STUDI KONSUMSI PANGAN, AKTIVITAS FISIK, DAN
STATUS GIZI PUNK JALANAN DI BOGOR
BRYAN DWITANTIKA
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Konsumsi Pangan, Aktivitas Fisik dan Status Gizi PUNK Jalanan di Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, April 2015
ABSTRAK
BRYAN DWITANTIKA. Studi Konsumsi Pangan, Aktifitas Fisik dan Status Gizi PUNK Jalanan di Bogor. Dibimbing oleh DADANG SUKANDAR dan TIURMA SINAGA.
Penelitian bertujuan untuk menganalisis konsumsi pangan, aktifitas fisik dan status gizi PUNK jalanan di Bogor. Penelitian menggunakan desain cross sectional study, melibatkan PUNK jalanan sebanyak 18 orang. Sebagian besar 78% PUNK jalanan adalah laki-laki. Sebanyak 50% PUNK jalanan berusia 20-25 tahun. Tingkat pendidikan PUNK jalanan yang paling tinggi yaitu tamat SMP (44%). Sebesar 56% PUNK jalanan memiliki pendapatan yang cukup. Sebanyak 61% pengetahuan gizi PUNK jalanan tergolong sedang. Jenis pekerjaan PUNK jalanan adalah mengamen. Tingkat aktifitas fisik (PAL) PUNK jalanan tergolong ringan. Sebagian besar (61%) status gizi PUNK jalanan termasuk dalam kategori normal. Tingkat kecukupan energi dan tingkat kecukupan protein tergolong defisit berat. Tingkat kecukupan lemak tergolong lebih. Tingkat kecukupan karbohidrat tergolong normal.
Kata kunci: aktivitas fisik, konsumsi pangan, punk jalanan, status gizi
ABSTRACT
BRYAN DWITANTIKA. Studi of Food Consumption, Physical Activity and Nutritional Status of Street PUNK in Bogor. Supervised by DADANG SUKANDAR and TIURMA SINAGA.
The study aimed to analyze food consumption, physical activity and nutritional status of street punk in Bogor. This study used a cross-sectional study design, involved 18 people street PUNK. Most of 78% of the street punk dominated by men. As many as 50% of street PUNK aged between 20-25 years. The education level of street PUNK is junior high school (44%). Some of (56%) have incomes is moderate. Most of (61%) the nutritional knowledge of street PUNK is moderate. The type of street PUNK work is singer street. The categories of physical activity (PAL) street punk was low. Most of (61%) the nutritional status of the street PUNK (61%) is in the normal category. The adequacy of energy and protein sufficiency level of classified as severe deficit. The adequacy of fat is high. The adequacy of carbohidrat is normal.
STUDI
KONSUMSI PANGAN, AKTIFITAS FISIK DAN
STATUS GIZI PUNK JALANAN DI BOGOR
BRYAN DWITANTIKA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat -Nya penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Penulisan
skripsi yang berjudul “Studi Konsumsi Pangan, Aktifitas Fisik dan Status Gizi PUNK jalanan Di Bogor” dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Program Studi Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan bekerja sama dalam menyusun skripsi ini, diantaranya:
1. Prof. Dr. Ir Dadang Sukandar, M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi 2. Dr. Tiurma Sinaga, MFSA selaku dosen pembimbing skripsi dan
pembimbing akademik
3. Prof. Dr. Ali Khomsan, M.S selaku dosen penguji skripsi
4. Dr. Rimbawan selaku Dosen pengajar dan ketua Derpartemen Gizi Masyarakat
5. Keluarga tercinta; Umar Mansyur (Papa), Dwi Hartini (Mama), Fajar Raditya, Rizky Septiani Putri dan Sapto Nugroho atas do’a, dukungan, nasehat dan semangat yang telah diberikan selama ini.
6. Teman-teman Gizi Masyarakat angkatan 48 dan Alih Jenis Gizi Masyarakat angkatan 6
7. Sahabat seperjuangan yang selalu memberikan semangat; Nadia Kholila, Annisa putri Gazali, Nanda Hardian, Bayu Samudra, Rahdian Padma Kusuma dan Hendri Pansito Panjaitan serta teman seperjuangan dalam penelitian ini; Citra Rizta Ferni, terima kasih atas do’a dan dukungannya selama ini.
8. Staf pengajar dan TU serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu kelancaran penyelesaian penyusunan skripsi ini.
9. Seluruh PUNK jalanan di Bogor yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat bagi semua.
Bogor, April 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN x
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan 2
Manfaat 3
KERANGKA PEMIKIRAN 3
METODE 5
Desain, Tempat dan Waktu 5
Jumlah dan Teknik Penarikan Sampel 5
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 5
Pengolahan dan Analisis Data 6
Definisi Operasional 10
HASIL DAN PEMBAHASAN 11
Karakteristik dan Kondisi Sosial Ekonomi PUNK Jalanan di Bogor 11
Karakteristik Orangtua PUNK Jalanan 22
Pengetahuan Gizi PUNK Jalanan 24
Aktivitas Fisik PUNK Jalanan 25
Status Gizi PUNK Jalanan 26
Konsumsi Pangan 26
Tingkat Kecukupan Energi 28
Tingkat Kecukupan Protein 29
Tingkat Kecukupan Lemak 30
Tingkat Kecukupan Karbohidrat 31
Frekuensi Konsumsi Pangan 32
SIMPULAN DAN SARAN 38
Simpulan 38
DAFTAR PUSTAKA 39
LAMPIRAN 42
DAFTAR TABEL
1 Jenis dan cara pengumpulan data 6
2 Jenis variabel, kategori, skala data dan sumber pengolahan data penelitian 7 3 Physical Activity Ratio (PAR) berbagai aktivitas fisik 10 4 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan menjadi PUNK 11 5 Sebaran PUNK jalanan menurut pengetahuan sejarah PUNK 12 6 Sebaran PUNK jalanan tentang jawaban sampai kapan menjadi PUNK 13 7 Sebaran PUNK jalanan menurut keahlian yang dimiliki 13 8 Sebaran PUNK jalanan menurut pekerjaan yang diinginkan 14 9 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan berpakaian PUNK 14
10 Sebaran PUNK jalanan menurut jenis kelamin 15
11 Statistik PUNK jalanan menurut usia 16
12 Sebaran PUNK jalanan menurut tingkat pendidikan terakhir 16 13 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan tidak melanjutkan 17 14 Sebaran PUNK jalanan menurut harapan terhadap pendidikan 17 15 Sebaran PUNK jalanan menurut persepsi terhadap pendidikan 18 16 Sebaran PUNK jalanan menurut status rumah yang ditempati 19 17 Statistik PUNK jalanan menurut pendapatan (Rp/bulan) 19 18 Statistik pengeluaran keuangan PUNK jalanan (Rp/hari) 20 19 Sebaran PUNK jalanan menurut jumlah anggota rumah tangga 20 20 Statistik pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga PUNK jalanan 21 21 Sebaran usia, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan orangtua PUNK 23 22 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan pengetahuan gizi 24 23 Sebaran PUNK jalanan menurut Aktifitas fisik 25 24 Sebaran PUNK jalanan menurut kategori status gizi 26 25 Statistik angka kecukupan, konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi 27 26 Statistik PUNK jalanan menurut frekuensi konsumsi serealia dan umbi
(kali/bulan) 33
27 Statistik PUNK jalanan menurut frekuensi konsumsi protein hewani
(kali/bulan) 34
28 Statistik PUNK jalanan menurut frekuensi konsumsi kacang-kacangan
(kali/bulan) 34
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pemikiran studi konsumsi pangan, aktifitas fisik dan status gizi
PUNK jalanan di Bogor. 4
2 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan energi 29 3 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan protein 30 4 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan lemak 31 5 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan karbohidrat 32
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu aset organisasi yang menjadi tulang punggung suatu organisasi dalam menjalankan aktivitasnya dan sangat berpengaruh terhadap kinerja dan kemajuan organisasi. Organisasi perlu terus mencari informasi yang dapat mencakup seluruh kebutuhan masyarakat. Sumber daya manusia yang berkualitas, pintar, cerdas dan produktif merupakan salah satu faktor penunjang dalam keberhasilan suatu bangsa (Marimin et al 2006). Anak-anak khususnya para remaja merupakan salah satu penerus bangsa yang akan membangun keberhasilan suatu bangsa dan mengatasi permasalahan yang terdapat di Indonesia. Salah satu pemasalahan yang terdapat di Indonesia adalah krisis ekonomi.
