• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengomposan lumpr pengolahan air dengan limbah pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengomposan lumpr pengolahan air dengan limbah pertanian"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PENGOMPOSAN LUMPUR PENGOLAHAN AIR DENGAN

LIMBAH PERTANIAN

NOVYANA KURNIASIH

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Pengomposan Lumpur Pengolahan Air dengan

Limbah Pertanian adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan

belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan

dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di

bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2012

Novyana Kurniasih

(3)

RINGKASAN

NOVYANA KURNIASIH. Pengomposan Lumpur Pengolahan Air dengan Limbah Pertanian. Dibimbing oleh ARIEF SABDO YUWONO dan SATYANTO KRIDO SAPTOMO.

Lumpur residu pengolahan air bersih mengandung padatan organik dan anorganik yang menyebabkan kekeruhan, termasuk alga, pasir, tanah liat dan endapan bahan kimia yang terbentuk selama proses pengolahan serta kemungkinan adanya pathogen seperti bakteri dan virus. Lumpur pengolahan air juga mungkin mengandung logam yang terkonsentrasi seperti aluminum dan besi. Kekhawatiran utama dari pembuangan langsung lumpur pengolahan air adalah potensi toksisitas dari besi dan aluminum yang berasal dari Alum (Al2 (SO4)3. 18 H2O) dan ferric chloride (FeCl3.6H2O) yang merupakan koagulan utama yang biasa digunakan pada proses koagulasi dan flokulasi-sedimentasi pada proses pengolahan air. Namun, selain daripada aluminum dan besi, lumpur pengolahan air juga mungkin mengandung logam berat seperti Pb, yang juga mengkhawatirkan jika terpapar ke badan air ataupun tanah.

Namun, pada sebagian besar Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Indonesia lumpur dalam bentuk cair yang merupakan residu dari proses pengolahan air masih banyak dibuang langsung ke badan air seperti sungai tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sedangkan lumpur kering langsung ditimbun di tanah. Sering kali permasalahan biaya yang tinggi serta kerumitan proses yang perlu dilakukan menjadi kendala dalam pengadaan unit pengolahan lumpur. Bergantung pada kualitas fisik dan kimia, lumpur residu ini memungkinkan untuk diolah dan dimanfaatkan kembali. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah melalui pengomposan. Dalam penelitian ini pengomposan lumpur pengolahan air bersih dilakukan sebagai usaha pemanfaatan lumpur dengan menggunakan bahan tambahan limbah pertanian yang berupa jerami dan kotoran kambing. Jerami juga memiliki peran dan kandungan nutrien yang dapat berfungsi sebagai bulking agent sedangkan kotoran kambing memiliki peran sebagai bio-activator karena mikroorganisme yang dikandungnya .

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menerapkan teknik pengomposan pada lumpur pengolahan air sebagai alternatif penanganan lumpur yang mudah dan meminimisasi dampak negatif bagi lingkungan, (2) menganalisis pengaruh proses pengomposan terhadap kualitas lumpur dalam bentuk material kompos yang dihasilkan, dan (3) menganalisis mutu kompos yang dihasilkan berdasarkan standar mutu kompos SNI 19-7030-2004. Parameter yang diujikan pada penelitian ini adalah C, N, C/N, P2O5, K2O, MgO, Fe, Mn, Zn, Al, dan Pb.

Pengomposan pada penelitian ini dilaksanakan dengan skala kecil menggunakan proses penumpukan antara lumpur dengan limbah pertanian. Sampel lumpur diambil dari 3 lokasi instalasi pengolahan air yaitu Instalasi Bogor, Instalasi Buaran, dan Instalasi Cibinong. Masing-masing lumpur dari ketiga sumber instalasi tersebut dikomposkan dengan bantuan limbah pertanian yaitu kotoran kambing dan jerami. Penelitian ini tidak mempertimbangkan fluktuasi perubahan kualitas air baku. Proses pengomposan menggunakan metode natural static pile composting dan dilakukan dengan rasio berat ketiga bahan baku 1:1:1. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kompos Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor yang terletak di Kampung Gardu Dalam, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor. Pengujian sampel kompos dilakukan di Balai Penelitian Tanah, Departemen Pertanian di Bogor.

(4)

melihat periode biodegradasi bahan organik oleh mikroorganisme. Pengukuran suhu kompos dilakukan setiap hari selama masa pengomposan. Kematangan kompos juga terlihat dari perubahan bentuk tumpukan material kompos yang menyerupai dan berbau tanah. Hal ini ditandai dengan berkurangnya tinggi tumpukan kompos yang juga menandai berkurangnya massa dan volume tumpukan.

Pada penelitian ini tumpukan mengalami tiga fase penting pengomposan yaitu fase termofilik (suhu >40 oC), fase pendinginan, dan fase pematangan. Namun, ketiganya mengalami fase termofilik dengan rentang waktu dan suhu tertinggi yang berbeda-beda. Suhu tertinggi yang dicapai oleh ketiganya berada pada kisaran 45 – 55 oC. Fase pendinginan terjadi setelah ketiga tumpukan kompos melewati suhu tertinggi dan menurun sampai dengan suhu yang hampir sama dengan suhu lingkungan. Pada fase ini, suhu ketiga kompos turun dari suhu tertinggi sampai dengan kisaran suhu 28-32oC. Fase pematangan atau juga disebut fase stabil yang diindikasikan dengan tidak terjadinya perubahan suhu, dimana suhu ketiga kompos akan tetap terus berada pada kisaran suhu 28-32oC.

Analisis unsur hara kompos yang dihasilkan menunjukkan bahwa unsur hara makro yang diujikan (C, N, P, K) mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hara yang dikandung pada lumpur saja. Peningkatan konsentrasi hara pada kompos tetap dibarengi dengan rasio C/N berada pada 10-20 yang sesuai dengan SNI 19-7030-2004. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengomposan lumpur dengan jerami dan kotoran kambing memperkaya unsur hara kompos yang dihasilkan.

Hal sebaliknya terjadi pada parameter logam yang juga merupakan unsur mikro pada kompos. Konsentrasi logam Fe, Al, dan Pb pada kompos sebagian besar mengalami penurunan yang cukup besar jika dibandingkan dengan konsentrasi awal pada lumpur. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengomposan dapat menurunkan kandungan logam pada lumpur residu pengolahan air termasuk logam berat seperti Pb. Penurunan konsentrasi logam ini kemungkinan disebabkan oleh terjadinya proses pelindian selama pengomposan berlangsung. Namun, parameter Mg, Mn, dan Zn pada sebagian besar sampel mengalami peningkatan konsentrasi dari kualitas lumpur awal. Hal ini mungkin terjadi akibat mobilitas dan akumulasi logam yang terdapat pada ketiga bahan baku yang digunakan. Selain itu, peningkatan nilai logam terjadi karena penurunan massa dalam pengomposan akibat dekomposisi organik, pelepasan karbon dioksida dan air serta proses mineralisasi. Namun peningkatan konsentrasi ini bukan merupakan hal yang negatif karena walaupun mengalami peningkatan, konsentrasinya hanya sedikit melebihi baku mutu yang ditetapkan.

(5)

ABSTRACT

NOVYANA KURNIASIH. Composting of Water Treatment Sludge with Agricultural Waste. Supervised by ARIEF SABDO YUWONO and SATYANTO KRIDO SAPTOMO.

Water treatment sludge (WTS) contains organic and inorganic solids including algae, pathogens such as bacteria and viruses, sand, clay, and sediment of chemicals that were formed during processing. The main concerns of direct disposal of WTS is the potential toxicity of iron and aluminum from alum and ferric chloride as the primary coagulant used, and also heavy metals content such as Pb, and Zn. Organic and inorganic materials, especially metals contained in sludge are generally labile / unstable which is a concern when exposed to the water bodies or soil. The purposes of this study were (1) to apply composting techniques to WTS as an alternative of sludge handling and to minimize negative impacts on the environment, (2) to analyze the influence of composting process on the quality of sludge in the form of compost material produced, (3) to analyze the quality of the produced compost based on national compost standard of SNI 19-7030-2004. The composting process used three different WTS from three different water treatment plants. Natural static pile composting method that carried out for 60 days was used in this study. Temperature changes of compost piles which were monitored daily showed that the compost pile undergoing a process of well degradation by microorganisms. This degradation process was stabilizing the concentration of macro and micro elements including heavy metals in the compost pile. Those were shown by the increase and stabilization of macro elements such as C, N, K, and P. The results also showed that composting process can be used to decrease the concentration of metal such as Fe, Al, and Pb. The composting process worked well and produced composts which comply with the compost quality standard. Based on the results obtained, the produced compost can be justified to contain nutrient which is applicable as soil conditioner.

