Model spasial

(30)

Universitas Sumatera Utara mengasumsikan bahwa proses autoregressive hanya pada variabel respon. Model

umum SAR dapat dilihat pada Persamaan (2.8).

Model ini adalah pengembangan dari model autoregressive order pertama,

dimana variabel respon selain dipengaruhi oleh lag variabel respon itu sendiri juga

dipengaruhi oleh variabel prediktor. Proses autoregressive juga memiliki

kesamaan dengan analisis deret waktu seperti pada model spasial autoregressive

order pertama. Perkembangan dari model SAR itu sendiri adalah model SAC dan

SARMA (Anselin, 1998). Menurut Anselin (1988), untuk mengetahui model SAR

ini konsisten, maka dikembangkan model estimasi parameter dengan maximum

likelihood.

2.2.3 Model Structural Equation Model (SEM)

Spatial Error Model (SEM) merupakan model spasial error dimana pada

error terdapat korelasi spasial, model ini dikembangkan oleh Anselin (1988).

Model spasial error terbentuk apabila W= 0 dan ρ= 0, sehingga model ini

mengasumsikan bahwa proses autoregressive hanya pada error model. Model

umum SEM dapat dilihat pada Persamaan (2.9).

Structural Equation Model (SEM) merupakan salah satu analisis multivariat

yang dapat menganalisis hubungan variabel secara kompleks. Analisis ini pada

umumnya digunakan untuk penelitian-penelitian yang menggunakan banyak

variabel (Nawangsari, 2011). Menurut Ghozali (2008), SEM adalah sebuah

evolusi dari model persamaan berganda yang dikembangkan dari prinsip

(31)

Universitas Sumatera Utara sosiologi, SEM telah muncul sebagai bagian integral dari penelitian manajerial

akademik.

SEM terdiri dari 2 bagian yaitu model variabel laten dan model pengukuran

(Ghozali, 2008). Bagian pertama yaitu model variabel laten (latent variable

model) mengadaptasi model persamaan simultan pada ekonometri. Jika pada

ekonometri semua variabelnya merupakan beberapa variabel terukur/teramati

(measured/ observed variables), maka pada model ini beberapa variabel

merupakan variabel laten (latent variables) yang tidak terukur secara langsung).

Sedangkan bagian kedua yang dikenal dengan model pengukuran (measurement

model), menggambarkan beberapa indikator atau beberapa variabel terukur

sebagai efek atau refleksi dari variabel latennya. Kedua bagian model ini

merupakan jawaban terhadap 2 permasalahan dasar pembuatan kesimpulan ilmiah

dalam ilmu sosial dan perilaku. Untuk permasalahan pertama yang berkaitan

dengan masalah pengukuran dapat dijawab dengan model pengukuran, sedangkan

permasalahan kedua yang berkaitan dengan hubungan kausal dapat dijawab

menggunakan model variabel laten.

Dalam praktiknya, SEM merupakan gabungan dari dua metode statistika

yang terpisah yang melibatkan analisis faktor (factor analysis) yang

dikembangkan dipsikologi dan psikometri dan model persamaan simultan

(simultaneous equation modelling) yang dikembangkan di ekonometrika.

Hair, Babin, Anderson, dan Tatham cit Ghozali (2008) menunjukkan

perbedaan antara teknik SEM dengan teknik regresi dan multivariate lainnya,

(32)

Universitas Sumatera Utara 1. Estimasi terhadap multiple interrelated dependence relationships yang istilah

sederhananya adalah susunan beberapa persamaan regresi berganda yang

terpisahkan tetapi saling berkaitan. Susunan persamaan ini dispesifikasikan

dalam bentuk model structural dan diestimasi oleh SEM secara simultan.

2. Kemampuan untuk menunjukkan beberapa konsep tidak teramati (unobserved

concepts) serta beberapa hubungan yang ada di dalamnya, dan perhitungan

terhadap beberapa kesalahan pengukuran dalam proses estimasi. SEM

menyajikan konsep tidak teramati melalui penggunaan beberapa variabel laten.

