• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Modal Kerja Dan Risiko Kredit (Non Perfoming LOan) Terhadap Profitabilitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Modal Kerja Dan Risiko Kredit (Non Perfoming LOan) Terhadap Profitabilitas"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Yanwar Johari/21106097, Pengaruh Modal Kerja dan Risiko Kredit (Non Performing Loan) Terhadap Profitabilitas (ROA) Pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Di bawah bimbingan Sri Dewi Anggadini, SE., M.Si.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan mdaol kerja, risiko kredit (Non Performing Loan), dan untuk mengetahui perkembangan profitabilitas (Return On Asset), dan untuk mengetahui pengaruh modal kerja dan risiko kredit (Non Performing Loan) terhadap profitabilitas (Return On Asset) pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, periode 2003-2009. Variable independen dalam penelitian ini adalah modal kerja dan risiko kredit (NPL), sedangkan yang menjadi variable dependen adalah tingkat profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA).

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan ada alah data modal kerja , risiko kredit (Non Performing Loan) dan data profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, periode 2003-2009 yang selanjutnya dianalisis dengan : analisis regresi linier berganda, analisis korelasi person, koefisien determinasi dan uji t. dalam melakukan pengolahan data dan dengan menggunakan SPSS 15 for windows.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara modal kerja dan risiko kredit (Non Performing Loan) terhadap Profitabilitas (Return On Asset). Tingkat keeratan hubungan (korelasi) ketiga variabel kuat yaitu r= 0,992 dengan nilai korelasi negativ, artinya jika Modal kerja meningkat, maka profitabilitas akan meningkat dan jika risiko kredit (Non Performing Loan) meningakat maka profitabilitas akan menurun dan begitupun sebaliknya. Sedangkan untuk koefisien determinan diperoleh angka sebesar 98,41% dan sisanya sebesar 1,59% dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil pengujian hipotesis yaitu dengan menggunakan uji t, diperoleh thitung sebesar -?, sehingga H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa modal kerja dan risiko kredit (Non Performing Loan) berpengaruh negative terhadap profitabilitas (Return On Asset) pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kata kunci : Modal Kerja, Risiko Kredit (Non Performing Loan) dan Profitabilitas (Return On Asset)

(2)

Yanwar Johari/21106097, Influence of Working Capital and Credit Risk (Non Performing Loan) Toward Profitability (ROA) at PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Under the guidance of Sri Dewi Anggadini, SE., M.Sc.

This study aims to determine progress of work mdaol, credit risk (non-performing loans), and to know the development of profitability (Return On Asset), and to know influence of working capital and credit risk (non-performing loans) to profitability (Return On Asset) at PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, the period of 2003-2009. Independent variable in this research is working capital and credit risk (NPL), whereas the dependent variable is the level of profitability measured by Return On Assets (ROA) .

The research method used is descriptive quantitative method. The data collected is the data ne working capital, credit risk (non-performing loans) and data profitability (ROA) at PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, the period of 2003-2009 are analyzed by: multiple linear regression analysis, correlation analysis person, coefficient determination and test t. in doing data processing and by using SPSS 15 for Windows.

Based on the results of research show that there are influence between working capital and credit risk (non-performing loans) against Profitability (Return On Asset). The level of their relationship (correlation) strong third variable that is r =0.992 with the value of a negative correlation, meaning that if the working capital increases, the profitability will increase and if the credit risk (non-performing loans), the profitability aan meningakat decreased and vice versa.

As for the coefficient determinant obtained registration numbers 98,41% and the remaining amount 1,59% influenced by other factors. Results of hypothesis testing by using the t test, obtained t count for -?, So that H0 is rejected. So it can be concluded that the working capital and credit risk (non-performing loans) have a negative effect on profitability (Return On Asset) at PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Melemahnya perekonomian atau yang lebih dikenal dengan istilah krisis global telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian setiap negara. Efek dari krisis global yang dapat dirasakan di Indonesia yaitu melemahnya sektor perindustrian di Indonesia karena daya beli masyarakat menurun drastis. Melemahnya sektor perindustrian di Indonesia juga berimbas pada buruknya kinerja perbankan di Indonesia.

Kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan akibat krisis menghadapkan perekonomian Indonesia pada sejumlah tantangan yang tidak ringan selama tahun 2009. Tantangan itu cukup mengemuka pada awal tahun 2009, sebagai akibat masih kuatnya dampak krisis perekonomian global yang mencapai puncaknya pada tahun 2008. Ketidakpastian yang terkait dengan sampai seberapa dalam aktivitas global dan sampai seberapa cepat pemulihan ekonomi global akan terjadi, bukan saja menyebabkan tingginya risiko di sektor keuangan, tetapi juga berdampak negatif pada kegiatan ekonomi di sektor riil domestik. Kondisi tersebut mengakibatkan stabilitas moneter dan sistem keuangan pada tahun 2009 masih mengalami tekanan berat, sementara pertumbuhan ekonomi juga dalam perkembangannya menurun akibat aktivitas ekspor barang dan jasa yang cukup dalam. Kondisi tersebut menurunkan kepercayaan pelaku ekonomi di sektor keuangan dan sektor riil, serta berpotensi menurunkan berbagai kinerja positif yang telah dicapai dalam beberapa tahun sebelumnya.

(4)

perusahaan yang terdapat di neraca sebelah debet maupun berupa daya beli atau nilai tukar dari barang-barang yang tercatat di sebelah kredit. Modal tersebut berasal dari kekayaan yang dimiliki perusahaan tersebut. Selain digunakan dalam operasi perusahaaan sehari-hari, modal kerja menunjukkan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur terutama kreditur jangka pendek. Adanya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan dapat beroperasi seekonomis mungkin sehingga perusahaan tidak mengalami kesulitan sebagai akibat adanya krisis atau kekacauan keuangan.

Penggunaan modal kerja harus berdasarkan salah satu dari tiga konsep yaitu modal kerja kuantitatif yang menganggap modal kerja adalah keseluruhan jumlah dari aktiva lancar, konsep kualitatif yang mengaitkan modal kerja dengan jumlah utang lancar ataupun konsep fungsionil yang mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income).

Untuk dapat menghindari bahaya adanya krisis keuangan atau kelebihan dana, maka jumlah modal kerja harus cukup untuk membiayai operasi perusahaan. Selain itu perusahaan perlu mengatur penggunaan modalnya dengan seekonomis dan seefisien mungkin, sehingga tercipta kesesuaian antara kebutuhan dan jumlah dana yang tersedia. Penggunaan modal yang dilaksanakan secara efisien berarti bahwa setiap jumlah yang tertanam dalam modal aktif dan modal pasif harus dapat digunakan sebaik mungkin untuk menghasilkan tingkat keuntungan investasi, karena efisiensi penggunaan modal secara langsung akan menentukan besar kecilnya tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi tersebut. Akan tetapi adanya modal kerja yang berlebihan menunjukkan adanya dana yang tidak produktif dan hal ini akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena menyia-nyiakan keuntungan.

(5)

dengan modal sendiri tidak mencukupi kebutuhan akan modal kerja karena modal sendiri digunakan untuk membiayai harta tetap, sedangkan jika kebutuhan modal kerja dibiayai dengan menggunakan kredit jangka panjang seluruhnya, maka hal ini tidak menguntungkan karena penggunaan modal kerja dalam jangka waktu pendek sedangkan perusahaan terikat pada beban tetap yang harus dibayar yaitu bunga. Dalam suatu perusahaan kemampuan seorang manajer diperlukan untuk menghadapi beberapa alternatif dalam memenuhi kebutuhan modal kerjanya, alternatif yang dipilih haruslah menguntungkan bagi perusahaan.

