• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan Gnetum gnemon dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang Berbeda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan Gnetum gnemon dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang Berbeda"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

INTERAKSI PERTUMBUHAN ANTARA

Shorea selanica

DAN

Gnetum gnemon

DALAM MEDIA TANAM DENGAN

KONSENTRASI COCOPEAT YANG BERBEDA

TEGUH ARTHA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan Gnetum gnemon dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang Berbeda adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, 16 Januari 2014

Teguh Artha

(4)

ABSTRAK

TEGUH ARTHA. Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan Gnetum gnemon

dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang Berbeda. Dibimbing oleh ARUM SEKAR WULANDARI

Melinjo (Gnetum gnemon) dapat digolongkan sebagai jenis toleran maupun intoleran, salah satu jenis kayu yang dapat dikombinasikan dengan melinjo yaitu kayu bapa/meranti bapa (Shorea selanica). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan S. selanica dan melinjo yang ditanam secara terpisah maupun yang ditanam bersama dalam satu polibag serta mendapatkan informasi mengenai konsentrasi media cocopeat yang terbaik dalam media tanam yang dapat membantu pertumbuhan S. selanica dan melinjo. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap 2 faktor. Faktor pertama ialah pola tanam dengan 2 taraf yaitu pola tanam 1 (S.selanica atau melinjo) dan pola tanam 2 (S.selanica dan melinjo). Faktor kedua ialah konsentrasi cocopeat dalam media tanam, dengan 4 taraf yaitu 0%, 10%, 20%, 30%. Pertumbuhan akar S. selanica

dan melinjo lebih baik yang ditanam pada pola tanam 1 dibandingkan dengan yang ditanam pola tanam 2. Pertumbuhan tajuk S. selanica dan melinjo yang ditanam pada pola tanam 1 maupun pola tanam 2 menunjukkan tidak ada perbedaan nyata, sehingga S.

selanica dan melinjo dapat ditanam bersama dalam pola tanam agroforestri. Konsentrasi

cocopeat 10% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk S. selanica, konsentrasi cocopeat 20% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk melinjo dan konsentrasi cocopeat 30% dapat meningkatkan perkembangan akar melinjo. Konsentrasi cocopeat menunjukkan hasil yag bervariasi terhadap perkembangan akar S. selanica.

Kata kunci : cocopeat, interaksi, melinjo, S. selanica

ABSTRACT

TEGUH ARTHA. Growth Interaction between Shorea selanica and Gnetum gnemon in the Media with Different Cocopeat Consentration. Supervised by ARUM SEKAR WULANDARI

Melinjo (Gnetum gnemon) can be categorized in a tolerant and intolerant condition, a species that can be combined with melinjo is meranti bapa (Shorea selanica). The objectives research are to compare the growth of S. selanica and melinjo which were planted separately and they were combined in a polybag, also to get information the best cocopeat media concentration that can improve the growth of S. selanica and melinjo. This research using complete random design with two factors. The first factor is the pattern of planting by 2 levels, i.e pattern of planting 1 (S. selanica or melinjo) and pattern of planting 2 ((S. selanica and melinjo). The second factor is cocopeat concentration in media with four levels. Those are 0%, 10%, 20%, and 30%. The result showed that the root growth of S. selanica and melinjo were better planted by first pattern of planting than second pattern of planting. Crown growth of S. selanica and melinjo that were planted in first and second pattern of planting, showed there were no significant difference, so S. selanica and melinjo can be combined in agroforestry planting pattern. Cocopeat concentration 10% could increase shoot growth of S.selanica, cocopeat concentration 20% could increase shoot growth of melinjo and cocopeat consentration 30% could increase root growth of melinjo. Cocopeat concentration showed the variation result towards root growth of S.selanica.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Silvikultur

TEGUH ARTHA

DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

INTERAKSI PERTUMBUHAN ANTARA

Shorea selanica

DAN

Gnetum gnemon

DALAM MEDIA TANAM DENGAN

(6)
(7)

Judul Penelitian : Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan

Gnetum gnemon dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang Berbeda

Nama Mahasiswa : Teguh Artha

NIM : E44090061

Disetujui oleh

Dr Ir Arum Sekar Wulandari, MS Pembimbing

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Nurheni Wijayanto, MS Ketua Departemen

(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberikan segala nikmat sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2013, dengan judul Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan Gnetum gnemon dalam Media Tanam dengan Konsentrasi Cocopeat yang berbeda.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr Ir Arum Sekar Wulandari, MS selaku dosen pembimbing atas arahan dan bimbingannya. Selain itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada keluarga atas segala doa, bantuan, dan kasih sayangnya. Terima kasih juga kepada Ade Ayu Dewayani, Lody Junio, Rian Pamujianto, Hanum Wulan F, Dina Kusuma Dewi, dan teman-teman Sivikultur 46 atas kebersamaan dan bantuan kepada penulis selama melakukan penelitian maupun dalam penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2014

