• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Oleh

MEDIYANSYAH

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konflik dalam cerpen pada kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan konflik dalam cerpen pada kumpulan cerpen pilihan

Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni dan implikasinya terhadap

pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis teks.

(2)

Mediyansyah cerpen pada kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni adalah cara menghindar, kompetisi, akomodasi, kompromis, dan kolaborasi. Konflik berimplikasi terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Pembelajaran yang berkitan dengan konflik terdapat pada kelas X, yaitu memaparkan konflik sosial. Kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul

Laki-laki Pemanggul Goni dapat digunakan sebagai bahan ajar karena terdapat

cerpen-cerpen yang mengandung konflik.

(3)
(4)

KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

(Skripsi)

Oleh

MEDIYANSYAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1. Diagram Alur Cerpen Batu Asah dari Benua Australia ... 29

4.2. Diagram Alur Cerpen Wajah itu Membayang di Piring Bubur ... 34

4.3. Diagram Alur Cerpen Kurma Kiai Karnawi ... 36

4.4. Diagram Alur Cerpen Laki-laki Pemanggul Goni ... 41

4.5. Diagram Alur Cerpen Ambe Masih Sakit ... 45

4.6. Diagram Alur Cerpen Dua Wajah Ibu ... 49

4.7. Diagram Alur Cerpen Jack dan Bidadari ... 51

4.8. Diagram Alur Cerpen Sang Petruk ... 55

4.9. Diagram Alur Cerpen Nyai Sobir ... 59

4.10. Diagram Alur Cerpen Pemanggil Bidari ... 62

4.11. Diagram Alur Cerpen Lengtu Lengmua ... 65

4.12. Diagram Alur Cerpen Perempuan Balian ... 69

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

SANWACANA ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

1.6 Ruang Lingkup Penelitian ... 7

II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Cerita Pendek ... 8

2.2 Pengertian Konflik ... 9

2.3 Penyebab Konflik ... 10

2.4 Jenis-jenis Konflik ... 13

2.4.1 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri ... 13

2.4.2 Konflik Manusia dengan Manusia ... 13

2.4.3 Konflik Manusia dengan Masyarakat ... 14

2.4.4 Konflik Manusia dengan Alam ... 14

2.5 Manajemen Konflik ... 15

2.6 Hasil-hasil Konflik ... 19

2.7 Pembelajaran Sastra di SMP ... 21

III. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 26

3.2 Sumber Data ... 26

(7)

IV. PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan ... 28

4.1.1 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri ... 29

1) Batu Asah dari Benua Australia ... 29

2) Wajah itu Membayang di Piring Bubur ... 35

3) Kurma Kiai Karnawi ... 37

4.1.2 Konflik Manusia dengan Manusia ... 41

1) Laki-laki Pemanggul Goni ... 41

2) Ambe Masih Sakit ... 45

3) Dua Wajah Ibu ... 50

4) Jack dan Bidadari ... 52

5) Sang Petruk ... 56

4.1.3 Konflik Manusia dengan Masyarakat ... 60

1) Nyai Sobir ... 60

2) Pemanggil Bidadari ... 62

3) Lengtu Lengmua ... 66

4) Perempuan Balian ... 70

5) Mayat di Simpang Jalan ... 74

4.2 Implikasi Penelitian Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA ... 78

V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 102

5.2 Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 104

(8)
(9)
(10)
(11)

MOTO

“Sesunggguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah : 6)

“Katakanlah kepada yang berkata tidak bisa, cobalah! Yang berkata mustahil, buktikanlah!

(12)
(13)

PERSEMBAHAN

Teriring doa dan rasa syukur ke hadirat Allah SWT., kupersembahkan skripsi ini untuk orang-orang yang paling berharga dalam hidupku.

1. Ayahanda dan Ibundaku tercinta, Bapak Alm. Buyung Darsono dan Ibu Maryani yang tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayang, mendidik dengan penuh cinta, dan berdoa dengan keikhlasan hati untuk keberhasilanku menggapai cita-cita serta selalu menanti keberhasilanku.

2. Kakak-Kakakku tercinta, Desi Kemala Sari, M. Nur, , Yulia Suriyani, A. Md., Juhaeri dan Serliana yang telah memberikan doa dan dukungan dalam menuntut ilmu serta menanti keberhasilanku.

3. Untuk keluarga besarku yang selalu memberikan doa dan dukungan untuk keberhasilanku.

4. Keluarga besar Batrasia 2010.

(14)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung pada tanggal 26 Mei 1992, sebagai anak keenam dari enam bersaudara, dari Buyung Darsono (Alm) dan Maryani.

Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah Pendidikan di SD Negeri 1 Palapa, Kota Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2004. Pendidikan di SMP Negeri 25 Bandar Lampung, Kota Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2007. Pendidikan di SMA Negeri 16 Bandar Lampung, Kota Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2010.

(15)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah subhannahuwata’ala atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Konflik dalam Cerpen pada Kumpulan Cerpen Laki-laki

Pemanggul Goni dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA”

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis tentu telah banyak menerima masukan, arahan, bimbingan, motivasi, dan bantuan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak berikut.

1. Dr. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.

2. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni serta sekaligus Pembahas yang telah memberikan bimbingan, masukan, saran, dan bantuan kepada penulis.

(16)

xii 4. Dr. Munaris, M.Pd. selaku Pembimbing II atas kesediaan dan keikhlasannya memberikan bimbingan, saran, arahan, dan motivasi yang diberikan selama penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Iqbal Hilal, M.Pd. selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan, masukan, nasihat, dan motivasi kepada penulis.

6. Bapak dan Ibu dosen serta staf Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni.

7. Ayahanda dan Ibunda tercintaku, Bapak Alm. Buyung Darsono dan Ibu Maryani yang tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayang, mendidik dengan penuh cinta, dan berdoa dengan keikhlasan hati untuk keberhasilanku menggapai cita-cita serta selalu menanti keberhasilanku.

8. Kakak-Kakakku tercinta, Desi Kemala Sari, M. Nur, Juhaeri, Serliana, dan Yulia Suriyani, A. Md. yang telah memberikan doa dan dukungan dalam menuntut ilmu serta menanti keberhasilanku.

9. Untuk keluarga besarku yang selalu memberikan doa dan dukungan untuk keberhasilanku.

10.Bapak dan Ibu Guru serta Staf SMA Negeri 2 Tulang Bawang Barat, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

11.Sahabat-sahabat terbaikku Restty Purwana Suwama, Era Octafiona, Satria Ariasena, Dwi Satria Yuda, Sulaiman, Ahmad Farhan, Shelvina Elvira, Vanny Putra Dewangga, Mentari Novian Alfansuri dan Daniel Sirli Utama.

(17)

xiii 13.Teman-teman KKN Kependidikan Terintegrasi di Desa Mulya Asri,

Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

14.Kakak tingkat angkatan 2008, 2009, adik tingkat angkatan 2011, 2012, dan 2013 terima kasih atas kebersamaan dan kerjasamanya

15.Kepada semua pihak yang ikut berperan dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah subhanahuwata’ala membalas segala keikhlasan, amal, dan bantuan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Amiin.

Bandarlampung, Oktober 2014

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak dapat terlepas dari konflik. Konflik merupakan bagian dasar dalam kehidupan manusia yang tidak dapat dihilangkan karena manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang terkadang memiliki keinginan, harapan, dan impian yang ingin dipenuhinya.

Berawal dari hal sepele dan sederhana dapat memunculkan konflik yang besar sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana yang sudah sering kita saksikan di berbagai media massa mengenai fenomena konflik yang terjadi di Indonesia belakangan tahun ini. Adapun penyebab konflik sosial yang terjadi di masyarakat adalah perbedaan individu, kebudayaan, kepentingan, dan sosial (Soekanto, 2012: 91).

(19)

2

Sebuah konflik dapat dikendalikan bila pendekatan atau manajemen yang digunakan tepat sasaran. Dengan adanya manajemen konflik yang tepat dan jitu diharapkan konflik-konflik yang muncul dapat diselesaikan tanpa menimbulkan kerugian dan penyesalan bagi pihak-pihak yang berkonflik.

Konflik-konflik yang terjadi dalam berbagai sendi kehidupan manusia itulah yang mengilhami para sastrawan untuk membuat karya sastra, karena sastrawan juga merupakan bagian dari masyarakat. Secara singkat dan sederhana dapat dikatakan bahwa karya sastra adalah pelukisan kehidupan dan pikiran imajinatif ke dalam bentuk dan struktur bahasa (Tarigan, 2011: 3). Karya sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan antar masyarakat, antar manusia, dan antar peristiwa batin seseorang.

Konflik-konflik yang terkandung dalam cerita, akan membuat daya tarik bagi pembaca untuk mengetahui isi yang terkandung dalam cerita tersebut. Karya sastra yang diciptakan oleh sastrawan untuk disajikan, dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Dengan demikian, pembaca mendapat segi-segi baru dari kehidupan yang dikenalinya sehari-hari dari pandangan dan perenungan yang diberikan sastrawan (Sumardjo dalam Suyanto, 2012: 5).

