• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi hasil tangkapan dan laju pancing rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komposisi hasil tangkapan dan laju pancing rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

VI - 1126

KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN LAJU PANCING RAWAI TUNA YANG BERBASIS DI PELABUHAN BENOA

Mulyono S. Baskoro9, Budi Nugraha10 dan Budy Wiryawan1 [email protected]

[email protected]

ABSTRAK

Rawai tuna (tuna longline) merupakan salah satu alat tangkap yang efektif untuk menangkap tuna, karena konstruksinya yang mampu menjangkau kedalaman renang (swimming layer) tuna. Hasil tangkapan rawai tuna terdiri atas hasil tangkapan utama (target species) dan hasil tangkapan sampingan (by-catch). Hasil tangkapan sampingan terdiri atas hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis (by-product) dan yang tidak memiliki nilai ekonomis atau dibuang kembali ke laut (discard). Pengumpulan data dibantu oleh observer dengan mengikuti langsung operasional penangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa mulai tanggal18 Februari sampai 16 April 2013 di perairan Samudera Hindia. Data yang dikumpulkan meliputi data operasional penangkapan seperti komposisi hasil tangkapan, jumlah pancing dan daerah penangkapan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hasil tangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati sebanyak 21 spesies terdiri atas hasil tangkapan utama sebanyak 4 spesies, hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis sebanyak 13 spesies dan yang tidak memiliki nilai ekonomis sebanyak 4 spesies. Hasil tangkapan utama didominasi oleh tuna mata besar dengan nilai laju pancing sebesar 0,06 dan hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan gindara dan bawal lonjong dengan nilai laju pancing sebesar 0,05, sementara hasil tangkapan sampingan yang tidak memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan naga dengan nilai laju pancing 1,01. Nilai laju pancing yang diperoleh pada penelitian ini sangat kecil. Menurunnya laju pancing tersebut merupakan salah satu indikasi berkurangnya ketersediaan tuna. Dengan semakin rendahnya nilai laju pancing hasil tangkapan tuna di perairan Samudera Hindia, perlu adanya kebijakan dari pemerintah baik itu pembatasan kapal penangkap atau jumlah alat tangkap, kuota penangkapan maupun penutupan daerah penangkapan untuk sementara. Kebijakan yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat memulihkan sumberdaya tuna yang sudah menunjukkan kecenderungan menurun.

Kata Kunci: Rawai tuna, komposisi hasil tangkapan, laju pancing, Samudera Hindia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rawai tuna (tuna longline) merupakan salah satu alat tangkap yang efektif untuk menangkap tuna, karena menurut Farid et al. (1989) konstruksinya mampu menjangkau kedalaman renang (swimming layer) tuna. Menurut Irianto et al. (2013) terdapat tiga tipe rawai tuna yang beroperasi di Samudera Hindia, yaitu rawai tuna permukaan (surface tuna longline), rawai tuna pertengahan (middle tuna longline) dan rawai tuna laut dalam (deep tuna longline).Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap melaporkan bahwa rawai tuna yang terdaftar dalam Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) sebanyak 1.256 unit yang didominasi oleh ukuran 100 – 200 GT (Irianto et al., 2013).

Hasil tangkapan rawai tuna terdiri atas hasil tangkapan utama (targetspecies) dan hasil tangkapan sampingan (by-catch) dimana hasil tangkapan sampingan terdiri atas hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis (by-product) dan yang tidak memiliki nilai ekonomis atau dibuang kembali ke laut (discard) (Beverly et al., 2003). Salah satu daerah penangkapan rawai tuna di Indonesia adalah Samudera Hindia.Menurut Wudianto et al. (2003), daerah penangkapan kapal tuna longline yang berasaldari Cilacap dan Benoa yaitu di perairan selatan JawaTengah dimanasebagian besar (>70%) melakukan penangkapan diluar perairan Zona

(2)

VI - 1127

Ekonomi Eksklusif Indonesia.Untuk mengetahui nilai suatu daerah penangkapan khususnya rawai tuna digunakan laju pancing (hook rate) (Suryadi, 1982). Nilai laju pancing merupakan indikasi tinggi rendahnya kelimpahan tuna yang ada di perairan tersebut. Nilai laju pancingdiartikan banyaknya tuna yang tertangkap tiap 100 mata pancing (Klawe, 1980). Informasi komposisi hasil tangkapan dan laju pancing rawai tuna sangat diperlukan sebagai bahan kajian kebijakan perikanan rawai tuna di Indonesia. Selain memberikan informasi awal tentang komposisi hasil tangkapan dan sebaran nilai laju pancing, tulisan ini juga mencoba memberikan informasi tentang daerah penangkapan rawai tuna yang berbasis di Benoa.

METODOLOGI

Waktu dan Lokasi

Penelitian dilakukan pada tanggal 18 Februari sampai 16 April 2013 di Samudera Hindia yang dibantu oleh observer dengan mengikuti kegiatan operasi penangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa. Data yang dikumpulkan berupa data operasional penangkapan seperti komposisi hasil tangkapan, jumlah pancing dan daerah penangkapan.

Analisis Data

Data hasil tangkapan yang diperolah ditabulasi dan dianalisa dengan menggunakan program

Microsoft Office Excel, sedangkan daerah penangkapan digambarkan secara peta tematik dengan menggunakan program Arc View. Untuk menghitung upaya penangkapan dalam perikanan rawai tuna digunakan rumus laju pancing (hook rate) dengan persamaan sebagai berikut (Klawe, 1980):

= 100

dimana:

LP = Laju pancing (hook rate) JI = Jumlah ikan (ekor) JP = Jumlah pancing (buah) 100 = Konstanta

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Alat Tangkap Rawai Tuna

Alat tangkap rawai tuna KM. Bina Sejati menggunakan sistem non arranger atau sistem blong. Menurut Barata &Prisantoso(2009), alat tangkap ini merupakan konstruksi yang umum digunakan oleh kapal rawai tunayang berbasis di Pelabuhan Benoa dimana alat tangkap ini dibedakan menjadi 2 sistem, yaitu sistem arranger (mesin) dan nonarranger (manual). Sistemnon arranger meliputi sistem blong dan basketataupun perpaduan keduanya. Perbedaaan dengansistem arranger terletak pada bahan tali utama di manauntuk sistem non arranger terbuat dari monofilmen(PA) dan untuk arranger terbuat dari monofilamen dan polyester.

(3)
[image:3.595.170.444.71.281.2]

VI - 1128

Gambar 1. Konstruksi rawai tuna KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa

Komposisi Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan yang diperoleh terdiri atas hasil tangkapan utama (target species), yaitu tuna (Thunnus spp.) dan hasil tangkapan sampingan (by-catch) dimana hasil tangkapan sampingan ini terdiri atas hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis (by-product) seperti ikan berparuh atau setuhuk/marlin (Fam. Istiophoridae) dan yang tidak memiliki nilai ekonomis (discard) seperti ikan naga (Alepisaurus spp.). Hasil tangkapan KM. Bina Sejati selama 27 kali setting

diantaranya adalah tuna mata besar (BET; Thunnus obesus),albakora (ALB; Thunnus alalunga), madidihang (YFT; Thunnus albacares) dan tuna sirip biru selatan (SBF; Thunnus maccoyii) sebagai hasil tangkapan utama.Sementara ikan pedang (SWO; Xiphias gladius), setuhuk biru (BLZ; Makaira nigricans), ikan layaran (SFA; Istiophorus platypterus), setuhuk hitam (BLM; Makaira indica), lemadang (CDF; Coryphaena hippurus), ikan gindara (LEC;

Lepidocybium sp), ikan gindara berkulit duri (OIL; Ruvettus pretiosus), ikan opah (MON;

Lampris guttatus), cakalang (SKJ; Katsuwonus pelamis), bawal sabit (TST; Taractichthys steindachneri),bawal lonjong (TCR; Taractes rubescens),bawal ekor perak (EIL; Taractes rubescens), tenggiri laki (WAH; Acanthocybium solandri) dan hiu koboy (CSK; Carcharhinus

longimanus) sebagai hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis,

sedangkanikan mambo (MOX; Mola mola), ikan naga (NGA; Alepisaurus ferrox) dan pari lemer (DAV; Pteroplatytrygon violacea) sebagai hasil tangkapan yang tidak memiliki nilai ekonomis.