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan 2

METODOLOGI 2

Waktu dan Lokasi Penelitian 2

Bahan dan Alat 2

Tahapan Penelitian 2

Analisis Data 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

Hasil 5

Pembahasan 8

SIMPULAN DAN SARAN 11

Simpulan 11

Saran 11

DAFTAR PUSTAKA 12

(11)

DAFTAR TABEL

1 Pengaruh pola tanam terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter

S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 6 2 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap pertumbuhan tinggi dan

diameter S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 6 3 Pengaruh pola tanam terhadap berat basah dan berat kering pucuk akar

tanaman S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 6 4 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap berat basah dan berat kering

pucuk akar tanaman S. selanica dan melinjo selama 5 bulan

pengamatan 7

5 Pengaruh pola tanam terhadap perkembangan akar primer dan sekunder

S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 7 6 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap perkembangan akar primer dan

sekunder S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 7

DAFTAR GAMBAR

1 Banyaknya unit ulangan dalam penelitian 4

2 Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit S. selanica pola tanam 1 (a),

S. selanica dan melinjo pola tanam 2 (b), dan melinjo pola tanam 1 5 3 Perakaran bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan 8 4 Sketsa distribusi perakaran bibit melinjo (a) dan S. selanica (b) yang

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Agroforestri adalah suatu sistem penggunaan lahan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil total secara lestari, dengan cara mengkombinasikan tanaman pangan/pakan ternak dengan tanaman pohon pada sebidang lahan yang sama. Pilihan pola tanam agroforestri merupakan salah satu bentuk strategi petani untuk memperoleh pendapatan yang kontinyu. Contoh tanaman yang dapat dikembangkan secara agroforestri adalah melinjo (Gnetum gnemon).

Melinjo merupakan jenis yang dapat ditanam secara toleran maupun intoleran sehingga dapat digunakan pada pola tanam agroforestri. Salah satu jenis kayu yang dapat dikombinasikan dengan melinjo yaitu kayu bapa/meranti bapa (Shorea selanica). Jenis ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan dapat tumbuh dalam hutan tropis dengan tipe curah hujan B dan kayunya biasa dimanfaatkan untuk pembuatan veneer, kayu lapis, konstruksi bahan bangunan dan kayu perkapalan (Al Rasyid et al. 1991).

S. selanica dan melinjo diketahui sebagai tanaman yang dapat bersimbiosis dengan fungi ektomikoriza (Wulandari 2002, Riniarti 2010). Fungi mikoriza jenis ektomikoriza memiliki kecenderungan lebih spesifik dalam membentuk simbiosis, dan umumnya hanya pada tanaman berkayu (Brundrett 2002) walaupun terdapat laporan adanya fungi ektomikoriza pada perdu dan semak (Bidartondo et al. 2003; Dickie et al. 2004; Nara dan Hogetsu 2004). Simbiosis antara fungi ektomikoriza dan tanaman dapat meningkatkan penyerapan unsur hara makro dan mikro yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan (Lunt dan Hedger 2003), dapat meningkatkan penyerapan air (Warren et al. 2008) dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen dan kekeringan (Riyanto 2003).

Saat ini informasi terkait dengan interaksi pertumbuhan antara melinjo dan

S. selanica masih terbatas sehingga perlu adanya penelitian mengenai interaksi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dari kedua jenis tersebut. Pertumbuhan ini terkait dengan media tanam yang digunakan. Media tanam tidak harus terdiri dari tanah, namun juga memungkinkan untuk mencampurkan berbagai jenis media tanam lain seperti pasir, cocopeat, arang sekam dan sebagainya.

(13)

2

pertumbuhan tanaman, oleh karena itu perlu dibuat komposisi yang tepat dari pencampuran media tanam.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan pertumbuhan Shorea selanica dan melinjo yang ditanam secara terpisah maupun yang ditanam bersama dalam satu polibag, (2) mendapatkan informasi mengenai konsentrasi media cocopeat yang terbaik dalam media tanam yang dapat membantu pertumbuhan S. selanica dan melinjo.

METODE

Waktu dan lokasi penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Juli 2013 hingga Januari 2014. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB.

Bahan dan alat

Bahan tanaman yang digunakan yaitu bibit melinjo dan bibit Shorea selanica berumur 2 bulan. Fungi sumber inokulum yang digunakan yaitu inokulum tanah yang mengandung miselia ektomikoriza berjenis

Scleroderma sinnmariense. Media tanam yang digunakan adalah campuran dari tanah, cocopeat, kompos, dan arang sekam. Alat-alat yang yang digunakan dalam penelitian ini ialah polibag ukuran 15x20, gunting, kamera, penggaris, kaliper digital dengan ketelitian 0.01 mm, dan alat tulis.

