GAMBARAN PEMBERIAN ASI
OLEH TENAGA KESEHATAN YANG BEKERJA
DI RSUD dr. PIRNGADI MEDAN
SKRIPSI
Oleh
Mona Sitinjak
111121062
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
Judul Penelitian : Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan
Peneliti : Mona Sitinjak
NIM : 111121062
Jurusan : Fakultas Keperawatan
Tahun Akademik : 2011/2012
ABSTRAK
Aktivitas menyusui sering mengalami kendala,salah satunya karena ibu bekerja diluar rumah. Bekerja seharusnya bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin sampai 6 bulan. Ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja. Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin dan diberikan pada saat ibu bekerja. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan berperan dalam keberhasilan proses menyusui tetapi pada kenyataannya masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya dan menggantikannya dengan susu formula. Telah dilakukan penelitian deskriptif terhadap 107 orang untuk mendapat gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja pada bulan November 2012. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan yaitu sebanyak 107 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
total sampling dengan jumlah sampel yaitu 107 orang. Istrumen yang digunakan berupa kuesioner data demografi, kuesioner Pemberian ASI yang terdiri dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusu. Hasil penelitian pemberian ASI berdasarkan teknik terdapat (50,5%) yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan sebelum ibu bekerja dan terdapat (36,4%) yang tidak memberikan susu formula kepada bayinya dibawah usia 6 bulan pada saat ibu bekerja. Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) memberikan ASI kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Untuk lama menyusui didapatkan responden memberikan ASI pada usia0-6 bulan sebanyak (44,8%), memberikan makanan tambahan pada usia0-6 bulan (75,6%) dan memberikan susu formula pada usia 0-6 bulan (74,9%). Selebihnya bervariasi dalam pemberian ASI pada bayinya yaitu antara usia 6 bulan-24 bulan.
Diharapkan kepada tenaga kesehatan di RSUD dr. Pirngadi Medan agar memiliki pengetahuan dan dapat menerapkan pengetahuan mengenai pemberian ASI dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat menjadi perbaikan dalam program pelayanan kesehatan khususnya bayi.
PRAKATA
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya skripsi penelitian dengan judul “Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan” sebagai tugas akhir yang harus dipenuhi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada saat penyelesaian skripsi penelitian ini peneliti mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan serta dorongan kepada peneliti.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada yang terhormat :
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Ellyta Aizar, SKp selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan
waktunya untuk membimbing dan memberikan saran dalam penulisan skripsi
ini.
3. Ibu Rika Endah Nurhidayah, SKp, M,Pd selaku dosen pembimbing akademik.
4. Hj. Masnelli Lubis, SST, MARS yang telah memberi izin penelitian dan
informasi bagi penulis.
5. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Keperawatan Sumatera Utara
yang telah memberikan dukungan kepada penulis.
6. Kepada kedua orangtua penulis, M. Sitinjak dan S br. Napitupulu yang penulis
hormati dan sayangi yang memberikan dukungan moral dan material selama
penyusunan Proposal ini. Terimakasih kepada Saudara-saudaraku Melda
Sitinjak, Roy Martin Sitinjak, Donna Sitinjak, Friska Sitinjak dan Ronald
Sitinjak yang selalu mendoakan, memberikan semangat dan motivasi kepada
7. Kepada teman-teman yang kukasihi Rika, Dini, Ira Wahyuni, Veranda dan
semua yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah setia
membantu dan mendukung penulis, terima kasih atas segala kritik dan saran
serta perhatian yang kalian berikan serta menjadi penyemangat penulis di
setiap saat.
Peneliti menyadari dalam pembuatan skripsi penelitian ini masih dirasakan kurang sempurna. Karena itu peneliti menerima segala kritik dan saran dari semua pihak guna penyempurnaan skripsi penelitian ini. Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Medan, Februari 2013
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... i
Abstrak ... ii
Prakata ... iii
Daftar isi ... v
Daftar Tabel ... viii
Daftar Skema ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 4
1.3Tujuan Penelitian ... 5
1.4Manfaat penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep ASI ... 7
2.1.1Defenisi ... 7
2.1.2Unsur Nutrisi ASI ... 7
2.1.3Jenis-Jenis ASI ... 9
2.1.4Manfaat ASI ... 10
2.1.5Hal-hal yang mempengaruhi Produksi ASI ... 11
2.1.6Masalah Menyusui pada Ibu ... 12
2.1.7Masalah Menyusui pada Bayi ... 14
2.1.8Faktor yang terkait dengan pemberian ASI ... 15
2.2 Pemberian ASI ... 18
2.2.1 Teknik/Cara Pemberian ASI ... 18
2.2.2 Waktu Pemberian ASI ... 19
2.2.3 Lama waktu menyusui ... 19
2.3 Pemberian ASI pada Ibu Bekerja ... 20
2.3.1 Cara Memerah ASI ... 20
2.3.2 Cara Penyimpanan ASI Perahan ... 21
2.3.3 Cara Pemberian ASI Perahan ... 21
2.4 Tenaga Kesehatan ... 22
2.4.1 Pengertian... 22
2.4.2 Peran Petugas Kesehatan dalam Program ASI Eksklusif ... 23
BAB III KERANGKA PENELITIAN 3.1Kerangka Konsep ... 25
3.2Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ... 26
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ... 28
4.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
4.2.1 Populasi ... 28
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29
4.4 Pertimbangan Etik ... 29
4.5 Instrumen Penelitian ... 30
4.6 Validitas Penelitian ... 31
4.7 Reliabilitas Penelitian ... 31
4.8 Pengumpulan Data ... 32
4.9 Analisa Data ... 32
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 34
5.1.1 Karakteristik Responden ... 34
5.1.2 Pemberian ASI berdasarkan Teknik Pemberian ASI ... 35
5.1.3 Pemberian ASI berdasarkan Waktu Pemberian ASI ... 37
5.1.4 Pemberian ASI berdasarkan Lama Menyusui ... 38
5.2 Pembahasan ... 39
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 43
6.2 Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45 LAMPIRAN
Lembar Pesetujuan Responden Instrumen Penelitian
Hasil Analisa Komputerisasi SPSS Hasil Reliabilitas
Jadwal Defenitif Penelitian Lembar bukti Bimbingan Biaya Penelitian
DAFTAR TABEL
Tabel 3.2 Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ... 21
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Tenaga Kesehatan . ... 35
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Teknik Pemberian ASI... 36
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu Pemberian ASI ... 37
DAFTAR SKEMA
Judul Penelitian : Gambaran Pemberian ASI oleh Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan
Peneliti : Mona Sitinjak
NIM : 111121062
Jurusan : Fakultas Keperawatan
Tahun Akademik : 2011/2012
ABSTRAK
Aktivitas menyusui sering mengalami kendala,salah satunya karena ibu bekerja diluar rumah. Bekerja seharusnya bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin sampai 6 bulan. Ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja. Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin dan diberikan pada saat ibu bekerja. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan berperan dalam keberhasilan proses menyusui tetapi pada kenyataannya masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya dan menggantikannya dengan susu formula. Telah dilakukan penelitian deskriptif terhadap 107 orang untuk mendapat gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja pada bulan November 2012. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan yaitu sebanyak 107 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
total sampling dengan jumlah sampel yaitu 107 orang. Istrumen yang digunakan berupa kuesioner data demografi, kuesioner Pemberian ASI yang terdiri dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusu. Hasil penelitian pemberian ASI berdasarkan teknik terdapat (50,5%) yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan sebelum ibu bekerja dan terdapat (36,4%) yang tidak memberikan susu formula kepada bayinya dibawah usia 6 bulan pada saat ibu bekerja. Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) memberikan ASI kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Untuk lama menyusui didapatkan responden memberikan ASI pada usia0-6 bulan sebanyak (44,8%), memberikan makanan tambahan pada usia0-6 bulan (75,6%) dan memberikan susu formula pada usia 0-6 bulan (74,9%). Selebihnya bervariasi dalam pemberian ASI pada bayinya yaitu antara usia 6 bulan-24 bulan.
Diharapkan kepada tenaga kesehatan di RSUD dr. Pirngadi Medan agar memiliki pengetahuan dan dapat menerapkan pengetahuan mengenai pemberian ASI dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat menjadi perbaikan dalam program pelayanan kesehatan khususnya bayi.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pembangunan nasional merupakan tanggung jawab seluruh komponen
masyarakat untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan dasar
utamanya adalah pada kaum wanita yaitu ibu. Ibu mempunyai peranan dan
tanggung untuk melahirkan generasi yang cerdas dan sehat dengan cara
pemberian ASI (Purwanti, 2004).
