RETURN SAHAM SUB-SEKTOR OTOMOTIF YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN
2010-2012.
(Skripsi)
Oleh
RIO BAYU INDRAWAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PENGARUH MONEY SUPPLY, KURS RUPIAH, RETURN MARKET DAN HARGA MINYAK DUNIA TERHADAP RETURN SAHAM SUB-SEKTOR OTOMOTIF YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
TAHUN 2010-2012
Oleh:
RIO BAYU INDRAWAN
Investasi adalah kegiatan penanaman dana di Pasar Modal dengan harapan mendapatkan keuntungan dari hasil penempatan dana tersebut. Melalui kegiatan investasi, maka investor akan memperoleh return. Return merupakan hasil yang diperoleh melalui sebuah investasi yang telah dilakukan sebelumnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat signifikansi faktor makro ekonomi yang mempengaruhi return saham sub sektor otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012 variabel makro yang digunakan yaitu money supply, kurs rupiah, return market dan harga minyak. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 12 perusahaan sub sektor otomotif . Data sekunder perusahaan diperoleh melalui situs Indonesian Capital Market Directory, website IDX, Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik. Data-data tersebut diolah melalui metode penelitian analisis linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel bebas money supply, kurs rupiah, return market dan harga minyak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham sebesar 32,8%,sedangkan sisanya sebesar 67,2% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini.
THE INFLUENCE OF MONEY SUPPLY, RUPIAH EXCHANGE, MARKET RETURN, AND THE WORLD OIL MARKET PRICE AGAINTS TOWARD RETURN OF SUB-SECTOR AUTOMOTIVE
STOCK LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE (IDX) YEAR 2010-2012
By:
RIO BAYU INDRAWAN
Investment is planting of funds in the capital market with the hope to benefit from the results of the above funds. Through investment, then the investor will earn returns. Return the result obtained through an investment that has been done before.
This study aims to analyze the level of significance of macroeconomic factors that affect stock returns automotive sub-sectors listed on the Indonesia Stock
Exchange in 2010-2012 macro variables used are money supply, exchange rate, market returns and oil prices. The samples used in the study of 12 automotive sub-sector enterprises. Secondary data obtained through the company's website
Indonesian Capital Market Directory, IDX websites, Bank Indonesia and the Central Bureau of Statistics. These data are processed through multiple linear analysis research methods.
The results showed that the independent variables money supply, exchange rate, market returns and oil prices significantly affect stock return of 32.8%, while the remaining 67.2% is explained by other factors outside the study.
.TOMOTIF YANG TEROAFTAR DI BURSA EFEK INDOTIESIA
(BEii
TAHUN 20IO,zOJ2
0leh
C{o
!}a1u
clndro.wan
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat unluk Mencapai Geiar
SARJANA EKONOIII
Pada
Jurusan Jvanaiemen
FalLrlas Ekonomi dan BisnisllnieeEil$ LlmF,ont
UNIVERSITAS LAMPUN
BAIIDAR
LAMPUTIGffi
Nonor
rokol
MandisMc\!o
![ayr
Qndror.rron
091!011097
MENYETUJUI
r Psnji Nesa.a S.!.. M.E.
I974050t ,00801 1oo7
2,
KctuaJurullo
Matraj€netrIIj,
Aidr S ii, s.E.. M.Si. Syrtibi Cb, S.E,r9510203193J01r
di ini:
NPM.. :0911011097
Prosm
Snldi:sl
Mmjeoen
Juduislripsi
:IdeanrnM,,€ySupplt,KwRlpiat\
Rasa
Matket dtu llawa Minyal Dmia Terhada! ,4n/,
Sane Sub Sektor Otonotity
gT€rddtar di BUN Elek hdoDesia (BEI) Tahu 20 r O,2Ot2.
Densm ini nenya&lm bahwa:
L
Hdil
Penelitiar/Skdpsiseia
SunberInfoMi/Dala
adatahb€m
nerupal@
hail
tarya seodidd{
bolm
diajurmdalm
bentutr apapuk€pada
pergha
tinegime
pu.
S@u
smbcr
daladd
infomdi
]mg
b6al
ataudi(atip
d.ri
k ryayds
ditorbiite
mupb
litjak diGrbitkmddi
Feuris lain 1€la!disbu&{
dalm let s d&dimrKks
dalm
DaIi{
PBtla
dibasie athnEail
tereliriadskipsi ini;2.
Menyemntm s@enuhnyabs'l
lFrelni
s]a dald
bentuk ga.dC,r,
da
Soll CopySbpsi
ulul
dipublitciton
&e ncdiaetal
ataupuelekfonil
LepadaJurud
MtujedcD f"l<ultu
Urorom,dtu
Bhnjs univeArlasLmpuA,
3.
Tidalatd
noutu
n€ninr!s
iingi
ilatah€ntul
apapu aras sogatassut!
y
gdiblula
ol€bJUrue
Mtuajemcn Fakllras Ekonohidd
Bisds
Univ4iia
LspuB
tdhadapE6il
Penel'riar/Skipsi saya inii1.
Ap,brloknrdta direnudiu
hri
peldtrq
rh.ipsiin
nmpakants,t
plagiaabl
pen,iplal,,krhddp
k"ryaotrg
tai4.tuta
sy€
be eddhendim sr*si berdekm
aim
&r. terribyeg
berlaku di Univ6iras|mpug
dd
sdksi
hulh
tag
bqlahu diNege
K6atm
RepublikDemiki&lah sunl pcmyataa inj
s}€
bur
dengd s€sugguJmya.btuk
dapal dip€rgunalsn*basain@
mesrinya.Bed
tffpus
4 Okobd 201lHalaman
I. PENDAHULUAN ……….. 1
1.1Latar Belakang……… 1
1.2Perumusan Masalah……… 6
1.3 Batasan Penelitian……… 6
1.4Tujuan dan Manfaat Penelitian……….. 7
1.5Kerangka Pemikiran……… 8
1.6Hipotesis……… 11
II. LANDASAN TEORI………. 12
2.1 Landasan Teori……….. 12
2.1.1 Pengertian Pasar Modal………. 12
2.1.1.2 Jenis-jenis Pasar Modal……… 14
2.1.1.3 Peranan dan Fungsi Pasar Modal……….. 15
2.2 Return Saham……….. 18
2.3 Money Supply... 22
2.4 Kurs Rupiah……… 24
2.5 Return Market……….. 24
2.6 Harga Minyak Dunia……….. 25
2.7penelitian Terdahulu……….. 27
III.METODE PENELITIAN……… 30
3.1 jenis dan sumber data……… 30
3.2 metode pengumpulan data……… 30
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian……… 31
3.4 variabel operasional penelitian………. 32
3.4.1 Variabel Dependen………. 32
3.4.2 Variabel Independen... 32
3.5 metode analisis……… 36
IV. PEMBAHASAN……… 44
4.1 gambaran umum objek penelitian……… 44
4.2 hasil uji deskriptif……….. 44
4.3 hasil uji Asumsi Klasik……… 46
4.3.1 hasil uji Normalitas……… 46
4.3.2 uji Multikolinieritas……… 48
4.6 hasil Uji R2………. 55
4.7 implikasi hasil penelitian……….. 56
V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 58
5.1 KESIMPULAN……… 58
5.2 SARAN………. 59
Tabel Halaman
3.1 Daftar Perusahaan Otomotif yang Menjadi Sampel………. …… 31
4.1 Hasil Analisis Deskriptif ………... 45
4.5 Hasil Uji Kolmogorov Smirnov………... 48
4.6 Hasil Uji Multikolinieritas………... 49
4.7 Hasil Uji Durbin Watson………... 51
4.8 Hasil Uji T………... 52
4.9 Hasil Uji F………... 54
Gambar Halaman
1.1 Kerangka Penelitian……….. 11
4.2 Grafik Histogram……….. 46
4.3 Grafik Normal Probability Plot………. 47
Lampiran
1. Daftar perusahaan Otomotif dan Komponen yang Menjadi Sampel.
2. Daftar IHSI perusahaan sub sektor otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012.
3. Data bulanan return saham, money supply, kurs, return market dan harga minyak dunia.
4. Hasil Uji Deskriptif. 5. Hasil Uji Normalitas. 6. Hasil Uji Multikolinieritas. 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas. 8. Hasil Uji Autokorelasi. 9. Hasil Uji T.
