• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Limbah Besi Sebagai Komposisi Penyusun Beton

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Limbah Besi Sebagai Komposisi Penyusun Beton"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN LIMBAH BESI SEBAGAI KOMPOSISI

PENYUSUN BETON

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil

Disusun Oleh :

RIKY ARMADI

06 0404 027

SUB JURUSAN STRUKTUR

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSIITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PEMANFAATAN LIMBAH BESI SEBAGAI KOMPOSISI

PENYUSUN BETON

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk menempuh ujian sarjana teknik sipil

Disusun Oleh :

RIKY ARMADI

06 0404 027

Dosen Pembimbing :

Rahmi Karolina, ST, MT NIP. 19820318 200812 2 001

Diketahui :

Ketua Departemen Teknik Sipil

Prof. Dr.Ing. Johannes Tarigan NIP.19561224 198103 1 002

SUB JURUSAN STRUKTUR

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

PEMANFAATAN LIMBAH BESI SEBAGAI KOMPOSISI

PENYUSUN BETON

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk menempuh ujian sarjana teknik sipil

Disusun Oleh :

RIKY ARMADI

06 0404 027

Pembimbing

Rahmi Karolina, ST, MT NIP. 19820318 200812 2 001

Mengesahkan :

Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara

Prof. Dr.Ing. Johannes Tarigan NIP.19561224 198103 1 002

SUB JURUSAN STRUKTUR

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSIITAS SUMATERA UTARA

2011

Penguji I

Ir. Daniel Rumbi Teruna, MT NIP. 19590707 198710 1 001

Penguji II

Ir. Robert Panjaitan NIP. 19510708 198203 1 001

Penguji III

(4)

ABSTRAK

Beton merupakan material utama untuk konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak penelitian telah dilakukan tentang teknologi beton untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan infrastruktur dimulai dari jalan, gedung, jembatan dan lain sebagainya. Semakin meluasnya penggunaan beton dan makin meningkatnya skala pembangunan menunjukkan juga semakin banyak kebutuhan beton di masa yang akan datang, sehingga mempengaruhi perkembangan teknologi beton dimana akan menuntut inovasi-inovasi baru mengenai beton itu sendiri. Perkembangan zaman di era globalisasi yang pesat ini mengakibatkan terus bertambahnya jumlah barang bekas/limbah yang keberadaanya dapat menjadi masalah bagi kehidupan, salah satunya adalah keberadaan limbah besi (slag). Untuk itu, banyak hal yang telah dilakukan dalam rangka mendaur ulang guna mengatasi masalah keberadaan limbah ini. Salah satunya adalah teknologi beton slag. Pada beton slag ini, slag dapat digunakan sebagai bahan pengganti pada agregat halus, agregat kasar maupun bahan tambah pada campuran beton.

Beton dicampur dengan slag ditambahkan dalam proporsi yang berbeda. Dalam hal ini, slag digunakan mengantikan agregat halus berdasarkan berat dalam variasi campuran dengan harapan dapat meningkatkan kualitas beton berupa kuat tekan, kuat tarik, elastisitas dan kuat lentur yang baik. Adapun variasi substitusi slag

yang digunakan adalah 0%, 10%, 15%, 20%, 25% dan pengujian yang dilakukan berupa slump test, kuat tekan, elastisitas, kuat tarik dan kuat lentur.

Dari hasil pengujian diperoleh hasil kenaikan pada nilai slump, peningkatan nilai kuat tekan menjadi 9,1%, 12,8%, 17,04%, 23,28% dari beton normal, peningkatan nilai modulus elastisitas menjadi 9.72%, 13.52%, 16.87%, 19.07%, peningkatan pada nilai kuat tarik beton, dan peningkatan pada nilai kuat lentur balok. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh peningkatan pada kuat tekan, elastisitas, kuat rekah dan kuat lentur. Untuk itu, jika diadakan penelitian lebih lanjut ada baiknya nilai variasi slag diperbesar lebih dari dari 25% guna mencari nilai optimum pemakaian slag sebagai substitusi agregat halus. Penelitian lanjutan untuk beton mutu tinggi dapat dilakukan dengan memakai zat Additive (silica fume) pada persentase yang bervariasi agar didapat kuat Tekan yang optimal.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saya, sehingga tugas akhir ini dapat

diselesaikan dengan baik.

Tugas akhir ini merupakan syarat untuk mencapai gelar sarjana Teknik Sipil

bidang struktur Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera

Utara, dengan judul “PEMANFAATAN LIMBAH BESI SEBAGAI KOMPOSISI PENYUSUN BETON.

Saya menyadari bahwa dalam menyelesaikan tugas akhir ini tidak terlepas

dari dukungan, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya

ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa

pihak yang berperan penting yaitu :

1. Ibu Rahmi Karolina, ST, MT selaku pembimbing, yang telah banyak

memberikan dukungan, masukan, bimbingan serta meluangkan waktu, tenaga

dan pikiran dalam membantu saya menyelesaikan tugas akhir ini.

2. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan selaku Ketua Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Ir. Syahrizal, MT selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil Fakultas

Teknik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Ir. Besman Surbakti, MT selaku Kepala Laboratorium Studio Departemen

Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

5. Bapak/Ibu seluruh staff pengajar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik

(6)

6. Seluruh pegawai administrasi Departemen Teknik Sipil Fakultas teknik

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama ini kepada

saya.

7. Teristimewa dihati buat keluarga saya, terutama kepada kedua orang tua saya,

Ayahanda Paimun dan Ibunda Yenny Wati yang telah memberikan doa,

motivasi, semangat dan nasehat kepada saya. Terima kasih atas segala

pengorbanan, cinta, kasih sayang dan do’a yang tiada batas untuk saya. Suadara

-saudara tercinta Abang saya Adri Prastowo, adik-adik saya Nurhadiyono, dan

Zahra Fahira Anisa yang telah banyak membantu dan mendukung saya selama

ini, terima kasih atas doanya.

8. Teristimewa dihati buat Julya Mazaya, yang banyak memberikan doa, motivasi,

semangat, nasehat dan membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini,

terima kasih atas doanya.

9. Buat saudara/i seperjuangan 06 Fahim, Yusuf, Budi, Rivana, Radi, Tami, Atta,

Angga, Herry, Agung, Khoir, Rahmat, Ajir, Farqi, Afif, Sawal, Andi,

Hardiansyah, Haikal, Zainal, Ijul, Anggi, Alfi, Muhadri, Yudi, Ghafar, Iqbal,

Avril, Fauzi, Hanif, Royhan, Husni, Wawan, Maman, Alex, Subroto, Shendy,

Helen, Didik, Diana, Ani, Irin, Yovanka, Nurul, Jenet, Citra, Dina, abang-abang

dan kakak senior, bg Agung 00, bg Nova 03, bg Hamdi 03, bg Fau 03, bg Arlin

01, bg Dian 03, bg Ajo 03, bg Sayed 03, bg Budi 03, dan adik-adik 07, Hari,

Harli, Coandra, Rudi dan yang lainnya adik-adik 09, Afiz, Aulia, Bambang

Kennedy, Fuad, Fatahur, Irwan, Reza, Ryan, Udin, Mia serta teman-teman

mahasiswa/i angkatan 2006 dan mahasiswa sipil lainnya yang tidak dapat

(7)

10. Buat wak Udin, mas Subandi, dan ibu serta bapak kantin beton terima kasih atas

semangat dan bantuannya selama ini.

11. Seluruh rekan-rekan yang tidak mungkin saya tuliskan satu-persatu atas

dukungannya yang sangat baik.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh dari kata

sempurna. Yang disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pemahamahan

saya dalam hal ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan saran dan kritik yang

membangun dari para pembaca demi perbaikan menjadi lebih baik.

Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan semoga tugas akhir ini dapat

bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, November 2011

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR NOTASI ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 3

1.2 Permasalahan ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Pembatasan Masalah ... 4

1.5 Gambar Uji ... 5

1.6 Metodologi Penelitian ... 5

1.7 Percobaan ... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Umum ... 9

2.1.1 Beton segar (Fresh Concrete) ... 10

2.2.1.1 Kemudahan Pengerjaan (Workability) ... 11

2.2.1.2 Pemisahan Kerikil (Segregation) ... 13

2.2.1.3 Pemisahan Air (Bleeding) ... 14

2.1.2 Beton Keras ... 14

2.2.1.4 Kuat Tekan Beton ... 14

2.2.1.5 Modulus Elastisitas ... 20

2.2.1.6 Kuat Tarik Beton ... 21

2.2.1.7 Kuat Lentur ... 22

(9)

2.2.1 Semen ... 22

2.2.4.2 Umum ... 22

2.2.4.3 Semen Portland ... 23

2.2.4.4 Jenis-Jenis Semen Portland ... 23

2.2.4.5 Bahan Dasar Semen Portland ... 24

2.2.4.6 Senyawa Utama Dalam Semen Portland ... 25

2.2.4.7 Sifat-Sifat Semen Portland ... 26

2.2.2 Agregat ... 28

2.2.2.1 Umum ... 28

2.2.2.2 Jenis Agregat ... 28

2.2.2.2.1 Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk ... 29

2.2.2.2.2 Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan ... 31

2.2.2.2.3 Jenis Agregat Berdasarkan Ukuran Butiran Nominal ... 32

2.2.3 Air ... 36

2.2.4 Bahan Tambahan ... 37

2.2.4.1 Umum ... 37

2.2.4.2 Alasan Penggunaan Bahan Tambahan ... 39

2.2.4.3 Perhatian Penting dalam Penggunaan Bahan Tambahan ... 40 2.2.4.4 Jenis Admixture ... 41

2.2.4.4.1 Mineral Admixture ... 41

a. Kerak Tanur Tinggi (Slag) ... 41

b. Uap Silika (Siliks Fume) ... 47

c. Abu Terbang (Fly Ash) ... 49

2.2.4.4.2 Jenis Miscellanous admixture (bahan tambah lain) ... 49

a. Abu Kulit Gabah (Rice Husk Ash) 49 b. Limbah Karet ... 50

(10)

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 52

3.1 Umum ... 52

3.2 Bahan-bahan penyusun beton ... 55

3.2.1. Semen Portland ... 55

3.2.2. Agregat Halus ... 57

3.2.3. Agregat Kasar ... 63

3.2.4. Air ... 67

3.2.5. Slag ... 68

3.3 Penelitian Penggunaan Karet yang Sudah Ada ... 69

3.4 Perencanaan Campuran Beton (Mix Design) ... 71

3.5 Penyediaan Bahan Penyusun Beton ... 71

3.6 Pembuatan Benda Uji ... 72

3.7 Penggunaan Slag ... 73

3.8 Pengujian Sampel ... 74

3.8.3 Uji kuat Tekan Beton ... 75

3.8.4 Pengujian Modulus Elastisitas Beton ... 76

3.8.5 Uji Kuat Tarik Beton ... 78

3.8.6 Uji Kuat lentur ... 79

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Slump ... 81

4.2 Uji Kuat Tekan Beton ... 82

4.3 Pola Retak Pada Pengujian Kuat Tekan ... 85

4.4 Pengujian Modulus Elastisitas Beton ... 87

4.5 Uji Kuat Tarik Beton ... 91

4.6 Uji Kuat lentur ... 95

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 97

5.1 Kesimpulan ... 97

5.2 Saran ... 98

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Distribusi Pengujian Benda Uji Silinder dan Balok Flexure ... 7

Tabel 2.1 Perkiraan Kuat Tekan Beton pada Berbagai Umur ... 17

Tabel 2.2 Komposisi Senyawa Semen Portland ... 25

Tabel 2.3 Batasan Gradasi untuk Agregat Halus ... 33

Tabel 2.4 Susunan Besar Butiran Agregat Kasar (ASTM, 1991) ... 35

Tabel 2.5 Komposisi kimia dari limbah padat (slag) dari Laboratorium F-MIPA USU ... 43

Tabel 2.6 Komposisi kimia dari limbah padat (slag) dari Laboratorium Balai Riset dan Standarisasi Industri dan Perdagangan Semarang ... 44

Tabel 2.7 Pengukuran X-ray diffraction komposisi kimia slag dalam (%) ... 44

Tabel 3.1 Susunan Besar Butiran Agregat Halus (ASTM, 1991) ... 58

Tabel 3.2 Susunan Besar Butiran Agregat Kasar (ASTM, 1991) ... 63

Tabel 4.1 Nilai Slump berbagai jenis beton ... 80

Tabel 4.2 Kuat tekan silinder ... 81

Tabel 4.3 Perbandingan hasil pengujian kuat tekan silinder beton ... 84

Tabel 4.4 Tabel nilai Modulus Elastisitas rata-rata maksimum berbagai campuran beton ... 88

Tabel 4.5 Tabel persentase peningkatan modulus elastisitas vertikal terhadap Penggunaan slag ... 89

(12)

Tabel 4.7 Perhitungan kuat tarik beton ... 92

Tabel 4.8 Perbandingan hasil pengujian kuat tarik silinder beton ... 94

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Benda Uji Silinder ... 5

Gambar 1.2 Benda Uji Balok ... 5

Gambar 2.1 Kerucut Abrams ... 12

Gambar 2.2 Jenis-jenis slump adukan beton ... 13

Gambar 2.3 Hubungan antara faktor air semen dengan kekuatan beton ... 16

Gambar 2.4 Hubungan antara umur beton dan kuat tekan beton ... 17

Gambar 2.5 Perkembangan kekuatan tekan mortar untuk berbagai tipe Portland semen ... 18

Gambar 2.6 Pengaruh jumlah semen terhadap kuat tekan beton pada faktor air semen sama ... 19

Gambar 2.7 Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ... 20

Gambar 3.1 Diagram Alir Pembuatan Beton Normal ... 53

Gambar 3.2 Diagram Alir Pembuatan Beton Normal dengan Slag ... 54

Gambar 3.3 Slag ... 69

Gambar 3.4 Uji Tekan Beton ... 75

Gambar 3.5 Gambar Pengujian Elastisitas... 75

Gambar 3.6 Pengujian Modulus Elastisitas Beton ... 76

Gambar 3.7 Uji Split Cylinder ... 78

Gambar 3.8 Gambar pengujian kuat lentur balok ... 79

(14)

Gambar 4.2 Grafik hubungan kuat tekan silinder terhadap kadar penggunaan

slag ... 83

Gambar 4.3 Grafik perbandingan hasil pengujian kuat tekan silinder beton ... 85

Gambar 4.4 Pola retak kolom (columnar) pada pengujian kuat tekan silinder beton dalam penelitian ... 86

Gambar 4.5 Gambar pola retak yang mungkin terjadi pada silinder beton ... 86

Gambar 4.6 Grafik perbandingan nilai Modulus Elastisitas Rata – rata berbagai variasi penggunaan slag ... 88

Gambar 4.7 Grafik hubungan Persentase Peningkatan Modulus Elastisitas Terhadap Kadar penambahan slag ... 89

Gambar 4.8 Grafik perbandingan hasil pengujian elastisitas pada silinder beton . 91 Gambar 4.9 Grafik kuat rekah silinder terhadap kadar penggunaan slag ... 93

Gambar 4.10 Grafik perbandingan hasil pengujian kuat tarik silinder beton ... 94

Gambar 4.11 Gambar perletakan pada pengujian kuat lentur balok ... 95

(15)

DAFTAR NOTASI

SSD: saturated surface dry

n : jumlah sampel

SD : simpangan baku

f'c : kuat tekan beton karakteristik (MPa)

fr : kuat lentur (MPa)

fc’ : kekuatan tekan (kg/cm2)

P : beban tekan (kg)

A : luas penampang (cm2)

S : deviasi standar (kg/cm2)

σ’b : kekuatan masing – masing benda uji (kg/cm2)

σ’bm : kekuatan Beton rata –rata (kg/cm2)

N : jumlah Total Benda Uji hasil pemeriksaan

bm

: tegangan rata-rata (kg/ cm²)

bk

: tegangan karakteristik (kg/ cm²)

Fct : tegangan rekah beton (kg/cm)

P : beban maksimum (kg)

L : panjang sampel (cm)

D : diameter (cm)

F : beban yang diberikan (kg)

(16)

L

: perubahan panjang (cm)

: angka ekivalen

Ebaja :: elastisitas baja (2,1 x 105MPa)

: tegangan (kg/ cm²)

E : modulus elastisitas (kg/ cm²)

k : Faktor Pembacaan Dial (mm)

M : momen pada daerah patahan (kgcm)

Z : modulus penampang arah melintang (cm฀)

b : lebar balok (cm)

h : tinggi balok (cm)

w : momen tahanan (cm3)

R : modulus patahan (kg/ cm²)

c

: berat jenis beton (kg/cm3)

s m

: massa sample kering (kg)

b m

: massa sample setelah direndam (kg)

g m

: massa sample digantung di dalam air (gm)

air

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Concrete Mix Design

Lampiran II Pengujian Kokoh Tekan Beton

Lampiran III Pengujian Elastisitas Beton

Lampiran IV Hasil Analisa Sampel Lab. Kimia F-MIPA USU

(18)

ABSTRAK

Beton merupakan material utama untuk konstruksi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Banyak penelitian telah dilakukan tentang teknologi beton untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan infrastruktur dimulai dari jalan, gedung, jembatan dan lain sebagainya. Semakin meluasnya penggunaan beton dan makin meningkatnya skala pembangunan menunjukkan juga semakin banyak kebutuhan beton di masa yang akan datang, sehingga mempengaruhi perkembangan teknologi beton dimana akan menuntut inovasi-inovasi baru mengenai beton itu sendiri. Perkembangan zaman di era globalisasi yang pesat ini mengakibatkan terus bertambahnya jumlah barang bekas/limbah yang keberadaanya dapat menjadi masalah bagi kehidupan, salah satunya adalah keberadaan limbah besi (slag). Untuk itu, banyak hal yang telah dilakukan dalam rangka mendaur ulang guna mengatasi masalah keberadaan limbah ini. Salah satunya adalah teknologi beton slag. Pada beton slag ini, slag dapat digunakan sebagai bahan pengganti pada agregat halus, agregat kasar maupun bahan tambah pada campuran beton.

