• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN PEMBERIAN ASI

OLEH TENAGA KESEHATAN YANG BEKERJA

DI RSUD dr. PIRNGADI MEDAN

SKRIPSI

Oleh

Mona Sitinjak

111121062

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)
(3)

Judul Penelitian : Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan

Peneliti : Mona Sitinjak

NIM : 111121062

Jurusan : Fakultas Keperawatan

Tahun Akademik : 2011/2012

ABSTRAK

Aktivitas menyusui sering mengalami kendala,salah satunya karena ibu bekerja diluar rumah. Bekerja seharusnya bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin sampai 6 bulan. Ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja. Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin dan diberikan pada saat ibu bekerja. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan berperan dalam keberhasilan proses menyusui tetapi pada kenyataannya masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya dan menggantikannya dengan susu formula. Telah dilakukan penelitian deskriptif terhadap 107 orang untuk mendapat gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja pada bulan November 2012. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan yaitu sebanyak 107 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan

total sampling dengan jumlah sampel yaitu 107 orang. Istrumen yang digunakan berupa kuesioner data demografi, kuesioner Pemberian ASI yang terdiri dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusu. Hasil penelitian pemberian ASI berdasarkan teknik terdapat (50,5%) yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan sebelum ibu bekerja dan terdapat (36,4%) yang tidak memberikan susu formula kepada bayinya dibawah usia 6 bulan pada saat ibu bekerja. Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) memberikan ASI kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Untuk lama menyusui didapatkan responden memberikan ASI pada usia0-6 bulan sebanyak (44,8%), memberikan makanan tambahan pada usia0-6 bulan (75,6%) dan memberikan susu formula pada usia 0-6 bulan (74,9%). Selebihnya bervariasi dalam pemberian ASI pada bayinya yaitu antara usia 6 bulan-24 bulan.

Diharapkan kepada tenaga kesehatan di RSUD dr. Pirngadi Medan agar memiliki pengetahuan dan dapat menerapkan pengetahuan mengenai pemberian ASI dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat menjadi perbaikan dalam program pelayanan kesehatan khususnya bayi.

(4)

PRAKATA

Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya skripsi penelitian dengan judul “Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan” sebagai tugas akhir yang harus dipenuhi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.

Pada saat penyelesaian skripsi penelitian ini peneliti mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan serta dorongan kepada peneliti.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada yang terhormat :

1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Ellyta Aizar, SKp selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan

waktunya untuk membimbing dan memberikan saran dalam penulisan skripsi

ini.

3. Ibu Rika Endah Nurhidayah, SKp, M,Pd selaku dosen pembimbing akademik.

4. Hj. Masnelli Lubis, SST, MARS yang telah memberi izin penelitian dan

informasi bagi penulis.

5. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Keperawatan Sumatera Utara

yang telah memberikan dukungan kepada penulis.

6. Kepada kedua orangtua penulis, M. Sitinjak dan S br. Napitupulu yang penulis

hormati dan sayangi yang memberikan dukungan moral dan material selama

penyusunan Proposal ini. Terimakasih kepada Saudara-saudaraku Melda

Sitinjak, Roy Martin Sitinjak, Donna Sitinjak, Friska Sitinjak dan Ronald

Sitinjak yang selalu mendoakan, memberikan semangat dan motivasi kepada

(5)

7. Kepada teman-teman yang kukasihi Rika, Dini, Ira Wahyuni, Veranda dan

semua yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah setia

membantu dan mendukung penulis, terima kasih atas segala kritik dan saran

serta perhatian yang kalian berikan serta menjadi penyemangat penulis di

setiap saat.

Peneliti menyadari dalam pembuatan skripsi penelitian ini masih dirasakan kurang sempurna. Karena itu peneliti menerima segala kritik dan saran dari semua pihak guna penyempurnaan skripsi penelitian ini. Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Medan, Februari 2013

(6)

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ... i

Abstrak ... ii

Prakata ... iii

Daftar isi ... v

Daftar Tabel ... viii

Daftar Skema ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 4

1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4Manfaat penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep ASI ... 7

2.1.1Defenisi ... 7

2.1.2Unsur Nutrisi ASI ... 7

2.1.3Jenis-Jenis ASI ... 9

2.1.4Manfaat ASI ... 10

2.1.5Hal-hal yang mempengaruhi Produksi ASI ... 11

2.1.6Masalah Menyusui pada Ibu ... 12

2.1.7Masalah Menyusui pada Bayi ... 14

2.1.8Faktor yang terkait dengan pemberian ASI ... 15

2.2 Pemberian ASI ... 18

2.2.1 Teknik/Cara Pemberian ASI ... 18

2.2.2 Waktu Pemberian ASI ... 19

2.2.3 Lama waktu menyusui ... 19

2.3 Pemberian ASI pada Ibu Bekerja ... 20

2.3.1 Cara Memerah ASI ... 20

2.3.2 Cara Penyimpanan ASI Perahan ... 21

2.3.3 Cara Pemberian ASI Perahan ... 21

2.4 Tenaga Kesehatan ... 22

2.4.1 Pengertian... 22

2.4.2 Peran Petugas Kesehatan dalam Program ASI Eksklusif ... 23

BAB III KERANGKA PENELITIAN 3.1Kerangka Konsep ... 25

3.2Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ... 26

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ... 28

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 28

4.2.1 Populasi ... 28

(7)

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29

4.4 Pertimbangan Etik ... 29

4.5 Instrumen Penelitian ... 30

4.6 Validitas Penelitian ... 31

4.7 Reliabilitas Penelitian ... 31

4.8 Pengumpulan Data ... 32

4.9 Analisa Data ... 32

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 34

5.1.1 Karakteristik Responden ... 34

5.1.2 Pemberian ASI berdasarkan Teknik Pemberian ASI ... 35

5.1.3 Pemberian ASI berdasarkan Waktu Pemberian ASI ... 37

5.1.4 Pemberian ASI berdasarkan Lama Menyusui ... 38

5.2 Pembahasan ... 39

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45 LAMPIRAN

Lembar Pesetujuan Responden Instrumen Penelitian

Hasil Analisa Komputerisasi SPSS Hasil Reliabilitas

Jadwal Defenitif Penelitian Lembar bukti Bimbingan Biaya Penelitian

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.2 Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ... 21

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Tenaga Kesehatan . ... 35

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Teknik Pemberian ASI... 36

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu Pemberian ASI ... 37

(9)

DAFTAR SKEMA

(10)

Judul Penelitian : Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan

Peneliti : Mona Sitinjak

NIM : 111121062

Jurusan : Fakultas Keperawatan

Tahun Akademik : 2011/2012

ABSTRAK

Aktivitas menyusui sering mengalami kendala,salah satunya karena ibu bekerja diluar rumah. Bekerja seharusnya bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin sampai 6 bulan. Ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja. Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin dan diberikan pada saat ibu bekerja. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan berperan dalam keberhasilan proses menyusui tetapi pada kenyataannya masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya dan menggantikannya dengan susu formula. Telah dilakukan penelitian deskriptif terhadap 107 orang untuk mendapat gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja pada bulan November 2012. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan yaitu sebanyak 107 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan

total sampling dengan jumlah sampel yaitu 107 orang. Istrumen yang digunakan berupa kuesioner data demografi, kuesioner Pemberian ASI yang terdiri dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusu. Hasil penelitian pemberian ASI berdasarkan teknik terdapat (50,5%) yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan sebelum ibu bekerja dan terdapat (36,4%) yang tidak memberikan susu formula kepada bayinya dibawah usia 6 bulan pada saat ibu bekerja. Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) memberikan ASI kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Untuk lama menyusui didapatkan responden memberikan ASI pada usia0-6 bulan sebanyak (44,8%), memberikan makanan tambahan pada usia0-6 bulan (75,6%) dan memberikan susu formula pada usia 0-6 bulan (74,9%). Selebihnya bervariasi dalam pemberian ASI pada bayinya yaitu antara usia 6 bulan-24 bulan.

Diharapkan kepada tenaga kesehatan di RSUD dr. Pirngadi Medan agar memiliki pengetahuan dan dapat menerapkan pengetahuan mengenai pemberian ASI dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat menjadi perbaikan dalam program pelayanan kesehatan khususnya bayi.

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan tanggung jawab seluruh komponen

masyarakat untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan dasar

utamanya adalah pada kaum wanita yaitu ibu. Ibu mempunyai peranan dan

tanggung untuk melahirkan generasi yang cerdas dan sehat dengan cara

pemberian ASI (Purwanti, 2004).

