• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

82 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perkumpulan lansia Kartasura pada bulan November 2016 didapatkan hasil jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin, adalah laki-laki berjumlah 32 orang, dan perempuan berjumlah 28 orang.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Minat Subjek Total

Laki-laki Perempuan

Total 32 (53,3%) 28 (46,7%) 60 (100%) 2. Berdasarkan Kesegaran Jasmani

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perkumpulan lansia Kartasura didapatkan hasil jumlah sampel berdasarkan kesegaran jasmani, Verry poor, poor, fair, good,

excellent dan Superior mendapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Sampel Berdasarkan Kesegaran Jasmani No Kategori Kesegaran Jasmani Jumlah Persentase

1 Verry poor - 2 poor 1 1,7 3 fair 15 25 4 good 27 45 5 excellent 15 25 6 Superior 2 2,5 Jumlah 60 100

Dari tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa dalam penelitian ini kesegaran jasmani yang tergolong poor berjumlah 1 orang (1,7%),

fair berjumlah 15 orang (25%), good berjumlah 27 orang (45%), execellent berjumlah 15 orang (25%) dan Superior berjumlah 2

(2)

3. Berdasarkan Kecemasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan hasil jumlah sampel berdasarkan kecemasan, adalah :

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan tingkat kecemasan No Kategori Kecemasan Jumlah Persentase

1 Jarang 1 1,7

2 Sering 23 38,3

3 Selalu 36 60

Jumlah 60 100

Berdasarkan tabel 4.3 di atas maka dapat dilihat untuk tingkat kecemasan jarang memiliki jumlah 1 orang (1,7%), untuk tingkat sering memiliki jumlah 23 orang (38,3%) dan untuk tingkat kecemasan selalu memiliki jumlah 36 orang (60%)

4. Berdasarkan Kualitas Tidur

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan tingkat kualitas tidur No Kategori Kualitas Tidur Jumlah Persentase

1 Gangguan Tidur 26 43,3

2 Normal 34 56,7

Jumlah 60 100

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat sampel yang memiliki gangguan tidur berjumlah 26 orang (43,3%) dan yang memiliki tidur normal berjumlah 34 orang (56,7%)

B. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis pada dasaranya merupakan langkah untuk menguji atau menemukan kebenaran apakah hipotesis diterima atau ditolak. Sesuai dengan hipotesis yang diajukan, langkah-langkah dan hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Uji Regresi Berganda

a. Analisis korelasi dan regresi masing-masing prediktor

Analisis korelasi antara kesegaran jasmani, kecemasan dan kualitas tidur. Uji t (t-test) ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh secara parsial (individu) variabel-variabel independen yaitu

(3)

kesegaran jasmani dan kecemasan terhadap kualitas tidur dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.5. Hasil korelasi kesegaran jasmani, kecemasan dan kualitas tidur.

Variabel r Sig. p Kesimpulan

Kesegaran jasmani .470 0.001 Korelasi Positif signifikan Kecemasan -.429 0.001 Korelasi Negatif signifikan

Berdaasarkan tabel diatas, maka hasil analisis korelasi masing- masing prediktor dapat dijelaskan sebaai berikut:

1) Korelasi kesegaran jasmani dengan kualitas tidur.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kesegaran jasmani dan kualitas tidur.

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara kesegaran jasmani dan kualitas tidur.

Dari hasil analisis korelasi menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kesegaran jasmani dan kualitas tidur dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.470 yang berarti memiliki keeratan hubungan sedang.

2) Korelasi kecemasan dengan kualitas tidur

H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kualitas tidur.

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kualitas tidur.

Dari hasil analisis korelasi menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kualitas tidur dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.429 yang berarti memiliki keeratan hubungan sedang.

(4)

2. Analisis regresi ganda

Untuk menguji hipotesis digunakan persamaan model regresi linier berganda. Hasil pengolahan data dengan bantuan komputer program SPSS versi 21 didapatkan hasil lebih lengkap pada tabel berikut ini :

Tabel 4.6. Hasil uji hipotesis regresi berganda. Variabel Unstandardized Coefficients Beta

Constant Kesegaran jasmani Kecemasan 1.447 0,270 -0,369

Sumber : Data diolah, 2016. Persamaan Regresi diketahui :

KT = 1.447 + 0,270 KJ - 0,369 KC + e.

Konstanta sebesar 1.447 dengan parameter positif menunjukkan bahwa kesegaran jasmani dan kecemasan berhubungan dengan kualitas tidur. Berdasarkan persamaan di atas dapat di interpretasikan sebagai berikut :

1) Koefisien regresi kesegaran jasmani menunjukkan koefisien positif sebesar 0,270 dimana setiap kesegaran jasmani meningkat maka akan mengakibatkan naiknya kualitas tidur seseorang.