Beton dicampur dengan slag ditambahkan dalam proporsi yang berbeda. Dalam hal ini, slag digunakan mengantikan agregat halus berdasarkan berat dalam variasi campuran dengan harapan dapat meningkatkan kualitas beton berupa kuat tekan, kuat tarik, elastisitas dan kuat lentur yang baik. Adapun variasi substitusi slag

yang digunakan adalah 0%, 10%, 15%, 20%, 25% dan pengujian yang dilakukan berupa slump test, kuat tekan, elastisitas, kuat tarik dan kuat lentur.

Dari hasil pengujian diperoleh hasil kenaikan pada nilai slump, peningkatan nilai kuat tekan menjadi 9,1%, 12,8%, 17,04%, 23,28% dari beton normal, peningkatan nilai modulus elastisitas menjadi 9.72%, 13.52%, 16.87%, 19.07%, peningkatan pada nilai kuat tarik beton, dan peningkatan pada nilai kuat lentur balok. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh peningkatan pada kuat tekan, elastisitas, kuat rekah dan kuat lentur. Untuk itu, jika diadakan penelitian lebih lanjut ada baiknya nilai variasi slag diperbesar lebih dari dari 25% guna mencari nilai optimum pemakaian slag sebagai substitusi agregat halus. Penelitian lanjutan untuk beton mutu tinggi dapat dilakukan dengan memakai zat Additive (silica fume) pada persentase yang bervariasi agar didapat kuat Tekan yang optimal.

(19)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beton merupakan material utama untuk konstruksi yang banyak digunakan di

seluruh dunia. Banyak penelitian telah dilakukan tentang teknologi beton untuk

memenuhi kebutuhan dalam pembangunan infrastruktur dimulai dari jalan, gedung,

jembatan dan lain sebagainya. Semen merupakan komposisi utama dalam pembuatan

beton. Dalam realita, produksi semen telah menghasilkan emisi gas CO2 yang cukup

besar ke atmosfer. Dan hal ini merupakan penyebab utama kerusakan lingkungan.

Dalam rangka mengurangi dampak kerusakan lingkungan para peneliti

berusaha mencari solusi untuk menangani pencemaran lingkungan. Hal ini dilakukan

dalam rangka mendukung kampanye dunia “Going Green” yang belakangan ini

menjadi isu utama dalam rangka menciptakan lingkungan yang bersih. Banyak upaya

yang dilakukan dimulai dari penerapan teknologi ramah lingkungan (Green

Technology), bangunan ramah lingkungan (Green Building) yang mengadopsi triple

zero yaitu zero energy, zero emission dan zero waste untuk bangunan yang ramah

lingkungan.

Semakin meluasnya penggunaan beton dan makin meningkatnya skala

pembangunan menunjukkan juga semakin banyak kebutuhan beton di masa yang

akan datang, sehingga mempengaruhi perkembangan teknologi beton dimana akan

menuntut inovasi-inovasi baru mengenai beton itu sendiri. Dalam bidang rekayasa

material, p a r a i l m u a n terus melakukan penelitian dan inovasi, termasuk bahan

(20)

lama kian meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah populasi

penduduk. Dengan demikian kebutuhan akan bahan baku semen dan material

campuran lainnya seperti agreat kasar, agregat halus, air serta bahan tambahan

lainnya akan meningkat pula. Namun bahan baku yang selama ini diperoleh dari

alam cenderung menurun akibat eksploitasi yang terus dilakukan.

Melihat fenomena di atas, banyak orang mencoba memanfaatkan

limbah-limbah industri untuk digunakan dalam campuran beton. Salah satunya adalah slag.

Slag merupakan limbah besi dan baja yang berbentuk bongkahan-bongkahan kecil

yang diperoleh dari hasil samping pembuatan baja dengan tanur tinggi. Slag

dihasilkan selama proses pemisahan cairan baja dari bahan pengotornya pada tungku

pembuat baja. Selama ini pemanfaatan slag belum dilakukan secara optimal.

Pemanfaatan slag sangatlah penting karena limbah ini memilki dampak terhadap

lingkungan, karena slag mengandung logam berat dan ada kemungkinan logam berat

tersebut dapat terlepas ke lingkungan, jika terpapar terus menerus di lingkungan

terbuka. Jika terlepas ke lingkungan logam berat akan mencemari tanah, air dan air

tanah.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 tahun 1999

tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun menyatakan bahwa

limbah industri baja adalah termasuk limbah berbahaya dan beracun (Limbah B-3).

Hal ini dapat dipahami karena dalam limbah tersebut pada umumnya mengandung

unsur-unsur berbahaya seperti CD, Cr, Pb, Ni, Fe dan Zn. Unsur-unsur logam

tersebut jika diuji dengan metode toksikologi dapat menyebabkan kanker. (Soemirat

(21)

Walaupun industri baja/logam tidak menggunakan larutan kimia, tetapi

industri ini mencemari lingkungan karena buangannya dapat mengandung minyak

pelumas dan asam-asam yang berasal dari proses pickling untuk membersihkan

bahan plat, sedangkan bahan buangan padat dapat dimanfaatkan kembali. Maka dari

itu pemanfaatan limbah besi dan baja ini sangat perlu dilakukan. Slag ini bisa

menjadi alternatif pilihan bagi kita untuk dapat memanfaatkan slag sebagai agregat

halus, pengganti pasir untuk campuran beton maupun aspal. Karena sifatnya yang

hampir sama dengan semen, campuran beton dengan menggunakan slag dapat

menghasilkan beton dengan mutu yang sangat baik.

1.2 Permasalahan

Di dalam dunia konstruksi sangat diperlukan beton yang memiliki kekuatan

tekan yang baik, elastisitas yang baik dan kelecakan yang tinggi sehingga mudah

dikerjakan (workable). Untuk itu pemakaian Slag dapat dikembangkan dalam dunia

konstruksi. Untuk itu perlu adanya penelitian mengenai pemanfaatan Slag tersebut

pada beton sebagai subtitusi agregat halus sehingga didapatkan beton yang lebih

ekonomis.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis dalam penelitian untuk tugas akhir ini sebagai berikut:

Mengurangi limbah besi dan memanfaatkan penggunaannya.

1. Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Slag dapat menggantikan

(22)

2. Mengetahui workability beton segar yang menggunakan Slag sebagai

pengganti agregat halus.

3. Mengetahui perilaku mekanik beton yang menggunakan Slag sebagai bahan

pengganti agregat halus dengan variasi 0%, 10%, 15%, 20%, dan 25% dan

membandingkannya dengan beton normal.

1.4 Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah yang diambil untuk mempermudah

penyelesaian dan keterbatasan pengetahuan penulis dalam permasalahan balok beton

bertulang yaitu:

1. Mutu beton yang direncanakan adalah K-300.

2. Penggantian agregat halus dengan material Slag sebesar 0%, 10%, 15%, 20%,

dan 25%.

3. Persentase substitusi material Slag dilakukan berdasarkan berat agregat.

4. Diameter butiran Slag yang digunakan dalam penelitian ini berkisar antara

0,05-0,3 mm.

5. Faktor air semen (FAS) yang digunakan 0.46.

6. Benda uji yang digunakan adalah silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi

30 cm dan balok beton dengan ukuran 15 cm x 15 cm x 75 cm.

7. Perawatan beton dengan cara perendaman di air.

8. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari untuk semua variasi.

9. Pengujian elastisitas silinder dilakukan pada umur 28 hari.

10.Pengujian kuat tarik belah beton (Splitting Test) dilakukan pada umur 28

(23)

11.Pengujian lentur balok dilakukan pada umur beton 28 hari dengan pengujian

flexure.

1.5 Gambar Benda Uji

Gambar 1.1 Benda Uji Silinder

Gambar 1.2 Benda Uji Balok

1.6 Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah kajian

eksperimental di Laboratorium Bahan Rekayasa Departemen Teknik Sipil Fakultas

Teknik Universitas Sumatera Utara. Adapun tahap-tahap pelaksanaan penelitian

(24)

1. Penyediaan bahan penyusun beton berupa semen, pasir, batu pecah dan bahan

pengganti (Slag).