Tahapan Penelitian

Persiapan Bahan

Persiapan Media Tanam. Media tanam yang digunakan merupakan campuran dari tanah, dan kompos dengan perbandingan 1:1; arang sekam dengan konsentrasi 10% dan ditambahkan cocopeat konsentrasi 0%, 10%, 20%, dan 30%. Konsentrasi cocopeat 0% berarti dalam media tanam tidak ditambahkan cocopeat (sebagai kontrol). Media yang sudah tercampur secara merata, kemudian dimasukkan ke dalam polibag.

Persiapan Bahan Tanaman. Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini ialah bibit S. selanica dan melinjo yang berumur 2 bulan. Benih S. selanica

berasal dari Hutan Penelitian Haurbentes, Jasinga, Bogor. Benih disemaikan di rumah kaca departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB; sedangkan bibit melinjo diperoleh dari penjual bibit di Ciapus, Bogor.

Inokulum Fungi Ektomikoriza. Jenis fungi ektomikoriza yang digunakan ialah S. sinnamariense. Inokulum yang digunakan berupa inokulum tanah yang mengandung miselum fungi ektomikoriza. Banyaknya inokulum yang diberikan ialah 8 g/bibit.

(14)

3

S. selanica dan melinjo dipindahkan ke dalam polibag tersebut. Inokulasi dilakukan cara meletakkan inokulum fungi ektomikoriza di dekat perakaran bibit melinjo. Pemeliharaan meliputi penyiraman yang dilakukan 1 hari sekali serta penyiangan dan pembasmian hama.

Pengamatan dan Pengambilan Data

Pengamatan yang dilakukan meliputi: pengukuran tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), biomassa akar, pucuk dan total serta pertumbuhan akar.

Tinggi Bibit (cm). Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan menggunakan penggaris. Bibit diukur mulai dari leher akar (batas antara batang dengan akar di atas permukaan tanah) hingga pucuknya. Untuk menghindari kesalahan pengukuran, di samping bagian batang terukur ditancapkan penanda yang ditandai dengan selotip. Pengukurannya dilakukan 2 minggu sekali, mulai dari awal penanaman hingga akhir pengamatan, selama 5 bulan pengamatan.

Diameter Batang (mm). Pengukuran diameter batang dilakukan dengan menggunakan kaliper dengan jarak 1–2 cm di atas leher akar. Pengukuran dilakukan 6 minggu sekali, selama 5 bulan pengamatan. Untuk menghindari kesalahan pengukuran, bagian batang terukur ditandai dengan selotip.

Biomassa Akar, Pucuk, Total (g). Perhitungan biomassa dilakukan dengan menimbang berat basah dan berat kering akar, pucuk, dan total bibit

S. selanica dan melinjo. Pengambilan data ini dilakukan pada akhir pengamatan. Pengukuran berat basah dan kering akar dan pucuk dilakukan dengan cara memisahkan bibit dari media tanam, kemudian akar dicuci dari kotoran yang menempel. Setelah bersih bagian akar dan pucuk dipisahkan. Pucuk dan akar ditimbang berat basahnya. Berat basah total diperoleh dengan cara menjumlahkan berat basah pucuk dan akar. Untuk mendapatkan data berat kering, pucuk dan akar dikeringkan dalam oven pada suhu 700C selama 5 hari, kemudian ditimbang beratnya. Berat kering total diperoleh dengan cara menjumlahkan berat kering pucuk dan akar.

Pengamatan Akar. Akar bibit S. selanica dan melinjo dibersihkan dari media tanam, kemudian dicuci sampai bersih. Pemeriksaan akar dilakukan dengan mengukur panjang akar primer dan akar sekunder terpanjang. Untuk mengetahui bentuk dari sistem perakaran, maka pada akhir pengamatan dilakukan pemotretan akar tanaman.

Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pola tanam yang terdiri dari 2 taraf yaitu pola tanam 1 dan pola tanam 2. Pola tanam 1 adalah dalam 1 polibag hanya ditanam 1 bibit (S. selanica atau melinjo), sedangkan pola tanam 2 adalah dalam 1 polibag ditanam 2 bibit (S. selanica dan melinjo). Faktor kedua adalah konsentrasi cocopeat (0%, 10%, 20%, 30%). Kombinasinya ialah :

(15)

4

7. Melinjo menggunakan media dengan konsentrasi cocopeat 20 % 8. Melinjo menggunakan media dengan konsentrasi cocopeat 30 %

9. S. selanica + melinjo menggunakan media dengan konsentrasi cocopeat 0 %

10.S. selanica + melinjo menggunakan media dengan konstrasi cocopeat 10 %

11.S. selanica + melinjo menggunakan media dengan konstrasi cocopeat 20 %

12.S. selanica + melinjo menggunakan media dengan konstrasi cocopeat 30 %

Penelitian ini terdiri dari 12 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Masing-masing ulangan terdiri dari 4 unit polibag sehingga terdapat 144 satuan percobaan (Gambar 1).

