• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asam sitrat sebagai lapisan pelindung untuk mengurangi laju korosi pada logam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Asam sitrat sebagai lapisan pelindung untuk mengurangi laju korosi pada logam"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

ASAM SITRAT SEBAGAI LAPISAN PELINDUNG UNTUK

MENGURANGI LAJU KOROSI PADA LOGAM

ELIS MARYATI

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ABSTRAK

ELIS MARYATI. Asam Sitrat Sebagai Lapisan Pelindung Untuk Mengurangi Laju Korosi Pada Logam. Dibimbing oleh TUTI SETIAWATI dan SULISTIOSO GIAT SUKARYO.

(3)

ABSTRACT

ELIS MARYATI. Citric Acid as Protective Layer to Reduce Corrosion Rate on Metals. Under the direction of TUTI SETIAWATI and SULISTIOSO GIAT SUKARYO.

(4)

ASAM SITRAT SEBAGAI LAPISAN PELINDUNG UNTUK

MENGURANGI LAJU KOROSI PADA LOGAM

ELIS MARYATI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada

Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Judul : Asam Sitrat Sebagai Lapisan Pelindung Untuk Mengurangi Laju Korosi pada Logam.

Nama : Elis Maryati NIM : G01400008

Menyetujui:

Pembimbing I,

Dra. Tuti Setiawati, M. S.

NIP 132053496

Pembimbing II,

Drs. Sulistioso Giat Sukaryo, M. T.

NIP 330003902

Mengetahui:

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, M. S.

NIP 131473999

(6)

…Seiring sujud syukur pada-Nya

Ku persembahkan karya ini Untuk kedua orang tua

(7)

PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dimudahkan dan diberi kekuatan dalam menyusun laporan penelitian ini. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah SAW yang telah memberi teladan mulia menuju jalan yang diridhoi-Nya.

Penelitian ini berjudul Asam Sitrat Sebagai Lapisan Pelindung Untuk Mengurangi Laju Korosi pada Logam. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik IPB dan Laboratorium Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN)-BATAN, kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang dari bulan Juni sampai dengan Desember 2005. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Kimia, FMIPA IPB.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dra. Tuti Setiawati, M.S. dan Drs. Sulistioso Giat Sukaryo, M.T. selaku pembimbing, kepada staff dan karyawan PTBIN- BATAN terutama Drs. Wagiyo, M.T., Drs. Supardi, M. Ihsan, S.Si, Drs. Bambang Sugeng, M.T., dan Ari Handayani, BE. Kepada karyawan Puspiptek anggota bus Bogor, kepada staff dan karyawan Laboratorium Kimia Analitik IPB. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada kedua orang tua dan keluarga tercinta atas doa, dukungan dan pengorbanannya. Kepada rekan-rekan kimia 37, rekan-rekan kimia 38 terutama Amalia, teman-teman di Az-Zahiroh, dan Istana 17 atas persaudaraannya. Tak lupa kepada rekan-rekan dari UAD, Undip, Unila, dan UI atas kebersamaannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, Amin.

Bogor, April 2006

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 13 Mei 1981 dari pasangan Didih dan Euis Nuryati. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara. Penulis memulai pendidikan formal di SD N Caringin IV pada tahun 1988-1994, dilanjutkan di SLTP N 2 Cibadak pada tahun 1994-1997 serta SMU N Cisaat pada tahun 1997-2000. Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai salah satu mahasiswi di Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

PENDAHULUAN ... 1

TINJAUAN PUSTAKA Korosi ... 1

Pasivasi ... 2

Teknik Pengukuran Korosi di Lingkungan Air ... 2

Asam Sitrat ... 3

Analisis Fase... 3

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat ... 4

Metode Penelitian ... 4

HASIL DAN PEMBAHASAN Pelapisan Dengan Asam Sitrat... 5

Analisis Fase... 6

Korosi di Lingkungan Udara ... 6

Korosi di Lingkungan Air... 7

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 8

Saran ... 8

DAFTAR PUSTAKA ... 8

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Tebal lapisan asam sitrat ... 5

2 Laju korosi dalam medium air ... 7

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Plot tafel ... 2

2 Tahanan polarisasi ... 3

3 Potensiodinamik... 3

4 Sel tiga-elektrode ... 3

5 Struktur asam sitrat ... 3

6 Difraksi sinar-X ... 4

7 Kompleks asam sitrat dengan logam ... 5

8 Struktur permukaan logam... 6

9 Difraktogram logam tanpa lapisan asam sitrat... 6

10 Difraktogram logam dengan lapisan asam sitrat ... 6

11 Struktur permukaan logam setelah satu bulan ... 6

12 Logam yang dilapisi asam sitrat setelah pemanasan... 7

13 Potensiodinamik logam tanpa lapisan asam sitrat... 7

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Komposisi dan bobot ekivalen logam ... 10

2 Densitas logam... 11

3 Diagram alir penelitian ... 12

4 Kelarutan dan tebal lapisan asam sitrat... 13

5 Analisis fase menggunakan difraksi sinar-X... 14

6 Analisis gravimetri termal... 15

7 Perhitungan laju korosi dalam medium air ... 16

8 Tahanan polarisasi dalam medium air ... 17

(12)

PENDAHULUAN

Logam merupakan material yang banyak digunakan dalam menunjang kebutuhan hidup manusia. Adanya korosi pada logam sangat merugikan, karena logam menjadi mudah rusak. Biaya tahunan untuk korosi di Amerika Serikat saja diperkirakan mencapai sepuluh miliar dolar (Oxtoby et al. 2001). Oleh karena itu, perlu ada suatu cara yang mudah untuk mengurangi laju korosi pada logam.