2. Pemeriksaan bahan penyusun beton.

 Analisa ayakan agregat halus dan agregat kasar.

 Pemeriksaan berat jenis dan absorbsi agregat halus dan agregat kasar.

 Pemeriksaan berat isi pada agregat halus dan agregat kasar serta Slag.

 Pemeriksaan kadar Lumpur ( pencucian agregat kasar dan halus lewat

ayakan no.200 ).

 Pemeriksaan kadar liat (clay lump) pada agregat halus.

 Pemeriksaan kandungan organik (colorimetric test) pada agregat halus.

 Pemeriksaan keausan agregat kasar melalui percobaan Los Angeles.

3. Mix design (perancangan campuran)

Penimbangan/penakaran bahan penyusun beton berdasarkan uji karakteristik

K-300.

4. Pengujian kuat tekan beton, elastisitas dan kuat tarik belah menggunakan

benda uji silinder.

5. Pengujian kuat lentur balok dengan pengujian flexure.

1.7 Percobaan

 Pembuatan benda uji : Pembuatan beton dengan menggunakan slag dan

faktor air semen tetap untuk setiap variasi. Jumlah benda uji yang dibuat

empat buah untuk setiap variasi. Benda uji yang dibuat adalah silinder dengan

diameter 15 cm dan tinggi 30 cm serta balok dengan ukuran 15 cm x 15 cm

(25)

Adapun variasi yang digunakan adalah :

a. Variasi 1, tanpa penambahan Slag ( beton normal )

b. Variasi 2, penggunaan Slag 10%

c. Variasi 3, penggunaan Slag 15%

d. Variasi 4, penggunaan Slag 20%

e. Variasi 4, penggunaan Slag 25%

 Pengujian slump (slump test ASTM C143-90 A), untuk mengetahui tingkat

kemudahan pengerjaan ( workability ) setelah penggantian agregat dan

sebelumnya.

 Pengujian absorbsi beton setelah umur 28 hari.

 Perawatan beton dengan cara perendaman dalam air untuk silinder dan balok.

 Pengujian kekuatan tekan beton (ASTM C39-86) pada umur 28 hari.

 Pengujian elastisitas beton (ASTM C.469-874) pada umur 28 hari.

 Pengujian flexure test pada umur 28 hari.

Tabel 1.1 Distribusi Pengujian Benda Uji Silinder dan Balok Flexure

Variasi Uji Elastisitas Beton Umur 28 hari Kuat Tekan Beton Umur 28 hari

Kuat Tarik Belah Beton Umur 28 hari

Uji Flexure

(balok) Beton Normal

0% 4 4 4 2

Beton + besi

10% 4 4 4 2

Beton + besi

15% 4 4 4 2

Beton + besi

20% 4 4 4 2

Beton + besi

25% 4 4 4 2

(26)

Total jumlah benda uji silinder yang digunakan untuk pengujian kuat tekan

beton yaitu 20 unit silinder, elastisitas beton sebanyak 20 unit silinder, elastisitas dan

kuat tarik belah beton sebanyak 20 unit silinder serta pengujian flexture pada balok

(27)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum

Beton merupakan material utama yang banyak digunakan sebagai bahan

konstruksi diseluruh dunia. Bahan tersebut diperoleh dengan cara mencampurkan

semen Portland, air dan agregat (dapat juga menggunakan variasi bahan tambahan

mulai dari bahan kimia tambahan, serat sampai bahan buangan non kimia) dengan

perbandingan tertentu. Campuran tersebut bila dituang ke dalam cetakan dan

kemudian dibiarkan, maka akan mengeras seperti batuan. Pengerasan itu terjadi oleh

peristiwa reaksi kimia antara air dan semen yang berlangsung selama waktu yang

panjang, dan akibatnya campuran itu selalu bertambah keras setara dengan umurnya

dengan rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar, kerikil atau batu

pecah) diisi oleh butiran yang lebih kecil (agregat halus, pasir), dan pori-pori antara

agregat halus ini diisi oleh semen dan air (pasta semen).

Kekuatan, keawetan dan sifat beton serta lainnya bergantung pada sifat

bahan-bahan dasar, nilai perbandingan bahan-bahannya, cara pengadukan maupun

cara pengerjaan selama penuangan adukan beton, cara pemadatan, dan cara

perawatan selama proses pengerasan. Banyaknya pemakaian beton sebagai salah

bahan konstruksi disebabkan karena beton terbuat dari bahan-bahan yang umumnya

mudah diperoleh, serta mudah diolah sehingga menjadikan beton mempunyai sifat

yang dituntut sesuai dengan keadaan situasi pemakaian tertentu.

Jika kita ingin membuat beton berkualitas baik, dalam arti memenuhi

persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus

(28)

beton (beton segar/fresh concrete) yang baik dan beton (beton keras / hardened

concrete) yang dihasilkan juga baik. Beton yang baik ialah beton yang kuat, tahan

lama/awet, kedap air, tahan aus, dan sedikit mengalami perubahan volume (kembang

susutnya kecil).

Sebagai bahan konstruksi beton mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan beton antara lain :

1. Harganya relatif murah.

2. Mampu memikul beban yang berat.

3. Mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi.

4. Biaya pemeliharaan/perawatannya kecil.

Kekurangan beton antara lain :

1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak. Oleh karena

itu perlu diberi baja tulangan, atau tulangan kasa (meshes).

2. Beton sulit untuk dapat kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat

dimasuki air, dan air yang membawa kandungan garam dapat merusak beton.

3. Bentuk yang telah dibuat sulit diubah.

4. Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi.

2.1.1 Beton segar (Fresh Concrete)

Beton segar yang baik ialah beton segar yang dapat diaduk, diangkut,

dituang, dipadatkan, tidak ada kecendrungan untuk terjadi segregasi (pemisahan

kerikil dari adukan) maupun bleeding (pemisahan air dan semen dari adukan). Hal ini

(29)

Tiga hal penting yang perlu diketahui dari sifat-sifat beton segar, yaitu :

kemudahan pengerjaan (workabilitas), pemisahan kerikil (segregation), pemisahan

air (bleeding).

2.1.1.1 Kemudahan Pengerjaan (Workability)

Sifat ini merupakan ukuran dari tingkat kemudahan atau kesulitan adukan untuk

diaduk, diangkut, dituang, dan dipadatkan.

Unsur-unsur yang mempengaruhi workabilitas yaitu :

1. Jumlah air pencampur.

Semakin banyak air yang dipakai makin mudah beton segar itu dikerjakan

(namun jumlahnya tetap diperhatikan agar tidak terjadi segregasi)

2. Kandungan semen.

Penambahan semen ke dalam campuran juga memudahkan cara pengerjaan adukan

betonnya, karena pasti diikuti dengan penambahan air campuran untuk memperoleh

nilai f.a.s (faktor air semen) tetap.

3. Gradasi campuran pasir dan kerikil.

Bila campuran pasir dan kerikil mengikuti gradasi yang telah disarankan

oleh peraturan maka adukan beton akan mudah dikerjakan. Gradasi adalah

distribusi ukuran dari agregat berdasarkan hasil persentase berat yang lolos

pada setiap ukuran saringan dari analisa saringan.

4. Bentuk butiran agregat kasar

Agregat berbentuk bulat-bulat lebih mudah untuk dikerjakan.

5. Cara pemadatan dan alat pemadat.

(30)

kelecakan yang berbeda, sehingga diperlukan jumlah air yang lebih sedikit daripada

jika dipadatkan dengan tangan.

Konsistensi/kelecakan adukan beton dapat diperiksa dengan pengujian slump

yang didasarkan pada ASTM C 143-74. Percoban ini menggunakan corong baja yang

berbentuk konus berlubang pada kedua ujungnya, yang disebut kerucut Abrams.

Bagian bawah berdiameter 20 cm, bagian atas berdiameter 10 cm, dan tinggi 30 cm

[image:30.595.208.408.306.463.2]

(disebut sebagai kerucut Abrams), seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Kerucut Abrams

Ada tiga jenis slump yaitu slump sejati (slump sesungguhnya), slump geser

dan slump runtuh, seperti yang ditunjukkan Gambar 2.2. Slump sesungguhnya,

merupakan penurunan umum dan seragam tanpa adukan beton yang pecah,

pengambilan nilai slump ini dengan mengukur penurunan minimum dari puncak

kerucut. Slump geser, terjadi bila separuh puncak kerucut adukan beton tergeser dan

tergelincir kebawah pada bidang miring, pengambilan nilai slump geser ada dua cara

yaitu dengan mengukur penurunan minimum dan penurunan rata-rata dari puncak

(31)

akibat adukan beton yang terlalu cair, pengambilan nilai slump ini dengan mengukur

penurunan minimum dari puncak kerucut.

