SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
OLEH : REGINA SIBURIAN
NIM. 3123321040
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
i ABSTRAK
REGINA SIBURIAN. NIM 3123321040. PEMIKIRAN LIBERTY MANIK TERHADAP SEMANGAT NASIONALISME. SKRIPSI S-1 JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH. FAKULTAS ILMU SOSIAL. UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2016
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui riwayat kehidupan Liberty Manik, keberadaan karya-karya Liberty Manik, pemikiran Liberty Manik dalam syair lagu dan tulisan serta semangat nasionalisme Liberty Manik. Untuk memperoleh data dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penulisan Library
Research (studi kepustakaan) dan field research (penelitian lapangan). Adapun
hasil penelitian yang diperoleh yaitu Liberty Manik merupakan putra daerah kabupaten Dairi yang lahir pada tanggal 21 Nopember 1924 di desa Huta Manik, Kecamatan Sumbul Pegagan. Liberty Manik merupakan anak yang cerdas dan berbakat di bidang musik, seperti tampak dalam kemampuannya memainkan seruling dan kecapi. Sebelum melanjutkan di H.I.S Sidikalang, Liberty Manik belajar disekolah zending di Juma Ramba. Pada tahun 1940, Liberty Manik melanjutkan sekolahnya di sekolah guru H.I.K Xaverius College Muntilan. Sekolah tersebut mewajibkan musik sebagai kegiatan ekstrakurikuler dengan demikian kemampuan bermain musik dan wawasan musiknya semakin bertambah. Karakter Liberty Manik yang disiplin, mandiri, berpendirian kokoh semakin dibentuk saat belajar disekolah tersebut. Pengalaman batin akan peristiwa-peristiwa pasca kemerdekaan telah mendorong Liberty Manik menciptakan sebuah lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang bertujuan sebagai propogadis semangat kebangsaan seluruh masyarakat Indonesia. Semasa hidupnya Liberty Manik menciptakan tidak kurang dari enam lagu-lagu Indonesia, dua diantaranya bernafaskan nasionalisme yaitu lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Negara Jaya. Selain menciptakan lagu, Liberty Manik juga turut menulis di berbagai media cetak sesuai dengan keahliannya di bidang musik. Semangat nasionalisme Liberty Manik yang dituangkan ke dalam bidang musik sebagai seorang seniman menjadikannya menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Indonesia pada tahun 1999.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasihNya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Skripsi ini disusun
untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, baik isi,
tekhnik penulisan, maupun nilai ilmiahnya, mengingat keterbatasan pengetahuan
dan pengalaman. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis
mengaharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
skripsi ini.
Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak baik itu berupa moril maupun material. Maka dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan rasa terima kasih serta pengharapan yang
sebesar-besarnya kepada :
Orangtua tercinta, (Alm) Sahat Siburian dan Erisma br. Tampubolon
yang melahirkan, mendidik dan membesarkan penulis. Karena doa dan
cinta kasih mereka penulis bisa menjadi saat sekarang ini dan sampai pada
akhir untuk menyelesaikan studi dalam perkuliahan. Kiranya kasih dan
sukacita yang daripadaNya melingkupi Ibunda terkasih.
Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri
Medan.
Bapak Drs. Yushar Tanjung, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Sejarah serta dosen penguji yang banyak memberi inspirasi bagi penulis.
Bapak Syahrul Nizar, M.A, M.Hum selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan
Sejarah yang telah banyak membantu dan memberikan kemudahan bagi
penulis.
Ibu Dra. Hafnita Sari Dewi Lubis, M.Si selaku Dosen Pembimbing
Skripsi, penulis mengucapkan terima kasih atas masukan dan kemudahan
yang telah ibu berikan kepada penulis mulai dari proses penyusunan
proposal hingga penyelesaian skripsi.
Ibu Dra. Flores Tanjung, M.A Dosen Pembimbing Akademik serta sebagai
dosen penguji yang telah banyak memberikan motivasi, inspirasi dan
nasihat-nasihat kepada penulis.
Bapak Drs. Ponirin, M.Si selaku dosen penguji yang telah banyak
memberi nasihat dan inspirasi kepada penulis.
Dan kepada seluruh dosen jurusan Pendidikan Sejarah UNIMED yang
pernah mendidik dan mengajari penulis.