10. Hasil Uji F.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Investasi adalah penempatan dana atau uang dengan harapan agar mendapatkan
keuntungan dari hasil penempatan dana atau uangnya tersebut. Pelaku Investasi
disebut Investor. Menurut James C. Van Horn (1981) Investasi adalah kegiatan
yang dilangsungkan dengan memanfaatkan kas pada masa kini untuk tujuan
menghasilkan barang di masa mendatang. Investasi banyak jenisnya, namun
Investasi yang paling sering dilakukan adalah investasi pada pasar modal berupa
kepemilikan saham. Pasar Modal adalah lembaga keuangan yang memiliki
kegiatan berupa penawaran dan perdagangan surat berharga atau biasa disebut
efek, sedangkan saham adalah tanda penyertaan modal pada perusahaan perseroan
terbatas.
Menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin (2002:2), peranan dan
fungsi pasar modal sangatlah penting bagi perekonomian sebuah negara. Karena
pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi
keuangan. Dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena menyediakan fasilitas atau
wahana mempertemukan pihak Investor dan pihak issuer (penerbit saham). Pasar
kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana
selaku investor sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Melalui
kegiatan investasi, maka investor akan memperoleh return. Return merupakan
hasil yang diperoleh melalui sebuah investasi yang telah dilakukan sebelumnya.
Seorang investor tentu mengharapkan return, karena return merupakan
keuntungan dari hasil kegiatan investasi yang telah dilakukan. Menurut Jogiyanto
(1998), return saham dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Return Realisasi (Realized
Return) dan Return Ekspetasi (Expected Return). Return realisasi adalah return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return ini dinilai
penting dalam pengukuran kinerja perusahaan dan digunakan sebagai dasar
penentuan return dan resiko di masa mendatang. Return Ekspetasi adalah return
yang yang akan diperoleh di masa mendatang namun sifatnya tidak pasti. Semakin
besar return yang diharapkan oleh investor, maka semakin besar pula resiko yang
nantinya akan diterima. Karena dalam berinvestasi, Investor akan menghadapi
ketidakpastian antara return dan resiko yang akan diperolehnya.
Jogiyanto (2003) memaparkan bahwa terdapat 2 jenis analisis untuk menentukan
return saham perusahaan, yaitu Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal.
Analisis Fundamental adalah analisis yang digunakan untuk menghitung nilai
intrinsik saham dengan menggunakan data keuangan perusahaan, contohnya
seperti laba perusahaan, penjualan dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud
contohnya seperti harga dan volume transaksi saham untuk menentukan nilai dari
saham.
Analisis kondisi ekonomi merupakan analisis terhadap faktor-faktor eksternal
yang bersifat makro, seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar perusahaan
namun memiki pengaruh terhadap perusahaan dan faktor-faktor ini tidak dapat
dikendalikan oleh perusahaan. Kondisi perekonomian yang stabil sangat
menguntungkan bagi Investor. Karena dengan begitu akan membawa pengaruh
yang positif terhadap pasar modal. Namun jika kondisi perekonomian tidak stabil,
maka akan merugikan karena investor akan berhati-hati dalam melakukan
transaksi (Suad Husnan, 2005). Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan
Analisis kondisi ekonomi sebagai variabel penelitian, yaitu Money Supply, Kurs
Rupiah, Return Market dan Harga Minyak Dunia sebagai variabel independen (x)
dan return saham sebagai variabel dependen (y).
Rusbiandi (2012) menggunakan 30 saham Jakarta Islamic Index (JII) syariah
paling likuid dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar sebagai sampel
penelitian. Dalam penelitiannya yang menguji pengaruh Inflasi, Harga Minyak
Dunia, Kurs rupiah dan harga Emas Dunia terhadap saham Jakarta Islamic Index
(JII) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuktikan bahwa variabel Harga Minyak
Dunia berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap JII di BEI
selama periode Januari 2005 hingga Maret 2012. Hal ini ditunjukan oleh nilai arah
koefisien regresi pada variabel harga minyak dunia yang bernilai positif yaitu
Inflasi dan Kurs Rupiah berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan variabel
harga emas dunia tidak berpengaruh signifikan secara statistik terhadap JII.
Kapindho (2011), meneliti pengaruh variabel makro ekonomi terhadap indeks
LQ45 di BEI membuktikan variabel tingkat inflasi, kurs, tingkat suku bunga dan
money supply memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham secara parsial dan simultan. Namun secara parsial, kurs memiliki pengaruh yang negatif
yang signifikan terhadap return saham. Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung
yang lebih besar dari t tabel, yakni sebesar 4.266 > 1.68. Nilai Adjusted R2
sebesar 0.408821 yang berarti. Tingkat suku bunga BI rate dan kurs menjelaskan
variasi Indeks LQ45 sebesar 40,88% dan sisanya sebesar 59,12% dijelaskan oleh
faktor lain yang tidak dicantumkan pada model.
Prasetiono (2010), meneliti pengaruh faktor fundamental ekonomi makro dan
harga minyak terhadap saham LQ45 membuktikan bahwa variabel harga minyak
dalam jangka pendek mengalami pertumbuhan sebesar 1% maka saham LQ45
mengalami kenaikan 0,09% dan 0,59%. Sedangkan pada variabel tingkat suku
bunga SBI dan kurs mengalami kenaikan sebesar 2,7% dan 3,81% jika tingkat
pertumbuhannya mencapai 1%. Dan pada jangka panjang variabel kurs dan harga
minyak jika tumbuh sebesar 1% maka saham LQ45 mengalami pertumbuhan
sebesar 1,17% dan 0,72%.
Rivai (2008), meneliti pengaruh return indeks IHSG, sertifikat Bank Indonesia,
inflasi dan suku bunga terhadap return nilai aktiva bersih reksadana membuktikan
bahwa variabel return IHSG ternyata berpengaruh positif terhadap retun NAB
terhadap NAB. Dan variabel inflasi tidak berpengaruh terhadap NAB. Ketika
return IHSG naik terjadi subscription reksadana dan sebaliknya, ketika return
IHSG turun maka akan terjadi reedemption.
Raharjo (2010), dalam penelitiannya yang menggunakan variabel Inflasi, Kurs
Rupiah dan Tingkat Suku Bunga SBI membuktikan variabel tingkat suku bunga
SBI dan Kurs tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham di
Bursa efek Indonesia periode tahun 2007-2009. Tingkat signifikansi
masing-masing variabel adalah 0,808 > 0,05 dan 0,054 > 0,05. Sedangkan variabel Inflasi
berpengaruh positif dan memiliki tingkat signifikansi 0,000 > 0,05.
Witjaksono (2010), dalam penelitiannya membuktikan bahwa variabel harga
minyak dunia, harga emas dunia, dan Indeks Nikkei 225 berpengaruh positif
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan variabel independen
lainnya seperti tingkat suku bunga dan kurs rupiah berpengaruh negatif terhadap
IHSG selama periode tahun 2000-2009.
Maryanne (2009), meneliti pengaruh Nilai Tukar (Kurs) rupiah, Suku Bunga SBI,
Volume Perdagangan Saham, Inflasi dan Beta Saham terhadap Harga Saham di
BEI periode 2004-2007. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa variabel
independen Kurs tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham
secara parsial. Sedangkan variabel independen lainnya seperti Tingkat Suku
Bunga SBI berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap harga saham
secara parsial, dan variabel Volume Perdagangan saham berpengaruh secara
Berdasarkan hasil dari penelitian-penelitian diatas, maka penulis tertarik untuk
meneliti pengaruh variabel Money Supply, Kurs Rupiah, Return Market dan Harga
Minyak Dunia terhadap return saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap return saham sub-sektor
otomotif yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia antara tahun 2010-2012.
