• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi"

Copied!
269
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL

LEARNING CYCLE 5E

TERHADAP HASIL

BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM EKSKRESI

(Penelitian Kuasi Eksperimen pada Kelas XI MAN 11 Jakarta)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

IKA ELIZA CHOLISTYANA

109016100021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Ika Eliza Cholistyana (109016100021). Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi (Kuasi Eksperimen di MAN 11 Jakarta).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem ekskresi. Penelitian ini dilakukan di MAN 11 Jakarta tahun pelajaran 2013-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan LKS berbasis Learning Cycle 5E dengan model Learning Cycle 5E dan siswa kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan LKS yang biasa digunakan di MAN 11 Jakarta dengan model direct instruction. Perolehan nilai rata-rata postest kelas eksperimen 79,36 dan kelas kontrol 67,00. Analisis data proses kedua kelompok menggunakan uji-t diperoleh hasil t-hitung 6,645 dan t-tabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,994, maka t-hitung > t-tabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model Learning Cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem ekskresi.

(6)

ii

Against Student Learning Outcomes on Excretion System Concepts (Quasi-Experimental in MAN 11 Jakarta).

This study aims to determine the effect of 5E Learning Cycle against student learning outcomes on excretory system concepts. This research was conducted in Jakarta MAN 11 academic year 2013-2014. The method used in this study is quasi-experimental methods. Samples were students of class XI Science 1 as an experimental class-student worksheet (LKS) based on 5E Learning Cycle treated with the 5E Learning Cycle Model and the students of class XI IPA 2 as class worksheets treated controls commonly used in MAN 11 Jakarta with instruction direct models. Obtaining the average value of 79.36 post-test experimental class and control class 67.00. Data analysis process two groups using t-test results obtained 6.645 t-test and t-table at 5% significance level of 1.994, then t-test > t-table. The results of this study indicate that there are significant the 5E Learning Cycle against student learning outcomes on excretory system concept.

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, dengan Rahmat dan Hidayah-Nya yang selalu tercurahkan kepada seluruh hamba-Nya. Penulis senantiasa memanjatkan puji syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Dengan nikmat Iman dan Islam, sehat wal’afiat, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi.

Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu tugas akhir untuk mendapatkan gelar S1 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Nurlena Rifai, MA., Ph. D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Baiq Hana Susanti, M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Zulfiani, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dr. Ahmad Sofyan, M. Pd, Pembimbing I dan Eny S. Rosyidatun, MA pembimbing II yang telah membimbing peneliti dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai.

5. Yanti Herlanti, M. Pd, Pembimbing akademik yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dari awal sampai sekarang.

(8)

iv

8. Seluruh keluarga besar MAN 11 Jakarta terutama kepada kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 yang telah bersedia bekerjasama selama penelitian.

9. Kedua orang tua, Nur Choliq dan Sumidah serta ananda Akhmad Aghzath Ananjaya yang senantiasa mencurahkan kasih sayang dan doanya serta memberikan dukungan sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi ini. 10.Mas Ahmad Sa’di, S. Kom., CCNA, kamu adalah penghebatku “Jabbal

Rahmah” has brought us back.. Thanks you God.

11.Teman-teman seperjuangan kelas Biologi A 2009 terutama mbok echa, umi dedeh, uwak desty, emak fitri, doro aliah, meta, teteh putri, tante indah terima kasih atas kerjasama, dukungan, bantuan, dan doanya.

12.Nur Alfy Ilmy, partner yang sangat luar biasa, susah senang selalu bersama-sama dalam memperjuangkan skripsi kita, terima kasih banyak. 13.Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis

akan selalu mengingat atas kebaikan dan bantuannya.

Semoga laporan ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi kita semua. Amin.

Jakarta, Desember 2013

(9)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

ABSTRACT...ii

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI...v

DAFTAR TABEL...viii

DAFTAR GAMBAR...ix

DAFTAR LAMPIRAN...x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Identifikasi Masalah...5

C. Pembatasan Masalah...5

D. Perumusan Masalah...6

E. Tujuan Penelitian...6

F. Manfaat Penelitian...6

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Deskripsi Teoretik...7

1. Lembar Kerja Siswa Berbasis Learning Cycle 5E...7

a. Lembar Kerja Siswa...7

b. Model Learning Cycle 5E...12

2. Hasil Belajar...18

a. Belajar...18

b. Hasil Belajar...25

B. Hasil Penelitian Yang Relevan...31

(10)

vi

B. Metode dan Desain Penelitian...38

1. Metode Penelitian...38

2. Desain Penelitian...38

C. Populasi dan Sampel...41

1. Populasi...41

2. Sampel...41

D. Teknik Pengumpulan Data...41

1. Instrumen Non Tes...42

2. Instrumen Tes...42

a. Validitas...44

b. Reliabilitas...45

c. Taraf Kesukaran...46

d. Analisis Daya Beda...47

E. Teknik Analisis Data...48

1. Pengujian Prasyarat Analisis Data...49

a. Uji Normalitas...49

b. Uji Homogenitas...50

2. Uji N-Gain...51

3. Analisis Data Hasil Belajar...51

4. Teknis Analisis Data Observasi...53

F. Hipotesis Statistik...54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian...55

1. Deskripsi Data Hasil Pretest dan Posttest Kelas Kontrol dan Eksperimen...55

(11)

vii

B. Pengujian Persyaratan Analisis Data dan Pengujian

Hipotesis...58

1. Uji Persyaratan Analisis Data...58

a. Uji Normalitas...58

b. Uji Homogenitas...59

2. Pengujian Hipotesis...60

C. Data Hasil Observasi...61

D. Data Hasil Proses Pembelajaran...62

E. Pembahasan Hasil Penelitian...64

1. Interpretasi Data...64

2. Pembahasan...65

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...71

B. Saran...71

DAFTAR ISI...72

(12)

viii

Tabel 3.1 Skema Desain Pretest-Posttest Control Group Design...39

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Tes...42

Tabel 3.3 Interpretasi Kriteria Reliabilitas Instrumen...45

Tabel 3.4 Interpretasi Kriteria Tingkat Kesukaran Instrumen...46

Tabel 3.5 Interpretasi Daya Beda...48

Tabel 3.6 Interpretasi Observasi Siswa...53

Tabel 4.1 Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...55

Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Pretest Per Indikator...56

Tabel 4.3 Rekapitulasi Data Posttest Per Indkator...57

Tabel 4.4 Perhitungan Hasil N-Gain...57

Tabel 4.5 Frekuensi N-Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...58

Tebal 4.6 Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol...59

Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol...60

Tabel 4.8 Hasil Uji-t Data N-Gain Pretest dan Posstest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...61

