• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PADA PT. X D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PADA PT. X D"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PADA PT. X DALAM

MEMINIMALISASI PAJAK SESUAI PERATURAN PERPAJAKAN

Laili Zulfa

[email protected] Dini Widyawati

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

ABSTRACT

Basically, tax is an important source of revenue to finance government spending, both for routine expenditures and development expenditures. As for corporate, tax is an expense that will reduce the company’s net profit, so that the management through tax planning schemes. This study aims to identify and learn the implementation of tax planning at PT. X. this study used descriptive qualitative approach and case study metod. The object of this study is the corporate income tax of PT. X with the income statement as a basis for a fiscal correction then resulting in fiscal financial statement and taxable income that will be used for tax planning. The next step is to compare earnings (profit) before tax planning and earnings (profit) after tax planning. The resulting showed that before application of tax planning, tax payable is Rp132.851.711 while after tax planning, tax payable of Rp126.321.378 for the year of 2011. Through good and proper planning, PT. X can optimize their tax to be paid so that it can used to pay for other expenses.

Keywords: tax planning, fiscal correction, PPh Pasal 21 allowance (gross up), depreciation of fix assets

ABSTRAK

Pada dasarnya pajak merupakan sumber penerimaan penting yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara, baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan. Sebaliknya bagi perusahaan pajak merupakan beban yang akan mengurangi laba bersih perusahaan. Agar beban tersebut dapat ditekan seminimal mungkin maka perlu adanya penerapan manajemen pajak yang efektif melalui perencanaan pajak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari penerapan perencanaan pajak penghasilan badan pada PT. X. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode studi kasus. Gambaran dari obyek penelitian adalah pajak penghasilan badan yang dikenakan terhadap perusahaan PT. X dengan menggunakan laporan laba rugi perusahaan yang digunakan untuk melakukan koreksi fiskal, sehingga akan menghasilkan laporan keuangan fiskal dan laba fiskal yang akan digunakan untuk menyusun perencanaan pajak dan akan dibandingkan laba sebelum perencanaan dan laba setelah perencanaan pajak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diterapkan perencanaan pajak, pajak yang harus dibayar adalah Rp 132.851.711 sedangkan setelah perencanaan, pajak yang harus dibayar adalah Rp 126.321.378 pada tahun 2011. Dengan dilakukannya perencanaan pajak yang baik dan tepat maka PT. X dapat mengoptimalkan pajak yang harus dibayar sehingga dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran yang lainnya.

Kata kunci: perencanaan pajak, koreksi fiskal, PPh Pasal 21 (gross up), penyusutan asset tetap

PENDAHULUAN

(2)

perundang-undangan perpajakan. Dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan kepentingan antara wajib pajak dengan pemerintah. Wajib pajak berusaha untuk membayar pajak sekecil mungkin karena dengan membayar pajak berarti mengurangi kemampuan ekonomis wajib pajak. Di lain pihak, pemerintah memerlukan dana untuk membiayai penyelenggaran pemerintah yang sebagian besar berasal dari penerimaan pajak.

Perbedaan kepentingan ini menyebabkan wajib pajak cenderung mengurangi jumlah pembayaran, baik secara legal maupun illegal. Self assessment system yang memberikan peluang wajib pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang sehingga wajib pajak dapat mewujudkan keuntungan dalam usahanya namun tidak terlepas dari kewajiban membayar pajak. Dalam mewujudkan keuntungan tersebut, perlu adanya upaya mengelola kewajiban perpajakan agar beban pajak dapat ditekan.

Walaupun pajak berpengaruh terhadap seluruh kehidupan usaha dan keputusan bisnis, tidak berarti bahwa pajak tersebut tidak dapat diminimalkan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan memahami secara benar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan segala perkembangannya.

Upaya untuk mengelola kewajiban perpajakan tersebut dapat dilakukan secara legal melalui perencanaan pajak (Tax Planning). Perencanaan pajak merupakan langkah awal dalam manajemen pajak yakni dengan melakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang dilakukan untuk meminimumkan kewajiban pajak tetapi masih berada dalam ketentuan dan perundang-undangan perpajakan.

Bagi perusahaan, pajak penghasilan (PPh) yang dikenakan terhadap penghasilan yang diterima atau diperoleh dapat dianggap sebagai beban perusahaan dalam menjalankan usahanya. Agar beban tersebut dapat ditekan seminimal mungkin, maka perlu adanya penerapan manajemen pajak yang efektif melalui perencanaan pajak.

Dari penjelasan tersebut, sehingga penulis tertarik untuk meneliti bagaimana penerapan perencanaan pajak dalam meminimalisasi beban pajak pada PT. X ? Hal inilah yang menjadi latar belakang masalah dalam penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui penerapan perencanaan pajak yang dilakukan oleh PT. X sesuai dengan peraturan perpajakan.

TINJAUAN TEORETIS Pajak

Dalam pelaksanaan UU No.6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 9 Tahun 1994, dan UU No. 16 Tahun 2000 disadari masih terdapat hal-hal yang belum tertampung sehingga menuntut perlunya penyempurnaan sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dan kebijaksanaan pemerintah. Penyempurnaan peraturan perundang-undangan perpajakan tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan tersebut terakhir diatur dalam UU No. 28 Tahun 2007.

Berdasarkan Undang-undang nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara perpajakan, menjelaskan bahwa maksud dari pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung

(3)
(4)

1. Menurut Golongannya

Pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib pajak dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain.

b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga.

2. Menurut Sifatnya

Pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang pengenaannya memerhatikan keadaan pribadi wajib pajak atau pengenaan pajak yang memerhatikan keadaan subjeknya.

b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang pengenaannya memerhatikan objeknya baik berupa benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak tanpa memerhatikan keadaan pribadi Subjek Pajak (Wajib Pajak) maupun tempat tinggal.