Gambar 1 Tata letak bibit S. Selanica dan melinjo di dalam rumah kaca berdasarkan rancangan acak lengkap

Model umum rancangan acak lengkap adalah sebagai berikut:

Yijk = Nilai pengamatan untuk pengaruh perlakuan pola tanam taraf ke-i, pengaruh perlakuan konsentrasi cocopeat taraf ke-j, dan ulangan ke-k µ = Nilai tengah (rataan) umum

αi = Pengaruh perlakuan pola tanam taraf ke-i

βj = Pengaruh perlakuan konsentrasi cocopeat taraf ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi antara perlakuan pola tanam taraf ke-i dan perlakuan konsentarsi cocopeat pada taraf ke-j dan ulangan ke-k.

(16)

5 Analisis statistik yang digunakan adalah ANOVA, apabila hasil sidik ragam memberikan hasil berpengaruh nyata atau sangat nyata maka selanjutnya dilakukan uji jarak berganda Duncan untuk mengetahui beda antar perlakuan. Data diolah menggunakan komputer dengan progam software SAS versi 9.1.3

portable.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1 dan 2 menunjukkan bahwa perlakuan pola tanam dan konsentrasi cocopeat memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan bibit S. selanica dan melinjo, dan tidak ada interaksi antara perlakuan pola tanam dan konsentrasi cocopeat. Pertumbuhan tinggi dan diameter S. selanica dan melinjo yang ditanam pada pola tanam 1 tidak berbeda nyata dengan yang ditanam pada pola tanam 2 (Gambar 2). Pemberian cocopeat pada media tanam tidak menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter S. selanica dan melinjo.

Gambar 2 Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit S. selanica pola tanam 1 (a),

S. selanica dan melinjo pola tanam 2 (b), dan melinjo pola tanam 2 (c)

a b

(17)

6

Tabel 1 Pengaruh pola tanam terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan

Perlakuan Pertambahan tinggi

*: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan).

Tabel 2 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan Perlakuan Pertambahan tinggi (cm)* Pertambahan diameter (mm)*

S. selanica melinjo S. selanica melinjo

% cocopeat

0 (kontrol) 2.403a 6.003a 0.843a 0.790a 10 3.203a 6.957a 1.003a 0.407a 20 1.503a 11.667a 0.587a 0.947a 30 2.360a 11.347a 0.707a 0.443a *: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan).

Tabel 3 dan 4 menunjukkan bahwa perlakuan pola tanam tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering pucuk dan berat total tetapi berpengaruh nyata pada berat kering akar S. selanica dan melinjo, dan tidak ada interaksi antara perlakuan pola tanam dan konsentrasi cocopeat. Berat kering S. selanica yang ditanam pada pola tanam 2 lebih besar dibandingkan dengan yang ditanam pada pola tanam 1, sedangkan berat kering melinjo lebih besar yang ditanam pada pola tanam 1 dibandingkan dengan pola tanam 2. Pemberian cocopeat pada media tanam tidak menimbulkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan berat kering S. selanica

dan melinjo.

Tabel 3 Pengaruh pola tanam terhadap berat basah dan berat kering pucuk dan akar tanaman bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan

Perlakuan Berat kering (g)* Berat kering total

(g)*

(18)

7 Tabel 4 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap berat basah dan berat kering pucuk dan akar tanaman bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan

Perlakuan Berat kering akar (g)* Berat kering pucuk (g)*

S. selanica melinjo S. selanica melinjo

% cocopeat

0 (kontrol) 0.147a 0.257a 0.437a 0.587a 10 0.170a 0.277a 0.333a 0.687a 20 0.083a 0.263a 0.323a 0.837a 30 0.123a 0.397a 0.313a 0.540a *: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 1% (uji selang berganda Duncan).

Tabel 5 Pengaruh pola tanam terhadap perkembangan akar primer dan sekunder bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan

Perlakuan Panjang akar (cm)* *: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 1% (uji selang berganda Duncan).

Tabel 6 Pengaruh konsentrasi cocopeat terhadap perkembangan akar primer dan sekunder bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan Perlakuan Panjang akar primer (cm)* Panjang akar sekunder (cm)*

S. selanica melinjo S. selanica melinjo

% cocopeat

0 (kontrol) 14.077a 7.867a 5.467a 3.817a 10 14.443a 13.877a 5.503a 9.093a 20 10.733a 12.243a 9.183a 7.357a 30 14.967a 14.160a 7.527a 10.827a *: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 1% (uji selang berganda Duncan).