Korosi dapat dikurangi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan pemberian lapisan pelindung. Lapisan pelindung yang dikenakan ke permukaan logam dimaksudkan baik untuk memisahkan lingkungan dari logam, maupun mengendalikan lingkungan mikro pada permukaan logam (Trethewey & Chamberlain 1991).

Metode yang sangat penting untuk melindungi logam diperoleh dari fenomena pasivasi (Oxtoby et al. 2001). Pasivasi adalah proses ketika logam mampu menahan supaya tidak terjadi korosi dengan lingkungannya. Pasivasi juga diartikan sebagai perubahan sifat permukaan logam dari aktif menjadi kurang reaktif (ASM 1990).

Metode tradisional pada pasivasi logam adalah menggunakan asam nitrat (Anonim 2005). Penggunaan asam nitrat berbahaya bagi lingkungan, sehingga diperlukan bahan lain yang lebih aman digunakan untuk pasivasi logam.

Asam sitrat merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti asam nitrat. Asam sitrat lebih aman digunakan jika dibandingkan dengan asam nitrat (Anonim 2005).

Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan asam sitrat sebagai lapisan pelindung dalam mengurangi laju korosi pada logam di lingkungan udara dan lingkungan air.

Manfaat penelitian ini adalah agar mekanisme perlindungan asam sitrat dalam mengurangi laju korosi pada logam dapat membantu memperpanjang masa simpan logam yang siap diproses, terutama pada industri kecil dan rumah tangga.

Hipotesis penelitian ini adalah pelapisan logam dengan asam sitrat dapat mengurangi laju korosi pada logam.

TINJAUAN PUSTAKA

Korosi

Proses korosi

Korosi dapat didefinisikan sebagai proses rusaknya suatu padatan karena reaksi kimia atau elektrokimia yang terjadi pada permukaan padatan tersebut. Pada umumnya reaksi korosi pada logam adalah reaksi elektrokimia karena adanya elektron yang bebas bergerak pada kisi logam (Sulungbudi & Wuryanto 1996).

Korosi pada logam diartikan sebagai karat pada logam. Korosi didefinisikan sebagai kerusakan atau penurunan kualitas suatu logam akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungan (ASM 1990). Korosi dari sepotong logam dapat dikatakan sebagai perubahan dari logam menjadi ion logam atau kehilangan satu atau lebih elektron dari atom tunggal. Reaksi korosi suatu logam M biasa dinyatakan dalam persamaan sederhana berikut ini:

M Mn+ + n e-

logam muatan positif muatan negatif ion logam elektron

Pada proses korosi, akan terjadi perpindahan elektron yang akan menyebabkan reaksi oksidasi dan reduksi (Komarudin 2004).

Salah satu contoh proses korosi adalah pada reaksi elektrokimia spontan dari besi. Korosi dapat digambarkan sebagai sel galvani yang mempunyai “hubungan pendek”, di mana beberapa daerah permukaan logam bertindak sebagai katode dan lainnya sebagai anode, dan “rangkaian” listrik dilengkapi oleh aliran elektron menuju besi itu sendiri. Sel elektrokimia terbentuk pada bagian logam di mana terdapat pengotor atau di daerah yang terkena tekanan. Reaksi pada anode sebagai berikut:

Fe (s) Fe 2+ (aq) + 2 e

-Reaksi pada katode bervariasi. Dengan tidak adanya oksigen, reaksi korosi menjadi:

Fe(s) Fe2+(aq) + 2 e- (anode)

2 H2O (l) + 2 e- 2 OH-(aq) + H2(g) (katode)

Fe(s) + 2 H2O(l) Fe2+(aq) + 2 OH-(aq) + H2(g)

Namun reaksi ini umumnya lambat, dan tidak menimbulkan korosi yang serius. Korosi yang

(13)

2

jauh lebih ekstensif berlangsung jika besi kontak dengan oksigen dan air. Dalam hal ini reaksi pada katode adalah:

½O2(g) + 2 H3O+(aq) + 2 e- 3H2O(l)

Ion Fe2+ yang terbentuk secara simultan pada anode bermigrasi ke katode, selanjutnya dioksidasi oleh O2 membentuk karat (Fe2O3.xH2O) ( Oxtoby et. al. 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi korosi

Korosi terjadi karena logam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, faktor-faktor yang mempengaruhi proses korosi ditentukan oleh logam itu sendiri (faktor internal) dan faktor lingkungan tempat logam itu berada (faktor eksternal).

Faktor-faktor internal. Keragaman struktur, perlakuan panas, segregasi, pendinginan, pengerjaan permukaaan, dan keberadaan kerak adalah faktor yang selalu ada di dalam logam.

Faktor-faktor eksternal. Fenomena korosi merupakan interaksi elektrokimia yang terjadi antara logam dengan lingkungannya. Lingkungan dalam reaksi elektrokimia ini berfungsi sebagai elektrolit yang ikut berperan dalam menentukan kecenderungan terjadinya korosi. Lingkungan tersebut meliputi udara, air, dan tanah (Komarudin 2004).

