• Tidak ada hasil yang ditemukan

Herpes Zoster Pada Wanita Hamil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Herpes Zoster Pada Wanita Hamil"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

L

La

ap

po

or

ra

an

n

K

Ka

as

su

us

s

HERPES ZOSTER PADA WANITA HAMIL

d

d

r

r

.

.

R

R

i

i

a

a

n

n

a

a

M

M

i

i

r

r

a

a

n

n

d

d

a

a

S

S

i

i

n

n

a

a

g

g

a

a

,

,

S

S

p

p

K

K

K

K

D

D

E

E

P

P

A

A

R

R

T

T

E

E

M

M

E

E

N

N

I

I

L

L

M

M

U

U

K

K

E

E

S

S

E

E

H

H

A

A

T

T

A

A

N

N

K

K

U

U

L

L

I

I

T

T

&

&

K

K

E

E

L

L

A

A

M

M

I

I

N

N

F

F

A

A

K

K

U

U

L

L

T

T

A

A

S

S

K

K

E

E

D

D

O

O

K

K

T

T

E

E

R

R

A

A

N

N

U

U

N

N

I

I

V

V

E

E

R

R

S

S

I

I

T

T

A

A

S

S

S

S

U

U

M

M

A

A

T

T

E

E

R

R

A

A

U

U

T

T

A

A

R

R

A

A

R

R

S

S

U

U

P

P

.

.

H

H

.

.

A

A

D

D

A

A

M

M

M

M

A

A

L

L

I

I

K

K

M

M

E

E

D

D

A

A

N

N

2

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

PENDAHULUAN ... 1

LAPORAN KASUS ... 3

DISKUSI ... 4

(3)

HERPES ZOSTER PADA WANITA HAMIL

PENDAHULUAN

Herpes zoster (HZ) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Varisela-Zoster,

umumnya mengenai kulit dan mukosa, terjadi sebagai akibat dari reaktivasi dari virus

Varisela Zoster. Herpes zoster dapat terjadi pada semua umur namun sering terjadi pada

populasi usia tua.1-4 Herpes zoster juga dijumpai pada wanita hamil namun jarang terjadi,

diperkirakan terjadi sekitar 1 dari 10.000 wanita hamil atau sekitar 0,1% .

Beberapa pendapat menyatakan bahwa herpes zoster pada wanita hamil jarang sekali

menyebabkan kecacatan pada bayi dalam kandungan. Menurut Enders dan kawan-kawan

(1994) melaporkan bahwa tidak ada kelainan yang terjadi pada bayi baru lahir dari 366 wanita

hamil dengan herpes zoster.

5

Patogenesis HZ belum sepenuhnya diketahui. Setelah terjadi varisela (yang biasanya

mendahului terjadinya infeksi HZ) maka virus varisela zoster (VVZ) akan pindah dari lesi

kulit dan mukosa ke ujung saraf sensoris yang berdekatan dan ditransportasikan secara

sentripetal ke ganglion saraf sensoris dan seterusnya dorman pada sel ganglia saraf dorsal atau

saraf kranial dalam keadaan tidak menular dan tidak atau sedikit bereplikasi/bermultiplikasi

sampai pada suatu saat akan terjadi reaktivasi virus sehingga menimbulkan gejala pada kulit.

Pada saat reaktivasi, virus bermultiplikasi sehingga terjadi reaksi radang dan merusak

ganglion sensoris. Virus kemudian menyebar ke sumsum tulang serta batang otak dan melalui

saraf sensoris sampai ke kulit dan menimbulkan gejala klinis.

5

HZ umumnya terjadi pada

dermatom dimana sebelumnya merupakan lokasi dengan ruam varisela yang terpadat.

Reaktivasi ini diduga dapat disebabkan oleh paparan ulang terhadap virus varisela zoster,

trauma, radioterapi, obat imunosupresan, kanker, leukemia atau terjadinya penyakit Hodgkin.