(4)

VI - 1129

[image:4.595.91.534.200.579.2]

dahulu hanyadimanfaatkan siripnya saja, sekarang seluruhtubuhnya dibawa sebagai hasil tangkapan sampinganyang memiliki nilai ekonomis mulai dari daging, hati,tulang, kulit dan giginya (Sudjoko, 1991). Bahkan menurut Anonim (2013) hiu memiliki kandungan giziberupa nutrisi, kalori, mineral dan vitamin. Sirip ikanhiu banyak diekspor ke Jepang dan Korea (Solihin, 2013). Tingginya hasil tangkapan sampingan yang dibuang atau tidak memiliki nilai ekonomis pada perikanan tuna longline di perairan Samudera Hindia akan mengakibatkan perubahan komposisi jenis dan ukuran serta kelimpahan sumberdaya ikan yang akan berpengaruh terhadap rantai makanan di perairan tersebut (Nugraha & Setyadji, 2013).Komposisi masing-masing hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi hasil tangkapan KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa Spesies Jumlah (ekor) Prosentase (%)

Hasil t angkapan ut ama (t arget species)

Tuna mat a besar 13 3,26

Albakora 10 2,51

M adidihang 5 1,25

Tuna sirip biru selat an 2 0,50

Hasil t angkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis (by-products)

Ikan gindara 14 3,51

Bawal sabit 14 3,51

Set uhuk hit am 8 2,01

Cakalang 5 1,25

Bawal lonjong 5 1,25

Ikan pedang 4 1,00

Set uhuk biru 3 0,75

Ikan layaran 3 0,75

Lemadang 3 0,75

Ikan opah 3 0,75

Tenggiri laki 2 0,50

Hiu koboy 1 0,25

Bawal ekor perak 1 0,25

Ikan gindara berkulit duri 1 0,25

Hasil t angkapan sampingan yang t idak memiliki nilai ekonomis (discards)

Ikan naga 239 59,90

Pari lem er 62 15,54

Ikan m ola 1 0,25

Tot al 399 100

(5)

VI - 1130

mackerel), ikan naga (lancetfish) dan pari lemer (pelagic stingray) dapat tertangkap pada setiap kedalaman mata pancing.

Ikan naga selalu ditemukan dalam hasil tangkapan sampingan rawai tuna di perairan Indonesia. Hal ini dikarenakan spesies ini mempunyai peranan penting dalam rantai makanan di perairan tersebut dimana jenis ikan ini merupakan predator pada organisme mikronekton (Romanov et al., 2008dalam Setyadji & Nugraha, 2012a) dan juga sebagai mangsa dari jenis ikan berparuh (billfish) dan tuna (Potier et al., 2007dalam Setyadji & Nugraha, 2012).

Laju Pancing (Hook Rate)

Nilai laju pancing hasil tangkapan utama di perairan Samudera Hindia dengan nilai terbesar pada setting ke 17 sebesar 0,44 dan nilai terkecil 0 pada setting ke 3, 4, 5, 8, 9, 15, 23, 25 26 dan 27. Nilai laju pancing madidihang sangat kecil yaitu antara 0 sampai 0,12, sebaliknya laju pancing albakora cukup tinggi dengan nilai berkisar antara 0 sampai 0,44.Secara umum dapat dilihat bahwa nilai laju pancing hasil tangkapan utama di perairan Samudera Hindia sangat kecil yaitu sebesar 0,06 untuk tuna mata besar, 0,04 untuk albakora, 0,02 untuk madidihang dan 0,01 untuk tuna sirip biru selatan.Sementara nilai laju pancing hasil tangkapan sampingan dengan nilai terbesar pada setting ke 8 sebesar 2,22 dan nilai terkecil pada setting ke 22 sebesar 1,15. Nilai laju pancing hasil tangkapan sampingan terbesar diperoleh ikan naga yaitu sebesar 1,01, sedangkan terkecil 0,004 diperoleh hiu koboy, bawal ekor perak, ikan gindara berkulit duri dan ikan mola. Hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan gindara dan bawal lonjong dengan nilai laju pancing sebesar 0,05, sementara hasil tangkapan sampingan yang tidak memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan naga dengan nilai laju pancing 1,01.

Nilai laju pancing yang diperoleh pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan hasil penelitian Santoso (1999) di perairan Samudera Hindia selatan Jawa dimana nilai laju pancing rata-rata yang diperoleh sebesar 0,45 untuk tuna mata besar dan 0,42 untuk madidihang. Bahkan Nugraha & Triharyuni (2009) memperoleh nilai laju pancing rata-rata hasil tangkapan utama(tuna) di Samudera Hindia sebesar0,52.Seperti diketahui bahwa laju pancing merupakan indikator kepadatan stok dan digunakan untuk mengetahui tingkat eksploitasisumberdaya perikanan di suatu perairan. Perbedaanlaju pancing rawai tuna dapat disebabkan olehperbedaan jenis umpan, teknologi alat tangkap, ukuran tonase kapal (GT) dan keterampilan anak buahkapal (ABK) (Bahar, 1987). Dengan menurunnya laju pancing tersebut merupakansalah satu indikasi berkurangnya ketersediaan tuna (Barata et al., 2011).

Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa berada pada posisi 12 – 130 LS dan 117 – 1200 BT. Posisi ini tepatnya berada di Samudera

Hindia selatan Nusa Tenggara (Gambar 2). Novianto et al. (2010) menyatakanbahwa terdapat 2 zona penangkapan ikan tunaberdasarkan posisi Pelabuhan Benoa, yaitu zona disebelah tenggara (selatan-timur) dan zona sebelahbarat daya (selatan-barat). Kapal-kapal rawai tunayang hasil tangkapan utamanya adalah fresh tuna,lebih banyak menangkap di zona selatan barat,terutama pada bulan September – Desember yangmerupakan musim penangkapan tuna. Di kawasantersebut, ikan-ikan tuna yang tertangkap juga memilikikualitas yang lebih bagus bila dibandingkan denganhasil tangkapan di sekitar perairan pantai sebelahselatan Banyuwangi, Pulau Bali hingga Sumbawa.Zona penangkapan tuna di sebelah selatan timurPelabuhan Benoa juga menjadi targetpenangkapan kapal-kapal rawai tuna. Ikan-ikan tunayang tertangkap di zona ini biasanya memiliki ukuranlebih besar (Novianto et al.,

(6)
[image:6.595.139.487.74.314.2]

VI - 1131

Gambar 2. Daerah penangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hasil tangkapan rawai tuna sebanyak 21 spesies terdiri atas hasil tangkapan utama sebanyak 4 spesies, hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis sebanyak 13 spesies dan yang tidak memiliki nilai ekonomis sebanyak 4 spesies. Hasil tangkapan utama didominasi oleh tuna mata besar dengan nilai laju pancing sebesar 0,06 dan hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan gindara dan bawal lonjong dengan nilai laju pancing sebesar 0,05, sementara hasil tangkapan sampingan yang tidak memiliki nilai ekonomis didominasi oleh ikan naga dengan nilai laju pancing 1,01.

Saran

(7)

VI - 1132

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Nutrition and Calories in Sharks. Diunduh dari http://www.calorie-counter.net/fishcalories/shark.htm.

Bahar, S. 1987. Studi Penggunaan Rawai Tuna Lapisan Perairan Dalam Untuk Menangkap TunaMata Besar (Thunnus obesus) di Perairan Barat Sumatera. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 40:51 – 63.

Barata, A. & B.I.Prisantoso. 2009. Beberapa Jenis Ikan Bawal (Angel Fish, Bramidae) yang Tertangkap dengan Rawai Tuna (Tuna Longline) di SamuderaHindia dan Aspek Penangkapannya. BAWAL. 2(5):223 – 227.

Beverly, S., Chapman, L & W. Sokimi. 2003. Horizontal Longline Fishing Methods and Techniques: A Manual for Fisherman. Multipress, Noumea, New Caledonia. 130 p. Farid, A.F., Bambang N., Fachrudin & Sugiono. 1989. Teknologi Penangkapan Ikan. INFIS

manual Seri No. 5. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.