Kakanda dan abangda terkasih ; Evi Siburian, Odie Siburian, Eva
Siburian, Itta Siburian, Ester Siburian, Ogie Siburian, Ojak Siburian,
Nelson Sianturi, Nam Jang Woo Sihombing, Henron Sinaga, Wawan, dan
Juprianto Saragih yang tiada bosannya mendukung dan memotivasi
penulis hingga saat ini. Semoga kasih persaudaraan tetap menyala-nyala
diantara kita. Tidak lupa juga kepada keponakan penulis, Bintang Yoshy
Bintang Vika Serephine, Bintang Hanesha Saragih yang mana ditengah
keluguannya menjadi motivasi tersendiri bagi penulis. Kelak, kiranya
menjadi anak yang membanggakan Tuhan dan sekitarnya.
Keluarga Pdt. Singotan Situngkir, selaku keponakan dari Liberty Manik
yang dengan murah hati memberikan banyak informasi kepada penulis.
Keluarga Drs. Parlemen Sinaga, selaku keponakan dari Liberty Manik
yang dengan murah hati memberikan banyak informasi kepada penulis.
Harian Waspada Medan yang telah mengizinkan penulis untuk melihat
pemberitaan seputar Liberty Manik.
Tidak lupa kepada sahabat-sahabat penulis Kartika Siregar, Agnestasia
Sinulingga, Ida Dasopang, yang selalu setia menemani, memotivasi
bahkan saling menegur dikala salah.
Kepada seluruh teman Pendidikan Sejarah 2012, Fakhri Muliawan
Situmorang, S.Pd, Nurul Azmi Sambas, Yanti Siagian, Dian Puspita Sirait,
Janita Sembiring, Muhammad Adnin Sumantri, Wahyu Rahmadhani, Ema
Manisa, Roziah Rambe, Uci Armayanti, Sister Togatorop, M. Novriansyah
Lubis, Duma Milanta, Haryati Togatorop, Nijar Silaban, Sella Naomi, Sri
Ngenana, Judha Purba, Daniel Siburian, Lifzen Sitanggang, Debora, Jelita,
Eva Bako yang kerapkali memotivasi, menghibur dan mendukung penulis.
Kakak dan abang kelas Pendidikan Sejarah Unimed, Ka Wienna, Ka Yeka,
Ka Tri Ananda, Ka Iki Fadilla, Ka Fitri, Ka Dwi, Ka Tari, Ka Aziza, Ka
Berkat, Bg Yasipin, Bg Janter, Bg Wardoyo, Bg Fadhil, Bg Tono, Bg Boy
yang dengan murah hati selalu membagikan setiap pengalamannya selama
perkuliahan kepada penulis.
Teman-teman PPLT UNIMED SMP-SMA Swasta Santa Maria
Kabanjahe, Tenny Sipayung, Romasti Sitohang, Novita Sijabat, Yeslika,
Maria, Yessy, Eka Purba, Wanda, Meyda, Lidya, Meri Panjaitan yang
selalu saling mendukung dan memotivasi.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dan jikalau ada pihak yang tidak tersebutkan, penulis
mengucapkan mohon maaf atas kelalaian itu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
pembaca dan dapat menjadi bahan masukan bagi yang membutuhkannya.
Medan, Maret 2016 Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 5
1.3. Rumusan Masalah ... 5
1.4. Tujuan Penulisan ... 5
1.5. Manfaat Penulisan ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Konseptual... 7
2.1.1. Pemikiran Nasionalisme ... 7
2.1.2. Biografi ... 9
2.1.3. Komponis ... 10
2.1.4 Penulis .. ... 11
2.1.5 Liberty Manik ... 13
2.2. Kerangka Berfikir ... 15
2.3. Hipotesis ... 16
BAB III METODE PENULISAN 3.1. Metode Penulisan... 17
3.2. Sumber Data ... 18
3.3. Lokasi Penulisan ... 19
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 19
BAB IV HASIL PENULISAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Riwayat Hidup Liberty Manik ... 21
4.1.1. Satu Nusa Satu Bangsa ... 26
4.1.2. Menetap di Tanah Air ... 32
4.1.3. Kenangan Keluarga ... 35
4.2. Keberadaan Karya Liberty Manik ... 42
4.3. Pemikiran Liberty Manik Dalam Syair Lagu Dan Tulisan ... 45
4.3.1. Syair Lagu ... 45
4.3.2. Tulisan ... 53
4.4. Semangat Nasionalisme Liberty Manik ... 59
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 66
5.2. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 70
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Ketika suatu bangsa memutuskan untuk bersatu, nasionalisme atau paham
kebangsaan merupakan suatu paham yang harus dan sangat dibutuhkan dalam
menjaga eksistensi bangsa. Ide tentang kecintaan terhadap bangsa, yang kemudian
sering disebut sebagai nasionalisme, lahir dari suatu buah pemikiran yang terus
menerus yang kemudian memunculkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Ernest Renan pada tahun 1882 mengemukakan pendapatnya tentang paham
bangsa. Menurut beliau, bangsa adalah suatu nyawa, suatu azas akal, yang terjadi
dari dua hal: pertama-tama rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjalani satu
riwayat. Kedua, rakyat itu sekarang harus mempunyai kemauan, keinginan hidup
menjadi satu. Bukan jenis (ras), bukannya bahasa, bukannya agama, bukannya
persamaan butuh, bukannya pula batas-batas negeri yang menjadikan bangsa itu,
(Soekarno, 1963 : 3).