(6)

PENGOMPOSAN LUMPUR PENGOLAHAN AIR DENGAN

LIMBAH PERTANIAN

NOVYANA KURNIASIH

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(7)
(8)

Judul tesis : Pengomposan Lumpur Pengolahan Air dengan Limbah Pertanian

Nama : Novyana Kurniasih

NIM : F451100051

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc Dr. Satyanto Krido Saptomo, STP, MSi

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Teknik Sipil dan Lingkungan

Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(9)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.

Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah.

pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(10)

PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan

rahmat-Nya, penelitian dengan judul “Pengomposan Lumpur Pengolahan Air dengan

Limbah Pertanian” ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini, diucapkan banyak terima kasih kepada :

1) Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc, Ph.D dan Dr. Satyanto K. Saptomo, S.TP, M.Si

selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikirannya

untuk mengarahkan penyusunan tesis ini;

2) PDAM Tirta Pakuan, PDAM Tirta Kahuripan, dan PT. Aetra yang telah

membantu memberikan sampel dan data yang diperlukan;

3) Orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan bantuan dukungan doa,

moral, dan material;

4) Dosen-dosen yang telah membantu dalam pemberian ilmu dari masa perkuliahan

sampai penyusunan tesis;

5) Teman-teman mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan yang telah memberikan

masukan dan saran untuk perbaikan penelitian ini.

6) Berbagai pihak yang telah memberikan banyak bantuan selama penelitian ini

berjalan.

Akhir kata, diharapkan hasil penelitian ini dapat diterima dan bermanfaat bagi

pengembangan ilmu dan dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bogor, Agustus 2012

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 6 November 1987 dari pasangan Sugeng

Sudaryanto dan Triwahyuni Yuliasih. Penulis merupakan putri pertama dari 3 bersaudara.

Tahun 2006 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bogor dan pada tahun yang sama

lulus seleksi masuk Universitas Indonesia pada Program Studi Teknik Lingkungan

melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) tahun 2006. Pendidikan sarjana

diselesaikan pada tahun 2010.

Pada tahun 2010 penulis masuk program S2 Teknik Sipil dan Lingkungan dengan

sponsor I-Mhere. Selama mengikuti program S2, penulis berkesempatan untuk mengikuti

“International Joint Winter Course on Practical Agriculture Education for Local

Sustainability” yang berlangsung pada tanggal 18 November – 4 Desember 2011 di

Ibaraki University, Jepang. Pada periode yang sama, penulis juga berkesempatan

berpartisipasi dan mempresentasikan hasil penelitian dengan judul “Composting of Water

Treatment Sludge with Agricultural Waste” pada konferensi mahasiswa internasional

“The 7th International Student Conference at Ibaraki University” yang juga diadakan di

(12)

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……… i

DAFTAR TABEL……… iii

DAFTAR GAMBAR……….. iv

BAB I PENDAHULUAN……….. 1

1.1Latar Belakang……….. 1

1.2Rumusan Masalah………. 3

1.3Tujuan Penelitian………... 3

1.4Batasan Penelitian………. 4

1.5Kerangka Pemikiran……….. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 5

2.1Lumpur Residu Pengolahan Air……….... 5

2.2Jerami……… 10

2.3Pupuk Kandang (Kotoran Kambing)……… 11

2.4Fase-Fase Pengomposan……… 12

2.5Kompos………. 15

BAB III METODE PENELITIAN……….. 20

3.1Lokasi dan Waktu Penelitian……… 20

3.2Alat dan Bahan………. 20

3.3Metode Analisis……...………. 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……… 26

4.1Karakteristik Lumpur…...…….……… 26

4.2Karakteristik Kompos………….……….. 28

4.3Perhitungan Perkiraan Kompos……… 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……… 46

5.1Kesimpulan……….. 46

5.2Saran……… 47

(13)

ii DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Karakteristik Lumpur………... 7

Tabel 2.2 Kandungan Hara Jerami ……….. 11

Tabel 2.3 Kandungan Hara Kotoran Kambing ………... 12

Tabel 4.1. Kualitas Awal Lumpur Sebelum Pengomposan…….………... 26

Tabel 4.2 Perubahan Massa Tumpukan Kompos ………... 30

Tabel 4.3 Perbandingan Kualitas Kompos dengan SNI 19-7030-2004………... 34

(14)

iii DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran………... 4

Gambar 2.1 Fase Pengomposan………. 13

Gambar 2.2 Tumpukan Kompos……….……….. 16

Gambar 2.3 Skema Tumpukan Kompos (Natural Static Pile Composting)……….. 17

Gambar 3.1 Prosedur Pengomposan……….. 20

Gambar 3.2 Ilustrasi Penumpukan Bahan Baku Kompos pada Bak Pengomposan……….. 21

Gambar 3.3 Bagan Alir Penelitian………. 22

Gambar 3.4 Tampak Atas Bak Pengomposan (satuan meter)………... 22

Gambar 3.5 Ilustrasi Bak Pengomposan satuan meter)...……….. 23

Gambar 3.6. Konstruksi Bak Kompos dan Ventilasi ……… 24

Gambar 3.7 Tumpukan Kompos……… 24

Gambar 4.1. Faktor Penentu Kualitas Lumpur Residu………. 27

Gambar 4.2. Kompos yang Sudah Matang ……….. 28

Gambar 4.3. Grafik Perubahan Suhu Kompos ………..…… 31

Gambar 4.4 Perubahan Konsentrasi N………. 35

Gambar 4.5 Perubahan Konsentrasi C……….. 35

Gambar 4.6 Perubahan Rasio C/N ……… 35

Gambar 4.7 Proses Pengomposan ………. 36

Gambar 4. 8 Perubahan Konsentrasi P……….. 38

Gambar 4. 9 Perubahan Konsentrasi K ………... 38

Gambar 4.10 Perubahan Konsentrasi Mg………. 40

Gambar 4.11 Perubahan Konsentrasi Fe...………... 40

Gambar 4.12 Perubahan Konsentrasi Al……… 41

Gambar 4.13 Perubahan Konsentrasi Mn……….. 41

Gambar 4.14 Perubahan Konsentrasi Zn………... 41

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Lumpur pengolahan air merupakan residu dari proses pengolahan air. Lumpur

residu pengolahan air terdiri dari partikel yang mengendap sebagai hasil dari proses

koagulasi dan flokulasi. Proses kimia yang juga merupakan bagian dari proses

pengolahan air menghasilkan lumpur sebagai residu dalam jumlah yang besar. Lumpur

instalasi mengandung padatan organik dan anorganik yang menyebabkan kekeruhan,

termasuk alga, bakteri, virus, pasir, tanah liat dan endapan bahan kimia yang terbentuk

selama proses pengolahan (Qasim et al., 2000). Lumpur pengolahan air juga mungkin

mengandung pathogen (bakteri, virus, dan protest), kontaminan organohalogen, dan

logam yang terkonsentrasi seperti aluminum dan besi (Soetaro-Santos et al, 2005). Jika

lumpur residu ini dibuang langsung ke badan air tanpa melalui pengolahan terlebih

dahulu, lumpur dapat memperburuk kualitas badan air dan membahayakan ekosistem air.

Kekhawatiran utama dari pembuangan langsung lumpur residu pengolahan air ke

badan air adalah potensi toksisitas dari besi dan aluminum. Alum (Al2 (SO4)3. 18 H2O)

dan ferric chloride (FeCl3.6H2O) merupakan koagulan utama yang biasa digunakan pada

proses koagulasi dan flokulasi-sedimentasi pada proses pengolahan air. Sumber

antropogenik paling utama salah satunya adalah berasal dari proses pengolahan air

minum (Soetaro-Santos et al, 2005). Secara umum, lumpur residu pengolahan air, baik

lumpur alum (aluminum-based coagulant) ataupun lumpur ferric chloride, tidak

menyebabkan toksisitas akut, tetapi paparan dalam jangka panjang pada FeCl3 dapat

menyebabkan kematian dan menurunnya reproduksi, sementara lumpur alum hanya

menyebabkan penurunan reproduksi. Hal ini disampaikan oleh Soetaro-Santos et al

(2005) pada penelitian pemaparan lumpur pengolahan air pada biota air Daphnis Similis.

Namun, selain daripada aluminum dan besi, lumpur pengolahan air juga memungkinkan

mengandung logam berat seperti Pb yang juga mengkhawatirkan jika terpapar ke badan

air ataupun tanah.