Pasivasi

Pasivasi didefinisikan sebagai hilangnya reaktifitas kimia bahan dalam kondisi atau lingkungan tertentu. Perubahan perilaku kimia logam dan perilaku korosi memunculkan definisi pasivasi sebagai berikut:

1 Logam atau paduan yang disusun dari beberapa logam dianggap pasif apabila perilaku elektrokimianya kurang aktif.

2 Logam atau paduan dianggap pasif jika logam tersebut menahan supaya tidak terjadi korosi dengan

lingkungannya, secara termodinamika terdapat energi bebas

yang sangat besar. Energi bebas ini menurun seiring proses perubahan dari keadaan logam ke produk korosi yang sesuai.

Pasivasi umumnya terjadi akibat pembentukan lapisan pelindung pada antar muka antara logam dengan elektrolit. Lapisan ini mencegah kontak langsung antara

permukaaan logam dengan elektrolit (Komarudin 2004).

Pengukuran Korosi di Lingkungan Air

Karena peristiwa korosi adalah suatu proses elektrokimia, maka metode elektrokimia dapat digunakan untuk mempelajari dan mengukur suatu sistem korosi (Ihsan et al. 2001). Beberapa teknik pengukuran korosi adalah:

A Plot tafel

Plot tafel berguna untuk menentukan kostanta tafel dan arus korosi (Icorr). Konstanta tafel anodik ditentukan di daerah linier anodik dan konstanta tafel katodik di daerah linier katodik, sedangkan Icorr didapatkan dari kemiringan (Gambar 1).

Daerah polarisasi linier E Kurva anode (mV) Icorr

Ecor Kurva

katode

Gambar 1 Plot tafel.

B Tahanan polarisasi

Tahanan polarisasi merupakan ketahanan spesimen terhadap oksidasi selama diberi potensial luar. Penggunaan tahanan polarisasi yang paling utama adalah menentukan kecepatan korosi, namun harus ditentukan nilai Icorr dan konstanta tafel dari kurva tafel. Tahanan polarisasi diperoleh dari rumus berikut ) )( I 3 . 2 ( R I E C A corr C A

P β +β

β β = = Δ Δ

Setelah didapatkan Icorr, maka laju korosi dapat dihitung dengan persamaan berikut

r

Kerapatan arus (µA cm-2)

Keterangan:

Rp = tahanan polarisasi Icorr = arus korosi

βA,βC = konstanta tafel anode dan katode

(14)

3

Laju korosi (mpy) =

Ad BE x I 13 . 0 corr

Perhitungan bobot ekivalen dan densitas logam terdapat pada Lampiran 1 dan 2.

Dua kelebihan tahanan polarisasi dibandingkan teknik lain yaitu pengukuran Rp dapat dilakukan dengan cepat dan teknik ini mengenakan spesimen potensial yang lebih kecil sehingga tidak mengubah permukaan secara signifikan (Gambar 2).

Gambar 2 Tahanan polarisasi.

C Potensiodinamik

Teknik ini berguna untuk menentukan karakterisasi daerah aktif dan pasif dari sistem logam-larutan. Pemberian potensial dilakukan ke arah anodik sehingga cukup untuk mengoksidasi. Kurva potensiodinamik menggambarkan sifat sampel yakni pasif atau aktif dan dapat diketahui sifat pasivasi terjadi secara spontan atau perlu dipolarisasi (Gambar 3).

Gambar 3 Potensiodinamik.

Analisis korosi dalam medium air menggunakan sel elektrode. Sel tiga-elektrode merupakan perangkat laboratorium yang digunakan untuk penelitian kuantitatif terhadap sifat-sifat korosi suatu logam (Abdul & Latief 1996). Sel tiga-elektrode mempunyai tiga komponen utama, yaitu elektrode kerja, elektrode pembantu, dan elektrode acuan ( Gambar 4).

Keterangan:

BE = bobot ekivalen (g ekivalen-1) A = luas permukaan (cm2) d = densitas (g cm-3) 0.13 = faktor konversi Mpy = miliinci per tahun

Elektrode pembantu Elektrode acuan Elektrode kerja (spesimen logam) Larutan uji E (mV)

Kerapatan arus (µA cm-2 )

Gambar 4 Sel tiga-elektrode.

Asam Sitrat

∆E

∆I Asam sitrat atau asam-2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat terdapat dalam jumlah besar pada sistem biologis. Asam sitrat memiliki berbagai fungsi yang memungkinkan untuk digunakan dalam berbagai bidang. Adanya satu gugus hidroksil dan tiga gugus karboksil memungkinkan pembentukan molekul kompleks yang dapat larut pada suatu bahan (Kirk-Othmer 1964).

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan dalam buah jeruk. Keasaman asam sitrat dihasilkan dari tiga gugus karboksil (-COOH) yang dapat melepaskan proton dalam larutan. Jika proton lepas maka akan terbentuk ion sitrat. Ion sitrat membentuk garam yang disebut sitrat dengan beberapa ion logam (Anonim 2005). COOH

E

HOOC CH2 C CH2 COOH OH

Gambar 5 Struktur asam sitrat.