Pendekatan beberapa variabel teramati terhadap suatu konsep jarang dapat

dilakukan dengan sempurna dan hampir selalu ada kesalahannya. Beberapa

kesalahan pendekatan ini sering dikenal sebagai kesalahan pengukuran

(measurement errors) dan dapat diestimasi menggunakan beberapa fasilitas

yang ada pada SEM.

2.2.4 Model General Spatial Model atau Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA)

Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA) merupakan salah satu

model spasial dengan pendekatan area dengan memperhitungkan pengaruh spasial

lag pada variabel dependen dan independen (Anselin 1988). Model terbentuk

apabila ! ( 0, " ( 0. Model umum SARMA dapat dilihat pada Persamaan (2.10).

Model Spatial Autoregressive Moving Average (SARMA) analog dengan

analisis spasial yang dikenal dengan ARMA (Autoregressive Moving Average)

yang dikembangkan untuk model time-series. Sedangkan ARMA berhubungan

(33)

Universitas Sumatera Utara Keuntungan dari SARMA adalah bahwa skala spasial dapat dimodelkan secara

jelas.

2.2.5 Pemilihan Model

Anselin (1998) membedakan efek spasial menjadi dua bagian yaitu

dependensi spasial dan heterogenitas spasial. Dependensi spasial ditunjukkan

dengan kemiripan sifat untuk lokasi yang saling berdekatan, sedangkan

heterogenitas spasial ditunjukkan oleh perbedaan sifat antara satu lokasi dengan

lokasi lainnya. Dependensi spasial terjadi pada daerah yang memiliki kedekatan

lokasi sehingga terjadi interaksi spasial pada daerah tersebut. Sedangkan

heterogenitas spasial terjadi pada lokasi-lokasi yang berbeda-beda.

Salah satu dampak yang ditimbulkan karena munculnya heterogenitas

spasial adalah parameter regresi bervariasi secara spasial. Pada regresi global

diasumsikan bahwa nilai duga parameter regresi akan konstan, artinya parameter

regresi sama untuk setiap titik di dalam wilayah penelitian. Bila terjadi

heterogenitas spasial pada parameter regresi, maka regresi global menjadi kurang

mampu dalam menjelaskan fenomena data yang sebenarnya (Anselin, 1988).

Brundson, Fotheringham dan Charlton (1998) mengembangkan sebuah

metode untuk menganalisis data apabila terjadi heterogenitas spasial yang

kemudian diberi nama Geographically Weighted Regression (GWR). Pada GWR,

parameter regresi diasumsikan bervariasi secara spasial. Melalui GWR akan dapat

diketahui variasi spasial dalam nilai duga parameter, sehingga akan dihasilkan

(34)

Universitas Sumatera Utara Dalam penelitian kasus gizi buruk ini, kondisi lokasi yang satu tidak selalu

sama dengan kondisi yang lain, mungkin karena faktor geografis (spatial

variation), keadaan sosial budaya maupun hal-hal lain yang melatarbelakangi

kondisi lokasi yang diamati, sehingga model penentuan kasus gizi buruk yang

bersifat global tidaklah cocok digunakan karena munculnya heterogenitas spasial.

Karena adanya perbedaan sifat antara satu lokasi dengan lokasi yang lain maka

model yang digunakan adalah Geographically Weighted Regression (GWR) yang

akan menghasilkan dugaan parameter model regresi yang berbeda di tiap lokasi

(per kecamatan).

2.3 Program R

Secara umum ada dua macam kelompok paket software statistik untuk

keperluan analisis data, yaitu kelompok software komersil dan kelompok software

statistik open source. Beberapa contoh sofware statistik komersil yang popular di

Indonesia adalah SPSS, MINITAB, Eviews, SAS, dan S-plus. Sedangkan contoh

dari freeware statistik antara lain adalah R, Open Stats, SalStat, Vista, Supermix,

dan lain-lain (Suhartono, 2008).