Namun, pada sebagian besar Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Indonesia masih

menemui kendala dalam penanganan lumpur atau residu yang merupakan hasil

sampingan dari proses penyisihan kontaminan pada proses sedimentasi dan filtrasi. Di

Indonesia, lumpur dalam bentuk cair yang merupakan residu dari proses pengolahan air

(16)

2

terlebih dahulu sedangkan lumpur kering langsung ditimbun di tanah. Lumpur residu ini

pun masih mengandung berbagai macam polutan yang termasuk juga logam berat. Sering

kali permasalahan biaya yang tinggi serta kerumitan proses yang perlu dilakukan menjadi

kendala dalam pengadaan unit pengolahan lumpur.

Lumpur residu pengolahan air dapat: a) dibuang langsung ke badan air penerima;

b) dibuang melalui saluran sanitasi; c) di landfill, dengan asumsi lumpur residu tidak

mengandung free-draining water, dan tidak memiliki karakteristik toksik seperti yang

didefinisikan oleh prosedur pemeriksaan karakteristik pelepasan toksisitas; dan d)

diaplikasikan pada lahan (Chwirka et al., 2001). Bergantung pada kualitas fisik dan kimia,

lumpur residu ini memungkinkan untuk diolah dan dimanfaatkan kembali. Jika dilihat

dari kemudahan dan kemurahan saja, membuang langsung ke badan air atau saluran

ataupun melakukan landfill merupakan pilihan yang paling mudah dan sedikit

mengeluarkan biaya. Namun jika dilihat pada dampak jangka panjangnya, keberadaan

masalah timbulan limbah lumpur tersebut memerlukan perhatian dan solusi pengolahan

lumpur dengan praktek yang tidak sekedar mudah dan murah tetapi juga tidak berdampak

negatif pada lingkungan.

Pada tahun 2000, telah diterbitkan sebuah petunjuk pemanfaatan lumpur residu

pengolahan air oleh Cornwell et al dengan judul Commercial Application and Marketing

of Water Plant Residuals. Literatur ini memberikan beberapa petunjuk mengenai hal-hal

yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan lumpur residu pengolahan air dan salah satu

usaha yang dapat dilakukan adalah pengomposan. Namun, informasi mengenai proses

pengomposan pada lumpur pengolahan air masih sangat sedikit. Pengomposan lumpur

pengolahan air bersih akan dilakukan sebagai usaha pemanfaatan lumpur dengan

menggunakan bahan tambahan limbah pertanian yang berupa jerami dan kotoran

kambing.

Jerami dipilih karena menurut data Deptan (2010), Indonesia menghasilkan lebih

dari 63 juta ton beras yang berarti lebih dari 63 juta ton jerami dihasilkan. Pada

prakteknya, jerami yang dihasilkan belum sepenuhnya dimanfaatkan, bahkan sebagian

besar jerami masih dibakar segera setelah panen. Sedangkan kotoran kambing padat

merupakan limbah yang cukup banyak dihasilkan. Menurut catatan Ditjennak (2009),

terdapat lebih dari 15 juta ekor populasi kambing. Jerami juga memiliki peran dan

kandungan nutrien yang dapat berfungsi sebagai bulking agent sedangkan kotoran

kambing memiliki peran sebagai bio-activator karena mikroorganisme yang

(17)

3 belakang dilakukannya penelitian ini adalah kelanjutan dari penelitian sebelumnya.

Penelitian sebelumnya oleh Ikhwan, 2000 membahas mengenai proses pengomposan

jerami padi dan kotoran kambing yang juga merupakan salah satu rangkaian penelitian

I-MHERE.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Setelah menjabarkan latar belakang dan melihat permasalahannya, maka dapat

disusun rumusan masalah sebagai berikut :

1. Lumpur residu pengolahan air memiliki kandungan polutan serta patogen yang dapat

menimbulkan pencemaran dan berdampak negatif bagi lingkungan jika tidak

ditangani dengan benar. Pembuangan langsung lumpur cair residu pengolahan air ke

badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu dapat mencemari badan air penerima dan

membahayakan ekosistem air, sedangkan pembuangan lumpur kering residu

pengolahan air ke tanah melalui proses landfill dapat dikatakan mudah, tetapi

membutuhkan lahan yang cukup luas dan akan menjadi semakin luas jika lumpur

terus bertambah tanpa adanya pemanfaatan lumpur secara berkala. Untuk itu,

diperlukan alternatif penanganan lumpur residu yang lebih tepat.

2. Proses pengomposan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pemanfaatan lumpur

residu pengolahan air. Melalui proses pengomposan, diharapkan lumpur dapat

dimanfaatkan dan memiliki nilai tambah.

3. Jerami padi dan kotoran kambing merupakan limbah yang potensial sebagai bahan

baku kompos karena mengandung nutrien dan mikroorganisme yang berguna untuk

proses pengomposan. Proses pengomposan dari ketiganya diharapkan dapat

menghasilkan kompos yang baik dan memenuhi standar.

1.3 TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menerapkan teknik pengomposan pada lumpur pengolahan air sebagai alternatif

penanganan lumpur yang mudah dan meminimisasi dampak negatif bagi

lingkungan.

2. Menganalisis pengaruh proses pengomposan terhadap kualitas lumpur dalam

bentuk material kompos yang dihasilkan.

3. Menganalisis mutu kompos yang dihasilkan berdasarkan standar mutu kompos

(18)

4

1.4 BATASAN PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian yang dibahas dalam penelitian ini meliputi:

• Pengujian skala kecil digunakan dalam proses pencampuran antara lumpur dengan limbah pertanian.

• Sampel lumpur diambil dari 3 lokasi instalasi.

• Limbah pertanian yang digunakan yaitu kotoran kambing dan jerami.

• Tidak mempertimbangan fluktuasi perubahan kualitas air baku

• Dilakukan dengan rasio berat ketiganya 1:1:1.

1.5 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dari penelitian ini secara skematis disajikan pada Gambar

1.1. Proses pengolahan air bersih, pertanian padi, dan ternak kambing masing-masing

menghasilkan limbah dalam jumlah banyak. Timbulan limbah ini belum ditangani dan

dimanfaatkan secara baik dan dalam skala besar, karena adanya permasalahan tenaga dan

biaya yang diperlukan. Masing-masing limbah memiliki potensi mencemari lingkungan

dan memerlukan penanganan yang tepat.

Proses pengomposan itu sendiri merupakan proses degradasi material organik oleh

mikroorganisme dan dapat mengurai material menjadi bahan humus sehingga

menghasilkan berat dan volume yang lebih rendah dari bahan dasarnya. Hasil

pengomposan pun menjadi stabil dengan proses dekomposisi lambat dan dapat menjadi

(19)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lumpur Residu Pengolahan Air

Tujuan instalasi pengolahan air minum (IPAM) adalah untuk memproduksi air yang

memenuhi standar kualitas air minum dengan harga yang terjangkau. Instalasi pengolahan

air menggunakan berbagai proses pengolahan air untuk menghasilkan air produksi dengan

kualitas yang diinginkan. Proses pengolahan ini secara umum di kelompokan menjadi

unit operasi (UO) dan unit proses (UP). Dalam unit operasi terjadi penghilangan

kontaminan melalui gaya fisik. Sedangkan di dalam unit proses, pengolahan terjadi

melalui reaksi kimia atau biologi. Sebagai contoh, penghilangan kekeruhan di dapat

dilakukan dengan kombinasi UO dan UP yaitu proses koagulasi (termasuk UP), flokulasi

(UO) dan sedimentasi (UO).

Kinerja dari IPAM juga dituntut untuk terus ditingkatkan dengan adanya standar air

minum baru yang tercantum dalam Permenkes No. 492 Tahun 2010 tentang persyaratan

kualitas air minum. Sebaliknya kondisi kualitas air baku seperti sungai, danau dan waduk

cenderung memburuk karena pencemaran. Hal ini menyebabkan IPAM semakin sulit

untuk memenuhi target kualitas air produksi yang ada dan memungkinkan IPAM

menghasilkan residu lumpur yang lebih banyak dan dengan kandungan pencemar tinggi.

Pada unit sedimentasi terjadi penyisihan padatan (solids) sebesar 80 – 95%

melalui proses pengendapan/sedimentasi (Qasim et al., 2000). Endapan yang terbentuk

akan terakumulasi dalam zona penampung lumpur di dasar unit sedimentasi. Lumpur

yang terbentuk ini secara berkala harus dibuang agar kapasitas zona penampung lumpur

tidak terlampaui dan menyebabkan penurunan kinerja instalasi. Selain pada unit

sedimentasi, lumpur/residu juga dihasilkan oleh unit filtrasi melalui proses pencucian

balik (filter backwash). Pencucian balik diperlukan untuk mengembalikan kembali kinerja

unit filtrasi dengan mendorong keluar padatan yang terakumulasi di lapisan filter

menggunakan air.