3. Menurut Pemungutnya

Pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pajak Negara (Pajak Pusat), yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya.

b. Pajak Daerah

Pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan membiayai pengeluaran daerah. Pajak daerah dibedakan menjadi 2, yaitu:

a) Pajak Propinsi

Contoh : Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan

Bermotor.

b) Pajak Kabupaten / Kota

Contoh : Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak hiburan.

Tarif Pajak

Tarif pajak merupakan prosentase tertentu yang digunakan untuk menghitung besarnya Pajak penghasilan. Tarif Pajak Penghasilan yang berlaku di Indonesia dikelompokan menjadi dua, yaitu tarif umum sesuai Pasal 17 UU No. 7 Tahun 1983 (sebagaimana telah diubah beberapa kali dan yang terakhir adalah dalam UU no. 36 Tahun 2008) dan tarif lainnya.

Sistem penerapan tarif Pajak Penghasilan dibagi menjadi dua, yaitu Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dan Wajib Pajak dalam negeri Badan dan Bentuk Usaha Tetap.

1. Tarif PPh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut :

Tabel 1

Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai Dengan Rp. 50.000.000 5%

Diatas Rp. 50.000.000 s / d Rp. 250.000.000 15%

Diatas Rp. 250.000.000 s / d Rp. 500.000.000 25%

Diatas Rp. 500.000.000 30%

(5)

2. Tarif PPh untuk Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap adalah 28% (dua puluh delapan persen). Tarif tersebut menjadi 25% (dua puluh lima persen) mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010.

3. Tarif PPh untuk penghasilan berupa deviden yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final.

Pajak Penghasilan

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak (Waluyo, 2008:89). Dengan kata lain pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau perseorangan dan badan secara subjektif sesuai dengan kemampuan masing-masing wajib pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun pajak.

1. Subjek Pajak Penghasilan

Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan No.36 Tahun 2008 yang menjadi subjek pajak adalah :

a. Orang pribadi

b. Warisan yang belum belum terbagi satu kesatuan menggantikan yang berhak c. Badan

d. Bentuk usaha tetap (BUT) 2. Objek Pajak Penghasilan

Yang menjadi objek pajak penghasilan yaitu, setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat di pakai untuk dikonsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk :

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasayang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam undang-undang PPh.

b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.

c. Laba usaha.

d. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.

g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.

h. Royalti.

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala contoh leasing.

k. Keuntungan karena pembebasan utang kecuali yang diatur pada PP 130 Tahun 2000 (atas keuntungan karena pembebasan utang debitur kecil termasuk Kukesra, KUT, KPRSS, KUK dan kredit kecil dan hanya dapat dinikmati satu kali dalam satu tahun pajak sampai dengan jumlah Rp 350 Juta).

l. Keuntungan karena selisih kurs dengan mata uang asing.

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.

(6)

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.

p. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

3. Penghasilan yang Dikecualikan sebagai Objek Pajak Yang dikecualikan dari objek pajak adalah :

a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah

b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan.

c. Warisan.

d. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan.

e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dariWajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan WajibPajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus.

f. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa.

g. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia.

h. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.

i. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun.

j. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.

k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia.

l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

(7)

pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

4. Biaya yang Boleh Dikurangkan dari Penghasilan Bruto

Biaya-biaya yang boleh dikurangkan dalam rangka mengitung Penghasilan Kena Pajak, terdiri atas:

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan.

b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun

c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.

d. Kerugian karena penjualan atau penagihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

e. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia. g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.

h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih

5. Biaya yang Tidak Boleh Dikurangkan dari Penghasilan Bruto

Biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak adalah:

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha dan koperasi.

b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota.

c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya diterapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna,

dan asuransi bea siswa yang dibayar oleh Wajib Pajak Orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.

(8)

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.

g. Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak Orang pribadi pemeluk agama islam dan/atau Wajib Pajak Badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama islam kepada badan amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.

h. Pajak penghasilan (PPh).

i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya.

j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan firma atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham.

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, kenaikan, serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.

l. Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi.

6. Biaya yang Boleh Dikurangkan Sebesar 50%

Biaya-biaya yang boleh dikurangkan sebesar 50% (lima puluh persen) dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak adalah :

a. Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya.

b. Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya.

c. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan sedan atau sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya.

d. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan sedan atau sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya.

Manajemen Pajak

Upaya untuk melakukan penghematan pajak secara legal dapat dilakukan melalui manajemen pajak. Sophar (dalam Suandy, 2009:9)

menyatakan

manajemen pajak adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan. Tujuan manajemen pajak terbagi dua, antara lain: 1) menerapkan peraturan perpajakan

secara benar, 2) usaha efisien untuk mencapai laba dan likuiditas yang seharusnya.

Untuk mencapai tujuan manajemen pajak ada dua hal yang perlu dikuasai dan dilaksanakan, yaitu :

1. Memahami ketentuan peraturan perpajakan.

Dengan mempelajari peraturan perpajakan, dapat diketahui peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menghemat beban pajak.

(9)

Pembukuan merupakan sarana yang sangat penting dalam penyajian informasi keuangan perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan dan menjadi dasar dalam menghitung besarnya jumlah pajak. Dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, ditetapkan bahwa WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan WP Badan di Indonesia wajib melakukan pembukuan.

Perencanaan Pajak

Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam menajemen pajak. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak.

Zain (2008:67) menyatakan perencanaan pajak merupakan tindakan struktural yang terkait dengan kondisi konsekuensi potensi pajaknya, yang tekanannya kepada pengadilan setiap transaksi yang ada konsekuensi pajaknya, tujuannya adalah bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefisienkan jumlah pajaknya yang akan di transfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut penghindaran pajak (tax avoidance) yang merupakan perbuatan legal yang masih dalam ruang lingkup peraturan perundang-undangan pajak dan bukan penyelundupan pajak (tax evasion) yang merupakan tindakan illegal yang melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan.