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka penulis tertarik menulis skripsi dengan
judul:
Analisis Pengaruh Money Supply, Kurs Rupiah Terhadap US Dollar, Return Market dan Harga Minyak Dunia Terhadap Return Saham Sub-Sektor Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010-2012.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan oleh penulis, maka perumusan
masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
Apakah ada pengaruh yang signifikan antara variabel Money Supply, Kurs
Rupiah, Return Market dan Harga Minyak Dunia Terhadap Return Saham
Sub-Sektor Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012.
1.3Batasan Penelitian
Untuk memfokuskan penelitian agar penelitian ini memiliki arah yang jelas,
Penelitian ini menggunakan data dalam kurun waktu 3 tahun, yaitu tahun
2010, 2011 dan 2012
Penelitian ini memiliki batasan daerah berupa perusahaan-perusahaan
otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
1.4Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
Untuk membuktikan apakah terdapat pengaruh signifikan Money Supply, Kurs
Rupiah, Return Market dan Harga Minyak dunia terhadap Return Saham
Sub-Sektor Otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain adalah:
1. Bagi Investor, penelitian ini bermanfaat sebagai informasi serta dapat
membantu Investor untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi return saham sehingga investor dapat mempertimbangkan
strategi dan keputusannya dalam kegiatan investasi.
2. Bagi Akademisi, hasil dan kesimpulan dari penelitian ini diharapkan dapat
1.5 Kerangka Pemikiran
Money Supply atau jumlah uang beredar adalah jumlah keseluruhan dari uang yang beredar di suatu negara pada waktu tertentu. Uang yang beredar terdiri dari
uang giral, deposito, dan surat-surat berharga lainnya. Menurut Lipsey dan Steiner
(1992) dalam Kapindho (2011) money supply adalah stok uang dalam
perekonomian pada saat tertentu. Definisi jumlah uang beredar yang paling sempit
disebut M1 yang mencakup uang kartal dan deposit yang dapat digunakan sebagai
alat tukar. Definisi yang lebih luas adalah M2 dan juga M3. Definisi dari M2
adalah jumlah dari M1 yang ditambah dengan tabungan dan simpanan jangka
pendek. Sedangkan M3 adalah hasil penjumlahan dari M2 dengan komponen
sertifikat deposito yang bersatuan luas. Money supply berpengaruh negatif
terhadap return saham. Kebijakan Bank Sentral dalam mengatur uang yang
beredar ikut berperan dalam mengendalikan inflasi. Karena jika terjadi inflasi,
investor akan merasa ragu menanamkan modalnya dan ini akan ikut menurunkan
harga saham. Jika harga saham turun maka return saham juga ikut menurun.
Kurs atau nilai tukar mata uang adalah suatu perbandingan antara nilai mata uang
suatu negara dengan mata uang negara lain. Heru (2008) menyatakan bahwa nilai
tukar mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran mata uang dalam
negeri terhadap mata uang negara asing. Dalam penelitian ini akan digunakan
perbandingan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD). Rusbariandi
(2012) menyatakan bahwa hubungan antara nilai tukar rupiah dengan kurs asing
dapat dilihat melalui pendekatan pasar barang (good market aproach). Perubahan
pendapatan perusahaan. Jika kurs mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika
Serikat menguat, maka akan berpengaruh positif terhadap saham. Karena investor
akan tertarik menanamkan modalnya pada perusahaan. Maka, harga saham akan
menguat dan return yang dihasilkan akan naik.
Return Market atau return pasar adalah tingkat keuntungan dari indeks pasar yang akan diterima oleh investor (Sunariyah:2003:147). Indeks pasar yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Indeks ini memperdagangkan saham-saham biasa maupun saham-saham preferen
di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan IHSG setiap harinya dipengaruhi oleh nilai
saham, baik disaat saham naik ataupun turun. Berapapun kenaikan harga saham
tersebut akan ikut mempengaruhi IHSG. Saham-saham besar umumnya sangat
berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Kenaikan harga saham gabungan
berpengaruh positif terhadap return saham. Karena menguatnya harga saham akan
meningkatkan return saham perusahaan.
Menurut Institute of Petroleum (IP) Minyak Bumi adalah suatu zat yang terjadi
dalam bumi yang sebagian besar terdiri dari Hidrokarbon padatan, cairan, dan gas.
Kebanyakan minyak bumi mengandung emulasi air, garam anorganik yang
mungkin terbentuk dalam pengeboran dan pengaliran atau pengangkutan. Minyak
bumi adalah bahan bakar yang berasal dari fosil yang telah berusia jutaan tahun.
Minyak bumi berperan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Kegunaan Minyak Bumi memiliki peranana penting dalam kehidupan manusia,
kendaraan ataupun berperan sebagai energi yang menggerakan aktivitas rumah
tangga dan industri.
Menurut Prasetiono (2010), kenaikan harga minyak Dunia dapat memberikan
dampak yang berbeda pada setiap harga saham, baik pada saham perusahaan yang
bergerak di bidang pertambangan maupun saham pada perusahaan yang bergerak
di luar bidang pertambangan. Pada perusahaan non pertambangan, kenaikan harga
minyak bisa membawa dampak yang negatif karena akan mengakibatkan
kenaikan biaya produksi dan secara tidak langsung akan menurunkan harga
saham. Sedangkan pada perusahaan pertambangan kenaikan harga minyak akan
berdampak positif pada penerimaan yang akan diperoleh yang akan
mengakibatkan kenaikan harga saham.
Pada saham sub sektor otomotif, kenaikan harga minyak berpengaruh negatif
terhadap return perusahaan. Karena jika harga minyak naik, maka harga
komponen industri perusahaan dan biaya produksi juga ikut naik. Maka, produk
atau barang yang dihasilkan akan dilabeli harga yang mahal dan akan membuat
konsumen enggan mengeluarkan uangnya untuk membeli barang tersebut.
Menurunnya jumlah konsumen akan membuat return perusahaan juga ikut turun.
Berdasarkan uraian diatas, maka variabel independen (bebas) dalam penelitian ini
adalah Money Supply, Kurs Rupiah, Return Market dan Harga Minyak Dunia.
Sedangkan variabel dependen (terikat) adalah return saham. Sehingga kerangka
Gambar Kerangka Penelitian:
1.6Hipotesis
Melalui perumusan masalah yang telah diuraikan, penulis mengemukakan
hipotesis:
Diduga terdapat pengaruh signifikan variabel money supply, kurs rupiah, return
market dan harga minyak terhadap return saham Sub Sektor Otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Money Supply (X1)
Kurs Rupiah
(X2) Return Saham
(Y)
Return Market (X3)
Harga Minyak Dunia
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Pasar Modal
Secara umum, Pasar Modal adalah lembaga keuangan yang memiliki kegiatan
berupa penawaran dan perdagangan surat berharga (efek) yang memiliki jangka
waktu lebih dari satu tahun. Surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal
yaitu obligasi, saham, waran,right, reksa dana, dan bebagai instrumen derivatif lainnya sepertioptiondanfuture. Pasar modal juga merupakan tempat dimana perusahaan dapat mencari dana segar sebagai tambahan modal. Perusahaan
menggunakan dana tersebut untuk berusaha meningkatkan keuntungan atau laba
perusahaan. Dana yang terdapat di pasar modal berasal dari masyarakat selaku
Investor atau pelaku investasi.
Undang-Undang Negara Republik Indonesia nomor 8 tahun 1995, menyebutkan
bahwa pasar modal adalah segala kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan penawaran efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkan, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal
memiliki peran yang penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal
pendanaan usaha suatu perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat
pemodal atau yang biasa disebut Investor. Dana yang diperoleh perusahaan dapat
digunakan untuk mengembangkan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan
lain-lain. Fungsi yang kedua, pasar modal berfungsi sebagai sarana bagi
masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi,
reksa dana dan lain-lain.