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi, Karena

mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang

dalam tahap percepatan tumbuh kembang, terutama pada 2 tahun pertama

kehidupan (Sekartini, 2011). ASI disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara

Ibu dan sebagai makanan utama bayi. Pemberian ASI dapat diberikan sampai bayi

berusia 6 bulan atau bahkan lebih (Purwanti, 2004). ASI berfungsi memenuhi

nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang terbaik, meningkatkan daya tahan

tubuh, dan meningkatkan kecerdasan (Danuatmaja, 2003). Para ahli menemukan

bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama

6 bulan pertama kehidupannya. Akan tetapi pemberian ASI cenderung menurun

diberbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan

angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015.

(12)

dari 50% kematian bayi didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eksklusif

selama 6 bulan dan diteruskaan sampai usia 2 tahun disamping pemberian

makanan pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti meurpakan salah

satu intervensi efektif dapat menurunkan angka kematian bayi (AKB) (Sitaresmi,

2010).

Menurut WHO, setiap tahun terdapat 1-1,5 juta bayi didunia yang

meninggal karena tidak diberi ASI. Menurut UNICEF menyatakan bahwa 30.000

kematian bayi di Indonesia dan kematian bayi di dunia setiap tahunnya dapat

dicegah melalui pemberian ASI selama 6 bulan sejak sejam pertama setelah

kelahirannya tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan kepada

bayinya. Dan dari penelitian yang dilakukan di Ghana terhadap 10.947 didapatkan

bahwa bayi yang diberikan ASI dalam 1 jam pertama kelahiran dapat

menyelamatkan 22% bayi dari kematian saat bayi baru lahir.

Menurut data survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun

2002-2003, cakupan ASI eksklusif di Indonesia pada bayi usia 4-5 bulan sebesar

14% lebih rendah dibandingkan dengan target cakupan ASI eksklusif di Indonesia

sebesar 80%.selain itu dari penelitian para ahli terhadap 900 ibu disekitar

jabotabek diperoleh fakta bahwa dapat memberi ASI selama 4 bulan hanya sekitar

5%, padahal 98% ibu tersebut menyusui (Roesli, 2000). Sedangkan pada tahun

2007 terdapat 18% ibu di Indonesia memberi ASI eksklusif selama 4 hingga 6

bulan. Persentase itu jauh dari target nasional yaitu 80%. Rendahnya pemberian

(13)

anak, bagi ibu, dan mengurangi pengeluaran keluarga untuk belanja susu formula

(Wulandari, 2009).

Aktivitas menyusui juga sering mengalami kendala. Salah satu faktor yang

mempengaruhi pemberian ASI adalah ibu yang bekerja diluar rumah sehingga

tidak dapat memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Bekerja seharusnya

bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin

sampai 6 bulan meskipun cuti hamil hanya 3 bulan (Roesli, 2000). Sebenarnya

ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja.

Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin

dan diberikan pada saat ibu bekerja atau dengan menyusui bayi sebelum ibu

berangkat kerja (Anik, 2009).

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, pekerja di Indonesia

mencapai 100.316.007 juta jiwa dimana 64,63% pekerja laki-laki dan 35,37%

pekerja wanita. Pekerja wanita dituntut untuk meningkatkan kemampuan dan

kapasitas kerja secara maksimal tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita

(Depkes, 2007). Menurut penelitian Fauzi pada tahun 2008 di Jakarta dari 290

orang hanya 98 orang (33,8%) ibu yang bekerja di perusahaan swasta yang

memberikan ASI eksklusif. Sedangkan menurut penelitian Hartatik tahun 2010 di

Puskesmas Bahorok dari 30 orang, yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 6

orang (20%) dan yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 24 orang (80%).

Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan

berperan dalam keberhasilan proses menyusui dengan cara memberikan konseling

(14)

persalinan. Sebelum mendidik ibu-ibu, para petugas kesehatan yakin bahwa

nasihatnya adalah berdasarkan pengetahuan yang cukup, tetapi pada kenyataannya

masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya

dan menggantikannya dengan susu formula. Pada wanita bekerja pemberian ASI

dapat dilakukan setelah pulang kerja atau memompa ASI dan menyimpannya

dilemari es. Dalam pemberian ASI yang diperah dapat diberikan dengan cara

dihangatkan dalam wadah yang berisi air panas (Anik, 2009).

Belum diketahui bagaimana pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang

bekerja di RS dr. Pirngadi Medan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh tenaga

kesehatan yang bekerja di RSU dr. Pirngadi Medan. Agar bisa didapatkan

gambaran keberhasilan pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di

RSU dr. Pirngadi Medan selama masa pemberian ASI eksklusif, maka penelitian

ini difokuskan pada tenaga kesehatan yang mempunyai anak usia 6-2 tahun yang

diberikan ASI.

1.2Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian adalah:

Bagaimana gambaran pemberian ASI pada tenaga kesehatan yang bekerja

(15)

1.3Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI pada tenaga kesehatan yang

bekerja di RSU dr. Pirngadi Medan.

1.3.2 Tujuan Khusus

- Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan teknik

pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi

Medan.

- Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan waktu

pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi

Medan.

- Untuk Mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan lama menyusui oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan.

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Pedidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan menambah pengetahuan

khususnya dalam pemberian ASI oleh tenaga kesehatan

1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan, mengevaluasi dan

memperbaiki perilaku tenaga kesehatan dalam pemberian ASI pada

(16)

1.4.3 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Konsep ASI

2.1.1 Defenisi

Air susu ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,

lactose dan garam organic yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara

sebagai makanan utama bagi bayi (Kristiyanasari, 2009). Sedangkan menurut

Danuatmaja (2003) ASI adalah sumber gizi yang sangat ideal, berkomposisi

seimbang, dan secara alami disesuaikan dengan masa pertumbuhan bayi.

ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan

lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan

makanan padat seperti pisang pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim

(Roesli, 2000). Sedangkan menurut Purwanti (2004) ASI eksklusif merupakan

pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan yang diberikan tanpa

melakukan jadwal pemberian yang diberikan selama usia 0-6 bulan.

2.1.2 Unsur Nutrisi ASI

Menurut Prasetyono (2009) ada beberapa unsur yang terdapat dalam ASI

yaitu Karbohidrat. Protein, lemak, mineral dan vitamin. Karbohidrat dalam ASI

berperan dalam pertumbuhan sel saraf otak, serta pemberian energi untuk kerja

(18)

yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri yang berbahaya, serta membantu

pemyerapan kalsium dan mineral-mineral lain.

Protein ASI merupakan bahan baku untuk pertumbuhan dan

perkembangan bayi. Protein ASI sangat cocok karena unsure protein di dalamnya

hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi. Hal ini disebabkan oleh

protein ASI merupakan kleompok protein Whey (protein yang bentuknya lebih

halus). Kelompok whey merupakan protein yang sangat halus, lembut, dan mudah

dicerna, sedangkan kasein adalah kelompok protein yang kasar, bergumpal, dan

sangat sukar dicerna oleh usus bayi. Protein istimewa yang hanya terdapat dalam

ASI adalah taurin. Taurin adalah protein otak yang diperlukan untuk pertumbuhan

otak, susunan saraf, dan penting juga untuk pertumbuhan retina.

Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat

jumlahnya. Lemak ASI berubah kadar setiap kali di isap oleh bayi yang terjadi

secara otomatis. Jenis lemak dalam ASI mengandung banyak omega-3, omega-6,

dan DHA yang dibutuhkan dalam pembentukan sel-sel jaringan otak. Lemak ASI

mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena ASI juga mengandung enzim lipase

yang mencerna lemak trigliserida menjadi digliserida, sehingga hanya sedikit

sekali lemak yang tidak diserap oleh system pencernaan bayi. ASI juga

mengandung asam linoleat yang berfungsi memacu perkembangan sel saraf otak

bayi. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat tinggi dan perbandingannya dengan

PASI adalah 6:1.

ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif

(19)

dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan jumlahnya tidak

dipengaruhi oleh diet ibu. Sekitar 75% dari zat besi yang terdapat dalam ASI

diserap oleh usus. Kadar mineral yang tidak diserap akan memperberat kerja usus

bayi untuk mengeluarkan, mengganggu keseimbangan dalam usus bayi, dan

meningkatkan pertumbuhan bakteri merugikan yang akan mengakibatkan

kontraksi usus bayi tidak normal sehingga bayi kembung, gelisah karena obstipasi

atau gangguan metabolisme.

ASI mengandung vitamin yang lengkap yang cukup untuk 6 bulan

sehingga tidak perlu ditambah kecuali vitamin K karena bayi baru lahir ususnya

belum mampu membentuk vitamin K. oleh karena itu, perlu tambahan vitamin K

pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7.