Irianto, H.E., Wudianto, Satria, F. & Nugraha, B. 2013. Tropical Tuna Fisheries in the Indian Ocean of Indonesia. 15th Working Party Tropical Tunas IOTC. 23th – 28th October 2013,

San Sebastian, Spain.

Klawe, W.L. 1980. Long lines Catches of Tunas Within the 200 Miles Economic Zones of the Indian and Western Pasific Ocean. Dev. Rep. Indian Ocean Prog.48: 83 pp.

Novianto, D., Barata, A.& Bahtiar, A. 2010. Efektifitastali Cucut sebagai Alat Tambahan padaPengoperasian Rawai Tuna dalam PenangkapanCucut. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 16(3): 251 – 258.

Nugraha, B. & Nurdin, E. 2006. Penangkapan Tuna Dengan Menggunakan Kapal Riset M.V. SEAFDEC di Perairan Samudera Hindia. BAWAL. 1(3):95 – 105.

Nugraha, B. & Wagiyo, K. 2006. Hasil Tangkap Sampingan (By-Catch) Tuna Longline di Perairan Laut Banda. BAWAL. 1(2):71 – 75.

Nugraha, B. & Triharyuni, S. 2009. Pengaruh Suhu dan Kedalaman Mata Pancing Rawai Tuna (Tuna Longline) Terhadap Hasil Tangkapan Tuna di Samudera Hindia. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 15(3):239 – 247.

Nugraha, B. & Setyadji, B. 2013. Kebijakan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia. 5(2):67 – 71. Prisantoso, B.I., Widodo, A.A., Mahiswara & Sadiyah, L. 2010. Beberapa Jenis Hasil Tangkap

Sampingan (By-Catch) Kapal Rawai Tuna di Samudera Hindia yang Berbasis di Cilacap.

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 16(3):185 – 194.

Santoso, H. 1999. Studi Tentang Hubungan Antara Suhu dan Kedalaman Mata Pancing Terhadap Hasil Tangkapan Tuna Longline di Perairan Selatan Pulau Jawa. Tesis (tidak dipublikasikan). Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 141 pp.

Setyadji, B. & Nugraha, B. 2012a. Hasil Tangkap Sampingan (HTS) Kapal Rawai Tuna di Samudera Hindia yang Berbasis di Benoa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.

18(1):43 – 51.

Setyadji, B. & Nugraha, B. 2012b. CommonlyDiscarded Fishes in the Tuna Longline Fishery Basedin Port of Benoa, Bali.Indonesian Fisheries Research Journal. 19(1):25 – 32. Solihin, E. 2013. Perajin sirip hiu tak sanggup penuhi ekspor. Editor: Ruslan Burhani. 2 p.

Diunduh darihttp://www.antaranews.com/.

Sudjoko, B. 1991. Pemanfaatan ikan cucut.Oseana,Vol. XVI, No. 4 : 31-37. Diunduh dariwww.oseanografi.lipi.go.id

Suryadi, A. 1982. Peranan Perikanan Rawai Tuna Dalam Pengelolaan Zona Ekonomi Eksklusif 200 Mil. Fakultas Perikanan IPB. 54 pp.

(8)
(9)

Penyusun PROSI DI NG

SI M POSI UM NASI ONAL

PENGELOLAAN PERI KANAN TUNA BERKELANJUTAN Januari 2015

I SBN: 978-979-1461-47-4 @WWF-Indonesia

Layout dan Desain : M. Rustam Hatala dan M. Yusuf

Penerbit : WWF-I ndonesia

Kredit : WWF-I ndonesia

(10)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terlaksananya Simposium Nasional Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan serta selesainya penyusunan Prosiding Simposium ini. Prosiding ini terdiri dari kumpulan tulisan mengenai hasil penelitian dan makalah tentang perikanan tuna, baik tuna besar maupun tuna kecil. Prosiding ini berisi 141 tulisan terseleksi dari kurang lebih 180 tulisan yang didaftarkan.

Kegiatan Simposium Nasional dan penyusunan Prosiding ini dilaksanakan atas kerja sama WWF-Indonesia dengan Direktorat Sumber Daya Ikan, Kementerian Kelautan Perikanan, yang didukung oleh USAID (United States Agency for International Development) dan MPAG (Marine Protected Area Governance). Simposium ini diikuti oleh pemakalah dari berbagai pihak yaitu Dosen dan Mahasiswa Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, Instansi Kelautan Perikanan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Penyampaian makalah diawali oleh 7 orang ahli sebagai keynote speaker, yaitu:

1. Dr. Ir. Toni Ruchimat, M.Sc (Direktur Sumber Daya Ikan – DJPT, KKP 2012-2014) 2. Dr. Ir. Abdul Ghofar, M.Sc (Ketua Ketua Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan). 3. Drs. Agus A. Budhiman, M.Aq (Ketua Asosiasi Perikanan Pole and Line dan Handline

Indonesia dan Mantan Direktur Sumber Daya Ikan KKP).

4. Prof. Dr. Indra Jaya (Dekan dan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor).

5. Dr. Purwanto (Peneliti Indonesia Marine and Climate Support dan Mantan Kepala Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, KKP)

6. Dr. Luky Adrianto (Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut, Institut Pertanian Bogor).

7. Dr. Lida Pet-Soede (Deputy Director and Advisor for WWF-Indonesia / WWF Global Marine Program)

Apresiasi khusus kami sampaikan kepada 6 orang moderator yang memfasilitasi pemaparan makalah dan diskusi dalam simposium selama 2 hari yaitu Abdul Ghofar, Agus A. Budhiman, Indra Jaya, Purwanto, Luky Adrianto, dan Wawan Ridwan. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bekerja sama dan mendukung kegiatan ini, serta atas partisipasi semua pemakalah dan peserta. Kemudian tidak lupa permohonan maaf yang tulus atas segala kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan Simposium dan Penyusunan Prosiding. Mari kita ambil manfaat dari kegiatan ini demi terwujudnya pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di Indonesia.

Januari 2015

(11)

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

Kata Sambutan Direktur Sumber Daya Ikan – Kementerian Kelautan

Dan Perikanan ... xiii

Kata Sambutan Direktur Coral Triangle – WWF-Indonesia ... xiv

Pendahuluan ... 1

Keynote Speaker

Kebijakan Pengelolaan Perikanan Tuna di Indonesia (Toni Ruchimat) ... 4

Revitalisasi Usaha Perikanan P/L (Huhate) dalam Penangkapan Ikan Cakalang di

Flores Timur (Agus A. Budhiman) ... 5

Memperkuat Kebijakan Pengelolaan Perikanan Tuna di Indonesia ke Depan (Abdul

Ghofar) ... 16

Pengembangan Metode Pengalokasian JTB Kelompok Tuna per Provinsi dalam

Suatu WPP (Indra Jaya) ... 22

Pemodelan Skenario Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan di Indonesia

(Luky Adrianto, Suryo Kusumo dan Abdullah Habibi) ... 31

Model Pengelolaan Output Penangkapan untuk Penyesuaian terhadap Kuota

Nasional Tuna Sirip Biru Selatan (Purwanto, Lilis Sadiyah dan Fayakun Satria) ... 32

The Paradigm of The Broken Triangle - Addressing The Juvenile Tuna Issue (Lida

Pet-Soede dan Jose Ingles) ... 44

Status Stok Perikanan Tuna

Sintesis dan Summary Bagian 1

Keberlanjutan Stok Tuna-Cakalang-Tongkol (Abdul Ghofar) ... I - 46

Status Perikanan Tuna Di Samudera Hindia, Selatan Prigi – Kabupaten Trenggalek,

Jawa Timur (Irawan Muripto dan Ahmad Ripai) ... I - 53

Hasil Tangkapan dan Daerah Penangkapan Jaring Insang di Laut Cina Selatan

(Arief Wujdi dan Suwarso) ... I - 61

Hasil Tangkapan, Komposisi dan Musim Ikan Tongkol di Perairan Prigi (Arief Wujdi

(12)

iii

Studi Aspek Reproduksi Ikan Madidihang (Yellowfin Tuna), Thunnus albacares

(Bonnaterre, 1788) sebagai Dasar Pengelolaan Perikanan Tuna Yang

Berkelanjutan (Budi Wahono dan L.J.L. Lumingas) ... I - 76

Pendugaan Stok Ikan Pelagis Besar Di Perairan Enggano Bengkulu Dengan

Teknologi Akustik (Deddy Bakhtiar) ... I - 82

Laju Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan Alat Tangkap

Pole and Line di Laut Seram, Maluku (Haruna dan Early Septiningsih) ... I - 91

Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Tongkol (Auxis thazard) di Perairan Maluku Tenggara, Provinsi Maluku (Eka Anto Supeni, Erwin Tanjaya dan