Tabel 5 dan 6 menunjukkan bahwa pola tanam dan konsentrasi cocopeat

(19)

8

Gambar 3 Perakaran bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan: a. perakaran bibit S. selanica pola tanam 1; b. perakaran bibit melinjo

pola tanam 1; c. perakaran bibit Melinjo dan S. selanica pola tanam 2 Pembahasan

Kombinasi antara dua tanaman dapat menyebabkan adanya interaksi baik bersifat positif ataupun negatif. Interaksi yang positif akan menghasilkan peningkatan produksi dari semua komponen tanaman yang ada pada pola tersebut, akan tetapi apabila bentuk interaksi yang terjadi adalah negatif maka peningkatan produksi salah satu jenis tanaman akan menyebabkan penurunan produksi tanaman yang lain. Interaksi antara tanaman S. selanica dan melinjo dapat dilihat dengan membandingkan parameter pertumbuhan baik yang ditanam secara terpisah (pola tanam 1) maupun yang ditanam dalam satu polibag (pola tanam 2), yaitu tinggi, diameter, panjang akar primer dan akar sekunder serta berat basah dan berat kering bibit. Pola tanam 1 merupakan simulasi dari pola tanam monokultur, sedangkan pola tanam 2 merupakan simulasi dari pola tanam agroforestri.

Tanaman agroforestri yang ditanam berdampingan pada satu lahan akan berinteraksi bila ketersediaaan sumber kehidupan tanaman berada dalam jumlah terbatas sehingga terjadi kompetisi. Pertumbuhan tinggi, diameter dan berat kering pucuk S. selanica dan melinjo yang ditanam pada pola tanam 1 dan pola tanam 2 menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi kompetisi nutrisi antara S. selanica dan melinjo. S. selanica dan melinjo mempunyai strategi pengambilan hara yang berbeda karena memiliki strata akar yang berbeda. Akar primer melinjo pada pola tanam 2 memiliki pertumbuhan yang paling panjang. Akar primer yang panjang tidak menjadi penghalang untuk pertumbuhan akar S. selanica karena pada umur yang sama akar S. selanica lebih pendek dibandingkan akar melinjo. Ukuran akar S. selanica yang lebih pendek memungkinkan akar S. selanica dan melinjo tidak saling tumpang tindih. Perakaran S. selanica yang pendek memberikan ruang tumbuh bagi perakaran melinjo dan pertumbuhan S. selanica tidak menghambat melinjo sehingga tidak terjadi kompetisi antara kedua jenis tersebut. Ilustrasi perakaran pada pola tanam 2 dapat dilihat pada Gambar 4. Pertumbuhan bibit S. selanica dan melinjo yang ditanam bersama dalam 1 polibag tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan S. selanica dan melinjo yang ditanam sendiri dalam 1 polibag. Dalam aplikasinya di lapangan, S. selanica dan melinjo dapat ditanam dengan pola tanam agroforestri.

b c

(20)

9

Gambar 4 Sketsa distribusi perakaran bibit melinjo (a) dan S. selanica (b) yang ditanam pada pola tanam 2.

Menurut Winarto (2006), agroforestri merupakan manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama, dengan memperhatikan kondisi lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya masyarakat yang berperan serta. Kombinasi antara S. selanica dan melinjo dapat dikategorikan jenis agoforestri multipurpose forest tree production system, yaitu sistem dengan berbagai jenis kayu yang ditanam dan dikelola, untuk menghasilkan kayu, dedaunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan manusia maupun dijadikan makanan ternak. Penanaman dengan pola agroforestri lebih menguntungkan karena (1) meningkatkan produktivitas, (2) meningkatkan kesuburan tanah, (3) konservasi tanah, (4) meningkatkan efesiensi penggunaan air, (5) memperbaiki lingkungan mikro, (6) konservasi biodiversitas, (7) biodrainase, dan (8) meningkatkan penyerapan karbon (Fanish dan Priya 2013). Contoh penggunaan jenis agroforestry ini adalah pada KHDTK (Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus) Carita yang mengkombinasikan antara tanaman Shorea spp. dengan tanaman melinjo dan durian dalam progam PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat).