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Lembar Observasi Guru dan Siswa...61

Tabel 4.10 Hasil Nilai LKS Berbasis Learning Cycle 5E...62

(13)

ix

[image:13.595.118.509.92.469.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram alur langkah-langkah penyusunan LKS...11

Gambar 2.2 Medan hidup menurut Kurt Lewin...22

Gambar 2.3 Kerangka Berfikir Penelitian...37

(14)

x

Lampiran 2. Uji Instrumen Penelitian...91

Lampiran 3. Hasil Analisis Instrumen Penelitian...98

Lampiran 4. Instrumen Penelitian...109

Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen...113

Lampiran 6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol...133

Lampiran 7. Lembar Kerja Siswa Berbasis Learning Cycle 5E......148

Lampiran 8. Lembar Kerja Siswa Biasa.........165

Lampiran 9. Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa Berbasis Learning Cycle 5E...175

Lampiran 10. Rubrik Penilaian Lembar Kerja Siswa Berbasis Learning Cycle 5E......185

Lampiran 11. Rekapitulasi Nilai LKS Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...196

Lampiran 12. Data Nilai Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol...198

Lampiran 13. Perhitungan Mean, Median, Modus dan Standar Deviasi Data Pretest Kelas Kontrol...207

Lampiran 14. Perhitungan Mean, Median, Modus dan Standar Deviasi Data Pretest Kelas Eksperimen...209

Lampiran 15. Perhitungan Mean, Median, Modus dan Standar Deviasi Data Postest Kelas Kontrol...211

Lampiran 16. Perhitungan Mean, Median, Modus dan Standar Deviasi Data Postest Kelas Eksperimen...213

Lampiran 17. Data Nilai N-Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...215

Lampiran 19. Uji Normalitas Data Pretest dan Postest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol...217

(15)

xi

Kontrol...221 Lampiran 21. Uji Hipotesis Data N-Gain Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol...222 Lampiran 22. Lembar Observasi Aktivitas Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol...225 Lampiran 23. Hasil Lembar Observasi Aktivitas Kelas Eksperimen dan Kelas

(16)

1

A.

Latar Belakang Masalah

Di tengah gerak pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Maju mundurnya perkembangan suatu bangsa juga ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan, maka pendidikan harus diperhatikan dan dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Dalam hal ini terlihat betapa pentingnya upaya menyelaraskan mutu pendidikan dengan tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, sikap dan kemampuan seperti yang disebutkan di atas tentu tidak bisa hadir begitu saja, melainkan harus ditumbuhkan secara bertahap dan terencana melalui pendidikan yang berkualitas.

Proses pendidikan di sekolah merupakan hal yang paling pokok untuk dilakukan oleh setiap peserta didik. Proses belajar yang dilakukan peserta didik akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Belajar adalah kegiatan yang berproses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman1. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Dalam proses pembelajaran peserta didik harus diberdayakan agar mau dan mampu untuk memperkaya belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya, sehingga mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitar (learning to know) diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu maupun kelompok individu yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan

(17)

2

sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup (learning to live together).

Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa melalui proses belajar peseta didik dapat mengalami perubahan, baik dalam pengetahuan maupun perilakunya. Proses belajar tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Muhibbinsyah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu, faktor internal, dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor dari dalam diri siswa yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor eksternal yaitu faktor dari luar siswa atau dapat disebut faktor sosial, yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa seperti keluarga, guru, cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, serta motivasi sosial.2

Seorang guru profesional harus mampu merumuskan tujuan pembelajaran yang diperuntukkan kepada peseta didik agar mampu menguasai materi yang diajarkan dan hasil akhirnya dapat diukur yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik tersebut sesudah mengikuti pelajaran, namun penguasaan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai mutlak diperlukan.

Dalam pembelajaran sains-biologi peserta didik dituntut untuk dapat menemukan pengertian sendiri, apakah itu berarti mereka diharuskan menemukan kembali prinsip-prinsip sains sejak awal, jawabannya tentu terletak pada pemahaman konsep bahwa dalam pengajaran sains, yang paling utama ialah penekanan pada self construction dalam belajar dan tentu saja tidak mungkin peserta didik dituntut untuk menemukan kebenaran sains secara mutlak. Dengan menerapkan penemuan dalam tahap-tahap penemuan eksploratif, penemuan bebas dan penemuan eksperimental, maka sedikit demi sedikit self construction tersebut dapat dikembangkan.

Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan sumber maupun media belajar dalam kegiatan pembelajaran

(18)

menyebabkan kurangnya kemampuan psikomotor dan afektif siswa. Siswa jarang berdiskusi dan bekerja sama dengan siswa lain yang mengakibatkan siswa menjadi pasif, keterampilan proses sains tidak berkembang, dan sikap ilmiah siswa kurang. Kebanyakan siswa hanya berorientasi pada kemampuan kognitif saja serta menganggap bahwa biologi merupakan mata pelajaran yang banyak menghafal dan membosankan sehingga timbul rasa malas untuk belajar biologi. Keterampilan proses sains siswa menjadi kurang terakomodasi dengan baik yang seharusnya ada dalam pembelajaran biologi. Berdasarkan pernyataan–pernyataan tersebut maka diperlukan suatu inovasi dalam pembelajaran berupa model pembelajaran yang mampu membuat siswa lebih aktif dan membantu siswa dalam penguasaan konsep Biologi. Salah satu model pembelajaran tersebut dengan adalah Learning Cycle 5E.

Model pembelajaran Learning Cycle itu sendiri dikembangkan dari ide konstruktivisme pada kejadian dan fakta dalam pengetahuan IPA. Pada awalnya Model pembelajaran Learning Cycle hanya dibagi menjadi beberapa fase yaitu: eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan penerapan konsep (concept application). Tiga fase ini sekarang telah berkembang menjadi lima yang terdiri atas tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (eksploration), penjelasan (eksplanation), elaborasi (elaboration/ekstention), dan evaluasi (evaluation).

Keunggulan dari pembelajaran Learning Cycle antara lain: merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah didapatkan sebelumnya, memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih aktif dan menambah rasa keingintahuan, melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen, melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah dipelajari, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari, menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari.

(19)

4

dapat memberi kesempatan siswa untuk mengaplikasikan materi, membangun pengetahuannya dan bekerja dalam kelompok sehingga dapat mengembangkan sikap ilmiahnya, selain siswa dapat penguasaan konsep, keterampilan proses sainsnya juga dapat meningkat.

Penggunaan model learning cycle dalam proses belajar mengajar dapat memberikan peluang yang lebih besar kepada siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang baik, khususnya pada mata pelajaran biologi. Selain itu, dapat memberikan kesempatan penuh kepada siswa untuk mengungkapkan kemampuan dan keterampilan untuk membuat sendiri dalam mengembangkan proses berfikirnya.3

Anggapan yang dimaksud diatas tentu perlu dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang pengaruh model learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada sistem ekskresi.