Johny Dobo) ... I - 97

Distribusi dan Kelimpahan Larva Ikan Pelagis di Perairan Laut Sulawesi (Endah

Febrianty dan Wahyuni Nasution) ... I - 105

Studi tentang Hubungan antara Jumlah Umpan Hidup dengan Komposisi Hasil Tangkapan pada Perikanan Pole and Line di Perairan Laut Seram, Kabupaten

Maluku Tengah (Erwin Tanjaya) ... I - 113

Analisis Pola Musim Penangkapan Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang

Didaratkan di PPN Tamperan Pacitan, Jawa Timur (Helman Nur Yusuf) ... I - 120

Strategi Operasi Penangkapan Perikanan Tuna Skala Usaha Kecil di Perairan

Samudera Hindia (Hufiadi dan Mahiswara) ... I - 128

Aspek Biologi, Alat, Daerah dan Struktur Tangkapan Ikan Madidihang (Thunnus

albacares) di Perairan Sangihe (Karsono Wagiyo) ... I - 139

Analisis Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) pada Daerah Penangkapan dengan Menggunakan Rumpon dan Tanpa Rumpon di

Perairan Barat Laut Banda (Husair, Muslim Tadjuddah, Abdullah, La Anadi,

Ahmad Mustafa,Hasnia Arami) ... I - 148

Kajian Awal Reproduksi Tuna Sirip Kuning dan Cakalang yang Tertangkap di Perairan Nusa Tenggara Timur (Ovie Ningsih, Wilson L. Tisera, Welma Pesulima,

Johanis W. Kiuk, dan Fanny I. Ginzel) ... I - 162

Studi Potensi dan Tingkat Pemnfaatan Tuna di Perairan Manokwari (Paulus Boli,

Fanny Simatauw, Emmanuel Manangkalangi, dan Nurhani Widiastuti) ... I - 168

Perikanan Cakalang dan Tuna di Teluk Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi

(Pelita Octorina dan Neneng Nurbaeti) ... I - 177

Trend Ukuran First Maturity Length Tuna Yellowfin di Samudera Pasifik dan Hindia

(Muhammad Yusuf) ... I - 185

Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Perairan Selat Malaka, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Rina D’Rita

(13)

iv

Estimasi dan Validasi Potensi Ikan Tuna pada Wilayah Pengelolaan Perikanan- Republik Indonesia (WPP-RI) 715 Menggunakan Data INDESO Project (Rizky

Hanintyo) ... I - 195

Kajian Biologi Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Laut

Flores, Sulawesi Selatan (Warda Susaniati, Achmar Mallawa dan Faisal Amir) ... I - 207

Struktur Ukuran Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) yang Tertangkap di WPP

713 dan 573 ... I - 220

Penggunaan Kalender Migrasi Tuna dalam Rangka Mengoptimalkan Pengelolaan Informasi Stok Guna Menuju Perikanan Tuna Indonesia yang Berkelanjutan (Yusri

Maesaroh) ... I - 226

Harvest Control Rules

Sintesis dan Summary Bagian 2

Pengendalian Penangkapan Tuna (Purwanto) ... II - 235

Vulnerability Asssessment of Tunas Fisheries in Northern (Bitung) and Southern (Pelabuhanratu and Malang) Indonesia: Based on MSC Approach (Yonvitner,

Maskur Tamanyira dan Abdullah Habibi) ... II - 241

Analisis Tangkapan Sampingan Hiu pada Alat Tangkap Rawai Tuna di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik (Dwi Ariyogagautama, Imam Musthofa Z. dan Teguh

Prawira) ... II - 254

Harvest Control Rule dalam Mendukung Pengelolaan Perikanan Umpan yang Berkelanjutan di Flores Timur (Saraswati Adityarini, Abdullah Habibi, Imam

Syuhada, dan Adrian Damora) ... II - 262

Daya Dukung Tingkat Pemanfaatan Stok Ikan Teri Merah (Encrasicholina

heteroloba) dalam Mendukung Perikanan Tuna Cakalang (O.T.S. Ongkers) ... II - 271

Distribusi Laju Pancing dan Ukuran Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) yang Tertangkap Rawai Tuna di Samudera Hindia Bagian Timur (Arief Wujdi, Ririk

Kartika Sulistyaningsih dan Fathur Rochman) ... II - 290

Identifikasi Status Konservasi Hiu Tangkapan Samping di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pulau Bangka dan Belitung (Ardiansyah Kurniawan, Muhammad Fajar,

Ilhafuroihan Apriliazmi dan Aditya Nugraha) ... II - 297

Ukuran Layak Tangkap dan Dinamika Temporal Ikan Cakalang di Laut Banda dan Sekitarnya, Provinsi Maluku (Welem Waileruny, Delly Dominggas

Paulina Matrutty) ... II - 309

Hasil Tangkapan Sampingan (Bycatch) Perikanan Tuna di Provinsi Nusa Tenggara

Barat (Juhrin, Irwan Maulana dan Nurliah Buhari) ... II - 317

Ikhtisar Hasil Tangkapan Sampingan dan Terbuang dari Armada Perikanan Rawai

(14)

v

Struktur Ukuran Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Ambon dan

Implikasinya Bagi Pengelolaan (Augy Syahailatua dan La Pay) ... II - 325

Tingkat Keramahan Lingkungan Alat Penangkap Ikan Tongkol Abu-Abu (Thunnus tonggol) di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong Indramayu, Jawa Barat

(Lantun Paradhita Dewanti, Dulmiad Iriana, Junianto, dan Alexander M. Khan) ... II - 330

Hubungan Panjang Bobot dan Struktur Ukuran Ikan Madidihang (Thunnus

albacares) di Perairan Laut Banda (Umi Chodrijah) ... II - 341

Analisis Kenaikan Rata-Rata Incidental Catch pada Rawai Tuna di PPS Bungus

(Hanityo Adi Nugroho) ... II - 349

Kondisi Stok Ikan Tongkol Euthynnus affinis (Cantor, 1849) Di Perairan Prigi Kabupaten Trenggalek dan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP 573) Sub Area

Jawa Timur (Tri JokoLelono) ... II - 353

Kematangan Gonad dan Ukuran Layak Tangkap Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Samudera Hindia Bagian Timur (Prawira A.R.P. Tampubolon, Irwan

Jatmiko, Hety Hartaty,dan Andi Bahtiar) ... II - 362

Estimasi Potensi Produksi Tuna Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Kepala Burung Pulau Papua (Studi Kasus pada Daerah Fishing Ground Nelayan Kabupaten dan Kota Sorong serta Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat (Alianto,

Hendri dan S. Manaf) ... II - 370

Potensi Reproduksi Tuna Madidihang Thunnus albacares di Selat Makassar (Wayan

Kantun, Syamsu Alam Ali, Achmar Mallawa dan Ambo Tuwo) ... II - 376

Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Tuna Menggunakan Pancing Rumpon di Samudera

Hindia Selatan Pelabuhanratu ... II - 390

Dinamika Pemanfaatan Madidihang (Thunnus albacares, Bonnaterre, 1788) Hasil Pendaratan PPN Prigi, Jawa Timur (Hilmy Yashar Febriansyah, Yonvitner,

Achmad Fachrudin) ... II - 399

Laju Degradasi Sumber Daya Ikan Tongkol Abu-Abu (Thunnus tonggol) di Perairan Pantura Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (Lugas Lukmanul Hakim dan Rega

Permana) ... II - 407

Implementasi I-FISH pada Perikanan Pancing Tuna Berbasis Labuhan Lombok,

Nusa Tenggara Barat (M. Badrudin dan M. Lutfi) ... II - 417

Struktur Populasi Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) di Kepulauan Indo-Malaya: Analisis Control Region, DNA Mitokondria (Ni Putu Dian Pertiwi, Andrianus Sembiring, Angka Mahardini, Ni Kadek Dita Cahyani, Aji Wahyu Anggoro, Budi