(20)

3

Kumpulan cerpen yang menjadi objek penelitian skripsi ini adalah kumpulan cerpen Laki-laki Pemanggul Goni yang merupakan cerpen pilihan Kompas tahun 2012, diterbitkan bulan Juli tahun 2013 dan memuat 20 cerpen, yakni: “Laki-laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma dipublikasikan Kompas pada 26 Februari 2012, “Mayat yang Mengambang di Danau” karya Seno Gumira Ajidarma dipublikasikan Kompas pada 8 Januari 2012, “Pohon Hayat” karya Mashdar Zainal dipublikasikan Kompas pada 29 Januari 2012, “Requiem Kunang-kunang” karya Agus Noor dipublikasikan Kompas pada 22 Januari 2012, “Batu Asah dari Benua Australia” karya Martin Aleida dipublikasikan Kompas pada 12 Februari 2012, “Pemanggil Bidadari” karya Noviana Kusuma Wardhani dipublikasikan

Kompas pada 19 Februari 2012, “Ambe Masih Sakit” karya Emil Amir

dipublikasikan Kompas pada 4 Maret 2012, “Renjana” karya Dwicipta dipublikasikan Kompas pada 11 Maret 2012, “Lengtu Lengmua” karya Triyanto Triwokromo dipublikasikan Kompas pada 18 Maret 2012, “Wajah itu membayang di Piring Bubur” karya Indra Tranggono dipublikasikan Kompas

pada 8 April 2012.

“Nyai Sobir”karya A. Mustofa Bisri dipublikasikan Kompas pada 15 April 2012, “Bu Geni di Bulan Desember” karya Arswendo Atmowiloto dipublikasikan

Kompas pada 20 Mei 2012, “Jack dan Bidadari” karya Linda Christianty

(21)

4 dipublikasikan Kompas pada 16 September 2012, “Sang Petruk” karya G. M. Sudarta dipublikasikan Kompas pada 30 September 2012, “Kurma Kiyai Karnawi” karya Agus Noor dipublikasikan Kompas pada 7 Oktober 2012, dan “ Angin Kita” karya Dewi Ria Utari dipublikasikan Kompas pada 30 Desember 2012.

Alasan penulis memilih kumpulan cerpen pilihan Kompas tahun 2012 karena merupakan kumpulan cerpen yang mengangkat konflik-konflik tentang kehidupan dan adat yang ada di Indonesia. Antologi cerpen pilihan Kompas ini,

tidak bisa lain adalah „potret‟ tentang sebuah Indonesia yang heterogen, unik, dan

sekaligus problematic (Mahayana, 2013: 195). Kumpulan cerpen pilihan Kompas

tahun 2012 ditulis oleh sastrawan- sastrawan terkenal di Indonesia, antara lain Arswendo Atmowiloto, Agus Noor, A. Mustofa Bisri, Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwokromo, dan 13 sastrawan lainnya yang sudah tidak asing lagi di dunia kesusastraan Indonesia.

Melalui penelitian ini, penulis akan menganalisis konflik dan manjemen konflik dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012 yang berjudul Laki-laki

Pemanggul Goni. Kajian yang penulis lakukan ini terdapat di dalam Kurikulum

2013 mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA. Hal ini juga dipertegas dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang terdapat di dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X.

(22)

5 sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Kompetensi Dasar : 2.5 Menunjukkan perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan konflik sosial, politik, ekonomi,dan kebijakan publik

Dengan mengetahui konflik dan manajemen konfliknya. Siswa dapat memaparkan konflik-konflik yang terdapat di masyarakat, maupun konflik dalam karya sastra dan dapat menyelesaikan konflik-konflik tersebut.

Berdasarkan latar belakang inilah penulis tertarik untuk meneliti konflik dan manajemen konflik dalam cerpen pada kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012

Laki-laki Pemanggul Goni. Secara keseluruhan skripsi ini diberi judul “Konflik

dalam Cerpan pada Kumpulan Cerpen Laki-laki Pemanggul Goni dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA”.

1.2 Rumusan Masalah

(23)

6

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimanakah konflik (konflik manusia dengan dirinya sendiri, konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, dan konflik manusia dengan alam) dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012 Laki-

laki Pemanggul Goni?

2. Bagaimanakah manajemen konflik (tindakan menghindari, kompromis, kompetisi, akomodasi, dan kolaborasi) dalam kumpulan cerpen pilihan

Kompas 2012 Laki- laki Pemanggul Goni?