[image:31.595.110.511.165.320.2]

(a) (b) (c)

Gambar 2.2 Jenis-jenis slump adukan beton (a) slump sebenarnya, (b) slump

geser, (c) slump runtuh. (Kardiyono, 1992)

2.1.1.2 Pemisahan Kerikil (Segregation)

Kecenderungan agregat kasar untuk lepas dari campuran beton dinamakan

segregasi. Hal ini akan menyebabkan sarang kerikil, yang pada akhirnya akan

menyebabkan keropos pada beton. Segregasi ini disebabkan oleh beberapa hal,

antara lain :

1. Campuran kurus atau kurang semen.

2. Terlalu banyak air.

3. Besar ukuran agregat maksimum lebih dari 40 mm.

4. Permukaan butir agregat kasar, semakin kasar permukaan butir agregat

semakin mudah terjadi segregasi.

Untuk mengurangi kecenderungan segregasi maka diusahakan air yang diberikan

(32)

besar dan cara pengangkutan, penuangan maupun pemadatan harus mengikuti

cara-cara yang betul.

2.1.1.3 Pemisahan Air (Bleeding)

Kecenderungan air untuk naik kepermukaan beton yang baru

dipadatkan dinamakan bleeding. Air yang naik ini membawa semen dan butir-butir

pasir halus, yang pada saat beton mengeras akan membentuk selaput (laitence).

Bleeding dapat dikurangi dengan cara :

1. Memberi lebih banyak semen.

2. Menggunakan air sedikit mungkin.

3. Menggunakan pasir lebih banyak.

2.1.2 Beton Keras (Hardened Concrete)

Perilaku mekanik beton keras merupakan kemampuan beton di dalam

memikul beban pada struktur bangunan. Kinerja beton keras yang baik ditunjukkan

oleh kuat tekan beton yang tinggi, kuat tarik yang lebih baik, perilaku yang lebih

daktail, kekedapan air dan udara, ketahanan terhadap sulfat dn klorida, penyusutan

rendah dan keawetan jangka panjang.

2.1.2.1 Kuat Tekan Beton

Kekuatan tekan adalah kemampuan beton untuk menerima gaya tekan

persatuan luas. Kuat tekan beton mengidentifikasikan mutu dari sebuah struktur.

Semakin tinggi tingkat kekuatan struktur yang dikehendaki, semakin tinggi pula

(33)

MPa. Untuk struktur beton bertulang pada umumnya menggunakan beton dengan

kekuatan berkisar 17-30 MPa, sedangkan untuk beton prategang berkisar 30-45 MPa.

Untuk keadaan dan keperluan struktur khusus, beton ready mix sanggup mencapai

nilai kuat tekan 62 MPa dan untuk memproduksi beton kuat tinggi tersebut umumnya

dilaksanakan dengan pengawasan ketat dalam laboratorium (Dipohusodo, 1994).

Beberapa faktor seperti ukuran dan bentuk agregat, jumlah pemakaian semen,

jumlah pemakaian air, proporsi campuran beton, perawatan beton (curing), usia

beton ukuran dan bentuk sampel, dapat mempengaruhi kekuatan tekan beton.

Kekuatan tekan benda uji beton dihitung dengan rumus :

dengan : fc’ : kekuatan tekan (kg/cm2)

P : beban tekan (kg)

A : luas permukaan benda uji (cm2)

Standar deviasi dihitung berdasrakan rumus :

dengan: S : deviasi standar (kg/cm2)

σ’b : Kekuatan masing – masing benda uji (kg/cm2)

σ’bm : Kekuatan Beton rata –rata ( kg/cm2 )

(34)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan tekan beton yaitu :

1. Faktor air semen dan kepadatan

Semakin rendah nilai faktor air semen semakin tinggi kuat tekan betonnya,

namun kenyataannya pada suatu nilai faktor air semen tertentu semakin rendah nilai

faktor air semen kuat tekan betonnya semakin rendah pula, hal ini karena jika faktor

air semen terlalu rendah adukan beton sulit dipadatkan. Dengan demikian ada suatu

nilai faktor air semen tertentu (optimum) yang menghasilkan kuat tekan beton

maksimum. Duff dan Abrams (1919) meneliti hubungan antara faktor air semen

dengan kekuatan beton pada umur 28 hari dengan uji silinder yang dapat dilihat pada

Gambar 2.2.

Kepadatan adukan beton sangat mempengaruhi kuat tekan betonnya setelah

mengeras. Untuk mengatasi kesulitan pemadatan adukan beton dapat dilakukan

dengan cara pemadatan dengan alat getar (vibrator) atau dengan memberi bahan

kimia tambahan (chemical admixture) yang besifat mengencerkan adukan beton

sehingga lebih mudah dipadatkan.

Umur / Waktu (Hari)

(35)

2. Umur beton

Kekuatan tekan beton akan bertambah dengan naiknya umur beton. Biasanya

nilai kuat tekan ditentukan pada waktu beton mencapai umur 28 hari. Kekuatan

beton akan naik secara cepat (linear) sampai umur 28 hari, tetapi setelah itu

kenaikannya tidak terlalu signifikan (Gambar 2.4). Umumnya pada umur 7 hari kuat

tekan mencapai 65% dan pada umur 14 hari mencapai 88% - 90% dari kuat tekan

[image:35.595.101.519.328.577.2]

umur 28 hari.

Tabel 2.1 Perkiraan Kuat tekan beton pada berbagai umur

Umur beton (hari) 3 7 14 21 28 90 365

PC Type 1 0.44 0.65 0.88 0.95 1.0 - -

Gambar 2.4 Hubungan antara umur beton dan kuat tekan beton (Istimawan, 1999)

3. Jenis semen

Semen Portland yang dipakai untuk struktur harus mempunyai kualitas

tertentu yang telah ditetapkan agar dapat berfungsi secara efektif. Jenis Portland

(36)

mempunyai laju kenaikan kekuatan yang berbeda sebagai mana tampak pada

Gambar 2.5

Gambar 2.5 Perkembangan kekuatan tekan mortar untuk berbagai tipe Portland semen (Tri Mulyono, 2003)

4. Jumlah semen

Jika faktor air semen sama (slump berubah), beton dengan jumlah kandungan

semen tertentu mempunyai kuat tekan tertinggi sebagaimana tampak pada Gambar

2.5. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit berarti jumlah air juga sedikit sehingga

adukan beton sulit dipadatkan yang mengakibatkan kuat tekan beton rendah. Namun

jika jumlah semen berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton

mengandung banyak pori yang mengakibatkan kuat tekan beton rendah. Jika nilai

slump sama (fas berubah), beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai

(37)
[image:37.595.164.455.82.287.2]

Gambar 2.6 Pengaruh jumlah semen terhadap kuat tekan beton pada faktor air semen sama (Kardiyono, 1998)

5. Sifat agregat

Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatan beton ialah

kekasaran permukaan dan ukuran maksimumnya. Permukaan yang halus pada kerikil

dan kasar pada batu pecah berpengaruh pada lekatan dan besar \ tegangan saat retak

retak beton mulai terbentuk. Oleh karena itu kekasaran permukaan ini berpengaruh

terhadap bentuk kurva tegangan-regangan tekan dan terhadap kekuatan betonnya

yang terlihat pada Gambar 2.6. Akan tetapi bila adukan beton nilai slump nya sama

besar, pengaruh tersebut tidak tampak karena agregat yang permukaannya halus

memerlukan air lebih sedikit, berarti fas nya rendah yang menghasilkan kuat tekan

(38)

Gambar 2.7 Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Mindess, 1981)

Pada pemakaian ukuran butir agregat lebih besar memerlukan jumlah pasta

lebih sedikit, berarti pori-pori betonnya juga sedikit sehingga kuat tekannya lebih

tinggi. Tetapi daya lekat antara permukaan agregat dan pastanya kurang kuat

sehingga kuat tekan betonnya menjadi rendah. Oleh karena itu pada beton kuat tekan

tinggi dianjurkan memakai agregat dengan ukuran besar butir maksimum 20mm.

2.1.2.2 Modulus Elastisitas

Modulus elastisitas beton merupakan kemiringan garis singgung (slope dari

garis lurus yang ditarik) dari kondisi tegangan nol ke kondisi tegangan 0,45 f’c pada

kurva tegangan-regangan beton. Modulus elastisitas beton dipengaruhi oleh jenis

agregat, kelembaban benda uji beton, faktor air semen, umur beton dan

temperaturnya. Secara umum, peningkatan kuat tekan beton seiring dengan

(39)

hubungan antara nilai modulus elastisitas beton normal dengan kuat tekan beton

adalah

2.1.2.3 Kuat Tarik Beton

Konstruksi beton yang dipasang mendatar sering menerima beban tegak lurus

sumbu bahannya dan sering mengalami rekahan (splitting). Hal ini terjadi karena

daya dukung beton terhadap gaya lentur tergantung pada jarak dari garis berat beton,

makin jauh dari garis berat makin kecil daya dukungnya.