Husnan (1998:3) menyebutkan bahwa: secara formal pasar modal dapat
didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka
panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal
sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, publikauthorities, maupun perusahaan swasta. Dengan demikian pasar modal memiliki definisi yang lebih
sempit dari pasar keuangan. Tandelilin (2001:7) berpendapat bahwa:“pengertian
klasik dari pasar modal adalah pengertian sebagaimana yang ada di negara-negara
kapitalis seperti Amerika Serikat, yaitu suatu bidang usaha perdagangan
surat-surat berharga seperti saham, obligasi dan sekuritas efek.
Sunariyah (2000) mengungkapkan bahwa pasar modal adalah suatu pasar (tempat,
yaitu berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham,
obligasi-obligasi dan berbagai jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa
para perantara pedagang efek. Pada umumnya surat-surat yang diperdagangkan di
pasar modal dapat dibedakan menjadi surat berharga yang sifatnya hutang dan
surat berharga yang sifatnya menjadi kepemilikan. Surat berharga yang sifatnya
disebut saham. Obligasi dapat diartikan sebagai bukti pengakuan hutang dari
perusahaan, sedangkan pengertian dari saham yaitu bukti penyertaan dari
perusahaan.
Dalam pengertian yang klasik, pasar modal didefinisikan sebagai sarana dimana
surat-surat berharga yang sifatnya jangka panjang diperjualbelikan. Pasar modal
memiliki tujuan normatif mencapai keuntungan yang optimal. Pasar modal juga
memiliki peran sebagai intermediasi atau menjembatani pihak yang membutuhkan
modal dengan pihak yang kelebihan modal. Pasar modal memiliki peran penting
bagi perkembangan ekonomi karena sebagai sumber pembiayaan eksternal bagi
dunia usaha.
2.1.1.2 Jenis-jenis Pasar Modal
Tandelilian (2001) menjelaskan beberapa jenis dari pasar modal, yaitu:
a. Pasar Perdana (Primary Market)
Yang dimaksud dengan Pasar Perdana adalah penawaran dari perusahaan yang
menerbitkan saham (emiten) kepada investor selama kurun waktu yang
ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut
diperdagangkan di Pasar Sekunder.
b. Pasar Sekunder (Secondary Market)
Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah melewati
c. Pasar Ketiga (Third Market)
Pasar Ketiga didefinisikan sebagai tempat perdagangan saham atau sekuritas
di luar bursa (over the counter market). Di Indonesia, bursa ketiga disebut
bursa paralel.
d. Pasar Keempat (Fourth Market)
Pasar Keempat adalah bentuk dari perdagangan efek antar investor atau
dengan kata lain pengalihan saham ke suatu pemegang saham ke pemegang
saham lainnya tanpa melalui perantara pedagang efek.
2.1.1.3 Peranan dan Fungsi Pasar Modal
Pasar Modal memiliki peranan penting dalam suatu Negara. Pada dasarnya
peranan tersebut memiliki kesamaan antara suatu negara dengan negara lain.
Hampir seluruh negara di dunia memiliki pasar modal. Negara yang maju ataupun
negara yang sedang berkembang sama-sama memerlukan tambahan modal
sebagai faktor penting dalam pengembangan perusahaan yang ada di setiap
masing-masing negara. Bagi negara yang sedang berkembang seperti negara
Indonesia, kurangnya dana perusahaan menjadi masalah dalam melakukan
ekspansi. Perusahaan tentunya memerlukan tambahan dana. Di sinilah peranan
pasar modal selaku tempat bertemunya permintaan dan penawaran modal. Pasar
Modal mempertemukan masyarakat pemilik dana lebih selaku calon investor
dengan perusahaan yang membutuhkan dana untuk pengembangan dan ekspansi
Menurut Sunariyah (1997) besarnya peranan pasar modal pada suatu negara dapat
dilihat melalui aspek-aspek berikut ini:
1. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk
menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjualbelikan.
2. Pasar Modal memberi kesempatan kepada Investor untuk memperoleh
hasil (return) yang diharapkan.
3. Pasar modal memberi kesempatan kepada Investor untuk menjual kembali
saham atau surat berharga yang dimilikinya.
4. Pasar Modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian.
5. Pasar modal mengurangi biaya transaksi dan transaksi surat berharga.
Peranan Pasar Modal dalam perekonomian suatu Negara yaitu:
a. Fungsi Tabungan (Saving Function)
Menabung selalu identik dengan pengertian menyimpan uang di Bank.
Namun, suatu Investasi dapat menjadi tabungan bagi Investor. Surat berharga
yang diperdagangkan di Pasar Modal seperti saham menjadi cara yang efisien
dan efektif untuk menyimpan dana serta memperoleh keuntungan dari
kegiatan investasi.
b. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)
Pasar Modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan jangka panjang
digunakan. Cara ini jauh lebih baik karena kekayaan tidak akan mengalami
depresiasi atau penurunan nilai seperti aktiva yang lain.
c. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan di surat berharga dapat dilikuidasi melalui pasar
modal dengan risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan aktiva lain. Proses
likuidasi surat berharga berjalan dengan cepat dengan biaya yang lebih murah.
d. Fungsi Pinjaman (Credit Function)
Bagi perekonomian suatu negara, Pasar Modal merupakan sumber
pembiayaan pembangunan dari pinjaman yang dihimpun dari masyarakat.
Perusahaan juga menjual obligasi untuk mendapatkan dana dari masyarakat.
Menurut Kasmir (2008), dalam Pasar Modal barang yang diperjualbelikan
dikenal dengan istilah instrumen Pasar Modal. Jenis-jenis instrumen pasar
modal adalah sebagai berikut:
a. Saham (Stocks)
Saham merupakan surat berharga yang sifatnya kepemilikan. Dengan kata
lain, pemilik saham adalah pemilik perusahaan. Semakin besar nilai saham
yang dimilikinya, maka akan semakin besar pula kekuasaannya atas
perusahaan tersebut. Laba atau keuntungan dari kepemilikan saham disebut
dengan deviden. Pembagian deviden harus berdasarkan ketentuan Rapat
b. Obligasi (Bonds)
Obligasi merupakan instrumen utang bagi perusahaan yang hendak
memperoleh modal. Keuntungan dari pembelian obligasi biasanya berbentuk
kupon. Tidak seperti saham, obligasi tidak memiliki hak terhadap manajemen
dan kekayaan perusahaan.
c. Waran
Waran adalah efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak
kepada pemegang waran untuk memesan saham dari perusahaan tersebut
dengan harga dan pada jangka waktu tertentu.
d. Sertifikat Danareksa
Sertifikat danareksa merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh PT
Danareksa (Persero) untuk mewakili efek/surat berharga yang dibeli oleh PT
Danareksa sebagai pendukung atau jaminannya. Sedangkan, sertifikat dana
adalah jenis sertifikat atas tunjuk yang didukung oleh portepel yang berasal
dari sebagian kekayaan danareksa yang dipisahkan, yang terdiri atas saham,
obligasi dan surat berharga pasar uang dimana pengelola portepelnya
dilakukan oleh danareksa selaku pengelola dana.
2.2 ReturnSaham
Returnsaham didefinisikan sebagai hasil yang diperoleh melalui kegiatan investasi. Ang (1997) mengungkapkan bahwareturnsaham adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas investasi yang telah dilakukannya.
maupun investasi jangka pendek memiliki tujuan utama yaitu mendapatkan
keuntungan yang disebutreturn, baik langsung maupun tidak langsung. Melalui penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tujuan utama dari kegiatan
investasi tentunya adalah mendapatkan keuntungan. Investor selaku pemodal
menempatkan dananya pada suatu perusahaan dengan harapan mendapatkan laba
atau keuntungan berupareturn.
Menurut Jogiyanto (2003), Return terbagi menjadi dua jenis yaitu,Return Realisasi (Realized Return) danReturnEkspetasi (Expected Return).Return Realisasi adalahreturnyang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Returnini dinilai penting dalam pengukuran kinerja perusahaan dan digunakan sebagai dasar penentuanreturndan resiko di masa mendatang.Returnekspetasi adalahreturnyang return yang akan diperoleh di masa mendatang namun sifatnya tidak pasti. Semakin besarreturnyang diharapkan oleh investor, maka semakin besar pula resiko yang nantinya akan diterima.