3. Bagaimanakah implikasinya terhadap pembelajaran Sastra di Sekolah menengah atas (SMA)?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Mendeskripsikan konflik dalam cerpen pada kumpulan cerpen Laki-laki Pemanggul Goni.

b. Mendeskripsikan manajemen konflik dalam cerpen pada kumpulan cerpen

Laki-laki Pemanggul Goni.

c. Mengimplikasikan konflik dalam cerpan pada kumpulan cerpen Laki-laki

Pemanggul Goni untuk menunjang pembelajaran Sastra Indonesia di SMA

1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

(24)

7

khususnya tentang konflik dalam karya sastra sehingga penelitian ini dapat memberikan sumbangan sebagai bahan pemikiran bagi para peneliti selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat (a) memberikan gambaran, wawasan, dan pengetahuan bagi pembaca tentang konflik dalam karya sastra, (b) memberikan informasi bagi pembaca tentang konflik dalam cerita pendek, (c) memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan bahasa dan sastra dalam hal pemilihan bahan ajar, dan (d) membantu guru bidang studi Bahasa Indonesia untuk mencari alternatif bahan pembelajaran sastra, khususnya di tingkat SMA.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah konflik (konflik manusia dengan dirinya sendiri, konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, dan konflik manusia dengan alam) dan manajemen konflik (tindakan menghindari, kompromis, kompetisi, akomodasi, dan kolaborasi) dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas

(25)

8

II. LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Cerita Pendek

Cerita pendek adalah cerita yang pada hakikatnya merupakan salah satu wujud pernyataan seni yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Sebagai wujud pernyataan seni, dalam hal ini seni sastra, cerita pendek tentunya memiliki persamaan dengan bentuk-bentuk karya sastra lain seperti novel, drama, dan sajak (Sutawijaya dan Rumini, 1996: 1). Cerpen adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk” (Sumardjo, 2007: 202).

Cerpen merupakan cerita yang pendek, akan tetapi berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya (Nurgiyantoro, 2012: 10). Cerita pendek dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa pendek. Ukuran pendek di sini bersifat relatif (Suyanto, 2012: 46). Lebih menspesifikasikan yaitu cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri (Notosusanto dalam Tarigan 2011: 180).

(26)

9

Berdasarkan uraian para pakar di atas penulis menyimpulkan bahwa konflik cerpen adalah cerita yang relatif singkat dan menceritakan peristiwa kehidupan yang kompleks. Peristiwa yang diceritakan berdasarkan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat.

2.2 Pengertian Konflik

Konflik sebagai persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain, keadaan atau perilaku yang bertentangan (misalnya: pertentangan pendapat, kepentingan, atau pertentangan antarindividu), perselisihan, dan pertentangan (Webster dalam Pickering, 2006: 1). Konflik adalah adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok- kelompok atau pun organisasi-organisasi (Winardi, 2007: 1).

Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek dan Warren dalam Nurgiyantoro, 2012: 122). Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita (Meredith dan Fitzgerald dalan Nurgiyantoro, 2012:122).

(27)

10

peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak, klimaks, dan kemudian penyelesaian (Nurgiyantoro, 2012: 122).

Berdasakan beberapa pendapat pakar di atas, penulis menyimpulkan bahwa konflik adalah pertentangan antara tokoh-tokoh yang memiliki tujuan dan kepentingan yang berbeda. Konflik tidak hanya berbentuk perkelahian atau kontak fisik, tetapi juga dapat berbentuk perselisihan.

2.3 Penyebab Konflik

Konflik merupakan sesuatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Sebab musabab atau akar-akar dari konflik antara lain sebagai berikut (Soekanto, 2012: 91).

1. Perbedaan Individu

Perbedaan pendirian dan perasaan mungkin akan melahirkan bentrokan antara mereka. Perbedaan kebiasaan dan perasaan yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda- beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2. Perbedaan Kebudayaan

(28)

11

norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.

3. Perbedaan Kepentingan

(29)

12

4. Perbedaan Sosial

Perubahan sosial berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan itu. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.

Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.

(30)

13

2.4 Jenis-jenis Konflik

Jenis-jenis konflik terdiri atas konflik manusia dengan dirinya sendiri, konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, dan konflik manusia dengan alam.

2.4.1 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri

Konflik manusia dengan dirinya sendiri adalah konflik yang terjadi dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Konflik ini lebih bersifat permasalahan intern dan merupakan pertarungan tokoh melawan dirinya sendiri. Konflik dalam diri adalah gangguan emosi yang terjadi dalam diri seseorang karena dituntut menyelesaikan suatu pekerjaan atau memenuhi suatu harapan, sementara pengalaman, minat, tujuan dan tata nilainya tidak sanggup memenuhinya (Pickering, 2006: 12).

Konflik manusia dengan dirinya sendiri terjadi apabila seorang individu tidak pasti tentang pekerjaan apa yang diharapkan akan dilakukan olehnya, apabila tuntutan tertentu dari pekerjaan yang ada, berbenturan dengan tuntutan lain, atau apabila sang individu dituntut untuk melaksanakan hal – hal yang melebihi kemampuannya (Winardi, 2007: 68).