Modal kerja dalam suatu perusahaan adalah sejumlah dana yang harus berputar secara tetap atau permanen. Tingkat perputaran modal kerja yang tinggi akan menguntungkan bagi kreditur jangka pendek karena mereka memperoleh kepastian bahwa modal kerja berputar dengan kecepatan yang tinggi sehingga hutang akan segera dapat dibayar meski dalam kondisi operasi yang sulit. Dalam perusahaan tingkat perputaran modal kerja yang tinggi akibat adanya jumlah modal yang cukup dengan tingkat penjualan yang tinggi sehingga modal cepat kembali kebentuk semula yaitu kas dan piutang. Namun, adakalanya perputaran modal kerja yang tinggi bukan berarti efektif akan tetapi sebagai akibat perusahaan kekurangan modal kerja sedangkan tingkat penjualan dalam perusahaan tersebut tinggi. Sedangkan tingkat perputaran modal kerja yang rendah disebabkan karena banyaknya dana yang tidak dimanfaatkan dalam operasi perusahaan secara efektif dan efisien dengan tingkat penjualan yang rendah.

(6)

memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan efisien perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan.

Pengelolaan modal kerja yang baik dapat dilihat dari ketepatan penggunaannya, adapun penggunaan modal kerja tersebut biasanya digunakan untuk:

1) Pembelian aktiva tetap

2) Pembayaran utang atau pembelian saham 3) Pembayaran deviden

4) Pembayaran beban atau biaya

Aktivitas yang dilakukan bank dalam sistem perekonomian bahwa bank merupakan bagian dari lembaga keuangan, begitu pula halnya dengan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dan menyalurkan kembali dana tersebut dalam bentuk kredit bagi masyarakat yang membutuhkan.

Bunga kredit merupakan tulang punggung perbangkan, karena bunga kredit merupakan sumber pendapatan terbesar bagi sektor perbankan. Setiap pemberian kredit yang dilakukan bank selalu terdapat risiko kredit (non perpforming loan) yang mengikuti. Besar resiko kredit (non performing loan) sebanding dengan besarnya kredit yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri. Risiko kredit timbul akibat ketidakmampuan pihak debitur untuk memenuhi kewajibannya kepada bank seperti pembayaran pokok pinjaman, pembayaran bunga dan lain-lain yang tidak sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pihak bank dituntut untuk lebih selektif dalam menyelesaikan calon debitur agar dapat terhindar dari risiko kredit (non performing loan).

(7)

Performing Loan (NPL), maka potensi keuntungan yang akan diperoleh akan semakin besar pula karena bank-bank akan menghemat uang yang akan diperlukan untuk membuat cadangan kerugian Non Performing loan (NPL). Atau Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Dengan semakin kecil PPAP yang harus dibentuk bank maka pengembalian modal bank yang diperoleh akan membaik dan keuntungan yang diperoleh meningkat sehingga kinerja bank secara keseluruhan akan ikut meningkat.

Perbankan di Indonesia dewasa ini wajib memenuhi penyediaan modal minimum sebesar 8% dengan memperhitungkan risiko pasar. Sesuai PBI No. 5/12/PBI/2003 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dengan memperhitungkan Risiko Pasar (Market Risk), bank wajib melaporkan posisi yang diperhitungkan dalam risiko pasar secara bulanan dengan format yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia secara on-line dan mengacu kepada ketentuan tentang Laporan Berkala Bank Umum. Ketentuan tersebut berlaku bagi semua bank tak terkecuali PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang juga menghadapi risiko sama dalam industri perbankan yaitu risiko kredit, risiko mata uang asing, risiko likuiditas, risiko tingkat suku bunga, dan risiko operasional.

(8)

Sejalan dengan perkembangannya, rikiso kredit dan laba pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk cenderung mengalami fluktuatif dalam setiap perkembangannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

TABEL 1.1.

MODAL KERJA , RISIKO KREDIT ( Non Preforming Loan) dan PROFITABIITAS

(ROA)

PT.BANK MANDIRI (Persero),Tbk TAHUN 2004-2009

Tahun Modal Kerja NPL Profitabilitas

(ROA

2003 20.398.698 8,61% 2,82%

2004 24.938..250 7.10% 3,03%

2005 23.219.103 25.28% 0,47%

2006 26.345.846 16.36% 1,06%

2007 29.250.078 8.64% 1,98%

2008 30.541.938 5.35% 2,25%

2009 35.298.263 20.35% 0,34%

Sumber : www.bankmandiri.co.id

(9)

Hal tersebut dapat dilihat dari rasio perbankan yang berhubungan dengan rasio profitabilitas (ROA). ROA (Return On Asset), rasio ini mengukur kemampuan bank didalam memperoleh laba dan efesiensi secara keseluruhan, karena rasio ini mengidentifikasikan berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh rata-rata terhadap setiap rupiah asetnya.

(10)

Salah satu keputusan penting yang dihadapi oleh pihak bank dalam kaitannya dengan kelangsungan operasi bank yaitu dari kegiatan pengimpunan sumber dana yang dialokasikan untuk pemberian kredit ini.

Bertitik dari hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk menelaah secara lebih dalam dan diharapkan dapat diketahui sampai sejauh mana modal kerja , risiko kredit (Non Performing Loan) terhadap profitabilitas, dalam bentuk skripsi yang berjudul PENGARUH MODAL KERJA DAN RISIKO KREDIT (NON PERFORMING LOAN) TERHADAP PROFITABILITAS (ROA) PADA PT.BANK MANDIRI (PERSERO), TBK

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

Salah satu risiko yang dapat terjadi dalam perbankan adalah risiko kredit (non perfotming loan). Akibat negativ dari timbulnya risiko kredit (non performing loan) adalah menurunnya tingkat profitabilitas (ROA) pada bank. Tetapi hal yang terjadi pada Bank Mandiri justru sebaliknya, perkembangan risiko kredit (non performing loan) berbanding lurus dengan perkembangan profitabilitas.

1. Tahun 2005 dan 2009 risiko kredit (Non Performing Loan) PT. Bank Mandiri mengalami kenaikan, ini dikarenakan pengembalian kredit dari debitur mengalami masalah.

2. Profitabilitas pada tahun 2005 dan 2009 mengalami penurunan dikarenakan perolehan laba yang tidak efisien.

(11)

harga komoditas, meningkatnya volatilitas mata uang dan likuiditas yang diperketat sehingga berdampak kurang menguntungkan terhadap kualitas kredit nasabah disemua segmen.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana modal kerja pada PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk.

2. Bagaimana risiko kredit (non performing loan) pada PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk. 3. Bagaimana tingkat profitabilitas (ROA) pada PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk.

4. Seberapa besar pengaruh modal kerja,risiko kredit (non performing loan) terhadap profitabilitas (ROA).

1.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Sesuai masalah-masalah yang di identifikasi diatas, maka penelitian dilakukan dengan maksud untuk memperoleh data, menganalisis dan memperoleh pemahaman mengenai Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui modal kerja pada PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk.

2. Untuk mengetahui risiko kredit (non performing loan) pada PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk.

(12)

4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh modal kerja, risiko kredit (non performing loan) terhadap profitabilitas (ROA).

1.3.2 Tujuan Penelitian

Manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi perusahaan

Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan serta keputusan terutama yang

berhubungan dengan pencapaian keuntungan atau laba pada perusahaan.

2. Bagi penulis

Sebagai wahana latihan atau pengembangan kemampuan dalam bidang penelitian dan penerapan

teori yang telah diperoleh dibangku kuliah.

3. Bagi lembaga perguruan tinggi

untuk menambah refernsi yang dapat memberikan informasi kemungkinan ada penelitian lebih lanjut.

1.4 Lokasi Dan Waktu Penelitian

1.4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dan pengumpulan data dilakukan di PT. Bank Mandiri (Persero), dengan pengambilan data melalui website PT.Bank Mandiri (Persero), Tbk

1.4.2 Waktu Penelitian

(13)

Tabel 1.2

1. Mengajukan outline dan proposal skripsi

4 . Pelaksanaan Penelitian

(14)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Bank

2.1.1.1 Pengertian Bank

Bank adalah suatu lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut kepada pihak yang kekurangan atau membutuhkan dana.