Krisis ekonomi yang semakin panjang di Indonesia akan berdampak pada penurunan kesejahteraan terhadap masyarakatnya. Semenjak krisis ekonomi yang melanda Indonesia, jumlah anak jalanan di kota besar terus meningkat dari tahun ke tahun (Moeliono 2001). Berdasarkan data tahun 2006 dari Departemen Sosial Republik Indonesia, jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 144 889 orang. Menurut survei yang dilakukan oleh Departemen Sosial pada tahun 2003, terdapat 15 028 anak jalanan di Jawa Barat (Sudaryat 2004 dalam Patriasih 2010). PUNK jalanan merupakan salah satu bagian dari anak jalanan.
PUNK jalanan adalah seseorang atau suatu kelompok dengan berpenampilan layaknya PUNK yang menghabiskan waktu untuk bekerja dijalanan sebagai pengamen. PUNK (Public United Nothing Kingdom) merupakan sebuah gaya hidup yang mengusung identitas kebebasan. PUNK awal mula terbentuk di London Inggris. Gerakan anak muda yang diawali dari kelas-kelas pekerja ini mengalami masalah ekonomi keuangan dengan tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. PUNK dalam mengenakan pakaiannya menghasilkan gaya, busana cenderung berlebih-lebihan (Atang et al 2008 dalam Pramdani 2012). Jumlah populasi PUNK jalanan di Bogor belum dapat ditetapkan. Hal ini diduga sulitnya pendataan dikarenakan mereka selalu berpindah tempat mengamen. Salah satu cara PUNK jalanan untuk mengatasi permasalahan ekonomi dalam keluarganya adalah sebagai pengamen jalanan.
Bekerja merupakan salah satu aktivitas fisik yang mereka lakukan. Menurut Astrand & Rodahl dalam Sukur (2004), aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan tubuh akibat aktivitas otot-otot yang mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik terdiri dari aktivitas selama bekerja, istirahat dan waktu senggang. Banyaknya variasi antar individu tergantung pada gaya hidup perorangan dan faktor lingkungan. Aktivitas fisik seseorang mempengaruhi konsumsi pangan.
waktu tertentu. Konsumsi pangan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam status gizi.
Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan untuk digunakan berbagai fungsi biologis (Briawan & Madanijah 2008). Menurut Aritonang & Priharsiwi (2006), status gizi merupakan cerminan kuantitas dan kualitas pasokan zat gizi makanan yang dikonsumsi dari kemampuan tubuh untuk memanfaatkannya secara optimal.
PUNK jalanan merupakan salah satu kategori yang membutuhkan asupan gizi yang cukup serta kesehatan yang baik untuk mendukung pertumbuhannya. Jika asupan gizi tidak terpenuhi akan berakibat pada permasalahan gizi. Adanya permasalahan gizi akan berdampak pada status gizi PUNK jalanan tersebut.
Keberadaan PUNK jalanan meresahkan masyarakat dikarenakan ketika mengamen terkadang terdapat pemaksaan untuk memberikan uang dan penampilan yang tidak sewajarnya membuat masyarakat takut. Kondisi kehidupan PUNK jalanan sangat memprihatinkan dan tidak terdapatnya perhatian khusus dari Pemerintah. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk menganalisis studi konsumsi makanan, aktifitas fisik dan status gizi pada PUNK jalanan di Bogor.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam studi konsumsi pangan, aktifitas fisik dan status gizi PUNK jalanan di Bogor sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik dan kondisi sosial ekonomi PUNK jalanan dan anggota keluarga PUNK jalanan?
2. Bagaimana pengetahuan gizi PUNK jalanan? 3. Bagaimana aktivitas fisik PUNK jalanan? 4. Bagaimana status gizi PUNK jalanan?
5. Bagaimana konsumsi pangan PUNK jalanan?
Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis studi konsumsi pangan, aktifitas fisik dan status gizi PUNK jalanan di Bogor.
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah
1. Menganalisis karakteristik dan kondisi sosial ekonomi PUNK jalanan serta orangtuanya.
2. Mengidentifikasi pengetahuan gizi PUNK jalanan 3. Menganalisis aktifitas fisik PUNK jalanan
4. Menganalisis status gizi PUNK jalanan
Manfaat
Hasil penelitian “Studi Konsumsi Pangan, Aktivitas Fisik dan Status Gizi PUNK jalanan di Bogor” diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah maupun lembaga sosial di Bogor sebagai upaya mengatasi permasalahan khususnya dalam sosial, dan gizi PUNK jalanan. Selain itu penelitian ini berguna untuk menginformasikan kepada mayarakat bahwa PUNK jalanan juga merupakan generasi penerus bangsa yang patut untuk diperhatikan.
KERANGKA PEMIKIRAN
PUNK jalanan merupakan bagian dari anak jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bekerja atau berkeliaran di sekitar jalan-jalan atau tempat umum. Salah satu faktor PUNK jalanan turun kejalan untuk bekerja adalah kondisi sosial ekonomi seperti tingkat pendapatan yang rendah dalam keluarga mereka, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. PUNK jalanan mempunyai ciri khas dalam berpakaian yaitu berpenampilan compang-camping, urak-urakan, berdandan tidak sewajarnya memakai berbagai atribut PUNK seperti kalung, rantai besar, gelang, rambut di cat, memakai sepatu boots, tindikan, sabuk dan memiliki tato ditubuhnya.
PUNK jalanan lebih banyak menggunakan waktunya dijalanan untuk mencari uang. Aktivitas fisik yang mereka lakukan yaitu bekerja dijalan salah satunya adalah mengamen. Kegiatan ini merupakan hal penting yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Pengetahuan gizi yang ditanamkan sejak dini bagi anak-anak sangatlah penting. Selain pendapatan, pengetahuan gizi juga berguna dalam pemilihan konsumsi pangan seseorang. Tingkat pendapatan dan pengetahuan gizi dapat mempengaruhi tingkat konsumsi pangan PUNK jalanan, baik kualitas maupun kuantitas yang akan mempengaruhi status gizi mereka.
Konsumsi pangan merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam memenuhi kebutuhan hidup. Konsumsi pangan PUNK jalanan cenderung tidak teratur dan tidak memikirkan kebutuhan gizi, akan tetapi mereka cenderung lebih memikirkan kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi. Pendapatan yang diperoleh anak jalan menentukan kualitas, jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi. Tingkat konsumsi pangan pada PUNK jalanan mempengaruhi status gizi. Konsumsi pangan individu yang tercukupi dari energi dan zat gizi lainnya akan menghasilkan status gizi yang baik dan akan terhindar dari masalah kekurangan gizi. Individu akan menghasilkan status gizi kurang, jika tidak tercukupi semua kebutuhan energi dan zat gizinya.
Gambar 1 Kerangka pemikiran studi konsumsi pangan, aktifitas fisik dan status gizi PUNK jalanan di Bogor.
Keterangan :
= hubungan yang diteliti = hubungan yang tidak diteliti = variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti Karakteristik dan sosial ekonomi
PUNK jalanan Usia
Jenis Kelamin Pendidikan Pendapatan Pengeluaran
Alasan menjadi PUNK jalanan Sejarah PUNK
Sampai kapan menjadi PUNK jalanan
Keahlian yang dimiliki
Alasan berpakaian PUNK jalanan
Karakteristik Keluarga Umur
Pendapatan Pendidikan Pekerjaan
Aktivitas Fisik
Konsumsi Pangan
Status Gizi Pengetahuan Gizi
METODE
Desain, Tempat dan Waktu
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini menunjukan segi karakteristik dan sosial ekonomi, konsumsi pangan, aktivitas fisik dan status gizi PUNK jalanan. Lokasi penelitian dilakukan di kawasan kota Bogor (di sekitaran Tugu Kujang). Pemilihan lokasi tersebut didasarkan bahwa terdapat banyak PUNK jalanan di sekitar kawasan Bogor. Penelitian ini dilakukan pada Oktober 2014.
Jumlah dan Teknik Penarikan Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah PUNK jalanan yang melakukan aktivitas di jalanan dengan berpenampilan layaknya seperti PUNK. Kriteria sampel yaitu 1) PUNK jalanan dengan berpenampilan layaknya anak PUNK, 2) laki-laki dan perempuan, 3) melakukan aktivitas di jalan minimal 4 jam dalam sehari, 4) melakukan aktivitas dijalan dengan memperoleh pendapatan dengan dijalan seperti mengamen, 5) Bersedia menjadi sampel. Pengambilan data orangtua ditanyakan langsung kepada PUNK jalanan.