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi, Karena
mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang
dalam tahap percepatan tumbuh kembang, terutama pada 2 tahun pertama
kehidupan (Sekartini, 2011). ASI disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara
Ibu dan sebagai makanan utama bayi. Pemberian ASI dapat diberikan sampai bayi
berusia 6 bulan atau bahkan lebih (Purwanti, 2004). ASI berfungsi memenuhi
nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang terbaik, meningkatkan daya tahan
tubuh, dan meningkatkan kecerdasan (Danuatmaja, 2003). Para ahli menemukan
bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama
6 bulan pertama kehidupannya. Akan tetapi pemberian ASI cenderung menurun
diberbagai negara berkembang termasuk Indonesia.
Target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan
angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015.
dari 50% kematian bayi didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eksklusif
selama 6 bulan dan diteruskaan sampai usia 2 tahun disamping pemberian
makanan pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti meurpakan salah
satu intervensi efektif dapat menurunkan angka kematian bayi (AKB) (Sitaresmi,
2010).
Menurut WHO, setiap tahun terdapat 1-1,5 juta bayi didunia yang
meninggal karena tidak diberi ASI. Menurut UNICEF menyatakan bahwa 30.000
kematian bayi di Indonesia dan kematian bayi di dunia setiap tahunnya dapat
dicegah melalui pemberian ASI selama 6 bulan sejak sejam pertama setelah
kelahirannya tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan kepada
bayinya. Dan dari penelitian yang dilakukan di Ghana terhadap 10.947 didapatkan
bahwa bayi yang diberikan ASI dalam 1 jam pertama kelahiran dapat
menyelamatkan 22% bayi dari kematian saat bayi baru lahir.
Menurut data survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2002-2003, cakupan ASI eksklusif di Indonesia pada bayi usia 4-5 bulan sebesar
14% lebih rendah dibandingkan dengan target cakupan ASI eksklusif di Indonesia
sebesar 80%.selain itu dari penelitian para ahli terhadap 900 ibu disekitar
jabotabek diperoleh fakta bahwa dapat memberi ASI selama 4 bulan hanya sekitar
5%, padahal 98% ibu tersebut menyusui (Roesli, 2000). Sedangkan pada tahun
2007 terdapat 18% ibu di Indonesia memberi ASI eksklusif selama 4 hingga 6
bulan. Persentase itu jauh dari target nasional yaitu 80%. Rendahnya pemberian
anak, bagi ibu, dan mengurangi pengeluaran keluarga untuk belanja susu formula
(Wulandari, 2009).
Aktivitas menyusui juga sering mengalami kendala. Salah satu faktor yang
mempengaruhi pemberian ASI adalah ibu yang bekerja diluar rumah sehingga
tidak dapat memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Bekerja seharusnya
bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI selama 4 bulan atau mungkin
sampai 6 bulan meskipun cuti hamil hanya 3 bulan (Roesli, 2000). Sebenarnya
ada beberapa cara yang dianjurkan pada ibu yang menyusui pada saat bekerja.
Salah satunya adalah dengan memerah ASI dan dimasukkan kelemari pendingin
dan diberikan pada saat ibu bekerja atau dengan menyusui bayi sebelum ibu
berangkat kerja (Anik, 2009).
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, pekerja di Indonesia
mencapai 100.316.007 juta jiwa dimana 64,63% pekerja laki-laki dan 35,37%
pekerja wanita. Pekerja wanita dituntut untuk meningkatkan kemampuan dan
kapasitas kerja secara maksimal tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita
(Depkes, 2007). Menurut penelitian Fauzi pada tahun 2008 di Jakarta dari 290
orang hanya 98 orang (33,8%) ibu yang bekerja di perusahaan swasta yang
memberikan ASI eksklusif. Sedangkan menurut penelitian Hartatik tahun 2010 di
Puskesmas Bahorok dari 30 orang, yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 6
orang (20%) dan yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 24 orang (80%).
Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tentang pemberian ASI dan
berperan dalam keberhasilan proses menyusui dengan cara memberikan konseling
persalinan. Sebelum mendidik ibu-ibu, para petugas kesehatan yakin bahwa
nasihatnya adalah berdasarkan pengetahuan yang cukup, tetapi pada kenyataannya
masih ada diantara tenaga kesehatan yang tidak memberikan ASI pada anaknya
dan menggantikannya dengan susu formula. Pada wanita bekerja pemberian ASI
dapat dilakukan setelah pulang kerja atau memompa ASI dan menyimpannya
dilemari es. Dalam pemberian ASI yang diperah dapat diberikan dengan cara
dihangatkan dalam wadah yang berisi air panas (Anik, 2009).
Belum diketahui bagaimana pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang
bekerja di RS dr. Pirngadi Medan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh tenaga
kesehatan yang bekerja di RSU dr. Pirngadi Medan. Agar bisa didapatkan
gambaran keberhasilan pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di
RSU dr. Pirngadi Medan selama masa pemberian ASI eksklusif, maka penelitian
ini difokuskan pada tenaga kesehatan yang mempunyai anak usia 6-2 tahun yang
diberikan ASI.
1.2Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian adalah:
Bagaimana gambaran pemberian ASI pada tenaga kesehatan yang bekerja
1.3Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI pada tenaga kesehatan yang
bekerja di RSU dr. Pirngadi Medan.
1.3.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan teknik
pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi
Medan.
- Untuk mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan waktu
pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi
Medan.
- Untuk Mengetahui gambaran pemberian ASI berdasarkan lama menyusui oleh tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan.
1.4Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pedidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan menambah pengetahuan
khususnya dalam pemberian ASI oleh tenaga kesehatan
1.4.2 Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan, mengevaluasi dan
memperbaiki perilaku tenaga kesehatan dalam pemberian ASI pada
1.4.3 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Konsep ASI
2.1.1 Defenisi
Air susu ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
lactose dan garam organic yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara
sebagai makanan utama bagi bayi (Kristiyanasari, 2009). Sedangkan menurut
Danuatmaja (2003) ASI adalah sumber gizi yang sangat ideal, berkomposisi
seimbang, dan secara alami disesuaikan dengan masa pertumbuhan bayi.
ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan
lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan
makanan padat seperti pisang pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim
(Roesli, 2000). Sedangkan menurut Purwanti (2004) ASI eksklusif merupakan
pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan yang diberikan tanpa
melakukan jadwal pemberian yang diberikan selama usia 0-6 bulan.
2.1.2 Unsur Nutrisi ASI
Menurut Prasetyono (2009) ada beberapa unsur yang terdapat dalam ASI
yaitu Karbohidrat. Protein, lemak, mineral dan vitamin. Karbohidrat dalam ASI
berperan dalam pertumbuhan sel saraf otak, serta pemberian energi untuk kerja
yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri yang berbahaya, serta membantu
pemyerapan kalsium dan mineral-mineral lain.
Protein ASI merupakan bahan baku untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Protein ASI sangat cocok karena unsure protein di dalamnya
hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi. Hal ini disebabkan oleh
protein ASI merupakan kleompok protein Whey (protein yang bentuknya lebih
halus). Kelompok whey merupakan protein yang sangat halus, lembut, dan mudah
dicerna, sedangkan kasein adalah kelompok protein yang kasar, bergumpal, dan
sangat sukar dicerna oleh usus bayi. Protein istimewa yang hanya terdapat dalam
ASI adalah taurin. Taurin adalah protein otak yang diperlukan untuk pertumbuhan
otak, susunan saraf, dan penting juga untuk pertumbuhan retina.
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat
jumlahnya. Lemak ASI berubah kadar setiap kali di isap oleh bayi yang terjadi
secara otomatis. Jenis lemak dalam ASI mengandung banyak omega-3, omega-6,
dan DHA yang dibutuhkan dalam pembentukan sel-sel jaringan otak. Lemak ASI
mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena ASI juga mengandung enzim lipase
yang mencerna lemak trigliserida menjadi digliserida, sehingga hanya sedikit
sekali lemak yang tidak diserap oleh system pencernaan bayi. ASI juga
mengandung asam linoleat yang berfungsi memacu perkembangan sel saraf otak
bayi. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat tinggi dan perbandingannya dengan
PASI adalah 6:1.
ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif
dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan jumlahnya tidak
dipengaruhi oleh diet ibu. Sekitar 75% dari zat besi yang terdapat dalam ASI
diserap oleh usus. Kadar mineral yang tidak diserap akan memperberat kerja usus
bayi untuk mengeluarkan, mengganggu keseimbangan dalam usus bayi, dan
meningkatkan pertumbuhan bakteri merugikan yang akan mengakibatkan
kontraksi usus bayi tidak normal sehingga bayi kembung, gelisah karena obstipasi
atau gangguan metabolisme.
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang cukup untuk 6 bulan
sehingga tidak perlu ditambah kecuali vitamin K karena bayi baru lahir ususnya
belum mampu membentuk vitamin K. oleh karena itu, perlu tambahan vitamin K
pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7.
2.1.3 Jenis-jenis ASI
Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar
payudara yang mengandung banyak protein dan antibody. Kolostrum disekresi
oleh kelenjar payudara pada hari pertama hingga ketiga atau keempat sejak masa
laktasi (Baskoro, 2010 dalam prasetyono, 2012). Pada kolostrum terdapat
beberapa protein yaitu imunoglobin A (IgA), laktoferin, dan sel-sel darah
putih.Total kalori dalam kolostrum hanya 58 kal/100 ml kolostrum dengan
volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. Dari volume kolostrum yang
meningkat maka kekebalan bayi juga ikut meningkat akibat isapan bayi baru lahir
diberikan kepada ibunya untuk ditempelkan ke payudara, agar bayi dapat sesering
mungkin menyusu.
Foremilk merupakan air susu yang pertama kali keluar. Air susu ini hanya
mengandung sekitar 1-2% lemak dan terlihat encer, serta tersimpan dalam saluran
penyimpanan dan sangat cocok untuk menghilangkan rasa haus bayi (Chumbley,
2003). Setelah foremilk habis, maka kemudian air susu Hindmilk. Hildmilk sangat
kaya, kental, dan penuh lemak bervitamin mirip dengan hidangan pembuka
setelha sup pembuka. Air susu ini memberikan sebagian besar energi yang
dibutuhkan oleh bayi (Chumbley, 2003).
2.1.4 Manfaat ASI
Menyusui bayi mendatangkan keunutungan bagi bayi, ibu, keluarga,
masyarakat dan negara. Sebagai makanan bayi yang paling sempurna, ASI mudah
dicerna dan dserap karena mengandung enzim pencernaan. Selain itu ASI juga
daapt mencegah terjadinya penyakit infeksi karena mengandung immunoglobulin
untuk menangkal segala jenis penyakit. ASI bersifat praktis, mudah dibberikan
kepada bayi, murah serta bersih. Selain itu ASI tidak menyebabkan alergi dan
kerusakan gigi akan tetapi mengoptimalkan perkembangan bayi, serta
meningkatkan jalinan psikologis antara ibu dan bayi.
Bagi ibu, menyusui dapat mendatangkan keuntungan, yaitu mencegah
perdarahan setelah persalinan, mempercepat pengecilan rahim, mennunda masa
subur, mengurangi anemia, mencegah kanker ovarium dan kanker payudara, serta
akan membantu ibu dan bayi untuk membentuk ikatan batin yang baik dan
ditinjau dari ekonomi, ibu bisa menghemat pengeluaran untuk membeli susu
formula yang sebenarnya tidak lebih baik dari pada ASI.
Bagi keluarga, ASI juga membawa keuntungan seperti, keluarga tidak
perlu menghabiskan uang untuk membeli susu formula, meminimalkan biaya
untuk perawatan apabila bayi sehat, menghemat waktu keluarga dan keluarga
tidak perlu repot membawa botol susu. Susu formula dan air panas apabila sedang
bepergian.
Bagi negara, manfaat ASI adalah untuk menhemat devisa negara,
menurunkan angka kematian anak, meningkatkan sumber daya dan melindungi
lingkungan karena tidak ada lagi penebangan pohon dan pecemaran lingkungan
(Prasetyono, 2012).
2.1.5 Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI
Menurut Kristiyanasari (2009) ada beberapa hal yang mempengaruhi
produksi ASI yaitu makanan yang dimakan ibu. Apabila makanan ibu secara
secara teratur mengandung gizi yang diperlukan maka akan berpengaruh pula
pada produksi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan
sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk produksi ASI yang
baik,makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak, mineral dan
vitamin yang cukup dan ibu dianjurkan untuk minum lebih banyak kira-kira 8-12
gelas sehari karena ibu sering merasa haus pada saat ibu menyusui bayinya
mempengaruhi Produksi ASI. Keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan
kelemahan sangat mempengaruhi dalam produksi ASI karena dapat menurunkan
volume ASI bahkan tidak akan terjadi produksi ASI. Sehingga sebaiknya ibu yang
sedang menyusui harus dalam keadaan tenang dan jangan terlalu banyak dibebani
dengan urusan pekerjaan. Penggunaan alat kontrasepsi sebaiknya juga
diperhatikan karena pemakaian alat kontrasepsi hendaknya diperhatikan karena
pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat dapatm mempengaruhi produksi ASI.
Perawatan payudara dilakukan untuk merangsang buah dada agar mempengaruhi
hipofise untuk mengeluarkan hormone progesterone dan esterogen lebih banyak
dan hormone oksitosin yang merangsang pengeluaran ASI. Faktor fisiologi
payudara mempengaruhi produksi dan ASI. Dimana ASI dipengaruhi oleh
hormone terutama prolaktin karena ini merupakan hormone yang menentukan
dalam hal pengadaan dan mempertahankan sekresi air susu. Faktor isapan anak
juga bisa mempengaruhi dalam pengeluaran ASI. Apabila ibu menyusui anak
sebentar saja. Obat-obatan yang mengandung hormone mempengaruhi hormone
prolaktin dan oksitosin yang berfungsi dalam pembentukan dan pengeluaran ASI.
Apabila hormone ini terganggu maka akan mempengaruhi pembentukan dan
pengeluaran ASI.
2.1.6 Masalah menyusui pada ibu
Menurut Danuatmaja (2003) terdapat beberapa masalah menyusui pada
ibu yaitu Kurang informasi yang mengakibatkan banyak ibu menganggap bahwa
menyebabkan ibu lebih cepat memberikan susu formula jika merasa ASInya
kurang atau terbentur dengan masalah menyusui. Putting susu yang terbenam,
putting yang lecet dapat juga menyebabkan ibu berhenti menyusui karena ibu
beranggapan bahwa hilangnya peluang menyusui dan akibat sakit pada
payudaranya sehingga kebutuhan nutrisi bayi pun kurang
Saluran ASI tersumbat dapat saja karena payudara yang bengkak, hal ini
dikarenakan ibu tidak mengeluarkan ASI, posisi yang tidak benar dalam menyusui
dan penggunaan BH yang terlalu ketat. Hal ini dapat menyebabkan ibu demam
apabila ASI tidak segera dikeluarkan dan sebagian saluran ASI tidak dapat
mengeluarkan ASI akibat sumbatan tersebut. Menyusui setelah bedah Caesar
dianggap ibu merasa sulit untuk dilakukan karena bekas operasi yang dialami ibu.
Ibu dengan penyakit dan yang memerlukan pengobatan juga sering melakukan
penghentian menyusui karena takut penyakit yang dialami dan obat- obatan yang
dikonsumsi mempengaruhi kesehatan bayi. Padahal dalam hal ini tidak perlu,
karena lebih berbahaya bagi bayi jika dimulai memberi susu formula daripada
menyusui dari ibu yang sakit dan hanya sebagian kecil saja obat-obatan yang
melalui ASI.
Ibu bekerja seringkali menghentikan pemberian ASI karena alasan pekerjaan
sehingga banyak ibu yang memberikan susu formula karena ASI perah tidak
cukup dan waktu untuk memerah sangat sedikit. Maka dianjurkan ibu untuk mulai
menabung ASI perah sebelum ibu kembali bekerja. Semakin banyak tabungan
ASI perah yang disimpan ibu di dalam freezer, maka semakin besar peluang untuk
2.1.7 Masalah menyusui pada bayi
Menurut kristiyanasari (2009) ada beberapa masalah menyusui pada bayi
yaitu Bayi bingung putting. Dimana bayi tidak mau menyusu lagi pada ibu karena
telah dicoba minum dari botol/dot. Tanda-tanda bayi bingung putting adalah
menolak menyusu dari ibu, jika menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari
dot, dan saat menyusu sebentar-sebentar bayi melepaskan isapannya. Guna
mencegah bingung puting, jangan pernah memberi bayi minum dari botol. Jika
memberi ASI perahan gunakan dengan cangkir dan sendok.