Perencanaan pajak merupakan bagian dari manajemen memiliki beberapa manfaat yang berguna bagi perusahaan yang melaksanakan kegiatan usaha dalam mencapai laba maksimum. Ada 4 hal yang penting diambil sebagai keuntungan dalam perencanaan pajak yaitu :

a. Penghematan kas keluar, pajak dianggap sebagai unsur biaya yang dapat diefisienkan.

b. Mengatur aliran kas, karena dengan perencanaan pajak yang dikelola secara tepat perusahaan dapat menyusun anggaran kas lebih akurat mengestimasi kebutuhan kas terhadap pajak.

c. Menentukan waktu pembayaran, sehingga tidak terlalu awal atau terlambat yang mengakibatkan dikenakannya denda atau sanksi.

d. Membuat data-data terbaru untuk mengaupdate peraturan perpajakan.

Strategi Perencanaan Pajak

Strategi mengefisiensikan beban pajak yang dilakukan oleh perusahaan haruslah bersifat legal, supaya tidak dapat menghindari sanksi-sanksi pajak dikemudian hari. Secara umum penghematan pajak menganut prinsip the least and latest, yaitu membayar dalam jumlah seminimal mungkin dan pada waktu terakhir yang masih diizinkan oleh undang-undang dan peraturan perpajakan (Suandy, 2009:12).

Strategi yang dapat digunakan untuk mengefisienkan beban pajak adalah sebagai berikut :

a. Pemilihan alternatif dasar pembukuan, basis kas atau basis akrual.

b. Pengelolaan transaksi yang berkaitan dengan pemberian kesejahteraan kepada karyawan.

c. Pemilihan metode penilaian persediaan.

d. Pendanaan aset tetap dengan sewa guna usaha dengan hak opsi

(10)

Penerapan Perencanaan Pajak

Apabila dalam tahap perencanaan pajak sudah diketahui faktor-faktor yang akan dimanfaatkan untuk melakukan penghematan pajak, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikannya baik secara formal maupun material. Agar perencanaan pajak dapat berhasil sesuai yang diharapkan, maka langkah-langkah yang dilakukan antara lain : 1. Menganalisis informasi yang ada

2. Membuat suatu model atau lebih rencana kemungkinan besarnya pajak 3. Mengevaluasi pelaksanaan rencana pajak.

4. Mencari kelemahan dan kemudian memperbaiki kembali rencana pajak 5. Memutakhirkan rencana pajak.

Rekonsiliasi Laporan Keuangan Akuntansi dengan Laporan Keuangan Fiskal

Laporan keuangan komersial adalah laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang meliputi laporan laba rugi, perubahan ekuitas, neraca, dan laporan arus kas. Sedangkan laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun sesuai dengan peraturan perpajakan dan digunakan untuk keperluan perhitungan pajak. Undang-undang pajak tidak mengatur secara khusus bentuk dari laporan keuangan, hanya memberikan pembatasan untuk hal-hal tertentu, baik dalam pengakuan penghasilan maupun biaya.

Adanya perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya antara komersial dan fiskal menimbulkan perbedaan dalam menghitung besarnya PKP. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan kepentingan antara komersial yang mendasarkan laba, sedangkan dari segi fiskal mendasarkan penerimaan negara. Dalam penyusunan laporan keuangan fiskal, Wajib Pajak harus mengacu pada peraturan perpajakan, Sehingga laporan keuangan komersial harus disesuaikan atau dibuat koreksi fiskal terlebih dahulu sebelum menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak.

Gambar 1

Rekonsiliasi Laporan Keuangan Komersil dengan Laporan Keuangan Fiskal

Dalam mempertimbangkan tentang materi penyusunan perencanaan pajak harus mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan koreksi fiskal. Pada dasarnya koreksi fiskal terjadi karena adanya penyesuaian terhadap Laporan Keuangan Nasional, penyesuaian tersebut didasarkan pada peraturan perpajakan sehingga dapat menghasilkan Laporan Keuangan Fiskal.

Dalam hubungan ini koreksi fiskal dapat digolongkan dalam dua jenis perbedaan

antara lain : 1) Perbedaan Waktu (

timming difference

) adalah perbedaan yang bersifat

sementara yang disebabkan karena adanya perbedaan waktu pengakuan

penghasilan dan biaya antara peraturan perpajakan dengan SAK, 2) Perbedaan

Tetap adalah perbedaan yang disebabkan karena transaksi-transaksi pendapatan

dan biaya diakui menurut komersial dan tidak diakui menurut fiskal.

Pemberlakuan terhadap kedua perbedaan tersebut yang juga disebut koreksi fiskal akan mempengaruhi secara langsung terhadap Penghasilan Kena Pajak (PKP), dalam hal ini koreksi fiskal dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :

Laporan Keuangan Fiskal Koreksi Fiskal

Laporan Keuangan

(11)

a. Koreksi Fiskal Positif

Koreksi fiskal positif terjadinya perubahan penambahan terhadap pendapatan atau biaya yang terdapat dalam laporan keuangan komersil yang disusun untuk kepentingan laporan keuangan fiskal.

b. Koreksi Fiskal Negatif

Koreksi fiskal negatif ialah terjadinya perubahan pengurangan terhadap pendapatan atau biaya yang terdapat dalam laporan keuangan komersilyang disusun untuk kepentingan laporan keuangan fiskal.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian dan Gambaran Obyek Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dan metode studi kasus. Penelitian deskriptif merupakan penelitian terhadap masalah –masalah berupa fakta –fakta saat ini dari suatu populasi. Sedangkan pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang tidak memasukkan angka-angka ke dalam rumus statistik tetapi dengan cara membaca tabel atau angka – angka yang tersedia dalam laporan keuangan kemudian membuat uraian atau analisanya. Metode studi kasus yang digunakan dalam penelitian pada PT. X bertujuan untuk membandingkan antara teori dengan praktek atau kasus yang ada di lapangan mengenai bagaimana penerapan perencanaan pajak yang bertujuan untuk meminimalkan beban pajak.

