• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan KEKUATAN ALAT BUKTI AKTA OTENTIK YANG DIBUAT OLEH NOTARIS DALAM PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SLEMAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "A. Kesimpulan KEKUATAN ALAT BUKTI AKTA OTENTIK YANG DIBUAT OLEH NOTARIS DALAM PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SLEMAN."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

89 BAB III

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitianpada perkara perdata No.125/Pdt/2010/PN

Sleman maka dapat diambil kesimpulan :

1. Akta otentik yang dibuat oleh pejabat Notarisberdasarkan ketentuan

yuridis akta otentiknya tidak memiliki kekuatan pembuktiansempurna dan

mengikat bagi hakim di persidangan dan para pihak, Dikatakan tidak

memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat ini

dikarenakanperbuatan hukum berupa perikatan yang dituangkan kedalam

bentuk akta otentiksecara tertulis tidak sesuai dengan peraturanyang diatur

didalam undang-undang mengenai perikatan sebagaimana yang diatur di

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pada perkara perdata No. 125/Pdt/2010/PN.SLEMAN. Akta otentik yang

dibuat oleh Notaris dinyatakan tidak sah yang konsekuensinya akta

otentiknya dapat dibatalkan atau batal demi hukum.

2. Pertimbangan dalil-dalil hakim di Pengadilan Negeri Sleman ini dapat membatalkan akta otentiknya adalah karena perikatannya ditemukan

adanya kecacatan yuridis pada kekuatan pembuktianya luar, kekuatan

pembuktian formil dan materiil, salah satunya ada ketidak sesuaian

perbuatan hukumnya dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum

(2)

90

dari perikatanya sendiri menjadi cacat, sehingga perikatanya dapat

dinyatakan tidak sah, dan dapat dibatalkan atau batal demi hukum.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian maka dapat disarankan :

1. Para pihak yang melakukan suatu perbuatan hukum yang dituangkan

kedalam akta otentik untuk lebih teliti dan berhati-hati terhadap isi dan

pokok dari akta otentik itu sendiri.

2. Para pihak lebih berhati-hati dalam memberikan kewenangan atau

kuasa terhadap orang lain untuk melakukan suatu perbuatan hukum,

karena dapat menyebabkan kerugian apabila orang yang diberi kuasa

melakukan penyimpangan.

3. Kepada pejabat Notaris untuk lebih menjunjung tinggi etika profesi

sebagai pejabat Notaris yang dianggap sebagai pejabat yang

berwenang untuk membuat akta otentik yang merupakan dasar suatu

perikatan atau perbuatan hukum yang sah.

4. Kepada Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) untuk lebih cermat dan

teliti sebelum menerbitkan suatu akta otentik berupa sartifikat hak

milik atas tanah, dengan melihat dasar-dasar perikatan dan perbuatan

(3)

91

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

M. Yahya Harahap, 2012, Hukum Acara P erdata Indonesia, Sinar Grafika,

Jakarta.

Sudikno Mertokusuma, 1988, Hukum Acara P erdata Indonesia, Liberti

Yogyakarta.

Subekti, 2010, Hukum P embuktian, Pradaya Paramita, Cetakan Ke Delapan Belas,

Jakarta.

Husni Thamrin, 2010,Pembuatan Akta Pertanahan Oleh Notaris, Pressindo,

Yogyakarta.

Habib Adjie, 2009, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai

Pejabat Publik, Rafika Aditama, Bandung.

Habib Adjie, 2013, Kebatalan dan Pembatan Akta Notaris, Rafika Aditama,

Bandung.

BUKU YANG DITULIS OLEH DUA PENULIS

Riawan Tjandra dan H. Chandera, 2010, P engantar Praktis Penanganan Perkara

Perdata, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

JURNAL

Achid Suyanto, 2007, Kemahiran Hukum Acara P erdata dalam Pendidikan

Khusus Profesi Advokat, Fakulltas Hukum Universitas Islam Indonesia,

(4)

92 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang – Undang Hukum Acara Perdata / Burgerlijk Wet Boek ( BW )

Pasal 1866-1870 yang mengatur mengenai alat bukti tertulis berupa akta otentik

Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) Pasal 138, 164,165, 167 yang

mengatur mengenai alat bukti surat

Rechts Reglement Buitengwesten (RBg) Pasal 248

Undang- Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana

Pasal 50 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

WEBSITE

Referensi

Dokumen terkait

Dihubungkan dengan perilaku disiplin maka tujuan layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan pengertian disiplin seperti yang telah dijelaskan oleh Rachman, disiplin adalah

Sampel zat warna sintetik untuk makanan yang digunakan dalam penelitian berjumlah 31 sampel, yaitu zat warna merah sebanyak sembilan macam, jingga tujuh macam, kuning lima macam,

Pada dasarnya unit produksi merupakan miniatur yang hanya diberikan kepaada SMK yang diharapkan didalamnya ada proses kegiatan usaha (bisnis) yang dilakukan di dalam sekolah

melalui penerapan metode pengeringan menggunakan bambu, mengembangkan diversifikasi produk olahan serta memanfaatkan limbah rumput laut sebagai pupuk organik cair

Web service yang dibangun dapat berjalan dengan baik pada.. aplikasi pengguna berupa game sosial Food Merchant Saga yang

Hasil pengamatan morfologi buah matang, menunjukan bahwa buahklon Panter, Irian, Hibrida, ICS 60, Sulawesi 1 (S1) dan M01 memiliki fenotip yang

Setelah dilakukan perancangan dan simulasi dapat ditarik kesimpulan bahwa pada pengukuran pengaruh HTL dan ETL terhadap struktur blue OLED menggunakan BFE sebagai

Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa fasilitas belajar yang meliputi penyediaan ruang praktek, perlengkapan menjahit, alat bantu menjahit, penataan peralatan dan