2.4.2 Konflik Manusia dengan Manusia

(31)

14

Seringkali konflik – konflik demikian muncul karena tekanan-tekanan yang berkaitan dengan peranan atau dari cara orang mempersonalifikasi konflik (Winardi, 2007: 68).

2.4.3 Konflik Manusia Dengan Masyarakat

Konflik manusia dengan masyarakrat adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antara manusia dengan manusia lain dalam struktur masyarakat luas. Konflik manusia dengan masyarakat adalah konflik yang terjadi kepada individu di dalam suatu kelompok (masyarakat, tim, departemen, perusahaan, dsb.) (Pickering, 2006: 17). Konflik manusia dengan masyarakat seringkali berhubungan dengan cara para individu menghadapi tekanan – tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok mereka (Winardi, 2007: 69). Di dalam realitas masyarakat, konflik sebagai hal yang harus ada dan kehadirannya tidak dapat ditawar-tawar lagi. Konflik manusia dengan masyarakat terjadi dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hal yang wajar.

2.4.4 Konflik Manusia dengan Alam

(32)

15

2.5 Manajemen Konflik

Manajemen konflik adalah seni mengatur dan mengelola konflik yang ada pada masyarakat agar menjadi fungsional dan bermanfaat bagi peningkatan mutu sumber daya manusia. Tujuan utama manajemen konflik adalah untuk membangun dan mempertahankan kerjasama yang kooperatif dengan para teman sejawat, bawahan, atasan, dan pihak luar.

Tidak ada satu pendekatan pun yang efektif untuk semua situasi. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan kemampuan menggunakan setiap gaya sesuai dengan situasi.

Ada lima gaya dalam manajemen konflik yang sudah umum diterima. Kelima gaya tersebut dapat digunakan dan harus disesuaikan dengan konflik yang sedang terjadi (Winardi, 2007: 18).

1. Tindakan Menghindari

Bersikap tidak kooperatif, dan tidak asertif; menarik diri dari situasi yang berkembang, dan atau bersikap netral dalam segala macam “cuaca” (Winardi, 2007: 19). Orang yang menggunakan gaya ini tidak memberikan nilai yang tinggi pada dirinya atau orang lain. Aspek negatif dari gaya ini adalah melemparkan masalah pada orang lain atau mengesampingkan masalah.

(33)

16

jawaban dan tidak banyak memberikan kepuasan, sehingga konflik cenderung akan berlanjut (Pickering, 2006: 37).

Kata-kata yang mengisyaratkan gaya menghindari, antara lain: a) “Saya usul sebaiknya hal ini kita simpan dulu untuk sementara.”

b) “Saya belum mendapat semua informasi yang diperlukan. Saya akan hubungi Anda begitu saya...”

2. Kompetisi (Mendominasi)

Bersikap tidak kooperatif, tetapi asertif; bekerja dengan cara menentang keinginan pihak lain, berjuang untuk mendominasi dalam suatu situasi “menang atau kalah”, dan atau memaksakan segala sesuatu agar sesuai dengan kesimpulan tertentu, dengan menggunakan kekuasaan yang ada (Winardi, 2007: 19). Gaya ini menekankan kepentingan sendiri. Pada gaya mendominasi, kepentingan orang lain tidak digubris sama sekali.

Gaya ini sebaiknya hanya digunakan bila sangat diperlukan. Gaya mendominasi bisa efektif bila ada perbedaan besar dalam tingkat pengetahuan yang dimiliki. Kemampuan menyajikan fakta, menimbang berbagai persoalan, memberikan nasihat yang jitu, dan menggerakkan langkah nyata selama konflik, akan sangat berguna (Pickering, 2006: 37).

Kata-kata yang mengisyaratkan gaya kompetisi atau komando otoritatif , antara lain:

(34)

17

3. Akomodasi (Mengikuti Kemauan Orang Lain)

Bersikap kooperatif, tetapi tidak asertif; membiarkan keinginan pihak lain menonjol; meratakan perbedaan-perbedaaan guna mempertahankan harmoni yang diciptakan secara buatan (Winardi, 2007: 19). Gaya ini bisa disebut juga

placating (memuaskan) atau mengikuti kemauan orang lain. Gaya ini adalah gaya

lain untuk mengatasi konflik.

Gaya ini menilai orang lain lebih tinggi dan memberika nilai rendah pada diri sendiri. Gaya mengikuti kemauan orang lain berusaha menyembunyikan perbedaan yang ada antar pihak-pihak terlibat sejauh mungkin dan mencari titiik- titik persamaan. Bila digunakan secara efektif, gaya ini dapat memelihara hubungan yang baik. Gaya mengikuti kemauan orang lain berusaha menyembunyikan perbedaan yang ada antara pihak-pihak terlibat sejauh mungkin dan mencari titik-titik persamaan (Pickering, 2006: 37).