Nugraha, Ririk Kartika Sulistyaningsih, Irwan Jatmiko, dan IGNK Mahardika) ... II - 438

Analisis Kebiasaan Ikan Hiu yang Tertangkap sebagai Bycatch pada Penangkapan Ikan Tongkol Menggunakan Alat Tangkap Gill Net di Kabupaten Indramayu, Jawa

(15)

vi

Sebaran Ukuran, Pola Pertumbuhan dan Produksi Tangkapan Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares Bonnterre, 1788) di Perairan Barat Sumatera,

Indonesia (Vany Helsa Anwar, Indra Junaidi Zakaria dan Toufan Phardana) ... II - 459

Proporsi Hasil Tangkapan Tuna Madidihang (Thunnus albacares) pada Perikanan Pukat Cincin di Samudera Hindia: Studi Kasus Kapal INKA MINA 27 di Pacitan

(Wahyuni Nasution, Mahiswara dan Helman Nur Yusuf) ... II - 465

Model Dinamis Pemanfaatan Berkelanjutan Sumberdaya Perikanan Cakalang di Laut Banda dan Sekitarnya, Provinsi Maluku (Welem Waileruny, Eko Sri Wiyono,

Sugeng Hari Wisudo, Tri Wiji Nuraini, dan Ari Purbayanto) ... II - 474

Distribusi Ukuran Tangkap untuk Penentuan Selektivitas Alat Tangkap Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573 (Yoke Hany

Restiangsih, Tegoeh Noegroho, Umi Chodrijah, dan Endah Febrianty) ... II - 484

Peran Longline dalam Meningkatkan Hasil Tangkapan Ikan Tuna Mata Besar:

Mungkinkah Memicu Gejala Overfishing di Laut Palabuhanratu? (Warsono El Kiyat) II - 495

Perkembangan Teknologi dan Armada Tangkap Perikanan Tuna Yang Berkelanjutan

Sintesis dan Summary Bagian 3

Teknologi dan Observasi Penangkapan Tuna-Tongkol-Cakalang

(Indra Jaya) ... III - 506

Sebaran Tuna dan Suhu Perairan pada Musim Timur dan Barat Berdasarkan Data Hasil Tangkapan dan ARGO FLOAT di Samudera Hindia (Roy Kurniawan, Agus

Hartoko dan Suradi Wijaya) ... III - 511

Pola Produksi Ikan Pelagis Besar (Tongkol, Cakalang, Tuna) Menggunakan Pancing Ulur di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Alfa F.P. Nelwan, Mukti Zainuddin dan

Muh. Kurnia) ... III - 520

Keterkaitan Antara Dinamika Perikanan Cakalang dan Dinamika Oseanografi di Perairan Barat dan Selatan Provinsi Maluku Utara (Amirul Karman, Sulaeman

Martasuganda, M. Fedi A. Sondita, dan Mulyono S. Baskoro) ... III - 532

Disain Kapal Ikan Tuna Long Line Berdasarkan Hook Rate (Sunardi dan Achmad

Baidowi) ... III - 550

Stabilitas Beberapa Kapal Tuna Longline di Indonesia (Yopi Novita dan Budhi

Hascaryo Iskandar) ... III - 555

Studi Tingkah Laku Ikan Madidihang (Thunnus albacares) terhadap Aktifitas Makan

(Wahyudi Prawiro, Priyanto Rahardjo, Abdul Rahman, dan Syarif Syamsudin) ... III - 564

Penentuan Karakteristik Hotspot Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Teluk Bone (Ady Jufri, Mukti Zainuddin, Muhammad Anshar Amran,

(16)

vii

Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Aspek Biologi Cakalang (Katsuwonus pelamis) Hasil Tangkapan Huhate di Bitung (Agus Setiyawan, A. Anung Widodo dan Candra

Nainggolan) ... III - 581

Perekayasaan Rumpon Pertengahan untuk Penangkapan Ikan Pelagis Besar di

Perairan Selatan Jawa (Agus Suryadi dan Tri Wahyu Wibowo) ... III - 589

Influence of Temperature on Tuna Catched in East Flores, East Nusa Tenggara Province, Indonesia (Alfed Kase, Wilson L. Tisera, Johanis W. Kiuk, Welma

Pesulima, Ovie Ningsih, dan Maria R. Naguit) ... III - 598

Kajian Daerah Penangkapan Potensial Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dan Tongkol (Euthynnus affinis) Menggunakan Analisis Spasial di Perairan

Pelabuhanratu (Amanatul Fadhilah, Agus Hartoko dan Max R. Muskananfola) ... III - 606

Pemetaan Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a untuk Menentukan Fishing Ground Potensial (Tuna) Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh pada Musim

Timur di Selat Bali (Ari Soebekti, Agus Adinugroho S. dan Alfi Satriadi) ... III - 618

Efektifitas Penggunaan AFD (Attractors Fish Depth) sebagai Alat Bantu Penangkapan Ikan Tuna yang Ramah Lingkungan di Wilayah Perairan Selatan Jawa, Sendang Biru

Malang (Donny Dwi Ari Prayoga dan Sembadhani Bayu) ... III - 628

Pemetaan Kelayakan Zona Potensi Penangkapan Ikan Cakalang Bagi Unit Penangkapan Pole and Line di Perairan Teluk Bone (Fitri Indahyani, Mukti

Zainuddin dan Aisjah Farhum) ... III - 637

Analisis Hubungan Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a Data Satelit MODIS dan SUB-

SURFACE TEMPERATURE Data ARGO FLOAT Terhadap Hasil Tangkapan Tuna

di Samudera Hindia (Geetruidha Adelheid Latumeten, Agus Hartoko dan Frida

Purwanti) ... III - 644

Studi Parameter Lingkungan Perairan Tuna Madidihang (Thunnus albacares) di Gondol, Bali (Makhzanil Asywaq, Priyanto Rahardjo, Basuki Rachmad, dan Dadan

Zulkifli) ... III - 655

Cedera dan Praktek Keselamatan Kerja pada Perikanan Tuna Skala Kecil di Perairan Selatan Sulawesi Tenggara (N. Alimina, B. Wiryawan, D.R. Monintja, T.W. Nurani,

dan A.A. Taurusman) ... III - 663

Hubungan Ukuran Ikan Terhadap Jangkauan Penglihatan Pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Hasil Tangkapan Alat Tangkap Pancing (Handline) di Pulau

Bawean, Kabupaten Gresik (R. Adi Kurniawan dan Fuad) ... III - 673

Kajian Produktivitas Alat Tangkap Tuna Longline di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus, Sumatera Barat (Lantun Paradhita Dewanti, Alexander M.A. Khan,

Dulmiad Iriana, Sriati, dan Rita Rostika) ... III - 682

Palca Wave Energy As Electric Convertion (PW GASCIN) Inovasi Energi Alternatif

(17)

viii

Konstruksi dan Produktivitas Rumpon Portable Tuna di Perairan Palabuhanratu,

Jawa Barat (Roza Yusfiandayani, Indra Jaya dan Mulyono S. Baskoro) ... III - 698

Teknik Penangkapan Tuna (Thunnus sp.) Menggunakan Pancing Ulur dengan Kapal Latih KM. COELACANTH di Perairan Maluku (Samuel Hamel, Saeful A. Tauladani,

Karyanto, Frangky Darondo, M, Zainul Arifin, dan Peggy Pontoh) ... III - 712

Deskripsi Daerah Penangkapan Pancing Ulur dan Hubungannya dengan Faktor Oseanografi yang Berpangkalan di Kabupaten Majene (Sudarman, Mukti Zainuddin

dan Alfa F.P. Nelwan) ... III - 718

Penggunaan Jaket Tuna pada Penangkapan Tuna dengan Pancing Ulur di Perairan

Palabuhanratu (Ambar Prihartini dan Suwardiyono) ... III - 728

Pemetaan Sebaran Klorofil-A Citra Satelit Aqua Modis untuk Pendugaan Daerah Penangkapan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Berdasarkan Hasil Tangkapan