Pada pola tanam agroforestri, jarak tanam menjadi hal yang sangat penting, karena jarak tanam berkaitan dengan ketersediaan cahaya matahari yang dapat menembus kanopi tanaman utama dan ketersediaan ruang untuk perakaran (Sukandi

et al. 2002). Ketersediaan cahaya matahari dapat diatasi karena S. selanica

merupakan jenis yang toleran. Menurut Soerianegara dan Lemmens (1993) jenis-jenis Shorea spp. adalah jenis toleran yang sangat peka terhadap intensitas cahaya tinggi. Penerimaan intensitas cahaya tinggi akan mengubah warna daun, peningkatan suhu tanah dan tidak aktifnya mikoriza. Perubahan warna daun menjadi kekuningan akibat zat hijau daun beroksidasi dengan intensitas cahaya tinggi (Salisbury dan Ross 1995). Dengan penerapan pola tanam agroforestri yang menggunakan melinjo sebagai tanaman kombinasi tentu sangat menguntungkan bagi S. selanica karena tajuk melinjo dapat digunakan sebagai naungan alami. Penyediaan ruang tumbuh untuk perakaran juga tidak menjadi masalah karena

(21)

10

akar S. selanica dan melinjo berada dalam strata yang berbeda sehingga tidak saling tumpang tindih.

Perakaran terkait dengan seberapa besar unsur hara yang diserap oleh tanaman. Mahendra (2009) menjelaskan bahwa akar bagi tanaman adalah salah satu faktor penting bagi pertumbuhan, tanpa akar proses fotosintesis untuk memproduksi karbohidrat dan energi tidak akan bisa berjalan. Fungsi akar bagi tanaman yaitu membantu tumbuhan agar dapat berdiri kokoh di dalam tanah, menyerap air dari tanah serta menyerap unsur hara dari tanah. Akar primer berguna untuk perluasan jangkauan dalam penyerapan unsur hara. Semakin panjang akar primer maka akan berpengaruh pada kedalaman akar. Kedalaman perakaran sangat berpengaruh pada porsi air yang dapat diserap. Makin panjang dan dalam akar menembus tanah makin banyak air yang dapat diserap bila dibandingkan dengan perakaran yang pendek dan dangkal dalam waktu yang sama (Jumin 1989).

Perakaran melinjo yang ditanam pada pola tanam 1 lebih baik dibandingkan pola tanam 2. Hal ini karena pada pola tanam 2 terjadi kompetisi ruang tumbuh akar antara S. selanica dan melinjo. Sebaliknya perakaran S. selanica tumbuh dengan baik jika ditanam pada pola tanam 2 dibandingkan dengan pola tanam 1. Media tanam yang digunakan dalam penelitian ini ditambahkan dengan inokulum

fungi ektomikoriza S. sinnamariense. Secara alami fungi ektomikoriza

S. sinnamariense lebih menyukai melinjo sebagai tanaman inang dibandingkan dengan S. selanica. S. sinnamariense dapat menginfeksi S. selanica tetapi infeksinya tidak langsung melalui inokulum fungi yang diinokulasikan (Riniarti 2010), tetapi melalui akar melinjo yang sudah terinfeksi oleh fungi ektomikoriza. Pada pola tanam 1 tidak ada S. selanica yang terinfeksi S. sinnamariense, sedangkan pada pola tanam 2 bibit S. selanica yang terinfeksi ada 2.08 %. Adanya infeksi mikoriza pada bibit akan memperbaiki struktur tanah sehingga pertumbuhan akar menjadi lebih baik. Adanya ektomikoriza juga memberikan manfaat bagi pertumbuhan bibit. Eksplorasi hifa pada media tumbuh lebih luas dibandingkan dengan akar tanaman, sehingga meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman dalam tanah (Santoso et al. 2007).

Melinjo memiliki sistem perakaran dalam sehingga dalam agroforestri lebih sesuai bila dikombinasikan dengan jenis tanaman yang memiliki perakaran dangkal seperti S. selanica. Semakin dalam akar tanaman melinjo, maka semakin baik untuk pola tanam agroforestri karena semakin dalam suatu akar pohon, maka persaingan unsur hara dan air dengan tanaman yang lain akan semakin sedikit. Panjang akar sekunder melinjo pola tanam 2 lebih kecil daripada panjang akar sekunder melinjo pola tanam 1. Semakin kecil nilai panjang horisontal akar (akar sekunder), maka sistem perakaran melinjo semakin bagus untuk sistem agroforestri, karena persaingan unsur hara dengan S. selanica tidak terlalu besar.

(22)

11 yang dapat digunakan untuk menggantikan pasir. Serbuk sabut kelapa (cocopeat) adalah hasil sampingan dari proses pengambilan serat sabut kelapa. Ihsan (2013) menyatakan bahwa kandungan hara yang terkandung dalam cocopeat yaitu unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman diantaranya adalah kalium, fosfor, kalsium, magnesium dan natrium. Cocopeat dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk serta menetralkan kemasaman tanah. Sifat tersebut menyebabkan cocopeat dapat digunakan sebagai media yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan media tanam bibit di rumah kaca dan persemaian.