Kata-kata yang mengisyaratkan gaya akomodasi atau meratakan, antara lain: a) “Saya tidak peduli, terserah Anda saja.”

b) “ Anda ahlinya. Apa pendapat Anda?”

4. Kompromis

(35)

18

Kompromi adalah gaya lain untuk menagani konflik. Gaya ini berorientasi pada jalan tengah, karena setiap orang punya sesuatu yang ditawarkan dan diterima. Gaya ini sangat efektif bila kedua belah pihak sama-sama benar, tetapi menghasilkan penyelesaian keliru bila salah satu pihak salah. Kompromi dapat dipilih bila cara-cara lain tidak membuahkan hasil dan kedua belah pihak bersedia menjelaskan pendapat dan mencari jalan tengah. Keahlian bernegosiasi dan tawar-menawar adalah pelengkap gaya kompromi. Pihak-pihak yang bersangkutan didorong untuk membicarakan persoalan yang dihadapi dan mencapai kesepakatan (Pickering, 2006: 37).

Kata-kata yang mengisyaratkan pendekatan kompromi antara lain: a) “Pendapat kita rupanya berbeda. Apa sebenarnya maksud Anda?”

b) “Kita semua harus bersedia memberi dan menerima jika ingin bekerja sama. Oleh karena itu, mari kita buka kartu masing-masing.”

5. Kolaborasi (kerja sama)

Bersifat kooperatif, maupun asertif; berupaya untuk mencapai kepuasan benar- benar setiap pihak yang berkepentingan, dengan jalan bekerja melalui perbedaan- perbedaan yang ada; mencari dan memecahkan masalah demikian rupa, hingga setiap orang mencapai keuntungan sebagai hasilnya (Winardi, 2007: 19).

(36)

19

dan biasanya tidak efektif bila pihak-pihak yang bertikai memang ingin bertengkar (Pickering, 2006: 37).

Ungkapan yang dapat digunakan untuk memicu gaya kolaborasi dalam menangani konflik antara lain:

a) “Tampaknya ada perbedaan pendapat, mari kita cari bersama sumber perbedaan itu.”

b) “Sebaiknya kita ajak beberapa orang lagi dari departemen lain untuk bersama-sama mengupas pemecahannya.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa kelima gaya manajemen konflik tersebut merupakan kerangka untuk menyusun tindakan yang akan diambil. Pengetahuan mengenai masing-masing gaya akan memudahkan kita memahami suatu konflik dan langkah yang tepat untuk mengatasi konflik.

2.6 Hasil-hasil Konflik

Gaya atau pendekatan manajemen konflik seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, menunjukkan hasil-hasil yang berbeda-beda. Ada tiga macam hasil konflik yang terjadi di masyarakat (Winardi, 2007: 19)

1. Kalah-Kalah

(37)

20

2. Menang-Kalah

Hasil menang-kalah apabila salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan mengorbankan keinginan pihak lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya persaingan, di mana orang yang mencapai kemenangan melalui kekuatan, keterampilan yang superior, atau karena unsur dominasi. Mengingat bahwa strategi-strategi menang-kalah juga tidak memecahkan kausa pokok terjadinya konflik, maka kiranya pada masa mendatang konflik-konflik akan muncul lagi.

3. Menang-Menang

Hasil menang-menang diatasi dengan jalan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam dalam konflik yang bersangkutan. Hal tersebut secara tipikal dicapai, apabila dilakukan konfrontasi persoalan-persoalan yang ada, dan digunakannya cara pemecahan masalah untuk mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan. Kondisi-kondisi “menang-menang” meniadakan alasan- alasan untuk melanjutkan atau menimbulkan kembali konflik yang ada, karena tidak ada hal yang dihindari atupun ditekankan.

(38)

21

2.7 Pembelajaran Sastra di Sekolah menengah atas (SMA)

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Dalam suatu proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator bagi siswa. Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengarahkan siswa untuk membangun pengetahuan dan mampu mengembangkan kreativitasnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan suatu proses belajar agar siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa yang dimilikinya. Keterampilan berbahasa tersebut terdiri atas empat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek kesasstraan. Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia siswa diharapkan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam bidang kesasatraan.

Keberhasilan suatu sistem pengajaran Bahasa Indonesia juga ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, kurikulum dan silabus yang tepat guna. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan kegiatan atau pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

(39)

22

menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas- luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak (Muslikh, 2013: 9-10).