Badan pusat statistik dan Pemerintah Bogor belum mempunyai data tentang PUNK jalanan, namun demikian berdasarkan pengamatan diperkirakan jumlah PUNK jalanan di Bogor kurang lebih 50 orang. PUNK jalanan biasanya beroperasi di daerah Tugu Kujang, stasiun Bogor dan Dramaga. PUNK jalanan bekerja (mengamen) dijalanan secara menyebar (tidak hanya bertempat di satu tempat). Pengambilan PUNK jalanan sulit, dikarenakan PUNK jalanan sulit diajak bekerja sama, sulit dicari karena populasinya menyebar, menakutkan dan memiliki keterbatasan waktu, sehingga dalam penelitian ini tidak dilakukan perhitungan PUNK jalanan. Oleh karena itu PUNK jalanan yang berhasil diperoleh sebanyak 18 orang.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan yaitu data primer, yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Data karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan gizi, konsumsi pangan dan aktivitas fisik diperoleh melalui wawancara. Data jenis dan jumlah konsumsi pangan diperoleh menggunakan metode food recall 1x 24 jam dan FFQ (Food Frequency Questionnaire) semi kuantitatif.
Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data
No Variabel Data Cara Pengumpulan Data
1. Karakteristik sosial ekonomi PUNK
2. Karakteristik orang tua PUNK jalanan - Contoh sumber zat gizi - Fungsi Zat Gizi
- Jenis dan jumlah bahan pangan badan dan pengukuran tinggi badan.
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan program Microsoft Excel meliputi karakteristik sosial ekonomi PUNK jalanan dan keluarga, pengetahuan gizi, aktivitas gizi, status gizi PUNK jalanan dan konsumsi pangan. Bahan pangan yang dikonsumsi PUNK jalanan dikelompokkan menjadi tujuh kelompok bahan pangan yang terdiri dari 1) serealia, umbi dan hasil olahannya, 2) daging, telur, ikan dan hasil olahannya, 3) kacang-kacangan dan hasil olahannya, 4) sayuran, 5) buah-buahan, 6) jajanan dan 7) pangan lain-lain. Jenis variabel, kategori, skala data dan sumber pengolahan data penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Jenis variabel, kategori dan sumber pengolahan data penelitian
No Varibel Kategori Acuan
5. Tamat Perguruan Tinggi /Sederajat
Depkes 2010 4. Sangat tinggi:>4 000 000
BPS 2000 4. Sangat tinggi: >4 000 000
Tabel 2 Jenis variabel, kategori dan sumber pengolahan data penelitian (lanjutan)
1. Defisit tingkat berat (<70% AKG) 2 Defisit tingkat sedang (70-79%
AKG)
3 Defisit tingkat ringan (80-89% AKG) 4 Normal (90-119% AKG)
5 Kelebihan(≥120 AKG).
Depkes 2003
11. Tingkat
kecukupan lemak
1.Kurang (<20% konsumsi energi) 2.Cukup (20-30% konsumsi energi) 3. Lebih (>30% konsumsi energi).
Kemenkes 2014 12. Tingkat
kecukupan karbohidrat
1. Defisit (<40% konsumsi energi) 2. Normal (40-60% konsumsi energi) 3. Lebih (>60% konsumsi energi)
Kemenkes
Pengetahuan gizi diukur dengan pertanyaan sebanyak 20 pertanyaan terkait pangan dan zat gizi. Penilaian pengetahuan gizi dilakukan dengan memberi skor apabila PUNK jalanan menjawab benar diberi skor 1, jawaban salah diberi skor 0, sehingga total skor minimum 0 dan maksimum 20. Data konsumsi pangan yang dikumpulkan dikonversikan ke dalam bentuk energi, protein, lemak dan karbohidrat menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM 2004). Komposisi bahan makanan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
Kgij = Kandungan zat gizi-i dalam bahan makanan-j Bj = Berat makanan-j yang dikonsumsi (g)
Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan-j BDDj = Bagian bahan makanan-j yang dapat dimakan
AKG (Angka Kecukupan Gizi) PUNK jalanan diperoleh dengan menggunakan AKG 2013 (Kemenkes 2014).
Kgij = {(Bj/100) x Gij x (BDDj/100)}
Keterangan :
AKGI = Angka kecukupan zat gizi anak jalanan yang dicari Ba = Berat badan aktual sehat (kg)
Bs = Berat badan patokan
AKG = Angka kecukupan energi atau protein yang dianjurkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG 2004)
TKG (Tingkat kecukupan gizi) PUNK jalanan yang dicari adalah tingkat kecukupan energi, protein, lemak dan karbohidrat. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diperoleh dengan cara membandingkan jumlah konsumsi zat gizi tersebut dengan kecukupannya. Berikut rumus kecukupan zat gizi yang digunakan :
Keterangan :
TKG = Tingkat kecukupan zat gizi K = Konsumsi zat gizi (recall)
Pengukuran status gizi PUNK jalanan dilakukan dengan metode antropometri. Usia > 18 tahun untuk mengukur status gizi menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh) (Gibson 2005), dengan rumus sebagai berikut:
Pengukuran aktivitas fisik dilakukan terhadap jenis aktivitas yang dilakukan dan lama waktu melakukan aktivitas fisik dalam sehari. Menurut FAO (2001), bahwa aktivitas fisik adalah variabel utama setelah angka metabolisme basal dalam penghitungan pengeluaran energi. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAR (Physical Activity Ratio) merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal/kap/hari) per kilogram berat badan dalam 24 jam. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
PAL = PAR x alokasi waktu tiap aktivitas 24 jam
Keterangan :
PAL = Physical Activity Level (tingkat aktivitas fisik)
PAR = Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu)
TKG = (K/AKE) x 100%
Tabel 3 Physical Activity Ratio (PAR) berbagai aktivitas fisik
Aktivitas Physical Activity
Ratio/satuan waktu
Tidur(Siang Dan Malam) 1
Tidur-Tiduran, Duduk Diam, Membaca 1.2
Duduk Sambil Menonton TV 1.72
Mandi Dan Berpakaian 2.3
Berdiri Diam, Beribadah, Menunggu (Berdiri), Berhias 1.5
Berkendaraan Di Mobil/Bus/Angkutan 1.3
Makan Minum 1.6
Jalan Santai 2.5
Berbelanja (Membawa Beban) 5
Mengendarai Kendaraan 2.4
Menjaga Anak 2.5
Melakukan Perkerjaan RT 2.75
Setrika Pakaian ( Duduk) 1.7
Kegiatan Berkebun 2.7
Office Worker (Duduk didepanmeja, Menulis, mengetik) 1.3
Office Worker (Berjalan, Membawa Arsip) 1.6
Olahraga (Badminton) 4.85
Olahraga (Jogging, Lari Jarak Jauh) 6.5
Olahraga (Bersepeda) 3.6
Olahraga (Aerobic, Berenang, Sepak Bola, dll) 7.5
Kegiatan Dilakukan Dengan Duduk 1.5
Kegiatan Ringan 1.4
Sumber: FAO/WHO/UNU. Human Energy Requirements. WHO Technical Report Series, no. 724. Geneva: World Helath Organization; 2001.3
Definisi Operasional
Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh yang mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas yang dilakukan oleh PUNK jalanan meliputi frekuensi, lama dan jenis aktivitas secara terus–menerus. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner, meliputi jenis dan lama kegiatan sekarang selama 24 jam dikategorikan menjadi ringan, sedang dan berat.
Antropometri adalah data yang meliputi berat badan, tinggi badan dan umur yang digunakan untuk menghitung status gizi dikategorikan menjadi, underweight, normal, overweight dan obesitas.
Karakteristik keluarga adalah kondisi keluarga PUNK jalanan yang meliputi umur orang tua, pendidikan orang tua dan pendapatan keluarga diambil dengan mewawancarai PUNK jalanan.
Konsumsi pangan adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh PUNK jalanan, dikategorikan menjadi defisit tingkat berat, sedang, ringan, normal dan kelebihan.
Pengetahuan Gizi adalah pengetahuan PUNK jalanan mengenai sumber zat gizi, contoh sumber zat gizi, fungsi Zat Gizi, dampak kekurangan zat gizi, peran makanan untuk tubuh dan bahan tambahan pangan. Pengetahuan PUNK jalanan diukur dengan kuisioner berupa pertanyaan-pertanyaan tersebut dan hasilnya dikategorikan menjadi rendah, cukup dan tinggi.