Bayi enggan menyusu Jika bayi enggan menyusu perlu dicari apakah bayi
sakit. Selain sakit, hal-hal yang membuat bayi enggan menyusu adalah karena
bingung putting, teknik menyusui yang salah, dan ASI kurang lancar atau terlalu
deras.
Bayi sering menangis belum tentu karena lapar atau haus, bisa saja ia
takut, kesepian, bosan, basah, kotor, sakit atau rasa ASI tidak enak karena
makanan atau obat yang diminum ibu. Selain itu dapat juga karena kolik, dimana
bayi akan menangis terus-menerus pada waktu tertentu dan sukar ditenteramkan.
Namun, kolik dapat diredakan dengan mengendong bayi dengan memberikan
sedikit tekanan pada perutnya.
Sebagian ibu menganggap apabila ia melahirkan bayi kembar maka
ASInya tidak dapat mencukupi kebutuhan kedua bayinya. Selanjutnya, ibu pun
berusaha memberikan tambahan kepada kedua bayinya tanpa mencoba dahulu.
Produksi ASI sesuai dengan rangsangan yang diberikan. Dua bayi akan
Biasanya, salaah seorang bayi mengisapnya lebih kuat dari yang lain sehingga
sebaiknya jangan berikan satu payudara untuk masing-masing, tetapi kedua
payudara berikan kepada kedua bayi secara bergantian. Menyusui kedua bayi
dapat bersama-sama atau bergantian. Jika bergantian, sebaiknya dimulai dengan
yang lebih kecil dahulu.
Bayi dengan reflex isap lemah akan mengalami kesukaran menyusu.
Untuk bayi demikian, sebaiknya ASI dikeluarkan atau diperah dan diberikan
kepada bayi dengan sonde lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan
menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk mengisap. Bayi sumbing dapat
disusukan dengan menggunakan posisi tertentu dan bayi juga dapat diberikan ASI
dengan pipet, cangkir, atau sendok dalam posisi agak tegak.
Bayi kuning terjadi karena kurangnya pemberian ASI pada hari-hari
pertama. Karena ASI hari-hari pertama masih sedikit dan pengeluaran kotoran
bayi sedikit, timbul ikterus (kuning)dini. Oleh karena itu, ibu diminta menyusui
lebih sering sehingga ASI lebih banyak dan pengeluaran kotoran bayi lebih
banyak (Danuatmaja, 2003).
2.1.8 Faktor yang terkait dengan pemberian ASI
Ada beberapa faktor yang terkait dengan pemberina ASI eksklusif menurut
prasetyono (2012) yaitu Aspek pemahaman dan pola pikir. Dimana waluapun
pemberian ASI sudah banyak disosialisasikan namun tidak sedikit ibu belum
mengerti dan meremehkan tentang pemberian ASI. Rendahnya tingakt
dikarenakan kurangnya informasi dan pengetahuan yang dimiliki ibu sehingga hal
tersebut menyebabkan terjadinya perubahan dari pola dasar pemberian ASI
menjadi pemberian susu formula.
Dari aspek gizi ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan oleh
bayi hingga 6 bulan kelahirannya. ASI pertama yang diberikan kepada bayi yang
sering disebut kolostrum banyak mengandung zat kekebalan, terutama IgA yang
berfungsi melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, seperti diare. Kolostrum
mengandung protein, vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah sehingga sesuai
kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
Dari aspek pendidikan kebanyakan ibu kurang menyadari pentingnya ASI
sebagai makanan utama bayi. Mereka hanya mengetahui bahwa ASI adalah
makanan yang diperlukan bayi tanpa memperhatikan aspek lain. Waktu yang
lama bersama bayi tidak dimanfaatkan secara optimal, sehingga para ibu tidak
memberikan ASI eksklusif kepada bayi. Kegiatan atau pekerjaan ibu sering juga
dijadikan alasan untuk tidak memberikan ASI esklusif.
Dari aspek imunologik Kadar imunoglobin A (IgA) dalam kolostrum
cukup tinggi. Meskipun sekretori IgA tidak diserap oleh tubuh bayi, tetapi zat ini
berfungsi melumpuhkan bakteri pathogen E. coli dan berbagai virus pada saluran
pencernaan.
Secara psikologis menyusui dapat membangkitkan rasa percaya diri bahwa
ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi kebutuhan bayi,
menciptakan interaksi anatara ibu dan bayi yang dapat meningkatkan
sentuhan kulit mampu memberikan rasa aman dan puas. Saat menyusui terjalinlah
ikatan psikologis antara ibu dan bayi yang tidak diperoleh dari susu formula. ASi
tidak hanya mengenyangkan bayi, tetapi mencukupi kebutuhan nutrisi dalam
tubuh bayi
Dari aspek kecerdasan, ASI mengandung DHA dan AA yang dibutuhkan
bagi perkembangan otak. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
mempunyai dua dampak positif yaitu Proses pemberian ASI yang lancar
memungkinkan asupan gizi menjadi lebih maksimal dikarenakan adanya interaksi
yang baik antara ibu dan bayi, yang terjalin ketika menyusui dan bayi yang diberi
ASI hingga lebih dari 9 bulan akan tumbuh cerdas.
Secara aspek neurologis dengan meminum ASI, koordinasi saraf pada bayi
yang terkait dengan kativvitas menelan, mengisap, dan bernapas semakin
sempurna. Hal ini akan mengurangi risiko gangguan sesak napas pada bayi yang
baru lahir. Aspek juga dapat mengurangi biaya tambahan yang diperlukan untuk
membeli susu formula berserta peralatannya. Aspek penundaan kehamilan
dijelaskan bahwa dengan Ibu menyusui dapat menunda datang bulan dan
kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah.
Dari aspek pekerjaan sebaiknya bekerja bukan menjadi alasan untuk
menghentikan pemberian ASI. Ibu dapat tetap memberikan ASI dengan
melakukan pemerahan ASI atau bayi dibawah ketempat kerja apabila tersedia
tempat penitipan bayi ditempat kerjanya tersebut. Ibu sebaiknya menghindari susu
ibunya. Ibu dianjurkan untuk melakukan pemerahan ASI setiap 3-4 jam secara
teratur.
2.2Pemberian ASI
Pemberian ASI hendaknya dilakukan seketika setelah bayi dilahirkan
setengah jam pertama. Pada masa ini bayi sangat aktif dan mengisap puting
payudara sekuat mungkin pengisapan dini dapat mempercepat produksi ASI dan
mempererat produksi hubungan psikologis antara bayi baru lahir. Dalam
pemberian ASI yang perlu diperhatikan adalah tehnik atau cara pemberian dan
waktu pemberian ASI.
2.2.1 Teknik/ Cara pemberian ASI
Dalam pemberian ASI, ibu harus mempersiapkan putting payudara agar
ibu dapat menyusui bayi dengan baik. Akan tetapi ada juga putting payudara yang
datar atau menekuk kedalam dan hal ini ini bisa menyebabkan bayi sulit menyusu
dan tidak merasa puas. Dalam hal ini. Perlu dilakukan pengurutan atau penarikan
putting payudara. ASI juga dapat diberikan dengan menggunakan mangkuk atau
sendok untuk mencegah bayi bingung putting (Prasetyono, 2012). Selain itu ibu
juga perlu memperhatikan posisi ibu dan bayi ketika menyusui. Ada banyak cara
untuk memposisikan diri dan bayinya selama proses menyusui berlangsung.
Sebagian ibu memilih menyusui dalam posisi berbaring miring sambil merangkul
bayinya dan sebagian lagi melakukannya sambil duduk dikursi dengan punggung
memposisikan diri dan bayinya sedemikian rupa agar kenyamanan menyusui
dapat tercapai (Kristiyanasari, 2009).
Dalam menyusui yang paling mudah adalah dengan menempelkan pipinya
ke payudara, memasukkan putting susu dan pastikan bayi mengisap seluruh area
gelap dari payudara dan bukan hanya putting saja. Setelah bayi merasa kenyang ia
akan berhenti mengisap dan unutuk menyusui berikutnya letakkan bayi di
payudara yang satunya agar bayi menerima air susu dalam volume yang sama dari
setiap payudara setiap hari. Hal ini juga untuk menghindari pembengkakan
payudara aklibat terlalu penuh dengan air susu (Kristiyanasari, 2009).