Gambaran dari obyek penelitian ini adalah pajak penghasilan badan yang dikenakan terhadap perusahaan PT. X dengan menggunakan laporan laba rugi perusahaan.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari informan dan dapat diperoleh dari kalimat tertulis atau lisan, perilaku, fenomena, peristiwa, pengetahuan atau obyek studi. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa Laporan keuangan yang akan digunakan untuk membandingkan laba sebelum dan setelah perencanaan pajak.

Untuk memperoleh data yang akurat dan relevan, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan mencatat atau mempelajari dokumen-dokumen dari perusahaan yang dapat berupa arsip, catatan-catatan, brosur atau keterangan lainnya yang dapat disusun menjadi suatu data.

2. Wawancara, yaitu teknik pengambilan data dengan cara melakukan tanya jawab dengan pejabat perusahaan yang berwenang dan melalui observasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan perpajakan perusahaan, struktur organisasi, visi-misi perusahaan, dan perhitungan laba rugi yang dibutuhkan dalam penyusunan penelitian ini.

Satuan Kajian

Instrumen penelitian tidak bersifat eksternal atau obyektif akan tetapi internal dan subyektif, yaitu tanpa menggunakan tes, angket, atau eksperimen sehingga dengan sendirinya tidak berdasarkan definisi variabel.

(12)

1. Pendapatan didefinisikan sebagai aliran masuk sumber-sumber atau kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban dari suatu entitas (atau kombinasi dari keduanya) dari penyerahan barang, jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi berkelanjutan atau usaha pokok dari entitas terkait.

2. Beban (expense) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal

3. Laba Kena Pajak atau laba untuk tujuan pajak adalah istilah akuntansi pajak yang digunakan untuk menunjukkan jumlah yang menjadi dasar perhitungan hutang pajak penghasilan perusahaan.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Analisis Deskriptif, yaitu dengan menganalisis dan mengolah data-data laporan keuangan dan menjelaskan bagaimana cara menerapkan perencanaan pajak dalam upaya meminimalkan jumlah Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan.

2. Analisis Komparatif, dengan membandingkan hasil dari laporan keuangan yang telah disusun oleh perusahaan undang-undang no. 36 tahun 2008.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Laporan Keuangan Komersial PT. X

PT. X menyusun laporan keuangan komersial setiap akhir periode yaitu 31 Desember. Laporan keuangan komersial tersebut berisikan tentang kondisi keuangan PT. X yang akan nampak pada tabel 2.

Tabel 2

Laporan Laba Rugi Komersil dan Fiskal PT. X 2011

Keterangan Komersial

Jumlah HPP 8.413.071.451 8.413.071.451

Laba (Rugi) Kotor 1.684.266.549 1.684.266.549

Beban Operasional

(13)

Beban Adm & umum

Jumlah BAU 798.208.792 779.399.767

(14)

Lain-Pada Tabel 2 merupakan laporan laba rugi komersial PT. X untuk tahun 2011. Pendapatan PT. X berasal dari penjualan bahan jadi dan pendapatan lain-lain yang pembayarannya secara tunai dan secara kredit. Pihak manajemen PT. X mengklasifikasikan beban usaha menjadi 2 (dua) yaitu beban operasional dan beban administrasi dan umum.

Beban operasional PT. X merupakan beban yang berhubungan dengan beban angkutan penjualan yang meliputi beban bongkar muat dan pengiriman. Sedangkan beban Administrasi dan umum merupakan beban yang berhubungan dengan beban pegawai, beban perjalanan dinas, beban gedung dan bangunan, beban komunikasi, beban kantor, beban kendaraan umum, beban asuransi, beban konsultan dan keahlian pihak ke III dan beban penyusutan.

Beban bongkar muat merupakan upah yang diberikan kepada tukang yang memberikan jasa bongkar muat barang sebelum dilakukannya pengiriman. Beban pengiriman merupakan beban ongkos kendaran, uang makan sopir serta tambahan bahan bakar selama perjalanan pengiriman barang ke customer. Beban entertainmen dan relasi dikeluarkan untuk menunjang pemberian kesejahteran kepada karyawan dan customer PT. X.

Beban komisi dikeluarkan untuk potongan pembelian (discount) kepada customer PT. X yang memenuhi syarat tertentu. Beban perjalanan dinas merupakan beban yang dikeluarkan untuk perjalanan dinas karyawan termasuk uang makan, beban BBM, parkir, tol, dan beban lain yang muncul saat perjalanan dinasnya. Beban pemeliharaan gedung merupakan beban yang dikeluarkan untuk pemeliharaan atau perbaikan bangunan meliputi pengecatan, penggantian lampu, perbaikan instalasi listrik, pembelian material untuk perbaikan dan beban lainnya.

Beban komunikasi adalah beban yang dikeluarkan untuk pembayaran telepon, beban benda pos, iuran bulanan internet, voucher hp dan biaya lainnya yang sejenis. Beban keperluan kantor yang meliputi beban alat tulis kantor yang merupakan beban yang dikeluarkan untuk pembelian barang keperluan kantor.

Beban air dan listrik merupakan beban yang dikeluarkan untuk pembayaran rekening listrik dan rekening air setiap bulan dan kegiatan lain yang sejenis. Beban pemeliharaan inventaris merupakan beban yang dikeluarkan untuk pemeliharaan semua inventaris kantor berupa meja, kursi, lemari, komputer, dan inventaris kantor lainya termasuk pembelian spare part untuk perbaikan inventaris tersebut

Biaya pemeliharaan kendaraan berupa beban yang dikeluarkan untuk pemeliharaan atau perbaikan kendaraan perusahaan meliputi pembelian spare part untuk perbaikan, pengecekan accu, tune up dan beban sejenis lainnya. Beban asuransi merupakan seluruh dana yang dikeluarkan untuk pembayaran asuransi kebakaran dan kendaraan setiap tahunnya.