Kekuatan tarik relatif rendah untuk beton normal berkisar antara 9%-15%

dari kuat tekan. Penggujian kuat tarik beton dilakukan melalui pengujian split

cilinder. Nilai pendekatan yang diperoleh Dipohusodo (1994) dari hasil pengujian

berulang kali mencapai kekuatan 0,50-0,60 kali √fc’, sehingga untuk beton normal

digunakan nilai 0,57 √fc’. Pengujian tersebut menggunakan benda uji silinder beton

berdiameter 150 mm dan panjang 300 mm, diletakkan pada arah memanjang di atas

alat penguji kemudian beban tekan diberikan merata arah tegak dari atas pada

seluruh panjang silinder. Apabila kuat tarik terlampaui, benda uji terbelah menjadi

dua bagian dari ujung ke ujung. Tegangan tarik yang timbul sewaktu benda uji

terbelah disebut sebagai spilt cilinder strength. Menurut SNI 03-2491-2002 besarnya

tegangan tarik beton (tegangan rekah beton) dapat dihitung dengan rumus:

L

D

π

Ρ

2

Fct

di mana : Fct : Tegangan rekah beton (kg/cm)

P :Beban maksimum (kg)

L : Panjang silinder (cm)

(40)

2.1.2.4 Kuat Lentur

Kekuatan lentur merupakan kuat tarik beton tak langsung dalam keadaan

lentur akibat momen (flexure/modulus of rupture). Dari pengujian kuat lentur dapat

diketahui pola retak dan lendutan yang terjadi pada balok yang memikul beban

lentur. Kuat lentur beton juga dapat menunjukkan tingkat daktilitas beton. Kuat

lentur beton dihitung berdasarkan rumus σlt =

dimana M merupakan momen maksimum pada saat benda uji runtuh dan Z

merupakan modulus penampang arah melintang. Menurut pasal 11.5 SNI-03-2847

(2002) nilai kuat lentur beton bila dihubungkan dengan kuat tekannya adalah

fr = 0,7 f 'c Mpa.

2.2 Bahan Penyusun Beton

2.2.1 Semen

2.2.1.1 Umum

Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam

pembangunan fisik di sektor konstruksi sipil. Jika ditambah air, semen akan menjadi

pasta semen. Jika ditambah agregat halus, pasta semen akan menjadi mortar,

sedangkan jika digabungkan dengan agregat kasar akan menjadi campuran beton

segar yang setelah mengeras akan menjadi beton keras (hardened concrete).

Fungsi semen ialah untuk mengikat butir-butir agregat hingga membentuk

(41)

Semen merupakan hasil industri yang sangat kompleks, dengan campuran

serta susunan yang berbeda-beda. Semen dapat dibedakan menjadi dua kelompok,

yaitu : 1). Semen non-hidrolik dan 2). Semen hidrolik.

Semen non-hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air, akan

tetapi dapat mengeras di udara. Contoh utama dari semen non-hidrolik adalah kapur.

Semen hidrolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di dalam air.

Contoh semen hidrolik antara lain : kapur hidrolik, semen pozollan, semen terak,

semen alam, semen portland, semen portland pozolland dan semen alumina.

2.2.1.2 Semen Portland

Semen Portland adalah suatu bahan pengikat hidrolis (hydraulic binder) yang

dihasilkan dengan menghaluskan klinker yang terdiri dari silikat –silikat kalsium

yang bersifat hidraulis, yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium

sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.

2.2.1.3 Jenis – Jenis Semen Portland

Pemakaian semen yang disebabkan oleh kondisi tertentu yang dibutuhkan

pada pelaksanaan konstruksi di lokasi, dengan perkembangan semen yang pesat

maka dikenal berbagai jenis semen Portland antara lain:

a. Tipe I, semen portland yang dalam penggunaannya tidak memerlukan

persyaratan khusus seperti jenis-jenis lainnya. Digunakan untuk

bangunan-bangunan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus. Jenis ini paling

(42)

b. Tipe II, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan

terhadap sulfat dan panas hidras dengan tingkat sedang. Digunakan untuk

konstruksi bangunan dan beton yang terus-menerus berhubungan dengan air

kotor atau air tanah atau untuk pondasi yang tertahan di dalam tanah yang

mengandung air agresif (garam-garam sulfat).

c. Tipe III, semen portland yang memerlukan kekuatan awal yang tinggi.

Kekuatan 28 hari umumnya dapat dicapai dalam 1 minggu. Semen jenis ini

umum dipakai ketika acuan harus dibongkar secepat mungkin atau ketika

struktur harus dapat cepat dipakai.

d. Tipe IV, semen portland yang penggunaannya diperlukan panas hidrasi yang

rendah. Digunakan untuk pekerjaan-pekarjaan dimana kecepatan dan jumlah

panas yang timbul harus minimum. Misalnya pada bangunan seperti

bendungan gravitasi yang besar.

e. Tipe V, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan

yang tinggi terhadap sulfat. Digunakan untuk bangunan yang berhubungan

dengan air laut serta untuk bangunan yang berhubungan dengan air tanah

yang mengandung sulfat dalam persentase yang tinggi.

2.2.1.4 Bahan Dasar Semen Portland

Semen portland yang dijual di pasaran umumnya terbuat dari 4 bahan,

sebagai berikut:

1. Batu kapur (limestone) / kapur (chalk) : yang mengandung CaCO3

2. Pasir silika / tanah liat : yang mengandung SiO2 & Al2O3

(43)

4. Gypsum : yang mengandung CaSO4.H2O

2.2.1.5 Senyawa Utama Dalam Semen Portland

Tabel 2.2 Komposisi Senyawa Kimia Portland Semen

Oksida Persen

Kapur, CaO 60 - 65

Silika, SiO2 17 - 25

Alumina, Al2O3 3 - 8

Besi, Fe2O3 0.5 - 6

Magnesia MgO 0.5 - 4

Sulfur, SO3 1 - 2

Soda / Potash, Na2O + K2O 0.5 - 1

Walaupun demikian pada dasarnya ada 4 unsur paling penting yang menyusun

semen portland, yaitu :

a. Trikalsium Silikat (3CaO.SiO2) yang disingkat menjadi C3S.

b. Dikalsium Silikat (2CaO.SiO2) yang disingkat menjadi C2S.

c. Trikalsium Aluminat (3CaO.Al2O3) yang disingkat menjadi C3A.

d. Tetrakalsium Aluminoferrit (4CaO.Al2O3.Fe2O3) yang disingkat menjadi

C4AF.

Senyawa tersebut menjadi kristal-kristal yang paling mengikat/mengunci

ketika menjadi klinker. Komposisi C3S dan C2S adalah 70% - 80% dari berat semen

dan merupakan bagian yang paling dominan memberikan sifat semen

(Cokrodimuldjo, 1992). Semen dan air saling bereaksi, persenyawaan ini dinamakan

(44)

2.2.1.6 Sifat-Sifat Semen Portland

Sifat-sifat semen portland yang penting antara lain :

1. Kehalusan butiran (fineness)

Kehalusan butir semen mempengaruhi proses hidrasi. Waktu pengikatan

(setting time) menjadi semakin lama jika butir semen lebih kasar. Semakin

halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga kekuatan

awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang. Kehalusan butiran semen

yang tinggi dapat mengurangi terjadinya bleeding atau naiknya air

kepermukaan, tetapi menambah kecendrungan beton untuk menyusut lebih

banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. Menurut ASTM, butiran

semen yang lewat ayakan no.200 harus lebih dari 78%.

2. Waktu pengikatan

Waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras, terhitung

mulai dari bereaksi dengan air dan menjadi pasta semen hingga pasta semen

cukup kaku untuk menerima tekanan. Waktu ikat semen dibedakan menjadi

dua :

a. Waktu ikat awal (initial setting time), yaitu waktu dari pencampuran

semen dengan air menjadi pasta semen hingga hilangnya sifat

keplastisan.

b. Waktu ikat akhir (final setting time), yaitu waktu antara terbentuknya

pasta semen hingga beton mengeras.

Pada semen portland initial setting time berkisar 1.0-2.0 jam, tetapi tidak

boleh kurang dari 1.0 jam, sedangkan final setting time tidak boleh lebih dari

(45)

2.0 jam agar waktu terjadinya ikata awal lebih panjang. Waktu yang panjang

ini diperlukan untuk transportasi (hauling), penuangan (dumping/pouring),

pemadatan (vibrating), dan perataan permukaan.

3. Panas hidrasi

Panas hidrasi adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan air,

dinyatakan dalam kalori/gram. Jumlah panas yang dibentuk antara lain

bergantung pada jenis semen yang dipakai dan kehalusan butiran semen.