2.1.1 Sumber dan Karakteristik Lumpur

Lumpur pengolahan air didefinisikan sebagai akumulasi padatan atau endapan

yang dikeluarkan dari bak sedimentasi, bak pengendapan, atau clarifier pada instalasi

pengolahan air. Sumber utama residu pengolahan air adalah lumpur koagulasi alum atau

(20)

6

dihasilkan pada dasarnya merupakan fungsi dari proses pengolahan, penambahan bahan

kimia, dan kuantitas air baku. Pengertian akan kuantitas lumpur, kandungan padatan, dan

sifat padatan sangatlah penting untuk memilih dan mendesain perangkat proses yang tepat

(Qasim et al., 2000). Karakteristik residu dari berbagai sumber dibahas sebagai berikut :

2.1.1.1Lumpur Alum atau Lumpur Besi

Lumpur ini memiliki penampilan menyerupai gelatin yang dihasilkan dari proses

penjernihan/sedimentasi dan dari backwashing dari filter. Mereka mengandung

konsentrasi tinggi garam aluminium atau besi dengan campuran bahan organik dan

anorganik dan presipitat hidroksida. (Qasim et al., 2000).

Pengeringan lumpur koagulasi adalah tugas yang sulit dan di dulu lumpur

langsung dibuang ke sumber air, seperti sungai atau danau. Namun, saat ini lumpur diolah

untuk pembuangan akhir dan air backwash dan clarifier dikembalikan ke fasilitas

pengolahan untuk didaur ulang. (Qasim et al., 2000).

Aluminium dan garam besi merupakan bahan kimia utama yang digunakan untuk

menghilangkan partikel koloid. Banyak instalasi menggunakan kapur bersama dengan

alum atau besi untuk mencapai pelunakan parsial dan untuk meningkatkan koagulasi.

Polimer juga digunakan sebagai koagulan dan atau pembantu filter untuk meningkatkan

penghilangan partikel koloid pada proses koagulasi dan filtrasi. Activated carbon juga

sering digunakan untuk kontrol rasa dan bau. Pada setiap kasus, karakteristik lumpur akan

berbeda dan kondisi ini perlu diperhitungkan untuk estimasi kuantitas dan kualitas lumpur

(Qasim et al., 2000).

Lumpur koagulasi diproduksi melalui proses flokulasi dan pengendapan alami

dari kekeruhan. Aluminium dan garam besi bereaksi dengan alkalinitas dan membentuk

endapan aluminium dan ferric hidroksida. Lumpur mengandung hidroksida tersebut dan

kekeruhan yang menyebabkan senyawa organik dan anorganik. Walaupun nilai BOD dan

COD mungkin saja tinggi, lumpur ini tetap stabil, karena tidak terdapat material organik

yang mendorong dekomposisi aktif atau mendukung kondisi anaerob. Hasilnya, lumpur

dapat diakumulasi pada bak sedimentasi selama beberapa hari dan bulan, dan dibuang

secara berkala.

Kuantitas padatan yang dihasilkan pada koagulasi bergantung pada total padatan

tersuspensi yang terkandung pada air, tipe dan dosis koagulan, dan efisiensi bak

sedimentasi. Umumnya, 60-90 persen dari padatan total dihilangkan pada bak

(21)

7 pasti antara kekeruhan dan total padatan tersuspensi. Rasio total padatan tersuspensi

dengan kekeruhan normalnya bervariasi dari 0,5 sampai 2. Telah dilaporkan bahwa total

padatan pada fasilitas koagulasi alum dapat bervariasi antara 8 sampai 210 kg/100 m3 dari

air baku yang diolah.

Tabel 2.1 Karakteristik Lumpur

Karakteristik Lumpur Alum Lumpur Besi

Fisik

Kuantitas, kg/1000m3 8 - 210, tipikal 48 80

Densitas kering, kg/m3 1200 - 1520 1200 - 1800

Dewaterability 10% konsentrasi dalam 2 hari di sand beds

Metode pembuangan lumpur residu pengolahan air sangat tergantung pada jenis

residu yang dihasilkan (AwwaRF, 2007). Pembuangan akhir dari lumpur pengolahan air

mencakup beberapa teknik, diantaranya:

2.1.2.1Pengolahan Mekanis

Proses penanganan lumpur meliputi thickening, conditioning, dewatering, drying,

chemical recovery, dan pembuangan. Sangat penting sistem pengolangan padatan/lumpur

diteliti pada fase perencanaan proyek, karena modal serta biaya operasional dan

perawatan dari fasilitas lumpur sering merupakan bagian terbesar dari biaya keseluruhan

instalasi pengolahan air. Banyak faktor menjadi pertimbangan pada perencanaan dan

desain fasilitas penanganan lumpur. Diantara faktor-faktor tersebut adalah ukuran

instalasi, lahan yang tersedia, transport dan pembuangan lumpur, dan peulihan dan

(22)

8

2.1.2.2Landfilling

Landfills mungkin pada lahan publik seperti TPA kota yang dimiliki, atau di lahan

pribadi. Operator TPA umumnya membutuhkan 15 sampai 30 persen lumpur (padat).

Konsentrasi minimum sering ditentukan oleh peraturan daerah sanitary landfill. Untuk

endapan tawas, (yang paling umum di instalasi pengolahan air minum US) penimbunan

efektif membutuhkan konsentrasi padatan menjadi setidaknya 25%. Pada konsentrasi

rendah, aplikasi tanah (land application) yang lebih sesuai. (Pandit and Das, 1998)

Evaluasi skala pilot selama enam bulan dilakukan terhadap lumpur yang berasal

dari proses menggunakan koagulan alum dan Fe menunjukkan pelindian yang rendah dari

arsenik, tembaga, besi, mangan, dan zinc, namun tidak ada konsentrasi logam yang

terbawa lindi melebihi tingkat kontaminasi. (AwwaRF, 2007)

2.1.2.3Aplikasi tanah (Land Application)

Lumpur Alum, pada konsentrasi kurang dari 25%, adalah tanah yang paling baik

diterapkan. Endapan dapat diterapkan untuk lahan pertanian, untuk lahan marjinal untuk

reklamasi tanah, untuk lahan hutan atau ke situs khusus. Selain di situs khusus, biasanya

tidak lebih dari 20 ton lumpur kering per hektar adalah tanah yang diterapkan. (Pandit and

Das, 1998)

Namun, untuk mengaplikasikan lumpur langsung pada lahan, perlu diketahui

konsentrasi pencemar ataupun nutrien yang terkandung di dalamnya. Jumlah total residu

yang dihasilkan dapat merupakan fungsi dari dosis koagulan, dan berbagai penggunaan

bahan untuk mengurangi dosis koagulan (AwwaRF,2007). Untuk mengaplikasikan

lumpur residu pada lahan, perlu perhatian khusus pada proses pengolahan yang

digunakan. Hasil penelitian Cornwell bersama AwwaRF mengungkapkan bahwa

pemilihan, penggunaan, serta pemilihan penyedia dan waktu pengiriman koagulan perlu

diperhatikan dengan baik (AwwaRF,2007).

2.1.2.4Pengomposan Lumpur Residu Pengolahan Air

Pengomposan merupakan proses biologis alami yang mempercepat dekomposisi

limbah padat organik menjadi material seperti tanah. Kegiatan pengomposan digunakan

untuk mendaur ulang limbah padat, sampah halaman, kulit kayu, dan serbuk gergaji

(23)

9 mendaur ulang hampir sebanyak 60 persen limbah padat melalui pengomposan.

(Cornwell et al., 2000)

Kegiatan pengomposan telah banyak menggunakan biosolid selama

bertahun-tahun sebagai bahan tambahan pada tumpukan kompos. Selama dekomposisi organik

panas yang dihasilkan menghancurkan pathogen dan secara efektif mensanitasi biosolid

menjadi material yang aman untuk digunakan. Penggunaan biosolid pada pengomposan

mengasilkan material penyubur yang bernilai. (Cornwell et al., 2000)

Belakangan ini, proses pengomposan telah dilakukan dengan menggunakan

lumpur residu pengolahan air sebagai bahan pada tumpukan kompos bersama dengan

sampah halaman, limbah padat, kulit pohon, dan biosolid. Penambahan lumpur residu ini

telah menunjukkan manfaat yang menguntungkan pada proses pengomposan dengan

menyediakan kelembaban, sisa mineral, pengaturan pH, dan berguna juga sebagai bulking

agent. Pengomposan bersama menggunakan campuran lumpur residu dan biosolid telah

terbukti menguntungkan proses pengomposan dan produk akhir dengan menurunkan

konsentrasi logam berat yang berhubungan dengan berbagai penggunaan kembali untuk

aplikasi lahan. (Cornwell et al., 2000)

Material kompos yang telah dihasilkan dapat menjadi soil amendment untuk

pertanian atau aplikasi lahan komersial yang bernilai dan aman bagi lingkungan. Banyak

fasilitas pengomposan perkotaan yang mensuplai material kompos kepada pengguna

dengan biaya yang sedikit ataupun tanpa biaya, sementara operasi pengomposan komersil

menggunakan kompos yang telah jadi untuk memproduksi lapisan atas tanah dan

campuran tanah untuk pot yang telah dikemas dan dijual secara komersil. (Cornwell et

al., 2000)

Proses pengomposan untuk mendaur ulang material organik membutuhkan empat

bahan untuk menjaga mikroorganisme yang diperlukan untuk proses dekomposisi

material sampah menjadi material seperti tanah. Bahan utamanya adalah udara, air,

nutrisi/makanan, dan suhu. Jumlah yang tepat untuk setiap elemen bahan ini akan

menghasilkan hasil pengomposan yang sukses. (Cornwell et al., 2000)

Mikroorganisme kompos (bakteri, jamur, dll) membutuhkan kondisi lingkungan

yang spesifik untuk memperbanyk dan mendekomposisi bahan organik secara efektif.