Pembelajaran Bahasa Indonesia di dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks yang dimaksud, yaitu teks sastra dan teks nonsastra. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik dalam proses pembelajarannya. Pendekatan saintifik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memfokuskan pada keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran secara lebih kreatif, dan mandiri. Proses pembelajaran tersebut melibatkan siswa secara langsung dan menuntut siswa aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Keberhasilan siswa akan terlihat melalui langkah-langkah saintifik. Langkah-langkah tersebut meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan. Langkah-langkah tersebut merupakan satu kesatuan dan saling berkaitan.

Melalui pendekatan saintifik, guru dapat membangkitkan kreativitas siswa terhadap sebuah karya sastra. Dengan demikian, pembelajaran akan menjadi lebih menarik dan mampu memotivasi siswa untuk terus menggali informasi yang ada dalam suatu karya sastra.

(40)

23

Cerita pendek merupakan salah satu jenis karya sastra yang diajarkan dalam suatu pembelajaran sastra di SMA.

Terkait dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 Sekolah menengah atas (SMA) kelas X terdapat Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti mengenai konflik dalam cerita pendek.

Kelas : X (Sepuluh)

Kompetensi inti : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Kompetensi Dasar : 2.5 Menunjukkan perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan konflik sosial, politik, ekonomi,dan kebijakan publik

Indikator : 2. 5.1 Membaca cerita pendek dengan cermat

2.5.2 Menemukan konflik yang terdapat dalam cerita pendek

(41)

24

Tujuan Pembelajaran : Setelah siswa menemukan konflik yang terdapat dalam cerita pendek, siswa dapat memaparkan konflik dan mengaitkannya dengan konflik yang ada di masyarakat.

Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan, suatu pembelajaran dapat ditunjang dengan penggunaan media dan bahan ajar yang layak.

Bahan ajar merupakan bagian terpenting dalam kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar berisikan tentang tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi siswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar siswa melalui petunjuk cara belajar, memberi latihan dan menyediakan rangkuman (Suyadi, 2005: 200).

Melalui bahan ajar, guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa pun lebih mudah dalam belajar.bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang disajikan. Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, siswa akan mendapatkan banyak manfaat. Berdasarkan bentuknya bahan ajar dibedakan menjadi empat, yaitu sebagai berikut (Prastowo, 2011: 40-41).

a. Bahan cetak (printed), yaitu sejumlah bahan yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi.

(42)

25

c. Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yaitu segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak sekuensial.

d. Bahan ajar interaktif, yaitu kombinasi dari kedua buah media (audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi atau diberi perlakuan untuk mengendalikan suatu perintah.

Guru hendaknya mengadakan pemilihan bahan ajar berdasarkan wawasan yang ilmiah, misalnya memperhatikan segi kebahasaannya dan kosa kata yang digunakan. Guru hendaknya selalu berusaha memahami tingkat kebahasaan yang dikuasai siswanya sehingga guru dapat memilih materi yang cocok untuk disajikan dalam pembelajaran.

(43)

26

III. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sebuah metode yang sering dianggap lebih sebagai suatu seni daripada sebuah ilmu. Walaupun demikian, ada langkah-langkah analisis yang biasanya dilakukan peneliti kualitatif yang dapat dijadikan acuan dalam upaya untuk memahami dan menginterprestasikan data yang diperoleh. Data yang diperoleh (berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistic, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekadar angka atau frekuensi.

3.2 Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan

Kompas 2012 yang berjudul Laki- laki Pemanggul Goni. Kumpulan cerpen

tersebut diterbitkan PT. Kompas Media Nusanta pada bulan Juni tahun2013, tebal xvi + 268 halaman.

(44)

27

“Pemanggil Bidadari”, “Ambe Masih Sakit”,“Renjana”, “Lengtu Lengmua”, “Wajah itu membayang di Piring Bubur”,’’Nyai Sobir”, Bu Geni di Bulan Desember”, “Jack dan Bidadari”, “Perempuan Balian”, “Dua Wajah Ibu”, “Sepasang Sosok yang Menunggu”, “Mayat di Simpang Jalan, “Sang Petruk”,”Kurma Kiyai Karnawi”, dan “Angin Kita”.

3.3 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Teknik pengumpulan dan analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis teks. Langkah-langkah yang dilakukan penulis untuk mengumpulkan dan menganalisis data adalah sebagai berikut.

a. Membaca keseluruhan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012

Laki- laki Pemanggul Goni dengan seksama.

b. Menandai data yang terdapat dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012

Laki- laki Pemanggul Goni, yang berkaitan dengan konflik dalam cerpen.

c. Menganalisis konflik dan manajemen konflik yang terdapat dalam cerpen pada kumpulan cerpen Laki- laki Pemanggul Goni.

d. Menyajikan hasil analisis konflik dan manajemen konflik yang telah ditemukan dalam cerpen pada kumpulan cerpen Laki- laki Pemanggul Goni.

e. Menyimpulkan hasil analisis mengenai konflik-konflik yang ada di dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 2012 yang berjudul Laki- laki Pemanggul

Goni.