Dengan kata lain varisela merupakan infeksi primer, sedangkan HZ merupakan reaktivasi

VVZ laten.1,2,6

Herpes Zoster ini sering diawali dengan neuralgia pada dermatom yang akan terkena

merupakan gejala prodromal yang dapat terjadi 1-3 minggu sebelum lesi kulit muncul,

kemudian diikuti dengan terjadinya lesi kulit yang khas yaitu adanya vesikel yang

berkelompok di atas dasar kulit yang eritematosa. Pada keadaan ini virus biasanya akan

menimbulkan peradangan pada saraf sensoris yang terkena, sehingga timbul rasa nyeri

setempat, sering juga disertai dengan keluhan sistemik yaitu myalgia dan demam. Gejala

tersebut biasanya unilateral, terbatas pada garis tengah yang dipersarafi oleh saraf sensoris

(4)

dermal dan epidermal yang lebih dalam mengalami ekskoriasi. Nyeri tidak hilang bersama

dengan sembuhnya eritema dan vesikuler. Dermatom yang paling sering terkena adalah

torakal (55%), kranial (20%, dengan nervus trigeminal merupakan saraf tunggal yang paling

sering terlibat), lumbal (15%), dan sakral (5%).

Herpes zoster dapat di diagnosis banding dengan herpes simpleks zosteriform, herpes

simpleks, gigitan serangga, dermatitis kontak, erisipelas, folikulitis, selulitis, dan lain

sebagainya.

4,6,7

Umumnya diagnosis herpes zoster langsung dapat ditegakkan dengan anamnesis dan

gambaran klinis, meskipun demikian beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk

membantu menegakkan diagnosis seperti Tes Tzanck.

6,7

Apusan Tzanck akan memperlihatkan

sel datia berinti banyak. 6,7

Pengobatan herpes zoster pada wanita hamil dikatakan sama dengan pengobatan

herpes zoster untuk wanita yang tidak hamil. Adapun obat-obat anti viral tersebut berdasarkan

FDA (Food and Drug Administration) termasuk dalam katagori B. Kategori B adalah kategori

yang digunakan oleh US Food and Drug Administration (FDA) dimana obat tersebut belum

ada diteliti pada wanita hamil namun telah dilakukan percobaan pada hewan dimana tidak

menunjukan efek negatif pada janin. Penting untuk dicatat bahwa hewan tidak selalu

merespon obat dengan cara yang sama dengan manusia. Oleh karena keamanan terapi

antivirus selama kehamilan belum pasti maka wanita hamil dengan herpes zoster harus diobati

hanya pada kasus-kasus dimana manfaat dari terapi antivirus terhadap ibu lebih besar

dibandingkan potensi resikonya terhadap janin. Mayoritas wanita hamil dengan herpes zoster

memiliki resiko yang lebih rendah untuk terjadinya NPH oleh karena usia yang masih muda.

Penanganan rasa sakit pada daerah dermatom dapat diberikan dengan menggunakan analgesik

yang poten.

Pada laporan kasus ini dilaporkan sebuah kasus herpes zoster pada wanita hamil.

4,8,9

(5)

Seorang wanita berusia 25 tahun dengan kehamilan 30-32 minggu, datang berobat ke

Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP. H. Adam Malik Medan pada bulan

September 2011 dengan keluhan utama timbul gelembung-gelembung berisi cairan

berkelompok diatas kulit yang kemerahan, terasa nyeri pada daerah perut, punggung dan

pinggang kanan sejak 2 hari sebelum datang berobat ke RS. Awalnya gelembung-gelembung

kecil timbul di daerah perut kanan yang kemudian semakin bertambah banyak hingga ke

daerah punggung dan pinggang kanan. Sekitar 2 hari sebelumnya pasien mengeluh badan

terasa meriang, kepala sering pusing dan badan terasa pegal-pegal. Pasien menyatakan pernah

menderita cacar air, tetapi lupa pada usia berapa tahun.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, kesadaran kompos mentis,

status gizi baik, frekuensi nadi 89 x/menit, frekuensi pernafasan 22x/menit, suhu subfebris.

Berdasarkan pemeriksaan status dermatologis, pada regio hipokondrium dekstra, regio

infraskapularis dekstra dan region lumbalis dekstra terdapat vesikel-vesikel berkelompok

dengan dasar kulit yang eritematosa, segmental, unilateral.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, penderita didiagnosis banding dengan

herpes zoster, varisela dan herpes simpleks zosteriform dengan diagnosis kerja adalah herpes

zoster.

Pada pasien ini tidak dilakukan pemberian obat antivirus. Pengobatan yang diberikan

berupa analgetik antipiretik oral yaitu paracetamol 3x 500 mg dan analgetik topikal berupa

lidokain topikal yang dioleskan 1x sehari. Serta pemberian antibiotika berupa amoksisilin 3 x

500 mg. Pasien dianjurkan kontrol ulang 7 hari kemudian.