2.1.3 Jenis-jenis ASI

Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar

payudara yang mengandung banyak protein dan antibody. Kolostrum disekresi

oleh kelenjar payudara pada hari pertama hingga ketiga atau keempat sejak masa

laktasi (Baskoro, 2010 dalam prasetyono, 2012). Pada kolostrum terdapat

beberapa protein yaitu imunoglobin A (IgA), laktoferin, dan sel-sel darah

putih.Total kalori dalam kolostrum hanya 58 kal/100 ml kolostrum dengan

volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. Dari volume kolostrum yang

meningkat maka kekebalan bayi juga ikut meningkat akibat isapan bayi baru lahir

(20)

diberikan kepada ibunya untuk ditempelkan ke payudara, agar bayi dapat sesering

mungkin menyusu.

Foremilk merupakan air susu yang pertama kali keluar. Air susu ini hanya

mengandung sekitar 1-2% lemak dan terlihat encer, serta tersimpan dalam saluran

penyimpanan dan sangat cocok untuk menghilangkan rasa haus bayi (Chumbley,

2003). Setelah foremilk habis, maka kemudian air susu Hindmilk. Hildmilk sangat

kaya, kental, dan penuh lemak bervitamin mirip dengan hidangan pembuka

setelha sup pembuka. Air susu ini memberikan sebagian besar energi yang

dibutuhkan oleh bayi (Chumbley, 2003).

2.1.4 Manfaat ASI

Menyusui bayi mendatangkan keunutungan bagi bayi, ibu, keluarga,

masyarakat dan negara. Sebagai makanan bayi yang paling sempurna, ASI mudah

dicerna dan dserap karena mengandung enzim pencernaan. Selain itu ASI juga

daapt mencegah terjadinya penyakit infeksi karena mengandung immunoglobulin

untuk menangkal segala jenis penyakit. ASI bersifat praktis, mudah dibberikan

kepada bayi, murah serta bersih. Selain itu ASI tidak menyebabkan alergi dan

kerusakan gigi akan tetapi mengoptimalkan perkembangan bayi, serta

meningkatkan jalinan psikologis antara ibu dan bayi.

Bagi ibu, menyusui dapat mendatangkan keuntungan, yaitu mencegah

perdarahan setelah persalinan, mempercepat pengecilan rahim, mennunda masa

subur, mengurangi anemia, mencegah kanker ovarium dan kanker payudara, serta

(21)

akan membantu ibu dan bayi untuk membentuk ikatan batin yang baik dan

ditinjau dari ekonomi, ibu bisa menghemat pengeluaran untuk membeli susu

formula yang sebenarnya tidak lebih baik dari pada ASI.

Bagi keluarga, ASI juga membawa keuntungan seperti, keluarga tidak

perlu menghabiskan uang untuk membeli susu formula, meminimalkan biaya

untuk perawatan apabila bayi sehat, menghemat waktu keluarga dan keluarga

tidak perlu repot membawa botol susu. Susu formula dan air panas apabila sedang

bepergian.

Bagi negara, manfaat ASI adalah untuk menhemat devisa negara,

menurunkan angka kematian anak, meningkatkan sumber daya dan melindungi

lingkungan karena tidak ada lagi penebangan pohon dan pecemaran lingkungan

(Prasetyono, 2012).

2.1.5 Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI

Menurut Kristiyanasari (2009) ada beberapa hal yang mempengaruhi

produksi ASI yaitu makanan yang dimakan ibu. Apabila makanan ibu secara

secara teratur mengandung gizi yang diperlukan maka akan berpengaruh pula

pada produksi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan

sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk produksi ASI yang

baik,makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak, mineral dan

vitamin yang cukup dan ibu dianjurkan untuk minum lebih banyak kira-kira 8-12

gelas sehari karena ibu sering merasa haus pada saat ibu menyusui bayinya

(22)

mempengaruhi Produksi ASI. Keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan

kelemahan sangat mempengaruhi dalam produksi ASI karena dapat menurunkan

volume ASI bahkan tidak akan terjadi produksi ASI. Sehingga sebaiknya ibu yang

sedang menyusui harus dalam keadaan tenang dan jangan terlalu banyak dibebani

dengan urusan pekerjaan. Penggunaan alat kontrasepsi sebaiknya juga

diperhatikan karena pemakaian alat kontrasepsi hendaknya diperhatikan karena

pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat dapatm mempengaruhi produksi ASI.

Perawatan payudara dilakukan untuk merangsang buah dada agar mempengaruhi

hipofise untuk mengeluarkan hormone progesterone dan esterogen lebih banyak

dan hormone oksitosin yang merangsang pengeluaran ASI. Faktor fisiologi

payudara mempengaruhi produksi dan ASI. Dimana ASI dipengaruhi oleh

hormone terutama prolaktin karena ini merupakan hormone yang menentukan

dalam hal pengadaan dan mempertahankan sekresi air susu. Faktor isapan anak

juga bisa mempengaruhi dalam pengeluaran ASI. Apabila ibu menyusui anak

sebentar saja. Obat-obatan yang mengandung hormone mempengaruhi hormone

prolaktin dan oksitosin yang berfungsi dalam pembentukan dan pengeluaran ASI.

Apabila hormone ini terganggu maka akan mempengaruhi pembentukan dan

pengeluaran ASI.

2.1.6 Masalah menyusui pada ibu

Menurut Danuatmaja (2003) terdapat beberapa masalah menyusui pada

ibu yaitu Kurang informasi yang mengakibatkan banyak ibu menganggap bahwa

(23)

menyebabkan ibu lebih cepat memberikan susu formula jika merasa ASInya

kurang atau terbentur dengan masalah menyusui. Putting susu yang terbenam,

putting yang lecet dapat juga menyebabkan ibu berhenti menyusui karena ibu

beranggapan bahwa hilangnya peluang menyusui dan akibat sakit pada

payudaranya sehingga kebutuhan nutrisi bayi pun kurang

Saluran ASI tersumbat dapat saja karena payudara yang bengkak, hal ini

dikarenakan ibu tidak mengeluarkan ASI, posisi yang tidak benar dalam menyusui

dan penggunaan BH yang terlalu ketat. Hal ini dapat menyebabkan ibu demam

apabila ASI tidak segera dikeluarkan dan sebagian saluran ASI tidak dapat

mengeluarkan ASI akibat sumbatan tersebut. Menyusui setelah bedah Caesar

dianggap ibu merasa sulit untuk dilakukan karena bekas operasi yang dialami ibu.

Ibu dengan penyakit dan yang memerlukan pengobatan juga sering melakukan

penghentian menyusui karena takut penyakit yang dialami dan obat- obatan yang

dikonsumsi mempengaruhi kesehatan bayi. Padahal dalam hal ini tidak perlu,

karena lebih berbahaya bagi bayi jika dimulai memberi susu formula daripada

menyusui dari ibu yang sakit dan hanya sebagian kecil saja obat-obatan yang

melalui ASI.

Ibu bekerja seringkali menghentikan pemberian ASI karena alasan pekerjaan

sehingga banyak ibu yang memberikan susu formula karena ASI perah tidak

cukup dan waktu untuk memerah sangat sedikit. Maka dianjurkan ibu untuk mulai

menabung ASI perah sebelum ibu kembali bekerja. Semakin banyak tabungan

ASI perah yang disimpan ibu di dalam freezer, maka semakin besar peluang untuk

(24)

2.1.7 Masalah menyusui pada bayi

Menurut kristiyanasari (2009) ada beberapa masalah menyusui pada bayi

yaitu Bayi bingung putting. Dimana bayi tidak mau menyusu lagi pada ibu karena

telah dicoba minum dari botol/dot. Tanda-tanda bayi bingung putting adalah

menolak menyusu dari ibu, jika menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari

dot, dan saat menyusu sebentar-sebentar bayi melepaskan isapannya. Guna

mencegah bingung puting, jangan pernah memberi bayi minum dari botol. Jika

memberi ASI perahan gunakan dengan cangkir dan sendok.

Bayi enggan menyusu Jika bayi enggan menyusu perlu dicari apakah bayi

sakit. Selain sakit, hal-hal yang membuat bayi enggan menyusu adalah karena

bingung putting, teknik menyusui yang salah, dan ASI kurang lancar atau terlalu

deras.

Bayi sering menangis belum tentu karena lapar atau haus, bisa saja ia

takut, kesepian, bosan, basah, kotor, sakit atau rasa ASI tidak enak karena

makanan atau obat yang diminum ibu. Selain itu dapat juga karena kolik, dimana

bayi akan menangis terus-menerus pada waktu tertentu dan sukar ditenteramkan.