2) Koefisien regresi kecemasan, menunjukkan koefisien negatif sebesar 0,369 dengan demikian setiap peningkatan kecemasan akan mengakibatkan penurunan dari kualitas tidur seseorang. 3. Uji koefisien determinasi

Uji koefisien determinasi (R2) menjelaskan kontribusi variasi dari setiap variabel-variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Atau dapat pula dikatakan sebagai proporsi kontribusi seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji koefisiensi dalam penelitian ini mendapatkan hasil sebagai berikut :

(5)

1) Kesegaran jasmani dan kecemasan

Dari nilai R2 yang besarnya 0,612 menunjukkan bahwa proporsi kontribusi variabel kesegaran jasmani dan kecemasan terhadap variabel kualitas tidur sebesar 61,2%. Artinya, kesegaran jasmani dan kecemasan berkontribusi sebesar 61,2% sedangkan sisanya 38,9% dikontribusikan oleh variabel lain yang tidak ada didalam uji model regresi linier ini.

C. Pembahasan Hasil

Pembahasan hasil penelitian ini memberikan penafsiran lebih lanjut mengenai hasil-hasil analisis data yang telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan pengujian hipotesis telah menghasilkan kesimpulan analisis yang dapat dipaparkan lebih lanjut secara rinci sebagai berikut :

1. Kesegaran jasmani memiliki hubungan dengan kualitas tidur. Dan mengetahui seberapa besar kontribusi kesegaran jasmani terhadap kualitas tidur.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada variabel kesegaran jasmani terhadap kualitas tidur, diperoleh hasil kesegaran jasmani dalam kualitas tidur, hal ini dapat dilihat dari nilai pada uji t dengan hasil pada tabel 4.5 yang menunjukkan hubungan kesegaran jasmani terhadap kualitas tidur memiliki nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.470 yang berarti besar hubungan kesegaran jasmani terhadap kualitas tidur memiliki kekuatan korelasi sedang.

Setiap sel dalam tubuh manusia membutuhkan oksigen untuk mengubah energi makanan menjadi ATP (Adhenosine Triphosphate) yang siap dipakai untuk kerja tiap sel. Otot dalam keadaan istirahat sedikit mengkonsumsi oksigen. Sel otot yang berkontraksi membutuhkan banyak ATP, akibatnya otot yang dipakai dalam latihan membutuhkan lebih banyak oksigen dan menghasilkan banyak karbondioksida (CO2).

Kebutuhan tubuh akan oksigen dapat diukur melalui pernafasan kita. Dengan mengukur jumlah oksigen yang dipakai selama latihan

(6)

intensif, kita mengetahui jumlah oksigen yang dipakai oleh otot yang bekerja. Makin tinggi jumlah otot yang dipakai maka makin tinggi pula intensitas kerja otot, otomatis oksigen yang dibutuhkan semakin meningkat. Tingkat kebugaran jasmani adalah ukuran dari kesanggupan seseorang untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Semakin baik tingkat bugaran jasmani seseorang maka tingkat kesanggupan untuk melakukan aktivitas cenderung baik terutama dari segi fisik ataupun stamina. Vo2 max ini sangat menentukan kebugaran jasmani seseorang terutama untuk atlit. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi Vo2max maka semakin baik tingkat kesegaran jasmaninya.

Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia membawa konsekuensi bertambahnya jumlah lansia di Indonesia akan lebih cepat dibandingkan Negara-negara lain (Suwoko, 2004). Indonesia adalah termasuk Negara yang memasuki era penduduk berstruktur lansia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia di atas 60 tahunnya sekitar 10% (Menkokesra, 2010).

Setiap tahun sekitar 20% sampai 50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan pemenuhan kebutuhan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan pemenuhan tidur yang serius. Prevalensi gangguan pemenuhan kebutuhan tidur pada lansia cukup meningkat yaitu sekitar 76%. Kelompok lansia lebih mengeluh mengalami sulit tidur sebanyak 40%, sering terbangun pada malam hari sebanyak 30% dan sisanya gangguan pemenuhan kebutuhan tidur lain (Amir, 2007).

Siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon ini masing-masing disekresi oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus path way. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter noreepinefrin, dopamine, serotonin yang bertugas mengatur mekanisme tidur (Japardi, 2002). Pada lansia, keadaan hormonal yang menurun akan mengakibatkan pola tidur berubah.