2.2.2 Waktu pemberian ASI
Sebaiknya dalam pemberian ASI tidak perlu dijadwalkan karena akann
berakibat kurang baik, karena isapan sangat berpengaruh pada produksi ASI
selanjutnya.setiap menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.
Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI
dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Seorang bayi yang
menyusui sesuai permintaannya bisa menyusu sebanyak 12-15 kali dalam 24 jam
(Prasetyono, 2012). Ibu yang bekerja dianjurkan menyusui bayi dengan sering
pada malam hari untuk memacu produksi ASI (Anik, 2009).
2.2.2 Lama waktu menyusui
Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan mulai bayi lahir sampai usia 6
padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan
lebih dari 2 tahun (Roesli, 2000).
2.3Pemberian ASI pada ibu Bekerja
Seringkali pekerjaan menjadi alasan iibu tidak memberikan ASI kepada
bayinya. Sehingga banyak ibu yang terpaksa memberikan susu formula. Tindakan
menyusui berpengaruh pada pertumbuhan mental dan fisik bayi. ASI perasan
hanya dianjurkan pada ibu yang bekerja. Jika memungkinkan bayi bisa dibawah
ketempat kerja, namun tindakan ini sangat sulit dilakukan bila ditempat kerja
tidak tersedia sarana penitipan bayi atau pojok laktasi. Sebelum berangkat kerja
ibu sebaiknya menyusui bayinya, menyediakan ASI dirumah sebelum berangkat
bekerja dan ibu sebaiknya memerah ASI setiap 3-4 jam sekali secara teratur.
2.3.1 Cara memerah ASI
Menurut Sulistyawati (2009), cara memerah ASI dapat dilakukan dengan
menggunakan tangan dan pompa. Cara memerah ASI dengan tangan dapat
dilakukan dengan melakukan pemijatan (massage) dari bagian atas payudara
dengan gerakan memutar dan menekannya kearah dada, selanjutnya dengan
melakukan penekanan dari arah atas hingga sekitar putting dan ditekan dengan
lembut dengan jari seperti menggelitik, dan kemudian melakukan penggunjangan
pada payudara.
Cara memerah dengan pompa yaitu mengendurkan otot dan saluran ASI
sebelumnya dan pastikan pompa sudah disterilkan sebelum dipakai. Pemerahan
memerlukan waktu 15-45 menit dan tidak menyebabkan rasa sakit (Sibuea,
2011).
2.3.2 Cara penyimpanan ASI Perahan
Penyimpanan ASI perahan sebaiknya disimpan dalam wadah khusus atau
plastik khusus dan memberikan kode, tanggal dan jam pemerahan sebelum
disimpan di lemari es atau freezer. ASI perah disimpan di udara luar dapat tahan
6-8 jam, dalam termos es selama 24 jam, lemari es 2x24 jam, di freezer lemari es
1 pintu selama 12-14 hari dan di freezer lemari es 2 pintu selama 3bulan.
Meskipun bisa disimpan lama, ASI dianjurkan segera diberikan pada bayi dalam
waktu 2 hari karena jika disimpan dilemari es selama 2 minggu, kemungkinan ada
zat antibody yang mati akibat udara dingin sehingga kualitas atau komposisi ASI
dapat berubah (Anik, 2009).
2.3.3 Cara Pemberian ASI perahan
Pemberian ASI perah dapat diberikan dengan sendok dan gelas, jangan
menggunakan botol susu/dot karena bisa mengakibatkan bayi bingung putting.
Jika terdapat sisa ASI perah, jangan simpan karena ASI tersebut sudah tercemar.
Agar ASI tidak terbuang, simpan ASI perah dalam wadah ukuran sekali minum
(Danuatmaja. 2003). Pada saat ASI perahan yang disimpan di lemari es/freezer
akan diberikan kepada bayi ada baiknya ASI perah diletakkan terlebih dahulu di
suhu kamar setelha itu dihangatkan di dalam wadah yang berisi air panas dan
jangan rebus ASI secara langsung karena dapat menyebabkan zat-zat yang
terkandung dalam ASI mati (Anik, 2009).
2.4 Tenaga Kesehatan
2.4.1 Pengertian
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
kesehatan dan memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memiliki kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan (Depkes RI, 2008). Menurut peraturan pemerintah
Republik Indonesia nomor 32 tahun 1996, Tenaga kesehatan dibagi atas beberapa
jenis yaitu tenaga medis meliputi dokter umum dan dokter spesialis, tenaga
keperawatan meliputi perawat dan bidan. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker,
analis farmasi dan asisten apoteker. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi
epidemiologi kesehatan, entomologi kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh
kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian. Tenaga gizi meliputi
mutrisionis dan dietisien. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis,
okupasiterapis, dan terapis wicara, Sedangkan tenaga keteknisian medis meliputi
radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan,
2.4.2 Peran Petugas Kesehatan dalam program ASI Eksklusif
Petugas kesehatan sangat berperan dalam keberhasilan proses menyusui,
dengan cara memberikan konseling tentang ASi sejak kehamilan, melaksanakan
inisiasi menyusui dini (IMD) pada saat persalinan dan mendukung pemberian ASI
dengan 10 langkah keberhasilan menyusui yaitu langkah pertama, memiliki
kebijakan tertulis tentang menyusui yang dikomunikasikan secara rutin kepada
semua staf perawatan kesehatan. Langkah kedua, memberi semua staf perawtan
kesehatan latihan keterampilan yang dibutuhkan untuk menerapkan kebijakan ini.
Langkah ketiga, memberi tahu manfaat dan penatalaksanaan menyusui kepada
semua wanita hamil. Langkah keempat, membantu para wanita untuk mulai
menyusui sekitar setengah jam sesudah melahirkan. Langkah kelima,
menunjukkan cara menyusui dan cara mempertahankan pasokan ASI kepada para
wanita bahkan pada situasi dimana mereka harus dipisahkan dari bayinya.
Langkah keenam, tidak memberikan makanan dan minuman kepada bayi yang
baru lahir selain air susu ibu kecuali ada kebutuhan medis. Langkah ketujuh,
mempraktikkan kebijakan ibu dan bayi bersama-sama dalan satu ruangan selama
24 jam sehari. Langkah delapan, mendorong para wanita untuk menyusui sesuai
kehendak bayinya. Langkah Sembilan, tidak memberikan putting ussu tiruan atau
dot kepada bayi yang disusui. Langkah kesepuluh, mendukung dibentuknya
kelompok pendukung menyusui dan merujuk para wanita ke kelompok ini saat
mereka dipulangkan dari rumah sakit atau klinik. Beberapa hambatan kurang
berperannya petugas kesehatan dalam menjalankan kewajibannya dalam konteks
menjalankan peran mereka disamping pengetahuan konseling ASI yang maih
kurang (Sitaresmi, 2010).
Sebelum mulai mendidik ibu-ibu, para petugas kesehatan yakin bahwa
nasihatnya adalah berdasarkan pengetahuan yang cukup. Karena itu perlu
diketahui seberapa jauh pengetahuan petugas. Dalam hal ini petugas kesehatan
memiliki pengetahuan yang didapat selama pendidikan dan bekerja. Jika disetiap
instansi kesehatan tersedia tenaga yang terampil dan terlaltih mengenai aplikasi
klinis dari proses menyusui serta didukung dari proses menyusui, serta didukung
oleh program laktasi, maka dapatlah diharapkan bahwa gabungan kedua
BAB III
KERANGKA PENELITIAN
3.1Kerangka konsep
Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
gambaran pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh tenaga kesehatan yang bekerja di
RSU dr.Pirngadi Medan yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Skema 1. Kerangka penelitian pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang
bekerja Tenaga kesehatan wanita yang bekerja mempunyai anak usia 6 bulan -2 tahun
Pemberian ASI terdiri atas: - Teknik&cara
pemberian ASI - Waktu pemberian
ASI
- Lama waktu
3.2 Defenisi Operasional dan Variabel penelitian
No Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Pemberian
ASI oleh tenaga kesehatan
Air susu ibu (ASI) yang diberikan pada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 2 tahun yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terdiri dari: - Pemberian ASI
eksklusif (0-6 bulan)
- Pemberian ASI lanjutan (> 6 bulan-2 tahun) a.teknik&cara
pemberian ASI: cara yang dilakukan ibu dalam pemberian ASI pada bayinya
b.waktu pemberian ASI: waktu yang diperlukan ibu dalam pemberian ASI pada bayinya
c.lama waktu menyusui: usia bayi diberikan ASI mulai sejak lahir sampai usia 2 tahun tidak baik jika responden menjawab tidak. Untuk
pernyataan negatif disebut baik jika
menjawab tidak pernah dan tidak baik jika
menjawab selalu
Disebut baik jika:
1.Mendapat ASI eksklusif sampai dengan usia 6 bulan
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yang bertujuan
untuk mengidentifikasikan gambaran pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang
bekerja di RSU dr.Pirngadi Medan.