Menurut PSAK No.31 (2004:31.1) Bank adalah :

Lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

Sedangkan menurut Kasmir (2008:25) Bank adalah:

Lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan, dan deposito. Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkannya.

(15)

2.1.1.2 Modal Bank

Menurut Taswan (2005:127) modal bank yaitu:

Dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank disamping untuk memenuhi regulasi yang ditetapkan oleh otoritas moneter

Sedangkan menurut Idroes dan Sugiarto (2006:17) modal yaitu :

Dana yang ditempatkan pihak pemegang saham, pihak pertama pada bank memiliki peranan yang sangat penting sebagai penyerap jika timbul kerugian (risk loss).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa modal bank merupakan dana yang berasal dari pemilik untuk membiayai kegiatan usaha bank dan mempunyai peranan penting dalam mengatasi kerugian.

Adapun modal bank yang didirikan dan berkantor pusat di Indonesia menurut Dendawijaya (2009:38) terdiri atas :

1. Modal inti atau primary capital

2. Modal pelengkap atau secondary capital.

Penjelasan tentang modal bank tersebut adalah sebagai berikut:

1. Modal inti

Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak dengan perincian sebagai berikut :

a. Modal disetor

(16)

b. Agio saham

Agio saham adalah selish lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat dari harga saham yang melebihi nilai nominalnya.

c. Cadangan umum

Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai anggaran dasar masing-masing.

d. Cadangan tujuan

Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disishkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota. e. Laba ditahan

Laba ditahan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.

f. Laba tahun lalu

Laba tahun lalu adalah laba bersih setelah dikurangi pajak dan belum ditentukan penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota.

g. Laba tahun berjalan

Laba tahun berjalan adalah laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran hutang pajak.

2. Modal pelengkap

Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang tidak dibentuk dari laba setelah pajak dan pinjaman yang sifatnya dapat dipersamakan dengan modal.

(17)

Cadangan revaluasi aktiva tetap adalah cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. b. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan

Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan adalah cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan

c. Modal kuasi

Modal kuasi adalah modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal.

d. Pinjaman subordinasi

Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang harus memenuhi berbagai syarat, seperti ada perjanjian tertulis antara bank dan pemberi pinjaman mendapat persetujuan dari Bank Indonesia, minimal berjangka 5 tahun dan pelunasan sebelum jatuh tempo harus atas persetujuan Bank Indonesia.

2.1.1.3Sumber- sumber Dana Bank

Menurut Dendawijaya (2009:46) yang dikutip dari Sinungan (1993:84), dana-dana yang digunakan sebagai alat bagi operasional suatu bank bersumber dari dana-dana sebagai berikut:

1. Dana pihak kesatu 2. Dana pihak kedua 3. Dana pihak ketiga .

(18)

Dana dari bank sendiri adalah dana yang berasal dari pemilik bank atau para pemegang saham, baik para pemegang saham pendiri (yang pertama kalinya ikut mendirikan bank tersebut) maupun pihak pemegang saham yang ikut dalam usaha bank tersebut pada waktu kemudian, termasuk para pemegang saham publik (jika misalnya bank tersebut sudah go public atau merupakan suatu badan usaha terbuka) . Dana modal sendiri terdiri atas :

a. Modal disetor

Modal disetor adalah uang yang disetor secara efektif oleh pemegang saham pada saat bank didirikan.

b. Agio saham

Agio saham adalah nilai selisih jumlah uang yang dibayarkan oleh pemegang saham baru dibandingkan dengan nilai nominal saham.

c. Cadangan-cadangan

Cadangan-cadangan adalah sebagian laba bank yang disihkan dalam bentuk cadangan modal dan cadangan lainnya yang digunakan untuk menutup kemungkinan timbulnya risiko dikemudian hari.

d. Laba ditahan

Laba ditahan adalah laba milik para pemegang saham yang diputuskan oleh mereka sendiri melalui rapat umum pemegang saham untuk tidak dibagikan sebagai dividen, tetapi dimasukkan kembali dalam modal kerja untuk operasional bank.

(19)

Dana pihak kedua adalah dana-dana pinjaman yang berasal dari pihak luar, yang terdiri atas dana-dana sebagai berikut:

a. Call money

Call money adalah pinjaman dari bank lain yang berupa pinjaman harian antar bank. b. Pinjaman biasa antar bank

Pinjaman biasa antar bank adalah pinjaman dari bank lain yang berupa pinjaman biasa dengan jangka waktu relatif lebih lama

c. Pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank (LKBB)

Pinjaman ini terutama terjadi ketika lembaga keuangan-keuangan tersebut masih berstatus LKBB, sebelum dikeluarkannya Undang-undang No.7 tahun 1992 tentang perbankan. Setelah dikeluarkannya undang-undang tersebut, LKBB ini hampir semua berubah statusnya menjadi bank umum. Pinjman dari LKBB ini lebih banyak berbentuk surat berharga yang dapat diperjual belikan dalam pasar uang sebelum jatuh tempo daripada berbentuk kredit.

d. Pinjaman dari bank sentral BI

Pinjaman dari bank sentral BI lebih dikenal dengan istilah Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI). KLBI merupakan instrumen dari bank sentral dalam rangka memberikan motivasi gerakan moneter bagi bank dan masyarakat ekonomi, serta merupakan sumber dana yang tergolong murah dengan tingkat bunga yang relatiif sangat rendah.

(20)

Dana pihak ketiga adalah dana berupa simpanan dari masyarakat yang merupakan sumber dana terbesar yang paling di andalkan oleh bank. Dana dari masyarakat terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Giro (Demand Deposit)

Giro adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.

b. Deposito (Time Deposit)

Deposito atau simpanan berjangka adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian. c. Tabungan (Saving Deposit)

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.

2.1.1.4Kegiatan-kegiatan bank

Adapun kegiatan-kegiatan perbankan yang ada di Indonesia dewasa ini menurut Kasmir (2008:43) adalah sebagai berikut :

1. Kegiatan-kegiatan bank umum

a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito.

b. Menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk investasi, kredit modal kerja, dan kredit perdagangan.

(21)

2. Kegiatan-kegiatan bank perkreditan rakyat

a. Menghimpun dana dalam bentuk simpanan tabungan dan simpanan deposito b. Menyalurkan dana dalam bentuk kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit

perdagangan

c. Larangan-larangan bagi bank perkreditan rakyat adalah menerima simpanan giro, mengikuti kliring, melakukan kegiatan valuta asing, dan melakukan kegiatan perasuransian.

3. Kegiatan bank-bank campuran dan bank asing

Kegiatan bank campuran dan bank asing di indonesia dewasa ini adalah sebagai berikut:

a. Dalam mencari dana bank asing dan bank campuran dilarang menerima simpanan dalam bentuk simpanan tabungan.

b. Kredit yang diberikan lebih diarahkan ke bidang-bidang tertentu seperti perdagangan internasional, bidang industri dan produksi, dll.

c. Untuk jasa-jasa bank lainnya juga dapat dilakukan oleh bank umum campuran dan asing sebagaimana layaknya bank umum yang ada di Indonesia seperti jasa transfer, safe deposit box, dll

(22)

Modal Kerja = Aktiva Lancar Hutang 2.1.2 Modal Kerja

2.1.2.1Pengertian Modal kerja

Dalam operasioan kegiatan keseharian perusahan modal memiliki peran utama sehingga kelangsungan hidup perusahaan terjamin. Dalam perusahana modal kerja menunjukan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur terutama kreditur jangka pendek, adanya modal kerj yang cukup memungkinkan perusahaan beroperasi dengan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami kesulitan akibat krisis-krisis atau kekacauan keuangan, menurut Munawir (2005:115) :

Modal kerja adalah kelebihan nilai aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.