Secara umum, hakikatnya gerakan nasionalisme mempengaruhi
munculnya ide-ide baru mengenai organisasi dan defenisi baru tentang identitas
suatu bangsa seperti agama, sosial, politik dan ekonomi, (Ricklef, 1999 :
247-248). Perwujudan ide semangat nasionalisme melahirkan sebuah fase sejarah
khususnya di Indonesia, yang lebih dikenal dengan istilah kebangkitan nasional.
Fase ini ditandai dengan kemunculan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
bangsa berdasarkan kesadaran, tekad dan upaya memajukan bangsa atas dasar
falsafah dan wawasan yang bersumber pada kepribadian nusantara, didukung para
cendikiawan yang berbasis pada pendidikan nasional untuk melawan penjajah.
Sederhananya, nasionalisme tidaklah berbicara tentang suku, agama, ras, budaya,
bahkan batas territorial suatu wilayah. Nasionalisme adalah suatu kesadaran
bersama untuk menjadi satu kesatuan membentuk identitas baru.
Gerakan nasionalisme Eropa pada perkembangannya memberikan
pengaruh yang besar terhadap perkembangan nasionalisme di kawasan
Asia-Afrika, termasuk Indonesia. Jejak pengaruh nasionalisme Eropa yang masuk ke
Indonesia, setidaknya terekam juga dalam khasanah musik. Gerakan nasionalisme
dalam musik diawali di Rusia lalu kemudian diikuti gerakan nasionalisme di
negara-negara Skandinavia, Spanyol, Italia, Hongaria, Inggris dan Amerika
Serikat. Pengaruh Barat terhadap musik sangat menonjol. Tangga nada yang
diatonik yang berasal dari Barat bukan saja menghadirkan perpaduan antara
Timur dan Barat, akan tetapi justru tangga nada inilah yang mendasari terciptanya
musik nasional Indonesia. Pembentukan musik nasional terjadi ketika para
pemuda Indonesia melakukan gerakan untuk membebaskan diri dari kaum
penjajah Belanda serta gerakan menciptakan kebudayaan nasional. Gerakan yang
terjadi pada tahun 1920-an di bidang musik tersebut mengarah kepada upaya
untuk menciptakan musik yang tidak berciri etnis seperti sistem tangga nada
Pada masa perjuangan melawan kolonialisme, perkembangan musik
diatonik menjadi fenomena politik yang disebabkan oleh perbedaan pandangan
tentang musik nasional. Sekitar tahun 1930-an cendikiawan Jawa berusaha
mengerahkan empu gamelan untuk menggubah segi permainan dan teori
memainkan lagu Indonesia Raya guna menguasai lagu kebangsaan. Namun hal
tersebut tidak berhasil karena pada dasarnya lagu Indonesia Raya menggunakan
sistem tangga nada diatonik, sedang instrument gamelan menggunakan sistem
tangga nada pentatonik.
Perkembangan musik diatonik sebagai sarana pendidikan nasionalisme
mengalir seiring munculnya generasi penerus setelah W.R Supratman dan
Muhammad Syafei pendiri sekolah Indonesisch Nederlansche School Kayu
Tanam di Sumatera Barat diantaranya, munculnya para pemusik daerah di
Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jerman yang
cukup handal. Adapun mereka antara lain, Cornel Simanjuntak, Amir Pasaribu,
J.A Dungga, Binsar Sitompul, W. Lumban Tobing dan Liberty Manik. Para
pemusik ini beranggapan bahwa musik nasional tidak boleh dibangun diatas
budaya musik Jawa saja, musik diatonis lebih terbuka bagi umum di lapisan
masyarakat dengan berbagai kebhinekaannya.
Satu dari pemusik yang disebutkan diatas adalah Liberty Manik, salah
seorang pencipta lagu wajib nasional yang berjudul, “Satu Nusa Satu Bangsa”.
Beliau berasal dari desa Huta Manik, Kecamatan Sumbul, kurang lebih 18 km
Liberty Manik adalah doktor pertama bidang musik di Indonesia yang lulus
dengan predikat Magna cum laude dari Freie Universitat Berlin, Jerman. Beliau
mendapat penghormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Republik
Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie pada tahun 1999 pada saat penobatannya
sebagai Guru Musik.