Software statistik yang komersil mensyaratkan lisensi dengan harga yang

cukup mahal untuk ukuran sebagian besar pengguna di Indonesia. Dengan

demikian, salah satu alternatif penyelesaian dari mahalnya lisensi tersebut adalah

melalui penggunaan freeware statistik, khususnya R.

2.3.1 Sejarah

R dalam versi terakhirnya yaitu R 3.1.2 for Windows (52 megabytes, 32/64

(35)

Universitas Sumatera Utara data statistik yang komplet sebagai hasil dari kolaborasi penelitian berbagai ahli

statistik di seluruh dunia. Versi awal dari R dibuat pada tahun 1992 di Universitas

Auckland, New Zealand oleh Ross Ihaka dan Robert Gentleman. Paket statistik R

bersifat multiplatforms, dengan file instalasi binary/file tar tersedia untuk sistem

operasi Windows, Mac OS, Mac OS X, Linux, Free BSD, NetBSD, irix, Solaris,

AIX, dan HPUX.

2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Program R 2.3.2.1 Kelebihan Program R

Beberapa kelebihan Program R (Didi, 2012) adalah sebagai berikut:

1. Free, user dapat meng-copy dan meng-install program ini secara bebas tanpa

perlu membayar lisensinya.

2. Multiplatform, yaitu dapat di-install dan digunakan baik pada sistem operasi

Windows, UNIX/LINUX maupun Macintosh. Untuk sistem operasi

UNIX/LINUX dan Macintosh diperlukan sedikit penyesuaian.

3. Programmable, user dapat memprogramkan metode baru atau

mengembangkan modifikasi dari fungsi-fungsi analisa statistika yang sudah

ada dalam R. Dan juga dikarenakan berbasis analisa statistika pemrograman

dalam membuat paket ini jauh lebih mudah karena sudah ditunjang beberapa

program dasar statistik yang telah ada.

4. Lengkap dan terdiri dari koleksi tools statistik yang terintegrasi untuk analisis

data, diantaranya mulai statistik deskriptif, fungsi probabilitas, berbagai macam

(36)

Universitas Sumatera Utara 5. Mempunyai kemampuan menampilkan grafis yang sangat baik dan lengkap

sehingga sangat memudahkan bagi kita untuk menampilkan bentuk-bentuk

grafiks sesuai yang diinginkan dan mudah dibaca.

2.3.2.2 Kekurangan Program R

Selain memiliki kelebihan, Program R juga memiliki beberapa kekurangan

(Didi, 2012) yaitu:

1. R dibangun dalam versi CLI (Command Line Interface) yang banyak

menggunakan syntax-syntax dalam pemrograman sehingga user tidak begitu

akrab bagi user yang biasa menggunakan software dengan Point Click & GUI.

Namun saat ini hal tersebut sudah mulai dapat teratasi dengan versi R-GUI

yakni R-Commander walaupun masih belum memiliki tools yang lengkap

namun sudah cukup powerfull untuk pengguna pemula.

2. Missing Statistical Function, walaupun analisa statistik dalam R sudah cukup

lengkap, belum semua metode statistika telah diimplementasikan di dalam R.

3. Bahasa berbasis analisa matriks. Bahasa R sangat baik untuk melakukan

programming berbasis matriks. Sehingga sangat cocok dan powerfull untuk

pemrograman dibidang multivariat namun cukup rumit digunakan bagi pemula.

2.3.3 Cara Memperoleh Program R

R dapat diperoleh di situs http://www.r-project.org/ atau

http://cran.r-project. org/. Pada server CRAN ini dapat didownload file instalasi binary dan

source code dari R-base system dalam sistem operasi Windows (semua versi),

beberapa jenis distro linux dan Macintosh. R versi terakhir adalah R 3.1.2 for

(37)

Universitas Sumatera Utara didownload, lakukan peng-install-an. Langkah-langkah instalasi dapat dilakukan

sebagai berikut :

Double click file R-3.1.2-win yang telah didownload, maka akan muncul

[image:37.612.142.508.217.499.2]

jendela dialog seperti pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Jendela dialog awal instalasi R dalam sistem operasi Windows

Setelah itu lanjutkan instalasi dengan mengikuti wizard dan menggunakan

pilihan default instalasi.