Namun, kolik dapat diredakan dengan mengendong bayi dengan memberikan

sedikit tekanan pada perutnya.

Sebagian ibu menganggap apabila ia melahirkan bayi kembar maka

ASInya tidak dapat mencukupi kebutuhan kedua bayinya. Selanjutnya, ibu pun

berusaha memberikan tambahan kepada kedua bayinya tanpa mencoba dahulu.

Produksi ASI sesuai dengan rangsangan yang diberikan. Dua bayi akan

(25)

Biasanya, salaah seorang bayi mengisapnya lebih kuat dari yang lain sehingga

sebaiknya jangan berikan satu payudara untuk masing-masing, tetapi kedua

payudara berikan kepada kedua bayi secara bergantian. Menyusui kedua bayi

dapat bersama-sama atau bergantian. Jika bergantian, sebaiknya dimulai dengan

yang lebih kecil dahulu.

Bayi dengan reflex isap lemah akan mengalami kesukaran menyusu.

Untuk bayi demikian, sebaiknya ASI dikeluarkan atau diperah dan diberikan

kepada bayi dengan sonde lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan

menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk mengisap. Bayi sumbing dapat

disusukan dengan menggunakan posisi tertentu dan bayi juga dapat diberikan ASI

dengan pipet, cangkir, atau sendok dalam posisi agak tegak.

Bayi kuning terjadi karena kurangnya pemberian ASI pada hari-hari

pertama. Karena ASI hari-hari pertama masih sedikit dan pengeluaran kotoran

bayi sedikit, timbul ikterus (kuning)dini. Oleh karena itu, ibu diminta menyusui

lebih sering sehingga ASI lebih banyak dan pengeluaran kotoran bayi lebih

banyak (Danuatmaja, 2003).

2.1.8 Faktor yang terkait dengan pemberian ASI

Ada beberapa faktor yang terkait dengan pemberina ASI eksklusif menurut

prasetyono (2012) yaitu Aspek pemahaman dan pola pikir. Dimana waluapun

pemberian ASI sudah banyak disosialisasikan namun tidak sedikit ibu belum

mengerti dan meremehkan tentang pemberian ASI. Rendahnya tingakt

(26)

dikarenakan kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki ibu sehingga hal

tersebut menyebabkan terjadinya perubahan dari pola dasar pemberian ASI

menjadi pemberian susu formula.

Dari aspek gizi ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan oleh

bayi hingga 6 bulan kelahirannya. ASI pertama yang diberikan kepada bayi yang

sering disebut kolostrum banyak mengandung zat kekebalan, terutama IgA yang

berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, seperti diare. Kolostrum

mengandung protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah sehingga sesuai

kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.

Dari aspek pendidikan kebanyakan ibu kurang menyadari pentingnya ASI

sebagai makanan utama bayi. Mereka hanya mengetahui bahwa ASI adalah

makanan yang diperlukan bayi tanpa memperhatikan aspek lain. Waktu yang

lama bersama bayi tidak dimanfaatkan secara optimal, sehingga para ibu tidak

memberikan ASI eksklusif kepada bayi. Kegiatan atau pekerjaan ibu sering juga

dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI esklusif.

Dari aspek imunologik Kadar imunoglobin A (IgA) dalam kolostrum

cukup tinggi. Meskipun sekretori IgA tidak diserap oleh tubuh bayi, tetapi zat ini

berfungsi melumpuhkan bakteri pathogen E. coli dan berbagai virus pada saluran

pencernaan.

Secara psikologis menyusui dapat membangkitkan rasa percaya diri bahwa

ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi kebutuhan bayi,

menciptakan interaksi anatara ibu dan bayi yang dapat meningkatkan

(27)

sentuhan kulit mampu memberikan rasa aman dan puas. Saat menyusui terjalinlah

ikatan psikologis antara ibu dan bayi yang tidak diperoleh dari susu formula. ASi

tidak hanya mengenyangkan bayi, tetapi mencukupi kebutuhan nutrisi dalam

tubuh bayi

Dari aspek kecerdasan, ASI mengandung DHA dan AA yang dibutuhkan

bagi perkembangan otak. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama

mempunyai dua dampak positif yaitu Proses pemberian ASI yang lancar

memungkinkan asupan gizi menjadi lebih maksimal dikarenakan adanya interaksi

yang baik antara ibu dan bayi, yang terjalin ketika menyusui dan bayi yang diberi

ASI hingga lebih dari 9 bulan akan tumbuh cerdas.

Secara aspek neurologis dengan meminum ASI, koordinasi saraf pada bayi

yang terkait dengan kativvitas menelan, mengisap, dan bernapas semakin

sempurna. Hal ini akan mengurangi risiko gangguan sesak napas pada bayi yang

baru lahir. Aspek juga dapat mengurangi biaya tambahan yang diperlukan untuk

membeli susu formula berserta peralatannya. Aspek penundaan kehamilan

dijelaskan bahwa dengan Ibu menyusui dapat menunda datang bulan dan

kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah.

Dari aspek pekerjaan sebaiknya bekerja bukan menjadi alasan untuk

menghentikan pemberian ASI. Ibu dapat tetap memberikan ASI dengan

melakukan pemerahan ASI atau bayi dibawah ketempat kerja apabila tersedia

tempat penitipan bayi ditempat kerjanya tersebut. Ibu sebaiknya menghindari susu

(28)

ibunya. Ibu dianjurkan untuk melakukan pemerahan ASI setiap 3-4 jam secara

teratur.

2.2Pemberian ASI

Pemberian ASI hendaknya dilakukan seketika setelah bayi dilahirkan

setengah jam pertama. Pada masa ini bayi sangat aktif dan mengisap puting

payudara sekuat mungkin pengisapan dini dapat mempercepat produksi ASI dan

mempererat produksi hubungan psikologis antara bayi baru lahir. Dalam

pemberian ASI yang perlu diperhatikan adalah tehnik atau cara pemberian dan

waktu pemberian ASI.

2.2.1 Teknik/ Cara pemberian ASI

Dalam pemberian ASI, ibu harus mempersiapkan putting payudara agar

ibu dapat menyusui bayi dengan baik. Akan tetapi ada juga putting payudara yang

datar atau menekuk kedalam dan hal ini ini bisa menyebabkan bayi sulit menyusu

dan tidak merasa puas. Dalam hal ini. Perlu dilakukan pengurutan atau penarikan

putting payudara. ASI juga dapat diberikan dengan menggunakan mangkuk atau

sendok untuk mencegah bayi bingung putting (Prasetyono, 2012). Selain itu ibu

juga perlu memperhatikan posisi ibu dan bayi ketika menyusui. Ada banyak cara

untuk memposisikan diri dan bayinya selama proses menyusui berlangsung.

Sebagian ibu memilih menyusui dalam posisi berbaring miring sambil merangkul

bayinya dan sebagian lagi melakukannya sambil duduk dikursi dengan punggung

(29)

memposisikan diri dan bayinya sedemikian rupa agar kenyamanan menyusui

dapat tercapai (Kristiyanasari, 2009).

Dalam menyusui yang paling mudah adalah dengan menempelkan pipinya

ke payudara, memasukkan putting susu dan pastikan bayi mengisap seluruh area

gelap dari payudara dan bukan hanya putting saja. Setelah bayi merasa kenyang ia

akan berhenti mengisap dan unutuk menyusui berikutnya letakkan bayi di

payudara yang satunya agar bayi menerima air susu dalam volume yang sama dari

setiap payudara setiap hari. Hal ini juga untuk menghindari pembengkakan

payudara aklibat terlalu penuh dengan air susu (Kristiyanasari, 2009).

2.2.2 Waktu pemberian ASI

Sebaiknya dalam pemberian ASI tidak perlu dijadwalkan karena akann

berakibat kurang baik, karena isapan sangat berpengaruh pada produksi ASI

selanjutnya.setiap menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI

dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Seorang bayi yang

menyusui sesuai permintaannya bisa menyusu sebanyak 12-15 kali dalam 24 jam

(Prasetyono, 2012). Ibu yang bekerja dianjurkan menyusui bayi dengan sering

pada malam hari untuk memacu produksi ASI (Anik, 2009).

2.2.2 Lama waktu menyusui

Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan mulai bayi lahir sampai usia 6

(30)

padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan

lebih dari 2 tahun (Roesli, 2000).