4.2Populasi dan Sampel penelitian
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat dan
bidan yang memiliki anak umur 6 bulan-2 tahun yang sedang diberikan ASI. Dari
hasil survey awal yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2012 diperoleh peneliti
terdapat 107 tenaga kesehatan yang memiliki anak usia 6 bulan – 2 tahun yang
masih diberikan ASI.
4.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau yang mewakili populasi yang layak untuk
diteliti (Hidayat, 2006). Populasi dalam penelitian ini yaitu 107 orang tenaga
kesehatan wanita yang memiliki anak usia 6 bulan – 2 tahun yang masih diberikan
ASI. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menggunakan teknik
nonprobability purposive sampling dengan kriteria inklusi adalah (1) wanita
(3)bekerja sebagai perawat/bidan di RSU dr. Pirngadi Medan (4) bersedia menjadi
responden.
4.3Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Juni-November 2012 di RSU
dr. Pirngadi Medan. Alasan peneliti memilih tempat ini adalah karena Rumah
Sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan, mempunyai letak yang strategis
dan memiliki perawat/bidan yang memadai untuk mendapatkan jumlah sampel
penelitian.
4.4Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Sumatera Utara dan
kemudian mengajukan permohonan izin kepada Direktur RSU dr.Pirngadi Medan.
Dalam pengumpulan data, akan dilakukan pendekatan kepada responden dan
menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian. Jika responden bersedia untuk
diteliti maka responden terlebih dahulu menandatangi lembar persetujuan
(Informed Consent) yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Bila responden menolak
untuk diteliti maka peneliti akan tetap menghormati haknya.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, maka kuesioner yang diberikan
kepada responden akan diberi kode sehingga responden hanya mencantumkan
inisal nama responden dan kerahasiaan informasi responden ini dijamin oleh
4.5Instrumen Penelitian
Data responden diperoleh dengan menggunakan alat pengumpulan data
berupa kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu: kuesioner data demografi dan
kuesioner pemberian ASI pada tenaga kesehatan.
1. Data demografi
Data demografi hanya akan menggambarkan karakteristik responden yang
meliputi umur, pendidikan, agama, suku, dan usia anak.
2. Gambaran Pemberian ASI oleh tenaga kesehatan
Kuesioner pemberian ASI oleh tenaga kesehatan terdiri dari 18
pernyataan, yang terdiri dari pertanyaan cara/teknik pemberian ASI 10 pertanyaan
dengan pilihan jawaban “tidak pernah” nilai 1, “jarang” nilai 2, “kadang-kadang”
nilai 3, “sering” nilai 4 dan "selalu” nilai 5. waktu pemberian ASI terdiri dari 5
pertanyaan dengan pilihan jawaban ya nilai 2 dan tidak nilai 1. Lama waktu
menyusui terdiri dari 3 pertanyaan berupa pertanyaan terbuka.
Kuesioner pemberian ASI oleh tenaga kesehatan terdiri dari pernyataan
negatif dan positif. Untuk pertanyaan cara/teknik pemberian ASI jika pertanyaan
positif maka jawaban “selalu” nilai 5, “sering” nilai 4, “kadang-kadang” nilai 3,
“jarang” nilai 2, dan “tidak pernah” nilai 1 dan untuk pertanyaan negatif
sebaliknya jika jawaban jawaban “selalu” nilai 1, “sering” nilai 2,
Untuk pertanyaan waktu pemberian ASI jika pertanyaan positif maka
jawaban“Ya” nilai 2 dan “tidak” nilai 1 dan untuk pernyataan negatif jawaban
“Ya” nilai 1 dan “tidak” nilai 2.
Pemberian ASI oleh tenaga kesehatan berdasarkan cara/teknik pemberian
ASI, waktu pemberian ASI dan lama menyusui dibagi menjadi 2 kategori yaitu
pemberian ASI oleh tenaga kesehatan baik dan pemberian ASI oleh tenaga
kesehatan tidak baik yang dinilai dari setiap item pernyataan.
4.6Validitas Penelitian
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Sutu instrument yang valid atau sahih mempunyai
validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memliki validitas
rendah (Arikunto, 2006). Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan Content Validity Index (CVI) dengan meminta bantuan salah
seorang staf keperawatan maternitas anak di Fakultas Keperawatan Sumatera
Utara dan diperoleh hasil validitas yaitu 0,827.
4.7Reliabilitas Penelitian
Uji reliabel menunjukkan sejauh mana alat pengukurannya dapat
diandalkan. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika digunakan beberapa kali
dalam waktu yang berbeda untuk objek yang sama sehingga akan menghasilkan
data yang sama. Uji reliabel dilakukan terhadap 20 tenaga kesehatan yang
diperoleh diolah dengan menggunakan program komputerisasi yaitu Cronbach
Alfa. Dengan nilai Alfa untuk teknik/cara pemberian ASI yaitu 0,760 dan nilai
Alfa untuk waktu pemberian ASI yaitu 0,801. Instrumen dikatakan reliabel jika
memiliki koefisien Cronbach alfa 0,7 (Polit&Hungler, 1999).
4.8Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada
responden. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara mengajukan
permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan Fakultas
Keperawatan USU, selanjutnya mengajukan surat permohonan izin melakukan
penelitian kepada Direktur RSU dr.Pirngadi. Setelah mendapatkan izin, peneliti
menjelaskan kepada responden mengenai maksud dan tujuan penelitian,
selanjutnya meminta persetujuan kepada calon responden untuk bersedia diteliti
dan jika responden bersedia, responden diminta untuk menandatangani Informed
Consent dan dalam pengisian kuesioner sebagian responden didampingi dalam
pengisian kuesioner karena ada sebagian responden yang tidak dapat didampingi
akibat kesibukan dalam pelaksanaan kegiatan di Rumah Sakit. Apabila
pengumpulan data sudah selesai dilakukan, peneliti mengecek kembali
kelengkapan pengisian kuesioner dan peneliti melakukan analisa data.
4.9Analisa data
Setelah semua data terkumpul dari hasil penngumpulan data, maka
nama dan kelengkapan identitas, mengecek kelengkapan data, dan mengecek
macam isian data. Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data
dilengkapi dengan mewawancarai kembali responden. Kedua memberikan kode
(Coding) dalam hubungan pengolahan data dengan menggunakan komputer dan
tabulasi data dengan memberikan skore (Scoring), terhadap item-item pertanyaan
dan pemberian skore. Kemudian data dianalisa dengan menggunakan system
komputerisasi dengan uji statistic deskriptif. untuk mengetahui distribusi frekuensi
dan persentase untuk data demografi, gambaran pemberian ASI oleh tenaga
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai gambaran pemberian
ASI (Air susu ibu) oleh tenaga kesehatan. Data diperoleh melalui proses
pengumpulan data yang dilakukan sejak tanggal 09 Oktober sampai 09 November
2012 di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan. Jumlah responden sebanyak 107
orang tenaga kesehatan. Penyajian meliputi karakteristik responden dan gambaran
pemberian ASI oleh tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Umum dr.
Pirngadi Medan.
1.1.Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini seluruh responden adalah tenaga kesehatan yang
terdiri dari perawat dan bidan yang bekerja di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi
Medan. Deskriptif karakteristik responden terdiri dari umur ibu, agama,
pekerjaan, suku dan umur anak.
Tabel 1. Menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok
usia reproduksi sehat yaitu usia 24-35 tahun dengan mean= 29,05; SD= 2,636.