• Klik finish jika instalasi telah selesai. Jika proses instalasi berjalan dengan

sukses, maka akan muncul icon R pada desktop dan start menu seperti pada

(38)
[image:38.612.283.357.102.212.2]

Universitas Sumatera Utara Gambar 2.2 Icon R pada desktop

• Setelah instalasi berhasil, lakukan pengecekan apakah program R dapat

berjalan dengan baik. Double click pada icon R, maka tampilan R yang muncul

adalah :

Gambar 2.3 Tampilan awal Program R

2.3.4 Analisis Regresi Spasial dalam Program R

Selain membutuhkan R, paket yang dibutuhkan untuk pelaksanaan analisis

regresi spasial adalah spdep package. Spdep dikembangkan oleh Roger Bivand

dan teman-temannya (Anselin, 2003). Versi terakhir dari spdep adalah spdep

[image:38.612.151.488.321.557.2]
(39)

Universitas Sumatera Utara Untuk instalasi paket spdep, dapat dilakukan manual dari spdep.zip file

yang telah didownload, atau dapat juga meng-install paket spdep langsung dari

program R (Anselin, 2003) yaitu dengan cara sebagai berikut:

1. Buka program R yang telah di-install

2. Pada menu Package, pilih Install package

Jika spdep.zip file telah didownload sebelumnya, maka lebih mudah

meng-install dengan cara :

Pilih menu Package, kemudian pilih Install Package from local zip file.

Untuk memastikan bahwa paket spdep telah berhasil di-install dan telah

[image:39.612.266.384.355.614.2]

dapat digunakan, pada menu Package pilih Load Package, maka akan muncul :

Gambar 2.4 Tampilan dari Load Package-spdep package

Setelah memilih spdep, klik OK. Maka tampilan yang akan muncul dapat

(40)
[image:40.612.179.462.104.344.2]

Universitas Sumatera Utara Gambar 2.5 Tampilan dari R-Console untuk spdep package

Dalam menjalankan beberapa fungsi dalam analisis ini dibantu dengan

Rcmdr package. Rcmdr memiliki sistem Grapical User Interface (GUI) seperti

dalam SPSS. Namun perintah dalam Rcmdr sangat terbatas, Rcmdr belum

memiliki tools yang lengkap untuk melakukan analisis.

Rcmdr package versi terakhir adalah versi 2.1-1 yang dirilis pada 4

September 2014. Rcmdr package dapat didownload di

http://cran.r-project.org/web/packages/ Rcmdr/index.html. Setelah selesai men-download

Rcmdr package, download juga package suggest yang tersedia agar function yang

diperlukan dapat berjalan dengan baik dan tidak terjadi error. Kemudian lakukan

instalasi Rcmdr package dengan cara yang sama saat melakukan instalasi spdep

package. Untuk memastikan bahwa paket Rcmdr telah berhasil di-install dan telah

(41)
[image:41.612.268.370.102.341.2]

Universitas Sumatera Utara Gambar 2.6 Tampilan dari Load Package-Rcmdr package

Setelah memilih Rcmdr, klik OK. Maka tampilan yang akan muncul dapat

dilihat pada Gambar 2.7 sebagai berikut:

[image:41.612.194.445.424.681.2]
(42)

Universitas Sumatera Utara 2.3.5 Geographically Weighted Regression (GWR) dalam Program R

Fungsi untuk menjalankan GWR dalam R didasarkan atas ketentuan oleh

Chris Brunsdon, Martin Charlton dan Stewart Fortheringham

(http://gwr.nuim.ie/). Paket untuk GWR berbeda dengan paket untuk analisis

spasial pada umumnya. Untuk menjalankan GWR dalam R, perlu melakukan

peng-install-an pada Package spgwr. Versi terbaru Package spgwr adalah versi

0.6-24 per 16 September 2013. Langkah-langkah untuk men-download paket

adalah sebagai berikut :

1. Buka link berikut untuk men-download Package spgwr,

http://cran.r-project.org/web/packages/spgwr/index.html. Download paket sesuai

Operating System laptop atau komputer yang digunakan (Windows, OS)

2. Dalam link tersebut terdapat Package Suggests yang harus didownload

untuk melengkapi perintah syntax yang akan digunakan dalam proses

analisis. Package Suggests yang tertera adalah spdep, parallel, snow dan

maptools. Download seluruh paket, lakukan seperti langkah 1. Dalam

masing-masing paket, terdapat Package Suggests. Download seluruhnya

seperti langkah 1.