Penambahan cocopeat pada media tanam belum dapat mempengaruhi pertumbuhan S. selanica dan melinjo baik yang ditanam pada pola tanam 1 maupun pola tanam 2. Walaupun demikian terdapat kecenderungan penambahan cocopeat pada media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan bibit S. selanica

dan melinjo dibandingkan dengan control. Konsentrasi cocopeat 10% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk S. selanica, konsentrasi cocopeat 20% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk melinjo dan Konsentrasi cocopeat 30% dapat meningkatkan perkembangan akar melinjo. Konsentrasi cocopeat menunjukkan hasil yag bervariasi terhadap perkembangan akar S. selanica. Cocopeat berpengaruh terhadap penyimpanan air pada media tanam. Hal ini dikarenakan cocopeat bersifat hydrofilik dimana kelembaban akan tersebar merata pada permukaan serbuk (Prasetyawan 2009). Kondisi seperti ini menyebabkan

cocopeat mudah untuk menyerap air meskipun berada di udara kering sehingga cocok untuk digunakan pada daerah dengan curah hujan rendah. Semakin besar konsentrasi cocopeat maka akan menyimpan air lebih banyak. Hal itu dapat menjadi keuntungan ataupun kerugian bagi tanaman karena media yang terlalu banyak menyimpan air dapat menghambat pertumbuhan beberapa tanaman.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pertumbuhan bibit S. selanica dan melinjo yang ditanam sendiri maupun bersama dalam 1 polibag menunjukkan tidak ada perbedaan nyata. Dengan demikian, S. selanica dan melinjo dapat ditanam secara agroforestri. Terdapat kecenderungan penambahan cocopeat pada media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan bibit S. selanica dan melinjo dibandingkan dengan control. Konsentrasi cocopeat 10% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk S. selanica, konsentrasi cocopeat 20% dapat meningkatkan pertumbuhan pucuk melinjo dan Konsentrasi cocopeat 30% dapat meningkatkan perkembangan akar melinjo. Konsentrasi cocopeat menunjukkan hasil yag bervariasi terhadap perkembangan akar S. selanica.

Saran

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya ketidak

konsistenan konsentrasi cocopeat yang dapat meningkatkan pertumbuhan

(23)

12

DAFTAR PUSTAKA

Al Rasyid H, Marfuah, Wijayakusumah H, Hendrawan D. 1991. Vademikum Dipterocarpaceae. Jakarta (ID): Departemen Kehutanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

Bidartondo MI, Bruns TD, Weiß M, Sérgio C, Read DJ. 2003. Specialized cheating of the ectomycorrhizal symbiosis by an epiparasitic liverwort. Proc R Soc Lond B. 270:835-842.

Brundrett MC. 2002. Coevolution of roots and mycorrhizas of land plants. New Phytol. 154:275-304.

Dickie IA, Guza RC, Krazewski E, Reich PB. 2004. Shared ectomycorrhizal fungi between a herbaceous perennial (Helianthemum bicknellii) and oak (Quercus) seedlings. New Phytol. 164:375-382

Fahmi ZI. 2013. Media Tanam Sebagai Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman [Internet]. [Diunduh 2014 Jan 20]. Tersedia pada: http://ditjenbun.deptan.go.id.

Fanish SA, Priya RS. 2013. Review of benefits of agroforestry system.

International J of Edu and Res. 1(1):1-12.

Ihsan M. 2013. Manfaat Serbuk Cocopeat/Serbuk Sabut Kelapa [Internet]. [Diunduh 2014 Jan 23]. Tersedia pada: http://ceritanurmanadi.wordpress.com. Jumin HB. 1989. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologis. Jakarta (ID):

CV. Rajawali.

Lunt PH, Hedger JN. 2003. Effect of organic enrichment of mine spoil on growth and nutrient uptake in oak seedlings inoculated with selected ectomychorrizal fungi. Restoration Ecology 11(2):125-130.

Mahendra F. 2009. Sistem Agroforestri dan Aplikasinya. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.

Nara K, Hogetsu T. 2004. Ectomycorrhizal fungi on established shrubs facilitate subsequent seedling establishment of successional plant species. Ecology

85:1700-1707.

Prasetyawan D. 2009. Sifat fisis dan mekanis papan komposit dari serbuk sabut kelapa (cocopeat) dengan plastik polyethylene [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Raharjo JT, Sadono R. 2008. Model tajuk jati (Tectona grandis) dari berbagai famili pada uji keturunan umur 9 tahun. J Ilmu Kehutanan 2(2):89-95.