2.3Pemberian ASI pada ibu Bekerja

Seringkali pekerjaan menjadi alasan iibu tidak memberikan ASI kepada

bayinya. Sehingga banyak ibu yang terpaksa memberikan susu formula. Tindakan

menyusui berpengaruh pada pertumbuhan mental dan fisik bayi. ASI perasan

hanya dianjurkan pada ibu yang bekerja. Jika memungkinkan bayi bisa dibawah

ketempat kerja, namun tindakan ini sangat sulit dilakukan bila ditempat kerja

tidak tersedia sarana penitipan bayi atau pojok laktasi. Sebelum berangkat kerja

ibu sebaiknya menyusui bayinya, menyediakan ASI dirumah sebelum berangkat

bekerja dan ibu sebaiknya memerah ASI setiap 3-4 jam sekali secara teratur.

2.3.1 Cara memerah ASI

Menurut Sulistyawati (2009), cara memerah ASI dapat dilakukan dengan

menggunakan tangan dan pompa. Cara memerah ASI dengan tangan dapat

dilakukan dengan melakukan pemijatan (massage) dari bagian atas payudara

dengan gerakan memutar dan menekannya kearah dada, selanjutnya dengan

melakukan penekanan dari arah atas hingga sekitar putting dan ditekan dengan

lembut dengan jari seperti menggelitik, dan kemudian melakukan penggunjangan

pada payudara.

Cara memerah dengan pompa yaitu mengendurkan otot dan saluran ASI

(31)

sebelumnya dan pastikan pompa sudah disterilkan sebelum dipakai. Pemerahan

memerlukan waktu 15-45 menit dan tidak menyebabkan rasa sakit (Sibuea,

2011).

2.3.2 Cara penyimpanan ASI Perahan

Penyimpanan ASI perahan sebaiknya disimpan dalam wadah khusus atau

plastik khusus dan memberikan kode, tanggal dan jam pemerahan sebelum

disimpan di lemari es atau freezer. ASI perah disimpan di udara luar dapat tahan

6-8 jam, dalam termos es selama 24 jam, lemari es 2x24 jam, di freezer lemari es

1 pintu selama 12-14 hari dan di freezer lemari es 2 pintu selama 3bulan.

Meskipun bisa disimpan lama, ASI dianjurkan segera diberikan pada bayi dalam

waktu 2 hari karena jika disimpan dilemari es selama 2 minggu, kemungkinan ada

zat antibody yang mati akibat udara dingin sehingga kualitas atau komposisi ASI

dapat berubah (Anik, 2009).

2.3.3 Cara Pemberian ASI perahan

Pemberian ASI perah dapat diberikan dengan sendok dan gelas, jangan

menggunakan botol susu/dot karena bisa mengakibatkan bayi bingung putting.

Jika terdapat sisa ASI perah, jangan simpan karena ASI tersebut sudah tercemar.

Agar ASI tidak terbuang, simpan ASI perah dalam wadah ukuran sekali minum

(Danuatmaja. 2003). Pada saat ASI perahan yang disimpan di lemari es/freezer

akan diberikan kepada bayi ada baiknya ASI perah diletakkan terlebih dahulu di

(32)

suhu kamar setelha itu dihangatkan di dalam wadah yang berisi air panas dan

jangan rebus ASI secara langsung karena dapat menyebabkan zat-zat yang

terkandung dalam ASI mati (Anik, 2009).

2.4 Tenaga Kesehatan

2.4.1 Pengertian

Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam

kesehatan dan memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di

bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memiliki kewenangan untuk

melakukan upaya kesehatan (Depkes RI, 2008). Menurut peraturan pemerintah

Republik Indonesia nomor 32 tahun 1996, Tenaga kesehatan dibagi atas beberapa

jenis yaitu tenaga medis meliputi dokter umum dan dokter spesialis, tenaga

keperawatan meliputi perawat dan bidan. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker,

analis farmasi dan asisten apoteker. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi

epidemiologi kesehatan, entomologi kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh

kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian. Tenaga gizi meliputi

mutrisionis dan dietisien. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis,

okupasiterapis, dan terapis wicara, Sedangkan tenaga keteknisian medis meliputi

radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan,

(33)

2.4.2 Peran Petugas Kesehatan dalam program ASI Eksklusif

Petugas kesehatan sangat berperan dalam keberhasilan proses menyusui,

dengan cara memberikan konseling tentang ASi sejak kehamilan, melaksanakan

inisiasi menyusui dini (IMD) pada saat persalinan dan mendukung pemberian ASI

dengan 10 langkah keberhasilan menyusui yaitu langkah pertama, memiliki

kebijakan tertulis tentang menyusui yang dikomunikasikan secara rutin kepada

semua staf perawatan kesehatan. Langkah kedua, memberi semua staf perawtan

kesehatan latihan keterampilan yang dibutuhkan untuk menerapkan kebijakan ini.

Langkah ketiga, memberi tahu manfaat dan penatalaksanaan menyusui kepada

semua wanita hamil. Langkah keempat, membantu para wanita untuk mulai

menyusui sekitar setengah jam sesudah melahirkan. Langkah kelima,

menunjukkan cara menyusui dan cara mempertahankan pasokan ASI kepada para

wanita bahkan pada situasi dimana mereka harus dipisahkan dari bayinya.

Langkah keenam, tidak memberikan makanan dan minuman kepada bayi yang

baru lahir selain air susu ibu kecuali ada kebutuhan medis. Langkah ketujuh,

mempraktikkan kebijakan ibu dan bayi bersama-sama dalan satu ruangan selama

24 jam sehari. Langkah delapan, mendorong para wanita untuk menyusui sesuai

kehendak bayinya. Langkah Sembilan, tidak memberikan putting ussu tiruan atau

dot kepada bayi yang disusui. Langkah kesepuluh, mendukung dibentuknya

kelompok pendukung menyusui dan merujuk para wanita ke kelompok ini saat

mereka dipulangkan dari rumah sakit atau klinik. Beberapa hambatan kurang

berperannya petugas kesehatan dalam menjalankan kewajibannya dalam konteks

(34)

menjalankan peran mereka disamping pengetahuan konseling ASI yang maih

kurang (Sitaresmi, 2010).

Sebelum mulai mendidik ibu-ibu, para petugas kesehatan yakin bahwa

nasihatnya adalah berdasarkan pengetahuan yang cukup. Karena itu perlu

diketahui seberapa jauh pengetahuan petugas. Dalam hal ini petugas kesehatan

memiliki pengetahuan yang didapat selama pendidikan dan bekerja. Jika disetiap

instansi kesehatan tersedia tenaga yang terampil dan terlaltih mengenai aplikasi

klinis dari proses menyusui serta didukung dari proses menyusui, serta didukung

oleh program laktasi, maka dapatlah diharapkan bahwa gabungan kedua

(35)

BAB III

KERANGKA PENELITIAN

3.1Kerangka konsep

Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi

gambaran pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh tenaga kesehatan yang bekerja di

RSU dr.Pirngadi Medan yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema 1. Kerangka penelitian pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang

bekerja Tenaga kesehatan wanita yang bekerja mempunyai anak usia 6 bulan -2 tahun

Pemberian ASI terdiri atas: - Teknik&cara

pemberian ASI - Waktu pemberian

ASI

- Lama waktu

(36)

3.2 Defenisi Operasional dan Variabel penelitian

No Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pemberian

ASI oleh tenaga kesehatan

Air susu ibu (ASI) yang diberikan pada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 2 tahun yang

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terdiri dari: - Pemberian ASI

eksklusif (0-6 bulan)

- Pemberian ASI lanjutan (> 6 bulan-2 tahun) a.teknik&cara

pemberian ASI: cara yang dilakukan ibu dalam pemberian ASI pada bayinya

b.waktu pemberian ASI: waktu yang diperlukan ibu dalam pemberian ASI pada bayinya

(37)

c.lama waktu menyusui: usia bayi diberikan ASI mulai sejak lahir sampai usia 2 tahun tidak baik jika responden menjawab tidak. Untuk

pernyataan negatif disebut baik jika

menjawab tidak pernah dan tidak baik jika

menjawab selalu

Disebut baik jika:

1.Mendapat ASI eksklusif sampai dengan usia 6 bulan

(38)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yang bertujuan

untuk mengidentifikasikan gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang

bekerja di RSU dr.Pirngadi Medan.

4.2Populasi dan Sampel penelitian

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat dan

bidan yang memiliki anak umur 6 bulan-2 tahun yang sedang diberikan ASI. Dari

hasil survey awal yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2012 diperoleh peneliti

terdapat 107 tenaga kesehatan yang memiliki anak usia 6 bulan – 2 tahun yang

masih diberikan ASI.

