PEMBUATAN BRIKET ARANG
Oleh : Adi Setiadi S.HutKebutuhan bahan bakar semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Penggunaan bahan bakar gas dan minyak tidak sepenuhnya bisa dilakukan oleh sebagian masyarakat karena terbatasnya kemampuan ekonomi, kelangkaan bahan bakar dan kesulitan menghilangkan kebiasaan penggunaan bahan bakar dari bahan bakar sebelumnya ke bahan bakar gas.
Arang merupakan bahan bakar tertua yang telah digunakan oleh manusia. Ketika manusia pertama kali mengenal api bersamaan dengan itu pulalah arang mulai dikenal. Perkembangan selanjutnya arang diproses menjadi beriket arang dan menjadi alternatif pengganti bahan bakar minyak dan gas. Teknologi pembuatan briket arang sangat sederhana. Pada dasarnya briket arang adalah arang yang telah diubah bentuk, ukuran, dan kerapatannya menjadi produk yang lebih
Berbagai jenis bahan yang berkayu bisa digunakan sebagai bahan baku briket arang seperti sekam padi, serbuk gergajian, limbah tempurung kelapa, sabetan kayu, daun dan ranting pohon, ampas tebu dan lain-lain. Bahan baku yang digunakan sebaiknya dikelompokan menurut jenis dan bentuknya sehingga memudahkan dalam proses pembuatan arang. Selain itu sebaiknya bahan berada dalam kondisi kering dan siap bakar sehingga tidak mengeluarkan asap yang terlalu banyak dan mempersingkat waktu pengarangan.
b. Pengarangan
Proses pengarangan dilakukan dengan melakukan pembakaran langsung terhadap bahan baku sampai menjadi arang tanpa kontak langsung dengan udara. Alat yang biasa digunakan untuk membuat arang adalah kiln. Kiln dapat dibuat dari drum yang dibuka bagian atasnya dan diberikan penutup, dapat pula dibuat berbentuk cerobong seperti pembuatan arang sekam (Gambar 2) atau pengarangan tradisional (Gambar 3).
a. Kiln terbuat dari drum minyak tanah.
b. Kiln yang biasa digunakan untuk pembuatan arang sekam
Gambar 2 Kiln pembakar bahan baku briket arang. 30 cm
30 cm
90 cm
Bambu/ paralon
Bahan baku
Gambar 3 Sistem pengarangan tradisional (ditimbun di dalam tanah)
Gambar 4 Contoh pembakaran degan menggunakan drum dengan lubang sirkulasi udara berada di bawah drum.
c. Penggilingan dan Penyaringan
Penggilingan diperlukan untuk menghancurkan bahan–bahan berukuran besar seperti batang, ranting, tempurung kelapa sedangkan untuk serbuk kayu tidak perlu dilakukan penggilingan. Penggilingan bisa dilakukan dengan ditumbuk dengan tangan atau menggunakan mesin penggilingan. Setelah itu dilakukan penyaringan yang berfungsi untuk menyeragamkan bentuk bahan. Permukaan yang seragam akan memudahkan arang untuk merekat menjadi padatan beriket.
Gambar 6. Arang utuh (a) yang diubah menjadi serbuk arang (b).
d. Pencampuran dengan bahan perekat
tapioka dengan air sebesar 1 : 12 atau 1 : 10. Persentase arang dengan perekat berbeda antara satu bahan dengan bahan yang lainnya tergantung dari jenis dan ukuran bahan baku.
e. Pengempaan
Pengempaan dilakukan untuk membantu proses perekatan dan pemadatan arang Ukuran bahan yang kurang seragam akan menyebabkan proses perekatan kurang sempurna. Keteguhan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kerapatan briket arang yang dihasilkan. Pengempaan bisa dilakukan baik mulai dengan menggunakan alat sederhana seperti alat pencetak dari paralon/bambu sampai kepada alat kempa dengan sistem hidrolik.
Gambar 7 Briket arang yang telah dicetak.
f. Pengeringan