Asam sitrat mempunyai rumus molekul C6H8O7 dengan bobot molekul 192.13 satuan massa atom (sma). Adapun tetapan-tetapan yang berhubungan dengan sifat asam sitrat adalah sebagai berikut:

Titik leleh : 153oC Suhu dekomposisi : 175οC

termal Pka1 : 3.15 Pka2 : 4.77

(mV) transpasif corr pp Ep pasif

Kerapatan arus (µA cm-2 ) E

E

ipass

(15)

4

Pka3 : 5.19

∆Hof : - 1543.8 Kj mol-1 S° : 252.1 Jmol-1K-1 Densitas : 1.665 x 103 kg m-3

Asam sitrat digunakan dalam logam, sebagai chemical cleaning, electropickling

dan copperplating. Penggunaan asam sitrat dalam skala industri antara lain sebagai pembersih logam, removal karat dan kerak, dan sebagainya (Kirk-Othmer 1964).

Pasivasi dengan asam sitrat telah diketahui kegunaannya untuk beberapa jenis logam (Anonim 2005).

Analisis Fase

Sinar-X yang merupakan radiasi elektromagnet dengan panjang gelombang sekitar 100 pm dihasilkan dari penembakan logam dengan elektron energi tinggi. Elektron itu mengalami perlambatan saat masuk ke dalam logam dan menghasilkan radiasi dengan jarak panjang gelombang kontinu yang disebut Bremsstrahlung. Pada kontinum itu, tertumpuk beberapa puncak tajam berintensitas tinggi. Puncak ini berasal dari antaraksi antara elektron datang dengan elektron pada kulit dalam atom. Tumbukan itu mengeluarkan sebuah elektron, dan elektron dengan energi lebih tinggi masuk ke tempat kosong, dengan memancarkan kelebihan energinya sebagai foton sinar-X (Atkins 1997).

Derajat perubahan fase atau ketidak sejajaran adalah sama dengan jarak ABC. Interferensi konstruktif atau difraksi terjadi ketika dua gelombang keluar . Hal ini terjadi ketika jarak ABC = 1 λ atau 2 λ atau 3 λ atau secara umum ketika n λ = ABC, dengan n adalah bilangan bulat. Jarak ABC pada persamaan tersebut diperoleh dengan mengukur derajat θ. Untuk melakukan hal ini, dapat dilihat pada segi tiga ABO dan diperoleh d sin θ = AB atau 2 d sin θ = ABC. Sehingga kondisi untuk difraksi adalah n λ = 2 d sin θ (Gambar 6).

Gambar 6 Difraksi sinar-X.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan adalah baja tipe JIS G3141 yang diperoleh dari PT Krakatau Steel, asam sitrat, air destilata, dan air PAM. Alat-alat yang digunakan adalah alat pemotong logam, kertas ampelas, mikroskop optik, peralatan difraksi sinar-X, potensiostat EG & G model 273 yang dilengkapi model 342 Softcorr Corrosion Measurement Software, sel tiga-elektrode, peralatan

Thermal Gravimetry Analysis (TGA), dan peralatan kaca lainnya.

Metode Penelitian

Persiapan sampel

Logam dipotong menggunakan alat pemotong menjadi bentuk persegi panjang dengan ukuran ± 15 x 10 mm dan bulat dengan diameter ± 15 mm. Kemudian dipoles menggunakan kertas ampelas yang memiliki spesifikasi tingkat kehalusan 60 sampai 800 grit.

Pelapisan dengan asam sitrat

Setelah logam dibersihkan, logam dicelupkan ke dalam larutan asam sitrat. Konsentrasi asam sitrat yang digunakan adalah 50, 60, dan 70 %. Lama pencelupan adalah 30, 60, dan 90 menit.

Setelah dicelupkan ke dalam larutan asam sitrat, logam diangkat dan dikeringkan. Selanjutnya, sampel dianalisis struktur permukaannya, dianalisis fasenya, dan diamati laju korosinya. Diagram alir penelitian secara lengkap terdapat pada Lampiran 3.

Analisis struktur permukaan dan Fase

Pengamatan dengan mikroskop optik pada permukaan dilakukan sebelum dan setelah dilapisi dengan asam sitrat. Mekanisme mikroskop optik adalah jika berkas cahaya datang dari sumber diteruskan melalui lensa bikonvek yang dipantulkan oleh lensa datar menuju lensa-lensa obyektif, sehingga berkas cahaya jatuh pada permukaan material. Apabila permukaan material 1 O θ θ A B C D F

(16)

5

tersebut datar, maka pantulan berkas cahaya menuju lensa okuler melalui lensa-lensa obyektif. Jika berkas cahaya mengenai batas butir, maka berkas tersebut dipantulkan ke segala arah. Dengan demikian batas butir akan terlihat berupagaris hitam (ASM 1992). Sedangkan analisis fase dilakukan dengan metode difraksi sinar-X.

Pengamatan laju korosi

Pengamatan laju korosi dilakukan pada logam yang tidak dilapisi asam sitrat dan yang dilapisi asam sitrat. Laju korosi diamati di lingkungan udara dan lingkungan air.