Yang digunakan untuk menentukan besarnya angka modal kerja dalam penelitian ini adalah :

Munawir (2005:115)

(23)

modal menurut Brigham (IAI,2007:9) :

Modal ialah jumlah dari utang jangka panjang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa, atau mungkin pos-pos tersebut plus utang jangka pendek yang dikenakan bunga .

Definisi modal dalam Standar Akuntansi Keuangan (IAI,2007:9) :

Modal adalah hak residual atas asset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban .

Perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari. Pengertian modal kerja menurut beberapa ahli, antara lain:

a. menurut Ingram (2005:F135) working capital is the difference between current assets and current liabilities ,

b. menurut Sawir ( 2 0 0 5 : 1 2 9 ) menyatakan :

Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek atau lancar, termasuk di dalamnya kas, sekuritas, piutang, persediaan, dan dalam beberapa perusahaan, biaya dibayar di muka ,

Berdasarkan berbagai pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam harta jangka pendek atau aktiva lancar.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja merupakan sejumlah dana yang tertanan untuk membiayai kegiatan operasional keseharian perusahaan. Dalam pembahasan modal kerja dikenakan 3 konsep modal kerja yaitu:

a. Konsep kuantitatif

(24)

akan mengalami perputaran dalam jangka waktu yang pendek. Jadi, besarnya modal kerja adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar/sering disebut dengan modal kerja bruto (gross working capital).

b. Konsep kualitatif

Dalam konsep ini pengertian modal kerja dikaitkan juga dengan besarnya jumlah utang lancar/utang yang harus dibayar segera dalam jangka waktu pendek. Dalam arti, sebagian dari aktiva lancar harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansial yang harus segera dilakukan untuk menjaga likuiditasnya. Besarnya modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar atas utang lancar. Maka ini sering disebut dengan modal kerja netto (net working capital).

c. Konsep fungsional

Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan pendapatan (income). Pendapatan yang dimaksud adalah pendapatan dalam satu periode akuntansi (current income) bukan pada periode-periode berikutnya (future income). Sehingga besarnya modal kerja dalam konsep ini adalah:

1) Besarnya kas

2) Besarnya persediaan

3) Besarnya piutang dikurangi besarnya keuntungan

4) Besarnya sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap.

(25)

2.1.2.2 Jenis Modal Kerja

Menurut Gito Sudarmono (2004:33), modal kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi:

a. Modal kerja permanen (permanent working capital)

Yaitu modal kerja yang harus selalu ada pada perusahaan agar berfungsi dengan baik dalam satu periode akuntansi. Modal kerja permanen terbagi menjadi dua, yaitu:

1) Modal kerja primer (Primary working capital), adalah sejumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan kegiatan usahanya.

2) Modal kerja normal (Normal working capital), yaitu sejumlah modal kerja yang dipergunakan untuk dapat menyelenggarakan kegiatan produksi pada kapasitas normal. Kapasitas normal mempunyai pengertian yang fleksibel menurut kondisi perusahaan.

b. Modal kerja variabel (variable working capital)

Yaitu modal kerja yang dibutuhkan saat-saat tertentu dengan jumlah yang berubah-ubah sesuai dengan perberubah-ubahaan keadaan dalam satu periode. Modal kerja variabel dapat dibedakan:

1) Modal kerja musiman (Seasonal working capital), yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan oleh perubahan musim.

2) Modal kerja siklis (Cyclical working capital), yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan oleh perubahan permintaan produk.

(26)

berubah-ubah yang penyebabnya tidak diketahui sebelumnya.

2.1.2.3. Fungsi Modal Kerja

Menurut Munawir (2005:116-117), modal kerja/dana yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, disamping memungkinkan bagi kesulitan keuangan, juga akan memberikan keuntungan lain yaitu:

a) Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.

b) Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya. c) Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi

perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.

d) Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.

e) Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para langganannya.

f) Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan.

2.1.2.4. Sumber Modal Kerja

Menurut Munawir (2005:119-122), Pada dasarnya modal kerja terdiri dari dua pokok bagian, yaitu:

(27)

berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan.

b. Jumlah modal kerja variabel yang jumlahnya tergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan diluar aktivitas biasa.

Pada umumnya sumber modal kerja suatu perusahaan terdiri dari: a. Hasil operasi perusahaan

Modal kerja perusahaan yang berasal dari hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa laporan penghitungan laba rugi perusahaan.

b. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek).

Dengan adanya surat berharga ini menyebabkan perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah bentuknya menjadi uang kas. Keuntungan yang diperoleh dari penghitungan surat berharga ini merupakan suatu sumber bertambahnya modal kerja.

c. Penjualan aktiva tidak lancar

Sumber lain yang dapat menambah modal kerja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya. Perubahan aktiva ini menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja.

d. Penjualan saham atau obligasi

Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya atau dengan menerbitkan obligasi.

2.1.1.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Modal Kerja

(28)

modal kerja, yaitu:

a. Modal kerja meningkat sebagai berikut: 1) Perusahaan memperoleh laba, 2) Perusahaan menjual aktiva tetap, 3) Penyusutan aktiva tetap,

4) Bertambah besarnya hutang jangka panjang, 5) Perusahaan menambah besarnya modal pesertaan. b. Modal kerja menurun sebagai berikut:

1) Perusahaan menderita rugi, 2) Perusahaan membeli aktiva tetap,

3) Hutang jangka panjang perusahaan menurun, 4) Perusahaan mengurangi besarnya modal pesertaan, 5) Perusahaan membagikan deviden.

2.1.1.6 Penggunaan Modal Kerja

Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki perusahaan.

Menurut Soediyono (2003:168) Penggunaan aktiva lancar yang menyebabkan turunnya aktiva lancar adalah sebagai berikut:

(29)

b. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan- tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya dana pelunasan obligasi, dan pensiun pegawai, dan ekspansi ataupun dana-dana lainnya.

c. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.

d. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.

e. Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi atau prive.

2.1.2 Kredit

2.1.3.1 Pengertian Kredit

Kegiatan bank yang kedua setelah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan adalah menyalurkan kembali dana tersebut dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan istilah kredit.

Kredit berasal dari kata Yunani creder yang berarti kepercayaan, atau credo yang berarti saya percaya. Jadi seandainya seseorang memperoleh kredit, berarti ia memperoleh kepercayaan (trust). Maksud kepercayaan dari pemberi kredit adalah kepercayaan kepada penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi penerima kredit mereupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu yang telah disepakati bersama.

(30)

spending unit) kepada masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending unit) kepada masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending unit).

Rachmat firdaus dan Maya Ariyanti (2009:1) menjelaskan mengenai perngertian kredit yang sesungguhnya berasal dari bahasa yunani credere yang berarti kepercayaan atau credo yang berarti saya percaya. Jadi apabila seandainya seseorang memperoleh kredit, berarti ia memperoleh kepercayaan. Dengan perkataan lain maka kredit meangandung pengertian adanya suatu kepercayaan dari seorang atau badan yang diberikan kepada dedeorang atau badan lainnya yaitu bahwa yang bersangkutan pada masa yang akan dating akan memenuhi segala sesuatu kewajiban yang telah diperjajnjikan terlebih dahulu.

Menurut Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso (2006:113):

Kredit adalah pemberian fasilitas pinjaman (bukan berdasarkan prinsip syariah) kepada nasabah, baik fasilitas pinjaman tunai (cash loan) maupun pinjaman non tunai ( non- cash loan) .