Oleh karena itu dengan penggunaan model learning cycle 5E ini diharapkan dapat menjadikan siswa lebih tertarik untuk memperhatikan pelajaran biologi khususnya pada materi sistem ekskresi, serta lebih mudah dalam memahami konsep-konsep sistem ekskresi yang bersifat abstrak dan rumit, sehingga siswa dapat lebih memahami dan menguasai proses dan alat ekskresi serta meningkatkan hasil belajarnya.

Berdasarkan latar belakang itulah, penulis mencoba untuk mengadakan penelitian penggunaan model learning cycle 5E. Dengan mengambil judul skripsi “Pengaruh Model Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi.”

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka akan terdapat beberapa masalah, diantaranya yaitu:

(20)

1. Pembelajaran lebih banyak terpusat kepada guru dibanding siswa (teacher centered).

2. Kurang tepatnya guru dalam penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan konsep.

3. Pemahaman para siswa terhadap konsep biologi sangat kurang. 4. Rendahnya hasil belajar siswa.

C.

Pembatasan Masalah

Mengingat begitu luas dan banyaknya identifikasi masalah maka penulisan ini hanya dibatasi pada masalah model learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada sistem ekskresi baik pada manusia maupun hewan. Model pembelajaran yang digunakan adalah model learning cycle 5E, sedangkan untuk penguasaan konsep yang dimaksud adalah hasil belajar siswa dibatasi pada ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom, meliputi jenjang ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4).

D.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah pengaruh model learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada sistem ekskresi?”

E.

Tujuan Penelitian

(21)

6

F.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai informasi bagi peneliti dalam memilih bahan ajar yang tepat sesuai dengan kemampuan anak didiknya dan situasi serta keadaan lingkungannya.

2. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan menjadi motivasi dalam kegiatan belajar mengajar disekolah serta meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Bagi guru yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar mengajar, hasil

penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam merencanakan pengajaran khususnya dalam menentukan bahan ajar yang tepat untuk pengajaran biologi.

(22)

7

A.

Deskripsi Teoretik

1. Lembar Kerja Siswa

a. Pengertian Lembar Kerja Siswa

Menurut Trianto Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. LKS dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi.1

LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh. Pengaturan awal (advance organizer) dari pengetahuan dan pemahaman siswa diberdayakan melalui penyediaan media belajar pada setiap kegiatan eksperimen sehingga situasi belajar menjadi lebih bermakna, dan dapat terkesan dengan baik pada pemahaman siswa. Karena nuansa keterpaduan konsep merupakan salah satu dampak pada kegiatan pembelajaran maka muatan materi setiap lembar kegiatan siswa pada setiap kegiatannya diupayakan agar dapat mencerminkan hal itu.2

Menurut Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar yang dikutip oleh Andi Praswoto, Lembar Kerja Siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Dan, tugas tersebut haruslah jelas kompetensi dasar yang akan dicapai.3

1 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 73.

2Ibid.

(23)

8

Menurut Andi Praswoto Lembar Kerja Siswa adalah suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu kepada kompetensi dasar yang harus dicapai.4

Menurut Ali Mudlofir Lembar Kerja Siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan/atau praktik.5

Dari beberapa pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa lembaran-lembaran kerja yang memuat tugas-tugas atau soal-soal, materi, atau langkah kerja yang bersumber dari bahan yang telah dijelaskan oleh guru atau telah dipelajari siswa, yang disusun secara teratur dan sistematis sehingga siswa dapat mengikuti dengan mudah dan memungkinkan siswa untuk belajar sendiri dan dapat digunakan sebagai umpan balik guru terhadap hasil belajar siswa.

b. Fungsi Lembar Kerja Siswa

Berdasarkan pengertian dan penjelasan awal mengenai LKS yang telah dipaparkan di atas, LKS mempunyai setidaknya mempunyai empat fungsi sebagai berikut:

a) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik.

b) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan.

c) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih. d) Memudahkan pelaksaan pengajaran kepada peserta didik.6

Menurut Sultan, fungsi LKS dalam proses belajar mengajar ada dua, yaitu:

4Ibid., h. 204.

5 Ali Mudlofir, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 149.

(24)

a) Dari segi siswa: sebagai sarana belajar baik di kelas, di ruang praktek maupun di luar kelas sehingga siswa berpeluang besar untuk mengembangkan kemampuan, menerapkan pengetahuan, melatih keterampilan, memproses sendiri untuk mendapatkan perolehannya. b) Dari segi guru: melalui LKS, guru dalam menyelenggarakan kegiatan

belajar mengajar sudah menerapkan metode “membelajarkan siswa” dengan kadar SAL (Student Active Learning) yang tinggi. Intervensi yang diberikan guru bukan dalam bentuk jawaban atas pertanyaan siswa, tetapi berupa panduan bagi siswa untuk memecahkan masalah.7

Jadi LKS memliki fungsi yang penting dalam proses belajar mengajar. Bagi guru LKS berfungsi untuk memudahkan siswa dalam memahami materi-materi yang akan disampaikan oleh guru. Sedangkan bagi siswa LKS berfungsi untuk melatih siswa berfikir secara sistematis, melatih siswa untuk mengemukakan pendapat secara tulisan, dan melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru.

c. Tujuan Penyusunan Lembar Kerja Siswa

Menurut Belawati 2003 dalam bukunya Andi Prawoto, paling tidak ada empat poin yang menjadi tujuan penyusunan LKS, yaitu:

a) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan.

b) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap materi yang diberikan.

c) Melatih kemandirian belajar peserta didik.

d) Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas peserta didik.8 d. Kegunaan LKS bagi Kegiatan Pembelajaran

Mengenai kegunaan LKS bagi kegiatan pembelajaran, tentu saja ada cukup banyak kegunaan. Salah satu metode yang bisa diterapkan untuk

7 Sultan, “Perbandingan Prestasi Belajar Siswa yang Diajar Menggunakan LKS dan Yang Tidak Menggunakan LKS pada Mata Pelajaran Biologi SMU”, Jurnal Ilmu Kependidikan, Vol. 1, No. 1, Mei 2004, h. 33.

(25)

10

mendapatkan hasil yang optimal dari pemanfaatan LKS adalah metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review).

Pertama, tahap survey. Pada kegiatan ini, peserta didik diminta untuk membaca ringkasan materi jika ringkasan diberikan.

Kedua, tahap question. Pada kegiatan ini, peserta didik diminta untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab sendiri pada saat membaca materi yang diberikan.