Purse Seine di Sumatera Barat (T. Ersti Yulika Sari, Usman dan

Farian Sukandi) ... III - 736

Strategi Pemanfaatan Rumpon pada Perikanan Tuna Skala Kecil di Sulawesi Utara (Widhya Nugroho Satrioajie, Evert de Froe, Paul van Zwieten, Sam Wouthuyzen,

dan Adriaan Rijnsdorp) ... III - 744

Pasar Perikanan Tuna yang Berkelanjutan dan Berkeadilan

Sintesis dan Summary Bagian 4-5

Ekonomi dan Bisnis Tuna-Tongkol-Cakalang (Agus A. Budhiman) ... IV - 754

Komoditi Perikanan Tuna, Tongkol dan Cakalang dalam Menunjang Industri di

Provinsi Sumatera Barat (Eni Kamal) ... IV - 760

Penyiapan Sistem Ekolabel Tuna Skema LEI Ekolabel Tuna, Trend Pasar dan Daya

Saing (Fadil Nandila dan Diah Suradiredja) ... IV - 770

Pendekatan Bioekonomi Multispesies untuk Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Indonesia: Evaluasi Perikanan Tuna di PPN Palabuhanratu, Sukabumi,

Jawa Barat (Nimmi Zulbainarni dan Ade Imam Purnama) ... IV - 774

Analisis Efisiensi Usaha Penangkapan Tuna Berkelanjutan (Studi di Sendang Biru,

Kabupaten Malang, Jawa Timur) (Anthon Efani) ... IV - 790

Kajian Bioekonomi Ikan Cakalang (Thunnus sp.) di Provinsi Maluku Utara

(Mutmainnah) ... IV - 779

Perilaku Ekonomi Nelayan Ikan Tuna dalam Kerangka Industrialisasi Perikanan

(Arif Rachman) ... IV - 810

Rancangan Sistem Dokumen Berbasis Komputerisasi untuk Penerapan Program

Traceability di Industri Pengolahan Tuna Loin Beku (Bambang Riyanto, Wini

(18)

ix

Keuntungan, Kelestarian dan Harmoni Tuna (Studi Kasus di Sendang Biru, Malang)

(M. Zainal Fanani dan Muhammad Zainal Arifin) ... IV - 832

Struktur dan Stabilitas Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tradisional Penangkap

Tuna di Indonesia (Studi Kasus Nelayan di Kabupaten Malang dan Kota Bitung) ... IV - 844

Penerapan Palka Ikan Berinsulasi pada Perahu Motor Nelayan Penangkapan Ikan

Tuna di Maluku (Muhammad Najib) ... IV - 853

Pengawasan Lalu Lintas Tuna Tongkol Cakalang (TTC) melalui Pendekatan

Sertifikasi di Kota Palu (Muhammad Zamrud) ... IV - 862

Upaya Budidaya Bandeng Umpan di Kabupaten Pesisir Selatan - Sumatera Barat

(Nofrin Yani dan Meriussoni Zai) ... IV - 868

Strategi Sistem Penanganan Ikan Tuna Segar yang Baik di Kapal Nelayan Handline

PPI Donggala (Normawati K. Mboto, Tri Wiji Nurani, Sugeng H. Wisudo, dan

Mustaruddin) ... IV - 876

Penerapan Traceability Pemasaran Tuna dan Mendukung Sistem Logistik Ikan

Nasional (SLIN) (Novia Nurul Afiyah, Trio Budi Setyawan dan Miftachul Huda) ... IV - 885

Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan Tuna : Studi Kasus Nelayan Tuna di Dusun Wuring,

Flores, Nusa Tenggara Timur (Nurlaili) ... IV - 890

Pemasaran Ikan Cakalang di Dermaga Beba Desa Tamasaju, Kacamatan Galut,

Kabupaten Takalar (Nurliati Maria) ... IV - 900

Subsidi “Rumpon Tuna” Untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Nelayan Tuna Skala Kecil (Sebuah Usulan Kebijakan) (Rizki Aprilian Wijaya dan Andrian

Ramadhan) ... IV - 912

Histamin dan Identifikasi Bakteri Pembentuk Histamin Pada Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) (Stevy Imelda Murniati Wodi, Wini Trilaksani dan

Mala Nurilmala) ... IV - 169

Pengoptimalan Pengolahan Limbah Ikan Tuna (Thunnus atlanticus) sebagai Bahan

Makanan Pendamping (Bubur) ... IV - 177

Pengolahan Limbah Kulit Tuna Industri Fillet menjadi Produk Fashion sebagai

Upaya Peningkatan Daya Saing Perikanan Nasional (Putu Ary Dharmayanti) ... IV - 992

Persyaratan dan Resolusi Perikanan Tuna Internasional

Kepentingan Indonesia Bergabung dalam Regional Fisheries Management

Organization (Ainnur Rochmatin Fitriana) ... V - 944

Politik Hukum Pengelolaan Perikanan Tuna Di Laut Lepas Oleh RFMO (Akhmad

(19)

x

Kajian Implementasi Traceability Berbasis Standar ISO 28000 pada Rantai Pasok Tuna Beku di Jakarta (Wini Trilaksani, Bambang Riyanto dan

Bayu Ardy Kresna) ... V - 962

Perdagangan Perikanan Tuna yang Berkelanjutan (Sadarma Suhaim Saragih) ... V - 976

Konsekuensi Hukum Penerapan Aturan RFMO pada Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Tuna di Indonesia (Bayu Vita Indah Yanti dan Catur

Wulandari) ... V - 987

Analisis Kebijakan dan Pengelolaan Perikanan Tuna Indonesia yang Berkelanjutan

dalam Menghadapi Tantangan Pasar Global (Indra Lesmana) ... V - 994

Kebiijakan Dan Pengelolaan Tuna Yang Berkelanjutan

Sintesis dan Summary Bagian 6

Kebijakan dan Pengelolaan Perikanan Tuna-Tongkol-Cakalang

(Luky Adrianto) ... VI - 1004

Evaluasi Pengelolaan Rumpon Tuna (Thunnus albacares) dan Cakalang (Katsuwonus

pelamis) yang Ramah Lingkungan (Priyanto Rahardjo dan Aris Widagdo) ... VI - 1012

Status Pengelolaan Perikanan Tuna dengan Pendekatan Ekosistem di Nusa Tenggara Barat (Nurliah Buhari, Sitti Hilyana, Ayu Adhita Damayanti, Rovina Andriani, dan

Muhammad Masyarul Rusdani) ... VI - 1017

Penilaian Indikator EAFM untuk Perikanan Tuna Indonesia (Aris Widagdo, Priyanto

Rahardjo, Toni Ruchimat, Purwito, Luky Adrianto, dan Abdullah Habibi) ... VI - 1025

Pengontrolan Perikanan Tuna di Wilayah Indonesia dengan Metode Linear Program

(Destyariani Liana Putri dan Widi A. Pratikto) ... VI - 1032

Kebijakan Penataan Rumpon dan Armada Pukat Cincin di Indonesia (Arifsyah M.

Nasution) ... VI - 1040

Peringatan Dini Terhadap Status Ikan Tuna Berdasarkan Data Lalu Lintas Pengiriman Tuna Melalui Pintu Bandara dan Pelabuhan di Kendari,

Sulawesi Tenggara (Abdul Rachman) ... VI - 1047

Revitalisasi Perikanan Tangkap Di Sumatera Barat dalam Rangka Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Tuna Berkelanjutan di Samudera Hindia

(Alfian Zein) ... VI - 1056

Manajemen Adaptif (Adaptive Management): Strategi Pengelolaan Tuna yang

Berkelanjutan (Anwar Syarif) ... VI - 1063

Potensi dan Pemanfaatan Ikan Tongkol Krai (Auxis thazard) di Perairan Selat Malaka,

(20)

xi

Potensi Lahan Untuk Usaha Perikanan Budi Daya Ikan Tuna di Perairan Pulau Nain Kabupaten Minahasa Utara (Edwin L.A. Ngangi, Isrojati J. Paransa dan Indri S.

Manembu) ... VI - 1079

Distribusi dan Jarak Pemasangan Rumpon Laut Dalam dalam Upaya Pengelolaan Perikanan Tuna yang Berkelanjutan (Studi Kasus di Kendari, Maumere, Ambon dan Pelabuhan Ratu) (Ignatius Tri Hargiyatno, Regi Fiji Anggawangsa, Andrias S.