Kelembaban, suhu, dan aerasi perlu dipertahankan pada level tertentu untuk

pengomposan yang efisien. Tingkat suhu yang optimal untu pengomposan adalah 32

sampai 60oC. Tumpukan kompos dengan suhu dibawah 32oC akan menghasilkan proses

(24)

10

mikroorganisme. Suhu tumpukan merupakan metode terbaik untuk memonitor status

kompos. Sedangkan aerasi tumpukan dibutuhkan sebagai sumber oksigen bagi

mikroorganisme. Membalik-balikan tumpukan kompos memberikan kesempatan material

untuk tetap teroksigenasi. (Cornwell et al., 2000)

Lumpur pengolahan air telah sukses digunakan sebagai bulking agent pada proses

pengomposan. Material kompos seperti dedaunan dan rumput membutuhkan bulking

agent untuk meningkatkan spasi pori untuk aerasi dan distribusi kelembaban. Untuk

kompos yang menerima material yang sangat kering, lumpur pengolahan air juga efektif

untuk menambah kelembaban pada tumpukan yang sangat penting pada proses

dekomposisi. (Cornwell et al., 2000)

Lumpur pengolahan air yang digunakan perlu dikeringkan sampai dengan

kandungan padatan minimal 15% untuk digunakan pada proses pengomposan. Tingkat

pengeringan tergantung pada material kompos lainnya yang digunakan dan perlu

disesuaikan berdasarkan kasus. Lumpur yang terlalu basah tidak direkomendasikan untuk

pengomposan karena masalah pengangkutan dan penyimpanan. (Cornwell et al., 2000)

2.2 Jerami

Jerami merupakan limbah organik yang banyak dihasilkan dari kegiatan budidaya

padi sawah. Di dalam jerami terdapat beberapa unsur hara yang berguna untuk tanaman

seperti nitrogen dan kalium sehingga dengan membakar jerami berarti sama saja dengan

membakar uang karena jerami yang dibakar tersebut sebenarnya dapat membantu

menggantikan pupuk KCl sebanyak 1 sak (50 kg). Dengan mengembalikan jerami padi ke

lahan sawah, petani dapat menghemat biaya pupuk karena tidak perlu lagi memberikan

pupuk KCl (Litbang Deptan, 2010). Kandungan unsur hara jerami terlampir pada Tabel

2.2.

Jerami telah banyak digunakan sebagai material kompos. Pengomposan jerami

sudah banyak dikenal di Indonesia dan prosesnya telah banyak diteliti di berbagai negara.

Tujuan dari pengomposan adalah menurunkan nilai rasio C/N sehingga meningkatkan

kualitas kompos. Salah satu syarat pengomposan adalah tersedianya nitrogen dalam

jumlah yang cukup. Tanaman padi yang memproduksi 5 ton/ha gabah kering panen

mengangkut hara dari tanah sekitar 150 kg N, 20 kg P, 150 kg K, dan 20 kg S. Pada saat

panen, jerami mengandung sekitar 1/3 jumlah hara N, P dan S dari total hara tanaman

padi, sedangkan kandungan K rata-rata 89%. Oleh karena itu jerami padi dapat dijadikan

(25)

11 Tabel 2.2 Kandungan Hara Jerami

Unsur Hara Satuan Konsentrasi

N- Organik % 0,957

kambing dan domba. Petani umumnya memelihara ternak tersebut sebagai usaha

sampingan. Feses kambing-domba mengandung bahan kering dan nitrogen beturut-turut

40-50% dan 1,2-2,1%. Kotoran kambing-domba dapat dimanfaatkan secara langsung

dengan mencampurkannya pada saat pengolahan tanah. Namun, untuk mendapatkan hasil

lebih baik. Disarankan agar kotoran dapat diolah terlebih dahulu. Kandungan hara

kotoran kambing terlampir pada Tabel 2.3.

Kotoran kambing domba mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat

hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi). Proses ini terjadi secara

bertahap dengan melepaskan bahan organik yang sederhana untuk pertumbuhan tanaman.

Feses kambing-domba mengandung sedikit air sehingga mudah diurai. Penggunaan

kotoran ternak dalam bentuk kompos sebagai pupuk organik akan memperbaiki struktur

(26)

12

Tabel 2.3 Kandungan Hara Kotoran Kambing

Unsur Hara Satuan Konsentrasi

N total % 0,55

Pengomposan mendekomposisi dan mentransformasi material organik menjadi

material seperti tanah yang disebut humus. Proses pengomposan menggunakan

mikroorganisme seperti bakteri dan fungi untuk memecah material organik. Agar proses

bekerja dengan baik, sangat penting bagi mikroorganisme secara terus menerus

mendapatkan asupan makanan (organik), air, dan oksigen. Begitu juga dengan mengelola

suhu material kompos sangat penting untuk membuat proses bekerja. (Rudnik, 2008)

Selama pengomposan, mikroorganisme memecah material organik dan

memproduksi karbon dioksida, air, panas, dan kompos (Rudnik, 2008):

Material organik + mikroorganisme + O2 H2O + CO2 + Kompos + Panas

Dibawah kondisi aerob, degradasi material organik merupakan proses exotermal

yang menghasilkan energi dalam bentuk panas, yang menghasilkan peningkatan suhu dan

fase suhu tinggi (thermic). Produk akhir dari proses pengomposan adalah karbon

dioksida, air, mineral, dan material organik yang telah stabil (kompos yang mengandung

asam humus yang tinggi). Transformasi material organik segar menjadi kompos memiliki

beberapa keuntungan : mengatasi phytotoxisitas material organik yang tidak stabil,

memperbaiki status higienitas material, dan memproduksi material organik yang stabil,

kaya nutrient dan C yang diketahui menguntungkan untuk tanah dan tanaman. (Insam et

(27)

13 Perubahan kondisi habitat (suhu, pH, aerasi, kelembaban, ketersediaan substrat)

menghasilkan tahapan pertumbuhan eksponensial dan fase seimbang untuk beragam

mikroorganisme. Kompos bersifat heterogen, maka dari itu, tidak semua zona tumpukan

kompos mencapai suhu yang serupa. (Insam et al., 2009)

Proses pengomposan terus menerus dapat dianggap sebagai urutan kultur terus

menerus, masing-masing dengan sifat fisik (contoh: suhu), kimia (contoh: substrat yang

tersedia), dan biologi (contoh: komposisi komunitas mikroba) dan pengaruhnya.

Perubahan-perubahan ini membuat proses ini sulit untuk dipelajari, yang hampir tidak

mungkin untuk mensimulasikannya di laboratorium karena suhu, aerasi, kelembaban, dan

lainnya, berhubungan langsung dengan rasio permukaan-volume (Insam et al., 2009).

Namun, secara umum, dapat diterima bahwa pengomposan pada dasarnya adalah proses

tiga fase.