3. Apabila seluruh paket sudah didownload, lakukan peng-install-an dengan

cara pilih menu Package, kemudian pilih Install Package from local zip file.

Install seluruh paket yang sudah didonwload.

Untuk memastikan bahwa paket spgwr telah berhasil di-install dan telah

dapat digunakan, pada menu Package pilih Load Package, maka akan

(43)
[image:43.612.250.388.104.340.2]

Universitas Sumatera Utara Gambar 2.8 Tampilan dari Load Package

Setelah memilih spgwr, klik OK. Maka tampilan yang akan muncul dapat

dilihat pada Gambar 2.9 sebagai berikut:

[image:43.612.177.461.430.671.2]
(44)

Universitas Sumatera Utara 2.4 Gizi

Gizi berasal dari bahasa Arab Al Gizzai yang artinya makanan dan

manfaatnya untuk kesehatan, sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan.

Kata ‘Gizi’ dikenal di Indonesia sejak tahun 1950-an sebagai terjemahan dari kata

Nutrition, suatu istilah bahasa Inggris yang berarti hubungan antara makanan dan

kesehatan. Oleh Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra Universitas

Indonesia, pada tahun 1950-an ditawarkan terjemahan nutrition dengan

menggunakan akar bahasa Arab Al Gizzai.

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang

dikonsumsi secara normal melalui pencernaan, absorbsi, transportasi,

penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ

serta menghasilkan energi (Supariasa, dkk. 2002).

Gizi menurut Harry Oxorn dan William R.Forte adalah memiliki

pemahaman yang luas. Gizi bukan hanya sekedar membahas mengenai jenis

makanan serta manfaat yang bisa diakibatkan pada tubuh manusia. Namun, gizi

juga membahas tentang proses mendapatkan dan pengolahan serta pertimbangan

yang perlu dilakukan dalam upaya menciptakan kestabilan kesehatan.

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk

variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu.

Almatsier (2004) menyatakan bahwa status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai

(45)

Universitas Sumatera Utara Gizi baik adalah keadaan gizi seseorang terjadi karena seimbangnya jumlah

asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (required) oleh tubuh yang

ditandai dengan berat badan menurut umur (BB/U) yang berada pada ≥ -2 SD

sampai 2 SD tabel baku WHO-NCHS (Depkes RI, 2006).

Apabila asupan gizi berlebih dari jumlah yang dibutuhkan maka akan

menyebabkan gizi lebih (over nutrition). Apabila asupan gizi kurang dari jumlah

yang dibutuhkan maka akan menyebabkan gizi kurang (under nutrition).

Indonesia kini sedang dihadapi kedua masalah yang disebut dengan masalah gizi

ganda, yaitu gizi lebih dan gizi kurang.

2.5 Gizi Buruk

Gizi buruk (severe malnutrition) menurut daftar istilah dan pengertian

Kemenkes RI 2010 adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan

menurut Umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah underweight (gizi kurang)

dan severely underweight (gizi buruk). Keterangan kategori dan ambang batas

status gizi anak berdasarkan indeks terlampir pada Kemenkes RI Nomor:

[image:45.612.115.522.550.694.2]

1995/MENKES/SK/XII/2010 yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak berdasarkan Indeks

No Indeks Kategori

Status Gizi

Ambang Batas (Z-Score) 1

Berat Badan menurut Umur (BB/U)