Mayoritas responden beragama Islam (48,6%), bekerja sebagai perawat (70,1%),
bersuku batak (66,4%). Berdasarkan usia anak responden mayoritas berusia 6-12
bulan sebanyak 60 orang (56,1%) dan usia 13-24 bulan sebanyak 47 orang
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik Tenaga Kesehatan yang memberikan ASI di Rumah sakit dr. Pirngadi Medan (n= 107)
Karateristik Responden Frekuensi Persentase(%)
Usia Ibu
1.2 Pemberian ASI berdasarkan Teknik/Cara Pemberian ASI
Pada tabel 5.2 di bawah ini menggambarkan teknik/cara pemberian ASI
dapat dilihat sebanyak 39 orang (36,4%) mengatakan tidak pernah memberikan
susu formula saat bayi berusia kurang dari 6 bulan pada saat ibu sibuk bekerja.
Sebagian besar responden mengatakan selalu memanaskan ASI perahan terlebih
dahulu dalam wadah yang berisi air panas sebelum diberikan pada bayi yaitu
sebanyak 46 orang (43%). Terdapat sebanyak 52 orang (48,6%) mengatakan tidak
pernah memberikan ASI perahan dengan menggunakan dot saat ibu bekerja.
Sebanyak 44 orang (41,1%) mengatakan tidak pernah menyimpan ASI perahan di
dalam kantong plastik (plastik gula) atau pada wadah khusus. Mayoritas
responden mengatakan selalu memberikan sisa ASI perahan yang sudah pernah
(73,8%). Terdapat 54 orang (50,5%) mengatakan selalu memerah ASI dengan
menggunakan pompa atau dengan tangan sebelum ibu bekerja, dan sebanyak 54
orang (50,5%)mengatakan selalu enggan memerah ASI saat berada di tempat
kerja, dan terdapat 49 orang (45,8%)mengatakan tidak pernah mengajari
pembantu atau penjaga untuk memberikan ASI perahan dengan menggunakan
sendok. Mayoritas responden mengatakan selalu memberikan ASI kepada bayi
dari kedua payudara secara bergantian yaitu sebanyak 91 orang (85%). dan
sebanyak 71 orang (66,4%) mengatakan tidak pernah membawa bayi ketempat
kerja supaya kebutuhan ASI untuk bayi terpenuhi.
Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase teknik pemberian ASI tenaga kesehatan yang bekerja Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)
1. Jika ibu sibuk bekerja, ibu lebih memilih memberikan susu formula daripada ASI saat bayi berusia kurang dari 6 bulan
7
2. Ibu memanaskan ASI perahan terlebih dahulu dalam wadah yang berisi air panas sebelum diberikan kepada bayi
3. Saat Ibu bekerja, ASI perahan diberikan dengan menggunakan dot 4. Ibu menyimpan ASI perahan di
dalam kantung plastik (plastik gula) atau pada wadah khusus
37 5. Ibu memberikan sisa ASI perahan
yang sudah pernah diminum oleh bayi pada jadwal pemberian ASI berikutnya
menggunakan pompa atau dengan tangan sebelum ibu bekerja
7. Ibu enggan memerah ASI saat berada ditempat kerja
54 8. Ibu mengajari pembantu atau
penjaga untuk memberikan ASI perahan dengan menggunakan sendok
9. Pada saat ibu tidak bekerja, Ibu memberikan ASI kepada bayi dari kedua payudara secara bergantian
91 10. Ibu membawa bayi ketempat
kerja supaya kebutuhan ASI untuk bayinya terpenuhi
14
1.3 Pemberian ASI berdasarkan Waktu Pemberian ASI
Pada tabel 5.3 dibawah ini menggambarkan waktu pemberian ASI dapat
dilihat bahwa mayoritas responden mengatakan bahwa ibu memberikan ASI
sebelum ibu berangkat bekerja yaitu sebanyak 102 orang (95,3%), dan sebanyak
78 orang (72,9%) mengatakan bahwa ibu tidak memerah ASI setiap 3-4 jam
secara teratur pada saat ibu ditempat kerja. terdapat sebanyak 92 orang (86%)
mengatakan ibu menyusui bayinya sekitar 5-15 menit setiap kali menyusui, dan
sebanyak 100 orang (93,5%) mengatakan memberikan ASI pada malam hari pada
saat ibu tidak bekerja dan sebanyak 82 orang (76,6%) mengatakan memberikan
ASI setiap 2 jam sekali.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Waktu pemberian ASI Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)
No Pernyataan Ya Tidak
F % F %
1. Ibu memberikan ASI sebelum ibu berangkat bekerja
102 95,3 5 4,7
2. Ditempat kerja, ibu memerah ASI setiap 3-4
3. Ibu menyusui bayi sekitar 5-15 menit setiap
kali menyusui 92 86 15 14
4. Ibu memberikan ASI pada malam hari pada
saat ibu tidak bekerja 100 93,5 7 6,5
5. Ibu memberikan ASI pada bayi setiap 2 jam
sekali 82 76,6 25 23,4
1.4Pemberian ASI berdasarkan Lama menyusui
Hasil penelitian yang berdasarkan jawaban terhadap kuisioner berupa
pertanyaan terbuka tentang lama menyusui diperoleh bahwa responden
memberikan ASI paling lama pada usia 0-6 bulan sebanyak 48 orang (44,8%),
usia 7-12 bulan sebanyak 32 orang (29,8%), usia 13-24 bulan sebanyak 25 orang
(23,3%) dan responden yang memberikan ASI sampai usia lebih dari 24 bulan
yaitu 2 orang (1,8%). Responden yang memberikan makanan tambahan pada bayi
mulai usia 3-6 bulan sebanyak 81 orang (75,6%), usia lebih dari 6 bulan sebanyak
26 orang (24,3%). Sedangkan bayi yang mendapatkan susu formula mulai usia 0-6
bulan sebanyak 80 orang (74,9%), usia 7-24 bulan sebanyak 27 orang (25,1%).
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase lama menyusui Tenaga Kesehatan yang Bekerja di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan (n=107)
No Pernyataan F %
1. Lama Bayi mendapatkan ASI 0-6 bulan
5.2 Pembahasan
Dalam pembahasan akan dijabarkan mengenai hasil penelitian, yakni
gambaran pemberian ASI oleh tenaga Kesehatan yang Bekerja. Pemberian ASI ini
dikategorikan dari teknik/cara pemberian ASI, waktu pemberian ASI dan lama
menyusui.
Dari hasil penelitian berdasarkan kategori teknik/cara pemberian ASI
didapatkan bahwa terdapat 39 orang (36,4%) ibu yang tidak pernah memberikan
susu formula pada bayinya pada saat ibu sibuk bekerja. Hal ini sejalan dengan
pendapat Kristiyansari (2009) yang mengatakan ibu yang bekerja dianjurkan
untuk memerah ASI segera setelah bayi lahir. Menurut penelitian Rohani (2007)
mengatakan bahwa ibu yang bekerja cenderung untuk tidak memberikan ASI
Eksklusif karena mereka terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan
mereka dalam waktu yang lama sehingga mereka membiasakan bayinya menyusu
dari botol dengan susu formula atau memberikan makanan tambahan.
Penelitian Rohani sesuai dengan hasil penelitian bahwa terdapat 81 orang
(75,6%) responden yang sudah memberikan makanan tambahan atau susu formula
dibawah usia 6 bulan. Pemberian susu formula pada bayi akan beresiko tinggi
bagi kesehatannya, begitu pula pencampuran dengan tingkat pengenceran yang
salah dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah
terserang penyakit dan kekurangan gizi. Menurut Yuliarti (2010) mengatakan susu
formula tidak mempunyai antibodi seperti dalam ASI dan pemberian susu formula
pada bayi akan meningkatkan resiko munculnya penyakit yang ditularkan melalui
Menurut Depkes (2004) dinyatakan bahwa susu formula tidak bisa menggantikan
ASI dan hanya ASI saja yang mampu memenuhi semua kebutuhan bayi mulai dari
lahir sampai usia 2 tahun kehidupan.
Menurut Kristiyansari (2009) mengatakan apabila ibu bekerja ASI perahan
dapat dititipkan kepada pengasuh agar diberikan kepada bayinya. Akan tetapi dari
hasil penelitian terdapat 49 orang (45,8%) yang tidak pernah mengajarkan
penjaga atau pembantu untuk memberikan ASI perahan sehingga terdapat 16
orang (15%) responden yang selalu memberikan ASI perahan dengan
menggunakan dot padahal secara psikologis, pemberian ASI perahan dengan
menggunakan dot mengakibatkan proses pembentukan rahang bawah bayi
menjadi lebih maju. Menurut Prasetyono (2012) menyatakan bahwa ASI perahan
dapat diberikan dengan menggunakan mangkuk atau sendok untuk mencegah bayi
bingung putting.