Pada saat pasien kontrol 1 minggu setelah pengobatan, keluhan gelembung-gelembung

berisi cairan sudah tidak ada lagi, meninggalkan luka-luka mengering/krusta. Nyeri pada

daerah lesi sedikit berkurang. Pada pemeriksaan status dermatologi pada regio hipokondrium

dekstra, regio infraskapularis dekstra hingga regio lumbalis dekstra didapati adanya krusta

berwarna merah-kecoklatan. Pengobatan oral dihentikan. Pemberian analgetik topikal dapat di

teruskan dan pengolesan dilakukan jika diperlukan. Kepada pasien sebelumnya telah

diberikan roboransia oleh dokter kandungannya. Pasien dianjurkan kontrol ulang 1 minggu

kemudian.

Namun pasien datang kembali 2 minggu setelah kontrol pertama. Berdasarkan

pemeriksaan status dermatologis, pada regio hipokondrium dekstra, regio infraskapularis

dekstra hingga regio lumbalis dekstra tidak ditemukan adanya krusta. Keluhan nyeri jarang

(6)

Prognosis quo ad vitam dubia ad bonam, quo ad functionam dubia ad bonam, dan quo

ad sanactionam dubia.

DISKUSI

Diagnosis HZ pada penderita ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran

klinis. Pada anamnesis dijumpai adanya gelembung-gelembung berisi cairan berkelompok

diatas kulit yang kemerahan, terasa nyeri pada daerah perut, punggung dan pinggang kanan

sejak 2 hari sebelum datang berobat ke RS. Awalnya gelembung-gelembung kecil timbul di

daerah perut kanan yang kemudian semakin bertambah banyak hingga ke daerah punggung

dan pinggang kanan. Sekitar 2 hari sebelumnya pasien mengeluh badan terasa meriang,

kepala sering pusing dan badan terasa pegal-pegal. Pasien menyatakan pernah menderita

cacar air, tetapi lupa pada usia berapa tahun. Menurut kepustakaan HZ merupakan suatu

infeksi akibat reaktivasi virus varisela zoster (VVZ) yang laten di ganglia dorsalis saraf

sensoris setelah didahului infeksi virus (varisela) sebelumnya. Pasien menyatakan pernah

terkena penyakit cacar air sehingga disimpulkan bahwa penyakit yang dideritanya sekarang

kemungkinan adalah akibat reaktivasi virus penyebab varisela tersebut. Sebelum erupsi kulit

timbul, terdapat gejala-gejala prodromal berupa demam, malaise, mialgia dan nyeri di daerah

kulit yang akan timbul erupsi.Walaupun sering terjadi pada popuilasi usia tua tetapi penyakit

ini dapat saja menyerang semua umur.

Pada pemeriksaan status dermatologis, di regio hipokondrium dekstra, regio

infraskapularis dekstra dan region lumbalis dekstra dijumpai vesikel-vesikel berkelompok

dengan dasar kulit yang eritematosa, segmental, unilateral. Berdasarkan kepustakaan

gambaran klinis HZ berupa erupsi papulovesikular segmental yang berkelompok di atas dasar

kulit yang eritematosa sepanjang satu atau lebih dermatom kulit yang kemudian dapat

menjadi pustul, lalu pecah/mengering menjadi krusta, disertai adanya rasa nyeri.

1-7

Kelainan ini

biasanya disertai hiperestesia, rasa sakit atau rasa terbakar.Biasanya lesi akan timbul unilateral

namun bisa juga bilateral menyeberang ke daerah kontralateral dari lesi.5

Pada penderita tidak dilakukan pemeriksaan penunjang, karena diagnosis sudah dapat

ditegakkan baik berdasarkan anamnesis maupun dari pemeriksaan dermatologis. Menurut

kepustakaan pemeriksaan penunjang seperti tes Tzanck, pemeriksaan histopatologis, kultur

virus, tes titer antibodi dan tes PCR diperlukan pada kasus-kasus yang meragukan dengan lesi

yang atipikal. Pemeriksaan darah rutin tidak membantu mendiagnosis.

Diagnosis banding varisela dapat disingkirkan karena pada varisela terdapat lesi

diseluruh tubuh dimana lesi berdistribusi secara sentrifugal berupa vesikel yang tersebar

(7)

satu (diskret) dengan bentuk lesi yang polimorfis dan sering mengenai selaput lendir terutama

mulut.