Ketiga, tahap read. Pada kegiatan ini, peserta didik dirangsang untuk memperhatikan pengorganisasian materi dan membubuhkan tanda tangan khusus pada materi yang diberikan.

Keempat, tahap recite. Pada kegiatan ini, peserta didik diminta untuk menguji diri mereka sendiri pada saat membaca, kemudian diminta untuk meringkas materi menggunakan kalimat mereka sendiri.

Kelima, tahap review. Pada kegiatan ini, peserta didik diminta segera mungkin untuk melihat kembali materi yang sudah selesai dipelajari sesaat setelah selesai mempelajari materi tersebut.9

Dari penjabaran di atas dapat dikatakan bahwa kegunaan LKS sebagai media maupun bahan ajar dapat digunakan untuk memancing aktivitas belajar siswa, karena dengan LKS siswa akan merasa diberikan tanggung jawab moril untuk menyelesaikan suatu tugas dan merasa harus mengerjakannya, terlebih lagi apabila guru memberikan perhatian penuh terhadap hasil pekerjaan siswa dalam LKS tersebut.

e. Unsur-Unsur LKS sebagai Bahan Ajar

Menurut Diknas (2004) dalam bukunya Andi Praswoto, dilihat dari strukturnya, bahan ajar LKS lebih sederhana daripada modul, namun lebih kompleks daripada buku. Bahan ajar LKS terdiri atas enam unsur utama, meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi pendukung, tugas atau langkah kerja, dan penilaian. Sedangkan jika dilihat dari formatnya, LKS paling tidak terdapat delapan unsur, yaitu judul, kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan/bahan

(26)

yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.10

f. Langkah-Langkah Aplikatif Membuat LKS

Keberadaan LKS yang inofatif dan kreatif menjadi harapan semua peserta didik. Karena, LKS yang inovatif dan kreatif akan menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Peserta didik akan lebih terbius dan terhipnotis untuk membuka lembar demi lembar halamannya. Selain itu, mereka akan mengalami kecanduan belajar. Maka dari itu, sebuah keharusan bahwa setiap pendidik ataupun calon pendidik agar mampu menyiapkan dan membuat bahan ajar sendiri yang lebih inovatif.

[image:26.595.130.507.184.657.2]

Menurut Diknas langkah-langkah penyusunan Lembar Kerja Siswa sebagai berikut:

Gambar 2.1. Diagram alur langkah-langkah penyusunan LKS11

10Ibid., h. 207-208.

11Ibid., h. 211-212.

Analisis Kurikulum

Menyusun Peta Kebutuhan LKS

Menentukan Judul-judul LKS

Menulis LKS

Merumuskan KD

Menentukan Alat Penilaian

Menyusun Materi

(27)

12

2. Model Learning Cycle 5E

a. Konsep Model Learning Cycle 5E

Model siklus belajar pertama kali dikembangkan pada pada tahun 1970 dalam SCIS (Science Curriculum Improvement Study), suatu program pengembangan pendidikan sains di Amerika.12

Menurut Rodger W. Bybee, Learning Cycle merupakan suatu model pembelajaran sains yang berbasis konstuktivistik. Model ini dikembangkan oleh Herbart, John Dewey J. Myron Atkin, Robert Karplus dan Kelompok SCIS (Science Curriculum Improvement Study), di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat sejak tahun 1967.13 Belajar menurut pandangan konstruktivistik berarti membangun, yaitu siswa dapat mengkonstruk sendiri pemahamannya dengan melakukan aktivitas aktif dalam pembelajarannya. Teori konstruktivisme merupakan salah satu teori belajar yang menekankan pada penemuan makna (meaningfullness). Perolehan tersebut melalui informasi dalam struktur kognitif yang telah ada dari hasil perolehan sebelumnya yang tersimpan dalam memori dan siap dikonstruk untuk mendapatkan pengetahuan baru.14

Menurut Soebagio, dkk yang dikutip oleh Nina Agustyaningrum dalam bahan presentasinya bahwa learning cycle merupakan suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan konsep sendiri atau memantapkan konsep yang dipelajari, mencegah terjadinya kesalahan konsep, dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari pada situasi baru. Implementasi model pembelajaran learning cycle dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun pada diri peserta didik. Beberapa keuntungan diterapkannya model pembelajaran learning cycle adalah (1) Pembelajaran bersifat student centered; (2) Informasi baru dikaitkan dengan pengetahuan

12 Usman Samatowa, Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), h. 72. 13 Rodger W. Bybee, Joseph A. Taylor, dkk., “The BSCS 5E Instructional Model: Origins and Effectiveness”, Laporan yang disiapkan untuk Kantor Sains Pendidikan National Institutes of Health, 12 Juni 2006, h. 5. Tersedia online http://cresenciafong.com/wiki/ref:bybee2006bscs.

(28)

yang telah dimiliki siswa; (3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah; (4) Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena mengutamakan pengalaman nyata; (5) Menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal; dan (6) Membentuk siswa yang aktif, kritis, dan kreatif.15

[image:28.595.129.515.215.490.2]

Pada pertengahan 1980-an, BSCS menerima hibah dari IBM untuk melakukan studi desain yang akan menghasilkan spesifikasi untuk kurikulum ilmu pengetahuan dan kesehatan baru untuk sekolah dasar. Di antara inovasi yang dihasilkan dari penelitian ini adalah desain Model BSCS 5E instruksional. Model BSCS memiliki lima tahap: engagement, exploration, explanation, elaboration, and evaluation. Model BSCS Pembelajaran 5E, merupakan pengembangan dari siklus belajar SCIS.16

Tabel 2.1: Perbandingan Fase dari Model SCIS dan Model 5E BSCS

Model SCIS BSCS 5E Model Pembelajaran

Engagement (Tahap Baru)

Exploration Exploration (Diadaptasi dari SCIS)

Invention (Pendahuluan Term) Explanation (Diadaptasi dari SCIS) Discovery (Aplikasi Konsep) Elaboration (Diadaptasi dari SCIS)

Evaluation (Tahap Baru)

b. Macam-macam Siklus Belajar 1) Siklus Belajar Deskriptif

Dalam siklus belajar ini siswa menemukan dan menggambarkan suatu pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi), guru memberi pola nama kemudian pola diidentikasi dalam konteks lain. Dalam siklus ini siswa dan guru hanya menguraikan apa yang mereka amati, tanpa usaha menyusun hipotesis untuk menerangkan pengamatan-pengamatan mereka. Dalam siklus

15 Nina Agustyaningrum, “Implementasi Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Kelas IX B SMP Negeri 2 Sleman”,

(29)