Dari hasil penelitian berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan bahwa
masih terdapat responden yang tidak memberikan ASI setiap 3 jam sekali yaitu 25
orang (23,4%). Hal ini sesuai dengan pendapat Padmawati (dalam Soetjiningsih,
1997) mengatakan bahwa menyusui bayi sebaiknya tidak dijadwalkan karena bayi
akan menentukan sendiri kebutuhannya. Para ibu yang menyusui disarankan
memberikan ASI kepada bayi maksimum 10 menit setiap tiga jam, kemudian
mereka memberikan ASI kedua apabila bayi masih menunjukkan rasa lapar
(Walshaw, 2005).
Menurut Penelitian yang dilakukan Komite Dokter Umum dan Asosiasi
menit setiap hari membuat bayi lebih sehat dan berat badannya lebih baik dan
teknik ini dianggap lebih baik dibandingkan dengan metode baby led atau
mengikuti keinginan bayi yang meminta ASI jika lapar. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian dimana terdapat (86%) ibu yang selalui menyusui bayinya sekitar
5-15 menit setiap kali menyusui.
Untuk Ibu yang bekerja dianjurkan menyusui bayi sebelum berangkat
bekerja agar kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi(Danuatmaja, 2003). Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian bahwa terdapat (95,3%) ibu yang memberikan ASI
sebelum ibu berangkat bekerja. Apabila ibu tidak sempat menyusui bayinya ibu
dianjurkan sering menyusui bayinya pada malam hari untuk memacu produksi
ASI (Anik, 2009). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa terdapat 100 orang (93,5%) responden yang memberikan ASI pada malam
hari pada saat ibu tidak bekerja.
Lama bayi menyusu juga mempengaruhi produksi ASI sebab ASI di
produksi disesuaikan dengan permintaan bayi (demand and supply). ASI akan di
produksi apabila persediaan ASI telah habis. Pabrik susu akan memproduksi ASI
dengan jumlah yang sama dengan ASI yang telah dikeluarkan. Semakin lama bayi
menyusu makan akan semakin banyak jumlah ASI yang dikeluarkan dari
payudara sehingga menimbulkan rangsangan untuk memproduksi ASI dengan
jumlah yang lebih banyak (Neifert, 2003).
Berdasarkan hasil penelitian lama menyusui bahwa responden
memberikan ASI paling lama mulai usia 0-6 bulan (44,8) dan selebihnya
lebih dari usia 2 tahun terdapat (1,8%) responden yang tetap memberikan ASI.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sekartini (2011) yang mengatakan pemberian ASI
sebaiknya diberikan pada 2 tahun pertama kehidupan karena ASI mengandung zat
gizi yang palinng sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam percepatan
tumbuh kembang. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan
ibu untuk memberikan Asi eksklusif selama sekurang-kurangnya 6 bulan dan
dilanjutkan sampai usia 1 tahun (Costance, 2010). Menurut Prasetyono (2012)
mengatakan sebaiknya bayi siap diberikan makanan tambahan pada usia 6 bulan
lebih karena apabila makanan tambahan sudah diberikan sebelum sistem
pencernaan bayi siap untuk menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat
dicerna dengan baik serta menyebabkan gangguan pencernaan. Hal ini
bertentangan dengan hasil penelitian bahwa terdapat (75,6%) responden yang
sudah memberikan makanan tambahan pada bayinya dibawah usia 6 bulan.
Pada jawaban setiap responden ditemukan adanya ketidaksesuaian dalam
pengisian kuesioner, hal ini disebabkan karena kurangnya konsentrasi responden
dalam pengisian kuisioner. Dalam setiap pernyataan responden lebih percaya pada
pertanyaan terbuka karena responden diminta untuk mengingat kembali pada saat
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian dengan judul Gambaran Pemberian ASI oleh
Tenaga Kesehatan yang Bekerja di RSUD dr. Pirngadi Medan, maka dapat
diambil kesimpulan dari 107 orang tenaga kesehatan yang bekerja yang menjadi
responden penelitian diketahui bahwa responden berada pada kelompok usia
reproduksi sehat yaitu usia 20-35 tahun. Mayoritas responden beragama Islam
(48,6%), bekerja sebagai perawat (70,1%), bersuku batak (66,4%) dan usia anak
berada pada usia 6-12 bulan (56,1%) dan 13-24 bulan (43,9%). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian ASI berdasarkan teknik pemberian ASI terdapat
(50,5%) responden yang memerah ASI dengan menggunakan pompa atau tangan
sebelum ibu bekerja dan terdapat (39%) yang tidak pernah memberikan susu
formula pada bayinya pada saat ibu bekerja pada usia dibawah 6 bulan.
Berdasarkan waktu pemberian ASI didapatkan (95,3%) yang memberikan ASI
kepada bayinya sebelum berangkat bekerja. Sedangkan berdasarkan lama
menyusu responden memberikan ASI paling lama pada usia 0-6 bulan (44,8%),
6.2 Saran
6.2.1 Untuk Pendidikan Keperawatan
Dapat menjadi bahan masukan khususnya bagi pendidikan keperawatan
agar lebih menekankan pada materi pelaksanaan pemberian ASI eksklusif di
bidang maternitas
6.2.2 Untuk Tenaga Kesehatan
Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tenaga kesehatan dalam
pemberian ASI eksklusif dan sebagai bahan informasi dalam perbaikan dan
pengembangan program pelayanan kesehatan dan juga sebagai dorongan dalam
pemberian penyuluhan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu yang memiliki bayi.
6.2.3 Untuk Peneliti
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi peneliti selanjutnya
untuk melakukan penelitian dalam ruang lingkup yang sama memgenai pemberian
ASI oleh tenaga kesehatan. Dan diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar
melakukan pengumpulan data lebih baik dengan mendampingi responden untuk
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Rineka Cipta.
Arifin, M Siregar. (2004). Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor tang
mempengaruhinya. Diambil tanggal 3 Mei 2012
Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Chumbley, Jane. (2003). Tips Soal ASI dan Menyusui. Jakarta: Erlangga
Dalimunthe, A. Sally. (2011). Faktor-Faktor Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
pada Bayi 0-6 bulan> Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Danuatmaja, Bonny. (2003). 40 Hari Pasca Persalinan, Masalah dan Solusinya.
Jakarta: Puspa Swara
Hidayat, A.A.A.(2007).Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta:
Salemba medika.
Kritiyanasari, Weni. (2009). ASI, MENYUSUI & SADARI. Yogyakarta: Nuha
Medika
Maryunani, Anik. (2009). Asuhan pada Ibu dalam Masa Nifas (Postpartum).
Jakarta: Trans Info Media
Polit, D. F & Hungler, B. P. (1999). Nursing Research: Principles and Methods
Fifth Edition. Philadephia: J. B Lippicot Company
Prasetyono, Dwi Sunar. (2012). Buku Pintar ASI Eksklusif: Pengenalan, Praktik,
dan Kemanfaatan-Kemanfaatannya. Yogyakarta: DIVA Press
Rohani, 2007. Pengaruh Karakteristik ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI
Eksklusif di Wilayah Kerja PuskesmasTeluk Kecamatan Secanggang
Kabupaten Langkat Tahun 2010. Skripsi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
Sibuea, Rina. (2012). Gambaran Pengetahuan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu
Bekerja Di Kecamatan Porsea. Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
Silalahi, Santaria. M. (2005). Pengetahuan dan Sikap Ibu-Ibu Menyusui di Kota
dan di Desa tentang Pemberian ASI Eksklusif. Fakultas Keperawatan
Sumatera Utara
Sinclair, Costance. (2003). Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC
Sitaresmi, M, N, 2010. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara Eksklusif,
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas.
Yogyakarta: Adi
diakses 25 Maret 2011
Sudjana. 2002. Metode Statistik. Bandung :Tarsito
Sekartini, Rini. (2011). Buku Pintar Bayi. Jakarta: Pustaka Bunda
Sri Purwanti, Hubertin. (2004). Konsep Penerapan ASI Eksklusif: Buku Saku
untuk Bidan. Jakarta: EGC
Yatimin. (2008). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu memberian Makanan
Tambahan pada Usia 0-6 bulan. Fakultas Keperawatan Universitas