Gambar 2.1 Fase Pengomposan Sumber : Turovskiy dan Mathai, 2006

1. Fase mesofilik (25-40oC)

Pada fase awal, senyawa yang kaya akan energi, melimpah, dan mudah

terdegradasi seperti gula dan protein terdegradasi oleh fungi dan bakteri yang umumnya

disebut sebagai dekomposer utama (Insam et al., 2009). Pada permulaan pengomposan,

bakteri mesofilik dan fungi mendegradasi senyawa yang mudah larut dan terdegradasi,

seperti monosakarida, pati, dan lipid. Bakteri memproduksi asam organik, dan pH

menurun sampai 5-5.5. Suhu mulai meningkat secara spontan sebagai panas dilepaskan

(28)

14

dan pH meningkat tajam hingga 8-9. Fase ini berlangsung selama beberapa jam sampai

beberapa hari. (Rudnik, 2008)

Dengan menyertakan pengaruh mekanikal seperti pembalikan, mesofauna seperti

cacing kompos, tungau, dan lipan dapat berkembang lebih subur. Dari sudut pandang

mikrobial, organisme-organisme ini dapat dianggap sebagai katalis, berkontribusi pada

pemecahan secara mekanik dan menawarkan habitat intestinal untuk mikroorganisme

yang special. (Insam et al., 2009)

2. Fase termofilik (40-65oC)

Suhu tinggi memberikan keuntungan kompetitif untuk mikroorganisme termofilik

yang mengalahkan mikrobiota mesofilik. Organisme mesofilik tidak aktif karena suhu

tinggi, dan bersama dengan substrat yang mudah terdegradasi, ikut terdegradasi oleh

mikroorganisme termofilik. Dekomposisi terus berlangsung dengan cepat, dan

berakselerasi mencapai suhu sekitar 62oC. Pada suhu dibawah 60oC, lebih dari 40%

padatan terdegradasi dalam minggu pertama, hampir semua oleh bakteria. (Insam et al.,

2009)

Hal ini berhubungan dengan koloni mikroorganisme tertentu yang meraih

dekomposisi tingkat tinggi. Kompos memasuki fase termofilik ketika suhu mencapai 40

o

C. Bakteria dan fungi termofilik mengambil alih, dan tingkat degradasi limbah

meningkat. Jika suhu melebihi 55-60 oC, aktivitas dan keragaman mikroba berkurang

secara drastis. Setelah mencapai panas puncak, pH menjadi stabil pada level netral. Fase

termofilik dapat bertahan selama beberapa hari sampai beberapa bulan. (Rudnik, 2008)

3. Fase Pendinginan (fase mesofilik kedua)dan Pematangan atau Curing

Ketika aktivitas organisme termofilik berhenti karena kehabisan substrat dan

sumber karbon yang mudah terdegradasi dikonsumsi, suhu mulai menurun. Setelah

mendingin, kompos menjadi stabil. Bakteria mesofilik dan fungi muncul kembali, dan

diikuti dengan fase pematangan. Namun, sebagian besar speciesnya berbeda dengan

species pada fase mesofilik awal (Rudnik, 2008). Pada fase awal organisme

berkemampuan mendegradasi gula, oligosaccharides dan protein, organisme mesofilik

kedua dikarakterisasi dengan peningkatan jumlah organisme yang mendegradasi pati atau

selulosa (Insam et al., 2009). Proses biologi sekarang menjadi lambat, tetapi kompos

(29)

15 material organik dan efisiensi proses, yang dapat ditentukan dari konsumsi oksigen.

(Rudnik, 2008).

Selama fase pematangan, kualitas subtrat sangat menurun, dan dalam

langkah-langkah yang berurutan beberapa komposisi komunitas mikroba sepenuhnya diubah.

Senyawa yang tidak terdegradasi lebih lanjut, seperti lignin humus kompleks, terbentuk

dan menjadi dominan (Insam et al., 2009). Pada fase curing akhir, kompos menjadi

matang melalui aktivitas mikroba lebih jauh menjadi produk yang stabil. (Turovskiy dan

Mathai, 2006).

Kompos segar merupakan produk menengah dari fase termofilik, sedangkan

kompos matang merupakan produk akhir dari fase stabilisasi. Karakteristik kompos pada

dasarnya bergantung pada bahan baku dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemajuan

proses. (Rudnik, 2008)

2.5 Kompos

Kompos merupakan material organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki

tanah atau sebagai medium untuk menumbuhkan tanaman. Kompos yang telah matang

merupakan material yang stabil dengan kandungan yang disebut humus yang berwarna

coklat tua atau hitam dan memiliki aroma seperti tanah. Kompos dibuat dari kombinasi

limbah organik (seperti sampah halaman, sisa makanan, kotoran hewan, dan lainnya)

dalam rasio yang tepat menjadi tumpukan, barisan, atau dalam kontainer; menambahakan

penyubur (seperti serpihan kayu) jika diperlukan untuk mempercepat pemecahan material

organik; dan memungkinkan material akhir untuk stabil sepenuhnya dan matang melalui

proses pemulihan. (US EPA)

Kompos alami, atau dekomposisi biologis, dimulai dari tanaman pertama di bumi

dan telah berlangsung sejak itu. Ketika vegetasi jatuh ke tanah, perlahan-lahan meluruh,

menyediakan mineral dan nutrisi yang dibutuhkan bagi tanaman, hewan, dan

mikroorganisme. Kompos yang telah matang, bagaimanapun, mencakup proses produksi

suhu tinggi untuk menghancurkan patogen dan bibit gulma yang tidak dihancurkan oleh

dekomposisi alami. Sampah halaman dapat dikombinasikan dengan limbah organik

lainnya, seperti sisa makanan, kotoran hewan, dan biosolids untuk menghasilkan berbagai

(30)

16

Gambar 2.2. Tumpukan kompos

Kompos dapat bermanfaat untuk (US EPA) :

• Menekan penyakit tanaman dan hama.

• Mengurangi atau menghilangkan kebutuhan untuk pupuk kimia.

• Mendorong hasil yang lebih tinggi dari tanaman pertanian.

• Memfasilitasi reboisasi, restorasi lahan basah, dan upaya revitalisasi habitat dengan memperbaiki tanah yang terkontaminasi, tanah yang dipadatkan, dan tanah marjinal.

• Efektif dari segi biaya dalam meremediasi tanah yang terkontaminasi oleh limbah berbahaya.

• Menghilangkan padatan, minyak, lemak, dan logam berat dari limpasan air hujan.

• Menangkap dan menghancurkan 99,6 persen kandungan kimia organik yang mudah menguap (VOC) di udara yang terkontaminasi dari industri .

• Memberikan penghematan biaya minimal 50 persen dibandingkan dengan teknologi remediasi tanah, air, dan udara konvensional, jika dapat diaplikasikan.

Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai kompos adalah (US EPA):

kotoran hewan, gulungan karton, kertas bersih, kain katun, serabut pengering , kulit telur,

abu pembakaran , buah-buahan dan sayuran, rumput kliping, rambut dan bulu, jerami,

tanaman hias, daun, kulit kacang, serbuk gergaji, koran, bungkus the, serbuk kayu, kain

(31)

17 2.5.1 Natural Static Pile Composting

Natural Static Pile Composting merupakan salah satu metode pembuatan kompos

yang mudah dan dan tidak membutuhkan usaha dan perhatian yang banyak. Metode

pengomposan ini adalah dengan menumpukan bahan dasar kompos secara bergantian

menjadi beberapa tumpukan hingga semua bahan habis. Ketika membangun sebuah

tumpukan kompos, proses yang terjadi bisa dingin atau panas, tergantung pada ukuran

tumpukan, serta ukuran dan campuran bahan kompos yang masuk ke tumpukan. Natural

Static pile composting termasuk pada proses pengomposan dingin.

Marterial dasar kompos yang telah dicacah ataupun tidak dicacah ditumpuk

berlapis-lapis di dalam wadah kompos. Memotong seluruh tanaman menjadi

potongan-potongan yang lebih kecil meningkatkan luas permukaan, mempercepat dekomposisi,

proses pengadukan atau pembalikan tumpukan lebih mudah, dan kompos yang dihasilkan

bertekstur lebih halus, namun hal ini tidak diperlukan untuk metode natural static pile

composting (Masley, 2010).

Lapisan seterusnya sampai bahan habis

Bahan 3 - Lapisan 3

Bahan 2 - Lapisan 3

Bahan 1 - Lapisan 3

Bahan 3 - Lapisan 2

Bahan 2 - Lapisan 2

Bahan 1 - Lapisan 2

Bahan 3 - Lapisan 1

Bahan 2 - Lapisan 1

Bahan 1 - Lapisan 1

Gambar 2.3. Skema Tumpukan Kompos (Natural Static pile composting)

Tumpukan bahan kompos disimpan dalam keadaan tertutup agar tidak menjadi

kering ataupun menjadi sangat basah karena hujan. Ketikan tumpukan sudah cukup besar

dan matang, tumpukan dibalik dan dibiarkan kembali untuk proses pengomposan pasif

(Masley, 2010). Meskipun metode ini jauh lebih sederhana daripada metode

(32)

18

menghasilkan panas pada yang lebih sedikit, dan karena hal itu, metode ini memiliki

beberapa kelemahan, diantaranya (Masley, 2010):

Bibit gulma dapat bertahan. Panas pada bagian tengah tumpukan mungkin cukup untuk membunuh bibit gulma di dalamnya, tetapi bibit gulma yang terdapat di

sekeliling atau pinggiran tumpukan dapat bertahan.