Beban konsultan dan keahlian pihak ke III digunakan untuk pembayaran penyusunan laporan pajak dan penyusunan laporan keuangan. Beban penyusutan aset tetap pada PT. X menggunakan metode garis lurus (straight line method), metode yang sesuai dan diperbolehkan dalam perpajakan.

Pendapatan lain-lain adalah pendapatan sehubungan dengan pihak-pihak atas penempatan dana perusahaan meliputi pendapatan jasa giro, penjualan barang bekas dan pendapatan yang sejenis. Beban lain merupakan beban perusahaan yang belum termasuk ke dalam akun beban yang telah ada.

(15)

Laba Komersial Koreksi Fiskal

- Beda Tetap

- Beda Waktu

Jumlah Koreksi Fiskal Penghasilan Kena Pajak PPh Terutang

25%xRp556.807.209 Jumlah PPh yang terutang Kredit Pajak:

PPh 25

Jumlah Kredit Pajak

PPh Kurang Bayar

Rp 22.517.725 Rp (2.152.500) 5

5 0)

Rp 536.441.984

Rp 20.365.225 Rp 556.807.209

Rp 139.201.802 Rp 139.201.802

Rp 6.350.091 Rp 6.350.091

Rp 132.851.711

Gambar 2

Perhitungan PPh Terutang PT. X Sebelum Perencanaan Pajak

Analisis atas Koreksi Fiskal

Untuk dapat mengetahui besarnya pajak yang terutang maka perusahaan harus melakukan koreksi fiskal terhadap laba rugi komersial. Besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar perusahaan dapat diketahui setelah dilakukan koreksi fiskal terhadap laporan keuangan komersial perusahaan. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal dibagi menjadi dua, yaitu perbedaan tetap dan perbedaan waktu.

Langkah awal yang dilakukan yaitu perusahaan harus melakukan analisis terhadap setiap akun pada laporan tersebut atas dasar ketentuan Undang-undang perpajakan No. 36 Tahun 2008. Pada tabel 3, dapat dilihat koreksi fiskal pada laporan laba rugi komersial PT. X yang belum menerapkan perencanaan pajak secara maksimal. Berikut akan dijelaskan akun-akun yang ada didalam laporan laba rugi fiskal beserta penjelasan koreksi fiskalnya. 1. Penjualan PT. X tahun 2011 yaitu sebesar Rp. 10.097.338.000 (tabel 3) yang diperoleh

diakui dengan metode akrual basis yang sesuai dengan ketentuan pajak sehingga tidak perlu dilakukan koreksi fiskal.

2. Beban angkutan penjualan meliputi beban bongkar muat dan pengiriman. Beban ini untuk keperluan mengemasi atau memuat barang hingga pelaksanaan pengirimannya sampai dilokasi customer. Beban sejumlah Rp 200.335.500,- ini tidak perlu dikoreksi fiskal karena menurut ketentuan dapat dikurangkan dengan penghasilan bruto karena beban berhubungan langsung dengan usaha untuk mendapatkan, menagih, memelihara penghasilan (3M).

3. Beban entertainmen dan relasi sejumlah Rp 6.099.300 harus dikoreksi fiskal sebesar Rp 575.000,-. Beban tersebut menurut Undang-undang Pajak Nomor 9 ayat 1 tidak dapat dijadikan sebagai pengurang bruto, rincian beban yang dikoreksi antara lain:

a. Pemberian sumbangan pernikahan sebesar Rp 500.000,- b. Pembelian tiket undangan funbike sebesar Rp 75.000,-

4. Beban komisi sebesar Rp 102.351.000,- merupakan potongan pembelian yang diberikan kepada customer yang memenuhi syarat tertentu. Beban ini tidak perlu dikoreksi fiskal karena beban ini berhubungan langsung dengan usaha untuk mendapatkan, menagih, memelihara penghailan (3M).

(16)

6. Beban Gajisebesar harus dikoreksi fiskal sebesar Rp 20.961.565,- yang digunakan untuk menanggung PPh Pasal 21 karyawan karena tidak diperbolehkan menjadi pengurang penghasilan menurut ketentuan perpajakan. Untuk THR, Insentive dan Bonus termasuk kriteria tunjangan yang diberikan kepada karyawan dalam bentuk tunai dan tidak perlu dikoreksi fiskal karena dapat dibebankan sebagai biaya bagi perusahaan dan menjadi pendapatan yang masuk dalam unsur gaji bagi karyawan.

7. Beban perjalanan dinas merupakan beban yang dikeluarkan untuk perjalanan dinas karyawan termasuk uang makan, beban BBM, parkir, tol, dan beban lain yang muncul saat perjalanan dinasnya sejumlah Rp 16.825.500,- tidak dilakukan koreksi fiskal karena telah didukung bukti yang ada dan memiliki hubungan dengan 3M penghasilan perusahaan.

8. Beban pemeliharaan gedung sejumlah Rp 1.318.880,- tidak dikoreksi fiskal karena beban tersebut berhubungan langsung untuk operasional perusahaan dan tidak melampaui batas kewajaran.

9. Beban IPEDA, IREDA, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) sebesar Rp 3.948.167,- diperbolehkan menjadi pengurang penghasilan menurut ketentuan perpajakan, namun untuk pajak penghasilan tidak dapat dibebankan.

10. Beban telekomunikasi sejumlah Rp 12.296.765,- tidak mengalami koreksi fiskal karena telah didukung bukti yang ada dan memiliki hubungan dengan 3M penghasilan perusahaan.