Perhitungan return saham atauTotal Returnterdiri daricapital gain(loss) dan yield(jogiyanto:1998).Capital gainadalah selisih antara nilai pembelian saham dengan nilai penjualan saham. Dengan kata lain,Capital Gainadalah keuntungan yang diperoleh oleh pemegang saham. Pendapatan yang yang berasal daricapital gainini disebabkan dari harga jual saham yang lebih besar dari harga belinya.
Yieldadalah pembagian laba bersih dari badan usaha kepada pemegang saham yang telah diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).Yieldbiasa disebut dengan istilah Dividen. Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dan
kas yang tersedia bagi perusahaan, tapi distribusi dari keuntungan/laba tersebut
kepada pemilik perusahaan memanglah tujuan dari suatu bisnis. Besarnya total
Dividen yang dibagikan tergantung dari besar kecilnya laba yang diperoleh
perusahaan serta kebijakan pembagian Dividen. Dividen terbagi menjadi beberapa
jenis, yaitu: Dividen tunai, Dividen Saham, Dividen Properti dan Dividen Interim.
Namun umumnya Dividen yang diterima pemegang saham adalah Dividen Kas.
ReturnTotal =Capital Gain (loss) + yield
Capital gain (loss)merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode lalu (Jogiyanto, 1998):
Capital gain (loss)=
Pt–Pt-1
Pt-1
Keterangan :
Pt = Harga saham periode sekarang
Pt-1 = Harga saham periode sebelumnya
Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi, untuk saham biasa dimana pembayaran
periodik sebesar Dtrupiah perlembar, makayielddapat dituliskan sebagai berikut
Keterangan:
Yield= Dt
Pt-1
Dt = Dividen kas yang dibayarkan
Pt-1 = Harga saham periode sebelumnya
Sehinggareturntotal dirumuskan sebagai berikut(Jogiyanto,1998):
Keterangan:
Pt–Pt-1 Dt Pt–Pt-1+ Dt
ReturnTotal = + =
Pt-1 Pt-1 Pt-1
Pt = Harga saham sekarang
Pt-1 = Harga saham periode sebelumnya
Dt = Dividen yang dibayarkan
Namun mengingat tidak selamanya perusahaan membagikan dividen kas secara
periodik kepada pemegang sahamnya, maka disini dividen dianggap 0, sehingga
returnsaham dapat dihitung sebagai berikut (Jogiyanto, 1998):
Keterangan:
Returnsaham =
Pt–Pt-1
Pt-1
Pt = Harga saham sekarang
Pt-1 = Harga saham periode sebelumnya
Perhitunganreturnsaham dapat didasarkan baik pada harga saham berupa indeks harga saham. Indeks harga saham akan meningkat tajam sesudahsplit/bonus saham dengan cara membandingkan harga saham sekarang dengan harga saham
corporate action,atau harga saham sebelumcorporate actiondisesuaikan terlebih dahulu. Menurut Samsul (2006), apabila terjadicorporate action,maka ada dua cara yang dapat ditempuh untuk menghitungreturnsaham yaitu:
1. Membandingkan indeks harga saham individu.
2. Membandingkan harga saham setelah disesuaikan.
2.3Money Supply
Money Supplyatau jumlah uang yang beredar adalah jumlah dari uang yang beredar pada suatu Negara pada waktu tertentu.Money Supplydianggap sebagai instrumen yang yang penting untuk mengendalikan laju inflasi. Karena jika
jumlah uang yang beredar terlalu banyak, maka suku bunga akan turun sehingga
masyarakat yang memiliki kelebihan uang akan menjadi konsumtif untuk
menghabiskan uangnya. Sebaliknya, jika jumlah uang yang beredar dalam
masyarakat jumlahnya berkurang, maka suku bunga akan naik.Money Supply juga berpengaruh terhadap suku bunga pinjaman. Suku bunga ini akan
mempengaruhi pihak-pihak yang membutuhkan dalam rangka konsumsi maupun
investasi. Kebijakan Bank Sentral dalam mengatur uang yang beredar akan ikut
mempengaruhi kegiatan konsumsi dan investasi pada suatu Negara.
Menurut Solikin dan suseno (2002), terdapat 3 jenis uang, yaitu:
1. Uang Kartal
Uang Kartal adalah uang yang berada di tangan masyarakat atau diluar Bank
nilai yang tidak terlalu besar. Jenis dari uang Kartal adalah uang kertas dan
uang logam yang diedarkan oleh Bank Indonesia.
2. Uang Giral
Uang Giral adalah uang simpanan dari masyarakat yang berada di Bank umum
dan dapat dicairkan setiap saat. Jenis dari uang Giral adalah rekening Giro.
3. Uang Kuasi
Uang Kuasi adalah uang yang tidak dapat digunakan setiap saat dalam proses
pembayaran karena keterkaitan waktu. Jenis uang ini disimpan dalam bentuk
tabungan dan deposito berjangka.
Menurut Imam Suwandi (2011), definisiMoney Supplymeliputi pengertian sebagai berikut:
M1 = mata uang beredar yang dimiliki masyarakat bukan Bank dan kertas-kertas
berharga (cek, giro, dll.)
M2 = M1 + deposito berjangka Bank komersial–sertifikat deposito yang dapat
dipindah tangankan.
M3 = M2 + deposito dari lembaga keuangan lainnya dan surat-surat berharga.
Jika Bank Sentral menambah targetmoney supply,maka tingkat suku bunga dapat turun. Begitu juga sebaliknya jikamoney supplyyang diturunkan.
2.4 Kurs Rupiah
Kurs adalah perbandingan antara nilai tukar mata uang suatu negara dengan mata
rupiah terhadap kurs asing, maka akan mengakibatkan naiknya biaya impor
bahan-bahan baku yang digunakan untuk produksi dan juga meningkatkan suku bunga.
Jika biaya produksi meningkat, maka laba perusahaan akan bergerak turun,
sehingga akan memicu turunnya deviden saham danreturnyang ditawarkan akan ikut turun. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar akan melemahkan
fundamental ekonomi, sehingga Investor enggan menanamkan modalnya pada
pasar modal.
Sukirno (2004:402), menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan
perubahan permintaan dan penawaran dalam kurs valuta, antara lain:
1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat.
2. Perubahan harga dalam ekspor dan impor.
3. Kenaikan harga secara umum (inflasi).
4. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi.
5. Pertumbuhan ekonomi.
2.5 Return Market
Return Marketataureturnpasar adalah tingkat keuntungan dari indeks pasar yang akan diterima oleh investor. Dalam penelitian ini, akan digunakanreturnpasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut Anoraga dan Pakarti (2001:101)
IHSG merupakan indeks yang menunjukan pergerakan harga saham secara umum
yang tercatat di bursa efek yang menjadi acuan perkembangan yang terjadi di
pasar modal. IHSG juga dapat menjadi tolak ukur untuk mengetahui situasi pasar
IHSG memiliki nilaireturnindeks yang merupakan nilai keuntungan yang didapat oleh investor dalam kegiatannya di pasar modal. Nilaireturnindeks dapat
dihitung sebagai berikut (www.financeroll.com) :
Ri =
Pit–Pit-1
Pit-1
Keterangan :
Ri = Returnindeks pasar (IHSG).
Pit = indeks pasar (IHSG) pada periode t.
Pit-1 = indeks pasar (IHSG) pada periode t-1 (tahun sebelumnya)
2.6 Harga Minyak Dunia
Harga minyak yang terus berubah juga ikut mempengaruhi pasar modal suatu
negara. Kenaikan harga minyak mentah akan mempengaruhi investor untuk
menanamkan modalnya ke berbagai sektor komoditi minyak dan pertambangan.
Menurut Witjaksono (2010), harga minyak mentah dunia yang diukur dari harga
spot pasar minyak dunia, yang digunakan sebagai standarnya yaituWest Texas Intermediateatau Brent. Minyak yang berjenisLight-weightini sangat cocok dijadikan sebagai bahan bakar. Harga minyakBrenttelah menjadi patokan perdagangan minyak dunia.