Dalam upaya untuk menghasilkan laba yang sebesar-besarnya maka bank berupaya untuk dapat menyalurkan kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending unit). Dalam penyaluran kredit tersebut pihak bank akan membebankan bunga kepada masyarakat yang menggunakan kredit dari bank tersebut. Hal ini di ungkapan oleh Martono (2007:55):

Bunga kredit adalah salah satu jumlah ganti rugi atau balas jasa atas penggunaan uang oleh nasabah .

(31)

Bunga memegang peran pentng dalam upaya bank dalam menghasilkan laba Menurut Rachmat Firdaus dan Maya Ariayanti (2005:4):

Apabila pemberian kredit berjalan baik (lancar) maka bunga kredit dapat mencapai 70% sampai 90% dari keseluruhan pendapatan bank .

Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahawa bunga kredit merupakan tulang punggung aktivitas bank, semakin lancar penerimaan bunga kredit yang didapat oleh bank adan dapat menjamin pergerakan bank selanjutnya. Tanpa adanya bunga kredit maka bank tidak dapat mendapatkan keuntungan yang berarti bank tidak dapat membiayai aktifitas sehari-hari. Yang digunakan untuk menentukan besarnya angka modal kerja dalam penelitian ini adalah :

Kredit kurang lancar + Kredit diragukan + kredit bermasalah

NPL= X 100 Total Kredit yang diber

Dhalan Siamat (2001:92)

2.1.2.2Analisis Pemberian Kredit

Dengan adanya kemungkinan untuk menghasilkan keuntungan yang besar maka suatu kredit yang memiliki risiko besar harus dikelola dengan baik. Pencegahan untuk dapat menekan risiko kredit pada bank dapat dilakukan dengan menggunakan analisis kredit. Lukman Dendawijaya (2005:92) mengatakan analisis pemberian kredit sering disebut dengan istilah 6 C yang terdiri dari :

1. Character

(32)

dilakukan jika telah terjalin hubungan atau dapat dicarikan dari informasi yang mendukung, baik dari kalangan perbankan maupun kalangan bisnis

2. Capital

Besarnya kemampuan modal calon nasabah dapat diketahui dari laporan keuangan yang dimilikinya. Semakin besar perusahaan yang dimiliki calon nasabah, semakin mudah untuk memperoleh data tentang modal sendiri.

3. Capacity

Adalah penilaian terhadap calon nasabah kredit dalam hal memenuhi kewajiban yang disepakati dalam perjanjian pinjaman atau akad kredit, yaitu melunasi pokok pinjaman disertai bunga sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat tertentu.

4. Condition Of Economy

Suatu priyek yang akan dibiayai bersama oleh bak dan nasabah kredit tentu memiliki berbagai cirri tertentu, missal jenis bisnis yang akan digeluti, jenis produk (jasa) yang akan di produksi, sasaran pasar yang akan dituju, harga yang akan ditawarkan, promosi yang akan dijalankan, dan sebagainya.

5. Collateral

Collateral atau agunan kredit merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum permohonan kredit disetujui atau dicairkan. Pada umumnya adalah barang-barang yang diserahkan peminjam kepada bank sebagai jaminan atas kredit atau pinjaman yang diterima.

(33)

Adalah faktor hambatan atau rintangan berupa fakto-fakor social psikologis yang ada pada suatu daerah atu wilayah tertentu yang menyebabkan suatu proyek tidak dapat dilaksanakan.

2.1.3 Risiko Kredit (Non Performing Loan)

dari setiap kredit yang diberikan bank kepada nasabah tidak seluruhnya dapat dikembalikan lagi dengan baik, tidak tepat sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan. Namun pada kenyataannya ada sebagian nasabah yang karena suatu sebab tertentu tidak dapat mengembalikan kredit kepada bank yang telah memberikan pinjaman. Akibatnya akan memjadi perjalanan suatu kredit terhhhenti atu dengan kata lain akan timbul Non Performing Loan (NPL.)

Dalam upaya mendapatkan laba yang sebesar-besarnya maka bank akan berupaya untuk dapat menyalurkan kredit sebesar-besarnya kepada masyarakat. Bunga kredit merupakan sumber pendapatan terbesar bagi bank, akan tetap seiring dengan besarnya kredit yang disalurkan kepada masyarakat maka akan semakin besar pula risiko kredit (non performing loan) yang mengikuti pemberian kredit tersebut. Risiko kredit dapat muncul apabila bank tidak bias memperoleh kembali cicilan pokok dana atau bunga dari pinjaman yang diberikan sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati dengan pihak debitur.

Timbulnya risiko kredit (non performing loan) dapat mengakibatkan kegagalan bagi pihak bank dalam mendapatkan keuntungan yang berasal dari bunga kredit yang dibebankan kepada debitur. Hal ini dipertegas oleh Dahlan Siamat yang mendefinisikan pengertian risiko kredit. Menurut Dahlan Siamat (2004:92):

Risiko kredit adalah sebagai salah satu risiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta imbalannya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan

(34)

persyaratan yang telah diperjanjikan sebelumnya, misalnya mngenai pembayaran bunga, pengembalian pokok pinjamana, peningkatan agunan.

2.1.4.1 Penyebab Kredit Bermasalah / Risiko Kredit (Non Performing Loan)

Jika kredit bermasalah tidak ditangani dengan baik, maka kredit bermasalah merupakan sumber kerugian yang sangan potensial bagi bank. Karena itu diperlukan penanganan yang sistematis dan berkelanjutan. Peranan sektor perbankan adalah menjembati dua kelompok kepentingan masyarakat, yaitu antara kepentingan masyarakat pemilik dana (surplus spending units ) dengan masyarakat yang membutuhkan dana (deficit spending units).

Risiko kredit menggambarkan suatu situasi dimana persetujuan pengembalian kredit mengalami resiko kegagalan, bahkan cenderung menuju atau mengalami kerugian yang potensial.

Perlu diketahui bahwa menganggap risiko kredit selalu dikarenakan kesalahan nasabah merupakan hal yang salah. Kredit berkembang menjadi bemasalah dapat disebabkan oleh berbagai hal yang berasal dari nasabah, dari konsidi internal dan pemberi kredit.

Adapun beberpa hal yang menjadi penyebab timbulnya risiko kredit menurut Veithzal Rifai (2006:478) adalah sebagai berikut :

a. Karena Kesalahan Bank

1. Kurang pengecekan terhadap latar belakang calon nasabah

2. Kurang tajam dalam menganalisis terhadap maksud dan tujuan penggunaan kredit dan sumber pembayaran kembali

3. Kurang mahir dalam menganalisis laporan keuangan calon nasabah 4. Kurang lengkap mencantumkan syarat-syarat

(35)

b. Karena Kesalahan Nasabah 1. Nasabah tidak kompeten 2. Nasabah kurang pengalaman 3. Nasabah tidak jujur

4. Nasabah serakah c. Faktor Eksternal

1. Kondisi perekonomian 2. Bencana alam

3. Perubahan peraturan

2.1.3.2Gejala Dini Timbulnya Risiko Kredit

Jika bank tidak mau rugi karena kredit yang diberikan menjadi bermasalah, bank harus dapat mengidentiffikasi gejala-gejala dini sehingga dapat segera mengambil langkah penanganan sebelum masalahnya menjadi semakin parah.

Menurut Veithzal Rifai (2006:480) menyebutkan bahwa gejala dini kredit bermasalah adalah sebagai berikut:

a. Ada tunggakan

b. Mengajukan perpajangan c. Kondisi keuangan menurun

d. Laporan keuangan terlambar atau yang tadinya selalu diaudit akuntan menjadi tidak e. Hubungan semakin renggang, menghinda setiap dihubungi

(36)

2.1.3.3 Kolektibilitas Kredit Bermasalah

Kolektibilitas kreedit berdasarkan ketentuan yang dibuat oleh Bank Indonesia, sebagai berikut:

1. Kredit Lancar

Kredit lancar adalah kredit yang tidak mengalami penundaan pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunga.