Lagu Satu Nusa Satu Bangsa begitu akrab di telinga rakyat Indonesia,
karena lagu tersebut mudah dinyanyikan semua orang, liriknya sederhana namun
mengandung arti nasionalisme yang mendalam. Lagu wajib tersebut diciptakan
pada tahun 1947 tepat dua tahun setelah Proklamasi Indonesia yang bertujuan
guna mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia agar terhindar dari segala
bentuk separatisme.
Selain menciptakan lagu, beliau aktif dalam menulis dan meneliti ilmu
musik. Melihat sosok Liberty Manik yang memiliki perhatian terhadap bidang
musik dan penulisannya yang bermuatan semangat nasionalisme, menjadi suatu
ketertarikan tersendiri untuk mengkaji riwayat hidup dan pemikiran
nasionalismenya. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka
peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pemikiran Liberty
1.2. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat diambil suatu
identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Riwayat hidup Liberty Manik hingga menjadi komponis
2. Keberadaan karya-karya Liberty Manik pada masa Orde Lama
3. Pemikiran Liberty Manik dalam syair lagu dan tulisan
4. Semangat nasionalisme Liberty Manik
1.3. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana riwayat hidup Liberty Manik hingga menjadi komponis?
2. Bagaimana keberadaan karya-karya Liberty Manik ?
3. Bagaimana pemikiran Liberty Manik dalam syair lagu dan tulisan?
4. Bagaimana semangat nasionalisme Liberty Manik?
1.4. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui riwayat hidup Liberty Manik hingga menjadi
komponis.
2. Untuk mengetahui keberadaan karya-karya Liberty Manik
3. Untuk memahami pemikiran Liberty Manik melalui syair lagu dan
tulisan.
1.5 Manfaat Penelitian
2. Untuk mengetahui riwayat kehidupan Liberty Manik.
3. Memberikan wawasan bagi peneliti dan pembaca mengenai
keberadaan karya-karya Liberty Manik
4. Memberikan wawasan bagi peneliti dan pembaca mengenai pemikiran
nasionalisme Liberty Manik dalam syair lagu dan tulisan.
5. Sebagai bahan pengetahuan dan keterampilan peneliti dalam penulisan
suatu karya ilmiah.
6. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang berkeinginan meneliti
Liberty Manik lebih lanjut ditempat dan waktu serta pendekatan yang
berbeda.
7. Menambah perbendaharaan karya ilmiah bagi lembaga pendidikan
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Liberty Manik sebagai salah seorang putra daerah Dairi yang lahir pada
tanggal 21 Nopember 1924 di desa Hutamanik, Kecamatan Sumbul
Pegagan merupakan seseorang yang mandiri, disiplin, berpendirian teguh,
tegas dan cerdas. Sejak bangku sekolah, beliau telah memperlihatkan
bahwa beliau memiliki prestasi yang baik. Sedangkan bakat dan talentanya
dibidang musik juga sudah tampak sejak kecil yang dibuktikan dengan
kemampuannya memainkan beberapa alat musik seperti seruling, dan
kecapi. Keberangkatannya untuk belajar di H.I.K Xaverius College
Muntilan setelah lulus ujian termasuk ujian bahasa Belanda,
mempertemukannya dengan Cornel Simanjuntak. Belajar di H.I.K
Muntilan memberikan pengalaman baru bagi Liberty Manik, baik dalam
perkembangan pengetahuannya di bidang musik juga pembentukan
karakter Liberty Manik yang mendapat pengaruh dari Barat.
2. Selama tinggal di Yogyakarta, Liberty Manik turut merasakan dan melihat
peristiwa-peristiwa pasca kemerdekaan Indonesia, ketika Belanda
melancarkan serangan agresi yang pertama. Pengalaman batin dimasanya
telah mendorong Liberty Manik menciptakan sebuah karya, Satu Nusa
Indonesia. Semasa hidupnya, beliau menciptakan enam buah lagu-lagu
Indonesia disamping itu juga turut menggubah lagu-lagu gerejawi.
Sebelum keberangkatannya ke Eropa, Liberty Manik juga turut menulis
berbagai artikel di bidang musik di media cetak. Kemampuannya
menguasai teknik permainan alat musik dan pengetahuan ilmu musik telah
mendukungnya untuk melakukan hal tersebut.