Riniarti M. 2010. Dinamika Kolonisasi Tiga Fungi Ektomikoriza Scleroderma spp. dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Tanaman Inang [disertasi]. Bogor (ID):Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Riyanto D. 2003. Respon pertumbuhan stek Shorea selanica BL. terhadap pemberian asam humat dan inokulasi cendawan ektomikoriza [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan. Jurusan Manajemen Hutan.Institut Pertanian Bogor.

Salisbury FB, Ross CW. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Lukman D, Sumaryono, penerjemah. Bandung (ID): ITB. Terjemahan dari: Plant Physiology 4th Edition.

(24)

13 Siran AS, Bismark M, Samsoedin I, Suhaendi H, Pratiwi, Haryono, Mardiah, editor. Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian; 2006 Sep 20; Padang, Indonesia. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. hlm 71-80.

Sukandi T, Sumarhani, Murniati. 2002. Informasi Teknis Pola Wanatani (Agroforestri). Bogor (ID): Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor.

Soerianegara I, Lemmens RHMJ. 1993. Plant Resources of South-East Asia No. 5(1) Timber Trees: Major Commercial Timber. Wageningen (DE): Pudoc Scientific Publishers.

Warren JM, Brooks JR, Meinze FC, Eberhart JL. 2008. Hydraulic redistribution of water from Pinus ponderosa trees to seedling: evience for an ectomycorrhizal pathway. New Phytol. 178:382-394. doi: 10.1111/j.1469.8137.2008.02377.x.

Winarto B. 2006. Kamus Rimbawan. Jakarta (ID): Yayasan Bumi Indonesia Hijau. Wulandari AS. 2002. Beberapa gatra biologi ektomikoriza Scleroderma pada

(25)

14

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Purworejo pada tanggal 1 Juli 1991 dari ayah Sudarman dan ibu Rini Susilowati. Penulis adalah putra pertama dari dua bersaudara. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Purworejo dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI IPB dan diterima di Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa yakni Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan (BEM FAHUTAN) pada tahun 2010/2011 sebagai staf KOMINFO, dan Tree Grower Community (TGC) pada tahun 2011/2012 sebagai staf KOMINFO. Kepanitiaan yang diikuti yaitu Piknas PC SYLVA IPB tahun 2010, Seminar Jabon tahun 2011, TGC in Action pada tahun 2011 dan Seminar Nasional Gambut tahun 2012. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan Praktik Pengelolaan Ekosistem Hutan (PPEH) di lokasi Pangandaran-Gunung Sawal, pada bulan Juni sampai dengan Juli. Tahun 2012 penulis melaksanakan Praktik Pengelolaan Hutan (PPH) di lokasi Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Sukabumi, Bandung dan Cianjur pada bulan Juni sampai dengan Juli. Tahun 2013 penulis melaksanakan Praktik Kerja Profesi (PKP) di PT. Wana Subur Lestari, Kalimantan Barat pada bulan Februari sampai dengan April.

Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Interaksi Pertumbuhan antara Shorea selanica dan

Gambar

Gambar 1  Tata letak bibit S. Selanica dan melinjo di dalam rumah kaca
Gambar 2  Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit S. selanica pola tanam 1 (a),
Tabel 1  Pengaruh pola tanam terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter  bibit S. selanica dan melinjo selama 5 bulan pengamatan
Gambar 4  Sketsa distribusi perakaran bibit melinjo (a) dan S. selanica (b)

Referensi

Dokumen terkait

Jenis media tanam dengan pupuk kandang sapi dan pupuk kascing memiliki pengaruh yang sama baiknya terhadap parameter pertumbuhan dan hasil tanaman.. Konsentrasi 6 ml L -1

Mengetahui pengaruh interaksi antara penyiraman (air kelapa, ampas teh) dengan media tanam yang berbeda (arang sekam, serbuk gergaji) terhadap pertumbuhan Mahkota

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa komposisi media tanam m1, m2, m3, dan m4 memberikan pengaruh tidak signifikan pada pertumbuhan vegetatif stek buah

Bila dilihat penggunaan konsentrasi pupuk Biogreen yang sama, misalnya 5 cc/L air pada media tanam ampas kelapa sawit produksinya lebih tinggi dan berbeda

Penelitian ini merupakan tahapan awal untuk mengetahui pengaruh jenis hibrid murbei baru dan pengaturan jarak tanam terhadap parameter-parameter pertumbuhan yaitu

Bila dilihat penggunaan konsentrasi pupuk Biogreen yang sama, misalnya 5 cc/L air pada media tanam ampas kelapa sawit produksinya lebih tinggi dan berbeda

Hasil sidik ragam pada pertumbuhan dan hasil tanaman seledri menunjukkan bahwa interaksi antara media tanam dan konsentrasi larutan nutrisi berpengaruh nyata terhadap

Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah penggunaan media tanam dan pemberian MSG berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman dengan taraf terbaik M1: tanah dan