2. Kredit Dalam Perhatian Khusus Apabila memenuhi kriteria :

a. Terjadi tunggakan angsuran pokok dan bunga yang belum melampaui 90 hari b. Mutasi rekening relative aktif

c. Jarang terjadinya pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan d. Didukung oleh pelayanan baru.

3. Kredit Kurang Lancar

Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan selama 3 bulan dari waktu yang diperjanjikan.

4. Kredit Diragukan

Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunga telah mengalami penundaan selama 6 bulan atau dua kali dari jadwal yagn telah dijanjikan. 5. Kredit Macet

(37)

Dan yang termasuk termasuk ke dalam koletibilitas kredit bermasalah yaitu kloektibilitas 3, 4, dan 5 ( kredit kurang ancar, kredit diragukan, dan kredit macet).

2.1.3.4 Dampak Risiko Kredit (Non Performing Loan)

Menurut As. Mahmoedin (2002-111) dapat disimpulkan bahwa bagi kredit bermasalah ini akan berdampak pada daya tahan perusahaan antara likuiditas, rentabilitas, profitabilitas, bonafiditas, tingakat kesehatan bank dan modal kerja.

Dampak-dampak tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Likuiditas

Likuiditas merupakan hal yang penting bagi perusahaan karena berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Jika utang atau kewajiban meingkat, maka bank perlu mengusahakan meningkatkan sisi aktiva lancar. Jika kredit yang jatuh tempo atau mulai diwajibkan membayar angsuran, namun tidak mampu mengangsur, karena kredit tidak lancar atau bermasalah, maka bank terancan tidak likuid.

2. Solvabilitas

Solvabilitas adaah kemamuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka panjang atau kemampuan membayar suatu bank apabila bank tersebut dilikuidasi. Adanya kredit bermasalah dapat menimbulkan kerugian bagi bank. Jika kerugian tersebut besar, bank akan mengalami kerugian besar pula, sehingga tidak mungkin mengalami likuidasi. 3. Rentabilitas

(38)

lancar dan tidak ada masalah, maka bank akan memperoleh penghasilan bunga dengan lancar pula.

4. Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan bank untuk memperoleh keuntungan. Hal ini terlihat pada perhitungan tingkat produktifitasnya, yang akan dituangkan dalam rumus ROA (Return On Asset). Jika kredit tidak lancar, maka profitabilitasnya menjadi kecil.

5. Bonafiditas

Bonafiditas adalah keprcayaan yang diberikan masyarakat kepada suatu bank. Hal ini bukanlah masalah yang mudah, karena ini menyangkut citra. Adanya kredit bermasalah dapat merusak citra bank.

6. Tingkat Kesehatan Bank

Bank yang dilanda kredit bermasalah bisa menurunkan tingkat kesehatannya, dan pada gilirannya bank dapat dikenakan sanksi, bahkan bias mengalami likuidasi.

7. Modal Kerja / Modal Bank

Besar kecilnya ekspansi usaha bank sangat ditentukan dengan perkembangan kredit. Jikat tidak tumbuh dengan baik, maka juga tidak dapat berkembang dengan baik.

2.1.3.5Penyelamatan Risiko Kredit (Non Performing Loan)

Dalam usahanya mengatasi timbulnya kredit bermasalah, menurut Lukman Dendawijaya (2005:83) pihak bank dapat melakukan beberapa tindakan penyelamatan yaitu:

1. Penjadwalan ulang (Resheduling)

(39)

2. Persyaratan ulang (Reconditioning)

Persyaratan ulang (Reconditioning) adalah perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu dan atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum saldo kredit. 3. Penataan ulang (Restructuring)

Penataan ulang (Restructuring) adalah usaha penyelamatan kredit yang terpaksa harus dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi pembiayaan yang mendasari pemberian kredit

4. Eksekusi barang jaminan

Yaitu penjualan barang-barang yang dijadikan jaminan dalam rangka pelunasan utang.

2.1.5 Profitabilitas

Manajemen metode analisis penilaian kinerja keuangan bank dapat diukur melalui tingkat profitabilitas (ROA) bank tersebut. Menurut Sutrisno (2003:18):

Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan semua modal yang bekerja didalamanya

Sebuah perusahaan yang baik akan memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi. Angka profitabilitas yang baik mencerminkan bahwa perusahaan tersebut sangat efisien dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Suad Husnan dan Enry Pudjiastuti (2002:293):

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profit) dengan cara efisiensi dalam penggunaan aktiva sekelompok aktiva.

(40)

S. Munawir (2004:33) mengemukakan bahwa:

Profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

Sedangkan menurut As. Mahmoedin (2002:20) menyatakan bahwa:

Profitabilitas ialah kemampuan suatu bank untuk medapatkan keuntungan.

Dalam dunia perbankan pendapatan dapat diperoleh dari kredit yang disalurkan. Setiap kredit yang disalurkan kepada nasabah, maka nasabah harus mengembalikan kredit tersebut sesuai dengan kesepakatan antara pihak nasabah dengan bank. Semakin besar kredit yang disalurkan maka pendapatan yang akan diperoleh akan semakin besar pula yang tentunya harus disertain dengan pengawasan yang berkesinambungan terhadap kredit tersebut jangan sampai terjadi kredit bermasalah, karena dengan kredit bermasalah akan menimbulkan penurunan pendapatan, dikarenakan nasabah tidak biasa mengembalikan kredit yang dipinjam.

2.1.5.1Ratio Return On Invesment (ROI)

Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Juliay ( 2005:90-93) Manajemen perusahaan mempunyai dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab untuk memperoleh dana untuk membiayai aktiva dan tanggung jawab untuk menggunakan aktiva yang dimiliki perusahaan dalam rangka memperoleh penghasilan.

(41)

oleh perusahaan, baik dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan tersebut maupun dengan menggunakan dana yang berasal dari pemilik (modal).

Return on investment (ROI) merupakan terminology yang luas dari ratio yang digunakan untuk mengukur hubungan antara laba yang dperoleh dan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Sesuai dengan investasi yang digunakan ratio ini dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) mengukur kemampuan reusahan dalam memanfaatkan aktiva untuk memperoleh laba. Ratio ini mengukur tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimiliki. Ratio ini dapat dibandingkan dengan tingkat bunga bank yang berlaku.

2. Return On Equity (ROE)

Profitabilitas modal sendiri atau sering dinamakan rentabilitas usaha atau Return On Equity (ROE) adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri disatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak atau dengan kata lain profitabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja didalamnyua untuk menghasilkan keuntungan.

2.1.5.2ROA (Return On Aseet )

(42)

kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset. Menurut Muhammad (2005:258) menjelaskan tentang ROA yaitu sebagai berikut:

ROA adalah rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. Dengan kata lain ROA merupakan gambaran produktivitas bank dalam mengelola dan sehingga menghasilkan keuntungan.

Menurut Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim:

Pengertian ROA adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkanlaba degan menggunakan total asset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biay-biaya untuk mendanai asset tersebut.

Tingkat profitabilitas dalam suatu perusahaan dalam penelitian ini menggunakan tolak ukur Return On Assets (ROA), yaitu untuk mengukur perbandingan laba sebelum pajak dengan total aktiva dalam periode yang sama yang diperoleh oleh bank.

Sumber : Lukman Dendawijaya (2004:146)

2.1.6 Hubungan Modal Kerja Dengan Profitabilitas

Masalah modal kerja merupakan masalah yang penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal kerja perusahaan akan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi keuangan perusahaan.

Modal Kerja Menurut Munawir (2005:45) Yaitu :

Hal yang berkaitan dengan penambahan modal kerja, salah satunya adalah laba, karena walaupun tidak

(43)

berhubungan secara langsung tetapi terdapat hubungan antara pendapatan dengan piutang usaha. Hubungan keduanya secara korelasi haruslah positif, karena jika terjadi kenaikan perubahan persentase pendapatan maka hendaknya kenaikan perubahan persentase piutang usaha juga akan meningkat. Namun jika tidak terjadi korelasi positif maka hal tersebut harus dianalisi lebih lanjut.