PUNK adalah seseorang atau suatu kelompok yang berpakaian atau berpenampilan compang-camping, urak-urakan, berdandan tidak sewajarnya memakai berbagai atribut seperti kalung, rantai besar, gelang, rambut di cat, gembok, peniti, sepatu both, tindikan dan sabuk. PUNK jalanan seseorang PUNK yang hidup atau bekerja di jalanan dengan menghabiskan waktunya lebih dari 4 jam untuk bekerja dijalanan seperti mengamen.
Sosial ekonomi adalah kondisi sosial meliputi pendidikan dan kondisi ekonomi meliputi pendapatan PUNK jalanan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik dan Kondisi Sosial Ekonomi PUNK Jalanan di Bogor
PUNK jalanan merupakan bagian dari anak jalanan, hanya saja yang membedakan PUNK jalanan dengan anak jalanan pada umumnya adalah dari segi penampilannya. PUNK jalanan berpakaian urak-urakan, berdandan tidak sewajarnya (memakai berbagai atribut PUNK) seperti kalung, rantai, rambut di cat, sepatu boots, tindikan, sabuk dan terdapat tattoo di anggota tubuhnya. Mereka turun ke jalanan untuk mengais rezeki dengan cara mengamen. Banyak alasan mengapa mereka menjadi PUNK jalanan. Sebaran PUNK jalanan menurut alasan menjadi PUNK jalanan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan menjadi PUNK
No Alasan Ya Tidak
n % n %
1 Menjadi diri sendiri 10 56 8 44
2 Mencari kebutuhan sendiri 3 17 15 83
3 Mencari pengalaman 1 6 17 94
4 Mengubah pendapatan ekonomi 2 11 16 89
5 Menyukai musik 1 6 17 94
6 Permasalahan keluarga 1 6 17 94
dikarenakan ingin menjadi diri sendiri. PUNK jalanan menyatakan bahwa hidupnya tidak ingin diatur-atur oleh siapapun, mereka ingin hidup sesuai dengan keinginannya sendiri. Oleh sebab itu PUNK jalanan memilih menjadi PUNK.
Sebanyak 11% PUNK jalanan yang menyatakan bahwa mereka menjadi PUNK jalanan karena faktor ekonomi. PUNK jalanan menyatakan bahwa ia berada dalam keluarga dengan perekonomian yang lemah oleh karena itu PUNK jalanan tidak ingin membebani orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebanyak 6% PUNK jalanan menyatakan bahwa dirinya menjadi PUNK jalanan dikarenakan permasalahan keluarga, menyukai musik-musik beraliran PUNK dan mencari pengalaman dalam hidupnya. Permasalahan keluarga yang dialami oleh PUNK jalanan adalah PUNK jalanan berada dalam keluarga broken home, di duga PUNK jalanan stress dengan permasalahan yang terdapat dalam keluarganya sehingga ia memilih untu menjadi PUNK jalanan.
Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa 33% PUNK jalanan menyatakan sejarah PUNK yaitu bahwa PUNK identik dengan hidup bebas (tidak ada yang mengatur). Sebanyak 17% PUNK jalanan menyatakan bahwa sejarah PUNK jalanan bermula dari kota London dan 11% PUNK jalanan menyatakan bahwa sejarah PUNK bermula karena anti kepemerintahan.
Tabel 5 Sebaran PUNK jalanan menurut pengetahuan sejarah PUNK
No Jenis pengetahuan sejarah PUNK Ya Tidak
n % n %
PUNK merupakan sebuah gaya hidup yang mengusung identitas kebebasan dan anti kepemerintahan. Identitas dan anti kepemerintahan itu diidentikkan dengan fashion, gaya, penampilan, cara berpakaian seperti menggambarkan sebuah kebebasan, gejolak terhadap pengusaha, pemerintah dan para penguasa pada waktu itu. PUNK dalam mengenakan pakaiannya menghasilkan gaya, busana cenderung berlebih-lebihan, karena hal tersebut merupakan bagian dari perlawanan PUNK terhadap para penguasa dengan menunjukkan bahwa PUNK bukan kaum yang tersisih (Ahmadi et al 1988 dalam Pramdani 2012)
Pramdani 2012). Sebaran PUNK jalanan tentang jawaban sampai kapan menjadi PUNK Jalanan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Sebaran PUNK jalanan tentang jawaban sampai kapan menjadi PUNK jalanan
No Waktu Ya Tidak
n % n %
1 Sampai berkeluarga 2 11 16 89
2 Sampai mempunyai usaha 1 6 17 94
3 Sampai bosan 3 17 15 83
4 Sampai meninggal dunia 2 11 16 89
5 Sampai anak tumbuh besar 2 11 16 89
6 Sampai tahun 2015 1 6 17 94
7 Sampai mendapatkan pekerjaan 5 28 13 72
8 Sampai 5 tahun kedepan 1 6 17 94
9 Sampai kebutuhannya tercukupi 1 6 17 94
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan sebanyak 28% PUNK jalanan berhenti menjadi PUNK jalanan hingga mendapatkan pekerjaan yang layak dan menghasilkan uang diatas dari penghasilan mereka mengamen. Sebanyak 17% PUNK jalanan menyatakan PUNK jalanan berhenti menjadi PUNK jalanan jika PUNK jalanan sudah bosan. Sebaran PUNK jalanan menurut keahlian yang dimiliki dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Sebaran PUNK jalanan menurut keahlian yang dimiliki
No Jenis keahlian Ya Tidak
n % n %
1 Menyablon 4 22 14 78
2 Bermain musik 6 33 12 67
3 Memasak 2 11 16 89
4 Berbahasa inggris 1 6 17 94
5 Mengemudi mobil 2 11 16 89
6 Mengoperasikan komputer 1 6 17 94
7 Elektro (listrik) 1 6 17 94
8 Montir (teknik mesin) 2 11 17 94
9 Kuli bangunan 2 11 17 94
Tabel 8 Sebaran PUNK jalanan menurut pekerjaan yang diinginkan
No Jenis pekerjaan yang diinginkan Ya Tidak
n % n % sebagai pengusaha, mendapatkan uang melalui bermusik (band) yaitu memiliki album atau mendapatkan bayaran dari hasil manggung, ingin menjadi karyawan, ingin bekerja apa saja asalkan uang yang didapatkan tidak lebih kecil dari hasil mengamen, ingin menjadi pejabat, buruh dan pekerja konstruksi. Keinginan yang paling banyak diungkapkan oleh beberapa PUNK jalanan adalah ingin menjadi karyawan (39%). Harapan PUNK jalanan dengan memiliki pekerjaan yang tetap dan layak adalah ingin merubah hidupnya dan perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Beberapa PUNK jalanan menyatakan tidak selamanya mereka bekerja dijalanan. Sebaran PUNK jalanan menurut alasan berpakaian PUNK dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan berpakaian PUNK
No Alasan berpakaian PUNK Ya Tidak
Tabel 9 menunjukkan beberapa jawaban mengenai alasan PUNK jalanan memilih berpakaian PUNK. PUNK jalanan menggunakan pakaian yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya yaitu memakai sepatu boots, menggunakan pakaian yang sengaja di robek, menggunakan tindikan dan terdapat tato ditubuh PUNK jalanan. Alasan yang diungkapkan oleh PUNK jalanan sangat bervariasi yaitu berpakaian PUNK dikarenakan berbeda dengan yang lain, bisa menjadi diri sendiri, seni, mengikuti ajakan teman, style dari PUNK (menjadi ciri khas PUNK dalam berpakaian).
Komunitas PUNK lebih mementingkan penampilan seperti berpenampilan compang-camping, urak-urakan, berdandan tidak sewajarnya memakai berbagai atribut PUNK seperti kalung, rantai besar, gelang, rambut di cat, menggunakan gembok, peniti, sepatu boots, tindikan dan sabuk (Rakhmat 2001 dalam Pramdani 2012).
Atribut tersebut merupakan simbol-simbol dan identitas komunitas PUNK. Sebagian masyarakat menilai komunitas PUNK tersebut merupakan komunitas jalanan. Komunitas PUNK tidak terlepas dari perilaku-perilaku menyimpang mulai dari hidup bebas, seks bebas, narkoba, minum-minuman keras yang mengakibatkan komunitas tersebut terjerumus pada tindakan-tindakan anarkis dan kriminalitas (Rakhmat 2001 dalam Pramdani 2012).