Anak Umur 0-60 Bulan

Gizi buruk < -3 SD

Gizi kurang -3 SD sampai dengan < -2 SD

Gizi baik -2 SD sampai dengan 2 SD

Gizi lebih > 2 SD

2 Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

Anak Umur 0-60 Bulan

Sangat Pendek < -3 SD

Pendek -3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

(46)
[image:46.612.116.521.131.345.2]

Universitas Sumatera Utara Tabel 2.1 Lanjutan

No Indeks Kategori

Status Gizi

Ambang Batas (Z-Score) 3 Berat Badan menurut Panjang

Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi

Badan (BB/TB) Anak Umur 0-60 Bulan

Sangat Kurus < -3 SD

Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

Gemuk > 2 SD

4

Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Umur 0-60 Bulan

Sangat Kurus < -3 SD

Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

Gemuk > 2 SD

5

Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Umur 5-18 Tahun

Sangat Kurus < -3 SD

Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal -2 SD sampai dengan 2 SD

Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD

Obesitas > 2 SD

Sumber : Kemenkes RI, 2011

2.5.1 Penyebab Gizi Buruk

Penyebab gizi buruk dapat dilihat dari berbagai faktor yang dapat

mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF (1998) ada dua

penyebab langsung yang memengaruhi status gizi yaitu:

1. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah

makanan yang dikonsumsi atau makanan yang tidak memenuhi unsur gizi yang

dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.

2. Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan

oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap

zat-zat makanan secara baik.

Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang tetapi juga

karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi sering

(47)

Universitas Sumatera Utara Begitu pula pada anak yang makanannya tidak cukup baik kuantitas dan

kualitasnya yang akan menyebabkan daya tahan tubuh melemah.

Faktor-faktor yang memengaruhi status gizi menurut UNICEF dirangkum

dalam Gambar 2.10 sebagai berikut:

Faktor Memengaruhi Status Gizi Status Gizi

Asupan zat gizi Penyakit Infeksi

Kemiskinan, Tingkat Pendidikan Rendah, Ketersediaan Pangan Menurun, Kesempatan Kerja Rendah

Krisis Ekonomi dan Politik

[image:47.612.134.515.225.498.2]

Sumber: UNICEF (1988) dengan penyesuaian

Gambar 2.10 Faktor yang memengaruhi status gizi

Faktor tidak langsung yang memengaruhi status gizi menurut UNICEF

yaitu:

1. Faktor ketidaktersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat;

2. Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak;

3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.

Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung Pelayanan/fasilitas kesehatan Perwatan anak

dan ibu hamil Ketersediaan pangan RT Masalah Utama Akar Masalah Ketersediaan pangan RT Perawatan anak dan ibu hamil

Penyebab Tidak Langsung

(48)

Universitas Sumatera Utara Penjelasan Gambar 2.10 dapat dilihat sebagai berikut:

a. Asupan zat gizi balita

Pemberian makanan bergizi dalam jumlah yang cukup pada masa balita

mendapat perhatian serius agar anak tidak mengalami kurang gizi. Menurut

Sulaeman (2003), masa penyapihan (peralihan antara penyusuan dan makanan

dewasa) menyebabkan konsumsi ASI berkurang sehingga diperlukan makanan

tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak khususnya energi dan protein.

Menurut Supariasa, dkk (2002) diperlukan suatu standar kecukupan untuk

menilai tingkat konsumsi makanan anak yaitu Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau

Recommended Dietary Allowance (RDA). Berdasarkan Widyakarya Nasional

Pangan dan Gizi (2004), klasifikasi tingkat konsumsi dibagi menjadi 5 yaitu

sebagai berikut:

1. Kelebihan apabila > 120% AKG

2. Normal apabila 90-119% AKG

3. Defisit tingkat ringan apabila 80-89% AKG

4. Defisit tingkat sedang apabila 70-79% AKG

5. Defisit tingkat berat apabila < 70% AKG

b. Penyakit infeksi

Penyakit infeksi yang menyerang anak dapat menyebabkan gizi anak mejadi

buruk. Memburuknya keadaan gizi anak akibat penyakit infeksi dapat

menyebabkan nafsu makan anak menurun, sehingga pasokan zat gizi berkurang,

(49)