11. Beban pos dan materai dapat dijadikan beban pengurang penghasilan bruto karena menurut ketentuan perpajakan mempunyai hubungan secara langsung dengan kegiatan 3M penghasilan yang merupakan objek pajak.

12. Beban listrik dan air tidak dikoreksi fiskal, karena beban ini sangat penting untuk operasional perusahaan.

13. Beban barang cetakan merupakan beban yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan seperti buku kwitansi, surat jalan dan sebagainya yang diperlukan perusahaan sehingga tidak perlu dikoreksi fiskal.

14. Beban kebutuhan fotocopy tidak dikoreksi fiskal, beban ini sangat diperlukan untuk operasional perusahaan.

15. Beban alat tulis kantor merupakan pengeluaran untuk pembelian keperluan kantor PT. X yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan meliputi bollpoint, pensil, map serta biaya sejenisnya. Seluruh biaya ini dapat dibiayakan sesuai dengan ketentuan pajak pasal 6 ayat (1) huruf a.

16. Beban inventaris kecil tidak dikoreksi fiskal karena beban ini sangat dibutuhkan untukoperasional perusahaan.

17. Beban pemeliharaan inventaris sejumlah Rp 1.077.400,- tidak dikoreksi fiskal karena beban tersebut berhubungan langsung untuk operasional perusahaan dan tidak melampaui batas kewajaran.

18. Beban kebutuhan rumah tangga yaitu berupa kopi, teh, gula, tisu kamar mandi sejumlah Rp 3.321.270 (tidak dikoreksi).

19. Beban perijinan yaitu ijin memasang neon box (papan nama perusahaan) sejumlah Rp1.850.000 (tidak dikoreksi)

(17)

21. Beban konsultan dan keahlian sejumlah Rp 22.800.000,- boleh menjadi pengurang penghasilan seluruhnya karena digunakan untuk kepentingan perusahaan dalam usaha untuk mendapatkan, menagih, memelihara penghasilan (3M).

22. Beban penyusutan aset tetap PT. X harus dikoreksi fiskal karena terdapat beban penyusutan kendaraan yang tidak sesuai dengan pasal 11 UU Nomor 36 Tahun 2008 yang mengatur masa manfaat harta berwujud dan tarif penyusutan, baik menurut metode garis lurus maupun saldo menurun.

PT. X membeli kendaraan Isuzu New Panther Pickup pada tahun 2007 dengan nilai perolehan Rp 102.540.000 dan sepeda motor Honda Supra X pada tahun 2008 dengan nilai perolehan Rp 17.220.000,-. PT. X mengakui kedua kendaraan tersebut termasuk kelompok II dengan masa manfaat 8 tahun, tetapi sesuai dengan pasal 11 UU nomer 36 Tahun 2008 bahwa kendaraan bermotor roda 2 termasuk kelompok 1 bukan bangunan. Sehingga beban penyusutan kendaraan sejumlah Rp 14.970.000,- perlu dikoreksi fiskal sebesar Rp 2.152.500,- (Rp 17.122.500 – Rp 14.970.000).

23. Beban administrasi dan bunga bank merupakan beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sesuai dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008pasal 6 (1). 24. Beban asuransi sejumlah Rp 9.055.084,- dapat menjadi pengurang penghasilan bruto

tanpa harus dikoreksi.

25. Beban sumbangan sejumlah Rp 999.200,- harus dikoreksi fiskal karena beban yang dikeluarkan tersebut menurut ketentuan Undang-Undang Pajak No. 9 ayat 1 tidak dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto.

Strategi Perencanaan Pajak

Dalam menghitung pajak penghasilan (PPh terutang) menggunakan tarif pengenaan pajak yang diatur dalam Undang-undang No. 36 Tahun 2008, besarnya pajak penghasilan merupakan gabungan dari penghasilan kena pajak dan tarif kena pajak. Tarif PPh merupakan tarif yang tidak dapat diganti jumlahnya karena tarifnya sudah ditetapkan oleh pemerintah sedangkan penghasilan kena pajak dapat dipengaruhi jumlahnya tergantung dari kebijakan perusahaan dalam menentukan besarnya penghasilan kena pajak. Dengan demikian tindakan perencanan pajak yang harus dilakukan PT. X adalah dengan meminimalkan Penghasilan Kena Pajak. Jika Penghasilan Kena Pajak kecil maka pajak yang terutang juga kecil begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan dari hasil koreksi pada tabel 2 diketahui bahwa PT. X belum melakukan perencanaan pajak dengan maksimal sehingga besarnya pajak yang terutang cukup material walaupun PT. X telah mengambil beberapa kebijakan yang tepat dalam menjalankan usahanya. Strategi yang dapat membantu untuk mengurangi pajak PT. X akan nampak pada tabel 3.

Tabel 3

Laporan Laba Rugi Komersil dan Fiskal Setelah Perencanaan Pajak

(18)

Jumlah HPP 8.413.071.451 8.413.071.451

Laba (Rugi) Kotor 1.684.266.549 1.684.266.549

Beban Operasional

Jumlah B.Operasional 308.471.550 308.471.550

Beban Administrasi dan

Jumlah B.Adm&Umum 802.369.398 804.521.898

Pendapatan (Beban) Lain-lain Pendapatan Jasa Giro Penjualan Barang Bekas Penjualan lain-lain Beban lain-lain:

Beban Adm dan Bunga Bank Beban Sumbangan

(19)

Pada Tabel 3 merupakan laporan laba rugi PT. X setelah perencanaan pajak untuk tahun 2011. Berikut ini adalah penjelasan mengenai strategi yang dapat dilakukan oleh PT. X

1. Pemilihan Alternatif Dasar Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan

Dasar pembukuan PT. X selama ini menggunakan metode accrual basis dalam penyusunan keuangan komersial maupun fiskal dimana pendapatan dan biaya dicatat dan dilaporkan pada saat timbul transaksi atau pengalihan hak dan kewajiban, meskipun uang belum diterima atau dibayar. Dalam pembukuan fiskal mengakui adanya dua metode yaitu accrual basis dan modified cash basis, perbedaan dari dua metode tersebut terletak pada pencatatannya. Modified cash basis adalah metode pengakuan biaya-biaya dan pendapatan pada saat terjadi pembayaran sedangkan

accrual basis pada saat terjadi transaksi. PT. X telah tepat dalam menentukan penggunaan metode pembukuan accrual basis sehingga biaya tersebut sudah dapat dikurangkan dari penghasilan bruto meskipun pembayaran belum dilakukan, dengan begitu pajak yang terutang akan menjadi kecil.