Penelitian tentang aspek karakteristik dan sosial ekonomi erat kaitannya dengan kondisi pendapatan PUNK jalanan dan terkait pula dengan kondisi sosial ekonomi orangtua atau kelurga PUNK jalanan. Aspek karakteristik PUNK jalanan diawali dengan jenis kelamin PUNK jalanan. Sebaran PUNK jalanan menurut jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10 Sebaran PUNK jalanan menurut jenis kelamin
No Jenis Kelamin n %
1 Laki-laki 14 78
2 Perempuan 4 22
Total 18 100
Umumnya PUNK jalanan lebih didominasi oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 10, sebanyak 78% berjenis kelamin laki-laki sedangkan presentase berjenis kelamin perempuan sebesar 22%. Menurut Abdelgalil et al. (2004), pada semua hasil penelitian ada indikasi ketidakseimbangan gender yang jelas pada anak jalanan yakni 75-90% dan anak jalanan di Amerika Latin dan Afrika adalah laki-laki. Hal ini disebabkan laki-laki memiliki kebebasan dan mampu berdapatasi dengan lingkungan jalanan sejak dini untuk memperoleh uang demi menambah pendapatan keluarga meskipun orangtua khawatir dengan adanya kekerasan, obat-obatan dan kecelakaan.
Harapan masyarakat dan keluarga terhadap anak perempuan yaitu lebih baik tinggal di rumah melakukan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Perempuan yang tinggal di jalan kebanyakan memiliki masalah serius dalam keluarga dengan banyak masalah mengenai penyalahgunaan fisik dan seksual sebelum meninggalkan rumah (Abdelgalil et al. 2004).
Tabel 11 menunjukkan sebanyak 50% PUNK jalanan yang berusia 20 tahun sampai dengan 24 tahun dan sebanyak 17% berusia lebih dari 30 tahun serta sebagian kecil 11% PUNK jalanan berusia kurang dari 20 tahun. Sebanyak 17%
PUNK jalanan berusia ≥ 30 tahun, hal ini dikarenakan menjadi pengamen di
Tabel 11 Statistik PUNK jalanan menurut usia
Pendidikan pada umumnya merupakan kebutuhan primer yang diperlukan oleh setiap manusia. Melalui pendidikan hakekatknya bertujuan untuk membentuk karakter menjadi seseorang yang lebih baik. Sebaran PUNK jalanan menurut tingkat pendidikan terakhir dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran PUNK jalanan menurut tingkat pendidikan terakhir
No Tingkat pendididkan terakhir n %
Tabel 12 menunjukkan sebanyak 44% PUNK jalanan mengenyam pendidikan hingga tamat SMP dan 33% PUNK jalanan dengan tingkat pendidikan terakhir tamat SMA. Menurut Pasal 9 ayat (1) UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan yaitu setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Dalam pasal tersebut diungkapkan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pengajaran tanpa membedakan status sosial dan ekonomi.
Menurut Patriasih et al (2009), meskipun setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, namun realita tidak berbicara demikian, bagi mereka sekolah hanya sebagai milik orang yang mampu saja hal ini dikarenakan mahalnya biaya pendidikan. Besarnya biaya pendidikan merupakan faktor utama yang menyebabkan tidak mudah untuk mendapatkan kesempatan pendidikan. Hal ini sesuai dengan hasil pengambilan data yang menunjukan bahwa mereka tidak melanjutkan sekolah dikarenakan alasan kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai pendidikan anaknya ke jenjang selanjutnya.
menghasilkan uang dan dengan uang tersebut mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya serta dapat membantu meringankan beban orang tua.
Tabel 13 Sebaran PUNK jalanan menurut alasan tidak melanjutkan sekolahnya
No Alasan tidak melanjutkan sekolah n %
1 Tidak memiliki biaya 10 56
2 Malas belajar 3 17
3 Ingin bekerja 3 17
4 Lain-lain 2 11
Total 18 100
Menurut Ayuku (2004), melalui mengemis atau mengamen di jalan-jalan merupakan cara tercepat orang jalanan untuk mendapatkan uang. Hal ini dianggap menguntungkan dari pada bersekolah. Kebanyakan anak jalanan berpendidikan tidak lebih dari sekolah dasar dan sumber kehidupan mereka adalah mengemis di jalanan. Alasan lain-lain PUNK jalanan tidak melanjutkan sekolah adalah yaitu PUNK jalanan droup out dari sekolah dan tidak ada yang mengurusinya untuk sekolah. Salah satu PUNK jalanan berada dalam keluarga broken home. PUNK jalanan menyatakan bahwa ia tidak melanjutkan sekolah karena kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua. Orang tua PUNK jalanan tidak memperhatikan mengenai masalah sekolah.
Menurut Prasadja et al. (2000), anak jalanan berhenti sekolah dan memilih untuk mencari uang di jalan disebabkan oleh ketidakmampuan ekonomi. Selain faktor ekonomi, anak jalanan mengaku tidak mau melanjutkan sekolah karena usia anak jalanan sudah tua sehingga malu untuk kembali lagi ke sekolah dan malas untuk mengingat pelajaran. Banyak anak jalanan menolak untuk kembali lagi ke sekolah. Alasan utamanya adalah malu karena sudah merasa besar, sudah tidak mampu lagi mengikuti pelajaran sekolah, lebih senang bekerja dan ingin membantu atau meringankan beban orangtua.
Tidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah, tidak menurunkan keinginan PUNK jalanan untuk melanjutkan sekolah ataupun mengikuti kursus agar memperoleh ketrampilan. Sebaran PUNK jalanan menurut harapan terhadap pendidikan dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14 Sebaran PUNK jalanan menurut harapan terhadap pendidikan No. Harapan terhadap pendidikan Ya Tidak Total
n % n % n %
sekolah tentunya PUNK jalanan akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.
Harapan PUNK jalanan dengan mengikuti kursus akan memperoleh ketrampilan baru seperti bagi laki-laki mengikuti kursus menggambar (body painting), mengelas besi, dan diajarkan berternak ikan sedangkan perempuan mengikuti kursus memasak, menjahit dan menggambar. Ketrampilan tersebut jika dikembangkan nantinya akan mendapatkan pekerjaan disuatu tempat tanpa perlu mengamen dan hal ini dapat memperbaiki kondisi sosial ekonomi keluarganya kedepan.
PUNK jalanan mengeyam pendidikan pada tingkat yang berbeda-beda meskipun demikian PUNK jalanan memiliki persepsi yang berkaitan tentang pendidikan. Persepsi yang mereka sampaikan mengenai pendidikan bervariasi. Sebaran PUNK jalanan menurut persepsi terhadap pendidikan dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15 Sebaran PUNK jalanan menurut persepsi terhadap pendidikan No Persepsi PUNK jalanan terhadap pendidikan n %
1. Cara untuk mendapatkan uang 2 11.1
2. Lebih dihargai orang lain 3 16.7
3. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan seseorang
10 55.6
4. Hanya untuk orang kaya 3 16.7
Total 18 100
Menurut Tabel 15 sebanyak 55.6% PUNK jalanan berpersepsi bahwa pendidikan dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Dalam arti jika kita melanjutkan pendidikan lebih lama maka akan menjadi orang yang pintar dan dapat mengasah ketrampilan menjadi lebih terampil dalam suatu bidang. Sebanyak 16.7% PUNK jalanan menyatakan bahwa pendidikan dapat membuat dirinya lebih dihargai orang lain dan pendidikan hanya untuk orang kaya. Menurut pendapat mereka dengan mengenyam pendidikan yang tinggi maka seseorang tidak akan diremehkan atau dianggap kecil oleh orang lain. PUNK jalanan sering kali dianggap remeh oleh orang lain, hal ini dikarenakan PUNK jalanan tidak menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun PUNK jalanan kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi namun PUNK jalanan mengerti pentingnya pendidikan.
Tabel 16 Sebaran PUNK jalanan menurut status rumah yang ditempati
Berdasarkan Tabel 16 diatas menunjukkan sebanyak 44% PUNK jalanan tinggal dirumahnya sendiri dan tidak berbeda jauh yaitu terdapat 39% PUNK jalanan tinggal di rumah kontrakan serta selebihnya tinggal dirumah orang tua mereka. Sedikitnya PUNK jalanan yang tinggal dengan orang tua dikarenakan terdapat PUNK jalanan yang sudah berkeluarga sehingga tinggal berpisah dengan orang tuanya.
PUNK jalanan memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu dengan mengamen. Beberapa PUNK jalanan memiliki pekerjaan sampingan yaitu membuat tatto dan design baju. Pekerjaan ini tidak dijadikan pekerjaan utama, melainkan pekerjaan utama PUNK jalanan adalah mengamen. Statistik PUNK jalanan menurut pendapatan (Rp/bulan) dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Statistik PUNK jalanan menurut pendapatan (Rp/bulan)
No Kategori pendapatan n %
Berdasarkan tabel diatas sebanyak 56% PUNK jalanan menghasilkan pendapatan antara Rp 1 000 000 sampai dengan Rp 2 499 000 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 2 116 190 ± 1 064 039. Rata-rata pendapatan sehari PUNK jalanan adalah 75 000 ± 34 316 Menurut BPS (2000), tingkat pendapatan seseorang antara Rp 1 000 000 sampai dengan Rp 2 499 000 tergolong cukup. Pendapatan tersebut diperoleh dari hasil mengamen. PUNK jalanan biasanya mengamen di dalam angkot, warung-warung makan dan bis yang melintas di jalan pajajaran.