Universitas Sumatera Utara Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di

negara-negara berkembang (Sumantri, 1994). Penyebab utama kematian yang

disebabkan oleh diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan

elektrolit dalam tubuh. Selain penyakit diare, penyakit infeksi lainnya pada balita

yang cukup tinggi adalah ISPA.

c. Pengetahuan

Faktor pendidikan dan pengetahuan yang rendah dari seorang ibu akan

pentingnya pemberian makanan bergizi dan seimbang kepada anaknya dapat

dikaitkan dengan permasalahan KEP. Hal ini juga tidak dapat dipisahkan dengan

faktor perilaku, seperti yang ditemukan di Sulawesi Selatan tentang anggapan

bahwa banyak makan ikan dapat menyebabkan kecacingan. Menurut Hadju

(1999), pandangan yang salah terhadap jenis makanan tertentu dapat

menyebabkan ibu tidak mau mengkonsumsi dan juga tidak memberikannya pada

anaknya.

d. Ketahanan pangan

Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan

pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik kualitas

maupun kuantitas gizinya (Ayu, 2008). Ketahanan pangan terkait dengan

ketersediaan pangan baik dari hasil pasar, produksi sendiri, maupun sumber lain,

harga pangan dan daya beli keluarga, serta pengetahuan akan gizi dan kesehatan.

e. Pola asuh

Menurut Hamzah (2000), pola pengasuhan anak adalah pengasuhan anak

(50)

Universitas Sumatera Utara pengasuhan bermain. Menurut Hurlock (1993) peran pengasuh serta interaksi

yang terjadi antara pengasuh dan anak menjadi sangat penting, karena

perkembangan anak secara umum termasuk dominasi dan perkembangan kognitif

banyak ditentukan oleh pola pengasuhan dan peran pengasuh. Hal yang termasuk

dalam pola pengasuhan anak (Ayu, 2008) adalah:

1. Pengasuhan makanan anak

Ibu menyiapkan kebutuhan pangan/gizi sejak prenatal, neo-natal berupa

pemberian ASI, menyiapkan MP-ASI dan dukungan emosional pada anak.

2. Pengasuhan perawatan dasar anak

Pengawasan perawatan dasar anak adalah pemenuhan kebutuhan anak yang

dilakukan oleh ibu untuk mengatasi kejadian diare, ISPA, pemberian imunisasi,

pemberian vitamin A, membuat oralit, serta memberikan pelega tenggorokan

dan mengatasi demam pada anak.

3. Pengasuhan higiene perorangan anak dan kesehatan lingkungan

Difokuskan kepada kemampuan ibu dalam menjaga kebersihan anak,

kebersihan tempat anak banyak menghabiskan waktu, dan mencegah anak

mengalami luka.

f. Pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan

Adalah tersedianya pelayanan kesehatan dasar dan air bersih yang dapat

dijangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan. Diharapkan dapat melakukan

tindakan pencegahan penyakit serta pemeliharaan kesehatan seperti pemeriksaan

(51)

Universitas Sumatera Utara posyandu, puskesmas, rumah sakit, praktek bidan maupun dokter serta persediaan

air bersih.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam Ayu (2008), ada

3 faktor penyebab gizi buruk pada anak dan balita, yaitu:

1. Keluarga miskin;

2. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak;

3. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran

pernapasan dan diare (IDAI, 2007).

2.5.2 Gejala Klinis KEP Berat atau Gizi Buruk

Gejala klinis pada KEP ringan dan sedang adalah tubuh anak terlihat kurus.

Sedangkan gejala klinis untuk KEP berat atau gizi buruk adalah dibagi menjadi

marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.

1. Marasmus

Kata “marasmus” berasal dari bahasa Yunani yang berarti kurus kering.

Tubuh penderita marasmus hanya terlihat “tulang dan kulit”. The Wellcome Trust

Working Patty pada tahun 1970 mendefinisikan marasmus dengan kriteria berat

badan menurut usia yang berada di bawah 70% dari standar internasional.