Bernd Hayo dan Ali M. Kutan (2004) dalam penelitian Witjaksono (2010)
mengemukakan bahwa pergerakan pasar modal di Rusia dipengaruhi oleh
perubahan harga minyak dunia dan pergerakan pasar modal Amerika (Indeks Dow
Cheolbeom Park (2007) menunjukan bahwa pergerakan harga minyak tidak
berpengaruh secara langsung pada pasar modal Amerika Serikat. Hal ini
membuktikan bahwa perubahan harga minyak mempengaruhi pasar modal.
Harga minyak dunia selalu berubah seiring dengan keadaan dan perkembangan
ekonomi dunia. Situs Useconomy.about.com menjelaskan ada beberapa hal yang
dapat mempengaruhi harga minyak dunia, antara lain:
1. Penawaran minyak dunia, terutama kuota suplai yang telah ditentukan oleh
OPEC.
2. Cadangan minyak Amerika Serikat, terutama yang terdapat pada
kilang-kilang minyak yang ada di Amerika Serikat dan pada cadangan minyak
strategis.
3. Permintaan minyak dunia. Pada musim panas diperkirakan permintaan
minyak dari perusahaan penerbangan meningkat. Hal ini disebabkan oleh
banyaknya wisatawan yang berpergian. Dan pada musim dingin
diperkirakan permintaan minyak juga akan naik karena digunakan untuk
penghangat ruangan.
Kenaikan harga minyak bumi akan menyebabkan harga saham pada sektor
pertambangan juga ikut naik. Hal ini disebabkan karena dengan naiknya harga
minyak maka akan memicu kenaikan bahan tambang. Hal ini akan mengakibatkan
2.7 Penelitian Terdahulu
Beberapa peneliti telah melakukan penelitian tentang pengaruh Tingkat Suku
Bunga SBI dan Harga Minyak Dunia terhadapreturnsaham. Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang digunakan penulis sebagai referensi dan
bahan perbandingan dalam penelitian ini:
1. Anang Faisal Rivai (2008), dalam tesisnya yang berjudul“Pengaruh
ReturnIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Inflasi dan Suku Bunga Bank TerhadapReturnNilai Aktif Bersih (NAB) Reksadana di Bursa Efek Indonesia”membuktikan bahwa dalam
konteks keuangan, return IHSG berpengaruh positif terhadapreturnNAB yang sesuai dengan teori harga saham dan efisiensi pasar modal. Variabel
SBI dan Suku Bunga Bank berpengaruh secara positif terhadapreturn NAB, kecuali variabel inflasi yang berpengaruh negatif terhadap NAB.
2. Ardian Agung Witjaksono (2010), dalam tesisnya yang berjudul“Analisis
Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Minyak Dunia, Harga Emas
Dunia, Kurs Rupiah, Indeks Nikkei 225, dan Indeks dow Jones terhadap
IHSG”membuktikan bahwa variabel independen harga minyak dunia,
harga emas dunia, dan Indeks Nikkei 225 berpengaruh positif terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan variabel independen
lainnya seperti tingkat suku bunga dan kurs rupiah berpengaruh negatif
terhadap IHSG.
3. Donna Menina Della Maryanne (2009), pada penelitiannya yang berjudul
Saham, Inflasi dan Beta Saham Terhadap Harga Saham”membuktikan
bahwa variabel Kurs Rupiah dan Inflasi tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap harga saham secara parsial dengan nilai probabilitas
masing-masing sebesar 0,932 dan 0,118. Variabel lainnya seperti Suku
Bunga SBI, Volume Perdagangan Saham dan Beta Saham memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Harga Saham dengan nilai
probabilitas Suku Bunga sebesar 0,030, Volume Perdagangan sebesar
0,003, dan nilai Beta Saham sebesar 0,001.
4. Dwi Wahyu Prasetino (2010), pada penelitiannya yang berjudul“Analisis
Pengaruh Faktor Fundamental Ekonomi Makro dan Harga Minyak
Terhadap Saham LQ45 Dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang”
membuktikan bahwa pada jangka pendek pertumbuhan ekonomi dan harga
minyak mengalami perubahan sebesar 1% dan masing-masing mengalami
pertumbuhan sebesar 0,09% dan 0,59% dan bergerak searah pertumbuhan
ekonomi dan harga minyak. Variabel kurs dan suku bunga SBI yang
mengalami perubahan sebesar 1% mengalami pertumbuhan
masing-masing 2,7% dan 3,81% dengan perubahan yang berlawanan dengan
perubahan kurs dan suku bunga. Pada jangka panjang, variabel kurs dan
harga minyak yang tumbuh sebesar 1% mengakibatkan perubahan saham
LQ45 masing-masing sebesar 1,17% dan 0,72%. Dan setiap pertumbuhan
ekonomi dan suku bunga SBI sebesar 1% mengakibatkan perubahan pada
saham LQ45 masing-masing sebesar 0,6% dan 0,7%.
5. Ridho Ade Kapindho (2011), pada penelitiannya yang berjudul“Pengaruh
yang meneliti 18 perusahaan pada penelitiannya menyatakan bahwa
tingkat inflasi, kurs, tingkat suku bunga danmoney supplymemiliki pengaruh yang signifikan terhadapreturnsaham perusahaan pada LQ45. Hal ini ditunjukan dengan nilai F hitung yang lebih besar terhadap nilai F
tabel dengan nilai 6.96 > 2.10). secara parsial terdapat pengaruh negatif
signifikan antara kurs dan tingkat suku bunga terhadapreturnsaham. Hal ini ditunjukan dari nilai masing-masing t hitung yang lebih besar dari t
tabel sebesar 4.266 > 1.68 dan 2.296 > 1.68.
6. Septian Prima Rusbariandi (2012), dalam penelitiannya“Analisis
Pengaruh Tingkat Inflasi, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia dan
Kurs Rupiah TerhadapJakarta Islamic Indexdi BEI” membuktikan
bahwa variabel indepeden inflasi dan kurs rupiah berpengaruh negatif dan
signifikan secara statistik terhadap JII di Bursa Efek Indonesia. Nilai
signifikansi masing-masing variabel sebesar 0,046 dan 0,000. Sedangkan
variabel independen minyak dunia berpengaruh positif dan signifikan
dengan nilai signifikansi sebesar 0,083. Variabel harga emas dunia tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap JII dengan signifikansi sebesar
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sumber Data
Penulis memperoleh data berupa data sekunder yaitu berupa data yang berasal dari
pihak lain yang telah dikumpulkan ataupun diolah menjadi data yang digunakan
untuk keperluan analisis. Data-data tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan
otomotif yang terdaftar di BEI pada periode tahun 2010-2012. Data-data tersebut
berupa pooling data untuk semua variabel yaitu money supply, kurs rupiah terhadap US dollar, return market dan harga minyak dunia. Data-data ini diperoleh dari berbagai website variabel yang bersangkutan.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
dokumentasi dan studi pustaka. Metode ini ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan dan membaca literatur, jurnal keuangan dan referensi dalam
bentuk buku ataupun jurnal di internet serta mempelajari berbagai teori yang
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan dari data yang sedang diteliti.
Populasi dari penelitian ini adalah sub-sektor otomotif dan komponen yang
terdaftar di BEI pada periode tahun 2010 s/d 2012.
Sampel dapat diartikan sebagai bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
dari populasi tersebut. Dalam penelitian ini, kriteria dari sampel yang digunakan
adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan sub sektor otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia periode tahun 2010-2012.
2. Perusahaan sub sektor otomotif dan komponen tersebut mempublikasikan
laporan keuangan perusahaan tahunannya di Bursa efek Indonesia selama
periode tahun 2010-2012.