Tabel 18 Statistik pengeluaran keuangan PUNK jalanan (Rp/hari)
Beberapa PUNK jalanan menyisihkan uangnya untuk menabung yaitu sebesar 6 528 + 8 444.4, hal ini dilakukan karena mengantisipasi jika terdapat keperluan yang mendesak sehingga tidak menyusahkan orang tua dan tidak perlu berhutang kepada orang lain. Terdapat PUNK jalanan yang tidak menyisihkan uangnya untuk menabung dan secara maksimal PUNK jalanan menyisihkan uangnya untuk menabung sebesar 30 000. PUNK jalanan menggunakan uangnya sebesar 2 417 + 3 264.1 untuk transport menuju tempat biasa mereka mengamen. Uang transport ini relatif lebih kecil karena umumnya rumah PUNK jalanan dekat dengan lokasi dimana PUNK jalanan mengamen dan beberapa PUNK jalanan memilih untuk berjalan kaki serta pengeluaran paling besar yang PUNK jalanan keluarkan untuk biaya transport yaitu 10 000. Uang untuk makan rata-rata mereka membelanjakannya sebesar 14 611 + 5 922.4. Minimal pengeluaran untuk makan sebesar 5 000 dengan maksimal pengeluaran sebesar 30 000. PUNK jalanan menyatakan tidak terdapat pengeluarkan uang yang untuk disetor ke senior.
Beberapa PUNK jalanan sudah berkeluarga dan terdapat yang masih single. Meskipun PUNK jalanan sudah berkeluarga tetapi PUNK jalanan tetap ingin menjadi PUNK jalanan dan mencari uang dijalan (mengamen). Sebaran PUNK jalanan menurut jumlah rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Sebaran PUNK jalananmenurut jumlah anggota rumah tangga
No Jumlah anggota rumah tangga (orang) n %
Tabel 20 Statistik pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga PUNK
PUNK jalanan 12 211 + 23 763.1 minimal pembelian 0 (PUNK jalanan tidak membeli daging sapi) dan maksimal pembelian 80 000, hal ini dikarenakan harga daging sapi yang relatif mahal sehingga PUNK jalanan jarang mengonsumsi daging sapi.
Pengeluaran nonpangan yang dikeluarkan oleh PUNK jalanan adalah sewa rumah (Rp 125 000), rokok (Rp 326 667), tabungan (Rp 100 556) sedangkan sisanya digunakan untuk pembayaran listrik, pulsa HP, bahan bakar, biaya pelayanan kesehatan (berobat), shampo, sabun mandi, pasta gigi, sabun cuci, biaya pendidikan, pakaian, sepatu, pangkas rambut, ongkos transport dan kredit. Pengeluaran yang paling tinggi adalah dialokasikan untuk membeli rokok 326 667 + 223 053.7 dengan pembelian minimal Rp 90 000 dan pembelian maksimal 750 000. Pengeluaran ini melebihi dari pengeluaran pangan. PUNK jalanan menyatakan bahwa rata-rata mereka merokok setiap harinya sebanyak 11.27 ± 7.07 batang. PUNK jalanan menyatakan bahwa setiap harinya selalu merokok. Menurut Talukder (2010), merokok berhubungan dengan penurunan berat badan tanpa memandang jenis kelamin, budaya, atau status sosial ekonomi. Merokok dapat menyebabkan hipertensi, peningkatan stres oksidatif dan dapat merusak jantung. Apabila sampel terus membiarkan kebiasaannya untuk merokok maka diduga PUNK jalanan dalam jangka panjang akan mengalami dampak tersebut. Menurut Chiolero et al (2008), perokok akan mengalami kecenderungan penurunan nafsu makan.
Pengeluaran yang paling rendah dialokasikan pada biaya pelayanan kesehatan (berobat) 3 217 + 5 816.8 dengan pengalokasian biaya minimal sebesar 0 (PUNK jalanan tidak mengalokasikan uangnya untuk biaya berobat dan maksimal 16 600. PUNK jalanan menyatakan jika ia terserang penyakit, PUNK jalanan hanya membeli obat di warung dan sesekali berobat ke puskesmas.
Pendapatan PUNK jalanan tergolong cukup tetapi PUNK jalanan tidak mengalokasikan lebih banyak pengeluarannya untuk membeli kebutuhan pangan melainkan PUNK jalanan lebih banyak mengalokasikan pendapatannya untuk membeli kebutuhan non pangan. Menurut Berg (1986), tingginya pendapatan atau penambahan pendapatan tidak selalu membawa perbaikan pada konsumsi pangan karena walaupun banyak pengeluaran untuk pangan belum tentu kualitas dan kuantitas makanan yang dibeli lebih baik.
Karakteristik Orangtua PUNK Jalanan
Pada umumnya orangtua masih berperan dalam kehidupan PUNK jalanan walaupun terdapat PUNK jalanan yang sudah tidak tinggal bersama orangtua dan terdapat pula PUNK jalanan masih tinggal bersama orangtua. Salah satu hal yang dapat melatarbelakangi mereka menjadi PUNK jalanan adalah karakteristik orang tua, meliputi pendidikan, pekerjaan dan pendapatan orangtua.
Tingkat pendidikan orangtua PUNK jalanan sangat bervariasi, hal ini dapat dilihat pada Tabel 21 sebanyak 33.3% ayah dan ibu 44% dengan tingkat pendidikan tamat SMP dan sebanyak 27.8% pendidikan ayah dan ibu 28% tamat SMA. Sebanyak 16.7% ayah dan ibu (11%) PUNK jalanan mengeyam pendidikan pada tingkat SD serta 16.7% ayah dan 17% ibu tidak tamat SD. PUNK jalanan menyatakan hal ini dikarenakan keluarga ayah dan ibu tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena keterbatasan ekonomi (tidak memiliki biaya). Sebesar 5.6% ayah dengan tingkat pendidikan tamat perguruan tinggi, hal ini dikarenakan ayah PUNK jalanan berada dalam keluarga dengan tingkat perekonomian yang baik.
Tabel 21 Sebaran usia, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan orangtua PUNK jalanan
Karakteristik orang tua Ayah Ibu
n % n %
Sebagian besar 44% ayah dan 72% ibu tidak bekerja. Hal ini sejalan dengan penelitian Banerjee (2007), mengatakan bahwa mayoritas pekerjaan orang tua anak jalanan di India mayoritas adalah pengangguran. Pekerjaan lain-lain yang dilakukan 28% ayah adalah satpam, pemotong ayam, service electronic dan borongan sound system, sedangkan pekerjaan lain-lain ibu (22%) yaitu buruh dan pedagang keliling. Sebanyak 11% ayah dan ibu (6%) yang bekerja sebagai wiraswasta yaitu mereka mempunyai warung sembako.
Menurut Engel et al 1994 dalam Lusiana (2008), tingkat pendidikan akan berhubungan dengan jenis pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin besar. Berdasarkan
Tabel 21 sebanyak 5% ayah yang menghasilkan pendapatan sebanyak Rp 2 500 000 sampai dengan Rp 4 000 000. Menurut BPS (2000), pendapatan
seseorang dengan range antara Rp 2 500 000 sampai dengan Rp 4 000 000 termasuk kedalam kategori tinggi. Sebanyak 44% ayah dan 72% ibu yang tidak memiliki penghasilan, hal ini dikarenakan ayah dan ibu tidak bekerja.
Pengetahuan Gizi PUNK Jalanan
Pengetahuan gizi merupakan pemahaman seseorang tentang ilmu gizi, zat gizi serta interaksi antara zat gizi terhadap status gizi dan kesehatan. Pengetahuan gizi yang baik dapat menghindari seseorang dari konsumsi pangam yang salah atau buruk. Individu yang berpengetahuan baik akan mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan gizinya di dalam pemilihan pangan (Suhardjo 2003). Menurut Khomsan (2000), terdapat tiga kategori untuk tingkat
pengetahuan gizi yaitu baik (skor > 80), sedang (60 ≤ skor ≤ 80) dan kurang (skor
<60). Sebaran PUNK jalanan berdasarkan pengetahuan gizi dapat dilihat pada tabel 22.