Marasmus merupakan adaptasi fisiologis terhadap keterbatasan energi dari

makanan. Pada keadaan ini terjadi pengurangan secara nyata jumlah jaringan

lemak dan subkutan disamping terdapat pula atrofi jaringan viseral. Penderita

marasmus akan membatasi aktivitas fisiknya dan memiliki laju metabolisme serta

pergantian protein yang menurun dalam upaya untuk menghemat nutrien. Jika

(52)

Universitas Sumatera Utara infeksi dan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk meninggal atau

mengalami disabilitas karena infeksi. Adapun tanda-tanda klinis yang ditimbulkan

adalah:

a. keterlambatan pertumbuhan yang parah

b. kurus kering hampir tidak ada lemak di bawah kulit

c. perut cekung

d. rambut jarang dan tipis

e. kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (terlihat

seperti memakai celana longgar/baggy)

f. wajah seperti orang tua

g. cengeng dan rewel

h. sering disertai penyakit infeksi (kronis berulang, diare)

2. Kwashiorkor

Kata “kwashiorkor” berasal dari bahasa Ghana yang berarti penyakit yang

terjadi ketika bayi berikutnya lahir. Kwashiorkor pertama kali dikenal di Afrika

Barat pada tahun 1930-an di antara anak-anak yang disapih (penghentian

pemberian ASI) dan pada mulanya dianggap sebagai keadaan defisiensi air susu.

Kemudian, para pakar mengemukakan bahwa kwashiorkor merupakan keadaan

defisiensi protein dari makanan, akan tetapi bukti yang ada menunjukkan bahwa

hipotesis ini masih kurang kuat. Sejumlah data yang terbaru menunjukkan bahwa

kwashiorkor dapat terjadi karena kehilangan antioksidan yang menyertai

defisiensi energi dari makanan. The Wellcome Trust Working Patty pada tahun

(53)

Universitas Sumatera Utara kriteria berat badan menurut usia yang berada di bawah 80% dari standar

internasional. Adapun tanda-tanda klinis yang ditimbulkan adalah:

a. edema seluruh tubuh, terutama pada kedua punggung kaki

b. wajah membulat dan sembab

c.

Gambar

Gambar 2.1 Jendela dialog awal instalasi R dalam sistem operasi Windows
Gambar 2.2 Icon R pada desktop
Gambar 2.4 Tampilan dari Load Package-spdep package
Gambar 2.5 Tampilan dari R-Console untuk spdep package
+7

Referensi

Dokumen terkait

mengatasi masalah heterogentitas spasial tersebut. GWR merupakan bagian dari analisis spasial yang bersifat lokal dengan pembobotan berdasarkan posisi atau jarak dari

Diharapkan untuk peneliti selanjutnya bisa melakukan perbandingan dengan metode analisis lain sehingga dapat digali lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

Berdasarkan hasil pengujian tanah di laboratorium dan analisis pemodelan dengan program Plaxis 2D untuk mengetahui pengaruh fluktuasi muka air waduk terhadap kestabilan

Unit analisis yang digunakan adalah komunikasi personal berupa persepsi dan motivasi, dinamika kelompok berupa peranan, kekompakan dan kepemimpinan dalam program

Analisis hasil pemodelan nilai tanah model ARB dan JST dilakukan dengan cara membandingkan akurasi model ARB dan JST terpilih, pengaruh variabel bebas terhadap

Hasil analisis tulangan pelat beton untuk tipe I dengan ly/lx=1, program ETABS masih dapat dipakai karena hasilnya cukup konservatif dibansing SAFE namun tidak

Namun dalam analisis data diskrit dengan menggunakan model regresi Poisson terkadang terjadi pelanggaran asumsi tersebut, dimana nilai variansinya lebih besar dari nilai rata-rata yang

KESIMPULAN Berdasarkan penelitian analisis sebaran kasus tuberkulosis TB paru BTA+ di Kota Medan tahun 2017 dapat simpulkan terdapat 5 wilayah dengan kasus TB paru BTA+ tinggi berada