4.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau yang mewakili populasi yang layak untuk

diteliti (Hidayat, 2006). Populasi dalam penelitian ini yaitu 107 orang tenaga

kesehatan wanita yang memiliki anak usia 6 bulan – 2 tahun yang masih diberikan

ASI. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menggunakan teknik

nonprobability purposive sampling dengan kriteria inklusi adalah (1) wanita

(39)

(3)bekerja sebagai perawat/bidan di RSU dr. Pirngadi Medan (4) bersedia menjadi

responden.

4.3Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Juni-November 2012 di RSU

dr. Pirngadi Medan. Alasan peneliti memilih tempat ini adalah karena Rumah

Sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan, mempunyai letak yang strategis

dan memiliki perawat/bidan yang memadai untuk mendapatkan jumlah sampel

penelitian.

4.4Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Sumatera Utara dan

kemudian mengajukan permohonan izin kepada Direktur RSU dr.Pirngadi Medan.

Dalam pengumpulan data, akan dilakukan pendekatan kepada responden dan

menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian. Jika responden bersedia untuk

diteliti maka responden terlebih dahulu menandatangi lembar persetujuan

(Informed Consent) yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Bila responden menolak

untuk diteliti maka peneliti akan tetap menghormati haknya.

Untuk menjaga kerahasiaan responden, maka kuesioner yang diberikan

kepada responden akan diberi kode sehingga responden hanya mencantumkan

inisal nama responden dan kerahasiaan informasi responden ini dijamin oleh

(40)

4.5Instrumen Penelitian

Data responden diperoleh dengan menggunakan alat pengumpulan data

berupa kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu: kuesioner data demografi dan

kuesioner pemberian ASI pada tenaga kesehatan.

1. Data demografi

Data demografi hanya akan menggambarkan karakteristik responden yang

meliputi umur, pendidikan, agama, suku, dan usia anak.

2. Gambaran Pemberian ASI oleh tenaga kesehatan

Kuesioner pemberian ASI oleh tenaga kesehatan terdiri dari 18

pernyataan, yang terdiri dari pertanyaan cara/teknik pemberian ASI 10 pertanyaan

dengan pilihan jawaban “tidak pernah” nilai 1, “jarang” nilai 2, “kadang-kadang”

nilai 3, “sering” nilai 4 dan "selalu” nilai 5. waktu pemberian ASI terdiri dari 5

pertanyaan dengan pilihan jawaban ya nilai 2 dan tidak nilai 1. Lama waktu

menyusui terdiri dari 3 pertanyaan berupa pertanyaan terbuka.

Kuesioner pemberian ASI oleh tenaga kesehatan terdiri dari pernyataan

negatif dan positif. Untuk pertanyaan cara/teknik pemberian ASI jika pertanyaan

positif maka jawaban “selalu” nilai 5, “sering” nilai 4, “kadang-kadang” nilai 3,

“jarang” nilai 2, dan “tidak pernah” nilai 1 dan untuk pertanyaan negatif

sebaliknya jika jawaban jawaban “selalu” nilai 1, “sering” nilai 2,

(41)

Untuk pertanyaan waktu pemberian ASI jika pertanyaan positif maka

jawaban“Ya” nilai 2 dan “tidak” nilai 1 dan untuk pernyataan negatif jawaban

“Ya” nilai 1 dan “tidak” nilai 2.

Pemberian ASI oleh tenaga kesehatan berdasarkan cara/teknik pemberian

ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusui dibagi menjadi 2 kategori yaitu

pemberian ASI oleh tenaga kesehatan baik dan pemberian ASI oleh tenaga

kesehatan tidak baik yang dinilai dari setiap item pernyataan.

4.6Validitas Penelitian

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau

kesahihan suatu instrumen. Sutu instrument yang valid atau sahih mempunyai

validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memliki validitas

rendah (Arikunto, 2006). Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan Content Validity Index (CVI) dengan meminta bantuan salah

seorang staf keperawatan maternitas anak di Fakultas Keperawatan Sumatera

Utara dan diperoleh hasil validitas yaitu 0,827.

4.7Reliabilitas Penelitian

Uji reliabel menunjukkan sejauh mana alat pengukurannya dapat

diandalkan. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika digunakan beberapa kali

dalam waktu yang berbeda untuk objek yang sama sehingga akan menghasilkan

data yang sama. Uji reliabel dilakukan terhadap 20 tenaga kesehatan yang

(42)

diperoleh diolah dengan menggunakan program komputerisasi yaitu Cronbach

Alfa. Dengan nilai Alfa untuk teknik/cara pemberian ASI yaitu 0,760 dan nilai

Alfa untuk waktu pemberian ASI yaitu 0,801. Instrumen dikatakan reliabel jika

memiliki koefisien Cronbach alfa 0,7 (Polit&Hungler, 1999).

4.8Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada

responden. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara mengajukan

permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan Fakultas

Keperawatan USU, selanjutnya mengajukan surat permohonan izin melakukan

penelitian kepada Direktur RSU dr.Pirngadi. Setelah mendapatkan izin, peneliti

menjelaskan kepada responden mengenai maksud dan tujuan penelitian,

selanjutnya meminta persetujuan kepada calon responden untuk bersedia diteliti

dan jika responden bersedia, responden diminta untuk menandatangani Informed

Consent dan dalam pengisian kuesioner sebagian responden didampingi dalam

pengisian kuesioner karena ada sebagian responden yang tidak dapat didampingi

akibat kesibukan dalam pelaksanaan kegiatan di Rumah Sakit. Apabila

pengumpulan data sudah selesai dilakukan, peneliti mengecek kembali

kelengkapan pengisian kuesioner dan peneliti melakukan analisa data.

4.9Analisa data

Setelah semua data terkumpul dari hasil penngumpulan data, maka

(43)

nama dan kelengkapan identitas, mengecek kelengkapan data, dan mengecek

macam isian data. Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data

dilengkapi dengan mewawancarai kembali responden. Kedua memberikan kode

(Coding) dalam hubungan pengolahan data dengan menggunakan komputer dan

tabulasi data dengan memberikan skore (Scoring), terhadap item-item pertanyaan

dan pemberian skore. Kemudian data dianalisa dengan menggunakan system

komputerisasi dengan uji statistic deskriptif. untuk mengetahui distribusi frekuensi

dan persentase untuk data demografi, gambaran pemberian ASI oleh tenaga

(44)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai gambaran pemberian

ASI (Air susu ibu) oleh tenaga kesehatan. Data diperoleh melalui proses

pengumpulan data yang dilakukan sejak tanggal 09 Oktober sampai 09 November

2012 di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan. Jumlah responden sebanyak 107

orang tenaga kesehatan. Penyajian meliputi karakteristik responden dan gambaran

pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Umum dr.

Pirngadi Medan.

1.1.Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini seluruh responden adalah tenaga kesehatan yang

terdiri dari perawat dan bidan yang bekerja di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi

Medan. Deskriptif karakteristik responden terdiri dari umur ibu, agama,

pekerjaan, suku dan umur anak.

Tabel 1. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok

usia reproduksi sehat yaitu usia 24-35 tahun dengan mean= 29,05; SD= 2,636.

Mayoritas responden beragama Islam (48,6%), bekerja sebagai perawat (70,1%),

bersuku batak (66,4%). Berdasarkan usia anak responden mayoritas berusia 6-12

bulan sebanyak 60 orang (56,1%) dan usia 13-24 bulan sebanyak 47 orang

(45)

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik Tenaga Kesehatan yang memberikan ASI di Rumah sakit dr. Pirngadi Medan (n= 107)

Karateristik Responden Frekuensi Persentase(%)

Usia Ibu

1.2 Pemberian ASI berdasarkan Teknik/Cara Pemberian ASI

Pada tabel 5.2 di bawah ini menggambarkan teknik/cara pemberian ASI

dapat dilihat sebanyak 39 orang (36,4%) mengatakan tidak pernah memberikan

susu formula saat bayi berusia kurang dari 6 bulan pada saat ibu sibuk bekerja.

Sebagian besar responden mengatakan selalu memanaskan ASI perahan terlebih

dahulu dalam wadah yang berisi air panas sebelum diberikan pada bayi yaitu

sebanyak 46 orang (43%). Terdapat sebanyak 52 orang (48,6%) mengatakan tidak

pernah memberikan ASI perahan dengan menggunakan dot saat ibu bekerja.