14

belajar ini menjawab pertanyaan Apa, tetapi tidak menimbulkan pertanyaan sebab, yaitu Mengapa.17

2) Siklus Belajar Empiris-Induktif

Dalam sikuls belajar empiris-induktif, para siswa juga menemukan dan menggambarkan suatu pola empiris dalam konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka melanjutkan dengan memberikan sebab-sebab yang memungkinkan pola itu. Dengan bimbingan guru, siswa menyaring data yang telah dikumpulkan selama fase eksplorasi untuk melihat apakah sebab-sebab yang dihipotesiskan konsisten dengan data itu dan fenoena lain yang dikenal (aplikasi konsep). Observasi dilakukan dengan cara deskriptif, tetapi siklus belajar ini berjalan terus untuk menghasilkan dan mulai menguji suatu sebab.18

3) Siklus Belajar Hipotesis-Deduktif

Hipotesis-deduktif dimulai dengan suatu pertanyaan sebab dan para siswa diminta untuk menyusun jawaban yang mungkin (hipotesis). Kemudian para siswa diminta untuk menurunkan konsekuensi logis hipotesis-hipotesis ini, dan secara eksplisit merencanakan dan melaksanakan eksperimen untuk menguji hipotesis itu (eksplorasi). Analisis hasil eksperimen dapat menolak beberapa hipotesis, yang lain diterima (pengenalan istilah/explainasi). Kemudian konsep-konsep yang relevan dan pola-pola yang terlibat diterapkan dalam situasi baru (elaborasi/aplikasi konsep).19

c. Tahapan-tahapan Model Learning Cycle 5E: 1) Engagement (Pembangkitan minat)

Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian,

17 Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 171. 18Ibid.

(30)

siswa akan memberikan respons/ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang topik bahasan. Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.20 Kegiatan ini selaras dengan bahan ajar terpadu yang memberikan konsep prasyarat sebelum pembahasan konsep utama. Dengan demikian, bahan ajar terpadu dapat diasimilasikan dalam fase engagement.21

2) Exploration (Eksplorasi)

Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Guru menggali konsep awal siswa dengan melakukan observasi, membuat catatan, lalu mengkomunikasikannya. Variabel yang ditemukan, dikendalikan, ditafsirkan, lalu membuat dugaan dan lain-lain semua dikerjakan bersama siswa.22 Pada tahap belajar eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan rekan sekelomponya, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Dalam tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah,

20 Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 171.

21 Herunata, dkk., “Upaya Mengoptimalkan Pemahaman Konsep Elektrokimia Siswa Kelas 3

IPA SMAI Al Ma’rif Singosari dengan Learning Cycle 5 Fase (LC-5E) Berbantuan Bahan Ajar Terpadu Berbasis Pendekatan Makroskopis-mikroskopis”, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 13, No. 1, April 2006, h. 88.

22 Yusri Panggabean, dkk., Strategi, Model, dan Evaluasi: Pembelajaran Kurikulum 2006,

(31)

16

sebagian benar.23 Fase ini selaras dengan dengan bahan ajar terpadu yang menyajikan materi dengan pemodelan, visualisasi, mapun praktikum.24

Menurut Lawson pada tahap ini para siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru. Dengan kata lain, fase ini menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan mereka yang bertentangan dan dapat menimbulkan perdebatan dan suatu analisis mengenai mengapa mereka mempunyai gagasan-gagasan demikian.25

3) Explanation (Penjelasan)

Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penjelasan guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kelompok/ pemikirannya sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai desain diskusi.26 Guru mengumpulkan informasi dari siswa yang berkaitan dengan pengalaman dalam eksplorasi. Tujuannya adalah untuk mencermati, mengenal, dan menjelaskan konsep baru.27 Fungsi ini salah satunya dapat dipenuhi oleh bahan ajar terpadu yang menyajikan materi yang menjelaskan seluruh hasil pengamatan dari pemodelan, visualisasi, dan praktikum yang telah dilakukan sebelumnya.28

4) Elaboration

Elaborasi merupakan tahap keempat dalam siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/ mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika

23Made Wena, loc. cit.

24 Herunata, dkk., loc. cit.

25 Ratna Wilis Dahar, op. cit., h. 157-160. 26 Made Wena, op. cit., h. 172.

27 Yusri Panggabean, dkk., loc. cit.

(32)

tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.29

5) Evaluation

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi guru dapat mengamati pengetahuan dan pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.30

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, LC dapat dimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sain maupun sosial.

Implementasi LC dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Efektifitas implementasi LC biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik dibanding

29 Made Wena, loc. cit.

(33)

18

siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.

Setiap tahap yang terstruktur dalam learning cycle 5e memiliki manfaat yang positif bagi siswa karena mengindikasikan pembelajaran yang bersifat student-centered. Proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna, menghindarkan siswa dari cara belajar tradisional yang cenderung menghafal, dan menjadikan skema dalam diri siswa yang setiap saat dapat diorganisasi oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

3. Hasil Belajar a. Belajar

1) Konsep Belajar

Menurut Witherington dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata, belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecapakan. Menurut Crow dan Crow, belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut Hilgard, belajar adalah suatu respon dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap adanya suatu situasi.31

Belajar dapat di definisikan dalam hal-hal pokok sebagai berikut: a) Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changes,

aktual maupun potensal).

b) Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.

(34)

c) Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).32

Dari beberapa pendapat tentang pengertian belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku, pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap yang tidak disebabkan oleh pembawaan, kematangan, dan keadaan–keadaan sesaat seseorang, namun terjadi sebagai hasil latihan dalam interaksi dengan lingkungan.

2) Beberapa Teori Belajar

Teori-teori belajar bersumber dari teori atau aliran-aliran psikologi. Secara garis besar dikenal ada tiga teori psikologi yaitu: teori Disiplin Mental, Behaviorisme, dan Cognitivisme-Gestalt-Field.

a) Teori Disiplin Mental

Menurut Psikologi Daya atau Faculty Psycology, individu memiliki sejumlah daya-daya: daya mengenal, mengingat, menangkap, mengkhayal, berpikir, merasakan,berbuat, dsb. Daya-daya itu dapat dikembangkan melalui latihan dalam bentuk ulangan-ulangan. Kalau anak dilatih banyak mengulang-ulang, menghafal sesuatu, maka ia akan terus ingat akan hal itu.33

Teori disiplin mental yang lain adalah Naturalisme Romantik dan Rousseau. Menurutnya anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri. Pendidik tidak banyak turut campur mengatur anak, biarkan dia belajar sendiri, yang penting perlu diciptakan situasi belajar yang permisif (rileks), menarik dan bersifat ilmiah.34

b) Teori Behaviorisme

Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu: (1) mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat

32 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1987), h. 248-249. 33 Nana Syaodih Sukmadinata, op. cit., h. 167.