Untuk melihat laju korosi di lingkungan udara, logam dibiarkan selama satu bulan, kemudian permukaannya diamati menggunakan mikroskop optik. Untuk melihat pengaruh pemanasan, logam dipanaskan pada suhu 67oC sampai dengan 150oC dengan laju pemanasan 10oC per menit menggunakan alat TGA. Setelah dipanaskan, permukaannya diamati menggunakan mikroskop optik.

Pengukuran laju korosi di lingkungan air dilakukan menggunakan sel tiga-elektrode dan potensiostat dalam medium air PAM.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelapisan Dengan Asam Sitrat

Pada saat logam dicelupkan ke dalam larutan asam sitrat, ion sitrat akan menempel pada permukaan logam. Setelah logam diangkat dari larutan asam sitrat, terdapat lapisan tipis yang menutupi permukaan logam. Lapisan ini memisahkan logam dari lingkungannya (Gambar 7).

Gambar 7 Kompleks asam sitrat dengan logam.

Konsentrasi dan lama pencelupan sangat berpengaruh pada lapisan yang terbentuk.

Secara umum, semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama pencelupan, lapisan yang terbentuk semakin tebal (Tabel 1).

Tabel 1 Tebal lapisan asam sitrat

Sampel Tebal Lapisan (10-3 mm)

A0 0 A1B1 1.2 A1B2 2.9 A1B3 3.5 A2B1 4.1 A2B2 4.5 A2B3 5.0 A3B1 5.7 A3B2 6.1 A3B3 2.2 Keterangan :

A0 = tanpa pelapisan

A1B1=dicelup dalam 50 % asam sitrat selama 30 menit A1B2=dicelup dalam 50 % asam sitrat selama 60 menit A1B3=dicelup dalam 50 % asam sitrat selama 90 menit A2B1=dicelup dalam 60 % asam sitrat selama 30 menit A2B2=dicelup dalam 60 % asam sitrat selama 60 menit A2B3=dicelup dalam 60 % asam sitrat selama 90 menit A3B1=dicelup dalam 70 % asam sitrat selama 30 menit A3B2=dicelup dalam 70 % asam sitrat selama 60 menit A3B3=dicelup dalam 70 % asam sitrat selama 90 menit

Pengamatan pada permukaan logam menggunakan mikroskop optik memperlihatkan hal yang sama. Lapisan yang terbentuk pada konsentrasi 50 % lebih tipis jika dibandingkan dengan konsentrasi 60 %. Sementara itu, lapisan yang terbentuk pada konsentrasi 70 % memperlihatkan adanya pengendapan molekul asam sitrat pada permukaan logam. Jika disesuaikan dengan kelarutan asam sitrat dalam air pada suhu kamar (Lampiran 4), konsentrasi 70 % merupakan larutan lewat jenuh. Semakin lama pencelupan dalam konsentrasi 70 %, endapan molekul asam sitrat semakin banyak (Gambar 8). Berdasarkan hal ini, disarankan untuk menggunakan asam sitrat 60 % dan lama pencelupan 90 menit.

p e r m u k a a n l o g a m Fe2+ Fe2+ Fe2+ Fe2+ C O C H H C O C C O O H H C O O O

H

A0 A1B1

(17)

6

A2B1 A2B2

A2B3 A3B1

A3B2 A3B3

Gambar 8 Struktur permukaan logam.

Analisis Fase

Analisis menggunakan difraksi sinar-X memperlihatkan bahwa adanya lapisan asam sitrat menurunkan intensitas sinar yang diserap oleh logam. Pada logam yang tidak dilapisi, sinar yang diserap oleh logam lebih banyak. Sehingga intensitasnya tinggi (Gambar 9). Sedangkan pada logam yang dilapisi asam sitrat, sinar yang diserap oleh logam lebih sedikit, sehingga intensitasnya lebih rendah (Gambar 10). Akan tetapi lapisan tersebut tidak mempengaruhi komposisi logam yang bersangkutan. Hal ini dapat dilihat dari puncak pada difraktogram. Puncak-puncak ini adalah fase logam dengan matriks dominan unsur Fe yang merupakan komposisi terbesar dalam sampel (Lampiran 5).

Gambar 9 Difraktogram logam tanpa lapisan asam sitrat.

Intensit

as

Gambar 10 Difraktogram logam dengan lapisan asam sitrat.

Korosi di Lingkungan Udara

Korosi hanya sedikit terjadi jika ada sesuatu yang menjadi penghalang atau perintang antara logam dan lingkungannya (Trethewey & Chamberlain 1991). Di lingkungan udara, logam yang dilapisi asam sitrat lebih sukar terkorosi jika dibandingkan dengan logam yang tidak dilapisi asam sitrat (Gambar 11), bagian yang berwarna gelap adalah bagian yang terkorosi. Asam sitrat bereaksi dengan logam membentuk film pasif, yaitu film pada permukaan logam setebal ± 30 Å yang mengandung sejumlah besar hidroksida atau oksida yang menghindarkan logam kontak dengan lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa setelah dilapisi asam sitrat, permukaan logam bersifat kurang reaktif atau perilaku elektrokimianya kurang aktif.

a b

Gambar 11 Struktur permukaan logam setelah satu bulan.