Dari kutipan diatas penulis berpendapat bahwa modal kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah profitabilitas maka Jika perusahaan memutuskan menetapkan modal kerja dalam jumlah yang besar, kemungkinan tingkat likuiditas akan terjaga namun kesempatan untuk memperoleh laba yang besar akan menurun yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya profitabilitas. Sebaliknya jika perusahaan ingin memaksimalkan profitabilitas, kemungkinan dapat mempengaruhi tingkat likuiditas perusahaan.

2.1.7 Hubungan Resiko Kredit Dengan Profitabilitas

Menurut Lukman Dendawijaya (2004:86) :

Akibat bagi pihak bank dari timbulnya risiko kredit (non performing loan) adalah hilangnya kesempatan untuk memperoleh income (pendapatan) dari kredit yang di berikannya, sehingga mengurangi perolehan laba dan perpengaruh buruk bagi rentabilitas bank

Menurut Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti (2009:50)

Apabila kualitas kredit rendah, dimana banyak kredit-kredit bermasalah maka pendapatan bank akan rendah dan laba pun akan rendah bahkan mungkin bank menderita rugi. Sebaliknaya apabila kualitas kreditnya baik, maka pendapatan bank akan tinggi dan laba bank akan tinggi pula. Berkurangnya pendapatan bunga bank yang diterima oleh bank ditambah lagi dengan biaya-biaya tambahan yang harus dikeluarkan bank untuk mengatasi kredit bermasalah.

(44)

2.1.8 Hubungan Modal Kerja dan Risiko Kredit dengan Profitabilitas

Tingkat kualitas bank yang saat ini ditetapkn oleh Bank Indonesia terbagi menjadi lima kualitas, yang mana semakin tinggi jumlah Non Performing Loan (NPL) maka akan semakin besar resiko bank atas pemberian kredit, karena hal tersebut akan memperngaruhi pula terhadap tingkat beban penyisihan kualitas aktiva produktif perusahaan. Dan hal tersebut menjadi sangat signifikan bagi perusahaan yang tingkat pendapatan atau labanya dominan diperoleh dari sisi pinjaman kredit, karena semakin tinggi Non Performing Loan (NPL), maka semakin menurun tingkat pengembalian modal kerja / modal bank dan sangan berpengaruh pula pada tingkat profitabilitas bank . Begitu pula sebaliknya jika tingkat Non Performign Loan (NPL) rendah atau menurun maka pengembalian modal perusahaan pun akan meningkat dan membaik. Seperti yang diungkapkan oleh AS.Mahmoeddin (2004:114) :

Besar kecilnya espansi usaha bank sangat ditentukan dengan perkembangan kredit. Jika kredit tidak tumbuh dengan baik (non performing loan), maka modal bank juga tidak dapat dikembangkan dengan baik, begitupun dengan income (pendapatan) akan menimbulkan penurunan pendapatan

Dari kutipan diatas bahwa modal kerja, risiko kredit / Non performing load (NPL) berpengaruh dengan profitabilita. Dapat mempengaruhi kesehatan dan kelangsungan usaha bank dilihat dari segi pemodalan dan bank akan hilang kesempatan untuk memperoleh income (pendapatan) dari kredit yang diberikan dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap perekonomian Negara.

2.1.2 Kerangka Pemikiran

2.1.2.1 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

(45)

perusahaan. Dengan menambah aktiva lancar dan aktiva lainnya sampai tingkat tertentu diharapkan modal kerja bertambah, diusahakan pemberian kredit pun tidak bermasalah sehingga profitabilitas juga meningkat. Dengan penambahan aktiva dalam modal kerja. Menurut Riyanto (2002:44) ditinjau dari kepentingan modal sendiri atau pemilik perusahaan penambahan modal asing (hutang, baik itu hutang lancar atau hutang jangka panjang) hanya dibenarkan kalau penambahan tersebut hanya mempunyai efek finansial yang menguntungkan terhadap modal sendiri. Jadi disini penambahan modal asing untuk meningkatkan modal kerja hanya akan memberikan efek yang menguntungkan bagi perusahaan dikarenakan adanya tambahan modal kerja dan keuntungan lebih besar dari pada biaya bunga. Atau dengan kata lain penambahan.

Bank menghimpun dana dari masyarakat untuk ntuk disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Akan tetapi dalam setiap pemberian kredit yang dilakukan oleh pihak bank selalu mendapat risiko kredit, risiko kredit akan muncul jika bank tidak bias memperoleh kembali cicilan pokok dana atu bunga dari pinjaman yagn diberikan sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati dengan pihak debitur. Timbulnya resiko kredit (non performing loan) dapat mengakibatkan kegagalan bagi pihak Bank dalam upayanya mendapatkan keuntungan yang berasal dari bunga kredit yang dibebankan kepada debitur. Hal ini dipertegas oleh Dahlan Siamat (2001:92)

Risiko kredit adalah sebagai salah satu risiko akibat kegagalan ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta imbalannya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan.

Dengan timbulnya risiko kredit (non performing loan) maka profitabilitas Bank Mandiri dapat tergannggu. Hal ini dijelaskan oleh Lukman Dendawijaya.

(46)

Akibat bagi pihak bank dari timbulnya risiko kredit (non performing loan) adalah hilangnnya kesempatan untuk memperoleh income (pendapatan) dari kredit yang diberikannya, selingga mengurangi perolehan laba dan berpengaruh buruk bagi rentabilitas bank

Selain itu menurut Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti (2009:50):

Apabila kualitas kredit rendah, dimana banyak kredit-kredit bermasalah maka pendapatan bank akan rendah dan laba pun akan rendah bahkan mungkin bank menderita rugi. Sebaliknya apabila kualitas kreditnya baik, maka pendapatan bank akan tinggi dan laba bank akan tinggi pula

Rakhmawati dan Budi Hermana (2005:7):

Semakin besar kredit bermasalah yang dimiliki bank semakin kecil kemampuan bank untuk memperoleh laba disebabkan oleh berkurangnya pendapatan bunga yang diterima oleh bank ditambah lagi dengan biaya-biaya tambahanyang harus dikeluarkan oleh bank untuk mengatasi kredit bermasalah.

Berdasrkan literature diatas maka pentingnya diperlukan analisis untuk mengurangi timbulnya risiko kredit (non performing loan) dalam setiap pemberian kredit yang dilakukan oleh pihak bank. Lukman Dendawijaya (2001:92) menyatakan analisis pemberian kredit sering disebut dengan istilah 6C .

Dengan menggunakan analisis 6C tersebut diharapkan tingkat risiko kredit (non performing laon) pada bank dapat ditekan seminimal mungkin dan breakibat pada meningkatnya profitabilitas (ROA) dan modal kerja pada bank.

Salah satu metode analisis penilaian kinerja keuangan bank adalah melalui tingkat profitabilitas (ROA) bank tersebut. Menurut Irham Fahri (2006:56) :

(47)

MODAL KERJA

HARTA

LANCAR

HUTANG

PROFITABILITAS

RISIKO KREDIT

untuk selalu dalam kondisi yang stabil dan profit.

Profitabilitas merupakan bagian dari rasio profitabilitas dalam analisis laporan keuangan atu mengukuran kinerja keuangan perusahaan. Menurut Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim (2004:83) :

Pengertian Profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan toal asset ( kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untu mendanai asset tersebut.