(35)

20

mekanistik, (3) menekankan perana lingkungan, (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respons, (5) menekankan pentingnya latihan. Konektivisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara perangsang jawaban atau stimulus-respons. 35

Tokoh yang sangat dikenal dari teori ini adalah Thorndike, Belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia menurut Thorndike adalah Triad and eror. Teori Pengkondisian, merupakan perkembangan lebih lanjut dari konektivisme. Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov dengan keluarnya air liur. Air liur akan keluar apabila anjing melihat atau mencium makanan. Jadi belajar merupakan suatu upaya penkondisian pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.36

c) Teori Cognitive-Gestalt-Field

Rumpun ketiga adalah Kognitif-Gestalt-Field. Kalau rumpun behaviorisme bersifat molekuler (menekankan unsur-unsur), maka rumpun ini bersifat molar atau bersifat keseluruhan dan keterpaduan.

Menurut Mulyoto, pandangan psikologi gestalt adalah seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat struktur-nya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.37

Gestalt dalam pandangan psikologinya menyatakan bahwa belajar bukan sekedar asosiasi antara stimulus-respon yang kian lama kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan atau ulang-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian (insight). Pengertian ini muncul jika seseorang, setelah beberapa saat, mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara

35Ibid.

36Ibid., h. 169.

(36)

unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut pautnya untuk kemudian dimengerti maknanya.

Dengan demikian, belajar menurut Gestalt adalah proses individu mendapatkan suatu pengetahuan berawal dari suatu hal yang kompleks kepada hal yang sederhana. Setiap indiviidu akan merasakan kebermaknaan belajar manakala individu tersebut sudah mendapatkan dan memahami pengertian tentang objek yang dipelajari. Dari pengertian inilah individu akan menanamkan makna yang diperolehnya kedalam dirinya dan dijadikan sebagai pola-pola atau aturan dalam membuat prinsip kehidupannya. Dalam hal ini, individu akan lebih banyak melakukan aktifitas pembelajaran dibandingkan guru atau pengajar. Karena dalam pembelajaran ini individu dituntut untuk secara aktif menggali pengetahuan yang baru dipelajarinya menjadi suatu produk pengetahuan baru yang diperolehnya. Sehingga individu dalam melakukan proses pembelajaran ini akan mendapatkan kekhasan dalam berfikir, menganalisis permasalahan, dan memecahkan suatu persoalan dengan mengandalkan kemampuannya secara mandiri.

Teori Kognitif, dikembangkan oleh para ahli Psikologi Kognitif. Teori ini berbeda dengan behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan srimulus-respons. Perilaku juga penting sebagai indikator, tetapi yang lebih penting adalah berfikir.38

Teori Gestalt, berkembang di Jerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Wertheimer. Gestalt bahasa Jerman yang artinya kurang lebih konfigurasi, pola, kesatuan, keseluruhan. Menurut Gestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian. Dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lainnya.39

(37)

22

[image:37.595.150.527.107.400.2]

Teori Medan dan Field Theory, merupakan salah satu teori yang termasuk rumpun Cognitive-Gestalt-Field. Teori ini sama dengan Gestalt menekankan keseluruhan dan kesatupaduan. Menurut teori Medan, individu selalu berada dalam suatu medan atau ruang hidup (life space).

Gambar 2.2. Medan hidup menurut Kurt Lewin40

Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Kurikulum sekolah dengan segala macam tuntutannya, berupa kegiatan belajar di dalam kelas, di laboratorium, di work shop, di luar sekolah, penyelesaian tugas-tugas, ujian ulangan dll, pada dasarnya merupakan hambatan yang harus diatasi.41

Teori medan dalam pembelajaran dapat digunakan sebagai: a) Perubahan dalam struktur kognitif

Perubahan struktur pengetahuan (struktur kognitif) dapat terjadi karena ulangan, situasi mungkin perlu diulang-ulang sebelum strukturnya berubah.

b) Hadiah dan hukuman menurut interpretasi Kurt Lewin

Ahli-ahli yang mengikuti/menerima law of effect dan law of reinforcement seringkali menganalisis sampai mengungsur lingkungan atau keadaan yang mendorong pelajar untuk mendekati hadiah dan

40Ibid., h. 171.

41Ibid., h. 172.

H a m b a t

a n

(38)

menjauhi hukuman. Kurt Lewin menggambarkan situasi yang mengandung hadiah atau hukuman itu sebagai situasi yang mengandung konflik.

c) Masalah berhasil dan gagal

Pengalaman sukses dan gagal itu bersifat individual. Kejadian yang sama mungkin dialami sebagai sukses oleh seseorang, sedang oleh orang yang lain mungkin dialami sebagai kegagalan.

d) Sukses membawa mobilisasi energi cadangan

Kurt Lewin beranggapan bahwa dinamika kepribadian itu dikarenakan oleh adanya energi dalam diri orang, yang disebut energi psikis. Energi psikis inilah yang dipergunakannya untuk bermacam-macam aktivitas, seperti misalnya mengamati, mengingat, berpikir, dan sebagainya. Biasanya, dalam keadaan sehari-hari, hanya sebagian saja dari energi psikis yang dipergunakan, dan sisanya tersimpan sebagai energi cadangan.42

Uraian tersebut menggambarkan bahwa belajar merupakan sebuah proses yang terus menerus dilakukan oleh individu dalam melakukan suatu perubahan dalam dirinya kearah yang lebih baik. Proses ini dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan dari belajar tersebut. Dalam mencapai sebuah tujuan, individu dalam melakukan proses belajar akan melalui beberapa dimensi dalam belajar, yaitu individu akan menemukan penemuan-penemuan tertentu dengan cara aktif dan kreatif dalam melakukan proses pembelajaran, selain itu dalam belajar juga, individu akan melakukan proses percobaan dari hasil penemuan yang diperoleh. Dari proses yang terus dilakukan tersebut maka akan diperoleh suatu mekanisme otomatis dalam setiap individu dalam melakukan belajar. Mekanisme tersebut adalah sebuah kebiasaan berfikir dan bertindak dalam menentukan suatu cara untuk melakukan proses pembelajaran. Cara ini merupakan suatu langkah awal dalam menetukan

(39)

24

keberhasilan individu dalam belajar. Dan setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam menentukan keberhasilannya belajar.