Intensit

as a tanpa lapisan asam sitrat

b dengan lapisan asam sitrat

Analisis menggunakan TGA menunjukkan bahwa laju korosi tidak terdeteksi dengan jelas. Perubahan massa pada berbagai suhu, baik untuk logam tanpa perlakuan maupun yang telah dilapisi asam sitrat tidak stabil (Lampiran 6). Hal ini terjadi karena alat tersebut kurang sensitif untuk pengukuran pada suhu 67-150ºC dan baru sensitif pada

(18)

7

suhu di atas suhu tersebut. Namun demikian, pengaruh pemanasan dapat dilihat pada struktur permukaan logam.

Pemanasan pada suhu 67-150ºC menyebabkan lapisan di permukaan logam pecah (Gambar 12). Hal ini menunjukkan bahwa lapisan mudah pecah pada suhu tersebut. Pecahnya lapisan ini dapat memicu terjadinya reaksi korosi. Sehingga, dianjurkan untuk menyimpan logam yang telah dilapisi asam sitrat di dalam ruangan atau di lingkungan udara yang tidak terlalu panas.

Gambar 12 Logam yang dilapisi asam sitrat setelah pemanasan.

Korosi di Lingkungan Air

Laju korosi akan meningkat apabila terjadi kontak antara logam yang telah dilapisi asam sitrat dengan air. Dari teknik tahanan polarisasi secara umum dapat dilihat bahwa semakin besar konsentrasi dan semakin lama waktu pencelupan, laju korosinya meningkat (Tabel 2 ).

Tabel 2 Laju korosi dalam medium air

Sampel Laju korosi ( mpy)

A0 2.51 A1B1 2.69 A1B2 2.86 A1B3 2.90 A2B1 3.37 A2B2 3.91 A2B3 4.04 A3B1 8.15 A3B2 10.67 A3B3 2.84

Dari kurva potensiodinamik dapat dilihat bahwa semakin besar konsentrasi dan semakin lama pencelupan, kerapatan arus yang dihasilkan semakin positif. Proses pasivasi secara umum tidak terlihat nyata. Karena

hampir tidak terjadi penurunan arus setelah reaksi oksidasi terjadi (Gambar 13 dan 14).

Kerapatan arus menyatakan banyaknya arus yang mengalir per satuan luas. Semakin positif kerapatan arus semakin banyak elektron yang dialirkan. Dengan kata lain, semakin positif kerapatan arus, laju korosinya semakin tinggi.

Meningkatnya laju korosi ini terjadi karena pada saat logam yang telah dilapisi kontak dengan air, lapisan di permukaan logam larut kembali dalam air. Anion dari asam sitrat tersebar di permukaan logam. Anion ini mengubah kehantaran elektrolit menjadi semakin besar.

Pengecualian terjadi pada konsentrasi 70 % dengan lama pencelupan 90 menit. Pada konsentrasi 70 %, larutan asam sitrat yang terbentuk merupakan larutan lewat jenuh. Endapan molekul asam sitrat pada konsentrasi 70 % dengan lama pencelupan 90 menit semakin banyak. Ketika logam yang bersangkutan diangkat dan dikeringkan, molekul asam sitrat di permukaannya mudah terlepas, sehingga lapisan yang terbentuk seolah-olah lebih tipis dan laju korosinya lebih kecil. Contoh perhitungan laju korosi, kurva tahanan polarisasi, dan kurva potensiodinamik terdapat pada Lampiran 7, 8, dan 9.

Kerapatan arus (µA cm-2) E

(mV)

Gambar 13 Potensiodinamik logam tanpa lapisan asam sitrat.

E (mV)

Kerapatan arus (µA cm-2)

(19)

8

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Asam sitrat dapat digunakan sebagai lapisan pelindung untuk mengurangi laju korosi pada logam di lingkungan udara dengan mekanisme pasivasi, tetapi tidak dapat digunakan di lingkungan air. Ketebalan lapisan yang terbaik diperoleh pada konsentrasi 60%.

Laju korosi logam di lingkungan air meningkat seiring meningkatnya konsentrasi dan lama pencelupan. Laju korosi untuk A0, A1B1, A1B2, A1B3, A2B1, A2B2, A2B3, A3B1, A3B2, dan A3B3 berturut turut adalah 2.51, 2.69, 2.86, 2.90, 3.37, 3.91, 4.04, 8.15, 10.67, dan 2.84 mpy.

Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar dilakukan pencelupan asam sitrat lebih dari 90 menit. Selain itu perlu dilakukan pengukuran laju korosi secara kuantitatif di lingkungan udara dengan variasi konsentrasi, waktu, dan suhu.

Logam yang telah dilapisi asam sitrat diharapkan disimpan di tempat kering dan tidak terlalu panas.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Latief. 1996. Struktur dan Sifat Logam. Serpong: Pusat Penelitian Sains Materi-BATAN.

[Anonim]. 2005. Citric Acid. Artikel. http://ull.chemistry.uakron.edu/erd/chemic als 1/7/6308.html. [30 Mei 2005].

[Anonim]. Passivation. Artikel. http://www.machinizing.com [10 Juni 2005].

[ASM] American Society for Metals. 1990.

Corrosion. Vol 13. Ed ke-9. Ohio: ASM International;(ASM Handbook).

[ASM] American Society for Metals. 1992.

Metalloghraphy and Microstructure. Vol 9. Ohio: ASM International;(ASM Handbook).

Atkins PW. 1999. Kimia Fisika Jilid 2. Ed ke-4. Jakarta: Erlangga.