2. Pemilihan Metode Penyusutan Aset Tetap

Metode penyusutan yang diperbolehkan oleh pajak adalah metode penyusutan saldo menurun (double declining) dan garis lurus (straight line). Metode garis lurus akan menghasilkan beban penyusutan yang selalu sama setiap tahun sedangkan metode saldo menurun akan menghasilkan beban penyusutan yang lebih besar pada awal tahun perolehan aset dan akan menurun pada tahun-tahun berikutnya pada akhir umur ekonomis aset akan menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama. Berdasarkan data pada tabel 2 dan tabel 3, PT. X menggunakan metode garis lurus untuk penyusutan aset tetap dan diketahui bahwa pada tahun 2011 biaya penyusutan aset tetap dengan menggunakan garis lurus sejumlah Rp 112.225.769,- . Setelah dilakukan koreksi fiskal biaya penyusutan menjadi Rp 114.378.269,-. Perbedaan pengakuan biaya sebesar Rp 2.152.500,- dapat memberikan peluang untuk mengoptimalkan biaya penyusutan asset tetap yang membantu agar laba kena pajak menjadi lebih kecil. Laba Kena Pajak kecil maka pajak yang terutang juga kecil begitu pula sebaliknya.

3. Pengoptimalan Pengeluaran Perusahaan Agar Dapat Diakui Sebagai Pengurang PKP Salah satu bentuk pengoptimalan beban perusahaan yaitu meminimalkan pengeluaran yang tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan, mengupayakan seluruh beban yang dikeluarkan didukung oleh bukti-bukti karena kedua hal tersebut menimbulkan koreksi fiskal, danmencegah beban yang hanya diperbolehkan 50% yang diakui. Dari laporan keuangan PT. X, perusahaan masih dapat menerapkan perencanaan pajak untuk meminimalkan pembayaran pajak, dengan cara:

a. Beban entertainmen dan relasi mengalami koreksi fiskal karena penggunaan beban tersebut menurut Undang-undang Pajak Nomor 9 ayat 1 tidak dapat dijadikan sebagai pengurang bruto. Berikut langkah yang dapat diambil dalam perencanaan pajak, yaitu:

a) Atas pemberian sumbangan pernikahan sebesar Rp 500.000,- merupakan beban yang tidak dapat dikurangkan dari pendapatan bruto. Salah satu cara dengan memantau pengeluaran perusahaan oleh manajemen perusahaan tidak terjadi, karena pengeluaran yang tidak berhubungan dengan kegiatan 3M perusahaan, secara pajak tidak dapat ditoleransi sehingga harus dikoreksi.

(20)

b. Beban lain-lain terdapat beban sumbangan sejumlah Rp 999.200,- yang diberikan kepada yayasan yatim piatu, beban ini harus dikoreksi fiskal karena beban yang dikeluarkan tersebut menurut ketentuan Undang-Undang Pajak No. 9 ayat 1 tidak dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto. Agar dapat dibiayakan pihak manajemen perusahaan hendaknya mengalokasikan ke badan yayasan amil zakat yang telah disahkan oleh pemerintah.

4. Memberikan tunjangan PPh 21 dengan menggunakan metode Gross Up

Setiap karyawan yang penghasilannya melebihi PTKP memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Kewajiban ini berasal dari seluruh penghasilan yang diterima dari pemberi kerja PT. X antara lain gaji pokok, THR dan seluruh tunjangan dimana jumlah penghasilan tersebut harus dikurangi dengan biaya jabatan dan PTKP. Hasil dari pengurangan tersebut akan menghasilkan PKP yang akan menjadi dasar perhitungan PPh 21 menggunakan tariff pasal 17 ayat 1 (a) Undang-undang No. 36 Tahun 2008. Mengenai PPh 21 ini, perusahaan memiliki alternatif kebijakan, antara lain:

a. PPh ditanggung karyawan dalam artian pajak dipotong langsung dari penghasilan karyawan .

b. PPh ditanggung perusahaan dimana perusahaan akan membayar sepenuhnya pajak yang terutang karyawan tanpa memotong dari penghasilan karyawan, dan pajak yang ditanggung tidak dapat menjadi pengurang penghasilan bruto perusahaan.

c. Tunjangan yang diberikan berupa tunjangan PPh Pasal 21. Tunjangn PPh tersebut merupakan unsur penambah penghasilan karyawan sehingga jumlah tunjangan PPh Pasal 21 sama besarnya dengan PPh Pasal yang terutang. Metode ini dinamakan Gross Up.

Metode yang dipakai oleh PT. X adalah poin kedua dimana PT. X menanggung pajakyang terutang oleh karyawan. Langkah tersebut dapat merugikan perusahaan karena menurut pajak, biaya tersebut tidak boleh dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto. Perencanaan pajak yang sangat membantu adalah dengan menggunakan metode Gross Up, dimana perusahaan memberikan tunjangan PPh Pasal 21 yang besarnya sama dengan PPh Pasal yang terutang. Perbandingan dan perhitungan sebelum dan sesudah menggunakan metode Gross Up dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.