3) Unsur-Unsur Belajar

Menurut Cronbach dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata, mengemukakan adanya tujuh unsur utama dalam proses belajar, yaitu:

a) Tujuan. Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Perbuatan belajar diarahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan.

b) Kesiapan. Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik, anak perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik dan psikis, kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan yang mendasarinya.

c) Situasi. Kegiatan belajar berlangsung dalam situasi belajar. Dalam situasi ini belajar terlibat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, orang-orang yang turut tersangkut dalam kegiatan belajar serta kondisi siswa belajar.

d) Interprestasi. Dalam menghadapi situasi, anak mengadakan interpretasi yaitu melihat hubungan diantara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tersebut.

e) Respons. Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respons.

f) Konsekuensi. Setiap usaha akan membawa hasil, akibat atau konsekuensi entah itu keberhasilan atau kegagalan, demikian juga dengan respons atau usaha belajar siswa.

(40)

sebaliknya, kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi kegagalan tersebut.43

4) Prinsip-Prinsip Belajar

Banyak teori yang membahas masalah belajar. Tiap teori bertolak dari asumsi atau anggapan dasar tertentu tentang belajar. Meskipun demikian ada beberapa pandangan umum yang sama atau relatif sama diantara konsep-konsep tersebut. Beberapa kesamaan ini dipandang sebagai prinsip belajar. Beberapa prinsip umum belajar sebagai berikut:

a) Belajar merupakan bagian dari perkembangan. b) Belajar berlangsung seumur hidup.

c) Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, faktor lingkungan, kematangan serta usaha dari individu sendiri.

d) Belajar mencakup semua aspek kehidupan.

e) Kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu. f) Belajar berlangsung dengan guru ataupun tanpa guru.

g) Belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi. h) Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai dengan

yang sangat kompleks.

i) Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.

j) Untuk kegiatan belajar tertentu diperlukan adanya bantuan atau bimbingan dari orang lain.44

b. Hasil Belajar

1) Konsep Hasil Belajar

Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkain pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat. Pengukuran demikian dimungkinkan karena pengukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai bidang termasuk pendidikan.

(41)

26

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang ditempuhnya. Tingkat penguasaan pelajaran atau hasil belajar dalam mata pelajaran tersebut di sekolah dilambangkan dengan angka-angka atau huruf, seperti angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah dan huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi.

Sebenarnya hampir seluruh perkembangan atau kemajuan hasil karya juga merupakan hasil belajar, sebab proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di tempat kerja dan di masyarakat. Pada lingkungan kerja, hasil belajar ini sering diberi sebutan prestasi kerja, yang sesungguhnya merupakan sesuatu achievement juga.45

2) Hasil Belajar Kognitif

Hasil belajar pada aspek kognitif merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan mental/otak. Hasil belajar pada aspek kognitif setelah direvisi dibagi kedalam enam jenjang yaitu: remember, understand, apply, analyze, evaluate, dan create. Jenjang kognitif sebelum direvisi dibagi kedalam enam jenjang proses berfikir , yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.46

a) Hafalan (C1) adalah kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang telah dipelajari. Siswa mampu mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar.

b) Pemahaman (C2) merupakan kemampuan menangkap arti dari informasi. Siswa mampu memahami konsep dengan menggunakan kata-kata sendiri.

45 Nana Syaodih Sukmadinata, op. cit., h. 102-103.

(42)

c) Penerapan (C3) merupakan kemampuan menggunakan prinsip atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru yang lebih konkrit.

d) Analisis (C4) merupakan kemampuan menguraikan suatu informasi atau materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih jelas untuk dimengerti.

e) Sintesis (C5) adalah kemampuan memadukan bagian-bagian yang terpisah menjadi konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.

f) Evaluasi (C4) adalah kemampuan untuk mempertimbangkan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.

3) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Usaha dan keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Muhibbin Syah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:

a) Faktor Internal Siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi dua aspek yakni: aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).

1. Aspek Fisiologis

(43)

28

berkesinambungan. Hal ini penting sebab perubahan pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.47

2. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya diipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:

a. Inteligensi Siswa

Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.48 Dapat tidaknya seseorang mempelajari sesuatu dengan hasil baik ditentukan/dipengaruhi oleh taraf kecerdasannya.49

Intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.

b. Sikap dan Sifat Pribadi Siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang guru sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa

47 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 130.

48Ibid., h. 131.

(44)

terhadap guru dan mata pelajaran, apalagi jika diiringi kebencian kepada guru atau kepada mata pelajaran dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. 50 Demikian juga dengan tiap-tiap siswa mempunyai sifat kepribadian yang berbeda yang sedikit banyak turut pula mempengaruhi sampai dimanakah hasil belajarnya dapat dicapai.51

c. Bakat Siswa

Secara umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara umum bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.52

Bakat berfungsi sebagai modal pembelajaran, dengan adanya bakat seorang siswa akan jauh lebih mudah memahami materi pembelajaran bahkan tanpa hadirnya seorang pendidik sekalipun. Bakat dapat berkembang sebagai kemampuan suatu individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung ppada upaya pendidikan dan pelatihan.

d. Minat Siswa

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.53 Guru dalam hal ini seharusnya berusaha membangkitkan minat siswa untuk menguasai pengetahuan yang terkandung dalam bidang studinya dengan cara yang lebih kurang sama dengan kiat mebangun sikap positif.

e. Motivasi Sosial

Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam

50 Muhibbin Syah, op. cit., h. 132. 51 Ngalim Purwanto, op. cit., h. 103-104. 52 Muhibbin Syah, op. cit., h. 133.

(45)

30

perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) motivasi intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang mampu mendorong tindakan belajar. 2) motivasi ekstrinsik yaitu keadaan yang datang dari luar individu siswa juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.54 Anak akan menyadari apa gunanya belajar dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan pelajaran itu.55 Jadi jika guru dan orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak-anak timbullah dalam diri anak itu dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik.

b) Faktor Eksternal Siswa

Faktor eksternal siswa terdiri atas dua macam, yakni: lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial.56

1. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial ini termasuk sekolah, masyarakat, dan kelauarga. Lingkungan sekolah seperti para guru, para tenaga kependidikan dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selanjutnya lingkungan masyarakat termasuk tetangga, terutama teman sebaya dapat mendukung, paling tidak mendiskusikan pelajaran yang dianggapnya sulit.

Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi adalah lingkungan okeluarga dan orang tua. Sifat orang tua dan praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga semuanya dapat memberikan dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

2. Lingkungan Nonsosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah, dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.

54Ibid., h. 134.

(46)

Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

c) Faktor Pendekatan Belajar

Faktor pendekatan belajar mempengaruhi taraf keberhasilan proses belajar siswa. Faktor ini merupakan keefektifan segala cara dan efisiensi proses belajar materi tertentu. Faktor ini dibagi tiga macam, yakni: a) Pendekatan Tinggi (speculative, achieving), b) Pendekatan Sedang (analitical, deep), c) Pendekatan Rendah (reproduktive, surface).57

B.