Samusamu, dan Agustinus A. Widodo) ... VI - 1085

Permasalahan Pengelolahan Perikanan Tuna Berkelanjutan di Perairan Pesisir

Utara Provinsi Papua (John D. Kalor) ... VI - 1091

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kondisi Oseanografi dan Laju Tangkap Tuna Mata Besar (Thunnus obesus) di Samudra Hindia Bagian Timur (Jonson Lumban

Gaol I Wayan Nurjaya dan Khairul Amri) ... VI - 1099

Analisis Kebijakan Terhadap Pengelolaan Kelautan dan Perikanan Tuna di Provinsi

Sumatera Barat (Lengga Pradipta) ... VI - 1108

Reorientasi Pengelolaan Perikanan Tuna dalam Pembangunan Nasional

(Muh. Ishaq Hasan) ... VI - 1118

Komposisi Hasil Tangkapan dan Laju Pancing Rawai Tuna yang Berbasis di

Pelabuhan Benoa (Mulyono S. Baskoro, Budi Nugraha dan Budy Wiryawan) ... VI - 1126

Pengelolaan Perikanan Madidihang Studi Kasus Pancing Ulur di Laut Maluku yang

Berbasis di Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Novie Wijaya) ... VI - 1143

Sero Alat Tangkap Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Ramah Lingkungan dan

Berkelanjutan serta Kearifan Lokal Suku Bajo (Parman) ... VI - 1149

Keberlanjutan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Pelagis (Layang, Tongkol dan

Cakalang) pada WPP 716 Nelayan Lokal Soma Pajeko Teluk Labuan Uki, Kabupaten

Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara (Ridwan Lasabuda) ... VI - 1155

Kinerja Alat Tangkap Berdasarkan Kriteria Ramah Lingkungan pada Perikanan Tuna Usaha Skala Kecil di Perairan Selatan Jawa (Tegoeh Noegroho, Mahiswara dan

Hufiadi) ... VI - 1164

Pemanfaatan Tuna Neritik Dengan Alat Tangkap Payang di Perairan Palabuhanratu

Samudera Hindia (Thomas Hidayat dan Tegoeh Noegroho) ... VI - 1176

Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tuna (Mata Besar/Thunus obesus

dan Sirip Kuning/Thunus albacares) yang Berkelanjutan di Kota Padang (Tomi

Ramadona) ... VI - 1183

Optimalisasi Pengelolaan Perikanan Tuna (Thunnus spp.) Berkelanjutan Berbasis Penerapan LAC (Limit of Acceptable Change) di Perairan Selatan Sendang Biru,

(21)

xii

Hasil Tangkapan Ikan Tuna pada Perikanan Pancing Tonda dengan Menggunakan Alat Bantu Rumpon di Perairan Samudera Hindia Selatan Jawa (Tri Wiji Nurani, Sugeng Hari Wisudo, Prihatin Ika Wahyuningrum, Risti Endriani Arhatin, dan

Didin Komarudin) ... VI - 1200

Profil Perikanan Tuna di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Wilson L. Tisera, Johanis W. Kiuk, Welma Pesulima, Ovie Ningsih,

Maria R. Naguit) ... VI - 1209

Clusterisasi Migrasi Ikan Tuna, Tongkol dan Cakalang di Teluk Bone dan Peran

Daerah dalam Pengelolaan Berkelanjutan (Yusli Sandi) ... VI - 1218

Kajian Musim Penangkapan Ikan Tuna di Perairan Laut Bengkulu

(Dede Hartono) ... VI – 1232

Status Keberlanjutan Perikanan Tuna Madidihang (Thunnus albacares) Di

Teluk Tomini Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo (Zulkifli Arsalam MoO) ... VI – 1238

Penutup

(22)

xiii

KATA SAMBUTAN

DIREKTUR SUMBER DAYA IKAN – KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Syukur Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas terbitnya Prosiding Simposium Nasional Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan. Prosiding ini merupakan kumpulan tulisan yang terpilih dalam Simposium Nasional, yang telah terlaksana pada tanggal 10-11 Desember 2014. Simposium Nasional tersebut dilaksanakan atas kerja sama antara Direktorat Sumber Daya Ikan (SDI) – Dirjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan WWF-Indonesia. Atas nama jajaran Direktorat SDI-KKP, saya mengucapkan terima kasih kepada WWF-Indonesia atas kerja sama ini.

Kegiatan simposium dan prosiding perikanan tuna ini merupakan salah satu kebutuhan untuk referensi kita dalam melakukan pengelolaan perikanan tuna secara berkelanjutan. Indonesia merupakan salah satu negara penting secara global dalam perikanan tuna. Pada tahun 2010-2013, rata-rata produksi tahunan Indonesia mencakup tuna dan neritik tuna mencapai 1,1 juta ton/tahun. Pasar ekspor yang potensial untuk Indonesia meliputi Jepang, Amerika, dan beberapa negara di Uni Eropa. Hal tersebut menjadikan Indonesia termasuk lima besar negara utama produsen tuna di dunia.

Jenis-jenis tuna merupakan spesies yang beruaya jauh, yang pengelolaanya merupakan pengelolaan bersama, lintas daerah, provinsi dan bahkan lintas negara. Indonesia dianugerahi perairan yang menjadi habitat penting dan kritis bagi tuna. Untuk itulah Indonesia harus bisa mengemban tanggungjawab tersebut untuk mengelola tuna dengan baik. Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi perikanan tuna di Indonesia, seperti aspek pengelolaan, sumber daya, teknologi, hingga aspek data dan informasi. Hal tersebut hendaknya dapat dikelola dengan baik untuk mendukung keberlanjutan stok sumberdaya tuna guna mendukung kelangsungan usaha, serta bisnis tuna Indonesia. Perkembangan dan kecenderungan permintaan pasar akan produk tuna yang ramah lingkungan pun menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.

Prosiding Simposium Nasional Perikanan Tuna ini, diharapkan dapat menghadirkan informasi-informasi ilmiah terkini untuk menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan pengelolaan perikanan tuna di Indonesia. Penelitian yang telah dilaksanakan dan dipublikasikan telah menunjukkan komitmen dan keinginan berbuat sesuatu yang lebih baik untuk pengelolaan perikanan tuna di Indonesia secara bijak, demi keberlanjutan stok sumber daya perikanan tuna di perairan laut Indonesia, untuk kesejahteraan nelayan, dan seluruh masyarakat, serta bangsa Indonesia secara keseluruhan. Saya sebagai Direktur SDI, memberikan apresiasi atas terbitnya prosiding ini yang memuat tulisan mengenai pengelolaan perikanan tuna di Indonesia dari berbagai kalangan peneliti dan praktisi perikanan tuna. Semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari prosiding ini.

Terima kasih kepada WWF-Indonesia yang telah memfasilitasi pelaksanaan Simposium dan penerbitan Prosiding ini, serta semua pihak yang telah terlibat, serta telah mendukung Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia selama ini. Kementerian Kelautan dan Perikanan akan selalu berkomitmen dan bertanggung jawab, serta menjadi yang terdepan dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Jakarta, Januari 2015

(23)

xiv

KATA SAMBUTAN

DIREKTUR CORAL TRIANGLE – WWF-INDONESIA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan bimbingan yang telah diberikan kepada kita semua khususnya yang secara langsung terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan “Simposium Nasional Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan” dari mulai persiapan, pelaksanaan, hingga tersusunnya prosiding ini. Pada kesempatan ini sekali lagi saya informasikan bahwa kegiatan simposium yang diselenggarakan pada tanggal 10-11 Desember 2014 di Hotel Mercure, Bali ini telah terselenggara dengan baik melalui kerja sama antara Direktorat Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan WWF-Indonesia. Penyelenggaraan simposium ini bertujuan untuk mendapatkan kajian terbaru terkait perikanan tuna, cakalang dan tongkol di Indonesia, serta memberikan rekomendasi bagi perbaikan kebijakan dan pengelolaan perikanan tuna, cakalang dan tongkol di Indonesia.