(21)

Tabel 4

Perbandingan PPh Terutang Sebelum dan Setelah Perencanaan Pajak

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan data yang telah diolah, diteliti, dan hasil analisa serta pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan pajak PT. X antara lain: 1) Membuktikan bahwa Tax Planning adalah salah satu cara efektif untuk meminimalisasi beban pajak, 2) Setelah diterapkannya perencanaan pajak, laba rugi fiskal menjadi lebih kecil sehingga laba kena pajak juga kecil. Laba kena pajak menjadi dasar dalam menghitung besarnya pajak terutang. Sebelum diterapkan perencanaan pajak, pajak yang harus dibayar adalah Rp 132.851.711 sedangkan setelah perencanaan, pajak yang harus dibayar adalah Rp 126.321.378 pada tahun 2011, 3) Laporan Laba Rugi yang disusun PT. X pada Tahun 2011 telah sesuai dengan SAK yang telah menghasilkan laba komersial sebesar Rp 536.441.984,-. Laporan Laba Rugi PT. X terdapat koreksi fiskal positif yang mengakibatkan laba fiskal menjadi lebih besar daripada laba komersial yaitu Rp 556.807.209, 4) PT. X menanggung pajak PPh Pasal 21 yang terutang oleh karyawan, sehingga PPh Pasal 21 tersebut tidak dapat dibebankan menjadi pengurang penghasilan bruto, 5) PT. X mengakui beban yang tidak berhubungan dengan mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dan mengakui beban yang tidak terdapat bukti sehingga harus dikoreksi, 6) PT. X menggunakan metode garis lurus dalam penyusutan aktiva tetap.

Saran

Timbulnya permasalahan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas dapat diketahui bahwa PT. X belum memahami secara dalam mengenai peraturan perundang-undangan perpajakan sehingga belum dapat menerapkan perencanaan pajak atau dengan kata lain belum memanfaatkan peluang pengurang penghasilan kena pajak yang diperbolehkan oleh undang-undang.

Berikut ini adalah bebarapa saran yang dapat diberikan untuk perusahaan antara lain: 1) Memberikan fasilitas kepada karyawan yang berhubungan dengan perpajakan berupa pelatihan atau training untuk memberikan pemahaman dan informasi akan pajak yang diterapkan sehingga dapat memberikan strategi perencanaan perpajakan untuk membantu

Sebelum Perencanaan Pajak Setelah Perencanaan Pajak

Laba Komersial Rp 536.441.984 Koreksi Fiskal

25% x Rp 556.807.209 Rp 139.201.802

Jumlah PPh

Laba Komersial Rp 532.838.378 Koreksi Fiskal

25% x Rp 530.685.878 Rp 132.671.469

(22)

perusahaan dalam mencapai visi perusahaan, 2) Beban sumbangan pernikahan dan beban yang tidak termasuk dalam pengurang penghasilan didalam beban entertainment dan relasi hendaknya tidak dibebankan karena tidak berhubungan dengan mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan sehingga harus dikoreksi, 3) Beban sumbangan yang diberikan kepada yayasan yatim piatu tidak dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto. Perencanaan pajak yang dapat dilakukan adalah dengan mengalokasikan ke badan yayasan amil zakat yang telah disahkan oleh pemerintah, 4)Memberikan Tunjangan PPh Pasal 21 kepada karyawan, sehingga dapat dibebankan menjadi pengurang penghasilan bruto.

DAFTAR PUSTAKA

Resmi, S. 2009. Perpajakan: Teori dan Kasus. Salemba Empat. Jakarta Suandy, E. 2009. Perencanaan Pajak. Edisi Empat. Salemba Empat. Jakarta

Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

_______ Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

________ Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Waluyo. 2006. Perpajakan Indonesia: Pembahasan Sesuai dengan Ketentuan Perundang-undangan Perpajakan dan Aturan Pelaksanaan Perpajakan Terbaru. Salemba Empat. Jakarta. ______. 2008. Perpajakan Indonesia. Edisi Delapan. Salemba Empat. Jakarta.

Gambar

Tabel 1 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
Gambar 1 Rekonsiliasi Laporan Keuangan Komersil dengan Laporan Keuangan Fiskal
Tabel 2 Laporan Laba Rugi Komersil dan Fiskal PT. X 2011
Gambar 2 Perhitungan PPh Terutang PT. X Sebelum Perencanaan Pajak
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengamati gambar yang disajikan melalui grup WhatsApp/Telegram/Zoom/Google Meet , siswa dapat menentukan perilaku yang menunjukkan kewajiban di rumah terkait

selanjutnya disingkat LSPOP adalah Lampiran surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan data subjek dan objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

Kemudian uji-t (parsial) digunakan untuk menguji keberartian koefisien regresi secara individu terhadap variabel terikat. a) Pelayanan mempunyai pengaruh terhadap

Dengan hasil penelitian menunjukan (1) Secara simultan, Motivasi, Jenjang Karir, serta Disiplin Kerja berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan, (2) Motivasi memiliki pengaruh

Dutch Lady Milk Industries Berhad merupakan anak syarikat atau subsidiari asing bagi syarikat atau subsidiari asing bagi. Royal Friesland Foods yang terletak di Malaysia beralamat di

Untuk menganalisis soal-soal Ulangan Kenaikan Kelas matematika kelas VII MTs ditinjau dari aspek kognitif, jenis kesalahan distraktor dan keberfungsian distraktor yang terdapat

Secara resmi pada tahun 1996 CU Cinta Kasih menerima anggota secara nasional yang berarti bahwa CU Cinta Kasih menerima siapa saja yang ingin menjadi anggotanya tanpa membedakan

Usia sekolah, dpt melakukan ketrampilan, membaca dan aritmatik, diarahkan pada kemampuan aktivitas sosial. Usia dewasa, melakukan ketrampilan sosial dan