Tabel 22 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan pengetahuan gizi
No. Kategori n %
1. Kurang 6 33
2. Sedang 11 61
3. Baik 1 6
Total 18 100
Berdasarkan tabel diatas sebagian besar pengetahuan gizi PUNK jalanan tergolong sedang (61%), meskipun sebanyak 33% PUNK jalanan tergolong kurang. Hal ini dikarenakan minimnya pendidikan yang didapatkan khususnya mengenai pendidikan gizi. PUNK jalanan hanya menduduki pendidikan pada jenjang SMP (44%) dan SD (17%). Terdapat 6% PUNK jalanan dengan pengetahuan gizi kedalam kategori baik. Hal ini dikarenakan PUNK jalanan tersebut dengan tingkat pendidikan hingga tamat SMA. PUNK jalanan menyatakan bahwa terdapat beberapa petanyaan yang memang diajarkan ketika PUNK jalanan masih duduk dibangku sekolah dan PUNK jalanan masih mengingatnya.
tidak menerapkan apa yang mereka ketahuitentang pengetahuan gizi tersebut dikehidupan sehari-hari. Menurut Darmayanti (2010), bahwa tingginya pengetahuan gizi seseorang belum tentu orang tersebut memahami dan mengaplikasikan dengan baik pengetahuan gizinya kedalam kehidupannya sehari-hari.
Aktivitas Fisik PUNK Jalanan
Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. Aktivitas fisik memerlukan energi di luar kebutuhan untuk metabolisme basal. Selama aktivitas fisik, otot membutuhkan energi di luar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan bergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan (Almatsier 2003).
Penilaian aktivitas fisik dapat diukur menggunakan empat dimensi utama, yaitu tipe, frekuensi, durasi, dan intensitas aktivitas fisik. Frekuensi aktivitas fisik adalah jumlah sesi aktivitas fisik per satuan waktu. Durasi aktivitas fisik merupakan lamanya waktu yang dihabiskan ketika melakukan aktivitas fisik. Pola aktivitas pada anak lebih kompleks dan multidimensional dibandingkan pada orang dewasa (Sjostrom et al 2005). Physical Activity Level (PAL) dalam WHO diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu ringan (1.40-1.69), sedang (1.70-1.99) dan berat (2.00-2.40). Sebaran PUNK jalanan menurut aktifitas fisik dapat dilihat pada Tabel 23.
Tabel 23 Sebaran PUNK jalananmenurut Aktifitas fisik
No. Kategori aktifitas fisik n %
Status Gizi PUNK Jalanan
Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi (Almatsier 2006). Gibson (2005) menyatakan, status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan utilitas zat gizi makanan. Usia yang > 18 tahun untuk mengetahui status gizi menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh). Sebaran PUNK jalanan menurut kategori status gizi dapat dilihat pada tabel 24.
Tabel 24 Sebaran PUNK jalanan menurut kategori status gizi
No. Kategori n %
1. Underweight 6 33
2. Normal 11 61
3. Obese 1 6
Total 18 100
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar PUNK jalanan (61%) termasuk dalam kategori normal dan sedikit PUNK jalanan termasuk kedalam kategori kurus serta hanya 6% yang obesitas. Sebanyak 33% PUNK jalanan termasuk kedalam kategori underweight. Hal ini sejalan dengan
penelitian Nur’aini (2009), menunjukkan berdasarkan perhitungan IMT/U sebagian besar anak jalanan di Bandung memiliki status gizi normal.
Konsumsi Pangan
Pangan merupakan sumber berbagai zat gizi dan termasuk kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari. Menurut Maslow, pangan menduduki peringkat pertama dari kebutuhan lainnya. Setap individu membutuhkan pangan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Kebutuhan pangan perlu diupayakan ketersediaannya dalam jumlah yang cukup, layak, aman dikonsumsi, dan mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau (Khomsan 2002). Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Hardinsyah et al 2002).
Pada penelitian ini menggunakan metode recall 1 x 24 jam. Berat makanan diperkirakan dengan ukuran berat atau ukuran rumah tangga, sebagai cara untuk membantu mengingat dalam penelitian ini menggunakan food model. Menurut Almatsier et al (2011), model makanan (food model) yang digunakan dalam metode recall untuk membantu resonden dalam mengingat makanan yang dikonsumsi dan memperkirakan jumlahnya.
Pada penelitian ini pengambilan data recall tidak menggunakan 2x24 jam dikarenakan sulit untuk menghubungi PUNK jalanan kembali karena PUNK jalanan bekerja dijalan berpindah-pindah tempat. Menurut Supariasa et al. (2001), apabila recall hanya dilakukan 1x24 jam maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu. Menurut Almatsier et al (2011), dalam hal ini hendaknya metode recall dilakukan bersamaan dengan metode lain, seperti FFQ (Metode kuisioner frekuensi makanan). Menurut Supariasa et al. (2001), kelemahan recall 1x24 jam adalah tidak dapat menggambarkan asupan makan sehari-hari sedangkan kelebihan dari recall 1x24 jam adalah mudah, murah, cepat serta tidak membebani sampel. Statistik angka kecukupan, konsumsi dan tingkat kecukupan zat gizi PUNK jalanan dapat dilihat pada tabel 25.
Tingkat konsumsi PUNK jalanan diperoleh dari total konsumsi makanan PUNK jalanan melalui recall 1x24 jam. Rata-rata tingkat konsumsi energi PUNK jalanan adalah sebesar 1 303 kkal ± 274 kkal dengan nilai minimal sebesar 1 004 kkal dan nilai maksimal konsumsi sebesar 2 035 kkal. Tingkat konsumsi energi PUNK jalanan tergolong rendah hal ini dikarenakan frekuensi makan PUNK jalanan yang sedikit. Rata-rata tingkat konsumsi protein sebesar 42.73 gram ± 14,44 gram. Nilai minimal konsumsi protein pada PUNK jalanan sebesar 26.59 gram dan maksimal konsumsi protein sebesar 87.24 gram. Rata-rata konsumsi lemak PUNK jalanan sebesar 46.51 gram ± 19.33 gram dengan nilai minimal konsumsi sebesar 16.27 gram dan nilai maksimal konsumsi sebesar 89.77 gram. Rata-rata konsumsi karbohidrat pada PUNK jalanan sebesar 171.97 ± 34.22 gram. Asupan konsumsi PUNK jalanan tergolong rendah.
Rata-rata tingkat kecukupan energi (TKG) PUNK jalanan didapatkan dengan cara membandingkan tingkat konsumsi pangan dengan angka kecukupan gizi. Rata-rata tingkat kecukupan energi PUNK jalanan sebesar 54.68% ± 13.55% dengan tingkat kecukupan energi yang paling rendah sebesar 37.14% dan yang paling tinggi 87.35%. Rata-rata tingkat kecukupan energi termasuk kedalam kategori defisit tingkat berat. Sebagian besar rata-rata tingkat kecukupan protein PUNK jalanan adalah 76.01% ± 27.41%. Rata-rata tingkat kecukupan protein termasuk kedalam kategori defisit tingkat berat. Rata-rata tingkat kecukupan lemak PUNK jalanan sebesar 31.29% ± 8.54. Rata-rata tingkat kecukupan lemak termasuk kedalam kategori lebih
Menurut Effendi dan Uripi (1997), bahwa anak jalanan termasuk kelompok yang rawan gizi kurang. Hal ini disebabkan intik makanan yang kurang karena biaya yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan digunakan untuk membeli rokok atau minuman keras.
Tingkat Kecukupan Energi
Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu dan kegiatan fisik. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan dalam jangka panjang (IOM 2002 dalam Kemenkes 2014).
Berdasarkan Gambar 2 menunjukan sebagian besar 89% PUNK jalanan memiliki tingkat kecukupan energi dengan kategori defisit berat dan sebanyak 11% termasuk dalam kategori defisit sedang. Defisit berat merupakan kekurangan energi dengan tingkatan berat dengan nilai <70% AKG. Defisit sedang diartikan kekurangan energi dengan tingkatan ringan atau termasuk kedalam nilai kategori antara 70% sampai dengan 79% AKG. Presentase ini serupa dengan penelitian
Nur’aini (2009), tingkat kecukupan energi anak jalanan di Kota Bandung
Gambar 2 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan energi
Tingkat kecukupan energi PUNK jalanan sebagian besar tergolong defisit disebabkan frekuensi makan PUNK jalanan yang jarang. Frekuensi makan mempengaruhi jumlah asupan makanan bagi individu dimana hal tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi (Sukandar 2007 dalam Patriasih 2009). Selain itu, hal ini diduga disebabkan oleh beberapa kesalahan yang kemungkinan terjadi dalam pengukuran konsumsi pangan. Menurut Almatsier et al 2011), terdapat kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran recall 24 jam yaitu terjadi syndroma flat slope. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah adanya kecenderungan dimana sampel akan melaporkan lebih pada konsumsi yang sedikit (overestimate low intakes) atau melaporkan sedikit pada konsumsi yang berlebihan (underestimate hight intakes). Dalam penelitian ini terdapat kemungkinan PUNK jalanan melaporkan konsumsi yang lebih sedikit (underestimate intakes) karena faktor kesulitan dalam mengingat makanan yang dikonsumsi di hari kemarin.