(7)

Hormon melatonin berperan dalam mengontrol irama sirkardian, sekresinya terutama pada malam hari yang berhubungan dengan rasa mengantuk. Lansia sering terbangun pada malam hari sehingga waktu tidur malam menjadi berkurang, ketika bangun pagi terasa tidak segar, siang hari mengalami kelelahan, lebih sering tidur sejenak dan merasa mengantuk sepanjang hari (Marcel, 2008).

Salah satu olahraga yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan tidur adalah olahraga kardiovaskular seperti olahraga senam lansia. Olahraga senam lansia secara teratur akan menjaga keseimbangan homeostasis tubuh dan membawa rasa nyaman, senang, dan bahagia. Dalam kondisi tersebut lansia tidur lebih nyenyak. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pemenuhan kebutuhan tidur.

Kualitas tidur adalah suatu keadaan dimana tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran disaat bangun dari tidur. Kualitas tidur yang mencakup aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi tidur, retensi tidur, serta aspek subyektif, seperti tidur dalam dan istirahat. Perubahan tidur normal pada lansia adalah terdapat pada Non Rapid Eye Movement (NREM) 3 dan 4, lansia hampir tidak memiliki tahap 4 atau tidur dalam. Perubahan pola tidur lansia disebabkan perubahan sistem neurologis yang secara fisiologis akan mengalami penurunan jumlah dan ukuran neuron pada sistem saraf pusat hal ini mengakibatkan fungsi dari neurotransmitter pada sistem neurologi menurun, sehingga distribusi

norepinefrin yang merupakan zat untuk merangsang tidur juga akan

menurun. Hal ini dikarenakan aktivitas fisik dapat merangsang penurunan aktivitas saraf simpatis dan peningkatan aktivitas para simpatis yang berakibat pada penurunan hormon adrenalin,

norepinefrin dan katekolamin.

Sedangkan aktivitas fisik sendiri berhubungan dengan Vo2max pada seseorang, dari beberapa penelitian dikatakan bahwa aktivitas fisik seseorang terkait dengan nilai Vo2maxnya, jadi semakin bagus

(8)

Vo2maxnya semakin bagus pula kualitas tidurnya, hal ini dipengaruhi oleh faktor lainnya yaitu adanya hantaran oksigen yang cukup untuk konsumsi metabolisme di otak, sehingga perasaan relax dan nyaman dapat membantu dalam proses tidur (Anwar, 2004). 2. Kecemasan memiliki hubungan dengan kualitas tidur. Dan

mengetahui seberapa besar kontribusi kecemasan terhadap kualitas tidur.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada variabel kecemasan terhadap kualitas tidur, diperoleh hasil kecemasan dalam penelitian ini menunjukkan adanya hubungan bernilai negatif dengan kualitas tidur, hal ini dapat dilihat dari nilai pada uji t dengan hasil pada tabel 4.5 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara variabel kecemasan terhadap kualitas tidur dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Hubungan kecemasan terhadap kualitas tidur memiliki nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.429 yang berarti besar kontribusi kecemasan terhadap kualitas tidur memiliki kekuatan korelasi sedang.

Masalah psikologis yang seringkali dijumpai pada lansia meliputi perasaan kesepian, takut kehilangan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, kecemasan dan depresi. Gangguan tidur pada lansia merupakan keadaan dimana seseorang mengalami suatu perubahan dalam pola istirahatnya yang disebabkan karena banyaknya masalah sehingga menyebabkan lansia merasa kurang nyaman dalam hidupnya. Karena tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik yang diyakini dapat digunakan untuk keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan fisik (Amir, 2007).

Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Kecemasan dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal (Stuart, 2012). Gejala kecemasan yang dialami oleh

(9)

lansia adalah ; perasaan khawatir/takut yang tidak rasional akan kejadian yang akan terjadi, sulit tidur, rasa tegang dan cepat marah, sering mengeluh akan gejala yang ringan atau takut dan khawatir terhadap penyakit yang berat dan sering membayangkan hal-hal yang menakutkan/rasa panik terhadap masalah yang besar (Maryam dkk, 2012).

Kecemasan yang dialami lansia disebabkan oleh penurunan kondisi fisik seperti hilangnya kemampuan penglihatan, badan mulai membungkuk, kulit keriput dan sekarang sudah tidak kuat jalan jauh lagi karena cepat lelah, beda dengan waktu muda disaat dulu kondisi fisik masih kuat. Kecemasan yang dialami oleh lansia juga dapat menyebabkan kesulitan tidur serta dapat mempengaruhi kosentrasi dan kesiagaan, dan juga meningkatkan resiko-resiko kesehatan, serta dapat merusak fungsi sistem imun. Kekurangan tidur pada lansia memberikan pengaruh terhadap fisik, kemampuan kognitif dan juga kualitas hidup (Maryam dkk, 2012).