Ihsan et al. 2001. Korosi. Di dalam:Peran Elektrosintesis Dalam Ilmu Bahan.

Prosiding Seminar Nasional Elektrokimia;Serpong, 10 Juni 2001. Serpong:P3IB-BATAN. hlm 190-195.

Kirk-Othmer. 1964. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol 5. Ed ke-2. New York: John Wiley & Sons,Inc.

Komarudin. 2004. analisis Korosi Pada Baja SS 400 C dengan Fasa Martensit Serta Fasa Campuran Martensit dan Austenit [skripsi]. Padang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Oxtoby et al. 2001. Prinsip-prinsip Kimia

Modern Jilid 1. Ed ke-4. Jakarta: Erlangga. Sulungbudi G, Wuryanto. 1996. Korosi Bahan

Logam dan Nonlogam. Serpong: Pusat Penelitian Sains Materi-BATAN.

Trethewey KR, Chamberlain J. 1991. Korosi Untuk Mahasiswa dan Rekayasawan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(20)

9

(21)

10

Lampiran 1 Komposisi dan bobot ekivalen logam

Unsur Komposisi (%) Massa atom ( sma) Bilangan oksidasi

Fe 99.4600 55.85 3

Mn 0.2700 54.94 7

C 0.0500 12.01 4

Al 0.0450 26.98 3

Cu 0.0420 63.55 2

Si 0.0380 28.09 4

Ni 0.0220 58.69 3

Mo 0.0200 95.94 6

Cr 0.0190 52.00 6

Ti 0.0100 47.88 4

V 0.0070 50.94 5

N 0.0041 14.01 5

P 0.0040 30.97 5

S 0.0030 32.07 6

Nb 0.0010 92.91 5

BE = Massa atom (sma) X % Atom Logam Bilangan Oksidasi

BE =

[

0.9946

]

3

85 . 55

x + ( )⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 5 4 01 . 12 x

x +

[

(2.7 10 3)

]

7

94 .

54 −

x

x +

[

( )

]

5 10 3 6 07 . 32 − x

x +

(

[

5

]

10 1 . 4 5 01 . 14 − x

x ) +

[

(

]

4 10 2 . 2 3 69 .

58 − )

x

x +

[

10 5

]

5

91 .

92 −

x +

[

( )

]

4 10 2 6 94 . 95 − x

x +

( ⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 8 . 3 4 09 . 28 x

x ) + ( ⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −5

10 4 5 97 . 30 x

x ) + ( ⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 5 . 4 3 98 . 26 x

x ) + ( )⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 9 . 1 6 00 . 52 x

x +

( ⎥ ⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 2 . 4 2 55 . 63 x

x ) + ( ⎥

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −5

10 7 5 94 . 50 x

x ) +

⎦ ⎤ ⎢

⎡ −4

10 4 88 . 47 x

BE = 18.52 + (1.50x10-3) + 0.02 + (1.6x10-4) + (1.15x10-4) + (4.30x10-3) + (1.86x104)+(3.20x10-3) + (2.67x10-3) + (2.48x10-4) + (4.05x10-3) + (1.65x13) + 0.01 +(7.13x10-4) + (1.20x10-3)

BE = 18.57 g ekivalen-1

(22)

11

Lampiran 2 Densitas logam

ulangan Mp (g) Mp+s (g) Mp+a (g) Mp+a+s (g) Ma (g) ρ air (g/cm3) Mas (g) Vas (cm3) Vs (cm3) Ms (g) ρ sampel (g/cm3)

1 12.2327 12.6816 22.5459 22.9414 10.3132 1.03132 10.2598 9.9482 0.0518 0.4489 8.666 2 12.2328 12.6816 22.5461 22.9415 10.3133 1.03133 10.2599 9.9482 0.0518 0.4488 8.6641 3 12.2328 12.6816 22.5461 22.9416 10.3133 1.03133 10.26 9.9483 0.0517 0.4488 8.6809

rerata 8.6703

Keterangan:

Mp = massa piknometer ρ = densitas

Mp+s = massa piknometer + sampel Mas = massa air sisa Mp+a = massa piknometer + air Vas = volume air sisa Mp+a+s = massa piknometer + air +sampel Vs = volume sampel

Ma = massa air Ms = massa sampel

Contoh Perhitungan :

Volume Piknometer = 10 cm3 Vas = Mas ρ sampel = Ms

ρ air Vs

Ma = Mp+a - Mp = 10.2598 g = 0.4489 g = 22.5459 g – 12.2327 g 1.03132 g/cm3 0.0518 cm3 = 10.3132 g = 9.9482 cm3 = 8.6660 gcm-3

ρ air = Ma Vs = Volume air – Vas Volume Air = 10 cm3 – 9.9482 cm3 = 10.3132 g = 0.0518 cm3

10 cm3

= 1.03132 g/cm3 Ms = Mp+s - Mp

= 12.6816 g – 12.2327 g Mas = Mp+a+s – Mp+s = 0.4489 g

(23)

12

Lampiran 3 Diagram alir penelitian

logam

Dicelup dalam larutan asam sitrat konsentrasi 50, 60, dan 70 %

selama 30, 60, dan 90 menit

Analisis korosi dibersihkan Dipoles 60-800 grit

Dipotong berbentuk bulat diameter ± 15 mm

Dipotong berbentuk persegi panjang

berukuran ± 15 x 10 mm

Analisis fase Analisis struktur

permukaan

(24)

