III
METODE PENELITIAN
3.1 Obyek Penelitian
Objek yang diteliti adalah kondisi dari anggota kelompok KPSP Manglayang berupa skala usaha, curahan tenaga kerja, dan pendapatan peteranak. Pengertian objek penelitian menurut Arikunto (1998) yaitu variabel penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
3.2 Metode Penelitian 3.2.1 Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode survei adalah metode riset yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpul data (Singarimbun, 1995). Tujuan metode ini untuk memperoleh informasi dari sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu.
3.2.2 Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian dilakukan pada anggota kelompok KPSP Manglayang. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive didasari atas pertimbangan bahwa lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah yang sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah dan sebagai daerah pengembangan usaha peternakan sapi perah di lingkungan yang hampir berdekatan dengan perkotaan. Sebagian dari anggota peternak KPSP Manglayang sebelumnya merupakan anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Sinar Jaya yang saat ini sudah gulung tikar. Hal tersebut
membuat peneliti tertarik untuk menganalisis kondisi para peternak di daerah tersebut.
3.2.3 Penentuan Responden
Responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah peternak yang mengelola usaha ternak sapi perah. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 1998). Pengambilan sampel dalam populasi peternak sapi perah KPSP Manglayang dilakukan berdasarkan teori rumus Slovin dalam buku Riduwan dan Kuncoro (2014), yaitu :
n =
𝑁.𝑑²+1𝑁dimana : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
d2 = Presisi yang ditetapkan
Pengambilan responden dilakukan dengan metode two stage random sampling, dengan pengambilan sampel pada tiap-tiap tahap dilakukan secara acak (Singarimbun, 1995) yang terdiri dari :
Langkah 1, peternakan sapi perah dikelompokan berdasarkan skala kepemilikan sapi perah pada tiga skala usaha, yaitu :
(i) Skala Usaha I : 1 – 3 ekor (ii) Skala Usaha II : 4 – 6 ekor (iii) Skala Usaha III : >7 ekor
Tabel 1. Populasi Peternak Sapi Perah KPSP Manglayang
No Nama Kelompok Strata
I II III ...peternak... 1 Cipatat I 37 4 1 2 Cipatat II 27 5 - 3 Palalangon 34 - 1 4 Pasir Angin 30 3 3 5 Cikalamiring 16 3 3 6 Cigupakan 29 - - 7 Cipulus 17 3 - 8 Garung 32 8 1 9 Cikoneng 28 9 7 Total 251 35 16
Hal ini berdasarkan pendapat Suryadi, dkk (1989) bahwa skala usaha peternakan rakyat dibedakan atas tiga skala usaha, yaitu: (1) skala usaha dengan jumlah kepemilikkan ternak betina produktif sebanyak 1 – 3 ekor, (2) skala usaha dengan jumlah kepemilikkan ternak betina produktif sebanyak 4 – 6 ekor, (3) skala usaha dengan jumlah kepemilikkan ternak betina produktif sebanyak lebih dari 7 ekor.
Langkah II, pengambilan responden dari masing-masing stratum diambil secara propotional random sampling.
Dalam buku Riduwan dan Kuncoro (2014), pengambilan sampel secara propotional random sampling memakai rumusan alokasi proporsional yaitu :
n
i=
𝑁ᵢ 𝑁 x
n
dimana : ni = jumlah sampel menurut stratum.
n = jumlah sampel seluruhnya.
Ni = jumlah populasi menurut stratum.
N = jumlah populasi seluruhnya.
Hasil dari perhitungan menurut proportional random sampling adalah skala usaha I sebanyak 62 sampel, skala usaha II sebanyak 9 sampel, dan skala usaha III sebanyak 4 sampel. Seluruh sampel tersebut menjadi responden dalam penelitian ini.
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden, yaitu peternak sapi perah dengan pengambilan informasi dari penyebaran kuisioner dan wawancara serta observasi atau pengamatan langsung pada objek penelitian sehingga hasil data yang dihasilkan lebih relevan. Data sekunder dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi literatur dari berbagai instansi terkait, diantaranya Badan Pusat Statistik, Dinas Peternakan Jawa Barat, Kementrian Pertanian, hasil penelitian sebelumnya yang sesuai dengan judul yang akan diteliti.
3.3 Operasionalisasi Variabel
Kriteria pengukuran yang akan diteliti dalam penelitian ini terbagi atas dua variabel, yaitu variabel eksogen atau bebas dan variabel endogen atau terikat.
1) Variabel Eksogen
Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah curahan tenaga kerja (X1) dan skala usaha sapi perah (X2).
a. Curahan tenaga kerja adalah alokasi waktu yang dikeluarkan tenaga kerja dalam menjalankan usaha, dimana yang masuk ke dalam perhitungan merupakan tenaga kerja keluarga mulai dari suami, istri,
dan anak-anak umur di bawah 15 tahun serta tenaga kerja luar keluarga peternak yang menjadi tanggungan keluarga peternak. Perhitungan didasarkan pada jumlah jam kerja yang digunakan oleh tenaga kerja dalam satuan jam yang dihitung selama satu hari.
b. Skala usaha sapi perah adalah jumlah kepemilikan ternak dihitung berdasarkan sapi perah produktif yang dipelihara oleh responden. Ternak produktif terdiri atas ternak laktasi dan kering kandang. Seluruh ternak dikonversikan ke dalam satuan ternak, dimana pedet setara dengan 0,25 ST; dara maupun dara bunting setara dengan 0,5 ST; dan induk setara dengan 1 ST.