Sumber : Lukman Dendawijaya (2004:146)

2.1.2.2Hasil Penelitian Sebelumnya

1. Penelitian Rini Restu Rakhmawati dan Budi Hermawan (2009)

(48)

modalnya yang mengacu kepada penggolongan bank menurut kerangka API dan dalam hal ini yang termasuk kelompok bank fokus dan bank dengan kegiatan usaha terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara indikator-indikator kinerja perbankan seperti kredit bermasalah (NPL), rasio kecukupan modal (CAR), likuiditas yang diukur dengan EATAR dan LDR, serta rentabilitas bank yang diukur dengan BOPO dan ROA, sejalan dengan itu penelitian diarahkan untuk membandingkan antara bank fokus dan bank dengan kegiatan terbatas.

Hasil penelitian Rini Restu Rakhmawati dan Budi Hermawan (2009) salah satunya mengemukanan hasil korelasi antara NPL (Non Performing Loan) dengan ROA (Return On Asset), dimana seperti diketahui NPL merupakan rasio yang mengukur tingkat kredit bermasalah dan ROA merupakan rasio yang mengukur kemampuan memperoleh laba dari segi pengembalian asset. Hasil dari penelitian itu menunjukan korelasi antara NPL dan ROA adalah -0,588 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini memperlihatkan terhadap hubungan yang cukup kuat dan bertolak belakang anrata NPL dan ROA, ini menunjukan bahwa semakin besar kredit bermasalah yang dimiliki bank semakin kecil kemampuan bank untuk memperoleh laba disebabkan oleh berkurangnya pendapatan bunga yang diterima oleh bank ditambah lagi dengan biaya-biaya tambahan yang harus dikeluarkan bank untuk mengatasi kredit bermasalah.

2. Penelitian Syahril dan Trini Saptarini(2008)

(49)

Hasil penelitian syahril dan Trini Saptarini (2008) yang salah satunya dengan mengkorelasikan antara NPL (Pinjaman macet/kredit bermasalah) dengan ROE (kemampuan memperoleh laba dari segi pengembalian ekuitas). Mereka mengemukakan bahwa secara parsial pinjaman macet (NPL) memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap pengembalian ekuitas (ROE), hal ini menunjukan dengan nilai koefisien parsial yang mendekati 1 (satu yakni sebesar 0,701 dan dengan nilai signifikan sebesar 0,09.

Tabel 1.3

Persamaan dan Perbedaan dengan Peneliti Terdahulu

No. Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Rini Restu Rakhmawati

dan Budi Hermana (2009)

Evaluasi Kinerja keuangan Bank Dalam Kerangka tidak terdapat perbedaan rata-rata NPL, CAR, dan rasio kecukupan modal

(RKM) terhadap

(50)

2.1.2.3Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban yang masih bersifat sementara yang hanya didasarkan pada anggapan dasar serta teori-teori terhadap permasalahan yang telah dirumuskan. Menurut Husein Umar (2004:104):

Hipotesis adalah suatu perumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun atu mengarahkan penyelidikan selanjutnya.

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintaha Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim and Bapindo dilebur menjadi Bank Mandiri. Masing-masing dari keempat legacy banks memainkan peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.

Segera setelah merger, Bank Mandiri melaksanakan proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu, Bank Mandiri menutup 194 kantor cabang yang saling berdekatan dan mengurang jumlah karyawan, dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620. Brand Bank Mandiri implementasikan secara sekaligus ke semua jaringan dan pada seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya.

(52)

banking system Bank Mandiri menjadi satu sistem yang mempunyai kemampuan untuk mendukung kegiatan consumer banking yang sangat agresif. Hari ini, infrastruktur IT Bank Mandiri memberikan layanan straight-through processing dan interface tunggal pada seluruh nasabah.

Nasabah korporat Bank Mandiri sampai dengan saat ini masih mewakili kekuatan utama perekonomian Indonesia. Menurut sektor usahanya, portfolio kredit korporasi terdiversifikasi dengan baik, dan secara khusus sangat aktif dalam sektor manufaktur Food & Beverage, agrobisnis, konstruksi, kimia dan tekstil. Persetujuan dan monitoring kredit dikendalikan dengan proses persetujuan four eyes yang terstruktur, dimana keputusan kredit dipisahkan dari kegiatan marketing dari unit Bisnis kami.

(53)

Dengan aset yang terus bertumbuh sampai dengan diatas Rp 319 triliun, dan lebih dari 21 ribu karyawan yang tersebar pada 1000 kantor dalam negeri dan 6 kantor dan perwakilan luar negeri Bank Mandiri bertekad untuk memberikan keprimaan dalam layanan perbankan dan memberikan solusi keuangan yang sangat luas dalam investasi dan produk syariah, serta bancassurance untuk nasabah korporat, komersial, small business dan micro business selain nasabah individual kami. Tekad Bank Mandiri tersebut telah diakui dan dihargai sebagai peringkat pertama dalam Banking Service Excellence Award 2007 oleh Majalah Infobank.

Adapun visi, misi dari PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, adalah sebagai berikut:

4.1.1.2 Visidan Misi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.

Visi : Bank terpercaya pilihan anda

Misi:

1. Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar. 2. Mengembangkan sumber daya manusia professional. 3. Member keuntungan yang maksimal bagi stakeholder. 4. Melaksanakan Manajemen terbuka.

5. Peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan.

4.1.1.3 Struktur Organisasi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.

(54)

dapat mencegah terjadinya tumpang tindih antara tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing bagian yang ada di dalam perusahaan.

Pada tanggal 5 juni 2006 melalui SK Direksi No. Kep. Dir/069/2006 struktur organisasi perseroan mengalami perubahan. Perubahan organisasi dimaksud termasuk pembagian tugas dan wewenang Direksi perseroan juga telah disetujui oleh komisariss perseroan melalui suratnya no. COM/577/2006 Manajemen Bank Mandiri mengajukan Struktur Organisasi Bank Mandiri berbasis Strategic Business Units kepada komisaris Bnak Mandiri.

Adapun mengenai struktur organisasi PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk adalah sebagai berikut:

1. Komisaris 2. Direktur Utama 3. Wakil Direktur Utama 4. Drektur Costumer Finance 5. Direktur Komercial Banking 6. Direktur Technology & Operations 7. Direktur Special Asset Management 8. Direktur Risk Management

9. Direktur Corporate Secretary, Legal & Customer Care 10.Direktur Corporate Banking

11.Direktur Tresury & International banking 12.Direktur Micro & Retail Banking

Gambar

Tabel diatas menunjukan bahwa kredit bermasalah (non performing loan) pada PT.Bank
Tabel 1.2 Jadwal Penelitian
Tabel 1.3 Persamaan dan Perbedaan dengan Peneliti Terdahulu
Tabel 4.1 Data Modal kerja
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan harus dapat merencanakan dengan baik jumlah modal kerja yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, karena jika terjadi kelebihan atau kekurangan

Berdasarkan fenomena dan kontradiksi beberapa hasil penelitian tersebut, maka peneliti tertarik untuk menguji kembali dengan menggabungkan variabel tingkat kecukupan modal

Secara simultan, variabel dana pihak ketiga, kecukupan modal, risiko kredit, dan nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah dengan

Modal kerja yang cukup lebih baik dari modal kerja yang berlebihan, karena modal kerja yang berlebihan menunjukkan bahwa perusahaan tidak bisa menggunakan dana yang ada

SIMPULAN Variabel Non Performing Loan NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap Profitabilitas, hal ini ditunjukkan dari hasil analisis yang dilakukan untuk penelitian yang berjudul

Bagi perusahaan tekstil dan garmen mampu menjadi pertimbangan dalam menentukan besar dana untuk membiayai aktivitas operasionalnya baik itu berasal dari modal sendiri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui baik secara parsial maupun secara simultan pengaruh modal, efisiensi operasi, dan pertumbuhan kredit terhadap profitabilitas LPD di

Tujuan penelitiannya adalah pengujian pengaruh Dana Pihak Ketiga, Risiko Kredit, Loan To Deposit Ratio dan Struktur Modal Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Perbankan yang