Herpes simpleks zosteriform merupakan bentuk infeksi VHS yang rekuren, dengan

gambaran klinis yang dapat menyerupai herpes zoster jika terjadi pada suatu distribusi

dermatomal. Oleh karena itu berdasarkan anamnesis akan didapatkan adanya riwayat lesi

herpes pada daerah oral atau perioral (umumnya akibat VHS tipe-1) ataupun pada daerah

genital (umumnya akibat VHS-tipe 2). Namun berdasarkan anamnesis, riwayat keluhan

seperti ini tidak dijumpai pada pasien.

5

Pengobatan HZ bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan, membatasi

derajat keparahan dan durasi nyeri akut maupun kronis, serta menurunkan komplikasi. Pada

pasien ini tidak dilakukan pemberian obat antivirus oleh karena berdasarkan kepustakaan

keamanan terapi antivirus selama kehamilan belum diketahui dengan pasti. Pengobatan yang

diberikan berupa pemberian analgetik antipiretik oral yaitu paracetamol 3 x 500 mg dan

analgetik topikal berupa lidokain topikal yang dioleskan 1x sehari yang berdasarkan

kepustakaan bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri dan katagori yang aman dipakai untuk

wanita hamil yang menderita herpes zoster . Serta pemberian antibiotika berupa amoksisilin

3x 500 mg yang berdasarkan kepustakaan bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi

sekunder.

5,10

4

Pasien datang:

(8)

Kontrol II (2 minggu setelah pengobatan) :

(9)

1. Eastern JS, et al. Herpes Zoster,2011.

2.

In : http://emedicine.medscape.com.

Stankus SJ, Dlugopolski M, Packer D. Management of Herpes Zoster (singles) and

Post Herpetic Neuralgia. American Family Physician

3. Sampathkumar P, Drage LA, Martin DP. Herpes Zoster (Shingles) and Postherpetic

Neuralgia. Mayo Clinic Proceedings.2009(84)(3)p.274-80

4. Daili SF, Makes WIB. Infeksi Virus Herpes. Balai Penerbit

FKUI.Jakarta;2002.h.190-221.

5. Bernstein PS, Earden PV. Varicella Zoster Infections in Pregnancy.2003. Di unduh

da

6. Straus SE, Schmader KE, Oxman MN. Varicella and herpes zoster. Dalam Freedberg

IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, eds. Fitzpatrick's

Dermatology in general medicine, edisi ke-7. New York: McGraw-Hill, 2008:1885-98.

7. James WD, Berger TG, Elston DM. Viral Diseases. Andrews’s Diseases of The Skin:

Clinical Dermatology. Edisi ke-10. Philadelphia: WB Saunders; 2006. h. 376-420.

8. Dworkin RH et al. Recommendations for The Management of Herpes Zoster. Clin

Infect Dis .2007;p1.26. Diunduh dari:

9. Schoenstadt A. Herpes Zoster During Pregnancy.2007. Di unduh

da

10.Koh MJA, Seah PP, Teo RYL. Zosteriform herpes simplex. Singapore Med J

2008;49(2):e59-60.

Referensi

Dokumen terkait

Lesi kulit yang khas dari herpes zoster yaitu lokalisasinya biasanya. unilateral dan jarang melewatii garis

Dilaporkan kasus seorang laki-laki 45 tahun, diagnosis herpes zoster kruris dextra, gambaran klinis berupa vesikel bergerombol multipel, berbentuk bulat, dengan ukuran 0,3-0,5

Salah satunya adalah budaya Masyarakat suku Dayak Ngaju (Kalimantan Tengah) telah menemukan metode pengobatan untuk penyakit Herpes zoster dengan meracik salap berbahan

Salah satunya adalah budaya Masyarakat suku Dayak Ngaju (Kalimantan Tengah) telah menemukan metode pengobatan untuk penyakit Herpes zoster dengan meracik salap berbahan

Menurut Mansjoer A (2007) Herpes zoster (dampa,cacar ular) adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa. Infeksi

Walaupun herpes zoster merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang dewasa, namun herpes zoster dapat juga terjadi pada bayi yang baru lahir apabila ibunya menderita herpes

Komplikasi yang dilaporkan dari Herpes zoster oftalmika termasuk vesikel pada kelopak mata dan jaringan parut, beberapa bentuk konjungtivitis, keratitis, episkleritis, skleritis,

Individu usia lanjut yang imunokompeten memiliki risiko menderita herpes zoster yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan individu usia muda.15 Pasien memiliki keluhan benjolan pada