Dalam pelaksanaan, perkembangan panas ini dapat mengakibatkan masalah

yakni timbulnya retakan pada saat pendinginan. Pada beberapa struktur beton,

terutama pada struktur beton mutu tinggi, retakan ini tidak diinginkan. Oleh

karena itu, perlu dilakukan pendinginan melalui perawatan (curing) pada saat

pelaksanaan.

4. Perubahan volume (kekalan)

Kekalan pasta semen yang telah mengeras merupakan suatu ukuran yang

menyatakan kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan

kemampuan untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi.

Pengembangan volume dapat menyebabkan kerusakan dari suatu beton,

karena itu pengembangan beton dibatasi 0.8%. Pengembangan semen ini

disebabkan karena adanya CaO bebas, yang tidak sempat bereaksi

denganoksida-oksida lain. Selanjutnya CaO ini akan bereaksi dengan air

membentuk Ca(OH)2 dan pada saat kristalisasi volumenya akan membesar.

Akibat pembesaran volume tersebut, ruang antar partikel terdesak dan akan

(46)

2.2.2 Agregat

2.2.2.1 Umum

Agregat ialah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi

dalam campuran beton. Kandungan agregat dalam campuran beton biasanya sangat

tinggi, yaitu berkisar 60%-70% dari volume beton. Walaupun fungsinya hanya

sebagai pengisi, tetapi karena komposisinya yang cukup besar sehingga karakteristik

dan sifat agregat memiliki pengaruh langsung terhadap sifat-sifat beton.

Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam

atau agregat buatan (artificial aggregates). Secara umum agregat dapat dibedakan

berdasarkan ukurannya, yaitu agregat kasar dan agregat halus. Ukuran antara agregat

halus dengan agregat kasar yaitu 4.80 mm (British Standard) atau 4.75 mm (Standar

ASTM). Agregat kasar adalah batuan yang ukuran butirnya lebih besar dari 4.80 mm

(4.75 mm) dan agregat halus adalah batuan yang lebih kecil dari 4.80 mm (4.75 mm).

Agregat yang digunakan dalam campuran beton biasanya berukuran lebih kecil dari

40 mm.

2.2.2.2 Jenis Agregat

Agregat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agregat alam dan agregat

buatan (pecahan). Agregat alam dan pecahan inipun dapat dibedakan berdasarkan

bentuknya, tekstur permukaannya, dan ukuran butir nominal (gradasi). Berikut

penjelasan mengenai pembagian jenis-jenis agregat yang digunakan pada

(47)

2.2.2.2.1 Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk

Bentuk agregat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya dipengaruhi

oleh proses geologi batuan yang terbentuk secara alamiah. Setelah dilakukannya

penambangan, bentuk agregat dipengaruhi oleh mesin pemecah batu maupun cara

peledakan yang digunakan.

Jika dikonsolidasikan butiran yang bulat akan menghasilkan campuran beton

yang lebih baik bila dibandingkan dengan butiran yang pipih dan lebih ekonomis

penggunaan pasta semennya. Klasifikasi agregat berdasarkan bentuknya adalah:

1. Agregat bulat

Agregat ini terbentuk karena terjadinya pengikisan oleh air atau

keseluruhannya terbentuk karena pengeseran. Rongga udaranya minimum

33%, sehingga rasio luas permukaannya kecil. Beton yang dihasilkan dari

agregat ini kurang cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan,

sebab ikatan antar agregat kurang kuat.

2. Agregat bulat sebagian atau tidak teratur

Agregat ini secara alamiah berbentuk tidak teratur. Sebagian terbentuk karena

pergeseran sehingga permukaan atau sudut – sudutnya berbentuk bulat.

Rongga udara pada agregat ini lebih tinggi, sekitar 35%-38%, sehingga

membutuhkan lebih banyak pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang

dihasilkan dari agregat ini belum cukup baik untuk beton mutu tinggi, karena

ikatan antara agregat belum cukup baik (masih kurang kuat).

3. Agregat bersudut

Agregat ini mempunyai sudut – sudut yang tampak jelas, yang terbentuk di

(48)

Rongga udara pada agregat ini sekitar 38% - 40%, sehingga membutuhkan

lebih banyak lagi pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang dihasilkan

dari agregat ini cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan karena

ikatan antar agregatnya baik (kuat).

4. Agregat panjang

Agregat ini panjangnya jauh lebih besar dari pada lebarnya dan lebarnya jauh

lebih besar dari pada tebalnya. Agregat ini disebut panjang jika ukuran

terbesarnya lebih dari 9/5 dari ukuran rata – rata. Ukuran rata – rata ialah

ukuran ayakan yang meloloskan dan menahan butiran agregat. Sebagai

contoh, agregat dengan ukuran rata – rata 15 mm akan lolos ayakan 19 mm

dan tertahan oleh ayakan 10 mm. Agregat ini dinamakan panjang jika ukuran

terkecil butirannya lebih kecil dari 27 mm (9/5 x 15 mm). Agregat jenis ini

akan berpengaruh buruk pada mutu beton yang akan dibuat. Kekuatan tekan

beton yang dihasilkan agregat ini adalah buruk.

5. Agregat pipih

Agregat disebut pipih jika perbandingan tebal agregat terhadap ukuran –

ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama dengan agregat

panjang, tidak baik untuk campuran beton mutu tinggi. Dinamakan pipih jika

ukuran terkecilnya kurang dari 3/5 ukuran rata – ratanya.

6. Agregat pipih dan panjang

Pada agregat ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar daripada lebarnya,

(49)

2.2.2.2.2 Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan

Umumnya jenis agregat dengan permukaan kasar lebih disukai. Karena

permukaan yang kasar akan menghasilkan ikatan yang lebih baik jika dibandingkan

dengan permukaan agregat yang licin. Jenis agregat berdasarkan tekstur

permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Kasar

Agregat ini dapat terdiri dari batuan berbutir halus atau kasar yang

mengandung bahan – bahan berkristal yang tidak dapat terlihat dengan jelas

melalui pemeriksaan visual.

2. Berbutir (granular)

Pecahan agregat jenis ini memiliki bentuk bulat dan seragam.

3. Agregat licin/halus (glassy)

Agregat jenis ini lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan dengan agregat

dengan permukaan kasar. Agregat licin terbentuk akibat dari pengikisan oleh

air, atau akibat patahnya batuan (rocks) berbutir halus atau batuan yang

berlapis – lapis. Dari hasil penelitian, kekasaran agregat akan menambah

kekuatan gesekan antara pasta semen dengan permukaaan butir agregat

sehingga beton yang menggunakan agregat ini cenderung mutunya akan lebih

rendah.

4. Kristalin (cristalline)

Agregat jenis ini mengandung kristal – kristal tampak dengan jelas melalui

pemeriksaan visual.

(50)

Agregat ini tampak dengan jelas pori – porinya dan rongga – rongganya.

Melalui pemeriksaan visual kita dapat melihat lubang – lubang pada

batuannya.

2.2.2.2.3 Jenis Agregat Berdasarkan Ukuran Butir Nominal

Agregat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agregat alam dan agregat

buatan (pecahan). Agregat alam dan pecahan inipun dapat dibedakan berdasarkan

beratnya, asalnya, diameter butirnya (gradasi), dan tekstur permukaannya.

Dari ukuran butirannya, agregat dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu agregat kasar dan agregat halus.

1. Agregat Halus

Agregat halus (pasir) adalah mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi

dalam campuran beton yang memiliki ukuran butiran kurang dari 5 mm atau

lolos saringan no.4 dan tertahan pada saringan no.200. Agregat halus (pasir)

berasal dari hasil disintegrasi alami dari batuan alam atau pasir buatan yang

dihasilkan dari alat pemecah batu (stone crusher).

Agregat halus yang akan digunakan harus memenuhi spesifikasi yang telah

ditetapkan oleh ASTM. Jika seluruh spesifikasi yang ada telah terpenuhi maka

barulah dapat dikatakan agregat tersebut bermutu baik. Adapun spesifikasi tersebut

adalah :

a. Susunan Butiran ( Gradasi )

Agregat halus yang digunakan harus mempunyai gradasi yang baik, karena

akan mengisi ruang-ruang kosong yang tidak dapat diisi oleh material lain

(51)

penyusutan. Analisa saringan akan memperlihatkan jenis dari agregat halus

tersebut. Melalui analisa saringan maka akan diperoleh angka Fine Modulus.