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Setiap orang memerlukan kebutuhan istirahat atau tidur yang cukup agar tubuh dapat berfungsi secara normal. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal (Guyton & Hall, 2007).

Pola tidur mencakup kualitas dan kuantitas tidur seseorang dimana kualitas tidur adalah jumlah tahapan NREM dan REM yang dialami seseorang dalam siklus tidurnya, dan kuantitas tidur adalah jumlah lamanya waktu tidur yang dihabiskan seseorang dalam sehari (Tarwoto & Wartonah, 2006). Pola tidur yang tidak menetap akan memberikan dampak terhadap kekurangan tidur sehingga akan mempengaruhi kondisi fisik dan psikis seseorang (Mass B, James, 2002).

Gangguan pola tidur yaitu keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam kuantitas atau

(10)

kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya hidup yang diinginkannya (Carpenito, 2007).

Feinerg mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan masa remaja, kebutuhan tidur seseorang menjadi relatif tetap. Luce dan Segal mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Semakin bertambahnya usia berpengaruh terhadap penurunan dari periode tidur. Kebutuhan tidur umur 60 tahun ke atas rata - rata 6 jam sehari. Orang yang berusia lebih dari 60 tahun sering menyampaikan keluhan gangguan tidur, terutama masalah kurang tidur (Aziz, 2008). Gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut cukup tinggi. Pada usia lanjut tersebut tentunya ingin tidur enak dan nyaman setiap hari, yang merupakan indikator kebahagiaan dan derajat kualitas hidup (Prayitno, 2002).

Masalah tidur yang sering dialami oleh orang lanjut usia adalah sering terjaga pada malam hari, seringkali terbangun pada dini hari, sulit untuk tertidur, dan rasa lelah yang amat sangat pada siang hari (Davison dkk, 2006). Sedangkan menurut Darmojo (2009), gangguan tidur pada lansia dapat dibagi menjadi ; kesulitan masuk tidur, kesulitan untuk mempertahankan tidur nyenyak dan bangun terlalu pagi. Setiap tahun di dunia, diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Di Indonesia belum diketahui angka pastinya, namun prevalensi pada orang dewasa mencapai 20% (Potter & Perry, 2005). Sedangkan prevelensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67%. Walaupun demikian hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter, meski demikian Faktor yang menyebabkan tingginya angka kecemasan sedang yang terjadi adalah beratnya beban yang dihadapi lansia. Serta adanya stresor pencetus yang menyebabkan lansia cemas, yaitu ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis yang

(11)

akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari – hari (Stuart, 2012). Namun semuanya dikembalikan kepada mekanisme koping yang dimiliki oleh individu lansia, jika koping yang dimiliki positif maka kecemasan yang ada dapat diminimalisir (Amir, 2007).

3. Kesegaran jasmani dan kecemasan secara bersamaan berhubungan dengan kualitas tidur.

Berdasarkan analisis regresi ganda kesegaran jasmani dan kecemasan terhadap kualitas tidur secara bersama-sama menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut :

KT = 1.447 + 0,270 KJ - 0,369 KC + e.

Dari persamaan regeresi ganda tersebut menunjukkan bahwa ketika variabel kesegaran jasmani dan kecemasan secara bersama-sama memprediksi kualitas tidur. Setiap peningkatan kesegaran jasmani akan meningkatkan kualitas tidur sebesar 2,7, untuk setiap peningkatan kecemasan akan meningkatkan kualitas tidur sebesar 3,69 (dengan arah negatif). 1,447 maka merupakan nilai konstanta yang berarti bahwa ketika nilai kesegaran jasmani dan kecemasan adalah nol maka nilai Y (kualitas tidur) adalah sebesar 1,447.

(12)

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data yang dilakukan, penelitian ini memberikan simpulan bahwa variabel kesegaran jasmani dan kecemasan memiliki hubungan baik parsial maupun bersamaan terhadap kualitas tidur pada lansia. Setelah dianalisis dengan menggunakan uji korelasi, regresi sederhana, regresi ganda, maka dapat dikemukakan ringkasan simpulan sebagai berikut: 1. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kesegaran jasmani

dan kualitas tidur dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.470 yang berarti memiliki keeratan hubungan sedang.

2. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecemasan dengan kualitas tidur dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Dan dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.429 yang berarti memiliki keeratan hubungan sedang.

3. Dari nilai r2 yang besarnya 0,612 menunjukkan bahwa proporsi kontribusi variabel kesegaran jasmani dan kecemasan terhadap variabel kualitas tidur sebesar 61,2%. Artinya, kesegaran jasmani dan kecemasan berkontribusi sebesar 61,2% sedangkan sisanya 38,9% dikontribusikan oleh variabel lain yang tidak ada didalam uji model regresi linier ini.

B. Implikasi

Dengan memperhatikan hasil penelitian, pembahasan dan kemudian kesimpulan yang sudah diambil bahwa variabel kesegaran jasmani dan kecemasan berhubungan dengan kulaitas tidur, baik secara parsial ataupun bersamaan, maka implikasi yang diharapkan dari penelitian ini dalah bahwa untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia maka

(13)

perlulah adanya peningkatan kesegaran jasmani dan menurunkan tingkat kecemasan. Permasalah kualitas tidur bukanlah hanya persoalan tentang proses biologis tetapi juga merupakan proses psikologis yang harus dikaji secara holistik, sehingga dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa memperbaiki faktor biologis dengan meningkatkan nilai kesegaran jasmani dan memperbaiki faktor psikologis dengan menurunkan tingkat kecemasan akan memberikan efek yang positif terhadap kualitas tidur pada lansia.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran yang dapat peneliti berikan antara lain:

1. Bagi lansia yang memiliki masalah gangguan tidur bisa memperbaiki pola aktivitas dengan menambahkan berolahraga sehingga dapat meningkatkan nilai kesegaran jasmaninya yang dalam penelitian ini mendaptkan hasil bahwa kesegaran jasmani yang diukur dengan menggunakan Vo2max terbukti berhubungan signifikan dengan adanya gangguan kualitas tidur pada lansia.

2. Masalah psikologis kecemasan dalam penelitian ini juga memiliki hubungan yang signifikan dengan adanya gangguan tidur pada lansia yang berakibat adanya penurunan kualitas tidur. Lansia haruslah memahami dan lebih bisa mengendalikan dan menerima kenyataan untuk menghadapi permasalah psikologis berupa kecemasan sehingga dapat meningkatkan nilai kualitas tidurnya.

3. Lansia dengan merujuk dari hasil penelitian ini yang mana kesegaran jasmani yang rendah, dan nilai kecemasan yang tinggi ternyata berhubungan signifikan dengan adanya kualitas tidur. Dengan angka keeratan hubungan yang tinggi yaitu 61% kesegaran jasmani dan kualitas tidur dan kecemasan secara bersama dapat dikatakan menjadi faktor penyebab adanya gangguan kualitas tidur yang nyata pada lansia.

4. Bagi penelitian yang selanjutnya, sebaiknya melakukan pengukuran dan test-test yang lebih spesifik terhadap variabel kesegaran jasmani dan

(14)

kecemasan, sehingga dapat mengkaji secara lebih mendalam tentang faktor-faktor apa saja yang membuat variabel independent dalam penelitian ini berhubungan dengan variabel dependent yang dalam penelitian ini adalah kualitas tidur.

Gambar

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Referensi

Dokumen terkait

Sistem akan mengirimkan informasi login ke alamat email petugas dilengkapi dengan informasi login. Petugas harus melakukan login kembali untuk melanjutkan proses

Saat ini Madrasah Aliyah Al-Azhaar Ummu Suwanah memiliki jaringan komputer berupa Wireless Local Area Network (WLAN) yang menggunakan koneksi internet dari modem

1. Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan intra kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang

Likert dalam interval 1-5untuk kategori pertanyaan dengan jawaban sangat tidak setuju dengan nilai 1 (satu) sampai dengan jawaban sangat setuju dengan nilai. Skala

Fidel Castro melakukan perubahan secara menyeluruh terhadap politik domestik dan politik luar negeri Kuba, tujuan utama Fidel Castro untuk

Sektor perikanan merupakan suatu komoditas yang bernilai bagi suatu negara, mengingat konsumsi ikan di merupakan suatu komoditas yang bernilai bagi suatu negara,

4erdasarkan re.leksi pelaksanaan pem1ela2aran yang 1erlangsung di kelas# tampaknya situasi pem1ela2aran 1er2alan kurang k-ndusi.$ 8uru tampak mend-minasi kelas dengan

Pada sistem berbasis aturan mesin inferensi menentukan bagian anteseden yang cocok dengan fakta dengan cara memanipulasi dan mengarahkan kaidah dan fakta yang