2) Variabel Endogen
Variabel endogen dalam penelitian ini yaitu pendapatan yang dihitung berdasarkan selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi berupa biaya tetap dan tidak tetap selama kurun waktu satu bulan. Penerimaan meliputi penjualan susu secara rutin, penjualan ternak, peningkatan nilai ternak.
3.4 Model Analisis
3.4.1 Analisis Pencurahan Tenaga Kerja
Menurut Adiwilaga (1982), tenaga kerja merupakan orang yang membantu jalannya proses pemeliharaan, terbagi atas dua bagian : (1) Tenaga kerja luar keluarga (dibayar) dan (2) Tenaga kerja keluarga (tidak dibayar). Perhitungan biaya tenaga kerja keluarga dihitung berdasarkan biaya non tunai (alokasi tenaga kerja/tahun) (Priyanto Dwi dkk., 1999), dengan rumus :
Nilai HOK = 𝐶𝑇𝐻 𝑥 365
8 x UPH
Dimana :
HOK = Nilai curahan tenaga kerja/th (Rp) CTH = Curahan tenaga kerja (jam/hari) 8 = 1 HOK diasumsikan 8 jam kerja
UPH = Upah tenaga kerja harian buruh ternak di lokasi
Tenaga kerja keluarga (tidak dibayar) dihitung berdasarkan total nilai upah yang dibayarkan satu bulan, sedangkan tenaga kerja luar keluarga (dibayar) dihitung berdasarkan upah tenaga kerja yang diterima selama satu bulan. Perhitungan alokasi waktu tenaga kerja dinyatakan dalam satu harian kerja pria (HKP), dimana satu hari kerja equivalen dengan 8 jam lama kerja. Nilai tenaga kerja dihitung berdasarkan tingkat upah yang berlaku di daerah penelitian dan dinilai dalam satuan rupiah perbulan (Pujianto dalam Achmad dkk., 2015).
1 HKP (Harian Kerja Pria) = 8 jam kerja pria dewasa (1 HKP) 1 HKW (Harian Kerja Wanita) = 8 jam kerja wanita dewasa (0,75 HKP) 1 HKA (Harian Kerja Anak) = 8 jam kerja anak-anak < 15 tahun (0,5 HKP) 3.4.2 Analisis Pendapatan
Ukuran yang dipakai dalam mengukur nilai kemampuan usaha peternakan dalam menghasilkan keuntungan dari keseluruhan kegiatan usaha peternakan dihitung dari selisih antara penerimaan usaha peternakan dan pengeluaran total usaha peternakan. Secara matematis, menurut Hadiana, dkk. (2005) pendapatan usaha peternakan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dimana :
Π = Keuntungan pada usaha peternakan (Rp/bulan)
ΣTR = Jumlah pendapatan pada usaha peternakan (Rp/bulan) ΣTC = Jumlah biaya pada usaha peternakan (Rp/bulan)
3.4.3 Hubungan Skala Usaha Sapi Perah dan Curahan Tenaga Kerja serta Pengaruhnya terhadap Pendapatan Peternak
Seluruh data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis jalur. Analisis jalur (path analysis) merupakan teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variabel bebas mempengaruhi variabel terikat tidak hanya secara langsung tetapi juga secara tidak langsung. Teknis analisis yang akan digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan adalah analisis jalur model satu persamaan strukturan (a single equation path model). Model ini menggambarkan hubungan kausal secara sederhana antara variabel X1, X2, Xn sebagai variabel bebas terhadap Y sebagai
variabel terikat. Dalam model ini, hanya akan dilihat pengaruh secara langsung antara variabel X terhadap Y, disamping melihat pengaruhnya secara bersama-sama dan ingin mengetahui variabel dominan dalam peranannya (Juanim, 2004).
Dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini : X1
Y
X2
ɛ
1Ilustrasi 4. Diagram Jalur yang Menunjukkan Hubungan dan Pengaruh Skala Usaha (X1) dan Curahan Tenaga Kerja (X2) terhadap Pendapatan
Peternak(Y) ρx12
Keterangan :
X1 = Skala usaha sapi perah
X2 = Curahan tenaga kerja
Y = Pendapatan Peternak ρx21 = Hubungan X1 terhadap X2
ρyx1 = Pengaruh X1 terhadap Y
ρyx2 = Pengaruh X2 terhadap Y
ɛ
1 = Pengaruh variabel selain X terhadap YIlustrasi tersebut menyatakan bahwa diagram jalur hanya terdiri dari satu persamaan struktural, dimana X1 dan X2 sebagai variabel bebas dan Y sebagai
variabel terikat.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, didapat matrik korelasi sebagai berikut: 1 r12 ry1
R = 1 ry2
1
Persamaan struktur yang sesuai dengan diagram jalur adalah sebagai berikut: Y =
ρyx
1.X1 +ρyx
2.X2 +ɛ
Beberapa asumsi dipergunakan sebagai efektifitas penggunaan analisis jalur, diantaranya (Sudjana, 2003) :
1. Pada model analisis jalur, hubungan antara variabel bersifat linear, adaptif, dan bersifat normal,
2. Hanya sistem aliran kausal ke satu arah, tidak ada arah kausalitas yang berbalik,
4. Menggunakan sampel probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populai untuk dipilih menjadi anggota sampel,
5. Observed variables diukur tanpa kesalahan (instrumen pengukuran valid dan reliable), artinya variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung, dan
6. Model analisis yang diidentifikasi dengan benar berdasarkan teori-teori dan konsep yang relevan, artinya berdasarkan kerangka teoritis yang mampu menjelaskan hubungan kausalitas antara variabel yang diteliti.
Analisis korelasi digunakan untuk menghitung koefisien korelasi parsial antara variabel X1, X2, dan Y dengan menggunakan rumus :
r
12 = 𝑛 ∑𝑋₁𝑋₂ − (∑𝑋₁)(∑𝑋₂ ) √{𝑛∑𝑋₁2−(∑𝑋k)2} − {𝑛∑𝑌2−(∑𝑌)2}r
y1 = 𝑛 ∑𝑋k𝑌 − (∑𝑋k)(∑𝑌 ) √{𝑛∑𝑋k2−(∑𝑋k)2} − {𝑛∑𝑌2−(∑𝑌)2}Keterangan : r12 = koefisien korelasi antara X1 dan X2
ry1 = koefisien korelasi antara Y dan X1 (k=1,2)
3.4.4 Pengujian Model a. Secara gabungan
Pengujian variabel bebas, yaitu curahan tenaga kerja dan skala usaha secara bersama terhadap pendapatan digunakan uji F (F-test) dengan pengujian hipotesis sebagai berikut :
H0 = ρyx1 = ρyx2 = 0 (tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas secara
besama-sama terhadap variabel tidak bebas
H1 = ρyx1 = ρyx2 ≠ 0 (terdapat pengaruh antara variabel bebas secara
bersama-sama terhadap variabel tidak bebas
Hipotesis tersebut diuji dengan rumus sebagai berikut (Sudjana, 1996) : Statistik uji : F = R²(n-k-1)
k(1 - R²)
Keterangan : R2 = koefisien determinasi n = jumlah sampel k = jumlah parameter Adapun kriteria keputusan :
Fhitung > Ftabel → Tolak Ho
Fhitung < Ftabel → Terima Ho
Jika Ho diterima, maka secara bersama-sama variabel X1 dan X2 tidak
berpengaruh nyata terhadap pendapatan dan jika Ho ditolak, maka secara bersama-sama variabel X1 dan X2 berpengaruh nyata terhadap pendapatan.
b. Secara parsial
Pengujian variabel curahan tenaga kerja dan skala usaha sapi perah terhadap pendapatan dilakukan secara parsial (masing-masing), dengan pengujian sebagai berikut (Sitepu, 1994) :
Rumus hipotesis :
H01 : ρyx1 = 0, (tidak ada pengaruh nyata antara variabel X1 terhadap Y)
H11 : ρyx1 ≠ 0, (terdapat pengaruh nyata antara variabel X1 terhadap Y)
H02 : ρyx2 = 0, (tidak ada pengaruh nyata antara variabel X2 terhadap Y)
Statistik uji : t = ρ𝑦𝑥1
√(1−𝑅2𝑦𝑥1𝑥2)𝐶𝑖𝑖𝑛−𝑘−1
Keterangan :
ρyx1 = pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat
R2 = koefisien determinasi
n = jumlah sampel k = jumlah parameter
Kriteria keputusan adalah jika : thitung > ttabel → Tolak Ho
thitung < ttabel → Terima Ho
Jika Ho ditolak berarti curahan tenaga kerja atau skala usaha sapi perah yang digunakan di dalam model berpengaruh nyata terhadap pendapatan dan jika Ho diterima artinya curahan tenaga kerja atau skala usaha sapi perah yang digunakan pada model tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan.
Keterangan : Proses perhitungan analisis jalur (path analysis) dilakukan dengan menggunakan program LISREL.
Model atau paradigma tersebut menjelaskan beberapa hal sebagai berikut : 1. Fhitung memperlihatkan adanya pengaruh secara bersama-sama dari variabel
bebas terhadap variabel terikat.
2. Pengaruh tersebut terjadi karena ada korelasi diantara variabel bebasnya. 3. Diantara korelasi tersebut memperlihatkan mana yang paling besar
pengaruhnya terhadap variabel terikat.
4. R2 mencerminkan seberapa besar variasi dari variabel terikat Y dapat