Melalui Fine Modulus ini dapat digolongkan 3 jenis pasir yaitu :

 Pasir Kasar : 2.9 < FM < 3.2

 Pasir Sedang : 2.6 < FM < 2.9

 Pasir Halus : 2.2 < FM < 2.6

Selain itu ada juga batasan gradasi untuk agregat halus, sesuai dengan ASTM C 33 – 74 a. Batasan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.3 Batasan Gradasi untuk Agregat Halus

Ukuran Saringan ASTM Persentase berat yang lolos pada tiap saringan

9.5 mm (3/8 in) 100

4.76 mm (No. 4) 95 – 100

2.36 mm ( No.8) 80 – 100

1.19 mm (No.16) 50 – 85

0.595 mm ( No.30 ) 25 – 60

0.300 mm (No.50) 10 – 30

0.150 mm (No.100) 2 – 10

b. Kadar Lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 75 mikron (ayakan no.200),

tidak boleh melebihi 5 % ( ternadap berat kering ). Apabila kadar Lumpur

melampaui 5 % maka agragat harus dicuci.

c. Kadar Liat tidak boleh melebihi 1 % ( terhadap berat kering )

d. Agregat halus harus bebas dari pengotoran zat organic yang akan merugikan

beton, atau kadar organic jika diuji di laboratorium tidak menghasilkan warna

yang lebih tua dari standart percobaan Abrams – Harder dengan batas

(52)

e. Agregat halus yang digunakan untuk pembuatan beton dan akan mengalami

basah dan lembab terus menerus atau yang berhubungan dengan tanah basah,

tidak boleh mengandung bahan yang bersifat reaktif terhadap alkali dalam

semen, yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan pemuaian yang berlebihan

di dalam mortar atau beton dengan semen kadar alkalinya tidak lebih dari

0,60% atau dengan penambahan yang bahannya dapat mencegah pemuaian.

f. Sifat kekal ( keawetan ) diuji dengan larutan garam sulfat :

 Jika dipakai Natrium – Sulfat, bagian yang hancur maksimum 10 %.

 Jika dipakai Magnesium – Sulfat, bagiam yang hancur maksimum 15 %. 2. Agregat Kasar

Agregat harus mempunyai gradasi yang baik, artinya harus tediri dari butiran

yang beragam besarnya, sehingga dapat mengisi rongga-rongga akibat ukuran

yang besar, sehingga akan mengurangi penggunaan semen atau penggunaan

semen yang minimal.

Agregat kasar yang digunakan pada campuran beton harus memenuhi

persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

1. Susunan butiran (gradasi)

Agregat kasar harus mempunyai susunan butiran dalam batas-batas seperti

[image:52.595.149.479.628.751.2]

yang terlihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4 Susunan Besar Butiran Agregat Kasar (ASTM, 1991) Ukuran Lubang Ayakan

(mm)

Persentase Lolos Kumulatif (%)

38,10 95 – 100

19,10 35 – 70

9,52 10 – 30

(53)

1. Agregat kasar yang digunakan untuk pembuatan beton dan akan mengalami

basah dan lembab terus menerus atau yang akan berhubungan dengan tanah

basah, tidak boleh mengandung bahan yang reaktif terhadap alkali dalam semen,

yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan pemuaian yang berklebihan di dalam

mortar atau beton. Agregat yang reaktif terhadap alkali dapat dipakai untuk

pembuatan beton dengan semen yang kadar alkalinya tidak lebih dari 0,06% atau

dengan penambahan bahan yang dapat mencegah terjadinya pemuaian.

2. Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tidak berpori atau

tidak akan pecah atau hancur oleh pengaruk cuaca seperti terik matahari atau

hujan.

3. Kadar lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 75 mikron (ayakan no.200), tidak

boleh melebihi 1% (terhadap berat kering). Apabila kadar lumpur melebihi 1%

maka agregat harus dicuci.

4. Kekerasan butiran agregat diperiksa dengan bejana Rudellof dengan beban

penguji 20 ton dimana harus dipenuhi syarat berikut:

 Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 - 19,1 mm lebih dari 24% berat.

 Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19,1 - 30 mm lebih dari 22% berat.

5. Kekerasan butiran agregat kasar jika diperiksa dengan mesin Los Angeles

dimana tingkat kehilangan berat lebih kecil dari 50%.

2.2.3 Air

Air merupakan bahan dasar pembuat beton yang penting. Air diperlukan

(54)

agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Kandungan air yang rendah menyebabkan

beton sulit dikerjakan (tidak mudah mengalir), dan kandungan air yang tinggi

menyebabkan kekuatan beton akan rendah serta betonnya porous.

Air yang digunakan sebagai campuran harus bersih, tidak boleh mengandung

minyak, asam, alkali, zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak beton.

Dalam pemakaian air untuk beton sebaiknya air memenuhi syarat sebagai

berikut :

a. Tidak mengandung lumpur (benda melayang lainnya) lebih dari 2 gram/liter.

b. Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik,

dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter.

c. Tidak mengandungf klorida (Cl) lebih dari 0,5 gram/liter.

d. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter.

Untuk air perawatan, dapat dipakai juga air yang dipakai untuk pengadukan,

tetapi harus yang tidak menimbulkan noda atau endapan yang merusak warna

permukaan beton. Besi dan zat organis dalam air umumnya sebagai penyebab utama

pengotoran atau perubahan warna, terutama jika perawatan cukup lama.

Sumber air pada penelitian ini adalah jaringan PDAM Tirtanadi yang terdapat

di Laboratorium Bahan Rekayasa Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara.

2.2.4 Bahan Tambahan

2.2.4.1 Umum

Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam

(55)

ini adalah untuk mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk

pekerjaan tertentu, atau untuk menghemat biaya.

Admixture atau bahan tambah yang didefenisikan dalam Standard Definitions

of terminology Relating to Concrete and Concrete Aggregates (ASTM

C.125-1995:61) dan dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai

material selain air, agregat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau

mortar yang ditambahkan sebelum atau selama pengadukan berlangsung. Bahan

tambah digunakan untuk memodifikasi sifat dan karakteristik dari beton misalnya

untuk dapat dengan mudah dikerjakan, mempercepat pengerasan, menambah kuat

tekan, penghematan, atau untuk tujuan lain seperti penghematan energi.

Bahan tambah biasanya diberikan dalam jumlah yang relatif sedikit, dan

harus dengan pengawasan yang ketat agar tidak berlebihan yang justru akan dapat

memperburuk sifat beton.

Di Indonesia bahan tambah telah banyak dipergunakan. Manfaat dari

penggunaan bahan tambah ini perlu dibuktikan dengan menggunakan bahan agregat

dan jenis semen yang sama dengan bahan yang akan dipakai di lapangan. Dalam hal

ini bahan yang dipakai sebagai bahan tambah harus memenuhi ketentuan yang

diberikan oleh SNI. Untuk bahan tambah yang merupakan bahan tambah kimia harus

memenuhi syarat yang diberikan dalam ASTM C.494, “Standard Spesification for

Chemical Admixture for Concrete”.

Untuk memudahkan pengenalan dan pemilihan admixture, perlu diketahui

terlebih dahulu kategori dan penggolongannya, yaitu :

1. Air entraining Agent (ASTM C 260), yaitu bahan tambah yang

(56)

atau lebih kecil didalam beton atau mortar selama pencampuran, dengan

maksud mempermudah pengerjaan beton pada saat pengecoran dan

menambah ke

Gambar

Gambar 2.1 Kerucut Abrams
Gambar 2.2 Jenis-jenis slump adukan beton (a) slump sebenarnya, (b) slump
Tabel 2.1 Perkiraan Kuat tekan beton pada berbagai umur
Gambar 2.6 Pengaruh jumlah semen terhadap kuat tekan beton pada faktor air
+7

Referensi

Dokumen terkait

menyelesaikan dan menyusun laporan Tugas Akhir berupa eksperimen laboratorium yang berjudul “ KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN VARIASI BERAT AGREGAT DAN BINDER PADA

Pasir pantai Loto cukup baik digunakan sebagai bahan campuran agregat halus, karena menghasilkan kuat tekan sebesar 22,84 MPa cukup dekat dengan mutu beton

Penambahan pecahan bata ringan sebagai pengganti sebagian agregat halus dari variasi 0% sampai 20% memberi pengaruh terhadap kuat tekan beton. Hasil kuat tekan

Berdasarkan hasil penelitian pemakaian limbah beton sebagai pengganti agregat kasar dan halus terhadap kuat tekan beton, dapat di simpulkan bahwa pemakaian limbah

Jadi dengan substitusi pecahan tempurung kelapa ke dalam campuran beton sebesar 10% dari berat agregat kasar dapat meningkatkan nilai kuat tekan dan kuat tarik belah dari beton

Pasir pantai Loto cukup baik digunakan sebagai bahan campuran agregat halus, karena menghasilkan kuat tekan sebesar 22,84 MPa cukup dekat dengan mutu beton

8 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Dengan Prosentase 5% Karet Ban Pada Prosentase agregat halus 5% didapat hasil kuat tekan beton pada umur rencana 3 hari memiliki kuat tekan rata-rata

Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan serbuk kaca sebagai bahan penggati sebagian agregat halus terhadap kuat tekan beton berpengaruh terhadap mutu kuat tekan beton dengan variasi 2,5