Sebanyak 44 orang (41,1%) mengatakan tidak pernah menyimpan ASI perahan di

dalam kantong plastik (plastik gula) atau pada wadah khusus. Mayoritas

responden mengatakan selalu memberikan sisa ASI perahan yang sudah pernah

(46)

(73,8%). Terdapat 54 orang (50,5%) mengatakan selalu memerah ASI dengan

menggunakan pompa atau dengan tangan sebelum ibu bekerja, dan sebanyak 54

orang (50,5%)mengatakan selalu enggan memerah ASI saat berada di tempat

kerja, dan terdapat 49 orang (45,8%)mengatakan tidak pernah mengajari

pembantu atau penjaga untuk memberikan ASI perahan dengan menggunakan

sendok. Mayoritas responden mengatakan selalu memberikan ASI kepada bayi

dari kedua payudara secara bergantian yaitu sebanyak 91 orang (85%). dan

sebanyak 71 orang (66,4%) mengatakan tidak pernah membawa bayi ketempat

kerja supaya kebutuhan ASI untuk bayi terpenuhi.

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase teknik pemberian ASI tenaga kesehatan yang bekerja Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)

1. Jika ibu sibuk bekerja, ibu lebih memilih memberikan susu formula daripada ASI saat bayi berusia kurang dari 6 bulan

7

2. Ibu memanaskan ASI perahan terlebih dahulu dalam wadah yang berisi air panas sebelum diberikan kepada bayi

3. Saat Ibu bekerja, ASI perahan diberikan dengan menggunakan dot 4. Ibu menyimpan ASI perahan di

dalam kantung plastik (plastik gula) atau pada wadah khusus

37 5. Ibu memberikan sisa ASI perahan

yang sudah pernah diminum oleh bayi pada jadwal pemberian ASI berikutnya

menggunakan pompa atau dengan tangan sebelum ibu bekerja

(47)

7. Ibu enggan memerah ASI saat berada ditempat kerja

54 8. Ibu mengajari pembantu atau

penjaga untuk memberikan ASI perahan dengan menggunakan sendok

9. Pada saat ibu tidak bekerja, Ibu memberikan ASI kepada bayi dari kedua payudara secara bergantian

91 10. Ibu membawa bayi ketempat

kerja supaya kebutuhan ASI untuk bayinya terpenuhi

14

1.3 Pemberian ASI berdasarkan Waktu Pemberian ASI

Pada tabel 5.3 dibawah ini menggambarkan waktu pemberian ASI dapat

dilihat bahwa mayoritas responden mengatakan bahwa ibu memberikan ASI

sebelum ibu berangkat bekerja yaitu sebanyak 102 orang (95,3%), dan sebanyak

78 orang (72,9%) mengatakan bahwa ibu tidak memerah ASI setiap 3-4 jam

secara teratur pada saat ibu ditempat kerja. terdapat sebanyak 92 orang (86%)

mengatakan ibu menyusui bayinya sekitar 5-15 menit setiap kali menyusui, dan

sebanyak 100 orang (93,5%) mengatakan memberikan ASI pada malam hari pada

saat ibu tidak bekerja dan sebanyak 82 orang (76,6%) mengatakan memberikan

ASI setiap 2 jam sekali.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu pemberian ASI Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)

No Pernyataan Ya Tidak

F % F %

1. Ibu memberikan ASI sebelum ibu berangkat bekerja

102 95,3 5 4,7

2. Ditempat kerja, ibu memerah ASI setiap 3-4

(48)

3. Ibu menyusui bayi sekitar 5-15 menit setiap

kali menyusui 92 86 15 14

4. Ibu memberikan ASI pada malam hari pada

saat ibu tidak bekerja 100 93,5 7 6,5

5. Ibu memberikan ASI pada bayi setiap 2 jam

sekali 82 76,6 25 23,4

1.4Pemberian ASI berdasarkan Lama menyusui

Hasil penelitian yang berdasarkan jawaban terhadap kuisioner berupa

pertanyaan terbuka tentang lama menyusui diperoleh bahwa responden

memberikan ASI paling lama pada usia 0-6 bulan sebanyak 48 orang (44,8%),

usia 7-12 bulan sebanyak 32 orang (29,8%), usia 13-24 bulan sebanyak 25 orang

(23,3%) dan responden yang memberikan ASI sampai usia lebih dari 24 bulan

yaitu 2 orang (1,8%). Responden yang memberikan makanan tambahan pada bayi

mulai usia 3-6 bulan sebanyak 81 orang (75,6%), usia lebih dari 6 bulan sebanyak

26 orang (24,3%). Sedangkan bayi yang mendapatkan susu formula mulai usia 0-6

bulan sebanyak 80 orang (74,9%), usia 7-24 bulan sebanyak 27 orang (25,1%).

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase lama menyusui Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)

No Pernyataan F %

1. Lama Bayi mendapatkan ASI 0-6 bulan

(49)

5.2 Pembahasan

Dalam pembahasan akan dijabarkan mengenai hasil penelitian, yakni

gambaran pemberian ASI oleh tenaga Kesehatan yang Bekerja. Pemberian ASI ini

dikategorikan dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama

menyusui.

Dari hasil penelitian berdasarkan kategori teknik/cara pemberian ASI

didapatkan bahwa terdapat 39 orang (36,4%) ibu yang tidak pernah memberikan

susu formula pada bayinya pada saat ibu sibuk bekerja. Hal ini sejalan dengan

pendapat Kristiyansari (2009) yang mengatakan ibu yang bekerja dianjurkan

untuk memerah ASI segera setelah bayi lahir. Menurut penelitian Rohani (2007)

mengatakan bahwa ibu yang bekerja cenderung untuk tidak memberikan ASI

Eksklusif karena mereka terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan

mereka dalam waktu yang lama sehingga mereka membiasakan bayinya menyusu

dari botol dengan susu formula atau memberikan makanan tambahan.

Penelitian Rohani sesuai dengan hasil penelitian bahwa terdapat 81 orang

(75,6%) responden yang sudah memberikan makanan tambahan atau susu formula

dibawah usia 6 bulan. Pemberian susu formula pada bayi akan beresiko tinggi

bagi kesehatannya, begitu pula pencampuran dengan tingkat pengenceran yang

salah dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah

terserang penyakit dan kekurangan gizi. Menurut Yuliarti (2010) mengatakan susu

formula tidak mempunyai antibodi seperti dalam ASI dan pemberian susu formula

pada bayi akan meningkatkan resiko munculnya penyakit yang ditularkan melalui

(50)

Menurut Depkes (2004) dinyatakan bahwa susu formula tidak bisa menggantikan

ASI dan hanya ASI saja yang mampu memenuhi semua kebutuhan bayi mulai dari

lahir sampai usia 2 tahun kehidupan.

Menurut Kristiyansari (2009) mengatakan apabila ibu bekerja ASI perahan

dapat dititipkan kepada pengasuh agar diberikan kepada bayinya. Akan tetapi dari

hasil penelitian terdapat 49 orang (45,8%) yang tidak pernah mengajarkan

penjaga atau pembantu untuk memberikan ASI perahan sehingga terdapat 16

orang (15%) responden yang selalu memberikan ASI perahan dengan

menggunakan dot padahal secara psikologis, pemberian ASI perahan dengan

menggunakan dot mengakibatkan proses pembentukan rahang bawah bayi

menjadi lebih maju. Menurut Prasetyono (2012) menyatakan bahwa ASI perahan

dapat diberikan dengan menggunakan mangkuk atau sendok untuk mencegah bayi

bingung putting.

Dari hasil penelitian berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan bahwa

masih terdapat responden yang tidak memberikan ASI setiap 3 jam sekali yaitu 25

orang (23,4%). Hal ini sesuai dengan pendapat Padmawati (dalam Soetjiningsih,

1997) mengatakan bahwa menyusui bayi sebaiknya tidak dijadwalkan karena bayi

akan menentukan sendiri kebutuhannya. Para ibu yang menyusui disarankan

memberikan ASI kepada bayi maksimum 10 menit setiap tiga jam, kemudian

mereka memberikan ASI kedua apabila bayi masih menunjukkan rasa lapar

(Walshaw, 2005).

Menurut Penelitian yang dilakukan Komite Dokter Umum dan Asosiasi

(51)

menit setiap hari membuat bayi lebih sehat dan berat badannya lebih baik dan

teknik ini dianggap lebih baik dibandingkan dengan metode baby led atau

mengikuti keinginan bayi yang meminta ASI jika lapar. Hal ini sesuai dengan

hasil penelitian dimana terdapat (86%) ibu yang selalui menyusui bayinya sekitar

5-15 menit setiap kali menyusui.