13

Lampiran 4 Kelarutan asam sitrat dan tebal lapisan asam sitrat

Kelarutan asam sitrat dalam air

Suhu (οC) Kelarutan (%) 10 54.0 20 59.2 30 64.3 40 68.6 50 70.9 60 73.5 70 76.2 80 78.8 90 81.4 100 84.0

* Winholz M et al. 1976

Tebal lapisan asam sitrat

Sampel Bobot sebelum Bobot setelah Panjang Lebar Tinggi Tebal lapisan

pelapisan (g) pelapisan (g) (mm) (mm) (mm) (10-3 mm)

A1B1 1.2394 1.2409 15 10 0.953 1.2 A1B2 1.3458 1.3498 15 10 1.035 2.9 A1B3 1.2571 1.2621 15 10 0.967 3.5 A2B1 1.2828 1.2876 15 10 0.986 4.1 A2B2 1.2340 1.2389 15 9 1.054 4.5 A2B3 1.3309 1.3369 15 10 1.023 5.0 A3B1 1.3225 1.3300 15 10 1.017 5.7 A3B2 1.2541 1.2616 15 10 0.964 6.1 A3B3 1.2668 1.2695 15 10 0.974 2.2

Contoh perhitungan

ρ = m = m

V Luas alas x tinggi

Tinggi = m

Luas alas x ρ

Tinggi sebelum pelapisan = bobot sebelum pelapisan

Luas alas x ρ

= 1.2394 g = 0.9530 mm 1.5 cm2 x 8.67 g cm-3

Tinggi setelah pelapisan = bobot setelah pelapisan

Luas alas x ρ

= 1.2409 g = 0.9542 mm 1.5 cm2 x 8.67 g cm-3

Tinggi lapisan asam sitrat = tinggi setelah pelapisan – tinggi sebelum pelapisan

(25)

14

Lampiran 6 Analisis gravimetri termal

-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2

0 20 40 60 80 100 120 140 160

Perubahan massa (

m

g)

blanko

sampel

(26)

15

Lampiran 7 Perhitungan laju korosi dalam medium air

sampel Icorr (µA cm-2) Laju korosi (mpy)

A0 9.01 2.51

A1B1 9.67 2.69

A1B2 10.26 2.86

A1B3 10.41 2.9

A2B1 12.12 3.37

A2B2 14.03 3.91

A2B3 14.5 4.04

A3B1 29.25 8.15

A3B2 38.31 10.67

A3B3 10.22 2.84

Contoh Perhitungan

Diketahui : Bobot Ekivalen = 18.57 g ekivalen-1 Luas area (A) = 1 cm2

Densitas (d) = 8.67 g cm-3

Laju Korosi (mpy) = 0.13 x Icorr x BE A x d

= 0.13 x 9.01 x 18.57 1 x 8.67 = 0.13 x 9.01 x 18.57

8.67

(27)

16

Lampiran 8 Tahanan polarisasi dalam medium air

E

(mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A0 A1B1

E (mV)

E (mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2)

Kerapatan Arus (µAcm-2)

A1B2 A1B3

E (mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

(28)

17

lanjutan

E

(mV) (mV) E

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A2B3 A3B1

E (mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A3B2

(29)

18

Lampiran 9 Potensiodinamik dalam medium air

E (mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A1B1 A0

E (mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A1B2 A1B3

E

(mV) (mV) E

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

(30)

19

lanjutan

E (mV) E

(mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

A3B1 A2B3

E (mV)

E (mV)

Kerapatan Arus (µA cm-2) Kerapatan Arus (µA cm-2)

Gambar

Gambar 1 Plot tafel.
Gambar 4 Sel tiga-elektrode.
Tabel 1 Tebal lapisan asam sitrat
Gambar 10  Difraktogram logam  dengan lapisan asam sitrat. 2θ
+2

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang ditemukan selain dari permasalahan yang timbul dari guru bidang studi. Misalnya di antar para guru tersebut ada yang dating ke sekolah hanya pada waktu

Kusumastuti et.al (2007) berpendapat bahwa dewan direksi yang memiliki latar belakang pendidikan dibidang bisnis dan ekonomi dapat mengelola perusahaan dan

Syarat-syarat kontrak yang terlibat ialah kontrak kerja subkontrak yang dibuat diantara kontraktor utama dan subkontraktor disamping kontrak

Laporan Kinerja Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon Triwulan I Tahun 2020 menyajikan berbagai keberhasilan maupun kendala dalam mencapai Sasaran Strategis Balai

a. 5) Daftar material umum yang harus disediakan oleh pihak pelaksana pekerjaan. 6) Daftar alat transportasi angkutan pegawai/tenaga kerja dan barang (forklift,

Selain itu terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan pada ruang yang sama pada waktu yang berbeda, sehingga terdapat beberapa ruang ritual yang terbentuk pada

keputusan baik bagi pribadinya maka disebut baik, sedangkan jika keputusan tersebut tidak baik maka itulah yang buruk; (2) hedonisme rasional/rationalistic hedonism yang

Dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, McQuail menjelaskan bahwa “Media Baru atau New Media adalah berbagai perangkat teknologi komunikasi yang berbagi ciri yang sama