Hasil Penelitian yang Relevan

Dilek ÇELİKLER, The Effect of Worksheets Developed for the Subject of Chemical Compounds on Student Achievement and Permanent Learning (Kimyasal Bileşikler Konusu İçin Geliştirilen Çalışma Yapraklarının Öğrenci Başarısı ve Kalıcı Öğrenme Üzerine Etkisi), Educational Research Association The International Journal of Research in Teacher Education 2010, 1(1):42-51 ISSN: 1308-951X, Universitas Turkey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelompok eksperimen diajarkan dengan menggunakan lembar kerja lebih berhasil daripada siswa kelompok yang diajarkan dengan metode instruksi tradisional (t = 23,230, p <.05) Dengan jelas data ini disimpulkan bahwa penggunaan lembar kerja sebagai bahan pelengkap mempengaruhi kepermanenan positif (t = 27,505, p <.05).58

A. Halim Ulaşa, Oğuzhan Sevimb, Esengül Tanc, The effect of worksheets based upon 5e learning cycle model on student success in teaching of adjectives as grammatical component, Procedia - Social and Behavioral Sciences 31 (2012) 391 – 398, WCLTA 2011. Hasil dari penelitian, diketahui bahwa lembar kerja disiapkan sesuai dengan model

57Ibid., h. 136-137.

58Dilek ÇELİKLER, “The Effect of Worksheets Developed for the Subject of Chemical Compounds on Student Achievement and Permanent Learning (Kimyasal Bileşikler Konusu İçin

Geliştirilen Çalışma Yapraklarının Öğrenci Başarısı ve Kalıcı Öğrenme Üzerine Etkisi)”, Educational Research Association The International Journal of Research in Teacher Education,

(47)

32

siklus belajar 5E, keberhasilan siswa meningkat, bahkan para siswa lebih memilih pelajaran dilakukan dengan lembar kerja yang disiapkan sesuai dengan model pembelajaran siklus 5E. Hal ini menunjukkan bahwa lembar kerja disiapkan sesuai dengan model pembelajaran siklus 5E adalah memiliki efek positif yang lebih tinggi pada keberhasilan siswa karena melibatkan struktur terpadu dan terencana.59

Hu¨seyin Artun, Bayram Cos¸tu, Effect of the 5E Model on Prospective Teachers’ Conceptual Understanding of Diffusion and Osmosis: A Mixed Method Approach, J Sci Educ Technol DOI 10.1007/s10956-012-9371-2, _ Springer Science+Business Media, LLC 2012. Hasil penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan yang ditemukan antara skor pra-test dan post-pra-test, ini menunjukkan bahwa kegiatan mengajar berdasarkan Model 5E memungkinkan siswa untuk mempertahankan pemahaman konseptual baru mereka, selain itu bahan ajar memfasilitasi perubahan konseptual dan memungkinkan stabilitas konsepsi baru. Pengaruh kegiatan perubahan konseptual dan stabilitas telah ditunjukkan oleh studi terkait.60

Sultan, Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Lks Dan Yang Tidak Menggunakan Lks Pada Mata Pelajaran Biologi SMU di SMU Negeri 1Watansoppeng Kab. Soppeng, dalam Jurnal Ilmiah Kependidikan ISSN 1829-569X Volume 1, Nomer 1, Mei 2004. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan LKS pada pelajaran Biologi dapat membanttu meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 1 SMU Negeri 1 Watansoppeng, dan penggunaan LKS lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan dengan yang tidak

59A. Halim Ulas, Oguzhan Sevim, Esengul Tan, “The Effect of Worksheets Based Upon 5e Learning Cycle Model on Student Success In Teaching of Adjectives as Grammatical Components”, Procedia - Social and Behavioral Sciences 31 (2012) 391 – 398, 2011. Tersedia online http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042811030011.

60 Hu¨seyin Artun, Bayram Costu, “Effect of the 5E Model on Prospective Teachers’ Conceptual Understanding of Diffusion and Osmosis: A Mixed Method Approach”, J Sci Educ Technol, DOI 10.1007/s10956-012-9371-2, Springer Science+Business Media, LLC, 2012. Tersedia online

(48)

menggunakan. LKS dibuat agar siswa aktif dan siswa termotivasi dalam belajar secara individu.61

Herunata, Laurent Octaviana, Oktavia Sulistina, Upaya Mengoptimalkan Pemahaman Konsep Elektrokimia Siswa Kelas 3 Ipa Smai Almaarif Singosari Dengan Learning Cycle 5 Fase (Lc-5e) Berbantuan Bahan Ajar Terpadu Berbasis Pendekatan Makroskopis-Mikroskopis, dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 13 Nomer 1, April 2006. Hasil penelitian ini adalah ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang belajar menggunakan LC-5E berbantuan bahan ajar terpadu berbasis pendekatan makroskopis-mikroskopis dengan siswa yang hanya belajar dengan menggunakan LC-

Gambar

Gambar 2.1 Diagram alur langkah-langkah penyusunan LKS..............................11
Gambar 2.1. Diagram alur langkah-langkah penyusunan LKS11
Tabel 2.1: Perbandingan Fase dari Model SCIS dan Model 5E BSCS
Gambar 2.2. Medan hidup menurut Kurt Lewin40
+7

Referensi

Dokumen terkait

N Kompetensi Dasar Alok Januari Februari Maret April Mei juni.. Mengetahui Guru Mata Pelajaran

Pada hari ini, Senin tanggal Lima bulan Januari tahun Dua Ribu Lima Belas , sesuai dengan jadwal yang termuat pada Portal LPSE http://lpse.mahkamahagung.go.id,

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, evaluasi teknis, evaluasi harga dan evaluasi kualifikasi serta formulir isian Dokumen Kualifikasi untuk penawaran

menyekolahkan anaknya di sekolah SD Tarbiyatul Islam, juga sebagai mitra dalam pengembangan MBS,dan juga ikut mendukung program-program yang ada pada sekolah atau yang

Jika banyak berisi ikan koki adalah x, dan banyak kolam berisi ikan koi adalah y, maka model matematika untuk masalah ini adalah ….. Rudi seorang pedagang

Menurut Bonczek (dalam Turban, 2005), Sistem pendukung keputusan didefinisikan sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi,

TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI” (Studi Komparatif pada Kelas XI IIS dan Lintas Minat Ekonomi di SMAN 12 Kota Bandung pada tahun ajaran

Uji analisis diskriminan dilakukan untuk mengetahui variabel mana saja yang masuk ke dalam model dengan menggunakan metode stepwise yang menghasilkan nilai minimum