[image:42.595.154.508.533.744.2]Berikut ini adalah daftar perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini:
Tabel 3.1. Daftar perusahaan Otomotif dan Komponen yang Menjadi Sampel
No Nama perusahaan/Emiten Kode
Saham
1 Astra International Tbk ASII
2 Astra Autoparts Tbk AUTO
3 Indo Kordsa Tbk BRAM
4 Goodyear Indonesia Tbk GDYR
5 Gajah Tunggal Tbk GJTL
6 Indomobil Sukses International Tbk IMAS
7 Indospring Tbk INDS
8 Multi Prima Sejahtera Tbk LPIN 9 Multistrada Arah Sarana Tbk MASA
10 Nipress Tbk NIPS
3.4 Variabel Operasional Penelitian
3.4.1 Variabel Dependen
Pengertian dari variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang yang
dipengaruhi oleh variabel independen (variabel bebas). Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah return saham. Secara umum, pengertian return saham adalah
tingkat keuntungan yang dinikmatim oleh pemodal atas investasi yang
dilakukannya (Subalno,2009). Return saham merupakan nilai dari selisih antara
harga saham (Closing Price) pada periode t dengan harga saham (Closing Price) pada periode sebelumnya (t-1).
Untuk menghitung return saham digunakan rumus:
Pt – Pt-1
Return Saham = Pt-1
Keterangan :
Pt = Harga Saham periode sekarang
Pt-1 = Harga Saham periode sebelumnya
3.4.2 Variabel Independen
3.4.2.1 Money Supply
Jumlah uang yang beredar memiliki pengaruh terhadap Investasi. Karena
kebijakan Bank Sentral dalam mengendalikan uang yang beredar akan
masyarakat menjadi konsumtif dan ingin terus membelanjakan uang yang
dimilikinya. Hal ini akan mengakibatkan suku bunga nilainya menjadi turun dan
mengakibatkan inflasi. Money supply harus diimbangi dengan money demand agar terjadi keseimbangan terhadap uang itu sendiri. Untuk itu, Pemerintah
menggunakan instrumen-instrumen seperti bunga/diskonto, operasi pasar terbuka,
reserve requirement atau imbauan moral dari Bank Sentral terhadap pimpinan-pimpinan Bank Umum. Menurut situs fundamentalfx.blogspot.com , para pakar
moneter meyakini bahwa money supply adalah indikator yang bagus untuk memprediksi tingkat inflasi. Dalam pengertian money supply, dikenal istilah M1, M2 dan M3. Pengertian dari M1 adalah mata uang beredar yang dimiliki oleh
masyarakat seperti uang kertas dan uang logam. Uang yang dimiliki masyarakat
tersebut bukanlah uang yang tersimpan di Bank, termasuk cek, giro dan lain-lain.
M2 adalah hasil penjumlahan dari M1 dengan deposito berjangka Bank Komersial
dan dikurang oleh sertifikat deposito yang dapat dipindah tangankan. (M1 +
deposito berjangka Bank Komersial – sertifikat deposito yang dapat dipindah
tangan). Sedangkan yang dimaksud dengan M3 adalah hasil penjumlahan dari M2
dengan deposito dari lembaga keuangan lainnya dan surat berharga. Cakupan serta
definisi dari jumlah uang beredar ini sendiri berbeda-beda di Negara maju dan
Negara lainnya. Terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk menghitung
jumlah uang yang beredar (www.bankirnews.com), yaitu:
1. Pendekatan Transaksional (Transactional Approach)
Pendekatan ini memandang bahwa jumlah uang beredar yang dihitung adalah
menghitung jumlah uang yang beredar dalam arti yang sempit (Narrow Money) atau M1.
2. Pendekatan Likuiditas (Liquidity Approach)
Definisi dari pendekatan ini adalah jumlah uang yang beredar sebagai uang
yang dibutuhkan untuk transaksi ditambah oleh uang Kuasi (Quasy Money). Uang Kuasi di Negara Indonesia adalah deposito berjangka.
1.4.2.2 Kurs Rupiah
Penelitian ini menggunakan perbandingan kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika
Serikat (USD), karena kurs dollar yang cenderung stabil mengakibatkan mata
uang ini menjadi nilai satuan pembayaran internasional yang berlaku di seluruh
dunia. Dollar Amerika Serikat menjadi alat pembayaran internasional karena
jumlah emas yang tersedia sebagai alat pembayaran tidak bisa lagi mengimbangi
pertumbuhan perdagangan dunia yang semakin pesat. Menurut Mankiw (2000),
kurs atau nilai tukar dibagi menjadi 2 jenis, yaitu nilai tukar nominal dan nilai
tukar riil. Nilai tukar nominal adalah harga mata uang suatu negara dengan negara
lainnya. Sedangkan nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal dibagi dengan harga
relatif dalam negeri dan luar negeri. Kurs riil dijadikan sebagai acuan untuk
mengukur daya saing suatu negara denagn negara lainnya. Rumus perhitungan
yang digunakan adalah kurs tengah rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang
Rumus dari kurs tengah:
Kurs jual + Kurs beli
Kurs tengah =
2
1.4.2.3 Return Market
Return pasar Indeks Harga Saham Gabungan merupakan indeks saham yang terus berkembang setiap harinya karena IHSG merupakan bursa saham yang terus
berputar dan berpusat di Jakarta. IHSG pertama kali menggelar perdagangan pada
1 april 1983. Selain memperdagangkan saham biasa dan saham preferen, IHSG
juga memiliki hari dasar perhitungan yaitu pada tanggal 10 Agustus 1982. Jumlah
nilai pasar pada IHSG merupakan keseluruhan dari perkalian dari tiap saham yang
tercatat, dalam hal ini terdapat pengecualian pada perusahaan yang tengah berada
pada tahap restrukturisasi dengan saham BEJ pada tanggal tersebut. Perhitungan
pada IHSG menunjukan pergerakan harga saham yang terjadi pada pasar lelang.
Nilai Dasar IHSG akan disesuaikan secepatnya apabila kemungkinan terjadi
perubahan pada emiten atau ada faktor lain yang mempengaruhi IHSG namun
tidak terkait dengan saham. IHSG menggunakan harga saham yang terdiri dari
harga saham yang berada pada pasar reguler. Harga tersebut didasarkan pada
harga yang berlaku pada sistem lelang. Perhitungan akan dilaksanakan setiap
3.4.2.4 Harga Minyak Dunia
Jika harga minyak naik, maka investor akan menanamkan modalnya pada
berbagai sektor komoditi minyak dan pertambangan. Hal ini juga akan
meningkatkan laba perusahaan perusahaan pertambangan. Harga minyak selalu
berubah dari waktu ke waktu. Harga minyak dunia merupakan harga spot pasar
minyak dunia berdasarkan jenis minyak West Texas Intermediate (WTI). Harga minyak yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga minyak mentah dengan
satuan per barel periode bulanan dari bulan januari 2010 sampai dengan desember
2012.
3.5 Metode Analisis
3.5.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah: uji normalitas,
multikolinieritas, heterokedesitas, dan autokorelasi.
3.5.1.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2006) uji Normalitas adalah uji yang bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel dependen dan variabel independen
mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang
memiliki distribusi data normal/mendekati normal. Ada dua cara untuk
mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis
3.5.1.2 Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2006) uji ini bertujuan menguji apakah pada model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Pada model regresi yang
baik antar variabel independen seharusnya tidak terjadi kolerasi. Untuk
mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas dalam model regresi diilakukan
dengan melihat nilai tolerance dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang dapat dilihat dari output SPSS. Sebagai dasar acuannya dapat disimpulkan:
a. Jika nilai tolerance > 10 persen dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolineritas antar variabel bebas dalam model regresi.
b. Jika nilai tolerance < 10 persen dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinaeritas antar variabel bebas dalam model regresi.
3.5.1.3 Uji Heterokdesitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah yang terjadi homokedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas dilakukan
dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan
residualnya (SRESID).
Dasar analisisnya:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik –titik yang membentuk suatu pola
tertentu, yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka
b. Jika tidak ada pola tertentu serta titik–titik menyebar diatas dan dibawah
angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Analisis
dengan grafik plot memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena
jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah
pengamatan, semakin sulit untuk mengintepretasikan hasil grafik plot.
3.5.1.4 Uji Autukorelasi
Autokorelasi akan terjadi apabila munculnya suatu data dipengaruhi oleh data
sebelumnya. Dengan kata lain, pengujian ini dimaksudkan untuk melihat adanya
hubungan antara data (observasi) satu dengan data yang lainnya dalam 1 variabel.
Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dapat digunakan metode grafik
maupun uji Durbin Waston (DW). Pengambilan keputusan ada tidaknya
autokorelasi:
a. Bila nilai DW terletak antara batas atas atau upper bound (du) dan (4-du) maka koefisien autokorelasinya sama dengan nol, berarti tidak ada
autokorelasi.
b. Bila nilai DW lebih rendah dari batas bawah atau lower bound (dl) maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi positif.
c. Bila nilai DW lebih besar dari (4-dl) maka koefisien autokorelasinya lebih
kecil daripada nol, berarti ada autokorelasi negatif.
d. Bila nilai DW terletak antara batas atas (du) dan dibawah batas bawah (dl)
atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl) maka hasilnya tidak dapat
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi:
Hipotesis nol Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif
Tidak ada autokorelasi positif atau negatif
0 < d < dL
dL ≤ d ≤ dU
4 – dL< d < 4
4 – dU= d = 4 - dL
dU< d < 4 - dU
Ket : dU : Durbin Watson upper, dL : Durbin Watson lower
3.5.2 Uji t
Uji t digunakan untuk membuktikan hipotesis ke dua yakni ada pengaruh variabel
independen secara parsial terhadap variabel dependen. Uji t juga digunakan untuk
menguji signifikansi pengaruh Money Supply, kurs Rupiah, return market dan harga minyak terhadap return saham sub sektor otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu uji t ini digunakan untuk
menguji hipotesis. Menurut Gujarati (1999), langkah-langkah pengujian yang
dilakukan adalah dengan pengujian dua arah, sebagai berikut:
a. Merumuskan hipotesis (Ha)
Ha diterima: berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen
terhadap variabel dependen (risiko investasi) secara parsial.
b. Menentukan tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05
c. Membandingkan t hitung dengan t tabel,. Jika t hitung lebih besar dari t tabel
maka Ha diterima.
=
1. Bila –t tabel < -t hitung dan t hitung < t tabel, variabel bebas (independen)
secara individu tak berpengaruh terhadap variabel dependen.
2. Bila thitung > t tabel dan –t hitung < -t tabel, variabel bebas (independen)
secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen.
d. Berdasarkan probabilitas
Ha akan diterima jika nilai probabilitasnya kurang dari 0,05 (α)
e. Menentukan variabel independen mana yang mempunyai pengaruh paling
dominan terhadap variabel dependen. Hubungan ini dapat dilihat dari
koefisien regresinya.
3.5.3 Uji F
Uji F adalah uji yang dilakukan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh
money supply, kurs rupiah, return market, dan harga minyak dunia terhadap
return saham sub-sektor otomotif yang terdaftar di BEI pada periode 2010-2012 secara simultan.
Menurut Gujarati (1999), langkah-langkah yang dilakukan dalam uji ini adalah;
a. Merumuskan Hipotesis (Ha)
Ha diterima: berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen
b. Menentukan tingkat signifikansi yaitu sebesar 0.05 (α=0,05)
c. Membandingkan F hitung dengan F tabel
Nilai F hitung dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1999):
= ( −1) ( 1− )
( − )
dimana:
R2 = Koefisien Determinasi
K = Banyaknya koefisien regresi
N = Banyaknya Observasi
1. Bila F hitung < F tabel, variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh
terhadap variabel dependen.
2. Bila F hitung > F tabel, variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh
terhadap variabel dependen.
d. Berdasarkan Probabilitas
Dengan menggunakan nilai probabilitas, Ha akan diterima jika probabilitas
kurang dari 0,05
Menentukan nilai koefisien determinasi, dimana koefisien ini menunjukkan
seberapa besar variabel independen pada model yang digunakan mampu
menjelaskan variabel dependennya.
Uji ini Digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat. Nilai R2 terletak antara 0 sampai dengan 1 (0 ≤ R2≤ 1).
Tujuan menghitung koefisien determinasi adalah untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat.
Perhitungan nilai koefisien deteminasi ini diformulasikan sebagai berikut:
TSS R2 =
ESS
R2 = Koefisien determinasi majemuk (multiple coeficient of determinant), yaitu proporsi variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas secara
bersama-sama.
ESS = Explained sum of squares, atau jumlah kuadrat yang dijelaskan atau variabel nilai variabel terikat yang ditaksir di sekitar rata-ratanya.
TSS = Total sum of squares, atau total variabel nilai variabel terikat sebenarnya di sekitar rata-rata sampelnya. Bila R2 mendekati 1 (100%), maka hasil perhitungan
menunjukkan bahwa makin baik atau makin tepat garis regresi yang diperoleh.
Sebaliknya jika nilai R2 mendekati 0 maka menunjukkan semakin tidak tepatnya
garis regresi untuk mengukur data observasi.
3.5.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Dalam penelitian ini, metode analisis yang digunakan adalah metode Analisis
Regresi Linier Berganda. Analisis ini untuk mengetahui pengaruh (korelasi)
Y = α + b1(X1) + b2(X2) + b3(X3) + b4(X4) + e
Keterangan :
Y = return saham
α = konstanta
b1-b4 = koefisien korelasi
X1 = money supply X2 = kurs rupiah
X3 = return market X4 = harga minyak dunia
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil dari penelitian mengenai pengaruh money supply, kurs rupiah, return market
dan harga minyak dunia terhadap return saham sub sektor otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012 mendukung hipotesis awal yaitu
terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel pengaruh money supply, kurs rupiah, return market dan harga minyak dunia terhadap return saham sub sektor otomotif. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama money supply, kurs rupiah, return market dan harga minyak dunia terhadap return saham sub sektor otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun
2010-2012.
2. Variabel kurs rupiah, return market dan harga minyak dunia secara parsial memiliki pengaruh terhadap return saham sub sektor otomotif. Hal ini didukung melalui nilai t hitung yang lebih besar nilainya dari t tabel untuk
masing-masing variabel.
3. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.328 atau sebesar 32,8%
saham sebesar 32,8%, sedangkan sisanya sebesar 67,2% dijelaskan oleh
faktor-faktor di luar penelitian.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis memberikan saran sebagai
berikut:
1. Diharapkan penelitian yang akan datang dapat melakukan penelitian serta
menganalisis menggunakan variabel-variabel yang tidak dijadikan variabel
pada penelitian ini seperti inflasi, tingkat suku bunga SBI atau faktor
fundamental perusahaan seperti rasio-rasio keuangan.
2. Peneliti hanya menggunakan sampel penelitian berupa saham sub sektor
otomotif, sehingga menyebabkan belum tentu dapat digeneralisasi pada
saham industri yang lainnya. Penulis juga menyarankan agar penelitian
selanjutnya memperluas ruang lingkup penelitian.
3. Bagi investor sebaiknya mempertimbangkan informasi mengenai money supply, kurs rupiah, return market dan harga minyak dunia serta faktor lain seperti fundamental perusahaan agar dapat menjadi pertimbangan
DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert. 1997. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Mediasoft Indonesia.
Jogiyanto. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE UGM.
Kapindho, Ridho Ade. Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Maryanne, Donna Menina Della. 2009. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Suku Bunga SBI, Volume Perdagangan Saham, Inflasi dan Beta Saham Terhadap Harga Saham. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Prasetiono, Dwi Wahyu. 2012. Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Ekonomi Makro dan Harga Minyak Terhadap Saham LQ45 Dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Journal of Indonesian Applied Economics.
Universitas Brawijaya. Malang.
Rivai, Anang Faisal. 2008. Pengaruh Return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Inflasi dan Suku Bunga Bank Terhadap Return Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana Di Bursa Efek Indonesia. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia Esa Unggul. Jakarta.
Rusbariandi, Septian Prima. 2012. Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia dan Kurs Rupiah Terhadap Jakarta Islamic Index di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Gunadarma. Jakarta.
Sunariyah. 2000. Pengantar Pasar Modal. Edisi kedua. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi Dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta: BPFE.
www.idx.co.id
www.bi.go.id
www.wikipedia.org