(45)

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas

yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni, peneliti menyimpulkan sebagai berikut.

1. Konflik yang terdapat dalam cerpen pada kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni adalah konflik manusia dengan dirinya sendiri, konflik manusia dengan manusia, dan konflik manusia dengan masyarakat. Konflik manusia dengan dirinya sendiri terdapat pada 3 buah cerpen, konflik manusia dengan manusia terdapat pada 5 buah cerpen, dan konflik manusia dengan masyarakat terdapat pada 5 buah cerpen.

2. Manajemen konflik yang terdapat dalam cerpen pada kumpulan cerpen pilihan

Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni adalah cara menghidari,

kompetisi, akomodasi, kompromis, dan kolaborasi. Cara menghindari terdapat pada 4 cerpen, cara kompetisi terdapat pada 6 cerpen, cara akomodasi terdapat pada sebuah cerpen, cara kompromis terdapat pada sebuah cerpen, dan cara kolaborasi terdapat pada sebuah cerpen

(46)

103

bahan ajar. Kumpulan cerpen tersebut juga dapat diimplikasikan secara praktis sebagaimana terbukti pada 4.2 Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pembelajaran Sastra di SMP.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil analisis terhadap cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas

yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni, peneliti menyarankan sebagai berikut. 1. Melalui kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul

Goni, siswa diharapkan dapat mengambil hikmah melalui dan tingkah laku tokoh-

tokohnya dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi. Melalui kumpulan cerpen tersebut, siswa juga diharapkan dapat mengembangkan kepribadian dan memperluas wawasan kehidupan.

2. Kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran sastra untuk meningkatkan kepekaan siswa dalam menganalisis dan mengapresiasi karya sastra.

3. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat menggunakan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki Pemanggul Goni

sebagai contoh dalam pembelajaran sastra mengenai konflik dalam karya sastra. Hal ini disebabkan kumpulan cerpen pilihan Kompas yang berjudul Laki-laki

Pemanggul Goni layak dijadikan salah satu alternatif bahan ajar berdasarkan

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2013. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Budianta, Melani.dkk.. 2006. Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra

untuk Perguruan Tinggi).Magelang: Indonesiatera.

Depdikbud. 2013. Kurikulum 2013. Jakarta: Depdikbud.

Kompas. 2013. Laki-laki Pemanggul Goni. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Nurgiyantoro, Burhan. 2012.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pickering, Peg. 2006. How To Manage Conflict (Edisi Keriga, Kiat Menangani

Konflik. Terjemahan oleh Masri Maris), Jakarta: Erlangga

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosyidi, M. Ikhwan, dkk.. 2010. Analisis Teks Sastra.Yogyakarta: Graha Ilmu Sugihastuti. 2002. Teori dan Apresiasi Sastra.Yogyakarta: Graha Ilmu

Sutawijaya dan Rumini. 1996. Bimbingan Apresiasi Sastra Cerita Pendek dan

Novel. Jakarta: Depdikbud.

Suyanto, Edi. 2012. Perilaku Tokoh Dalam Cerpen Indonesia.Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tarigan, Henry Guntur. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa Universitas Lampung. 2010. Format Penulisan Karya Ilmiah. Bandar Lampung:

Universitas Lampung.

Referensi

Dokumen terkait

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN MILANA KARYA BERNARD BATUBARA DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR TEKS CERITA PENDEK PADA SISWA SMA KELAS XI

Mustofa Bisri menerima Hadiah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari pemerintahan Malaysia. Buku kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi memuat 15 cerpen

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa sepuluh cerpen yang ada pada cerpen Pilihan Kompas 2014 mempunyai deiksis persona, deiksis tempat,

Menganalisis data yang mengandung bentuk reduplikasi dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014 Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon dengan mengidentifikasi objek

Dalam kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu ini, juga terdapat jenis-jenis konflik sosial yang berhubungan dengan kejahatan.. Dalam cerpen “ Seekor Anjing yang

Tesis yang berjudul: “ANALISIS STILISTIKA PADA ANTOLOGI CERPEN PILIHAN KOMPAS 2014 DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN” ini

Penelitian ini dilatarbelakangi karena banyak ditemukan kalimat langsung yang mengandung makna subkategori modalitas dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2016 “Tanah Air.”

Hasil penelitian ini adalah dalam kumpulan cerpen Kompas “Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi” karya Kuntowijoyo terdapat kelima jenis deiksis yang diteliti yaitu, deiksis persona