Melihat banyaknya para pihak yang tertarik dan terlibat aktif dalam simposium ini, terutama dari para peneliti muda, maka WWF berkeinginan agar simposium tentang tuna ini dapat dilakukan secara reguler minimum 2 tahun sekali agar aspek-aspek yang yang mempengaruhi dan harus dipertimbangkan dalam upaya perbaikan pengelolaan perikanan tuna Indonesia seperti aspek ekologi, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan dapat terus diperbaharui (di-update). WWF-Indonesia sangat bangga telah dapat menyelenggarakan simposium ini dalam skala nasional yang bisa menghadirkan lebih dari 200 orang peneliti dengan 141 makalah telah dipresentasikan. Makalah-makalah tersebut disentesis dengan cermat oleh para ahli dibidangnya, yaitu: 1) Dr. Abdul Ghofar, 2) Drs. Agus A. Budhiman,M.Aq 3) Prof. Dr. Indra Jaya, 4) Dr. Purwanto, dan 5) Dr. Luky Adrianto, kemudian dirangkum dalam bentuk Prosiding ini.

Pada kesempatan ini, perkenankan saya atas nama WWF-Indonesia mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tinggi kepada Direktur Sumber Daya Ikan Bapak Dr. Ir. Toni Ruchimat, dan Bapak Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Ikan ZEE Bapak Saut Tampubolon, S.Sos, MM, beserta staf yang telah mendukung sepenuhnya atas penyelenggaraan simposium ini. Ucapan yang sama saya sampaikan pula kepada para Narasumber yang sekaligus juga menjadi Moderator dan Reviewer hasil-hasil simposium hingga menjadi sebuah prosiding yang lengkap. Ucapapan terima kasih juga disampaikan kepada semua Pemakalah dan peserta seluruhnya atas partisipasi aktif dalam simposium ini disertai iringan doa semoga sumbangsih ilmu pengetahuan yang telah dikonstribusikan dalam simposium ini menjadi bukti dharma bakti bagi perbaikan pengelolaan perikanan tuna Indonesia dan juga sebagai wujud amal Ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan ini pula saya memberikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada seluruh panitia dan staf WWF yang telah bekerja keras dalam seluruh rangkaian penyelenggaraan simposium ini hingga tersusunnya prosiding ini.

Akhirnya saya ingin menyampaikan semoga Prosiding ini bermanfaat dan menambah pustaka kita semua. Amiin

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, Januari 2015

(24)

xv

PENDAHULUAN

Spesies tuna yang banyak tertangkap di perairan laut Indonesia setidaknya ada 8 yang memiliki nilai ekonomis penting. Ke-8 jenis ini terdiri dari jenis tuna besar yaitu sirip kuning atau madidihang (Thunnus albacares), mata besar (Thunnus obesus), sirip biru selatan (Thunnus maccoyii), dan albakor (Thunnus alalunga). Dan tuna kecil, yaitu cakalang (Katsuwonus pelamis), tongkol komo (Euthynnus affinis), tongkol krai (Auxis thazard), dan tongkol abu-abu (Thunnus tonggol). Sumber daya perikanan tuna merupakan salah satu komoditi andalan perikanan di Indonesia dan telah menjadi primadona perdagangan di pasar internasional.

Pada tahun 2012, lebih dari satu juta ton ikan tuna ditangkap di Indonesia, dan sebagian besar diekspor ke berbagai tujuan negara utama pembeli tuna, seperti Jepang, Amerika, China, dan beberapa negara di Uni Eropa. Nilai ekspornya pun menghampiri 4 triliun rupiah (Statistik Perikanan Tangkap, 2013; Statistik Ekspor Perikanan, 2012). Hal tersebut menjadikan Indonesia termasuk lima besar negara utama produsen tuna di dunia. Dan secara global, Indonesia merupakan negara produsen perikanan terbesar kedua setelah China, dengan produksi perikanan sebesar hampir 5,5 juta Ton pada tahun 2011, atau 6,8% dari produksi perikanan dunia (FOA Capture Fisheries Statistic, 2012). Namun, pada satu dekade terakhir terjadi penurunan trendline, baik di Indonesia maupun secara global. Peningkatan produksi tangkapan juga tidak setinggi dekade sebelumnya. Tahun 2015 ini, FAO merilis bahwa 29% stok perikanan telah mengalami over fishing atau tangkap lebih, termasuk stok ikan tuna.

Sejak penangkapan tuna dimulai di Indonesia pada tahun 1960-an, sampai penangkapan secara besar-besaran di Indonesia sekitar tahun 1980-an, ada kecenderungan peningkatan produksi hasil tangkapan tuna. Kemudian pada satu dekade terakhir, terjadi penurunan

trendline, dimana peningkatan produksi tangkapan tidak setinggi dekade sebelumnya. CPUE (Catch per Unit Effort) ikan tuna juga mengalami fluktuasi yang menyebabkan beberapa armada perusahaan perikanan tuna tidak mengoperasikan sebagian kapalnya kerena tidak ekonomis lagi. Pergeseran lokasi penangkapan juga menjadi indikasi stok sumber daya perikanan tuna tidak stabil lagi pada beberapa lokasi di Indonesia. Hasil survey WWF-Indonesia dalam rentang tahun 2009-2014 menunjukkan bahwa umumnya perusahaan perikanan tuna di pelabuhan besar di Indonesia seperti Muara Baru Jakarta, Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Samudera Indonesia Kendari, Sendang Biru Jawa Timur, Bitung Manado, Ambon, telah mengurangi armada penangkapan ikannya karena biaya operasional semakin tinggi sementara hasil tangkapan tuna semakin turun.

Ada banyak permasalahan yang dihadapi perikanan tuna di Indonesia, misalnya saja dari aspek pengelolaan (mis. penerapan kebijakan dan penegakan aturan serta kelembagaan pengelolaan), aspek sumber daya (mis. overfishing dan overcapacity, penangkapan juvenile

(25)

xvi

Seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran sebagian besar pihak dalam pengelolaan perikanan tuna, khususnya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan Perikanan, kalangan akademisi, swasta, dan LSM juga semakin menunjukkan perannya dalam pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan di Indonesia. Beberapa stakeholder berperan cukup signifikan baik dalam konsep pengelolaan perikanan tuna, maupun secara praktis para tingkat pengusaha dan nelayan. Dalam hal pengelolaan perikanan tuna di Indonesia, pemerintah dan semua stakeholder, salah satunya adalah dengan menyediakan data terbaik untuk kebutuhan pengelolaan dan pengambilan keputusan atau penetapan kebijakan. Pelaksanaan Simposium Nasional Pengelolan Perikanan Tuna Berkelanjutan ini merupakan wujud nyata dalam mengumpulkan data ilmiah mengenai perikanan tuna di Indonesia. Simposium ini pertama kali dilaksanakan di Indonesia yang melibatkan peneliti dan praktisi perikanan tuna dari seluruh Indonesia, yaitu dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan LSM. Hal ini merupakan komitmen bersama dalam rangka mewujudkan pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan di Indonesia.

(26)

Gambar

Gambar 1. Konstruksi rawai tuna KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa
Tabel 1. Komposisi hasil tangkapan KM. Bina Sejati yang berbasis di Pelabuhan Benoa
Gambar 2. Daerah penangkapan kapal rawai tuna KM. Bina Sejati

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis hubungan panjang berat didapatkan bahwa pola pertumbuhan ikan tuna sirip biru selatan adalah allometrik negatif, yaitu keadaan dimana pertumbuhan panjang

Dilihat dari potensi sumberdaya kelautan dan perikanan di Perairan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, maka terdapat peluang untuk peningkatan

Daerah penangkapan dari tuna yang didaratkan di PPS Bitung terdiri dari Laut Maluku dan Sulawesi, berdasarkan pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Upaya peningkatan monitoring di pelabuhan perikanan dalam kegiatan alih muat pada rawai tuna dapat dilakukan dengan menggabungkan data komposisi hasil tangkapan dan

Hasil tangkapan utama rawai tuna yaitu Tuna sirip kuning (Thunnus albacares), Tuna mata besar (Thunnus obesus), Tuna sirip biru selatan (Thunnus maccoyii) dan Albakora (Thunnus

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan lama setting dan jumlah pancing terhadap hasil tangkapan rawai tuna di perairan Laut Banda.. Waktu setting selama

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dimana penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada perikanan pancing ulur dan

a Ikan Kenyar, b Ikan Layur, dan c Ikan Tongkol Banyar Ikan tongkol Euthynnus affinis merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang menjadi sumber daya perikanan paling dominan dan