Penyakit Tanaman tidak hancur oleh panas dalam kompos. Untuk alasan yang sama, penyakit di tengah tumpukan dapat hilang karena panas, tetapi penyakit yang

terdapat di lapisan luar tetap bertahan.

Tumpukan kompos statis dapat menarik tikus, possum, dan rakun. Hal ini berlaku untuk proses pengomposan dengan bahan baku sampah dapur. Dalam

prosesnya, sampah dapur akan mengeluarkan bau fermentasi yang menarik tikus dan

hewan lainnya. Setelah tikus tahu ada sumber makanan yang tersedia, mereka akan

memperlakukan tumpukan kompos sebagai stasiun makanan dan kembali setiap

malam. Untuk alasan ini, beberapa wadah kompos dirancang untuk mencegah hewan

pengerat.

2.5.2 Manfaat Pengomposan

Penggunaan kompos dapat memberikan berbagai manfaat terhadap lingkungan.

Terdapat 4 manfaat penting kompos. Manfaat pertama adalah kompos memperkaya tanah.

Kompos memiliki kemampuan untuk membantu regenerasi tanah yang miskin. Proses

pengomposan mendorong produksi mikro-organisme yang menguntungkan (terutama

bakteri dan jamur) yang pada gilirannya memecah bahan organik untuk membuat humus.

Humus - bahan yang kaya akan nutrisi - meningkatkan kandungan gizi dalam tanah dan

membantu menjaga kelembaban tanah. Kompos juga telah menunjukkan dapat menekan

penyakit tanaman dan hama, mengurangi atau menghilangkan kebutuhan akan pupuk

kimia, dan meningkatkan hasil dari tanaman pertanian.

Manfaat kedua adalah kompos membantu memulihkan (remediasi) tanah yang

terkontaminasi. Proses pengomposan telah terbukti dapat menyerap bau dan menagani

semivolatile and volatile organic compounds (VOCs), termasuk bahan bakar pemanas,

polyaromatic hidrokarbon (PAH), dan bahan peledak. Kompos juga telah terbukti dapat

mengikat logam berat dan mencegah mereka dari migrasi ke sumber air atau diserap oleh

(33)

19 menghilangkan pengawet kayu, pestisida, serta chlorinated dan nonchlorinated

hydrocarbons di tanah yang terkontaminasi.

Manfaat ketiga yaitu kompos membantu mencegah pencemaran. Pengomposan

bahan organik yang telah dialihkan dari tempat pembuangan sampah akhirnya

menghindari produksi metana dan formulasi lindi di landfill. Kompos memiliki

kemampuan untuk mencegah polutan pada limpasan air hujan sampai atau masuk ke

sumber daya air permukaan. Kompos juga telah menunjukkan dapat mencegah erosi dan

pendangkalan pada tanggul yang sejajar dengan anak sungai, danau, dan sungai, dan

mencegah erosi dan kehilangan tanah berumput di pinggir jalan, lereng bukit, lapangan

bermain, dan lapangan golf.

Manfaat kompos yang keempat adalah kmpos memberikan manfaat secara

ekonomi. Menggunakan kompos dapat mengurangi kebutuhan air, pupuk, dan pestisida.

Ini berfungsi sebagai komoditas yang berharga dan merupakan alternatif yang murah

untuk penutup TPA standar dan perbaikan tanah buatan. Pengomposan juga

memperpanjang masa aktif TPA kota dengan mengalihkan bahan organik dari landfill dan

menyediakan alternatif yang lebih murah daripada metode remediasi (membersihkan)

(34)

20 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kompos Departemen Teknik Sipil dan

Lingkungan IPB Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Analisis

kualitas akan kompos dilakukan di Balai Penelitian Tanah, Kementrian Pertanian.

Penelitian berjalan sejak bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan Mei 2012.

3.2Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bak pengomposan yang

tebuat dari susunan hebel, termometer, timbangan pegas, sekop, cangkul, karung, plastik,

alat tulis, seperangkat alat uji kandungan hara kompos dan bahan baku. Bahan baku yang

digunakan adalah jerami, kotoran kambing, dan lumpur kering sisa pengolahan air dari

PDAM Bogor, PDAM Cibinong, dan PDAM Buaran. Bahan analisis kandungan hara

kompos dan bahan baku kompos juga digunakan pada penelitian ini.

3.3Metode Analisis

Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap kerja, yaitu pengomposan lumpur dan

jerami, analisis kualitas bahan baku dan kualitas kompos, serta analisis potensi kompos

yang dihasilkan sebagai pupuk organik. Bagan alir penelitian secara skematik disajikan

pada Gambar 3.2. Proses pengomposan yang dilakukan pada penelitian ini adalah

pengomposan aerob dengan sistem natural static pile composting dimana semua bahan

dasar kompos dibiarkan terdegradasi secara alami dalam sebuah struktur beraerasi

dibawah udara terbuka. Prosedur pengomposan secara skematik disajikan pada Gambar

3.1.

(35)

21

Prosedur pengomposan dilakukan sebagai berikut :

• Lumpur residu pengolahan air dikeringkan sampai kadar air ± 35%.

• Sebelum dicampur dengan bahan lain, dilakukan analisis laboratorium untuk parameter logam berat yang telah ditentukan.

• Jerami disiapkan tanpa dicacah lalu ditimbang sesuai berat yang diinginkan. Kotoran kambing disiapkan dan ditimbang dengan berat yang sama dengan jerami dan lumpur. • Lumpur yang telah dikeringkan, jerami, dan kotoran kambing ditumpuk dalam bak

pengomposan. Rasio campuran yang digunakan adalah 1:1:1. Proses penumpukan

dilakukan secara alami dengan cara menumpukan ketiga bahan baku secara bergantian

(jerami – lumpur – kotoran kambing) beberapa kali pengulangan sampai semua bahan

baku yang disiapkan habis. Tidak dilakukan pengadukan terhadap tumpukan bahan baku

kompos.

Lapisan seterusnya sampai bahan habis

Kotoran Kambing - Lapisan 3

Lumpur - Lapisan 3

Jerami - Lapisan 3

Kotoran Kambing - Lapisan 2

Lumpur - Lapisan 2

Jerami - Lapisan 2

Kotoran Kambing - Lapisan 1

Lumpur - Lapisan 1

Jerami - Lapisan 1

Gambar 3.2 Ilustrasi Penumpukan Bahan Baku Kompos pada Bak Pengomposan

• Suhu tumpukan bahan kompos diperiksa setiap hari pada waktu yang sama di enam titik berbeda dan diambil rata-rata suhu setiap harinya.

(36)

22 Gambar 3.3 Bagan Alir Penelitian

(37)

23

Gambar 3.4 merupakan tampak atas dari bak pengomposan. Bak pengomposan

merupakan bak yang terbuat dari hebel dengan ukuran 60 x 20 x 7,5 cm yang ditumpuk

secara berurutan tanpa direkatkan menggunakan bahan lain seperti semen. Hebel

ditumpuk berurutan tidak rapat ke samping untuk menciptakan rongga yang berfungsi

sebagai ventilasi udara. Ventilasi yang tercipta berukuran 0.018 m sampai dengan 0.027

m. Tidak ada pengukuran khusus pada pembuatan bak. Pembuatan bak disesuaikan

dengan luas lahan yang ada. Struktur bak pengomposan dapat dilihat pada Gambar 3.4

dan 3.5.

(38)

24 Gambar 3.6 Konstruksi Bak Kompos dan Ventilasi

Metode natural static pile composting merupakan salah satu metode yang sangat

mudah dan tidak memerlukan banyak peralatan maupun tenaga sejak mulai sampai proses

pengomposan selesai. Pada penelitian ini, pengomposan dilakukan dengan menumpukan

bahan dasar kompos secara bergantian menjadi beberapa tumpukan hingga semua bahan

habis. Marterial dasar kompos yaitu lumpur, kotoran kambing dan jerami yang tidak

dicacah ditumpuk berlapis-lapis di dalam bak kompos. Gambar 3.7 merupakan hasil

penumpukan ketiga bahan dasar kompos yang digunakan.

(39)

25

3.3.1 Analisis Kualitas Bahan Baku dan Mutu Kompos

Analisis kualitas dilakukan pada bahan baku kompos dan pada kompos yang

sudah matang. Bahan baku yang diuji hanya kualitas lumpur kering. Parameter yang

diukur pada penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua bagian. Parameter pertama

merupakan parameter logam berat yang terkandung pada lumpur kering sebelum dan

sesudah diberi perlakuan dengan proses pengomposan. Parameter kedua merupakan

parameter kandungan nutrien pada kompos yang disesuaikan dengan SNI: 19-7030-2004.