Untuk Ibu yang bekerja dianjurkan menyusui bayi sebelum berangkat

bekerja agar kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi(Danuatmaja, 2003). Hal ini sesuai

dengan hasil penelitian bahwa terdapat (95,3%) ibu yang memberikan ASI

sebelum ibu berangkat bekerja. Apabila ibu tidak sempat menyusui bayinya ibu

dianjurkan sering menyusui bayinya pada malam hari untuk memacu produksi

ASI (Anik, 2009). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan

bahwa terdapat 100 orang (93,5%) responden yang memberikan ASI pada malam

hari pada saat ibu tidak bekerja.

Lama bayi menyusu juga mempengaruhi produksi ASI sebab ASI di

produksi disesuaikan dengan permintaan bayi (demand and supply). ASI akan di

produksi apabila persediaan ASI telah habis. Pabrik susu akan memproduksi ASI

dengan jumlah yang sama dengan ASI yang telah dikeluarkan. Semakin lama bayi

menyusu makan akan semakin banyak jumlah ASI yang dikeluarkan dari

payudara sehingga menimbulkan rangsangan untuk memproduksi ASI dengan

jumlah yang lebih banyak (Neifert, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian lama menyusui bahwa responden

memberikan ASI paling lama mulai usia 0-6 bulan (44,8) dan selebihnya

(52)

lebih dari usia 2 tahun terdapat (1,8%) responden yang tetap memberikan ASI.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sekartini (2011) yang mengatakan pemberian ASI

sebaiknya diberikan pada 2 tahun pertama kehidupan karena ASI mengandung zat

gizi yang palinng sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam percepatan

tumbuh kembang. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan

ibu untuk memberikan Asi eksklusif selama sekurang-kurangnya 6 bulan dan

dilanjutkan sampai usia 1 tahun (Costance, 2010). Menurut Prasetyono (2012)

mengatakan sebaiknya bayi siap diberikan makanan tambahan pada usia 6 bulan

lebih karena apabila makanan tambahan sudah diberikan sebelum sistem

pencernaan bayi siap untuk menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat

dicerna dengan baik serta menyebabkan gangguan pencernaan. Hal ini

bertentangan dengan hasil penelitian bahwa terdapat (75,6%) responden yang

sudah memberikan makanan tambahan pada bayinya dibawah usia 6 bulan.

Pada jawaban setiap responden ditemukan adanya ketidaksesuaian dalam

pengisian kuesioner, hal ini disebabkan karena kurangnya konsentrasi responden

dalam pengisian kuisioner. Dalam setiap pernyataan responden lebih percaya pada

pertanyaan terbuka karena responden diminta untuk mengingat kembali pada saat

(53)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dengan judul Gambaran Pemberian ASI oleh

Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan, maka dapat

diambil kesimpulan dari 107 orang tenaga kesehatan yang bekerja yang menjadi

responden penelitian diketahui bahwa responden berada pada kelompok usia

reproduksi sehat yaitu usia 20-35 tahun. Mayoritas responden beragama Islam

(48,6%), bekerja sebagai perawat (70,1%), bersuku batak (66,4%) dan usia anak

berada pada usia 6-12 bulan (56,1%) dan 13-24 bulan (43,9%). Hasil penelitian

menunjukkan bahwa pemberian ASI berdasarkan teknik pemberian ASI terdapat

(50,5%) responden yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan

sebelum ibu bekerja dan terdapat (39%) yang tidak pernah memberikan susu

formula pada bayinya pada saat ibu bekerja pada usia dibawah 6 bulan.

Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) yang memberikan ASI

kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Sedangkan berdasarkan lama

menyusu responden memberikan ASI paling lama pada usia 0-6 bulan (44,8%),

(54)

6.2 Saran

6.2.1 Untuk Pendidikan Keperawatan

Dapat menjadi bahan masukan khususnya bagi pendidikan keperawatan

agar lebih menekankan pada materi pelaksanaan pemberian ASI eksklusif di

bidang maternitas

6.2.2 Untuk Tenaga Kesehatan

Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tenaga kesehatan dalam

pemberian ASI eksklusif dan sebagai bahan informasi dalam perbaikan dan

pengembangan program pelayanan kesehatan dan juga sebagai dorongan dalam

pemberian penyuluhan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu yang memiliki bayi.

6.2.3 Untuk Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi peneliti selanjutnya

untuk melakukan penelitian dalam ruang lingkup yang sama memgenai pemberian

ASI oleh tenaga kesehatan. Dan diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar

melakukan pengumpulan data lebih baik dengan mendampingi responden untuk

(55)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta : Rineka Cipta.

Arifin, M Siregar. (2004). Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor tang

mempengaruhinya. Diambil tanggal 3 Mei 2012

Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC

Chumbley, Jane. (2003). Tips Soal ASI dan Menyusui. Jakarta: Erlangga

Dalimunthe, A. Sally. (2011). Faktor-Faktor Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif

pada Bayi 0-6 bulan> Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Danuatmaja, Bonny. (2003). 40 Hari Pasca Persalinan, Masalah dan Solusinya.

Jakarta: Puspa Swara

Hidayat, A.A.A.(2007).Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta:

Salemba medika.

Kritiyanasari, Weni. (2009). ASI, MENYUSUI & SADARI. Yogyakarta: Nuha

Medika

Maryunani, Anik. (2009). Asuhan pada Ibu dalam Masa Nifas (Postpartum).

Jakarta: Trans Info Media

Polit, D. F & Hungler, B. P. (1999). Nursing Research: Principles and Methods

Fifth Edition. Philadephia: J. B Lippicot Company

Prasetyono, Dwi Sunar. (2012). Buku Pintar ASI Eksklusif: Pengenalan, Praktik,

dan Kemanfaatan-Kemanfaatannya. Yogyakarta: DIVA Press

(56)

Rohani, 2007. Pengaruh Karakteristik ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI

Eksklusif di Wilayah Kerja PuskesmasTeluk Kecamatan Secanggang

Kabupaten Langkat Tahun 2010. Skripsi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

Sibuea, Rina. (2012). Gambaran Pengetahuan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu

Bekerja Di Kecamatan Porsea. Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

Silalahi, Santaria. M. (2005). Pengetahuan dan Sikap Ibu-Ibu Menyusui di Kota

dan di Desa tentang Pemberian ASI Eksklusif. Fakultas Keperawatan

Sumatera Utara

Sinclair, Costance. (2003). Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC

Sitaresmi, M, N, 2010. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara Eksklusif,

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas.

Yogyakarta: Adi

diakses 25 Maret 2011

Sudjana. 2002. Metode Statistik. Bandung :Tarsito

Sekartini, Rini. (2011). Buku Pintar Bayi. Jakarta: Pustaka Bunda

Sri Purwanti, Hubertin. (2004). Konsep Penerapan ASI Eksklusif: Buku Saku

untuk Bidan. Jakarta: EGC

Yatimin. (2008). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu memberian Makanan

Tambahan pada Usia 0-6 bulan. Fakultas Keperawatan Universitas

Gambar

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik Tenaga Kesehatan yang memberikan ASI di Rumah sakit dr
Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase teknik pemberian ASI tenaga kesehatan yang bekerja Rumah Sakit dr
Tabel 5.3  Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu pemberian ASI Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase lama menyusui Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr

Referensi

Dokumen terkait

PEMBERIAN ASI PADA IBU PASCA SEKSIO SESARIA DENGAN BIUS REGIONAL Di RS. Hal ini akibat rahim yang sering berkontraksi karena masih dalam proses kembali ke bentuk semula, juga

Hasil penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI eksklusif pada ibu-ibu yang tidak bekerja di Desa Tempurejo Kemiri Mojosongo

Laporan Penelitian berjudul GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU YANG BEKERJA TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI DI POSYANDU CEMPAKA KELURAHAN

Berdasarkan hasil penelitian dan yang telah dilakukan terdapat hubungan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu

Berdasarkan data yang diperoleh melalui kuesioner, terdapat 9 ibu (60,9%) memberikan ASI kepada bayinya tetapi tidak sesuai dengan ketentuan, bayi tidak hanya diberikan ASI

Tidak terdapat hubungan antara karakteristik ibu (usia ibu, jumlah jam bekerja, tingkat pendidikan, kesejahteraan dan paritas) terhadap pemberian ASI eksklusif.

Produksi ASI perah setiap hari yang diukur selama satu minggu pada ibu menyusui yang bekerja sebelum penerapan hypnobreastfeeding rata-rata 210 ml dengan

Hal ini sesuai dengan penelitian Anggita (2010), bahwa tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pendidikan ibu bekerja yang menyusui dengan pemberian ASI