Tingkat Kecukupan Protein
Pangan sumber protein hewani meliputi daging, telur, susu, ikan, seafood dan olahannya. Pangan sumber nabati meliputi kedelai, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tempe, tahu, susu kedelai (Hardinsyah, et al 2002). Berdasarkan Gambar 2 sebanyak (44%) PUNK jalanan termasuk kedalam kategori defisit berat. Presentase PUNK jalanan yang termasuk kedalam kategori normal adalah 11%. Sumber protein yang banyak dikonsumsi PUNK jalanan adalah telur, tempe dan ayam. Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian
Nur’aini (2009), hampir separuh (45.1%) anak jalanan di Kota Bandung tingkat kecukupan proteinnya termasuk ke dalam kategori defisit tingkat berat. Sumber protein yang banyak dikonsumsi anak jalanan adalah telur dan tahu. Menurut Almatsier (2005). Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik dalam jumlah maupun mutu seperti susu, telur, daging, unggas dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya seperti tempe dan tahu serta kacang-kacangan lain.
89% 11%
Gambar 3 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan protein
Tingkat kecukupan protein PUNK jalanan termasuk ke dalam kategori defisit tingkat berat diduga karena pangan sumber protein yang dikonsumsi PUNK jalanan rendah walaupun mutu proteinnya baik. Selain itu, hal ini diduga disebabkan oleh beberapa kesalahan yang kemungkinan terjadi dalam pengukuran konsumsi pangan. Menurut Almatsier et al (2011), terdapat kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran recall 24 jam yaitu terjadi syndroma flat slope. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah adanya kecenderungan dimana sampel akan melaporkan lebih pada konsumsi yang sedikit (overestimate low intakes) atau melaporkan sedikit pada konsumsi yang berlebihan (underestimate hight intakes). Dalam penelitian ini terdapat kemungkinan PUNK jalanan melaporkan konsumsi yang lebih sedikit (underestimate intakes) karena faktor kesulitan dalam mengingat makanan yang dikonsumsi di hari kemarin.
Tingkat Kecukupan Lemak
Lemak disebut juga lipid merupakan salah satu zat yang kaya akan energi. Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar didalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil organ hati yang bisa disimpan kedalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi (Proverawati et al 2009).
Konsumsi lemak harus dalam jumlah yang cukup, karena jika berlebihan akan menyebabkan status gizi lebih. Lemak merupakan cadangan energi yang paling besar yaitu 9 kkal. Simpanan ini berasal dari konsumsi berlebihan salah satu atau kombinasi zat energi (karbohidrat, lemak, dan protein) (Almatsier 2001).
Berdasarkan Gambar 4 menggambarkan sebagian besar PUNK jalanan tingkat kecukupan lemak termasuk kedalam kategori normal sebesar 33% sedangkan tingkat kecukupan lemak dengan kategori lebih yaitu sebesar 61%. Tingkat kecukupan PUNK jalanan tergolong lebih, hal ini dikarenakan PUNK jalanan sering mengonsumsi makanan dengan teknik pemasakan di goreng (deep frying) seperti tempe goreng, tahu goreng, gorengan bakwan dan ayam goreng. Menurut Minantyo (2011), teknik pemasakan deep frying adalah menggoreng
44%
22% 17%
11% 6%
bahan makanan dengan menggunakan minyak banyak. Bahan makanan harus terendam dengan minyak. Prinsip dasar deep frying adalah minyak goreng berbentuk cair dan bahan makanan yang digoreng harus terendam. Bahan makanan yang ingin digoreng dimasukkan ketika minyak sudah panas dan api sedang. Teknik pemasakan ini akan membuat minyak lebih banyak terserap dari bahan makanan sehingga bahan makanan akan mengandung banyak lemak yang berasal dari minyak yang terserap.
Gambar 4 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan lemak
Gorengan yang biasa PUNK jalanan konsumsi diperoleh dari membeli di tukang gorengan pinggir jalan yang terletak didekat dimana mereka mengamen. Minyak yang dipergunakan untuk menggoreng gorengan tersebut sudah dilakukan berulang kali dalam menggoreng. Hal ini dapat dilihat dari minyak yang digunakan yaitu minyak goreng yang terdapat didalam wajan penjual gorengan berwarna kehitaman. Menurut Winarno (2004), minyak jelantah mengandung berbagai radikal bebas, yang setiap saat siap untuk mengoksidasi organ tubuh secara perlahan. Minyak jelantah kaya akan asam lemak bebas. Terlalu sering mengonsumsi minyak jelantah dapat menyebabkan potensi kanker meningkat. Menurut para ahli kesehatan, minyak goreng hanya boleh digunakan dua sampai empat kali menggoreng. Jika PUNK jalanan membiarkan kebiasaannya membeli gorengan yang seperti itu, diduga PUNK jalanan akan menderita penyakit degeneratif (salah satunya kanker). Menurut Almatsier et al (2011), usia 19-49 tahun merupakan usia produktif. Penyakit degeneratif dapat menyerang di usia produktif.
Tingkat Kecukupan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi manusia. Setiap satu gram karbohidrat menghasilkan empat kalori (Devi 2010). Fungsi utamanya adalah menyediakan keperluan energi tubuh, selain itu karbohidrat berfungsi untuk proses metabolisme lemak. Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan karbohidrat dapat dilhat pada Gambar 5.
6%
33%
61%
Gambar 5 Sebaran PUNK jalanan berdasarkan kategori tingkat kecukupan karbohidrat
Berdasarkan gambar diatas menunjukkan sebagian besar 66% tingkat kecukupan karbohidrat tergolong normal dan sebanyak 6% PUNK jalanan tergolong defisit. Rata-rata tingkat kecukupan karbohidrat sebesar 53.46% ± 8.72%. Berdasarkan tingkat kecukupan karbohidrat terdapat 28% PUNK jalanan tergolong lebih, hal ini dikarenakan PUNK jalanan mengonsumsi lebih banyak sumber karbohidrat seperti nasi dan mie.Selain itu, hal ini diduga disebabkan oleh beberapa kesalahan yang kemungkinan terjadi dalam pengukuran konsumsi pangan. Menurut Almatsier et al.(2011), terdapat kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran recall 24 jam yaitu terjadi syndroma flat slope. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah adanya kecenderungan dimana sampel akan melaporkan lebih pada konsumsi yang sedikit (overestimate low intakes) atau melaporkan sedikit pada konsumsi yang berlebihan (underestimate hight intakes). Dalam penelitian ini terdapat kemungkinan PUNK jalanan melaporkan konsumsi yang lebih sedikit (underestimate intakes) karena faktor kesulitan dalam mengingat makanan yang dikonsumsi di hari kemarin.
Frekuensi Konsumsi Pangan
Frekuensi konsumsi pangan pada sampel menggunakan metode FFQ (Food Frequency Questionnaire) kualitatif. FFQ kualitatif digunakan untuk memperoleh data tentang asupan energi atau zat gizi seseorang dengan menanyakan frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi yang merupakan sumber utama zat gizi yang diteliti. Kuisioner memuat daftar bahan makanan/ makanan atau kelompok makanan yang merupakan kontributor penting terhadap asupan energi. PUNK jalanan menyatakan berapa kali sehari, seminggu, sebulan atau setahun ia mengonsumsi makanan tersebut. Kuisioner ini biasanya menggunakan ukuran standar porsi (jumlah yang umumnya dimakan per porsi untuk berbagai golongan umum atau gender) (Almatsier et al 2011).
Tujuan FFQ adalah melengkapi data yang tidak dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam (Arisman 2008). Menurut Almatsier et al (2011), kelebihan metode ini relatif murah dan sederhana yang dapat dilakukan sendiri oleh PUNK jalanan. Kelemahan metode ini adalah tidak bersifat kuantitatif, dibutuhkan
6%
66% 28%