Parameter yang diujikan dalam penelitian ini adalah C organik, N total, C/N,

P2O5, K2O, MgO, Fe, Mn, Zn, Al, dan Parameter yang diukur dalam menentukan kualitas

kompos yang dihasilkan adalah hanya parameter yang penting untuk pertumbuhan

tanaman yang terdapat pada SNI: 19-7030-2004 tentang Spesifikasi Kompos Dari

Sampah Organik Domestik. Pengukuran semua parameter kompos dilakukan hanya pada

hari terakhir atau pada saat kompos telah melewati masa aktif dan masa pasif

pengomposan yaitu setelah 2 bulan. Namun, pengukuran suhu dilakukan setiap hari untuk

melihat perubahan suhu setiap harinya dan dibuat pada grafik.

3.3.2 Analisis Data

Analisis data dilakukan setelah pengumpulan dan pengolahan data. Data primer

dan sekunder akan dianalisis secara deskriptif dan komparatif. Metode deskriptif adalah

suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara

ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik (Nursalam, 2008)

Metode ini digunakan untuk menggambarkan analisis proses yang berlangsung

selama masa pengomposan dengan melihat data uji laboratorium serta hasil pengukuran

suhu setiap harinya. Metode ini juga digunakan untuk menganalisis terjadinya perjalanan

unsur hara ataupun logam berat yang terdapat pada bahan baku dan pengaruhnya terhadap

mutu kompos yang dihasilkan.

Metode komparatif adalah metode yang menggambarkan perbedaan dari hasil

penelitian dan membandingkan perbedaan tersebut. Metode komparatif digunakan untuk

membandingkan pengaruh yang ditimbulkan proses pengomposan terhadap parameter

yang diujikan dan kemungkinan pengaruh yang dapat timbul terhadap pertumbuhan

(40)

26

proses pengomposan yang dilakukan. Lumpur residu pengolahan air merupakan bahan

baku utama pada penelitian ini. Lumpur residu pengolahan air yang digunakan sebagai

sampel adalah lumpur kering yang berasal dari tiga instalasi pengolahan air di Bogor,

Cibinong, dan Bekasi. Salah satu hal yang penting dalam pengomposan ini adalah

kualitas lumpur kering yang digunakan untuk pengomposan. Kualitas ini akan

menentukan kualitas akhir kompos yang dihasilkan yang juga mendapatkan pengaruh dari

jerami dan kotoran kambing. Jerami dan kotoran kambing pada proses ini mempunyai

peran sebagai bulking agent dan bio activator yang kualitasnya pun akan mempengaruhi

hasil akhir pengomposan yang dilakukan. Kualitas lumpur sebelum masuk pada proses

pengomposan diperlihatkan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Kualitas Awal Lumpur sebelum Pengomposan

No. Parameter Satuan Lumpur Bogor Lumpur Cibinong Lumpur Buaran

1 N % 0,09 0,13 0,13

Kualitas lumpur residu pengolahan air bersih dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor seperti kualitas air baku, pH, suhu air, tambahan bahan kimia, musim, dan

pengolahan yang diterapkan. Pada penelitian ini, instalasi pengolahan air bersih yang

dijadikan sebagai sumber bahan baku menggunakan proses yang hampir sama dan

konvensional. Namun, terdapat beberapa perbedaan pada kualitas lumpur yang dihasilkan

(41)

27

waktu tinggal lumpur dalam bak penampung ataupun setelah melalui proses pengeringan.

Pada penelitian ini, kualitas air baku termasuk pH dan suhu air serta musim tidak

dijadikan sebagai parameter pembanding untuk kualitas lumpur.

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa ketiga lumpur memiliki kemiripan konsentrasi

hampir pada setiap parameter. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa lumpur

memiliki kandungan bahan organik seperti N, C, P, dan K yang cukup rendah. Lumpur

yang digunakan juga mengandung logam Al, Fe, Mn, Zn, dan Pb. Walaupun konsentrasi

logam yang terkandung pada lumpur tidak terlalu tinggi, konsentrasi logam perlu

distabilkan agar tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Konsentrasi Al yang

ditemukan pada kualitas lumpur residu pengolahan air dari ketiga sumber menunjukkan

nilai Al yang cukup tinggi. Hasil ini menguatkan dugaan sebelumnya bahwa lumpur

residu pengolahan air yang menggunakan alum sebagai koagulan akan mengandung

konsentrasi Al yang cukup tinggi. Namun, data kualitas lumpur juga menunjukkan bahwa

parameter Mn memiliki nilai yang cukup tinggi. Konsentrasi ini dimungkinkan dimiliki

oleh lumpur residu ini karena kualitas air baku dan juga bahan kimia yang digunakan

pada proses pengolahan air. Selain itu, tingginya konsentrasi parameter logam mungkin

berhubungan dengan kualitas koagulan yang digunakan pada proses pengolahan air dan

kemungkinan kontaminan yang terdapat didalamnya. Telah diketahui juga bahwa dewasa

ini, kontaminasi logam pada lumpur pengolahan air mungkin berasal dari koagulan yang

digunakan (Cornwell et al., 2000). Namun, pada penelitian ini, tidak dilakukan analisis

lebih jauh mengenai kualitas lumpur. Kualitas ini digunakan hanya sebagai perbandingan

dengan kompos yang dihasilkan dan menentukan kinerja serta pengaruh proses

pengomposan terhadap kualitas lumpur.

(42)

28 4.2 Karakteristik Kompos

Kompos dinyatakan telah matang ketika bentuk dan teksturnya telah menyerupai

tanah dan berbau seperti tanah serta berwarna kehitaman. Namun, karena metode

pengomposan yang digunakan pada penelitian ini adalah natural static pile composting,

maka tidak dilakukan pembalikan atau pengadukan secara berkala seperti proses

pengomposan pada umumnya. Hal tersebut menyebabkan tidak dapat terlihatnya bentuk

ataupun warna kompos yang dihasilkan sebelum dilakukan proses panen kompos matang.

Pada penelitian ini, penentuan kematangan kompos dilakukan dengan melihat perubahan

suhu kompos yang dipantau setiap harinya. Material kompos yang telah melewati proses

pengomposan diujikan kandungan hara dan logam yang terkandung di dalamnya untuk

mengetahui kualitas kompos dan menjustifikasi kelayakan kompos yang dihasilkan untuk

digunakan secara praktis.

Gambar 4.2 Kompos yang Sudah Matang

4.2.1 Karakteristik Fisik Kompos

Karakteristik fisik kompos matang dapat dilihat secara langsung pada akhir

pengomposan. Analisis kondisi fisik kompos matang terdiri dari massa, bau, warna, dan

tekstur kompos yang dihasilkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses

pengomposan yang berlangsung selama 60 hari menyebabkan terjadinya pengurangan

massa yang cukup banyak dari tumpukan awal material kompos. Perubahan massa

kompos dapat dilihat pada Tabel 4.2. Perubahan massa tumpukan kompos secara otomatis

menyebabkan terjadinya perubahan volume. Volume tumpukan kompos semakin

Gambar

Tabel 2.1 Karakteristik Lumpur………………………………………………………... 7
Tabel 2.1 Karakteristik Lumpur
Gambar 2.2. Tumpukan kompos
Gambar 3.4 Tampak Atas Bak Pengomposan (satuan meter)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tahap Pengembangan Pengolahan dengan Lumpur aktif Mikroorganisme tersuspensi dalam lumpur yang akan digunakan untuk mengolah limbah secara biologis dapat dikembangkan

Penelitian ini dilakukan dengan frekuensi penyiraman air limbah cucian beras sebagai aktivator pada proses pengomposan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi

Untuk itu dipilih air laut sebagai koagulan alternatif pada pengolahan limbah cair pabrik tahu, karena air laut mudah didapat dalam jumlah yang cukup besar dan

Sedangkan hasil studi kelayakan lingkungan akan memberi gambaran mengenai bagaimana mengendalikan dampak negatif dari suatu rencana pembangunan Instalasi Pengolahan

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu pembakaran optimum 1000ÚC, jumlah maksimum limbah lumpur pengolahan air yang dapat digunakan dalam pembuatan batu bata

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari profil suhu, kadar air , dan pH selama proses pengomposan lumpur sawit pada variasi tinggi tumpukan bahan baku kompos..

dengan sampah domestik organik karena lumpur dari IPAL yang mengandung kadar air dan rasio karbon per nitrogen (rasio C/N) yang cukup tinggi sehingga tidak optimal

Pengolahan air limbah dengan teknologi Rotating Biological Contactor merupakan alternatif unggul karena kelayakan, desain sederhana, pengoperasian mudah, kebutuhan lahan rendah, konsumsi energi rendah, biaya operasi dan pemeliharaan rendah serta efisiensi