3. Setelah lama bermukim di Eropa, atas undangan keluarga besar Golongan
Karya, Liberty Manik kembali ketanah air dan menyelidiki musik-musik
rakyat di daerah Tapanuli. Selama tiga bulan beliau aktif menyelidiki
musik Batak sampai kepedalaman daerah Pakpak Dairi, Samosir, Toba,
Karo, Simalungun, Sipirok dan Mandailing.
4. Dalam lagu gubahan Liberty Manik terdapat semangat nasionalisme
Indonesia seperti yang tercantum dalam Pancasila, khususnya sila ketiga
yaitu Persatuan Indonesia. Persatuan Indonesia ditandai dengan rasa cinta
tanah air, bangga menjadi bagian dari bangsa dan masyarakat Indonesia,
menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi ataupun
kelompok, mengakui dan menghargai keanekaragaman yang ada di
Indonesia, ikut memajukan dan mengharumkan nama Indonesia serta
membangun rasa persaudaraan. Ide persatuan Indonesia tersebut tampak
dalam karyanya yang fenomenal “Satu Nusa Satu Bangsa” dan “Negara
Jaya”. Karakter dan kepribadian Liberty Manik sangat kuat. Ditandai
dengan penuturannya yang tidak akan menciptakan lagu-lagu yang untuk
diperjualbelikan. Pengalaman dalam menciptakan lagu menyebabkan
5.2 Saran
1. Fakta sejarah dapat dipahami dengan baik hanya jika terlebih dahulu
memahami kondisi yang melatarbelakanginya. Demikian halnya dengan
lagu-lagu perjuangan yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan
bangsa Indonesia. Lagu-lagu perjuangan mampu menumbuhkan semangat
nasionalisme dan patriotisme yang berperan penting dalam menjaga
kesatuan suatu bangsa. Untuk itu, marilah seluruh masyarakat Indonesia
menghargai lagu-lagu perjuangan serta penciptanya. Dengan demikian
bersama-sama mewujudnyatakan setiap harapan dalam lagu-lagu
perjuangan.
2. Lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib nasional berdasarkan Instruksi
Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan No.1 tanggal 17
Agustus 1959 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963 merupakan
lagu-lagu yang wajib diajarkan di setiap sekolah dari tingkat dasar sampai
perguruan tinggi. Sebaiknya tenaga pendidik mengajarkan baik
penghafalan lirik lagu, teknik menyanyikan, aspek sejarahnya, bahkan
sejarah dari pencipta atau komponis lagu tersebut. Sehingga peserta didik
memahami perjalanan bangsanya dan mampu menghargai setiap karya
dari pahlawannya tidak terkecuali pahlawan di bidang musik. Dengan
demikian diharapkan akan lahir generasi-generasi yang mencintai bangsa
3. Bagi seniman-seniman musik agar ketika menciptakan lagu-lagu wajib
nasional tidak berorientasi pada materi yang akan dihasilkan sesudahnya
tetapi karena rasa nasionalisme dan patriotrisme terhadap bangsa dan
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Gramedia : Jakarta Anderson, Benedict. 2008. Imagined Communities. Insist: Yogyakarta
Dungga, dan Manik. 1952. Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannya. Balai Pustaka : Jakarta
Fu’ad, Zulfikar. 2008. Menulis Biografi. Life Story Publisher :Yogyakarta
Gottschalk, Louis. 2008. Mengerti Sejarah. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Harahap, Syahrin. 2014. Metodologi Studi Tokoh dan Penulisan Biografi. Prenada : Jakarta
Huen, Lim Pui, dkk. 2000. Sejarah Lisan Di Asia Tenggara. LP3ES : Jakarta
Kartodirdjo, Sartono.1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia : Jakarta
Koentowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Tiara Wacana Yogya : Yogyakarta
2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Bentang Pustaka: Yogyakarta.
Ricklefs,M.C. 1999. Sejarah Indonesia Modern. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Sinaga, Armeindo. 2014. Cornel Simanjuntak : Pejuang dan Komponis Indonesia dari Pematang Siantar (1921-1946) Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Unimed., Skripsi, FIS, Unimed, Medan.
Sidjabat, W. 1968. Partisipasi Kristen Dalam Nation Building di Indonesia. BPK : Bandung Simanjuntak, Payaman. 1992. Seniman Pejuang dan Pejuang Seniman. HIPSMI : Jakarta Sirait, H. 2007. “Cornel Simanjuntak-Sekali Berarti Lalu Mati”. Tatap Nomor 4
Sjamsuddin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Ombak: Yogyakarta.
Soedarsono,R.M. 1998. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta.
Soekarno. 1963. Dibawah Bendera Revolusi Jilid I. Jakarta.
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis. Angkasa: Bandung